Disclamire Nor Even Wish
Masashi Kishimoto-Sama
Alternative Universe
X-MEN : DARKER
LONGLIVE AUTHOR
CHAPTER 1 : SUNA
Keramaian tampak di jantung kota Negara Pasir. Sebuah konferensi akan diadakan di ibu kota. Semuanya beramai-ramai mengangkat bendera berwarna kebangsaan Suna dan Kumo di sepanjang jalan menuju gedung Dewan Tinggi Mutan. Hari ini perwakilan Dewan Mutan Negara Kumo sedang berkunjung. Rombongan berhenti di depan sebuah gedung besar dengan enam pilar beton putih. Puluhan orang-orang ber-jas sudah menunggu di depan gedung. Tak lama kemudian seorang pria tinggi besar berkacamata hitam keluar dari mobil.
"Yo, Halo Gaara!" Pria berstelan suite putih menyambutnya dengan tersnyum.
"Selamat datang Tuan Bee." Ujarnya begitu bersahaja.
"Wah, wah. Lihat dirimu. Sudah berapa tahun kita tidak bertemu? Kau tampan sekali. Seharusnya kau mencari perempuan cantik." Guraunya.
"Waktu berlalu begitu cepat." Mereka saling beradu kepalan. Gaara tahu kalau adik dari ketua Dewan Tinggi Mutan Negara Kumo itu tidak akan mau diajak berjabat tangan.
Sudah delapan tahun berlalu sejak tragedi besar yang dibuat Akatsuki. Banyak yang berubah, begitu juga dengan Gaara. Kini dia bukan lagi Ketua Tinggi Mutan yang selalu diremehkan karena usianya yang begitu muda. Sekarang ia telah menjadi pemimpin yang hebat dan Negara Suna begitu bangga karena memiliki Gaara yang mampu melindungi para Mutan di Negara Suna. Gaara jauh lebih tinggi dan jauh lebih berwibawa sekarang. Mengikuti jejak mendiang Profesor Sarutobi dari Konoha ia juga membuat sekolah khusus mutan di Negara Suna, dan sekolah itu tepat berada di belakang gedung Dewan Tinggi Mutan.
"Jadi bagaimana keadaan Kumo sekarang? Apa kau akan mengajukan diri untuk menjadi Ketua Dewan Mutan di Kumo?" Tanya Gaara.
"Tidak, tidak. Aku tidak akan pernah mengambil jabatan itu. Apa jadinya kalau aku berada di belakang meja? Aku pria yang bebas Gaara. Lagi pula aku sudah mempunyai nama untuk menggantikan kakakku, A."
Mereka memasuki sebuah ruangan taman kecil disalah satu sayap gedung. Taman itu dipenuhi dengan pohon-pohon zaitun yang tinggi dan lebat, membuat area dibawahnya menjadi teduh. Gaara dan Bee duduk di sofa santai yang berada di bawah salah satu pohon zaitun. Beberapa pelayan membawakan mereka buah dan minuman khas Negara Timur itu.
"Jadi, siapa nama itu Tuan Bee? Dia pasti bukan orang sembarangan."
"Ah, dia Si Darui. Anak dengan otot bisep yang besar itu. Dia lebih cocok bekerja di belakang meja karena pekerjaannya hanya mengeluh terus." Mereka berdua tertawa.
Keduanya cukup mengenal baik Darui. Dia memang tipe orang yang suka mengeluh dan malas melakukan pekerjaan lapangan. Tapi dia adalah orang yang hebat. Kemudian mereka mengobrol cukup lama disana mengenang beberapa kejadian masa lalu.
"Sudah lama ya." Kata Bee tiba-tiba. Ia menyeruput sirup dengan sembrono. Matanya tertuju pada sebuah air mancur kecil di ujung taman. Gaara menengok pada anggota dewan yang nyentrik itu. Ia tahu kemana arah pembicaraan ini.
"Ya, delapan tahun waktu yang cukup lama." Balas Gaara. Matanya menerawang ke masa lalu ketika ia bersama-sama dengan perwakilan yang lain membantu para X Men untuk memenangkan pertempuran melawan Brotherhood dan Akatsuki. Ia memang tidak turun langsung ke lapangan tapi berdebat di belakang meja juga bukan hal yang mudah. Ia memiliki kekuasaan yang bisa ia gunakan untuk membantu mereka.
"Si Mutan Omega itu. Apa dia seumuran denganmu?" Tanya Bee.
"Kira-kira begitulah." Jawab Gaara.
"Bukankah dia hebat, sayang manusia hebat selalu mati dengan mengenaskan. Dia mati di tangan temannya sendiri karena tak ada yang bisa menghentikannya." Kata Bee.
"Kadang mutan seperti kita memang harus berkorban, kan? Apalagi pada saat krisis seperti itu." Jawab Gaara. Hening sejenak. Tidak suka dengan keadaan yang melankolis seperti itu Bee angkat bicara.
"Baiklah, kita sudah berkeliling. Kita juga sudah berbicara banyak. Aku harus mengunjungi kantor Presiden. Kau tidak mau terjadi Presiden marah kan, karena aku terlalu keenakan disini." Kata Bee. Mereka berdua berdiri dari kursinya.
"Bagaimanapun dia adalah pemimpin Negara. Pemimpin manusia dan mutan juga. Aku hanya pemimpin para mutan disini."
"Jangan merendah. Sikapmu yang selalu merendah inilah yang membuat para wanita menjauh. Pergilah, sesekali liburan dan carilah seorang wanita yang seksi." Teriak Bee.
"Aku akan mempertimbangkannya. Ayo biar aku mengantarmu ke depan."
Setelah mengantarkan Bee, Gaara pergi ke mobilnya. Ia juga harus pergi kesuatu tempat. Perjalanannya berbeda dari orang-orang penting yang lain. Ia tidak membawa satu ajudanpun. Lagi pula dia adalah seorang mutan kelas tinggi, kan? Tapi bukan itu alasannya. Ia harus pergi ke suatu tempat sendirian dan tak ada yang boleh tahu kemana ia pergi. Mobil berwana hitam itu terus melaju satu jam kemudian menuju suatu daerah tak jauh dari perbatasan bagian barat. Tempat itu adalah sebuah benteng tua yang sudah tidak beroperasi dan telah lama ditinggalkan. Ia memasuki gerbangnya yang dialiri oleh listrik bertegangan tinggi. Ada sebuah pos kecil dan dua orang penjaga disana. Keduanya memakai seragam tentara dan salah satunya memiliki tato lambang Negara Suana di bagian leher. Gaara mengangguk. Ia mengarahkan mobilnya menuju bagian dalam benteng itu dan memarkirkannya disana. Benteng itu hanya memiliki satu pintu masuk yang tadi dilalui oleh mobil Gaara dan tak ada pintu yang lain. Bagian dalamnya sangat luas namun pengap dan lembap. Ketika ia masuk terdapat pintu kayu yang lain. Ia membukanya dan ketika pintu itu terbuka didalamnya menampilkan sebuah lift tua yang sudah berkarat. Gaara memasukinya lift itu. Hanya ada satu tombol disana dan menunjukan kearah bawah. Ia menekannya. Seketika pintu tertutup dan lift bergerak.
Ting!
Pintu Lift terbuka. Berbeda dengan diatas, suasana di bagian bawah tak ubahnya gedung-gedung modern. Gaarra sampai disebuah koridor dengan lantai marmer dan dinding besi. Ada empat kamera memenuhi koridor sepanjang lima meter itu. Tepat dihadapannya ada sebuah pintu lain. Ia berjalan kesana. Ia masuk ke ruangan kecil dan sebuah gas bereaksi. Ruangan itu berfungsi untuk mensterilkan tubuhnya. Ia masuk keadalam. Ruangan itu layaknya sebuah ruangan rumah sakit dengan beberapa alat tambahan. Ada dua orang penjaga yang tampaknya adalah seorang dokter mengangguk kecil pada Gaara.
"Apa ada perkembangan?" Tanya Gaara.
"Jawabannya sama seperti terakhir kali anda datang tuan." Kata salah satunya.
Gaara mengalihkan pandangannya pada sebuah tubuh yang terbaring lemas diatas tempat tidur. Berbagai macam alat melekat di tubuh nya. Kabel-kabel itu menghubungkannya dengan berbagai mesin penopang hidup. Cairan infuse untuk menjaga nutrisinya tetap stabil, kantung darah, dan alat bantu pernapasan. Tubuh itu kering kerontang seperti mayat hidup. Siapapun bisa melihat tulang pipinya yang begitu jelas. Jemari putih Gaara menyentuh pergelangan tangan tubuh itu. Ia merasakan denyutan yang sangat lemah disana. Bahkan ia bisa merasakan detakan yang sama lemahnya di balik lapisan pakaian dan rongga dada wanita itu. Ya, wanita itu. Surainya yang memanjang seiring dengan berjalannya waktu. Ia akan mati seandainya semua alat itu tidak dipasangkan, dan Gaara bisa saja membiarkannya mati.
"Tuan Gaara. Aku baru saja mendapatkan telegram." Kata salah satu penjaga. Ia mencabut sebuah kertas dari mesin telegram tua. Penjaga itu membacakannya.
"Paman akan segera pulang membawa dokter untuk tamu kita." Katanya.
Pemandangan yang cukup langka memang. Tapi Gaara tersenyum lebar.
