19.032 words, story only.

Naruto fandom dan segala isinya adalah hak cipta Masashi Kishimoto-sensei. Saya hanya minjam, tanpa mengambil keuntungan apa pun kecuali kesenangan menulis. :D

Arlene Shiranui's

L'amis Pour Toujours: Summer Holiday Arc Chapter 6

.

.

Sasuke terbangun sore harinya oleh Naruto yang dengan bising berteriak-teriak menyuruhnya bangun. Dan seperti yang selalu terjadi setiap kali ada orang yang nekat mengusik tidurnya, suasana hati Sasuke langsung memburuk. Akan tetapi tampaknya Naruto, yang saat itu sedang sangat bersemangat, sama sekali tidak menyadarinya.

Entah apa yang akan terjadi jika saja saat itu Sakura tidak tiba-tiba muncul di pintu, bertanya dengan nada ceria apakah semuanya baik-baik saja. Sasuke refleks meraih bantal untuk menutupi bagian atas tubuhnya yang terbuka, tapi tampaknya Sakura tidak begitu memerhatikan.

Gadis itu memakai dress pemberiannya lagi, kali ini dipadu dengan cardigan merah pastel. Dan menyempurnakan penampilannya, ia melempar senyum cemerlang pada mereka—yang dengan sukses membuat hati Sasuke serasa jungkir balik dan langsung melupakan kekesalannya pada Naruto.

Sasuke tidak memerlukan waktu lama untuk bersiap-siap. Tak sampai setengah jam kemudian, ia sudah keluar dari kamar dalam keadaan rapi dan wangi sehabis mandi, dan mereka pun bergegas berangkat menuju teater dengan berjalan kaki.

"Ngapain kau bawa-bawa gitar segala?" Sasuke mengerling tas gitar yang disandang Naruto di punggungnya. "Kau tidak berencana ikut bernyanyi di pertunjukan, kan?"

Mata biru Naruto berkilat-kilat jahil menatap Sasuke. "Apa menurutmu itu ide bagus?"

"Dia berencana unjuk kebolehan di depan kau-tahu-siapa," kekeh Sai. Di sebelah Sasuke, Sakura terkikik.

"Siapa itu kau-tahu-siapa? Voldemort?" Naruto mengerjap bingung. Ia jelas tak menangkap maksud kata-kata Sai.

"Tadi Naruto bilang, dia ingin mendapatkan uang tambahan dengan itu," jelas Sakura sambil menahan kikik. "Kau tahu kan, membuat pertunjukan kecil di jalanan—seperti yang sering kita lihat."

Sasuke tak berkomentar apa pun atas rencana Naruto tersebut, yang langsung disalah artikan oleh yang bersangkutan sebagai reaksi tidak setuju.

"Ya, ya, ya ... aku tahu tampang itu," Naruto menghela napas dengan dramatis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ekspresinya seolah Sasuke telah menyakiti hatinya. "Kau pasti menganggap itu memalukan, kan? Tapi kau tak perlu khawatir, Tuan Besar, aku akan melakukannya sendiri. Lagi pula aku sama sekali tidak berminat mengajak orang yang buta nada."

"Naruto," tegur Sakura, mengernyit. "Jangan mulai lagi."

Namun di luar dugaan, Sasuke tidak tampak tersinggung. "Hn. Bicara saja sesuka hatimu, Naruto," sahutnya, berlagak tak peduli, seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

Sakura menghela napas keras. Terkadang ia berharap Sasuke dan Naruto bisa lebih sering saling berkomunikasi dengan cara yang normal seperti sepasang sahabat pada umumnya, bukannya terus-menerus saling menyindir dan memancing pertengkaran yang tak perlu. Tapi justru yang seperti itulah yang membuat keduanya dekat.

Mendekati distrik tempat teater yang mereka tuju berada, jalanan semakin ramai dengan pejalan kaki yang berlalu-lalang. Cahaya lampu dari pertokoan di kanan-kiri jalan, juga alunan musik dari para musisi jalanan semakin menambah semarak suasana malam di Kiri yang khas.

Naruto menjulurkan leher di atas kepala kerumunan orang ketika mereka sudah mendekati teater, mencari-cari. Sampai pandangannya menangkap sosok-sosok yang dikenalnya, senyumnya melebar. "Mereka sudah datang!" serunya seraya melambai-lambaikan tangannya dengan bersemangat ke arah Neji dan kedua sepupunya.

Di depan teater, Hinata yang juga sudah melihat mereka, balas melambai. Wajahnya yang bersemu kemerahan tampak berseri-seri.

"Eh—Kak Tokuma tidak ikut?" Naruto menoleh ke sana kemari, begitu mereka sudah bergabung dengan Hyuuga bersaudara di depan teater.

"Malam ini dia agak sibuk, jadi tidak bisa ikut," jelas Neji.

Naruto mengangguk-angguk, tapi tidak tampak terlalu kecewa, karena perhatiannya segera teralih pada Hinata yang sedang menyapa Sakura. Gadis itu tampak manis dengan rok warna indigo sepanjang lutut dan blus serta cardigan senada. Tapi bukan itu yang menarik perhatiannya, melainkan tas berukuran cukup besar yang disandangnya. Tas itu cukup untuk menampung beberapa potong pakaian.

"Jadi boleh?" ia bisa mendengar Sakura bertanya dengan nada bersemangat.

Hinata mengangguk mengiyakan.

"Asal ayah tidak tahu, tidak jadi masalah," Hanabi menyeletuk. Agaknya ia tidak terlalu senang kakaknya diperbolehkan menginap bersama teman-temannya.

"Hanabi ..."

"Kalau kau sudah lebih besar, kau pasti akan diizinkan pergi juga," kata Neji. "Sudah, jangan bertampang seperti itu terus pada kakakmu. Kak Tokuma kan sudah janji akan membawamu jalan-jalan ke mana pun kau suka," tambahnya, mengacak-acak rambut di puncak kepala adik sepupunya yang paling kecil itu.

"Aah ... tapi aku juga kepingin menginap di villa temanku, seperti Kak Hinata!" rengeknya keras kepala.

Neji menghela napas. "Kita sudah membicarakan soal ini semalam, Hanabi," ujarnya dengan nada mengakhiri diskusi.

Hanabi tampak tak puas, menghentakkan kaki ke lantai untuk melampiaskan kekesalannya sebelum berbalik masuk ke dalam teater.

"M—maaf soal itu," kata Hinata pada yang lain, merasa tidak enak dengan sikap adiknya.

"Hahaha ... tidak apa-apa," Naruto tertawa canggung.

"Jangan dipikirkan. Nanti juga baik sendiri setelah dia sadar bisa menguasai kamar untuk dirinya sendiri," kata Neji pada Hinata.

Hinata mengangguk. Meski begitu, tatapannya terlihat agak sedih saat memandangi punggung adiknya.

"Kurasa sudah waktunya kita masuk," kata Sai, memecah keheningan yang canggung itu, "pertunjukannya sudah hampir dimulai."

Benar saja. Di pintu masuk ke dalam ruang pertunjukkan, tampak antrian panjang penonton. Ternyata untuk ukuran teater kecil seperti itu, penontonnya cukup banyak juga. Padahal saat membeli tiket hari sebelumnya, tempat itu terkesan sepi dan tak banyak pengunjung.

"Maaf, ya. Kalau bukan karena ajakanku, kau tak perlu bertengkar dengan adikmu," Sakura berbisik pada Hinata sementara mereka bergabung dengan antrian penonton.

"J-jangan khawatir," Hinata balas berbisik, "Hanabi memang seperti itu, moodnya mudah berubah. Sebentar lagi juga kembali ceria."

"Benarkah?" Sakura meringis.

Anggukan yang kemudian diberikan Hinata sebagai jawaban sedikit membuat Sakura merasa lega, kendati ia masih agak khawatir dengan Hanabi yang masih memasang tampang cemberut di barisan depan. Yah, tapi mudah-mudahan saja yang dikatakan Hinata benar.

Antrian semakin menipis, dan tibalah giliran mereka untuk memperlihatkan tiket sebelum masuk ke ruang pertunjukan. Ruangan itu cukup luas—meski tak seluas teater yang sering dikunjungi Sakura dan mendiang ayahnya di Konoha—dengan panggung yang masih tertutup tirai. Tempat duduk ditempatkan di undakan-undakan yang menurun ke arah panggung. Dan rupanya di teater itu penonton bebas memilih tempat duduk yang diinginkan. Syukurlah. Tadinya Sakura sudah berpikir ia dan teman-temannya akan duduk terpisah dengan Neji dan kedua sepupunya karena mereka membeli tiket terpisah. Tapi dengan begini, mereka bisa duduk di tempat yang berdekatan. Neji, Hinata, Hanabi dan Naruto menempati empat tempat duduk di barisan ketiga, sementara Sakura duduk di antara Sasuke dan Sai di barisan belakang mereka yang kosong.

"Kenapa tidak duduk dengan mereka di depan?"

Sakura menoleh saat mendengar suara Sasuke untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di teater. Gadis itu mengerjap. "Apa?" –tampaknya ia tidak benar-benar mendengarkan apa yang diucapkan cowok di sampingnya itu barusan.

Sasuke menghela napas tak senang. "Aku tanya kenapa kau tidak duduk di depan?" ulangnya, mengendikkan kepala ke arah deretan bangku di depan mereka.

Dalam situasi yang biasa, Sakura pasti akan memilih duduk di barisan depan. Semakin dekat dengan panggung, semakin bagus. Hanya saja sekarang situasinya berbeda. Selain karena barisan depan sudah penuh terisi, ia juga ingin memberikan kesempatan pada seseorang.

Sudut-sudut bibir Sakura terangkat membentuk seulas senyum simpul melihat Naruto yang duduk di depannya tengah bicara menggebu-gebu pada Hinata. Entah apa yang mereka bicarakan, suaranya tidak terlalu jelas. Namun apa pun itu, keduanya tampak tenggelam dalam dunia yang hanya dimengerti oleh mereka.

"Kenapa masih tanya? Bukankah sudah jelas?"

Namun sepertinya apa yang dipikirkan Sakura berbeda dengan apa yang ada di kepala Sasuke. Matanya sekilas melirik ke arah belakang kepala Neji yang duduk di bangku paling pinggir di deretan depan mereka. Cowok berambut cokelat gelap itu tampak sibuk dengan ponselnya.

"Jangan bilang kau cemburu," suara Sakura yang bernada meledek, mengembalikan perhatian Sasuke pada gadis itu. Melihat ekspresi di wajah Sasuke, Sakura buru-buru menambahkan, "iya, iya, aku cuma bergurau. Tak perlu memelototiku seperti itu."

Sasuke buru-buru berpaling, berusaha menetralisir degupan jantungnya yang mendadak menggila, sementara berbagai pemikiran berkecamuk dalam kepalanya.

Sakura bilang cemburu? Apa sebenarnya dia sudah tahu? Apa itu sebabnya dia memilih duduk di dekatku? Atau jangan-jangan dia ...

Dari sudut matanya, Sasuke diam-diam mengawasi gadis di sebelahnya. Sakura sudah kembali memandang ke depan, tersenyum-senyum sendiri. Entah apa yang membuatnya begitu gembira. Tapi apa pun itu, tampaknya menular pada Sasuke. Ia terpaku. Sorot matanya melembut. Bibirnya melengkung membentuk seulas senyum tipis.

... sampai kilatan cahaya putih membuatnya mengerjap terkejut.

Di sisi Sakura yang lain, Sai baru saja menurunkan kameranya. Sasuke merasakan senyum di wajahnya melorot saat mendapati Sai melempar senyum menyebalkan ke arahnya. Namun sebelum ia sempat bereaksi, Sakura mendahuluinya.

"Sai!" Gadis itu menoleh, melempar pandang galak pada Sai, "tidak boleh memotret menggunakan blitz selama pertunjukan berlangsung!"

"Tapi pertunjukannya kan belum mulai," kilahnya santai.

Sakura memutar matanya. "Yah. Tapi jangan lakukan itu lagi. Blitz-nya bisa mengganggu konsentrasi mereka."

Sai mengendikkan bahunya. "Kalau begitu, aku tidak akan pakai blitz," sahutnya tanpa dosa, dan langsung dihadiahi cubitan gemas di lengannya oleh Sakura. Sai mengaduh, tapi ia masih bisa tertawa ketika Sakura mulai mengomelinya lagi.

Diam-diam Sasuke merasa iri pada Sai. Kalau saja ia bisa tertawa semudah itu di depan Sakura. Menghela napas, Sasuke kembali memusatkan perhatiannya ke arah panggung.

Dengung obrolan yang memenuhi ruangan perlahan mereda seiring dengan musik yang mulai dimainkan. Tirai panggung diangkat. Pertunjukan dimulai.

.

.

"Pertunjukannya benar-benar bagus, kan?!" Sakura berkata gembira ketika mereka meninggalkan teater setelah pertunjukan usai. Setelah sekian lama tidak menonton karya musikal klasik itu, rasanya seperti kembali ke masa lalu saat ayahnya sering mengajaknya pergi ke teater. Dan itu membuatnya sangat gembira. "Bagaimana menurutmu, Hinata?"

Hinata yang berjalan di samping Sakura mengangguk antusias. Ini adalah kali pertama baginya menonton pertunjukan musikal di luar pertunjukan sekolah. "A—aku suka tata panggung dan kostumnya. Akting dan nyanyiannya juga. Suara mereka bagus sekali."

Sakura tertawa. "Tentu saja. Mereka kan sudah profesional."

Sekali lagi kawannya mengangguk. "Dan yang menjadi pangeran di babak awal dan akhir itu mirip sekali dengan Suigetsu Hozuki. Awalnya kukira itu dia—"

"Mereka memang mirip!" Naruto menyela di antara kedua gadis yang berjalan di depannya itu. "Soalnya dia itu kakaknya Suigetsu. Kami berkenalan dengannya kemarin," tambahnya pada Hinata, diiringi cengiran berpuas diri.

"B—benarkah?" Bola mata Hinata yang berwarna terang itu membola, terkejut karena Naruto tiba-tiba sudah ada di sampingnya.

"Hm!" Naruto mengangguk-angguk penuh semangat, "bahkan dia memberi kami diskon untuk menonton pertunjukan tadi!" imbuhnya bangga, seakan itu adalah hal paling hebat di dunia.

Sakura mendengus tertawa. Meski begitu, Hinata tampaknya sangat terkesan dengan kata-kata Naruto.

Tak jauh di belakang mereka, Sai diam-diam mengamati. "Sakura kelihatannya ceria sekali, ya?" ujarnya pada Sasuke yang berjalan di sebelahnya dengan kedua tangan tenggelam di saku celana—seperti biasa.

"Aa," gumam Sasuke setuju. Ia tak dapat menahan diri menyeringai mengingat tingkah Sakura selama pertunjukan tadi. Ia nyaris tak bisa berkonsentrasi pada apa yang terjadi di atas panggung karena Sakura. Perhatiannya tersedot pada gadis yang duduk di sebelahnya itu, bagaimana ia tak bisa diam sepanjang pertunjukan berlangsung. Bukannya gadis itu berisik sehingga mengganggu penonton lain, ia malah sama sekali tak bersuara. Hanya saja ia terus-terusan bergerak-gerak di tempat duduknya, komat-kamit sendiri seakan ikut bernyanyi bersama para aktor dan aktris yang sedang beraksi di atas panggung—sepertinya ia memang sudah menghafal semua nyanyiannya di luar kepala—dan Sasuke menganggap itu sangat lucu.

"Dan kau juga kelihatannya senang sekali," tambah Sai dengan nada geli, yang segera menghapus seringai bodoh dari wajah Sasuke.

"Bicara saja semaumu," Sasuke menukas sengit.

Sai terkekeh. "Jadi memang sudah tidak bersungut-sungut lagi seperti kemarin malam. Haah ... padahal lucu melihatmu ngambek."

"Diam!" desis Sasuke, menggertakkan gigi.

"Hei, tadi kaubilang aku boleh bicara semauku," sahut Sai membela diri. Tampangnya geli.

Kali ini Sasuke tidak membalas. Ia tahu kawannya itu hanya ingin menggodanya dan ia tak akan memberi Sai kepuasan dengan memperlihatkan kekesalannya. Terlebih di sana tak hanya mereka berdua saja.

Sasuke diam-diam mengerling ke arah Neji yang berjalan tak jauh darinya. Entah Sasuke hanya membayangkannya saja atau memang benar, kakak sepupu Hinata itu terlihat agak murung. Pandangannya menerawang, dan ekspresi di wajahnya seakan pikirannya sedang berada di tempat lain.

Yah, memangnya apa pedulinya? Apa pun yang dipikirkan Neji tak ada hubungannya dengannya—dan yang jelas, tidak ada hubungannya dengan Sakura juga. Semoga.

"Aah ... aku lapar sekali," suara Naruto yang mengeluh mengalihkan perhatiannya. "Kalian lapar tidak?" Naruto menoleh ke belakang, ke arah teman-temannya. "Bagaimana kalau kita cari makan? Um ... ramen?"

"Tidak," tolak Sakura tegas. "Kita sudah makan ramen kemarin, dan kemarinnya, dan kemarinnya lagi. Kebanyakan makan ramen tidak baik untuk pencernaan, tahu!"

"Hee ..." erang Naruto kecewa, seraya menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tak gatal. "Oi, Neji. Apa kau tahu tempat makan yang enak di sekitar sini?" ia menoleh pada Neji yang berjalan di belakangnya. "Dan eh ... tidak terlalu mahal."

Pertanyaan Naruto yang mendadak segera membuyarkan lamunannya. Sejenak ia tampak agak bingung. Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa untuk menjawab, Hanabi menyelanya,

"Alun-alun! Kita cari makan di alun-alun kota saja. Di sana banyak yang jual makanan!" Ia menarik-narik lengan Neji, seraya berkata memohon, "Kita ke sana, ya, Kak? Please ... ya? Ya? Ya?"

Menghadapi rengekan adik sepupunya itu, Neji tersenyum kecil. "Kalau yang lain mau, sepertinya itu ide bagus."

Gadis tiga belas tahun itu memandang semua orang dengan penuh harap, dan ketika Naruto berseru setuju mewakili teman-temannya, ia memekik girang. Suasana hatinya yang semula suram berbalik 180 derajat. Ia berlari mendahului yang lain, lalu berbalik sambil melambai-lambaikan tangannya menyuruh mereka bergegas.

"Wah, Hanabi semangat sekali," komentar Sakura, tertawa kecil, "apa ada yang dicarinya di alun-alun kota?"

"Um ... mungkin temannya," jawab Hinata, tersenyum, "katanya teman-temannya banyak yang berliburan di sini juga."

"Ah, begitu ..." Sakura mengangguk-anggukan kepalanya. "Kebetulan sekali."

"Yah, seperti kita yang juga kebetulan bertemu di sini, kan?" timbrung Naruto, nyengir.

Sakura memerhatikan wajah Hinata berubah merah padam dan gadis itu mendadak tampak salah tingkah. Melihat itu, Sakura tak dapat menahan cengirannya. Sepertinya apa yang dipikirkannya memang benar. Pertemuan mereka di Kiri memang bukan sekedar kebetulan.

.

.

Alun-alun kota ramai dipenuhi pengunjung ketika rombongan itu tiba di sana. Rupanya malam itu ada pertunjukan orkestra yang ditayangkan melalui layar besar yang dipasang di depan gedung museum seni. Semua orang bisa melihatnya tanpa dipungut bayaran. Para turis tentu saja tak menyia-nyiakan kesempatan itu dan datang berbondong-bondong untuk menonton, sembari menghabiskan waktu malam mereka di sana.

Undakan-undakan di depan gedung-degung megah yang mengelilingi tempat itu beralih fungsi menjadi tempat duduk bagi para pengunjung. Begitu pula sisi air mancur di tengah alun-alun. Mereka yang tidak mendapatkan tempat, terlihat berdiri berkelompok-kelompok dan tersebar di segala penjuru alun-alun.

Di beberapa tempat, tampak tenda-tenda kaki lima yang menjajakan makanan dan minuman untuk para pengunjung—seperti tenda kaki lima yang ada di sekitar KCP di Konoha. Dan ke sanalah tujuan Naruto dan kawan-kawannya untuk mengisi perut. Sementara Hanabi, yang tak memerlukan waktu lama untuk menemukan teman-temannya, segera menghilang bersama mereka setelah mendapatkan izin dari kedua kakaknya.

Sakura tak hentinya tersenyum. Nongkrong beramai-ramai di alun-alun kota, menikmati sajian musik klasik sembari menyantap hamburger dan kentang goreng, rasanya seperti kembali ke masa lalu, saat ia mengunjungi Kiri bersama kedua orangtuanya dan mendiang kakaknya dulu—hanya saja dulu yang disiarkan adalah pertunjukan opera—Ah, tempat itu memang menyimpan banyak kenangan, dan sekarang ia juga tengah membuat kenangan bersama teman-temannya.

Yah, walaupun tidak semuanya benar-benar menikmati suasana itu. Naruto tampak agak kecewa karena tak bisa pamer kebolehan bermain gitar, karena perhatian semua orang di sana tertuju pada layar.

"Kalau kau ingin melakukan art performance, kau bisa tunggu sebentar lagi, Naruto. Kalau tidak salah, sebentar lagi pertunjukannya akan selesai," hibur Neji, mengerling arloji di pergelangan tangan kirinya.

"Benarkah?" tanya Naruto, kembali bersemangat.

Neji mengangguk, mengulas senyum tipis. "Tapi kau harus bersaing dengan yang lain. Karena biasanya sering ada street artist yang juga langsung unjuk kebolehan."

Naruto mengibas-ngibaskan tangannya dengan lagak meremehkan. "Ah, aku sih tidak khawatir soal itu. Kau sudah pernah mendengar permainanku, kan?"

"Kau tak perlu menanggapinya, Neji," cetus Sasuke sebelum Neji sempat bereaksi, "nanti dia bisa semakin besar kepala."

Sakura yang tak menduga Sasuke akan bicara pada Neji, langsung menoleh memandang temannya itu dengan kedua alis terangkat. Tadinya ia menyangka Sasuke sudah bertekad tidak akan berinteraksi dengan Neji jika tidak sangat terpaksa. Siapa yang menyangka justru Sasukelah yang terlebih dulu memecah kekakuan di antara mereka?

Tak dapat menahan rasa senangnya, Sakura melempar senyum manis pada Sasuke. Namun yang bersangkutan pura-pura tidak menyadarinya.

Dan tak hanya Sakura, Neji pun tampaknya agak terkejut. "Oh, kalau begitu aku tidak akan berkomentar tentang itu," tanggapnya seraya terkekeh, setelah berhasil mengatasi keterkejutannya.

"Kau ini benar-benar tak bisa melihat temanmu ini senang sedikit, ya?" Naruto menukas sengit.

Sasuke mengangkat gelas kertasnya dan menghirup minumannya, sama sekali tak menggubris Naruto.

"Jangan dengarkan dia, Naruto," kata Sakura geli, "kami semua tahu kau jago. Benar kan, Hinata?"

Yang ditanya mengangguk malu-malu. "I—iya."

Mendengar pembelaan dari kedua gadis itu, cengiran Naruto kembali merekah. Dadanya membusung.

"Sasuke bilang begitu karena dia sendiri tidak bisa main musik," tandas Sakura, nyengir pada Sasuke yang langsung mendelik ke arahnya.

Sai mendengus di atas piring kentang gorengnya, sementara Naruto meledak tertawa. "Sakura, kau jenius!"

Sakura mengikik, menjulurkan lidah main-main ke arah Sasuke. Tentu saja gadis itu hanya bergurau. Di sebelahnya, Hinata mengangkat tangannya di depan mulut, berusaha menyembunyikan kikikannya.

"Tak ada yang salah dengan tak bisa main musik," ujar Neji seraya tersenyum pada Sasuke, "tak ada orang yang benar-benar sempurna. Benar, kan?"

"Hn." Sasuke menghela napas, dan berpaling untuk menghindari tatapan seniornya tersebut.

Suara gemuruh tepuk tangan yang berasal dari pengeras suara dan para pengunjung alun-alun menandakan berakhirnya pertunjukan orkestra di layar lebar. Menyusul kemudian suara desingan saat kembang api diluncurkan ke udara dari atap salah satu gedung di sekitar sana, yang kemudian meletus dan menebarkan bunga api berwarna-warni di langit malam. Para pengunjung semakin heboh bersorak-sorai.

"Whoa! Kalian yakin tidak ada festival di sini?" Naruto berseru takjub.

"Harusnya tidak," Sakura balas berseru, mengatasi keriuhan di sekitar mereka, "festival musim panas masih lima hari lagi. Aku sudah mengecek."

"Sepertinya yang ini tidak resmi," komentar Neji seraya memandangi langit yang bertabur bunga api.

"Tapi kelihatannya tidak ada yang peduli ini resmi atau tidak," kata Sai, sembari mengangkat kameranya dan mulai mengabadikan kemeriahan yang terjadi di atas mereka.

Namun pertunjukan kembang api itu tak berlangsung lama. Lima belas menit kemudian langit kembali gelap. Sebagian pengunjung mulai bergerak meninggalkan alun-alun, sementara sebagian lainnya bertahan untuk menikmati sisa keramaian malam itu.

Melihat kesempatan untuk unjuk kebolehan, Naruto langsung bersemangat. Setelah menenggak habis minumannya, ia menyambar tas gitarnya, lalu berdiri. Selama beberapa saat, mata birunya menjelajah area di sekitar sana, mencari-cari. Sampai akhirnya pandangannya terhenti di sebuah patung perunggu di seberang alun-alun, dekat dengan area cafe teras. Tempat itu ramai dan terang benderang. Sempurna untuk sebuah pertunjukan kecil.

"Kalian lihat patung itu? Aku akan main di sana," Naruto mengumumkan, seraya menunjuk ke patung yang dimaksud. Dan tanpa menunggu tanggapan dari teman-temannya, ia langsung melesat pergi.

"Semangat sekali dia," kata Sakura, tertawa kecil saat menatap ke arah Naruto yang baru saja menghilang di antara kerumunan orang. Gadis itu lalu menoleh pada Hinata yang duduk di sebelahnya. "Kau mau melihatnya, Hinata?"

"Hm," Hinata menjawab dengan anggukan antusias. Gadis itu meraih tasnya yang disimpan di bawah bangku plastik, dan menyambut tangan Sakura yang terulur padanya. Sambil bergandengan tangan, kedua gadis itu bergegas menyusul Naruto.

Keheningan yang canggung turun di meja tempat Sai, Sasuke dan Neji duduk sepeninggal Sakura dan Hinata. Sasuke bersandar di kursinya, bersedekap, sementara matanya menatap kosong gelas kertas miliknya yang sudah kosong di atas meja. Di seberangnya, Neji tengah menatap ke kerumunan di dekat patung perunggu, namun tak menampakkan tanda-tanda akan segera beranjak menyusul adik sepupunya. Dan Sai, yang duduk di antara keduanya, memandang mereka bergantian, tampak ragu. Sebelum akhirnya ia mengambil tas kameranya dan beranjak.

"Kalau kalian tidak keberatan, aku mau menyusul mereka," beritahunya.

Sasuke bergeming, tapi Neji menoleh ke arahnya. "Baiklah. Kami akan segera menyusul."

Sai mengangguk, mengerling Sasuke sekilas sebelum bergegas pergi menyusul yang lain.

Hening lagi selama beberapa saat. Namun alih-alih memandang ke tempat lain, Neji memusatkan perhatiannya pada Sasuke yang duduk di depannya. Bibirnya dihiasi senyum samar.

"Sasuke—" ucapnya memulai, dan pada saat yang bersamaan, Sasuke bersuara,

"Aku—"

Keduanya bertukar pandang, sama-sama terkejut. Sampai akhirnya Neji mengalah. "Silakan duluan," ujarnya, mempersilakan Sasuke bicara lebih dulu.

Meski begitu, Sasuke tak langsung bersuara. Sejenak ia hanya terdiam memandangi Neji, seakan tiba-tiba saja ragu dengan apa yang hendak dikatakannya. Ia menarik napas dengan tajam, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain sebelum akhirnya menggerutu, "soal sikapku kemarin, aku ... minta maaf."

Kali ini giliran Neji yang tercenung. Antara terkejut dan lega, ia menanggapi, "yeah ... tidak apa-apa. Melewatkan waktu berdua saja dengan Sakura, tiba-tiba seseorang muncul mengganggu. Aku bisa mengerti kau pasti kesal padaku." Neji diam, menunggu Sasuke mengatakan sesuatu. Tapi Sasuke tidak berkata apa-apa. Akhirnya ia berkata, "kurasa sekarang giliranku yang bicara."

"Hn."

Melihat tanggapan Sasuke yang dingin, Neji berusaha memaklumi. Mendengarnya meminta maaf secara langsung memang melegakan, tetapi mengharapkan Sasuke Uchiha langsung bersikap hangat selayaknya seorang teman lama sepertinya terlalu berlebihan.

"Kau tahu, sejak dulu aku selalu merasa kita tidak pernah benar-benar bisa berteman. Entahlah. Barangkali itu karena waktu kecil dulu kita tidak pernah akur, perasaan tidak suka itu tanpa sadar masih terbawa hingga sekarang." Neji mendengus, teringat masa kecil mereka yang tak bisa dikatakan penuh kenangan indah. "Ditambah kejadian yang kemarin-kemarin, aku tidak menyalahkanmu kalau kau membenciku."

Neji kemudian terdiam, menekuri gelas kertas miliknya yang masih setengah terisi. Bibirnya mengulas senyum getir saat menatap ke seberang meja. Sasuke masih bergeming di tempatnya. Wajahnya tak menunjukkan reaksi yang berarti.

"Kupikir sudah saatnya kita menyingkirkan dendam lama dan memulai kembali semuanya dari awal. Kau mengerti maksudku, kan?"

Kali ini Sasuke mengalihkan pandangannya pada Neji. Tentu saja ia mengerti, karena itu pulalah yang menjadi alasan ia menekan sejenak egonya dan duduk bersama orang yang pernah menyakiti Sakuranya. Hanya demi gadis itu Sasuke melakukan ini—dan yah, untuk dirinya sendiri juga. Memendam kebencian terlalu lama pada seseorang tidak baik untuk kesehatan.

"Keluarga kita sudah menjalin relasi cukup lama, dan aku yakin suatu hari nanti kita juga akan dituntut untuk saling membina hubungan baik. Aku tidak ingin merusak tradisi itu, Sasuke. Dan terutama, aku tidak ingin menjadi musuhmu. Aku ingin kita bisa berteman."

Sasuke menarik napas dalam-dalam, dan menghembuskannya perlahan sebelum menjawab dengan gerutuan khasnya, "hn."

"Dan tentang Sakura," Neji berkata kemudian. Ekspresi wajahnya yang semula tegang, melembut tatkala melihat air muka lawan bicaranya langsung berubah begitu nama Sakura disebut. "Tak perlu kaget seperti itu, Sasuke. Aku tahu dia salah satu alasanmu tidak menyukaiku."

Awalnya Sasuke hendak membantah, namun kemudian mengurungkan niatnya. Tak ada gunanya mendebat hal yang memang sudah jelas. Sikapnya hari sebelumnya memang terlalu kentara—dan Neji sama sekali tidak bodoh untuk tak menyadari hal tersebut.

Neji tersenyum simpul, sebelum kemudian melanjutkan dengan nada tenang, "aku hanya ingin memastikan kau mengerti bahwa tidak ada apa-apa di antara kami. Aku menghargainya sebagai seorang teman dan tidak lebih dari itu. Dan aku yakin Sakura juga begitu."

Ada jeda beberapa saat sementara Neji menyesap sisa minumannya, sembari menunggu jika Sasuke hendak mengatakan sesuatu. Namun sekali lagi, Sasuke hanya diam sambil menatapnya dengan dahi berkerut, seolah sedang mempertimbangkan apakah perkataan Neji bisa dipercaya atau tidak.

"Sepertinya kau masih belum sepenuhnya memercayaiku, Sasuke," komentar Neji, menghela napas. Kemudian menambahkan dengan senyum penuh arti tersungging di bibirnya, "tapi kaulah yang lebih memahami Sakura dibandingkan aku. Jadi kurasa kau pasti tahu kalau sekarang aku sama sekali bukan ancaman bagimu."

Kerutan di antara kedua alis Sasuke semakin dalam. "Apa maksudmu?"

Neji mengangkat alisnya tinggi, menatap Sasuke keheranan, seakan Sasuke menanyakan sesuatu yang sudah sangat jelas jawabannya. "Apa kau sama sekali tidak menyadarinya, Sasuke?"

.

.

Sementara itu, ketika Naruto yang sudah hampir sampai di area patung perunggu yang ia tuju, ternyata tempat itu sudah ada yang menempati. Kerumunan kecil pengunjung tampak mengelilingi area kosong di depan patung berbentuk abstrak tersebut, menonton seseorang—atau sekelompok?—yang tengah melakukan pertunjukan kecil di sana.

Naruto tak dapat melihatnya dengan jelas karena terhalang oleh kerumunan penonton, tetapi ia bisa mendengarnya dengan cukup jelas di antara riuhnya suasana di sana—suara nyanyian dalam bahasa yang tak ia kenali. Mungkin bahasa Italia atau Spanyol, entahlah. Apa pun itu, orang itu menyanyikannya dengan suara yang sangat indah sampai-sampai menarik atensi banyak penonton.

Penasaran, Naruto lantas mendekat, menyelap-nyelip di antara pengunjung lain sampai ia cukup dekat untuk melihat pemilik suara indah itu—seorang gadis tengah berdiri di area lapang di depan patung. Gadis itu menggerakkan tangan dan tubuhnya dengan anggun seperti tengah berakting sementara ia bernyanyi. Cahaya putih dari lampu yang menyorot di sekitar patung menjadi latar belakangnya, membuatnya terlihat sangat mengesankan. Seperti menonton pertunjukan opera sungguhan dari seorang penyanyi profesional.

Selama beberapa saat Naruto hanya bisa ternganga, sampai sebuah tarikan kecil di lengannya membuat perhatiannya teralih. Ia menoleh dan mendapati Sakura dan Hinata sudah berdiri di sampingnya.

"Keduluan, eh?" Sakura nyengir, lalu memindahkan pandangannya pada si gadis penyanyi. "Wah, opera, ya?"

"S—Suaranya indah sekali," puji Hinata terkesan.

"Yeah ..." Naruto mendesah pelan. "Dia seperti seorang pro." Entah mengapa kepercayaan diri yang dirasakannya tadi tiba-tiba saja meluntur melihat gadis penyanyi di hadapan mereka itu.

Dan sepertinya Hinata menyadari hal itu. "N-Naruto juga seperti pro kalau sudah di atas panggung," ujarnya membesarkan hati. Pipinya bersemu merah muda saat Naruto menoleh, menatap ke arahnya dengan mata berbinar.

"Benarkah?"

"Hm!" Hinata mengangguk malu-malu.

Naruto nyengir bego, menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tak gatal.

Melihat tingkah temannya itu, Sakura mendengus kecil, menyamarkan kikiknya menjadi batuk-batuk kecil. Menahan diri untuk tak menyeletuk menggoda mereka, gadis itu kembali memusatkan perhatian pada pertunjukan kecil di depan mereka. Sampai ada seseorang yang menepuk bahunya, membuatnya terlonjak kaget.

"Sai!" Sakura memekik. "Kau mengagetkanku!"

"Maaf," sahut Sai dengan senyumnya yang biasa.

"Sasuke dan Neji mana?" Sakura memandang ke sana kemari, mencari-cari, namun ia tak melihat dua orang itu di mana pun.

"Mereka sedang mengobrol," Sai menjawab kalem, seraya memandang melewati Sakura ke arah si gadis penyanyi. "Wah, cantiknya ..."

"Mengobrol?" Kedua alis Sakura terangkat tinggi.

Sai tersenyum kalem. "Yah, mengobrol. Pembicaraan antar laki-laki. Kau tahu, kan?" Ia lalu mengangkat kamera yang menggantung di lehernya, dan mulai memotret si gadis penyanyi. "Jangan khawatir, Sakura," ujarnya menambahkan, ketika menyadari ekspresi cemas di wajah Sakura, "mereka tidak akan berkelahi. Sekarang nikmati saja pertunjukannya. Bukankah kau suka opera?"

Sakura menatap Sai beberapa saat, sebelum kemudian memutuskan bahwa yang dikatakan Sai mungkin benar. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Lagipula sikap Sasuke pada Neji malam ini sudah jauh lebih baik. Meski begitu, ia tak dapat menahan diri bertanya-tanya apa kira-kira yang dibicarakan kedua cowok itu?

"Lho, bukankah itu Gaara?"

Kata-kata Sai mengembalikannya pada dunia nyata.

"Gaara? Mana?" Sakura bisa mendengar Naruto bertanya.

"Yang main biola."

Sakura mengikuti arah pandang Sai dengan penasaran. Sedari tadi perhatian mereka tersedot sepenuhnya oleh si gadis sehingga tak memerhatikan keberadaan sesosok cowok yang memainkan biola di sampingnya. Posturnya tak begitu jangkung, mungkin sama dengan Naruto. Ia mengenakan jins hitam dan kaus lengan panjang berwarna merah marun dengan corak garis hitam-putih di bagian dada. Penampilannya yang sederhana tak begitu menarik perhatian dibandingkan partnernya. Ditambah topi kupluk yang membungkus rapat kepalanya, membuatnya nyaris tak bisa dikenali. Tapi wajah itu, mata hijau pupus yang tajam itu. Tak salah lagi, ia memang Gaara Sabaku.

Dan Naruto tanpa berpikir panjang langsung berseru dengan heboh memanggilnya, membuat beberapa penonton di dekat mereka mendelik karena merasa terganggu. Namun tampaknya Naruto sama sekali tak peduli. Dengan penuh semangat ia melambai-lambaikan tangannya, sampai akhirnya berhasil menarik perhatian Gaara. Tanpa menghentikan permainannya, cowok berambut merah itu menggerakkan kepalanya sebagai tanda ia mengenali mereka.

Kalau ada Gaara, berarti orang itu juga ada, Sakura membatin. Gadis itu lantas menjulurkan leher dan memandang berkeliling ke arah kerumunan penonton, dan dugaannya ternyata benar. Seorang cowok berambut cokelat gelap yang sudah sangat dikenalnya, Kankurou Sabaku, berdiri di antara barisan penonton, tampak sibuk merekam penampilan adik lelakinya dengan handycam. Dan ia tak sendirian. Kakak perempuan Gaara yang pernah dikenalkan Ino padanya saat festival band beberapa bulan lalu, Temari Sabaku, juga ada di sana.

Ketika lagu yang dimainkan akhirnya selesai, si gadis membungkukkan tubuhnya dengan anggun menerima tepuk tangan riuh dari penonton. Beberapa dari mereka melemparkan uang pecahan kecil ke kotak biola Gaara yang terbuka sebelum membubarkan diri, termasuk Naruto yang bergegas mendekat dan melemparkan koin ke dalamnya.

"Yang tadi itu benar-benar keren!"

"Trims." Gaara tersenyum tipis, lalu memandang melewati atas bahu Naruto untuk menyapa yang lain. "Kita bertemu lagi, Sakura, Sai. Ah, ada Hinata juga."

"Selamat malam, Gaara," Hinata membalas sapaannya sopan.

Naruto memandang keduanya bergantian, tampak agak bingung. "Kalian sudah saling mengenal?"

"Ah—kami bertemu beberapa kali," sahut Gaara kalem.

"Gaara memberikan les privat biola untuk Hanabi," Hinata menambahkan.

"Ooh ..." Naruto mengangguk-anggukkan kepalanya. Perhatiannya kemudian teralih pada teman duet Gaara. "Dia temanmu?" tanyanya, seraya mengendikkan kepala ke arah gadis yang berdiri di belakang Gaara, tengah mengobrol sambil tertawa-tawa dengan Temari.

Gaara menoleh ke belakangnya. "Ah, dia teman kakakku—junior di sekolah lamanya. Mau kuperkenalkan?" Tanpa menunggu jawaban, Gaara memanggil gadis itu untuk mendekat. "Namanya Hotaru Tsuchigumo. Hotaru, ini teman-temanku dari Konoha."

"Halo," sapa gadis bernama Hotaru itu sambil tersenyum ramah. Dari dekat, mereka bisa melihat bahwa gadis itu benar-benar cantik. Rambutnya yang berwarna pirang madu bergelombang, terjatuh dengan lembut sampai ke bawah tulang belikatnya. Matanya yang berwarna hijau gelap, besar dan dalam, kontras dengan kulitnya yang putih. Posturnya yang mungil—bahkan lebih pendek dari Hinata—mengingatkan pada sosok peri di buku cerita dongeng anak-anak.

"Suaramu bagus sekali, Hotaru," puji Naruto dan tanpa malu-malu menyambar tangan gadis itu untuk dijabatnya, "aku Naruto Uzumaki. Ini Hinata Hyuuga."

"Hai." Hotaru ganti menjabat tangan Hinata.

"Sakura Haruno," Naruto menunjuk Sakura, yang langsung menyambut tangan Hotaru yang ganti terulur padanya sambil tersenyum sopan.

"Dan cowok pucat seperti penyakitan itu Sai. Sai Shimura."

"Naruto!" Sakura mendesis menegurnya, tapi kelihatannya Sai tidak terlalu keberatan dengan sebutan itu. Ah, entah ia tak keberatan atau memang tak mendengar kata-kata Naruto.

"Salam kenal," ujarnya dengan suara dalam—yang langsung membuat Sakura mengangkat alis—seraya menjabat tangan Hotaru. Bibirnya menyunggingkan senyum simpatik yang dengan sukses membuat gadis itu merona. Lama Sai baru melepaskan tangannya—tepatnya setelah Naruto berdeham cukup keras untuk menyadarkannya.

"Hei, Gaara. Hasil hari ini lumayan, lho!" suara keras Kankurou mengalihkan perhatian semua orang. Ia baru saja selesai menghitung uang dari kotak biola Gaara dan sambil menyeringai, mengibas-ibaskan lembaran uang kertas ke wajahnya—yang walaupun hanya pecahan kecil, jumlahnya cukup banyak. Belum lagi uang logamnya. Sepertinya omongan tentang orang-orang Kiri yang sangat loyal terhadap seni memang bukan isapan jempol belaka. "Sepertinya cukup untuk membeli puppet baru—HEI!"

"Seenaknya saja!" bentak Temari galak, setelah merebut uang itu dengan kasar dari tangan adiknya. "Ini punya Gaara, dan setengahnya milik Hotaru."

Kankurou langsung manyun, tak berani berkutik di depan kakak perempuannya. Meski pandangannya tak rela saat melihat Temari membagi tumpukan itu menjadi dua dan mengulurkan salah satunya—yang lebih tebal—pada Hotaru.

Namun gadis itu menolaknya halus. "Tidak apa-apa. Untuk Gaara saja."

Dengan cengiran penuh kemenangan, Kankurou merebut kembali uangnya dari tangan sang kakak. Temari memelototinya.

"Harusnya aku mendengarkan Sasori untuk mencegahmu tidak terlalu dekat dengan Kakuzu," geramnya sambil berkacak pinggang.

Kankurou mengibaskan tangannya seolah menepis kata-kata kakak perempuannya itu. Hotaru mengikik, sedangkan Gaara bersikap seolah tidak melihat atau mendengar apa-apa. Dengan tenang cowok berambut merah itu menyimpan kembali biolanya ke dalam kotak.

"Kau mau main juga?" tanya Gaara kemudian, mengerling tas gitar yang disandang Naruto.

"Yeah ..." Naruto nyengir lebar, menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tak gatal. "Kau mau lihat?"

.

.

"Sebaiknya kita menyusul mereka sekarang."

Suara Neji segera membuyarkan lamunan Sasuke, mengalihkan perhatiannya dari entah apa yang sedari tadi berputar-putar dalam kepalanya. Pandangannya beralih dan mendapati Neji sudah beranjak dari bangkunya.

"Kalau terlalu lama, nanti mereka khawatir."

"Hn," Sasuke menggerutu tak jelas. Namun tampaknya pikirannya belum sepenuhnya fokus pada sekelilingnya. Ketika ia menarik dirinya berdiri, kakinya tak sengaja terantuk kaki meja dengan cukup keras—sampai-sampai membuat meja tersebut bergeser dari tempatnya.

"Hati-hati," tegur Neji.

Menelan semua umpatan yang hampir terlontar dari bibirnya merasakan nyeri yang berdenyut-denyut di jari-jari kaki kirinya, Sasuke menegakkan diri, berlagak seolah tak terjadi apa-apa.

"Hn." Dengan kedua tangan kembali bersarang di saku celananya, Sasuke melangkah pergi.

Neji bergegas menyusulnya. Bibirnya masih dihiasi seringai geli.

Tak butuh waktu lama bagi Sasuke dan Neji mencapai area patung yang disebutkan Naruto sebelumnya. Dan untung saja tempat itu sudah tak seramai sebelumnya sehingga tak sulit menemukan teman-teman mereka. Di salah satu sisi patung perunggu yang benderang, terlihat sekelompok kecil orang berkumpul mengerumuni sesuatu. Dan samar-samar, Sasuke bisa mendengar suara Naruto dari sana.

Tak salah lagi.

"Sepertinya mereka di sana." Neji menunjuk ke arah kerumunan.

Namun Sasuke tak benar-benar mendengarkannya. Perhatiannya teralih pada yang lain. Samar-samar, di antara hiruk-pikuk suara orang-orang di sekitar mereka, Sasuke seperti mendengar suara salakan anjing yang rasanya tak asing. Refleks, Sasuke menghentikan langkahnya dan menoleh. Dahinya berkerut. Matanya mencari-cari.

"Ada apa, Sasuke?" Neji bertanya bingung, ketika melihat tingkah adik kelasnya itu.

Sasuke tak menggubrisnya, masih mencari-cari dengan penasaran. Ketika ia tak menemukan apa yang dicarinya, Sasuke mendengus kecil. Barangkali ia hanya membayangkan mendengar salakan Rufus. Atau bisa saja ia memang mendengar suara anjing, tapi mana mungkin Rufus ada di sana, bukan? Lagipula, bukankah suara salakan anjing memang terdengar sama saja satu sama lain?

"Sasuke?"

"Tidak. Tidak ada apa-apa."

Sasuke baru saja berbalik ketika suara salakan itu terdengar lagi. Kali ini lebih jelas dari sebelumnya, seakan suara itu mendekat ke arahnya. Awalnya Sasuke hendak mengabaikan saja suara itu dan pergi ke tempat Naruto secepatnya, sampai suara kedua tertangkap indera pendengarannya. Suara laki-laki yang sudah sangat ia kenali.

"Rufus! Berhenti!"

Matanya seketika melebar. Dan tepat ketika Sasuke membalikkan badan ke arah suara salakan itu berasal, dua kaki depan berbulu tiba-tiba menabrak perutnya. Cukup keras sampai membuatnya jatuh terjengkang dan mendarat dengan keras pada bokongnya.

"Argh!" Sasuke mendengking, merasakan bobot tubuh penyerangnya di atas dadanya, sementara makhluk itu menyorongkan moncongnya ke wajahnya dan mulai menjilatinya dengan penuh semangat.

Neji yang sama terperanjatnya dengan kehadiran mendadak si anjing, langsung berusaha menghalaunya dari Sasuke. Tapi anjing itu tak menyerah. Tetap menyalak heboh dan menjilati bagian mana pun dari wajah Sasuke yang bisa dicapainya.

Orang-orang mulai menoleh untuk menonton mereka. Sebagian tampak khawatir, sementara sebagian lain menganggap lucu kejadian itu dan bahkan mengambil gambar dengan kamera mereka.

"Rufus! Jangan begitu—kau anjing nakal!"

Sasuke merasakan bobot tubuh si anjing meninggalkan tubuhnya. Terengah, ia mendelik kesal pada laki-laki yang kini tengah memegangi tali leher golden retriever berbulu cokelat keemasan itu. Itachi Uchiha balas menyeringai.

"Halo, Sasuke."

Rufus menyalak riang, mengibaskan ekornya.

"Itachi?"

Pandangan Itachi bergulir pada seseorang yang berdiri di dekat adik laki-lakinya. Sejenak wajahnya menunjukkan ekspresi terkejut. "Neji?" sapanya dengan nada heran. Setahunya Sasuke tak pernah cocok dengan Neji Hyuuga, tetapi melihat mereka bersama-sama di tempat yang asing seperti ini rasanya agak mengejutkan. "Kau juga ada di sini?"

"Yeah," Neji menyahut. Ia tak kalah terkejutnya dengan kemunculan mendadak Itachi Uchiha di sana. "Ap—"

"Apa yang kaulakukan di sini?!" sambar Sasuke ketus, memotong kata-kata Neji.

Itachi kembali memandang adiknya yang masih terduduk. Seakan sudah menduga reaksi Sasuke sebelumnya, tersenyum tenang. "Apa lagi? Tentu saja untuk liburan, Sasuke," jawabnya seraya mengulurkan tangan untuk membantu Sasuke bangun.

Namun Sasuke yang masih kesal, menepis tangan kakak laki-lakinya dan memilih untuk bangun sendiri. "Harusnya kau memberitahuku dulu," tuntutnya, menyeka sisi wajahnya yang basah dengan punggung tangan dengan kasar.

Itachi baru saja hendak membuka mulut untuk menjawab ketika terdengar suara lain memanggil namanya. Suara seorang wanita muda. Hana Inuzuka muncul dari arah Itachi datang sebelumnya, membawa dua gelas kertas berisi minuman hangat di tangannya. Mengekor di belakangnya, adik laki-lakinya, Kiba Inuzuka dan anjing putihnya yang besar, Akamaru.

Mengenali teman sekelasnya, Kiba langsung melambaikan tangan bersemangat. "Oi, Sasuke!"

"Oh, hai, Sasuke," sapa Hana cerah begitu melihat Sasuke, tampak terkejut sekaligus senang. "Ternyata kau ada di sini juga. Tadinya kami baru akan menemuimu besok. Kebetulan sekali."

Sasuke sama sekali tak mengacuhkan kakak beradik Inuzuka. Ia masih sibuk memasang tampang kesal pada Itachi. Hana yang menyadari aura yang tidak enak tersebut, mengernyit bingung memandang kekasihnya. "Itachi? Ada apa?"

Itachi menghela napas. "Aku berusaha menghubungimu, Sasuke, tapi nomormu tidak bisa dihubungi sejak kemarin."

Sesaat Sasuke terdiam. Kemarin nomornya memang tidak aktif karena ponselnya dipakai oleh Naruto, dan baru diaktifkan lagi sore tadi. Tetapi rupanya Sasuke masih terlalu kesal untuk mengalah begitu saja. "Kau kan bisa menghubungi Naruto, Sai atau Sakura! Apa gunanya aku memberikan nomor ponsel mereka padamu?"

Itachi tersenyum lemah. Mengenal watak adiknya dengan sangat baik, Itachi memutuskan untuk mengalah. Dijelaskan seperti apa pun, dalam situasi seperti ini Sasuke tidak akan mau mendengarkan. Lagipula itu sudah tidak penting lagi sekarang. "Baiklah, aku minta maaf. Anggap saja aku sedang memberimu kejutan. Jangan merajuk lagi, oke?"

"Aku tidak merajuk!" Sasuke menggerutu, membuang muka.

Di sampingnya, Neji menyamarkan kekehnya menjadi batuk-batuk kecil.

"Oh, ya. Mana Naruto dan yang lain?" tanya Itachi kemudian, sambil menoleh ke sana kemari mencari-cari tiga teman Sasuke yang lain.

"Mereka harusnya ada di sana," Neji lah yang menjawab, ketika Sasuke tak kunjung menjawab. Ia menunjuk ke arah patung perunggu.

"Hn. Bagaimana kalau kita temui mereka?"

Tanpa berkomentar sedikit pun, Sasuke langsung melengos pergi mendahului yang lain. Neji mengikutinya, disusul Kiba yang langsung merendenginya bersama Akamaru ("Hei, Neji. Apa Hinata juga ada di sini?"). Rufus hendak berlari mengejar mereka, namun tertahan tali lehernya yang dipegangi sang tuan.

"Aku mengerti kau merindukannya. Tapi beri dia waktu sebentar, ya?" Itachi menepuk kepala anjingnya penuh sayang. Rufus mengeluarkan suara rendah seperti mengeluh, tapi ia kemudian menyurukkan moncongnya ke tangan Itachi, seolah ia bisa memahami maksud sang tuan. Menghela napas, Itachi lalu menoleh pada Hana yang masih berdiri di sampingnya. "Maafkan sikapnya tadi," ucapnya menyesal.

"Aku mengerti. Aku juga punya adik laki-laki yang masih remaja, dan Kiba bisa bersikap lebih parah," Hana membalas dengan senyum ringan. Tampaknya sikap dingin Sasuke tadi sama sekali tak mengusiknya.

Itachi memberi Hana senyum berterima kasih, sebelum mengambil gelas kertas yang diulurkan kekasihnya itu padanya. "Kita susul mereka?"

Hana tersenyum, mengangguk.

"Ayo, Rufus."

.

.

Sasuke berjalan menyeruak di antara kerumunan penonton—yang untungnya, tidak terlalu banyak—dan langsung mendapati Sakura, Sai dan Hinata di barisan paling depan. Di tengah lingkaran itu, tampak Naruto yang tengah menggenjreng gitarnya sambil menyanyikan sebuah lagu entah apa. Dan Sasuke bisa melihat Sakura dan Hinata merekam aksinya dengan kamera ponsel mereka.

Seolah bisa merasakan kehadirannya, Sakura langsung menoleh begitu Sasuke tiba di dekat mereka. "Hei," sapanya, sambil tersenyum ceria. "Akhirnya datang juga. Mana—" kata-katanya seketika terhenti, dan senyum memudar dari wajahnya, ketika menyadari ada yang tidak beres. Dan satu hal yang langsung terlintas di benaknya melihat ekspresi keras di wajah Sasuke adalah kata-kata Sai beberapa saat lalu. Mendadak Sakura dihantui perasaan cemas.

Bukankah tadi katanya Sasuke sedang berbicara dengan Neji? Apa mereka bertengkar?

Kegiatannya merekam terlupakan ketika perhatiannya tertuju sepenuhnya pada cowok bermata hitam tajam itu. Namun belum sempat Sakura membuka mulutnya untuk bertanya, Neji muncul di belakang Sasuke. Ia terlihat santai, seakan tak pernah terjadi apa-apa. Namun yang membuat Sakura terkejut adalah Neji tidak sendirian.

"Kiba?"

"Oi, teman-teman!" Kiba berseru keras menyapa mereka.

Mendengar suara yang mereka kenal, Sai dan Hinata refleks menoleh.

"Hai," sapa Sai dengan senyumnya yang biasa.

"Kiba?" Hinata tampak terkejut. "K-kenapa bisa ada di sini?"

Kiba mengabaikan pertanyaan Hinata. Ia terlalu girang melihat dua orang temannya sesama anggota klub jurnal, di sana. "Lucky! Ada Hinata dan Sai! Berarti aku tak perlu mengerjakan tugas sialan itu sendirian! HAHAHA!"

"Jangan mempermalukan dirimu sendiri dengan tertawa seperti maniak begitu, Kiba," komentar Sai kalem.

"HA! Kau ini masih saja suka ngomong seenaknya!" teriak Kiba sambil menuding ke wajah Sai, begitu kerasnya sehingga mengundang orang-orang menoleh dan melempar tatapan mencela ke arah mereka.

"Kiba ..." kata Hinata, tersenyum lemah.

"Jadi," Kiba menggulirkan pandangannya ke arah Naruto. Bibirnya menyeringai. "Wah, wah, coba lihat siapa ini. Rock star dari Konoha."

"Kiba kenapa bisa ada di sini?" Sakura menanyainya, mengalihkan perhatian Kiba dari Naruto.

"Aku dalam tugas pengawalan," sahut Kiba, berlagak sok penting seraya mengerling Sasuke. "Kak Itachi mengajak kakak perempuanku pergi berliburan berduaan saja, tapi tentu saja aku tak bisa membiarkannya! Kalau nanti terjadi kau-tahu-apa, bagaimana? Urusannya bisa panjang—terutama dengan ibuku. Jadi terpaksa aku—OUCH!"

Kiba mendengking kesakitan ketika seseorang menarik telinganya dengan keras.

"Anak nakal!" geram Hana, yang baru saja datang bersama Itachi. "Jangan sembarangan bicara. Itachi memang berencana mengajakmu sejak awal. Dasar tidak tahu berterimakasih!"

"Sudah, sudah," kata Itachi, berusaha menenangkan kekasihnya. Ekspresinya geli. "Tidak apa-apa."

"Iya, iya, ampun, Kak! Aku kan hanya bergurau. Aduduh—telingaku!"

Akamaru menyalak riang. Itachi menahan tawa, namun Hana tampaknya masih tidak puas dengan sikap adiknya yang menurutnya tak pantas. Ia melepaskan telinga Kiba dan menghadiahinya dengan pukulan gemas di lengannya. Kiba buru-buru bersembunyi di belakang Itachi sebelum Hana menangkapnya lagi, menjulurkan lidah ke arah kakak perempuannya itu dari atas bahu Itachi.

"Kiba!"

"Kakak ipar, lindungi aku!"

Itachi terkekeh geli. Sasuke yang melihat itu, mendengus, melempar pandang jijik pada Kiba.

"Wah, ada Rufus juga!" seru Sakura, saat perhatiannya teralih pada golden retriever di samping Itachi. Gadis itu berlutut di depan si anjing, menggaruk-garuk bulu lebar di lehernya dengan sayang. "Apa kabar, Anjing Pintar?"

Rufus menyalak gembira.

"Halo, Rufus," sapa Hinata, seraya membungkuk di samping Sakura untuk mengelus kepala si anjing, "m-masih ingat padaku?"

Ah, anjing lucu selalu berhasil menarik perhatian para gadis. Entah merasa iri dengan perhatian yang didapatkan si retriever, Akamaru mendekati mereka, menyalak minta perhatian. Dan ia mendapatkannya.

Kesibukan kecil itu disela oleh riuh tepuk tangan dan suitan yang berasal dari penonton yang menyaksikan aksi Naruto. Rupanya penyebabnya adalah Gaara. Cowok berambut merah itu bergabung dengan Naruto di lagu kedua dengan memainkan biolanya. Kendati awalnya terlihat canggung dengan kolaborasi mendadak itu, Naruto dengan cepat menyesuaikan diri dengan permainan Gaara dan keduanya berhasil memikat penonton dengan irama rock akustik Cryin' milik Aerosmith. Bahkan Itachi mengeluarkan handycam-nya untuk merekam aksi mereka.

"Keren ..." Sakura mendesah kemudian, memandangi kedua cowok itu penuh kekaguman. "Aku tidak tahu Gaara bisa memainkan lagu rock seperti itu," ujarnya pada Sai yang berdiri di sebelahnya.

"Jangan remehkan dia," Sai terkekeh kecil. "Gaara bisa memainkan musik dari genre apa saja dengan biolanya. Itulah kenapa dia disebut jenius musik."

"Wah ... dan Naruto kita juga tak kalah keren, tentu saja. Iya kan, Hinata?"

"Eh—um ... i-iya," Hinata tergagap-gagap, terkejut karena tiba-tiba ditanyai. Gadis itu terlalu sibuk terpesona oleh Naruto.

Sakura mengikik geli, lalu berpaling pada Sasuke. "Keren, kan, Sasuke? Komentar dong. Dari tadi kau diam saja."

Sasuke tak langsung menjawab. Matanya terpacang lurus pada Naruto. Air mukanya tak lagi terlihat marah seperti sebelumnya. Alih-alih, ia seperti ... terpana—membuat Sakura menyunggingkan senyum penuh arti melihatnya.

"Kagum sih boleh saja. Tapi tak perlu sampai melongo seperti itu dong."

Seakan baru tersadar dari lamunan, Sasuke menoleh dan mendapati Sakura nyengir padanya. "Aku tidak melongo."

"Oh, benarkah?" tanya Sakura menggodanya.

"Hn," kata Sasuke, menghindari tatapan Sakura.

Sejujurnya, kepiawaian Naruto—dan Sai—memainkan instrumen musik terkadang membuat Sasuke iri. Terlebih setiap kali ia teringat Sakura pernah mengatakan ia menyukai laki-laki yang bisa bermain gitar seperti mendiang ayahnya. Kedengarannya konyol, memang, tapi Sasuke merasa agak tertekan gara-gara ini.

"Apa kalian janjian dengan si Gaara itu di sini?" tanya Sasuke kemudian, dengan sengaja mengalihkan pembicaraan.

"Nope. Tadi Gaara dan temannya sudah ada di sini saat kami datang," jawab Sakura.

"Temannya cantik sekali," timpal Sai, "sayang sekali kau tak sempat berkenalan. Kau datang terlambat, Sasuke. Dia pergi tak lama sebelum kau datang."

"Wah, sayang sekali, ya?" tukas Sakura dingin, melempar pandang sebal pada Sai.

Namun Sai sama sekali tak menghiraukannya, dan terus saja berkata pada Sasuke, "namanya Hotaru Tsuchigumo. Menurutku dia agak mirip Sakura."

"Apa? Mirip bagaimana?" Sakura mengernyit.

Sai menyunggingkan senyum menyebalkan. "Warna mata kalian hampir sama, dan sama-sama punya dahi yang lebar. Bedanya, Hotaru cantik."

Wajah Sakura langsung memerah karena sebal. "Hotaru cantik, dan aku?"

"Sebaiknya tak perlu diteruskan," sahut Sai kalem.

Sakura, yang sudah tahu maksud perkataan Sai, menggembungkan pipinya kesal. "Terus saja bicara Hotaru cantik. Tapi jangan sampai Sasame mendengarmu bicara seperti itu tentang gadis lain. Wanita yang cemburu lebih mengerikan dari banteng yang mengamuk, tahu."

Sai menatap Sakura heran, seakan gadis itu baru saja mengatakan sesuatu yang aneh. "Aku hanya mengapresiasi keindahan, tidak lebih dari itu," sahutnya polos. "Tak ada hubungannya dengan Sasame. Dia tetap gadis nomor satu di hatiku."

Sakura menghela napas, memutar bola matanya. Kadang-kadang ia tak habis pikir dengan jalan pikiran Sai. "Yah, terserah kau saja deh," gumamnya pelan, sehingga Sai yang sudah kembali memusatkan perhatiannya pada Naruto, tak mendengarnya. "Kuharap ini bukan gejala awal ke-playboy-an."

Namun rupanya itu terdengar oleh Sasuke. Entah bagaimana cowok itu tak dapat menahan diri mendengus tertawa.

Menyadari itu, Sakura menoleh cepat ke arahnya. "Hei, kau tertawa!"

"Apa?" Sasuke buru-buru menetralkan ekspresi wajahnya, meski tak sepenuhnya berhasil. "Aku tidak tertawa," bantahnya.

"Oh, ya. Kau tertawa!" kata Sakura girang. Kekesalannya pada Sai mendadak menguap, tatkala perhatiannya tercurah sepenuhnya pada Sasuke.

"Aku tidak—" Menyadari ini akan menjadi berdebatan ya, tidak, ya, tidak yang tak akan ada habisnya, Sasuke menghembuskan napas keras."Memangnya itu penting?" gerutunya.

"Tentu saja penting," Sakura menukas. "Soalnya sejak kemarin kau cemberut terus. Kesannya kau jadi tidak menikmati liburan, padahal kita kemari kan untuk refreshing. Seharian ini aku pusing memikirkan bagaimana caranya membuatmu tersenyum, benar-benar merepotkan." Sakura menghela napas dramatis. Meski demikian, senyumnya kembali mengembang saat ia melanjutkan dengan nada lebih ceria, "tapi sekarang kau sudah tertawa. Aku senang melihatnya."

Sasuke merasakan wajahnya menghangat. Terlebih saat melihat kegembiraan tulus terpancar di sepasang mata hijau yang berbinar-binar itu. Mendadak ia teringat kata-kata Sai malam sebelumnya tentang Sakura, dan itu membuat jantungnya berdegup kencang.

Benarkah gadis itu begitu memikirkan dirinya tanpa ia sadari? Dan itu kah alasannya mengapa Sakura mengenakan dress pemberiannya lagi malam ini? Untuk membuatnya tersenyum?

"Sori, kalau aku membuatmu pusing," kata Sasuke sok sinis, padahal ia sedang menahan diri sekuat tenaga untuk tidak nyengir terlalu lebar.

"Aah. Sepertinya ini karena Kak Itachi," Sakura mengerling kakak laki-laki Sasuke yang berdiri tak jauh dari mereka, "kau pasti senang karena dia kemari. Harusnya kau memberitahu kami kalau kakakmu mau datang."

Tak ingin membahas soal Itachi, Sasuke memilih tidak menanggapi. Dan tentu saja ia juga tak bisa menjelaskan bahwa alasannya sama sekali bukan Itachi. Biarlah menjadi rahasianya untuk saat ini, pikirnya sambil mengulum senyum.

Sebuah sentuhan basah dan hangat yang mengenai tangannya membuat perhatian Sasuke teralih. Ia menunduk, dan mendapati Rufus tengah mengendus tangannya, seolah mengharapkan perhatian dari sang pemilik tangan. Dan itulah yang kemudian diberikan Sasuke. Tangannya bergerak ke kepala berbulu si anjing, mengelusnya. Rufus mengibaskan ekornya senang. Sasuke tertawa kecil.

Sepertinya ia juga sudah melupakan kekesalannya pada si anjing beberapa saat lalu.

.

.

Jalanan Kiri masih ramai oleh para turis yang berlalu-lalang ketika mereka memutuskan untuk pulang. Tidak mengherankan, mengingat festival musim panas tahunan yang menjadi salah satu daya tarik wisata di Kiri sudah semakin dekat, para turis dari luar kota—bahkan luar negeri—semakin banyak berdatangan. Memanfaatkan momentum tersebut, toko-toko, restoran dan cafe tutup lebih malam dari biasanya.

Ah, kalau saja saat itu belum mendekati jam malam yang sudah mereka sepakati dengan Yamato, barangkali mereka akan tinggal lebih lama. Tapi apa boleh buat. Ini demi keamanan mereka juga, dan Neji juga harus beristirahat karena akan kembali ke Konoha besok.

Keempat sahabat itu dan Hinata lantas berpisah dengan yang lain untuk menuju ke kediaman Paman Kaiza. Dan sepanjang perjalanan itu, Naruto sama sekali tak bisa diam. Mulutnya tak hentinya mengoceh, menceritakan kembali bagaimana hebatnya kolaborasi yang dilakukannya bersama Gaara di alun-alun tadi. Sementara teman-temannya—kecuali Hinata—mendengarkan dengan bosan. Bahkan Sasuke terang-terangan menguap. Tapi tampaknya Naruto tidak begitu peduli. Ia sedang terlalu bersemangat.

"... dan Gaara benar-benar keren. Dari musik klasik, langsung berganti memainkan genre yang berbeda. Haah ... aku harus mengajaknya berkolaborasi lagi lain kali." Naruto mengakhiri celoteh panjangnya dengan helaan napas panjang dan cengiran berpuas diri. "Aku sudah tahu ini akan berhasil. Dengan modal percaya diri, kita bisa mendapatkan uang yang cukup untuk bertahan hidup."

Sakura tertawa. "Bicaramu itu seakan kita sudah benar-benar kehabisan uang, Naruto."

"Memangnya koin-koin itu cukup untuk bertahan hidup seperti katamu?" tanya Sai polos.

"Ha! Orang yang terbiasa memegang uang bergepok-gepok dan kartu kredit sih mana mengerti betapa berharganya koin kalau dikumpulkan!" tukas Naruto, menuding Sai. "Lagipula, ini bukan masalah jumlah uangnya, tapi soal kepuasan."

"Tapi kau juga senang, kan, saat Gaara menolak bagiannya?" seloroh Sai, terkekeh sendiri.

Naruto mencibirnya, namun ia tak dapat menampik bahwa dirinya senang ketika Gaara menolak membagi dua hasil mengamen mereka, dan ia mendapatkan semuanya. Tapi ia kan sama sekali tak bermaksud serakah atau apa.

"Sudah, sudah. Jangan membahas yang tidak perlu," kata Sakura buru-buru menengahi, ketika mencium gelagat Naruto hendak membalas dengan sengit. Temannya yang satu itu memang punya masalah dengan pengendalian emosi. Ia gampang sekali panas, terlebih, uang adalah masalah yang sensitif bagi Naruto. Dan Sai, meskipun sudah banyak mengalami kemajuan, kadang-kadang masih kesulitan membaca situasi sebelum berkomentar. Jika tak cepat-cepat dicegah, bisa-bisa terjadi pertengkaran yang tak perlu.

"Omong-omong, Hinata," Sakura berpaling pada Hinata, yang sedari tadi tak bersuara dan hanya mengamati mereka berinteraksi dengan ekspresi tertarik. "Besok jam berapa Neji pulang ke Konoha?"

"S-sebelum tengah hari. Sekitar pukul sepuluh," jawab Hinata.

"Oh ..." Sakura mengangguk-angguk. "Apa kau akan mengantarnya ke bandara?"

"Um ..." Hinata tampak ragu, "i-iya. Kalau bisa, aku ingin mengantarnya. M-mungkin aku akan pulang pagi-pagi. Apa tidak masalah?"

Melihat temannya yang tampak begitu khawatir, Sakura tertawa kecil. "Tentu saja tidak masalah. Naruto akan mengantarmu besok. Akan lebih cepat sampai ke hotelmu kalau pakai sepeda."

"E—eh?" Membayangkan dirinya berboncengan sepeda dengan Naruto, membuat wajah Hinata seketika merona merah. Untungnya saat itu suasana jalan remang-remang, jadi tak begitu kentara.

"Iya, tenang saja!" seru Naruto langsung menyanggupi, seraya menepuk dadanya yang membusung. "Aku pasti akan mengantarmu besok!"

Untuk sesaat, tampaknya Hinata tak dapat berkata-kata. Entah karena terlalu senang, atau terlalu malu. Akhirnya ia hanya mengangguk, sambil menggumamkan terima kasih dengan agak terbata-bata.

"Hei, Sasuke," Naruto berpaling pada Sasuke yang berjalan di agak belakang mereka, sementara Sakura mulai mengajak Hinata mengobrol. Ia membiarkan para gadis berjalan mendahuluinya supaya ia bisa merendengi sahabatnya yang sama sekali tak bersuara sejak meninggalkan alun-alun tadi, lalu menatapnya penuh harap. "Kau tidak ingin berkomentar tentang penampilanku tadi, eh?"

"Apa yang harus dikomentari? Penampilanmu biasa saja," gerutu Sasuke.

Sudah menduga Sasuke akan berkomentar seperti itu, Naruto pura-pura mencibir. "Ck. Dingin, seperti biasa."

"Hn."

"Tapi setidaknya kan kau bisa memotretku."

Sasuke mendengus. "Buang-buang memori ponsel saja."

"Aah ..." Naruto menghembuskan napas keras-keras, seolah kecewa mendengar perkataan temannya itu. Ia melipat tangan di belakang kepala, melirik Sasuke dari sudut matanya sambil menggumam pelan sehingga hanya Sasuke yang mendengar, "buang-buang memori ponsel. Yang benar saja. Kalau begitu ngapain dia pakai menyimpan banyak foto orang itu di ponselnya? Dasar stalker."

Air muka Sasuke langsung berubah tegang. "Diam!" desisnya, menggertakkan gigi. Sepertinya keputusannya meminjamkan ponsel pada Naruto salah besar. Saat itu ia terlampau panik sampai melupakan sama sekali soal foto-foto itu.

"Aah ..." gumam Naruto lagi, pura-pura tidak dengar. Seringai jahil menghiasi wajahnya. "Apa sebaiknya kuberitahu saja Saku—ouch!" Belum sempat Naruto menyelesaikan kalimatnya, sikutan keras mendarat di rusuknya. "Aduduh—Sasuke ... kau sudah gila, ya? Sakit, tahu!" Naruto terbungkuk-bungkuk memegangi rusuknya.

"Kalian sedang apa, sih?" tanya Sakura seraya memandang Sasuke dan Naruto curiga, tak lama setelah menyadari keributan yang terjadi di belakangnya. "Jangan bilang kalian bertengkar."

Naruto buru-buru menegakkan tubuhnya, sementara Sasuke membuang muka, berpura-pura tak ada yang terjadi. "T-tidak ada apa-apa, kok, Sakura. Kami cuma bergurau. Hahaha ..." sahut Naruto, tertawa garing.

Sakura mengerutkan dahinya, masih agak curiga.

"Jangan sampai aku mendengarmu menyebut-nyebut soal itu lagi," desis Sasuke penuh ancaman setelah Sakura berpaling dari mereka.

"Ya, ampun, Sasuke. Aku kan hanya bercanda," sahut Naruto, mengernyit. Rusuknya masih terasa berdenyut menyakitkan.

"Tidak lucu."

"Oh, yeah. Lucu."

Sasuke memelototi Naruto, tapi temannya itu hanya nyengir.

.

.

"Nah, selesai!" Sakura berseru senang, seraya mengangkat jari-jarinya yang baru saja dibubuhi kuteks berwarna hijau oleh Hinata, mengagumi hasilnya. "Wah, rapi sekali. Kau yakin baru pertama kali melakukannya?"

Hinata menjawab dengan anggukan. Wajahnya yang merona tampak berseri-seri. Saat itu mereka sudah berada di atas ranjang di kamar yang ditempati Sakura, sudah mengenakan piama. Malam sudah larut, tapi kedua gadis itu sama sekali belum mengantuk. Maka mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol sambil saling memoles kuku masing-masing dengan kuteks yang baru dibeli Sakura beberapa hari lalu.

"Haah ... sepertinya tanganmu itu memang dianugerahi ketelatenan untuk melakukan pekerjaan perempuan, ya?" Sakura mendesah, tersenyum pada gadis di hadapannya. "Kau pandai masak, menjahit, dan sekarang ..." sekali lagi Sakura mengangkat tangannya, "memoles kuteks. Dibandingkan hasil kerjaku." Dengan cemberut, ia memandangi kuku-kuku Hinata yang juga telah ia olesi kuteks yang sama sebelumnya. Ada beberapa bagian cat kuku tersebut yang keluar-keluar.

"T-tidak apa," sahut Hinata buru-buru, "aku suka kok. Ini pertama kalinya aku menggunakan cat kuku. Cantik sekali."

Ekspresi senang Hinata yang tak ditutup-tutupi saat memandangi kuku-kukunya membuat Sakura tersenyum lebar.

"Memangnya kau dan Shiho tak pernah melakukannya?"

Hinata menggeleng. "Shiho bukan tipe orang yang terlalu menyukai hal-hal seperti ini."

"Hmm ..." Sakura menggumam mengerti, lalu mulai meniup-niup kuku-kukunya. Itu masuk akal, ia membatin. Kecuali saat prom kemarin, Sakura tak pernah melihat Shiho benar-benar berdandan. Gadis itu sekali terlihat ... polos. Sangat sederhana, bahkan kalau bisa dibilang, tak terlalu memedulikan penampilannya. Lihat saja rambut pirangnya yang seringkali dikucir asal-asalan dan mencuat ke mana-mana. Padahal, kalau saja gadis itu mau sedikit berdandan, ia pasti terlihat cantik—seperti saat prom. Hanya saja pembawaannya yang cerdas dan penuh percaya diri membuatnya tidak terlihat seburuk itu.

"A-Apa kau sering melakukan ini jika menginap dengan Ino?"

Pertanyaan yang dilontarkan Hinata mengembalikan perhatian Sakura sepenuhnya pada gadis itu. "Kadang-kadang," sahut Sakura, "biasanya dia senang menjadikanku kelinci percobaan alat-alat make up-nya." Melihat ekspresi Hinata yang penuh minat, Sakura jadi semakin bersemangat bercerita. "Tapi yang paling sering kami lakukan adalah mengobrol—curhat. Kau tahu, kan? Kebiasaan anak-anak perempuan kalau sudah berkumpul? Apalagi aku dan Ino bisa dibilang tidak terlalu sering berinteraksi di sekolah. Ino punya teman-teman sekelompoknya sendiri, dan mereka tidak terlalu menyukaiku. Jadi ..." Sakura mengangkat bahu, membiarkan kalimatnya menggantung.

Hinata mengangguk mengerti. Di sekolah, ia memang lebih sering mendapati Ino Yamanaka menghabiskan waktu bersama gadis-gadis sesama pemandu soraknya, ketimbang dengan Sakura—meskipun mereka bersahabat. Sementara Sakura lebih sering terlihat di perpustakaan, atau di ruang sekretariat klub teater.

"Dan kalau kami sudah mulai mengobrol, kami bisa lupa waktu. Kami bisa mengobrol sampai pagi!" Sakura tertawa kecil. "Ino itu seperti tidak pernah kehabisan bahan obrolan. Ada saja yang dia bicarakan."

"Biasanya apa saja yang kalian bicarakan?"

"Macam-macam. Mulai dari gosip teman-teman di sekolah, para guru, mode yang sedang trend, film, musik, buku ... tapi yang paling sering sih tentang cowok. Kau tahu, kan, Ino sangat populer di kalangan cowok-cowok di sekolah. Dan biasanya akulah yang menjadi sasaran curhatnya kalau ada cowok yang suka padanya, atau yang dia sukai, atau jika ada masalah dengan pacar-pacarnya."

Hening mendadak. Sakura merasa ada yang salah dengan kalimat yang baru saja meluncur dari mulutnya.

"Ah—maksudku, Ino kan sudah pernah jadian beberapa kali sejak di junior high. Bukannya dia punya pacar lebih dari satu dalam satu waktu," ia buru-buru mengoreksi. Yah, walaupun ucapannya tak sepenuhnya salah. Satu kali Ino memang pernah punya pacar lebih dari satu. Gosip itu sudah menyebar dan sempat membuat reputasinya sebagai KHS' Sweetheart goyah. Semua anak di Konoha High yang mengenal Ino pasti sudah tahu, termasuk Hinata.

"Aku bisa membayangkannya. Kalian kelihatannya memang dekat sekali," komentar Hinata tulus.

"Yeah," sahut Sakura, lega karena Hinata tak memperpanjang topik tentang Ino dan pacar-pacarnya. "Kami memang sudah berteman dekat sejak kecil. Dan walaupun sekarang aku sudah punya Sasuke, Naruto dan Sai, tapi ada hal-hal tertentu yang tak bisa kubagi dengan mereka, dan hanya bisa kubagi dengan Ino. Kurasa itulah keistimewaan sahabat perempuan."

"Kau benar," Hinata mengangguk setuju.

"Tapi bukan berarti aku menganggap cowok-cowok itu tidak istimewa," Sakura menambahkan sambil tertawa.

"A-aku yakin mereka istimewa bagimu," sahut Hinata, tersenyum.

"Yeah ..." Sakura mendesah, ikut tersenyum. Keduanya lalu terdiam selagi Sakura sibuk meniup-niup kukunya yang hampir kering. "Omong-omong soal cowok, boleh aku tanya sesuatu?"

"Hm?" Mata Hinata melebar penuh tanda tanya.

"Neji memberitahuku kau yang mengusulkan kalian liburan ke Kiri." Senyum nakal muncul di bibir Sakura ketika ia melihat Hinata mendadak salah tingkah. Hinata tidak bodoh. Gadis itu pasti mengerti ke mana arah pembicaraan Sakura. Kedua pipinya yang putih bersemu kemerahan. Semakin lama semakin merah sampai-sampai Sakura nyaris bisa merasakan panas yang menguar darinya.

"I—iya," jawab Hinata terbata, seraya memainkan-mainkan kedua telunjuknya—kebiasaan yang selalu ia lakukan setiap kali merasa gugup.

"Hmm ..." Sekuat tenaga Sakura menahan kikikan. "Yah, aku cuma sedikit penasaran. Karena kupikir ini kebetulan yang aneh. Tapi kalau kau tak ingin membicarakannya, aku tidak akan memaksa," ujarnya, mengangkat bahu.

Hinata tidak langsung menjawab. Gadis itu menggigit bibirnya. Air mukanya tampak ragu ketika mengawasi Sakura tengah merangkak dengan hati-hati ke sisi tempat tidur untuk meletakkan botol kuteksnya di meja buffet. Hinata tak terbiasa membicarakan perasaannya terhadap Naruto pada orang lain. Selama ini ia hanya memercayai sahabat dekatnya, Shiho, dan buku hariannya untuk itu. Tapi Sakura ...

Hinata masih ingat ia pernah mencurahkan perasaannya pada Sakura sekali, dan rasanya sangat menyenangkan. Gadis berambut merah muda itu jelas pendengar yang baik, pantas saja Ino betah berlama-lama bicara dengannya. Sepertinya tak ada salahnya jika ia sedikit membuka diri pada Sakura. Lagipula, bukankah ia sudah bertekad bersikap lebih asertif tentang perasaannya?

"Sebenarnya ..." Hinata memulai. Sakura kembali duduk manis di tempatnya semula sembari memangku bantal, siap mendengarkan. "S-sebenarnya musim panas ini, aku dan Shiho membuat semacam perjanjian dengan diri kami sendiri. Um ... kami harus membuat satu langkah besar yang berhubungan dengan orang yang kami sukai." Hinata menelan ludah tuk membasahi kerongkongannya yang mendadak kering. Ia tak lagi memainkan jemarinya. Alih-alih, kedua tangannya saling genggam di atas dadanya. "Shiho bilang, kami tidak boleh selamanya hanya bisa melihat dari jauh dan tidak melakukan apa-apa. Setidaknya h-harus ada usaha untuk mendekat dan melewatkan waktu sebanyak mungkin dengan orang itu. Meski begitu, a-aku tidak terlalu yakin bisa melakukannya."

"Ini tentang Naruto?" Sakura bertanya.

Hinata menjawab dengan anggukan canggung.

"Jadi ... kau benar-benar sengaja menyusulnya kemari?"

Sekali lagi gadis bermata pucat itu mengangguk. Ia mengeluarkan tawa gugup dan berkata tanpa menatap lawan bicaranya, "Sakura pasti menganggapku sangat konyol."

"Apa? Tentu saja tidak," sahut Sakura cepat sembari mengibas-ibaskan tangannya. "Menurutku ini adalah langkah yang berani. Tidak semua orang bisa melakukannya," lanjutnya sambil tersenyum penuh arti. Ia mendesah, pandangannya bergulir ke arah lain, menerawang. "Kalau bisa, aku juga ingin melakukan seperti yang kau lakukan pada Naruto sekarang. Maksudku, kau benar-benar berusaha ada di dekat orang yang kausukai, menghabiskan sebanyak mungkin waktu dengannya, seperti katamu tadi. Sedangkan dulu aku hanya bisa berharap dan berharap terus tanpa melakukan apa-apa kecuali menunggu keberuntungan datang padaku."

Hinata tercenung. Walaupun nada bicara Sakura terdengar biasa saja dan tak tampak penyesalan sama sekali, namun entah mengapa itu membuat Hinata merasa buruk. Sampai sekarang ia masih menyimpan rasa bersalah atas apa yang telah dilakukan kakak sepupunya terhadap kawannya itu. Entahlah, mungkin hanya karena ia terlalu sentimentil.

"Tapi itu dulu," cetus Sakura kemudian. Bibirnya kembali dihiasi senyum ceria yang menjadi ciri khasnya, "nanti aku pasti akan berusaha lebih keras, seperti yang kaulakukan. Aku akan berusaha membuat orang yang kusukai balik menyukaiku juga. Entah kapan itu." Ia mengangkat bahu, terkekeh sendiri.

Selama beberapa saat, Hinata tak mengatakan apa pun untuk menanggapinya. Mungkin lebih tepatnya, ia tak tahu harus berkomentar apa. Hanya seulas senyum tipis yang ia sunggingkan demi kesopanan, sementara pikirannya melayang pada teman masa kecilnya, Sasuke, dan perasaannya terhadap gadis berambut merah muda di hadapannya ini.

"A-apakah ..." Hinata menatap Sakura ragu-ragu, sebelum akhirnya melanjutkan, "apakah ada seseorang yang sedang Sakura sukai sekarang?"

Jika Sakura merasa terganggu dengan pertanyaan itu, ia tak menunjukkannya. Alih-alih gadis itu mengeluarkan gumaman panjang. Matanya memicing seakan sedang berpikir keras. "Entahlah," jawabnya lambat-lambat. "Mungkin saja ... tak tahulah."

"Eh?"

Melihat ekspresi bingung di wajah Hinata, tawanya sekali lagi pecah. "Yang pasti sekarang itu bukan prioritasku. Kita sudah memasuki tahun terakhir di sekolah, ada hal yang lebih penting yang ingin kukejar. Lagi pula aku sedang ingin menikmati status single-ku. Melewatkannya bersama tiga cowok istimewa yang kusayangi, juga sahabat-sahabatku yang lain ... untuk saat ini, itu saja sudah cukup."

Sesaat Hinata terdiam, memikirkan kata-kata Sakura. "B-begitu, ya?"

"Hmm," Sakura mengangguk, lalu menghela napas. Ia merasa agak bersalah pada Hinata, namun kata-katanya tidak sepenuhnya bohong. Kendati belakangan ini ia kerap memikirkan cowok itu, tapi sampai sekarang ia masih belum pasti akan perasaannya sendiri. Dan sampai saat itu tiba, ia tak bisa sembarangan membicarakannya pada orang lain. Tapi tentu saja bukan berarti ia tak memercayai Hinata.

"Bagaimana dengan kau sendiri?" tanya Sakura kemudian, cepat-cepat membelokkan pembicaraan. "Apakah kau juga berencana menyatakan perasaanmu secara verbal pada Naruto?"

Pertanyaan Sakura yang tiba-tiba dan tanpa tendeng aling-aling itu kontan saja membuat Hinata terkejut. "Aa—i-itu ..." ia terbata-bata.

Melihat wajah Hinata yang dengan cepat kembali memerah seperti tomat masak, Sakura kembali mengikik. Tampaknya ia benar-benar menikmati melihat perubahan ekspresi Hinata yang sangat cepat. Menggemaskan.

"Maaf, maaf. Kau tak perlu menjawab pertanyaan yang itu," kekehnya. "Ya, ampun ... lihat, sudah jam berapa sekarang?" Sakura terkejut sendiri saat ia melirik ke arah jam dinding bermotif bola di seberang ruangan, menyadari bahwa saat itu sudah lewat tengah malam. "Sebaiknya kita tidur sekarang kalau tak ingin kesiangan. Besok giliranku membuat sarapan."

Sakura meniup-niup kukunya untuk yang terakhir kali, memastikan mereka sudah kering, sebelum melempar bantal di pangkuannya ke kepala tempat tidur dekat dinding dan menyusup ke bawah bed cover. Di sisi lain tempat tidur, Hinata melakukan hal yang sama.

"Kuharap ini cukup nyaman," Sakura berkata, seraya menepuk-nepuk bantalnya agar lebih empuk.

Hinata menarik selimut hingga ke dadanya, berusaha menyamankan diri. Ini adalah pertama kali baginya berbagi tempat tidur dengan orang lain yang bukan keluarganya. Awalnya ia merasa agak canggung, terlebih ranjang yang ia tempati terus-terusan berkeriat-keriut berisik setiap kali mereka bergerak, berbeda dengan ranjang besar nan nyaman di hotel atau rumahnya. Tapi itu semua menjadi tak berarti dibandingkan perasaan hangat karena berbagi dengan teman. Ini menyenangkan.

"Nyaman, kok," sahut Hinata, tersenyum.

"Syukurlah. Tadinya aku sempat khawatir," kata Sakura lega. "Kalau begitu, selamat tidur."

Hinata mematikan lampu meja di samping ranjang. "Selamat tidur," bisiknya.

Namun Hinata tak begitu saja langsung terlelap. Lima belas menit kemudian, gadis itu masih terjaga. Matanya menatap langit-langit kamar yang gelap, sementara ia membiarkan pikirannya berkelana—memikirkan tujuannya datang ke Kiri, memikirkan hari kemarin dan hari ini, waktu-waktu menyenangkan yang dilewatkannya bersama Naruto dan sahabat-sahabatnya, obrolannya dengan Sakura, Naruto yang kini hanya berjarak beberapa meter darinya di lantai atas ...

Hinata menoleh ke sampingnya, memandangi Sakura yang sudah tertidur pulas. Napasnya terdengar dalam dan beraturan. Wajahnya tampak tenang dengan bibir yang sedikit terbuka. Cahaya lampu jalan yang menerobos melalui tirai jendela tipis di atas kepala mereka membias di rambut merah muda miliknya, membuatnya berkilau keperakan. Hinata tersenyum. Tiba-tiba saja sebuah ilham melintas dalam kepalanya.

Berusaha tak mengusik tidur Sakura, Hinata dengan hati-hati menyingkap selimutnya, lalu menyalakan lampu meja. Diraihnya tas yang sebelumnya ia taruh di bawah tempat tidur, merogohnya, dan menarik keluar sebuah buku catatan bersampul kulit dengan sebatang pena yang terselip di salah satu halamannya. Dengan penuh semangat, Hinata membuka-buka halaman demi halaman yang nyaris penuh dengan tulisan tangannya, sampai ia mendapatkan halaman yang diinginkannya.

Sebenarnya ide untuk menulis sebuah cerita tentang persahabatan memang sudah terlintas semenjak pembina klub jurnalnya, Kakashi Hatake, menugasinya menulis artikel tentang hukuman khusus yang pernah dijalani Sakura, Sasuke dan Naruto dulu. Hanya saja awalnya ia tak terlalu serius menggarapnya, hanya membuat draft acak berdasarkan pengamatan diam-diamnya pada ketiga orang itu—juga Sai yang kemudian bergabung dengan trio itu—dan berniat menjadikannya serial fiksi bulanan untuk majalah sekolah setelah serial yang ditulis salah satu seniornya tamat. Tetapi seiring berjalannya waktu, interaksinya yang semakin intens dengan Naruto, wawancara kecilnya dengan Sasuke, juga obrolannya dengan Sai dan Sakura memberinya lebih banyak ide. Dan akhirnya Hinata memutuskan menjadikan catatannya ini sebagai proyek novel pertamanya.

Ia bahkan sudah menentukan judul untuk proyeknya ini, L'amis Pour Toujours, bahasa Perancis dari friends forever—sahabat selamanya. Terdengar sedikit klise, memang, tapi Hinata menyukainya.

Sekali lagi gadis itu melirik temannya yang tertidur, sebelum menunduk dan mulai menulis.

.

.

"Trims sudah mau membantuku, Hinata. Aku benar-benar tertolong," ucap Sakura keesokan paginya, saat mereka—ia dan Hinata—membuat sarapan di dapur lantai dua. Saat itu rumah masih agak sepi. Para cowok belum ada satu pun yang beranjak dari peraduan mereka yang hangat, termasuk Yamato dan Haku. Padahal biasanya mereka bangun lebih pagi dari Sakura. Ah, barangkali karena ada Hinata, gadis itu jadi lebih bersemangat. Lihat saja wajahnya yang cerah itu.

"Sama-sama," sahut Hinata riang, seraya memotong-motong sayuran. "M-mana mungkin aku hanya duduk saja sementara Sakura mengerjakan ini sendirian."

Sakura nyengir senang. "Haa ... memasak dengan teman perempuan memang lebih menyenangkan," cetusnya seraya memecah beberapa butir telur ke dalam mangkuk besar.

"Memangnya, biasanya Sakura memasak dengan siapa?"

Sakura mengambil whisker dari rak. "Kalau sekarang harusnya dengan Sai," sahutnya, "tapi kadang-kadang juga dengan Sasuke."

"Naruto?"

Sakura tertawa kecil sebelum menjelaskan, "karena Naruto lumayan bisa memasak, jadi kami bagi-bagi tugas. Kami tidak bisa menyatukan Sasuke dan Sai menjadi satu tim di dapur. Sasuke masih lebih baik. Dia bisa diandalkan memotong-motong sayuran, tapi dia cuma bisa masak ramen instan dan telur—dan toast juga. Sedangkan Sai," Sakura menghela napas dengan dramatis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, "dia bencana. Antusias, tapi lebih banyak mengganggu dari pada membantu. Sepertinya liburan ini adalah kali pertamanya berurusan dengan dapur."

"Naruto bisa masak?" Hinata tampak tertarik dengan informasi yang baru didengarnya ini.

"Hm." Sakura mengangguk, tersenyum lebar. "Kurasa itu karena dia sudah lama hanya hidup berdua dengan ayahnya. Jadi mau tidak mau, dia juga harus pandai-pandai melakukan kegiatan rumah tangga, termasuk memasak. Kau harus coba omelet dan nasi goreng buatannya. Betul-betul enak."

"B-benarkah?"

Tepat saat itu pintu kamar yang paling dekat dengan dapur terbuka, dan seorang laki-laki muda cantik melangkah keluar dengan rambut panjangnya yang awut-awutan dan hanya mengenakan kaus tanpa lengan dan celana piama. "Sakura?" sapa Haku, sedikit terkejut mendapati keberadaan dua gadis muda di dapur sepagi itu. Terutama Hinata, yang belum pernah ia lihat sebelumnya. "Eh—temanmu, ya?"

"Iya, Kak," kata Sakura buru-buru. "Teman kami dari Konoha. Namanya Hinata. Hinata, Kak Haku, teman kampus Yamato."

Hinata yang terperangah sejak pertama kali melihat laki-laki berparas feminin itu, segera tersadar. Ia buru-buru mengangguk sopan, yang kemudian dibalas senyum hangat oleh Haku.

"Salam kenal, ya?"

Haku menutup pintu kamarnya, lalu menyeret langkah menuju kamar mandi.

"Aku tahu apa yang kaupikirkan, Hinata," kata Sakura geli begitu pintu sosok Haku menghilang di balik pintu kamar mandi.

"Kakak itu ... laki-laki?"

"Yup!" Sakura mengikik melihat tampang Hinata yang terkaget-kaget, melanjutkan kegiatannya mengocok telur. "Cantik, ya? Naruto bahkan mengiranya perempuan saat pertama kali bertemu."

Tak lama kemudian, giliran Yamato yang keluar dari kamarnya. Sembari menunggu giliran menggunakan kamar mandi, ia lantas bergabung dengan kedua gadis di dapur.

"Tumben pagi-pagi begini sudah naik," komentarnya, seraya meraih gelas di atas rak dan menuang air untuk dirinya sendiri.

"Sekarang kan giliranku membuat sarapan. Jadi apa boleh buat," cetus Sakura. Tangannya dengan cekatan mengambil bahan dan bumbu sebelum memasukkannya ke dalam mangkuk telur.

Yamato mendengus kecil. "Biasanya juga tidak sepagi ini," selorohnya, mengangkat gelas ke bibir dan menenggaknya banyak-banyak.

"Biarin!" Sakura menjulurkan lidah ke arahnya.

"Masaknya juga lebih banyak dari biasanya," komentar Yamato lagi, melirik mangkuk yang sedang dikerjakan Sakura.

"Tentu saja. Kami juga membuat untukmu dan Kak Haku," sahut Sakura, melanjutkan mengocok adonan omeletnya setelah ditambahi sayuran yang baru dipotong-potong Hinata. "Kan biasanya kalian yang sering membantu kami membuat sarapan. Anggap saja yang ini sebagai ucapan terimakasih. Mumpung ada bantuan yang lebih ahli juga," lanjutnya, mengerling Hinata yang hanya tersenyum-senyum saja melihat tingkah dua orang itu.

Yamato tertawa. "Aduh, baiknya ..." kekehnya, mengacak-acak rambut merah muda Sakura gemas, lalu berpaling pada Hinata. "Maaf ya, Hinata. Adikku ini memang suka merepotkan orang."

"Eeh!"

"S-sama sekali tidak merepotkan, kok," ujar Hinata cepat-cepat.

"Dengar, tuh!" seru Sakura penuh kemenangan. "Sudah, kau duduk manis saja di sana dan biarkan gadis-gadis cantik ini memasak," selorohnya, seraya mengendikkan dagu ke arah meja makan.

"Siap, Boss!" Yamato melangkah ke meja makan dan duduk dengan patuh. Bibirnya masih menyunggingkan senyum geli ketika diam-diam mengawasi Sakura berkutat di meja pantri bersama temannya. Rasanya seperti melihat Hime dalam versi yang lebih tomboy—yah, walaupun sebenarnya Sakura sama sekali tidak tomboy—Menghembuskan napas tajam, Yamato lantas meraih salah satu majalah kuliner milik Haku yang ditinggalkan di atas meja dan mulai membuka-bukanya sementara menunggu temannya itu keluar dari kamar mandi.

Tepat saat itu, Inari, seorang remaja tanggung berambut gelap yang merupakan putra tunggal pemilik rumah, muncul dari arah tangga. Tangannya menenteng tiga botol susu segar.

"Susu segar datang!" serunya penuh semangat—seperti biasa—seraya meletakkan botol-botol itu di atas meja makan.

"Tiga?" Yamato mengalihkan perhatiannya dari majalah, dan menaikkan sebelah alisnya ketika melihat jumlah botol yang melebihi biasanya.

"Yang satu ini bonus dari ibu," jelasnya, mengetuk-ngetuk tutup salah satu botol dengan jarinya.

"Wah, terimakasih," ucap Sakura riang dari balik pantri. Gadis itu tengah memanaskan pan sementara Hinata mengambil alih mangkuk adonan omeletnya. "Inari mau sarapan? Kami baru mau membuat omelet."

"Terimakasih, Kak, tapi aku sudah makan," tolak Inari.

"Sepagi ini?"

"Aku, ayah dan kakek berencana pergi memancing pagi ini."

"Oh, ya? Kedengarannya asyik." Sakura tersenyum simpul. Sebenarnya Kakek Tazuna pernah sempat mengajak mereka ikut memancing di laut di hari-hari pertama mereka di Kiri. Hanya saja mengingat toleransi Sai yang parah terhadap goyangan kapal membuat mereka menolak tawaran tersebut. Padahal sepertinya seru juga bisa memancing di laut. Apalagi ditambah dengan pengalaman mengolah dan menyantap shasimi tuna segar di tengah laut—seperti yang dikisahkan kembali oleh Yamato saat ia ikut keluarga itu pergi mancing—hmm ... membayangkannya saja sudah mengundang air liur.

"Kalau begitu aku pergi dulu, Kak!" Bocah lelaki itu berbalik dan berlari ke arah tangga. Tetapi langkahnya terhenti begitu sampai di depan pintu kamar yang ditempati Naruto, Sasuke dan Sai. Seringai jahil muncul di wajahnya, dan sedetik kemudian ia menggedor-gedor pintu kayu itu sekuat tenaga sebelum berlari kabur.

"Ya, ampun ..." Sakura dan Hinata terkaget-kaget, sementara Yamato hanya tertawa geli, seakan sama sekali tidak merasa aneh dengan kelakuan Inari yang tak sopan.

"Jangan heran begitu. Inari memang agak jahil kalau dengan orang yang sudah dianggapnya dekat. Aku dan Haku sudah sering menjadi korbannya," kata Yamato.

Rupanya keisengan Inari membuahkan hasil. Pintu kamar itu mengayun terbuka dan kepala berambut hitam acak-acakan menampakkan diri dari celahnya. Dengan mata yang belum sepenuhnya fokus, Sai memandang ke arah dapur, tampak kebingungan.

"Sepertinya tadi aku mendengar ada yang mengetuk pintu," gerutunya dengan suara mengantuk.

"Selamat pagi, Sai!" sapa Yamato.

Sai mengerjap, memfokuskan pandangannya. Ia belum mengenakan lensa kontaknya sehingga dalam pandangannya ia hanya melihat bayangan-bayangan yang tak terlalu jelas. Tanpa menjawab, sosoknya kembali menghilang di dalam kamar, dan keluar tak lama kemudian, dengan kacamata bertengger di atas hidungnya.

"Selamat pagi," sapanya pada semua orang dengan suara mengantuk. Ia menyeret langkahnya menuju dapur, lalu mengambil gelas dari rak dan mengisinya dengan air.

Tak lama kemudian, Sasuke menyusulnya keluar dari kamar. Ia langsung menghenyakkan diri di sofa dan menyalakan televisi.

"Tidur kalian nyenyak?" tanya Yamato basa-basi. "Kelihatannya suntuk sekali."

"Ini gara-gara Naruto," Sai menggerutu, setelah menenggak habis airnya dan bersandar pada meja pantri. "Dia tidak bisa diam—mengoceh terus hampir sepanjang malam."

Yamato mendengus di atas lembaran majalahnya. "Pantas saja. Suara kalian terdengar sampai ke kamarku. Kukira kalian main monopoli atau apa."

Saat itu pintu kamar mandi membuka. Yamato beranjak dari bangkunya dan bergegas masuk ke kamar mandi yang baru ditinggalkan Haku. Sementara laki-laki berambut panjang itu kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian.

"Bukankah hari ini giliranku membuat sarapan?" celetuk Sai kemudian, tersadar setelah mengawasi Sakura dan Hinata berkutat di depan kompor.

"Terima kasih karena sudah ingat, Sai," sahut Sakura. "Bisa tolong ambilkan piring dan gelas dari rak? Hei, Sasuke, kau mau susu atau sari jeruk?"

Semua adonan omelet sudah selesai dimasak ketika akhirnya Naruto muncul dari kamar.

"Selamat pagi!" sapanya cerah pada semua orang. Berbeda dari teman-temannya yang keluar kamar masih dalam keadaan berantakan, Naruto sudah tampak rapi. Ia sudah mengganti piamanya dengan celana jins pendek dan kaus oranye cerah.

Melihat Naruto yang tampak berbeda, Sakura mengikik. "Rapi sekali pagi-pagi begini," komentarnya geli.

"Ah, biasa saja," Naruto nyengir, seraya menggaruk-garuk belakang kepalanya yang tak gatal. "Kan harus mengantar Hinata pagi ini, tak ada salahnya bersiap-siap dulu. Ya, tidak?" Naruto mengedip pada Hinata yang sudah duduk di meja makan, membuat gadis itu mendadak salah tingkah. Tangannya sedikit bergetar ketika mengangkat gelas susu ke bibirnya.

"Tanpa cuci muka dan gosok gigi?" dengus Sasuke dari bangku di ujung meja.

"Biasanya jam segini dia masih pakai bokser," Sai berkata pada Hinata, sebelum Naruto sempat mengatakan apa-apa untuk membela diri. "Harusnya kau tunjukkan bokser yang kau pakai tadi malam itu, Naruto. Yang motifnya hati imut-imut berwarna merah."

Hinata tersedak susunya. Wajahnya sekarang semerah tomat masak.

Naruto menatap Sai dan Sasuke sebal. Kedua sobatnya itu, kendati lekat dengan predikat cowok cool yang tak banyak bicara, tapi tetap saja kalau urusan mengolok-olok dan mempermalukan dirinya, mereka adalah yang paling jago.

"Hahaha! Kalian bisa saja!" Naruto tertawa keras, dengan sengaja menyenggol kepala Sai saat melewati meja makan, membuat kacamatanya miring.

"Naruto! Hati-hati dong!" tegur Sakura, setengah jengkel, setengah geli, seraya mengangsurkan dua piring berisi omelet pada Naruto. "Nih."

"Aku dapat dua?" tanya Naruto bingung.

"Satunya punya Sasuke, yang banyak tomatnya," kata Sakura sambil lalu. Ia mengisi dua piring terakhir untuk Yamato dan Haku, menaruh dua butir tomat ceri di atasnya, kemudian menyisihkannya di meja pantri.

"Silakan, Tuan Besar." Naruto meletakkan piring Sasuke agak terlalu keras, sehingga beberapa buah tomat ceri yang ada di atasnya melompat dan menggelinding jatuh ke bawah meja.

Sekarang giliran Sasuke yang melotot.

.

.

Matahari sudah semakin tinggi ketika keempat sahabat itu dan Hinata keluar dari rumah. Naruto menuntun sebuah sepeda tua yang ia pinjam dari Tsunami untuk mengantar Hinata pulang ke hotelnya.

"Kau tahu tempatnya, kan?" tanya Sakura memastikan.

"Tahu dong. Hotel yang kita lewati waktu bersama Inari itu, kan?" sahut Naruto, seraya mengambil tas besar dari tangan Hinata dan menyimpannya dengan aman di keranjang sepeda. "Kalau tersasar, kan ada Hinata yang menunjukkan jalannya padaku. Iya, tidak?"

"Eh—Iya." Hinata mengangguk, menyelipkan anak rambut ke belakang telinganya.

"Baiklah." Naruto menaiki sepeda dan membunyikan belnya. "Ayo naik," katanya pada Hinata.

Adik sepupu Neji itu dengan canggung naik ke boncengan di belakang Naruto, lalu meluruskan roknya.

"Hati-hati," kata Sakura, menahan senyum melihat Hinata yang tampak gugup.

"Kami pergi dulu!" seru Naruto, sebelum mengayuh pedal.

Sakura melambaikan tangan, mengawasi dengan senyum lebar di wajahnya ketika sepeda tua itu melaju perlahan meninggalkan pekarangan rumah, melewati jembatan yang melintasi kanal, sampai akhirnya menghilang di ujung jalan.

"Kelihatannya kau senang sekali," celetuk Sai kemudian.

Sakura menurunkan tangannya dan menoleh pada temannya itu. Senyum puas masih terpasang di wajahnya. "Kenapa? Memangnya tidak boleh?"

"Kau ini seperti tidak tahu saja. Ekspresi mak comblang yang rencananya berjalan mulus ya seperti ini," timpal Sasuke, menyeringai.

"Siapa yang mak comblang?" Sakura tertawa. "Aku hanya mencoba membantu."

"Kalau begitu kenapa kau tidak membantu Sasuke juga, eh?" kata Sai dengan senyum tanpa dosa.

Suasana mendadak canggung. Sasuke memalingkan muka memandang ke arah lain, pura-pura tidak mendengar, sementara tawa Sakura berubah menjadi kekehan salah tingkah.

"Sasuke sih tidak perlu dibantu," selorohnya, lalu cepat-cepat mengalihkan topik, "dari pada itu, sekarang masih ada yang harus kita lakukan."

"Belanja?"

"Betul!" sahut Sakura riang. "Karena persediaan makanan kita sudah hampir habis, jadi demi kelangsungan hidup ..." gadis itu melompat di antara Sasuke dan Sai, mengamit lengan kedua sahabatnya itu, "ayo kita pergi!"

Sementara itu di tempat lain, Naruto mengayuh sepedanya lebih pelan dari kecepatan yang biasa ia gunakan. Padahal jalanan yang mereka lewati pagi itu belum terlalu ramai. Tapi, Naruto membatin sambil tersenyum pada dirinya sendiri, tidak ada salahnya menikmati perjalanan, bukan? Toh, waktunya masih tiga jam lagi sebelum Neji berangkat. Mereka tidak terburu-buru.

"Hei, Hinata," Naruto memecah keheningan, "sepertinya kau sudah sering kemari, ya? Ke Kiri, maksudku."

"L-lumayan," ia bisa mendengar suara Hinata menjawab.

"Ah, kau pasti lebih tahu jalan-jalan di tempat ini dibandingkan aku."

"Tidak juga," sahut Hinata gugup. "A-aku belum pernah melewati jalan di sekitar sini." Sepeda sedikit berguncang ketika melewati jalanan yang tak rata, dan tangannya refleks mencengkeram bagian pinggang kaus Naruto untuk berpegangan. Namun ia buru-buru melepaskannya lagi. "M-maaf."

Naruto menoleh ke belakang sekilas, nyengir. "Tidak apa. Pegangan pinggangku saja supaya lebih aman."

"Eh—i-iya." Ragu-ragu, Hinata kembali meletakkan tangannya di pinggang Naruto.

Gadis itu bisa merasakan wajahnya menghangat menyadari betapa dekatnya ia dengan cowok yang selama ini hanya bisa ia kagumi diam-diam itu. Punggungnya terasa hangat, bahkan ketika ia tak menyentuhnya. Bahunya terlihat lebar dan tegap dari dekat, hasil dari olahraga yang selama ini menjadi hobinya. Kulit lehernya yang kecokelatan alami, rambut pirangnya yang tampak lembut, membuat Hinata ingin sekali menyentuhnya.

"Hei, Hinata," panggil Naruto lagi. "Kau tidak keberatan kan kita mampir sebentar ke suatu tempat? Aku janji tidak akan lama."

Tanpa menunggu jawaban dari Hinata, Naruto membelokkan sepedanya keluar dari jalan utama, memasuki jalan yang lebih sempit dan padat.

"Kita mau kemana, Naruto?" Hinata bertanya pelan, seraya memandang penasaran deretan kios-kios kecil yang mereka lewati. Bar kecil, barber shop, toko kelontong, toko barang antik—lebih tepat jika disebut toko barang rongsokan—deli. Tanaman merambat dibiarkan tumbuh menjalari dinding-dinding batu dan tiang kanopi di sana-sini. Hinata takjub. Ia jelas tak pernah tahu ada tempat seperti itu di Kiri.

"Kita ke ..." Naruto menghentikan sepeda di depan sebuah kedai roti di samping toko jam, "... sini."

"Toko roti?" Hinata turun dari sepeda, memandangi bangunan yang berukuran tak terlalu besar di depan mereka. Seperti sebagian besar bangunan lain di Kiri, toko itu berdinding batu. Papan kayu berpelitur dipasang di bagian atas pintu kaca, bertuliskan 'Momochi Bakery'. Dan dari kaca etalase di bagian depan toko, ia bisa melihat aneka jenis roti dan kue yang menggugah selera dipajang di deretan rak yang diterangi lampu.

"Yep." Naruto turun dari sepedanya, memarkirkannya di dekat jendela etalase. "Tempatnya memang kecil, tapi Kak Haku bilang, mereka menjual roti dan pastri paling enak di seantero Kiri. Katanya karena mereka mengolahnya dengan cara tradisional—ah, tapi aku tidak mengerti hal-hal seperti itu. Yang jelas, rasanya memang enak."

Hinata mengangguk, tapi tak mengatakan apa-apa. Yang ada di pikirannya, barangkali Naruto mau membeli roti atau apa—karena di rumah tadi ia sempat mendengar Sakura mengeluh persediaan roti mereka untuk sarapan sudah habis. Dan gadis itu terlalu asyik memerhatikan sekelilingnya sehingga tak menyadari Naruto menunggunya mengatakan sesuatu. Sampai akhirnya Naruto memecah keheningan dengan bertanya,

"Kau mau masuk?"

"A-aku di sini saja," sahut Hinata cepat, "m-maksudku, biar ada yang menjaga sepedanya."

"Baiklah," kata Naruto, berusaha tak terlalu memperlihatkan kekecewaannya. Padahal kalau bisa ia ingin memperlihatkan tempat itu pada Hinata, mengingat kegemaran gadis itu pada kue-kue. Tetapi sepertinya yang dikatakan Hinata juga benar, harus ada yang menjaga sepedanya. Ia sering mendengar tempat itu agak rawan. "Tunggu sebentar, aku tak akan lama."

Hinata mengawasi Naruto masuk ke toko. Aroma khas roti yang baru dipanggang menyergap indera penciumannya ketika pintu mengayun tertutup di belakang cowok itu. Hinata menghela napas sambil memandang berkeliling sekali lagi. Melewati jendela etalase, di antara rak-rak yang memajak roti dan kue, gadis itu bisa melihat Naruto sedang berbicara pada pria jangkung bertampang sangar yang mengenakan celemek putih—dari penampilannya, sepertinya ia bekerja di tempat itu.

Pria itu lalu pergi ke bagian belakang toko setelah selesai berbicara dengan Naruto, sementara pelanggannya itu melanjutkan melihat-lihat deretan rak yang memajang roti di seberang ruangan, sebelum berbalik melihat-lihat rak di dekat jendela etalase. Naruto tersenyum ketika mendapati Hinata tengah memerhatikannya, kontan membuat gadis itu memerah dan salah tingkah.

"Kau mau ini?" bibir Naruto bergerak tanpa suara, seraya menunjuk ke keranjang muffin cokelat.

Hinata menggeleng, sambil mengangkat kedua tangannya. "Tidak usah."

Nyengir, Naruto menunjuk kue yang lain—yang lagi-lagi mendapat gelengan kepala dari gadis di balik jendela. Seakan tidak menyerah, Naruto dengan penuh semangat menunjuk satu demi satu keranjang kue. Hinata tertawa menyadari cowok pemilik bola mata sebiru langit itu bermaksud bergurau dengannya.

Sampai pria sebelumnya kembali, membawa sebuah bungkusan kertas cokelat. Naruto lantas berbalik menuju meja kasir untuk membayar belanjaannya. Dan sebelum keluar, ia mencomot beberapa kue kering dari piring di dekat kasir—yang sepertinya memang sengaja disediakan untuk icip-icip.

"Sori lama," Naruto berkata ketika ia sudah bergabung dengan Hinata di luar toko, "yang kucari tadi belum matang, jadi harus menunggu sebentar," katanya, mengangkat bungkusan di tangannya sebelum memasukkannya dengan hati-hati ke keranjang bersama tas Hinata. "Fiuh ... masih panas. Kau mau ini?" Naruto lalu mengulurkan kue almond madu garing yang dicomotnya tadi ke tangan Hinata. "Lumayan, gratis," beritahunya, nyengir.

"Um ... trims."

Sembari mengemil kue kering gratis, mereka melanjutkan perjalanan. Naruto mengambil jalur berputar, melewati jalan-jalan kecil yang tak diketahui Hinata. Awalnya gadis itu sempat cemas mereka akan tersasar, terlebih ketika Naruto beberapa kali berhenti dan tampak bingung sendiri. Tetapi akhirnya ia bisa bernapas lega ketika kurang lebih tiga puluh menit kemudian mereka keluar ke jalan utama menuju alun-alun kota.

"Fiuh. Akhirnya," Hinata bisa mendengar Naruto berseru penuh kelegaan. "Sori, tadi aku lupa jalan. Heheh. Kurasa sebaiknya kita ngebut."

Hinata memekik kecil ketika Naruto mendadak berdiri, menggunakan seluruh beban tubuhnya untuk menggenjot pedal lebih keras, membuat sepeda itu sedikit tersentak sebelum meluncur lebih cepat melintasi alun-alun kota yang—untungnya—masih sepi.

"Whoohooo!" Naruto berteriak gembira. Ia melepaskan pedalnya ketika mereka meluncur menembus sekawanan burung dara.

"Kyaa!" Hinata menjerit ketika burung-burung itu menghambur beterbangan di sekeliling mereka, dan refleks mencengkeram pinggang Naruto lebih erat, melindungi wajahnya di punggung cowok itu.

"Hahaha ... maaf, maaf!" seru Naruto sambil tertawa.

Hinata menoleh ke belakang. Jantungnya baru berdebar keras ketika mengawasi kawanan burung dara di belakang mereka kembali mendarat di jalanan. Takjub dengan apa yang baru saja dialaminya, Hinata mendapati dirinya ikut tertawa bersama Naruto. Benar-benar tertawa lepas.

Sayangnya, keasyikan itu harus berakhir ketika akhirnya mereka sampai di depan hotel tempat Hinata dan keluarganya menginap. Dengan agak enggan, gadis berambut panjang itu melompat turun.

"T-terima kasih sudah mengantarku, Naruto," ucapnya.

"Tidak masalah!" Naruto mengambil tas Hinata dari keranjang, mengembalikannya pada sang pemilik. Berikut bungkusan kertas cokelat yang tadi dibelinya dari Momochi Bakery.

"Eh?" Hinata hanya menatap bungkusan itu, bingung.

"Untukmu." Naruto menjejalkan bungkusan itu ke tangan Hinata. "Kupikir kau akan menyukainya untuk camilan," jelasnya, sambil memamerkan cengiran lebar yang menjadi ciri khasnya.

"Um ... terima kasih."

"Tak usah sungkan," Naruto mengibaskan tangannya. "Nah. Sebaiknya aku pulang. Mereka pasti akan bawel kalau aku terlalu lama. Maklumlah, mereka tak bisa jauh-jauh dariku, terutama Si Sasuke."

Hinata hanya tersenyum geli, memerhatikan Naruto memutar sepedanya.

"Sampaikan salamku untuk Neji, ya. Dan kalau ada waktu, mainlah ke tempat kami."

"Iya." Hinata mengangguk.

"Nanti aku akan menghubungimu lagi. Oke?" Naruto mengedipkan mata.

Sekali lagi gadis itu mengangguk, kali ini dengan wajah bersemu merah—entah untuk yang keberapa kalinya semenjak bertemu dengan Naruto. Rasanya sulit untuk terbiasa dengan kehadirannya—Hinata masih berdiri di sana, mengamati punggung Naruto yang meluncur semakin jauh. Ketika akhirnya sosoknya menghilang di ujung jalan, Hinata menghela napas dengan perasaan bahagia.

Tidak sia-sia ia membujuk ayahnya agar mengizinkannya liburan ke Kiri. Rasanya sudah tak sabar gadis itu ingin membicarakan apa yang baru dialaminya dengan Shiho.

Lalu gadis itu teringat bungkusan yang diberikan Naruto untuknya. Dengan penasaraan ia menimang-nimang bungkusan itu di tangannya. Sedikit berat dan masih terasa hangat. Hinata jadi bertanya-tanya dalam hati apa kira-kira yang ada di dalamnya? Apa yang membuat Naruto sampai menyempatkan diri menunggu? Padahal ada begitu banyak jenis kue di sana yang bisa cowok itu berikan padanya.

Hinata lantas membuka lipatan di bagian atas bungkusannya untuk memastikan sendiri. Aroma sedap kayu manis langsung menyergap indera penciumannya begitu bungkusan itu terbuka.

Cinnamon roll.

Hinata tak mampu berkata-kata. Kudapan favoritnya menjadi pelengkap kebahagiaannya pagi itu.

.

.

Ino Yamanaka menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Mata biru aqua miliknya menyusuri deretan pepohonan besar di sepanjang jalan di Konoha Central Park yang dilaluinya. Cahaya matahari yang terik menerobos celah hijau dedaunan di atasnya, membuat pola-pola abstak di jalan berbatu. Suara kerikan serangga terdengar riuh meningkahi suara para pengunjung taman. Dan sesekali, ia melihat kumbang badak menempel di batang pohon yang dilaluinya.

Seulas senyum tipis melengkung di bibir Ino. Ia masih sulit memercayai dirinya akan kembali lagi ke tempat itu dengan suasana hati yang benar-benar berbeda. Ino ingat saat itu dirinya masih memikirkan Sai, dan bagaimana dirinya dihantui kenangan tidak menyenangkan bersama dua mantan kekasihnya ketika menginjakkan kaki di tempat itu. Namun saat ia memikirkannya lagi sekarang, rasanya saat itu sudah lama sekali berlalu. Sebuah kenangan yang tersimpan di sudut memorinya yang paling dalam dan tak ingin ia ungkit-ungkit lagi. Kali ini Ino membiarkan pikirannya berkelana pada seseorang yang berbeda.

Meski begitu, ia belum sepenuhnya mengerti, mengapa seorang maniak serangga, cowok aneh, dan ketua klub jurnal yang kuper bernama Shino Aburame sampai membuatnya gelisah sedemikian rupa. Yang ia tahu, dan ia yakini seratus persen, bahwa cowok itu memang menyukainya. Kalau tidak, untuk apa Shino datang lagi ke cafe tempatnya manggung tadi malam? Dua kali dalam dua malam berturut-turut, duduk di tempat yang sama di dekat panggung, dan hampir tak pernah melepaskan tatapan darinya sepanjang malam.

Hanya dengan memikirkannya saja membuat jantungnya berdebar-debar, dan hatinya dipenuhi antisipasi.

"Haah ... sepertinya aku sudah kehilangan akal sehatku," Ino menghela napas, menggelengkan kepala tidak habis pikir ketika menyadari dirinya tersenyum-senyum sendiri sejak tadi hanya karena memikirkan Shino Aburame. "Ya ampun, sudah jam berapa ini?" Ino mengerling arloji di pergelangan tangan kirinya dan panik ketika menyadari dirinya sudah terlambat dari waktu yang ia janjikan dengan Shino.

Tanpa membuang waktu, gadis itu bergegas berlari menuju area rumah kaca, seraya menahan topi anyaman di kepalanya agar tidak terbang.

Shino sudah ada di sana ketika Ino akhirnya tiba tak lama kemudian, duduk di bangku taman yang sama yang mereka duduki beberapa hari lalu. Kepalanya tertunduk, sementara ia sibuk menekuri sebuah buku berukuran kecil di tangannya. Sebuah scraft berwarna biru gelap diikatkan di kepalanya seperti ikat kepala, menahan rambutnya yang lebat—yang bagi Ino, membuatnya terlihat lebih keren.

Shino sama sekali tidak mengangkat kepalanya, pun ketika Ino sudah berdiri di sisi bangku yang ia duduki.

"Kau terlambat tujuh menit dua belas detik," gumam Shino tanpa mendongak.

"Maaf," sahut Ino terengah, lalu menghenyakkan diri di tempat kosong di samping Shino. "Kau sudah lama?"

"Kurasa itu tidak terlalu penting," gumam Shino sambil membalik halaman bukunya, "tapi aku selalu membiasakan diri datang lebih awal dari waktu perjanjian."

Jawaban yang sangat khas Shino, Ino membatin. Namun alih-alih kesal dengan jawaban yang terkesan menyindirnya itu, Ino malah tak bisa menahan cengirannya.

Menyadari dirinya tengah diperhatikan, Shino akhirnya menoleh pada gadis di sebelahnya. Dahinya berkerut. "Ada yang salah?"

"Tidak," sahut Ino cepat. "Sori," tambahnya, menahan diri untuk tidak berkomentar lebih jauh.

Shino kembali menunduk, kembali memusatkan perhatiannya pada buku yang tengah dibacanya. Cowok itu sama sekali tidak berkomentar tentang penampilan Ino. Bahkan memerhatikannya pun sepertinya tidak. Padahal Ino sudah sengaja berdandan untuk hari ini—mengenakan summer dress yang baru dibelinya dari butik, topi anyaman berpita yang cantik, flat shoes dan sebagainya. Namun Ino tak lantas membiarkan hal kecil itu membuatnya kecewa. Shino Aburame memang berbeda dari cowok kebanyakan, ia mengingatkan dirinya sendiri.

"Sedang membaca apa, sih?" tanya Ino kemudian, setelah beberapa saat mereka hanya duduk dalam keheningan.

Shino mengangkat bukunya, memperlihatkan sampulnya pada Ino. Buku Saku: Dasar-Dasar Jurnalistik, judul yang tertera di sampulnya.

"Ah," kata Ino, "kelihatannya um ... menarik."

Shino menutup bukunya, menatap gadis di sebelahnya dari balik kacamatanya tanpa mengatakan apa-apa selama beberapa saat, sebelum kemudian ia berdiri dan menjejalkan bukunya ke dalam saku celana.

"Ayo jalan-jalan."

"Eh?" Ino mengerjap. Namun belum sempat gadis itu mengatasi keterkejutannya, Shino sudah beranjak pergi. "Eh—tunggu aku!" Ia melompat bangun dan buru-buru menyusulnya. "Kita mau kemana?" tanyanya, berjalan merendengi Shino.

"Ke suatu tempat," Shino menyahut singkat.

Ino menunggunya melanjutkan, tetapi tampaknya cowok itu tidak berniat menjelaskan lebih lanjut. Kebingungan, gadis itu lantas mengira-ngira kemana kira-kira Shino akan membawanya? Mungkin ke tempat yang banyak serangganya. Dan Ino pun sempat berasumsi demikian, terlebih ketika ia menyadari mereka mengarah ke area taman yang terkenal karena banyak kupu-kupunya.

Tetapi saat itu adalah musim panas. Bunga-bunga tidak banyak yang mekar seperti di musim semi dan kupu-kupu pun tak banyak terlihat. Ino memandang ke sana kemari, mencari-cari sesuatu—tepatnya serangga—untuk dikagumi. Tetapi ia tak menemukan apa pun kecuali kumbang badak yang menempel pada batang pohon—dan serangga itu tak cukup cantik untuk membuatnya tertarik. Sampai sesuatu yang amat kecil akhirnya menarik perhatiannya.

Ino berhenti ketika mereka melewati deretan rumpun semak hydrangea berwarna pink. Ia membungkuk, mengawasi seekor kumbang kecil merah dengan bercak hitam yang hinggap di salah satu rumpun bunga.

"Wah, lihat kepik ini! Cantiknya ..." seru Ino dengan antusiasme yang kentara sekali dibuat-buat.

"Coccinella magnifica," gumam Shino.

Ino menoleh, mendongak menatap cowok yang kini ikut berhenti dan melihat dari atas bahunya. Kedua alisnya terangkat.

"Ladybug," Shino menjelaskan, "serangga yang sangat berguna. Mereka memakan serangga-serangga parasit yang merusak tanaman."

"Oh." Gadis itu mengangguk-angguk mengerti, terkesan dengan pengetahuan Shino tentang serangga. "Kau tahu banyak, ya."

Shino tak berkomentar atas pujian itu. "Jangan memaksakan diri menyukai sesuatu yang sebenarnya tidak kau sukai," ujarnya datar, "itu sama saja dengan membohongi diri sendiri."

Ino sejenak terdiam. Matanya mengawasi serangga kecil itu merayap di permukaan bunga, sebelum kemudian terbang pergi. "Aku hanya—"

"Aku tidak akan memaksamu menyukai hal yang aku sukai," Shino menyelanya.

"Tapi aku suka kupu-kupu," Ino bergumam pelan. "Mereka cantik."

Di belakangnya, sudut-sudut bibir Shino berkedut membentuk senyum tipis. Namun lagi-lagi ia tidak berkomentar. "Sebaiknya kita pergi sekarang. Kalau tidak kita bisa terlambat."

"Eh—" Ino melompat berdiri, "memangnya kita mau kemana?"

"Sinema."

"Apa?" Ino mengerjap, menatap cowok di hadapannya itu seolah tak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Sinema," Shino mengulangi, agak tak sabar. "Bukankah kau suka menonton film? Kau pernah menyebutkannya saat wawancara dengan jurnal."

Sesaat, Ino hanya bisa tercengang memandang Shino. Ia jelas terkejut, sekaligus terkesan pada daya ingat cowok itu pada hal-hal kecil seperti ... hobinya. "Kau bermaksud mengajakku nonton film di sinema?" tanyanya ragu-ragu.

"Apa itu salah?" Shino malah balik bertanya.

"Sama sekali tidak!" sahut Ino, dengan cepat menguasai diri. Bibirnya menyunggingkan senyum lebar. Meski agak terkejut karena ajakan menonton film yang tak terduga, gadis itu senang dengan inisiatif Shino. Ternyata cowok itu juga bisa melakukan hal-hal normal seperti menonton film. Wow.

"Tadi kau bilang jangan memaksakan diri menyukai hal yang tidak kau sukai," celetuk Ino ketika mereka melanjutkan perjalanan ke arah Konoha City Square—gedung sinema ada di kawasan itu—Tampaknya gadis itu tak tahan tidak menggodanya.

"Aku tak pernah bilang aku tidak suka menonton film," sahut Shino datar.

"Oh, ya? Jadi kau juga suka nonton film?" Ino mengangkat alisnya. "Kau tidak pernah bilang, waktu kau menceritakan tentang dirimu padaku. Kau hanya bicara tentang serangga."

"Apa waktu itu kau mengharapkanku menceritakan segalanya tentang diriku? Kuperhatikan saat itu kau justru sangat bosan," Shino menanggapi dingin, membuat cengiran di bibir Ino sedikit memudar.

"Kenapa yang seperti itu masih diingat-ingat?" gadis itu bergumam pelan. "Bukankah aku sudah memintamu untuk memberiku kesempatan, Shino?" Karena situasinya sudah berubah sekarang.

Shino menghentikan langkahnya dan menghadap Ino, menatap gadis itu dari balik kacamata berlensa gelap miliknya. "Aku sedang mencoba melakukannya," ujarnya setelah jeda beberapa saat. Nada bicaranya kali ini entah mengapa terdengar agak lemah. "Bukan hanya untukmu, tapi juga untuk diriku sendiri. Jadi kali ini biarkan aku mencoba melakukan hal yang benar."

Ino tidak langsung menjawab—tepatnya, gadis itu tidak tahu bagaimana harus menanggapi penuturan Shino, sementara dirinya sendiri tak terlalu yakin apa maksud di balik kalimat itu. Namun sepertinya Shino memang tidak mengharapkan balasan dari gadis itu, karena saat berikutnya ia mengulurkan dua lembar tiket yang baru ia dikeluarkan dari saku belakang celananya pada Ino.

"Kau sudah membeli tiketnya?" Ino terperangah, mengambil tiket itu dari tangan Shino.

"Untuk menghemat waktu," gumam Shino, mengangkat bahu.

"Kalau begitu kau sudah merencanakan ini sebelumnya?"

Alih-alih menjawab pertanyaan itu, Shino malah berkata, "pertunjukkannya satu jam lagi. Lebih baik kita pergi sekarang kalau tidak mau terlambat." Shino lalu berbalik dan kembali melanjutkan perjalanan—yang kemudian baru Ino sadari, menuju ke kawasan Konoha City Square.

Selama beberapa saat Ino masih terpaku di tempatnya, memandang terpesona pada lembaran tiket yang berada di tangannya, seakan ia baru pertama kali melihatnya. Spiderman, Ino membaca judulnya. Couple seat.

Senyumnya mengembang. Shino memang sudah merencanakan ini, pikirnya dengan jantung berdebar-debar.

"Eh—Shino, tunggu aku!" Ino bergegas berlari menyusul Shino saat menyadari cowok itu sudah jauh meninggalkannya.

Sepertinya, malam ini akan ada banyak hal yang akan Ino ceritakan pada Sakura. Rasanya ia sudah tak sabar ingin segera menelepon sahabatnya itu. Tapi lebih dari itu, sekarang ia hanya ingin menikmati kencan-nya dengan Shino Aburame.

Ah, tunggu dulu.

Spiderman—manusia laba-laba. Laba-laba. Serangga.

Hihi. Sepertinya Shino memang tak bisa lepas dari serangga.

.

.

Untuk kesekian kalinya Sasuke Uchiha mengubah posisi tidurnya. Kali ini ia mencoba membalik tubuhnya menelentang. Matanya terpejam rapat.

Satu menit berlalu.

Lima menit.

Sepuluh.

Percuma saja. Menghela napas, Sasuke membuka kedua matanya, menatap langit-langit kamar yang gelap dengan perasaan kesal. Tak peduli bagaimana ia mencoba kembali tidur, rasa kantuk tak kunjung datang.

Ini semua gara-gara Naruto yang tak pernah bisa diam saat tidur. Kali ini si pirang itu membuat ulah dengan menggelinding jatuh dari tempat tidur, dan mendarat persis di atas Sasuke yang tidur di kasur tambahan di samping tempat tidur, membuatnya mendadak terbangun dan nyaris kehabisan napas.

Kabar baiknya, sekarang Sasuke mendapatkan tempat tidur untuk dirinya sendiri, sementara di bawah, Sai sengsara dijadikan guling oleh Naruto. Tapi semua itu percuma saja jika sekarang ia sama sekali tak bisa kembali tertidur. Padahal langit di luar masih gelap.

Seandainya saja mereka tidak kelelahan sehingga tidur lebih awal, mungkin saja ia masih bisa mengantuk sekarang. Dan suara dengkuran Naruto dan detak jam dinding yang entah mengapa selalu terdengar lebih jelas di malam hari sama sekali tidak membantu.

Akhirnya kehabisan kesabaran, Sasuke menarik dirinya bangun, mengacak-acak rambut gelapnya yang sudah mencuat kemana-mana.

"Sial!" geramnya jengkel.

Tangannya lalu mencari-cari ke atas meja di samping tempat tidur, meraih ponsel—entah milik siapa—dan mengecek waktu. Masih ada beberapa jam lagi sebelum matahari terbit.

Merasa percuma saja ia mencoba tidur sekarang, Sasuke beranjak dari tempat tidur, melangkahi kedua sahabatnya, lalu menyeret langkah menuju pintu. Ruang tengah lantai atas masih dalam keadaan gelap ketika ia melangkah keluar. Tentu saja. Yamato dan Haku pasti masih tidur.

Sasuke lantas menyalakan lampu dan menghempaskan tubuhnya di sofa. Tangannya meraih remote televisi. Selama beberapa saat ia menghabiskan waktu dengan mengganti-ganti saluran. Siaran ulang opera sabun, pertunjukan orkestra, pertandingan catur, berita penyelamatan paus yang terdampar—tidak ada yang menarik. Dan setelah lewat tiga puluh menit memelototi perkelahian kudanil di Animal Planet, akhirnya Sasuke merasa bosan dan mematikan televisi.

Sasuke menghela napas berat, seraya melempar remote asal saja ke atas meja kopi. Benda itu meluncur di atas permukaan meja, lalu berhenti setelah menabrak kotak kardus berukuran sedang yang juga tergeletak di sana. Awalnya Sasuke sama sekali tidak memerhatikannya. Namun kini perhatiannya sepenuhnya tertuju pada kotak tersebut.

Sudut-sudut bibir Sasuke terangkat. Kotak itu membuatnya teringat kembali kejadian seru di hari sebelumnya. Itu, barangkali adalah salah satu hari paling menyenangkan yang pernah mereka lewati sepanjang liburan di Kiri. Terima kasih pada Itachi—terlepas dari kekesalannya pada kakak laki-lakinya itu karena datang tanpa pemberitahuan sama sekali.

Semua diawali ketika Itachi meneleponnya tak lama setelah Naruto kembali dari mengantar Hinata. Itachi menawari mereka untuk mengunjungi Galeri Akatsuki dengan iming-iming traktir makan—Sasuke tentu saja langsung tahu bahwa itu hanya strategi kakak laki-lakinya untuk membujuknya.

Awalnya Sasuke enggan menerima ajakan itu. Alasannya, selain karena ia masih kesal, karena mereka juga pasti akan bertemu Deidara di sana, makhluk menyebalkan yang paling tak ingin ia temui. Tapi karena Sakura—Sasuke tak mengerti mengapa gadis itu tak kapok-kapok juga berurusan dengan playboy kelas teri macam itu—tertarik dengan kursus kilat membuat kerajinan tanah liat untuk turis yang ditawarkan di sana, ditambah Naruto yang tak akan menolak ajakan makan gratis, ia terpaksa mengiyakan.

Itachi sudah ada di sana bersama Hana dan Kiba ketika mereka tiba di Galeri Akatsuki, tengah mengobrol dengan Sasori, sementara Deidara sibuk mengajari tiga orang turis wanita membuat pot tanah liat dengan meja putar di studionya. Dan tak lama kemudian, Pein dan Konan yang baru saja datang dari Ame, menyusul bersama Kisame yang bertugas menjemput mereka dari bandara.

Pein dan Konan adalah teman Itachi yang lain. Mereka adalah dua dari segelintir teman-teman sang kakak yang bisa Sasuke toleransi. Malahan, ia lumayan menyukai keduanya.

Pein itu seperti Naruto dalam versi yang lebih dewasa, idealis, penuh semangat, tapi terkadang emosional. Ia tampan, dengan rambut oranye pendek dan mata cokelat tajam. Kulitnya sedikit pucat, barangkali karena pengaruh alam—Ame memang terkenal dengan curah hujannya yang tinggi dan jarang mendapatkan sinar matahari—Sasuke pernah mendengar bahwa nama Pein hanya julukan saja. Entah siapa nama aslinya. Dan bisa dibilang, Pein adalah orang yang dianggap sebagai ketua di kelompok mereka. Teman-temannya menghormatinya, termasuk Itachi.

Sedangkan Konan, ia adalah wanita paling memesona yang pernah Sasuke kenal selain ibunya. Wajahnya cantik, dengan rambut biru berpotongan pendek dan mata sewarna batu amber. Tubuhnya tinggi langsing seperti seorang model. Pembawaannya kalem dan tak banyak bicara, tapi ia wanita yang manis. Dulu saat mereka masih sama-sama di Oto, Konan senang bermain dengan Sasuke kecil dan selalu membuatkannya origami setiap kali mereka bertemu.

Dan saat mereka bertemu lagi kemarin setelah bertahun-tahun, Konan tampak senang bertemu Sasuke lagi—"Ini si kecil Sasuke? Wah, sudah besar, ya? Tampan lagi. Lebih tampan darimu, Itachi."—dan memberinya origami bunga mawar.

Konan adalah cinta pertama Itachi. Dulu Itachi begitu menyukainya sampai-sampai memicu perseteruan dengan Pein. Mereka bahkan sempat berkelahi karena memperebutkan Konan, tapi sekarang malah berteman baik. Yah, sebelas dua belas dengan Sasuke dan Naruto.

Setelah beberapa saat saling melepas rindu—dan Itachi dengan bangga memamerkan Hana pada kedua temannya yang baru datang—mereka memutuskan melanjutkan obrolan di tempat yang lebih privat di lantai atas galeri, sementara membiarkan para remaja bersenang-senang di studio Deidara.

Dan keseruan pun dimulai.

Belajar dari pertemuan mereka dengan Deidara sebelumnya, Sasuke, Naruto dan Sai tampak lebih protektif terhadap Sakura. Ketiga cowok itu menempatkan diri duduk mengelilingi satu-satunya teman wanita mereka, sama sekali tak memberikan kesempatan Deidara untuk mendekati gadis itu dan mencari-cari alasan untuk menyentuh tangannya seperti yang dilakukannya pada tiga turis yang baru saja meninggalkan studio. Tampaknya itu berhasil membuat Deidara kesal. Dan apa pun yang membuat Deidara kesal, membuat Sasuke senang.

Menyerah, akhirnya Deidara meninggalkan studionya dan membiarkan kelima remaja itu berbuat semaunya ("Kalau kalian sudah selesai, panggil aku, supaya aku bisa menghancurkannya!").

Maka itulah yang mereka lakukan kemudian—berbuat semaunya.

Awalnya mereka sungguh-sungguh mencoba membuat sesuatu dari tanah liat. Sakura bahkan mengambil salah satu karya Deidara, sebuah miniatur burung dari tanah liat, yang dipajang di rak, untuk dijadikan contoh. Namun pada akhirnya gadis itu hanya bisa membuat tiruan burung yang jeleknya minta ampun.

Yang lain tak lebih baik. Sai membuat miniatur Jack Frost—orang-orangan salju—yang anak TK sekali pun bisa membuatnya. Naruto membuat mi dari tanah liat—sepertinya ia berniat membuat miniatur ramen atau semacamnya. Dan Kiba membuat sesuatu yang tidak sopan—yang membuat Sakura menjerit memarahinya dengan wajah merah padam—Sedangkan Sasuke, ia tak terlalu berminat dengan tanah liat. Yang dikerjakannya hanyalah mengawasi teman-temannya bekerja, terutama Sakura, yang wajahnya berkerut lucu saat berkonsentrasi dengan tanah liatnya.

Merasa dirinya sedang diperhatikan, Sakura menoleh dan langsung bertemu pandang dengan kedua bola mata gelap milik Sasuke. Cowok itu cepat-cepat berpaling, pura-pura berkonsentrasi dengan tanah liatnya. Sakura mengatupkan bibirnya, menahan kikik.

"Apa yang kaubuat, Sasuke?" gadis itu bertanya, seraya memandang tertarik pada tanah liat Sasuke yang sama sekali belum berbentuk.

"Hm ..." Sasuke berlagak berpikir, sembari memilin tanah liatnya asal-asalan. "Gumpalan?"

Sakura mendengus tertawa. "Yeah. Bentuknya memang seperti gumpalan."

"Kau mengejekku?" Sasuke menukas tajam.

"Tidak," sahut Sakura santai, lalu kembali asyik dengan pekerjaannya, memilin segumpal kecil tanah liat yang kemudian dipasangkan sebagai mata di hasil karyanya. Sekarang burung itu—kalau bisa disebut burung—memiliki mata bulat yang tak simetris.

Giliran Sasuke yang mendengus tertawa.

"Kau mengejekku?" tukas Sakura tersinggung.

"Tidak," Sasuke menyahut.

"Tapi kau menertawakanku!" Sakura berkeras. "Kau pasti menganggap burungku jelek. Iya, kan? Ngaku saja!"

"Kau sendiri yang bilang burungmu itu jelek," Sasuke membalas, "bukan aku."

Antara sebal dan gemas, Sakura mengambil tanah liat yang masih basah dengan jarinya dan mencemongkannya ke pipi Sasuke.

"Hei—" dengking Sasuke, "apa yang kaulakukan?!"

Bukannya menjawab, gadis itu malah tertawa dan mencolek tanah liat lain. Namun sebelum ia sempat mencemongkannya untuk kedua kali ke wajah Sasuke, cowok itu mengangkap pergelangan tangannya dan dengan cepat membalasnya dengan mengoleskan tanah liat ke pipi Sakura, membuat gadis itu menjerit.

"Satu sama."

Tidak terima, Sakura berusaha membalas. Segera saja terjadi pergumulan seru yang melibatkan tanah liat. Sasuke berteriak. Sakura menjerit dan tertawa-tawa, tak peduli lagi pada burung tanah liatnya yang kini beralih fungsi menjadi senjata.

Entah bagaimana awalnya, tapi saat berikutnya Naruto dan Kiba ikut melibatkan diri dalam keributan yang dimulai oleh Sasuke dan Sakura. Mereka saling melempar satu sama lain, menjerit tertawa, dan dalam sekejap saja studio Deidara berubah menjadi ajang perang tanah liat.

Dan rupanya keributan itu sampai terdengar ke lantai atas. Kalian bisa membayangkan sendiri seperti apa reaksi Deidara saat mendapati studionya porak-poranda.

Setelah insiden tanah liat itu, Itachi dan teman-temannya mengajak mereka pergi ke Cafe Akatsuki untuk makan siang. Di sana Sasuke bertemu lagi dengan Kakuzu setelah bertahun-tahun, dan pria itu sama sekali tak berubah. Kakuzu menyambut mereka dengan wajah galak, mengernyit tak senang ketika mata hijaunya memandangi satu demi satu kelima remaja yang mengekor teman-temannya. Tapi gerutuannya soal bocah-bocah-penganut-azas-manfaat-yang-hanya-bisa-makan-gratis segera berhenti ketika Itachi memberitahunya ia akan membayar semua tagihannya.

Selepas makan siang, mereka pergi ke villa tempat Itachi menginap bersama Hana dan Kiba. Villa itu terletak di sisi lain pulau, tepat berada di tepi pantai. Jauh dari keramaian, tempat itu memang terkenal sebagai kawasan peristirahatan yang cukup elit. Dan mereka tidak hanya bertiga—berlima, jika Rufus dan Akamaru juga dihitung—Pein dan Konan juga akan menginap di sana selama mereka di Kiri. Dan sepertinya Hidan juga—mengingat ialah yang membukakan pintu ketika mereka datang. Entah ia memang menginap di sana atau hanya menjaga Rufus dan Akamaru.

Mereka melewatkan sisa hari dengan berenang di pantai dan bermain fresbee bersama Rufus dan Akamaru. Pantai itu jauh lebih lengang dibandingkan pantai yang biasa mereka datangi, jadi mereka bisa lebih leluasa. Dan Sasuke juga bisa mencuri waktu berduaan dengan Sakura, menyusuri pantai berdua, sambil sekalian mengajak Rufus jalan-jalan.

Sasuke tak dapat menahan senyumnya tatkala memutar momen itu lagi di kepalanya. Bagaimana mereka mengobrol dengan begitu lancar—tepatnya Sakura yang banyak bicara sementara Sakura lebih banyak mendengarkan dan sesekali mengeluarkan komentar sinis yang sepertinya sudah menjadi ciri khasnya—mendengarkan gadis itu tertawa lepas, dan beberapa kali memergokinya tengah menatap lembut ke arahnya. Semuanya menyenangkan, termasuk ketika mereka berlari pontang-panting mengejar Rufus yang mendadak lepas dan menyerbu sekawanan burung pantai.

"Dasar bodoh," gumam Sasuke pada dirinya sendiri, menyadari betapa tololnya ia tersenyum dan terkekeh sendiri sejak tadi. Untung saja saat itu ia tengah sendirian. Kalau tidak ... ia tak mau membayangkan bagaimana komentar Naruto dan Sai jika mereka melihatnya.

Menghela napas, ia mencondongkan tubuhnya dan meraih kotak di atas meja, lalu membukanya. Di antara tumpukan alas dari potongan kertas di dalamnya, empat buah mug tanah liat berwarna putih kusam diletakkan dengan posisi merebah. Dengan lukisan wajahnya, Sakura, Naruto dan Sai terlukis di masing-masing permukaannya yang menghadap ke atas.

Itu adalah hasil karya Sai saat kunjungan mereka ke Galeri Akatsuki. Rupanya tanpa sepengetahuan mereka, Sai menyelinap keluar dari studio setelah bosan dengan tanah liatnya. Ia pergi ke tempat pemanggangan dan menemukan mug-mug yang sudah diberi cat dasar tergeletak begitu saja di dekat tumpukan karya gagal yang akan dibuang. Sai mengambilnya, membersihkannya, dan melukisnya dengan cat dan kuas yang ditemukannya di meja kerja Deidara.

Sasuke menyeringai kecil saat mengingat bagaimana sahabatnya itu tiba-tiba muncul di tengah kekacauan, dan bertanya dengan tampang polos apakah mereka bisa membawa pulang mug-mug itu? Dan reaksi Deidara membuat situasinya semakin lucu.

Ia lalu mengambil salah satu mug yang bergambar wajah dirinya. Sesaat Sasuke hanya mengamati sebentuk wajah dengan sepasang mata hitam dan rambut gelap mencuat itu. Ekspresi jutek khas dirinya membuat Sasuke mau tak mau mengakui kepiawaian Sai dalam menangkap sosoknya menjadi sebuah gambar. Memang bukan gambar realis, melainkan dalam bentuk gambar kartun seperti yang sering dilihatnya di rubrik komik majalah sekolah.

Kemudian Sasuke mengambil mug Sakura. Berbeda dengan gambarnya, Sakura di mug itu tersenyum lebar. Rambut merah muda dan mata hijau yang besar membuat mugnya terlihat lebih meriah dari milik Sasuke. Dan lebih manis.

Sasuke mengusap gambar itu perlahan dengan ibu jarinya. Bibirnya menyunggingkan senyum kecil. Sebelum kemudian meletakkan kedua mug itu berdampingan di atas meja.

"Haah ... kenapa kalian berdua begitu serasi?" ia bergumam sambil nyengir sendiri seperti orang sinting.

Perhatiannya mendadak teralih pada suara-suara samar yang sepertinya berasal dari lantai bawah. Sasuke menajamkan telinga. Suara itu terdengar lagi, kali ini lebih dekat. Sejenak Sasuke berpikir mungkin saja itu Bibi Tsunami atau suaminya. Mereka biasanya memang sudah terbangun sebelum matahari terbit. Tapi sesuatu dalam dirinya mendesaknya untuk memeriksa sendiri.

Beranjak dari sofa, Sasuke melangkah tanpa suara ke arah tangga. Ia menjulurkan leher seraya memicingkan mata. Lampu di bawah masih belum dinyalakan, namun Sasuke bisa melihat sosok seseorang di bawah sana dengan cukup jelas. Seseorang itu sedang duduk di anak tangga paling bawah membelakanginya. Seseorang berambut merah muda.

"Sakura?"

Sasuke bisa melihat Sakura terlonjak kaget dan menoleh ke arahnya. Mata hijaunya terbelalak. "Sasuke!" desisnya. "Astaga, Sasuke, kau mengagetkanku!"

"Ngapain kau di bawah sana?" Sasuke mengernyit saat perhatiannya beralih ke pakaian yang dikenakan Sakura. Gadis itu sudah berpakaian lengkap—celana hijau selutut dan t-shirt putih gading. Jaket merahnya tersampir di anak tangga di sebelahnya, dan Sakura baru setengah jalan memasang sepatu ketsnya. "Kau mau ke mana?" semburnya sebelum Sakura sempat menjawab pertanyaannya yang pertama.

Sakura terlihat agak salah tingkah, seakan baru dipergoki melakukan sesuatu yang tidak seharusnya ia lakukan. "Um ... joging?"

Kerutan di antara kedua alis Sasuke semakin dalam. "Di luar masih gelap."

Gadis itu meringis. Pipinya menghangat. "Yeah ... memang."

"Kau mau kabur," cetus Sasuke.

"Tentu saja tidak!" bantah Sakura, tampak kesal. "Sudah kubilang, kan, aku mau joging."

Namun tampaknya itu tak cukup untuk meyakinkan Sasuke. Kegugupan Sakura sejak awal sudah membuatnya curiga. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke mana-mana sebelum kau memberitahuku tujuanmu yang sebenarnya," tegasnya.

Sakura menghela napas keras, akhirnya mengalah. "Baiklah. Lagipula Yamato memang tidak mengizinkanku pergi sendiri. Kau mau ikut?"

.

.

Lima menit kemudian, Sasuke sudah bergabung dengan Sakura yang sudah menunggunya di depan pintu sambil melakukan gerakan pemanasan. Ia sudah berganti pakaian dan memakai sneakers-nya.

"Sudah siap?" tanya Sakura, menyudahi pemanasannya dan menutup ritsleting jaketnya. "Sebaiknya kita bergegas. Kita harus sampai di sana sebelum terang."

"Sebenarnya kita mau ke mana?" tanya Sasuke lagi, masih penasaran.

Tapi Sakura hanya memberinya senyum misterius sebelum mengenakan tudung kepala jaket di atas rambut merah mudanya. "Kau akan lihat nanti."

Sasuke kemudian mengikuti Sakura yang melenggang santai meninggalkan rumah dengan kedua tangan tenggelam di saku jaketnya, dalam hati bertanya-tanya ke mana sebenarnya tujuan gadis itu? Sepertinya istimewa sekali sampai-sampai Sakura tidak mau memberitahunya. Dan mengapa mereka harus pergi saat langit masih gelap begini?

Mengesampingkan semua pertanyaan yang terus bermunculan dalam kepalanya, Sasuke memandang berkeliling. Jalan yang mereka lewati masih lengang, tentu saja. Lampu jalan masih menyala, menerangi deretan toko yang masih tutup. Meski begitu, jalanan tidak sepenuhnya kosong. Di sudut-sudut gang sempit atau di pelataran toko, ia bisa melihat beberapa tunawisma yang tengah tidur beralaskan kardus. Dan ternyata mereka juga bukan satu-satunya orang kurang kerjaan yang berjoging pagi-pagi buta begini.

"Sebaiknya kita berlari sekarang, Sasuke!"

"Apa?"

Tertawa, Sakura lalu mulai berlari mendahuluinya.

"Hei!" Sasuke bergegas berlari dan dengan mudah menyusulnya. Terima kasih pada kedua kakinya yang lebih panjang dari kaki gadis itu sehingga langkahnya lebih lebar.

"Ini bukan pertama kali kau berjoging di jam seperti ini," cetus Sasuke kemudian sementara mereka berlari-lari kecil.

Sakura tak langsung menjawab. Wajahnya dihiasi cengiran salah tingkah, sebelum akhirnya menyahut dengan agak terengah, "yeah ... tapi baru sekali."

"Baru sekali," Sasuke mengulangi jawaban Sakura. "Kapan itu?"

Gadis itu sekali lagi tertawa. "Mengapa kau selalu saja ingin tahu apa yang kulakukan, Sasuke?"

Sesaat Sasuke kehilangan kata-kata, tak tahu harus menjawab bagaimana tanpa membuat dirinya sendiri terdengar konyol. "Ibumu menitipkanmu pada kami," sahutnya setelah beberapa saat terdiam. "Kalau terjadi apa-apa padamu, kami juga akan kena getahnya. Jadi jangan melakukan sesuatu yang aneh-aneh kalau kau masih peduli pada teman-temanmu."

"Oh, apa selama ini aku melakukan sesuatu yang aneh-aneh?"

"Oh, ya. Nekat berkeliaran sendirian sampai tersasar di hari pertama itu contohnya."

Sakura mendengus. "Yang itu kan aku sudah minta maaf."

"Hn," sahut Sasuke dengan wajah menyebalkan.

Sakura mencibirnya, lalu dengan sengaja menyenggol Sasuke yang tengah berlari, nyaris membuat cowok itu terjatuh karena terserimpet kakinya sendiri.

"Hei—apa-apaan—" Sasuke belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Sakura sudah berlari kabur sambil tertawa-tawa. Namun alih-alih kesal dengan ulah gadis itu, Sasuke tertawa kecil, sebelum kemudian berlari mengejarnya lagi.

"Kyaa!" Sakura menjerit tertawa, saat Sasuke membalas dengan menyambar tudung kepalanya main-main.

Setelah beberapa saat berlari menyusuri jalur yang sudah Sakura hapal semenjak pengalaman pertamanya tersasar—melewati alun-alun kota, melewati jalan-jalan sempit dan berliku—akhirnya mereka tiba di kawasan pinggir sungai. Sekitar sepuluh meter dari sana, terdapat jembatan besar melengkung yang melintasi sebuah sungai lebar yang membelah wilayah itu.

"Lihat! Kita sudah sampai!" Sakura berseru gembira, seraya menunjuk ke arah jembatan.

"Jembatan itu?" Sasuke terdengar terheran-heran. Namun tampaknya Sakura tak terlalu memerhatikan. Saat berikutnya gadis itu sudah berlari riang ke arah jembatan yang ditunjuknya.

"Ah, syukurlah masih belum terlambat!" seru Sakura sedikit terengah, ketika mereka sudah berdiri tepat di tengah-tengah jembatan.

"Terlambat untuk apa, tepatnya?"

Sakura menoleh ke arah Sasuke yang baru saja tiba. "Sunrise, tentu saja," sahutnya ceria. "Dari sini bisa terlihat jelas."

"Sunrise?" Sasuke mengangkat alisnya.

Sakura mengangguk, kembali melayangkan pandangnya ke arah muara sungai. Dari sana, mereka bisa melihat hamparan laut di kejauhan. Seberkas cahaya jingga sudah mulai tampak di langit, kendati bulatan matahari belum terlihat.

"Cantiknya ..." Sakura mendesah.

"Ternyata hanya melihat sunrise," Sasuke mendengus. "Kukira apa."

Mendengar nada meremehkan dari suara Sasuke, Sakura mengerutkan dahinya. "Haah ... kau ini sama sekali tidak mengerti. Ini romantis, tahu. Matahari terbit adalah awal hari, melambangkan awal yang baru. Lembaran baru. Apa kau tidak merasa bersemangat melihatnya?" Sakura terdiam sejenak. "Lagipula, tempat ini adalah tempat kenangan aku dan Kak Hime," lanjutnya lebih pelan, seraya mengulas senyum sedih. Pandangannya menerawang. "Dulu kami pernah melihat sunrise bersama-sama di sini."

Tak tahu harus berkomentar apa, Sasuke terdiam menatap gadis di sebelahnya. Sakura sangat jarang membicarakan mendiang kakak perempuannya, tetapi setiap kali nama Himeko Haruno disebut, kegetiran itu terlihat jelas di wajahnya. Yang ia tahu, Sakura memang memendam penyesalan dan trauma mendalam atas kematian kakaknya. Dan Sasuke tak dapat menyalahkan gadis itu. Kalau ia berada di posisi Sakura, barangkali ia akan merasakan hal yang sama.

"Waktu aku masih kecil, kami sekeluarga pernah berliburan di sini, di Kiri," Sakura melanjutkan, "dan suatu subuh, saat langit masih gelap dan kedua orangtua kami belum bangun, aku dan Kak Hime menyelinap keluar dari hotel dan pergi kemari untuk melihat matahari terbit. Itu adalah kali pertama aku melihat kakakku dimarahi." Sakura tertawa kecil mengenang kejadian itu. "Dia selalu menjadi gadis manis kesayangan semua orang, tapi ternyata dia juga memiliki sisi pemberontak, sama seperti orang lain," ujarnya, menghela napas berat.

"Dan sepertinya kau senang dia dimarahi."

Mendengar komentar Sasuke yang tepat sasaran, Sakura tertawa. "Well, yeah ... sejujurnya memang begitu. Karena biasanya akulah yang dimarahi. Sakura, berhentilah mengganggu kakakmu! Seharusnya kau mencontoh kakakmu, Sakura!—aku selalu menjadi anak bandel waktu kecil dulu."

Sasuke menyeringai. "Kedengarannya memang seperti dirimu."

"Hei, apa maksudnya itu?" terkekeh, Sakura meninju lengan Sasuke main-main.

"Itu benar—kau memang bandel. Lihat saja kelakuanmu yang tidak kapok menyelinap pergi sendirian, padahal sudah pernah tersasar. Dan ini juga bukan pertama kalinya kau kemari, kan?"

"Ah—itu." Sakura nyengir salah tingkah. Wajahnya merona.

"Ternyata memang benar," dengus Sasuke, "dua hari yang lalu kau memang kemari. Waktu itu kaubilang pada Yamato kau pergi ke jembatan. Jembatan yang dimaksud pasti tempat ini, bukan?"

"Itu—"

"Berkeliaran sendirian saat masih gelap, kau mau cari mati, ya?" Sasuke menukas galak sebelum sempat menahan diri. "Tempat ini belum tentu aman. Bagaimana kalau ada orang yang berniat jahat padamu? Seorang gadis berkeliaran sendirian saat masih gelap, sudah pasti menjadi sasaran empuk."

"Kenapa kau jadi memarahiku, sih?" sembur Sakura kesal. "Aku tidak berkeliaran sendirian di saat gelap seperti yang kau tuduhkan, tahu! Dua hari yang lalu aku memang kemari. Tapi waktu itu sudah terang dan tempat ini sudah ramai dengan orang. Dan aku keluar dengan Bibi Tsunami! Dan hari sebelumnya, Yamato menemaniku!"

"Tapi hari ini kau berniat keluar sendirian," tandas Sasuke.

Sakura membuka mulutnya, namun tak ada satu pun kata yang keluar. Tak perlu dikatakan lagi, yang dikatakan Sasuke memang benar. "Kadang-kadang kau ini cerewetnya melebihi ibuku," gerutunya.

"Hn."

Sakura memandang Sasuke. Sudut-sudut bibirnya berkedut. Meskipun Sasuke bersikap menyebalkan padanya dan membuatnya kesal, nyatanya Sakura tak bisa benar-benar marah padanya. Seperti sekarang. Gadis itu merasa Sasuke bersikap keras padanya karena cowok itu mengkhawatirkannya. Dan entah mengapa, itu membuat jantungnya berdebar-debar.

"Tadi kaubilang kau pergi dengan Yamato ke tempat ini," kata Sasuke kemudian, setengah curiga, setengah penasaran. Walaupun Sakura selalu mengatakan Yamato sudah seperti kakaknya sendiri, itu sama sekali tak mengubah fakta bahwa sama sekali tak ada hubungan darah di antara mereka. Bisa saja Yamato memandangnya berbeda, atau sebaliknya. Kemungkinan itu selalu ada, kan?

"Ya," Sakura menyahut.

"Mengapa?"

Sakura menghela napas sebelum menjawab, "karena Yamato adalah kekasih kakakku, aku ingin membagi kenangan tempat ini dengannya. Mengapa?" gadis itu balik bertanya.

"Tidak apa-apa."

Sakura mengerling Sasuke dari sudut matanya. Tiba-tiba saja ia tak dapat menahan dirinya tertawa.

Sasuke mengernyit. "Apa?"

"Tidak apa-apa," sahut Sakura cepat, meletakkan kepalan tangannya di depan bibir untuk meredam tawanya. "Omong-omong, tumben hari ini kau bangun pagi? Biasanya baru bangun saat matahari sudah tinggi kalau tidak dibangunkan."

Sasuke mengendikkan bahu. "Aku terbangun, dan tidak bisa tidur lagi."

"Benarkah?" Sakura tampak heran. "Aku juga. Padahal aku tidur larut. Ino meneleponku dan kami mengobrol hampir semalaman. Tapi aku senang," ujarnya sambil tersenyum pada Sasuke, "dengan begini, kau jadi bisa keluar menemaniku. Jadi aku bisa membagi kenangan tempat ini denganmu juga."

"Hn. Tapi aku tidak mengenal kakakmu."

"Ah—yah, benar," Sakura mengeluh pelan, menyandarkan tubuhnya di susuran kayu jembatan itu. Tapi dalam sekejap cengirannya kembali. "Tidak masalah. Toh, sekarang kita juga sedang membuat kenangan. Hmm ... Sasuke Uchiha, yang bawelnya melebihi ibuku, memarahiku saat kami sedang melihat matahari terbit. Kedengarannya bagus, kan? Aku tidak akan lupa. Hehe."

"Apa-apaan itu?" Sasuke mencibirnya. "Sama sekali tidak lucu."

Mengikik, Sakura membalasnya dengan membuat wajah lucu, membuat sudut-sudut bibir Sasuke berkedut menahan tawa.

"Hei, hentikan itu!"

Alih-alih berhenti, Sakura malah semakin menjadi-jadi. Gadis itu menggembungkan pipinya, menggoyang-goyangkan kedua tangannya seperti telinga kelinci di sisi kepalanya.

"Sakura—" kali ini Sasuke benar-benar tertawa. Ia menyambar tangan gadis itu dan menurunkannya untuk membuatnya berhenti melakukan gerakan-gerakan konyol itu. "Hentikan."

"Kau tahu? Aku lebih suka melihatmu tersenyum seperti ini," gadis itu terkekeh. "Kau jadi terlihat lebih ... hangat."

Lagi-lagi Sasuke dibuat terdiam oleh perkataan Sakura. Hening, sementara keduanya saling bertukar tatapan. Hingga tanpa mereka sadari, matahari sudah mulai menampakkan diri di batas cakrawala. Sakura menoleh, memutus kontak mata mereka ketika sinar hangat itu menyentuh kulitnya.

"Oh, lihat! Mataharinya sudah muncul!"

Namun Sasuke sama sekali tak melepaskan pandangannya dari gadis itu. Setidaknya selama beberapa saat. Memerhatikan Sakura mengeluarkan ponselnya untuk mengabadikan momen itu.

Dan ketika Sasuke akhirnya berpaling untuk ikut menikmati cahaya pertama matahari, ia kembali memikirkan kemungkinan untuk menjadikan Sakura kekasihnya secara resmi. Memangnya apa lagi yang ia tunggu? Kedua sahabatnya, walaupun tidak mengatakannya secara langsung, sudah menunjukkan persetujuan mereka. Malahan mereka—terutama Sai—seolah meyakinkannya kalau gadis itu pun memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Bahkan Neji, orang yang selama ini dianggapnya sebagai rival dalam menarik atensi Sakura, dengan terang-terangan berkata bahwa ia cukup yakin Sakura menaruh perhatian tertentu padanya. Juga sikap Sakura terhadapnya belakangan ini, cukup untuk menepis segala keraguannya selama ini.

Mungkin sekarang memang waktu yang tepat, pikirnya.

Mereka hanya berdua saja di jembatan itu. Tak ada Naruto maupun Sai yang menggerecoki mereka. Ditambah dengan latar belakang sunrise—Sasuke tak bisa membayangkan suasana yang lebih mendukung dari ini.

Sasuke menarik napas panjang, merasakan detak jantungnya yang semakin cepat seiring dengan kebulatan tekadnya untuk mengutarakan perasaannya pada gadis yang disayanginya dengan sepenuh hati itu.

"Sakura, sebenarnya—"

.

.

.

.

.

Kata-kata itu tak pernah selesai.

.

.

.

.

Bahkan napasnya pun tertahan di tenggorokannya ... ketika bibir Sakura tiba-tiba sudah berada di bibirnya.

.

.

.

.

TBC ...

.

.

Fiuh... akhirnya beres juga chapter ini. Lega banget sudah ngeluarin adegan di scene terakhir (aku udah ngerencanain scene ini dari awal-awal aku ngonsep fic ini). Gimana dampaknya sama hubungan mereka, apa bikin mereka tambah lengket, atau malah bikin renggang? Jawabannya ada di chapter depan. Jreng jreng jreng! XD

Aku sebenernya masih belum puas sama chapter ini. Ada beberapa scene yang kerasa kaku dan no feeling.

Terus, aku munculin tokoh Hotaru dari Klan Tsuchigumo di sini. Dia hanya tokoh numpang lewat aja, jadi jangan tanya-tanya tentang Utakata, ya? Karena dia ga akan dibahas. :p

Kolaborasi Naruto-Gaara itu sebenernya hanya keisenganku setelah nemu video cover lagu Aerosmith Cryin' akustik duet gitar & biola. Asli keren dan aku langsung ngebayangin Naruto dan Gaara yang ngecover (karena di sini Naruto jago main gitar dan Gaara dengan biolanya).

Yang nanya soal Tokuma Hyuuga. Dia bukan OC kok. Tokuma itu salah satu anggota klan Hyuuga yang pernah satu tim sama Anko sebelum Anko diculik Kabuto. Katanya, dia salah satu yang punya Byakugan terbaik di klan. Wajahnya agak mirip Neji, tapi rambutnya pendek.

Terus, soal Pein itu, aku ngambil personalitinya Yahiko yang agak mirip Naruto. Hehe...

Terakhir, gomen ya, kalau ceritanya standar, datar, gampang ditebak dan membosankan. Tapi tenang aja, chapter berikutnya adalah chapter terakhir buat arc liburan. Setelah itu aku masih ngerencanain satu chapter lagi dan epilog untuk menamatkan serial ini.

Dan yang paling terakhir dari yang terakhir, terimakasih buat semua yang sudah mengikuti fic ini sampai sejauh ini. Welcome to the jungle buat temen-temen yang baru baca n baru pertama review! Hehe..

See ya next chapter! J