Note:

Hello I am back! GOMENASAI! telah menghilang hampir 4 Tahun, tapi banyak banget yang harus saya lakukan selama 4 Tahun. Jadi para pembaca, pada masih hidupkan? kalian sehat? Kali ini saya akan melanjutkan cerita masih tentang kehidupan kuliah saya dan teman teman saya, mungkin terdengar membosankan tapi saya berusaha memberikan kisah yang terbaik.

PS: Kisah ini setengah fiksi setengah nyata, dan para karakter adalah milik sorachi-sensei, tolong dukung manga dan animenya dengan cara membaca/menonton di tempat yang legal


Chapter 4 "Only A True Friends Would Be That Truly Honest" -Shrek-

Kagura:"Jadi kau memilih kembali melakukan Kendo?"

Okita: "Ya begitulah."

Kagura: "Sudah kuduga, Kau sangat mencintai Kendo lebih dari apapun."

Okita: "Hei! Aku mencintaimu."

Kagura: "Ya ya! Dasar pria gombal! Aku jadi ingat, Shinpachi. Kudengar dia juga berada di Todai."

Okita: "Iyakah? Aku tidak tau tentang itu."

Kagura: "Memang kau tau apa tentang teman teman SMA-mu, Sou-chan."

Okita: "Minimal aku tau, kalau kau masih kekasihku dan tidak ada yang bisa memilikinya selain aku."

Kagura: "Ya Ya! Bakaiser! Aku terkadang merinding dengan sifat posesif mu."

Kagura: "Aku akan menghubungimu lagi, aku akan masuk ke kelas! Love you."

Okita: "Love you too."


Aku pun menaruh handphone ku kedalam saku-ku dan berjalan menuju tempat latihan klub kendo dikampus. Hari ini jadwalku agak padat, aku memutuskan untuk masuk kedalam team kendo, jadi setiap pulang kuliah aku harus latihan bersama. Aku sudah menghubungi Nobume-san untuk mengganti Shift-ku dari shift siang menjadi shift malam.

Aku pun telah sampai di gedung olahraga I milik Todai. Lalu melihat sekeliling Gor dipenuhi dengan mahasiswa baru sepertiku. Sebelum menjadi anggota resmi, para calon anggota baru di tes terlebih dahulu kemampuannya. Aku pun melihat meja registrasi dan memberikan fomulir pendaftaranku disana untuk ditukarkan menjadi nomor peserta.

"Okita-Kun?" Panggil seseorang dari belakangku. Aku pun menoleh dan melihat seseorang berambut hitam berkacamata melambai kearahku. Dia berlari kecil sambil tersenyum girang melihatku.

"Shimura Shinpachi?" Ucapku dengan nada bertanya. Orang yang didepanku pun mengangguk dengan senang.

"Waah! Okita-kun aku tidak menyangka akan bertemu kamu disini!" Sapanya dengan semangat sambil merangkul pundak ku.

"Aku tidak menyangka juga kalau kau akan berkuliah disini." Shinpachi pun memperhatikan nomor peserta di dadaku.

"Kau melakukan kendo lagi? Aku akan senang kalau bisa lolos dan menjadi seteam denganku lagi." Ucap Shinpachi dengan antusias. Aku pun memperhatikan shinpachi, namun aku tidak melihat nametag nomor peserta di dadanya.

"Nametagmu mana, Shinpachi-kun?" Tanyaku yang heran.

"Ah, aku sudah ditetapkan sebagai pemain tetap disini." Ucapnya. Aku pun makin bingung dengan ucapannya.

"Kau tau aku tidak cukup pintar dalam pelajaran, jadi aku masuk di Todai dengan beasiswa dari Kendo." Jelas Shinpachi sambil tersenyum malu malu. Akupun dengan semangat menepuk pundaknya.

"Selamat Shinpachi-kun, aku tau kalau kau pasti bisa." Ucapku

"Tapi tetap aku tidak sebagus Okita-kun. Andai kau tidak berhenti saat tahun terakhir mungkin kau yang akan mendapatkan beasiswa ini." Kata shinpachi sambil mengusap tengkuk lehernya.

Aku pun terdiam sejenak, memang aku sempat berhenti saat Inter-High tahun terakhir, tapi itu dikarenakan kakakku yang sakitnya kambuh dan Hijikata-san sedang bertugas di Luar kota untuk beberapa minggu. Aku tidak menyalahkan keduanya, tapi masih agak ada sedikit penyesalan tidak mengikuti Inter-High terakhirku.

"Okita-kun! Okita-kun!" Panggil Shinpachi, menyadarkan ku dari lamunanku. Aku pun menatap Shinpachi bertanya-tanya. Lalu Shinpachi menunjuk kearah arena dimana udah ada para senpai yang sedang menilai. "Sebentar lagi giliranmu." Ucapnya. aku pun mengangguk dan menepuk pundak shinpachi berkali kali.

"doa-kan aku ya." Ucapku. Shinpachi pun menganggu dengan tegas. Aku pun berjalan mendekati Arena yang disiapkan. Di gor ini dibagi 2 arena, arena A dan arena B. Aku berada di arena A karena nomor urutku adalah A-11. dan yang sedang bertarung saat ini, nomor A-10 bersama dengan salah satu senpai dari klub kendo.

Aku melihat pertarungan yang cukup sengit. Disini para senior menilai dari teknik yang digunakan dalam kendo, seperti teknik melangkah/Ashi sabaki, kedua teknik dasar/Kihon, dan terakhir Teknik serangan. Para calon anggota boleh menggunakan pedang bambu yang disediakan oleh Kampus atau pedang bambu milik sendiri. Aku membawa pedangku ke Tokyo, awalnya aku membawanya hanya karena untuk iseng aja, tak kusangka aku akan menggunakannya disini.

"Berikutnya A-11." Akhirnya nomorku di panggil juga. Aku pun melangkah maju kedepan arena dan berhadapan dengan para juri dan juga orang yang akan menjadi lawanku. Salah satu juri memandangku dari bawah keatas dengan wajah tidak tertarik. Dia pun membaca biodataku sambil mengemut permen lolipopnya.

"Eto… Namamu Okita Sougo dari jurusan Ilmu politik, benar?" Tanyanya dengan nada tidak tertarik. Aku pun hanya mengangguk.

"Disini dikatakan kau pernah mengikuti 2 kali Inter-High di SMA Chiba, tapi rekormu di Inter-high ketiga tidak ada, kau berhenti?" Tanyanya. Aku pun terdiam sejenak.

"Apa yang memutukan untuk kembali? Untuk seseorang yang pernah berhenti ada tiga kemungkinan dia berhenti, satu mengalami kekalahan yang cukup menyakitkan sehingga tidak bisa bangkit kembali, kukatakan itu cukup pengecut. Kedua, terluka begitu parah sehingga tak bisa bermain lagi, yang tidak mungkin jadi alasan untukmu, dan yang terakhir, Bosan. Jadi kau dikategori yang mana, Okita-san?" Aku pun tak bisa menjawabnya. Dia pun menaruh biodataku begitu saja.

"Aku tidak mau banyak basa basi, aku mau lihat kemampuanmu. Apapun alasanmu itu, aku tidak peduli. Oi, Zura! Kau siapkan?"Ucap orang tesebut kepada lawan disebelahku.

"Namaku bukan Zura, tapi KATSURA! Berapakali harus kukatakan, Gintoki-Sensei?! Dan kau belum menjelaskan aturannya kepada Okita!" Ujar orang yang bernama Katsura dari balik topeng kendonya.

"Merepotkan untuk dijelaskan, Sakamoto-kun. Kau saja yang jelaskan." Ujar Gintoki kepada salah satu juri yang dari tadi diam saja disebelahnya. Sakamoto pun menatapku dengan bosan dan menatap gintoki, "kenapa tidak kau saja, perjanjiannya aku disini hanya untuk menilai bukan? Kau tidak membayarku lebih untuk menjelaskan aturan kepada peserta." Ujar sakamoto.

"Oi, Sougo-kun! Kau tau aturan memegang pedang kan?" Tanya Gintoki. Aku pun mengangguk lalu berkata, "Pertama aku harus memberikan hormat kepada lawan, lalu maju tiga langkah-"

"Kau salah!" Potong Gintoki. Aku pun menatapnya dengan bingung.

"Aturan memegang pedang adalah kau harus melawan musuh yang ada di hadapanmu saat ini, itulah aturan dari team ini. Sekarang mulailah, Zura!" Ucap Gintoki.

Katsura pun hanya menghela nafas panjang dengan tingkah Gurunya, lalu dia menghadapku sambil bertanya, "Kau siap, Okita-kun?" Aku pun mengangguk sambil memulai kuda kudaku. Dengan cepat katsura menyerangku dan aku sempat menahannya. Gintoki pun mulai terlihat tertarik.

Aku pun mengcounter serangan Katsura dan membuat Katsura mundur beberapa langkah. Jujur aku baru pertama kali melihat seseorang menyerang dengan kecepatan seperti itu. Mungkin kalau aku merupakan seorang pemula, akan sangat sulit menahannya.

"Kau hebat, Okita-san. Aku kagum kau bisa menahannya. Aku sudah melawan banyak peserta tapi kau satu satunya yang bisa menahan serangan cepatku." Puji Katsura.

"Oi, Zura jangan bilang kau sudah lelah melawan 11 orang pemula, teknikmu bisa dibaca olehnya lho.": Ucap Sakamoto meledek Katsura. "Diam kau! Baka megane!"

"Oi, Zura! Kita mulai pertandingannya. Aku mulai tertarik dengan Okita-kun disini." Ucap Gintoki. Sakamoto pun terkejut mendengar ucapan Gintoki.

"Kau serius sensei? Dari tadi, kita tidak melakukan pertarungan resmi dengan Katsura lho, hanya karena bocah ini satu satunya yang berhasil menahan serangan Zura, kau ingin dia bertarung dengannya? Bukan dengan Yamazaki-kun!" Ujar Sakamoto.

"Oi Yamazaki-kun! Kau tidak masalah dengan menjadi wasitkan?" Tanya Gintoki kepada orang yang bernama Yamazaki. Seseorang dari belakang Arena pun keluar dan membuka topengnya.

"Aku menunggunya malah, aku lelah bertarung dengan 10 orang sekaligus dalam sehari." Ujarnya. Aku pun baru menyadari dari tinggi kedua orang ini berbeda, orang yang dilawan oleh nomor 10 lebih pendek dari orang yang dilawan olehku.

"Baiklah kita memulai pertandingan Kendonya, Okita Sougo melawan pemain Inti, Katsura Kotaro. Hajime." Ucap Yamazaki memulai pertandingan.


Pertandingan aku dan katsura pun selesai dalam waktu 3 menit, dimana Katsura memiliki 3 skor diatasku, yang menjadikan dirinya adalah pemenang, dalam 4 menit aku mendapatkan 3 poin karena berhasil mengenai kepalanya, sedangkan Katsura mendapatkan 6 poin.

"Oi, Zura! Bagaimana bisa kau terkena serangan Okita-kun? Apa jangan jangan selama ini semua pertandinganmu hanyalah luck saja, sampai kau bisa terkena serangan oleh anak tahun pertama." Ledek Sakamoto kepada Katsura. Katsura pun membuka helmnya dan memandang sinis sakamoto.

Katsura mengibas rambut panjangnya lalu menyeka keringat di dahinya, lalu menatapku sambil tersenyum tipis. Dia pun menjulurkan lengannya kepadaku lalu berkata, "Selamat datang di Team inti, Sougo." Sambutnya. Aku pun menyambut uluran tangannya sambil menatapnya dengan bingung.

"Team inti?" Tanyaku kebingungan. Katsura pun tertawa kecil melihat ekspresiku. "Kukira saat kau berbicara dengan shinpachi dia telah menjelaskan kenapa arena ini dibagi dua." Ucap Gintoki seketika.

"Biar aku jelaskan, Gintoki-sensei!" Sahut Yamazaki dengan semangat. Yamazaki pun mengulurkan tangannya kepadaku. "Salam kenal, Okita-san! Nama saya, Yamazaki Sagaru, Tahun 2 dari Jurusan Komunikasi." Ucap Yamazaki dengan semangat.

"Okita Sougo, Tahun pertama dari Ilmu Politik." Jawabku sambil menyambut uluran tangannya.

"Baiklah aku jelaskan, jadi kenapa dibagi 2 arena kendo di gor ini adalah untuk memisahkan mana yang punya pengalaman dan mana yang sebenarnya masih pemula. Jadi arena A di isi oleh orang orang yang mengaku pernah mengikuti kejuaraan sebelumnya, dan tes ini untuk membuktikan kemampuan berpedang peserta itu benar atau hanya kebohongan semata. Makanya Katsura-san ditempatkan sebagai rival disini." Jelasnya.

Aku pun menatap katsura yang tersenyum kepadaku.

"Katsura Kotaro, merupakan team kendo Todai yang sudah memenangkan banyak turnamen Nasional Jepang, bahkan dia sudah ditahap Dan-5. Makanya kami cukup kagum kau bisa menahan serangan cepat milik Katsura-san." Ujar Yamazaki.

"Dan kau orang pertama yang bisa menahan serangan cepat Zura, mungkin memang Zura saja yang sudah lelah melakukan serangan cepat hampir 10 kali." Ledek Sakamoto sambil merangkul Katsura-san dengan akrab. Katsura dengan kesal menghempaskan tangan Sakamoto.

"Jangan menyetuhku, aku tidak sudi disentuh oleh orang yang menganggap enteng Pedang sepertimu Sakamoto." Aku pun hanya terdiam melihat pertengkaran mereka. Tanpa kusadari Gintoki menghampiri kami lalu menjitak kepala Katsura-san dan Sakamoto-san.

"Diamlah, kembali keposisi kalian, masih ada peserta lain yang harus kalian uji." Perintah Gintoki. Mereka pun dengan pasrah menuruti perintah tersebut. Lalu gintoki pun menatapku. "Selamat Sougo-kun, kau sudah tau kan latihan dilakukan pada hari Senin hingga Jumat, karena kau berada di Team Inti 2 minggu sekali akan ada latihan juga di hari Sabtu. Jangan sampai terlambat." Ucap Gintoki. Aku pun hanya menangguk kecil.

Yamazaki pun mengantarku keluar arena, lalu membisikanku sesuatu. "Mungkin kau tidak akan percaya ini, Gintoki-sensei sudah mendapatkan Dan-7 tapi sebenarnya kekuatannya hampir setara dengan Dan-8, dia tidak bisa mendapatkannya karena umurnya yang masih muda." Bisik Yamazaki kepadaku. Jujur, aku pun tidak terlalu terkejut, karena entah kenapa aku bisa merasakannya dari tatapannya. Mknya saat dia merendahkanku aku tidak melawan.


Akupun akhirnya bisa kembali pulang, aku melihat langit sudah mulai agak gelap menujukan kalau sekarang sudah sore. Aku pun berjalan meninggalkan menjauh dari Gor sambil melihat handphoneku.

"Oi! Okita-Kun!" Panggil suara yang tidak asing dari kejauhan. Aku pun melihat Shinpachi yang melambaikan tangan sambil berlari kehadapanku. Kulihat tangannya memegang erat bungkusan kecil agar tidak jatuh.

"Hai, Shinpachi! Kau melihat pertandinganku melawan Katsura-san?" Tanyaku dengan antusias. Shinpachi pun menatapku dengan bingung.

"Kau melawan Katsura-san? Hebat sekali!" Ucapnya. Aku pun menatapnya dengan ekspresi jengkel.

"Jadi kau tidak melihatnya! Teman macam apa kau ini!" Omelku dengan kesal.

"Hahaha! Gomen! Gomen! Aku tadi pergi untuk membeli ini, hadiah untuk mu." Shinpachi pun menyodorkan bingkisan tersebut kepadaku. Aku pun terheran heran dan mengambil bingkusan tersebut lalu membukanya.

Akupun cukup terharu melihat apa yang dihadiahkan oleh Shinpachi. Shinpachi memberikan aku Tsuba dan Tsuba-dome untuk pedang Kendoku.

"Aku melihat Tsuba-mu mulai agak kusam, sepertinya sudah lama dan kau pasti tidak sempat membeli yang baru jadi aku langsung pergi keluar dan membelinya untukmu sebagai hadiah kau diterima di Team inti." Jelasnya dengan wajah memerah.

"Tapi kau kan tidak melihatku! Bagaimana kau tau aku akan masuk ke Team Inti?!" Tanyaku dengan heran.

"Karena aku percaya padamu, Okita-kun! Itulah namanya teman." Ucap Shinpachi dengan nada yakin. Aku pun sungguh tersentuh dengan ucapannya.


Aku kembali ke mansionku setelah aku mengajak Shinpachi makan di restoran ramen dengan kampus. Akupun membuka pintu, dan sebelum aku mengucapkan salam aku sudah terkejut dengan apa yang ada di depanku saat ini.

Saat ini, ruangan ini serasa seperti medan perang, dimana tak ada satupun yang beraturan, tumpahan cat, kertas warna warni yang berserakan. Tapi yang paling membuatku terkejut, aku melihat Takasugi terkapar dengan 'darah' dikepalanya dan kamui yang berdiri disamping Takasugi sambil memegang pisau yang masih berlumuran darah dipisaunya.

Dengan cepat aku mengambil Handphoneku, lalu menelepon nomor darurat. Kamui pun langsung terkejut melihatku yang sudah berdiri di depan pintu. Nomor darurat pun langsung tersambung dengan cepat aku pun merespon.

"Halo! Kepolisian!" Kamui pun menunjukan wajah panik lalu melepas pisaunya begitu saja.

"Oi! Tunggu! Ini salahpaham!" Ujar Kamui dengan panik. Akupun menatapnya heran tapi masih belum menutup teleponnya. Kamui pun menghela nafas panjang lalu berjalan mendekatiku.

"Aku tidak membunuh Chuninbyou itu! Sumpah!" Ujarnya sambil menunjuk dua jari keatas. Aku pun masih ragu dan menatapnya untuk meminta penjelesan. Kamui pun mengambil pisau dari lantai, lalu mencolek 'darah' dari pisau tersebut.

"Ini bukan darah, ini Cat. Aku sedang membuka cat dinding dengan pisau, jadi ujungnya tercelup kedalam." Jelasnya. Lalu aku menatap takasugi yang sedang terkapar dan Kamui menghela nafas.

"Si idiot itu tidak apa2, dia hanya tidur dengan cat yang masih tersisa di tubuhnya." Akupun langsung mematikan teleponku lalu memasukannya kedalam saku. Kamui dengan kesal menendang Takasugi hingga terbangun.

"Bangun kau! Berengsek! Gara gara kau aku hampir dijadikan tersangka pembunuhan!" Omel Kamui dengan nada tinggi. Takasugi pun membuka mata lalu menatap Kamui dan Aku bergantian. Lalu tersenyum polos dengan cat merah yang masih belepotan dimukanya.

"Oh! Okita-kun! Kau sudah pulang! Bagaimana perjalananmu menjadi seorang kesatria?" Ucapnya dengan ceria. Aku pun hanya menghela nafas dan menghiraukan pertanyaannya.

"Jadi ada yang mau menjelaskan, apa yang terjadi disini? Dan kenapa mansion ini jadi berantakan seperti abis di bom oleh teroris?" Tanyaku dengan kesal.

"Wah aku suka perumpamaan itu, Teroris! Musuh utama kita dan juga merupakan kaki tangan Dark Lord.…" Oceh Takasugi yang kurasa tidak akan memberikan penjelasan apapun lalu aku menatap ke arah Kamui yang masih kuanggap waras disini.

"Kita ingin membuat perayaan untukmu." Jawab Kamui. Lalu aku melihat sekeliling ruangan yang tidak yakin bisa ditolong kembali.

"Perayaan atau penyiksaan, kenapa sepertinya kalian mencoba membunuhku dengan keidiotan kalian?" Kataku sambil menghela nafas.

"Hey! aku sudah berusaha! Tapi si idiot satunya lagi yang membuatnya berantakan!" Ucap Kamui membela diri, sedangkan Takasugi sedang asik di dunianya.

"Dan lagian kenapa kalian tau kalau aku akan diterima oleh klub kendo? sepertinya aku tidak memberi tau kalau aku akan seleksi hari ini." Ucapku dengan heran.

"Entahlah, Takasugi mengatakan kalau kau akan bergabung ke Kendo dan salah satu temanku juga mengatakan akan ada seleksi team untuk anggota baru Kendo." Jelas Kamui. Takasugi pun mengeluarkan kue dari kulkas dan memberikan kepadaku. Di ku tersebut tertera tulisan itu, "Selamat terpilih menjadi kesatria."

"Aku memesannya!" Ujar Takasugi. "Kau harus berterima kasih, karena aku tidak jadi membeli pedang Ichigo Kurosaki demi kue ini!" Lanjutnya sambil masih menyodorkan kue tersebut.

"Oi Takasugi-kun! kalau kau punya cukup uang buat membeli pedang Ichigo-mu, bantulah aku membayar sewa disini! Dasar Chuninbyou BODOH!" Ucap kamui sambil memukul kepala Takasugi. Akupun tertawa melihat tingkah mereka berdua.

"Anyway, bagaimana kalian tau aku akan terpilih? Padahal banyak kandidat lain yang lebih hebat dariku." Mereka pun menatapku heran mendengar pertanyaanku.

"Tentu saja! Karena kau Okita-Sougo! Teman kami." "Ksatria Kami." Ucap Kamui dan Takasugi bersamaan walaupun memiliki jawabannya yang berbeda. Aku pun tersenyum bahagia malam itu.


"Dear Kagura,

Hari ini aku sungguh bahagia. Memiliki Teman yang selalu percaya dengan apa yang aku lakukan. Walaupun mereka adalah idiot, tapi mereka idiot yang dapat diandalkan. Ne, apakah kau juga mendapatkan Teman sepertiku di Kyoto?"


Next Chapter: "If you are ever lucky enough to find a weirdo, never let them go." -Matthew Gray Gubler