Naruto fandom dan segala isinya adalah hak cipta Masashi Kishimoto-sensei. Saya hanya minjam, tanpa mengambil keuntungan apa pun kecuali kesenangan menulis. :D
Arlene Shiranui's
L'amis Pour Toujours: Summer Holiday Arc Chapter 5
.
.
Sakura Haruno berdiri dengan gelisah di depan minimarket, tidak sepenuhnya yakin apa yang dirasakannya saat itu. Tak pernah terbayangkan olehnya akan terjebak dalam situasi seperti ini di tengah-tengah liburannya. Bertemu dengan cowok yang pernah begitu disukainya saat sedang bersama-sama dengan Sasuke—cowok yang ... yah, Sakura belum memutuskan bagaimana perasaannya pada Sasuke—benar-benar di luar dugaan dan entah mengapa membuatnya bingung dan serba salah.
Gadis itu sesekali menoleh ke belakang, mengawasi Neji yang sedang membayar belanjaannya di balik pintu kaca minimarket. Neji sama sekali tidak berubah dari yang Sakura ingat saat terakhir kali bertemu dengan cowok itu. Masih tampan, kalem, tapi terlihat lelah seperti orang banyak pikiran. Sakura bertanya-tanya dalam hati apakah itu karena Yakumo—atau Tenten?—sebelum kemudian ia menyadari bahwa itu bukan urusannya. Dan bukan itu sebenarnya yang mengganggu pikirannya.
"Kau pasti senang, kan?"
Sakura refleks mengalihkan pandangannya pada pemilik suara yang baru saja berkomentar dengan nada dingin itu. Kerutan samar muncul di antara kedua alisnya menatap Sasuke yang dengan sengaja tidak memandang ke arahnya. Alih-alih merasa malu mendengar komentar cowok itu, Sakura lebih merasa terganggu. Bukan karena Neji, tapi lebih karena melihat Sasuke yang tampak kesal dengan kehadiran Neji.
"Kau ini bicara apa?" tukasnya.
Sasuke mendengus keras sambil menenggelamkan kedua tangan ke saku celana pendeknya. "Bukan apa-apa. Lupakan saja," ucapnya dingin.
Sakura menatap Sasuke beberapa saat lagi, sebelum berkata pelan, "jangan berpikir macam-macam. Sekarang aku hanya menganggap Neji teman biasa. Kau mengerti, kan?" –Entah mengapa Sakura merasakan dorongan yang amat kuat untuk menjelaskan masalah ini. Ia tak ingin Sasuke salah paham dengan perasaannya pada Neji.
"Hn. Kau tidak perlu menjelaskannya padaku. Itu sama sekali bukan urusanku."
Mendengar tanggapan dingin Sasuke membuat Sakura kesal sekaligus malu. Seenaknya saja Sasuke berkata begitu. Padahal sejak tadi cowok itulah yang ia cemaskan! Haah ... sekarang Sakura merasa seperti orang bodoh saja. Namun alih-alih membalas dengan kata-kata menyengat, gadis itu memilih menutup mulutnya dan menghela napas.
"Maaf, kalian jadi lama menungguku," kata Neji ketika ia baru saja melangkah keluar dari minimarket tak lama kemudian.
"Ah, tidak lama kok," sahut Sakura riang, berusaha mengabaikan ekspresi masam di wajah Sasuke.
Neji tersenyum pada mereka berdua. "Baiklah. Kalau begitu sudah siap pergi? Mereka mungkin sudah sampai di sana."
"Oke."
Beberapa saat yang lalu, Sakura baru saja mendapatkan pesan dari Sai yang memberitahunya bahwa mereka bertemu dengan Hinata di pantai. Tokuma—sepupu Hinata yang lain, yang saat itu sedang bersamanya—mengundang mereka makan malam bersama di kedai makanan laut tak jauh dari pantai. Sakura memberitahu Neji tentang hal itu dan ia berpendapat itu ide yang bagus. Kendati tidak terlalu senang, Sasuke tak bisa menolak karena baik Sakura, Naruto, maupun Sai sudah setuju.
Dan ke sanalah tujuan mereka sekarang.
Selama beberapa saat, perjalanan berlangsung dalam keheningan yang canggung. Mereka berjalan beriringan menyusuri jalanan berpasir putih itu, dengan Sakura yang berjalan diapit Neji dan Sasuke. Tak ada seorang pun yang bicara. Berjalan bersama dua orang berwajah tampan seperti kedua cowok itu mungkin terlihat menyenangkan bagi sebagian gadis, tapi bagi Sakura, ini benar-benar membuatnya gugup. Dan seakan itu belum cukup, ingatan tentang peristiwa beberapa bulan yang lalu, saat Sasuke nyaris menghajar Neji karena dirinya, terus berputar-putar dalam kepalanya.
"Jadi kalian liburan di sini?" celetuk Neji tiba-tiba, memecah keheningan.
"Ap—oh, yah," Sakura menjawab dengan cengiran canggung.
Neji terkekeh kecil. "Tadinya aku bertanya-tanya, kenapa Hinata mendadak ingin pergi liburan ke Kiri. Kurasa sekarang aku tahu alasannya."
Sakura yang menangkap maksud perkataan Neji, mau tak mau mengikik. Bukan tak mungkin Hinata tidak tahu tentang rencana liburan mereka. Sepupu Neji itu cukup dekat dengan Naruto beberapa bulan terakhir ini dan mereka kerap menghabiskan waktu bersama-sama di panti asuhan. Naruto pasti pernah membicarakan soal itu dengannya—mengingat bagaimana bersemangatnya Naruto dengan liburan musim panas mereka—Ditambah, Hinata juga satu klub dengan Sai. Informasi seperti itu pasti bisa didapatnya dengan mudah. Ah, sepertinya gadis itu sudah mulai berani mengambil langkah, pikir Sakura.
"Berapa lama kalian di Kiri?" tanya Sakura kemudian.
Neji mengangkat bahunya ringan. "Dua hari ke depan aku akan kembali ke Konoha, tapi Hinata dan Hanabi mungkin agak lama di sini. Bisa dibilang, aku hanya mengantar mereka. Selanjutnya mereka akan tinggal bersama keluarga kami yang tinggal di sini."
"Ah." Sakura mengangguk-anggukkan kepala. "Sayang sekali."
"Yah, apa boleh buat," sahut Neji sambil tersenyum tipis, "ada banyak hal yang harus diurus, jadi aku tak bisa meninggalkan Konoha terlalu lama. Selain itu, aku juga harus mempersiapkan kuliahku musim gugur ini."
"Pasti sibuk sekali," komentar Sakura, meskipun ia merasa ada hal lain yang membuat Neji tidak bisa berlama-lama meninggalkan Konoha. Gadis itu sempat mendengar selentingan kabar bahwa Neji Hyuuga kembali berkencan dengan mantan kekasihnya dan mereka berniat bertunangan atau semacamnya. Tapi bagaimana dengan Tenten? Tak peduli Sakura sudah bertekad untuk tidak mau tahu lagi segala sesuatu tentang cinta pertamanya itu, tetapi tetap saja gadis itu penasaran.
"Bagaimana kabar um ... Yakumo?" tanyanya kemudian, setelah mereka kembali terdiam selama beberapa saat. Saat itu Sakura merasakan siku Sasuke menyenggol lengannya agak keras, entah sengaja atau tidak—tapi gadis itu mengabaikannya.
Dari sudut matanya, Sakura bisa melihat perubahan ekspresi di wajah Neji. Ekspresinya seolah ada sesuatu yang membebani hatinya. "Dia baik," jawabnya, setelah helaan napas berat. Sakura menunggu, tetapi tampaknya Neji tidak berniat memperpanjang topik tentang Yakumo. Dan Sakura terpaksa menelan bulat-bulat rasa penasarannya ketika Neji sengaja membelokkan pembicaraan dengan bertanya, "kalian sendiri berencana di Kiri sampai kapan?"
"Dua minggu sebelum semester baru dimulai kami akan kembali ke Konoha," sahut Sakura. "OSIS sudah mulai sibuk bahkan sebelum sekolah dimulai," lanjutnya, mengerling Sasuke. "Dan aku juga harus mempersiapkan promosi untuk klub teater."
"Ah, aku hampir lupa kau ketua klub teater sekarang," kata Neji. Senyumnya kembali. "Bersiaplah, tahun terakhir kalian bakal sangat sibuk."
"Ya," Sakura meringis, "sekarang aku jadi takut."
Mendengar jawaban mantan adik kelasnya itu, Neji terkekeh kecil. "Tidak apa-apa, santai saja."
Sasuke mendengus kecil. Tetapi dua orang di sampingnya terlalu asyik melanjutkan orbolan sehingga tidak memerhatikannya.
"Jadi kau sudah memikirkan ide untuk proyek drama besar, Sakura?"
"Um ... aku dan Hokuto masih belum memutuskan. Tapi jika mengikuti tradisi klub, sepertinya tahun ini kami akan membuat pertunjukan musikal."
Neji mengangguk mengerti. Tradisi yang dimaksudkan Sakura adalah klub mereka akan membuat pertunjukan musikal diselang dengan pertunjukan teater non-musikal. Dan karena tahun sebelumnya mereka sudah membuat pertunjukan non-musikal, berarti tahun berikutnya adalah pertunjukan musikal.
"Sebenarnya aku ingin sekali menggunakan tema fairy tale," imbuh Sakura malu-malu, "tapi teman-teman bilang, sebaiknya temanya disesuaikan dengan tema festival sekolah." Diam-diam ia mengerling Sasuke.
"Jadi kau sudah punya ide?" tanya Neji, tampak tertarik.
Sakura mengangguk antusias, senang ada yang menanyakan hal ini. Di antara ketiga cowok yang berliburan bersamanya, tidak ada satu pun yang benar-benar berminat mendengar ocehannya tentang teater. Bagi mereka, itu adalah topik yang membosankan.
"Aku mendapatkan idenya dari ayahku."
Sejenak Neji tampak agak bingung. "Maksudmu, mendiang ayahmu?"
Sekali lagi Sakura mengangguk. "Waktu aku kecil, ayah sering mengajakku menonton pertunjukan musikal 'Beauty and The Beast'. Kupikir aku ingin menghidupkan kenangan itu di atas panggung." Gadis itu tertawa kecil sambil menarik-narik rambutnya. "Tapi rasanya kok agak egois, ya?"
"Tapi menurutku itu sangat menarik," komentar Neji sungguh-sungguh. "'Beauty and The Beast' musikal yang bagus. Kenapa tidak?"
Namun sebelum Sakura sempat menjawab, kejadian berikutnya benar-benar mengalihkan perhatiannya dari topik itu. Saat itu mereka hendak menyeberang ketika tiba-tiba datang sebuah skuter dari arah kiri mereka. Sakura yang sepertinya tidak menyadarinya, terus saja berjalan. Gadis itu terlonjak kaget ketika skuter itu mengklaksonnya. Ia nyaris saja tertabrak seandainya saja tak ada yang menyambar kedua lengannya dan menariknya ke pinggir.
"Kalau jalan jangan meleng!" desis Sasuke galak, mencengkeram erat lengan kiri gadis itu.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Neji di saat yang hampir bersamaan, dengan nada yang sama sekali berbeda. Tangannya juga memegangi lengan Sakura yang sebelah lagi.
Sakura merasakan darah naik dengan cepat ke wajahnya. Entah malu karena meleng saat berjalan, atau karena dua cowok tampan sedang memegangi kedua lengannya bersamaan. "M—maaf ..."
Neji melepaskan tangannya. "Hati-hati," ucapnya kalem.
Sasuke tidak mengatakan apa-apa, hanya mendecih, memelototi Sakura. Namun tidak seperti Neji yang langsung melepaskan tangannya, Sasuke tetap memegangi pergelangan tangan gadis itu sementara mereka menyeberang. Sakura berusaha keras untuk terlihat tak terlalu peduli kendati jantungnya sudah berdebar-debar tak karuan. Ada sentakan kegembiraan aneh yang ia rasakan ketika Sasuke melakukan hal itu—menggandeng tangannya—di depan Neji. Dan ketika Sasuke akhirnya melepaskannya saat mereka sudah tiba dengan selamat di seberang, lalu menenggelamkan kembali tangannya ke tempatnya semula di saku celana, entah mengapa gadis itu mendadak merasa hampa, seperti tiba-tiba kehilangan pegangan.
Perasaan asing itu kontan membuat Sakura gusar. Antara sadar dan tidak, gadis itu menggosok-gosok pergelangan tangannya yang tadi digenggam Sasuke di belakang punggungnya. 'Aku pasti sudah gila,' ia merutuk dalam hati.
"Kita hampir sampai," kata-kata Neji membuyarkan lamunan Sakura. "Selamat datang di Pondok Udang."
Neji menunjuk pada sebuah bangunan yang terbuat dari kayu, yang letaknya tak terlalu jauh dari bibir pantai. Dengan beranda lebar yang berantakan, yang dihiasi jangkar karatan, tumpukan jaring ikan yang sudah tak terpakai, dayung kayu yang sudah agak lapuk, tempat itu sekilas mirip gubuk nelayan. Tetapi gubuk nelayan biasa tidak memiliki area parkir yang meskipun kecil, dipenuhi oleh kira-kira selusin mobil. Juga dek yang menjorok ke arah laut, dengan deretan meja dan bangku kayu di atasnya yang hampir penuh terisi oleh para pengunjung yang ramai bercengkerama sambil makan dan minum.
Seorang gadis remaja berambut gelap panjang melambai-lambaikan tangan dari beranda. Gadis itu lalu berlari-lari kecil menghampiri mereka, dan ketika sudah dekat, Sakura bisa mengenalinya sebagai Hanabi Hyuuga, adik perempuan Hinata. Berbeda dengan kakak perempuannya yang berpembawaan feminin dan pemalu, Hanabi lebih tomboy dan supel. Gadis itu dengan riang langsung menyapa Sakura dan Sasuke seperti seorang teman lama, tampak terkejut sekaligus senang bertemu mereka. Sakura memerhatikan kulitnya sedikit kecokelatan terbakar matahari.
"Kau sudah di sini?" tanya Neji, mengalihkan perhatian Hanabi dari dua orang yang datang bersamanya.
"Tadi Kakak menyuruhku langsung kemari begitu urusanku selesai," sahut Hanabi, nyengir. "Kukira kalian sudah di sini duluan. Tapi aku tidak melihat Kak Hinata dan Kak Tokuma." Gadis tiga belas tahun itu menoleh ke sana kemari, mencari-cari sosok sang kakak yang tak terlihat di mana pun. "Memangnya kalian tidak bersama-sama?"
"Nope. Tapi mungkin mereka akan sampai sebentar lagi," kata Neji, menoleh pada Sakura dan Sasuke. "Bagaimana kalau kita menunggu di dalam saja?"
"Ide bagus," sambar Hanabi, "di dalam ramai sekali. Sebaiknya cepat kalau tidak mau kehabisan tempat."
Gadis itu lalu berbalik kembali ke pondok, memimpin mereka semua memasuki tempat yang ternyata memang ramai sekali. Aroma makanan laut yang menggugah selera menguar di udara ketika mereka berjalan melewati lorong di antara meja-meja kayu yang berderet di bagian dalam pondok, sebelum akhirnya mereka menemukan dua meja kosong yang dijadikan satu di dek yang menghadap langsung ke laut.
Sakura duduk di salah satu bangku kayu, memandang ke arah laut dengan takjub. Permukaan air laut tampak berkilau keperakan, memantulkan cahaya bulan yang menggantung rendah di hamparan beledu gelap di atas mereka. Debur ombak yang memecah di batu karang terdengar di antara riuh suara para pengunjung dan alunan musik country yang diputar di music box.
"Kau suka tempat ini?"
Gadis itu menoleh, tersenyum pada Neji yang sudah menempati bangku di seberang meja. "Ya. Tempat ini bagus banget," sahutnya tanpa menyembunyikan nada terkesan dalam suaranya.
Mendadak ia teringat ketika Neji mengajaknya ke restoran berkelas di puncak menara di KCS, di mana mereka bisa menikmati pemandangan pusat kota Konoha yang gemerlap di malam hari. Tempat yang indah, namun sayangnya memiliki kenangan yang menyakitkan. Buru-buru Sakura menepis ingatan itu dari benaknya dan berpaling pada Sasuke yang menempati bangku tepat di sebelahnya. Tapi cowok itu terlalu sibuk membuka-buka buku menu yang sudah lusuh saking seringnya dibuka-buka sambil memasang tampang cemberut sehingga tidak memerhatikannya.
"Katanya ini tempat nongkrong favorit Kak Tokuma," celetuk Hanabi yang duduk di samping kakak sepupunya. Nada bicaranya sedikit menyombong ketika melanjutkan, "dia itu manager hotel bintang lima, tapi seleranya tempat seperti ini. Dia pasti bosan dengan restoran berkelas yang kaku."
Di sampingnya, Sakura bisa mendengar Sasuke mendengus ke atas buku menu. Sementara Neji sendiri terlihat tidak nyaman mendengar kata-kata adik sepupunya itu.
"Ada banyak hal menyenangkan yang hanya bisa ditemukan di tempat sederhana seperti ini, Hana," tegurnya.
"Yeah, tentu saja," Hanabi menanggapi sambil lalu. Perhatiannya tertuju pada ponselnya yang baru saja menerima sebuah pesan singkat dari kakak perempuannya. "Ah, Kak Hinata sudah di depan!" gadis itu mengumumkan. Jemarinya menari lincah mengetik balasan untuk memberitahu posisi mereka.
Tak lama kemudian, rombongan yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Naruto, Sai, Hinata dan seorang pria muda asing bergabung di meja mereka. Naruto, seperti biasa, menyapa semua orang dengan heboh seakan sudah bertahun-tahun tidak bertemu, sebelum kemudian menghempaskan bokongnya di bangku kosong di samping Sasuke. Neji lalu memperkenalkan sepupu mereka yang lain, Tokuma Hyuuga, pada Sakura dan Sasuke.
Salah satu pelayan bertampang urakan datang tak lama kemudian untuk mencatat pesanan mereka. Dan setelah pelayan itu pergi, dengung obrolan mulai terdengar di meja itu. Topik ringan yang biasa, basa-basi. Mulai dari komentar sungguh kebetulan yang menyenangkan mereka bisa bertemu di Kiri, sampai cerita tentang liburan mereka sejauh ini—apa yang mereka lakukan, di mana mereka tinggal, tempat-tempat mana saja yang sudah mereka kunjungi, dan sebagainya.
Dan seperti biasa, Narutolah yang mendominasi pembicaraan. Entah sengaja atau tidak, ia cenderung lebih banyak berbicara pada Hinata dibandingkan pada semua orang yang ada di sana. Barangkali karena gadis itulah yang paling menunjukkan minat mendengar ocehannya yang nyaris tanpa jeda itu.
"Omong-omong soal rencana untuk drama yang tadi," Neji berkata pada Sakura, ketika Naruto dan Hinata mulai membicarakan anak-anak panti asuhan, "aku baru ingat ada teater di kota yang mengadakan pertunjukan musikal 'Beauty and the Beast' besok malam. Mungkin kau bisa menontonnya, sekalian mencari reverensi. Kebetulan, sebelum kemari aku sempat membeli tiketnya."
Senang bisa mengalihkan perhatian dari monolog panjang Naruto, Sakura menyambar topik itu dengan antusias. "Benarkah? Kebetulan sekali. Kami juga sudah membeli tiket untuk besok malam! Benar kan, Sasuke?"
"Tentu saja. Kebetulan yang menyenangkan," sahut Sasuke sinis. "Kalian bisa pergi bersama-sama kalau kalian mau. Kalian bisa membicarakan drama dan sebagainya."
Neji tersenyum kalem padanya. "Itu ide yang bagus. Tapi aku mengerti kalau kau keberatan, Sasuke."
"Tentu saja aku tidak keberatan," balas Sasuke. Nada bicaranya tetap dingin, meskipun wajahnya sudah memerah. Mata hitamnya menatap tajam Neji yang hanya menanggapinya dengan wajah tenang.
"Pasti menyenangkan!" Sakura berseru keras menyela kedua cowok itu. "Kita bisa pergi beramai-ramai."
Sasuke menoleh memandang gadis di sebelahnya. Awalnya ia hendak membalas, namun kemudian mengurungkan niatnya. Menumpahkan kejengkelannya melihat keakraban Neji dan Sakura dengan membuat mereka berdua kesal kelihatannya memang menyenangkan, tetapi ketika melihat tatapan memohon Sakura, Sasuke jadi merasa bersalah. Akhirnya ia hanya menghela napas.
"Fine," bibirnya mengucap tanpa suara, namun itu cukup untuk membuat senyuman di wajah Sakura merekah—walaupun hanya sebuah senyum kecil.
"Eeeh—kalian ngobrol apa, sih?" serobot Naruto, ketika menyadari dua orang di sebelahnya mengobrol tanpa melibatkan dirinya. Mata birunya menatap penasaran pada Sakura dan Sasuke—dan Neji.
"Mereka berencana menonton pertunjukan musikal bersama-sama besok malam," jawab Sai. Rupanya sejak tadi diam-diam ia menyimak percakapan antara Sasuke, Sakura dan Neji. "Kau tahu kan, di tempat yang kita datangi tadi siang."
"Oh! Kau juga mau pergi ke sana, Neji?" Naruto menanyai Neji dengan antusias.
"Ya," Neji mengangguk. "Sebelum kemari, kami sempat ke sana untuk melihat apa mereka mengadakan pertunjukan dalam waktu dekat."
"K—Kak Neji sangat menyukai tempat itu. Setiap pergi ke Kiri, dia selalu ke sana," imbuh Hinata.
"Wah, asyik!" seru Naruto gembira. "Kalau begitu sudah diputuskan, besok kita akan pergi nonton teater beramai-ramai!"
'Dia ini, seenaknya saja memutuskan,' Sasuke membatin seraya melempar pandang kesal pada Naruto—yang sama sekali tak disadari oleh yang bersangkutan—sementara yang lain menggumamkan persetujuan. Kegembiraan kecil yang berlangsung di meja itu kemudian disela oleh kedatangan pelayan yang membawakan pesanan mereka.
.
.
Sementara itu di Konoha, band yang digawangi Ino dan teman-temannya baru saja menyelesaikan lagu mereka yang terakhir. Ucapan terima kasih dari Ino dan Sasame segera disambut oleh tepukan dan suitan riuh dari para penonton yang sebagian adalah teman-teman mereka di sekolah. Pertunjukan perdana musim panas band mereka sukses besar, itu tidak diragukan lagi. Dan seperti biasa, acara makan-makan sambil membicarakan pertunjukan selanjutnya sudah menunggu mereka.
Namun bagi Ino Yamanaka, itu bukanlah hal yang terlalu penting sekarang. Dari sisi panggung, gadis berambut pirang itu menjulurkan leher, sementara mata birunya nyalang menatap ke arah kerumunan penonton—tepatnya, ke arah di mana tadi Shino Aburame berada. Tetapi cowok itu tak ada di sana. Ino merasakan hatinya mencelos. Sedetik yang lalu ia yakin Shino masih ada di salah satu bangku di sana!
"Hei, Ino—kau mau ke mana? Kita mau pesan makanan nih!"
Terdengar suara Chouji memanggilnya ketika ia beranjak meninggalkan rombongan teman-temannya, tetapi Ino mengabaikannya. Saat berikutnya ia mendengar suara Shikamaru,
"Sudah, biarkan saja."
Ino berlari kecil menuju bangku tempat Shino berada beberapa saat yang lalu, sementara band selanjutnya sudah memainkan intro. Gadis itu menoleh ke segala arah, berharap melihat sosok cowok jangkung berkacamata itu di antara kerumunan penonton. Namun yang dicarinya tak tampak di mana pun. Hanya gelas yang sudah kosong yang tertinggal di mejanya.
"Maaf, kau melihat cowok yang tadi duduk di sini? Yang pakai kacamata hitam," tanya Ino pada salah seorang gadis yang duduk tepat di sebelah meja yang tadi diduduki Shino. Tapi tampaknya gadis itu pun tak tahu ke mana ia pergi, begitu pula dengan teman-temannya. Mereka bahkan tidak sadar ada orang yang duduk di sana tadi. Meskipun sebal, Ino tak bisa menyalahkan mereka. Shino memang punya bakat aneh yang membuat keberadaan dirinya tidak disadari oleh orang-orang di sekitarnya.
"Kalau cowok yang pakai kacamata hitam, aku baru saja melihatnya keluar," beritahu seorang gadis pelayan yang baru saja datang untuk membereskan meja. Ia mengendikkan kepala ke arah pintu. "Mungkin dia belum jauh."
Senyum merekah di wajah Ino. Harapannya kembali muncul. "Trims!" ucapnya, sebelum bergegas menuju pintu.
Udara malam yang hangat segera menyambutnya begitu ia melangkah ke trotoar yang ramai. Suara dentum musik dari dalam cafe terblokir begitu pintu menutup, digantikan oleh suara riuh-rendah para pejalan kaki dan kendaraan yang lewat. Ino menoleh ke kanan-kiri jalan, berharap Shino belum terlalu jauh seperti yang dikatakan pelayan tadi. Lalu matanya menangkap sosok jangkung berambut gelap tebal yang dikenalinya tengah berjalan menuju halte di ujung blok.
"Shino ..." Nama itu meluncur dari bibirnya dalam bisikan pelan. Ino merasakan jantungnya berdebar-debar, sama seperti saat mereka tak sengaja bertemu pandang di dalam tadi, ketika ia mulai melangkah, berlari-lari kecil melewati para pejalan kaki untuk menghampiri sang pemilik nama. "Shino!"
Mendengar namanya dipanggil, Shino menghentikan langkahnya dan menoleh. Ino berhenti di hadapannya, sedikit terengah. Sejenak mereka hanya bertatapan sementara Ino mengatur napas.
"H—Hai," Ino lah yang pertama kali membuka suara. Wajahnya merona. Mengapa suaranya harus bergetar sekarang? Mengapa?!
Shino tak langsung menjawab. Ketiadaan emosi di wajahnya sedikit membuat Ino kesal. Ditambah lensa gelap yang menutupi kedua matanya membuat gadis itu tak dapat menebak apa yang ada dalam pikiran Shino saat itu.
"Seharusnya kau tidak keluar dengan pakaian seperti itu," ujar Shino akhirnya, "kau bisa sakit."
Ino menunduk memandangi pakaiannya—kostum panggungnya—kaus hitam ketat tanpa lengan yang dipadu hot pants yang mengekspos kaki jenjangnya, dan boots setinggi betis. Ia meninggalkan jaketnya di cafe. Sejenak gadis itu bingung harus menanggapi apa atas komentar Shino, sebelum kemudian memutuskan untuk mengabaikannya.
"Tadi aku melihatmu datang," kata Ino memulai.
"Ya," Shino menyahut.
Keduanya kembali terdiam. Ino merutuk dalam hati. Ini sama sekali tidak semudah yang ia bayangkan sebelumnya. Kata-kata yang ingin diucapkannya jika ia bertemu dengan Shino, menguap lenyap entah ke mana.
"Shiho memberitahuku keadaanmu," ujar Shino kemudian, memecah keheningan canggung di antara mereka, "dia bilang, kondisimu tidak terlalu baik. Jadi kuputuskan untuk mengecek sendiri."
"Aku sehat-sehat saja," sahut Ino cepat. Dan detik berikutnya ia baru menyadari Shino sama sekali tidak sedang membicarakan kesehatannya.
Shino memandangnya beberapa saat, lalu memberinya anggukan kecil. "Aku bisa melihatnya."
Ino menggigit bibirnya. Gadis itu menunduk. Kedua tangannya saling memainkan kuku. Selang beberapa lama, ia menghela napas dan kembali menatap wajah lawan bicaranya. "Dengar, aku ingin minta maaf padamu soal kejadian di KCP kemarin. Waktu itu sikapku memang kelewatan."
"Kau sudah mendapatkan apa yang kauinginkan. Aku sudah memaafkanmu."
Jawaban Shino yang tegas dan tanpa ragu seharusnya bisa membuatnya merasa lega. Tetapi yang dirasakannya justru sebaliknya. Ino semakin bingung dengan sikap cowok di depannya itu.
"T—Tapi kau tidak pernah datang—"
"Bukankah kau tidak pernah menyukai kehadiranku? Aku tidak semasokis itu sehingga memaksakan diriku pada orang yang membenciku."
Kata-kata Shino membuat gadis itu tersentak. Sebenarnya apa yang dikatakannya tidak sepenuhnya salah, tapi entah mengapa mendengarnya diucapkan dengan begitu lugas membuat hati Ino terasa seperti dicubit. "B—bukannya begitu," ia cepat-cepat membantah. "Aku bukannya tidak menyukaimu—dan aku jelas tidak membencimu. Hanya saja ..." Ino memandang ke sekelilingnya dengan gelisah sementara memikirkan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan apa yang ia rasakan sekarang, "... hanya saja situasinya sudah berubah."
Gadis itu mendongak menatap Shino lurus-lurus, berharap cowok itu bisa memahami maksud perkataannya. Ketika Shino tak kunjung menanggapi, gadis itu lantas melanjutkan, "aku senang kau datang malam ini, Shino."
"Jika kau berkata seperti itu karena masih merasa tidak enak padaku, kau tak perlu melakukannya. Sudah kukatakan aku sudah memaafkanmu."
Ino terdiam. Entah cowok itu memang tidak memahami maksudnya atau ia hanya berpura-pura supaya Ino menyingkir dari hadapannya. Shino mungkin telah memaafkannya, tetapi cowok itu jelas belum melupakan apa yang telah Ino lakukan padanya tempo hari. Dan sekarang ia ingin balas dendam atau bagaimana?
"Sekarang sebaiknya kau kembali ke dalam," Shino berkata datar, "teman-temanmu akan bertanya-tanya kemana kau pergi."
Shino baru saja hendak melangkah pergi ketika Ino tiba-tiba memegangi lengannya untuk menahannya. Ia kembali menoleh, hanya untuk mendapati gadis itu menatapnya dengan sorot mata putus asa. Seumur hidup, baru kali ini ia melihat wajah Ino yang seperti itu. Selama ini Ino yang dikenalnya adalah gadis populer yang dipenuhi dengan kebanggaan terhadap dirinya sendiri, tak pernah membiarkan dirinya terlihat lemah di hadapan laki-laki—mungkin pernah, tapi Shino tak pernah mau atau ingin tahu tentang hal itu—alasan yang membuatnya selama ini diam-diam mengagumi gadis itu, selain karena ia sangat cantik. Tapi sekarang tampaknya keadaannya berbeda.
"... situasinya sudah berubah," ujarnya tadi.
Shino bukanlah laki-laki bodoh yang sama sekali tidak mengerti makna yang mungkin tersirat dari kata-kata itu. Tetapi ia juga sudah mendapat pelajaran untuk tidak berharap terlalu banyak jika berhubungan dengan gadis populer yang arogan seperti Ino. Ia tak ingin terjatuh untuk kedua kalinya di lubang yang sama.
"Apa sekarang kau begitu membenciku?" tanya Ino.
"Aku tidak bilang begitu."
"Kalau begitu beri aku kesempatan." Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibir Ino tanpa ia benar-benar memikirkannya. Dan ketika ia tersadar, wajahnya bersemu merah. Meski begitu, ia tahu bahwa memang itulah yang diinginkannya dari Shino sekarang—sebuah kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang sudah ia perbuat. "Please?"
Shino tidak langsung menjawab. Ia tampak mempertimbangkan permintaan gadis di depannya selama beberapa saat, sebelum akhirnya ia menjawab, "kalau memang itu yang kauinginkan."
Senyum merekah di wajah Ino. Harapannya yang sempat meredup kembali timbul.
.
.
"Terimakasih sudah mentraktir kami," ucap Sakura pada Hinata yang baru saja keluar dari salah satu bilik di toilet Pondok Udang. "Sebenarnya kalian tidak perlu repot-repot begini. Kami jadi tidak enak."
Seraya tersenyum pada temannya itu, Hinata berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangan. "T—Tidak usah sungkan. Anggap saja sebagai perayaan untuk pertemuan kita."
"Yeah. Hahaha," Sakura tertawa canggung, seraya memandang Hinata dari cermin besar di hadapan mereka. Walaupun Hinata berkata seperti itu, ia masih merasa tidak enak hati. Masalahnya, meski harga makanan di sana tak semahal restoran di pusat kota Kiri, tapi tadi Naruto makan banyak sekali. Dan Sasuke juga tidak lebih baik. Cowok itu terus saja menunjukkan sikap yang tak bersahabat pada Neji—yang notabene membayari makanan mereka. Dasar tak tahu terima kasih! "Oh, ya. Selama di Kiri, kalian tinggal di mana?"
"Di hotel," sahut Hinata, "Moon Palace," tambahnya.
Sakura ingat hotel itu. Inari pernah menunjukkan padanya saat mereka berkeliling Kiri beberapa hari lalu. Terletak di salah satu distrik paling ramai di Kiri, hotel itu tidak tampak terlalu mencolok. Bangunannya sederhana, dengan jendela-jendela kaca yang tinggi dan pintu kaca yang selalu dijaga oleh seorang petugas hotel berseragam. Sakura mengingatnya dengan baik karena Sasuke bilang hotel itu milik orang Konoha.
"Kata Sasuke, hotel itu punya orang Konoha," Sakura menyeletuk.
"Um ..." Hinata tampak malu-malu, "sebenarnya hotel itu milik keluargaku."
Sesaat, Sakura hanya bisa tercengang. Yang ia tahu, Hyuuga Group, perusahaan milik keluarga Hyuuga, yang juga tempat ayah Ino bekerja, adalah perusahaan yang bergerak di bidang properti. Mereka memiliki real estate, kompleks apartemen dan hotel di Konoha. Sakura tidak tahu mereka ternyata membuka hotel di Kiri juga. Dan itu juga penjelasan paling masuk akal mengapa Sasuke tahu tentang hotel itu. Keluarga mereka kan saling mengenal.
"Oh ..." Sakura mengangguk-angguk. Entah mengapa ia merasakan sentakan kecil rasa iri saat memikirkan keluarga Sasuke dan Hinata yang saling mengenal. Namun gadis itu buru-buru menepis pikiran tersebut dari kepalanya. Memangnya kenapa kalau keluarga mereka saling kenal?
"Hei, Hinata," celetuk Sakura kemudian setelah ia selesai mencuci tangan dan mengambil selembar tisu dari dispenser yang digantung di samping wastafel. Sebuah ide baru saja melintas di benaknya. "Aku baru saja berpikir ..." gadis itu berhenti sejenak, ragu. Sementara Hinata menatapnya, menunggunya melanjutkan. "Um ... aku tidak tahu apakah menyukai ini atau tidak, tapi mumpung kita di sini—maksudku, di Kiri—bagaimana kalau kau menginap di tempatku? Maksudku, sleepover."
"Sleepover?" Kedua alis Hinata naik. Matanya melebar.
Sakura mengangguk. "Hu-um ... Kita bisa melakukan hal-hal menyenangkan, main games, menonton film atau mengobrol segala macam sampai larut. Aku sering melakukannya dengan Ino di Konoha. Tapi kalau kau tidak mau juga tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksa," tambahnya buru-buru, melihat ekspresi Hinata.
Adik sepupu Neji itu terdiam menatap Sakura selama beberapa saat, sebelum bertanya malu-malu, "m—maksudmu dengan Naruto dan yang lain juga?"
"Yeah ... ah, tapi tentu saja kita tidak akan tidur bersama-sama dengan mereka. Kita tidur di kamarku yang terpisah. Kamarku area bebas cowok, jadi kau tenang saja."
Mendengar penjelasan Sakura, pipi Hinata bersemu merah. Sebenarnya bukan itu maksud pertanyaannya, tapi ya sudahlah ... "Um ... tapi aku belum pernah melakukannya—sleepover—sebelumnya. Ayahku tidak pernah mengizinkan."
Sakura menghela napas kecewa. Padahal ia ingin sekali bisa menghabiskan waktu dengan seorang teman sesama perempuan yang bisa diajak bicara segala macam tanpa merasa canggung. Maksudnya, ia mana bisa membicarakan soal mode pakaian terbaru, ber-fangirling aktor atau penyanyi tampan, atau mencoba cat kuku baru yang kemarin dibelinya saat berjalan-jalan dengan Sasuke, Sai, atau Naruto, kan? Haah ... kalau saja Ino mau ikut berliburan di Kiri saat ia mengajaknya dulu.
"Jadi tidak bisa, ya?"
Melihat kekecewaan di wajah temannya, Hinata buru-buru berkata, "aku akan mencoba bicara dengan Kak Tokuma dan Kak Neji. Mungkin mereka mau mengizinkanku pergi. Kedengarannya menyenangkan."
Senyum mengembang di wajah Sakura mendengar jawaban Hinata. "Baiklah!" Gadis itu menepukkan kedua tangannya. "Kurasa sebaiknya kita cepat. Mereka pasti sudah menunggu."
Mengangguk, Hinata cepat-cepat menyelesaikan acara cuci tangannya dan mengeringkannya dengan tisu. Bersama-sama, kedua gadis itu meninggalkan toilet untuk kemudian bergabung dengan yang lain yang—benar saja—sudah menunggu mereka di pintu depan pondok.
"Kalian lama sekali," Hanabi memprotes. Ekspresinya tak sabar.
"I—iya, iya, maaf ..." Hinata berkata pada adiknya.
Setelah mengucapkan terimakasih untuk yang terakhir kali atas traktiran makan malam, mereka berpisah jalan. Keluarga Hyuuga akan kembali ke hotel dengan menggunakan mobil milik Tokuma yang diparkir di sana—sebelumnya, ia, Hinata, Naruto dan Sai pergi ke pondok menggunakan mobil itu dari pantai tempat mereka bertemu—sementara empat sekawan kita akan berjalan kaki ke pantai untuk mengambil sepeda mereka.
Selama perjalanan berjalan kaki itu, Naruto yang masih tampak senang terus mengoceh tentang betapa baiknya Tokuma dan Neji, juga betapa miripnya mereka berdua, seperti kakak beradik sungguhan. Mendengar pujian menggebu-gebu yang ditujukan pada rivalnya tersebut tentu saja membuat Sasuke semakin kesal. Bisa-bisanya Naruto itu. Apa dia tidak ingat Neji pernah membuat Sakura menangis? Sasuke terus saja merutuk dalam hati.
Sementara Sakura tampaknya punya pendapat berbeda. Ia yang semenjak di Pondok tadi kerap memerhatikan Naruto—betapa wajahnya berbinar-binar padahal beberapa jam yang lalu ia baru saja tercebur ke kolam hiu dan ponselnya mati—mengira alasan keriangannya bukan hanya karena senang ditraktir Neji dan Tokuma makan seafood, melainkan karena hal lain. Yah, memangnya siapa yang tadi paling sering diajaknya bicara?
Sai? Cowok itu terlalu asyik berkirim email dengan pacarnya di Konoha sehingga tidak terlalu mendengarkan.
.
.
Yamato sudah pulang setelah kerja paruh waktunya di Restoran Akatsuki ketika Sakura, Sasuke, Naruto dan Sai akhirnya tiba di rumah. Ia sempat khawatir karena empat remaja itu pulang lebih larut dari biasanya—yah, sebenarnya ia lebih mengkhawatirkan Sakura, karena gadis itu adalah tanggung jawabnya selama mereka tinggal di Kiri.
"Lain kali beritahu aku kalau kalian pulang sampai malam," katanya pada Sakura sementara tiga yang lain bergedebukan ke atas.
"Iya, maaf," Sakura memberinya cengiran menyesal sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal, "tadi kami bertemu teman di pantai, jadi lupa waktu."
Yamato menghela napas. "Ya sudah. Kelihatannya kau capek. Istirahat sana," ujarnya, menepuk puncak kepala Sakura, sebelum berbalik menaiki tangga menuju kamarnya sendiri di lantai dua—di mana ia menemukan Sasuke, Sai dan Naruto bersuit di ruang televisi untuk menentukan siapa yang mendapat giliran menggunakan kamar mandi lebih dulu.
"Aaargh! Kenapa aku selalu saja kalah setiap kali suit dengan kalian?!" protes Naruto seraya jarinya menuding kedua sahabatnya.
"Karena kau idiot," Sasuke menggerutu. Ia lalu menghenyakkan diri di sofa di depan televisi, meraih remote dan menyalakannya. Sementara Sai yang mendapat giliran pertama, langsung pergi mengambil handuk.
Naruto memelototinya. "Heh! Enak saja kau mengataiku idiot!" tukasnya, menghempaskan bokongnya di sofa sebelah Sasuke, kemudian dengan seenaknya merebut remote dari tangannya untuk mengganti saluran.
Sasuke yang biasanya pasti akan memrotes—atau setidaknya, mengumpat—namun kali ini ia sama sekali tak bereaksi. Ia hanya menghela napas berat dan melipat kedua lengannya di depan dada, memandangi layar televisi dengan cemberut. Menyadari sikap sahabatnya yang tak biasa, Naruto melirik Sasuke.
"Kau kenapa, eh, Sasuke? Tampangmu itu sangat tidak enak dilihat, tahu."
Sasuke mendengus pelan, dan tanpa mengalihkan pandangannya pada layar televisi, ia membalas, "bukankah kau sedang tidak bicara padaku? Lanjutkan saja. Aku sama sekali tak keberatan."
Mendengar tanggapan dingin Sasuke, Naruto mencibirnya. "Jadi kau lebih senang aku marah padamu terus-terusan, eh?"
"Hn," sahut Sasuke tanpa benar-benar berpikir—ia bahkan tidak benar-benar menyimak apa yang Naruto katakan. Pikirannya sedang berada di tempat lain saat itu. Setidaknya sampai ia merasakan Naruto menendang kakinya. Ia menoleh, memelototi Naruto. "APA?!" bentaknya.
"Kau ini keterlaluan sekali," Naruto menukas. "Aku tahu kau masih merasa bersalah karena nyaris membuatku jadi mangsa hiu dan merusak ponselku, tapi kau kan tidak perlu bersikap kekanak-kanakan seperti ini. Aku sudah tidak marah lagi padamu, kalau itu yang kauinginkan!"
"Siapa yang bersikap kekanakan?" Sasuke mendadak panas. Seenaknya saja dia bicara!
"Kau! Siapa lagi?"
Sasuke mendengus sinis. "Jadi kaupikir aku merajukhanya gara-gara kau tidak bicara padaku, begitu?"
"Eh—" Naruto mengangkat kedua alisnya, mengerjap bingung, "memangnya tidak?"
"Tch! Memangnya berapa umurku? Lima tahun?"
Naruto terkekeh bodoh, seraya menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. "Hehe ... baguslah kalau tidak. Eh—tapi kenapa?"
Sasuke menghembuskan napas keras. "Jangan pedulikan aku," tukasnya, lalu kembali mengarahkan pandangannya ke televisi, bertekad mengabaikan Naruto.
Tetapi bukan Naruto namanya kalau menyerah dan tidak berusaha mengorek lebih jauh. Bagaimanapun juga Sasuke adalah sahabatnya, dan Naruto tidak bisa tidak peduli padanya. "Jangan begitu. Kita kan teman. Mana bisa aku—" Ia mendadak berhenti. Mata birunya melebar seakan baru saja teringat sesuatu. Tentu saja. Bagaimana mungkin ia sampai tidak menyadarinya sebelum ini? "Tunggu dulu. Apa kau begini gara-gara Neji dan Sakura?"
"..."
Melihat tak adanya tanggapan dari Sasuke, Naruto langsung menarik kesimpulan bahwa memang itulah sebabnya. Namun alih-alih menunjukkan sikap berempati, Naruto malah meledak tertawa. "Astaga. Ternyata itu! Hahaha ..."
Sasuke membelalak padanya, tersinggung. "Diam! Itu sama sekali tidak lucu," desisnya.
"Pftt—s-sori." Naruto susah payah menghentikan tawanya. Wajahnya sampai memerah. "Ternyata Sasuke sedang merajuk gara-gara cemburu pada Neji! Astaga ..." Naruto nyengir lebar.
Sasuke menyambar bantal duduk dari sofa dan melemparnya ke arah Naruto kuat-kuat. "Sekali lagi kau mengataiku merajuk—"
"Apa?" sela Naruto, menangkap bantal duduk yang dilemparkan Sasuke. Cengirannya sama sekali tak memudar. "Aku kan hanya mengatakan yang sebenarnya. Kau me-ra-juk, cemburu karena melihat Sakura akrab dengan Neji! Ha! Tak ada gunanya menyangkal. Sudah jelas begitu!" Jarinya menuding Sasuke penuh kemenangan, lalu kembali tergelak.
Mendengar kebenaran yang sedari tadi disangkalnya mati-matian itu diucapkan dengan begitu gamblang di depan wajahnya membuat Sasuke kesal sekaligus malu. Ia bahkan tak dapat menyembunyikan rona merah yang kemudian muncul di kedua pipinya dan menjalar sampai ke telinganya. Untungnya saat itu hanya ada mereka berdua—Sai sedang di kamar mandi, Yamato sudah masuk ke kamarnya, sementara Haku tak terlihat di mana pun—Jika tidak, situasinya pasti semakin memalukan.
Namun alih-alih membalas kata-kata Naruto dengan sengit, Sasuke memilih tidak membalas. Ia sudah terlalu mengenal tabiat Naruto yang tak pernah melewatkan kesempatan untuk membuatnya kesal. Meladeninya hanya akan membuat sahabatnya itu semakin menjadi-jadi menggodanya.
"Tapi kalau kau mau mendengar pendapatku, Sasuke, kurasa kecemburuanmu itu sama sekali tidak beralasan," kata Naruto kemudian, setelah ia berhenti nyengir seperti orang tolol. "Kita berdua tahu tidak ada apa-apa antara Sakura dan Neji."
Sasuke enggan mengakuinya, tetapi kata-kata Naruto ada benarnya. Ia tahu memang tak ada apa-apa antara Sakura dan Neji, namun ia belum sepenuhnya bisa melupakan kejadian yang dulu. Dan sejujurnya itu amat mengganggunya. Bagaimana jika Sakura ternyata masih menyimpan harapan dan sejarah kembali berulang?
"Biar kutebak, kau masih belum bisa melupakan yang dulu-dulu itu, kan?" celetuk Naruto, tepat seperti yang dipikirkan Sasuke. "Iya sih, Neji itu cowok pertama yang pernah benar-benar Sakura sukai, bla bla bla. Tapi itu kan masa lalu. Kalau kau memerhatikan Sakura, kau pasti tahu bagaimana dia berusaha keras melupakan Neji. Dan menurutku dia berhasil. Kaulihat tadi, kan, bagaimana mereka saling berinteraksi? Kalau Sakura masih menyukai Neji, pasti akan terlihat. Tetapi aku sama sekali tak melihat tanda-tandanya."
Kerutan sama muncul di antara kedua alis Sasuke sementara ia memikirkan kata-kata sahabatnya itu. Melihat ekspresi Sasuke yang tampak sedikit bingung itu, Naruto terkekeh-kekeh.
"Kau tidak memerhatikannya karena kau terlalu sibuk bersungut-sungut sendiri."
"Aku tidak bersungut-sungut," bantah Sasuke dalam gerutuan rendah sambil memalingkan wajahnya, menghindari tatapan Naruto.
Naruto menghela napas, menatap sahabatnya itu dengan seulas senyum simpul di bibirnya. Sasuke yang keras kepala, sama sekali tidak berubah. Sulit membuatnya mengakui perasaannya yang sesungguhnya. Harus dengan desakan sampai benar-benar membuatnya terpojok, barulah Sasuke mau mengaku—sama seperti saat Naruto mendesaknya mengakui rasa sukanya pada Sakura dulu.
"Baiklah," desah Naruto, mengalah. Seharian ini ia sudah cukup ribut-ribut dengan Sasuke, sekarang ia sudah kehilangan minat untuk keributan yang lain. Mungkin lain kali saja kalau tenaganya masih seratus persen. Sekarang ia sudah lelah. "Satu hal yang perlu kau tahu, Sasuke. Sakura itu memang terkadang emosional, suka terbawa perasaan, tapi dia sama sekali tidak boo—" ucapannya terpotong oleh kuap lebar, "—bodoh. Ya ampun, aku lelah sekali."
Naruto lalu meletakkan remote televisi ke atas meja dan beranjak. "Aku mau tidur-tiduran sebentar di dalam. Kalau kau sudah selesai, beritahu aku, ya? Oh, ya—" ia meraih sebotol minuman dari kantung belanjaan Sasuke yang diletakkan di atas meja, melambaikannya di udara, "—trims minumannya."
Naruto baru saja mencapai pintu kamar ketika langkahnya mendadak berhenti, dan ia menoleh pada Sasuke yang masih duduk di sofa. Cengiran jahil yang menjadi ciri khasnya menghiasi wajah tan cowok pirang itu. "Ah, satu lagi, Sas-ke," ujarnya. Mendengar namanya disebut, Sasuke refleks menoleh pada temannya itu. "Kalau kau mau mendengarkan nasihatku, dari pada kau membuang-buang waktu bersungut-sungut mencemburui Neji, bagaimana kalau kau melakukan sesuatu untuk Sakura? Menurutku itu jauh lebih baik. Siapa tahu, kalau kau beruntung itu bisa membuatnya sedikit melirikmu."
"Tch! Berisik," Sasuke menukas galak, kendati ia tak terlalu yakin apakah ia merasa kesal atau justru sebaliknya mendengar perkataan Naruto. "Tidur sana!"
Naruto hanya terkekeh, sebelum akhirnya menghilang di balik pintu, meninggalkan Sasuke termangu sendirian di depan televisi yang masih menyala, tenggelam dalam pemikirannya sendiri.
.
.
Sai sedang duduk bersila di lantai dengan netbook terbuka di depannya, ketika Sasuke kembali ke kamar setelah selesai membersihkan diri. Entah apa yang tengah dikerjakannya, Sai begitu serius sampai-sampai tak menyadari Sasuke sudah ada di sana sampai temannya itu memanggilnya,
"Kau sedang apa?"
Sai mendongak, melirik sekilas ke arah Sasuke sebelum kembali menunduk memandang layar netbook. "Mengerjakan tugas," sahutnya.
"Tugas?" Sasuke menatapnya bingung, karena setahunya mereka tak mendapatkan tugas apa pun sepanjang musim panas.
"Shino menyuruh anak-anak jurnal membuat artikel atau dokumentasi selama musim panas untuk dimasukkan ke dalam rubrik liburan majalah sekolah edisi pertama semester depan," jelas Sai.
Sepertinya julukan klub tersibuk yang disematkan pada klub jurnal memang tepat. Bahkan sepanjang liburan musim panas pun mereka masih harus bekerja.
"Sepertinya memusingkan," komentar Sasuke.
"Sebenarnya ini cukup menyenangkan," bantah Sai, seraya memamerkan senyumnya yang biasa.
Sasuke memutar matanya. "Hn."
Perhatian Sasuke kemudian teralih pada sesosok makhluk pirang yang terkapar di atas tempat tidur. Matanya terpejam. Sebelah kakinya menggantung di sisi tempat tidur. Dengkuran halus terdengar dari mulutnya yang sedikit terbuka. Sasuke menghela napas keras. "Ck. Dasar."
Ia lantas menghampiri tempat tidur yang tak terlalu besar itu, mengguncang bahu Naruto yang tertidur pulas. "Bangun. Sekarang giliranmu."
"Nng ..." Naruto menggerutu tak jelas. Wajahnya berkerut tak senang, tapi ia sama sekali tak terbangun.
"Oi, Naruto."
Sekali lagi Sasuke mencoba membangunkannya. Kali ini Naruto merespon dengan menepis tangan Sasuke dan berguling ke arah lain.
"Lima menit lagi, Pap ..."
"Ck. Dasar bodoh," dengus Sasuke, yang langsung dijawab dengan suara dengkuran yang semakin keras.
"Kelihatannya dia benar-benar lelah," Sai terkekeh, ikut menoleh ke arah Naruto, "sejak aku selesai tadi, dia sudah tewas seperti itu."
Sasuke mendengus, berkacak pinggang. Sudut-sudur bibirnya tertarik membentuk seringai kecil mengawasi Naruto yang kembali berguling, mencari posisi yang lebih nyaman—tapi malah berakhir sebelah tangannya, tidak hanya kaki, ikut menggantung dengan tidak elitnya di sisi tempat tidur. Bergeser sedikit lagi saja, ia pasti langsung jatuh terguling.
"Ck. Idiot."
Menggerutu sendiri, Sasuke menaikkan kaki Naruto ke tempat tidur, lalu menggulingkannya sampai tubuh sahabatnya itu berpindah ke posisi yang lebih aman di tengah tempat tidur. Entah sadar atau tidak, Naruto mengeluarkan suara seperti kekehan samar seraya tangannya menggaruk di bawah kausnya yang tersingkap sebelum kembali mendengkur.
"Apa?" sembur Sasuke saat mendengar Sai terkekeh di belakangnya.
"Tidak," sahut Sai, tersenyum geli, "aku hanya berpikir kau manis sekali."
Sasuke mencibirnya. "Jadi kau lebih suka membiarkannya terjatuh menimpamu kalau aku biarkan posisinya seperti tadi, eh?"
"Menimpamu," koreksi Sai kalem. "Kau yang tidur di dekat ranjang, bukan aku."
Sasuke hendak membuka mulutnya untuk membalas, namun segera mengurungkan niatnya. Rasanya pembicaraan ini akan semakin konyol dan tidak jelas jika dilanjutkan. Akhirnya Sasuke hanya mendesah lelah, dan beranjak untuk mengambil kasur lipat di dekat lemari.
"Minggir."
Sai mengangkat netbooknya, menyingkir dari tempatnya supaya Sasuke bisa menggelar kasur lipat. Selesai, Sai menyamankan dirinya di atas kasur dengan netbook di pangkuan, sementara Sasuke mengambil bantal untuk dirinya sendiri dan bersiap tidur. Namun sesuatu mengalihkan perhatiannya. Sekilas ketika ia mengerling ke arah layar netbook Sai, ia melihat gambar seorang gadis berambut merah muda yang sedang tertawa dengan latar belakang pantai di senja hari.
"Apa itu?" Sasuke tak dapat menahan diri menyeletuk. Bantalnya terlupakan.
"Apa?" Sai menoleh, dan ketika ia menyadari arah tatapan Sasuke, senyumnya mengembang. "Oh, ini. Foto Sakura tadi sore. Bagus, ya?"
Sasuke mengangkat alisnya tinggi. "Kau memasukkan foto Sakura untuk tugas jurnal?"
Menyadari nada sinis dalam suara sahabatnya, Sai terkekeh kecil. "Aku hanya sedang memilih foto-foto yang bagus. Jangan panas dulu. Kau mau lihat? Aku baru saja memindahkan foto-foto hari ini dari kameraku."
Sai tak perlu lama-lama menunggu jawaban, karena saat berikutnya Sasuke sudah duduk di sebelahnya. Walaupun nyaris tak pernah berkomentar, Sai tahu sahabatnya itu selalu tertarik pada karya fotografinya. Tak jarang Sasuke juga menyimpan beberapa yang ia sukai untuk dirinya sendiri—seperti foto siluet dirinya yang sedang berdiri di tepi jembatan saat mereka melihat sunset di sana dua hari lalu, yang sekarang menjadi wallpaper ponselnya.
Sesekali Sai menjelaskan kapan atau di mana ia mengambil foto-foto itu. Ia memang memiliki kebiasaan memotret diam-diam saat teman-temannya tidak tahu, sehingga seringkali menangkap momen-momen yang tak biasa menjadi objek foto—seperti Naruto yang mengupil saat mereka menonton televisi pagi ini, Sasuke yang sedang ganti baju, Sakura membungkuk di depan kulkas—Atau foto-foto iseng seperti foto semangka yang baru dipotong, mangkuk ramen yang sudah habis dimakan, kaki berkulit pucat yang nangkring di atas meja, jendela, tumpukan tas di kamar, keranjang cucian, close up wajahnya sendiri dan banyak lagi.
Akan tetapi yang benar-benar menarik minat Sasuke adalah foto-foto saat mereka di luar: Naruto dan Sakura yang berboncengan naik sepeda, para pejalan kaki, bagian depan teater tempat mereka membeli tiket tadi siang, foto-foto mereka di penangkaran hiu, di pantai, hingga yang terakhir saat mereka berada di Pondok Udang. Dan dari sederet foto-foto yang diperlihatkan Sai padanya, Sasuke kemudian menyadari kawannya itu lebih sering memotret Sakura dibandingkan ia atau Naruto.
"Untuk seseorang yang selalu menganggap Sakura tidak cantik, kau terlalu sering memotretnya."
"Ternyata kau menyadarinya juga, ya?" Sai tertawa kecil. "Walaupun wajah Sakura tidak begitu cantik, tetapi dia punya mata yang sangat indah dan ekspresif. Lagipula, orang yang memiliki mata hijau seperti Sakura itu tidak terlalu banyak di negeri ini. Mungkin itu yang membuatnya terlihat menarik." Sai menoleh memandang Sasuke, memberinya senyum penuh arti. "Tapi kau tidak perlu khawatir. Sakura sama sekali bukan tipeku."
Sasuke mendengus. "Apa aku terlihat khawatir?"
"Ya," jawab Sai polos. "Kau hampir selalu terlihat was-was setiap kali Sakura akrab dengan laki-laki. Kakaknya Suigetsu, Deidara, Neji apa lagi."
"Rupanya kau lebih tajam dari Naruto, eh?" komentar Sasuke sinis.
"Aku anggap itu sebagai pujian," Sai menanggapi dengan senyum ringan, "kalau aku jadi kau, aku tidak akan sekhawatir itu."
Sasuke tampak tak senang. Mudah saja ia bilang begitu. "Satu lagi kesamaan antara kau dan Naruto. Bicara memang lebih gampang dibandingkan merasakannya sendiri."
"Benar," sahut Sai, mengangguk setuju, "tapi setidaknya dengan bicara, kami sudah melakukan sesuatu untukmu sebagai teman. Benar, kan? Dan—ah! Ada satu lagi yang ingin kuperlihatkan padamu, Sasuke."
Sebelum Sasuke sempat bertanya, Sai sudah berpaling menatap layar netbooknya dan mulai mencari-cari.
"Aku tidak tahu kau menyadarinya atau tidak, Sasuke. Tapi hari ini aku menemukan sesuatu yang menarik," Sai berkata dengan nada berpuas diri.
Sasuke mengernyit. "Sesuatu apa? Bicara yang jelas!"
"Tunggu sebentar ..." ucap Sai lambat-lambat, sebelum kemudian ia berseru puas, "nah! Ini dia—" Ia menggeser posisi netbooknya supaya Sasuke bisa melihat lebih jelas.
Itu adalah salah satu foto yang diambil saat mereka berada di Pondok Udang—satu dari sekian banyak foto yang diambil Sai diam-diam. Hanya ada Sasuke dan Sakura di sana—juga Naruto yang terfoto bahunya saja—bersama sepiring kepiting bakar di depan mereka. Wajah Sasuke tampak berkeriut penuh konsentrasi sementara tangannya mencengkeram salah satu capit kepiting yang besar. Foto itu pasti diambil saat ia sedang berusaha mematahkan kaki kepiting itu untuk Sakura. Namun bukan itu yang menarik perhatian Sasuke, melainkan gadis bermata hijau di sampingnya. Alih-alih memandang ke arah si kepiting malang, gadis itu menatap ke arahnya. Tatapannya lembut. Bibirnya menyunggingkan senyum misterius.
Sasuke merasakan organ-organnya seakan menggeliat di dalam tubuhnya hanya dengan melihat foto itu. Meski begitu, ia berusaha terlihat tak terlalu terpengaruh.
"Memangnya kenapa dengan foto ini?" tanyanya, memasang ekspresi datar di wajahnya.
Sai mengerling Sasuke. "Masih pura-pura tidak sadar," kekehnya. Sasuke merasakan wajahnya menghangat. "Bagaimana dengan yang ini?"
Kali ini Sai memperlihatkan foto Sasuke yang tengah memandang entah ke mana dengan wajah cemberut. Sementara di sampingnya, Sakura yang sedang menyeruput minuman sedang melirik ke arahnya. Foto berikutnya, Sakura menempelkan gelas minuman dingin itu ke pipi Sasuke. Ekspresi cowok itu kaget, matanya melebar. Foto selanjutnya menampilkan Sakura yang tertawa sampai kedua matanya terpejam, dengan Sasuke melotot ke arahnya. Sampai akhirnya di foto terakhir di deretan itu yang membuat Sasuke nyaris tersedak ludahnya sendiri. Kepala Sakura terdongak ke belakang sementara gadis itu tertawa, sehingga kepalanya terhalang kepala Sasuke. Siapa pun yang melihat foto itu hampir dipastikan akan salah paham dengan posisi mereka—juga posisi Sai saat mengambil gambar. Di situ terlihat seolah-olah mereka sedang berciuman. Padahal tidak.
"Apa-apaan foto itu?!"
Menatap Sasuke yang kini merah padam, Sai menyahut geli, "kenapa? Menurutku ini lucu. Bayangkan reaksi anak-anak kalau aku meng unggahnya di jejaring sosial—"
"Awas saja kalau kau berani," tukas Sasuke penuh ancaman.
"Aku hanya bergurau, Sasuke," kekeh Sai, "gadis-gadis penggemarmu itu ganas. Sakura dalam bahaya besar kalau mereka sampai melihat ini."
Sasuke bersungut-sungut. Meski begitu, ia tak dapat mengalihkan pandangannya dari foto itu, dan diam-diam kecewa ketika Sai memindahkannya untuk melihat foto-foto lain.
"Dan yang ini saudaranya Neji yang ambil."
Mereka akhirnya mencapai foto terakhir di Pondok Udang. Semua orang ada di sana kecuali Tokuma Hyuuga, merapat ke tengah meja, dan semuanya tersenyum ke arah kamera. Semuanya, kecuali Sasuke yang memasang tampang bosan. Semula Sasuke sama sekali tidak memerhatikan, tetapi kemudian ia melihat lengan Sakura setengah merangkul lengannya sambil menunjuk ke arah kamera, seakan mengajaknya untuk ikut tersenyum.
Sasuke terdiam. Entah mengapa hatinya mendadak dipenuhi perasaan bersalah yang tak dapat dijelaskan. Kemudian ia mendengar Sai menghela napas.
"Aku merasa kasihan pada Sakura," ujarnya, "padahal kelihatannya saat di pondok tadi dia ingin sekali lebih banyak berinteraksi denganmu, tapi kau malah tak mengacuhkannya."
"Tahu dari mana? Bukannya tadi dia sangat menikmati berinteraksi dengan Neji?"
Sai menoleh memandang Sasuke tajam. "Aku duduk tepat di depan kalian, dan aku cukup sering memergokinya sedang menatapmu. Dan kau juga memerhatikan setiap kali dia bicara dengan Neji, dia juga berusaha melibatkanmu. Tapi reaksimu selalu sinis. Sikapmu itu tanpa kausadari sudah memojokkan Sakura."
Sasuke berpaling dari Sai, menyisir rambutnya dengan jemari seraya menghela napas berat. Sekarang ia benar-benar merasa bersalah.
"Aku tidak tahu bagaimana perasaan Sakura padamu sekarang ini. Tapi kalau saja dia sudah balas menyukaimu, bisa saja sikapmu tadi malah membuatnya berubah pikiran. Aku pernah membaca di buku, perempuan pada umumnya tidak terlalu menyukai laki-laki yang terlalu posesif. Kalau kau benar-benar menyukainya, seharusnya kau berusaha memenangkan hatinya, bukannya sebaliknya."
Persis seperti yang dikatakan Naruto sebelumnya, dan Sasuke tahu kedua sahabatnya itu benar. Tampaknya mereka memang memahami situasinya jauh baik dibandingkan dirinya sendiri. Tidak tahu harus berkomentar apa, Sasuke akhirnya hanya berkata, "sudah malam. Aku mau tidur."
Sasuke lantas merebahkan tubuhnya di kasur lipat, berbaring miring memunggungi Sai. Sasuke tengah tenggelam dalam pikirannya sendiri ketika ia mendengar Sai kembali bersuara.
"Bagaimana dengan ponsel Naruto? Kau sudah punya rencana?"
"Hn. Aku sudah tanya Yamato. Katanya dia tahu tempat servis ponsel di dekat sini. Besok pagi dia akan menunjukkan tempatnya."
"Oh. Baguslah."
"Apa tadi kakakku menelepon?" tanya Sasuke setelah jeda beberapa saat.
"Tidak."
"Begitu ..." Sasuke mendesah pelan. Ia memejamkan matanya, berusaha untuk tidur. "Kalau sudah selesai, matikan lampunya."
"Aah."
.
.
Sasuke terbangun keesokan paginya dengan tubuh terasa letih. Semalaman tidurnya sama sekali tak nyenyak. Bisa dibilang ia nyaris tak tidur. Bahkan jauh setelah Sai mematikan lampu dan pergi tidur, ia masih terjaga. Dan ketika akhirnya ia berhasil tertidur, tak sampai satu jam ia sudah terbangun, terusik oleh mimpi buruk yang melibatkan Sakura yang memberitahunya ia sudah bertunangan dengan Neji Hyuuga.
"Sial," Sasuke mengumpat pelan, seraya memijat-mijat pangkal hidungnya. Kurang tidur, ditambah pengapnya udara kamar, membuat kepalanya terasa berdenyut-denyut. Sejenak ia memejamkan mata, menunggu kesadarannya benar-benar terkumpul, sebelum memandang berkeliling kamar yang berukuran tak terlalu luas itu. Baik Sai maupun Naruto masih terlelap. Suara napas mereka yang teratur memenuhi kamar, ditingkahi suara samar orang-orang dari luar.
Sasuke lalu beranjak untuk membuka jendela, membiarkan udara pagi yang sejuk memasuki kamar. Rupanya langit di luar sudah mulai terang, walaupun belum sepenuhnya. Meski begitu, geliat kehidupan di Kiri sudah mulai terasa. Jendela-jendela sudah mulai dibuka dan orang-orang keluar dari rumah mereka untuk berangkat bekerja atau sekedar menyapu halaman. Suara sapaan riang terdengar di sana-sini.
Sayangnya suasana ceria di pagi hari itu tak lantas menular pada Sasuke. Kalau bisa, ingin sekali rasanya ia kembali meringkuk di kasur yang nyaman, namun Sasuke mengurungkan niatnya saat teringat pagi ini ia ada janji dengan Yamato. Maka dengan berat hati Sasuke menyeret langkahnya meninggalkan kamar menuju kamar mandi untuk cuci muka dan gosok gigi.
"Selamat pagi," sapa Haku riang. Ia sudah duduk di meja makan, menyesap kopi sambil membaca diktat.
"Hn," sahut Sasuke tak bersemangat.
"Ah, kau sudah bangun rupanya." Yamato yang sedang berdiri di depan kompor menoleh. Aroma sedap daging goreng memenuhi udara. "Mau sarapan?"
"Hn."
"Anak itu kelihatannya sedang tidak bersemangat," komentar Haku seraya menggeleng-gelengkan kepalanya prihatin menatap pintu kamar mandi tempat Sasuke baru saja menghilang.
"Aah," gumam Yamato, kembali pada kegiatannya semula membuat sarapan. "Sepertinya kemarin bukan hari yang baik untuknya. Hei, Haku, bisa tolong keluarkan rotinya dari toaster?"
Selesai sarapan, Sasuke kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian dan bersiap-siap. Ia sedang memasukkan ponsel Naruto dan dompet ke saku jinsnya ketika Sai menggeliat bangun. Cowok berkulit pucat itu mengerjap. Dahinya berkerut memandang Sasuke yang sudah rapi.
"Kau mau kemana?" tanyanya dengan suara mengantuk.
"Ke tempat servis ponsel."
Sai hanya mengangguk sambil menggaruk-garuk kepalanya, membuat rambut hitamnya yang sudah mencuat ke mana-mana semakin awut-awutan. Sementara itu, tanpa mengatakan apa-apa lagi, Sasuke bergegas keluar. Yamato sudah menunggunya di tangga bersama Haku. Dari seragamyang mereka kenakan, sepertinya mereka akan langsung ke kampus selepas mengantar Sasuke.
"Tempatnya mungkin akan buka agak siang," beritahu Yamato sementara mereka menuruni tangga, melewati bordes sempit. "Kau mungkin harus menunggu sebentar. Tidak apa?"
"Hn." Sasuke menghela napas. Yamato sudah mengatakannya juga semalam. Ia hanya bisa menunjukkan tempatnya sebelum pergi ke kampus. Jadwalnya yang padat—padahal saat itu sedang musim panas—membuatnya tak memungkinkan mengantar Sasuke di waktu lain. "Kebetulan aku juga sedang butuh menghirup udara segar."
"Yah, kelihatannya memang begitu," komentar Yamato sembari tersenyum.
Ketiganya hampir mencapai pintu depan ketika pintu tersebut mengayun terbuka dan dua orang wanita melangkah masuk. Yang pertama adalah sang nyonya rumah, Tsunami. Tampaknya ia baru saja selesai membersihkan halaman depan jika dilihat dari sapu yang ia bawa. Mengikuti di belakangnya, tak lain dan tak bukan adalah Sakura. Tsunami menyapa mereka hangat dan berbasa-basi sebentar sebelum permisi ke belakang untuk menyiapkan sarapan.
"Jadi ... jangan bilang kau keluyuran sendirian lagi," kata Yamato pada Sakura, berpura-pura galak.
"Aku tidak keluyuran, kok," gadis itu memrotes, menjulurkan lidahnya pada Yamato. "Cuma pergi ke jembatan sebentar, dan ada sesuatu yang harus kubeli. Lihat." Sakura menunjukkan kantung plastik di tangannya, tersenyum penuh kemenangan. Matanya kemudian terarah pada Sasuke yang sedikit tersembunyi di belakang Yamato. Kedua alisnya terangkat. "Eh—Sasuke? Mau pergi ke mana?"
"Memperbaiki ponsel Naruto," gumam Sasuke tanpa memandang Sakura. Ia masih merasa tidak enak pada gadis itu atas sikapnya semalam—ditambah jika mengingat kata-kata Naruto dan Sai.
"Oh ..."
Sejenak Sakura memandangnya bingung, sebelum kata-kata Yamato kembali mengalihkan perhatian gadis itu.
"Kalau begitu kami pergi, Sakura."
"Oh—yah. Hati-hati."
Sakura masih berdiri di sana, termangu menatap pintu setelah ketiga orang tadi meninggalkan rumah. Dahinya berkerut.
Sasuke kenapa, sih?
.
.
"Aaaa! Panaaasnyaaa!" Naruto mengeluh keras-keras seraya mengipas-ngipasi dirinya sendiri dengan tangan. Keringat membanjir di pelipis dan tubuhnya. Siang itu memang keterlaluan panasnya. Barangkali suhunya sudah mencapai titik tertinggi sepanjang musim panas. Padahal waktu belum menunjukkan tengah hari. "Kalau saja di sini ada AC ..."
"Naruto," tegur Sakura seraya memutar bola matanya, "jangan mengeluh terus, ah. Bagaimana kalau kedengaran Bibi Tsunami kau mengeluh karena tak ada AC?"
Naruto yang semua berbaring di sofa buru-buru bangun. Mata birunya membelalak cemas menatap Sakura yang duduk di lantai. "Apa aku tadi berbicara terlalu keras?"
Gadis berambut merah muda itu menoleh ke arah Naruto, menatapnya seolah Naruto menanyakan sesuatu yang sudah sangat jelas jawabannya. "Apa kau tidak tahu? Suaramu itu bisa terdengar sampai radius lima kilometer."
"Eeh!"
Reaksi Naruto yang berlebihkan kontan membuat Sakura tertawa. Naruto yang spontan dan terkadang bersikap konyol, selalu menjadi sasaran empuk gurauan teman-temannya, termasuk Sakura. Menyadari dirinya tengah dikerjai, Naruto memanyunkan bibirnya.
"Aah—Sakura teganya ..."
Sakura tertawa, meninju lutut Naruto gemas. "Makanya kecilkan suaramu. Kalau benar-benar terdengar Bibi Tsunami kan tidak enak." Gadis itu kembali berpaling untuk melanjutkan kegiatannya semula menulis sesuatu di buku memonya.
"Habis aku tidak tahan ... panas sekali di sini. Lebih panas dari di Konoha," lagi-lagi Naruto berkeluh-kesah.
"Namanya juga daerah pinggir laut," komentar Sai yang duduk berselonjor kaki di sebelah Sakura, tanpa mengalihkan perhatiannya dari pembawa acara talk show di televisi, "wajar saja kalau hawanya lebih panas."
"Iya, iya," Naruto memanyunkan bibirnya. Namun ekspresinya mendadak berubah cerah begitu sebuah ide melintas di kepalanya. "Hei, kalian tahu di mana Neji menginap? Bagaimana kalau kita pergi mengunjunginya?"
"Kalau mau bertanya tentang Hinata, langsung tanya saja. Tak perlu memakai Neji sebagai alasan," sahut Sai kalem, sementara di sebelahnya, Sakura mengikik tertahan. Sai menoleh pada Naruto, memamerkan senyum menyebalkan. "Nanti malam kau pasti akan bertemu dengannya. Sabarlah sebentar lagi, Naruto."
Ekspresi Naruto langsung berubah. Namun belum sempat ia membuka mulut untuk membalas kata-kata Sai, Sakura menambahi,
"Bahkan kalau kita beruntung, mungkin Hinata akan menginap di sini. Tadi aku sudah minta izin pada Bibi Tsunami dan dia membolehkan. Tinggal menunggu apa saudaranya memberi izin atau tidak."
"Benarkah?" seru Naruto antusias sebelum sempat menahan diri. Dan begitu ia tersadar, wajahnya langsung bersemu merah. "Ehm—maksudku, pasti sangat menyenangkan kalau dia menginap. Sakura jadi tidak perlu kesepian tidur sendiri."
Sakura dan Sai bertukar pandang. Keduanya lalu tertawa, membuat wajah Naruto semakin merah sampai ke akar-akar rambutnya.
Naruto memang tidak pernah secara terang-terangan mengatakan kalau ia naksir adik sepupu Neji itu. Namun melihat dari sikapnya setiap kali nama Hinata Hyuuga disebut, teman-temannya langsung tahu kalau ada sesuatu yang spesial tentang gadis itu bagi Naruto. Seperti ketika ia tahu bahwa Sasuke dan Hinata sudah saling mengenal sejak kecil, Naruto langsung memberondong sahabatnya itu dengan pertanyaan ini itu sampai-sampai membuat Sasuke kesal sendiri—"Berhenti menanya-nanyaiku! Memangnya aku ini ayahnya?!"
Akan tetapi meskipun kenyataannya sudah jelas, Naruto masih kerap berkelit jika ditanyai soal perasaannya pada Hinata. Ia berkeras bahwa mereka adalah teman baik. Seperti masih ada sesuatu yang menahannya, entah apa.
Sebal karena kedua temannya menertawainya, tetapi tak tahu harus berkata apa untuk menghentikan mereka, akhirnya Naruto melampiaskan perasaannya pada satu-satunya orang yang tidak ada di sana.
"Si Sasuke sial itu lama sekali sih perginya! Gara-gara dia, kita jadi tidak bisa pergi ke mana-mana. Haaah ..." Naruto mengibas-ibaskan tangan ke tubuhnya sendiri. "Panasnya ..." Kemudian ia dengan seenaknya menarik lepas kausnya dari atas kepalanya, serta menggeser kipas angin yang menyala di samping sofa sehingga hembusannya mengarah tepat ke tubuhnya yang berkeringat.
"NARUTO!"
Sakura, yang tidak pernah suka jika ada orang—terutama cowok—buka baju sembarangan di depannya, kontan saja terperanjat melihat aksi Naruto.
"Ap—" Naruto menoleh tepat ketika sebuah bantal duduk menghantam tepat di wajahnya.
"Sudah berkali-kali kubilang kan, jangan seenaknya membuka pakaian di depanku!"
"Sakura ..." Naruto merengek, mengangkat satu jarinya ke arah Sakura, "satu kali ini saja. Please ... aku bisa mati kepanasan—"
"Apa, sih? Sai saja tahan—dan dia juga tak pernah seenaknya membuka pakaian di depanku."
"Itu karena badannya kurus kering jadi tidak percaya diri membuka baju di depan umum!" seloroh Naruto seenaknya.
Merasa dirinya sedang dibicarakan, Sai kembali menoleh ke arah Naruto. Kerutan samar muncul di kedua alisnya. "Maaf?"
"Apa?" Naruto membelalakkan mata ke arahnya, seolah menantang, "memang benar begitu, kan?"
Sai mendengus. "Kau salah. Aku tidak melakukannya karena aku tidak memerlukannya. Tubuhku cukup toleran terhadap hawa panas, tidak sepertimu," sahutnya sederhana. "Tapi bukan berarti aku tidak percaya diri menunjukkan tubuhku." Cowok berkulit pucat itu menyeringai kecil sebelum menarik ujung kausnya sehingga bagian perutnya tersingkap.
"SAAII!" Sakura refleks menyambar bantal duduk dan menimpuk Sai seperti yang dilakukannya pada Naruto sebelum cowok itu sempat melepas kausnya. Wajahnya bersemu merah. Gadis itu mengerang. "Oh, aku tidak percaya aku dikelilingi idiot tukang pamer tubuh seperti kalian berdua."
"Jangan salahkan aku. Naruto yang mulai duluan," kata Sai dengan nada geli, seraya menurunkan kembali kausnya.
Sakura menatap tajam Naruto. Cowok pirang itu membalasnya dengan pandangan memohon, seraya mengangkat telunjuknya. Sampai akhirnya Sakura menghela napas, mengalah. Ya sudahlah. Lagipula Naruto kelihatannya memang sangat kepanasan. Gadis itu pun kembali berpaling pada pekerjaannya, tersenyum geli mendengar Naruto berseru kegirangan. Benar-benar seperti anak kecil.
"Dari tadi kau menulis apa, sih?" tanya Naruto beberapa saat kemudian. Lehernya terjulur, mencoba mengintip apa yang sedang dikerjakan Sakura sejak tadi.
"Catatan keuangan," Sakura menjawab tanpa mengalihkan perhatian dari buku catatannya, "aku tak ingin kehabisan uang sampai saat kita pulang nanti, jadi aku perlu mengatur pengeluaran."
"Tak perlu khawatirkan itu, Sakura. Aku bisa membantumu kalau kau mau," tawar Sai murah hati.
Sakura mengangkat wajahnya, tersenyum pada cowok yang duduk di sebelahnya itu. "Terima kasih banyak, Sai. Tapi kau tak perlu melakukannya."
Sai memandangnya heran. "Bukankah itu yang selalu dilakukan seorang teman? Membantu temannya yang kesusahan?"
"Tapi terlalu bergantung pada teman juga tidak enak, Sai," Sakura menghela napas. "Terutama masalah uang. Ini sangat sensitif. Selama masih bisa diusahakan sendiri, yah ... aku tidak ingin dianggap sebagai parasit."
"Aku tidak pernah menganggapmu parasit!" Sai tampak terkejut.
"Tentu saja tidak," sahut Sakura, tertawa. Walaupun Sai sudah belajar banyak soal bersosialisasi dan mengalami banyak kemajuan semenjak pertama kali mereka bertemu, namun sifat aslinya yang lugu tidak sepenuhnya hilang.
"Sebenarnya aku punya ide soal itu," celetuk Naruto. "Keuangan," tambahnya ketika Sakura tampak tak memahami maksudnya, "aku tahu caranya supaya kita mendapatkan uang tambahan selama liburan." Mata biru langitnya berkilat-kilat penuh antusiasme memandang kedua temannya. "Dengar gitarku. Kita bisa mendapatkan uang dengan itu. Kau ingat tidak, pamanmu bilang ayahmu dulu juga mencari uang tambahan dengan mengamen saat berbulan madu dengan ibumu di Kiri? Katanya orang-orang di sini sangat menghargai seni dan mereka juga sangat loyal. Jadi kupikir tidak ada salahnya kalau kita melakukan hal yang sama. Bagaimana?"
Sakura tampak memikirkan ide Naruto, sementara Sai mengangguk-anggukkan kepalanya. "Boleh juga. Tapi apa kau tidak malu?"
Naruto mengibaskan tangannya. "Ah, kalau kita tidak melakukan sesuatu yang salah, mengapa harus malu? Kan ini tidak jauh berbeda dengan yang dilakukan anak-anak saat mengumpulkan dana kegiatan. Mereka juga sering mengamen, kan?"
"Aku sih tidak keberatan," sahut Sakura, menutup bukunya dan meletakkan pena yang digunakannya di atas meja, lalu memandang kedua temannya bergantian, "tapi bagaimana dengan Sasuke? Dia kan gengsian sekali orangnya."
"Siapa yang gengsian?"
Ketiga remaja itu sontak menoleh ke arah suara berasal, dan mendapati Sasuke yang baru saja kembali. Wajahnya tampak suntuk. Ia membawa sebuah kantung besar yang kemudian ditaruhnya di atas meja di depan Sakura.
"Ke mana saja kau?!" hardik Naruto, melompat berdiri di atas sofa. Telunjuknya menuding. "Pergi ke tempat servis ponsel tak akan menghabiskan waktu seharian, kan? Jangan bilang kau pergi bersenang-senang sendiri!"
"Kau ini selalu saja berisik," gerutu Sasuke. Ia menurunkan kantung besar yang dibawanya di atas meja, lalu merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel Naruto. "Ini ponselmu, sudah selesai." Sasuke mengulurkan ponsel tersebut pada pemiliknya yang terbengong.
"Sudah selesai? Cepat sekali."
"Servis di sini memang lebih cepat. Tapi semua kontakmu terhapus."
"APA?!"
"Ck. Dasar tak tahu berterima kasih," sela Sasuke jemu. "Yang penting kan sudah beres. Kembalikan ponselku sekarang."
"Iya, iya. Terima kasih," ucap Naruto cemberut. Dengan ekspresi tak rela di wajahnya, Naruto mengambil ponsel Sasuke dari saku celananya dan mengeluarkan sim card miliknya. Sebenarnya ia masih ingin bersenang-senang dengan ponsel canggih Sasuke, tapi apa boleh buat ... Ah, yang penting kan ponselnya sudah benar lagi, ia mengingatkan dirinya sendiri.
"Whoa ... mereka mengganti casing-nya?" Naruto meneliti ponselnya yang baru diperbaiki, takjub. Badan ponsel itu mulus, tanpa dinodai goresan-goresan jelek akibat perlakuan pemiliknya yang suka seenaknya sendiri. "Hebat sekali. Kelihatannya seperti ponsel baru!" Kekecewaan Naruto sebelumnya karena harus melepaskan ponsel canggih Sasuke, segera digantikan cengiran puas. "Thank you, Sasuke, sahabatku yang paling ganteng, baik hati dan tidak sombong!"
Sementara itu Sasuke tak berkomentar apa-apa. Telinganya memerah. Ia bahkan dengan sengaja menghindari tatapan Naruto ketika menjejalkan ponsel miliknya ke saku celana tanpa repot-repot mengaktifkannya terlebih dulu. Dan sepertinya hanya Sakura yang menyadari hal tersebut. Kedua alis gadis itu terangkat tinggi.
"Kau bawa apa, Sasuke?" tanya Sai seraya membuka bungkusan yang ditaruh Sasuke di atas meja. Dibandingkan ponsel Naruto, ia lebih tertarik pada bungkusan itu—yang ternyata berisi semangka. "Semangka?"
"Hn," Sasuke menggerutu, lalu menghempaskan diri di tempat kosong di sofa.
"Tepat seperti yang kita butuhkan di hari yang panas seperti ini," seru Naruto cerah, seraya melompat turun dari sofa dan menyambar semangka yang berukuran lumayan besar itu, mengetuk-ngetuknya, memastikan buah berair banyak itu masak.
Sasuke mendengus melihat tingkah Naruto. Sekarang setelah ponselnya kembali seperti baru, suasana hatinya langsung berubah. Lihat saja cengiran bodoh di wajahnya itu. Dasar.
Masih dengan bertelanjang dada, Naruto melompat ke dapur sambil membawa semangka.
"Oi, Naruto!"
Mendengar namanya dipanggil, Naruto menoleh, tepat ketika kaus oranye miliknya yang dilemparkan Sasuke mendarat mulus di atas kepalanya.
"Pakai dulu bajumu."
Naruto menyingkirkan kaus itu dari kepalanya. Alih-alih membalas seperti yang biasa ia lakukan, Naruto hanya nyengir kuda. "Hei, Sai. Bisa bantu aku membuka ini?"
Sai melirik Sasuke sekilas—memergokinya tengah memandang diam-diam ke arah Sakura ketika gadis itu tidak melihatnya—menyeringai kecil, sebelum kemudian pergi menyusul Naruto dan meninggalkan Sasuke dan Sakura berdua saja di ruang tengah.
"Jadi mereka benar-benar memperbaiki ponsel Naruto?" tanya Sakura setelah Sai pergi.
Sasuke tak langsung menjawab. Ia meraih bantal duduk, menumpuknya di satu sisi sofa sebelum merebahkan kepala di atasnya. "Hn," gumamnya seraya memejamkan mata sehingga ia tak perlu berkontak mata dengan Sakura.
"Benarkah?" Gadis berambut merah muda itu menyipitkan matanya, jelas tak memercayai kata-kata Sasuke. "Secepat itu? Bukankah biasanya bisa makan waktu sampai beberapa hari?"
Lagi-lagi Sasuke terdiam sejenak. Ia tahu Sakura tak semudah itu dikelabuhi—begitu pula dengan Sai, walaupun ia tak berkomentar apa-apa—"Ponsel Naruto itu model lama, mereka bilang suku cadangnya sudah jarang yang menyediakan," Sasuke menjawab dalam gumaman pelan supaya tak terdengar Naruto, "mereka harus memesannya dulu dari luar kota. Terlalu banyak makan waktu. Belum tentu selesai sampai kita kembali ke Konoha. Dan petugasnya bilang, akan lebih hemat kalau aku membeli yang baru."
"Jadi kau membeli yang baru?"
"Hn." Dan itu sama sekali tidak mudah. Ia harus berkeliling Kiri untuk mencari toko yang menjual ponsel yang sama persis seperti milik Naruto. Sekarang ia sangat lelah. Ditambah ia nyaris tidak tidur semalaman. Sasuke menghembuskan napas perlahan, mengangkat sebelah lengan hingga menghalangi matanya. "Jangan beritahu Naruto."
"Aku tidak akan memberitahunya," Sakura memberikan janjinya. Sudut-sudut bibirnya terangkat membentuk senyum bersimpati sementara gadis itu memandangi wajah Sasuke. Kedua matanya yang terhalang lengannya terkatup. Kulitnya sedikit memerah karena baru terpapar sinar matahari yang menyengat, dan dahinya berkilau oleh selapis tipis keringat. Kelelahan tampak jelas di sana.
Kelihatannya dua hari belakangan ini memang bukan hari yang menyenangkan bagi Sasuke, Sakura membatin. Gadis itu masih merasa tidak enak hati karena bisa dibilang dirinyalah yang menjadi salah satu penyebabnya.
Apa sebaiknya mereka membatalkan saja janji menonton teater bersama Neji nanti malam? Tapi bagaimana dengan Naruto? Ia pasti akan kecewa. Dan Sakura juga sangat ingin menonton pertunjukan itu.
Hela napas berat terlepas dari bibirnya memikirkan hal itu, yang rupanya terdengar oleh Sasuke. Ia lalu membuka matanya, mengernyit ketika mendapati Sakura yang tampak agak murung.
"Kau kenapa?"
"Tidak ada apa-apa," Sakura buru-buru menjawab, diiringi gelengan kecil. Gadis itu terdiam sejenak, sebelum kemudian bertanya, "apa kau yakin mau ikut menonton teater nanti malam?"
Kerutan di antara kedua alis Sasuke semakin dalam mendengar pertanyaan yang diajukan Sakura. Alih-alih menjawab, ia malah balik bertanya, "memangnya kenapa?"
Selama beberapa saat, Sakura tampak bimbang dengan jawabannya. "Kau ... kelihatannya kelelahan."
"Aku baik-baik saja," sahut Sasuke tegas, "dan aku akan pergi dengan kalian nanti malam."
Sakura menatapnya selama beberapa saat lagi, sebelum akhirnya mengangguk. "Baiklah. Tapi kelihatannya kau memang butuh istirahat. Tampangmu seperti kurang tidur."
Kini giliran Sasuke yang terdiam. Ia tak mungkin memberitahu Sakura kalau semalaman ia memang nyaris tidak tidur hanya karena memikirkan dirinya. Itu sama saja dengan mengakui perasaannya secara terang-terangan. Masalahnya Sasuke sama sekali belum siap.
"Tapi kalau kau ingin istirahat sebaiknya di kamar saja," kata-kata Sakura kemudian segera membuyarkan lamunannya. "Di sini terlalu berisik," Sakura mengerling ke arah Naruto dan Sai yang sedang membelah semangka di dapur. Naruto mengomeli Sai karena membelahnya tidak simetris.
"Hn."
Tanpa berkomentar lagi, Sasuke beranjak dari sofa, berjalan melewati Sakura menuju kamar yang ditempatinya bersama Sai dan Naruto, lalu menutup pintu di belakangnya. Udara di kamar itu terasa lebih panas dan sedikit pengap, namun ia terlalu lelah untuk mengeluh sekarang. Maka setelah memastikan jendela terbuka lebar, Sasuke melepas kausnya dan menghempaskan diri di tempat tidur. Dan dalam hitungan beberapa detik saja, ia sudah terlelap.
.
.
TBC ...
.
.
Teman-teman, maaf ya, aku publish setengahnya dulu. Sebenernya aku udah nulis sekitar 20K untuk chapter 5, dan itu belum selesai. Karena kayanya bakal kepanjangan (banget), dan bakal nyusahin buat yg baca via ponsel (karena kayanya ga akan selesai sekali baca, kecuali yang mata dan tangannya kuat), akhirnya aku memutuskan untuk membagi dua chapter ini. Dan chapter selanjutnya masih in progress.
Hehe... kayanya rencanaku buat namatin fic ini di chapter 100+epilog bakal gagal deh. Ga keberatan kan kalau molor sedikit?
Makasih buat yang sudah membaca sampai sejauh ini (jauh banget XD), yang baru mulai baca, yang mereview, memasukkan ke fave story list, meng-alert, sampe yang misuh-misuhin authornya di twitter/fb karena lelet apdet. Hehe... gomenasai, buat yang terakhir, yah? ;)
Buat yang minta full SasuSaku, maaf banget karena fic ini bukan khusus SasuSaku, jadi mereka cuma bisa nyempil-nyempil. Yang protes soal SaiIno, yah, aku sih kepinginnya bikin kisah mereka itu seperti remaja-remaja pada umumnya. Suka-jadian-putus-move on-cari yang baru. Life goes on~ Yang nanya OTP, pairing yg kusuka banyak, salah satunya HarryGinny dari fandom Harry Potter. XD
