-CHAPTER 1-

Di celah antar dimensi, saat ini dua sosok sedang bertarung, yang pertama mengenakan battlesuit dan jubah bewarna hitam dengan pelindung dada bagaikan permata bewarna merah, dan memakai helm bewarna hitam dan silver dengan topeng bewarwa merah yang memiliki dua antenna di kepalanya, terdapat silbol naga di bagian bantalan dadanya, sosok ini bersenjatakan pedang.

Yang kedua mengenakan battlesuit dan jubah bewarna putih, mengenakan tudung bewarna putih dan emas dengan topeng bewarwa jingga, terdapat mantel pendek yang menutupi pundaknya dengan bersenjatakan sebuah tombak pendek.

Kedua sosok itu saling bertukar serangan menggunakan senjata milik mereka.

"HARUTOOO!"

"FUEKI!"

*Ting ting klang ting* *Suara kedua senjata yang saling bentrok*

"Serahkan jantung peri suci padaku!" Ucap Fueki si sosok putih itu.

"Tidak akan, aku akan menghentikan ambisimu!" Tapi Haruto si sosok merah menolak.

"Kalau begitu matilah!" ucap Fueki sambil menggerakan tangan kanannya ke sabuk yang dia pakai.

"Yes, Kick Strike! Understand?"

"Tidak akan ku biarkan" Haruto juga melakukan hal yang sama.

"Choine, Kick Strike! Saiko!"

"Haaaaaaaaahhhhhh!"

"Haaaaaaaaahhhhhh!"

*Buuuuuussssssttttttt!*

*Duuuuuaaaaaarrrrrrrrrr*

Kedua sosok itu saling beradu tendangan dan menyebabkan ledakan energi besar terjadi yang membuat mereka berdua terlempar dengan sangat kuat kearah berlawanan.


-Michilda-

Di dalam kamar, seorang gadis berambut pirang dengan bola mata yang berbeda warna sedang melihat pemandangan Kota dari jendela kamarnya. Kemudian sebuah sinar yang turun dari langit menarik perhatiannya.

"Hmmm apa itu Bintang Jatuh?"

.

.

.

.


Keesokan harinya. Di dalam Hutan saat ini dua orang gadis sedang menyelusuri hutan, gadis pertama adalah Takamachi Vivio dan yang kedua adalah Einhart

"Apa kau yakin di sini tempatnya Vivio?"

"Ya Eihart-san, Semalam aku melihat bintang jatuh ke arah sini."

"Hmmm?" Gadis berambut putih berjalan mendekati pohon dan mengamati dahan pohon yang mengalami kerusakan.

"ada apa?" Tanya Vivio.

"Pohon-pohon ini mengalami kerusakan yang hampir sama, seolah-olah ada sesuatu yang menyerempet mereka."

"Kalau begitu…!?"

"Jika yang dikatakan Vivio benar, maka seharusnya benda itu jatuh ke arah sana" Ucap gadis itu sambil menujuk arah dengan jarinya.

"kalau begitu ayo, Einhart-san!"

Mengikuti pentunjuk yang mereka dapatkan, kedua gadis itu melanjutkan perjalanan mereka.


"Uwaah!" Tak lama setelah melanjutkan perjalanan, kaki Vivio menabrak sesuatu yang membuatnya terjatuh.

"Vivio?"

"Aduh…..Hmmm…?" Ketika Vivio melihat apa yang membuatnya terjatuh, dia menemukan sebuah kotak bewarna hitam dengan corak emas dan terdapat simbol lingkaran sihir di atasnya.

"Sebuah kotak?" Ucap Vivio sambil mengulurkan tangannya untuk mengambil kotak tersebut.

"Aku tidak pernah melihat motif seperti ini." Ucap Einhart.

"Ah terbuka hmmmm….Sebuah batu permata?"

Dari dalam kotak itu dia menemukansebuah permata merah berbentuk hati, dan ketika Vivio mengulurkan tangannya untuk menyentuh permata itu, tiba-tiba batu itu bersinar sangat terang dan menyilaukan. Tak lama kemudian cahaya mulai mereda dan batu permata itu mulai melayang masuk kedalam tubuh Vivio.

"Eeehhhh!?"

"Vivio, apa kau baik-baik saja!?"

"Ya, tapi batu yang barusan itu….."

"Batu itu masuk kedalam tubuhmu. Apa kau merasakan sesuatu yang aneh?"

Vivio mulai meraba tubuhnya untuk memeriksa apakah ada keanehan yang muncul, tapi dia tidak menemukan keanehan sama sekali.

"Tidak ada yang beda."

"Hmmm haruskah kita pulang sekarang?"

"Akan sangat sayang jika kita pulang sekarang, aku yakin lokasi bintang jatuhnya sudah dekat."

"Baiklah, tapi setelah ini kita harus melaporkan semuanya pada Nanoha-san dan Fate-san."

"Iya."

Dan sekali lagi mereka melanjutkan perjalanan.


"Einhart-san itu…..!"

"Sebuah kawah. Pasti jatuh disana"

"Hmmm aku tidak melihat bintang, Eh! Einhart-san itu….." Ucap Vivio yang menunjukan jarinya ketengah kawah.

Seseorang pria berusia dua puluhan berambut cokelat dengan mengenakan jubah hitam sedang terbaring tidak sadarkan diri.

"Hmmmm… Ada orang yang yang terbaring di tengah kawah, apa mungkin bintang jatuh yang di lihat vivio adalah orang itu?"

"Kita harus menolongnya!"

"Tunggu Vivio."

Walaupun sudah di peringati oleh temannya, Gadis berambut pirang itu tetap menuruni kawah dengan perlahan dan mendekati Pria yang tak sadarkan diri.

"Apa kau baik-baik saja!?"

"A….Aku…" Pria itu mencoba mengatakan sesuatu tapi mulutnya sangat sulit terbuka dan badannya sama sekali tidak bertenaga.

*Kryuuukkk*

Sebuah suara yang tidak asing terdengar dan itu datang dari perut pria itu.


-Michilda, Biro Pengurus Ruang dan Waktu-

Di salah satu ruangan Biro Pengurus Ruang dan Waktu, saat ini ada tiga orang perempuan yang sedang mengadakan pertemuan. Mereka adalah Takamachi Nanoha, Fate Testarosa Harlaown dan Yagami Hayate.

"Terima kasih sudah datang." Ucap Hayate menyambut kedua temannya yang datang.

"Apa terjadi sesuatu, Hayate-chan." Tanya Nanoha.

"Aku yakin kalian sudah mendengar tentang kelompok Wiseman yang menjadi buronan, kan?"

"Ya. Aku sering mendengar tentang pergerakan mereka yang semakin agresif, dan baru-baru ini mereka menyerang berbagai dunia dan juga mencuri harta nasional mereka." Ucap Fate sambil mengingat informasi yang dia ketahui.

"Sebenarnya Biro sudah banyak mengirimkan prajurit untuk melakukan penyelidikan tentang mereka dan sangat disayangkan kita kehilangan kontak dengan mereka semua." Ucap hanyate dengan sedih, tetapi dia melanjutkan.

"Tapi meski begitu, berkat perjuagan mereka kita mendapatkan sedikit informasi tentang pemimpin mereka."

Di sebuah layar menampilkan wajah seorang Pria berusia 20 tahunan.

"Namanya adalah Souma Fueki, nama lainya adalah Wiseman dan di yakini sebagai pemimpin dari organisasi tersebut."

"Apa mungkin pertemuan ini terkait pergerakan mereka?"

"Aku juga tidak yakin." Ucap Hayate yang sedikit ragu yang membuat Nanoha dan Fate bingung.

"Sebenarnya, tadi malam radar kita merasakan aktifitas sihir yang tidak di ketahui, kami mencurigai kalau ini memiliki hubungan dengan organisasi Wiseman. Dan mengingat apa yang sudah terjadi, kita tidak bisa mengirim sembarangan orang."

"Karena itu aku ingin kalian untuk melakukan pencarian tentang aktifitas yang baru saja terjadi."

*Bip bip bip*

[Komandan Hayate, kami mendeteksi sinyal energi yang muncul dari lokasi yang semalam.]

"Terima kasih atas laporannya, aku akan segera mengirimkan seseorang." Ucap hayate sebelum menutup komunikasi.

"Seperti yang kalian dengar, sepertinya ada sesuatu disana. Aku ingin kalian melakukan pemeriksaan dengan hati-hati."

""Baik""


"Terima kasih sudah memberikanku makanan. Namaku Souma Haruto"

"Namaku Takamachi Vivio, dan ini Partnerku Sacred Heart." Ucap gadis berambut pirang dengan boneka kelinci yang melayang disekitarnya.

"Einharth Stratos dan ini Asteion." Ucap gadir berambut silver dengan boneka yang terlihat seperti kucing.

"Ngomong-ngomong Haruto-san, kenapa kau bisa berada di tempat itu?"

"Ah….. aku gagal ketika mencoba untuk terbang…mungkin." UCap Haruto yang mencari alasan.

"….." Einhart menatap Haruto dengan tatapan lurus seolah dia bisa melihat kebohongan dari kata-kata haruto, Haruto yang merasakan tatapan gadi itu langsung berdiri.

"Ah Terima kasih untuk makanannya,tapi ada sesuatu yang harus ku lakukan jadi…..Eh?" ketika Haruto menyentuh saku mantelnya dia merasa kehilangan sesuatu, "Eh? Tunggu tidak mungkin!" dia mulai memerisa setiap kantung pakaiannya tetapi… "Tidak ada! Apa mungking Hilang!?"

"Haruto-san, apa ada yang salah?" Tanya Vivio yang penasaran.

"Aku menjatuhkan sesuatu… itu benda yang sangat-sangat penting…"

"Bagaimana kalau kami membantu mu mencarinya?" Vivio menawarkan bantuan.

"Apa kalian yakin?"

"Iya"

"Terima kasih banyak."

"Ngomong-ngomong benda seperti apa yang kau cari?" Tanya gadis berambut silver.

"Itu sebuah kotak hitam sebesar ini, dengan motif unik." Ucap Haruto yang menjelaskan. Dan ketika mendengar penjelasannya kedua gadis itu saling memandang.

"Anoo… Haruto-san, apa mungkin kotak ini yang kau cari?" Ucap Vivio sambil mengeluarkan Kotak yang sebelumnya dia temukan dari tas nya.

"Ya! Benar! Terima kasih banyak. Aku tidak tau apa jadinya bila…Hmmm" Ketika baru saja bersuka cita, Haruto melihat kalau kotak itu terbuka dengan sendirinya dan dia kembali panik.

"Eh? Ehhhhh! Isinya Hilang!"

"H-Haruto-san sebenarnya…" Vivio mulai menceritakan semuanya...

.

.

.

.

"Jadi seperti itu…."

"Aku minta maaf, seharusnya aku tidak menyentuhnya.." Vivio membungkukan badannya sambil memnta maaf.

"Tidak perlu minta maaf," Ucap Haruto sambil mengelus kepala Vivio dengan lembut, "Jika ada yang harus di salahkan maka itu adalah kecerobohanku."

Meskipun dia tau seberapa pentingnya benda itu, Haruto tidak bisa begitu saja memarahi anak-anak dan lagi ini semua terjadi karena kecerobohanya.

"Haruto-san….." Meskipun Vivio lega kalau Haruto tidak marah, tapi dia merasa sudah membuat Haruto kesulitan.

"Ngomong-ngomong, apa nama planet ini…?

"Nama planet ini adalah Michilda"

"Hmm… Michilda….. jika tidak salah seharusnya disini ada markas Biro Pengurus Ruang dan Waktu, kan?"

"Ya mamaku bekerja disana.."

"Yosh, bagaimana kalau kita minta bantuan mereka untuk - " Sebelum Haruto menyelesaikan kalimatnya dia berhenti dan menatap perpohonan dengan fokus.

"Haruto-san…?"

" Shhs…" Haruto memberikan sinyal kepada Vivio dan Einhart.

*Duk Duk Duk Duk Duk*

Suara langkah kaki terdengar, semakin lama suaranya semakin besar dan semakin mendekat.

*Krek Krek Krek Krek*

Suara pohon yang berjatuhan juga terdengar, seolah-olah pemilik jekak kaki itu menjatuhkan pohon yang menghalangi jalannya. Tak lama kemudian sosok yang berjalan mendekat itu mulai terlihat…

Sosok itu menyerupai banteng dengan proposi badan seperti manusia yang memiliki tinggi 3 meter dan memiliki sepasang tanduk yang menjulang ke atas. Dia memiliki mata merah menyala dan kulit bewarna biru dengan armor putih menutupi badannya.

"Penyihir Naga, Wizard. Akhirnya aku menemukanmu…." Ucap monster itu

"Phantom!" Haruto mengenali monster banteng itu…

"Phantom..?"

"Aku adalah Minotauros, atas perintah Wiseman aku kemari untuk membunuhmu dan mengambil Jantung Peri Suci…. Tapi melihat penampilanmu yang sekarang…." Minotauros memandang kondisi Haruto dan tersenyum percaya diri.

"Hehehe Jika kau menyerahkan jantung peri suci padaku maka aku akan membiarkanmu hidup. Bagaimana?" Ucap monster banteng dengan nada sombong.

"Jangan bercanda, mana mungkin aku menyerahkannya padamu!"

"Kalau begitu apa boleh buat…Ghoul!" Minotauros merasa kecewa dan mulai memanggil monter batu seukuran manusia normal.

"Einhart-san!" Vivio memandang temannya dan dibalas anggukan.

"Haruto-san, sembunyilah. Kami akan melawan mereka!"

"Tapi…"

"Tidak perlu khawatir."

"Einhart dan aku akan melakukan sesuatu, jadi tolong sembunyilah."

"….."

"Kuh… Baiklah, tolong hati-hatilah."

dengan berat hati Haruto mengikuti saran Vivio untuk pergi.

"Hehehe, memangnya apa yang bisa dilakukan dua anak kecil."

Minotauros bisa saja langsung mengejar Haruto, tapi kesombogannya membuat dia tetap tinggal untuk melihat apa yang akan dilakukan kedua anak tersebut.

"Sacred Heart. Set Up !"

"Asteion. Mode bertarung !"

Segera kedua anak itu berubah menjadi gadis remaja dengan perlengkapan untuk bertarung.

"Hooo... Menarik juga, Maju Ghoul !"

Dengan Perintah dari Minotauros para Ghoul mulai menyerang begitu juga dengan Vivio dan Einhart langsung bergegas maju untuk meghajar para Ghoul.

*Tinju*

*Tendang*

*Tinju*

*Tinju*

*Tendang*

*Tendang*

Satu demi satu mereka berdua berhasil menjatuhkan para ghoul dengan kemampuan mereka dan hanya menyisakan Minotauros yang masih berdiri dengan percaya diri.

"Hyaa!"

"Haaa!"

Mereka bergegas mengarakan tinju mereka ke arah Minotauros. tapi Minotauros berhasil menangkap tinju mereka degan telapak tanganya.

"Apa!"

"Hehehe Tinju kalian lumayan juga tapi sayang sekali aku tidak selemah Ghoul."

Minotauros menarik lengan kedua gadis itu untuk mendekatkan jarak dan kemudian dia mengarahkan telapak tangannya dan mendorongnya kehadapan mereka dan kemudian...

*Booom*

Energi ledakan muncul dari telapak tangan Minotauros dan membuat kedua gadis itu terlempar menabrak pohon.

"Ukh.."

"kuh..."

*Duk Duk Duk Duk* Dengan angkuhnya monter banteng itu berjalan mendekati mangsanya.

"Hehehehe kalian pikir bisa melawanku..."

Minotauros berencara untuk menggunakan tekniknya sekali lagi.

"sekarang matilah !"

*Swosh*

*Bang*

"Arrhgggg…! Tanduk-ku!"

Sebuah peluru perak melesat dan mengenai tanduk Minotauros dan membuatnya hancur.

"Siapa itu!?" Dengan amarahnya yang mencuat, Minotauros melihat sekeliling untuk mencari orang yang menghancurkan salah satu tanduknya yang berharga, dan kemudian dia menemukan satu orang yang bediri di balik pohon yang tidak jauh.

"Penyihir Naga!"

"H-Haruto-san!"

"Kenapa kau belum lari..."

Ya, orang itu adalah Souma Haruto yang menggunakan WizarSwordGun dalam mode Gun untuk menyerang Minotauros dari keajauhan.

"Maaf, tapi mana mungkin aku bisa lari di saat orang yang menolongku dalam bahaya. Selain itu…"

Haruto mengarahkan tangan kanannya yang menggunakan cincin yang unik ke sabuk yang dia pakai.

"Driver ON!"

"Aku juga bisa bertarung."

"Shabadoobie Touch to henshin"

" HENSHIN!"

"FLAME. PLEASE!"

"HI HI HI HI HI"

Sebuah lingkaran sihir merah muncul melewati tubuh haruto dan kemudian dia berubah menjadi peyihir naga, Wizard.

"Sekarang waktunya pertuntujukan !"

"Cih"

Mendecakkan lidahnya, Minotauros mengangkat tangan kanannya keatas dan kemudian sebuah kapak muncul ditangannya. Dia langsung berlari dan menyerang Haruto dengan cepat.

*Whooos*

Kapak melesat dengan cepat tapi Wizard berhasil melompat kebelakang untuk menhindar.

"uoooh hampir saja."

Mengangkat wizardgun miliknya, Wizard mulai menembaik Minotauros.

*Bang* *Bang* *Bang**Bang*

"ugh"

Wizard kemudian merubah WizarSwordGun menjadi mode sword dan mulai menyerang Minotauros.

*Slash* *Slash* *Slash**Slash*

*Klang* *Klang*

Serangan Wizard berhasil melukai Minotauros walau terkadang monster banteng itu berhasil menahan serangan dengan kapak miliknya.

"Hu..Haa!"

*Creak* *Brrr*

Setelah cukup lama beradu serangan, Wizard mengakhiri momen itu dengan mengarahkan serangan kuat yang mebuat kapak Minotauros hancur.


Ketika Wizard sedang bertarung melawan Minotauros, disisi lain Vivio dan Einhart mengamati jalan pertarungan itu dengan takjub.

"Einhart-san, apa kau melihatnya!?"

"Ya, kemampuan berpedanganya sangat menawan."

"Haruto-san sangat hebat."


*Slash* *Slash* *Slash*

Tebasa demi tebasan mengenai Minotauros.

"Uggh, Sialan!"

Kesal karena kapaknya hancur, Minotauros membungkukan badannya dan mulai bergerak layaknya seekor banteng yang hendak menyeruduk mangsanya.

"Oi tunggu dulu!"

*Brakkkk*

*Bzzzzz* *Terdorong*

Dengan serundukan yang kuat minotauros mendorong wizard mundur kebelakang dan melemparnya.

Untungnya Wizard berhasil mendarat dengan selamat.

"Astaga main asal seruduk aja."

Wizard memasangkan cincin kuning di jari kirinya dan meletakan tanganya sabuk.

"Land!"

"Dododo Dododon, Don Dododon!"

Dengan Lingakran sihir kuning yang melewati tubuhnya, Armor Wizard berubah warna dari merah menjadi kuning dan motif helm yang awalnya lingkaran menjadi kotak.

"Brengsek, kau bisa berganti elemen!"

"Begitulah, apa mungkin kau mengejarku tanpa tahu hal ini?"

"Jangan mengejekku."

Minotaur yang marah sekali lagi menundukan badannya untuk menyeruduk wizard lagi.

Wizard yang melihat itu langsung mengambil langkah antisipasi, dia memasukan cincin lain ke jari tangan kanannya dan langsung menyentuh sabuknya dengan cepat.

"Defend, Please!"

Sebauh diding batu yang tebal segera muncul di depan Wizard untuk melindunginya.

*Bruaaak*

"Apa!"

Serudukan keras dari minotauros berhasil menembus dinding itu, tapi sayang baginya karena hanya tubuh bagian atasnya saja yang berhasil dan membuatnya tersangkut dan tidak bisa bergerak.

"Astaga, apa kau tersangkut?...Tidak perlu khawatir, aku akan membantumu."

"Haaa!"

Haruto melakukan tendangan dengan keras yang membuat minotauros melayang ke langit.

"Uaaahhhhhggg!"

Sekali lagi Wizard memasukan cincin di tangan kirinya, tapi kali ini itu bewarna hijau.

"Shabadoobie Touch to Henshin"

"Ngomong-ngomong, aku juga bisa melakukan ini."

"Hurricane! Please."

"Fuu Fuu Fuu Fuu Fuu"

Linkaran Sihir hijau muncul dan melewati tubuh Wizard dan sekali lagi dia berunah ke wujud yang berbeda dengan armor hijau dan motif persegi. Dengan elemen angin Wizard bisa terbang sangat cepat dan menuver yang indah di langit.

"Haa!"

*Slash* *Slash* *Slash*

Wizard terbang dan menebas minotauros berkali-kali sebelum monster banteng itu jatuh ke permukaan tanah.

'Ugh..' Pada saat Wizard mendarat perlahan di tanah dia merasakan sakit di badannya, sepertinya itu adalah luka dari pertarungan sebelumnya.

'ini tidak baik, aku harus segera mengakhiri pertarungan ini'

"Flame, Please!"

"Hi Hi Hi Hi"

"Lupachi Magic Touch To Go"

"Sekarang saatnya Final"

"Choine, Kick Strike! Saiko!"

Lingkaran sihir merah muncul di bawah permukaan kakinya dan kemudian api yang sangat panas mulai menyelimuti kaki kanannya, kemudian wizard mulai melakukan lompatan akrobatik yang indah dan diakhiri dengan tendangan menukik yang dia arahkan tepat ke minotauros.

"Haaaaahhhhhhh"

"Arggggghhhhh!"

Minotauros yang tidak bisa menghidar hanya bisa menerima tendangan itu sambil berteriak menolah kekalahannya dan kemudian tubuhnya mulai meledak.

"Hi..." Melepas Transformasi sihirnya, Wizard kembali ke wujud Souma Haruto.

Di kejauhan dia melihat Vivio mulai berjalan mendekat sambil melambaikan tanganya di ikuti oleh Einhart dibelakangnya.

"Haruto-San, Itu luar biasa!"

"Ya, kalian tidak apa-"

*Slash*

*Boom*

"APA!"

Pada saat Haruto hendak benjalan mendekati kedua anak itu, tiba-tiba sebuah tebasan pedang dengan cahaya kuning keemasan muncul dan menabrak permukaan tanah yang membuat Haruto harus bergerak mundur.

Saat asap menghilang dua orang wanita yang bersenjatakan tombak dan pedang berdiri di hadapan Vivio dan Einhart, seolah-olah mereka ingin melindungi anak-anak itu dari Haruto.

"Kami dari Biro Pengurus Ruang dan Waktu !" Ucap Gadis dengan Pedang.

"Souma Fueki, Menyerahlah dengan Tenang !" Ucap Gadis dengan Tombak.

"Eh?"

To Be Continue -


Demikian untuk CHapter 1
Disini saya membuat banyak mengubah materi Wizard karena mengingat sihir serangan yang ada di seri Nanoha berada di tingkat yang berbeda.

Dan juga hal yang wajar kalo cerita, konsep-konsep ataupun sifat karakter berbeda dengan versi aslinya.

"Kenapa? Karena ini Fanfic"