Disclamire Nor Even Wish
Masashi Kishimoto-Sama
Alternative Universe
X-MEN : DARKER
LONGLIVE AUTHOR
CHAPTER 2 : KONOHA
Hujan tidak datang terlalu cepat biasanya. Namun tidak kali ini. Di hari-hari musim gugur yang biasanya kering dan dingin kini hujan selalu turun dengan tiba-tiba. Naruto bahkan hafal betul jam-jam ketika hujan. Selama seminggu berturut-turut biasanya hujan turun pukul empat sore, lalu selama tiga hari kedepan hujan akan turun menjelang malam, lalu akan maju pula di hari-hari selanjutnya.
"Hari ini hujan turun di jam-jam makan malam." Ujar Naruto menatap langit gelap ketika hujan mulai turun.
"Jangan khawatir Naruto, ini efek dari perputaran bulan." Jelas Sai, sambil terus mengemudikan mobil mereka.
"Aku tahu itu Sai." Mobil mereka terus melaju menuju X mansion. Benar saja kata Naruto. Begitu mereka tiba di X Mansion hujan turun begitu lebat. Mereka baru saja memesan banyak belanjaan untuk kebutuhan sekolah dan membeli beberapa barang dari toko. Anak-anak sama sekali belum tidur, mereka baru saja selesai makan malam.
Sreet!
"Udon!"
"Maafkan aku." Hampir saja belanjaan dari tangan Naruto tergelincir karena anak yang bernama Udon itu berlari menembus dinding dengan cepat.
"Mau bir?" Tawar Sai begitu mereka sampai di dapur.
"Sejak kapan kau minum bir?" Tanya Naruto.
"Tidak aku hanya menawarimu." Alih-alih mengambi bir. Sai mengambil sekotak susu dingin dari kulkas dan menyereputnya dengan lahap.
"Aku lelah, aku akan pergi ke kamar dulu."
Naruto berjalan gontai ke kamarnya. Membeli barang-barang bulanan ternyata begitu melelahkan. Sai mengomelinya seperti ibu-ibu yang sedang belanja dan perannya hanya menjadi kuli panggul untuk semua barang-barang yang mereka beli. Di perjalanan menuju kamarnya Naruto sempat melirik ruang tengah. Gerombolan anak-anak kecil sedang berkumpul disana sembari memperhatikan Kakashi. Sepertinya ia sedang menceritakan sesuatu, beberapa dari mereka sampai ketiduran di lantai.
Sejak kepergian mendiang Profesor Sarutobi tak ada yang mengisi jabatan Kepala Sekolah dan juga Ketua Dewan Tinggi Mutan. Tak ada yang merasa pantas untuk menerima jabatan itu. Namun Kakashi dan juga guru-guru yang lain akan dengan senang hari menjadi perwakilan untuk kedua jabatan itu. Belum ada yang merasa dirinya pantas mengambil posisi Dewan Tinggi Mutan Konoha. Meski Profesor Sarutobi telah pergi, tak ada yang berani macam-macam dengan posisi itu atau para mutan. Kesatuan Militer dan Presiden sendiri yang menjadi saksi bahwa murid-murid Profesor Sarutobi telah mengalahkan organisasi Akatsuki yang dianggap teroris paling berbahaya dan menyelamatkan seperempat negara bagian Konoha dari kerusakan yang bisa saja di akibatkan oleh mutan Omega yang di takuti, Sakura.
Para mutan dan terkhusus para murid Konoha Gifted Youngster School masih bisa bernapas lega. Naruto tersenyum. Ia selalu senang mendengarkan Kakashi bercerita, ia paling sering menceritakan sejarah. Well, Kakashi bukanlah tipe orang yang akan menceritakan dongeng pada anak-anak. Kakashi selalu hebat dalam menceritakan sejarah. Ia akan menceritakannya begitu detail sehingga siapapun yang mendengarnya merasa bahwa mereka mengenal orang-orang dari masa lalu itu. Pernah sekali Naruto mendengar Kakashi menceritakan soal Akatsuki. Organisasi itu, yang seharusnya di kenang sebagai musuh terburuk sepanjang masa. Tapi tidak dalam cerita Kakashi. Murid-murid yang tinggal di X Mansion telah mengenal Akasuki sebagai organisasi yang berbeda. Kakashi menceritakan bagaimana awal Akatsuki terbentuk, dan sejarah sebenarnya yang telah lama tersembunyi. Tak lama mereka mengetahui bahwa sesungguhnya Organisasi Akatsuki bukanlah organisasi yang memiliki cita-cita sebagai pemicu perang. Melainkan organisasi yang menginginkan perdamaian antar manusia dan mutan. Mereka menemukan berkas, informasi, dan hal-hal penting di markas Akatsuki ketika tragedi di danau Alkali berakhir. Dengan cerita yang panjang hingga entah bagaimana Akatsuki pada akhirnya berubah menjadi sebuah Organisasi yang ambisius dan melakukannya dengan cara yang salah. Semua sejarah itu terdengar begitu manis jika keluar dari mulut Kakashi. Orang-orang bisa jadi belajar lebih dari sekedar sejarah.
"Apa kau pernah bertanya-tanya, berapa umur Kakashi?" Ujar sebuah suara tiba-tiba.
"Sai! Bodoh kenapa kau selalu mengagetkanku seperti itu?"
"Katanya kau mau istirahat, kenapa malah berdiri disini?" Tanyanya.
"Bikan urusanmu." Naruto melangkah pergi dari hadapan Sai. Dia terus berjalan menuju kamarnya yang berada di lorong yang berbeda dengan yang lain. Lorong itu begitu sepi tidak seperti lorong yang lain. Terang saja, sudah sejak ia balita dia tinggal di kamar di lorong itu dan ia tidak akan pernah mau pindah dari sana. Terdapat dua kamar kosong tak jauh dari kamarnya. Itu adalah kamar Sasuke dan Sakura. Kamar lama mereka yang tak satu orangpun mau menempati kamar-kamar itu. Sama seperti tak ada yang mau menempati ruangan Profesor Sarutobi. Kamar-kamar itu dibiarkan seperti itu, sama seperti ketika terakhir kali pemiliknya meninggalkannya.
Naruto melangkah masuk ke kamarnya yang berantakan dan merebahkan diri di kasurnya yang usang. Perhatiannya tertuju pada hujan lebat di luar jendela. Ia lelah tapi tidak bisa tidur. Selalu seperti itu setiap hari, selama bertahun-tahun. Ia kesepian.
"Apakah kalian berada disana disuatu tempat?" Tanyanya dalam keheningan.
Setiap malam, selama bertahun-tahun ia berharap setelah apa yang terjadi bahwa semuanya hanya mimpi. Ia selalu berharap bahwa mungkin suatu hari nanti Sasuke akan pulang dan Sakura tidak pernah mati sebelumnya. Ia menghela napas lelah memperhatikan satu persatu tetesan hujan yang turun hingga ia tertidur.
Y INDUSTRY
Tuesday, 05.03 A.M, Y Industry
Perbatasan Konoha dan Iwa
Seorang wanita cantik berjalan membawakan nampan berisi secankir kopi hitam tanpa gula untuk yang kesekian kalinya ke ruangan Presiden Direktur Y Industry.
"Tuan, aku membawakan kopi mu."
"Ah, terima kasih Shion. Gadisku yang manis." Sebuah lukisan besar si Tuan terpampang besar tepat di belakang meja kerjanya. Lukisan seorang pria yang tengah memberikan sebuah kaki mekanik buatan kepada seorang gadis lumpuh yang berada di kursi roda.
"Apa anda tidak akan pulang Tuan?" Tanya wanita itu.
"Bagaimana aku bisa pulang sebelum rancangan ini di luncurkan? Kau tahu Beethoven juga tidak bisa tidur sebelum menyelesaikan komposisinya." Ia menoleh.
"Oh iya, surat kabar hari ini sudah sampai, aku membawakannya untukmu."
"Tiba lebih awal ya?" si Tuan mengambil surat kabar itu.
HEADLINE TODAY
MENUJU PELANTIKAN DEWAN TINGGI MUTAN KUMOGAKURE
"Ah, angin segar. Terima kasih karena telah membawakanku berita baik ini."
Shion meninggalkan ruangan tapi pria itu masih enggan beranjak dari kursinya. Masih membaca surat kabar yang ia terima, tiba-tiba telepon berdering.
"Tuan, proses inkubasi sudah selesai. Sekarang saatnya. Kami membutuhkan bantuanmu di Lab." Ujar suara di seberang sana.
"Baiklah, aku akan segera kesana."
Laboratorium Y Industry
"Ah, Tuan. Kami sudah menunggumu. Mari kita langsung ke ruang incubator." Ujar salah seorang petugas Lab yang masih lengkap dengan jas putih mereka.
"Aku sudah menunggu hari ini sejak lama." Mereka berjalan menuju sebuah ruangan kaca yang begitu steril dan ada sebuah inkubator kecil berisikan sebuah cairan dalam tabung reaksi. Sekilas tidak ada yang special dari cairan berwarna biru itu. Namun semua orang yang berada di dalam Lab seolah menggantungkan hidup mereka pada cairan itu.
"Ini lebih dari cukup." Bisiknya rendah.
"Tuan, tuan! Hari ini kita adalah hari yang kita tunggu-tunggu! Selama puluhan tahun proyek ini tertunda karena barang sekecil itu dan sudah delapan tahun aku bergabung dengan kalian semua! Era baru umat manusia akan di mulai hari ini!" Pidato singkat itu telah sukses membuat semua orang yang berada di seluruh ruangan itu bertepuk tangan. Sebagian saling berpelukan karena saking terharunya akan kerja keras mereka yang akhirnya berbuah manis.
"Aku tahu kalian sudah sangat bekerja keras. Tapi ini semua belum selesai. Kita akan segera merasakan hasilnya. Nah, sekarang kita lakukan prsedur penggabungan akhir." Ujarnya.
Mereka semua mulai bergerak. Seakan tidak lelah sama sekali mereka langsung sibuk dengan tugas mereka masing-masing.
"Berikan laporan perkembangannya, aku yang akan mengurus langsung dari sini." Ia beralih mengambil laporan dan membacanya dengan seksama.
"Apa kau tidak lelah Tuan? kau jarang sekali pulang." Ujar si Staf itu. Ia menoleh.
"Siapa namamu?" Tanyanya.
"Takamura."
"Nah Tuan Takamura, apa kau punya anak laki-laki?"
"Ya."
"Berapa tahun?"
"Dia dua belas tahun."
"Dalam beberapa tahun anakmu akan cukup umur untuk wajib militer. Kita dan para orang tua yang lain, harus sampai kapan mengirimkan anak-anak kita dan beraharap mereka kembali di dalam kantong-kantong mayat? Ratusan tentara dari kaum kita mati setiap tahun. Tapi lihat para mutan! Tak ada dari mereka yang mati. Bagaimanapun caranya peradaban tidak bisa menyatukan kita menjadi satu spesies." Jelasnya.
"Wah, kau terlihat sangat membenci para mutan itu Tuan." Komentar itu hanya dibalas dengan tawa renyah.
"Aku? Aku tidak membenci mereka Takamura, sebaliknya aku sangat mengagumi mereka. Mereka bisa melakukan banyak hal." Ia menoleh. "Aku menganggap bahwa para mutan adalah juru selamat kita."
"Musuh yang sama?"
"Perjuangan yang sama. Kepunahan. Aku yakin teman baru kita akan menjamin era baru bagi kita. Era baru untuk perdamaian nan abadi."
AN : Jika ada yang ingat terakhir kali saya menulis chapter akhir X Men : The Omega adalah Juli 2015. Waktu itu lagi UN SMA. Btw, sekarang saya mau semester 7 (Bangkai! Sudah tua sekali!). Dua chapter awal ff ini di posting lewat tengah malam. Waktu aku bangun pagi harinya sudah ada email masuk, lebih dari lima orang sudah review. Serius guys, jam segitu kalian harusnya tidur. But thanks! Really appreciate it. Aku jadi semangat. Ah euforia ini...
