Pagi-pagi sekali Baekhyun sudah menangis heboh karena foto Sehun yang selalu ia simpan rapi di dalam dompet miliknya menghilang. Ia baru sadar ketika ia hendak membuat sarapan untuk Chanyeol tapi urung ia lakukan ketika ia melihat dompet miliknya tergeletak di atas meja nakas, padahal seingatnya semalam dompetnya itu tergeletak di lantai kamar. Dan setelah di check isinya ternyata benar saja foto kekasihnya itu tidak ada.
"Hiks, kemana foto itu?"
CKLEK
"Kenapa kau menangis?"
Ia menoleh ketika melihat Chanyeol masuk setelah selesai mandi.
"A-aku kehilangan sesuatu."
"Kehilangan apa?"
"K-kehilangan.. " Baekhyun jadi tergagap, apakah ia harus berkata jika ia kehilangan foto kekasihnya?
"Kau kehilangan foto seorang pria?"
DEG
Darimana Chanyeol tau?
"Kau kehilangan foto seorang pria berkulit pucat kan?"
"C-Chanyeol a-aku.. "
"Aku yang mengambil foto itu."
"A-apa? Kalau begitu kembalikan."
Chanyeol menggeleng. "Aku tidak akan memberikannya."
"Tapi kenapa?" Tanya Baekhyun dengan mata berkaca-kaca.
"Seseorang yang sudah menikah tidak pantas untuk menyimpan foto pria lain."
"Apa? Chanyeol kau cemburu?"
"Untuk apa aku cemburu? Aku hanya mencoba untuk menjalankan arti dari sebuah pernikahan yang sebenarnya."
"Apa yang kau bicarakan Chanyeol? Pernikahan apa? Kau tau kita menikah atas dasar keterpaksaan."
"Aku tau itu, tapi bukan berarti kau bisa mempermainkan arti dari sebuah pernikahan yang sebenarnya. Kau tau mengharapkan pria lain ketika kau sudah bersuami adalah suatu kesalahan Baekhyun ah."
Baekhyun mendadak emosi mendengarnya. "Berhenti bicara omong kosong Chanyeol. Kau sendiri masih mengharapkan wanita itu kan? Aku tau kau gugup setelah bertemu dengan wanita itu kemarin!"
Chanyeol terdiam sejenak. "Setidaknya sekarang aku sedang berusaha untuk melupakan wanita itu karena aku tau aku sudah punya istri."
DEG
Baekhyun sontak membungkam mulutnya rapat, sumpah serapah yang hendak ia lontarkan seolah tertelan kembali di kerongkongannya.
"Tidak peduli kau mencintaiku atau tidak, selama kau masih berstatus sebagai istriku jangan pernah mengharapkan pria manapun. Hal itu pun berlaku untukku, aku tidak akan mendambakan wanita lain di saat aku masih berstatus sebagai suami mu. Apapun alasannya, aku paling tidak suka dengan seseorang yang mempermainkan arti dari sebuah pernikahan. Pernikahan bukan untuk main-main Baekhyun ah."
"Tau apa kau soal pernikahan? Kau tau sejak awal kita sudah mempermainkan sebuah pernikahan. Pernikahan tanpa dilandasi perasaan cinta adalah salah, berhenti bicara omong kosong karena sedari awal kau lah yang pertama kali mempermainkan arti dari sebuah pernikahan hiks."
BRAKKK
Baekhyun berlari keluar kamar dan membanting pintunya kencang setelah ia meluapkan segala kekesalannya pada sang suami.
"Baekhyun apa yang-"
"Hiks.. "
Sang ibu mertua pun dibuat terkejut ketika Baekhyun berlari melewati dirinya begitu saja sambil menangis.
"Ada apa dengan anak itu?"
Di dalam kamar, Chanyeol menghela nafas. Ia tau pernikahan ini terjadi atas persetujuannya juga, Baekhyun tidak akan menikah dengannya jika Chanyeol tidak setuju. Tapi Chanyeol melakukan ini karena ia memang ingin membantu Donghae yang selalu mengeluh perihal perilaku anaknya. Chanyeol merasa ia mampu dan ia bisa merubah perilaku Baekhyun menjadi lebih baik, itulah yang menjadi alasan utama kenapa ia setuju untuk menikah dengan Baekhyun. Tidak ada alasan lain, bahkan jika itu karena Irene sekalipun. Salahkah ia? Apakah ia salah jika ingin menjalankan sebuah pernikahan yang sebenarnya meskipun tanpa adanya rasa cinta?
.
.
.
"Baekhyun ah."
Heechul berjalan pelan menuju teras belakang rumah dimana sang menantu sedang duduk sendirian disana.
"Apa terjadi sesuatu?"
Baekhyun memaksakan dirinya untuk tersenyum. "Tidak ada apa-apa eomma, Baekkie baik-baik saja."
Heechul tersenyum. "Eomma tidak akan ikut campur urusan rumah tangga kalian. Tapi apapun masalahnya eomma harap kalian bisa menyelesaikan masalah kalian dengan kepala dingin."
Baekhyun balas tersenyum kecil. "Ne, Baekkie minta maaf karena sudah membuat kegaduhan pagi-pagi begini. Chanyeol sudah berangkat?"
"Iya sudah." Heechul mengangguk ringan.
"Maafkan Baekkie karena tidak sempat menyiapkan sarapan untuk Chanyeol, aku juga tidak menyiapkan pakaian kerjanya tadi."
"Tidak apa-apa, eomma sudah menyiapkan semuanya tadi. Sebaiknya sekarang kau bantu eomma beres-beres rumah ya?"
Baekhyun mengangguk. "Ne."
.
.
.
Tidak terasa waktu bergulir dengan sangat cepat, kini sudah 3 minggu berlalu semenjak kejadian itu dan kini mereka sudah kembali tinggal dirumah mereka sendiri setelah selesai di renovasi. Namun ada sedikit perbedaan yang terjadi pada hubungan pasangan pengantin baru itu. Sampai saat ini Baekhyun masih tetap menjalankan kewajibannya sebagai seorang istri seperti menyiapkan sarapan, pakaian dan juga air hangat untuk Chanyeol mandi. Begitu juga dengan Chanyeol yang tetap memberikan uang gajinya kepada Baekhyun. Namun semenjak percekcokan waktu itu, mereka berdua seolah menjaga jarak dan tidak banyak berbicara kepada satu sama lain. Chanyeol bahkan lebih memilih untuk tidur di sofa setiap malam daripada harus tidur sekamar dengan Baekhyun.
Hal itu tentu saja membuat Heechul frustasi, ia semakin jauh dengan harapannya agar bisa segera mendapatkan cucu. Untuk itu, malam ini Heechul sengaja menyeret sang putra tunggal dan mengajaknya berbicara di teras belakang rumah.
"Sebenarnya apa yang terjadi di antara kalian? Kalian bersikap aneh belakangan ini." Tanyanya hati-hati.
"Apa yang eomma bicarakan? Chanyeol tidak mengerti."
"Tidak usah berpura-pura lagi Chanyeol ah, eomma tau telah terjadi sesuatu antara kau dan Baekhyun. Iya kan? Kalian berdua terus menjauh satu sama lain." Ucap Heechul sambil menghela nafas.
Ditanya seperti itu Chanyeol tampak terdiam sebentar, ia tidak tau apakah ia harus menceritakan penyebab mereka bertengkar atau tidak.
"Chanyeol, eomma tau seharusnya eomma tidak mencampuri urusan rumah tangga kalian. Tapi, eomma tidak bisa terus-terusan berdiam diri melihat kalian seperti ini. Kau tau membiarkan masalah terus berlanjut seperti ini adalah salah."
Chanyeol menghela nafas. "Aku tau eomma, maafkan aku."
"Kau tidak perlu minta maaf, yang perlu kau lakukan sekarang hanyalah menceritakan semuanya pada eomma."
.
.
.
"Meskipun aku tidak mencintai Baekhyun tapi setidaknya aku ingin pernikahan ku ini seperti pernikahan pada umumnya, seperti yang eomma bilang mengharapkan orang lain ketika kita sudah menikah adalah salah. Dan aku berusaha mengatakan itu pada Baekhyun. Tapi sepertinya ia salah paham dan malah berakhir seperti ini."
Sudah sekitar 15 menit berlalu dan Chanyeol sudah menceritakan semuanya pada sang ibu. Heechul tidak bisa banyak bicara karena memang sedari awal pernikahan ini terjadi atas dasar keterpaksaan, Baekhyun mungkin memang salah karena masih mengharapkan pria lain. Tapi mereka juga tidak bisa serta merta menghakimi Baekhyun karena pada dasarnya Baekhyun merasa sangat terpaksa dengan pernikahan ini. Tapi di sisi lain tindakan Chanyeol juga tidak salah. Adalah hal yang benar jika seorang suami menekankan pada istrinya untuk tidak mengharapkan laki-laki lain.
"Bagaimana pun aku tetap berharap ini adalah pernikahan terakhir bagiku."
"Benarkah?"
Chanyeol mengangguk. "Dalam hidupku aku hanya akan menikah satu kali, tidak akan ada pernikahan kedua atau ketiga. Ini adalah yang pertama dan terakhir untukku."
"Bukankah kau mencintai Irene?"
Chanyeol mengangguk. "Aku pernah bermimpi untuk bisa menikah dengan wanita itu, memulai kehidupan rumah tangga bersamanya dan hidup bahagia selamanya. Tapi sayangnya impian ku itu tidak terwujud, sekarang aku justru menikah dengan seseorang yang tidak aku cintai. Tapi meskipun begitu aku akan tetap berusaha menjadi suami yang baik untuknya. Aku juga akan berusaha melupakan Irene jika itu memang diperlukan."
Heechul tampak tersenyum hangat mendengarnya, putranya Chanyeol sekarang telah tumbuh menjadi seorang pria dewasa. Dia benar-benar mirip dengan mendiang ayahnya yang juga punya pemikiran dewasa.
"Eomma senang sekali mendengarnya, kau tidak mengambil keputusan yang salah nak. Menikah dengan Baekhyun adalah keputusan terbaik yang pernah kau ambil dalam hidupmu. Hanya satu pesan eomma, jaga dia dan perlakukan ia layaknya istri yang sangat kau cintai. Suatu saat nanti dia akan menjadi sumber kebahagiaan untukmu nak, kau bisa pegang kata-kata eomma."
Chanyeol tersenyum kecil, ia tidak mengangguk ataupun menggeleng. Tanpa menjawab pun Heechul sudah tau jika Chanyeol akan selalu menuruti ucapannya.
"Sekarang sebaiknya kau bicara pada Baekhyun, segera selesaikan masalah kalian berdua. Sebagai seseorang yang lebih dewasa kau harus memulai percakapan terlebih dahulu."
Chanyeol melirik kedalam rumah sekilas, haruskah ia melakukan itu?
"Chanyeol..."
Chanyeol tidak menjawab, ia langsung berdiri dan masuk untuk menemui Baekhyun.
CKLEK
Pria tinggi itu masuk kedalam kamar dan melihat Baekhyun tengah meringkuk dibalik selimutnya.
"Baek?"
Sontak Baekhyun membuka selimutnya dan terkejut melihat suaminya masuk kedalam kamar. Sudah lama sekali rasanya Chanyeol tidak menginjakan kakinya di kamar ini.
"Ada apa? Kau butuh sesuatu?" tanyanya sambil terduduk.
Chanyeol lantas duduk tepat di samping Baekhyun.
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan mu."
"Membicarakan apa?"
Chanyeol tampak menghela nafasnya dalam.
"Aku ingin minta maaf soal kejadian waktu itu, aku tidak bermaksud untuk berkata kasar padamu. Mulai sekarang aku tidak akan ikut campur mengenai urusan pribadimu." ucapnya sambil merogoh sesuatu dari dalam saku celananya.
"Ini, maaf karena sudah mengambilnya."
Baekhyun melirik foto Sehun ditangan sang suami dan kemudian berdehem pelan. "Kau tidak perlu mengembalikannya Chanyeol, aku tau seharusnya aku tidak mengharapkan pria lain disaat aku sudah menikah. Aku yang harus minta maaf."
"Kau yakin?"
Baekhyun mengangguk pelan. "Aku benar-benar minta maaf Chanyeol, aku tau aku salah."
Chanyeol tersenyum kecil mendengarnya, seharusnya dari awal ia langsung bicara pada Baekhyun. Bukan malah mementingkan ego masing-masing seperti kemarin.
"Terimakasih karena sudah memaafkanku." Ucap Chanyeol sambil tersenyum sangat tampan.
BLUSSH
Pipi Baekhyun sontak memerah sempurna melihatnya, kenapa Chanyeol terlihat tampan sekali hari ini? Pipinya terasa begitu panas dan entah kenapa hatinya seolah hendak meledak.
"N-ne." jawabnya sambil tergagap.
"Yasudah, kalau begitu sekarang kau istirahatlah. Aku juga mau tidur. Besok aku harus kerja pagi."
"C-Chanyeol." Panggil Baekhyun ketika Chanyeol berdiri dan hendak tidur diluar seperti kebiasaannya belakangan ini.
"K-kenapa tidak tidur disini saja." ucapnya sambil menepuk-nepuk ranjang sebelah kanan.
Chanyeol terdiam sejenak. "Bolehkah?"
"Tentu boleh, ini kan kamarmu. Lagipula kata eomma, suami istri yang tidur terpisah itu tidak baik."
"Baiklah, kalau begitu aku tidur disini saja." balas Chanyeol yang kemudian langsung membaringkan tubuhnya disamping kanan Baekhyun.
Baekhyun juga ikut membaringkan tubuhnya kembali. Ia tarik selimutnya sampai sebatas dada.
Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa menit, keduanya tampak begitu canggung satu sama lain dan secara diam-diam mereka melirik satu sama lain dan berpura-pura seolah tidak terjadi apa-apa saat keduanya kedapatan sedang saling lirik.
"Ekheem.. Selamat tidur Baekhyun ah." ucap Chanyeol terlebih dahulu yang kemudian berbalik membelakangi Baekhyun.
"N-ne, s-selamat tidur juga Chanyeol ah." Baekhyun menjawab sambil mematikan lampu tidur.
KLIK
Suasana kamar berubah gelap, keduanya sama-sama tersenyum kecil merasa lega karena kesalahpahaman mereka akhirnya berakhir.
.
.
.
"Beberapa minggu belakangan mereka berdua sempat bertengkar, tapi sepertinya masalahnya sudah selesai. Beberapa hari ini sikap mereka mulai kembali seperti biasa."
5 hari kemudian, Donghae datang berkunjung. Belakangan ini dia tidak bisa datang berkunjung karena terlalu sibuk bekerja. Dengan secangkir teh hangat dan setoples kue kering buatan Heechul, ia dan besannya itu duduk santai di teras depan rumah sambil mengobrol tentang kedua putra mereka. Chanyeol sudah berangkat kerja pagi-pagi sekali dan Baekhyun saat ini sedang tidak ada dirumah, ia sedang keluar untuk membeli beberapa bahan makanan.
"Syukurlah kalau begitu, bagaimana dengan Baekhyun? Apakah sikapnya sudah mulai berubah?"
Heechul mengangguk. "Dia sudah berubah banyak, sekarang ia sudah bisa mencuci piring dengan baik. Ia juga sudah bisa membuat beberapa makanan seperti nasi goreng dan kimbap. Ia juga sudah tidak terlalu sering merengek seperti saat awal ia kemari."
"Benarkah? Itu benar-benar sebuah kemajuan yang sangat pesat. Aku tau aku tidak salah menikahkan Baekhyun dengan putramu."
Heechul tertawa. "Tentu saja, aku juga sangat senang Baekhyun bisa jadi menantuku."
"Ngomong-ngomong, apakah sudah ada kemajuan?"
"Kemajuan apa?"
"Soal cucu.." Ucap Donghae sambil menyeruput tehnya.
"Belum." Heechul menggeleng pelan.
BYURRRR
Donghae refleks menyemburkan tehnya, ia begitu terkejut dengan penuturan Heechul.
"Benarkah? Belum ada sama sekali?"
"Belum." Heechul menggeleng lagi.
Donghae mendengus kecewa, bagaimana bisa belum ada kemajuan padahal sudah hampir satu bulan anaknya menikah.
"Aisshh Baekhyun itu bagaimana? Jika seperti ini terus, sampai mati pun aku tidak akan bisa punya cucu."
"Aku pikir ini bukan salah Baekhyun, tapi Chanyeol yang terlalu lambat." ucap Heechul menanggapi.
"Apa? Maksudmu?"
"Entahlah, aku ragu apakah Chanyeol itu normal atau tidak. Kau tau? Baekhyun itu sering sekali memakai pakaian ketat dan celana pendek diatas lutut jika malam tiba. Aku tau Baekhyun tidak bermaksud menggoda Chanyeol. Tapi kau tau kan? Harusnya Chanyeol merasa tergoda atau sedikitnya merasa terangsang. Tapi yang aku lihat dia seolah tidak peduli dan tidur dengan tenang meskipun Baekhyun ada di sampingnya."
Entah kenapa Donghae jadi geli sendiri mendengarnya, Chanyeol dan Baekhyun memang pasangan yang sangat unik.
"Sepertinya kita harus bertindak sendiri jika ingin segera punya cucu."
"Maksudmu?"
"Aku pernah memberikan obat perangsang pada Chanyeol, kita bisa menggunakan itu untuk memaksa mereka membuatkan cucu untuk kita."
"Obat perangsang? Kapan kau memberikannya?" Heechul tampak begitu terkejut.
"Sekitar beberapa minggu yang lalu, aku memberikan itu supaya Chanyeol bisa menggunakannya. Tapi sepertinya ia tidak akan menggunakan itu jika bukan kita yang memaksanya."
"Lalu, apa rencanamu?"
"Campurkan obat perangsang itu pada makanan atau minuman mereka. Aku yakin itu akan berhasil."
Heechul terdiam, lalu beberapa detik kemudian ia tersenyum jahil.
.
.
.
"Bukankah udara malam ini dingin sekali? Setelah makan malam, secangkir teh hangat dan kopi hitam adalah yang terbaik."
Malam ini Heechul sengaja membuat banyak menu makanan spesial untuk anak dan menantunya, dan tak lupa minuman hangat yang sudah dicampur obat perangsang.
"Terimakasih eomma, eomma tidak perlu repot-repot melakukan ini." ucap Baekhyun kemudian.
"Tidak apa-apa, eomma senang bisa melakukan ini. Ayo diminum Baekhyun ah."
"Ne." tanpa menaruh rasa curiga sama sekali Baekhyun langsung meminum teh yang telah dibuatkan Heechul hingga habis setengah.
Heechul tersenyum melihatnya, sekarang hanya tinggal menunggu Chanyeol kembali dari kamar mandi dan meminum kopinya.
"Eomma."
Heechul semakin menyeringai, ia langsung berdiri sambil membawa secangkir kopi dan berjalan pelan kearah Chanyeol yang baru keluar dari kamar mandi.
"Chanyeol, eomma-AHHHH."
BRUKK
PRAANG
Heechul terjatuh, ia tersandung kakinya sendiri hingga tubuhnya jatuh ke lantai dan cangkir yang ia bawa pun pecah.
"EOMMA." Baekhyun berlari panik dan menghampiri ibu mertuanya.
Chanyeol berjongkok dan buru-buru mengangkat tubuh ibunya, ia mendudukan sang ibu di kursi meja makan.
"Eomma baik-baik saja?"
Heechul menatap cangkir kopi buatannya dengan miris, bagaimana bisa ia tersandung oleh kakinya sendiri? Ia benar-benar ceroboh.
"Eomma tidak apa-apa Chan, hanya saja-KRAAKK"
"Ahhhh.. "
Heechul langsung meringis kesakitan setelah terdengar bunyi retakan di punggungnya.
Baiklah, sepertinya besok ia harus ke tukang pijat lagi.
.
.
.
Chanyeol agak sedikit mengernyitkan dahinya bingung melihat Baekhyun yang sedari tadi tidur dengan gusar di sampingnya.
Tubuhnya terus berkeringat, dan wajahnya terlihat memerah. Matanya tertutup dan sedari tadi ia terus bergerak gusar.
"Baekhyun, buka matamu. Apa yang terjadi?" tanya nya sambil menepuk pelan pipi sang istri.
"Eungghh.. Eungghh.. Ahhh."
Chanyeol semakin dibuat bingung ketika Baekhyun berusaha melepas pakaiannya sendiri.
"P-panassshh.. L-lepaskan b-bajunyaaahhh.. "
Merasa tidak tega, Chanyeol akhirnya membantu Baekhyun melepas kaosnya. Dada Chanyeol seolah berdesir halus melihat tubuh mulus istrinya yang kini terpampang jelas di depan matanya. Terutama bagian dada sang istri yang sangat berisi dan begitu mulus. Nipplenya berwarna merah muda dan begitu ranum di pandangan mata Chanyeol. Pria berusia 30 thn itu tidak pernah menyangka sebelumnya jika tubuh seorang pria bisa terlihat begitu sexy seperti ini.
"Channhh celanakuhhh jugaaahhh.. "
"A-apa? J-jangan di lepas." Chanyeol langsung panik begitu Baekhyun hendak melepas hotpants miliknya.
Baekhyun sedang dalam keadaan tidak sadar, ia seolah tidak peduli dan langsung melepas celananya begitu saja.
Chanyeol membulatkan matanya kaget, ia buru-buru membalikan tubuhnya dengan gugup.
"P-panasssh C-Chanyeol ahhh.. P-panassshhh.. "
Chanyeol dibuat begitu kebingungan, sebenarnya apa yang terjadi pada Baekhyun?
"C-Chanyeolllhhh.."
Tubuh Chanyeol merinding hebat mendengar desahan itu, buru-buru ia beranjak keluar karena merasa tidak nyaman dengan suara desahan Baekhyun yang seolah hampir membuatnya gila.
GLUK GLUK GLUK
Ia berjalan cepat kearah dapur dan langsung minum satu botol air putih dari dalam kulkas dengan rakus. Nafasnya terengah-engah dan jujur saja ia begitu malu sekarang. Desahan Baekhyun bahkan masih terus terngiang ditelinganya.
BRAKK
Ia menutup pintu kulkas dengan kencang, tatapan matanya tak sengaja tertuju pada meja dapur. Matanya langsung membulat dan dengan segera ia mengambil sesuatu dari atas meja tersebut.
"Ini kan.. " Chanyeol menemukan dua bungkusan kapsul (obat) perangsang yang dulu pernah diberikan Donghae aboeji untuknya. Tapi kenapa bisa ada disini? Kemana isinya?
Eh tunggu sebentar, ia menemukan bungkusan kapsul obat perangsang di dapur dan tadi Baekhyun terus mendesah sambil terus mengeluh panas? Apa jangan-jangan?
Chanyeol langsung menghela nafas, ini pasti ulah ibunya. Dia masih terus berusaha agar Baekhyun bisa segera hamil.
Pria tinggi itu akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamar.
CKLEK
"Baek-"
DEG
Oke, Chanyeol mulai menyesali keputusannya untuk kembali ke kamar. Matanya seolah ternodai karena Baekhyun kini sudah benar-benar telanjang bulat. Tubuhnya terus menggeliat kesana-kemari seperti cacing kepanasan seolah mengundang laki-laki manapun untuk menyetubuhinya hingga sekarat.
GLUK
Chanyeol menelan ludahnya gugup, ia tetap harus melakukannya. Dengan langkah pasti Chanyeol berjalan pelan menaiki ranjang dan langsung menindih tubuh Baekhyun. Dengan tangan bergetar ia langsung menggengam kemaluan mungil sang istri yang sudah menegang sempurna.
"AHHHHHH.. " Tubuh Baekhyun melengkung sempurna, lengkingan dan suara desahannya bahkan hampir membuat telinga Chanyeol meledak.
Chanyeol tetap fokus mengocok kemaluan Baekhyun hingga tangannya sendiri penuh dengan precum.
"Ahhhhh Chanyeol ahhhh."
Baekhyun menggelengkan kepalanya kesana-kemari tidak kuat menahan sensasi yang ia rasakan.
Chanyeol melepas genggaman tangannya, kemudian ia langsung menunduk dan tanpa aba-aba langsung meraup kemaluan mungil itu.
"Ahhhhhhhh." desahan dan lenguhan Baekhyun seolah tidak bisa dibendung, Rasanya benar-benar memabukan.
CLOK CLOK CLOK CLOK
Chanyeol menggerakan kepalanya keatas dan kebawah dengan tempo teratur, ia sama sekali tidak memperdulikan rasa aneh dari precum yang menempel di lidahnya.
CLOK CLOK CLOK CLOK
"Ahhhhhhh C-Chanyeollhhh.. "
CLOK CLOK CLOK CLOK
Baekhyun menutup matanya rapat, ia cengkram seprei kasur dengan erat. Paha dalamnya menjepit kepala Chanyeol dengan erat.
CLOK CLOK CLOK CLOK
"C-Chanyeollhh ahhhhh.. "
CROT CROT CROT CROT
Chanyeol menutup matanya ketika penis kecil Baekhyun menyemburkan banyak benih ke dalam kerongkongannya.
"Haahh.. Haaahh.. Haaahh."
Perlahan tubuh Baekhyun melemah, matanya mulai menutup seiring kantuk yang menghampirinya.
"Uhukk.. Uhukk.. Uhukk." Chanyeol terbatuk-batuk, tubuhnya banjir oleh keringat. Ia menghembuskan nafasnya lega, untung saja Baekhyun cepat keluar. Entah apa jadinya jika ia harus lebih lama mengoral kemaluan istrinya itu.
Ia menatap istrinya yang sudah tertidur dengan pulas.
"Sepertinya aku harus mandi lagi malam ini."
.
.
.
Baekhyun mengerjapkan matanya pelan, jam berapa ini? Kepalanya terasa begitu pusing. Ia meraba area tubuhnya sendiri dan begitu terkejut ketika mendapati dirinya tanpa sehelai benang pun.
"Apa yang-"
CKLEK
DEG
Baekhyun membulatkan matanya terkejut begitu Chanyeol tiba-tiba saja masuk kedalam kamar hanya dengan handuk yang melilit di bagian bawah tubuhnya.
"AHHHHHHH." Baekhyun berteriak kencang, ia menarik apapun yang ada di sekitarnya untuk menutupi tubuh telanjangnya.
BRAKK
Chanyeol sangat terkejut, wajahnya bahkan memerah sampai ke leher. Ia langsung keluar lagi dan membanting pintunya kasar. Ia tidak tau jika Baekhyun sudah bangun. Astaga, ia malu sekali.
"Chanyeol? Kenapa Baekhyun berteriak begitu?" Tanya Heechul yang cukup terkejut dengan teriakan Baekhyun.
"T-tidak ada apa-apa eomma, Baekhyun hanya mengalami mimpi buruk."
"Benarkah? Kalau begitu biarkan eomma masuk."
"J-jangan eomma, sebaiknya sekarang eomma siapkan sarapan untukku."
Heechul menatap aneh tingkah putranya, tapi ia tidak banyak bertanya dan langsung berbalik menuju dapur.
Baekhyun menyembunyikan wajahnya di balik bantal dan menutup seluruh wajahnya dengan selimut. Rasanya ia ingin menangis saja, ini pertama kalinya setelah ia dewasa ada yang melihat tubuh telanjangnya.
Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa ia bisa sampai telanjang begini? Seingatnya semalam ia baik-baik saja sebelum meminum teh buatan ibu mertuanya dan setelah itu tubuhnya terasa panas.
Eh tunggu? Panas?
BLUSSHH
Astaga, ia ingat semuanya. Ia ingat tadi malam ia melepas semua pakaiannya dan Chanyeol...
"AHHHHHHHH ABOEJI BAEKKIE MALU HUWEEE."
Heechul merasa sangat khawatir dengan teriakan Baekhyun, anak itu bahkan terdengar mulai menangis.
"Chanyeol kau yakin Baekhyun baik-baik saja?"
"Uhukk.. Uhukk." Chanyeol terbatuk, ia tersedak makanannya sendiri begitu sang ibu menyebut nama Baekhyun.
"Uhukk.. Uhukk.. Uhukk."
"Chanyeol yaampun." Heechul memberikan segelas air pada sang anak karena Chanyeol terus-terusan batuk, wajahnya memerah dan ia terus memukul dadanya pelan.
"Kau ini kenapa sih? Kau dan Baekhyun bersikap aneh sekali hari ini."
Chanyeol terengah setelah menghabiskan satu gelas air, astaga. Ada apa dengan dirinya hari ini?
"Chanyeol apa kau-" Heechul sontak membisu, seringaian kecil langsung terpampang di wajah cantiknya.
"A-apa?"
"Kau dan Baekhyun sudah melakukan itu kan?"
"Melakukan apa?"
"Membuat bayi, semalam kalian pasti sudah membuatkan cucu untuk eomma kan? Akhirnya usaha eomma tidak sia-sia, ternyata obat perangsang itu benar-benar-"
"Benar-benar apa?"
Heechul sontak menutup rapat mulutnya, astaga. Kenapa ia bisa sampai keceplosan begini?
"Eomma kan yang sudah menaruh obat perangsang di minuman Baekhyun semalam?"
"A-apa? Eomma tidak-"
"Kenapa eomma melakukan itu? Karena perbuatan eomma semalam Baekhyun terus mengerang kesakitan, ia juga tidak bisa tidur dengan tenang."
"B-benarkah? T-tapi eomma-"
"Aku tidak suka jika eomma melakukan itu. Apa eomma suka melihat Baekhyun tersiksa?"
"Tapi eomma melakukan itu supaya kalian bisa cepat punya anak."
Chanyeol menghela nafas. "Ya, tapi tidak harus melakukan itu eomma."
"Lalu harus dengan cara apa? Kalian bahkan tidak saling menyentuh sampai sekarang."
"Sudahlah eomma, jangan bahas soal itu lagi."
Heechul menghembuskan nafasnya kesal, jadi semalam mereka tidak melakukan apa-apa? Heol, ingin rasanya ia menenggelamkan wajah tampan sang anak ke sumur Sadako!
"Yasudah, terserahmu saja." sentak ibunya kesal dan langsung berlalu pergi.
Chanyeol menggelengkan kepalanya acuh, selalu saja soal anak yang dibahas ibunya itu. Setelah selesai sarapan ia langsung berbalik ke kamar. Biar bagaimana pun ia harus masuk ke kamar untuk mengambil pakaian kerjanya.
CKLEK
Keduanya sama-sama mematung di depan pintu kamar, secara tidak terduga mereka membuka pintu kamar secara bersamaan. Raut ekspresi terkejut terlihat begitu jelas di wajah masing-masing. Baekhyun hendak keluar dari arah sebelah kiri namun Chanyeol juga hendak masuk dari arah yang sama, begitu juga sebaliknya. Ketika Chanyeol hendak masuk dari arah sebelah kanan, Baekhyun pun merubah arah dan hendak keluar dari sebelah kanan juga.
Suasananya benar-benar terasa canggung dan keduanya bahkan tidak tau harus berbuat apa.
"Ekheemm.. Aku mau pakai baju."
"A-aku mau keluar."
Merasa tidak tahan dengan suasana canggung seperti ini, Baekhyun langsung menabrak tubuh Chanyeol dan berlari sekencang yang ia bisa.
BRAKK
Chanyeol tampak memegang dadanya erat setelah Baekhyun menabrak tubuhnya tadi, ia benar-benar masih merasa malu jika harus berhadapan dengan istrinya itu.
.
.
.
"Baekhyun."
"Astaga." Baekhyun terlonjak kaget ketika Heechul tiba-tiba saja muncul dan memanggil namanya.
"Kau kenapa? Pagi ini kau dan Chanyeol bersikap sangat aneh."
Pria cantik itu sedikit tersenyum canggung. "A-aku baik-baik saja eomma."
"Kau yakin?"
Baekhyun mengangguk. "Ne, aku yakin."
"Yasudah, sekarang kau tolong berikan bekal makanan ini untuk Chanyeol ya?"
"A-aku?"
"Iya, kau kan istrinya."
Entahlah, Baekhyun sebenarnya sangat ingin menghindari Chanyeol untuk sekarang. Tapi ia juga tidak bisa menolak permintaan ibunya.
"Ne eomma, akan Baekkie bawakan."
Di dalam kamar, Chanyeol masih belum selesai dengan pakaiannya. Ia masih berusaha memakai celananya dengan benar.
TOK TOK TOK TOK
SRETTTT
"Akkkhhh.. " Chanyeol meringis, ia bahkan mengumpat pelan. Ia sangat terkejut dengan suara ketukan pintu dari luar hingga secara tidak sengaja kejantanannya sendiri terjepit oleh resleting celananya.
CKLEK
"Chanyeol.. "
Tubuhnya semakin menegang mendengar suara Baekhyun. Ia tidak berani berbalik dan terus meringis menahan sakit.
"A-ada apa?"
"Eomma menyuruhku membawakanmu bekal makanan."
"Oh ne, t-terimakasih, kau simpan saja di meja."
"Kau tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa." balas Chanyeol cepat tak ingin membuat Baekhyun curiga.
Baekhyun meletakan kotak bekalnya diatas meja, dalam hati ia berpikir mungkin Chanyeol masih merasa malu atas kejadian semalam. Setelahnya ia memutuskan untuk keluar dan membiarkan Chanyeol sendiri.
BRAKK
Chanyeol sedikit menghembuskan nafasnya lega, ia berusaha melepaskan kejantanan nya yang masih tersangkut.
"Akkkhh.. Ini perih sekali."
SRETTT
"ARRRGHHHHH."
Heechul yang sedang memotong sayuran di dapur terlonjak kaget begitu mendengar teriakan Chanyeol. Tadi Baekhyun dan sekarang Chanyeol, sebenarnya mereka itu kenapa sih?
.
.
.
Pasangan menantu dan mertua itu tampak saling memandang dalam kebingungan ketika Chanyeol keluar dari dalam kamar dan berjalan pelan sambil mengangkangkan kedua kakinya lebar. Heechul jadi teringat ketika Chanyeol pertama kali di sunat saat kecil dulu.
"Chanyeol, apa yang-"
"Aku harus segera pergi eomma, aku sudah terlambat." potong Chanyeol yang terlihat begitu gugup. Ia langsung memakai sepatunya asal dan berlari sambil terpincang-pincang keluar rumah.
Baekhyun tampak terperangah dengan tingkah laku Chanyeol yang langsung pergi begitu saja. Begitu juga Heechul yang nampak membulatkan mulutnya membentuk huruf O. Baik Baekhyun maupun Chanyeol, keduanya sama-sama aneh dan menggelikan.
.
.
.
"Lis, coba kau lihat. Aku membeli tas Gucci keluaran terbaru kemarin, dan rencananya aku akan memberikan ini untuk Baekhyun. Bagaimana menurutmu?"
"Bagus, kau tau Baekhyun itu pecinta barang-barang branded."
"KYAAA KYAAA KYAAA."
Keduanya tampak mengernyitkan dahinya bingung melihat banyak mahasiswi kampus mereka yang berteriak dan berkumpul di depan kampus. Merasa penasaran, Jisoo dan Lisa pun beranjak dari tempat duduk mereka dan berjalan pelan menuju lapangan depan.
BRUMMM
Sebuah mobil sport mewah sewarna hitam metalic terparkir dengan rapi di depan kampus, seorang pria tampan berambut hitam kelam keluar dari dalam mobil lengkap dengan kacamata hitam yang menambah kesan keren dari si pria berkulit pucat tersebut.
"KYAAA KYAAA KYAAA."
Teriakan menggelegar terdengar begitu memekakan telinga di seluruh penjuru kampus. Lisa dan Jisoo kompak menutup mulut mereka rapat. Dia kembali, pria itu sudah kembali.
"KYAAAA OH SEHUN."
"JEONGMAL SARANGHAE OH SEHUN KYAAAA."
Kedua perempuan cantik itu saling berpandangan satu sama lain, mereka seolah bisa merasakan sebuah firasat buruk akan datangnya pria tampan berkulit putih pucat itu.
.
.
.
"Bagaimana dok? Semuanya baik-baik saja kan?"
"Semuanya baik-baik saja, hanya sedikit luka kecil."
Chanyeol menarik celananya kembali setelah dokternya mengoleskan sesuatu seperti gel ke kepala penisnya yang terluka akibat terjepit resleting celananya sendiri.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kau hanya perlu lebih berhati-hati lagi."
Chanyeol mengangguk. "Baik, aku mengerti dok."
Drrrtt.. Drrrt.. Drrrt..
"Sebentar dok." Chanyeol mengangkat ponselnya sejenak setelah ada panggilan masuk.
"Yeoboseyo?"
'...'
"Ada apa eomma?"
'...'
"Apa?"
.
.
.
"Hiks.. Aboeji bangun, ini Baekkie aboeji huweee."
Sekitar pukul 9 pagi Baekhyun di telepon kepala pelayan dirumahnya jika ayahnya jatuh di kamar mandi dan belum sadarkan diri. Dengan perasaan panik luar biasa Baekhyun yang ditemani ibu mertuanya langsung datang ke rumah Donghae dan benar saja, pria tampan yang berstatus sebagai ayah kandung Baekhyun itu terbaring tak sadarkan diri di kasurnya.
CKLEK
"Aboeji.. " Chanyeol akhirnya datang setelah menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam dari tempat kerja menuju rumah sang mertua. Ia sangat khawatir begitu mendapat kabar jika Donghae jatuh di kamar mandi.
Tak selang berapa lama Donghae pun mengerjapkan matanya pelan, ia tersenyum lemah melihat Baekhyun yang duduk di samping tempat tidurnya.
"Aboeji? Aboeji sudah sadar?"
Donghae mengangguk sekilas.
"Kita kerumah sakit sekarang ya?"
Donghae menggeleng. "Aboeji tidak ingin ke rumah sakit, ada sesuatu yang ingin aboeji bicarakan dengan mu dan juga Chanyeol."
Baekhyun dan Chanyeol tampak saling tatap untuk sejenak, Heechul yang seolah mengerti, memberikan kode kepada beberapa pelayan yang ada disana untuk keluar.
Setelah mereka semua pergi, sekarang hanya tinggal tersisa Baekhyun, Chanyeol dan Donghae saja di dalam kamar.
"Aboeji rasa sepertinya umur aboeji tidak akan lama lagi."
Baekhyun membulatkan matanya terkejut. "Kenapa aboeji bicara begitu? Jangan buat Baekkie takut aboeji hiks."
"Aboeji serius, sepertinya waktu aboeji sudah tidak lama lagi."
"Ada sesuatu yang aboeji butuhkan?" Tanya Chanyeol menyela.
"Aboeji ingin menimang cucu sebelum aboeji meninggal."
Baekhyun dan Chanyeol sontak membeku ditempat masing-masing.
"Kalian bisa mengabulkan itu untuk aboeji?"
Mereka berdua tampak saling melirik dalam kebingungan. Donghae yang melihat itu hanya bisa menghembuskan nafasnya pelan.
"Yasudah kalau kalian tidak mau, biarkan saja aboeji mati dengan penuh kekecewaan."
Baekhyun dan Chanyeol sontak saja melotot mendengar perkataan Donghae.
"A-aboeji jangan bicara begitu. Baekkie sayang aboeji hiks."
"Jika Baekkie sayang aboeji, seharusnya Baekkie bisa memberikan aboeji cucu."
"Kalau itu Baekkie tidak bisa aboeji, Baekkie-"
"Apa sebegitu sulitnya untuk kalian memberikan aboeji cucu? Aboeji yang mengurus Baekkie dari kecil, aboeji juga selalu menuruti segala permintaan Baekkie. Lalu ini yang aboeji dapatkan setelah apa yang aboeji lakukan untuk Baekkie selama ini? Aboeji tidak pernah meminta apa-apa Baek, aboeji cuma mau cucu."
Baekhyun sontak terdiam, ia menunduk dan terus menangis sedih. Ia benar-benar merasa menjadi anak yang tidak berguna.
"Jika kalian masih tetap seperti ini, lebih baik kalian pergi saja. Biarkan aboeji mati dalam kekecewaan, jika aboeji mati nanti, kalian jangan pernah berkunjung ke pemakaman aboeji."
"Aboeji.. "
Donghae langsung membalikan tubuhnya dan menutup matanya rapat. "Kenapa hidupku begitu menyedihkan? Anakku sendiri bahkan tidak mau menuruti permintaanku."
"Hiks aboeji bukan begitu."
Chanyeol menangkup pundak Baekhyun erat, ia mengajak Baekhyun untuk keluar kamar dan membiarkan Donghae seorang diri.
"Aboeji.. "
Baekhyun melirik ayahnya itu dengan tatapan sendu sebelum ia benar-benar keluar dari kamar.
BRAKK
Setelah mereka pergi barulah Donghae membuka matanya kembali dan tersenyum jahil, rencananya dan Heechul kali ini sepertinya akan berhasil. Semoga saja dalam jangka waktu dalam satu bulan ke depan ia sudah mendapat kabar positif tentang kehamilan Baekhyun.
.
.
.
"Baek?"
Malam harinya Baekhyun terus menangis dan mengurung diri di kamarnya, Chanyeol yang melihat itu merasa tidak tega dan duduk disamping sang istri yang tidur membelakanginya.
"Hiks Baekkie memang anak yang tidak berguna, Baekkie tidak bisa memberikan apa yang aboeji minta padahal aboeji selalu menuruti segala yang Baekkie mau, maafkan Baekkie aboeji hiks."
Chanyeol terdiam melihatnya, Baekhyun terus menangis sambil memeluk gulingnya dengan erat.
"Baekkie tidak mau aboeji meninggal hiks Baekkie sayang aboeji."
"Baek, bagaimana jika kita coba?" ucap Chanyeol mencoba menarik perhatian Baekhyun.
Baekhyun sontak terdiam, ia berbalik dan menatap Chanyeol dengan bingung.
"Bagaimana jika kita coba menuruti permintaan eomma dan aboeji? kita coba untuk memberikan mereka cucu, kau setuju?"
DEG
Baekhyun terpaku, ia menatap suaminya itu dengan tatapan ragu. Haruskah? Jika ia menolak, lalu bagaimana dengan ayahnya?
"A-aku tidak tau.. M-maksudku aku tidak tau b-bagaimana cara membuatnya." Ucap Baekhyun sambil terbata-bata.
"Kau diam saja, biar aku yang bergerak."
GLUK
Baekhyun menelan ludahnya gugup, ia tidak cukup bodoh untuk mengetahui arti dari ucapan Chanyeol barusan. Ia mencengkeram bajunya erat selama beberapa lama sebelum akhirnya ia mengangguk kaku.
Merasa mendapat lampu hijau, Chanyeol mulai menundukan kepalanya pelan-pelan dan mencoba mengeliminasi jarak di antara mereka. Baekhyun sontak menutup matanya rapat ketika dirasa wajah Chanyeol semakin mendekat, ketika hidung mereka sudah mulai bersentuhan...
BRAKKK
"APPA."
Keduanya terlonjak kaget, dan Chanyeol langsung menjauhkan wajahnya dari Baekhyun.
"Kookie?"
Anak kecil berusia 6 thn itu berlari kencang hingga menubruk tubuh sang ayah, tubuh Chanyeol sampai terjengkang kebelakang saking kencangnya Kookie menubruk tubuhnya.
Baekhyun dan Chanyeol tampak saling pandang dengan tatapan bingung.
"Kookie rindu sama appa.."
.
.
.
TBC
Chapter 6 is up ~
Ga mau banyak cing cong deh, kasih review aja kalo emang kalian berkenan.
See you in the next chap :)
