Aku,

Sasuke,

Uchiha Sasuke.

Darah biru Uchiha mengalir dalam setiap sel darahku, mendarah daging didalam hatiku.

Angkuh,

Sombong,

Arogan,

Dingin.

Itu semua adalah sifat dan sikap yang diriku miliki secara alami, itu adalah hukum alam.

Karena aku adalah seorang Uchiha

Prince Of The Darkness


Sasuke berjalan dengan gagah di koridor panjang sekolah nya, mata hitam pekat nya menatap lurus kedepan, menghiraukan panggilan dan tatapan siswi-siswi yang begitu menggilai ketampanannya.

Bukan menuju ke kelasnya, Sasuke justru pergi ke kelas lain, lebih tepatnya kelas Hyuuga Hinata.

Ruang kelas X-1 nampak baru sebagian murid saja yang hadir, di kursi paling belakang dan paling pojok, tengah duduk seorang gadis bersurai biru tua yakni Hinata sendiri.

Biarpun sudah beberapa hari dia menjadi murid beasiswa disini, seluruh teman satu kelasnya masih saja mengganggu dan mengejek dirinya.

Tidak ada satupun orang yang mau berteman dengan dirinya.

Ditengah tundukan kepalanya, Hinata tersenyum tipis, sesekali hatinya merasa sakit jika mengingat-ingat bagaimana hampir satu sekolah menghujat dirinya, baik dari yang satu angkatan dengannya maupun kakak kelas.

Masih banyak hari-hari yang harus Hinata lalui dengan kuat, Hinata merasa dirinya tidak boleh lemah, tapi setiap manusia punya batasnya.

"Hyuuga Hinata"

Merasa namanya dipanggil, Hinata mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang memanggilnya.

'Sasuke-kun'

Hinata menelan ludahnya, seketika badannya bergidik ngeri.

"Wah ada Sasuke-senpai!!"

Beberapa siswi mulai menjerit ketika melihat pemandangan langka, kapan lagi ada kesempatan seorang Uchiha Sasuke akan masuk kedalam kelas mereka, namun untuk apa Sasuke menemui Hinata.

Para siswa laki nampak iri dengan segala yang Sasuke miliki; ketampanan, kekayaan, kepintaran; oh ayolah, apa Tuhan sebegitu baiknya sampai-sampai menciptakan Sasuke dengan sempurna, kenapa diri mereka tidak.

"Ikut aku"

Lagi dan lagi, Hinata diseret paksa oleh Sasuke. Beberapa murid nampak berpikir bahwa Hinata terlibat masalah dan membuat Sasuke marah.

"Cih, gadis tak tau diri! Apa dia sengaja buat masalah agar menarik perhatian Sasuke-senpai"

"Pasti dia berpikir senpai menyukainya"

"Benar-benar gadis licik, tampang nya saja yang lugu"

Seisi kelas langsung ramai membicarakan Hinata yang diseret oleh Sasuke, melontarkan kata-kata yang tidak pantas tentang Hinata tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.


"Kenapa kau tidak menghubungi semalam?"

Sasuke menghempaskan dengan kasar tubuh Hinata ke dinding, membuat Hinata meringis kesakitan.

"A-aku benar-benar lupa, m-maafkan aku"

Elak Hinata, sebenarnya dirinya tidak lupa, dia rasanya benar-benar tidak mau berhubungan ataupun bertemu lagi dengan kakak kelasnya ini.

"Ck, awas jika kau membohongi ku"

Sasuke menghela nafasnya, apa gadis ini tidak tahu bahwa semalaman penuh dia menunggu pesan atau pun panggilan masuk dari Hinata. Dirinya benar-benar gelisah bahkan tidak bisa tidur hanya karena menunggu sebuah pesan masuk, benar-benar memalukan.

"Dan kenapa malah berangkat sekolah duluan?"

Sungguh Sasuke benar-benar gemas, berani-berani nya Hinata berangkat sekolah terlebih dahulu padahal sudah dibilang kalau akan dijemput. Dan Hinata kini hanya diam menunduk, dia tidak mau menjawab pertanyaan Sasuke.

"J-jika sudah selesai, a-aku ingin kembali ke kelas"

"Tidak boleh"

Sasuke segera duduk ditepi balkon pendek atap sekolahnya, dia menepuk pelan tempat disampingnya, mengisyaratkan bahwa Hinata harus duduk disitu. Mau tidak mau Hinata lagi-lagi hanya bisa menurut.

"Ini"

Sasuke tiba-tiba mengeluarkan sesuatu dari saku jas sekolah dan memberikannya pada Hinata, itu adalah sebuah handphone baru.

"A-apa? U-Untukku?"

Hinata sungguh tidak mengerti.

"Aku sudah menyimpan nomorku disana, dan nomormu juga sudah ku simpan"

Sasuke membuka telapak tangan Hinata dan memberikan hp tersebut. Hp mewah nan mahal yang bahkan Hinata sendiri tidak berani bermimpi untuk bisa memilikinya.

"T-tidak , a-aku tidak b-bisa menerimanya"

"Kau harus menerimanya"

Sasuke menekan setiap kata-kata nya, membuat Hinata memandang lama kearah hp baru berwarna biru yang kini berada di genggaman tangannya. Hinata bahkan pernah melihat di tv bahwa hp seperti ini harganya bisa diatas 150.000 yen.

"Aku benar-benar t-tidak membutuhkan ini, hp ku masih bisa dipakai, sungguh, aku t-tidak bisa menerimanya"

"Kemarikan hp lama mu"

Seakan tak mengindahkan kata-kata Hinata, Sasuke justru malah menyimpan hp usang itu disaku celana nya, membuat Hinata semakin pusing saja.

"S-Sasuke-kun, aku ti-"

"Aku akan kembali ke kelas"

Sasuke yang tidak mau mendengar ucapan Hinata lagi segera pergi meninggalkannya, wajahnya yang minim ekspresi dapat menyembunyikan perasaan senangnya dengan baik.

Sedangkan yang ditinggal hanya mampu menghela nafas panjang, setelah insiden memalukan kemarin, Sasuke justru malah memberikan nya hp baru. Entah Hinata harus mengucapkan terimakasih atau malah sebaiknya memang dirinya menjauh dari Sasuke.


Jam istirahat tiba, Hinata kali ini tidak ingin kemana-kemana, dirinya juga tidak lapar, dia hanya ingin diam duduk dikelas. Sesekali dia membuka layar hp baru nya, tetap saja dia tidak bisa tiba-tiba senang karena mendapatkan hp baru.

"Wah wah si miskin punya hp baru, mahal pula"

Ledek salah satu teman sekelas Hinata, dengan cepat Hinata segera mematikan dan menyimpan hp nya didalam kolong meja.

"Ah benarkah?"

"Dapat uang darimana coba?"

"Jangan-jangan benar ya kamu itu jual diri Hinata?"

Bukan satu atau dua orang, hampir semua teman kelasnya tidak ada yang menyukai Hinata, Hinata sendiri bahkan tidak berani berbicara dengan mereka.

"Coba aku mau lihat hp nya"

Salah satu dari mereka mencoba meraih hp Hinata dari kolong mejanya.

"J-jangan, k-kumohon j-jangan ganggu aku"

Hinata tetap berusaha menggenggam erat hp nya, sedangkan teman nya yang lain juga ikut berusaha merebut hp milik Hinata.

Beberapa yang lain nampak bersorak, suasana kelas yang tadi tenang kini berubah menjadi ricuh.

Seorang pemuda yang diketahui bernama Deidara dengan kasar menarik tubuh mungil Hinata dan dihempaskan ke tembok.

"Lihat, sudah berani si dungu ini"

Deidara bahkan berhasil merebut hp Hinata dan diberikan ke teman nya yang lain, sedangkan Hinata berusaha menahan sakit ditubuh nya karena berbenturan dengan tembok dengan kuat.

"Benar-benar hp mahal ternyata"

Nampak Hinata mulai membendung airmatanya, rasanya Hinata ingin benar-benar menyerah.

"Lihat, dia mau nangis"

Dan hampir seluruh anak-anak dikelas langsung tertawa, mereka tertawa tanpa rasa belas kasihan sedikitpun, menertawakan seorang gadis biasa yang hanya ingin bisa bersekolah dengan normal.

Tiba-tiba saja,

'Bugh!'

Tubuh Deidara ada yang menarik lalu sebuah pukulan keras mantap mendarat di pipi nya sebelah kanan, seketika kelas menjadi sunyi, yang terdengar hanya isakan Hinata yang sayup-sayup.

Mereka semua membatu kala melihat yang memukul Deidara adalah Uchiha Sasuke.

"S-senpai, k-kenapa kau memukul ku?"

Deidara hampir tidak percaya bahwa dirinya kena bogem mentah dari seorang yang begitu diagungkan disekolah ini. Jangankan Deidara, murid yang lainnya pun sama terkejutnya, mereka terlalu takut.

Baru ini, pertama kalinya, mereka melihat tatapan marah dari mata kelam milik Sasuke. Mata hitam yang biasanya hanya memancarkan aura pesona yang menyilaukan kini berubah, bahkan tatapan mata Sasuke seperti ingin membunuh semua orang yang ada disitu.

"Kemarikan"

Sasuke membuka telapak tangan nya, seolah mereka mengerti, seseorang yang berperawakan rambut panjang segera memberikan hp milik Hinata. Dengan tangan yang gemetar, gadis yang bernama Yamanaka Ino memberikan kembali hp biru Hinata.

Sasuke menghela nafas panjang, kini pandangannya beralih pada Hinata yang masih menunduk dengan dalam, tangan-tangan mungil nya terlihat meremas ujung rok hitamnya.

"Kosongkan kelas ini sekarang juga"

Suara berat Sasuke membuat anak-anak kembali melongo.

"Satu, dua, ..."

Saat sebelum hitungan ketiga, semuanya meninggalkan ruangan, hanya menyisakan Sasuke dan Hinata seorang. Bahkan tidak ada satupun dari mereka yang berani untuk mengintip dari jendela apa yang akan terjadi didalam sana, mereka terlalu takut untuk mencari gara-gara dengan seorang Uchiha.

Sasuke menyeret satu kursi dan kini dia duduk berhadapan dengan Hinata yang masih membisu.

"Mau sampai kapan kau begitu, huh?"

"..."

"Mungkin setelah ini, tidak akan ada yang berani mengganggu mu dikelas"

"..."

"Hanya aku, yang boleh menganggungmu"

Dengan cepat Sasuke menarik Hinata dengan kasar agar ikutan duduk di kursi sebelahnya. Hinata yang sudah terbiasa dengan kasarnya kelakuan Sasuke nampak tidak ingin mengatakan apapun.

"A-aku sudah bilang aku tidak butuh hp itu"

Hinata berusaha kembali menyingkirkan hp yang menjadi perkara masalah dikelasnya.

"Kau tidak ingin membuatku marah lagi kan?"

Ucapan yang Sasuke keluarkan sukses membuat Hinata kicep. Hinata kini memperhatikan Sasuke yang tengah mengotak-atik hp ditangannya. Hinata bingung, dia tidak mengerti apa yang senpai nya ini inginkan, kenapa terus saja menganggu nya, padahal Hinata sendiri sudah berusaha menjauh semaksimal mungkin.

"Apa yang kau inginkan dariku Sasuke-kun?"

Sepertinya Hinata ingin memperjelas keadaan nya saat ini.

"Kau pacarku kan, apa kau lupa?"

Malah Sasuke yang bertanya balik, benar-benar membuat hati Hinata gondok.

"A-aku tidak b-bisa, b-bahkan memimpikannya saja aku tidak berani, kau sendiri yang mengatakan, a-aku adalah perempuan miskin"

"..."

"A-ku tidak pantas menjadi pacarmu, walaupun itu hanya untuk main-main saja tetap aku tidak pantas"

"Lalu siapa yang pantas?"

Dengan santai nya Sasuke bangkit lalu mengunci tubuh Hinata diantara kedua tangannya, mata keduanya saling bertemu. Bahkan tanpa Hinata sadari, rona merah mulai muncul di pipi chubby nya.

"Perihal pantas atau tidak pantas, tetap aku yang memutuskan, kau tidak bisa menolak ku Hinata, kau mengerti sayang?"

Cup

Sebuah kecupan ringan mendarat dibibir Hinata, membuat Hinata membelalakkan matanya.

"S-Sasuke-kun ini diruang kelas"

Hinata dengan cepat melihat kearah jendela, dan untung saja teman-teman sekelasnya tidak ada yang melihat.

"Ini"

Sasuke kembali memberikan hp milik Hinata dan segera melenggang keluar.

Dan saat Sasuke telah keluar kelas, kaki nya berhenti sejenak untuk melihat semua teman kelas Hinata yang telah dia usir tadi.

Seketika itu mereka semua segera membuang muka, tidak ada satupun yang berani melihat kearah wajah Sasuke, bahkan para gadis sekalipun- mereka masih takut.

"Kalian akan tahu akibatnya jika berani menyentuh Hinata lagi"

Sasuke memandang malas kearah mereka semua, sedangkan yang dikasih tahu langsung mengangguk cepat, kini mereka tidak berani lagi untuk macam-macam dengan Hinata.

Dan setelah Sasuke pergi dan sudah tidak kelihatan lagi sosok badannya, mereka semua langsung berbisik dan bergosip.

"Ada hubungan apa Sasuke-senpai dengan gadis miskin itu ya?"

"Mungkin senpai telah di pelet"

"Entah apa yang jalang itu lakukan sampai Sasuke-senpai membelanya"

Semua mulai mengeluarkan opini masing-masing, dan saat satu persatu mulai masuk ke kelas, mereka justru semakin membenci Hinata.

Hinata sendiri tidak bisa berbuat apa-apa, mungkin sudah nasib nya untuk tidak memiliki satu teman pun.


Bel sekolah berdering dengan kencang, menggema di seluruh koridor menandakan waktu belajar telah usai.

Semua siswa-siswi nampak senang karena pelajaran telah berakhir, kini waktunya mereka kembali ke kediaman masing-masing.

Seperti biasa, sebelum pulang Sasuke mengambil handphone nya terlebih dahulu diloker, dan sudah biasa bagi dirinya menerima begitu banyak surat cinta didepan lokernya dari adik atau pun kakak kelas. Bagi Sasuke, semua itu hanyalah sampah. Sasuke hanya akan memungut semua sampah-sampah itu lalu dia buang dengan cepat di tong sampah.

Sasuke tidak suka perempuan yang berisik atau sangat bawel kepadanya, maka dari itu tidak ada satupun dari fans girl nya yang Sasuke sukai.

Dan cuma ada satu perempuan yang tidak berisik jika berada di dekat nya saat ini, yakni Hinata.

Sasuke yang sudah tahu Hinata akan pergi ke tempat loker pun sengaja menunggu, bagaimanapun loker mereka kan berdekatan.

Tak lama berselang, pucuk di cinta ulam pun tiba.

Benar saja Hinata ke loker nya untuk menyimpan beberapa buku, Sasuke dengan sigap segera bersender tepat disamping loker Hinata seraya memperhatikan gadis tersebut.

Hinata sendiri rasanya malas untuk melirik kearah samping, dia pura-pura tidak melihat.

"Apa mereka masih mengganggu mu?"

Tanya Sasuke dengan penuh perhatian.

"Tidak"

Sedangkan Hinata hanya menjawab dengan singkat.

"Apa kau sudah makan?"

Pertanyaan yang sungguh-sungguh mencemarkan marga seorang Uchiha, tapi siapa peduli, Sasuke rasanya seperti sedang tergila-gila.

"Sudah"

Hinata menutup pintu loker dengan lembut, kini dia melihat balik kearah Sasuke yang ternyata sedari tadi terus memperhatikan nya.

Mata gelapnya tidak bisa berhenti memandangi cantiknya wajah Hinata.

Hinata merasakan pipinya mulai memerah, tentu saja dia malu karena Sasuke terus saja melihat ke arah nya.

"Aku mau p-pulang"

Hinata segera merapikan tas nya dan berjalan duluan.

"Ku antar"

Yap!

Hinata seperti nya sudah bisa menebak, Sasuke pasti akan mengantarkannya, dan tentu dirinya tidak bisa menghindar ataupun menolak.

Dan dengan berani dan santai nya, Sasuke menggandeng erat tangan Hinata, berjalan melewati koridor yang dimana banyak siswa-siswi yang masih ramai berkumpul didepan kelas mereka masing-masing.

Ini merupakan pemandangan mengejutkan seantero sekolah, semua yang melihat hampir tidak bisa berkata apa-apa.

Mereka hanya bisa melotot dan melongo.

Mereka semua bagai tersambar petir di siang bolong melihat seorang Uchiha Sasuke menggandeng seorang siswi beasiswa baru disekolah itu.

"A-apa itu Sasuke?"

Bahkan dari mereka hampir tidak percaya dengan apa yang mereka saksikan.

Hinata yang sudah tahu pasti akan terjadi hal seperti ini hanya bisa berjalan sambil menunduk, dirinya terlalu takut.

Dimana-dimana pasti seorang perempuan yang digandeng Sasuke akan dengan bangganya memamerkan kedekatan mereka, tapi tidak dengan Hinata.

Terlalu besar dinding kasta diantara mereka berdua.

Sedangkan Sasuke sendiri masih terlihat biasa saja, wajah datar dan langkah yang tegap berjalan melewati koridor, menghiraukan tatapan aneh dari murid-murid lainnya.

Genggaman tangannya pada Hinata tidak mengendor.

Hangat.

Ini pertama kalinya bagi Sasuke menggandeng tangan seorang gadis.

Gadis yang dimana harus Sasuke akui dirinya telah jatuh hati padanya.

.

.

.

TBC.

.


Eheheheh maaf jika lama update nya, semoga kalian suka, mohon berikan masukan, saran dan dukungan kalian direview yaa supaya author lebih semangat