Baekhyun mengerjapkan matanya pelan takala sinar matahari menerobos masuk kedalam jendela kamarnya. Ia sedikit menghela nafasnya kesal ketika ia terbangun ditempat yang sama saat terakhir kali ia memejamkan mata.

Tadinya ia berharap akan terbangun di atas ranjang mewah buatan Italy di rumah milik ayahnya bersama dengan belasan boneka rilakuma kesayangannya.

Dengan perasaan malas luar biasa pria yang sering disebut lebih cantik dari wanita manapun itu bangkit dari matras kecil tempat ia tidur semalam. Ia berjalan perlahan keluar kamar dan mendapati rumah sudah dalam keadaan sepi.

Ia beranjak menuju sebuah kamar mandi kecil yang terletak di pojok ruangan dapur. Setelah selesai membasuh wajah cantiknya, baekhyun membuka sebuah lemari es kecil dan etalase dapur.

Ia mengerucutkan bibirnya lucu ketika tak mendapati makanan sedikitpun. Ia lapar dan ia butuh makan.

"Baekkie lapar"

TOK TOK TOK TOK

Sayup-sayup pria cantik itu mendengar suara seperti seseorang yang sedang mengetok palu. Ia akhirnya memutuskan untuk keluar rumah dan mencari sumber suara.

Baekhyun mendapati suaminya Chanyeol bersama Minhyuk dan beberapa pria dewasa lainnya tengah bekerja membantu merenovasi rumah Chanyeol. Suaminya itu tengah berdiri diatas tangga kayu, guna merenovasi bagian atap rumah.

"Chanyeol"

Mereka semua sontak menoleh bersamaan. Minhyuk dan teman-temannya yang lain tersenyum hangat ketika melihat Baekhyun datang. Lain halnya dengan Chanyeol yang hanya menatap datar istri mungilnya itu.

Dengan perlahan pria berbadan kekar itu turun dari tangga kayu yang ia gunakan.

Ia berjalan pelan menghampiri istrinya.

"Sudah jam berapa ini Park Baekhyun?"

Baekhyun sontak terdiam, ia tidak melihat jam sama sekali.

"Park Baekhyun"

Chanyeol berkata lagi dengan nada yang lebih tajam.

Baekhyun meneguk ludahnya kasar. Apa ia membuat kesalahan lagi?

"A-aku tidak t-tahu Chanyeol. Aku belum melihat jam"

Chanyeol mengusap wajahnya kasar. Ia berjalan menuju teras rumah dan mengambil jam tangan miliknya yang terselip di saku jaketnya.

"Kau lihat?"

Baekhyun mengangguk gugup "Jam 09.45"

"Istri macam apa yang baru bangun jam segini?"

Baekhyun sedikit tersinggung mendengarnya. Memangnya kenapa jika ia baru bangun? Dirumah ayahnya saja Baekhyun biasa bangun jam 11 siang, dan ayahnya pun tidak pernah marah.

"Memangnya kenapa jika aku bangun jam segini?"

"Tentu saja salah, seorang istri seharusnya sudah bangun sebelum suaminya bangun. Apa kau lupa sekarang kau sudah menikah?"

Baekhyun mendelik kesal, ia hendak marah tapi ia telan lagi semua sumpah serapah yang ingin ia lontarkan pada suaminya itu.

"Sekarang sebaiknya kau bersihkan rumah. Cuci baju, cuci piring, menyapu dan membersihkan lantai"

Baekhyun mengepalkan tangannya erat. Cukup sudah! Rasanya kepalanya hampir meledak sekarang.

"Kenapa harus aku? Aku ini istrimu, bukan pembantumu"

"Jika bukan kau lalubsiapa lagi yang akan membersihkan rumah?"

"Kau"

Tunjuk Baekhyun tepat pada wajah rupawan Chanyeol.

"Kau tidak lihat aku sedang membereskan semua kerusakan yang kau buat semalam?"

Chanyeol menunjuk rumah mereka yang memang tengah direnovasi bersama teman-temannya.

Baekhyun mencebik kesal "Pokoknya aku tidak mau membereskan rumah!"

"Kalau begitu silahkan pergi dari sini"

DEG

Baekhyun terkejut, apa?

"Aku tidak butuh istri yang kerjanya hanya bermalas-malasan saja. Asal kau tau Park Baekhyun, ayahmu sudah menitipkan mu padaku. Kita sudah menikah dan itu berarti kau sudah menjadi tanggung jawabku sebagai suamimu. Jika kau masih ingin tinggal disini, ubahlah sikap manjamu itu. Ini bukan rumah ayahmu. ini rumahku, tempat tinggalku dan mau tidak mau kau harus ikut aturan yang berlaku disini. Di sana mungkin kau bisa mendapatkan apapun yang kau mau. Tapi disini, kau tidak akan mendapatkan apapun jika kau tidak mau berusaha. Kau bisa pergi dari sini jika kau merasa keberatan. Dan satu lagi, Tundukan tatapan matamu ketika kau sedang berbicara pada suamimu. Jangan bersikap seenaknya"

Baekhyun meneteskan airmatanya pelan. Sudah Baekhyun bilang jika ia tidak bisa di marahi, ia benar-benar kesal dengan sikap Chanyeol yang keras seperti ini. Berani sekali dia memarahi Baekhyun, memangnya dia pikir dia siapa?

"Park Baekhyun"

Chanyeol menatap istrinya itu tajam.

Baekhyun mencebik kesal, ia berteriak sambil berlari masuk ke dalam rumah.

"AKU MEMBENCIMU PARK CHANYEOL"

.

.

.

"Hiks Chanyeol jahat, gila, kejam, dasar telinga alien menyebalkan. Aku membencimu Park Chanyeol"

Baekhyun terus mengumpat dan terus menangis kesal. Meskipun begitu, ia tetap mengerjakan apa yang Chanyeol perintahkan tadi.

Sekarang ia tengah sibuk mengumpulkan piring kotor untuk ia cuci. Baekhyun mengernyit jijik ketika ia membuang kumpulan sisa makanan yang masih tersisa diatas piring.

Sekarang ia kebingungan apalagi yang harus ia perbuat? Bagaimana caranya membersihkan piring-piring ini?

Baekhyun melihat ada sebuah sponge kuning dan sabun cair cuci piring diatas wastafel.

Tanpa pikir panjang Baekhyun langsung menuangkan setengah dari sabun cair itu kedalam mangkuk bening kecil dan mencampurnya dengan air jernih.

Baekhyun sedikit mengernyit ketika cairan itu berubah menjadi busa yang begitu banyak. Ia menggelengkan kepalanya cepat dan langsung mengambil beberapa piring untuk ia cuci.

Baekhyun nampak kesusahan mencuci piringnya karena busa-busa itu membuat piring-piring itu jadi semakin licin dan sulit untuk dipegang.

PRAAANG

Piring yang baekhyun pegang akhirnya jatuh hingga pecah dilantai, ia yang terkejut tanpa sengaja menginjak pecahan piring itu hingga kakinya berdarah.

"Aaaaaahhh, sakit sekali hiks"

Baekhyun menyentuh kakinya pelan. Rasa kesal yang bersarang dihatinya semakin menjadi-jadi saja.

"PARK CHANYEOL AKU MEMBENCIMU"

.

.

.

TOK TOK TOK TOK

Chanyeol masih tampak fokus merenovasi rumahnya. Sekarang ia sedang memasang kusen jendela untuk dapur rumahnya yang semalam habis di lalap si jago merah.

"Seharusnya kau tidak bersikap terlalu keras pada Baekhyun Chanyeol ah, kasihan istrimu"

Ucap Minhyuk sambil mengaduk-aduk semen.

Hal itu pun di angguki setuju oleh Jonghyun yang merupakan sahabat Chanyeol yang lain.

"Tapi ngomong-ngomong istrimu itu cantik sekali. Kau sangat beruntung Chanyeol ah"

"Ne, kau lihat kulitnya tadi? Putih sekali dan sangat mulus. Matanya juga kecil dan nampak sangat menggoda dengan tambahan eyeliner tipis itu"

"Iya kau benar, bibirnya juga sangat ranum. Chanyeol benar-benar beruntung"

"Hahaha iya kau benar, jika aku jadi Chanyeol aku akan mengurung Baekhyun seharian dikamar haha"

Yonghwa, Jungshin dan Jongsuk (teman-teman Chanyeol yang lain) nampak sangat antusias membicarakan istri Chanyeol yang memang sangat populer di kalangan pria-pria di daerah kampung tempat Chanyeol tinggal. Baru satu hari menetap disana, Baekhyun bahkan sudah jadi pembicaraan seluruh warga kampung.

"Sudah-sudah tidak baik membicarakan istri orang"

Ucap Minhyuk mencoba mengingatkan.

Chanyeol nampak menggelengkan kepalanya pelan. Ia nampak acuh meskipun ia tahu istrinya tengah dibicarakan oleh teman-temannya sendiri.

TOK TOK TOK TOK

"Chanyeol"

Chanyeol menoleh dan mendapati sanga ibu bersama Kang ahjumma baru saja pulang dari pasar.

Pria tinggi itu berjalan pelan menghampiri ibunya, dan dengan sigap ia membantu ibunya dan juga Kang ahjumma membawa belanjaannya.

"Dimana Baekhyun, Chanyeol ah?"

"Baekhyun sedang membersihkan rumah"

"Benarkah?"

Chanyeol mengangguk "Ne"

Heechul tersenyum senang. "Wah aku tidak menyangka Baekhyun mau membersihkan rumah"

"Sepertinya Baekhyun sudah mulai berubah Chulie ya"

Heechul mengangguk mengiyakan ucapan sahabatnya.

"Eomma"

Baekhyun berteriak nyaring ketika melihat Heechul akhirnya pulang. Ia berlari kecil sambil tergopoh-gopoh memeluk sang ibu mertua.

Heechul balas memeluk menantu kesayangannya itu dengan senang.

"Eomma Baekkie rindu"

Heechul dan Kang ahjumma tertawa bersamaan mendengar penuturan lucu si pria cantik.

"Kita baru berpisah selama beberapa jam saja Baekhyunie"

"Iya Baekkie tau, tapi baekkie rindu"

Ucapnya sambil mengerucutkan Bibirnya imut.

Pria-pria disana hampir saja mengunyah sendok semen yang mereka pegang saking gemasnya melihat tingkah polah Baekhyun.

"Aigoo eomma juga merindukanmu sayang"

"Baekkie tidak rindu pada ahjumma?"

Baekhyun sontak tertawa renyah "Baekkie juga rindu ahjumma kok"

Mereka bertiga akhirnya tertawa lagi. Kecuali Chanyeol yang hanya menatap datar.

"Yasudah kita masuk. Baekkie belum sarapan kan? Biar eomma buatkan telur gulung, baekkie mau?"

Baekhyun mengangguk antusias "Ne Baekkie mau"

Heechul tersenyum.

"Ah tunggu sebentar ya eomma harus ke kamar mandi dulu"

"Ne eomma"

Heechul berjalan masuk kedalam rumah. Sedari tadi ia sudah menahan ingin buang air kecil.

Baekhyun beralih menatap suaminya yang juga tengah menatapnya datar.

"Apa lihat-lihat?"

Ucap baekhyun sinis. Ia sebal sekali melihat wajah menyebalkan suami caplangnya itu.

Chanyeol hanya berdecih pelan sebagai balasan.

BRAAAKKK

AAAAAAAHH

Mereka semua nampak terkejut mendengar suara benda jatuh yang sangat keras. Heechul juga terdengar berteriak kesakitan dari dalam rumah.

"EOMMA"

.

.

.

Baekhyun menangis lagi, ia menangis sambil terus menggengam tangan halus sang ibu mertua.

Heechul jatuh terpeleset setelah menginjak lantai rumah yang sangat becek dan licin. Baekhyun mengepel lantai dengan asal-asalan. Ia sama sekali tidak memerah kain pel sampai kering.

Chanyeol dan Kang ahjumma sedang membereskan segala kekacauan yang dibuat baekhyun.

Heechul yang terbaring diatas matras tempat tidur tampak merasa bersalah, melihat menantu kesayangannya menangis karenanya.

"Sudahlah baek, baekkie jangan menangis lagi. Eomma tau baekkie tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah"

"Hiks tetap saja eomma, jika baekkie memerah kain pel nya terlebih dahulu eomma pasti tidak akan terpeleset huweeeeee"

"Baek sudahlah"

Heechul berusaha menenangkan Baekhyun yang terus menangis.

CKLEK

"Eomma"

Chanyeol masuk kedalam kamar, ia duduk disamping ibunya.

"Sebaiknya kita kerumah sakit, aku takut eomma kenapa-kenapa"

Heechul menggeleng "Tidak usah, nanti eomma panggil tukang pijat saja"

Chanyeol melirik baekhyun yang masih menangis tersedu-sedu.

"Apa hanya menangis saja yang bisa kau lakukan? Kau benar-benar tidak berguna sama sekali park baekhyun"

"Chanyeol"

Heechul terlihat tidak menyukai nada bicara Chanyeol yang seperti itu.

"Hiks.. "

Baekhyun semakin menundukan kepalanya. Lagi-lagi Chanyeol memarahinya.

"Inilah kenapa aku tidak pernah menyukai orang-orang kaya, mereka benar-benar tidak berguna"

"Chanyeol sudahlah. Tidak baik berkata seperti itu pada istrimu sendiri"

Chanyeol memejamkan matanya erat. Ia sadar ucapannya sudah cukup keterlaluan.

"Baekhyun kau belum makan kan?"

Baekhyun menggeleng pelan

"Chanyeol bisa kau buatkan telur gulung untuk baekkie? Eomma mohon"

Chanyeol menatap istrinya itu yang terus menundukan kepalanya dalam.

Ia menghela nafas kemudian "Baik eomma"

.

.

.

Baekhyun berjalan pelan menuju dapur, Ia hendak mengambil air minum. Ia sedikit meringis karena kakinya masih terasa sakit.

Baekhyun mulai menangis lagi "Hiks aboeji baekkie mau pulang"

"Baekhyun"

Baekhyun sontak menoleh ketika Chanyeol datang dan memanggilnya.

"Apa yang kau lakukan?"

"Aku mau minum"

Chanyeol melirik ruangan dapur sekilas dan mendapati beberapa pecahan piring di sudut ruangan. Ia mengalihkan tatapan matanya pada baekhyun kemudian menghela nafas.

Ia tahu baekhyun memang tidak bisa di andalkan untuk urusan pekerjaan rumah. Entah apa yang bisa dikerjakan pria mungil itu.

"Kenapa dengan kakimu? Kau seperti sedang menahan sakit"

Baekhyun menunduk "Kaki ku terkena pecahan piring"

Chanyeol terdiam, lantas ia berbalik untuk mengambil kotak p3k milik Kang Ahjumma.

"Duduklah"

Baekhyun terdiam pada awalnya, tapi pada akhirnya ia menurut dan duduk di kursi meja dapur.

Chanyeol kemudian berjongkok, ia dengan telaten membersihkan luka di kaki kanan Baekhyun.

Baekhyun dibuat merona karenanya, seumur hidup tidak pernah ada pria yang mau melakukan ini untuknnya. Bahkan Sehun sekalipun.

Setelah dibersihkan, Chanyeol mengambil obat merah dan mengoleskannya pada luka di kaki Baekhyun.

"Tahan sebentar"

"Aaaaaaaahhh perih"

Baekhyun meringis, ia menggigit bibir bawahnya menahan rasa sakit.

Setelah selesai Chanyeol kemudian menutup luka Baekhyun dengan menggunakan perban.

"Sudah"

Chanyeol berdiri dan kembali membereskan kotak p3k milik Kang ahjumma.

"T-terimakasih Chanyeol"

Chanyeol mengangguk sekilas, ia kemudian berbalik dan hendak membuat telur gulung.

Saat hendak mengambil kuali kecil dan beberapa piring, ia sedikit mengernyit ketika mendapati adanya sisa sabun dan busa yang menempel pada benda-benda tersebut.

Chanyeol mendadak emosi, tapi ia berusaha meredamnya.

'Sabar Park Chanyeol'

Ucapnya pelan dalam hati.

Akhirnya ia harus mencuci ulang semua piring-piring dan alat memasak itu. Setelahnya, ia langsung membuat sekitar 10 telur gulung untuknya dan juga Baekhyun.

"Ini"

Chanyeol menyuguhkan 5 telur gulung dengan sepiring nasi putih hangat untuk Baekhyun.

"Terimakasih Chanyeol"

Chanyeol memilih untuk tidak merespon. Ia masih kesal karena harus mencuci ulang semua peralatan dapur.

Chanyeol memilih duduk di hadapannya dan makan dengan tenang.

"Kau juga makan Chanyeol?"

"Aku belum makan dari pagi"

Baekhyun terdiam. Ia jadi merasa bersalah. Sebagai seorang istri seharusnya ia yang menyiapkan makanan untuk Chanyeol.

.

.

.

15 Menit setelah sarapan yang sangat terlambat, Chanyeol mencuci piring bekas makan mereka berdua. Ia sama sekali tidak mengijinkan pria mungil itu untuk mencuci piring lagi meskipun baekhyun sampai menangis dan terus merengek.

Pria tinggi itu berjalan pelan menuju kamar mandi, ia ingin buang air kecil. Setelah ini dia masih harus menyelesaikan memperbaiki rumah mereka yang terbakar karena ulah Baekhyun semalam.

CKLEK

Ia mengernyit bingung ketika melihat tumpukan pakaian yang direndam di dalam sebuah ember berukuran sedang.

Karena penasaran ia akhirnya menyentuh pakaian-pakaian itu yang warnanya sudah luntur semuanya.

"A-apa ini?"

Chanyeol sangat shock melihat semua baju-bajunya rusak dan warnanya juga luntur semua.

"Apa yang?"

Chanyeol dibuat kebingungan. Apa yang terjadi? Bukankah Baekhyun yang bertugas mencuci pakaian?

Tak sengaja pandangannya tertuju pada sebotol pemutih pakaian yang tergeletak begitu saja di samping ember pakaian.

Chanyeol mengambil botol itu yang ternyata isinya sudah habis semua.

Chanyeol langsung terdiam.

"PARK BAEKHYUN"

.

.

.

.

.

.

TBC

I will not force anyone to love this ff, please comment if you like and leave this ff if you do not like it.

See you in the next chap ~