Disclaimer
Nor Even Wish
Masashi Kishimoto-Sama
Alternative Universe
X-MEN : DARKER
©LONGLIVE AUTHOR
AWAKENING
Malam yang tenang di kediaman keluarga Sabaku. Tanah kering Suna terasa dingin ketika sudah hari sudah gelap. Waktu telah menunjukkan lewat tengah malam. Sabaku Gaara sudah terlelap masih menggunakan pakaian lengkap karena ia terlalu lelah hingga membuat nya ketiduran begitu saja. Tugasnya menjadi Ketua Dewan Tinggi Mutan Suna bisa menjadi sangat merepotkan di saat-saat tertentu.
Dengkuran halus terdengar jelas ke seluruh kamarnya. Seharusnya orang yang sering dipanggil Tuan Gaara ini sudah lelap begitu dalam– ya, seharusnya! Namun ia bermimpi, ia berada di sisi sungai. Sungai itu terasa sangat familiar. Hujan mulai turun saat ia melihat tumpukan tulang putih yang menyerupai peti tidak beraturan. Ah, dia ingat! Ini hari dimana ia menemukan perempuan itu. Namun belum sempat ia mendekati peti yang terbuat dari tulang belulang itu, tiba-tiba saja tanah disekitarnya bergetar seperti dihantam gempa yang sangat besar.
"Ada apa?" Dalam hati ia bertanya. Gaara melihat riak sungai bergerak tak beraturan, dan dalam gerakan lambat ia melihat seolah langit di atas hampir ambruk. Semuanya menjadi gelap ia tidak bisa melihat apapun…
"Gaara! "
"Gaara! "
"Siapa yang memanggilku? "
"Gaara!"
"Gaara, bangun!"
Gaara tersentak, ia terbangun dari tidurnya. Ia berada di kamarnya, masih belum sadar sepenuhnya.
"Gaara bangun! Ada gempa! Bangun!"
Ia melihat Temari, kakaknya mengguncangkan bahunya dengan kencang. Gaara merasakan getaran kecil dari tempat tidurnya. Air didalam gelas yang ditaruh di mejanya masih bergoyang. Mereka berdua bergegas keluar kamar dan berlari keluar rumah. Kankurou sudah bergabung dengan mereka di halaman dengan tiga orang pelayan. Tepat ketika mereka menginjakan kaki di luar rumah gempa itu berhenti. Lampu-lampu jalanan dan lampu teras rumahnya masih berkedip kedip disebabkan listrik yang tidak stabil.
"Sudah berhenti" Ujar Temari, menghela napas lega.
"Tiba-tiba sekali" Balas Kankurou. Pasalnya Suna adalah daerah yang jarang sekali terjadi gempa bumi karena tidak memiliki pegunungan dan jauh dari laut.
Belum sempat mencerna semua hal yang terjadi ponsel Gaara yang masih berada di saku celananya bergetar. Seseorang meneleponnya.
"Halo!" Ujar Gaara
"Halo, Tuan, lebih baik anda kemari sekarang juga." Terdengar suara setengah panik dari seberang sana.
"Aku kesana sekarang juga."
Jadilah Gaara meninggalkan kedua kakaknya tanpa penjelasan apapun.
"Tap… tap… tap"
Gaara telah sampai di Lab tempat dia menyembunyikan perempuan itu. Ia terus berjalan menuju ruang perawatan sembari bertanya-tanya hal darurat apa yang terjadi, dan kenapa pas sekali dengan gempa barusan.
"Tuan Gaara!" Seseorang pria memanggilnya.
"Ada apa dokter? Ada sesuatu yang gawat?" Tanya Gaara.
"Gempa tadi," Pria itu menghela napas "berasal dari sini, perempuan itu"
Gaara dan sang dokter masuk kedalam ruang perawatan. Mendapati ranjang kosong. Perempuan itu tidak ada di tempat nya. Beberapa perabot berukuran kecil masih berserakan di lantai. Gaara merasa aneh karena gempa barusan memang terasa namun tidak cukup kuat untuk menjatuhkan benda. Berarti betul bahwa pusat gempa berasal dari sini, guncangan nya lebih kuat daripada tempat lain.
"Petugas yang berjaga malam mengatakan sebelum gempa terjadi, aktifitas otak dari pasien mengalami lonjakan signifikan." Jelas sang dokter.
"Lalu dimana dia sekarang?" Tanya Gaara.
"Dia di… " Sang dokter menuntunnya ke ruangan lain.
Seorang perempuan tengah duduk memunggunginya dan dokter lain tengah melakukan pemeriksaan padanya.
"... bisa kau melihat kemari?" Si dokter mengarahkan senter kecil ke arah matanya.
"... satu lagi.. " Ia mengarahkan senter nya ke mata satunya.
" Baiklah. Semuanya normal." Kata si dokter. Dokter wanita itu melihat Gaara memasuki ruangan. Ia berdiri dari kursinya dan mengangguk pada Gaara, kemudian beranjak dari tempatnya.
Gaara melihat mata sang dokter untuk kesekian kalinya memastikan apakah semuanya aman, dan sekali lagi sang dokter menangguk, mengisyaratkan Gaara agar mendekati perempuan itu. Sedangkan kedua dokter itu berada di sisi lain ruangan berjaga-jaga apabila hal tidak diinginkan terjadi.
Anak bungsu keluarga Sabaku itu berjalan perlahan namun mantap ke arah gadis berambut merah itu. Gaara duduk di kursi yang berhadapan dengan si gadis. Si gadis mendongak dan untuk pertama kalinya setelah delapan tahun Gaara bertemu mata dengan orang yang ia sembunyikan keberadaanya dari seluruh dunia selama ini. Alih-alih terkejut, saat ini Gaara tidak bisa mendeksripsikan perasaannya ketika melihat pemandangan yang ada di hadapannya saat ini. Otaknya yang pintar tidak bisa mencerna segala informasi yang diterima kedua manik jade nya.
Ya, Jade!
Warna mata yang sama yang sedang balik memandanginya saat ini. Wanita ini dengan cara yang aneh memiliki warna mata dan warna rambut yang hampir tidak ada bedanya dengan Gaara. Seolah-olah mereka adalah saudara. Bahkan kedua saudara kandung Gaara tidak ada yang semirip ini dengannya.
"Hai." Ujar Gaara akhirnya setelah beberapa detik tenggelam dalam kepalanya sendiri.
"Hai" balas si gadis.
Perasaan sangat tidak nyaman berkecamuk di dada Ketua Dewan Tinggi Mutan Suna itu. Meskipun kegelisahan tak wajar itu tidak mempengaruhi air mukanya sama sekali. Wajah gadis ini sama sekali tidak berubah dari pertama kali ia menemukannya, hanya lebih pucat dan lebih kurus. Namun rambutnya dulu berwarna merah muda, dan warna hijau dimatanya jauh berbeda dengan Gaara. Kilas ingatan saat pertama kali Gaara menemukan gadis ini berputar ulang di benaknya.
"Jangan beri tahu siapapun!"
"Aku bermimpi buruk sekali." Suara gadis itu memecahkan keheningan dan lamunan Gaara.
"Aku aku tidak bisa menjelaskannya, tapi mimpi itu sangat kacau, aku mendegar banyak sekali suara dikepalaku hingga aku terbangun." Jelasnya sekali lagi. Si gadis memeluk tangannya sendiri, memberikan gestur kedinginan.
"Apakah aku di rumah sakit?" Tanyanya.
"Ya, anggap saja begitu." Jawab Gaara akhirnya.
"Kau siapa?" Tanyanya lagi.
"Namaku Gaara, dan kau?" Setelah sekian lama akhirnya Gaara memiliki kesempatan untuk menyakan identitas perempuan ini.
"Apa hal terakhir yang kau ingat?" taya Gaara lagi. Gadis itu terdian untuk beberapa saat.
"Rumah kami di rampok, oleh sekelompok penjahat. Orang tuaku menahan mereka dan aku melarikan diri. Kurasa mereka meninggal. Setelah itu aku tidak ingat apapun. Sepertinya aku terlibat kecelakaan" Jelas si gadis. Sangat tipis sekali, namun terdapat kerutan tipis di kening gara yang mulus. Ia tahu betul bahwa rumah kerampokan jelas bukan alasan yang masuk akal kenapa Gaara menemukannya di dalam tumpukan tulang di tepi sungai delapan tahun lalu. Ia tidak tahu apakah gadis ini menipunya atau tidak, semuanya masih sangat membingunkan.
"...dan, namaku Haruno– Sakura." Ujarnya. Akhirnya!
Sosok lain datang dan berdiri disebelah kedua dokter tak jauh dari pintu, mengalihkan fokus Gaara untuk sesaat dari si Gadis. Ia melihat Nona Tsunade datang. Ialah orang yang tepat untuk memerikan gadis bernama Haruno Sakura ini. Gaara menatapnya dan mengangguk pada Nona Tsunade.
Sementara itu di kediaman Sabaku, Temari dan Kankuro berada di dapur. Gelas lemon hangat Temari sudah hampir habis, sedangkan kaleng bir Kankurou sudah habis dari sejam yang lalu.
"Kau sudah menghubunginya?" Tanya Temari.
"Ya, tapi Gaara tidak menjawab." Jawab Kankurou.
"Apa menurutmu gempa tadi ada hubungannya dengan Mutan?" Tanya Temari.
"Kenapa gitu?" Kankuro mengernyit.
"Sesaat setelah gempa, Gaara mendapat telepon dan pergi dengan terburu-buru. Dia bukan Walikota, Kankurou, jika seseorang meneleponnya, pasti itu berhubungan dengan mutan."
"Entahlah, akan kita tanyakan jika dia pulang."
Waktu menunjukan pukul setengah enam pagi ketika Nona Tsunade keluar dari ruangan setelah memeriksa Haruno Sakura. Gaara telah menunggunya di salah satu ruangan petugas. Nona Tsunade menghampirinya dengan dua gelas air putih di tangannya, dan memberikan salah satunya kepada Gaara.
"Kau berantakan sekali, kau belum sempat tidur ya?" Kata Tsunade seraya duduk di kursi lain berhadapan dengan Gaara.
"Yah, begitulah." Jawab Gaara. "Bagaimana keadaannya?" ujar Gaara langsung pada intinya.
"Seperti orang linglung." Jawab Tsunade.
"Tentu saja, dia koma selama delapan tahun"
"Tidak, maksudku, dia seperti orang yang tidak ingat siapa dirinya sendiri. Saat kau bilang kau menemukannya 8 tahun lalu di tepi sungai ,dan hal terakhir apa yang ia ingat sangat lah tidak singkron. Lalu, dari apa yang aku perhatikan, dia bahkan tidak sadar kalau dia adalah mutan. Dengan aktifitas otak sebesar itu jelas dia seorang mutan." Jelas Tsunade.
"Akupun berpikir begitu, aku kira dia lupa ingatan atau semacamnya." kata Gaara menyeruput gelasnya.
"Dengar, aku bukan lah sepenuhnya seorang telepath. Tapi aku bisa sedikit memasukinya. Rasanya seperti ada sebagian besar dari dirinya yang…menghilang, atau tertahan entahlah. Otaknya sendiri seperti sengaja mensabotase gadis itu."
"Apa maksudmu?" Gaara tidak mengerti.
"Kau tahu ketika seseorang terbentur sangat keras dan membuat trauma berat di kepalanya, dia bisa amnesia, namun dalam beberapa kasus trauma tidak hanya terjadi karena benturan, kondisi emosi yang ekstrem bisa menyebabkan trauma serupa hingga mempengaruhi cara otak kita bekerja. Seperti ketika merasakan kesedihan yang teramat sangat, atau shock yang hebat. Efeknya bisa bermacam-macam, bisa membuat kita tidak mampu membedaan realita dan imajinasi, bisa membuat kita mengalam gangguan kejiwaan, delusional, bahkan membuat kita melupakan kejadian yang membuaat kita shock berat tanpa menghilangkan semua ingatan kita. Pada kasus Haruno Sakura ini, trauma itu yang terjadi, ia tampak ingat siapa dirinya, dan keluarganya, namun sebagian besar hal lainnya ia tidak mengingatnya. Otaknya seperti sengaja menghilangkan sebagian besar ingatan yang ada dalam gadis itu." Jelas Nona Tsuade panjang lebar.
"Aku mengerti. Lalu kenapa fisiknya berubah dari pertama kali aku menemukannya. Dia menjadi mirip denganku." Tanya Gaara.
"Itu hal yang perlu ku pastikan sekarang. Kau tahu, sel-sel gadis itu benar-benar bekerja sendiri dialam bawah sadarnya. Solah-olah melakukan apapun untuk menjaga tubuhnya tetap hidup. Terakhir kali aku melakukan tes darah, ada perubahan signifikan dari sebagian besar selnya. Kau tahu, seperti mengubah dirinya menjadi orang lain." Nona Tsunade mengehela napas.
"Kau bilang, kau orang pertama yang menyentuhnya ketika ia pertama kali di temukan, Aku perlu melakukan tes darah padamu."
"Kenapa?"
"Ini hanya hipotesis, tapi kurasa Haruno Sakura secara tidak sadar mengubah dirinya seperti dirimu." Nona Tsunade bediri dari kursinya.
"Tapi kau tidak perlu mikirkan hal itu dulu, yang harus kau pikirkan adalah, apa yang akan kau lakukan sekarang? Aku tidak begitu tertarik awalnya. Namun sekarang aku penasaran, apa yang membuatmu memungut gadis ini delapan tahun lalu, dan menyembunyikannya dari dunia? Kau bisa saja membiarka gadis ini. Terlebih dia sudah sadar sekarang, kau tidak bisa mengurungnya disini lagi."
Apa yang akan kau lakukan sekarang, Tuan Gaara?
