"Chanyeol"
Pria tinggi itu menoleh dan tersenyum kecil menatap ibunya yang berjalan pincang kearahnya.
Ia tengah duduk sendirian di teras belakang rumah Kang ahjumma sembari ditemani secangkir kopi hitam dan sebatang rokok yang terselip di jari tangannya.
Heechul duduk tepat di samping putra satu-satunya itu.
"Sudah merasa lebih baik?"
"Masih sedikit sakit, tapi jauh lebih baik setelah di pijat"
Chanyeol mengangguk mengerti.
"Kau masih suka merokok?"
Chanyeol tersenyum "Hanya sesekali"
"Kau tau merokok itu tidak baik Chanyeol"
"Aku tau"
Ia memadamkan api rokok terakhirnya dan membuangnya ke tempat sampah.
Heechul menggelengkan kepalanya pelan, mayoritas laki-laki di kampung ini memang suka sekali merokok tidak terkecuali Chanyeol. Sudah berulang kali Heechul meminta Chanyeol untuk berhenti merokok tapi anaknya itu selalu mengulang kebiasaan buruknya itu. Laki-laki memang sangat sulit di jauhkan dari rokok.
"Kau memarahi Baekhyun lagi?"
"Aku menegurnya karena memakai pemutih baju untuk mencuci pakaian"
"Kau tau kan Baekhyun itu tidak terbiasa dengan pekerjaan rumah? Eomma harap kau tidak terlalu keras padanya"
"Aku memarahinya bukan berarti aku benar-benar marah, aku melakukan itu untuk memperbaiki mental anak itu"
"Apa?"
"Baekhyun harus jadi pribadi yang lebih kuat, dia terlalu manja untuk ukuran anak laki-laki"
"Tapi kau tetap saja salah Chanyeol, harusnya kau mengajari Baekhyun terlebih dahulu bagaimana cara mengurus rumah yang baik. Dia pasti kebingungan"
Chanyeol mengangguk "Maafkan aku eomma"
Heechul tersenyum kecil "Apa kau merasa terbebani dengan permintaan Tuan Donghae?"
Chanyeol menggeleng "Sejak awal aku sudah menyanggupi permintaannya, aku yakin bisa merubah sifat manja Baekhyun"
"Apa ini artinya kau memiliki perasaan lebih pada Baekhyun?"
Kali ini Chanyeol langsung terdiam.
Heechul menghela nafas.
"Kau masih mengharapkan wanita itu?"
Chanyeol tidak menjawab.
"Eomma sangat menyukai Baekhyun Chanyeol ah, dia cantik dan sangat lugu. Eomma yakin dia adalah pasangan terbaik untukmu"
"Aku tidak memiliki perasaan apapun untuknya"
"Kau hanya belum menyadarinya saja Chanyeol, ini cuma soal waku"
Heechul tersenyum hangat ketika mengucapkan itu. Ia sangat yakin Baekhyun adalah jodoh terbaik yang sudah di takdirkan Tuhan untuk putranya.
"Malam ini kau tidur dimana?"
"Aku tidur di kamar Minhyuk"
Heechul sontak terkejut "Kau harus tidur bersama Baekhyun Chanyeol ah. Jika kalian tidur terpisah terus, kapan eomma bisa punya cucu?"
"Jika kami tidur bersamapun tidak akan ada yang kami lakukan"
"Kenapa? Kalian kan suami-istri, kalian sudah legal untuk melakukan itu"
"Aku hanya akan melakukan itu dengan orang yang aku cintai"
Heechul menggeleng kesal "Pokoknya eomma tidak mau tau, kau harus tidur bersama Baekhyun malam ini. Berikan eomma cucu yang cantik dan tampan"
"Daritadi eomma terus berbicara soal cucu, memangnya Baekhyun itu bisa hamil?"
Heechul mengangguk "Tuan Donghae sudah bercerita soal itu, Baekhyun sudah terlahir dengan kondisi istimewa. Ia punya rahim yang bisa dibuahi. Itulah kenapa Tuan Donghae menjodohkan Baekhyun dengan mu, itu karena Baekhyun tidak bisa menikah dengan perempuan"
Chanyeol membulatkan mulutnya membentuk huruf O.
Tidak banyak pria yang memiliki rahim di dalam tubuh mereka.
"Maka dari itu kau harus cepat-cepat membuahi Baekhyun supaya cepat hamil"
Chanyeol berdecak sebal mendengarnya, ia tidak ingin melakukan hubungan seks tanpa di landasi perasaan cinta.
"Akan aku pikirkan itu nanti"
Heechul balas berdecak kesal, ia buru-buru berdiri dan mendorong anak semata wayangnya itu untuk masuk ke kamar Baekhyun.
"Sekarang masuk dan bekerja keraslah malam ini, buatkan eomma cucu yang lucu-lucu ya? fighting!"
Pria bersuara berat itu terkikik geli melihat tingkah laku sang eomma, mau tidak mau akhirnya ia masuk ke dalam kamar Baekhyun.
.
.
.
Baekhyun berbaring sambil membelakangi pintu, ia masih kesal setelah Chanyeol kembali memarahinya karena masalah baju.
Memangnya apa salahnya? Pembantu dirumah ayahnya dulu selalu mencuci pakaiannya yang kotor terkena saus dengan menggunakan pemutih.
Kenapa Chanyeol harus memarahinya? Salahkan saja pemutih baju sialan itu!.
CKLEK
Baekhyun sontak menoleh, ia membulatkan matanya kaget ketika Chanyeol masuk ke dalam kamarnya.
KLIK
Ia semakin terkejut ketika Chanyeol juga mengkunci pintunya.
Baekhyun buru-buru merubah posisinya menjadi terduduk.
"A-apa yang akan kau lakukan?"
Tanyanya khawatir ketika Chanyeol melepas bajunya.
"Jangan berpikir macam-macam, aku cuma mau tidur"
"A-apa? T-tidur? J-jangan Chanyeol aku masih belum siap"
Ia menggelengkan kepalanya cepat sambil menutup area dadanya.
Chanyeol menatap Baekhyun dengan tatapan kesal.
"Bukan tidur yang seperti itu, aku cuma mau istirahat"
"Oh.. "
Baekhyun menghembuskan nafasnya lega, syukurlah. Ia pikir Chanyeol mau minta jatah.
"Geser sedikit"
Baekhyun menggeser tubuhnya agar Chanyeol bisa tidur disebelahnya.
Chanyeol tidur terlentang dengan menggunakan tangannya sendiri sebagai bantalnya. Bulu ketiak Chanyeol terlihat sangat lebat dengan posisi tidur seperti ini. Apa dia tidak pernah mencukur bulu ketiaknya sendiri? Chanyeol benar-benar jorok.
"C-Chanyeol apa kau bisa menggunakan pakaianmu lagi?"
"Kenapa memangnya?"
"T-tidak apa-apa, aku hanya takut kau kedinginan"
Chanyeol mengernyitkan alisnya bingung, apa maksudnya itu?
Baekhyun menelan ludahnya gugup, jujur ia agak sedikit kurang nyaman dengan kebiasaan tidur Chanyeol yang hanya suka memakai celana boxer ketat saat tidur.
Dada bidang, bisep sempurna, perut kotak-kotak yang juga terbentuk sempurna ditambah gundukan besar yang terbentuk dibalik celana ketat itu. Apa kau pikir Baekhyun bisa bernafas dengan lancar melihat semua itu?
"Sudahlah, aku mau tidur"
Ugh, Chanyeol sangat tidak peka.
"S-selamat malam Chanyeol"
Baekhyun tidur dengan posisi membelakangi Chanyeol. Sekeras apapun ia berusaha memejamkan matanya tetap saja terasa sulit.
Ia sungguh tidak bisa berbagi tempat tidur dengan orang lain yang belum terlalu ia kenal.
"Baekhyun kau sudah tidur?"
"B-belum, k-kenapa?"
"Aku ingin bicara sesuatu"
"Apa itu?"
"Aku hanya ingin minta maaf"
Baekhyun sontak berbalik.
"Aku tau seharusnya aku tidak terlalu keras padamu. Harusnya aku mengerti jika dirimu memang tidak pandai mengerjakan pekerjaan rumah"
Baekhyun terdiam, Chanyeol meminta maaf padanya? Sungguh?"
"Kau.. Serius?"
Chanyeol mengangguk "Aku serius, mulai sekarang aku akan mengajarimu terlebih dahulu untuk mengerjakan setiap pekerjaan rumah"
Entah kenapa mendengar itu Baekhyun mendadak tidak dapat menahan dirinya untuk tidak tersenyum.
"Aku juga minta maaf karena belum bisa menjadi istri yang baik untukmu, maaf karena sudah membakar rumahmu dan maaf karena sudah merusak pakaianmu"
Chanyeol terkekeh geli, Baekhyun memang bukan sosok istri ideal. Tapi ia juga salah karena hanya terus memarahi anak itu saja.
"Sudahlah, sebaiknya sekarang kau tidur. Selamat malam"
Chanyeol langsung berbalik memunggungi si pria cantik yang sama sekali tidak bisa menahan senyumannya.
"Selamat malam juga Chanyeol ah"
.
.
.
Sinar matahari pagi mulai menerobos masuk melalui celah jendela kamar Baekhyun. Pria cantik itu masih setia bergulung di dalama selimut tebalnya.
Chanyeol yang sudah siap dengan pakaianan training yang ia pakai pagi ini hanya bisa menghela nafas melihatnya.
"Bangun Baekhyun ah, ini sudah pagi. Ayo kita lari pagi"
Ia berjongkok dan menepuk pipi sang istri dengan pelan.
"Hmmmm.. "
Baekhyun semakin merapatkan selimut di tubuhnya pertanda ia tak mau di ganggu.
Chanyeol berdecak kesal, ia mendekatkan tubuhnya lagi dan menepuk pipi sang istri dengan lebih keras.
"Baekhyun ayo cepat bangun"
"Hmmm 5 menit lagi Chanyeol"
"Ck, ayo cepat bangun sekarang. Kau harus olahraga"
Baekhyun menggeram kesal, ia paling tidak suka jika di paksa bangun pagi-pagi begini.
"Aku masih-AHHHHHH"
BUGH
"ARRRGHHH"
Baekhyun beringsut terkejut ketika ia mengerjapkan matanya pelan dan mendapati wajah Chanyeol yang begitu dekat dengan wajahnya.
Refleks ia langsung bangun dan tanpa sengaja menendang selangkangan Chanyeol.
"ARRRGHHH"
Chanyeol meringis kesakitan hingga berguling-guling dilantai.
Rasanya sangat ngilu, Chanyeol bahkan tidak bisa mendeskripsikannya dengan kata-kata.
"C-Chanyeol kau baik-baik saja?"
Chanyeol menatap Baekhyun dengan kesal.
"KAU MENENDANGNYA"
Baekhyun sampai terlonjak kaget dibuatnya.
"A-aku t-tidak sengaja, a-aku kira k-kau mau memperkosaku tadi"
"MEMPERKOSA KEPALAMU. AKU CUMA MAU MEMBANGUNKANMU"
Chanyeol berteriak sangat keras, ia begitu kesal karena baru pertama kali ini ada yang berani menendang kejantanannya.
Bagaimana jika setelah ini ia jadi mandul?
Baekhyun benar-benar harus bertanggung jawab.
"A-aku kan sudah minta maaf. Kenapa kau terus berteriak padaku?"
Baekhyun jadi ikutan kesal karena Chanyeol terus berteriak padanya.
Chanyeol mengusap wajahnya kasar.
"Sudahlah. Sekarang kau cepat ganti baju dan kita lari pagi"
Chanyeol berusaha bangun sambil menahan rasa ngilu luar biasa di area selangkangannya.
Niatnya untuk mengajak istrinya lari pagi malah berujung petaka.
"Lama-lama aku bisa gila jika terus seperti ini"
Ia terus mengomel kesal sambil terus meringis ngilu.
BRAAAKKK
Ia juga membanting pintu dengan keras.
Baekhyun berdecak sebal, lagi-lagi Chanyeol memarahinya.
"Dasar Park alien menyebalkan"
.
.
.
"Chanyeol aku lelah"
Pagi ini mereka berdua melakukan jogging di sebuah lapangan terbuka yang letaknya tidak jauh dari rumah mereka.
"Ini baru satu kali putaran Baek, masih ada sisa 9 putaran lagi"
Baekhyun terlihat sudah mulai kehabisan nafas. Ia memang tidak pernah olahraga sebelumnya, tidak heran jika ia begitu kelelahan padahal baru satu putaran ia berlari.
Tapi demi Tuhan lapangan ini luas sekali, Chanyeol benar-benar gila menyuruhnya berlari sampai 10x putaran.
"Ayo Baek lari lebih Cepat!"
Chanyeol berdecak kesal melihat istrinya begitu lambat dalam berlari, baru satu kali putaran saja dia sudah banyak mengeluh. Padahal biasanya Chanyeol bisa berlari mengelilingi lapangan ini sampai 20x putaran dan ia baik-baik saja.
Ia menolehkan tatapannya kebelakang ketika ia mendengar suara langkah kaki seseorang yang berlari dibelakang mereka.
Ia sedikit mengernyitkan alisnya bingung ketika melihat sekumpulan ahjussi yang berlari tidak jauh dibelakang mereka.
Ada sekitar 7 orang pria dewasa disana dan pandangan mereka semua terfokus pada satu tujuan.
Pantat Baekhyun.
Sekumpulan ahjussi tua itu tampak begitu fokus menatap pantat Baekhyun yang padat dan bulat.
Baekhyun hanya menggunakan legging hitam ketat milik ibunya karena tidak ada satupun pakaian Chanyeol yang muat di tubuh Baekhyun.
Sedangkan untuk atasannya Baekhyun hanya menggunakan kaos putih polos tipis yang di balut sweater putih yang juga milik ibunya.
Pantat Baekhyun yang bulat dan sekal itu terbentuk dengan sangat jelas, bahkan belahan pantatnya terus bergoyang kesana-kemari ketika Baekhyun berlari.
GLUK
Para ahjussi itu nampak meneguk ludah mereka kasar. Pagi-pagi mereka sudah mendapat tontonan yang menarik.
Chanyeol menggeleng kecil melihat wajah-wajah mesum itu menatap pantat sintal istrinya.
Secara otomatis Chanyeol berhenti dan membalikan tubuhnya.
Melihat Chanyeol yang berhenti berlari Baekhyun pun sontak ikut berhenti, ia berbalik dan menatap bingung suaminya.
"YA!"
Chanyeol berteriak menyeramkan, ia menatap tajam satu persatu para ahjussi mesum itu.
Sekumpulan ahjussi itu tampak terkejut dengan teriakan Chanyeol dan langsung berhenti.
"Berani sekali kalian menatap istriku seperti itu!"
Mereka semua sontak bungkam, jadi pria ini suaminya?
Chanyeol nampak merenggangkan otot ditubuhnya sampai terdengar bunyi 'KRAK' Yang cukup nyaring.
"Baguslah, sudah lama aku tidak mematahkan tulang-tulang manusia"
GLUK
Mereka semua kompak menelan ludah gugup, Chanyeol tinggi dan besar. Satu kali dipukul mereka semua pasti akan langsung masuk ruang ICU.
Akhirnya mereka memilih untuk mundur dan pergi menjauh daripada babak belur.
Setelah mereka semua pergi, Chanyeol berbalik dan menatap istrinya yang juga tengah menatapnya bingung.
"Ada apa Chanyeol? Kenapa kau terlihat marah?"
Chanyeol terdiam, ia melepas jaket putih yang ia kenakan dan langsung memasangkannya di pinggang Baekhyun untuk menutupi pantat montok istrinya itu dari mata-mata jahat.
"C-Chanyeol kau.. "
"Kau terlalu menarik perhatian banyak orang"
"C-Chanyeol"
"Apa?"
"K-kau tidak p-pakai baju?"
Chanyeol sedikit mengernyit tidak mengerti, ia kemudian menatap dirinya sendiri dan barulah ia sadar apa yang dimaksud oleh istrinya.
"Aku kan sudah pakai jaket, untuk apa pakai baju lagi di dalamnya?"
"T-tapi.. "
Baekhyun dibuat gugup, jika seperti ini bukan Baekhyun yang akan jadi pusat perhatian, tapi Chanyeol lah yang akan menarik perhatian banyak wanita.
"Sudahlah, ayo kita lari lagi. Masih ada 9 putaran"
.
.
.
Baekhyun kesulitan mengambil nafasnya. Ia membungkuk sambil menyentuh lututnya yang sudah gemetar. Tubuhnya sudah banjir oleh keringat.
Ia sudah berlari sebanyak 5 kali putaran dan masih ada 4 kali putaran lagi, ia benar-benar sudah tidak kuat.
"C-Chanyeol a-aku mohon b-berhenti, a-akuhh s-sudahh t-tidak kuattthh hah.. hah.. hah"
Baekhyun bahkan tidak mampu bicara dengan benar. Ia benar-benar sudah kelelahan.
"Jangan manja, 3 putaran lagi jika kau memang tidak sanggup untuk melakukan 4 kali putaran"
Chanyeol sedikit berteriak karena memang posisinya sudah agak jauh dengan posisi Baekhyun sekarang.
Baekhyun berdecak kesal.
"Hihihi"
Ia sontak menolehkan kepalanya kesamping dan sedikit terkejut melihat sekumpulan perempuan yang terdiri dari gadis remaja sampai ibu-ibu berkumpul semua di pinggir lapangan.
Darimana mereka datang? Apa yang mereka lakukan?
Chanyeol yang berlari di depannya nampak acuh dan terus berlari santai.
Sekumpulan perempuan itu nampak menjerit histeris ketika Chanyeol mengusap keringat yang mengalir ditubuhnya.
Baekhyun sekarang mengerti kenapa perempuan-perempuan itu berkumpul di pinggir lapangan.
Entah kenapa ia mendadak kesal melihat tubuh telanjang suaminya menjadi tontonan gratis bagi sekumpulan wanita haus belaian itu.
BRUKK
"Ahhhhh Chanyeol"
Chanyeol sontak berbalik dan melihat Baekhyun tergeletak di atas tanah. Ia buru-buru berlari dan berjongkok melihat istrinya.
"Kau baik-baik saja?"
Baekhyun menangis "Kaki ku sakit sekali Chanyeol, aku tidak bisa berlari lagi hiks"
Chanyeol terlihat menghela nafasnya kemudian.
"Yasudah kita pulang kalau begitu, kau bisa berjalan?"
Baekhyun menggeleng imut.
"Naiklah ke punggungku kalau begitu"
Chanyeol mempersilahkan Baekhyun untuk naik ke punggungnya.
Baekhyun cukup terkejut dibuatnya.
"A-apa?"
"Ayo naik ke punggungku"
Baekhyun menelan ludahnya gugup.
HUP
Chanyeol kemudian berdiri setelah Baekhyun naik keatas punggungnya.
Helaan nafas kecewa terdengar dari sekumpulan wanita itu ketika Chanyeol beranjak pergi meninggalkan lapangan.
Diam-diam Baekhyun menyeringai tipis.
'Rasakan, siapa suruh menatap suami Baekkie seperti itu'
Ucapnya dalam hati sambil terkikik geli.
.
.
.
Baekhyun benar-benar tidak bisa mengontrol rasa gugupnya. Detak jantungnya bahkan berdetak 10 kali lipat dari biasanya.
Baekhyun merasa ia seperti sedang menjadi pemeran utama dalam sebuah drama. Di suasana pagi yang cukup cerah ini Chanyeol terus menggendongnya dalam perjalanan menuju kerumah.
Tubuh Chanyeol sangat basah oleh keringatnya sendiri. Tapi bukannya merasa jijik Baekhyun justru sangat menikmati sensasi ketika keringat ditubuh sang suami tak sengaja menempel ditubuhnya juga.
Aromanya sangat maskulin dan begitu membuat Baekhyun mabuk kepayang.
Tanpa sadar ia mengalungkan kedua tangannya di bahu tegap sang suami dan menyandarkan kepalanya disana. Bahu itu begitu tegap, kokoh dan lebar. Sangat nyaman untuk disandari meskipun basah oleh keringat.
Chanyeol terkekeh geli ketika degupan jantung sang istri terasa berdetak begitu cepat menyentuh punggungnya. Apakah ia sebegitu gugupnya di gendong oleh suaminya sendiri?
"Sampai kapan kau akan terus menyenderkan kepalamu pada bahuku?'
Baekhyun sontak menjauhkan kepalanya.
"Kepalaku sakit karena terus berlari, ini semua gara-gara kau terus memaksaku berlari"
"Payah, baru berlari sebentar saja sudah seperti ini. Kau benar-benar manja"
Baekhyun hanya menggerutu kesal sebagai balasan.
KRIUKKK
DEG
"Suara apa itu?"
Baekhyun menyembunyikan wajahnya di bahu bidang sang suami. Astaga dia malu sekali.
"Kau lapar?"
"T-tidak kok"
KRIUKK
BLUSSH
Wajah Baekhyun sudah memerah layaknya buah tomat.
Sang suami hanya menggelengkan kepalanya pelan. Ia melihat sebuah kedai bubur kaki lima yang terletak di ujung jalan. kemudian tanpa harus berpikir kembali Chanyeol langsung membawa Baekhyun ke kedai tersebut.
"Jongdae ya?"
"Oh Chanyeol ah, apa kabar? Kenapa tidak pakai baju?"
"Aku baru selesai olahraga, boleh aku pinjam handuk kecil?"
Jongdae mengangguk "Boleh, tunggu sebentar ya. Ouh siapa dia? Apakah dia istrimu?"
Chanyeol mengangguk sambil menurunkan sang istri untuk duduk dikursi pelanggan.
"Wah cantik sekali, kau dapat dari mana yang seperti ini Chanyeol ah?"
Pria kekar itu mengusap seluruh keringat ditubuhnya dengan handuk yang diberikan Jongdae.
"Aku di jodohkan oleh orangtuaku"
"Wah kau beruntung sekali, seandainya aku juga punya istri secantik dia"
Chanyeol hanya terkekeh kecil sebagai tanggapan.
"Aku pesan 2 porsi bubur ayam ya?"
Jongdae mengangguk kecil "Baik, akan segera aku siapkan"
.
.
.
Pria cantik itu nampak kurang nyaman dengan kedai bubur kaki lima seperti ini. Jika sarapan diluar Baekhyun biasanya makan di sebuah restoran Jepang favoritnya bersama ayah ataupun teman-temannya. Bukan kedai kaki lima seperti ini yang Baekhyun juga tidak tau makanannya higienis atau tidak.
"Kenapa hanya diam saja? Bukankah kau lapar? Ayo makan"
Baekhyun menatap semangkuk bubur ayam dihadapannya dengan ragu.
"Chanyeol apa kau yakin kita akan makan disini?"
"Memangnya kenapa?"
"Chanyeol ini kedai kaki lima, bagaimana bisa aku makan ditempat seperti ini? Bagaimana jika makanannya tidak higienis? Bagaimana jika aku sakit perut setelah makan bubur disini? Kita makan ditempat lain saja ya? Aku tau restoran jepang yang enak disekitar sini"
Chanyeol menghela nafasnya pelan, ia membanting sendok makannya dengan agak keras.
"Jika Jongdae mendengar ucapan mu dia pasti bisa sakit hati Baek"
"Memangnya aku salah bicara? Aku hanya berbicara fakta Chanyeol ah, ayolah aku tidak suka berada ditempat seperti ini"
Ia terus merengek sampai menunjukan aegyo andalannya agar sang suami mau membawanya pergi dari sini.
"Baekhyun apa kau melupakan sesuatu?"
"Melupakan apa?"
"Kau lupa jika kau menikahi seorang pria kampung sepertiku?"
Baekhyun sontak terdiam.
"Suamimu ini bukan seorang CEO atau pengusaha kaya, ia hanya seorang pekerja kasar yang tidak akan pernah mampu membawamu makan di restoran mahal"
DEG
Entah kenapa ucapan Chanyeol barusan seolah menusuk hatinya dalam. Ia tidak suka jika Chanyeol merendahkan dirinya sendiri dihadapannya seperti itu.
"Mulai sekarang kau harus membiasakan diri untuk hidup sederhana. Sekarang cepat makan buburmu sebelum dingin, Jongdae adalah temanku. Meskipun hanya berjualan di kedai kecil seperti ini tapi rasanya tidak jauh berbeda dengan bubur buatan Chef terkenal"
Baekhyun menunduk, haruskah ia makan bubur ini? bagaimana jika ia masuk rumah sakit karena makan makanan yang tidak higienis atau yang lebih parah ia mati karena makan makanan orang miskin?
Ah tidak, sepertinya itu terlalu berlebihan.
Dengan perasaan ragu Baekhyun akhirnya menyendok bubur ayam itu dan segera menyantapnya sedikit demi sedikit.
Nyam.
Ia sedikit mengernyitkan alisnya pelan.
"Bagaimana? Enak kan?"
"Hmm tidak buruk"
Nyam.
Ia kemudian mengambil sendok makan yang kedua, ketiga, ke empat dan seterusnya sampai tak terasa mangkuk bubur itu kosong tak bersisa.
Chanyeol terdiam sambil terus menatap sang istri.
"Ah aku kenyang"
Ucapnya sambil bersendawa keras. Merasa di perhatikan, Baekhyun pun lantas menatap sang suami yang nampak tersenyum jahil.
"I-ini tidak seperti a-apa yang kau pikirkan Chanyeol. A-aku hanya terlalu lapar. Aku tidak punya pilihan lain selain makan bubur murah ini"
"Kau lapar atau memang suka?"
"A-aku lapar Chanyeol, bukan k-karena aku suka"
"Oh begitu?"
"I-iya aku tidak bohong kok"
"Yakin?"
"Y-yakin"
Baekhyun rasanya ingin sekali melempar wajah menyebalkan suaminya itu dengan sendok yang ia pegang.
Chanyeol terkekeh kecil.
"Jongdae ya, jadi berapa semuanya?"
.
.
.
"Aboeji"
Baekhyun memeluk sang ayah ketika ia pulang kerumah, ia langsung turun dari punggung Chanyeol dan berlari sambil terpincang-pincang memeluk sang ayah.
"Hmm kau bau Baekkie"
"Baekkie baru selesai olahraga"
Donghae dibuat cukup terkejut "Jinja? Baekkie berolahraga?"
Baekhyun mengangguk lucu "Hmmm suami Baekkie yang menyuruh Baekkie untuk olahraga pagi"
"Aboeji"
Chanyeol tampak menghampiri sang ayah mertua lalu kemudian membungkuk hormat.
"Kau mengajak Baekkie olahraga? Wah kau benar-benar membawa dampak positif untuk putraku"
"Dampak positif apanya? Lihat, betis Baekkie jadi seperti betis gajah"
Donghae tertawa kecil mendengar ucapan manja sang putra satu-satunya itu.
"Aboeji datang kemari mau menjemput Baekkie ya?
"Aniyo, aboeji datang kesini untuk mengantarkan pakaian mu"
Donghae menunjuk beberapa koper besar yang berisi baju-baju Baekhyun.
"Ngomong-ngomong apa kalian pindah rumah? Rumah kalian yang disebelah sana tampak sedang direnovasi, katanya sempat terjadi ledakan disana. Apa itu benar Chanyeol ah?"
Chanyeol mengangguk "Ne, ledakan yang menghancurkan dapur rumahku"
Baekhyun melirik Chanyeol sekilas, perasaannya mendadak tidak enak. sepertinya suaminya itu akan menceritakan semuanya pada sang ayah.
"Benarkah? Bagaimana bisa?"
"Ne, tabung gas dirumahku bocor. Dan karena itu tabung nya meledak sampai menghancurkan dapur. Beruntung kami semua selamat"
Baekhyun membulatkan matanya terkejut, kenapa Chanyeol berbohong?
"Ah begitu, lain kali kau harus lebih berhati-hati"
"Ne, Aboeji"
"Sekarang kalian tinggal dirumah ini?"
Donghae menatap rumah kecil yang letaknya tidak jauh dari rumah Chanyeol.
"Ne, ini rumah tetangga kami Kang ahjumma. Sekarang ia dan putra laki-lakinya sedang pergi ke acara resepsi pernikahan putrinya"
"Lalu ibumu? Kemana dia?"
"Dia pergi ke tukang pijat"
"Tukang pijat?"
"Ne, pinggangnya cedera setalah jatuh di kamar mandi"
Baekhyun dibuat terkejut lagi, kenapa Chanyeol harus berbohong lagi?
"Ah aku berharap ibumu bisa segera sembuh Chanyeol ah"
Chanyeol tersenyum "Terimakasih aboeji"
"Baekhyun tidak menyusahkanmu kan yeol?"
Chanyeol melirik istrinya itu sekilas "Tidak sama sekali, ia istri yang penurut"
"Syukurlah kalau begitu, tadinya aboeji begitu khawatir karena Baekhyun sama sekali tidak bisa mengerjakan apapun sendiri"
Baekhyun menatap suaminya sekilas.
"Aku pamit mandi sebentar aboeji"
.
.
.
Kedua pria yang sama-sama tampan dan gagah itu duduk saling berhadapan di ruang tamu Kang ahjumma dengan secangkir kopi hitam yang tentu saja disiapkan oleh Chanyeol untuk sang ayah mertua.
"Aku bersyukur jika putraku Baekhyun tidak menyusahkan kalian, dia adalah putraku satu-satunya. Semenjak kecil ia sudah terbiasa mendapatkan apapun yang ia inginkan. Tapi karena aku terlalu memanjakannya akhirnya ia tumbuh menjadi pribadi yang selalu bergantung pada orang lain dan suka sekali berbuat semaunya. Aku sangat berharap padamu Chanyeol, aku tau kau bisa merubah sifat Baekhyun menjadi lebih baik lagi"
Chanyeol tersenyum sopan "Aku akan melakukan yang terbaik"
"Ngomong-ngomong kau masih pada pekerjaanmu?"
Chanyeol mengangguk "Ne, aku masih pada pekerjaanku sebelumnya"
"Apa kau tidak berpikir untuk mencari pekerjaan baru? Aboeji bisa mempekerjakanmu di perusahaan aboeji jika kau mau"
"Tidak perlu aboeji, aku sudah merasa bersyukur dengan pekerjaanku yang sekarang"
"Tapi sekarang kan kau sudah menikah, tanggung jawabmu juga pasti bertambah. Setidaknya kau harus mendapatkan penghasilan yang lebih"
Chanyeol tersenyum "Soal itu aboeji tidak perlu khawatir, aku memang bukan orang kaya. Tapi akan aku pastikan Baekhyun tidak akan kekurangan sesuatu apapun. Aku akan membahagiakan Baekhyun dengan caraku sendiri."
Donghae dibuat tersenyum bangga. Ia tau ia tidak salah menikahkan putranya dengan Chanyeol.
"Oh iya, bagaimana dengan malam pertama kalian? Kalian sudah melakukannya kan?"
Chanyeol tampak terkejut dengan pertanyaan sang ayah mertua.
"Kami masih belum melakukannya"
Donghae tampak mendengus kecewa.
"Kenapa?"
"Rumahku kebakaran saat malam pertama kami, jadi aku sama sekali tidak berpikir untuk melakukan 'itu' dengan istriku. Yang ada dipikiranku kemarin hanyalah bagaimana caranya supaya api-api itu bisa segera padam"
"Lalu malam kemarin? Bukankah kalian sudah menginap disini?"
"Kami tidak mungkin melakukan 'itu' dirumah orang lain kan? Kamar-kamar disini sangat transparan, bagaimana jika Kang ahjumma mendengar kami yang sedang melakukan 'itu'? Pasti akan sangat memalukan aboeji"
Donghae mengangguk kecil kemudian. Benar juga, pasti akan sangat memalukan jika orang-orang rumah mendengar desahan-desahan erotis dari pasangan yang baru menikah seperti Chanyeol dan Baekhyun. Apalagi Baekhyun, Donghae sudah bisa menebak jika putranya itu pasti akan sangat berisik jika sedang bercinta.
"Tapi tetap saja Chanyeol ah, membiarkan istrimu masih perawan setelah malam pertama adalah aib bagi pria manapun, harusnya kau tau itu"
Chanyeol hanya tersenyum kecil, jujur ia agak kurang nyaman dengan topik pembicaraan seperti ini.
"Aboeji sangat menginginkan cucu dari kalian Chanyeol ah, Baekhyun tidak akan hamil jika kau bersikap lambat seperti ini"
"Aku akan berusaha lebih baik lagi aboeji"
Sang ayah mertua mengayunkan tangannya keatas. Ia merogoh sebuah bungkusan hitam yang ia letakan secara sembunyi-sembunyi di dalam koper milik Baekhyun.
"Ini obat kuat, dildo, gel pelicin dan obat perangsang"
Chanyeol tampak shock dengan benda-benda yang di keluarkan sang ayah mertua.
"U-untuk apa ini aboeji?"
"Tentu saja ini untuk aktifitas malam kalian"
Chanyeol melongo, ia tidak menyangka ayah mertuanya sampai menyiapkan yang seperti ini juga.
"Obat kuat ini aku pesan langsung dari Amerika, kau akan kuat sampai 3 jam jika kau memakan pil ini. Dan dildo ini, bisa kau gunakan untuk merangsang Baekhyun sebelum kau menyetubuhinya. Kau juga harus menggunakan gel ini supaya Baekhyun tidak kesakitan saat kau melakukan penetrasi. Dan obat perangsang ini, bisa kau campur kedalam minuman atau makanan Baekhyun supaya ia semakin bergairah"
Chanyeol sweatdrop dibuatnya, ia sampai tidak bisa berkata-kata lagi.
"Terimakasih aboeji, tapi sebenarnya aboeji tidak perlu sampai melakukan ini"
"Suatu saat kau pasti akan membutuhkan ini Chanyeol, percayalah. Ambil semua barang ini dan jangan sampai Baekhyun tahu"
Donghae memberikan semua barang itu yang diterima oleh sang menantu sambil tertawa canggung.
"Aboeji"
Chanyeol sontak menyembunyikan bungkusan itu kebelakang punggung tegapnya setelah Baekhyun muncul.
"Aboeji dan Chanyeol sedang membicarakan apa? Baekkie perhatikan sepertinya seru sekali"
Ia duduk disamping ayahnya dengan handuk yang melilit diatas kepalanya, Baekhyun hanya menggunakan hotpants super pendek diatas paha dengan atasan kaos coklat transparan dengan motif bunga.
Chanyeol agak dibuat mengernyit dengan pakaian itu.
Bukankah hotpants biasanya hanya dipakai kaum hawa?
"Bukan hal yang penting, Baekkie tidak perlu tau. Ini urusan laki-laki"
Baekhyun mengerucutkan bibirnya imut.
"Baekkie kan juga laki-laki"
Donghae tersenyum sambil mencubit hidung putranya gemas.
"Yasudah, aboeji kesini hanya untuk mengantarkan baju-baju Baekkie saja. Sekarang aboeji mau pulang"
"Kenapa buru-buru aboeji?"
"Aboeji tidak ingin menganggu waktu kalian berdua"
Donghae mengedipkan sebelah matanya pada sang menantu seolah memberi kode pada Chanyeol untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin sebelum Heechul dan yang lainnya pulang.
Chanyeol hanya tersenyum canggung sebagai balasan.
"Aboeji Baekkie ingin ikut pulang kerumah"
"Kau ini bicara apa? Sekarang rumah Baekkie disini bersama dengan suamimu"
"Tapi Baekkie tidak betah tinggal disini aboeji, Chanyeol terus menyuruh Baekkie ini itu. Lihat, kuku Baekkie sampai rusak karena Chanyeol menyuruh Baekkie mencuci piring kemarin"
Pria manis itu menunjukan kuku-kukunya pada sang ayah.
"Disini juga tidak ada AC, tidak ada bath up dan tidak ada kasur yang empuk. Baekkie tidak suka tinggal disini aboeji, Baekkie mau pulang"
Baekhyun langsung memeluk tubuh Donghae dan bertingkah layaknya anak kucing yang tidak ingin ditinggal induknya.
Donghae tanpa ragu melepas pelukan sang putra dengan pelan.
"Sekarang kau sudah bukan tanggung jawab aboeji lagi Baek, kau sudah punya suami. Kau tetap harus ikut suamimu"
"Chanyeol bisa ikut tinggal di rumah aboeji"
"Tidak bisa seperti itu Baek, kalian sudah punya kehidupan sendiri sekarang"
"Tapi aboe-"
"Tidak ada tapi-tapian Baek, mulai sekarang kau sudah harus belajar bertanggung jawab. Bertanggung jawab pada dirimu sendiri, bertanggung jawab sebagai seorang istri dan bertanggung jawab sebagai ibu untuk anak-anak kalian nanti"
Baekhyun berdecak kesal, ia menundukan kepalanya dalam dan mulai menangis.
"Tapi Baekkie tidak mau hidup miskin seperti ini aboeji hiks Baekkie tidak bisa"
Donghae mengusap kepala Baekhyun dengan lembut.
"Kau harus bisa, aboeji melakukan ini untuk kebaikanmu. Mau tidak mau mulai sekarang kau harus mulai membiasakan diri. Meskipun Chanyeol itu bukan pria kaya tapi aboeji yakin dia tidak akan membiarkanmu sampai kelaparan"
Baekhyun kembali memeluk tubuh tegap sang ayah sambil menangis.
"Aboeji yakin Chanyeol adalah pria yang tepat untukmu. Jangan pernah membantah apa yang suamimu ucapkan dan turutilah apapun yang ia perintahkan. Berdandanlah yang cantik dihadapan suamimu dan usahakan untuk selalu berbicara yang lembut dihadapan suamimu juga. Jika kau berbakti pada suamimu, aboeji jamin hidupmu akan selalu diberkahi"
Baekhyun akhirnya mengangguk pelan meskipun hatinya masih terasa berat.
"Chanyeol"
"Ne aboeji"
Donghae beralih menatap sang menantu yang sedari tadi hanya diam memperhatikan mereka.
"Tolong jaga putraku, aboeji yakin kau bisa menjadi suami yang baik untuk anakku"
Chanyeol tersenyum kecil.
"Ne, aboeji bisa percaya padaku"
.
.
.
"Pertama, kau harus menggunakan sarung tangan dulu. Lalu setelah itu kau harus menuangkan sabun cairnya pada mangkuk kecil dan setelah itu kau campur sedikit dengan air. Baru setelah itu kau remas spons nya sampai berbusa"
Setelah Donghae pulang, Chanyeol langsung menyuruh sang istri untuk mencuci piring karena Heechul dan Kang ahjumma sedang tidak ada dirumah.
Tidak seperti sebelumnya, kali ini Chanyeol mau mengajarkan Baekhyun bagaimana cara mencuci piring yang baik.
"Kau harus mencucinya seperti ini"
Chanyeol berdiri tepat dibelakang tubuh Baekhyun, ia memegang tangan Baekhyun pelan untuk memperagakan bagaimana cara mencuci piring yang baik.
"Kau pegang piringnya seperti ini, bilas dengan air sebentar lalu kemudian kau bersihkan dengan menggunakan spons"
Baekhyun memejamkan matanya erat ketika hembusan nafas Chanyeol tak sengaja menyentuh tengkuknya.
Ia benar-benar tidak bisa fokus dengan apa yang Chanyeol ucapkan, jarak mereka terlalu intim. Ia bahkan tidak mendengar dengan jelas apa yang Chanyeol ucapkan dari tadi.
"Sekarang kau coba cuci piringnya sendiri"
Chanyeol mulai melepaskan genggaman tangannya.
"N-ne"
Dengan tangan yang bergetar gugup Baekhyun memegang sebuah gelas kaca dan mulai mencucinya pelan.
Chanyeol menatap Baekhyun dengan was-was, pria cantik itu tampak kesusahan memegang gelasnya.
"Bilas dulu dengan air jika memang licin-"
PRAAANGG
Chanyeol menutup matanya emosi. Belum setengah menit ia bicara, Baekhyun sudah memecahkan peralatan dapur lagi.
"Baekhyun, aku kan sudah bilang-"
Baekhyun langsung berbalik dan mendorong tubuh sang suami pelan.
"J-jangan dekat-dekat Chanyeol, kau membuatku tidak bisa berkonsentrasi"
Chanyeol berdecak kesal "Jika aku tidak mendekatimu lalu bagaimana caranya aku mengajarimu mencuci piring?"
"P-pokoknya jangan dekat-dekat, a-aku malu C-Chanyeol ah"
Baekhyun memegang tengkuknya sendiri, sensasi ketika nafas hangat Chanyeol menyentuh tengkuknya bahkan masih terasa sampai membuat tubuhnya merinding. Hal itu sontak saja membuat wajah Baekhyun memerah seperti tomat.
"Kenapa wajahmu memerah? Kau sakit?"
Baekhyun buru-buru menggeleng "A-ani, a-aku harus k-ke kamar mandi sebentar"
Ia langsung berlari kecil sambil menutup wajahnya.
Chanyeol menghela nafasnya, sepertinya kali ini ia harus mencuci sendiri piring-piringnya seperti kemarin.
.
.
.
TAKK
"AHHHHHH CHANYEOL KUKU KU PATAH HUWEEEEEE"
Baekhyun berteriak histeris ketika kukunya patah karena mencuci pakaian dengan tangannya.
Chanyeol nampak memijat pelipis nya pelan, ia begitu pusing dengan segala tingkah polah istrinya itu.
Setelah selesai mencuci piring, Chanyeol langsung menyuruh Baekhyun untuk mencuci baju di teras belakang rumah. Sesuai permintaan Baekhyun, Chanyeol kali ini agak menjaga jarak dengan sang istri. Meski begitu, ia tetap mengajari Baekhyun bagaimana cara mencuci baju yang benar. Tapi baru sekali mengucek baju miliknya sendiri, istrinya itu langsung menjerit histeris ketika tak sengaja kukunya patah.
"HUWEEEE ABOEJI KUKU BAEKHYUN PATAH HIKS"
"Baekhyun ayolah, itu cuma kuku"
"Cuma kuku kau bilang? CUMA KUKU? Chanyeol, aku menghabiskan puluhan juta won untuk kuku-kuku ini hiks"
"Ya terus mau bagaimana lagi? Sudahlah, kau lupakan kuku-kukumu itu sebentar. Lebih baik kau selesaikan semua cucian baju ini"
"BAEKKIE TIDAK MAU. POKOKNYA BAEKKIE MAU PULANG HUWEEE ABOEJI"
Pria cantik itu langsung berdiri dan berlari pergi meninggalkan Chanyeol.
"BAEKHYUN HEY KEMBALI. PARK BAEKHYUN YA!"
BRAKK
Chanyeol membanting cuciannya kesal, masa harus ia lagi sih yang mencuci semua pakaian ini? Untuk apa ia punya istri, jika semua pekerjaan harus ia kerjakan sendiri.
"Anak itu benar-benar. Aiiisshh aku bisa gila jika lama-lama seperti ini terus"
.
.
.
"Hiks kuku ku yang malang"
Sudah 2 jam berlalu dan Baekhyun masih saja menangisi kuku-kukunya yang sudah patah. Ia bahkan tidak berhenti memanggil-manggil ayahnya dari tadi.
Chanyeol yang melihat itu hanya bisa berdecak kesal. Perawatan kuku macam apa sih yang menghabiskan uang sampai puluhan juta won?
Ia benar-benar tidak habis pikir dengan cara berpikir orang-orang kaya yang suka sekali menghambur-hamburkan uang untuk hal yang tidak penting.
"Mau sampai kapan kau akan terus menangis seperti itu?"
"Kau tidak akan pernah mengerti Chanyeol, aku menghabiskan banyak uang untuk ini dan dengan mudahnya patah begitu saja. Kau pikir bagaimana perasaanku? Hiks"
"Itu kan memang sudah resikonya jika kau mencuci pakaian dengan menggunakan tangan. Kenapa juga kau harus menghabiskan banyak uang hanya untuk perawatan kuku?"
"Jadi kau menyalahkanku? Ini semua salahmu Chanyeol, jika kau punya mesin cuci kuku ku pasti tidak akan rusak"
"Pakai mesin cuci itu tidak bersih Baek, lebih baik mencuci dengan menggunakan tangan"
"Kau benar-benar tidak mengerti perasaanku Chanyeol hiks huweeee aboeji"
Chanyeol menutup telinganya rapat, telinganya terus berdengung dari tadi karena lengkingan tangisan Baekhyun yang sangat keras.
"Jangan menangis terus Baek, telingaku sakit. Sebaiknya sekarang kita memasak ikan untuk makan siang saja. Kau pasti lapar kan?"
Baekhyun sontak berhenti menangis.
.
.
.
"Aku sudah mencampur ikannya dengan bumbu masak. Sekarang kau tinggal menggorengnya dengan minyak panas"
"Bagaimana jika kompornya meledak lagi?"
"Putar tombolnya sampai terdengar bunyi 'KLIK'"
KLIK
Baekhyun tersenyum kekanakan ketika kompornya menyala.
"Sekarang celupkan ikannya"
SRRASSHH
"AAAAHHHH"
Baekhyun langsung berjengit kaget ketika minyak goreng itu menciprat kearah tubuhnya.
"Chanyeol perih hiks"
Chanyeol berdecak.
"Makanya pelan-pelan, jangan kau ceburkan begitu. Celupkan pelan-pelan dari arah samping"
Chanyeol akhirnya mencontohkan cara menggoreng ikan yang benar.
"Apinya juga jangan terlalu besar"
Baekhyun memangguk paham meskipun ia sendiri agak sedikit menjauh khawatir terkena cipratan minyak lagi.
"Sekarang kau sudah paham kan? Goreng ikan ini sampai berwarna kecoklatan. Aku mau menjemur pakaian dulu"
Baekhyun mengangguk singkat.
.
.
.
Padahal Chanyeol hanya meninggalkan Baekhyun selama 15 menit tapi pria kecil yang berstatus sebagai istrinya itu sudah kembali membuat ulah.
"Gosong ya?"
Chanyeol mengusap wajahnya frustasi. Kenapa masih tanya? Hitam legam seperti ini masa bisa dimakan.
"Chanyeol maafkan Baekkie, Baekkie tadi takut sekali minyak nya mengenai tangan Baekkie lagi. J-jadi i-ikannya tidak Baekkie angkat"
Chanyeol menghela nafasnya kasar, padahal perutnya sudah keroncongan sedari tadi.
"Kemari, duduk disampingku"
Sambil menunduk takut Baekhyun duduk disamping tempat duduk Chanyeol.
"Kau tunggu disini sebentar"
Pria tinggi itu beranjak pergi sebentar meninggalkan Baekhyun seorang diri.
Baekhyun sudah pasrah, Chanyeol sepertinya akan memukulnya kali ini. Ia sudah terlalu sering menyusahkan suaminya itu.
Chanyeol akhirnya kembali ke dapur, kali ini ia duduk tepat dihadapan Baekhyun.
"Kemarikan tangan mu"
Baekhyun terlihat sangat ketakutan.
"A-apa yang a-akan kau lakukan?"
"Sudah, kemarikan saja tanganmu"
Ia menarik tangan Baekhyun secara paksa.
Si pria kecil sontak menutup matanya rapat. Mungkin Chanyeol akan mematahkan lengannya.
"Ahhhh"
Baekhyun meringis, perih sekali.
Ia membuka matanya sedikit lalu termenung kemudian. Chanyeol tidak berusaha untuk mematahkan lengannya. Ia hanya sedang mengoleskan salep anti luka bakar di pergelangan tangannya.
"Tahan sebentar"
Ia meniup luka itu dengan pelan.
Baekhyun sontak saja langsung merasa tersentuh. Lagi-lagi Chanyeol menunjukan sikapnya yang manis dan gentle.
Harus Baekhyun akui, dibalik sikapnya yang tegas dan suka marah-marah, Chanyeol memang cukup perhatian sebagai seorang suami.
Dia benar-benar tipikal suami idaman.
"Selesai"
"G-Gomawo"
Baekhyun mendadak tergagap.
"Ayo kita cari makan diluar, perutku lapar sekali"
"M-maafkan aku Chanyeol, gara-gara aku ikannya jadi-"
"Sudah jangan dibahas lagi"
Si pria tinggi akhirnya bangkit dan menggenggam lembut tangan sang istri mengajaknya pergi untuk mencari makan diluar.
.
.
.
Chanyeol mengajak Baekhyun makan siang di sebuah kedai ayam bakar yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah mereka.
Lagi-lagi, pemilik kedai ini adalah sahabatnya Chanyeol juga yang bernama Yoon Doojun. Dan karena kedai ini milik sahabatnya Chanyeol, mereka berdua jadi mendapat potongan harga dari ayam bakar yang mereka pesan.
"Ini ayam bakar spesial yang kalian pesan. Ayam goreng kecap manis untuk sahabatku Park caplang dan ayam goreng kecap pedas untuk istrinya Park Baekkie"
Ia sengaja melembutkan suaranya ketika menyebut nama Baekkie.
Baekhyun hanya tersenyum kecil dan berucap terimakasih sedangkan sang suami hanya terkekeh pelan.
"Terimakasih Doojun ah"
"Sama-sama bung, nikmati makanan kalian oke?"
Doojun langsung pamit untuk membuat pesanan ayam bakar yang lain.
"Kau tetap tidak mau makan di kedai kecil seperti ini?"
Baekhyun sontak buru-buru menggeleng.
"A-ani, aku akan makan kok"
Mereka berdua makan dengan hening dan terus fokus pada makanan masing-masing.
Agaknya Chanyeol sedikit terganggu ketika secara tak sengaja atensinya menatap beberapa anak SMA yang duduk di meja samping tempat Chanyeol duduk.
Kelima remaja tanggung itu tampak kompak melongo bersamaan sambil menatap kolong meja mereka.
Chanyeol yang dibuat penasaran akhirnya melihat kebawah kolong mejanya dan menghela nafas kemudian.
Ia baru sadar sedari tadi Baekhyun masih menggunakan hotpants super pendek diatas paha. Paha mulusnya bahkan terekspose dengan sangat jelas dan itu menjadi tontonan gratis bagi para remaja tanggung itu.
Pantas saja mereka tidak berkedip daritadi. Ada tontonan menarik rupanya.
"Doojun ah, boleh aku pinjam serbet?"
"Serbet, untuk apa?"
"Aku hanya memerlukannya saja"
Doojun yang tampak tidak manaruh curiga sama sekali langsung memberikan sebuah serbet panjang pada sahabatnya itu.
"Terimakasih"
Si pria tinggi langsung bangkit dari tempat duduknya dan berjalan memutari tempat duduk Baekhyun.
Dengan gerakan cepat ia menarik kursi Baekhyun lalu kemudian ia tutupi paha sang istri dengan serbet itu.
Baekhyun sontak saja terkejut.
"Chanyeol apa yang kau lakukan?"
"Banyak sekali kucing liar disini, kau harus berhati-hati"
Ucapnya sarkas sambil melirik sinis sekumpulan remaja tanggung itu.
Merasa tersindir, sekumpulan remaja tanggung itu pun kompak menundukan kepala mereka dan berpura-pura sibuk dengan ponsel masing-masing.
"Maksudnya?"
"Lupakan. Habiskan makananmu"
Chanyeol kembali duduk di tempat duduknya, ia sedikit mengernyit melihat ada bulir nasi yang menempel di sudut bibir sang istri.
Pria itu secara refleks menyentuh sudut bibir sang istri dan mengusapnya lembut.
"Ada bulir nasi disudut bibirmu. Makanmu sangat berantakan Park Baekhyun"
Ia lantas kembali melanjutkan makan siangnya tanpa memperdulikan ekspresi wajah sang istri yang langsung berubah.
"Permisi, aku mau pesan ayam bakar untuk anakku"
DEG
Chanyeol langsung mematung begitu mendengar suara lembut seorang wanita dibelakangnya.
"Ah tentu, tunggu sebentar ya nona"
Ucap Doojun membalas ramah ucapan si wanita.
"Ne.. "
Wanita itu tersenyum cantik, selanjutnya ia nampak kebingungan mencari tempat duduk karena sudah penuh.
Ia kemudian melirik seorang anak kecil disampingnya yang tengah sibuk meminum susu strawberry ditangannya.
Si anak kecil itu tampak menyipitkan matanya pelan ketika secara tak sengaja ia menatap punggung seorang pria yang sangat familiar untuknya.
Tanpa berpikir dua kali, anak itu langsung berlari menggiring kaki-kaki kecilnya untuk menemui si pria tinggi.
"Chanyeol kau kenapa? Kau terlihat sangat gelisah"
Chanyeol tidak menjawab, ia pura-pura fokus pada ayam bakar pesanannya.
"Appa.. "
DEG
Baekhyun sontak menoleh begitu seorang anak kecil yang sangat lucu datang menghampiri meja mereka dan memanggil Chanyeol dengan sebutan appa.
"Ternyata benar, Chanyeol appa.. Kookie sangat merindukan appa"
Ucap si anak sambil berjingkrak-jingkrak senang.
Baekhyun menutup mulutnya shock. Apa ini? Chanyeol sudah punya anak? Tapi bukankah Chanyeol itu belum pernah menikah sebelumnya?
"Kookie sangat merindukan appa"
Anak kecil itu memeluk kaki panjang sang suami dengan erat. Dan diluar dugaan, Chanyeol pun menggendong anak itu dipangkuannya dan mencium kedua pipinya lembut.
"Appa juga merindukan Kookie"
PRAAANG
Baekhyun langsung menjatuhkan sendok ditangannya ke lantai begitu saja.
Ini bahkan jauh lebih mengejutkan daripada berita putusnya Suzy dan Lee Min Ho.
.
.
.
TBC
Chapter 4 is up ~
As always..
I will not force anyone to love this ff, please comment if you like and leave this ff if you do not like it.
See you in the next chap ~
Bye bye :)
