"Chanyeol bagaimana bisa-"
"Nanti aku ceritakan di rumah."
Baekhyun merasa hatinya tertohok, ia memang tidak mencintai Chanyeol. Tapi ia tetap saja kesal jika pria yang kini berstatus sebagai suaminya itu ternyata sudah punya anak.
"Bibi siapa?"
Baekhyun melirik anak kecil yang terlihat lucu dan tampan disaat yang bersamaan itu. Jika diperhatikan secara sekilas, dia memang mirip dengan Chanyeol.
"Memangnya aku terlihat seperti bibi-bibi?" ucapnya yang terkesan agak sinis.
"Baek, jaga nada bicaramu. Jangan sinis begitu pada anak kecil."
Ia mengerucutkan bibirnya kesal, bagaimana bisa ia tidak bersikap sinis jika ada anak yang mengaku sebagai anak dari suamimu tanpa kau ketahui sama sekali?
Ia memotong-motong daging ayam bakar miliknya dengan keras saking kesalnya.
"Appa, Bibi ini siapa?"
Chanyeol melirik anak kecil yang tengah duduk dengan nyaman diatas pangkuannya itu.
"Dia istrinya appa."
"Istri? Apa itu istri?"
Chanyeol hanya tersenyum, ia tidak menanggapi ucapan si anak kecil.
"Kookie lapar? Kookie mau makan?"
Anak kecil yang di panggil Kookie itu mengangguk antusias. "Ne, Kookie lapar."
Pria berusia 30 thn itu kemudian memotong daging ayam bakar miliknya dan menyuapkannya pada sang anak.
"Enak?"
Kookie mengangguk lagi. "Enak."
Perasaan Baekhyun semakin dibuat kesal setelah melihat itu, Chanyeol begitu perhatian pada anak kecil yang baru pertama kali ia lihat. Begitu juga Kookie yang terlihat sangat manja dan seolah sengaja mencari perhatian pada Chanyeol.
"Chanyeol aku juga lapar."
Chanyeol sedikit dibuat mengernyit dengan ucapan istrinya. "Bukankah kau memang sedang makan?"
"Aku mau disuapi."
"Apa?"
"Baekkie juga mau disuapi." ucapnya agak sedikit berteriak hingga menarik perhatian seluruh pengunjung.
"Kau bisa makan sendiri Baekhyun ah." balas sang suami yang kemudian menghela nafas.
"Tapi Baekkie maunya disuapi." Baekhyun terus merengek dengan manja.
"Berhenti bersikap kekanakan dan makanlah makanan mu dengan tenang."
"Kekanakan."
"Apa?" Baekhyun sontak mendelik kesal mendengar ucapan bernada polos dari anak kecil yang juga tengah menatapnya polos itu.
Kookie hanya tersenyum ceria sambil menunjukan deretan gigi putihnya.
Oke, Baekhyun tau ia tidak bisa marah pada anak kecil. Tapi tetap saja ia merasa kesal.
"Chanyeol."
Seorang perempuan yang harus Baekhyun akui sangat cantik tiba-tiba datang menghampiri meja mereka dan langsung menyebut nama suaminya. Ia melirik kearah Chanyeol yang langsung menegang mendengar suara dari si wanita itu.
"Chanyeol apa kabar? Sudah lama tidak bertemu."
Chanyeol tidak menjawab, ia hanya tersenyum dan mengangguk canggung. Baekhyun bukannya tidak sadar jika suaminya itu terlihat salah tingkah.
"Apa dia istrimu?"
"Ne, dia istriku. Namanya Baekhyun."
"Annyeonghaseo Baekhyun ssi, aku Irene. Aku temannya Chanyeol." ucapnya sambil mengulurkan tangan untuk berjabat tangan yang langsung disambut baik oleh Baekhyun.
"Senang bertemu denganmu Irene ssi, aku Baekhyun."
Irene tersenyum. "Ne.."
"Kookie apa yang kau lakukan disitu? Ayo kita pulang. Ayam bakar pesanan eomma sudah jadi."
"Kookie tidak mau eomma, Kookie ingin bersama appa." ucap sang anak sambil memeluk tubuh ayahnya erat.
"Tapi ayahmu sedang sibuk Kookie ya, kita tidak boleh mengganggu."
"Tidak apa-apa Joohyun ah, Kookie sama sekali tidak mengganggu."
Joohyun? Siapa itu? Apa itu nama asli dari si wanita ini? Mereka berdua terlihat begitu akrab. Baekhyun terus terdiam memperhatikan.
"Tidak bisa begitu Chanyeol, aku takut istrimu merasa tidak nyaman."
"Tapi eomma-"
"Tidak ada tapi-tapian sayang, ayo kita pulang."
Kookie tampak menunduk lesu, ia kemudian turun dari pangkuan Chanyeol sambil menatap wajah Chanyeol sedih.
"Tidak usah sedih begitu, nanti appa main kerumah." Chanyeol berucap sambil mengusap rambut anak itu dengan lembut.
"Kookie mau appa menginap lagi."
"Iya nanti kapan-kapan appa menginap lagi."
Chanyeol mencium kening Kookie dengan lembut, ia kemudian menatap Irene dengan intens.
"Hati-hati, jaga Kookie dengan baik."
Irene tersenyum. "Ne, tentu saja. Kalau begitu aku permisi. Baekhyun ssi, aku pamit."
Baekhyun mengangguk pelan.
Pria cantik itu tampak mengepalkan tangannya erat setelah kepergian Irene dan Kookie.
Matanya bahkan mulai berkaca-kaca.
"Hiks."
.
.
.
"Akhirnya sampai juga."
Heechul duduk dengan santai di depan teras rumah setelah pergi ke tukang pijat. Sekarang pinggangnya sudah tidak terasa sakit lagi.
"Ngomong-ngomong kenapa sepi sekali? Chanyeol dan Baekhyun kemana?"
"EOMMA."
GREPP
Heechul terlonjak kaget ketika Baekhyun tiba-tiba saja muncul, berlari dan kemudian memeluknya erat.
"Eomma, hiks.."
"Ada apa Baekhyun ah? Kenapa kau menangis?"
"Chanyeol hiks.. Dia sudah membohongi Baekkie hiks.. "
"Apa maksudmu Baekhyun ah? Eomma tidak mengerti."
"Chanyeol sudah pernah menikah eomma, dia sudah punya anak."
"Apa? Apa kau bercanda?"
"Ani, Baekkie tidak bercanda. Baekkie melihatnya sendiri. Chanyeol sudah punya anak huweee."
"Eh sudah-sudah jangan menangis lagi."
"Baekhyun." Chanyeol muncul, dan berjalan pelan menuju rumah keluarga Kang.
"HUWEEEE." Melihat itu Baekhyun jadi semakin histeris dan memeluk ibunya erat. Heechul hanya menatap Chanyeol dengan tatapan bingung seolah meminta penjelasan.
Chanyeol menghela nafasnya pelan. "Baekhyun bertemu Kookie di kedai ayam bakarnya Doojun.. "
Heechul membulatkan matanya terkejut lalu tertawa kemudian.
"Ahahahaha.. "
Baekhyun mengernyit bingung, kenapa ibu mertuanya tertawa?
"Jadi kau menangis karena Kookie?"
Baekhyun mengangguk lesu.
"Kau tidak perlu khawatir sayang, Kookie itu memang anak Chanyeol. Tapi bukan anak kandung, hanya semacam anak angkat."
"Eh?"
"Kookie itu lahir tanpa tau siapa ayah kandungnya, sejak kecil ia sudah di urus oleh Chanyeol. Maka dari itu Kookie memanggil Chanyeol dengan sebuatan appa. Chanyeol juga sangat menyanyangi Kookie layaknya anak sendiri." ucap Heechul sambil menggenggam lembut tangan sang menantu.
"Kau tidak perlu khawatir, Chanyeol tidak mungkin membohongimu. Dia masih perjaka ting ting."
Entah kenapa Baekhyun mendadak jadi malu sendiri mendengar ucapan sang ibu mertua, ia sudah menuduh Chanyeol yang tidak-tidak.
Ia menatap suaminya itu yang hanya berdiri diam sambil menatap kearahnya.
"M-maafkan aku C-Chanyeol, a-aku sudah berpikiran buruk tentangmu."
"Lupakan." balas sang suami singkat lalu pergi kerumah sebelah untuk kembali merenovasi rumah mereka yang hampir selesai.
.
.
.
"Seharusnya kau tidak perlu melakukan ini Baekhyun ah, eomma jadi merasa tidak enak."
"Tidak apa-apa eomma, Baekkie senang melakukannya."
Setelah Baekhyun yang menangis sambil terus meminta maaf pada Chanyeol namun hanya berakhir dengan di acuhkan oleh si pria tinggi. Pria cantik itu akhirnya memilih masuk ke rumah sambil memijat kaki sang ibu mertua.
"Terimakasih sayang, kau benar-benar menantu yang baik.. "
"Sekali lagi Baekkie minta maaf eomma, karena Baekkie eomma jadi terpeleset."
"Tidak apa-apa Baek, eomma sangat memaklumi dirimu. Ayahmu sudah menceritakan semuanya pada eomma. Kau memang tidak terbiasa dengan pekerjaan rumah. Justru eomma yang merasa tidak enak, kau yang terbiasa di layani sekarang kau harus mengerjakan semuanya sendiri."
Baekhyun tersenyum miris. Jujur saja ia juga sangat tidak menyukai kehidupan yang seperti ini, tapi mau bagaimana lagi? Ayahnya itu sama sekali tidak mengerti perasaannya.
"Oh iya eomma, apa Baekkie boleh bertanya sesuatu?"
"Apa itu?"
"Tadi Baekkie bertemu perempuan cantik bernama Irene yang mengaku sebagai ibunya Kookie, ia juga bilang dia temannya Chanyeol. Mereka terlihat cukup akrab."
Heechul tersenyum sejenak.
"Irene itu mantan kekasihnya Chanyeol, dan jujur saja sampai saat ini Chanyeol masih belum bisa melupakan wanita itu."
"Benarkah?" pantas saja Chanyeol terlihat salah tingkah tadi.
Heechul mengangguk. "Mereka berpacaran kurang lebih sekitar 3 thn, sebelum bertemu dengan ayahmu, Chanyeol sebenarnya sudah berencana menikah dengan Irene. Tapi eomma tidak merestui hubungan mereka."
"Kenapa?"
"Irene itu seorang wanita malam, eomma tidak begitu suka."
DEG
Baekhyun tidak cukup bodoh untuk tidak mengetahui arti dari kalimat wanita malam yang di ucapkan Heechul.
"Dia bekerja di sebuah Cafe remang-remang sebagai penyanyi trot sekaligus pekerja seks komersial disana, Kookie bahkan lahir tanpa ayah yang jelas. Sampai sekarang tidak ada yang tau siapa ayah kandung dari anak lelaki yang malang itu."
Hati Baekhyun seolah tercubit mendengarnya, tadinya ia begitu kesal dengan anak bernama Kookie itu. Tapi setelah mendengar cerita dari Heechul entah kenapa perasaan kesal itu langsung menguap dan tergantikan oleh rasa iba.
"Berulang kali eomma melarang Chanyeol untuk berhubungan dengan Irene tapi Chanyeol seolah menutup telinganya rapat-rapat. Ia sudah sangat dibutakan oleh cintanya pada wanita itu. Kau tau Baek? Chanyeol bahkan membayar seluruh biaya persalinan Irene dengan tabungan pribadinya."
"Sampai seperti itu?"
Heechul mengangguk. "Benar, Chanyeol bahkan tidak peduli meskipun banyak lelaki yang tidur dengan wanita itu. Baginya, selama ia masih bisa bersama Irene, apapun tidak akan menjadi masalah."
"Sebentar, jika Irene itu seorang pekerja seks apa mungkin Chanyeol pernah.. Ehhhm.. C-Chanyeol pernah tidur dengannya?" tanya Baekhyun yang mulai merasa khawatir.
"Entahlah, eomma juga tidak tau. Tapi eomma yakin Chanyeol tidak seperti itu. Dia pria yang baik."
Tubuh Baekhyun mendadak lemas mendengarnya, bagaimana jika Chanyeol memang sudah pernah berhubungan dengan wanita itu?
"Lalu, kenapa mereka bisa berpisah?"
"Irene memutuskan untuk mundur, ia merasa tidak pantas untuk menjadi istri Chanyeol. Ia juga tau jika eomma memang tidak pernah merestui hubungan mereka. Maka dari itu ia langsung membatalkan rencana pernikahan mereka. Padahal Chanyeol sudah menyebar banyak undangan pernikahan."
"Apa eomma membenci Irene?"
"Sebenarnya tidak, eomma tidak pernah membenci siapapun. Irene itu wanita yang baik. Tapi karena himpitan ekonomi yang begitu besar dia terpaksa melakukan pekerjaan itu."
"Lalu bagaimana dengan Kookie? Maksudku di kedai tadi ia sempat mengatakan jika Chanyeol harus menginap lagi dirumahnya. Apa itu berarti Chanyeol memang sering menginap di rumah Irene?"
"Iya, Chanyeol memang cukup sering menginap disana untuk menemani Kookie ketika ibunya sedang bekerja. Tapi sekarang sudah tidak lagi, eomma melarang Chanyeol untuk menginap disana dan lebih memilih membawa Kookie untuk menginap dirumah kami."
Baekhyun mengangguk mengerti. Heechul menggengam tangan sang menantu dengan erat.
"Sekarang adalah tugasmu Baek."
"Tugas apa eomma?"
"Tugas untuk membuat Chanyeol berpaling dari Irene."
"Apa?"
"Sebagai seorang istri kau harus bisa membuat suamimu hanya memandang dirimu seorang. Chanyeol selama ini sudah cukup menderita karena perasaannya pada Irene tidak berakhir bahagia. Eomma yakin kau bisa membuat Chanyeol berpaling padamu."
Baekhyun tersenyum canggung. Ia tidak tau apakah dia bisa atau tidak.
"Aku akan berusaha eomma."
.
.
.
"Eomma, apa Chanyeol itu bekerja?"
"Ya tentu saja."
"Dia bekerja di bidang apa?"
Heechul nampak berpikir sejenak.
"Hmmm, Pekerjaan Chanyeol itu tidak tetap. Dia bekerja jika ada orang yang memintanya untuk bekerja. Biasanya Chanyeol bekerja sebagai pekerja kasar. Entah itu kuli bangunan, tukang angkut beras atau yang lainnya. Ia juga menerima jasa perbaikan listrik atau alat-alat elektronik dan kendaraan bermotor juga."
"Chanyeol bisa memperbaiki listrik? Seperti seorang teknisi begitu?"
Heechul mengangguk. "Ya, seperti itulah."
"Wow, darimana Chanyeol mendapat keahlian itu? Apakah ia kuliah?"
"Tidak, Chanyeol tidak kuliah. Dia belajar dari mendiang ayahnya. Dulu ayah Chanyeol juga bekerja di bidang yang sama."
"Bukankah bekerja menjadi teknisi instalasi listrik itu penghasilannya cukup besar?"
"Ya memang, tapi itu jika Chanyeol bekerja disebuah instansi atau perusahaan yang memang membutuhkan tenaga seorang teknisi. Tapi Chanyeol tidak begitu. Ia hanya bekerja sendiri, ia bekerja jika ada yang memanggil. Ia juga dibayar se ikhlasnya saja, Chanyeol tidak pernah mematok harga yang mahal."
"Kenapa begitu?"
"Chanyeol tidak begitu suka bekerja pada perusahaan, ia lebih suka kerja sendiri. Ia juga bekerja tidak semata-mata untuk mencari uang, tapi lebih kepada keinginannya untuk membantu meringankan pekerjaan orang lain."
Baekhyun mengangguk lucu. "Oh begitu.. Lalu apakah besok apa Chanyeol sudah mulai bekerja lagi?"
"Iya sudah, besok hari Senin. Ada sebuah proyek pembangunan jalan tol baru dan Chanyeol di percaya untuk menjadi salah satu pekerja disana."
"C-Chanyeol juga bekerja untuk membuat jalan tol?" tanya Baekhyun yang terdengar sangat terkejut.
"Iya begitulah, gaji nya juga cukup besar. Setidaknya Chanyeol akan bekerja untuk beberapa bulan kedepan sampai pembangunan jalan tol benar-benar usai."
Entah kenapa mendengar itu Baekhyun jadi merasa was-was.
"Kenapa pekerjaan Chanyeol terdengar begitu mengerikan semua? Eomma, bagaimana jika Chanyeol tertimpa beton atau alat berat karena pekerjaan itu? Bagaimana jika Chanyeol tersengat listrik karena pekerjaannya yang lain juga? Kenapa ia tidak mencari pekerjaan yang lebih mudah saja?"
"Pekerjaan apa Baek? Chanyeol itu hanya lulusan SMA, dia tidak punya gelar atau keahlian lain selain melakukan pekerjaan itu."
Baekhyun sontak terdiam. "B-bukan begitu eomma, Baekkie hanya kh-khawatir saja."
"Kau tidak perlu khawatir, Chanyeol sudah melakukan banyak pekerjaan berbahaya selama setengah dari usianya. Dia adalah pria yang sangat jantan dan tangguh." ucap Heechul sambil tersenyum memuji anak kebanggaannya itu.
Baekhyun mengangguk mengerti. "Apa Chanyeol memang berkeinginan untuk bekerja seperti ini dari kecil? Maksudku apakah dia punya passion di bidang lain?"
Heechul tertawa. "Kau bercanda? Mana mungkin ada yang mau menjadi pekerja kasar, eomma tau Chanyeol juga tidak suka hidup seperti ini. Tapi ini adalah suratan takdir dari yang maha kuasa. Jika boleh jujur Chanyeol itu sangat ingin menjadi seorang tentara, tapi harapannya itu tidak pernah terwujud karena ia tidak punya biaya untuk masuk akademi militer. Chanyeol sangat bahagia ketika ia masuk wajib militer beberapa thn lalu, setidaknya ia bisa merasakan menjadi seorang tentara meskipun hanya sesaat. Eomma sering menangis jika mengingat itu, sebagai orang tua eomma bahkan tidak sanggup untuk membiayai sekolahnya."
"Eomma."
Baekhyun lantas memeluk ibu mertuanya itu dengan lembut ketika mata Heechul mulai berkaca-kaca.
"Eomma jangan bicara seperti itu, Baekkie jadi terharu."
Heechul tertawa pelan sambil mengusap airmatanya. "Iya, eomma bersyukur Chanyeol bukanlah anak yang suka menyusahkan orangtuanya. Ia sangat mengerti bagaimana kondisi orangtuanya. Ia bahkan hampir tidak pernah meminta uang pada eomma sewaktu ia sekolah dulu."
Sedikitnya Baekhyun merasa rendah diri jika dibandingkan dengan Chanyeol. Ia begitu dewasa dan mampu bersikap mandiri, begitu berbeda dengan dirinya yang sedari kecil hanya bisa menyusahkan orangtuanya saja.
.
.
.
"Ini baju seragam yang akan Chanyeol pakai besok."
Baekhyun melihat sebuah kemeja lengan panjang berwarna abu-abu lengkap dengan celananya yang juga nantinya akan dilengkapi dengan rompi tebal, sarung tangan, sepatu boots dan helm khusus untuk pekerja pembangunan jalan.
"Sekarang eomma akan menunjukan padamu cara menyetrika pakaian suamimu dengan benar. Kau perhatikan baik-baik ya."
Baekhyun mengangguk. "Ne, eomma."
"Pertama, kau siapkan papan khusus setrika lalu kemudian kau sambungkan kabel setrikaannya pada lubang stop kontak ini. Setelah itu tunggu sampai panas, jika terlalu panas kau putar-putar saja tombolnya sampai suhunya sesuai."
Baekhyun memperhatikan semuanya dengan teliti.
"Mulai lah menyetrika dari bagian tangan terlebih dahulu, lalu kerah dan bagian lainnya. Lalu setelah itu, kau setrika bagian belakangnya juga. Setelah selesai, kau lipat pakaiannya sampai rapih seperti ini."
Pria cantik itu begitu kagum melihat Heechul yang sangat lihai menyetrika pakaian milik Chanyeol. Hasilnya sangat rapi.
"Mungkin kau memang tidak suka pekerjaan semacam ini, tapi mau tidak mau kau harus tetap melakukannya. Ini tugas dan kewajibanmu sebagai seorang istri. Kau pasti tidak mau kan jika pakaian suamimu di setrika oleh wanita lain?"
"T-tentu tidak eomma." Baekhyun menggeleng cepat.
"Maka dari itu kau harus bisa mengurus suamimu dengan baik. Sekarang kau coba setrika celana Chanyeol."
"Baik eomma."
Baekhyun mengambil celana itu dan mulai menyetrika celana Chanyeol dengan hati-hati.
"Seperti ini?"
"Iya, sudah benar. Tapi kau harus lebih banyak berlatih lagi."
"Ne." Baekhyun tersenyum senang.
Setelah selesai menyetrika pakaian milik Chanyeol, Heechul kemudian mengajak Baekhyun untuk menyemir sepatu Chanyeol.
Pria cantik itu terlihat begitu hati-hati dan begitu takut ia membuat kesalahan.
Baekhyun menyemir dari bawah keatas, dan begitu seterusnya.
Heechul tampak tersenyum kecil melihatnya, meskipun Baekhyun itu tidak bisa melakukan pekerjaan rumah tangga dengan baik tapi setidaknya ia mau berusaha untuk menjadi istri yang baik bagi putranya Chanyeol.
"Kau melakukannya dengan baik Baekhyun ah."
.
.
.
Pukul 6 sore, Chanyeol baru selesai mandi dan tampak kebingungan mencari pakaian di lemarinya. Ia hanya menggunakan handuk putih yang melingkar di pinggangnya.
CKLEK
"Chanyeol."
Chanyeol menoleh dan melihat Baekhyun masuk sambil membawa pakaian nya yang sudah disetrika.
"Aku sudah siapkan pakaian untukmu."
Pria tinggi itu mengernyit. "Kau menyetrika pakaian ku?"
Baekhyun mengangguk. "Iya, aku di ajari eomma."
Chanyeol terdiam sejenak, ia mengambil kaos dan celana pendek yang sudah disiapkan Baekhyun. Hasilnya lumayan rapi meskipun belum serapih ibunya.
"Dan ini seragam kerjamu besok, aku juga sudah menyetrika nya sekalian."
Baekhyun menyimpan pakaian itu ke dalam lemari.
"Terimakasih." ucap Chanyeol singkat.
Baekhyun mengangguk. "Kalau begitu, aku pergi."
"Tunggu sebentar."
Baekhyun sontak berbalik. "Ada apa?"
Chanyeol menatap pergelangan tangan dan jari-jari sang istri dengan intens. "Tanganmu terluka."
Pria cantik itu refleks melihat tangannya sendiri. "Ah, tadi jari tanganku teriris pisau ketika membantu eomma memasak."
"Kenapa tidak di obati?"
"Aku akan mengobatinya nanti."
Chanyeol menghela nafasnya kemudian. Ia menarik tangan sang istri lembut dan menyuruhnya untuk duduk di tepi ranjang. Ia kemudian membuka laci meja nakas dan mengambil beberapa plester luka bermotif beruang.
"Kau harus segera mengobatinya sebelum infeksi." Ucapnya pelan sambil memasang plester itu di jari tangan Baekhyun.
Baekhyun tidak menjawab, lagi-lagi Chanyeol menunjukan sikapnya yang lembut dan perhatian.
"Sudah."
"T-terimakasih." Baekhyun mendadak salah tingkah, ia jadi tidak tau harus berbuat apa.
"Sekarang kau keluar dulu, aku mau pakai baju. tidak mungkin kan aku telanjang dihadapanmu?"
"B-baik, a-aku keluar." balas yang lebih kecil dengan nada terbata-bata.
BRAAKK
Baekhyun keluar sambil membanting pintu kamar dengan keras.
Chanyeol tersenyum kecil melihatnya. Ia alihkan tatapannya kearah lain dan tak sengaja netranya melirik meja nakas disamping lemari. Disana ada banyak sekali alat-alat kecantikan milik istrinya. Ia melihat body lotion, toner, milk cleanser, krim wajah, bedak, lip balm, eyeliner, vitamin rambut dan juga parfum.
Semua barang-barang itu merupakan barang-barang import dari luar yang Chanyeol juga tau harganya sangatlah mahal.
Chanyeol jadi berpikir, apakah ia bisa memenuhi segala kebutuhan Baekhyun sebagai istrinya? Harga alat-alat kecantikan Baekhyun saja sudah seharga penghasilannya selama setahun. Lalu bagaimana dengan kebutuhannya yang lain? Apa ia bisa menjadi suami yang baik untuk pria mungil itu?
'Entahlah.. ' gumamnya dalam hati sambil menghela nafas.
.
.
.
Keesokan paginya, tepat pukul 6 pagi Chanyeol sudah duduk di depan meja makan dengan sepiring nasi goreng kimchi dan secangkir kopi hitam. Ia melirik Baekhyun dan Heechul yang berdiri tidak jauh dari hadapannya dengan alis yang sedikit bertaut.
Pagi-pagi sekali ia sudah dibuat kaget dengan Baekhyun yang tiba-tiba saja membangunkannya dengan suara yang begitu lembut dan halus. Ia juga sudah menyiapkan air panas untuk nya mandi.
Dan sekarang, setelah ia selesai mandi. Sepiring nasi goreng dan secangkir kopi hitam kesukaannya sudah siap tersedia diatas meja makan.
"Kenapa diam saja Chanyeol? Ayo cepat makan, Baekhyun sudah susah payah membuatkan sarapan untukmu."
Chanyeol terdiam sejenak, ia kemudian berdehem pelan dan mulai menyendok nasi goreng ke dalam mulutnya.
"Ba-bagaimana? A-apa enak?"
Chanyeol sedikit menautkan alisnya pelan, sebelum ia akhirnya mengangguk. "Lumayan, ini masih bisa di makan."
Baekhyun menghembuskan nafasnya lega. Baguslah jika begitu. Ia sengaja bangun pagi-pagi sekali agar bisa membuatkan sarapan untuk suaminya. Dengan dibantu Heechul tentu saja, Baekhyun akhirnya bisa membuatkan sarapan yang cukup enak untuk sang suami.
Chanyeol menghabiskan sepiring nasi goreng dan secangkir kopi buatan Baekhyun sampai habis.
"Aku sudah selesai, aku harus segera pergi."
Chanyeol berdiri dan mencium tangan ibunya. "Hati-hati Chanyeol."
Chanyeol mengangguk sekilas, ia kemudian beralih menatap istrinya dengan intens.
Baekhyun yang ditatap seperti itu mendadak salah tingkah dan menundukan kepalanya sambil memainkan kedua ibu jarinya.
SRETT
DEG
Baekhyun dibuat terkejut ketika Chanyeol tiba-tiba saja melepas jaket miliknya dan memasangkannya pada tubuh Baekhyun.
"Cuaca pagi ini dingin, kau harus jaga dirimu baik-baik."
BLUSSSH.
Wajah Baekhyun sontak memerah sempurna semerah buah ceri.
"Jangan keluar rumah dengan pakaian yang terlalu ketat. Dan terimakasih untuk sarapannya."
Hati Baekhyun serasa menghangat, meskipun hanya sebuah kalimat sederhana seperti itu tapi entah kenapa Baekhyun benar-benar senang mendengarnya.
"K-kau juga jaga dirimu baik-baik Chanyeol, a-aku akan menunggumu pulang nanti sore."
Chanyeol mengangguk sekilas. "kalau begitu aku berangkat."
"Baek, kau tidak melupakan sesuatu kan?" Heechul menyikut lengan Baekhyun dengan pelan.
"Apa?" Baekhyun menatap ibu mertuanya bingung.
"Bukankah tadi pagi kau membuat sesuatu untuk Chanyeol?"
Baekhyun terdiam, lalu setelah beberapa detik ia berteriak kencang.
"CHANYEOL TUNGGU.."
Pria kecil itu berlari dan menghampiri Chanyeol sambil membawa sekotak bekal makan siang untuk sang suami.
"Apa?"
"I-ini, a-aku sudah membuatkan kimbap untukmu."
Chanyeol termenung, ia kemudian menerima kotak bekal itu dengan pelan.
"Terimakasih." ucapnya singkat lalu kemudian berbalik.
"Tunggu."
"Wae?" Chanyeol berbalik lagi, ia cukup dibuat bingung dengan sikap sang istri pagi ini.
Tanpa berbicara sepatah katapun pria bertubuh kecil itu langsung meraih tangan kanan sang suami dan menciumnya lembut.
"Hati-hati di jalan." Ucapnya sambil tersenyum dengan sangat cantik.
DEG
Perasaan Chanyeol seolah berdesir halus dengan sikap Baekhyun yang terkesan sangat manis ini, ia benar-benar merasa dihormati dan di perlakukan dengan istimewa sebagai seorang suami. Entah bagaimana tapi efeknya ia jadi seolah mendapat suntikan energi untuk bekerja pagi ini.
"Ne.." Balas Chanyeol yang juga ikut tersenyum.
"Aku pergi." Chanyeol pergi dengan menggunakan motor Yamaha RX King jadul miliknya.
BRUUMM
"Hati-hati Chanyeol ah."
Chanyeol tersenyum kecil dibalik helm yang ia kenakan, melihat siluet Baekhyun yang melambaikan tangannya dari kaca spion motor miliknya.
Jujur ia begitu terkejut dengan sikap Baekhyun pagi ini. Tapi ia juga senang karena istrinya itu mau belajar untuk merubah sikap.
Semoga saja ia bisa merubah sikap manja dan kekanakan dari istrinya itu..
Ya, semoga saja.
.
.
.
"Baekhyun apakah eomma bisa minta tolong?"
"Ada apa eomma?"
Baekhyun yang tengah menyapu halaman rumah langsung berhenti ketika ibu mertuanya memanggil.
"Begini, sebenarnya eomma ingin kau menemani eomma untuk berjualan sayur di pasar."
"Apa? Berjualan sayur?" Baekhyun membulatkan matanya kaget, ia tidak salah dengar kan?
"Iya, eomma biasanya berjualan sayur di pasar untuk membantu Chanyeol mencari uang. Kau mau membantu eomma kan Baek?" Tanya Heechul dengan penuh harap.
Baekhyun hanya tersenyum canggung, berjualan sayur? Haruskah Baekhyun melakukan itu?
.
.
.
"SAYUR-SAYUR, AYO SILAHKAN DIPILIH. SAYUR SEGAR DIMULAI DENGAN HARGA 1000 WON. SAYUR MURAH TAPI TIDAK MURAHAN. AYO SILAHKAN DIPILIH."
Baekhyun tampak diam memperhatikan sang ibu mertua yang tampak begitu semangat berteriak berusaha menarik perhatian pelanggan. Mereka sekarang sudah berada di sebuah pasar kaki lima yang cukup ramai, Heechul nampak menjual banyak sayuran segar yang Baekhyun sendiri tidak tau darimana ibu mertuanya itu mendapatkannya.
Haruskah ia melakukan itu juga? Yang benar saja? Mana mungkin seorang anak pengusaha kaya seperti dirinya berjualan sayur di pasar? Reputasinya bisa hancur jika sampai teman-temannya tau.
"Baekhyun ah, tolong kau jaga sebentar ya? Eomma harus ke toilet dulu, eomma sudah tidak tahan."
"T-tapi eomma-"
"Sudah, kau layani saja jika ada pembeli. Harganya dimulai dari 1000 Won."
"Eomma.. " Baekhyun rasanya ingin menangis saja ketika sang ibu mertua berlari terbirit-birit mencari toilet. Sekarang ia harus bagaimana?
"Agasshi, aku mau beli sayur."
DEG
Baekhyun dengan cepat menoleh, ada seorang ibu-ibu berbadan gemuk yang membawa keranjang belanjaan ditangannya. Ia terlihat hendak memilih sayuran.
"Aku mau beli 4 buah lobak dan beberapa buah paprika."
Baekhyun terlihat mengerutkan alisnya bingung, lobak? Paprika? Bentuknya saja Baekhyun tidak tau.
"Hmm.. 4 buah lobak dan paprika? Ini.. " Pria cantik itu langsung memberikan apa yang wanita itu minta.
Wanita bertubuh gempal itu tampak mengernyitkan alisnya bingung. "Agasshi, ini bukan lobak tapi kubis. Yang ini juga bukan paprika tapi terong."
"Hah?" Baekhyun tampak menggaruk tengkuknya bingung.
"Ah kalau begitu, ini lobaknya." Ucapnya lagi sambil memberikan apa yang ia kira lobak.
"Agasshi ini ketumbar, bukan lobak." Ucap si wanita yang agaknya mulai kesal.
"S-salah ya? Aduh, lobak itu yang seperti apa ya?" Baekhyun terlihat cukup panik sekarang.
"Ah yang ini pasti paprika kan?" Baekhyun kembali menunjukan sesuatu yang ia pikir paprika, ia benar-benar berharap kali ini ia tidak salah.
Wanita itu menghembuskan nafasnya kesal. "Agasshi kau mau bermain-main denganku ya? Itu tomat, bukan paprika!"
Baekhyun menunduk sedih, manusia macam apa dia? Paprika dan lobak saja ia tidak tau.
"Sudahlah, aku tidak jadi beli kalau begitu."
"Eh? T-tunggu nyonya.. " Baekhyun berdecak hanya bisa berdecak sebal pada akhirnya.
"Aboeji, Baekkie mau pulang huweeeee."
.
.
.
"Aku tidak menyangka akan menginjakan kaki di tempat menjijikan seperti ini. Semoga ini pertama dan terakhir kalinya aku kesini."
Jisoo dan Lisa, dua perempuan cantik yang terdaftar sebagai mahasiswi di sebuah universitas populer di Korea Selatan itu tampak menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung pasar karena penampilan mereka yang terlalu glamour untuk ukuran seseorang yang berjalan di pasar kaki lima seperti ini.
"Ini semua karena ayahku, jika bukan karena mobil dan kartu kreditku yang ditahan aku tidak akan mau datang kemari."
"Sudahlah, sekarang sebaiknya kita beli apa yang di cari ayahmu lalu pergi secepat mungkin dari tempat ini."
Mereka berdua tampak begitu jijik dengan suasana dan lingkungan pasar yang begitu kotor dan ramai.
"Agasshi, aku mau beli bayam. Kenapa kau memberikanku kubis?"
Kedua wanita cantik itu tampak langsung menoleh ketika melihat seorang ahjumma yang tampak berteriak memarahi seorang penjual sayuran.
"Lisa ya, bukankah itu Baekhyun?"
"Baekhyun? Mana?"
"Itu, yang sedang berjualan sayur itu."
Jisoo menunjuk-nunjuk seorang tukang sayur yang sedang dimarahi oleh seorang pelanggan. Lisa mengikuti arah tangan Jisoo dan sontak membulatkan matanya kaget.
"Yatuhan kau benar, itu Baekhyun. Bagaimana bisa dia berjualan sayur di tempat seperti ini?"
"Aku tidak tau, sebaiknya kita kesana." ucap Jisoo yang juga terlihat cukup terkejut.
"Aku tidak jadi beli. Aku pergi!"
"Eh nyonya tunggu jangan pergi, ini bayam yang anda minta."
"Baekhyun ah?"
DEG
Baekhyun refleks menoleh.
"Benar kau Baekhyun. Astaga, apa yang kau lakukan disini?" Lisa tampak begitu terkejut karena itu memang benar Baekhyun.
"Baekhyun ah, apa terjadi sesuatu? Kenapa kau bisa-" Jisoo sampai tidak bisa berkata-kata lagi menatap penampilan Baekhyun dari atas sampai bawah yang terlihat bukan Baekhyun sekali. Pria itu sekarang jadi terlihat seperti seorang pemuda kampung.
"Ji-Jisoo, Li-Lisa? Bagaimana kalian bisa ada disini?"
"Baekhyun, maaf eomma agak sedikit lama. Oh ada pembeli rupanya." Heechul akhirnya muncul setelah beberapa lama.
"Ahjumma ini siapa Baekhyun ah?" Lisa bertanya dengan nada bingung. Yang ditanya seolah hanya bisa terdiam gagu.
"Oh kalian mengenal Baekhyun? Perkenalkan, aku Heechul. Aku mertuanya Baekhyun."
"Me-mertua? Ba-Baekhyun sudah menikah?" Tanya Jisoo dengan terbata-bata.
"Ne, Baekhyun sudah menikah dengan putraku."
"APA?" Jisoo dan Lisa sontak berteriak kompak hingga mengejutkan Heechul dan beberapa pengunjung lain.
Baekhyun sendiri hanya bisa terdiam kaku sembari menundukan kepalanya malu.
'Siapapun tolong tenggelamkan aku ke Sungai Han.' teriaknya frustai dalam hati.
.
.
.
"Begitulah."
Mereka bertiga duduk melingkar di lantai ruang tamu keluarga Kang setelah pertemuan mereka di pasar tadi, Kang ahjumma dan Minhyuk masih menginap di rumah putri sulung keluarga Kang.
"Entah kenapa aku seperti melihat sebuah drama dalam versi nyata, ayahmu menjodohkanmu dengan seorang pria miskin untuk merubah sifat manjamu. Sungguh cerita yang sangat klasik." Ucap Jisoo menanggapi.
"Pantas saja belakangan ini kau jarang terlihat di kampus." Tambah Lisa kemudian.
"Apa kau akan kembali berkuliah?"
"Aku tidak tau, masa depanku sudah hancur hiks.. "
"Aaahh Baekkie kami yang malang."
Jisoo dan Lisa memeluk Baekhyun dengan erat dan mereka pun menangis bersamaan.
Ya, Baekhyun, Jisoo, dan Lisa adalah tiga serangkai yang telah bersahabat semenjak awal masuk kuliah. Sifat dan karakter ketiganya yang hampir mirip membuat mereka bertiga bisa saling mengakrabkan diri dengan cepat.
"Tapi jujur saja aku masih cukup terkejut karena kau menikah tanpa memberitahu kami. Aku benar-benar merasa di khianati."
"Aku tidak bermaksud begitu Lis, pernikahannya benar-benar di gelar secara mendadak. Yang di undang pun hanya kolega dan teman-teman aboeji saja."
"Ngomong-ngomong suami mu itu kemana? Apa dia bekerja?" Tanya Jisoo yang terlihat mulai penasaran.
"Iya, Chanyeol bekerja."
"Apa pekerjaan nya?"
"Dia seorang pekerja kasar."
"Apa?"
"Dia bekerja jika ada orang yang memintanya untuk bekerja. Sekarang ia tengah bekerja untuk sebuah proyek pembangunan jalan tol."
"Wow, itu mengerikan."
"Ya seperti itulah, tapi itu sudah menjadi tugas dan kewajibannya untuk menafkahi keluarga."
"Apa kau punya fotonya? Aku penasaran sekali."
"Foto? Aku tidak punya."
"Aaaahhh.. " Jisoo dan Lisa mendesah kecewa, padahal mereka penasaran sekali dengan sosok pria yang kini sudah sah menjadi suami dari sahabat mereka.
"Ngomong-ngomong kenapa kalian bisa ada di pasar kaki lima? Apa terjadi sesuatu?"
Lisa tampak mendengus jengkel mendengarnya. "Kardu kredit dan mobilku di sita oleh ayah. Jika aku mau semua fasilitasku di kembalikan aku harus menuruti permintaan ayahku, ayahku ingin aku belajar menjadi istri yang baik untuk Junhoe kelak, maka dari itu ia menyuruhku untuk belanja sayur ke pasar. Aku juga di tuntut untuk bisa memasak dan melakukan segala pekerjaan rumah."
"Kau dan Junhoe benar-benar sudah di jodohkan?"
"Iya begitulah." Ucap Lisa sambil mengangguk lucu.
"Setidaknya nasibmu masih jauh lebih baik, ayahmu tidak menjodohkan mu dengan pria miskin. Tidak seperti aku."
"Ya, setelah melihatmu seperti nya aku harus banyak-banyak bersyukur haha."
"Ngomong-ngomong Baek, kau masih berhubungan dengan Sehun?"
Baekhyun sontak terdiam begitu mendengar pertanyaan Jisoo. Pandangannya berubah menjadi sendu.
"Aku tidak tau, aku masih menunggunya untuk kembali."
"Sudah 2 tahun berlalu dan kau masih mengharapkan pria itu?"
"Aku yakin Sehun akan kembali Jisoo ya."
Jisoo menghela nafas. "Entah kenapa kali ini aku setuju dengan keputusan ayahmu untuk menikah dengan pria lain."
Lisa dan Baekhyun sontak melotot kaget. "Kenapa?"
"Kau tau kan bagaimana ayahmu itu sangat tidak menyukai Sehun? Aku yakin salah satu alasan kenapa ayahmu menjodohkanmu dengan Chanyeol karena ia ingin menjauhkan mu dari Sehun."
Baekhyun terdiam, itu memang benar. Ayahnya memang sangat tidak menyukai Sehun.
"Sehun itu bukan pria yang pantas untukmu. Sekarang kau sudah menikah dan ada baiknya kau hanya menjaga hatimu untuk suamimu yaitu Chanyeol."
"Aku tidak tau, sampai sekarang aku masih sulit untuk melupakan Sehun."
"Kau pasti bisa Baek, ini hanya masalah waktu."
Melupakan Sehun? Apakah Baekhyun bisa?
Heechul diam-diam mendengarkan seluruh pembicaraan mereka di balik pintu kamar.
Ia kemudian tersenyum maklum.
"Chanyeol seperti nya harus bekerja lebih keras.. "
.
.
.
Pukul 12 siang tepat, Chanyeol sedang berada di ruang istirahat khusus para pekerja kasar. Ia sudah bertelanjang dada karena tubuh dan pakaiannya sudah penuh oleh keringat. Pekerjaan kali ini benar-benar menguras tenaganya. Banyak pekerjaan berat yang ia lakukan di mulai dari mengecor jalanan sampai memasang beton penyangga. Baru setengah hari tapi ia sudah merasa kelelahan.
"Chanyeol ah, uang makan untuk hari ini sudah keluar. Ayo kita makan diluar."
Chanyeol menggelengkan kepalanya pelan menolak ajakan dari para pekerja lain.
"Aku bawa bekal sendiri dari rumah."
"Wah siapa yang membuatkannya? Istrimu?"
Ia mengangguk pelan. "Iya, istriku yang membuatkan bekal untukku."
"Ah kau membuatku iri bung, sungguh bahagia sekali laki-laki yang sudah beristri haha."
Chanyeol hanya tersenyum simpul sebagai balasan.
"Yasudah kalau begitu, nikmati makananmu. Aku dan pekerja lain akan cari makan diluar."
"Ne."
Chanyeol duduk di kursi sendirian kemudian ia membuka kotak bekal makan siang yang sudah di siapkan istrinya.
Ia mengambil sepotong kimbap dari dalam sana kemudian mengunyahnya pelan.
"Lumayan." ia tersenyum kecil, rasanya memang tidak seenak buatan ibunya tapi kimbap buatan Baekhyun ini juga cukup enak untuk dimakan.
Sejujurnya ia masih tidak menyangka Baekhyun mau membuatkan bekal makan siang untuknya seperti ini.
Meskipun Chanyeol masih belum memiliki perasaan apapun pada sang istri, tapi suami manapun pasti akan bahagia jika di perhatikan oleh istrinya seperti ini.
"Sepertinya aku harus memberikan sesuatu untuk Baekhyun, Hitung-hitung balasan untuk makan siang ini. Tapi kira-kira aku harus memberikan apa?"
Ia menggelengkan kepalanya pelan, soal itu bisa ia pikirkan nanti. Yang penting sekarang ia makan dulu dan beristirahat untuk memulihkan tenaga.
.
.
.
Tepat pukul 6 sore Chanyeol pulang kerumah, keadaannya sudah sangat lusuh dan penuh dengan keringat. Chanyeol benar-benar kelelahan dan tubuhnya terasa sakit semua. Ia benar-benar butuh istirahat sekarang.
CKLEK
"Selamat datang."
DEG
Chanyeol terkejut ketika ia membuka pintu dan mendapati Baekhyun yang berdiri menyambutnya di depan pintu.
Pria tinggi itu sontak terpaku layaknya patung. Cantik, Baekhyun benar-benar cantik. Pria cantik itu menggunakan kaos lengan panjang berwarna putih yang memperlihatkan bahu mulusnya. Dibawahnya ia hanya menggunakan celana bahan tipis diatas lutut.
Kedua matanya terlihat polos dan tajam secara bersamaan karena pengaruh eyeliner yang ia pakai. Baekhyun juga sepertinya menggunakan sedikit bedak dan perekah bibir. Rambutnya ia biarkan berantakan tanpa di sisir, jujur saja itu terlihat sangat sexy di mata Chanyeol.
"Kau sudah pulang?"
Chanyeol bisa merasakan dadanya berdesir halus ketika lantunan suara lembut dan manis dari sang istri tertangkap indera pendengarannya. Belum lagi senyuman teramat manis yang ditunjukan Baekhyun membuat Chanyeol sedikit tertegun.
Baekhyun berjalan pelan, ia menuntun tangan sang suami dengan lembut untuk duduk di ruang tamu. Lalu kemudian ia berjongkok dan membuka ikatan tali sepatu sang suami.
Chanyeol sontak menahan gerakan tangan Baekhyun. "Kau tidak perlu melakukan ini."
Baekhyun tersenyum kecil. "Tidak apa-apa. Ini sudah tugasku sebagai seorang istri."
Chanyeol melepaskan tangannya pelan, akhirnya ia memilih untuk membiarkan apa yang istrinya itu kerjakan.
"Tunggu sebentar ya."
Pria kecil itu berdiri dan berjalan pelan menuju dapur, tidak sampai 5 menit berlalu Baekhyun kembali sambil membawa baskom kecil berisi air hangat dan sebuah handuk kecil.
Baekhyun berjongkok. Tanpa berkata-kata lagi ia langsung memasukan kaki sang suami ke dalam baskom dan mencucinya pelan.
Chanyeol tentu saja sangat terkejut. "Baek, apa yang-"
"Tidak apa-apa yeol, biarkan aku melakukan kewajibanku sebagai seorang istri. Aku ingin berbakti pada suamiku."
Chanyeol speechless, sungguh ia tidak sanggup untuk berkata-kata lagi. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Baekhyun hari ini? Dia benar-benar berubah."
"Sudah." ucapnya setelah selesai mengeringkan kaki Chanyeol dengan handuk di tangannya.
"T-terimakasih." balas Chanyeol terbata saking terkejutnya dengan perubahan sikap sang istri.
"Sama-sama, kau mau mandi dulu atau mau langsung makan?"
"Huh? A-aku ehmm mau m-makan saja, a-ahh t-tidak maksudku aku mau mandi."
Baekhyun tersenyum lembut. "Baik, akan aku siapkan air panasnya."
Chanyeol menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, ia masih tidak menyangka atas apa yang sudah Baekhyun lakukan barusan.
"Apa aku sedang bermimpi?"
Heechul yang melihat itu dari balik tembok dapur rumah keluarga Kang tampak senyam-senyum sendiri. Sebelum Chanyeol pulang ia memang sengaja menyuruh Baekhyun untuk berdandan secantik mungkin dan menyambut sang suami di depan pintu rumah. Ia juga yang menyarankan Baekhyun untuk melepas sepatu Chanyeol dan mencuci kakinya dengan menggunakan air hangat.
Heechul melakukan ini bukan semata-mata tanpa alasan, ia berharap setidaknya Chanyeol bisa terlepas dari bayang-bayang Irene dan melabuhkan cintanya hanya pada Baekhyun. Ia juga berharap dengan begini Baekhyun bisa lebih bertanggung jawab atas statusnya yang sekarang sudah bersuami. Semoga saja kedepannya Baekhyun dan Chanyeol bisa melupakan pasangan mereka masing-masing dan saling mencintai satu sama lain.
Melihat reaksi Chanyeol yang terlihat begitu terpesona akan kecantikan Baekhyun tadi sepertinya rencananya sudah sedikit membuahkan hasil. Sekuat apapun pertahanan seorang pria pasti akan luluh juga jika setiap hari disuguhkan pemandangan yang menenangkan hati seperti itu.
Jika mereka sudah mulai memiliki rasa ketertarikan satu sama lain, pasti tidak akan sulit untuk mengharapkan seorang cucu dari mereka.
Sungguh rasanya Heechul ingin sekali menggigit telinga caplang anaknya itu karena terus bersikap lambat. Ia benar-benar tidak peka jika ibunya sudah sangat ingin menimang cucu. Bagaimana Baekhyun bisa hamil jika sampai sekarang saja Chanyeol masih belum menyentuh istrinya itu.
Entah Chanyeol itu normal atau tidak, tapi laki-laki manapun pasti tidak akan tahan untuk tidak menyentuh tubuh molek menantunya itu. Heechul bahkan tau ketika mereka menjual sayur di pasar tadi banyak sekali laki-laki yang diam-diam memperhatikan Baekhyun.
Tapi Chanyeol? Anaknya itu seolah tidak memiliki nafsu sama sekali terhadap istrinya. Benar-benar payah!
"Awas saja jika sampai satu bulan ke depan Baekhyun masih belum hamil juga. Aku terpaksa mengambil jalan kekerasan."
.
.
.
"Eomma.. "
"Hmmm."
"Eomma.. "
"Apa Chanyeol?"
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Baekhyun? Sikapnya aneh sekali hari ini." ucapnya setengah berbisik sembari memperhatikan Baekhyun yang tengah menyiapkan makan malam.
"Memangnya Baekhyun kenapa?"
"Dia bersikap sangat manis padaku. Padahal kemarin dia masih suka berteriak padaku. Ini sungguh aneh."
"Eomma rasa tidak ada yang salah, justru itu bagus karena Baekkie sedang berusaha menjadi istri yang baik untukmu."
"Iya aku tau, tapi ini terlalu mendadak."
"Kau ini aneh, istrimu sedang berusaha jadi istri yang baik kau malah berbicara seperti itu. Sudahlah, sebaiknya sekarang kau hampiri Baekhyun dan bantu ia menyiapkan makan malam."
"Tapi eomma-"
"Tidak ada tapi-tapian, ayo cepat kesana." Heechul mendorong tubuh tinggi sang anak dengan pelan.
"Ekkheemm.. "
Baekhyun menoleh. "Oh Chanyeol kau sudah selesai mandi?"
"Ne." Chanyeol tersenyum canggung.
"Ayo duduk, biar aku siapkan makanan untukmu."
"Biar aku bantu menyiapkan makan malam."
"Ah tidak usah, semuanya sudah selesai kok."
Chanyeol mengangguk sekilas, ia menarik kursi meja makan dan duduk dengan pelan.
"Biar aku panggilkan eomma dulu sebentar, eomm-"
"Tidak usah Baek, eomma malam ini ada janji arisan dengan ibu-ibu tetangga yang lain. Kau dan Chanyeol makan saja dengan nyaman oke?"
Heechul tiba-tiba saja muncul dengan pakaian yang sudah rapi.
"Oh begitu, eomma tidak akan lama kan?"
"Tidak, eomma tidak akan lama kok. Sudah ya eomma pergi. Eomma sudah terlambat."
BRAAKK
Baekhyun menatap kepergiaan ibu mertuanya itu sambil menghela nafas, entah kenapa suasana rumah jadi terasa sangat canggung setelah kepergiannya.
"Kau mau makan pakai apa Chanyeol?"
Chanyeol melirik berbagai macam menu makanan yang tersaji di hadapannya.
"Aku mau ayam dan telur goreng."
Baekhyun dengan sigap mengambilkan lauk dan nasi yang di maksud Chanyeol dan langsung memberikannya pada lelaki itu.
"Kau yang memasak semua ini?"
Baekhyun menggeleng pelan. "Tidak, eomma yang memasak semua ini. Saat aku hendak membantu eomma tadi aku hanya berakhir dengan mengacaukannya saja. Tapi aku janji, aku akan belajar masak agar aku bisa.. Ehmmm.. a-agar aku bi-bisa.. "
"Agar apa?"
"A-agar aku bisa memasak makanan yang enak untukmu setiap hari."
BLUSSHH
Wajah Baekhyun memerah sempurna karena ucapannya sendiri. Ia benar-benar merasa malu.
Chanyeol yang mendengar itu hanya bisa terdiam, ia kemudian berdehem pelan untuk menghilangkan atmosfir canggung di antara mereka.
"Sekarang lebih baik kita makan."
"N-ne." jawab Baekhyun tergagap, ia tidak berani untuk sekedar mengangkat wajahnya dan bertatapan langsung dengan wajah sang suami. Ia terlalu malu.
.
.
.
Setelah selesai makan, Chanyeol memilih untuk berdiam diri di dalam kamar. Ia lepas bajunya dan ia coba untuk memijat tubuhnya sendiri yang terasa begitu sakit dan pegal.
Ia mengambil beberapa lembar koyok dan berusaha menempelkannya pada punggung.
CKLEK
"Chanyeol."
Baekhyun masuk kedalam kamar dan sedikit mengernyit melihat Chanyeol yang terlihat kesusahan menempel koyok di tubuhnya.
"Sini biar aku pasangkan."
Baekhyun langsung duduk di belakang tubuh Chanyeol dan mengambil koyok di tangan Chanyeol.
"Tidak usah Baek, aku bisa sendiri."
"Aku pikir siapapun pasti tidak akan bisa memasang koyok di punggung mereka sendiri." Ucap Baekhyun kemudian.
Chanyeol terdiam mendengarnya, ia akhirnya membiarkan istrinya itu untuk membantunya.
"Sepertinya kau sangat kelelahan? Otot-otot ditubuhmu terasa sangat tegang."
Baekhyun mencoba untuk memijat bahu dan punggung Chanyeol dengan pelan. Bahu Chanyeol terasa begitu tegang dan kaku.
"Ssshhh.. " Chanyeol meringis, rasanya begitu sakit ketika Baekhyun memijat tubuhnya.
"Kenapa kau tidak mencari pekerjaan lain Chanyeol? Aku pikir pekerjaan seperti ini terlalu berat, baru satu hari bekerja saja tubuhmu sudah kesakitan seperti ini."
"Aku sudah biasa mengalami hal yang seperti ini. Otot ditubuhku hanya terlalu tegang saja. Lagipula pekerjaan ini gajinya besar. Sayang jika tidak di ambil."
"Kau lebih mementingkan uang daripada kesehatan mu sendiri begitu?"
"Bukan begitu Baek."
"Sudahlah, terserah mu saja. Yang penting aku sudah mengingatkanmu."
Baekhyun sejujurnya merasa prihatin, Chanyeol terlihat begitu kelelahan dengan seluruh tubuh yang begitu tegang. Pria itu bahkan terus meringis kesakitan ketika Baekhyun memijat bahunya. Kulitnya juga terlihat lebih gelap karena terlalu lama terpapar sinar matahari.
"Sudah cukup Baek, aku sudah merasa lebih baik."
"Kau yakin?"
Chanyeol mengangguk, ia kemudian memakai kembali bajunya.
"Aku punya sesuatu untukmu."
"Apa itu?"
Chanyeol mengambil sebuah kotak berukuran kecil dan menyerahkannya pada Baekhyun.
"Untukmu, bukalah."
Baekhyun menerima kotak itu dan membukanya pelan. "Kalung?"
"Ne, itu kalung buatan tangan. Harganya memang tidak mahal. Tapi aku harap kau suka. Anggap saja itu hadiah untuk bekal makan siang-"
BRUKK
Chanyeol terkejut ketika Baekhyun tiba-tiba saja menubruk dan memeluk tubuhnya erat. Ia bahkan belum sempat menyelesaikan kata-katanya.
"Hiks."
"Baekhyun, kenapa-"
"Chanyeol terimakasih hiks aku sangat menyukai hadiah ini. Kalungnya sangat cantik."
Chanyeol tertegun, hanya karena kalung murahan seperti ini Baekhyun sampai menangis?
Baekhyun melepaskan pelukannya dan menatap suaminya itu sambil berkaca-kaca.
"Selama ini belum pernah ada yang memberikanku hadiah atas perbuatan kecil yang sudah aku lakukan. Biasanya orang-orang bersikap baik dan memberikanku hadiah karena mereka menginginkan imbalan dariku. Tidak pernah ada yang mengapresiasi perbuatan kecil yang sudah aku lakukan hiks kau adalah orang pertama yang melakukannya."
Chanyeol terdiam sejenak, lalu ia kemudian tertawa. Baekhyun benar-benar anak yang sangat polos.
"Aku akan menyimpan kalung ini Chanyeol. Terimakasih hadiahnya."
Pria bertelinga lebar itu hanya mengangguk kecil, ia kemudian mengambil sebuah amplop cokelat dari dalam tas miliknya.
"Untukmu."
"Apa lagi ini?"
"Itu penghasilanku hari ini."
Baekhyun melihat isinya dan matanya langsung membulat sempurna. "40.000 won? Banyak sekali."
"Itulah kenapa aku mau menerima tawaran pekerjaan ini. Bayaran perharinya besar dan itu belum termasuk bayaran bulanan. Gunakan uang itu untuk kebutuhan sehari-hari. Nanti jika aku ada rejeki lebih, aku akan memberikannya lagi padamu."
"Lalu untuk eomma?"
"Aku biasanya memberi uang pada eomma setiap akhir bulan."
"Kalau begitu berikan uang ini pada eomma saja, eomma pasti lebih membutuhkan uang ini daripada aku."
"Tidak usah Baek, aku lebih berkewajiban untuk menafkahi dirimu sebagai istriku daripada eomma. Kau tidak perlu khawatirkan soal eomma, aku juga tidak akan melupakan eomma."
Baekhyun tersenyum kecil. "Terimakasih yeol."
"Tidak usah berterimakasih, itu sudah kewajibanku sebagai suamimu."
.
.
.
"Chanyeol?"
Heechul pulang kerumah sekitar pukul 11 malam, ia sengaja pulang larut begini dengan harapan akan terjadi sesuatu antara putranya Chanyeol dan sang menantu Baekhyun yang berakhir dengan menghasilkan anak. Tapi sepertinya Heechul harus menelan keingingannya itu dalam-dalam ketika ia melihat putranya Chanyeol justru tengah berbaring di sofa ruang tamu.
"Chanyeol apa yang kau lakukan disini?"
"Tidur, tentu saja."
"Bukan itu maksud eomma, kenapa kau malah tidur disini? Seharusnya kau tidur di dalam bersama Baekhyun."
"Aku.. Canggung sekali rasanya jika harus tidur di dalam, sepertinya aku akan tidur di kamar Minhyuk saja."
"Tidak baik jika tidur terpisah, kalian kan sudah menikah."
"Iya aku tau, tapi tetap saja rasanya canggung."
Heechul hanya bisa menghela nafas, jika begini terus akan semakin sulit rasanya agar ia bisa segera menimang cucu.
"Tadi ada 2 orang teman Baekhyun yang datang kemari."
"Siapa?"
"Jisoo dan Lisa, mereka teman kuliahnya Baekkie. Baekhyun tidak sengaja bertemu mereka ketika ia membantu eomma berjualan sayur di pasar nanti."
"Baekhyun ikut berjualan sayur?"
Heechul mengangguk. "Ne."
"Dan kau tau apa yang dikatakan teman-teman Baekhyun tadi?"
"Apa?"
"Baekhyun sebenarnya sudah punya kekasih."
Chanyeol sontak menoleh dan menatap ibunya dengan pandangan terkejut.
"Benarkah?"
"Ne, dari yang eomma dengar kekasih Baekhyun itu sudah pergi meninggalkan Baekhyun sejak lama tanpa memberi kabar apapun. Dan kau tau apalagi yang lebih mengejutkan?"
"Apa?"
"Baekhyun masih mencintai kelasihnya itu."
Chanyeol sontak terdiam.
"Sampai sekarang ia masih menunggu dan mengharapkan kekasihnya itu pulang dan kembali padanya." Heechul berbicara menggebu-gebu berusaha membuat Chanyeol terbakar api cemburu, tapi nyatanya nihil. Pria jantan itu justru hanya terdiam tanpa memberikan ekspresi apapun.
"Chanyeol kenapa kau diam saja? Kau tidak merasa cemburu?"
"Kenapa aku harus cemburu?"
"Chanyeol, istrimu sedang mengharapkan laki-laki lain. Bagaimana bisa kau tidak merasa cemburu sama sekali?" Rasanya Heechul mulal gerah dan ingin menggigit telinga lebar putra tampannya itu.
Chanyeol menghela nafas. "Kita menikah bukan karena saling mencintai, tapi karena semata-mata aku ingin membantu Donghae aboeji untuk merubah sifat Baekhyun menjadi lebih baik. Eomma juga pasti tau kan Baekhyun sangat terpaksa dengan pernikahan ini? Dia juga tidak mencintaiku sama halnya aku yang tidak mencintainya. Jadi aku pikir aku sama sekali tidak punya hak apapun untuk merasa cemburu."
"Tapi tetap saja di mata hukum dan agama kalian sudah sah sebagai suami istri, mengharapkan orang lain ketika kalian sudah resmi menikah adalah sebuah kesalahan besar. Kau mengharapkan Irene dan Baekhyun mengharapkan kekasihnya. Apa kau pikir pernikahan itu hanya lelucon? Seharusnya dari awal kau tidak setuju untuk menikah dengan Baekhyun jika kau masih mengharapkan wanita lain."
Perkataan Heechul sukses membuat Chanyeol bungkam, ia tidak tau harus menjawab apa.
"Sudahlah, eomma lelah. Eomma butuh istirahat. Dengar ya Chanyeol, kau harus membuat Baekhyun berpaling padamu dan melupakan kekasihnya. Pokoknya eomma tidak mau tau. Hanya Baekhyun yang boleh menjadi pasanganmu, tidak ada yang lain." Ucap sang ibu sebelum akhirnya bangkit berdiri dan masuk ke dalam kamar.
BRAKKK
Chanyeol menghela nafasnya pelan.
.
.
.
Di dalam kamar, Baekhyun menatap kalung pemberian Chanyeol sambil tersenyum lembut. Ia menyimpan kalung itu ke dalam lemari sebelum berbaring di atas matras tempat ia tidur.
Sebelum ia memejamkan matanya, Baekhyun menyempatkan diri untuk memutar ulang kejadian hari ini. Dari mulai ia yang bangun pagi-pagi sekali, membuat sarapan dan bekal makan siang Chanyeol, beres-beres rumah, berjualan sayuran, hingga kembali kerumah dan melayani Chanyeol layaknya seorang istri yang baik ketika suaminya itu pulang. Baekhyun tidak pernah melakukan hal-hal semacam itu sebelumnya, ini adalah sebuah kemajuan pesat dalam hidupnya karena biasanya, ia begitu alergi bahkan ketika ia disuruh untuk memegang sapu sekalipun.
Bicara soal melayani suami, sebenarnya apa yang Baekhyun lakukan tadi bukan murni atas kemauannya sendiri melainkan karena keingingan sang ibu mertua, ia tidak sampai hati menolak keinginan wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri. Jadi, mau tidak mau ia tetap mengikuti keinginan Heechul untuk melayani Chanyeol dari mulai berdandan cantik agar lelaki itu terenyuh sampai memijat tubuh kekar lelaki itu.
Jika boleh jujur sebenarnya ia tidak rela jika harus berdandan cantik di hadapan pria lain selain kekasihnya. Ia benar-benar merasa sudah mengkhianati kekasihnya itu.
Pria bertubuh sexy itu kemudian mengambil sebuah foto seorang laki-laki yang selalu ia simpan di dalam dompetnya.
"Aku sangat merindukanmu Sehun ah hiks cepatlah pulang."
.
.
.
CKLEK
Chanyeol masuk kedalam kamar ketika Baekhyun sudah tidur, ia berjalan pelan menyelimuti tubuh istrinya itu sampai sebatas dada.
Dalam hati ia agak kasihan ketika Baekhyun hanya tidur di atas matras. Mungkin Chanyeol harus bekerja lebih keras lagi agar bisa membeli ranjang kasur yang nyaman untuk istrinya.
Pandangannya kemudian teralih pada dompet sang istri yang tergeletak begitu saja diatas lantai. Chanyeol pun berinisiatif mengambil dompet itu dan tidak sengaja melihat isinya.
Ia cukup mengernyit ketika melihat foto seorang pria yang tidak ia kenal, foto yang disimpan seseorang di dalam dompet mereka biasanya adalah orang-orang yang spesial. Entah itu keluarga ataupun kekasih. Baekhyun tidak punya saudara laki-laki, berarti kemungkinan pria ini adalah kekasih Baekhyun yang eomma nya ceritakan tadi.
Chanyeol menatap Baekhyun dan foto itu secara bergantian. Ia kemudian menyimpan foto itu ke dalam saku celananya dan menyimpan dompet sang istri di atas meja nakas.
Setelah itu, ia mematikan saklar lampu dan berbaring di samping Baekhyun dengan posisi membelakangi istrinya itu.
.
.
.
TBC
Chapter 5 update ~
Dari kemarin author ga bisa tidur tenang gara2 abs Sehun berseliweran di TL nya author wkwk. (Curcol :v) Abaikan :v
Silahkan kasih review jika kalian merasa ff ini pantas untuk di review dan tinggalkan ff ini jika kalian merasa ff ini kurang pantas untuk di baca.
See you in the next chap ~
