FINALLY!

Setelah sekian lama akhirnya saya bisa apdet juga fanfic ini. Udah berapa lama? Belum nyampe setahun kan? Maaf ya, buat yang udah nungguin lama. Mudah-mudahan ini bisa sedikit mengobati kangen pada Sakura cs dan kegajean mereka. Hihi...

Sebelumnya, mau ngucapin Selamat hari raya Iedul Adha buat teman-teman yang merayakan! :D

Beware! Chapter ini panjang banget. Ada 26K+ (75+ halaman ms words). Jadi buat yang ga terbiasa baca yang panjang-panjang, sila dicopas dulu ke notes/ms words dan dibaca sedikit-sedikit biar matanya ga capek. Oke? :D

Happy reading!

.

.

Sasuke terpaku. Sepasang matanya yang hitam terbelalak, memandang seraut wajah pias seorang gadis yang tampak sama terguncangnya seperti dirinya di hadapannya.

Perlu beberapa waktu bagi Sasuke untuk menyadari apa yang baru saja terjadi. Ia bisa merasakan detak jantungnya kembali, dua kali lebih cepat dan keras, berdentum-dentum di telinganya. Mulutnya membuka dan menutup, namun suaranya tak mau keluar, tercekat di tenggorokannya.

"Ya, Tuhan ... tidak—" Sakura lah yang pertama menemukan suaranya.

Sasuke bisa merasakan hatinya mencelos, ketika ia melihat Sakura terbelalak. Gadis itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat, sembari menyentuh bibirnya—yang beberapa saat yang lalu bersinggungan dengan bibirnya—dengan tangan. Wajahnya pias. Kakinya melangkah mundur. Selangkah. Dua langkah. Meretas jarak di antara mereka.

"Saku—"

Lagi-lagi kata-katanya tak pernah selesai, karena saat berikutnya gadis itu sudah berbalik dan berlari pergi.

Dan lagi-lagi, Sasuke hanya bisa terpaku seperti orang tolol.

.

.

Bodoh! Bodoh! Bodoooh!

Sakura Haruno memaki dirinya sendiri dalam hati, benar-benar tak habis pikir dengan apa yang diperbuatnya barusan. Ralat—tak sengaja ia lakukan. Gadis itu bersumpah ia sama sekali tak berniat melakukan hal itu! Ia hanya ... tapi ... aaargh!

Kenapa Sasuke harus menolehkan kepalanya di saat yang tidak tepat?!

Menggelengkan kepala kuat-kuat, Sakura berusaha menepis jauh-jauh ingatan tentang kejadian beberapa detik yang lalu dalam benaknya, sementara kakinya membawanya berlari tanpa tujuan. Yang ada dalam benaknya sekarang hanyalah berada sejauh mungkin dari Sasuke Uchiha.

Demi apa pun, Sakura tak pernah merasa semalu ini seumur hidupnya.

.

.

Naruto fandom dan segala isinya adalah hak cipta Masashi Kishimoto-sensei. Saya hanya minjam, tanpa mengambil keuntungan apa pun kecuali kesenangan menulis. :D

Arlene Shiranui's

L'amis Pour Toujours: Summer Holiday Arc Chapter 7

-bagian terakhir Summer Holiday Arc-

.

.

"Naruto ..."

Suara itu terdengar seperti berasal dari tempat yang sangat jauh. Mula-mula Naruto sama sekali tak menggubrisnya. Perhatiannya hanya tertuju pada mangkuk demi mangkuk ramen lezat yang disajikan oleh gadis manis bermata putih di hadapannya, lagi dan lagi.

"Ahahah ... sudah cukup, Hinata. Aku sudah kenyang."

Akan tetapi Hinata sama sekali tak menggubrisnya. Gadis itu dengan riang menyingkirkan mangkuk yang sudah kosong dan kembali menyodorkan mangkuk ramen yang lain. Naruto sama sekali tak bisa menolak, kendati rasanya perutnya sudah hampir meletus.

"Naruto!"

Suara itu terdengar lagi. Lebih jelas kali ini. Dengan mulut penuh mi, Naruto memandang ke sekelilingnya dengan bingung. Tetapi sekali lagi, Hinata mengalihkan perhatiannya dengan menaruh lebih banyak ramen di depannya.

"Naruto!"

Naruto mengerjap. Ia merasakan udara hangat meniup-niup wajahnya. Padahal saat itu ia sedang berada di dalam ruangan tertutup.

Hinata menaruh mangkuk ramen lagi. Sudah tidak ada tempat di atas meja. Sekarang gadis itu mulai menumpuk mangkuk-mangkuknya menjadi sebuah piramida di atas meja. Semakin lama semakin tinggi.

"H—Hinata, sudah ... aku sudah tidak sanggup—"

Gadis itu masih tetap tak menggubrisnya. Sementara suara yang memanggil-manggil namanya semakin keras, berdengung di telinganya.

Sekarang Hinata menaruh mangkuk ramen di atas kepalanya.

"NARUTO!"

"Aaaaaargh!"

Naruto terbangun dengan kaget. Matanya terbelalak. Hinata dan tumpukan mangkuk ramen sudah lenyap dari hadapannya. Sebagai gantinya, sepasang mata hitam balas memandangnya dari dekat—terlalu dekat. Ia nyaris bisa melihat setiap helai bulu mata yang tumbuh di mata Sai.

"WHOAA!"

Refleks Naruto melompat menjauhi Sai. Terlalu cepat, sehingga bahunya menabrak tepian kayu tempat tidur di belakangnya hingga menimbulkan bunyi 'duk!' keras. Rasa sakit akibat benturan itu membuat pandangannya berkunang-kunang. Segera saja kata-kata umpatan menyembur dari mulutnya.

"Kalau Sakura mendengar kata-katamu itu, kepalamu bisa benjol," gumam Sai, sembari bangkit dari posisinya yang semula berbaring menelungkup di kasur lipat. Wajahnya yang pucat mengernyit, sementara ia memijat-mijat lengannya yang terasa pegal setelah tertindih tubuh Naruto yang tidak bisa dibilang ringan selama berjam-jam.

"APA YANG KAULAKUKAN DI SINI?!" sembur Naruto, menuding Sai. Matanya berair.

"Terbalik. Pertanyaannya adalah apa yang kaulakukan di sini, Naruto?" Sai balas menggerutu, tampak agak jijik saat menyeka wajahnya yang terkena beberapa titik basah yang berasal dari mulut Naruto. "Waktu aku terbangun, tahu-tahu kau sudah menindih lenganku—tidak. Tapi kau praktis berbaring di atas tubuhku."

"EEH?!" Naruto mendengking. Ia lalu menoleh ke sana-kemari, tampak kebingungan sendiri ketika mendapati dirinya tidak berada di tempatnya yang seharusnya. Alih-alih berada di atas tempat tidur, sekarang posisinya ada di bawah.

"Berani taruhan, pasti kau menggelinding jatuh semalam. Seperti biasa."

Itu penjelasan yang paling masuk akal—dan bukan satu kali ini saja terjadi. Naruto menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal, membuat rambut pirangnya yang berantakan semakin mencuat ke mana-mana, seraya melempar cengiran tak berdosa pada Sai. Yang bersangkutan menghela napas sambil memutar matanya.

"Hehe ... sori," kata Naruto sambil cengengesan sendiri, sementara Sai beranjak dari kasur lipat untuk membuka jendela. Cahaya matahari langsung menerobos masuk ke dalam kamar, diikuti hembusan udara pagi musim panas yang segar dari luar. Saat itulah Naruto menyadari ketidakhadiran seorang sahabatnya lagi yang seharusnya ada di sana. "Eh—ke mana Sasuke?"

Sai menoleh, memandang berkeliling. Tampaknya ia juga baru menyadari Sasuke tidak ada di dalam kamar ketika Naruto menyebut-nyebutnya. "Entah ... mungkin dia sudah bangun," sahutnya, mengangkat bahu. "Hari ini kan gilirannya membuat sarapan."

Tetapi ternyata Sasuke tidak sedang membuat sarapan seperti yang mereka kira. Hanya ada Yamato dan Haku yang tengah menikmati sarapan di meja makan ketika Naruto keluar dari kamar. Tak ada tanda-tanda keberadaan Sasuke. Bahkan sarapan berupa setumpuk roti bakar dan telur orak-arik pun sudah dibuatkan oleh Yamato.

"Kami belum melihatnya sepanjang pagi," sahut Yamato ketika Naruto menanyainya tentang Sasuke. "Kau melihatnya, Haku?"

Haku, yang tengah menyesap teh paginya, menggeleng kecil. "Kukira dia belum bangun."

"Hei, Naruto."

Naruto menoleh pada Sai yang baru saja keluar dari kamar setelah membereskan kasur lipat. "Apa?"

"Coba lihat ini." Sai menunjuk sesuatu di atas meja di depan televisi—kotak mug yang mereka bawa pulang dari Galeri Akatsuki hari sebelumnya. Kotak itu dalam keadaan terbuka, dengan dua buah mug tergeletak berdampingan di meja, sementara dua lain masih tersimpan rapi di dalam kotak.

Penasaran dengan apa yang begitu menarik perhatian Sai, Naruto bergegas menghampiri sahabatnya itu untuk melihat. Kedua alisnya terangkat begitu tinggi sampai-sampai menghilang di bawah rambut pirangnya yang terjatuh ke dahi.

Hening beberapa saat. Yang terdengar hanyalah suara obrolan Yamato dan Haku di seberang ruangan.

"Menurutmu ini kerjaan Sasuke?" suara Sai terdengar geli.

Cengiran lebar mengembang di wajah Naruto. "Memangnya siapa lagi?" dengusnya, sembari mengangkat kedua mug bergambar wajah Sakura dan Sasuke dengan kedua tangannya. "Dasar anak nakal satu itu. Ck ck ck ..."

Sai ikut-ikutan mendenguskan tawa kecil, membayangkan Sasuke memainkan mug-mug itu saat mereka tidak melihat. "Sama sekali tidak seperti Sasuke."

Naruto baru akan membuka mulut untuk menanggapi ketika terdengar suara seseorang menaiki tangga dengan tergesa-gesa. Mereka menoleh tepat ketika orang yang mereka bicarakan muncul. Dengan napas terengah-engah dan selapis tipis keringat menghiasi wajahnya, Sasuke Uchiha memandang nyalang kedua sahabatnya.

"Kalian lihat Sakura? Apa dia di sini—apa dia sudah pulang?!"

Kata-kata bernada—agak—panik yang menyembur bertubi-tubi dari mulut Sasuke tak ayal membuat Sai dan Naruto kebingungan. Kedua cowok itu bertukar pandang. Dan alih-alih menjawab, Naruto malah balik bertanya dengan curiga,

"Kau kenapa, sih? Dari mana saja kau?"

Sasuke mengabaikan Naruto. "Kalian lihat Sakura tidak?!" ulangnya tak sabaran.

Nada bicaranya yang meninggi saat menyebut nama Sakura rupanya mengalihkan perhatian Yamato dari Haku. "Sakura? Ada apa dengan Sakura?"

Tapi lagi-lagi Sasuke tak menghiraukan pertanyaan yang ditujukan padanya. Baginya jelas tak ada seorang pun di sana yang melihat Sakura. Cowok itu lantas berbalik dan bergegas menuruni tangga.

Bingung dengan kelakuan aneh Sasuke, Naruto lantas mengikutinya. Sai menyusul di belakangnya, begitu pula dengan Yamato. Sasuke tengah berdiri di depan pintu kamar Sakura ketika mereka tiba di bawah.

"Sakura!" panggil Sasuke ragu, beberapa kali mengetuk permukaan pintu yang terbuat dari kayu itu. "Sakura, kau ada di dalam?"

"Sasuke, ada apa sih sebenarnya? Ada apa dengan Sakura?" cecar Naruto, mulai cemas melihat air muka Sasuke yang menurutnya ganjil.

"Saku—"

"Kau kenapa, sih?!" Kesal karena terus-terusan diabaikan, Naruto menyambar bahu Sasuke kasar, memaksa sahabatnya itu menatapnya.

Tapi Sasuke menepis tangan Naruto dan kembali mengetuk pintu kamar Sakura. Lebih keras dari sebelumnya. "Sakura, kalau kau ada di dalam, tolong buka pintunya!" serunya mendesak.

Mendengar kegaduhan yang terjadi di ruang tamunya, Tsunami muncul dari darah dapur lantai satu yang menyatu dengan ruang makan, masih dalam balutan celemek dan membawa sendok pengaduk sup. "Ada apa ribut-ribut pagi-pagi begini, anak-anak?"

"Apa Bibi melihat Sakura?" tanya Sai segera, sebelum yang lain sempat bersuara.

"Sakura?" Kerutan tipis muncul di antara kedua alis Tsunami. "Rasanya aku belum melihatnya sepagian ini. Apa Ayah melihatnya?" tanyanya pada Tazuna yang baru saja muncul dari dapur menyusul putrinya.

"Aah ... Sakura, ya? Kebetulan tadi pagi aku melihatnya pergi joging. Bukankah tadi dia pergi bersamamu, Sasuke?"

Pandangan semua orang kini tertuju pada Sasuke yang ekspresinya terlihat beku. "Jadi dia belum pulang?" gumamnya pelan, seakan bicara pada dirinya sendiri.

Tazuna mengendikkan bahunya. "Aku belum melihatnya kembali."

Wajah Sasuke memucat. Pandangannya bergulir ke rak sepatu yang diletakkan tak jauh dari pintu kamar Sakura—dan benar saja. Ia tak melihat sepatu yang dikenakan gadis berambut merah muda itu saat joging tadi. Sakura memang belum kembali.

Sial ... Sasuke merutuki dirinya sendiri, mengacak rambutnya dengan frustasi. Seharusnya sejak awal ia tidak membiarkan Sakura pergi begitu saja. Tapi saat itu ia terlalu shock untuk berpikir.

"Benarkah tadi Sakura pergi bersamamu, Sasuke?" Yamato menanyainya dengan dahi berkerut. Nada bicaranya tetap tenang, meski demikian entah mengapa Sasuke merasakan entakan rasa bersalah saat bertemu pandang dengan pria muda yang sudah dianggap kakak oleh Sakura itu. Yamato selalu mewanti-wanti mereka untuk menjaga adiknya jika ia sedang tidak bersama mereka—walaupun terkadang dikatakan dengan nada bergurau untuk menggoda Sakura—tapi apa yang dilakukannya sekarang?

Sesaat, Sasuke dilanda keraguan. Ia lantas memandang Naruto dan Sai, dan mendapati kedua sahabatnya itu balas menatapnya, menunggu jawaban. Sampai akhirnya Sasuke menjawab enggan, "ya. Tadi kami memang pergi joging bersama. Tapi ..." Kata-katanya mendadak terhenti sementara mata hitamnya bergerak-gerak gelisah—ia tak tahu bagaimana harus menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.

"Tapi?" pancing Yamato. Kerutan di antara kedua alisnya semakin dalam, dan Sasuke tahu ia dalam masalah.

"Kami terpisah," Sasuke menghela napas.

Hening.

Sasuke sudah bersiap jika Yamato akan menyembur memarahinya, tetapi pria itu tidak berkata apa-apa—setidaknya selama beberapa saat. Sementara itu, ia bisa merasakan tatapan tak percaya kedua sahabatnya. Sasuke bisa merasakan wajahnya menghangat.

"Kau sudah mencoba menghubungi ponselnya? Sakura membawa ponsel, kan?" tanya Yamato kemudian, masih dengan nada tenang. Dengan sigap ia mengeluarkan ponselnya sendiri dari dalam saku dan mulai menekan-nekan keypad.

"Sudah kucoba," sahut Sasuke, sementara Yamato mencoba menghubungi nomor Sakura, "tapi tidak diangkat." Sasuke tak sepenuhnya jujur saat mengatakannya. Sakura bukan hanya tak mengangkat panggilan teleponnya, gadis itu bahkan me-reject-nya! Dan ia tahu usaha Yamato menghubungi Sakura sama sia-sianya seperti usahanya sebelumnya, karena gadis itu sudah mematikan ponselnya sejak Sasuke mencoba menghubunginya lagi untuk yang kedua kali.

"Ponselnya tidak aktif," gumam Yamato. Raut cemas membayangi wajahnya saat ia memasukkan kembali ponsel ke saku jinsnya.

"Oi, Sasuke!" sembur Naruto habis sabar, seraya sekali lagi menyambar bahu Sasuke kasar. "Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa kau terpisah dari Sakura, eh?"

Sasuke membalas dengan memelototi sahabatnya itu, tampak sangat jengkel. Mencium gelagat akan segera terjadi keributan antara Sasuke dan Naruto, Sai buru-buru menengahi.

"Tenang dulu, Naruto. Yang penting sekarang adalah menemukan Sakura."

"Sai benar," kata Yamato. "Aku akan mencarinya. Sasuke, di mana terakhir kalian bersama-sama?"

Tanpa menghiraukan Naruto lagi, Sasuke bergegas mengkuti Yamato ke pintu depan sembari memberitahunya ke mana ia dan Sakura pergi sebelumnya.

"Kau percaya itu?" dengus Naruto, memelototi punggung Sasuke. "Terpisah, katanya? Omong kosong! Pasti terjadi sesuatu! Kau lihat tampangnya tadi, kan?"

"Yeah," gumam Sai setuju, "kedengarannya memang tidak masuk akal. Sasuke tidak pernah melepaskan pengawasannya dari Sakura sebelum ini. Dan Sakura tidak sebodoh itu sampai bisa terpisah begitu saja—kecuali kalau dia sengaja kabur."

"Kupikir juga begitu. Ooh—awas saja kalau ternyata si Kakatuaitu berbuat macam-macam pada Sakura kita!"

Naruto baru saja hendak berlari ke pintu untuk menyusul Sasuke dan Yamato yang sudah keluar lebih dulu, ketika Sai berkata dengan nada geli, "kesal sih kesal, tapi kau yakin mau keluar dengan penampilan seperti itu?"

Langkah Naruto terhenti dan ia memandang ke bawah—ke arah pakaian yang dikenakannya: boxer dan kaus oblong usang. Ia mengumpat.

.

.

Sakura tidak ingat sudah berapa lama ia berlari—dan seberapa jauh. Ketika akhirnya kakinya sudah tak kuat lagi membawanya berlari, ia sudah mendapati dirinya berada di tempat yang benar-benar asing. Rupanya ia sudah tiba di sisi kota Kiri yang belum pernah ia datangi sebelumnya. Namun berbeda seperti saat pertama kali ia tersasar di Kiri, Sakura sama sekali tidak mencemaskan hal itu—belum.

Dengan langkah gontai dan napas yang tinggal satu-satu, gadis bermata hijau cerah itu menuju bangku kayu yang dilihatnya di sudut taman kota tempatnya berada sekarang, lalu menghenyakkan diri di sana. Permukaan bangku itu terasa agak panas karena terpapar langsung dengan sinar matahari musim panas yang mulai meninggi, tapi Sakura tak peduli. Gadis itu terlalu lelah—dan terlalu banyak pikiran—untuk memilih-milih tempat. Yang ia butuhkan saat itu hanyalah tempat untuk mengistirahatkan tubuh dan mengosongkan pikiran dari apa yang terjadi beberapa saat lalu.

Sasuke ...

Sakura menggelengkan kepalanya dengan kalap, berusaha mengenyahkan nama itu dari dalam kepalanya. Namun usahanya sia-sia belaka. Semakin ia tak ingin memikirkannya, semakin bayangan wajah cowok itu dan ekspresi kagetnya terbayang jelas di pelupuk matanya. Sakura bahkan masih bisa merasakan bibir cowok itu menempel di bibirnya.

Refleks ia mengangkat tangannya, menyentuhkan jemari pada bibirnya. Saat berikutnya tangan itu berpindah ke dadanya, merasakan jantungnya berdentum-dentum kuat, memompa darah lebih banyak ke area wajahnya. Gadis itu lantas mengerang, memekapkan wajahnya yang memanas dengan kedua tangannya, frustasi pada dirinya sendiri.

Dasar bodoh! Sakura bodoh!

Sakura memaki dirinya sendiri dalam hati. Jika saja ia bisa menguasai diri ... jika saja ia tak membiarkan dirinya larut dalam perasaannya sendiri, barangkali situasinya tidak akan seperti ini.

Tapi—tapi Sakura sungguh tak bisa menahannya!

Rasanya seperti sebuah film yang diputar balik. Entah karena terbawa suasana, ataukah karena hal lain, yang jelas ketika mereka berdiri bersisian di atas jembatan dan memandangi sinar matahari pertama, bayangan saat-saat yang dilewatkannya bersama Sasuke terus berputar-putar dalam benaknya. Awal pertemuan mereka yang kurang menyenangkan di koridor sekolah, pertengkaran demi pertengkaran di awal-awal perkenalan, sampai mereka akhirnya bisa berteman.

Sakura masih ingat dengan jelas seakan kejadiannya baru kemarin, ketika Sasuke menyelamatkannya yang nyaris tertabrak mobil Sai saat mereka pergi ke panti asuhan untuk merayakan ulang tahun Naruto yang ketujuhbelas, dan cowok itu tanpa malu-malu menggendongnya di punggungnya. Lalu saat-saat pahit pasca kematian ayah yang sangat dikasihinya, Sasuke juga ada di sisinya. Sakura juga belum lupa bagaimana dirinya begitu ketakutan saat menemukan Sasuke sakit di rumahnya, kepergian cowok itu ke Oto yang membuatnya merasa kehilangan, lalu saat-saat sulit setelahnya Sasuke juga selalu ada di dekatnya. Bahkan ketika Sakura tidak bicara padanya gara-gara Neji, Sasuke sama sekali tak meninggalkannya. Justru, Sasuke menjadi orang pertama yang menangkapnya saat ia terjatuh. Tak peduli seberapa menyebalkan dan tidak adilnya sikapnya pada cowok itu dulu.

Saat memikirkan itu semua, Sakura merasakan luapan rasa sayang yang teramat besar. Hatinya terasa hangat dan dipenuhi rasa syukur karena memiliki Sasuke sebagai sahabatnya. Ia sungguh berterimakasih atas semua yang telah cowok itu lakukan untuknya. Dan itulah yang membuat Sakura refleks melakukannya sebagai ungkapan rasa terimakasih.

Sebuah ciuman di pipi tak akan melukai mereka. Benar, kan?

Tapi, kata suara lain dalam kepalanya, benarkah kau berniat mencium pipi Sasuke hanya sebagai ungkapan rasa terimakasih? Karena Sasuke telah melakukan banyak hal untukmu? Lalu bagaimana dengan Sai? Dengan Naruto? Bukankah mereka juga sudah melakukan banyak hal juga untukmu? Dan kau juga menyayangi mereka sama besarnya seperti kau menyayangi Sasuke. Tapi kenapa kau tak pernah merasakan dorongan hati untuk mencium mereka?

Mengapa Sasuke?

Mengapa hanya Sasuke?

Mengapa dia berbeda?

Mungkinkah ... ?

Sakura menyandarkan tubuhnya pada punggung bangku seraya memejamkan mata. Gadis itu mendongakkan kepalanya, membiarkan cahaya matahari musim panas yang hangat menerpa wajahnya, sementara ia mencoba menenangkan pikirannya yang tengah kalut. Ia menggigit bibir.

Sekarang apa yang akan kulakukan? Apa yang akan kulakukan untuk menghadapi Sasuke nanti? Aku bahkan tak punya nyali untuk kembali ke rumah ...

Sakura terlonjak ketika tiba-tiba saja ponsel di saku celananya bergetar. Cepat-cepat gadis itu mengambilnya, dan hatinya langsung mencelos begitu melihat nama yang tertera di layarnya.

Sasuke calling ...

Selama beberapa saat Sakura diserang rasa panik—begitu paniknya sehingga ia melompat berdiri dari bangku dan mulai menggerigiti kukunya—Sakura merasa belum siap jika harus berbicara dengan Sasuke sekarang! Sampai akhirnya gadis itu memutuskan untuk menekan tombol reject dan segera me-nonaktifkan benda elektronik di tangannya tersebut.

"Oh, Sakura, kau bisa gila kalau lama-lama seperti ini terus ..." erangnya, frustasi pada dirinya sendiri. Sembari menghenyakkan dirinya kembali ke bangku, menutupi wajahnya yang merah padam.

Di tengah kekacauan hatinya, lamat-lamat Sakura mendengar seperti ada yang memanggil namanya di tengah-tengah hiruk-pikuk para pengunjung taman. Gadis itu refleks menurunkan tangannya dan memandang berkeliling untuk mencari sumber suara—memastikan ia tak salah dengar—Dan rupanya ia tak perlu bersusah-susah.

Tak jauh dari bangku taman tempatnya duduk, sebuah mini cooper berwarna biru tua yang tak asing menepi. Seekor golden retriever meletakkan dua kaki depannya di jendela mobil yang terbuka, menyalak heboh. Di belakang si anjing, tampak seorang pria muda berambut gelap dan berkacamata hitam melambaikan tangan ke arahnya. Dan Sakura langsung mengenalinya sebagai kakak lelaki Sasuke, Itachi Uchiha.

Sejenak ragu, tapi demi kesopanan, akhirnya Sakura beranjak dari bangku dan menghampiri mobil kecil itu.

"Sakura," sapa Itachi hangat ketika gadis berambut merah muda itu sudah berada di dekat mobilnya. Pria itu melepas kacamata hitamnya dan menggantungnya di kerah kausnya. "Sedang apa di sini?"

"Habis joging, Kak," Sakura menyahut sambil melempar senyum, berusaha terlihat seceria mungkin. "Halo, Rufus," sapanya pada si anjing, menggaruk kepala hewan ramah itu.

"Sendirian saja?" Mata hitam Itachi bergulir ke belakang Sakura, seakan berharap melihat yang lain di sana. "Kemana Sasuke dan yang lain?"

Mendengar nama cowok itu disebut, Sakura merasakan wajahnya menghangat. "A-aku hanya sendiri."

Pandangan Itachi kembali pada gadis di depannya, tampak heran. "Sendirian? Kau joging dari tempat kalian menginap?"

Sakura mengangguk ragu.

Sejenak, Itachi tampak terpana. "Itu kan jauh sekali. Dan kau pergi seorang diri?" Pria itu mengeluarkan dengusan kecil, lalu bergumam dengan nada rendah pada dirinya sendiri, "Sasuke bagaimana, sih? Membiarkan seorang gadis pergi jauh di tempat asing begini sendirian? Payah ..."

Sakura yang mendengar itu, wajahnya semakin merah. "Aa—bukan begitu, Kak Itachi. Aku sengaja pergi sendirian. Sasuke dan yang lain masih tidur ketika aku pergi, jadi ..." gadis itu lalu terdiam, membiarkan kata-katanya menggantung.

Sementara itu Itachi menatapnya lama tanpa berkomentar. "Begitu," ujarnya kemudian, diiringi seulas senyum tipis. "Apa sekarang kau sudah mau pulang. Biar kuantar."

"Ah—tidak usah—tidak perlu repot-repot, Kak. Aku bisa pulang sendiri," tolak Sakura buru-buru.

"Tapi itu sangat jauh—"

"Tidak apa," kata Sakura meyakinkan. "Lagipula ... um ... aku belum mau pulang sekarang. Aku masih ingin jalan-jalan sebentar lagi."

Itachi menghela napas, menggeleng pelan seraya melempar pandang tak setuju pada teman wanita adiknya itu. "Riskan sekali gadis remaja sepertimu berkeliaran seorang diri di tempat asing seperti ini, Sakura. Tidak semua orang di sini adalah orang baik, kau tahu, kan?"

Sakura terdiam. Ia tak bisa membantah itu. Yamato juga sudah beberapa kali memperingatkannya untuk tidak pergi ke tempat yang terlalu jauh seorang diri. Kali ini jelas ia tidak berpikir ke arah sana. "Yeah ... tapi ..."

Suara Sakura terdengar lemah, semakin lama semakin pelan sehingga yang terdengar seperti gumaman tidak jelas. Itachi menatapnya dengan kerutan samar di antara kedua alisnya. Gadis itu seperti menghindari tatapannya saat berbicara. Namun dari gesturnya, Itachi menangkap kesan Sakura enggan, bukan oleh tawarannya mengantar pulang, tetapi untuk pulang itu sendiri.

"Tapi kalau kau berkeras masih ingin jalan-jalan, bagaimana kalau kau ikut aku saja?" tawar Itachi kemudian.

"Eh?" Sakura mengerjap.

"Yah ... setidaknya kalau kau ikut aku, kau tidak sendirian. Kebetulan aku dan Rufus akan pergi ke tempat yang lumayan bagus. Bagaimana? Tertarik?"

"Er ..." Sakura tampak ragu selama beberapa saat, sebelum akhirnya mengangguk.

Senyum Itachi mengembang. "Ayo, Ruf. Kau pindah ke belakang." Ia segera membukakan pintu mobil bagi Sakura dari dalam setelah anjingnya menyelinap ke bangku belakang.

Tak lama kemudian, kendaraan mungil itu melaju mulus meninggalkan taman kota.

Perjalanan berlangsung dalam keheningan. Yang terdengar hanya alunan musik berirama jazz yang berasal dari stereo, ditingkahi suara-suara kendaraan lain dan hiruk-pikuk kota Kiri dari luar. Sakura memandang ke luar jendela tanpa benar-benar memerhatikan jalanan yang mereka lewati. Pandangannya kosong, pikirannya seakan berada di tempat lain. Dan Itachi memerhatikan hal itu, termasuk ketika Sakura berkali-kali menghela napas berat.

"Kau suka berkebun?" tanya Itachi, memecah keheningan.

"Eh—apa?" Sakura mengerjap, terkejut karena tiba-tiba diajak berbicara.

Itachi mengulas senyum tipis. Maklum. "Kau suka berkebun?" tanyanya mengulangi.

"Oh—um ... lumayan," Sakura menyahut bingung. "Memangnya kenapa, Kak?"

"Ah, tidak apa-apa." Itachi kembali berkonsentrasi pada jalanan yang mulai lengang di depannya. "Sekarang kita akan pergi ke perkebunan milik Akatsuki. Zetsu memberitahuku hari ini kami akan memanen apel."

"Ah ..." Sakura mengangguk-angguk, seraya mengulas senyum yang sedikit dipaksakan. "Kedengarannya menyenangkan," tambahnya, mencoba terdengar antusias.

"Memang. Itulah sebabnya setiap panen apel atau stoberi, kami selalu membuka untuk umum. Kadang-kadang—Zetsu pernah bercerita padaku—ada rombongan anak sekolah yang sengaja datang."

"Aah ... seperti Senju Farms di Konoha?" Sakura teringat wisata memetik buah yang diikutinya bersama teman-teman sekelasnya saat masih di sekolah dasar.

Itachi tertawa kecil. "Ya, kurang lebih. Tapi tentu saja tak sebesar dan selengkap Senju Farms. Sebagian besar hasil kebun kami hanya dikirim untuk keperluan restoran kami juga. Hanya sebagian kecil yang dijual."

Sekali lagi Sakura hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, tidak tahu harus berkomentar apa. "Omong-omong, Kak Hana dan yang lainnya kenapa tidak ikut?" tanyanya kemudian.

"Hana sedang mengunjungi klinik hewan milik teman kampusnya dengan Kiba—tadi aku baru mengantar mereka," jawab Itachi tanpa mengalihkan konsentrasinya pada jalanan di depannya. "Tapi nanti mereka akan menyusul dengan Kisame dan yang lain. Kami akan mengadakan semacam acara reuni kecil di sana."

"Eeh—a-apa aku tidak mengganggu?"

Itachi mendengus tertawa. "Sama sekali tidak. Jangan khawatir." Ia lalu melirik gadis di sebelahnya. "Aku malah berencana mengajak Sasuke dan yang lain juga. Aku akan meminta Kisame sekalian menjemput mereka nanti."

Sakura hendak membuka mulut untuk memprotes, tapi segera mengurungkan niatnya. Dan sebagai gantinya, gadis itu menunduk dan menggigit bibir. Kedua tangannya saling remas di pangkuannya.

Cepat atau lambat, aku toh harus berhadapan dengan Sasuke. Tidak mungkin menghindarinya selamanya. Lagipula, siapa aku bisa seenaknya melarang Kak Itachi mengajak adiknya?

Itachi yang menyadari perubahan air muka Sakura, bertanya khawatir, "ada apa, Sakura? Ada sesuatu yang mengganggumu?"

"T-tidak ada apa-apa, Kak," Sakura buru-buru menjawab.

Hening sejenak sementara Itachi mengawasi Sakura yang kini kembali memandang ke luar jendela dari sudut matanya. Meski merasa gadis itu tidak mengatakan hal yang sebenarnya, Itachi memutuskan dirinya tidak cukup memiliki hak untuk ikut campur.

Menghela napas pelan, Itachi mengembalikan fokusnya pada jalanan di depannya. Sekarang mereka sudah meninggalkan wilayah pantai yang ramai dan memasuki wilayah dataran tinggi yang lebih lengang. Pemandangan garis pantai berpasir putih dan permukaan laut yang biru berkilauan telah menghilang di balik terowongan panjang yang mereka lewati, dan digantikan oleh pemandangan deretan pepohonan, lahan pertanian yang menguning, lalu hamparan kebun apel dan berry yang luas dengan latar belakang berbukitan yang spektakuler.

Perubahan suasana itu mau tak mau segera menyedot perhatian Sakura. Gadis itu memang telah membaca dan mencari tahu di internet tentang sisi lain Kiri yang ini, namun ia tak pernah berpikir untuk pergi ke sana musim panas ini karena letaknya yang cukup jauh—Yamato pasti tidak akan mengizinkan kalaupun Sakura ingin pergi—Tiba-tiba saja disuguhi pemandangan luar biasa itu membuat perhatiannya sejenak teralih dari Sasuke.

"Indah, ya?" celetuk Itachi, melihat ekspresi takjub di wajah gadis di sampingnya.

"Hm ..." Sakura mengangguk setuju, tanpa melepaskan pandangan dari deretan bukit terjal di kejauhan. Terkesan menyeramkan, tapi tetap saja indah.

"Di luar musim panas, perbukitan itu hampir selalu tertutup kabut. Itulah mengapa daerah ini dinamakan Kiri—kabut—Konon dulunya, kawasan di tengah-tengah perbukitan itu adalah pusat kehidupan di Kiri. Tetapi kemudian orang-orang mulai berpindah ke wilayah yang lebih banyak mendapatkan sinar matahari di dekat laut. Sementara tempat itu sekarang dibiarkan kosong dan menjadi semacam kota mati."

"...dan disebut-sebut menjadi tempat paling berhantu di negara ini," sambung Sakura, nyengir. "Aku pernah membaca tentang itu di internet."

Itachi terkekeh kecil. "Ternyata yang dikatakan Sasuke benar, kau banyak membaca, jadi tahu banyak hal."

Mendengar nama Sasuke disebut, Sakura merasakan wajahnya menghangat. "A—apa Sasuke suka membicarakanku?" gadis itu tak bisa menahan dirinya bertanya—dan langsung disesalinya, karena saat berikutnya Itachi menoleh memandangnya dengan kedua alis terangkat. Sakura buru-buru berpaling, menghindari tatapan kakak Sasuke itu.

"Yah ..." Itachi dengan cepat mengatasi keterkejutannya. Ekspresinya melembut. "Kadang-kadang dia membicarakan teman-temannya, termasuk Sakura. Sasuke bilang, kau itu seperti perpustakaan berjalan."

"Begitu, ya?" Sakura bergumam pelan, bimbang harus bereaksi seperti apa. Memangnya apa sebenarnya yang ia harapkan?

Itachi masih mengawasi dari sudut matanya selama beberapa saat lagi, sementara Sakura memandang keluar jendela dengan mata menerawang. Gadis itu tersentak dari lamunannya ketika ia merasakan sesuatu yang lembab menyentuh pipinya. Ternyata Rufus. Anjing itu meletakkan kedua kaki depannya ke bahu jok yang ia duduki, sembari mengendus telinga Sakura dengan penuh sayang. Membuat gadis itu tertawa kegelian.

"Sepertinya Rufus memang suka sekali padamu, ya?" komentar Itachi terkekeh. "Nah, kita hampir sampai," beritahunya kemudian, ketika mereka berbelok keluar dari jalan raya dan memasuki sebuah tanah perkebunan.

Tak lama kemudian mereka berhenti di depan sebuah pondok khas perkebunan berlantai dua. Di halaman depan pondok, terparkir sebuah pick up berwarna hitam dan mini cooper merah yang Sakura ingat pernah digunakan salah seorang teman Itachi saat ia dan teman-temannya mengunjungi villa mereka tempo hari. Dan di sanalah Itachi memarkirkan mobilnya.

Ketika mereka turun dari mobil, seseorang keluar dari pondok menyambut mereka. Laki-laki itu berambut hijau, dan mengenakan setelan yang biasa dikenakan pekerja perkebunan: kemeja kotak-kotak, jins overall yang sudah agak lusuh dan sobek-sobek di bagian lutut, serta sepatu boots.

"Zetsu!" Itachi menyapa kawannya.

"Itachi!" Laki-kali bernama Zetsu itu menyambut dengan senyum lebar, seraya membuka kedua lengannya yang berotot. Kedua teman lama itu lalu saling memberikan pelukan singkat dan melakukan high-five. "Lama tak bertemu, rambutmu semakin panjang saja, eh?"

Menanggapi komentar itu, Itachi hanya tersenyum simpul. "Kau sudah bertemu anjingku, Rufus?"

"Ah, ya. Anjing legendaris." Zetsu membungkuk untuk menyapa Rufus, menepuk kepalanya pelan. "Sasori sudah menceritakan kisahnya padaku. Jadi ..." laki-laki itu memandang ke belakang Itachi. Matanya yang berwarna kuning kehijauan menatap Sakura penuh minat. "... ini pasti Hana, si dokter hewan cantik yang berhasil menaklukkan hati Pangeran Uchiha ini. Wah, dia lebih muda dari yang kubayangkan."

"Eh?" Sakura mengerjap bingung, saat Zetsu menyodorkan tangannya dan memanggilnya dengan nama kekasih Itachi.

"Dia bukan Hana," kata Itachi dengan nada geli—entah karena temannya yang sok tahu atau karena reaksi bingung Sakura—"Dia adikku."

"Eh—adik?" Seringai di wajah Zetsu lenyap seketika, digantikan ekspresi bengong ketika ia menatap Itachi dan Sakura bergantian. "Terakhir kali kuingat Sasuke itu laki-laki, kan?" semburnya bingung.

Tampang Itachi seperti menahan tawa. "Tentu saja dia bukan Sasuke. Namanya Sakura Haruno, temannya Sasuke."

"Hoo ... maksudmu adik ipar?" Zetsu menangguk-anggukkan kepalanya. "Boleh juga bocah nakal itu. Lumayan juga ... Halo, Sakura."

Sakura yang tak tahu harus berkata apa, hanya meringis ketika Zetsu mengguncang-guncang tangannya. Wajahnya merona merah. Sementara Itachi tampaknya tak berniat mengoreksi pernyataan Zetsu tentang 'adik ipar' itu.

"Semakin lama kau semakin mirip pamanku," komentar Itachi. "Di mana dia?"

"Tobi?" Zetsu kembali berpaling pada Itachi. "Dia di dalam. Pein dan Konan sedang melihat-lihat kebun, aku baru mau menyusul mereka. Omong-omong, kukira Hana ikut denganmu."

"Dia akan menyusul dengan Kisame dan yang lain," jelas Itachi.

Setelah berbasa-basi beberapa saat lagi, mereka lantas berpisah. Itachi mengajak Sakura masuk ke dalam pondok, sementara Zetsu pergi ke kebun untuk menyusul kedua teman mereka yang lain.

Suara dentuman musik dari stereo set menyambut mereka begitu Itachi dan Sakura memasuki bagian dalam pondok. Kesan pertama Sakura ketika pertama kali melangkahkan kaki memasuki pondok itu adalah seperti memasuki sebuah pondok berburu. Sebuah pajangan kepala rusa jantan besar menyeramkan tergantung di atas perapian yang padam, bersama beberapa pucuk senjata laras panjang—yang Sakura yakin hanya berfungsi sebagai hiasan saja, jika dilihat dari tebalnya debu yang menempel di permukaannya.

Gadis itu lalu mengedarkan pandangannya dan mendapati tempat itu agak berantakan. Kartu-kartu permaian poker berserakan di atas meja bersama kaleng-kaleng minuman kosong, asbak rokok dan cangkir kopi yang isinya tinggal setengah. Bantal-bantal duduk berserakan di mana-mana, kemeja kusut dan selimut tersampir asal saja di punggung sofa.

"Selamat datang di rumah bujangan," gumam Itachi sambil menghela napas, menendang minggir sebuah bantal duduk yang menghalangi jalannya.

Ia lalu mengambil salah satu remote yang tergeletak di sofa dan menekan salah satu tombolnya. Suara musik yang kencang langsung terhenti, membuat suara laki-laki yang sedari tadi bernyanyi keras-keras entah di mana terdengar lebih jelas. Namun tak berlangsung lama. Suara nyanyian fals itu langsung berhenti, dan seorang laki-laki jangkung berambut gelap muncul dari balik pintu yang terdapat di bagian belakang ruangan itu—pintu dapur.

Laki-laki itu mengenakan celemek dengan motif awan merah di bagian dada, dan sarung tangan oranye cerah membungkus tangannya yang tengah memegangi loyang berisi sesuatu yang kelihatannya seperti kue muffin. Aroma manis cokelat menguar di udara.

Sejenak Sakura dibuat terperangah menatap wajah laki-laki itu, yang setengahnya dipenuhi codet mengerikan—bahkan Rufus pun menyalak padanya—sebelum cengiran lebar terbit di wajah itu, membuat kesan seramnya jauh berkurang.

"SEPUPU!" serunya, seraya melempar loyang dan sarung tangannya di atas meja pantri dan berlari keluar untuk menyambut Itachi. Laki-laki itu melempar kedua tangannya memeluk Itachi agak terlalu antusias, sehingga nyaris membuatnya terjungkal. "Lama tak bertemu. Aku kangeeeen!"

Melihat tingkah kekanakan laki-laki dewasa yang tak ia kenal di hadapannya, Sakura hanya bisa meringis. Di dekatnya, si retriever menggeram galak—barangkali mengira tuannya berada dalam ancaman, mengingat sekarang praktis lelaki itu setengah mencekik Itachi dengan pelukan beruangnya, membuatnya hampir kehabisan napas.

"EEEK! APA INI?!" lelaki itu berseru kaget, serta-merta melepaskan Itachi ketika Rufus tiba-tiba menyalakinya lagi. "Anjing siapa itu, Itachi?!" tanyanya penuh kengerian seraya menyembunyikan diri di balik tubuh Itachi, menjadikannya tameng dari si anjing.

"Anjingku," sahut Itachi sedikit terengah, tampak lega setelah terbebas dari pelukan bar-bar temannya, sekaligus geli melihatnya begitu ketakutan pada Rufus. "Tenang, Boy—tidak apa-apa," ujarnya pada si anjing, dan Rufus langsung berhenti menyalak dan duduk dengan tenang di lantai batu. "Tobi, ini Rufus. Ruf, ini Obito Uchiha, pamanku dan Sasuke."

"Sepupu," laki-laki bernama Obito itu mengoreksi.

"Kau sepupu ayahku," kata Itachi kalem, "jadi secara teknis, kau pamanku."

Tobi memasang tampang sebal. "Kalau kau memanggilku 'Paman', kesannya aku tua sekali."

"Tetap saja kau pamanku."

"Kita kan sebaya! Aku juga belum tigapuluh tahun!"

"Itu tidak mengubah keadaan."

"Aku benci padamu."

"Hn. Terima kasih," Itachi menyahut geli, lalu berpaling pada Sakura yang sedari tadi bengong saja menonton perdebatan tak penting dua kerabat itu, merangkul pundaknya akrab, membawa gadis itu mendekat. "Nah, perkenalkan. Gadis ini Sakura Haruno. Sakura, ini—"

"—sepupu Itachi," sambar Obito cepat sebelum Itachi menyelesaikan kalimatnya. Cengiran yang mengingatkan Sakura pada Naruto kembali menghiasi wajahnya ketika laki-laki itu menyambar tangan Sakura dan mengguncangnya seperti yang tadi dilakukan Zetsu. "Namaku Obito Uchiha. Tapi kau bisa panggil aku Tobi saja. To-bi, seperti kau melafalkan Tobey Maguire," tambahnya.

"Dia terobsesi pada Spiderman," bisik Itachi pada Sakura, cukup keras sehingga Obito bisa mendengarnya.

Sakura mengatupkan bibirnya, menahan diri untuk tak mengikik. Meski begitu sepertinya Obito—Tobi—tidak begitu keberatan. Ia hanya mengangkat bahunya dengan lagak tak peduli, berkacak pinggang, lalu berkata dengan nada ceria, "jadi ini pacar barumu, Itachi? Kukira nama pacarmu Hana, bukan Sakura. Hee ... sekarang kau sudah jadi playboy, ya? Ck. Dasar ... apa yang akan dikatakan Fugaku kalau dia tahu kelakuan anak kebanggaannya ini, eh? Apalagi kelihatannya dia masih remaja. Berani taruhan, dia pasti masih sekolah. Harusnya gadis seusia ini lebih cocok dengan Sasuke. Kau ini benar-benar keterlaluan—"

Tobi mengatakannya dengan begitu cepat sampai-sampai Sakura hanya bisa ternganga seperti orang tolol. Wajahnya merona—lagi.

"Dan kau masih saja suka asal bicara," sela Itachi kalem. Ia sama sekali tak tampak kesal. Sebaliknya, ia tersenyum penuh arti saat menambahkan, "dia teman Sasuke. Sudah kuanggap seperti adikku sendiri."

Sakura merasakan tangan Itachi mengusap lembut rambut di belakang kepalanya saat mengatakan itu, seperti yang kerap dilakukan Yamato padanya—seperti seorang kakak.

"Oh, bilang dari tadi dong," gelegar Tobi sambil tertawa. "Dan kau sekarang sudah berani mengaku orang lain sebagai adikmu, ya? Coba saja kalau Sasuke mendengarmu berkata begitu. Dia kan sangat cemburuan. Mana mau dia berbagi kakak tersayangnya dengan orang lain, eh? Akatsuki saja dia anggap musuh bebuyutan dari dulu—"

"Oh, Sasuke sudah banyak berubah sekarang," Itachi menyelanya enteng. "Aku yakin dia tidak akan keberatan. Benar, kan, Sakura?"

"Eh—er ..." Terkejut karena tiba-tiba ditanyai, Sakura tak tahu harus berkata apa.

"Tidak keberatan?" Tobi tampak terheran-heran menatap gadis pemilik rambut merah muda di hadapannya itu. "Wah ... kau pasti berarti sesuatu untuk Sasuke, eh, Gadis Kecil?"

"Um ..." Sakura tanpa sadar menarik-narik ujung kausnya, gugup.

"Yeah, kurang lebih seperti itu," Itachi menyahut.

Senyum di wajah Tobi mengembang sekali lagi, membuat kerutan di bekas lukanya terlihat semakin dalam. "Nah, sebagai ucapan selamat datang, aku punya sesuatu untukmu."

Itachi dan Sakura—dan Rufus—membuntutinya ketika Tobi berlari kembali ke dapur—tempat itu tak kalah berantakannya dari ruang tengah—Tobi dengan gesit melesat ke loyang kue muffin-nya di atas meja pantri, mencongkel salah satu kue yang sudah jadi dari dalam cetakannya—"Aw, aw, aw ... puanas!"—dan menyodorkannya dengan riang pada Sakura. "Tobi yang bikin sendiri, lho!" cetusnya ceria, nyaris seperti anak kecil.

"Um ... trims." Sakura memandang ragu pada kue yang tampilannya sangat tidak menarik itu, sebelum mengambilnya. Ia melirik Itachi yang juga sudah mengambil satu kue untuk dirinya sendiri, memerhatikan ketika kakak Sasuke itu menggigitnya. Kedua alisnya terangkat saat mengunyah kue itu. Meski demikian, Itachi tak berkomentar apa-apa.

"Kenapa tidak dimakan? Tidak suka muffin, ya?" tanya Tobi tanpa berusaha menutup-menutupi ekspresi kecewa di wajahnya saat melihat Sakura belum menyentuh muffin-nya.

"Eh—s-suka kok." Sakura mengangkat kue itu ke mulut, lalu menggigitnya. Sebenarnya rasanya lumayan—hanya terlalu manis untuk seleranya—jika saja tidak sekeras batu.

"Bagaimana?" tanya Tobi antusias, sementara Sakura berjuang menggigit kue itu untuk membebaskan giginya yang tersangkut.

Ketika akhirnya Sakura berhasil menggigitnya, gadis itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa berkomentar. Lidahnya terlalu sibuk menyingkirkan kue yang tersangkut dan melekat bandel di sela-sela giginya. Meski begitu, Tobi tampak puas.

"Tobi sengaja bikin banyak karena hari ini adalah acara berkumpul Akatsuki!" pria itu mengumumkan dengan gembira. "Sudah lama kita tidak berkumpul, kan, Itachi?"

"Hmm ..." Itachi mengangguk-anggukkan kepalanya, seraya menyambar gelas dan mengisinya dengan air dingin dari kulkas, lalu menenggak isinya.

"Tapi Hidan kelihatannya tidak senang," tambah Tobi agak murung, seraya berbalik dan kembali berkutat dengan adonan muffin lain yang siap dipanggang. "Begitu datang dia langsung ke belakang untuk merokok. Kukira dia sudah berhenti. Merokok berbahaya untuk paru-paru—Konan selalu bilang begitu."

"Dia merokok hanya untuk menarik perhatian Konan," gumam Itachi, meletakkan kembali kue dan gelasnya di atas meja. "Kalau begitu aku mau mengajak Sakura ke kebun. Kau teruskan saja ... er ..." ia mengedarkan pandangnya ke atas meja pantri yang berantakan, menyeringai kecil—"... kegiatanmu."

"Hei, Itachi," Tobi memanggilnya saat Itachi hendak keluar dari dapur. Ia menatap Rufus yang entah sejak kapan meletakkan kedua kaki depannya di atas meja pantri dan mengendusi kue yang ditinggalkan sang tuan dengan penuh minat. "Bisakah kau bawa anjingmu keluar dari sini?"

"Kelihatannya dia tertarik pada kuemu," komentar Itachi geli. "Kau mau kue itu, Boy?"

Rufus mencaplok kue itu dengan moncongnya sebagai jawaban, lalu membawanya keluar dari dapur. Itachi terkekeh geli.

"Sepertinya kau mendapat penggemar baru."

Tobi meringis. Sakura tak tahan untuk tidak nyengir melihat tingkah lucu si anjing. Tak heran Sasuke sangat menyayangi anjing itu.

Sasuke ...

Senyum di wajah Sakura sedikit memudar ketika mereka melangkah meninggalkan pondok. Gadis itu menggigit bibir, merasakan jantungnya kembali berdegup tak karuan ... hanya karena teringat pada Sasuke.

"Sakura, kau benar-benar dalam masalah besar ..." gumamnya pada dirinya sendiri.

"Ya?" Itachi berhenti dan menoleh padanya dengan kedua alis terangkat tinggi, "kau mengatakan sesuatu, Sakura?"

"Eh—" Sakura mengerjap. "T—tidak," sahutnya cepat-cepat seraya menggeleng.

Itachi menatapnya keheranan selama beberapa saat lagi, dan Sakura bisa merasakan wajahnya kembali memanas. Gadis itu lantas buru-buru berpaling.

Mengapa Kak Itachi harus mirip sekali dengan adiknya, Ya Tuhan?

"Kau yakin baik-baik saja, Sakura?" tanya Itachi dengan nada khawatir, "wajahmu merah sekali."

"I-ini cuma karena kepanasan," Sakura menyahut. Ia mengeluarkan tawa canggung seraya mengibas-ngibaskan tangannya untuk mengipasi dirinya sendiri. "Panas sekali di sini, ya? Hahaha..."

Sakura menghela napas lega ketika Itachi memutuskan tak memperpanjang pembicaraan. Kakak laki-laki Sasuke itu hanya tersenyum kecil dan berkomentar tentang cuaca yang memang sedang panas-panasnya, sebelum mereka melanjutkan perjalanan. Itachi mengajaknya mengitari pondok, melewati sebuah kebun sayur, greenhouse yang berisi berderet-deret tanaman stroberi dan tomat, sebuah bangunan semacam gudang besar bercat putih, sebelum akhirnya mereka sampai di kebun apel yang luas.

Gadis itu ternganga memandangi deretan pohon apel yang rimbun di harapannya. Buah-buah apel berwarna merah kekuningan segar bergelantungan di setiap dahan pohon yang berderet di sana, menggoda untuk dipetik. Dan di sanalah mereka menemukan Zetsu bersama kedua teman Itachi yang lain, Pein dan Konan. Rupanya mereka sudah lebih dulu memulai memetik apel tanpa menunggu yang lain.

"Apa boleh buat," mereka bisa mendengar Pein berkata sambil tertawa, "Konan sudah gemas melihat apel-apel ini."

"Apa?" wanita berambut biru pendek itu memprotes. Ia memelototi Pein, kedua tangan di pinggul. "Bukannya tadi kau yang gemas dan ingin cepat-cepat memetik mereka? Kenapa jadi aku?"

Pein mengabaikan protes tunangannya itu. Dengan penuh semangat—nyaris seperti anak kecil—laki-laki berambut oranye cerah itu mulai memetiki lebih banyak apel, sebelum melemparnya asal saja ke dalam keranjang yang diletakkan di atas kereta dorong.

"Hei, jangan dilempar-lempar begitu! Nanti kau bisa merusak apelnya!" Zetsu berseru jengkel pada Pein. "Aku tak sudi dapat masalah dengan Kakuzu hanya gara-gara apel rusak."

"Ups. Sori." Pein terkekeh-kekeh.

Melihat kelakuan kekasihnya itu, Konan memutar bola matanya. "Pekerjaan di rumah sakit yang gila-gilaan membuatnya sedikit senewen. Jadi maklumi saja," ujarnya pada Zetsu. "Oh—Itachi! Kau sudah datang?"

"Kelihatannya kalian sedang bersenang-senang, eh?" Itachi menyapa teman-temannya.

"Yeah," sahut Pein, menoleh pada sahabatnya. Sebelah alisnya terangkat mendapati Itachi tidak sendirian. "Hei, hei, siapa ini gadis manis yang kaubawa ini, Itachi? Dia yang kemarin itu, kan? Teman adikmu?"

"Namanya Sakura," Konan mengingatkan, lalu melempar senyum hangat pada Sakura. "Halo, Sakura."

"Um ... hai," sahut Sakura canggung.

"Kalian datang berdua saja? Kenapa aku tidak melihat yang lain?"

"Hn," Itachi menyela sebelum Sakura sempat membuka mulut untuk menjawab, sembari meletakkan tangannya di bahu Sakura. "Sasuke dan yang lain akan menyusul bersama Kisame dan Hana nanti. Tadi kami tak sengaja bertemu di jalan, jadi kuajak saja kemari."

"Aah ..." Konan mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian ekspresinya berubah saat memerhatikan cara Itachi merangkul gadis muda itu. Sepasang mata amber miliknya menyipit curiga. "Tunggu dulu. Kau tidak sedang bermain-main dengan gadis lain di belakang Hana, kan?"

"Eeh?"

"Astaga, Itachi," Pein membulatkan matanya, berlagak terkejut—sementara sudut bibirnya berkedut menahan cengiran—"Aku tidak menyangka kau tega menusuk adikmu sendiri dari belakang. Bukankah kemarin kau bilang Sasuke—"

"Hei, hei, hentikan itu!" Itachi buru-buru menyela mereka, tampak agak jengkel. "Sakura sudah seperti adikku sendiri—oh, ya ampun. Kalian ini benar-benar menyebalkan." Kakak lelaki Sasuke itu menghela napas ketika teman-temannya mulai menertawakannya. "Jangan hiraukan mereka, Sakura."

"Entahlah, Itachi," kata Konan, tersenyum geli, "sejujurkan aku agak ngeri melihatmu bersikap begitu lembut dan baik hati pada perempuan seperti sekarang. Dulu kau judesnya minta ampun."

"Sebenarnya Itachi tidak judes," kata Pein, melempar seringai licik pada Itachi, "cuma sok cool di depan Konan-ku. Sayangnya, kau hanya melihatku. Benar kan, Darling?" laki-laki itu mengedip pada kekasihnya.

Konan tidak menyahut, hanya meleletkan lidah pada Pein. Wajahnya bersemu merah muda.

"Jangan mulai—" protes Itachi, merasa tak nyaman setiap kali teman-temannya mulai mengungkit-ungkit masa lalu mereka.

"Yeah, dan dia kan juga harus menjaga image di depan cewek-cewek," timpal Zetsu, "bayangkan seorang anggota keluarga Uchiha, keluarga paling beken seantero Oto, suka cengengesan dan bersikap seperti orang tolol ..."

"Kedengarannya seperti Tobi," gumam Pein geli. "Imbisil."

"Mungkin itu alasannya dia tidak betah di Oto. Dia kan semacam Uchiha yang terbuang," kata Zetsu.

"Tidak keren sama sekali." Pein menggeleng-gelengkan kepalanya dengan dramatis.

"Forever alone."

Pein dan Zetsu terbahak. Itachi hanya tersenyum simpul, sementara Konan melempar pandang mencela pada kedua laki-laki itu.

"Kalian seharusnya mendukung Tobi, bukannya malah menertawakan di belakangnya! Bagaimanapun dia itu teman kita! Jadi siapa yang imbisil di sini?" omelnya. "Dan kau juga, Zetsu. Kau tidak lebih baik dari Tobi atau Kakuzu. Mana pacarmu? Seperti kau pernah berhasil menggaet perempuan saja."

Zetsu langsung berhenti tertawa. "Yes, Mommy. Sedang dalam pencarian," gumamnya cemberut.

"Sorry, Honey," kata Pein. Sudut bibirnya berkedut-kedut. "Jangan marah begitu, dong. Aku hanya bergurau. Tentu saja aku selalu mendukung Tobi. Kau ingat kan, aku pernah mencoba mencomblanginya dengan salah satu sepupuku?"

Menanggapi kata-kata Pein, Konan hanya memutar bola matanya dan menghela napas keras-keras.

Itachi tersenyum geli pada Konan. "Kau tak pernah berubah, ya? Selalu menjadi pembela pihak yang tertindas—kecuali aku."

"Padahal hampir semua orang tidak punya pasangan, tapi kenapa cuma aku yang dimarahi?" Zetsu bersungut-sungut sendiri, sembari berpaling dari Konan dan menyibukkan diri dengan memetiki lebih banyak apel.

"Aku tidak mengerti mengapa aku dulu bisa tahan bergaul dengan orang-orang macam kalian," gumam Konan, lebih pada dirinya sendiri.

Sakura, yang sedari tadi hanya menonton percakapan keempat orang dewasa itu, tak tahan untuk tidak meringis. Entah mengapa mereka sedikit banyak mengingatkannya pada dirinya sendiri dan ketiga sahabatnya.

"Menjadi satu-satunya perempuan itu sama sekali tidak mudah. Kau harus tahan mental, Sakura," ujar Konan pada Sakura.

"Eh—um ..." terkejut karena tiba-tiba diajak bicara, Sakura hanya mengangguk-angguk.

"Tapi kau lebih beruntung," Konan menambahkan sambil tersenyum, "teman-temanmu kelihatannya lebih manis."

Tak tahu harus berkomentar apa, Sakura tertawa canggung.

"Nah, bagaimana kalau kau bergabung bersama kami memetik apel sembari menunggu teman-temanmu datang?" kata Konan riang, seraya menghampiri gadis yang lebih muda darinya itu dan meraih tangannya. "Ayo. Jangan malu-malu. Biar kutunjukkan caranya."

Sakura melirik Itachi ragu, sebelum dengan canggung mengikuti desakan tangan Konan yang menariknya menuju ke salah satu pohon apel. Selama beberapa waktu Itachi hanya berdiri di sana, mengawasi gadis itu sementara Konan menunjukkan padanya cara memilih dan memetik apel yang benar. Dahinya berkerut samar. Kendati tidak mengenal Sakura sebaik Sasuke, ia bisa merasakan ada yang tidak beres dengan gadis itu.

Sakura terlihat gelisah dan tidak fokus. Air mukanya berubah-ubah, dan Itachi seringkali mendapatinya tengah melamun, seperti ada sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya. Dan ada satu hal yang paling menarik perhatian Itachi—Sakura terlihat malu setiap kali mereka menyinggung Sasuke. Wajahnya memerah dan ia tampak gugup. Ini tidak seperti Sakura yang biasanya. Itachi memiliki firasat, entah apa pun yang mengganggu Sakura, ada hubungannya dengan adik lelakinya.

Meski demikian, Itachi tak berani menyimpulkan macam-macam.

Menghela napas, Itachi lantas berpaling dan merogoh saku celananya, mengambil ponsel. Ada sesuatu yang perlu dilakukannya sekarang.

"Kau mau ikut, Ruf?" Itachi memanggil anjingnya yang sejak tadi asyik sendiri bermain-main dan mengendusi apel-apel tua yang berjatuhan di tanah.

Mendengar namanya dipanggil, golden retriever jantan itu mengangkat kepalanya.

'Woof!'

.

.

Sasuke hampir putus asa.

Entah sudah berapa lama waktu berlalu sejak mereka mulai mencari Sakura. Sekarang matahari sudah hampir menyentuh puncaknya, tetapi mereka belum sedikit pun menemukan titik terang di mana keberadaan gadis itu sekarang.

Dengan bantuan Yamato dan kawannya, Haku, juga Tazuna beserta menantu dan cucunya, mereka menyisir kota Kiri. Mereka berpencar mencari ke tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi selama di Kiri, menyusuri setiap distrik dan gang-gang panjang yang berlika-liku. Mereka bahkan sudah mencoba mencari ke wilayah yang lebih luas seperti ke daerah pesisir pantai. Tetapi hasilnya nihil. Sakura tak ditemukan di mana pun.

Rasa cemas mulai memuncak seiring matahari yang semakin meninggi, dan semua orang sudah semakin senewen. Bahkan Yamato yang semula berkepala dingin mulai kehilangan kesabaran—nada bicaranya mulai meninggi saat berbicara dengan Sasuke—Dan Naruto yang tak hentinya menyalahkan Sasuke tak membuat situasinya menjadi lebih baik.

"Kalau terjadi apa-apa pada Sakura, aku pasti akan memberimu pelajaran, Sasuke!" Naruto mendesis penuh ancaman ketika mereka menyusuri daerah tepi sungai yang dipenuhi turis.

Sasuke, yang terlalu lelah dan kesal untuk menanggapi ancaman yang dilontarkan Naruto untuk kesekian kalinya, memilih diam saja. Naruto sedang emosi, dan ika ia membalas, hanya akan menyulut pertengkaran yang tidak perlu. Dan itu adalah hal terakhir yang mereka butuhkan untuk menemukan Sakura.

"Tenanglah, Naruto," kata Sai sedikit tersengal, seraya menyeka keringat yang mengalir di pelipisnya yang pucat. "kita pasti akan menemukan Sakura. Dia tidak akan kenapa-kenapa."

"Sakura tidak ada bersama kita dan kau masih bisa bilang dia tidak kenapa-kenapa?!" bentak Naruto, mendadak marah pada Sai juga. "Bagaimana kalau Sakura ketemu orang jahat dan diculik dan ... dan—aaargh! Aku tak mau membayangkan hal buruk apa yang bisa terjadi di tempat yang penuh orang asing begini. Ini semua gara-gara kau, Sasuke! Kalau kau tidak mengajaknya pergi berduaan pagi-pagi buta, kejadiannya tidak akan seperti ini!" tudingnya pada Sasuke. "Jangan mentang-mentang kau suka padanya jadi kau merasa berhak membawanya pergi sesuka hatimu! Lihat sekarang akibatnya!"

Sasuke berhenti mendadak. Kata-kata Naruto begitu menusuknya sehingga selama beberapa saat emosinya nyaris meledak. Mata hitamnya mendelik marah pada Naruto. Kedua tangannya yang terkepal gemetar. Menyadari Sasuke menghentikan langkah, kedua kawannya ikut berhenti. Naruto membalas tatapan Sasuke, menantangnya.

"Apa?"

Mencium tanda-tanda akan terjadi keributan di antara kedua sahabatnya, Sai buru-buru menyela sebelum Sasuke sempat membuka mulut untuk membalas. "Kau mau menyalahkan Sasuke seperti apa pun tidak akan membawa kita menemukan Sakura, Naruto," ujarnya dengan nada jemu. "Aku tahu kau mengkhawatirkan Sakura—bukan cuma kau, aku dan Sasuke juga. Tapi bertengkar tidak akan menghasilkan apa-apa. Tenang. Yang kita butuhkan sekarang adalah berpikir dengan kepala dingin."

"Aaah—Sakuraaa ... sebenarnya kau ada di mana?! Kenapa ponselmu pakai acara mati segala sih?" Mengerang frustasi, Naruto mengacak-acak rambut pirangnya yang lembab karena keringat.

Mencoba menenangkan diri, Sasuke lantas memejamkan mata dan menarik napas dalam-dalam. Tangannya yang semula gemetar perlahan kembali rileks.

"Kau punya ide lain kemana Sakura kemungkinan pergi, Sasuke?" Sai menanyai Sasuke.

Dengan enggan Sasuke menggeleng. "Tidak. Kita sudah mencari ke semua tempat yang terpikir olehku." Ia menghela napas berat.

"Menurutmu apa kira-kira Yamato dan yang lain sudah menemukannya?"

"Kalau mereka belum menghubungi kita, berarti belum."

Kali ini giliran Sai yang menghela napas berat. "Yeah, semoga saja Sakura bertemu dengan seseorang yang kita kenal seperti waktu itu. Menurutmu apa kita perlu melapor poli—"

"Hei—hei, bisa jadi!" sambar Naruto menyela kata-kata Sai, mendadak seperti baru mendapat ide. "Mungkin dia bersama Gaara seperti waktu itu. Coba kau hubungi dia, Sai! Mungkin Gaara tahu di mana Sakura."

Sejenak Sai ragu. Jika Sakura bersama Gaara, temannya itu pasti akan memberitahunya. Tetapi kemudian ia memutuskan ide Naruto layak dicoba.

Sementara Sai mencoba menghubungi teman KAA-nya, ponsel Sasuke berbunyi. Cowok itu buru-buru mengangkatnya begitu melihat nama Yamato terpampang di layar.

"Kalian sudah menemukannya?"

"Belum," suara Yamato yang terdengar lelah menyahut dari seberang.

Sasuke mengumpat. "Sori," gumamnya kemudian pada Yamato.

Yamato tidak menggubrisnya. "Kuasumsikan kalian juga belum menemukannya."

"Yeah ..." sahut Sasuke. Di sebelahnya, Sai sedang bicara pada Gaara. Dari ekspresi wajahnya kemudian, sepertinya Gaara juga tidak tahu keberadaan Sakura.

"Dan ponsel anak itu juga belum aktif lagi," Sasuke bisa mendengar Yamato mendesah. "Jika dia tidak ada di sekitar sini, kemungkinan Sakura keluar dari kota."

Sasuke menggeleng pelan. "Tapi tadi kami tidak pergi sejauh itu—"

"Tapi kenyataannya Sakura belum ketemu juga, kan?!—Oh, ya Tuhan ... aku tidak ingin memikirkan kemungkinan terburuk."

Sasuke tak tahu harus merespon apa. Rasanya seperti ada sesuatu yang besar tak kasat mata bernama perasaan bersalah menggenggam kuat-kuat organ-organ dalamnya. Tepat saat itu terdengar nada panggil lain dari ponselnya. Kali ini nama dan foto sok keren kakak lelakinya—Itachi—terpampang di layar.

"Yamato, tunggu sebentar, ada panggilan masuk," Sasuke memberitahu Yamato, sebelum mengalihkan sambungan pada Itachi. "Ada apa?"

"Hei, Dik. Kau sedang apa?" suara Itachi menyahut dari seberang sambungan.

Sasuke menggeram tak sabar. "Dengar. Sekarang aku tidak punya waktu untuk berbasa-basi denganmu, Kak—"

"Oh, oke, oke. Aku akan langsung saja kalau begitu," sela Itachi. Nada bicaranya terdengar geli. Agaknya ia menyadari kegusaran dalam suara adiknya. "Tapi sebelumnya ... biar kutebak, kau mencari Sakura?"

Sasuke yang semula ogah-ogahan menerima telepon sang kakak, mendadak siaga. "Ap—bagaimana kautahu?"

Ia bisa mendengar Itachi terkekeh pelan. "Cuma menebak."

"Jangan main-main, Itachi Uchiha!" bentak Sasuke tak sabaran. "Apa kautahu di mana Sakura?"

Nama Sakura yang disebut Sasuke segera menarik perhatian Naruto dan Sai. Kedua cowok itu bergegas mendekati Sasuke.

"Apa? Apa? Sakura sudah ketemu?" cecar Naruto segera. Sepertinya ia sudah melupakan kemarahannya pada Sasuke sebelumnya. Sementara Sai menatapnya penuh harap.

"Hei, kau tidak memanggilku 'Kakak'!" kata Itachi, pura-pura tersinggung. Ia tahu jika Sasuke mulai memanggilnya dengan nama depan, berarti situasinya sudah benar-benar serius. Hanya saja ia tak dapat menahan diri—ia tak tahan jika melewatkan kesempatan untuk menggoda adik lelaki kesayangannya yang menggemaskan itu.

"Jawab saja pertanyaanku, Kak! Apa kautahu di mana Sakura?!"

"Yah ..." sahut Itachi lambat-lambat, membuat Sasuke semakin kesal, "bisa dibilang begitu."

"Sakura ada di mana?" Naruto menuntut, namun sekali lagi Sasuke mengabaikannya.

"Ada di mana dia sekarang?"

"Kau tenang saja, Sasuke. Sakura aman bersamaku."

"Dia ada bersamamu?"

"Aa ... tadi aku tak sengaja bertemu dengannya di jalan, jadi kuajak saja dia. Kau ini benar-benar tidak gentleman. Bisa-bisanya membiarkan seorang gadis berkeliaran seorang diri, eh?"

Mengabaikan komentar Itachi, Sasuke menatap teman-temannya, mengangguk. Senyum lega merekah di wajah Naruto. Sai menghela napas panjang seraya mengusap dadanya penuh syukur.

"Sekarang kalian ada di mana?"

"Hn ... kami ada di kebun apel."

Dahi Sasuke berkerut dalam. Letak kebun apel itu ada di mana, ia sama sekali tidak punya bayangan.

"Bisakah aku bicara dengannya?"

Jeda beberapa saat—Sasuke bisa mendengar salakan anjing dan obrolan samar orang-orang di belakang Itachi—sebelum akhirnya Itachi menjawab, "entahlah. Sepertinya Sakura tidak bisa diganggu. Dia sedang bersenang-senang memetik apel dengan Konan." Itachi terkekeh kecil. "Begini saja, kalau kalian mau menyusulnya kemari, kalian bisa ikut Kisame. Dia sudah kuberitahu. Datang saja ke galeri. Kisame akan menjemput kalian di sana."

Sasuke menyapukan tangan ke dahinya, menyisir rambutnya ke belakang. "Baiklah," desahnya.

"Hn. Jadi?"

"Kami akan ke sana."

"Hanya itu?"

Sasuke mengerutkan dahi tak mengerti, sebelum kemudian ia paham. "Hn. Trims, Kak," ucapnya, seraya memutar bola mata.

"Sama-sama, Adikku. Sampai ketemu, kalau begitu."

Sambungan dengan Itachi terputus, dan Sasuke langsung mengalihkan kembali pada Yamato. "Sakura sudah ketemu," beritahunya segera.

"Benarkah?—Oh, syukurlah!" suara Yamato terdengar terkejut, sekaligus lega. "Di mana dia sekarang?"

"Bersama kakakku—Itachi—Dia bilang mereka ada di kebun apel atau semacamnya."

"Kebun apel?" Jeda sejenak. Sasuke bisa mendengar Yamato bicara dengan seseorang di seberang. "Maksudmu kebun milik Akatsuki? Kalau tidak salah di sana ada kebun apelnya."

"Yeah. Mungkin saja—aku tidak tahu. Kami akan ke sana dengan Kisame."

Yamato tak langsung menjawab. Agaknya ia bimbang, jika didengar dari percakapannya dengan seseorang di belakangnya—sepertinya Haku—antara ikut mereka menyusul Sakura, atau pekerjaan mereka di restoran yang sudah menunggu.

"Oke," Yamato akhirnya berkata selang beberapa saat. "Kalau begitu kalian bertiga pergi saja. Ada sesuatu yang harus kukerjakan. Tapi segera beritahu aku kalau terjadi apa-apa, mengerti?"

"Hn."

"Dan bilang pada anak itu untuk menghubungiku kalau kalian sudah bertemu dengannya."

"Aku mengerti."

Sasuke kembali menatap kedua sahabatnya setelah Yamato memutuskan sambungan. "Sakura bersama kakakku di kebun Akatsuki—atau apalah," beritahu Sasuke. "Kita akan ke sana dengan Kisame. Dia akan menjemput kita di Galeri Akatsuki."

"Kalau begitu tunggu apa lagi? Let's go!" Naruto berseru penuh semangat. Cowok berambut pirang jabrik itu bergegas berlari mendahului kedua sahabatnya menuju tempat yang dimaksud.

Menyelipkan kembali ponselnya ke saku celana, Sasuke menghela napas keras. Perasaan khawatir yang membebani hatinya sebagian telah terangkat. Mengetahui Sakura aman bersama Itachi sungguh melegakan. Namun bukan berarti rasa kesalnya juga menghilang. Justru rasanya semakin menjadi-jadi.

"Benar-benar keterlaluan. Membuat orang cemas saja," gumamnya gusar, dalam hati bersumpah akan memberi gadis itu pelajaran jika mereka bertemu nanti. Ia lalu bergegas menyusul Naruto.

Sementara itu, Sai yang berjalan paling akhir, masih mengawasi Sasuke dengan penasaran. Ia masih bertanya-tanya dalam hati, apa sebenarnya yang membuat sahabatnya itu menyembunyikan alasan sebenarnya atas menghilangnya Sakura? Mengapa Sasuke tidak—atau mungkin lebih tepatnya, belum mau—berkata jujur padanya dan Naruto?

Ah, tapi toh mereka akan segera tahu.

.

.

Kisame sudah menunggu mereka dengan van-nya ketika Naruto, Sasuke dan Sai akhirnya tiba di galeri. Begitu juga dengan Deidara, yang menyambut mereka dengan omelan bernada sinis yang mengindikasikan dirinya sama sekali belum melupakan insiden kekacauan di studio miliknya hari sebelumnya. Namun ketiga remaja itu sama sekali tak memedulikannya.

"Jangan dengarkan dia," kata Kisame dengan nada geli, sementara laki-laki berpostur tinggi besar itu mengemudikan van perlahan menyusuri jalanan yang ramai oleh pejalan kaki. "Kelakuannya kadang-kadang memang persis cewek yang sedang PMS."

"SEMBARANGAN SAJA KAU BICARA!" sembur Deidara sewot. "Kau tidak harus bekerja keras membersihkan studio semalaman dan mereka sudah membuang-buang tanah liatku yang berharga!"

Kisame mendengus. "Kau hampir setiap hari menghancurkan tembikar-tembikar yang sudah jadi itu, apa itu tidak sama saja dengan membuang-buang tanah liat, eh?"

Deidara membuka mulutnya, tampak berang, namun tak ada sepatah kata pun yang keluar. Tampaknya ia kehabisan kata-kata, karena apa yang dikatakan Kisame adalah kebenaran. Akhirnya ia hanya menggeram jengkel dan memalingkan wajah ke jendela, memelototi orang-orang yang mereka lewati. "Kau sama sekali tak mengerti apa itu seni yang sebenarnya."

"Yeah, yeah ... terserah kau saja," sahut Kisame jemu. "Kita akan menjemput Hana dan adiknya dulu di Mizu-vet. Kalian tidak keberatan berdesakan sedikit di belakang, kan?" Kisame mengerling tiga remaja yang duduk di bangku belakang lewat kaca spion.

"Yeah, kami sudah terbiasa berdesakan kok," sahut Naruto, nyengir. Sasuke hanya menggerutu. Sai yang tak mendengar pertanyaan Kisame, tak menjawab.

"Itachi itu suka seenaknya sendiri," Deidara mendengus mencemooh. "Kenapa tidak dia sendiri yang menjemput? Merepotkan saja."

Kisame tidak menjawab, hanya menghela napas. Ia mengerti betul Deidara tidak pernah benar-benar menyukai Itachi, entah iri atau apa. Dan Deidara tak akan melewatkan kesempatan untuk mengkritik dan mencemooh kawan mereka itu.

"Tapi si dokter hewan itu boleh juga," komentar Deidara selang beberapa saat, seraya menyeringai, "Yah, walaupun tentu saja tidak secantik Konan, tapi dia seksi. Bagaimana menurutmu, eh, Kisame? Apa ada kemungkinan dia bisa berpaling padaku?—Maksudku, apa sih yang dilihatnya dari si Itachi?"

"Jangan coba-coba cari masalah, Dei," kata Kisame memperingatkan. "Itachi tak akan suka kalau dia tahu kau mengejar Hana."

"Aku tidak takut pada Itachi."

"Deidara!"

"Oke, oke. Aku cuma bergurau. Geez!" Laki-laki berambut pirang panjang itu memutar bola matanya, lalu tanpa sengaja melihat Sasuke melempar pandang marah padanya lewat kaca spion. "Berhenti menatapku begitu! Sudah kubilang, kan, aku cuma bergurau! Lagipula cewek itu sama sekali bukan tipeku—aku tidak suka hewan."

"Gurauanmu sama sekali tidak lucu," komentar Kisame sambil geleng-geleng kepala.

Deidara mengabaikannya dan menggerutu sendiri, "kakak adik sama saja menyebalkannya. Mereka pikir bisa mengontrol orang dengan tatapan seperti itu?"

"Nah, itu dia," kata Kisame setelah beberapa lama van melaju dalam keheningan. Ia memperlambat laju kendaraan dan menepi persis di depan sebuah klinik hewan. Hana, Kiba dan Akamaru keluar tak lama kemudian dari pintu depannya yang terbuat dari kaca tebal, ditemani seorang dokter hewan wanita berpostur mungil dan berambut jingga kemerahan panjang.

"Terimakasih sudah berkunjung, Hana," mereka bisa mendengar dokter hewan itu berkata pada Hana. "Mampirlah lagi kalau kau sempat. Ajak juga calon suamimu yang tampan itu."

Hana tertawa kecil. "Akan kuusahakan. Kisame, maaf sudah merepotkanmu," ucapnya pada Kisame ketika laki-laki itu turun dari van dan menghampirinya.

"Tidak masalah," Kisame menanggapi santai. Matanya yang kecil keperakan sejenak mengawasi teman Hana—dan rupanya wanita itu menyadarinya.

"Oh ya, Kisame. Kenalkan ini teman kampusku, Kaoru Momokawa," Hana memperkenalkan temannya. "Kaoru, ini Kisame Hoshigaki, teman dekat Itachi."

"Halo," sapa Kaoru seraya mengulurkan tangannya, tersenyum hangat.

"Salam kenal." Dengan agak kikuk Kisame menyambar uluran tangan wanita di depannya dan mengguncangnya, membuat tubuh Kaoru yang lebih kecil ikut berguncang-guncang. Namun tampaknya wanita itu tak begitu keberatan, ketika Kisame menahan tangannya sedikit lebih lama sebelum melepasnya. "Er—kita berangkat sekarang?" ujarnya pada Hana.

"Yah. Tentu."

Kisame baru saja hendak mengulurkan tangan untuk membuka pintu penumpang bagi Hana, ketika pintu itu menggeser terbuka.

"Oi! Ngapain kalian di sini?!" Kiba refleks berseru begitu melihat tiga remaja laki-laki yang dikenalnya. Jarinya menuding Naruto yang duduk paling dekat pintu. Akamaru menyalak.

"Apa?!" balas Naruto, nyengir. "Ada masalah?" Ia melompat turun dari van. "Kak Hana duduk di sini saja, biar aku pindah di belakang."

"Trims, Naruto," ucap Hana, sebelum kembali berpaling pada temannya. "Sampai jumpa lagi, Kaoru."

Kedua wanita itu berpelukan dan saling mencium pipi sebagai salam perpisahan, sebelum Hana naik ke van, menempati tempat kosong di samping Sasuke. Sementara Naruto naik ke bangku paling belakang bersama Kiba dan Akamaru, ribut saling lempar komentar mengejek seperti biasa.

"Hai, Deidara," sapa Hana ramah pada Deidara yang duduk di bangku depan, ketika Kisame menutup pintu van.

Deidara baru hendak membalas dengan gaya Don Juan-nya ketika tak sengaja menangkap tatapan Sasuke padanya. Akhirnya ia hanya membalas sekadarnya, sebelum berpaling kembali ke depan, bersungut-sungut sendiri. Hana yang sama sekali tak menyadari apa yang terjadi, ganti menyapa Sasuke dan Sai, bertanya-tanya mengapa Sakura tak bersama mereka.

Tak lama kemudian, van kembali melaju meninggalkan Mizu-vet menuju perkebunan milik Akatsuki.

.

.

Sementara itu di kebun apel milik Akatsuki, semakin siang suasananya semakin ramai. Beberapa waktu yang lalu, Sasori baru saja datang bersama ketiga keponakannya dan bergabung dalam acara memetik apel bersama bersama yang lain—Konan kembali ke pondok untuk membantu Tobi menyiapkan makan siang.

Untuk beberapa saat, tampaknya itu berhasil membuat perhatian Sakura teralih. Gadis itu tampak menikmati kegiatannya memetik apel sembari mengobrol dengan Temari, juga menertawakan Pein dan Kankurou yang membuat semacam perlombaan siapa yang paling cepat memenuhi keranjang dengan apel—yang berakhir dimarahi oleh Zetsu karena banyak memetik buah yang terlalu muda—Kendati kepanasan dan kelelahan, Sakura tampak lebih ceria dibanding sebelumnya.

Meletakkan apel-apel terakhir yang dipetiknya di dalam keranjang, Sakura menghela napas keras, lalu menyeka keringat yang membanjir di dahinya. Gadis itu mendongak seraya memicingkan mata, mendapati langit di atasnya begitu bersih tanpa setitik pun awan yang menghalangi sinar matahari yang membakar.

Sakura merutuki dirinya sendiri. Seandainya saja tadi ia membawa topi. Kekarang kepalanya mulai terasa pusing akibat sengatan sinar matahari. Ditambah, ia belum makan apa-apa sejak pagi kecuali segigit kecil muffin keras buatan Tobi.

"Oi, gadis kecil. Minggir!"

Sakura terlonjak mendengar bentakan suara kasar yang berasal dari seorang laki-laki berambut putih. Gadis itu mengerjap kaget, sama sekali tak menyadari keberadaan Hidan di sana. Ia lantas buru-buru minggir, supaya Hidan bisa membawa keranjang-keranjang yang sudah penuh apel itu pergi.

"Sikap kasarnya itu sama sekali tidak berubah."

Gadis berambut merah muda itu menoleh dan mendapati Itachi sudah berada di sampingnya, mengawasi Hidan yang tengah berkutat mendorong gerobak apel yang berat menuju gudang penyimpanan.

"Ini. Minumlah," kata Itachi kemudian, seraya mengangsurkan sebotol minuman isotonik dingin pada Sakura. "Kelihatannya kau membutuhkannya," tambahnya sambil tersenyum.

"Terimakasih." Sakura mengambil minuman itu, membuka tutupnya dan menenggak isinya dengan penuh syukur.

Melihat gadis di depannya minum dengan rakus seperti sudah tidak menikmati air selama berhari-hari, Itachi tak bisa menahan kekehannya. "Sepertinya kau benar-benar haus."

Sakura menurunkan botol minumannya, menyeka sisa cairan di bibirnya. Wajahnya bersemu merah saat menyadari kelakuannya yang sedikit bar-bar.

Itachi tersenyum kecil. "Kalau mau lagi, kau bisa ambil di sana." Ia menunjuk ke arah teman-temannya yang sedang istirahat dan minum-minum di dekat sebuah cooler box yang diletakkan di bawah salah satu pohon apel yang paling besar. "Sambil menunggu Zetsu kembali dengan pekerjaan tambahan untuk kita, kau istirahatlah dulu. Atau mau ikut aku ke pondok?"

"Hmm ..." Sakura mengedarkan pandangnya, mendapati Gaara dan kedua saudaranya sedang duduk santai sambil minum dan makan apel di bawah salah satu pohon, agak terpisah dengan para orang dewasa. "Aku di sini saja."

Itachi mengangguk. "Baiklah. Ruf, kau temani Sakura, ya," katanya pada anjingnya.

Seolah mengerti, golden retriever jantan itu menyalak dan mengibaskan ekornya, membuat Sakura terkikik kecil. Setelah Itachi pergi, Sakura bergabung dengan Sabaku bersaudara. Rufus mengekor di belakangnya.

"Hei," Sakura menyapa Gaara sebelum menyamankan diri duduk bersila di tempat kosong di sebelah cowok berambut merah itu.

"Hei," Gaara membalas. Sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk senyum tipis. Mata hijaunya sejenak mengawasi Rufus yang sibuk mengendus-endus entah apa di dekat kaki Sakura. "Anjing bagus. Milikmu?"

"Oh, bukan," sahut Sakura, tersenyum, seraya mengelus-ngelus bulu lembut di punggung Rufus setelah anjing itu akhirnya duduk melingkar di sampingnya. "Punya Kak Itachi—tahu kan, kakaknya Sasuke. Namanya Rufus."

"Ah." Gaara mengangguk-angguk, lalu mengulurkan tangan melewati Sakura untuk ikut membelai si anjing sebagai salam. Gaara baru ingat pernah melihat anjing itu di malam ia dan Naruto berduet di alun-alun. "Halo, Rufus."

Rufus menoleh ke arahnya, menatap penyapanya selama beberapa saat, sebelum akhirnya berpaling dan menggelindingkan sebuah apel yang sudah terjatuh di dekatnya dengan kaki depan, mengendusinya penuh minat.

"Mau apel?" Temari, yang duduk di sisi lain Gaara, menawari Sakura apel yang baru dikupasnya dengan pisau lipat.

Sejenak Sakura ragu, sebelum mengambil potongan apel yang ditawarkan Temari. "Trims."

Temari memberikan setengahnya lagi pada Gaara.

"Hei! Punyaku mana?" Kankurou memprotes kakak perempuannya.

"Berisik!" bentak Temari, "sudah berapa banyak apel yang kaumakan sejak tadi, eh? Masih kurang saja! Haah!"

"Biarin! Aku masih lapaaar!"

Temari memutar bola matanya. Meski begitu, ia tetap mengupaskan sebutir apel lagi untuk Kankurou.

Menyaksikan kelakuan kakak beradik itu, Sakura tak bisa menahan diri mengikik geli. Mengingat bagaimana sikap cool dan prefeksionis Kankurou saat cowok itu membantu Tenten di drama sekolah beberapa bulan yang lalu, melihat tingkahnya musim panas ini rasanya seperti melihat orang yang benar-benar berbeda. Atau mungkin Kankurou bersikap begitu supaya terlihat keren di depan Tenten? Entahlah...

"Hei." Suara Gaara mengalihkan perhatian Sakura dari Kankurou dan Temari.

"Ya?"

"Saat dalam perjalanan kemari, Sai meneleponku," Gaara memberitahunya, dan hati Sakura langsung mencelos. Rasanya ia bisa menebak apa yang akan dikatakan Gaara selanjutnya. "Dia mencarimu." –Benar, kan?

Sakura tak langsung merespon. Gadis itu berpaling, menunduk menatap potongan apel pemberian Temari di tangannya tanpa benar-benar memerhatikannya. Gaara bisa merasakan perubahan ekspresi Sakura, kendati masih ada sisa senyum di bibir gadis itu yang tak mencapai matanya.

"Kau ... tidak tersesat seperti waktu itu, kan?"

Lagi-lagi Sakura tidak menjawab, hanya mengeluarkan tawa yang terdengar dipaksakan. Kerutan samar muncul di dahi Gaara sementara cowok berambut merah itu menatap gadis yang duduk di sebelahnya itu. Sikapnya yang sedikit ganjil memancing rasa penasarannya, menggelitiknya untuk bertanya. Namun Gaara segera mengurungkan niatnya tersebut. Toh itu tak ada urusannya dengan dirinya. Akhirnya ia hanya berkata,

"Apa kau ingin aku memberitahu Sai? Kedengarannya tadi dia sangat khawatir."

"Aa—tidak perlu," sahut Sakura buru-buru, sebelum Gaara sempat mengeluarkan ponsel dari saku celana pendeknya. Gaara memandangnya bertanya. "Um ... K-Kak Itachi bilang, mereka akan segera kemari—maksudku, teman-temanku."

"Oh," kata Gaara selang beberapa saat, sambil mengangguk-anggukkan kepala. "Baiklah kalau begitu."

Sakura memberinya senyum sekilas, sebelum kembali menatap ke arah lain, menggigit bibir. Perasaan bersalah memenuhi hatinya memikirkan teman-temannya yang lain. Sai dan Naruto ... seharusnya sejak awal Sakura juga memikirkan keduanya. Mengetahui dirinya menghilang, mereka sudah pasti sangat cemas. Tetapi kepalanya hanya dipenuhi oleh Sasuke sehingga gadis itu melupakan mereka. Sekarang apa yang harus ia lakukan jika bertemu dengan mereka nanti? Apa yang akan ia katakan pada mereka?

Dan apa yang sudah Sasuke katakan pada mereka? Apakah Sasuke memberitahu mereka insiden itu?

Sakura menelan ludah dengan susah payah. Sekarang ia tidak hanya terjebak dalam sebuah masalah besar, tapi dobel masalah besar.

"Hei, kau tidak mau apelnya?" tegur Temari.

Gadis berambut merah muda itu tersentak dari lamunannya. "E—eh, i-iya," sahutnya tergagap-gagap, sebelum menggigit potongan apelnya.

Tak lama kemudian, Zetsu kembali membawa keranjang-keranjang kosong di atas kereta dorong yang lain. Dan kegiatan memetik apel pun dimulai lagi tanpa Konan dan Itachi. Namun kali ini Sakura tak dapat berkonsentrasi dan tak benar-benar bisa menikmati kegiatannya seperti sebelumnya. Pikirannya terus-terusan melayang ke tempat lain. Belum lagi sinar matahari yang semakin siang semakin terik membuat kepalanya pusing.

.

.

Akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Itachi Uchiha meletakkan kaleng minumannya di atas meja kayu di beranda depan pondok dan beranjak dari duduknya begitu van hitam Akatsuki memasuki halaman parkir. Seulas senyum tipis mengembang di wajahnya yang tampan.

"Perjalanannya menyenangkan?" tanyanya pada Hana, ketika ia membantu kekasihnya itu turun dari van.

"Yah ... tempat ini ..." Hana mengedarkan pandangannya berkeliling sambil tersenyum. Mata hitamnya bersinar, "... menakjubkan."

"Tentu saja," Kisame yang sudah turun dari van dan mendengarkan mereka, menimpali, "Kiri tidak kalah indah dari Konoha. Benar kan, Deidara?"

Itachi dan Hana hanya terkekeh kecil menanggapi kata-kata kawan baik mereka itu. Sementara Deidara yang baru saja melompat turun dari bangku depan langsung mencibir.

"Apanya yang indah? Kalau kalian mau melihat keindahan yang sesungguhnya, kalian harus datang ke Iwa. Kami punya air terjun tertinggi dan terindah di seluruh negeri, dan jumlahnya tidak hanya satu. Dan kami juga punya festival kembang api tahunan paling hebat—"

"Yeah, yeah," Kisame terkekeh-kekeh, "dan kau selalu bilang kau tidak betah tinggal di sana. Itulah sebabnya kau kabur."

Deidara mengabaikan komentar Kisame. Ia melirik Hana, melempar senyum simpatik. "Nah, bagaimana kalau kapan-kapan kau ikut aku melihat-lihat Iwa, eh, Inuzuka? Aku akan menunjukkan padamu betapa menakjubkannya tempat itu."

Hana mengangkat alisnya tinggi, agak terkejut dengan sikap Deidara yang mendadak manis padanya. Padahal sebelumnya laki-laki itu bersikap tak peduli. Sementara Itachi terlihat tak suka.

"Tak perlu repot-repot begitu, Dei. Aku yang akan mengantarnya ke mana pun Hana ingin pergi," ujarnya dingin, seraya meletakkan tangannya di bahu Hana dengan sikap protektif.

Deidara hanya menyeringai, sebelum menutup pintu depan van dengan keras dan berbalik pergi.

"Jangan terlalu diambil pusing," kata Kisame. "Kau tahu kan, membuatmu kesal adalah hobi favoritnya sejak dulu."

"Hn." Menghela napas, Itachi segera mengalihkan perhatiannya pada Sasuke dan teman-temannya yang baru saja turun dari van. Itachi baru saja membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu ketika Sasuke menyelanya cepat,

"Di mana Sakura?"

"Oh—dia ada di kebun," sahut Itachi, seraya menunjuk ke jalan di sisi pondok yang mengarah ke kebun.

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Sasuke bergegas pergi ke arah yang ditunjuk sang kakak. Naruto dan Sai, setelah berbasa-basi menyapa Itachi, segera menyusul di belakangnya. Kiba dan Akamaru juga ikut mengekor mereka.

"Kelihatannya ada yang sedang bersemangat sampai lupa menutup pintu," Kisame mengeluh pelan, seraya mengendikkan kepala pada pintu tengah dan belakang van yang ditinggalkan terbuka begitu saja oleh para remaja itu.

Itachi menyeringai kecil, namun tak berkomentar apa-apa. Rasanya ia bisa memaklumi tingkah adik dan kawan-kawan kecilnya itu. "Trims, sudah menjemput mereka, Kisame," ujarnya pada Kisame yang tengah berkutat mengambil sesuatu dari bagian belakang van.

"Yeah. No problem!"

Itachi lalu menggandeng kekasihnya menuju beranda pondok. "Konan sedang di dalam membuat makan siang," beritahunya, "atau kau ingin ke kebun memetik apel dengan yang lain?"

"Hmm ... sepertinya aku mau membantu Konan saja."

"Baiklah. Nanti kuperkenalkan kau dengan pamanku. Orangnya menyenangkan."

Kisame mengintip dari pintu belakang, memerhatikan sosok Itachi dan Hana menghilang di balik pintu pondok. "Oh, baiklah. Jangan hiraukan aku. Tak perlu repot-repot membantuku mengangkut kaleng-kaleng sialan ini ke dalam," gerutunya.

.

.

Tak perlu waktu lama bagi Sasuke untuk menemukan kebun apel yang dimaksud Itachi. Itu bagian yang mudah sebenarnya, karena kebun apel itu mencakup lebih dari separuh lahan perkebunan milik Akatsuki.

"Ya ampun ... seharusnya aku bawa kamera tadi," Sasuke bisa mendengar Sai bergumam pada dirinya sendiri ketika mereka melewati sederet pohon apel yang siap dipanen. Buahnya yang berwarna merah kekuningan bergelantungan di dahan-dahannya memang tampak sangat menarik untuk diambil gambarnya.

Tapi tak ada waktu untuk mengagumi apel—atau meladeni protes Kiba karena mereka berjalan terlalu cepat—Mereka harus memastikan Sakura baik-baik saja. Dan setelah menyusuri lebih dari setengah luas kebun apel, akhirnya mereka menemukannya.

Sakura tidak sendirian. Gadis berambut merah muda itu berdiri bersandar pada sebuah kereta dorong berisi beberapa keranjang besar berisi apel, mengipasi dirinya sendiri dengan tudung jaket merah yang diikatkan di pinggang. Tak jauh darinya, tampak Pein yang sedang memegangi tangga yang sedang dinaiki Sasori untuk mengambil apel-apel di dahan yang lebih tinggi, sementara Zetsu memandori mereka. Mereka juga melihat beberapa orang lain: Gaara dan kedua saudaranya, juga Hidan—yang lebih memilik merokok dan minum soda sambil menonton kesibukan yang lain ketimbang membantu.

Tetapi Rufuslah yang pertama menyadari kehadiran mereka. Anjing itu menyalak riang ke arah mereka, mengalihkan perhatian semua orang.

"Hei, ada tamu lagi," Pein refleks menyapa.

Namun ketiga remaja itu mengabaikannya. Perhatian mereka hanya tertuju para Sakura yang sekarang menampakkan ekspresi luar biasa kaget. Gadis berambut merah muda itu berdiri tegak, tampak tegang ketika menatap kedatangan teman-temannya dengan mata terbelalak.

Naruto tersenyum lebar, Sai menghela napas lega, tetapi Sasukelah yang pertama menemukan suaranya.

"Sakura!"

Sakura berjengi ketika melihat Sasuke berjalan cepat ke arahnya, dengan ekspresi campuran antara kesal dan lega. Gadis itu bisa merasakan jantungnya berdentum-dentum di rongga dadanya, memompa darah lebih banyak ke area wajah. Napasnya tercekat di tenggorokan. Kakinya refleks melangkah mundur.

"S—Sasu ..." –tidak. Tunggu dulu! Jangan mendekat! Aku tidak siap—aku belum siap!

"Saku—" Sasuke yang hendak memanggilnya lagi serta-merta membeku ketika gadis yang jaraknya tinggal beberapa langkah lagi darinya itu tiba-tiba berpaling, lalu berlari menjauh. Hatinya mencelos.

"Oi, Sakura!"

Sasuke masih bergeming ketika Naruto dan Sai berlari mendahuluinya mengejar Sakura. Ia terpaku, sama seperti ketika Sakura berlari meninggalkannya di jembatan tadi pagi. Kekesalan yang dirasakannya pada gadis itu mendadak sirna, digantikan perasaan kosong yang aneh.

Sementara itu Naruto yang kebingungan karena Sakura tiba-tiba lari, terus mengejar gadis itu bersama Sai. Untung saja lari Sakura tidak begitu cepat sehingga mereka bisa segera menyusulnya.

"Sakura!" Gadis itu refleks menjerit saat tangan Naruto menyambar bahunya dari belakang. "Hei, kau kenapa, sih?" tuntut Naruto, seraya menahan lengan Sakura supaya tidak kabur lagi, dan memaksa gadis itu berbalik.

Terengah—dan setengah gemetaran—Sakura balas memandang Naruto dan Sai bergantian. Melihat ekspresi panik di wajah sahabatnya itu membuat Naruto semakin bingung. Ia melirik Sai yang juga tampak sama bingungnya.

"Sakura, kau baik-baik saja?" Sai bertanya khawatir.

Sakura menatapnya nanar, menggeleng kecil. "A—Aku ..." kata-katanya terputus ketika mata hijaunya menangkap sosok Sasuke dari atas bahu Sai. Cowok itu tengah menatapnya dengan ekspresi tak terbaca. Sakura merasakan wajahnya seperti terbakar. Gadis itu lantas buru-buru mengalihkan pandangannya.

"Sakura?"

Sakura memandang Naruto lagi, kemudian Sai. Kepalanya terasa berputar. Telinganya berdenging sehingga hanya suara napasnya yang terengah yang terdengar jelas. Ia lalu melihat mata biru Naruto membulat. Ekspresinya terperanjat.

"Sakura!" suara Naruto seakan dari tempat yang sangat jauh, bergaung di telinganya. "Hidungmu berdarah!"

Sakura mengangkat tangannya, mengusap sesuatu yang hangat dan basah yang mengalir keluar dari hidungnya. Amis. Merah mengotori jemarinya.

"Oh, tidak ..." gadis itu bisa mendengar dirinya sendiri mengerang. Lututnya mendadak lemas. Tubuhnya limbung.

Seseorang menangkap tubuhnya sebelum ia terjatuh. Gaara. Ia mengatakan sesuatu, tapi Sakura tak bisa menangkap kata-katanya dengan jelas. Naruto berteriak panik. Sai mengulurkan sapu tangan untuk mengusap darah yang mengucur ke bibir dan dagunya. Orang-orang berlarian mendekat. Seseorang berambut oranye cerah membungkuk di atasnya—Pein. Dengan sigap laki-laki itu menyuruhnya menekan hidungnya dengan ibu jari dan telunjuk, dan bernapas lewat mulut.

"Kau bisa berdiri?"

Namun saat itu Sakura masih terlalu pusing untuk bangun. Kakinya terasa lemas dan tak bertenaga. Sebelum kemudian sepasang lengan kuat menyusup di bawah tubuhnya, dan saat berikutnya Sakura merasakan tubuhnya terangkat dari tanah dengan mudah seperti boneka.

Naruto dan Sai berlari-lari kecil menyamai langkah lebar Pein sementara laki-laki itu membawa Sakura kembali ke pondok. Dari bahunya yang lebar, Sakura bisa melihat sosok Sasuke. Tatapan cowok itu mengikutinya, namun ia tetap bergeming di tempatnya, tidak berusaha mengejarnya seperti yang dilakukan dua sahabatnya yang lain.

Sosoknya semakin lama semakin menjauh, sampai akhirnya tak terlihat lagi ketika mereka berbelok.

Saat itu Sasuke merasa seakan ada sesuatu yang besar dan dingin mencengkeram dadanya kuat-kuat, membuatnya sulit bernapas.

.

.

Sakura tak benar-benar memahami apa yang terjadi kemudian. Pikirannya mendadak kalut dan gelombang perasaan pedih yang menyerang hatinya membuatnya harus berjuang agar tidak meledak menangis. Gadis itu hanya memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya di bahu Pein ketika mereka tiba di pondok.

Sempat terjadi kehebohan saat itu.

Pein meneriakkan sesuatu. Orang-orang berlarian keluar dari dapur untuk melihat apa yang terjadi, dan terkejut ketika mendapati Sakura dalam gendongan kawan mereka—dengan mata terpejam dan hidung berdarah.

"Astaga—" Sakura bisa mendengar suara Itachi di antara yang lain, "dia kenapa? Apa yang terjadi?"

"Dia jatuh," Pein menyahut cepat, "kelihatannya tidak baik." Ia lalu melirik ke arah sofa di ruang tengah, berniat membaringkan Sakura di sana sebelum Tobi berseru menawarkan kamarnya di lantai dua untuk gadis itu beristirahat. Pein setuju.

Ketika Sakura membuka matanya, gadis itu mendapati dirinya berada di sebuah kamar yang asing berlangit-langit tinggi. Dindingnya terbuat dari kayu dan warna cokelat mendominasi. Di salah satu sisi kamar terdapat sebuah balkon yang ditutupi oleh pintu kaca, langsung mengarah ke luar. Tirai penutupnya yang berwarna putih agak kusam dibiarkan terbuka lebar sehingga menjadi akses bagi sinar matahari dari luar.

Pein lalu menurunkannya ke sebuah tempat tidur susun di seberang jendela, membantunya membuka sepatu sementara Tobi dengan gesit menumpuk beberapa bantal—yang sudah kempes dan keras karena sudah terlalu lama dipakai—di kepala tempat tidur untuknya. Itachi membuka pintu balkon dan membiarkan udara segar memasuki kamar.

"Masih pusing?" Pein menanyainya, tepat ketika Konan muncul dari pintu membawakan sekotak tisu dan es yang dibungkus selembar handuk kecil.

Sakura tidak menjawab. Sejujurnya ia masih agak pusing. Gadis itu mengambi es yang diangsurkan Konan padanya, mengompres hidungnya sementara kekasih Pein itu membantunya membersihkan noda darah di wajahnya dengan tisu. Tak lama kemudian Hana dan Kisame datang membawakan segelas limun dan makanan kecil berupa sepiring biskuit dan muffin cokelat buatan Tobi.

Butuh beberapa lama sampai akhirnya mimisannya berhenti, dan saat itu Sakura baru menyadari betapa penuhnya kamar tempatnya berbaring sekarang. Konan duduk di sisi tempat tidur, sementara Pein, Tobi, Itachi, Hana dan Kisame berdiri mengawasinya. Di belakang mereka, Sakura melihat Naruto dan Sai. Ekspresi di wajah semua orang hampir sama: khawatir.

Sakura bisa merasakan wajahnya memanas. Perasaan tak enak karena merasa telah merepotkan semua orang menohok hatinya, terlebih ketika ia melihat noda darah kecil mengotori bagian depan kaus yang dikenakan Pein. Meskipun Pein tampaknya tak begitu keberatan, tapi tetap saja ... ah, jika saja ada lubang yang mendadak muncul di bawahnya, dengan senang hati ia akan melompat ke dalamnya dan bersembunyi saking malunya.

"Sudah tidak apa-apa. Mimisannya sudah berhenti," Konan mengumumkan pada teman-temannya—langsung terdengar helaan napas lega—Mata amber-nya lalu menatap Sakura lembut. "Sebaiknya sekarang kau beristirahat. Kau membutuhkannya."

"T-terima kasih ..." cicit Sakura terbata-bata.

Setelah memberinya senyuman terakhir, Konan beranjak, mengumpulkan tisu bekas yang sebelumnya digunakan untuk membersihkan darah Sakura, lalu meninggalkan kamar. Pein dan Kisame menyusulnya kemudian.

"Seharusnya kau beritahu aku kalau kau tak enak badan, Sakura," ujar Itachi seraya menghela napas. Ada nada bersalah dari suaranya yang membuat Sakura tak enak hati.

"Aku tidak tidak apa-apa, Kak ... maaf," ucapnya pelan.

Itachi memberinya senyum tipis, lalu membungkuk untuk mengusap rambut di atas dahi gadis itu. "Seharusnya aku yang minta maaf. Istirahatlah." Ia menegakkan diri dan memandang Sai dan Naruto. "Kalau kalian butuh sesuatu, kami ada di bawah."

"Kami akan memberitahu kalau makan siang sudah siap," kata Hana, dan sepasang kekasih itu pun pergi meninggalkan kamar.

Perhatian mereka lalu tertuju pada satu-satunya orang dewasa yang masih tinggal di sana: Tobi. Paman Sasuke itu tampak sibuk melempar barang-barang yang terserak berantakan di berbagai tempat ke dalam lemari.

"Kuharap di sini cukup nyaman," ujarnya sambil nyengir, setelah menjejalkan setumpuk majalah ke dalam lemari dan menguncinya.

Sakura mengangguk pelan. "Terima kasih, Paman."

Bahu Tobi turun ketika ia menghela napas. "Sudah kubilang jangan panggil aku 'Paman'. Aku sepupu Itachi, oke?"

Mau tak mau Sakura tersenyum kecil. Ia mengangguk.

"Nah, begitu." Tobi mengangguk setuju. Perhatiannya lalu beralih pada Naruto dan Sai. "Jadi ... apa kalian berdua juga temannya Sasuke?" tanyanya ingin tahu.

"Yeah," Naruto menyahut. "Kami sahabatnya."

"Wah," kata Tobi, tampak heran sekaligus terkesan. "Ternyata benar. Anak itu sudah berubah. Dia punya teman alih-alih pengikut."

Naruto dan Sai bertukar pandang bingung. Namun sebelum salah satu dari mereka membuka mulut untuk berkomentar, Tobi berkata dengan nada ceria,

"Aku Obito Uchiha, omong-omong. Dan kalian bisa memanggilku Tobi. Aku kakak sepupu Sasuke."

"Ah, aku Naruto Uzumaki." Naruto mengulurkan tangan dan Tobi langsung menyambar dan mengguncang-guncangnya.

"Sai Shimura." Tobi ganti mengguncang-guncang tangan Sai.

"Baiklah. Kalau begitu aku mau turun. Kalian ... er ... bisa ngobrol." Tobi melempar cengiran pada ketiga remaja itu sebelum berbalik pergi.

"Dia agak aneh," komentar Sai pelan, setelah pintu kamar mengayun tertutup di belakang Tobi.

"Kakak sepupu Sasuke, ya? Mirip." Naruto menyeringai.

"Bekas lukanya membuat codet di wajah Pak Namiashi terlihat seperti luka lecet." –Raidou Namiashi, guru Sejarah Dunia mereka di sekolah, memiliki bekas luka bakar besar di wajahnya.

"Menurutmu apa yang tadi dia sembunyikan di lemari itu, eh?"

"Apa? Kelihatannya seperti jenis majalah yang akan disembunyikan Sasuke kalau kita datang ke rumahnya."

Melihat Sai dan Naruto tertawa, Sakura tak dapat menahan senyumnya. Sampai Naruto menyeletuk,

"Omong-omong soal Sasuke, kemana dia?" Naruto memandang ke segala arah, seakan berharap Sasuke tiba-tiba muncul dari balik perabotan. "Bukankah tadi dia ada di belakang kita?"

Sai mengangkat bahu.

Naruto menghembuskan napas keras-keras. "Haah ... dasar dia itu! Padahal tadi kelihatannya dia mencemaskan Sakura. Sekarang malah tidak kelihatan batang hidungnya."

"Hm," Sai mengangguk setuju, seraya melipat kedua lengannya di dada dan bersandar di tangga tempat tidur tempat Sakura berbaring. "Seharusnya dia lebih bertanggung jawab padamu."

"Yeah, yeah. Ini semua gara-gara Sasuke. Kalau dia tidak begitu sembrono, kalian tidak mungkin terpisah—dan Sakura tidak akan jadi seperti ini."

"Jangan!" celetuk Sakura tanpa berpikir. Sai dan Naruto serta-merta menatapnya, dan Sakura buru-buru melihat ke arah lain saat merasakan wajahnya menghangat. Jantungnya berdebar-debar begitu keras hingga terasa menyakitkan. "Jangan menyalahkan Sasuke."

Sai dan Naruto bertukar pandang.

"M—maksudku, ini sama sekali bukan salahnya ..."

"Apa? Tentu saja ini salahnya. Dia tidak bisa menjagamu!" geram Naruto keras kepala. Tampaknya ia masih memendam kekesalan pada Sasuke karena hal itu.

Sakura menggeleng. Gadis itu membuka mulutnya, seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi urung dilakukannya. Alih-alih, ia memiringkan tubuhnya dan meringkuk. Air mukanya yang terlihat seakan sedang menahan sakit membuat Naruto cemas. Cowok itu bergegas maju, duduk di sisi tempat tidur Sakura.

"Hei, kau kenapa, Sakura?" tanyanya dengan nada khawatir. "Kepalamu pusing? Kau butuh sesuatu?"

Sekali lagi Sakura menggeleng. Matanya terpejam rapat. Tarikan napasnya berat.

"Sakura ..." Naruto mengulurkan tangannya, mengusap-usap bahu sahabatnya perlahan. "Kalau kau sakit, beritahu kami. Ibumu sudah menitipkanmu pada kami, ingat?"

"Maafkan aku," gumam Sakura dengan suara tercekat, "sudah membuat kalian cemas."

"Hei—" kata Naruto buru-buru. Sikap Sakura yang seperti itu tak pelak membuatnya kebingungan. Padahal sebelumnya, saat mereka mengalami situasi yang hampir sama tempo hari—saat Sakura tersasar sendirian di kota dan mereka mencarinya sampai kalang kabut—gadis itu tidak sampai semuram ini. "Tidak apa-apa. Jangan sedih begitu, dong. Yang penting sekarang kan kau sudah tidak apa-apa."

Sakura menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan, tak berkata apa-apa lagi sesudahnya. Naruto melempar pandang bertanya pada Sai, tapi sahabatnya itu juga tampak sama bingungnya.

"Sakura," akhirnya Sai buka suara setelah beberapa mereka terdiam. Cowok itu menatapnya. Kerutan samar terlihat di antara kedua alisnya. "Apa terjadi sesuatu?"

Mendengar pertanyaan Sai, Sakura menahan napas. Gadis itu tak langsung menjawab. Bola matanya bergerak-gerak gelisah, menghindari tatapan ingin tahu kedua sahabatnya.

"Sakura ..." desak Sai.

Sakura menelan ludah dengan susah payah. Ia masih ragu apakah cukup bijaksana menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada kedua sahabatnya itu. Ia tidak begitu mencemaskan Sai, tapi bagaimana dengan Naruto?

Cowok itu selalu protektif terhadapnya. Sakura belum lupa bagaimana cemasnya Naruto saat Sai mengajaknya kencan ke showcase KAA dulu—padahal mereka tahu Sai hanya bergurau soal kencan itu—ia tak berani membayangkan apa yang akan terjadi jika Naruto tahu apa yang terjadi antara dirinya dan Sasuke. Menjadi penyebab konflik yang tak perlu antara Naruto dan Sasuke adalah hal terakhir yang diinginkan Sakura saat ini.

Namun belum sempat Sakura mengatakan sesuatu, Naruto menyambar, "AAAH! AKU TAHU! Ini pasti gara-gara Sasuke!"

Sakura terbelalak. "Naru—"

"Si Sasuke itu pasti sudah berbuat sesuatu yang tidak-tidak padamu, kan?! Itu sebabnya kau menghindari dia tadi."

"B-bukan begi—"

Kata-kata Sakura terpotong ketika Naruto mendadak berdiri dan terdengar bunyi duk menyakitkan ketika kepalanya tak sengaja membentur bagian atas tempat tidur, membuat tempat tidur itu bergetar. Tampaknya Naruto lupa dirinya sedang duduk di tempat tidur susun.

"Naruto, kau tidak apa-apa?" Sakura menarik dirinya ke posisi duduk dan bertanya cemas, sementara Sai menahan tawa geli melihat Naruto memegangi kepalanya sambil mengumpat.

Naruto mengabaikan pertanyaan Sakura. "D-dari awal aku sudah menduga—" ia mengumpat lagi. Matanya berair. Wajahnya merah padam. "—pasti ada sesuatu! Si Sasuke itu—" mengumpat, "—sudah kelihatan aneh waktu memberitahu kita k-kalau Sakura menghilang!" Ia mengerang, mengusap-usap kepalanya yang mulai benjol. Namun tampaknya rasa sakit tak menghalanginya mencurigai Sasuke. "Dia seperti menyembunyikan sesuatu. Benar, kan, Sai?"

"Yeah," timpal Sai setuju. Sudut bibirnya berkedut menahan tawa.

"Aku harus bicara padanya!"

"Naruto!" Belum sempat Sakura mencegahnya, Naruto sudah berlari meninggalkan kamar.

"Biarkan saja dia," Sai buru-buru menahan Sakura ketika gadis itu hendak menyusul Naruto. "Wajahmu masih pucat begitu, bisa-bisa kau pingsan nanti." Sai meletakkan tangan ke bahu Sakura, mendesak gadis itu kembali ke tempat tidur.

"Tapi—"

"Sudahlah, tak ada gunanya kau mengejarnya sekarang. Toh cepat atau lambat Naruto pasti akan mengkonfrontasi Sasuke tentang entah apa yang sedang kalian sembunyikan dari kami," sela Sai sedikit tak sabar. "Dia sudah menahan diri sejak tadi. Rasa penasaran bisa membuat orang jadi gila, kau tahu?"

Sakura menatap Sai putus asa, sebelum akhirnya mengikuti desakan lembut kedua tangan Sai di bahunya dan kembali duduk di tempat tidur. Kendati mencoba untuk bersikap tenang, gadis itu masih tak dapat menyembunyikan kegelisahannya.

Sai mengawasinya penuh khawatir.

"Kau mau minum limunnya?" tanyanya setelah keheningan yang cukup lama.

Sakura mengabaikan pertanyaannya. "A—apa ... apa Sasuke mengatakan sesuatu pada kalian?"

"Tentang apa?" Sai balik bertanya kalem. Namun ketika Sakura tak kunjung menjawab, ia mengangkat bahu dan melanjutkan, "Sasuke cuma bilang kalian berdua keluar lari pagi bersama, lalu terpisah."

Entah mengapa Sakura tak merasa kaget mendengar jawaban Sai. Gadis itu sudah mengenal Sasuke dengan baik, dan tahu bahwa Sasuke tak akan begitu sembrono mengatakan hal-hal yang akan mempermalukan dirinya. Namun itu tak sepenuhnya membuatnya tenang. Justru sebaliknya.

Sai dan Naruto terlanjur mencium gelagat ada sesuatu yang sedang mereka sembunyikan, dan seperti kata Sai, cepat atau lambat Naruto pasti akan mengkonfrontasi Sasuke soal itu. Dan mereka semua tahu betapa keras kepalanya Naruto. Ia tak akan berhenti sampai berhasil mengorek semuanya.

Dan bukan hanya itu. Bagaimana dengan Sasuke? Apa yang akan terjadi pada Sasuke? Hanya karena tindakannya yang sembrono dan bodoh, Sasuke bisa kehilangan teman. Oh, Tuhan—tidak! Sasuke pasti akan membencinya setelah ini.

Hanya dengan memikirkannya saja sudah membuat dadanya serasa diremas-remas. Sakit. Sakura tak sanggup membayangkan dirinya akan kehilangan Sasuke selamanya.

Tidak bisa—aku tidak mau ...

"Sakura—" Sai terkejut ketika mendapati air mata tiba-tiba bergulir dari kedua mata hijau milik sahabatnya itu. Menempatkan diri duduk di samping gadis itu, Sai bertanya hati-hati, "ada apa?"

Sakura tak menjawab. Gadis itu mengangkat wajahnya, menatap nanar ke arah Sai dengan matanya yang basah. Awalnya ia merasa ragu. Dalam situasi seperti ini, biasanya ia lebih mempercayai Ino sebagai tempat mencurahkan isi hatinya. Tapi Ino tidak ada di sana sekarang.

Seakan bisa membaca isi pikiran Sakura, Sai berkata dengan nada lebih lembut, "dengar. Jika ada yang ingin kaubicarakan, aku akan mendengarkanmu. Kau bisa mempercayaiku, Sakura."

Sakura menatap ke dalam mata sahabatnya, dan ketika ia melihat kesungguhan di sana, Sakura tahu Sai tidak akan menghakiminya. Ia bisa mempercayai Sai seperti ia mempercayai Ino. Lagipula, bukankah dulu ia sudah berjanji akan memberitahu Sai jika itu terjadi?

"Kau masih ingat, Sai," ia memulai dengan suara tercekat, sambil menyeka basah di wajahnya, "dulu kau pernah bilang kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan?"

"Ya," Sai berkata lambat-lambat. Meskipun memiliki perkiraan ke mana arah pembicaraan Sakura, ia memilih untuk tak berkomentar lebih banyak dan menunggu gadis itu mengungkapkan semuanya sendiri. Rasanya itu lebih bijak.

"Ini soal perasaanku ..." air mukanya menegang, seakan sedang berusaha kerasa menahan tangisnya agar tak meledak. Sakura menarik napas dalam-dalam. "Sasu—Sasuke ..." Sakura menelan ludah dengan susah payah, sementara air matanya kembali bergulir tanpa bisa ia tahan lagi. "Waktu itu aku berjanji akan memberitahumu, Sa—"

Ia sudah tidak bisa menahannya lagi. Tangisnya pecah. Refleks Sai mengulurkan tangannya merengkuh bahu Sakura yang gemetaran, membiarkan gadis itu menumpahkan semuanya di dadanya. Sai terenyuh, tak mampu berkata-kata kecuali memeluk gadis itu rapat—sama seperti yang dilakukan Sakura dulu saat dirinya menangis karena patah hati.

Sakura tak perlu berkata apa-apa lagi. Sai sudah tahu. Ia sudah memperkirakannya sejak lama, bahwa pada akhirnya perasaan Sasuke berbalas. Hanya tinggal menunggu waktu saja sampai akhirnya Sakura Haruno menyadari dirinya sedang jatuh cinta pada sahabatnya sendiri.

.

.

Sasuke masih berdiam diri di sana, tak tahu apa yang harus ia lakukan sementara berbagai macam pikiran berkecamuk dalam benaknya. Sebagian dirinya yang khawatir akan keadaan Sakura mendorongnya untuk bergegas menyusul gadis itu dan yang lain, tetapi sebagian dirinya yang lain menahannya. Sebagian dirinya yang takut keberadaan dirinya hanya akan melukai hati gadis yang disayanginya itu.

Mungkin saja selama ini dirinya keliru menilai sikap Sakura padanya. Pada awalnya ia mengira pada akhirnya gadis itu membalas perasaannya, namun sepertinya ia terlalu tinggi berharap. Dirinya berarti sesuatu bagi Sakura, Sasuke tahu hal itu dengan baik. Tetapi apakah sesuatu itu seperti yang ia pikirkan sebelumnya—bahwa gadis itu merasakan perasaan yang sama seperti dirinya—sekarang Sasuke meragukannya.

Sakura menganggapnya sebagai sahabat, tak lebih dari itu, tetapi dirinya yang bodoh telah mengartikan lain. Dan yang lebih bodoh lagi, mengapa ia begitu memercayai perkataan orang lain? Mengapa ia bisa dengan begitu mudahnya membiarkan dirinya terpengaruh? Sai bisa saja salah, begitu pula dengan Neji.

Lalu apa arti ciuman itu? Mengapa Sakura menciumnya? Apakah itu hanya sebuah ketidaksengajaan yang memalukan, atau apa?

Sasuke sama sekali tidak mengerti. Segalanya terasa campur aduk. Kebingungannya atas sikap Sakura bercampur dengan kekecewaan dan kemarahan pada dirinya sendiri. Dan tak ada yang lebih menyesakkan hatinya dibandingkan memikirkan bahwa ciuman pertamanya dengan gadis yang disayanginya adalah sebuah kesalahan besar.

Sasuke menghembuskan napas keras-keras. Kedua matanya yang terasa panas menatap nyalang ke sekeliling kebun apel itu, seraya menyisirkan jemari ke rambutnya yang lembab dan lengket oleh keringat dengan kasar.

Segalanya tampak normal. Orang-orang sibuk memetik apel sambil berbicara keras dan tertawa, bergurau satu sama lain. Bahkan Kiba yang datang bersamanya tadi tampak asyik sendiri dengan kameranya, sambil sesekali menyelundupkan apel ke dalam saku celananya jika tak ada yang melihat. Namun entah mengapa menyaksikan segalanya yang tampak normal itu justru membuatnya kesal—seakan tawa dan ekspresi tanpa beban di wajah mereka itu mengejeknya.

Hanya Rufus yang tampaknya bisa merasakan suasana hatinya yang buruk. Anjing itu dengan tenang berdiri di sampingnya, sesekali menyenggol tangannya dengan moncongnya seakan menunjukkan rasa simpati.

"Oi, Sasuke. Ngapain kau berdiri saja di situ seperti orang frustasi begitu?"

Sasuke menoleh dan memelototi Kiba. Adik laki-laki Hana itu dengan santainya menggigit apel di tangannya dalam gigitan besar, jelas sama sekali tak terimidasi oleh tatapan galak Sasuke.

"Kenapa kau? Tampangmu seperti orang yang baru saja ditinggal pacar," seloroh Kiba dengan seringai mengejek.

"Diam!" desis Sasuke.

Terkekeh-kekeh, Kiba mengangkat kamera ke depan matanya dan membidik.

"Hentikan!" bentak Sasuke, berusaha menyambar kamera di tangan calon saudaranya itu.

Tapi Kiba lebih cepat. Dengan gesit, ia menghindari tangan Sasuke tepat setelah mengambil gambarnya. Ia terkekeh-kekeh."'Bad mood Sasuke'. Aku jadi ingin tahu reaksi cewek-cewek kalau mereka melihat ekspresimu yang ini. Apa mereka masih tergila-gila padamu?" Seringai menyebalkan menghiasi wajahnya. "Just kidding, Bro. Tak perlu melotot seperti itu. Matamu bisa melompat keluar nanti," kekeh Kiba seraya meninju bahu Sasuke main-main. "Aku dan Akamaru mau ke pondok. Mau ikut?"

"Tidak," gerutu Sasuke.

Kiba mengangkat bahu. "Ya sudah. Ayo, Akamaru!"

Selama beberapa saat, Sasuke mengawasi Kiba melenggang menuju pondok. Akamaru berlari-lari kecil mengikuti di belakangnya. Sebelum kemudian ia menghenyakkan diri duduk di atas rerumputan di dekat salah satu pohon apel besar, menumpukan siku di atas lututnya. Jemarinya mencengkeram rambutnya. Kedua matanya terpejam rapat.

Tepat saat itu terdengar suara seseorang memanggil namanya. Dan ketika ia membuka mata, seorang cowok berambut merah yang ia kenali sebagai teman Sai dari KAA, Gaara Sabaku, berdiri di depannya.

"Apa?" Sasuke menyahut ketus. Entah mengapa melihat Gaara semakin membuatnya gusar.

Jika tatapan bermusuhan yang diberikan Sasuke padanya membuat Gaara terkejut, ia tak memperlihatkannya. "Kami sudah selesai," beritahunya kalem, seraya mencopot sarung tangan berkebun yang dikenakannya, "sebaiknya kau juga kembali ke pondok."

Sasuke memandang ke belakang Gaara. Yang dikatakannya benar. Kereta berisi keranjang apel sudah penuh terisi. Zetsu dan Hidan bersiap mendorong kereta yang berat itu, sementara Sasori, Kankurou dan Deidara menggotong tangga-tangga kayu menuju gudang.

"Ayo, Gaara," kata Temari, ketika kakak perempuan Gaara itu melewati mereka. Gadis itu membawa keranjang anyaman berisi apel-apel ranum yang kelihatannya cukup berat untuk dibawa sendirian. "Bantu aku bawa ini. Berat sekali."

"Sebentar," Gaara menyahut, sebelum bergegas menghampiri kakaknya. Namun sebelum mereka berdua pergi, perkataan Sasuke yang bernada tajam menghentikannya.

"Tadi kaubilang kau tidak tahu di mana Sakura."

Gaara menoleh, menatap Sasuke dengan dahi berkerut. "Maaf?"

"Waktu Sai meneleponmu," kata Sasuke tak sabar, "kaubilang kau tidak tahu di mana Sakura. Mengapa kau tidak memberitahunya kalau Sakura ada di sini, eh? Pembohong."

"Hei, apa-apaan—" Temari tampak gusar mendengar tuduhan Sasuke pada adiknya, tapi Gaara dengan segera menyelanya.

"Dengar. Aku sama sekali tak ada niat berbohong. Biar kujelaskan—"

Sasuke mendengus keras sebelum Gaara sempat menjelaskan apa-apa. "Simpan saja penjelasanmu. Pasti menyenangkan, eh, bisa memetik apel bersama Sakura setelah waktu itu menghabiskan waktu berduaan berkeliling Kiri?"

Gaara menatap Sasuke dengan pandangan seolah cowok di depannya itu sudah gila, dan untuk beberapa saat tampaknya ia kehilangan kata-kata. Sementara itu, kakak perempuannya meledak tertawa.

"Ha! Lihat, ada yang cemburu rupanya!" ejeknya.

Sasuke membeliak marah padanya, tapi tampaknya gadis berambut pirang pasir itu sama sekali tak terpengaruh.

"Sasuke, dengar—" kata Gaara tenang, setelah ia berhasil mengatasi keterkejutannya. Akan tetapi belum sempat ia menyelesaikan kata-katanya, seseorang berteriak memanggil Sasuke.

"OI, SASUKE!"

Mereka semua menoleh dan mendapati cowok berambut pirang jabrik muncul dari ujung barisan pohon apel, berlari-lari ke arah mereka. Naruto.

"Aku mencarimu ke mana-mana, ternyata masih di sini," ucapnya terengah-engah setibanya Naruto di dekat mereka. Sebelah tangannya memegangi sisi pinggangnya. "Aku perlu bicara denganmu."

"Hei, Naruto," Gaara menyela mereka.

Mendengar namanya dipanggil, Naruto refleks menoleh. Ekspresi di wajahnya seakan ia baru menyadari kehadiran Gaara di sana. "Eh—ada apa?"

Tanpa mengalihkan pandangannya pada Sasuke, Gaara berkata tenang, "tolong jelaskan pada temanmu, di antara aku dan Sakura tidak ada apa-apa."

"Ha?"

Selama beberapa saat Naruto hanya bisa melongo mendengar penuturan Gaara, sementara cowok berambut merah itu dan Sasuke saling melempar tatapan dingin. Sampai akhirnya Gaara menyunggingkan senyum tipis dan berlalu bersama kakak perempuannya, meninggalkan Naruto yang kebingungan dan Sasuke yang tampak luar biasa kesal.

"Dia ngomong apa, sih?" tuntut Naruto ketika punggung Gaara dan Temari menghilang di belokan.

"Bukan apa-apa," gerutu Sasuke, mendongak menatap Naruto. "Bagaimana Sakura? Apa dia sudah baikan?"

Naruto mendengus. Kedua tangan diletakkan di pinggangnya. "Kenapa tidak kau lihat saja sendiri? Malah enak-enakan duduk di sini."

Alih-alih langsung menjawab, Sasuke malah membuang muka. Melihat air muka Sasuke yang tampak resah, Naruto menghela napas keras. "Aku sudah tahu ada yang sedang kausembunyikan," ujarnya.

Lagi-lagi Sasuke tidak menjawab. Sampai Naruto yang tak sabaran menyambar lengannya.

"Apa?!" bentak Sasuke, memelototi Naruto, lalu menghentakkan lengannya lepas dari cengkeraman si rambut pirang.

"Kita harus bicara, Sasuke. Ini tentang kau dan Sakura," kata Naruto tegas.

"Tidak ada apa-apa di antara kami," sahut Sasuke agak terlalu cepat.

Naruto mendengus sinis. "Sudahlah, jangan berkelit lagi. Walaupun kau sering memanggilku idiot, aku sama sekali tidak sebodoh itu. Sikapmu sejak pagi tidak biasa, dan jelas-jelas tadi Sakura menghindarimu. Pasti ada yang tidak beres! Iya, kan?!"

Sekali lagi Sasuke memalingkan wajahnya ke arah lain, diam seribu bahasa. Namun sikap diamnya itu justru semakin meyakinkan Naruto bahwa memang terjadi apa-apa. Dan ia harus tahu, apa itu.

"Oi, aku menunggu jawabanmu, Sasuke!" desaknya.

"Bukan urusanmu!"

"Oh, yeah? Tentu saja akan jadi urusanku kalau ada orang tolol yang mengganggu Sakura!" Naruto yang sudah benar-benar kehilangan kesabaran akhirnya berteriak marah. "SASUKE!" Suaranya begitu keras sampai-sampai membuat Rufus yang sibuk menggerigiti apel di tanah tak jauh dari Sasuke mendadak mengangkat kepalanya karena kaget.

Sementara itu Sasuke hanya bisa terdiam, masih menghindari tatapan Naruto. Wajahnya menegang, dan sekilas Naruto melihat kedua tangan Sasuke yang saling genggam sedikit bergetar. Namun tampaknya itu tak membuat Naruto melunak. Dengan kasar ia kembali menyambar lengan sahabatnya, memaksanya berdiri. Kali ini Sasuke tak berusaha melawan. Rufus menggeram dan menyalak galak, tapi Naruto nyaris tidak mendengarnya.

"Beritahu aku, Sasuke," desisnya, mencengkeram bagian depan kaus Sasuke dan mengguncangnya. "Apa yang sudah kaulakukan sampai membuat Sakura sedih begitu, eh?"

Sasuke masih terdiam beberapa saat, sampai akhirnya ia menghela napas dan menjawab dengan nada pahit, "kalau kau benar-benar ingin tahu, baiklah ..." jeda sesaat sementara Sasuke memejamkan mata sejenak, berusaha mengatur emosinya. "Aku telah melakukan kesalahan yang pernah kaulakukan dulu."

Kerutan samar muncul di antara kedua alis Naruto. "Apa maksudmu? Kesalahan apa?"

Sasuke menatap kedua mata sahabatnya. Sasuke tahu pada akhirnya ia tak bisa selamanya menyimpan masalah ini sendirian. Dan jika ia harus memberitahu seseorang, orang itu adalah Naruto—orang pertama selain Itachi yang sangat dipercayainya. Meski demikian, Sasuke merasa tak bisa sepenuhnya berkata jujur.

Ia tidak bisa mempermalukan Sakura di depan orang lain—termasuk Naruto.

"Aku menciumnya."

Naruto terkesiap mendengar kata-kata yang baru saja meluncur dengan begitu lancarnya dari bibir Sasuke. Mata birunya yang membulat menatap Sasuke tak percaya. Tangannya yang mencengkeram kaus Sasuke terlepas dan menggantung lemas di sisi tubuhnya. Mulutnya membuka dan menutup, namun tak ada satu pun kata yang keluar dari tenggorokannya. Setidaknya sampai ia berhasil menemukan suaranya kembali.

"A—apa?"

"Kau mendengarku, Naruto."

.

.

"Aku bersumpah itu kecelakaan, Sai!" Sakura menambahkan cepat-cepat seraya menyeka sisa air mata di wajahnya yang memerah. "A—aku sama sekali tak bermaksud melakukan hal itu!"

"Kau menciumnya?" Sepasang mata hitam Sai membulat seakan terpesona dengan apa yang baru didengarnya. Mengetahui Sakura akhirnya mengakui perasaannya pada Sasuke memang bukan kejutan besar baginya. Tapi berciuman?—Oh, wow ...

"Sudah kubilang, kan ..." rengek Sakura, tercabik antara kesal dan malu, "itu tidak sengaja. Tadinya aku hanya ingin menciumnya di pipi, tapi—"

"Ah," sela Sai, setelah mengatasi keterkejutannya, "jadi sejak awal kau memang berniat menciumnya?"

"SAI!" Sakura memekik memprotes. Wajahnya yang sudah merah semakin merah, dan Sai nyaris bisa merasakan panas yang menguar darinya.

"Tapi itu benar," Sai berkata tenang, sekuat tenaga menahan cengiran melihat reaksi Sakura yang menurutnya imut. "Tak ada gunanya mengelak lagi. Menurutku itu bukan sekedar ketidaksengajaan—sejak awal kau memang berniat melakukannya. Masalahnya hanya tempat di mana bibirmu mendarat."

Tak dapat menyangkal kata-kata Sai, Sakura lantas menyembunyikan wajahnya di balik bantal milik Tobi, mengerang malu. Kali ini Sai tak dapat menahan senyumnya. Cowok itu lalu mengulurkan tangan, mengusap lembut rambut merah muda di puncak kepala sahabatnya.

"Tak perlu malu padaku seperti itu, Sakura," Sai menurunkan tangannya, memandangi Sakura yang masih menyembunyikan wajah di balik bantal dengan senyum masih terpeta di wajahnya yang putih pucat. "Lagi pula ini bukan yang pertama bagimu, kan? Kau pernah berciuman dengan Neji sebelumnya. Jadi kurasa ini bukan masalah besar."

"Sai, please," Sakura mengangkat kepalanya, melempar pandang galak ke arah Sai. Kenapa penyakit tidak pekanya harus kambuh sekarang?—Astaga ... "Ini bukan masalah ciuman pertama, kedua atau apa. Ini—"

"Aku tahu. Aku hanya bergurau," sela Sai, terkekeh kecil. "Jangan marah ..."

"Sama sekali tidak lucu," kata Sakura, membuang muka. Bibirnya mengerucut.

Sai tersenyum mengawasi Sakura yang ngambek. Gadis itu begitu lucu dan ekspresif, membuatnya tak bisa menahan diri menggodanya. Tak heran Sasuke begitu menyukainya—yah, walaupun tentu saja alasan Sasuke menyukai Sakura bukan hanya sekedar karena gadis itu lucu.

"Jadi," lanjut Sai kemudian, seolah tidak terjadi apa-apa, "menurutku pasti ada sesuatu yang mendorongmu menciumnya saat itu. Apa itu yang membuatmu sadar kalau ... kau tahu, kan?"

Sakura menghela napas sebelum menjawab, "aku tidak tahu ..." Sejenak terdiam, Sakura menggigit bibirnya. "Kami—kami hanya berdiri di sana, memandangi matahari terbit. Lalu tiba-tiba saja aku teringat waktu-waktu yang sudah kami habiskan bersama." Mata hijaunya menerawang. "Semua yang sudah Sasuke lakukan untukku ... mengingatnya membuatku merasa hangat. Entahlah ... aku merasa menjadi seseorang yang sangat berharga. Aku sangat bersyukur—berterima kasih—perasaan semacam itu ... sulit menjelaskannya, Sai."

"Lalu kau menciumnya, sebagai ungkapan rasa terimakasihmu?"

Sakura mengangguk.

"Tapi saat bibir kalian bertemu ..." –Sai menyeringai tipis melihat pipi Sakura mulai bersemu lagi—"BANG! Kau sadar kalau perasaanmu padanya bukan hanya sekedar berterima kasih, tapi kau jatuh hati padanya."

Perlu beberapa waktu sampai akhirnya Sakura mengangguk, membenarkan kata-kata Sai. "Tapi itu sama sekali tidak seperti ciuman yang kaubayangkan," gumamnya pelan. Air mukanya kembali murung. "Seharusnya kau melihat ekspresi Sasuke saat itu."

"Dia pasti kaget."

Sakura menggeleng sedih. "Ekspresinya seperti seakan aku sudah melakukan sesuatu yang menjijikkan ... membuatnya malu."

Senyum di wajah Sai memudar ketika dilihatnya sepasang mata hijau milik Sakura kembali berkaca-kaca ketika gadis itu menarik bantal ke pelukannya, mendekapnya erat di dada.

"Sekarang Sasuke pasti sangat membenciku, Sai ..." bisiknya merana.

Sai menggeleng tak setuju. "Tidak," sahutnya tegas. Ditatapnya Sakura lurus-lurus. "Kau mau dengar pendapatku, Sakura? Menurutku itu sama sekali tidak benar. Apa yang kaukatakan—atau yang kautakutkan—hanya ada dalam kepalamu. Kau panik saat kau menyadari apa yang kaulakukan pada Sasuke, itu membuatmu tidak bisa berpikir sebagaimana seharusnya."

Sakura menatap Sai, terperangah, tapi tak mengatakan apa-apa untuk membantah.

"Menjijikkan ... memalukan ... sebenarnya kau sendiri yang merasa seperti itu, bukan? Kita berdua sama-sama tahu bagaimana perasaan Sasuke terhadapmu, Sakura, dan aku berani bertaruh dia tidak akan menanggapmu memalukan, apalagi menjijikkan. Dia mungkin terkejut, tapi dia tidak membencimu hanya karena sebuah ciuman yang tidak sengaja. Seharusnya kau tadi lihat bagaimana dia saat kami mencarimu. Dia mengkhawatirkanmu, Sakura."

"Ta—Tapi dia pasti marah padaku!" sergah Sakura putus asa. "Aku kabur dan membuat kalian semua cemas mencariku. Dia juga marah waktu aku tersasar tempo hari, tidak mungkin sekarang dia tidak marah!"

Sai mengendikkan bahu. "Well ... dia memang kelihatan agak kesal, tapi—"

"Benar, kan! Dan sekarang dia bahkan tidak mau muncul di hadapanku! Dia pasti membenciku, Sai!" pekik Sakura kalut, menyela kata-kata Sai. Kali ini air matanya benar-benar merebak, tapi gadis itu buru-buru menyekanya kasar.

Sai menghela napas. Terkadang ia tak mengerti mengapa anak perempuan bisa begitu keras kepala. "Berhentilah bersikap seperti ratu drama, Sakura."

"Aku tidak—"

"Oh, yeah. Jangan membantah. Kau memang seperti itu." Sai menahan diri untuk tak memutar matanya melihat Sakura menekuk wajahnya, cemberut. "Dengar. Menurutku Sasuke tidak muncul di sini bukan karena dia membencimu atau semacamnya, Sakura. Tapi karena dia tahu kau butuh waktu untuk menenangkan diri."

"Bagaimana bisa kau begitu yakin?" tanya Sakura parau.

Sai mengendikkan bahunya. "Feeling. Tapi Sasuke selalu begitu, kan? Kau menyadarinya atau tidak, dia hampir selalu memahami dirimu." Jeda beberapa saat sementara Sai mengawasi gadis di depannya itu menggerigiti kukunya, tampak bimbang. "Berhenti berpikir yang tidak-tidak, Sakura. Sasuke itu tidak akan pernah bisa membencimu. Percaya padaku."

Sakura menghela napas berat. "Entahlah ... aku hanya masih merasa tidak enak padanya, Sai ... ngerti, kan?"

Tersenyum, Sai sekali lagi mengulurkan tangan mengacak sayang rambut merah muda di puncak kepala gadis itu. "Itulah sebabnya kau butuh menenangkan diri," ujarnya kalem. "Dan setelah ini, apa kau berencana memberitahu Sasuke tentang perasaanmu?"

"Aku tidak tahu," jawab Sakura setelah terdiam beberapa saat, menghela napas lelah, "kurasa aku masih belum siap untuk itu."

Sai mengangguk mengerti. Sakura masih terlalu terguncang setelah apa yang terjadi, dan melakukan pengakuan cinta pada Sasuke barangkali adalah hal terakhir yang akan dilakukan gadis itu untuk saat ini.

"Sai, maukah kau berjanji sesuatu padaku?" tanya Sakura tiba-tiba.

"Hm? Berjanji apa?"

"Janji ... kalau kau tidak akan memberitahu siapa pun tentang ini, termasuk Naruto dan Sasuke—tidak, terutama dia."

Sai mengangkat kedua alisnya tinggi, menatap Sakura keheranan. "Mengapa aku tidak boleh memberitahu mereka?"

Butuh beberapa saat bagi Sakura mempertimbangkan jawabannya. "Aku hanya—" sejenak gadis itu terdiam, seakan tak pasti dengan apa yang hendak diucapkannya. Jemarinya memainkan ujung sarung bantal di pangkuannya. "—aku hanya tidak ingin hubunganku dengan Sasuke jadi semakin aneh," ujarnya seraya mengendikkan bahu, "kau mengerti, kan? Setidaknya aku ingin menyelesaikannya dengan Sasuke ... secara pribadi—maksudku, tanpa campur tangan orang lain."

Sai menatap gadis di depannya selama beberapa saat lagi, sebelum berkata dengan nada lembut, "aku mengerti."

Sakura menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. "Semuanya akan baik-baik saja setelah ini ... benar, kan?"

"Tentu saja," Sai menanggapi, dengan seulas senyum yang membesarkan hati terpeta di wajahnya.

.

.

"Aku tidak percaya ..." untuk kesekian kalinya Naruto berbisik pada dirinya sendiri semenjak pengakuan Sasuke. Saat itu ia terhenyak di bawah rimbunan pohon apel tempat Sasuke duduk sebelumnya, mencengkeram rambut pirangnya.

Sasuke menunduk menatap sahabatnya, tak tahu harus menanggapi apa. Ia tak bisa menyalahkan reaksi Naruto. Dulu ia pun sama terkejutnya seperti Naruto saat sahabatnya itu memberitahunya dirinya pernah nyaris mencium Sakura. Sekarang ia bisa dibilang melakukan kesalahan yang sama—Naruto pasti sangat frustasi.

"Kau berpikir tidak sih waktu kau men—melakukan itu, eh?!" tanya Naruto selang beberapa saat, menatap Sasuke tak habis pikir. Bukannya ia tak menyetujui perasaan Sasuke pada Sakura, hanya saja yang dilakukan sahabatnya kali menurutnya agak kurang bijaksana. Bagaimana bisa sahabatnya yang terkenal jenius itu bisa melakukan tindakan yang begitu bodoh?

"Tidak," gumam Sasuke, diiringi helaan napas berat.

"Jelas sekali," gerutu Naruto jengkel.

Mereka kembali terdiam. Menghela napas sekali lagi, Sasuke lalu ikut menghenyakkan diri di samping Naruto. Rufus mengikutinya, mengizinkan sang tuan menggaruk belakang telinganya setelah ia menyamankan diri duduk melingkar di dekat kakinya.

"Silakan saja bilang kalau aku bodoh, Naruto," ujar Sasuke kemudian tanpa memandang Naruto—ia tak berani memandang Naruto. "Maki saja aku semaumu. Bilang aku sudah mengacaukan segalanya."

Naruto mendengus. Sudut bibirnya berkedut. Jika saja situasinya tidak seserius ini—dan ia juga tidak sedang kesal pada sahabatnya itu, ia pasti sudah meledak tertawa. Rasanya seperti deja vu. Dulu ia juga pernah melontarkan kata-kata yang hampir sama pada Sasuke.

"Tentu saja. Sasuke Uchiha, orang paling tolol sedunia. Bagaimana bisa kau bisa sebodoh itu mengulangi kesalahan yang pernah dilakukan temanmu, eh? Idiot."

"Aku mengerti kalau kau ingin memukulku," gumam Sasuke lagi.

Naruto mendelik menatap sahabatnya. Ia masih kesal dengan Sasuke, tentu saja, tetapi kata-kata Sasuke yang terdengar pasrah seperti itu justru membuatnya semakin jengkel.

"Kaupikir dengan mematahkan hidungmu bakal menyelesaikan masalah, begitu?! Ooh—baiklah. Dengan senang hati aku akan melakukannya, jadi bersiaplah," tukas Naruto sengit. "Tapi sekarang aku sedang tidak mood berkelahi."

Sasuke tidak menanggapi. Ia sudah berhenti menggaruki bulu-bulu Rufus. Kedua tangannya kini dibiarkan menggantung dengan bertumpu pada lututnya. Tatapan matanya kosong.

"Sekarang apa yang akan kaulakukan, eh?"

"Apa menurutmu jika aku melakukan sesuatu, itu akan membuat perubahan?" Sasuke balas bertanya setelah beberapa saat terdiam.

"Apa maksudmu?" tanya Naruto tak mengerti. Kerutan samar muncul di antara kedua alisnya.

Senyum pahit terulas di bibir Sasuke. "Sebenarnya aku berencana memberitahunya tentang perasaanku saat kami hanya berdua tadi. Tapi ..." Sasuke mengeluarkan suara tawa getir. Tangannya meraih daun apel di dekat kakinya dan menyobek-nyobeknya, "dengan situasi sekarang, kurasa Sakura tidak akan mau bicara padaku."

"Tunggu dulu—" Naruto terbelalak, terkejut dengan pengakuan Sasuke, "—kau bermaksud memberitahunya—" cowok pirang itu menegakkan tubuhnya duduk menghadap Sasuke agar bisa menatapnya lebih jelas, "kau bermaksud jadian dengan Sakura?"

Sasuke mendengus pelan. "Hn."

"Sialan kau," Naruto mengumpat. Meski demikian, ia tak dapat menahan seringai yang kemudian muncul di wajahnya.

Sejak menyadari sahabatnya itu menaruh hati pada Sakura, ia selalu bertanya-tanya sendiri kapan Sasuke akan punya nyali untuk mengambil langkah mendekati gadis itu. Bahkan terkadang merasa ia gemas sendiri ketika Sasuke tak kunjung memanfaatkan momen yang datang padanya dan bersikap seperti orang tolol. Sekarang ia tak yakin harus merasa senang atau sebal ketika akhirnya Sasuke berinisiatif untuk jadian dengan Sakura tanpa memberitahunya lebih dulu.

Sejujurnya ia terkesan—kecuali soal ciuman itu.

"Jadi kau memutuskan jika mencuri ciuman darinya sebelum menyatakan cinta bakal lebih keren, begitu?" tanya Naruto, menyikut lengan Sasuke agak keras.

"Yah ..." Sasuke mengangkat bahu, lalu menghela napas, "aku terbawa suasana."

Naruto mengangkat sebelah alisnya. "Aku tak tahu Sasuke Uchiha bisa membiarkan dirinya terbawa suasana," komentarnya kemudian sambil menyeringai kecil. "Biasanya kau sangat bisa mengontrol dirimu."

Sasuke tidak berkomentar.

"Kau tahu, Sasuke? Kau beruntung," kata Naruto setelah keduanya terdiam lagi, agak lama kali ini. "Waktu aku mencoba menciumnya dulu, Sakura sangat marah. Aku tak pernah melihatnya semarah itu pada siapa pun sebelumnya—itu membuatku takut setengah mati. Aku bahkan mendapatkan mimpi buruk." Naruto tertawa kecil mengingat saat-saat itu. "Tapi sekarang, denganmu—anehnya—Sakura tidak kelihatan marah."

"Mungkin dia sengaja tidak memperlihatkannya," komentar Sasuke tak terlalu yakin.

Menghela napas, Naruto menanggapi pelan, "Entahlah ... Tapi menurutku Sakura itu ibarat stoples kaca. Apa yang ada di dalamnya terlihat dengan jelas dari luar. Dia sangat ekspresif soal perasaannya, kau tahu kan?"

"Tapi jangan lupa dia juga anggota klub teater. Dia pandai berakting."

Berakting. Kata yang barusan terlontar dari bibirnya itu seolah menohoknya. Apakah semua sikap gadis itu setiap berada di dekatnya—yang tanpa sadar membuat harapannya melambung tinggi—hanyalah akting belaka?

Menyadari nada pahit dalam suara Sasuke, Naruto kembali menoleh menatap sahabatnya itu. Sejenak terdiam, ia memerhatikan air muka Sasuke perlahan berubah. Jika sebelumnya ia terlihat pasrah, sekarang ia tampak seperti sedang mengalami kekecewaan yang amat parah.

"Tidak," Naruto berkata tegas. "Sakura hanya berakting di atas panggung. Tapi yang tadi itu ... aku yakin itu sama sekali bukan akting." Naruto tak bisa melupakan betapa Sakura tak dapat menutupi kegelisahannya saat mereka di pondok tadi. "Dari pada marah, Sakura lebih terlihat seperti—entahlah ... sedih, mungkin?"

Mendengar kata-kata Naruto, perasaan Sasuke menjadi semakin tak karuan.

Sedih ... Tentu saja. Sasuke sadar bahwa ciuman itu hanya kecelakaan yang memalukan, dan itu juga membuatnya sadar akan hal lain. Bahwa selama ini dirinya memang salah mengartikan sikap Sakura padanya. Sakura hanya menganggapnya sahabat dan tidak lebih dari itu. Dan gadis itu sedih dan malu—itulah sebabnya Sakura menghindarinya—karena mengira tindakannya sudah membahayakan persahabatan mereka yang berharga.

Entah apa alasan mengapa Sakura menciumnya, Sasuke tak lagi peduli. Ada hal lain yang membuatnya jauh lebih cemas—persahabatannya dengan gadis itu.

Sasuke sudah terlalu terbiasa dengan kehadiran Sakura di dekatnya, sehingga rasanya sulit membayangkan dirinya tanpa gadis itu. Memikirkan kebersamaan mereka mungkin telah berakhir selamanya, dadanya serasa terhimpit sebuah batu besar, membuatnya sulit bernapas.

Ia tak akan rela jika semua yang telah mereka lewati bersama-sama berakhir begitu saja hanya karena sebuah insiden bodoh. Persetan dengan ciuman itu. Ia tak mau Sakura pergi darinya. Ia tak mau.

Tidak mau!

Tapi keinginan tak selalu sejalan dengan kenyataan. Sasuke merasa sangat tak berdaya saat ini. Ia merasa tak bisa berbuat apa-apa.

Risau dan tertekan oleh pemikirannya sendiri, Sasuke akhirnya tak bisa menahannya lagi—ia membiarkan emosi menguasai dirinya. Tidak, tentu saja Sasuke tidak menangis atau semacamnya. Dahinya berkerut dalam, kedua matanya terpejam rapat sementara tangannya yang gemetaran memijat-mijat pangkal hidungnya. Napasnya terdengar berat dan sedikit tersendat.

Sasuke sama sekali tak menyadari Naruto memerhatikannya sejak tadi dengan tatapan yang lebih lembut. Kekesalan yang dirasakannya terhadap Sasuke sebelumnya menguap entah kemana, digantikan rasa simpati mendalam. Rasanya ia bisa memahami apa yang dirasakan Sasuke saat itu—rasa bersalah ketika mengetahui dirinya menjadi penyebab orang yang disayangi terluka pastilah sangat menyakitkan.

Jika bukan karena kekhawatiran Sasuke yang sedemikian besar, dan perasaan sayangnya yang entah sudah sedalam apa terhadap Sakura—yang bahkan Naruto sendiri tak bisa membayangkannya—Sasuke tidak akan sampai sekalut ini.

Menghela napas, Naruto mengulurkan tangan menepuk-nepuk pundak sahabatnya pelan. Tak ada kata-kata penghiburan—Naruto merasa itu tidak akan banyak membantu. Biar saja keheningan yang menenangkan Sasuke dengan sendirinya.

Atau Rufus.

Seolah bisa memahami apa yang dirasakan adik laki-laki tuannya, anjing itu bangun dan menyalak kecil, menatap Sasuke dengan kedua matanya yang bulat. Naruto tak bisa menahan dirinya tersenyum menyaksikan bagaimana retriever itu dengan lembut menyorongkan moncongnya ke sisi wajah Sasuke, mengendus dan menjilatinya penuh sayang.

"Hei—" Sasuke menarik wajahnya ke belakang, berusaha menghindari serangan anjingnya. Tapi Rufus semakin bersemangat menjilatinya. Ekornya mengibas riang. "Hei—anjing nakal. Berhenti! Berhenti kubilang!"

Tawa Naruto sama sekali tak membantu.

Ketika Rufus akhirnya melepaskannya, pipi Sasuke sudah berlumur liur. Mengumpat, Sasuke menyeka wajahnya dengan lengan kausnya seraya memelototi Naruto yang masih terkekeh-kekeh.

"Diamlah ..." gerutu Sasuke.

"Apa?" kata Naruto, nyengir lebar. "Kurasa Rufus berniat menghiburmu. Benar kan, Boy?"

Golden Retriever itu menyalak pada Naruto, kemudian berpaling dan pergi ke semak-semak di antara pohon-pohon apel. Tak lama kemudian ia kembali membawa sebatang kayu kering, menjatuhkannya di dekat kaki Sasuke dan memandangnya penuh harap.

"Sepertinya dia bermaksud mengajakmu bermain," komentar Naruto.

"Aku sedang tidak ingin bermain, Boy," Sasuke berkata malas pada anjingnya.

Rufus bergeming. Mata gelapnya yang bundar mengedip menatap Sasuke. Menunggu. Ekornya mengibas-ibas di belakang tubuhnya. Sasuke mengerang. Tak ada yang bisa mengelak ketika seseorang—atau, dalam hal ini, seekor anjing—memberimu tatapan puppy-eyes yang mematikan. Sasuke Uchiha bukanlah pengecualian.

"Baiklah," kata Sasuke akhirnya, mengambil kayu yang dibawakan Rufus padanya dan bangkit berdiri. "Sekali saja. Setelah itu kau pergi ke Itachi dan ajak dia main."

Rufus menyalak riang, sementara Sasuke mengambil ancang-ancang, lalu sekuat tenaga melempar batang kayu di tangannya. Rufus dengan gesit segera berbalik dan berlari mengejarnya.

"Setiap melihatmu dengan Rufus, aku jadi ingin punya anjing juga," kata Naruto, terkekeh-kekeh. "Tapi pap pasti tidak bakal mengizinkan. Pap alergi bulu binatang."

Sasuke hampir tak mendengarkan. Pikirannya tengah tertuju pada hal lain. "Hei, Naruto."

"Hm?" Naruto mengalihkan pandangannya dari Rufus dan mendongak memandang Sasuke.

Sasuke termangu sejenak, sebelum menoleh menatap sahabatnya. Sorot matanya diliputi keraguan. "Apa menurutmu Sakura akan memaafkanku?"

Naruto mendengus. "Ck. Kenapa kau kedengarannya pesimis begitu, sih? Tentu saja dia akan memaafkanmu—bahkan sebelum kau minta maaf sekali pun. Kau ini seperti tidak kenal Sakura saja—dia sekarang bahkan bisa berteman dengan Karin dan gengnya, padahal cewek-cewek itu sering bersikap kejam padanya sejak sekolah dasar hanya karena dia pintar!—Dia hanya ... butuh waktu—ngerti, kan?"

"Yeah ..." Sasuke menghela napas panjang, menyapu rambut hitamnya dengan jari-jarinya ke belakang.

Naruto menatapnya beberapa saat lagi sebelum berkata, "dengar, Teman. Kau tahu, kan, aku juga pernah berada di posisimu sekarang? Jadi aku bisa ngerti bagaimana perasaanmu." Jeda sementara Naruto menghembuskan napas dengan dramatis sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Sial ... kupikir setelah ibuku meninggal, aku tidak akan pernah merasa seburuk itu lagi. Rasanya seperti mau mati saja."

Sasuke menatap Naruto, tak berkomentar apa-apa. Naruto memberinya pandangan penuh arti, sebelum melanjutkan,

"Tapi satu hal yang perlu kau tahu, Sasuke. Ciuman itu bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan ketulusanmu pada Sakura—itu yang terpenting. Dan aku percaya padamu 97 persen, Sasuke."

"Bagaimana dengan tiga persennya lagi?"

"Yah ..." Naruto menghembuskan napas dengan dramatis. Cengiran jahil menghiasi wajahnya. Mata birunya berkilat-kilat sementara ia mengangkat jari-jarinya dan mulai menghitung. "Pertama, kalau kau berhenti bersikap seperti orang tolol di depan Sakura dan membuatnya sebal. Kedua, kalau kau berani menyatakan perasaanmu pada Sakura. Terakhir, kalau kau bisa membuat Sakura bahagia, baru aku akan percaya seratus persen padamu."

Sasuke mendengus kecil. Bibirnya dihiasi seulas senyum masam. Yang benar saja, pikirnya. Dalam situasi seperti sekarang, rasanya jauh sekali jika ia berharap Naruto bisa memercayai ketulusannya pada Sakura seratus persen. Terutama dua yang terakhir itu. Sasuke bahkan tak berani bermimpi.

Menyadari tampang sahabatnya, Naruto tertawa kecil. "Apa? Merasa tidak percaya diri, eh?"

"Gampang saja kau bilang begitu," sahut Sasuke, memberengut.

"Oh, ayolah, Sasuke ..." kata Naruto gemas, "jangan menyerah sekarang. Kau mungkin melakukan kesalahan, tapi kau masih bisa memperbaikinya. Aku tidak akan bilang begini kalau aku merasa kau tak punya kesempatan—tidak sepertiku yang sejak awal sudah berada di zona teman."

Tak tahu harus berkomentar bagaimana, Sasuke kembali terdiam. Meski demikian, kata-kata sahabatnya itu membuat beban yang sebelumnya membebani hatinya sedikit terangkat, walaupun belum sepenuhnya. Masih ada sesuatu yang mengganggunya.

"Tapi terserah kau saja, sih. Keputusan sepenuhnya ada di tanganmu," kata Naruto kemudian. "Aku hanya berharap persahabatan kita bisa tetap kuat—ngerti, kan?"

"Yeah ..." gumam Sasuke, mendesah. Sekali lagi ia melarikan jemarinya di rambutnya, membuatnya semakin berantakan. "Yeah, tentu saja."

Tepat saat itu, Rufus kembali membawa batang kayu yang dilemparnya tadi, menjatuhkannya di dekat kaki Sasuke dan menyalak riang, menyundul-nyundul tangan cowok itu dengan moncongnya.

Sasuke memandang anjingnya, tersenyum kecil. "Baiklah. Satu kali lagi." Dengan perasaan lebih ringan dari sebelumnya, Sasuke memungut batang kayu di kakinya. Digoyang-goyangkannya kayu itu untuk menggoda si anjing—membuat kepala retriever itu ikut bergoyang mengikuti ujungnya—kemudian dilemparkannya jauh-jauh.

Rufus bergegas mengejarnya.

Kayu itu melayang di udara beberapa saat—"AWAS!"

Entah apa yang akan terjadi jika saja Itachi, yang tiba-tiba saja muncul, tidak cukup gesit menunduk untuk menghindari batang kayu yang nyaris menyambar kepalanya itu.

"Oi, hati-hati!" mereka bisa mendengar kakak laki-laki Sasuke itu berteriak.

"Kak Itachi tak apa-apa?!" Naruto melompat berdiri.

Di kejauhan, Itachi melambaikan tangannya sebagai isyarat dirinya baik-baik saja. Ia seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi perhatiannya teralih oleh Rufus. Alih-alih mengambil kayu yang dilemparkan Sasuke, anjing itu justru melompat ke arah Itachi, menyalak. Ia berdiri dengan kedua kaki belakangnya, berusaha menjilati wajah sang tuan.

"Haha ... tidak apa, tidak apa. Kau khawatir, ya?" Itachi menggaruk leher anjingnya, terkekeh. "Oi, kalian berdua! Makan siang sudah siap. Kalian lapar tidak?"

"Lapaar!" Naruto serta-merta menjawab. Di sampingnya, Sasuke mendengus. Naruto mendelik ke arahnya. "Apa? Kau tidak lapar? Kau praktis belum makan apa-apa sejak pagi."

Perut Sasuke memilih saat itu untuk mengeluarkan suara gemuruh keras yang memalukan. Sasuke buru-buru berpaling, menghindari tatapan meledek Naruto.

"Sudah kuduga." Sasuke bisa mendengar sahabatnya itu tertawa mengejek. Dan sebelum ia sempat berkata apa-apa untuk membalas, Naruto sudah menarik lengannya, menggiringnya meninggalkan kebun apel menyusul Itachi yang sudah pergi terlebih dulu bersama Rufus. "Ayo! Jangan menyiksa diri dengan membuat dirimu sendiri kelaparan!"

Sasuke memutar bola matanya. Di antara mereka berempat, Naruto memang yang paling cepat tanggap jika menyangkut makanan. Meski begitu, Sasuke tak menampik Naruto.

"Jadi, bagaimana rasanya?" tanya Naruto penasaran ketika mereka melewati rumah kaca.

"Apanya?" Telinga Sasuke memerah. Meski sudah bisa mengira apa yang dimaksud Naruto, ia memilih pura-pura tidak mengerti.

Terkekeh-kekeh, Naruto menyambar leher Sasuke dengan lengannya. "Kau ini ... tak usah pura-pura tidak mengerti begitu dong. Tentu saja berciuman dengan Sakura! Apa lagi? Atau jangan-jangan tidak kena seperti aku dulu, ya? Aah ... sayang sekali—"

"Tentu saja kena!" sambar Sasuke tanpa berpikir—dan dengan sukses membuat seluruh wajahnya merah padam. "Tapi aku tidak akan memberitahumu!" tambahnya buru-buru seraya melepaskan lengan Naruto dari bahunya. Sebelum Naruto sempat bertanya macam-macam lagi, Sasuke mempercepat langkah mendahuluinya.

"Dasar pelit!" Naruto berteriak ke punggung Sasuke.

Sasuke tak menggubrisnya.

Seringai jahil kemudian muncul di wajah si pirang. Ia berlari ke arah sahabatnya itu, dan tanpa peringatan melompat ke punggung Sasuke, membuatnya nyaris tersungkur ke tanah.

"OI!"

.

.

Semua orang sudah berkumpul di teras belakang pondok yang terbuka ketika Sasuke, Naruto dan Itachi beserta anjingnya tiba di sana tak lama kemudian. Mereka disambut oleh Gaara, yang duduk sendirian di undakan kayu, tengah menelepon seseorang dengan ponselnya. Remaja berambut merah itu mendongak dan mengendikkan kepala sebagai sapaan saat mereka berjalan melewatinya—dari caranya menatap Sasuke, tampaknya Gaara belum melupakan tuduhan tak berdasar yang ditujukan padanya beberapa saat lalu.

Pein, Sasori, Deidara, Kankurou dan Zetsu tampak sedang duduk-duduk santai di dipan, asyik mengobrol entah tentang apa dan tertawa dengan suara keras—suara mereka bahkan terdengar hingga rumah kaca—sambil minum minuman kaleng dingin. Hidan, yang tampak bosan, tidak bergabung dalam obrolan teman-temannya. Lelaki berambut putih itu memilih bermalas-malasan di ayunan rotan sambil merokok, mengawasi para wanita mondar-mandir sibuk menata meja kayu panjang yang akan mereka gunakan untuk acara makan siang. Lebih tepatnya, mata magenta-nya terus terpacang pada satu orang wanita: Konan. Tentu saja tanpa sepengetahuan yang bersangkutan—dan Pein—Ia langsung melihat ke arah lain setiap kali Konan menoleh ke arahnya.

Sementara itu Kisame dan Tobi terlihat sibuk bolak-balik dapur menggotong wadah-wadah besar berisi makanan—Kisame meneriaki teman-temannya untuk membantu, tapi tak seorang pun yang menggubrisnya. Di sudut yang agak jauh, tampak Kiba asyik sendiri menonton Akamaru melahap makanan dari mangkuk makanannya. Akamaru tampak tak keberatan ketika Rufus mendekat dan bergabung dengannya—tampaknya kedua anjing itu sudah terbiasa berbagi makanan sekarang.

Meski demikian, Sai dan Sakura tak terlihat di mana pun.

"Mana Sai dan Sakura?" Sasuke menoleh ke sana kemari, mencari keberadaan dua temannya yang lain.

"Kelihatannya mereka masih di atas," sahut Naruto, menunjuk ke atas. "Mau ke sana?"

Sebelum Sasuke sempat menjawab, Hana Inuzuka muncul dari pintu pondok, membawa pitcher berisi limun dingin. "Ah, kalian sudah datang," sambutnya, tersenyum hangat. "Masuklah dan cuci tangan dulu. Makanannya hampir siap—Itachi!" nada bicaranya mendadak galak ketika melihat kekasihnya hendak mengambil semangka dari meja. "Jangan menyentuh apa pun di meja sebelum kau cuci tangan! Kau habis memegang Rufus, kan?"

Itachi menarik kembali tangannya dan dengan patuh bergegas pergi ke wastafel di dapur untuk mencuci tangannya. Naruto dan Sasuke mengekornya masuk ke pondok.

Mereka bisa mendengar Kisame tertawa. Jika saja kepalanya tidak sedang dipenuhi oleh Sakura, Sasuke juga pasti tidak akan melewatkan kesempatan itu untuk mengejek Itachi. Selalu menyenangkan setiap kali melihat sang kakak yang biasanya bawel dan gemar mengatur-ngaturnya di rumah itu menurut pada Hana seperti kerbau yang dicucuk hidungnya—Selain ibu mereka, memang hanya Hana Inuzuka yang bisa melakukannya—Tapi biasanya Itachi tidak begitu keberatan. Ditertawakan, maksudnya.

Itachi memang tidak pernah ambil pusing tentang anggapan orang terhadap dirinya. Ia tak keberatan terlihat konyol demi orang yang ia sayangi—meski tentu saja Itachi Uchiha jarang terlihat konyol. Apa pun yang dilakukannya hampir selalu terlihat keren—Sasuke belum lupa kejadian seratus buket mawar yang pernah dikirim Itachi untuk Hana hanya untuk membujuk kekasihnya itu agar mau bicara lagi padanya.

Ah, seandainya saja Sasuke bisa melakukan hal yang sama untuk Sakura. Tapi Sasuke segera menepis jauh-jauh pemikiran itu dari benaknya, ngeri sendiri memikirkan bagaimana reaksi orang-orang jika ia nekat melakukan hal konyol begitu.

Yah, Sasuke memang berbeda dari kakaknya—tak peduli betapa miripnya mereka.

"Jadi, mau menyusul Sakura, tidak?" Naruto menyikut lengannya saat mereka tengah berdiri bersisian di depan wastafel untuk mencuci tangan setelah Itachi pergi.

Sasuke baru saja hendak membuka mulut untuk menjawab ketika terdengar suara dari belakang mereka,

"Sebaiknya jangan sekarang. Sakura baru saja tidur."

Keduanya serentak menoleh, mendapati Sai melenggang santai memasuki dapur sambil memamerkan senyum yang menjadi ciri khasnya.

"Kelihatannya dia kelelahan," tambahnya. Pandangannya kemudian bergulir ke arah Sasuke, mengamatinya beberapa saat. Tak ada tanda-tanda memar atau semacamnya. "Naruto tidak jadi memukulimu, kalau begitu?"

"Maaf, kalau itu mengecewakanmu," sahut Sasuke sinis, sementara Naruto terkekeh dan berkata dirinya terlalu lapar untuk memukuli Sasuke.

Sai tidak berkomentar, hanya melempar senyum penuh arti pada Sasuke—membuat Sasuke berpikir Sakura mungkin sudah memberitahu Sai apa yang terjadi antara dirinya dan gadis itu. Tetapi Sasuke sedang tidak ingin memikirkannya dulu sekarang. Kondisi Sakura lah yang ia pikirkan.

"Sakura tidak apa-apa, kan?" ia menanyai Sai.

Sai melangkah ke sampingnya, menggulung lengan kausnya sampai siku. "Tidak ada yang serius," sahutnya ringan. "Sakura memberitahuku dia memang biasa mimisan jika kepanasan atau kelelahan. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi kalau kau benar-benar mencemaskannya, kau bisa mengeceknya sendiri nanti—mumpung dia sedang tidur. Dia ada di atas, kamar paling ujung dari tangga."

Saat mereka kembali ke teras belakang bergabung dengan yang lain untuk makan siang, Sasuke masih memikirkan usul Sai. Sejujurnya ia sangat ingin melihat Sakura, hanya untuk memastikan gadis itu baik-baik saja. Sakura sedang tidur sekarang—jika yang dikatakan Sai benar—jadi ia tak perlu merasa canggung. Hanya mengecek sebentar sepertinya tidak akan melukai siapa pun.

Tapi bagaimana jika ternyata Sakura tidak tidur?

Senggolan kecil di lengannya membuyarkan lamunan Sasuke.

"Kenapa tidak makan? Tidak suka makanannya?" tegur Itachi yang duduk di sebelahnya, seraya mengerling piring Sasuke yang masih kosong.

Sasuke memandang ke sekelilingnya. Rupanya semua orang sudah mengisi piring masing-masing kecuali dirinya. Obrolan dan tawa santai ditingkahi suara denting peralatan makan memenuhi tempat itu. Di sisinya yang lain, Sai tampak sibuk sendiri dengan ponselnya sembari mengunyah salad. Di seberang meja, Naruto sedang menambahkan meat ball banyak-banyak di atas pastanya, menertawakan entah apa yang dikatakan Gaara yang duduk di sebelahnya.

"Mood-mu sedang buruk, ya?" suara Itachi mengembalikan perhatian Sasuke kembali padanya. Mata hitam sang kakak yang identik dengan miliknya menatapnya penuh selidik. Menghela napas, Itachi kemudian mengambil piring milik sang adik dan mengisinya dengan pasta. "Makan ini. Tobi memetik sendiri tomat untuk sausnya tadi pagi. Rasanya sangat enak, kau pasti menyukainya. Atau mau kusuapi?"

"Tidak, terimakasih." Sasuke merebut garpunya dari tangan Itachi dan mulai makan. Kendati ia sedang tidak terlalu berselera, tapi benar yang dikatakan kakaknya—pastanya memang sangat enak, membuatnya tersadar betapa laparnya ia.

Itachi menyeringai kecil mengawasi adiknya makan dengan lahap, lalu menuang limun dingin ke gelas Sasuke yang masih kosong. "Makan yang banyak. Setelah itu suasana hatimu pasti baik lagi."

"Sok tahu," gerutu Sasuke setelah menelan makanannya.

Itachi hanya terkekeh, sebelum berpaling untuk membantu Hana memotong-motong pai apel untuk cuci mulut.

Sasuke tak bisa makan dengan tenang, tentu saja. Selain karena suasananya yang kelewat bising—meja itu meledak dalam sorak-sorai ketika Kisame dengan bangga mengeluarkan sebotol anggur yang berhasil 'dicuri'-nya dari bawah hidung Kakuzu. Lalu mereka mulai mengedarkannya untuk dibagi-bagikan. Pengecualian untuk para remaja yang belum cukup umur. Mereka hanya mendapatkan limun—Pikirannya terus-menerus melayang ke tempat lain.

Apa lagi kalau bukan Sakura.

"Hei," Sasuke menyikut lengan Sai, mengalihkan perhatian temannya itu dari ponselnya. "Sakura—apa dia sudah makan?"

"Belum, kalau yang kaumaksud makanan berat," sahut Sai. Menyadari perubahan ekspresi Sasuke yang tampak tak senang, Sai buru-buru menambahkan, "jangan khawatir. Aku sudah menyiapkan ini untuk Sakura." Ia menunjuk piring berisi beberapa tangkup sandwich tuna dan salad yang diletakkan di samping piringnya—yang sebelumnya sama sekali tidak diperhatikan Sasuke—"Aku akan membawanya ke atas setelah makan. Lagi pula Sakura sudah makan kudapan. Setidaknya dia tidak kelaparan."

Sasuke memberi Sai anggukan kaku. Berusaha mengabaikan entakan kecil rasa cemburu pada Sai yang bergerak lebih cepat darinya, Sasuke meraih gelas limun dan menenggaknya banyak-banyak untuk membasahi kerongkongannya yang mendadak terasa kering.

"Mau kemana?" tanya Sai ketika dilihatnya Sasuke beranjak dari bangkunya dan mengambil piring yang sudah disiapkannya untuk Sakura.

"Ke tempat Sakura," Sasuke menyahut singkat.

"Hei, Sasuke—" panggil Sai, tetapi Sasuke sudah keburu menghilang di balik pintu pondok.

"Biarkan saja," Naruto berkata cepat, sebelum Sai sempat beranjak untuk menyusul Sasuke. Rupanya sejak tadi ia memerhatikan obrolan kedua sahabatnya. "Sasuke sudah seharian mencemaskan Sakura. Dia bisa gila kalau kau menghalanginya. Jadi biarkan saja dia."

Sai memberi Naruto tatapan menyelidik. Ia merasa agak heran dengan perubahan sikap Naruto. Padahal sebelumnya ia yakin Naruto marah pada Sasuke, tapi sekarang kemarahan itu sudah menguap entah kemana. Sepertinya entah apa yang dikatakan Sasuke pada Naruto, sudah mengubah pikiran si pirang itu.

Apakah Sasuke sudah memberitahu Naruto soal insiden itu? Sasuke memberitahu Naruto bahwa Sakura menciumnya—itukah yang membuat Naruto tidak marah pada Sasuke? Karena Sasuke praktis tidak bisa disalahkan dalam insiden itu.

Baru saja Sai hendak membuka mulutnya untuk bertanya ketika ia teringat janjinya untuk tidak membahas masalah itu pada siapa pun—termasuk Naruto. Bagaimana jika ternyata Naruto sama sekali belum tahu? Bertanya padanya masalah itu malah akan membuka rahasia Sakura dan Sasuke—dan itu hanya akan membuat Sakura semakin malu.

Sai lantas mengurungkan niatnya dan berpaling, melanjutkan makan siangnya tanpa berkata apa-apa lagi kecuali, "yeah. Kau benar."

.

.

Tak perlu waktu lama bagi Sasuke menemukan kamar tempat Sakura beristirahat. Pondok itu tidak sebesar rumahnya di Oto, atau mansion tempat Sai tinggal di Root Hills, yang berpotensi membuat tamu mereka tersesat jika nekat berkeliaran sendiri. Hanya dengan melewati satu tangga menuju lantai atas tempat kamar para penghuni pondok berada, lalu sebuah lorong berlantai kayu yang sempit, dan di sanalah Sasuke berdiri sekarang: di depan pintu kayu kamar paling ujung—tempat yang dideskripsikan Sai sebelumnya—terdiam seperti orang tolol, dengan piring berisi makanan di tangannya.

Berkali-kali tangannya terulur hendak meraih kenop pintu, sebelum kemudian menariknya kembali, mendesiskan makian pada dirinya sendiri. Jantungnya berdegup begitu kencangnya sampai Sasuke nyaris bisa mendengarnya bergaung di telinganya. Tangannya berkeringat. Sasuke tak pernah merasa segugup ini hanya karena ingin bertemu dengan Sakura. Bahkan saat ujian semester ia tidak segugup ini.

Sasuke menggeram, mengacak rambutnya frustasi.

Tenangkan dirimu, Sasuke Uchiha—sialan! Memangnya apa masalahnya? Dia cuma Sakura. Lagi pula dia sedang tidur, dan yang perlu kaulakukan hanya masuk, meletakkan makanannya, lalu pergi. Yah ... mungkin meliriknya sedikit untuk mengecek. Sekali lagi, di mana masalahnya?! Demi Tuhan, kau sudah melihatnya berjuta-juta kali sebelumnya!

Sasuke memejamkan mata sejenak sembari menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Kenop pintu terasa dingin dan licin di tangannya yang berkeringat ketika akhirnya keberaniannya muncul untuk meraihnya. Sejenak keraguan menghampirinya lagi, tapi kali ini Sasuke memantapkan dirinya untuk menguak pintu kayu yang memisahkannya dari Sakura.

Hal pertama yang dicarinya saat pintu terbuka adalah tempat tidur. Pandangannya langsung tertumbuk pada ranjang susun di salah satu sisi kamar, menempel pada dinding kayu. Dan sosok berambut merah muda yang berbaring miring menghadap dinding itu—tidak salah lagi—memang Sakura.

Berusaha tak membuat suara, Sasuke melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya perlahan. Sasuke menelan ludah dengan susah payah ketika mengayunkan langkah mendekati ranjang, sementara matanya tak pernah meninggalkan sosok yang berbaring di atasnya.

Sepertinya Sakura memang sedang tertidur lelap. Bahunya yang dilapisi t-shirt putih gading bergerak lembut mengikuti irama napasnya yang dalam dan teratur. Rambut merah mudanya yang pendek tersingkap, memperlihatkan bagian belakang lehernya yang putih. Selembar selimut tipis menutupi tubuhnya dari pinggang sampai mata kaki, sementara jaket merahnya tersampir di punggung kursi di dekat ranjang, bersama sepatu kets dan kaus kaki yang diletakkan dengan rapi di bawahnya.

Sakura masih tampak sama seperti saat mereka meninggalkan kediaman Paman Kaiza pagi tadi. Sulit dipercaya. Padahal tadi pagi mereka masih baik-baik saja—mengobrol, bergurau. Bahkan suara tawa gadis itu saat menggodanya masih terngiang dengan jelas—Tapi Sasuke merasa saat-saat itu seperti sudah lama sekali berlalu. Dan entah mengapa, walaupun Sakura sedang berada tepat di hadapannya sekarang ini, gadis itu terasa begitu jauh. Tak terjangkau olehnya.

"Sakura ..." Sasuke berbisik, hanya karena ingin merasakan nama gadis itu bergulir di lidahnya, "... kau tidur?"

Pertanyaan Sasuke disambut keheningan. Sakura masih bergeming di tempatnya berbaring. Meski begitu, Sasuke tidak tampak kecewa, tentu saja, karena ia memang tidak mengharapkan datangnya jawaban dari gadis itu. Melihat Sakura baik-baik saja dan bisa beristirahat dengan tenang saja sudah cukup melegakan hatinya.

"Aku datang membawakan makan siang untukmu," lanjutnya, masih dengan suara lirih.

Untuk pertama kalinya, Sasuke menghalihkan pandangannya dari Sakura berkeliling kamar itu—mencari tempat di mana ia bisa meletakkan piring yang dibawanya. Tapi rupanya satu-satunya meja yang ada di kamar itu jelas tidak bisa digunakan. Setumpuk buku yang sebagian besar tentang berbagai macam tanaman perkebunan, cara bercocok tanam dan semacamnya, juga buku-buku dan majalah lain yang sama sekali tak menarik minat Sasuke, memenuhi sebagian besar tempat di meja itu. Sebagiannya lagi ditempati oleh sebuah wadah berisi kompres es dan selembar sapu tangan bernoda darah, kotak tissu, dan sebuah nampan berisi gelas minuman yang isinya tinggal separuh dan piring kudapan. Tak ada tempat lagi tersisa untuk meletakkan piringnya.

Akhirnya Sasuke memutuskan meletakkanya di atas bangku tempat jaket Sakura disampirkan. Lagipula akan lebih mudah bagi Sakura meraihnya dari tempat tidur ketimbang menyimpannya di meja.

Namun alih-alih langsung beranjak pergi seperti yang ia rencanakan, Sasuke malah terpaku di sisi ranjang. Mata hitamnya tak lepas mengamati sosok Sakura yang berbaring di atasnya—kesempatan yang rasanya bukan tidak mungkin tidak akan pernah datang lagi padanya setelah apa yang terjadi di antara mereka—Sasuke tak dapat melihat wajahnya dengan jelas, tetapi dari alunan napasnya yang teratur, juga bibirnya yang sedikit terbuka, ia bisa merasakan betapa damainya gadis itu sekarang. Tidak seperti sebelumnya. Ekspresi Sakura saat melihatnya seperti sedang melihat hantu—dan jujur saja itu sedikit melukai perasaannya.

Ah, tapi Sasuke tak ingin memikirkan hal itu sekarang. Sakit hatinya bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan perasaan lega bisa melihat Sakura tanpa kecanggungan. Walaupun hanya sebentar. Walaupun Sakura sedang dalam keadaan terlelap.

Mengikuti dorongan hatinya, Sasuke mengulurkan tangan ke arah gadis itu, hendak menyentuh rambutnya. Tapi di tengah jalan mendadak ia mengurungkan niat dan menarik kembali tangannya.

Sasuke menghela napas. Ia tak ingin mengusik tidur Sakura, tetapi juga masih enggan beranjak dari sana. Tinggal sebentar lagi sepertinya tidak akan melukai siapa pun, bukan? Dan itulah yang kemudian dilakukan Sasuke.

Ia menempatkan dirinya duduk di sisi ranjang, di atas lantai kayu yang dingin. Selama beberapa saat ia hanya diam dan memandangi helaian-helaian rambut merah muda di bagian belakang kepala Sakura, seakan sedang meresapi kelembutan warnanya.

"Hei ..." bisiknya, "ini aku, Sasuke."

Sesaat Sasuke merasa seperti orang bodoh. Bicara pada orang yang sedang tidur. Tapi ia tak bisa menahan diri. Rasanya lebih mudah bicara di depan Sakura yang sedang terlelap ketimbang jika gadis itu bangun.

"Sai bilang kau sudah baikan," lanjutnya, "baguslah. Tapi seharusnya kau memberitahu kami kalau kau tidak tahan di bawah sinar matahari terlalu lama. Dasar bodoh. Kau sudah membuat semua orang panik."

Sasuke menghela napas, merasakan sudut-sudut bibirnya sedikit tertarik ke atas dalam senyuman getir. Lalu ia berkata lambat-lambat, "tentang kejadian di jembatan itu ... bisa tidak kita melupakannya saja? Anggap saja tidak pernah terjadi. Aku tidak tahan jika kau terus-terusan menghindariku hanya karena kejadian itu, Sakura—aku tahu kau tidak sengaja. Aku mengerti, jadi kau tak perlu khawatir."

"Kita bersahabat, bukan? Dan kau yang mengajarkan padaku jika persahabatan kita lebih penting dari apa pun. Kecuali kalau kau tidak bersungguh-sungguh saat mengatakannya."

Sasuke membiarkan keheningan menggantung. Angin musim panas berhembus perlahan dari pintu balkon yang terbuka. Suara-suara dari teras di bawah terdengar lamat-lamat, meningkahi suara gemerisik pepohonan yang tertiup angin.

Entah Sasuke menyadarinya atau tidak, ketika jemarinya memainkan helaian rambut Sakura yang terhampar di atas bantal. Sasuke merasakan perasaannya pada Sakura memenuhi dirinya. Tergambar di wajahnya. Memancar di sorot matanya—hal-hal yang selama ini selalu berusaha disembunyikannya rapat dari dunia.

"Aku ingin mengakui satu hal padamu, Sakura Haruno," Sasuke nyaris tak mengenali suaranya saat ia mulai berbicara. Suaranya tak pernah selembut itu. "Aku menyukaimu. Aku sayang padamu, Sakura. Lebih dari seorang sahabat, kau tahu? Dan aku tidak akan pernah menyesali perasaanku."

Jeda beberapa saat, sebelum Sasuke melanjutkan, "kalau kau mau menerima perasaanku, aku pasti akan sangat senang. Tapi jika kau memintaku melupakannya, aku akan melakukannya. Aku tidak akan memaksakan diriku padamu. Asalkan kau tidak meninggalkanku."

Tawa getir sekali lagi terlepas dari bibir Sasuke. "Jika saja aku bisa mengatakannya langsung padamu saat kau bangun, Sakura. Tapi rasanya itu tidak mungkin."

Helaan napas berat terlepas dari tenggorokan Sasuke saat ia akhirnya berpaling, menyandarkan punggungnya pada tepi ranjang yang terbuat dari kayu. Sejenak ia memejamkan mata, merasakan hembusan udara hangat dari luar menerpa wajahnya. Rasanya nyaman. Bukan hanya karena suasana kamar yang tenang, tapi juga karena apa yang telah ia lakukan. Walaupun ia sadar sepenuhnya bahwa Sakura tidak mendengarnya sepatah kata pun.

Merasa sudah waktunya ia pergi—sebelum ia benar-benar berubah jadi sentimentil—Sasuke beranjak berdiri. Dan setelah melempar tatapan terakhir pada sosok di atas ranjang, ia pun berjalan menuju pintu, menutupnya perlahan di belakangnya.

.

.

.

Keheningan yang menyusul setelah kepergian Sasuke disela orang suara isakan kecil yang berasal dari ranjang tempat Sakura berbaring.

Posisi gadis itu kini sudah berubah. Lututnya tertarik ke dadanya dalam posisi meringkuk. Bahunya gemetar. Sebelah tangannya memekap mulut untuk meredam isakannya. Air mata mengalir deras dari bawah pelupuk matanya yang terpejam.

Sasuke sama sekali tidak menyadari bahwa sejak awal Sakura mendengarkannya.

Kata demi kata.

"Sasuke ... maaf ..."

.

.

.

.

.

.

Situasinya tak banyak berubah di antara Sasuke dan Sakura setelah dua hari sejak peristiwa di jembatan itu. Kecanggungan di antara keduanya masih jelas terasa—terutama Sakura.

Sasuke merasa Sakura selalu menghindarinya. Ia selalu kabur setiap kali berada dalam satu ruangan bersamanya terlalu lama, tidak bicara padanya, bahkan tak mau memandangnya—membuat Sasuke merasa dirinya seperti manusia tak kasat mata. Tak peduli seberapa keras Sasuke mengingatkan dirinya sendiri bahwa mungkin memang belum saatnya—barangkali gadis itu masih membutuhkan waktu lebih lama sampai siap bicara lagi dengannya—keadaan ini tetap saja membuatnya merasa sedikit tertekan.

Ini merupakan hari-hari terburuk selama mereka liburan di Kiri. Dan Sasuke tak bisa membayangkan dirinya menghadapi situasi seperti ini seorang diri. Ia tak pernah merasa lebih bersyukur lagi memiliki Naruto dan Sai sebagai sahabatnya.

Sasuke tidak tahu apakah Sakura menceritakan insiden bibir itu pada Sai atau tidak, yang jelas Sai tak pernah sekali pun menyinggung atau bertanya apa pun tentang kejadian itu. Sai bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, kendati jelas sekali ia menyadari kecanggungan antara Sasuke dan Sakura. Demikian juga dengan Naruto. Ia tak memaksa Sasuke untuk segera membereskan permasalahannya dengan Sakura secepat mungkin. Dan Sasuke sangat berterimakasih karena itu. Tekanan lain dari teman-temannya adalah hal terakhir yang ia butuhkan dalam situasi seperti ini.

Meski begitu, tampaknya Naruto dan Sai telah membuat kesepakatan tanpa sepengetahuan Sasuke untuk membantunya mencairkan suasana kaku antara dirinya dan Sakura. Mereka mencoba memancing obrolan, membuat Sasuke dan Sakura memasak dan mencuci piring bersama-sama, meninggalkan mereka berduaan di ruang televisi dengan berbagai alasan—hal-hal semacam itu. Sayangnya usaha mereka tidak begitu sukses, mengingat betapa keras kepalanya Sakura.

Gadis itu tampaknya menyadari apa yang coba mereka lakukan. Ia lalu kabur dan melewatkan sepanjang hari mengurung diri di kamarnya.

Tapi Sasuke tak lantas menyalahkan kedua sahabatnya. Ia melampiaskan perasaannya dengan memaksa Naruto dan Sai mengajarinya bermain gitar, dan berakhir dengan jari-jari melepuh parah.

Hari berikutnya tidak jauh lebih baik. Sakura rupanya telah menemukan metode lain untuk menghindari Sasuke—melakukan sesuatu yang biasanya tidak disukai para cowok: shopping.

Ternyata Sakura sudah menghubungi Hinata hari sebelumnya, dan sekarang kedua gadis itu berencana berkeliling Kiri untuk berburu pernak-pernik. Awalnya mereka semua pergi bersama-sama, tapi pada akhirnya hanya Naruto yang bertahan mengekor kedua gadis itu, sementara Sai dan Sasuke memutuskan untuk menghabiskan waktu di tempat lain—Lagipula jika dibandingkan harus menahan kegetiran melihat Sakura yang terus-terusan bersikap seakan ia tak ada, Sasuke memilih menghindarinya untuk sementara waktu.

Dan di sanalah mereka sekarang berada: duduk-duduk di bawah naungan kanopi berwarna putih salah satu cafe outdoor tepat di sisi sungai yang membelah kota Kiri, dengan latar belakang pemandangan sungai dan kapal-kapal wisata yang berlalu-lalang melewati tempat itu. Dua gelas minuman dingin yang sudah setengah diminum dan sepiring fish and chips diletakkan di atas meja di hadapan mereka.

Sudah setengah jam lebih kedua cowok itu berada di sana, tenggelam dalam kegiatan masing-masing tanpa bicara—kecuali saat mereka memesan makanan—Sasuke menenggelamkan diri di balik novel misteri yang baru dibelinya di toko buku favorit Sakura. Di seberang meja, Sai tengah berkonsentrasi pada hobi lamanya. Buku sketsa bersampul kulit disandarkan di atas lututnya, sementara tangannya yang memegang pinsil berujung lunak bergerak terampil di permukaannya. Sesekali matanya yang terlindung di balik kacamata hitam melirik objek sketsanya seberang meja.

"Serius sekali," komentar Sai, memecah keheningan.

Sasuke tak menanggapi. Entah karena memang tak mendengar, atau sedang malas bicara. Sai tertawa kecil, kemudian kembali memfokuskan perhatiannya pada pekerjaannya.

"Kelihatannya kau mulai ketularan hobi Sakura dengan novel-novel itu, eh?"

"Tidak ada hubungannya," gumam Sasuke tanpa memandang Sai. "Aku membacanya karena novel ini lumayan menarik."

Sai mendengus tertawa. "Tentu saja," sahutnya kalem.

Sasuke mengangkat kepalanya, memicing memandang Sai. Ada sesuatu dari nada bicara Sai yang mengganggunya. "Apa?"

"Novel itu—memangnya apa lagi?" Sekali lagi Sai mengangkat kepalanya, memberi tatapan menyebalkan pada Sasuke—meskipun secara teknis Sasuke tak bisa melihatnya karena terhalang kacamata hitam—"Saking menariknya, sampai-sampai kau tak membalik halamannya selama kira-kira ... berapa? Tiga puluh menit mungkin ada. Dan matamu sama sekali tidak bergerak."

Sesaat Sasuke tercengang, lalu kemudian ia mendengus dan menutup novelnya, melemparnya ke meja. Sasuke hampir lupa kalau mengamati orang adalah salah satu hobi Sai—dan Sai sangat hebat dalam hal ini. Ia bisa menangkap hal-hal kecil yang bahkan tak diperhatikan orang. Barangkali itulah sebabnya ia bisa menggambar dengan begitu hidup.

"Baiklah, kau menang. Novel ini membosankan." Sasuke melipat kedua lengannya di depan dada, seraya melempar pandangannya ke arah sebuah kapal wisata yang melintasi sungai. Sekelompok gadis muda yang duduk tak jauh dari mereka—yang sedari tadi mengamati kedua cowok itu sambil berbisik-bisik penuh minat—mengikik dan saling sikut karena mengira Sasuke melihat ke arah mereka.

"Hmm ..." Sai mengangguk puas. Ia mencomot sepotong chips dari piring dan memasukkannya ke dalam mulut. "Tapi itu kamuflase bagus untuk menutupi yang sebenarnya. Sedang melamunkan Sakura lagi, eh?"

'Ya' adalah jawaban yang sebenarnya atas pertanyaan Sai, tapi Sasuke memilih untuk tak menjawab. Tak ada gunanya. Toh, Sai juga sudah tahu hanya dengan mengamatinya.

Menyebalkan.

"Sai," panggil Sasuke kemudian, setelah kapal yang dipelototinya tadi berlalu.

"Hm?"

Sasuke tampak ragu. Sebenarnya ia sudah sangat ingin menanyakan hal ini pada Sai setelah mereka pulang dari perkebunan Akatsuki tempo hari. Akan tetapi rasa gengsi menghalanginya—ditambah Sakura yang selalu menempel pada Sai setelah itu.

"Tentang waktu itu." Sasuke membasahi bibirnya. "Maksudku, waktu kau menemani Sakura di pondok Akatsuki—" Sasuke merasakan telinganya memanas saat melihat seringai menyebalkan terbit di wajah sahabatnya yang berkulit pucat itu. Meski demikian, Sai tak mengatakan apa-apa. Maka ia melanjutkan seraya menghindari tatapan Sai, "Sakura ... dia bilang apa padamu?"

"Kenapa tiba-tiba? Kukira kau tidak tertarik."

"Diam dan jawab saja pertanyaanku," tukas Sasuke tak sabar. "Sakura bilang apa padamu?"

"Aah ..." Sai mengambil gelas minumannya, menyeruput isinya lambat-lambat. Mata hitamnya masih mengawasi Sasuke dari atas bibir gelasnya. Ekspresinya tertarik. "Jelas kau tidak akan percaya kalau aku bilang Sakura tidak mengatakan apa pun padaku."

Sasuke memutar matanya bosan.

"Kenapa tidak tanya saja langsung pada Sakura?"

"Oh yeah, tentu saja. Sakura pasti bakal senang hati cerita padaku. Mungkin dia akan mentraktirku makan es krim juga setelahnya," sahut Sasuke sinis.

Sai tertawa.

"Tidak lucu."

"Memang tidak," Sai tersenyum, "tapi caramu mengatakannya yang lucu. Kau semakin mirip Naruto."

"Tsk!" Sasuke membuang pandang ke arah lain.

"Tapi serius," kata Sai lagi, sambil meletakkan kembali gelasnya ke meja. "Kalau kau benar-benar ingin tahu, tanya saja langsung pada Sakura. Karena aku tidak akan memberitahumu."

Sasuke menggeram frustasi. "Gampang saja kau bilang begitu. Aku sudah—"

"Jangan bilang kau berusaha, karena kau tidak, Sasuke," sela Sai. Senyum di wajahnya menghilang dan ia memandang Sasuke lurus-lurus. "Kau bahkan tak mencoba. Dari yang kuperhatikan, kau malah menunggu Sakura yang bicara padamu duluan. Kalau kau benar-benar memahami Sakura sebaik yang kukira, kau pasti mengerti maksudku."

Terkejut mendengar kata-kata Sai yang mendadak menusuknya, Sasuke tak tahu harus berkata apa. Setidaknya selama beberapa saat. "Tapi masalahnya dia menghindariku!"

Sasuke menatap bingung ketika dilihatnya Sai menggelengkan kepala. Ekspresi di wajahnya seakan sedang menghadapi orang paling bodoh di dunia. "Apa dia langsung pergi begitu saja setiap kali kalian hanya berdua?"

"Itu—"

Sasuke terdiam, tampak tak yakin dengan apa yang hendak dikatakannya. Jika ia mengingat-ingat kembali dua hari belakangan ini, setiap kali berada dalam satu ruangan bersama Sakura, gadis itu memang tidak langsung menghindarinya.

Seperti saat Naruto memintanya menggantikan tugasnya membuat makan siang bersama Sasuke dengan alasan dirinya tidak enak badan. Padahal bisa saja Sakura menolak mentah-mentah dan menyuruh Sai menggantikan Naruto, tapi ia tak melakukannya. Dan ketika Naruto dan Sai meninggalkan mereka berduaan di ruang televisi, Sakura sempat duduk bersamanya selama beberapa waktu sebelum akhirnya pergi. Selalu ada momen di mana Sakura berada di dekatnya tanpa menghindari. Dan fakta yang baru disadarinya ini menghantamnya telak.

"Sepertinya kau baru menyadarinya, ya?" dengus Sai dingin. Ia tak membutuhkan jawaban. Air muka Sasuke mengatakan segalanya—jelas sekali. "Aku tidak tahu apakah Sakura ingin mengatakan sesuatu padamu, atau sama sepertimu, dia menunggumu bicara duluan, tapi yang jelas kalian berdua sama-sama keras kepala. Benar-benar membuat frustasi."

Menghela napas, Sai mencomot sepotong chips lagi sebelum melanjutkan kegiatannya menggambar.

Kali ini Sasuke benar-benar tak bisa bicara. Disambarnya gelas minumannya, menenggak isinya hingga tandas dalam beberapa teguk, lalu menyeka mulutnya dengan punggung tangannya kasar. Saat itu ia merasa menjadi orang paling bodoh sedunia.

"Jangan memasang tampang masam seperti itu, Sasuke," kata Sai kemudian.

Sasuke memberengut. Jelas ia masih marah—marah pada dirinya sendiri, tepatnya. "Tak perlu mengkhawatirkanku," gerutunya.

"Aku tidak mengkhawatirkanmu. Aku mengkhawatirkan sketsaku." Sai mengangkat buku sketsanya, memperlihatkannya pada Sasuke. Rupanya sejak tadi Sai membuat sketsa Sasuke yang tengah serius membaca buku. Dan bagian wajahnya belum selesai digambar. "Kalau ekspresimu berubah begitu, aku jadi sulit menggambarnya."

"Aku tidak menyuruhmu menggambarku."

"Memang tidak. Aku yang ingin," balas Sai kalem.

"Ada banyak gadis di sini. Kenapa tidak menggambar mereka saja? Bukankah kau suka melihat gadis-gadis?"

"Lalu kau akan berkomentar sinis 'Aku jadi ingin tahu bagaimana reaksi Fuuma jika dia tahu pacarnya melirik gadis-gadis lain di belakangnya'. Sebenarnya kau mau aku bagaimana, eh, Sasuke?" Menghela napas dramatis, Sai meletakkan buku sketsanya di atas meja.

Sudut bibir Sasuke berkedut. Melihat Sai seperti itu mengingatkannya pada Naruto. Sepertinya bergaul dengan Naruto tidak hanya berpengaruh pada dirinya saja, tapi juga Sai.

"Dari pada cemberut terus begitu, sebaiknya kau makan ini." Sai mengambil garpu dari piring fish and chips-nya dan menusuk sepotong ikan goreng. Ia lalu mencondongkan tubuh di atas meja untuk mengulurkan garpunya ke mulut Sasuke. "Aku memesan ini untuk kita berdua bukan untuk kaucueki, tahu."

Sasuke membeliak pada Sai yang praktis menyodokkan potongan ikan bertepung itu ke bibirnya. Tapi tentu saja Sai sama sekali tak terpengaruh. Ia sudah kebal dengan pelototan Sasuke dan tetap memamerkan senyum menyebalkan. Maka Sasuke tak punya pilihan lain selain membuka mulutnya dan membiarkan Sai menyuapinya.

Sasuke berusaha tak menghiraukan suara jeritan tertahan dan cekikikan ribut yang berasal dari meja gadis-gadis tak jauh dari meja mereka.

"Kyaa! Kau lihat tadi?"

"Imutnya ..."

"Sudah kuduga kalau mereka pacaran. Kau tak punya kesempatan, Nona. Haha ..."

Sai yang juga tampaknya mendengar mereka, langsung pura-pura batuk untuk menyamarkan tawanya. Sasuke menendang kaki Sai di bawah meja dan memberinya tatapan 'ini semua gara-gara kau!', tapi Sai tak merasa.

"Harusnya kau lihat tampangmu."

"Diam!"

Sasuke menyambar gelasnya dan hendak menenggak isinya ketika ia ingat minumannya sudah habis. Menyadari hal itu, Sai—masih dengan wajah geli—menawarkan gelas miliknya. Tanpa berpikir Sasuke langsung mengambilnya—membuat para gadis itu semakin heboh.

"Oke. Kurasa sudah cukup fan-service-nya," kata Sai tenang. "Seriously, Sasuke. Kau terlalu tegang. Bersantailah sedikit. Lagipula sekarang kita sedang liburan—Sakura tak akan pergi ke mana-mana."

"Gampang saja kaubilang begitu," Sasuke menggerutu. Enggan mendengarkan ocehan Sai—juga komentar-komentar aneh dari meja sebelah—Sasuke lantas menyumpal telinganya dengan earphone dan menyalakan aplikasi pemutar musik dari ponselnya. Alunan lagu milik Bryan Adams—salah satu penyanyi favorit Sakura sepanjang masa—segera memenuhi telinganya, memblokir suara-suara menyebalkan dari luar.

Matanya terpejam. Ia membiarkan pikirannya kembali berkelana.

Tapi mungkin saja yang dikatakan Sai benar, pikirnya kemudian. Barangkali selama ini dirinya memang terlalu tegang—begitu tegang sampai-sampai tak bisa berpikir jernih. Begitu tegangnya sampai-sampai dirinya gagal menyadari kesempatan yang datang padanya.

Tsk! Bodoh...

Tapi mungkin masih ada kesempatan lain ...

Sasuke tersentak dari lamunannya ketika merasakan ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat baru saja masuk. Sepasang alisnya terangkat tinggi ketika membaca nama 'Sai Shimura' tertera di layarnya. Ia lantas mengerling Sai, mendapati sahabatnya itu sudah kembali berkutat dengan buku sketsanya. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis. Di atas meja di depannya, ponselnya belum terkunci.

'Besok Kak Itachi dan teman-temannya kan mengundang kita ke villa mereka yang di dekat pantai untuk pesta barbecue. Pantai, pasir putih, laut, makanan enak. Tahu artinya, kan?'

Sasuke mendengus kecil. Jemarinya dengan cepat mengetik balasan,

'Tepat seperti yang sedang kupikirkan. Tapi aku berencana melakukannya malam ini.'

Saat berikutnya, giliran Sai yang menatapnya dengan kedua alis terangkat tinggi. "Well ... good luck."

.

.

Sayangnya malam itu pun Sasuke tak mendapatkan kesempatan untuk bicara dengan Sakura.

Hinata mengundang gadis itu menginap di hotelnya.

.

.

Sama seperti saat mereka mengunjungi perkebunan Akatsuki tempo hari, mereka berkumpul di Galeri Akatsuki untuk bersama-sama berangkat menggunakan van yang disupiri Kisame. Hari itu mereka ketambahan empat orang lagi: Hinata dan adik perempuannya, Hanabi Hyuuga. Kakuzu yang berwajah tak ramah dan kelihatan tak senang dengan keberadaan remaja-remaja bising itu. Juga Yamato—Kisame sengaja mengajaknya untuk bantu-bantu urusan makanan.

Mereka bersepuluh mau tak mau harus berdesak-desakan di dalam van. Kakuzu menempati bangku depan yang tadinya ditempati Deidara, sementara laki-laki berambut pirang gondrong itu dilempar ke barisan paling belakang bersama Naruto, Sasuke dan Sai—tak bisa dikatakan siapa yang lebih tidak sedang dengan penempatan ini. Deidara atau Sasuke—Di barisan kedua, Yamato berbagi bangku dengan para gadis.

Perjalanan menuju villa tak bisa dikatakan menyenangkan. Kakuzu mengeluhkan banyaknya dana yang harus mereka keluarkan untuk acara kumpul-kumpul ini, dan berkata keras-keras mengapa teman-temannya dengan seenak perut mengundang orang luar—membuat suasananya menjadi sangat tidak enak, terutama untuk Naruto dan teman-temannya. Tapi Sasuke, yang sudah mengenal Kakuzu lebih lama dibandingkan teman-temannya yang lain, sama sekali tidak memusingkannya. Perhatiannya hanya tertuju pada satu orang.

Siapa lagi kalau bukan Sakura?

Entah karena selama ini Sasuke jarang mengapresiasi keelokan paras gadis berambut merah muda itu, atau hari itu Sakura memang terlihat lebih cantik dari biasanya. Wajahnya terlihat cerah. Senyumnya cemerlang. Matanya yang hijau cerah itu tampak berkilauan setiap kali ia tertawa. Gadis itu terlihat seperti tak ada beban pikiran sama sekali. Sangat berbeda dengan tiga hari belakangan ini. Bahkan Sasuke setengah yakin Sakura sempat melempar senyum ke arahnya.

Sasuke juga memerhatikan ada yang berbeda dari cara gadis itu tersenyum dan tertawa. Dan kelihatannya tak hanya dirinya saja yang menyadari hal itu. Naruto dan Sai juga.

"Kalian perhatikan tidak, sih? Sakura kelihatan agak nakal hari ini. Aku tidak pernah melihatnya mengikik seperti tadi."

"Yeah ... Seperti sedang mencoba menarik perhatian seseorang."

Entah itu memang benar, atau hanya karena suasana hati Sakura sedang sangat bagus—itu sebabnya ia tampak begitu ceria—Sasuke tidak begitu memikirkannya. Yang terpenting adalah gadis itu sudah kembali seperti Sakura yang ia kenal. Penuh tawa dan bersemangat. Itu saja sudah cukup membuat hatinya lega bukan main.

Dan Sasuke nyaris tak bisa melepaskan tatapannya pada Sakura sepanjang siang itu. Tentu saja bukan hanya karena gadis itu terlihat seksi mengenakan bikini di balik kemeja longgarnya. Hihi...

"Kalian sudah baikan, kalau begitu?"

Suara milik Yamato mengalihkan perhatian Sasuke dari Sakura. Ia menoleh dan mendapati laki-laki berambut cokelat gelap itu tersenyum padanya. Saat itu ia sedang membantu Yamato menyiapkan barbecue di halaman belakang villa yang menghadap ke pantai.

"Huh?"

Yamato mengerling ke arah pantai—tempat Sakura tengah bermain bersama yang lain. Suara tawanya terdengar sampai ke tempat mereka—"Belakangan ini kuperhatikan Sakura agak murung, dan kalian berdua tidak bicara satu sama lain."

"Oh." Sasuke tak tahu harus menanggapi apa. Tentu saja, pikirnya. Tak mungkin mengharapkan Yamato tidak menyadari situasi antara dirinya dan Sakura. Sebagai seseorang yang sudah menganggap Sakura seperti adik perempuannya sendiri, Yamato tidak mungkin tak merasakan jika ada sesuatu yang terjadi pada gadis itu.

"Tapi kelihatannya sekarang dia sudah ceria lagi. Syukurkan kalau kalian berdua sudah berbaikan lagi. Tadinya aku sempat khawatir."

Sasuke kembali memandang ke arah pantai. Tanpa sadar ia tersenyum melihat Sakura menjerit tertawa ketika gulungan ombak menerjangnya, membuat kemeja longgarnya basah kuyup. "Jangan khawatir. Aku tidak akan membiarkannya murung lagi," ujarnya.

Yamato, yang tengah sibuk mengatur api di pemanggang besar, mengangkat wajahnya menatap Sasuke, tampak terkesan mendengar kata-kata penuh tekad yang baru saja meluncur dari bibir remaja yang biasanya terlihat cuek itu. "Baiklah," katanya, tertawa. "Aku percayakan Sakura padamu, Sasuke."

"Apinya sudah siap?" tanya Itachi, yang baru saja muncul dari bangunan villa, membawa plastik besar berisi jagung manis.

"Sebentar lagi," Yamato menyahut, seraya menyodok-nyodok api di pemanggang dengan tusukan besi.

Itachi melirik adiknya. "Ngapai kau masih di sini? Tidak main dengan teman-temanmu, eh?" ia mengendikkan kepala ke arah teman-teman Sasuke di pantai.

"Nanti," sahut Sasuke malas. Sebenarnya ia sedang menunggu kesempatan menghampiri Sakura yang sedang sendirian. Tapi masalahnya gadis itu tak pernah sendirian! Selalu ada Hinata dan yang lain di dekatnya.

"Main sana," cetus Itachi, meletakkan kantung jagungnya di meja tempat Hana, Temari dan Konan sibuk membuat sate sambil mengobrol, lalu mengambil kentang baru setengah dikupas dari tangan adiknya. "Serahkan ini pada kami."

"Kak!" –Namun sebelum Sasuke sempat protes lebih lanjut, Itachi sudah menyambar kedua bahunya dan menggiringnya menuju pantai. "Jangan cuma melihat dari jauh saja. Make a move," bisik Itachi di telinga adiknya.

Sasuke menggeram, melempar pandang jengkel pada sang kakak. Terkekeh, Itachi mengacak rambut Sasuke, sebelum berbalik dan bergabung dengan teman-temannya.

"Wow! Ayam ini besar sekali! Lihat, pahanya seksi!"

"Pein, please. Itu makanan, bukan mainan!"

"Yamato, saus BBQ kausimpan di mana?"

"Oh, di kotak yang satunya. Itu—yang merah. Bumbu-bumbu ada di situ semua."

"Kalian beli makanan terlalu banyak. Boros. Buang-buang uang saja!"

"Untuk sekali ini saja, Kakuzu, berentilah bicara soal uang."

Sayangnya, belum sempat Sasuke menghampiri Sakura, Deidara mencapainya terlebih dulu dan menantangnya bertanding sepak bola. Awalnya Sasuke enggan, tapi Naruto tampak sangat antusias dan tanpa berpikir menerima tantangan itu tanpa menghiraukan pendapat Sasuke. Maka terpaksa, sambil merutuki Naruto dalam hati, ia melepaskan kesempatannya dan menerima tantangan Deidara.

Terlepas dari gangguan Rufus dan Akamaru yang tak tahan tak ikut mengejar bola yang ditendang ke sana-kemari, pertandingan antara tim remaja—Naruto, Sasuke, Sai, Kiba dan Gaara—melawan tim Akatsuki—Deidara menyeret Sasori, Itachi, Pein dan Hidan untuk bergabung di timnya—berlangsung seru. Terlebih ketika Sasuke mendengar Sakura bersorak meneriakkan namanya, ia jadi lebih bersemangat. Dengan agresif ia berhasil membobol gawang—bukan gawang sebenarnya, sih. Hanya space dua meteran yang ditandai sepasang sandal—yang dijaga Hidan.

Untuk beberapa saat, Sasuke merasa segalanya terasa normal antara dirinya dan Sakura. Seolah insiden di jembatan tempo hari tidak pernah terjadi. Sakura bahkan memberinya tos ketika Sasuke berlari melewati gadis itu.

Namun itu tak berlangsung lama. Di tengah pertandingan, Sakura—bersama Hinata dan Hanabi—kembali ke villa untuk bersih-bersih dan berganti pakaian. Mereka baru keluar ketika pertandingan usai—dengan kemenangan tim Naruto. Dan Sasuke kembali dilanda keraguan untuk menghampiri gadis itu.

Sasuke tak mengerti. Sebenarnya apa yang terjadi pada dirinya? Di satu saat ia merasa berani dan mantap, tapi saat berikutnya keberanian itu menguap entah kemana, digantikan keraguan yang benar-benar membuatnya frustasi. Seperti sekarang ini.

Dari undakan di belakang villa tempatnya duduk sekarang, ia hanya bisa termangu mengawasi Sakura di kejauhan. Gadis itu sedang duduk di atas pasir membelakanginya. Rambutnya yang pendek diikat dua di kanan-kiri kepalanya—bahkan dari belakang pun ia terlihat manis—Naruto yang duduk di antara gadis itu dan Hinata, memangku gitar kesayangannya yang sengaja ia bawa, memainkan sebuah lagu yang tak Sasuke kenal. Di sebelahnya, Hinata tak melepaskan pandangannya. Wajahnya bersemu kemerahan.

Sasuke terlonjak kaget ketika tiba-tiba saja sesuatu yang dingin dan basah menyentuh pipinya. Serta-merta ia menoleh dan siap melempar makian pada siapa saja yang sudah berani mengagetkannya.

"SAI—Sialan, kau!"

"Ups. Dingin, ya?" Sai terkekeh-kekeh, mengangkat kaleng soda dingin yang baru saja ditempelkannya dengan iseng ke pipi Sasuke.

Menggerutu, Sasuke menyeka basah di wajahnya.

"Baru selesai mandi," kata Sai tanpa ditanya, seraya mendudukkan dirinya di samping Sasuke, menyesap sodanya. Sasuke bisa melihatnya: rambut hitam Sai masih terlihat basah dan menempel di dahinya. "Sepak bola membuatku berkeringat banyak sekali."

"Hn," Sasuke menggumam sebagai balasan, seraya mengembalikan pandangannya pada Sakura.

"Belum bicara lagi padanya?" tanya Sai setelah keduanya terdiam agak lama. "Katamu kau mau bicara padanya semalam. Tapi sampai sekarang—"

"Mauku juga begitu," gerutu Sasuke tak sabaran, menyela kata-kata Sai. "Tapi Sakura selalu bersama Hinata."

"Ah," Sai mengangguk-anggukkan kepalanya. Bibirnya membentuk seringai tipis. "Jadi kau ingin berduaan saja dengan Sakura baru mau bicara?"

Sasuke tak langsung menjawab. Sebenarnya persis seperti itulah yang ia inginkan, tapi tentu saja ia tak akan mengatakannya terang-terangan pada Sai. Kedengarannya sangat pengecut. "Kelihatannya mereka asyik ngobrol. Aku tidak ingin menyela."

"Kedengarannya seperti alasan yang dibuat-buat."

Sasuke tak menjawab. Ia menggigit bagian dalam pipinya.

Sai kemudian beranjak berdiri. Ia sudah memutuskan. Kendati sudah berjanji pada Sakura untuk tidak ikut campur, tapi ia merasa harus melakukan sesuatu. Mengabaikan protes Sasuke, Sai lantas menarik lengannya, memaksanya berdiri.

"Kita duduk di sana," katanya tegas, mengendikkan kepala ke arah Sakura, Naruto dan Hinata duduk.

"Hei—" Sasuke hendak memprotes lagi, namun kemudian urung dilakukan. Sasuke sadar dirinya tak bisa selamanya bersembunyi dan menunggu. Seperti yang dikatakan Itachi, 'make a move'. Maka ia membiarkan saja ketika Sai membawanya ke tempat Sakura.

Ketiganya mendongak ketika Sasuke dan Sai tiba di sana. Naruto menghentikan permainan gitarnya dan tersenyum lebar melihat Sasuke—yang dengan sengaja menghindari tatapannya—begitu pula dengan Hinata. Bahkan Sakura pun tersenyum padanya.

"Hai." Sasuke sedikit terkejut ketika mendapati Sakura menyapanya duluan. Nadanya ringan dan bersahabat.

"Hai," Sasuke membalas. Ia berusaha bersikap tenang dan biasa, kendati suaranya terdengar agak aneh.

Keduanya saling tatap beberapa saat, sebelum Sasuke melangkah maju dan duduk di samping Sakura. Sekilas Sasuke melihat Sai mengangkat kepalan tangannya ke depan mulut untuk menyembunyikan tawanya sebelum berlalu untuk duduk di sebelah Hinata, tapi ia mengabaikannya.

Kemudian hening.

"Haah ... pemandangannya indah, ya?" celetuk Naruto memecah keheningan.

"Yeah," Sai menyahut.

"Baunya juga enak." Naruto mengendus-endus udara, menghirup aroma lezat barbecue yang menguar di udara. "Aku lapar. Mereka sudah selesai belum, ya?" Naruto menjulurkan kepalanya, melihat ke arah rombongan Akatsuki.

Dari kejauhan Yamato, dibantu Kisame, masih sibuk di depan panggangan. Di dekat mereka, Tobi asyik mengganyang jagung bakar. Temari dan Hana membagi-bagikan piring. Hanabi melambaikan tangan ke arah mereka. Tusukan sate ekstra besar tergenggam di tangannya.

"Kakak-kakak! Makanan sudah siap!" teriaknya cempreng dengan segenap kekuatan paru-parunya. Di sampingnya, Kankurou tertawa.

"Oi, Gaara. Muridmu ini sepertinya lebih cocok jadi rocker daripada violinist."

"Kak Kankurou BERISIK!" Hanabi berteriak protes, seraya menginjak kaki Kankurou kuat-kuat, membuat cowok itu mendengking kesakitan.

"OW! You little monster!—Gaara! Kau jangan ajari monster kecil ini main biola lagi! Pokoknya tidak boleh. Aku melarangmu!"

"IH, JAHAAAT!"

Kankurou terbahak.

Gaara mengabaikan mereka.

"Hanabi ..." Hinata merintih. Gadis itu tak tahu apakah harus malu atau iri melihat adiknya dengan begitu cepat akrab dengan orang-orang yang baru mereka temui itu.

Naruto yang juga menyaksikan 'pertengkaran' Hanabi dan Kankurou ikut tertawa. "Ayo kita ke sana," serunya sambil beranjak. Lalu mengulurkan tangan untuk membantu Hinata berdiri. Sai menyusul mereka tak lama kemudian.

Tapi Sakura sama sekali tak bergerak dari tempatnya. Gadis itu hanya mengawasi teman-temannya sambil tertawa kecil. "Mereka cute, ya?—Hinata dan Naruto."

"Er ..." Sasuke tak tahu harus berkata apa. Ia sama sekali tak memerhatikan Naruto dan Hinata. "Yeah ..."

Sakura menoleh padanya, tersenyum. Sasuke merasakan jantungnya berdegup kencang. "Semakin lama mereka semakin akrab saja. Bagaimana menurutmu?"

"Tak ada komentar."

"Dingin sekali," Sakura mendengus tertawa.

Sebelum Sasuke sempat membalas, Sakura kembali berpaling. Ia mengambil gitar yang ditinggalkan Naruto dan memangkunya di paha. Sasuke mengawasi ketika jemari Sakura yang ramping itu dengan lincah memetik senarnya, menghasilkan sebuah melodi bernada sedih.

Romance de Amore.

Untuk seseorang yang sudah belajar memetik gitar sejak anak-anak, yang dilakukan Sakura bukanlah hal yang aneh. Tapi tetap saja Sasuke tak bisa tidak kagum melihatnya. Menurutnya bermain musik adalah hal yang sulit dilakukan.

"Lagu yang bagus."

"Yeah ..." Sakura menghentikan permainannya, dan menghela napas, "lagu ini membuatku merasa lebih tenang."

"Memangnya sekarang kau sedang tidak tenang?" celetuk Sasuke tanpa berpikir, dan ia langsung menyesalinya. Sakura tampak tak nyaman. Wajahnya merona merah.

"Sejujurnya, ya," Sakura menjawab kaku.

"Sori."

"Tidak—tidak apa, Sasuke," kata Sakura cepat-cepat, seraya menyunggingkan senyum pada cowok di sampingnya itu. "Jangan minta maaf. Oke?"

"Hn."

"Sasuke?" Sakura kembali berkata setelah keheningan yang lama.

"Hn?" Sasuke menatapnya lurus.

Sakura menggigit bibirnya. "Tentang yang kemarin ... aku ..."

"Lupakan saja, kalau itu membuatmu tidak nyaman. Itu hanya kecelakaan. Anggap saja tak pernah terjadi."

Sakura terdiam menatapnya. Ekspresi wajahnya tak terbaca. Sebelum kemudian ia berpaling dan mengangguk. "Yeah ... lupakan saja," jeda beberapa saat, "aku hanya ingin bilang, kuharap kita masih bisa berteman."

"Tentu saja."

"Dan aku minta maaf."

Sudut bibir Sasuke berkedut. "Permintaan maaf diterima."

"Oh, Sasuke—" Sakura tak mampu meneruskan kata-katanya. Ekspresinya antara tersenyum dan ingin menangis ketika ia mengulurkan kedua lengannya memeluk Sasuke.

Sasuke membalas pelukannya, tak berkata apa-apa. Gelombang emosi menyapu dirinya sementara ia menepuk-nepuk lembut punggung gadis itu. Hatinya diliputi kelegaan luar biasa. Pada akhirnya persahabatan mereka masih bisa diselamatkan.

"Trims ..." ucap Sakura ketika ia melepaskan pelukannya. Senyum cerah menghiasi wajahnya.

"Aa." Sasuke mengangguk, menepuk puncak kepala Sakura pelan. "Jangan nangis, dasar cengeng."

"Aku tidak nangis!" Sakura buru-buru menyeka matanya yang basah. Sasuke tak bisa menahan seringainya ketika Sakura mengeluarkan suara aneh antara isakan dan tawa. "Jangan memandangku seperti itu!"

"Sama sekali tidak berubah. Tetap saja cengeng."

Sakura cemberut. "Kau juga tidak berubah. Tetap saja payah kalau bermain musik. Yang kemarin main gitar di rumah itu kau, kan? Permainanmu benar-benar buruk. Kepalaku sampai sakit mendengarnya."

"Kau—" Sasuke mendelik padanya. Ia baru saja akan membuka mulutnya untuk membalas dengan sengit ketika suara seseorang menyelanya,

"Hei, hei, hei, apa-apaan ini? Baru saja berbaikan, kalian sudah mau bertengkar lagi." Naruto memandangi kedua sahabatnya dengan tatapan tak percaya. "Aku tidak percaya ini ..." ia menggeleng-gelengkan kepalanya, menghela napas dramatis.

"Kami tidak bertengkar," bantah Sakura dengan wajah polos. "Aku baru saja memuji permainan gitar Sasuke yang kemarin."

"Oh, yang itu—" cengiran jahil terbit di wajah Naruto. "Memang fantastik sekali permainannya."

"Spektakuler."

"Awesome."

"Terus saja kalian mengejekku," cibir Sasuke, sementara Sakura dan Naruto mengikik.

"Jangan marah begitu, Sobat. Aku bisa mengajarimu lagi kalau kau berminat," kekeh Naruto, sambil mengulurkan dua buah tusukan berisi daging dan sayuran panggang yang dibawanya pada Sasuke dan Sakura.

"Trims." Sakura mengambil tusukannya, lalu memandang Sasuke. "Atau kau bisa belajar padaku. Aku tahu Naruto guru yang payah."

"Sakura!" Naruto berseru memprotes. "Aku tidak payah!"

Sakura mengikik. "Hanya bergurau, Naruto. Astaga ..."

Sasuke tak bisa menahan diri mendengus tertawa. Jika ia diminta memilih antara Naruto atau Sakura yang mengajarinya main musik, tentu saja ia memilih Sakura. Tapi ia tak mengatakannya. Alih-alih, ia mengambil tusukannya dari tangan Naruto, lalu meniup-niupnya sebelum menggigit tomat ceri panggang di ujungnya.

"Terserahlah," Naruto mengibaskan tangannya. "Kalau kalian mau lagi satenya, di sana masih banyak. Ada steik dan ayam panggang juga—dan ikan. Dan sosis. Dan jagung. Kalian harus buru-buru kalau tidak mau kehabisan."

"Wah, kedengarannya enak," sahut Sakura antusias. Ia lalu beranjak dari duduknya, menawarkan tangannya untuk membantu Sasuke berdiri.

Sakura sama sekali tak melepaskan genggaman tangannya pada Sasuke sampai mereka bergabung dengan yang lain. Dan sama sekali tak beranjak dari sisinya sepanjang sisa hari itu. Kendati dirinya gagal menjadikan Sakura sebagai kekasih resminya, tapi Sasuke sama sekali tak mengeluh. Tidak—tak ada yang membuat dirinya lebih gembira saat itu dibandingkan dengan kehadiran Sakura di dekatnya. Itu saja sudah cukup.

Mereka melewatkan sisa sore yang menyenangkan di pantai. Makan dan minum sampai kenyang. Mengobrol dan bergurau sambil menyaksikan matahari terbenam. Duduk mengelilingi api unggun sambil makan marshmallow, mendengarkan Itachi dan teman-temannya bernostalgia tentang masa-masa sekolah mereka dulu—sejujurnya ini adalah bagian yang membosankan bagi Sasuke. Tapi dengan Sakura duduk di dekatnya, mendengarkannya menertawakan hal-hal yang menurutnya tidak lucu, jadi tidak terlalu membosankan lagi.

Dan karena malam itu adalah malam pembukaan Festival Musim Panas Kiri, dari sana mereka juga bisa menyaksikan pertunjukkan kembang api spektakuler di atas laut. Tentu saja Deidara juga tak mau ketinggalan. Ia sudah menyiapkan perbekalan kembang api miliknya sendiri. Dan dengan bantuan Tobi, mereka membuat pertunjukan kembang api sendiri.

.

.

Mereka melewatkan beberapa hari lagi di Kiri setelah festival usai, sebelum akhirnya pulang ke Konoha. Masih ada waktu beberapa pekan lagi sampai sekolah dimulai. Sasuke bahkan masih sempat pulang ke Oto untuk menjenguk kedua orangtuanya dan menghabiskan sisa liburannya di sana sebelum sekretarisnya, Shiho, menghubunginya untuk mengingatkannya tentang rapat acara penyambutan siswa baru.

Kesibukan tahun ajaran baru harus dimulai bahkan sebelum musim panas usai.

Tapi tak mengapa. Bagi Sasuke, ini adalah liburan musim panas terbaik yang pernah ia rasakan. Dan tentu saja merupakan tahun terbaik di sepanjang hidupnya.

Menemukan sosok sahabat, dan bersama mereka, ia telah belajar banyak hal. Apa yang ia alami bersama ketiga sahabatnya memang tidak semuanya hal-hal menyenangkan. Ada pula saat-saat yang melelahkan dan menjengkelkan, tetapi itulah yang membuat persahabatan mereka memiliki nilai yang indah.

Ada kalanya persahabatan mereka menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi ikatan yang kuat membuat mereka bisa mengatasi cobaan itu, bahkan tumbuh bersama karenanya.

.

.

.

.

Summer Holliday Arc: FIN

.

.

.