"Sebenarnya aku merasa malu untuk datang kemari, tapi aku tidak tau harus menitipkan Kookie pada siapa lagi. Dia terus merengek ingin bertemu dengan ayahnya."

Sekitar pukul 10 malam Irene tiba-tiba saja datang kerumah sambil membawa Kookie, ia bilang malam ini ia harus bekerja lagi dan Kookie tidak ada yang menemani. Karena itulah ia datang kerumah Chanyeol untuk menitipkan Kookie disini.

Heechul yang duduk di depannya hanya mengangguk kecil merasa tidak keberatan jika Kookie menginap disini.

"Tidak masalah Irene ah, rumah ini akan selalu terbuka jika itu untuk Kookie."

Irene tersenyum. "Terimakasih, aku dan Kookie sudah terlalu sering menyusahkan kalian."

"Tidak perlu dipikirkan, Kookie sudah aku anggap seperti cucu ku sendiri. Chanyeol juga sangat menyanyangi Kookie seperti anak kandungnya sendiri. Kami sama sekali tidak merasa di repotkan." Ucap Heechul panjang lebar.

"Ngomong-ngomong, apakah kau masih harus bekerja di tempat itu? Kau bisa mencari pekerjaan di tempat lain Irene ah. Kasihan Kookie."

"Ahjumma tau aku tidak bisa berhenti, aku terikat banyak hutang pada orang itu dan keluarga ku di desa juga butuh makan."

Heechul menatap prihatan pada wanita cantik di depannya itu, Irene adalah wanita yang baik. Ia melakukan pekerjaan seperti ini karena keadaan lah yang memaksanya, jika Irene bukan seorang wanita malam Heechul mungkin akan setuju jika Chanyeol menikah dengannya.

"Yasudah, apapun itu aku selalu mendo'akan yang terbaik untukmu. Jangan sungkan untuk datang padaku jika kau sedang membutuhkan sesuatu, anggap saja aku ini seperti ibumu juga."

"Ne, terimakasih ahjumma." Balas Irene sambil tersenyum lembut.

.

.

.

"Dan pada akhirnya, mereka pun hidup bahagia selamanya. Tamat."

Chanyeol selesai menceritakan sebuah dongeng kesukaan Kookie, adalah sebuah kebiasaan bagi Chanyeol untuk menceritakan sebuah dongeng sebelum tidur setiap kali Kookie datang untuk menginap.

Sekarang Kookie sudah terlelap dengan botol minum susu yang masih ia hisap. Chanyeol tersenyum kecil melihatnya, ia mengecup kening anaknya itu pelan. Sungguh Chanyeol sangat menyanyangi Kookie, ia sudah menganggap Kookie layaknya darah dagingnya sendiri.

"Chanyeol?"

Baekhyun yang sedari tadi hanya diam memperhatikan interaksi antara ayah dan anak itu akhirnya mulai unjuk suara, mereka semua tidur dalam satu ranjang. Baekhyun berbaring di sisi sebelah kiri, Chanyeol disebelah kanan dan Kookie tidur di tengah-tengah mereka. Chanyeol dan Baekhyun saling menopangkan tangan masing-masing dengan posisi saling berhadapan.

"Kau terlihat sangat menyanyangi Kookie, padahal dia bukan anak kandungmu."

"Kasih sayang seseorang tidak harus di ukur hanya dengan apakah mereka sedarah atau tidak. Aku menyayangi Kookie karena perasaan itu memang muncul dengan sendirinya. Aku sudah merawatnya semenjak ia masih kecil, dia anak yang baik. Dan aku rasa ia pantas mendapat kasih sayang yang lebih."

Baekhyun tersenyum kecil mendengarnya, ia menatap anak kecil yang tertidur layaknya malaikat tak bersayap itu sambil mengelus kepalanya sayang.

"Baek.."

"Ya?"

"Soal tadi.. Sepertinya kita tidak bisa melakukannya malam ini."

Baekhyun terdiam, lalu ia mengangguk kaku. "Aku pikir aku juga belum siap untuk melakukannya."

"Tapi bukankah kita harus melakukan itu? Aku sangat khawatir soal kondisi ayahmu."

Baekhyun mengangguk sendu. Ia selalu merasa sedih jika mengingat pertemuannya dengan ayahnya tadi.

"Iya aku tau itu, mau tidak mau kita harus secepatnya punya anak."

Chanyeol mengangguk setuju. "Sebaiknya sekarang kita tidur, besok aku harus bangun pagi."

.

.

.

3 hari kemudian Donghae datang kerumah dan berbicara banyak hal, ada sesuatu yang sedang menganggu pikirannya sekarang ini.

"Sehun kembali, ia sudah kembali."

Heechul terdiam sejenak. "Maksudmu mantan kekasih Baekhyun?"

Donghae mengangguk. "Iya, Lisa dan Jisoo sudah memberitahukan semuanya padaku. Aku khawatir Baekhyun akan kembali pada Sehun jika pria albino itu muncul kembali."

Heechul tampak menghela nafasnya. "Selama Baekhyun tidak tau Sehun sudah kembali, aku pikir semuanya akan baik-baik saja."

Diluar, Chanyeol berjalan pelan menuju rumahnya saat Donghae dan Heechul sedang mengobrol di ruang tamu. Sebenarnya pagi-pagi sekali Chanyeol sudah berangkat kerja, tapi karena dompetnya ketinggalan akhirnya ia memutuskan untuk kembali. Setelah sampai di teras rumah, ia langsung melepas sepatunya pelan. Dahinya sedikit mengernyit ketika melihat sepatu ayah mertuanya ada di depan rumah.

Ia berdiri dan bersiap untuk masuk, tapi urung ia lakukan setelah mendengar ibu dan ayah mertuanya sedang membicarakan sesuatu. Chanyeol semakin dibuat heran karena Donghae terlihat sehat-sehat saja, padahal beberapa hari sebelumnya untuk bangun dari kasur saja ia tidak bisa.

"Yang terpenting sekarang adalah bagaimana supaya Baekhyun cepat hamil. Hanya itu saja."

"Apa mereka sudah melakukan itu?"

"Aku rasa belum, beberapa hari ini Kookie datang untuk menginap. Dan mereka tidur bersama, jadi aku pikir mereka tidak ada privasi untuk melakukan itu."

Donghae tampak mendengus kesal. "Kenapa bisa begitu? Aku sudah berpura-pura sakit dan belum ada hasil sama sekali?"

Chanyeol membulatkan matanya terkejut, jadi kemarin Donghae hanya pura-pura sakit?

"Aboeji." Ia langsung masuk dan memanggil sang ayah mertua, Donghae dan Heechul terlihat sangat terkejut melihat Chanyeol masuk ke dalam rumah.

"Chanyeol? Bukankah kau sudah berangkat bekerja?"

"Dompetku ketinggalan." balas Chanyeol singkat.

"Bisakah kalian menjelaskan apa yang barusan aku dengar?"

Heechul dan Donghae saling menatap dalam gugup, mulut mereka seolah terkunci tak tau harus berkata apa.

Melihat reaksi kedua orangtuanya Chanyeol hanya bisa menghela nafas kecewa. "Aku kecewa sekali pada kalian berdua, bisa-bisanya kalian membohongi aku dan Baekhyun. Apa kalian tau bagaimana khawatirnya aku dan Baekhyun melihat kondisi aboeji kemarin? Baekhyun bahkan terus menangis semalaman. Ini sungguh tidak lucu, aboeji, eomma."

"Aboeji terpaksa melakukan itu karena kalian tidak juga memberikan kami cucu."

"Tapi tidak harus dengan cara seperti itu aboeji. Aboeji membuat kami khawatir."

Heechul dan Donghae kompak terdiam, mereka tau perbuatan mereka kemarin memang berlebihan.

"Sudahlah, Chanyeol harus kembali ke tempat kerja."

Setelah mengambil dompetnya yang tertinggal di kamar, pria tinggi itu langsung pergi lagi meninggalkan rumah.

Heechul menghela nafasnya kesal sambil memandang kepergian Chanyeol. "Aku akan tetap berusaha membuat mereka memberikan cucu untukku."

"Caranya?"

Heechul terdiam sebentar, ia kemudian membisikan sesuatu ke telinga Donghae yang membuat pria itu membelalakan matanya terkejut, akan tetapi beberapa detik kemudian ia langsung menyeringai jahil.

.

.

.

"Eomma mau pergi kemana?"

Baekhyun terlihat keheranan melihat Heechul yang sudah rapi seperti hendak pergi ke suatu acara penting, jam masih menunjukan pukul 3 sore. Mau pergi kemana ibunya?

"Eomma mau pergi berkunjung ke rumah tuan Hwang."

"Tuan Hwang? Siapa itu?"

"Tuan Hwang itu tetua yang sangat di hormati di kampung ini, dia juga seorang pemuka agama yang cukup di segani."

"Untuk apa eomma menemuinya?"

"Biasanya eomma memang sering mengunjunginya, Eomma sering mengunjunginya untuk mendapatkan siraman spiritual. Biasanya Tuan Hwang selalu rutin mengadakan ceramah bulanan."

Oh begitu rupanya, mungkin ini semacam siraman rohani atau ceramah di hari minggu.

"Kau mau ikut Baek?" Tanya Heechul penuh harap.

"Aku?" jika dipikir-pikir Baekhyun memang jarang sekali pergi ke gereja, biar bagaimana pun setiap manusia yang ber agama pasti juga butuh siraman rohani kan? Meskipun hanya sesekali?

"Yasudah, Baekkie ikut." Ucap Baekhyun sambil mengangguk singkat.

.

.

.

Ceramah keagamaan yang rutin di adakan setiap satu bulan sekali ini sukses membuat Baekhyun menangis. Ceramah yang di berikan oleh Tuan Hwang atau yang juga di kenal sebagai Pendeta Hwang benar-benar membuat Baekhyun sadar akan kesalahan dan dosa-dosanya selama ini, Tuan Hwang berbicara tentang kehidupan yang hanya sekali dan menghimbau setiap jemaat untuk selalu mengingat Tuhan dan menghabiskan sisa usia dengan melakukan hal-hal baik. Karena itulah Baekhyun jadi teringat tentang masa lalunya karena selama 23 thn ia hidup, ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang tanpa pernah mengingat Tuhan. Sudah begitu banyak dosa yang ia perbuat tapi Tuhan masih dengan baik hati memberinya begitu banyak kenikmatan di dunia. Ia janji untuk kedepannya ia akan lebih sering ke Gereja dan selalu mengingat Tuhan.

"Terimakasih untuk siraman rohani hari ini Tuan Hwang. Aku benar-benar merasa seperti mendapat pencerahan dan pandangan baru tentang kehidupan yang seharusnya kita jalani."

Tuan Hwang tersenyum hangat mendengar penuturan Heechul. "Sama-sama Heechul ssi, itu memang sudah menjadi tugas dan kewajibanku."

"Iya, ah Tuan Hwang, kenalkan ini Baekhyun. Dia menantuku, istrinya Chanyeol." Ucap Heechul memperkenalkan Baekhyun yang duduk di sampingnya.

"Oh salam kenal Baekhyun ssi."

"Ne, salam kenal Tuan Hwang. Ceramah yang ada berikan tadi benar-benar membuat aku tersentuh. Aku jadi teringat semua dosa yang sudah aku perbuat."

Tuan Hwang tersenyum kecil melihatnya. "Aku senang jika ceramah yang aku berikan bisa berdampak positif pada orang lain, semoga setelah ini kau bisa menjalani hidup dengan lebih baik lagi di jalan Tuhan Baekhyun ssi."

Baekhyun mengangguk sambil menangis lagi, Baekhyun memang sangat perasa dan mudah sekali menangis.

"Ah Tuan Hwang, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan anda."

"Apa itu Heechul ssi?"

"Begini, menantuku ini kan baru menikah. Dan ia masih belum mengetahui banyak tentang kewajiban seorang istri pada suaminya yang sesuai dengan ajaran Tuhan. Mungkin Tuan Hwang bisa sedikit memberi pencerahan pada menantuku?"

Baekhyun menatap ibu mertuanya dengan pandangan bingung, apa yang di bicarakan oleh ibunya?

Tuan Hwang tersenyum lagi mendengarnya. "Hakikat dari sebuah pernikahan itu sendiri adalah untuk membentuk sebuah keluarga baru yang tentu saja sesuai dengan ajaran Tuhan. Selain itu, pernikahan juga di tujukan untuk menghindarkan setiap umat manusia dari dosa perzinahan. Pernikahan yang di landasi akan keimanan kepada Tuhan niscaya akan selalu diberkati. Dan untuk tugas dan kewajiban bagi sepasang suami istri itu adalah mutlak. Seorang suami wajib menjalankan tugasnya sebagai seorang suami dan begitu juga sebaliknya. Seorang istri wajib menjadi rumah bagi suaminya, maksudnya rumah disini adalah sebagai tempat bagi sang suami untuk berkeluh kesah dan bersandar ketika ia lelah. Seorang istri juga berkewajiban untuk menyayangi dan mengasihi suaminya dengan sepenuh hati, menemani dan selalu mendukung suaminya dalam keadaan sulit maupun senang. Hakikatnya seorang istri adalah selalu senantiasa menundukan pandangannya dan menuruti setiap perkataan suami."

Baekhyun tertegun mendengarnya, sekarang ia sudah bersuami dan memang seharusnya ia selalu menghormati Chanyeol sebagai kepala rumah tangga.

"Lalu bagaimana dengan hubungan biologis, apa hukuman bagi istri yang menolak untuk melayani kebutuhan biologis suaminya?"

Baekhyun melotot kaget, kenapa ibunya malah bertanya seperti itu?

"Hubungan intim bagi sepasang suami istri adalah wajar, akan tetapi hubungan itu harus atas persetujuan kedua belah pihak. Tidak boleh atas dasar keterpaksaan. Hendaknya seorang istri punya alasan yang jelas kenapa ia menolak suaminya, seperti sakit atau sebagainya. Seorang suami juga hendaknya tidak memaksa keinginannya jika memang istrinya tidak bisa melakukan itu. Perbuatan salah apabila seorang istri menolak tanpa alasan yang tidak bisa dibenarkan. Tubuh istri adalah milik suami dan tubuh suami adalah milik istri. Hendaknya seorang istri bisa melayani suaminya sebaik yang ia bisa."

Baekhyun seolah merasa tertohok, satu bulan menikah ia memang belum pernah memenuhi kebutuhan suaminya di atas ranjang. Chanyeol juga selama ini tidak pernah memintanya untuk berhubungan intim kecuali saat ayahnya sakit kemarin. Apakah ia berdosa karena tidak pernah melayani hasrat biologis suaminya?

"Lalu bagaimana dengan pasangan yang menolak untuk memiliki keturunan?" Tanya Heechul lagi.

"Tentu saja itu salah, anak adalah anugerah dari Tuhan. Jadi kenapa kehadirannya harus di tolak?"

Heechul melirik Baekhyun kemudian untuk memperhatikan reaksi apa yang akan di tunjukan menantunya itu. Ia tersenyum kecil ketika Baekhyun menunjukan ekspresi seolah ia merasa bersalah.

"Lalu apa hukumnya jika seorang anak menolak untuk memenuhi keinginan orangtuanya?"

"Tergantung, jika keinginan itu berujung pada sebuah perbuatan dosa, jelas saja itu salah. Tapi jika permintaan itu bukan sesuatu yang menyalahi aturan agama, tidak merugikan orang lain dan menjurus pada kebaikan maka sebuah kewajiban yang mutlak bagi sang anak untuk memenuhinya."

Heechul tersenyum lagi mendengarnya, itulah jawaban yang ingin ia dapatkan, ia alihkan tatapannya pada Baekhyun.

"Baekkie sayang, ayo sekarang kita pulang."

"Terimakasih Tuan Hwang, anda benar-benar membantu." ucapnya lagi sambil menunduk hormat pada Tuan Hwang.

"Senang bisa membantu Heechul ssi, Baekhyun ssi."

.

.

.

Setelah sampai dirumah, Baekhyun jadi lebih banyak terdiam. bahkan ketika ia menyiapkan makanan pun ia tidak fokus sama sekali.

"Baek, ada yang sedang kau pikirkan?"

Baekhyun menoleh. "Aku hanya sedang kepikiran ucapan Tuan Hwang tadi eomma."

"Kenapa memangnya?"

"Baekkie merasa berdosa karena belum bisa menjadi istri yang baik untuk Chanyeol, padahal Chanyeol sudah banyak melakukan banyak hal untuk Baekkie. Ia bahkan rela bekerja keras setiap hari demi memenuhi segala kebutuhan Baekkie."

Heechul diam-diam tersenyum, sepertinya rencananya kali ini akan berhasil.

"Kenapa kau merasa begitu Baek? Bukankah selama ini kau sudah melakukan semua tugasmu sebagai seorang istri?" Tanya Heechul mencoba memancing.

"Belum semua eomma. B-Baekkie kan b-belum pernah menjalankan t-tugas dan k-kewajiban Baekkie diatas ranjang." ucap Baekhyun yang terlihat sangat malu.

Heechul menutup mulutnya dengan kedua tangan, ia berusaha sekuat mungkin untuk tidak tertawa.

"Kalau begitu kenapa tidak kau lakukan?"

"C-Chanyeol tidak pernah meminta B-Baekkie untuk melakukan itu eomma, lagipula Baekkie juga takut. Baekkie belum siap."

"Kenapa begitu? Jika kau masih merasa takut itu artinya kau belum menjadi istri yang sesungguhnya. Kau ingat ucapan Tuan Hwang tadi? Kau akan sangat berdosa jika tidak melayani suamimu. Apa kau mau masuk neraka?"

Baekhyun menggeleng cepat. "T-tidak eomma, Baekkie tidak mau."

"Yasudah kalau begitu, lakukan tugasmu sebagai istri yang sesungguhnya. Chanyeol bukannya tidak mau, dia tidak pernah meminta karena mungkin ia tau kau tidak suka. Jadi, ada baiknya jika kau yang mulai memancing Chanyeol duluan."

Baekhyun terdiam mendengarnya, haruskah ia melakukan itu?

"Ingat Baek, Tuhan sangat mengasihi setiap istri yang melayani suaminya dengan sepenuh hati."

.

.

.

Chanyeol berlari sekencang yang ia bisa, ia menelusuri setiap koridor sebuah motel kecil di pinggir kota. Sekitar pukul 6 sore tadi, tepatnya ketika baru selesai kerja, ia mendapat telepon dari seseorang yang ia tidak kenal yang mengatakan jika Baekhyun diculik dan saat ini ia sedang di sekap di salah satu kamar di sebuah motel kecil disudut pinggiran kota Seoul. Tidak ada informasi apapun yang ia punya selain kamar nomor 66 tempat dimana Baekhyun disekap. Ia sungguh panik sekarang, ia takut terjadi sesuatu pada istri mungilnya itu.

BRAKKK

"BAEKHYUN."

Baekhyun yang sedang duduk di sebuah ranjang kecil sontak menoleh dan terkejut ketika pintu kamar di dobrak dengan sangat keras dan suaminya Chanyeol muncul kemudian berteriak dengan sangat kencang.

"Chanyeol?" Baekhyun dibuat mengernyitkan dahinya bingung melihat penampilan Chanyeol yang amat sangat berantakan. Bajunya bahkan sampai lepek karena terlalu banyak terkena keringat. Nafasnya naik turun tidak teratur persis seperti seseorang yang habis di kejar puluhan anjing penjaga.

"Chanyeol apa yang-"

GREPP

Tubuh Baekhyun sontak membeku ketika Chanyeol langsung memeluknya erat. "Syukurlah kau tidak apa-apa, aku sangat khawatir tadi." bisiknya pelan tepat di telinga Baekhyun.

"C-Chanyeol aku-"

BRAKK

Chanyeol dan Baekhyun sontak menoleh bersamaan ketika pintu kamar tiba-tiba tertutup.

Chanyeol langsung beranjak dan berusaha membuka pintu kamarnya.

BRAKK BRAAKK BRAKK

"YA! SIAPA KALIAN? BUKA PINTUNYA!"

BRAKK BRAKK BRAKK

"Tidak akan, kami tidak akan membuka pintu ini sampai kalian setuju membuatkan cucu untuk kami."

"Eomma?"

"Ne, ini Eomma Chanyeol ah. Eomma dan aboeji mu terpaksa melakukan ini agar kami bisa segera punya cucu."

"Cepat buka pintunya eomma, ini tidak lucu!"

"Tidak sebelum kalian memberikan kami cucu."

"EOMMA." Chanyeol berteriak frustasi, tindakan eomma dan aboejinya ini sudah cukup keterlaluan.

"Aboeji akan bukakan pintunya setelah kalian selesai membuatkan kami cucu, jadi nikmatilah malam ini dan tolong buatkan kami cucu yang cantik dan tampan."

"A-aboeji buka pintunya hiks." ucap Baekhyun yang ikut bersuara.

"Tidak Baekkie sayang, aboeji terpaksa melakukan ini demi kebaikan kalian. Sekarang bekerja keraslah untuk malam ini. Kami pergi."

"Tidak! Aboeji, eomma. Jangan pergi, buka pintunya dulu." Chanyeol berusaha membuka pintunya dari dalam.

Semua itu percuma saja, Baekhyun bahkan bisa mendengar suara langkah kaki ayah dan ibunya yang bergerak menjauh dari tempat ini. Ya Tuhan, ingin rasanya Baekhyun menangis sekarang.

BRAKK BRAKK BRAKK

"SIAL!" Chanyeol mengumpat emosi.

Sekarang apa yang harus mereka lakukan?

.

.

.

Pukul 7 malam dan itu artinya mereka sudah terkurung selama kurang lebih satu jam, sedari tadi mereka hanya duduk bersebelahan di pinggir kasur tanpa ada yang bersuara, Chanyeol masih kesal karena ibu dan ayah mertuanya mengunci ia dan Baekhyun di kamar motel kecil seperti ini, sedangkan Baekhyun sendiri sedari tadi hanya diam saja karena ia tidak tau apa yang harus ia lakukan. Ia melirik keseluruh penjuru ruangan. Kamar ini cukup kecil dan lumayan sempit tapi peralatannya terbilang cukup lengkap, ada Televisi berlayar datar yang terpasang di tengah ruangan dan ada juga kipas angin berukuran sedang yang menempel di dinding. Di dekat ranjang kasur juga ada sebuah kulkas berukuran sedang yang berisi penuh makanan. di pojok ruangan bahkan ada sebuah kamar mandi kecil yang hanya muat untuk satu orang, disana juga tidak ada bak mandi ataupun shower, hanya sebuah ember berukuran sedang, gayung kecil, kran air dan sebuah closet duduk. Ya, setidaknya itu lebih baik daripada tidak sama sekali.

"Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kau bisa ada disini?" Tanya Chanyeol yang akhirnya bersuara untuk pertama kali.

"Ada seseorang yang tidak aku kenal mengubungiku tadi sore, ia bilang kau di sekap di Motel Byungman di kamar no. 66. Aku diminta datang kesini untuk menyelamatkan mu, tapi setelah aku datang kemari, tidak ada siapapun ldan kamar ini dalam keadaan kosong."

Chanyeol mengusap wajahnya kasar, ini sudah pasti perbuatan ibu dan ayah mertuanya. Jika berteriak pada orang tua itu tidak dilarang, Chanyeol ingin sekali melakukan itu pada ibu dan ayah mertuanya. Ia berlari seperti orang gila karena ia pikir Baekhyun benar-benar diculik. Tapi ternyata ia malah dikerjai.

"Kita harus mencari cara untuk keluar dari sini."

Baekhyun menatap suaminya itu dengan intens. Ia sedikit merasa prihatin dengan kondisi Chanyeol yang terlihat begitu berantakan. Ia tau perbuatan ayah dan ibunya kali ini cukup keterlaluan, Chanyeol pasti sangat lelah setelah bekerja seharian dan ia langsung bergegas kemari. Itu pasti sangat melelahkan.

"Chanyeol-" Tangannya mengapung di udara begitu saja ketika ia hendak menyentuh wajah suaminya karena Chanyeol langsung berdiri dan berusaha membuka pintu itu kembali.

BRAKK BRAKK BRAKK

"Pintu ini harus segera terbuka."

"Chanyeol apa kau sebegitu tidak inginnya bersama dengan ku?"

DEG

Chanyeol tertegun, ia langsung berbalik dan menatap istrinya itu bingung.

"Pintu itu tidak akan pernah terbuka, kenapa kau terus berusaha membuka pintu itu?"

Mendengar itu Chanyeol seolah merasa bersalah, ia tidak bermaksud begitu, Ia hanya tidak suka jika harus dikurung seperti ini.

"Ekheemm.. Disini panas, sepertinya aku harus segera mandi." Ia berdehem canggung dan langsung bergegas masuk ke dalam kamar mandi.

Baekhyun menatap suaminya itu sambil menghela nafas.

.

.

.

Setelah menghabiskan waktu selama 15 menit untuk membersihkan diri, Chanyeol kini duduk bersila di lantai kamar sambil makan beberapa camilan. Ia sudah mengganti pakaian kerjanya yang kotor dengan sebuah kaos putih dan celana boxer hitam pendek yang ia dapatkan di dalam lemari. Ibu dan ayahnya benar-benar sudah menyiapkan segalanya.

Ia melirik Baekhyun sejenak yang sedang membaringkan tubuhnya. "Baek, kau tidak lapar?"

"Tidak, kau saja yang makan. Aku ingin pulang."

Chanyeol tidak menjawab, ia juga ingin pulang. Tapi mau bagaimana? Pintunya tidak akan di buka sampai besok pagi.

TIIT

"Oooohh.. aaaahhh.. fasterrhhh."

DEG

Chanyeol menjatuhkan kue yang ia makan begitu saja ketika tiba-tiba saja televisi layar datar di depannya menyala dan langsung menampilkan adegan erotis pria dan wanita yang sedang melakukan hubungan intim tanpa sehelai benang pun ditubuh mereka.

"Ooohh.. aaaahhh.. eunggghhh.."

Baekhyun langsung terduduk begitu mendengar desahan erotis itu, wajahnya memerah sempurna ketika melihat adegan tidak senonoh di depan TV.

"C-Chanyeol, m-matikan televisi itu."

Dengan tangan gemetar Chanyeol berusaha mematikan televisi itu menggunakan remote.

TIIT TIIT TIIT TIIT

Tapi sayangnya itu tidak berhasil, bahkan ketika Chanyeol menekan tombol merah di depan TV, benda berlayar datar itu masih tetap saja menampilkan adegan yang amat sangat erotis itu.

"Eungghh.. Aaaahhh.. Ooouhhh.."

BRAKK BRAKK BRAKK

"Sial! Kenapa benda ini tidak mau mati?" Ucap Chanyeol kesal sambil terus memukul-mukul televisi itu.

Baekhyun menutup matanya dengan kedua tangan, ia tidak sanggup melihat adegan yang sangat vulgar itu.

"Ouhhh.. Ikkeh.. Ikkeh.. K-kimochi.. Aaahhh.. "

.

.

.

Sudah lebih dari 30 menit televisi sialan itu menampilkan adegan erotis yang begitu membuat Baekhyun dan Chanyeol gila. Televisi itu benar-benar tidak bisa di hancurkan bahkan ketika Chanyeol menghantamnya dengan benda keras.

Tubuhnya sudah penuh oleh keringat dan wajahnya memerah sempurna. Ia membalikan tubuhnya dan berusaha mengalihkan tatapan matanya kearah lain asal tidak menatap televisi. Tapi tetap saja, desahan dan rintihan erotis si pemeran wanita sukses membuat kepala Chanyeol mendidih, nafsunya ikut naik kepermukaan seiring kerasnya desahan si wanita itu. Celananya bahkan sudah mengembung pertanda kejantanannya sudah menegang sempurna. Ia berusaha menyembunyikan itu agar tidak terlihat oleh Baekhyun. Tapi terlambat, Baekhyun sudah terlanjur melihat gembungan di selangkangan Chanyeol dan ia tau itu artinya Chanyeol tengah dikuasai nafsu birahi.

Setelah itu Baekhyun mencoba memfokuskan tatapan matanya pada televisi dan berusaha menangkap setiap adegan demi adegan dengan baik meskipun sebenarnya ia juga merasa jijik. 30 menit ia seperti itu hingga pada akhirnya televisi itu mati dengan sendirinya.

TIIT

Chanyeol menghela nafasnya lega, ia bersyukur televisi itu mati tapi masalahnya bagaimana dengan adik kecilnya sekarang? Ia sudah dikuasai nafsu dan ia butuh pelampiasan sekarang. Tapi bagaimana? Ia tidak mungkin bermasturbasi di kamar mandi sekecil itu karena Baekhyun pasti akan mengetahuinya.

Ia melirik Baekhyun sekilas dan istrinya itu hanya terdiam menatap layar datar televisi.

Chanyeol menelan ludahnya gugup, ia benar-benar sudah tidak tahan. Ia butuh pelampiasan karena penisnya terus berkedut keras.

"Chanyeol."

Ia menatap istrinya itu dengan gugup. "A-apa?"

"Kau bisa menyentuhku jika kau mau."

"A-apa?"

"Kau bisa menyalurkan hasratmu padaku jika kau memang sudah tidak bisa menahannya." Baekhyun berucap yakin sambil memandang wajah tampan Chanyeol yang basah oleh keringat.

"Kau bicara apa? A-aku tidak mengerti."

"Jangan menahannya lagi Chanyeol, aku istrimu. Kau berhak melakukan nya padaku."

GLUK

Chanyeol menelan ludahnya gugup. Tidak-tidak, ia tidak bisa melakukan itu dengan Baekhyun.

"Sebaiknya sekarang kita tidur, kau jangan bicara yang aneh-aneh. Aku baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir."

"Tapi Chan-"

"Baekhyun, kau harus patuh pada ucapan suamimu!" Ucapnya tegas seolah tak ingin dibantah.

Baekhyun sontak membungkam mulutnya erat. Ia memandang Chanyeol dengan tatapan yang sulit di artikan.

.

.

.

Chanyeol berbaring dengan sangat tidak nyaman, ia tidur membelakangi Baekhyun. Ia sama sekali tidak bisa tidur karena hasratnya sama sekali belum tersalurkan. Penisnya terus berkedut dari tadi seolah meminta untuk segera dipuaskan. Potongan adegan dari film erotis tadi seolah terus berputar dikepalanya dan desahan sexy si pemeran wanita seolah terus terngiang-ngiang di telinganya. Chanyeol benar-benar tidak tahan, ia butuh pelampiasan sekarang juga.

GREPP

Seolah mengerti akan kegelisahan sang suami, Baekhyun langsung memeluk tubuh tinggi Chanyeol dari belakang. Chanyeol tentu saja merasa terkejut dan berusaha melepaskan pelukan itu.

"Ijinkan aku membantumu Chanyeol ah."

"Membantu apa? Kau jangan bertindak macam-macam Baekhyun ah."

"Chanyeol aku ini istrimu. Aku berkewajiban untuk melayanimu."

Chanyeol berbalik dan langsung memandang istrinya itu bingung. "Apa maksudmu Baekhyun ah?"

"Hari ini aku pergi untuk mengikuti ceramah bulanan di kampung, aku banyak mendapat pencerahan karena itu. Tuan Hwang bilang aku harus bisa melayani kebutuhan biologis suamiku, jika tidak, aku akan sangat berdosa. Aku tidak mau Chanyeol, aku tidak mau terus memupuk dosa karena aku tidak bisa melayani suamiku dengan baik. Selama hidupku aku sudah banyak melakukan kesalahan dan aku ingin memperbaikinya sekarang. Jadi aku mohon padamu Chanyeol, setidaknya kau jadikan aku istri yang baik di mata Tuhan." ucap Baekhyun sambil berkaca-kaca.

Chanyeol terdiam melihatnya, haruskah? Jujur saja Chanyeol merasa ragu..

Tapi, tidak ada salahnya kan jika ia menyentuh Baekhyun sekarang? toh mereka sendiri memang sudah sah untuk melakukan itu. Selain akan mendapat pahala nantinya, ia juga bisa menuruti keinginan orangtua mereka jika nantinya Baekhyun hamil.

Baekhyun mengusap airmatanya pelan. "Baiklah, jika kau tidak mau juga tidak masalah. Mungkin kau memang lebih suka melihatku terus memupuk dosa karena tidak bisa menjadi istri yang baik."

"Tunggu." Chanyeol menahan pundak sang istri ketika Baekhyun hendak berbalik.

"Baiklah, kita lakukan itu sekarang. Tapi.. Apakah kau yakin? Aku tidak akan memaksa jika kau memang belum siap."

Sejujurnya Baekhyun memang masih belum siap untuk melakukan itu, tapi Baekhyun lebih takut akan dosa jika ia tidak menjadi wadah bagi suaminya untuk menyalurkan hasrat seksualnya. Lagipula ia juga ingin memberikan cucu untuk ayah dan ibu mertuanya. Jadi, Baekhyun mencoba untuk memantapkan diri pada pilihannya kali ini.

"Aku yakin Chanyeol, aku sudah siap."

"Baiklah kalau begitu." Chanyeol langsung mengubah posisinya menjadi setengah menindih Baekhyun dengan kedua siku yang menjadi tumpangan.

Chanyeol menelan ludahnya gugup, melihat wajah Baekhyun yang begitu cantik dan mulus jika dilihat dari jarak sedekat ini. Ekspresi Baekhyun juga sama gugupnya dengan Chanyeol sekarang. Perlahan-perlahan Chanyeol mulai mengikis jarak diantara mereka.

CUP

Refleks tubuh Baekhyun menegang ketika bibir suaminya menyentuh bibir mungilnya. Chanyeol menutup matanya pelan, ia melumat bibir atas dan bawah Baekhyun secara bergantian mencoba meresapi rasa manis dari bibir mungil berwarna pink itu.

"Eungghh.. " tanpa sadar Baekhyun melenguh, refleks ia mencengkeram kaos Chanyeol erat saking gugup dan takutnya ia sekarang.

Pelan-pelan Chanyeol memasukan lidahnya kedalam rongga mulut Baekhyun dan mencoba menginvasi bagian dalamnya. Tak lupa ia juga mengajak Baekhyun untuk perang lidah yang ditanggapi pasif oleh si empunya.

Chanyeol melepas ciuman mereka dan mengusap keringat yang mengucur dari dahi dan wajah Baekhyun.

"Aku tanya sekali lagi, apa kau benar-benar yakin mau melakukan ini? Kau terlihat sangat gugup."

Baekhyun menelan ludahnya sekali dan mengangguk sambil tersenyum hangat. "Aku yakin Chanyeol ah."

Chanyeol terdiam, jujur ia masih ragu. Tapi ia tetap menundukan kepalanya dan kembali melumat bibir sang istri dengan lembut.

"Cppkhh.. Mmmphh. Cppkhh.. "

Suara kecipak saliva yang saling bertemu terdengar cukup intens diruangan sempit ini, keduanya kompak menutup mata masing-masing seolah meresapi sensasi dari bibir pasangan masing-masing.

Ciuman Chanyeol kemudian turun ke leher mulus sang istri.

PLOP

"Annghhhh.. "

Baekhyun mendesah lirih ketika Chanyeol meninggalkan bekas ciumannya di leher kanan Baekhyun. Tanda kissmark berewarna merah tercetak jelas disana. Chanyeol menghisap, mencium dan menjilat leher Baekhyun sensual.

PLOP

"Ahhh Chanyeollhh.. "

Chanyeol meninggalkan cukup banyak bekas ciuman dileher Baekhyun hingga kini leher yang tadinya sewarna putih susu itu ltelah berubah menjadi kemerahan.

Tangan Chanyeol bergerak membuka kancing kemeja tipis yang Baekhyun kenakan. Sambil membuka kancing itu satu persatu, Chanyeol kembali melumat bibir Baekhyun dengan lebih sensual.

CUP

Setelah kancing kemeja Baekhyun terbuka semua, Chanyeol langsung meremas dada berisi Baekhyun dan karena itu tubuh Baekhyun langsung bergetar hebat karena ini adalah kali pertama tubuhnya disentuh seperti ini oleh seorang pria. Tekstur telapak tangan Chanyeol yang sangat kasar seolah menggelitik area sensitif di dadanya.

Chanyeol kembali menundukan kepalanya dan kali ini ia hisap puting sebelah kanan Baekhyun dan satu tangannya ia gunakan untuk meremas dada sebelah kiri sekaligus menjepit puting Baekhyun menggunakan jari tangannya.

"Aaaahhh Chanyeolhhhh.. "

Tubuhnya menggelinjang hebat, sensasi geli dan nikmat seolah berbaur menjadi satu, refleks tangannya meremas rambut Chanyeol dengan cukup kasar.

Chanyeol menutup matanya rapat begitu menikmati kegiatannya menghisap nipple Baekhyun. Bukan hanya menghisap, ia juga menjilat dan menggigit kecil benda kecil sewarna merah muda itu. sensasinya begitu luar biasa.

PLOP

Ia membuat banyak kissmark disana hingga meninggalkan banyak noda merah. Setelahnya Chanyeol beralih pada dada sebelah kiri dan mengulang kegiatannya tadi. Baekhyun menggelengkan kepalanya ke kanan dan ke kiri saking luar biasanya sensasi yang ia rasakan.

"Eungghhh.. Aaahhh.. Chanyeolllhh.. Ouuuhh.. "

Chanyeol menurunkan lagi kepalanya dan ia ciumi perut rata Baekhyun dengan penuh nafsu. Tangannya menarik celana hitam pendek yang dikenakan Baekhyun sekaligus celana dalamnya juga.

Penis kecil seukuran penis anak SMP langsung mencuat begitu saja setelahnya, tidak ada bulu kemaluan satu pun yang tumbuh disana. Tanpa banyak bicara lagi Chanyeol langsung melahap penis kecil itu hingga tubuh Baekhyun bereaksi hebat.

"Aaaahhh.. Eungghh.. Aaahhh.. "

Baekhyun mencengkeram bantalnya erat. Tulang dan tubuhnya seolah terpisah karena sensasi yang Chanyeol berikan.

CLOK CLOK CLOK CLOK

Chanyeol bergerak dengan tempo teratur, ia seolah ingin memberikan pelayanan terbaiknya.

CLOK CLOK CLOK CLOK

CROOTT

"AHHHHHHH."

Baekhyun melenguh hebat, tubuhnya langsung lemas seketika setelah ejakulasi. Chanyeol menelan seluruh cairan Baekhyun. Ia kemudian berdiri dan melepas kaos putih yang ia kenakan.

BLUSSH

Wajah Baekhyun merona parah karenanya, tubuh Chanyeol sangat proporsional dengan bisep yang terbentuk sempurna, dada bidang yang terlihat kuat ditambah perut kotak-kotak samar ditambah bahu yang terlihat sangat kokoh. Meskipun kulitnya sekarang terlihat agak gelap karena terlalu lama terpapar sinar matahari, Chanyeol tetap terlihat tampan dan jujur saja kulit gelap seperti itu membuat Chanyeol jadi terlihat sangat sexy di matanya.

Baekhyun bisa melihat dengan jelas bagian celana sang suami yang sangat mengembung karena Chanyeol sudah menahan hasratnya dari tadi. Karena itu jugalah Baekhyun berdiri dan ia mencium bibir tebal sang suami kemudian. Ia lingkarkan tangannya kebelakang leher sang suami dan memeluknya pelan. Chanyeol terlihat menutup matanya dan kedua tangannya juga memeluk tubuh Baekhyun dengan erat, secara perlahan tangannya turun kebawah dan meremas pantat Baekhyun dengan gemas.

"Eungghh.. " Baekhyun melenguh lagi dan ia lepaskan pagutan mereka.

"Sekarang giliranku untuk memuaskanmu."

Chanyeol yang memang sudah di selimuti kabut nafsu hanya mengangguk sekilas dan terbaring pasrah ketika Baekhyun mendorong tubuhnya pelan.

Baekhyun mengusap sekujur tubuh sang suami dengan tangannya dan hal itu sukses membuat Chanyeol memejamkan matanya rapat.

Tangan Baekhyun mengusap kejantanan Chanyeol dari luar, pria kecil itu bisa merasakan jika milik Chanyeol memang sangat besar.

"Aaahhh.. " lenguhan pelan meluncur dari mulut Chanyeol begitu saja.

Baekhyun akhirnya menarik celana pendek Chanyeol sekaligus dengan celana dalamnya juga. Kejantanan suaminya itu langsung mengacung tegak bahkan sampai menampar wajah Baekhyun. Baekhyun agak sedikit tertegun melihat besar dan panjangnya benda pusaka milik suaminya itu. Panjang, besar dan berurat. Baekhyun jadi sedikit takut melihatnya, ia sama sekali tidak menyangka jika milik Chanyeol bisa sampai sebesar ini.

Ia menggengam batang kejantanan itu dengan tangan kanannya dan karena itu pula Chanyeol langsung melenguh lagi. Baekhyun menjulurkan lidahnya pada lubang kencing Chanyeol dan menjilati precum yang keluar dari sana persis seperti apa yang ia lihat di TV tadi. Reaksi yang diberikan Chanyeol pun sungguh diluar dugaan. Setiap kali Baekhyun menjilati lubang kencing sang suami, tubuh Chanyeol langsung mengejan seperti seseorang yang sedang tersengat listrik.

"Eungghh Baekkhhh ahhhh.. "

Entah kenapa Baekhyun sangat menyukai reaksi yang ditunjukan Chanyeol itu, karena itu dia terus bermain-main dengan lubang kencing sang suami.

"Hmmm.. Arrrghhh.. " Tubuh Chanyeol menggelinjang hebat karenanya.

Puas bermain-main Baekhyun akhirnya menghisap penis Chanyeol dengan mulutnya. Tapi karena penis Chanyeol terlalu besar, Baekhyun hanya bisa memasukan setengah dari batang kejantanan milik suaminya kedalam mulutnya.

Chanyeol menggeram rendah, ini pertama kali baginya ada yang mengoral penisnya dan rasanya sungguh luar biasa.

CLOK CLOK CLOK

Baekhyun menghisap penis Chanyeol dengan gerakan teratur, dari atas ke bawah dan begitu seterusnya. Ia juga menjilat batang kelelakian Chanyeol dengan gerakan sensual seperti apa yang ia lihat di televisi tadi.

Chanyeol menengadahkan kepalanya keatas, keringat dingin mulai membanjiri tubuhnya. Darimana Baekhyun belajar mengoral penis seseorang seperti ini?

Slurrp.. Slurrpp...

Setelah itu Baekhyun langsung beralih menghisap kedua buah zakar Chanyeol secara bergantian dan tangan kanannya yang terus mengocok batang kelelakian Chanyeol pelan.

"Oungghh.. Baeekkhh.. "

Merasa belum cukup, Baekhyun kembali bermain dengan batang Chanyeol namun kali ini ia hanya mengulum bagian kepalanya saja. Lidahnya juga ikut bermain di sekitar area lubang kencing sang suami lagi.

Slurrpp.. Slurrpp..

Tubuh Chanyeol bergetar hebat karenanya, semua orang pasti tau jika kepala penis adalah titik paling sensitif seorang pria dan Baekhyun malah dengan sengaja bermain-main di area itu.

"B-Baekkhh.. J-jangannhh.. Disituhhh.. Arrrghhhh.. "

Baekhyun seolah sengaja menggoda suaminya itu dengan terus menghisap kencang kepala penisnya dengan gerakan memutar. Lidahnya juga tidak berhenti bermain di lubang kencingnya dan demi Tuhan, Chanyeol rasanya hampir meledak detik itu juga. Kepalanya ia tanggahkan keatas sambil menutup rapat matanya tak kuasa menahan rasa nikmat dan geli yang berpusat di selangkangannya.

CLOK CLOK CLOK CLOK

Karena merasa sudah tidak tahan, Chanyeol akhirnya mencoba bangkit dan memegang bahu Baekhyun erat. Baekhyun sontak melepas kuluman pada penis sang suami dan menatap Chanyeol dengan pandangan bingung.

"Kenapa?" tanyanya dengan nada yang amat sangat polos.

Tubuh Chanyeol sudah penuh oleh keringat dan nafasnya naik turun tidak beraturan. "Kau benar-benar membuatku gila Park Baekhyun."

Chanyeol langsung mendorong tubuh istrinya hingga terlentang dan langsung menindihnya. Ia melumat bibir ranum sang istri dengan sangat rakus dan penuh nafsu seolah hendak menelannya habis. Jangan salahkan Chanyeol yang bersikap agresif seperti ini karena Baekhyun lah yang sengaja membangunkan macan yang tengah tertidur.

"Cppkhh.. Mmmphh.. Ccpkmhh.. "

Baekhyun sampai memukul-mukul dada Chanyeol pelan karena ia sudah kehabisan nafas. Mengerti akan itu, Chanyeol lantas langsung melepas ciumannya dan beralih mengulum nipple sewarna merah muda di dada berisi Baekhyun.

"Aaahhh.. Ssshh.. " Baekhyun meringis pelan karena Chanyeol menggigit nipple nya juga.

Sambil terus fokus menyusu layaknya balita, tangan Chanyeol bergerak liar mengusap paha dalam Baekhyun dengan sensual.

"Aaaahhh.. Chanyeolllhh.. " Baekhyun merintih lirih karenanya.

Setelah puas menyusu, Chanyeol membuka lebar paha Baekhyun dan penisnya langsung berkedut kencang melihat lubang yang sangat kecil sewarna merah muda dibawah sana. Sambil meneguk ludahnya susah, Chanyeol langsung menghisap dan menciumi lubang itu dengan penuh nafsu.

Slurrpp... Slurrpp..

Baekhyun terbelalak kaget, ia berusaha menahan Chanyeol agar tidak melakukan hal yang Baekhyun anggap menjijikan itu.

"Chanyeollhh.. Jangannhhh.. Aaaahh.. "

Setelah dirasa cukup, Chanyeol kemudian memandang wajah istri nya itu lekat-lekat.

"Kau benar-benar yakin mau melakukan ini?"

Baekhyun mengangguk, tentu saja ia yakin. Mereka sudah sejauh ini, mana mungkin jika harus dibatalkan begitu saja.

"Lakukan saja Chanyeol, aku sudah siap."

Chanyeol terdiam sejenak, ia kecup bibir sang istri pelan dan dengan sangat hati-hati Chanyeol mengarahkan penis besarnya pada lubang kecil dibawah tubuh Baekhyun.

Sekali lagi ia pandang istrinya itu dengan tatapan bertanya. "Ini mungkin akan sangat menyakitkan untukmu Baek. Aku serius, aku bisa berhenti sekarang jika kau memang belum siap."

"Chanyeol aku mohon, aku sedang berusaha menjadi istri yang baik sekarang."

Chanyeol kembali memfokuskan atensinya pada lubang Baekhyun. Haruskah ia melakukan ini?

"Jangan membuatku tampak berdosa di mata Tuhan Chanyeol ah." ucap Baekhyun lagi mencoba meyakinkan.

Menghembuskan nafasnya panjang, Chanyeol akhirnya memantapkan hatinya untuk benar-benar melakukannya. Ia gesekan penisnya pelan pada lubang rektum itu dan secara perlahan ia mendorong kejantanannya untuk masuk secara hati-hati.

"Ssshhh.. " Baekhyun mulai meringis, rasanya perih. Dan ia merasakan sebuah firasat buruk.

"AAAAHHH." Benar saja, ia langsung berteriak bahkan ketika penis Chanyeol baru masuk setengah. Lubangnya seolah dirobek secara paksa dan demi Tuhan itu sangat sangat sangat sangat sakit. Ia cengkeram seprai kasur erat dan airmatanya langsung keluar banyak tanpa bisa ia komando.

Darah segar mengalir dari lubang sewarna merah jambu itu dan langsung melumuri batang kelelakian Chanyeol dan juga seprei dibawahnya. Chanyeol memperhatikan Baekhyun yang tampak menangis kesakitan, kentara sekali jika ia sangat tersiksa.

Karena merasa tidak tega, Chanyeol akhirnya mencabut kembali penisnya dan langsung mengecup kening sang istri.

"Gwaenchana?" Tanyanya yang mulai merasa khawatir.

Baekhyun menggeleng. Tidak, ia tidak baik-baik saja. Tadi itu sakit sekali dan Baekhyun tidak kuat menahannya.

"Sakit yeol hiks, Baekkie tidak kuat." ucapnya sambil terus menangis.

"Aku kan sudah bilang ini pasti menyakitkan, kau tidak perlu sampai memaksakan diri."

Baekhyun menangis, bagaimana ini? Ia tidak mau berhenti di tengah jalan seperti ini. Chanyeol pasti sangat tersiksa dengan ereksinya itu dan ia tidak mau menjadi istri yang tidak berguna.

"Sebaiknya sekarang kau tidur, aku mau bersih-bersih dulu." Chanyeol bangkit dan hendak pergi ke kamar mandi, namun dengan sigap Baekhyun menahan pergelangan tangan sang suami.

"Jangan Chanyeol, lakukan saja. Aku mohon. Jangan buat aku merasa bersalah karena membiarkan mu terus dalam keadaan tegang."

Chanyeol melepas tangan istrinya itu pelan. "Baek, aku-"

"Chanyeol aku mohon, demi aku. Demi eomma dan demi aboeji." Ucapnya dengan tatapan memohon.

Chanyeol menghela nafasnya kemudian. "Baiklah, kita lakukan lagi."

Baekhyun tersenyum samar mendengarnya walaupun sebenarnya ia merasa sangat takut. Tubuhnya bahkan masih gemetar karena rasa sakit tadi.

Chanyeol kembali menindih tubuh mungil Baekhyun, ia mengusap wajah istrinya itu lembut dan kembali ia lumat bibir istrinya sampai Baekhyun merasa lebih rileks.

"Katakan padaku jika aku menyakitimu. Kau boleh memukul atau menjambak rambutku jika itu perlu."

Baekhyun mengangguk mengiyakan dan ia hembuskan nafasnya dalam mencoba menetralisir rasa gugup yang ia rasakan.

Chanyeol kembali mengarahkan kejantanannya pada lubang kecil itu dan sama seperti sebelumnya, ia mendorong penisnya pelan dan sangat hati-hati.

Tubuh Baekhyun kembali menegang ketika penis Chanyeol baru masuk setengah, airmatanya kembali mengalir dan ia berusaha mati-matian untuk tidak berteriak.

Chanyeol dengan sabar menunggu sampai Baekhyun merasa lebih nyaman. Sesekali ia mengecup dan menciumi dada berisi istrinya untuk mengalihkan rasa sakit.

"Sudah merasa lebih baik?"

"N-ne, l-lanjutkan C-Chanyeol ah." Ucap Baekhyun sambil terbata-bata.

Chanyeol pun kembali mendorong penisnya masuk lebih dalam.

JLEB

"AHHHHH."

Penis Chanyeol tertanam sempurna di dalam lubang rektum Baekhyun. Lebih banyak darah yang keluar pertanda Baekhyun sudah bukan perawan lagi.

Chanyeol memejamkan matanya rapat pun urat-urat di leher dan pelipisnya terlihat menonjol karena saking nikmatnya sensasi yang ia rasakan sekarang. Lubang rektum Baekhyun benar-benar sangat rapat, hangat dan sempit. Penisnya seolah diremat dengan sangat kuat dari dalam dan Chanyeol seolah tengah di terbangkan ke langit ke-7.

Berbanding terbalik dengan Baekhyun yang terlihat amat sangat kesakitan. Airmatanya tidak berhenti mengalir dan wajahnya pun sudah basah oleh keringat dingin.

"Rileks Baek, tahan sebentar sampai rasa sakitnya menghilang." ucap Chanyeol mencoba menenangkan.

Pinggul Chanyeol mulai bergerak maju mundur dengan perlahan, semakin digerakan semakin nikmat juga gesekan antara dinding rektum Baekhyun dan penis besarnya. Sekarang Chanyeol mengerti kenapa kaum pria sangat menyukai seks, ternyata seks memang benar-benar sangat nikmat dan begitu memabukan.

Baekhyun masih tetap meringis kesakitan dan itu berhasil menarik perhatian Chanyeol. Ia tidak boleh terbuai oleh kenikmatan yang Baekhyun berikan sekarang karena istrinya itu masih belum merasakan kenikmatan apapun.

Ia lantas menundukan kepalanya dan mencium bibir Baekhyun dengan seduktif hingga Baekhyun terlena dan membalas ciumannya. Ia masih tetap menggerakan pinggulnya maju mundur dengan tempo teratur.

PLOK PLOK PLOK PLOK

Suara kulit paha Chanyeol yang beradu dengan pantat Baekhyun mulai terdengar mendominasi.

"Chanyeollhh sakiithh, Baekkieehh tidakkhhh kuathh."

"T-tahanhh s-sebentar Baek." Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Chanyeol tampak sangat enggan untuk menyudahi sesi bercinta ini karena ia sudah terlalu terlena oleh kenikmatan yang lubang Baekhyun berikan untuknya.

Baekhyun mencoba bertahan, ia pejamkan matanya erat dan menggigit bibirnya pelan. Rasanya benar-benar sangat sakit tapi ia harus kuat sampai Chanyeol benar-benar selesai.

Chanyeol menarik penisnya keluar sampai hanya tersisa kepala penisnya saja. Sambil menarik nafasnya dalam ia langsung menghantamkan kembali benda pusakanya itu hingga menyentuh prostat Baekhyun.

JLEB

"AAAAHHH." Baekhyun berteriak antara sakit dan nikmat, tubuhnya melengkung keatas karena sesuatu yang disentuh penis Chanyeol di dalam sana.

PLOK PLOK PLOK PLOK

JLEB

"AAAAHHH."

Chanyeol sengaja menumbuk prostat itu berkali-kali dengan gerakan yang sangat cepat dan kasar.

Tubuh Baekhyun melengkung hebat, apa itu tadi? Kenapa rasanya begitu luar biasa?

PLOK PLOK PLOK PLOK

CROTTT

"Aaaaahh."

Baekhyun akhirnya ejakulasi lagi, sperma miliknya menyembur membasahi perut berotot Chanyeol dan juga perutnya sendiri. Tubuhnya langsung lemas setelah itu, lemas karena kenikmatan.

"Kau menyukainya?"

Baekhyun mengangguk lemas. "Apa itu tadi? A-aku sudah tidak merasa sakit lagi?"

Chanyeol tersenyum simpul, ia tundukan kepalanya dan kembali ia ajak sang istri untuk beradu bibir. Chanyeol hisap bibir atas Baekhyun dan Baekhyun menghisap bibir bawah sang suami.

"Sekarang biarkan aku mencari kenikmatan ku sendiri."

PLOK PLOK PLOK PLOK

Ia kembali menghujam lubang Baekhyun dengan cepat dan kasar hingga tubuh Baekhyun terhentak-hentak keras.

"Aaaahh.. Chanyeollh.. "

.

.

.

PLOK PLOK PLOK PLOK

Peluh terus membanjiri tubuh keduanya.

PLOK PLOK PLOK PLOK

Tubuh keduanya pun sudah penuh oleh bercak merah bekas ciuman.

PLOK PLOK PLOK PLOK

Mereka sudah mencoba berbagai macam posisi seks dari mulai posisi normal, uke on top, 69 hingga doggy style.

Saat ini Chanyeol tengah sibuk menyodok lubang Baekhyun yang menungging di depannya.

PLOK PLOK PLOK PLOK

CROTTT

"AHHHHHH.." Entah sudah berapa kali Baekhyun ejakulasi, ini adalah ejakulasinya yang kesekian namun Chanyeol masih tetap kokoh seolah tak bisa merasakan lelah sama sekali.

Chanyeol melepas kejantanannya kemudian, ia meminta Baekhyun untuk duduk diatas pangkuannya.

JLEB

Dan lagi, Chanyeol menancabkan kejantanannya pada lubang ketat itu dan menumbuknya dengan cepat dan kasar. Chanyeol kembali mengajak Baekhyun berpagutan bibir namun Baekhyun tidak membalasnya. Jujur ia sudah sangat kelelahan karena sudah dari tadi ia melayani nafsu birahi Chanyeol yang seolah tidak ada habisnya. Ia terlihat sangat pasrah dan membiarkan Chanyeol melumat habis bibirnya.

PLAK

"Aaahhh.. "

Pria itu sengaja meremas dan menampar pantat sintal Baekhyun hingga berwarna kemerahan

PLOK PLOK PLOK PLOK

CROTTT

"Aaaahhh Chanyeollhh.."

Lagi, Chanyeol membuat Baekhyun ejakulasi untuk yang kesekian kalinya. Pria tinggi itu melepas penyatuan tubuh mereka dan membaringkan tubuh lemah istrinya diatas ranjang. Kembali ia arahkan kejantanannya pada lubang itu dan kembali pula ia menggenjotnya cepat.

"Uungghh.. K-kau benar-benar nikmathh Baekhyun ahhh.. "

BLUSSHH

Baekhyun tidak bisa menyembunyikan rona merah di wajahnya mendengar suara seksi dan berat itu. Apakah ini artinya Baekhyun sudah menjadi istri yang sesungguhnya?

Chanyeol menengadahkan kepalanya keatas ketika dirasa penisnya mulai berkedut.

PLOK PLOK PLOK PLOK

Ia semakin mempercepat gerakannya dan Baekhyun pun bisa merasakan itu. Penis Chanyeol terasa membesar di dalam lubangnya dan Baekhyun dengan sigap merapatkan lubang rektumnya.

"Mmrrghhh.. "

Chanyeol menggeram karena perbuatan istrinya. Tubuh Baekhyun terhentak dengan sangat kencang dan ia menutup matanya bersiap menerima benih dari Chanyeol.

PLOK PLOK PLOK PLOK

"BAEK.. ARRRGHHHH."

CROTTT CROTTT CROTTT

Chanyeol menyemburkan seluruh spermanya di dalam lubang Baekhyun hingga Baekhyun sendiri bisa merasakan dinding rahimnya ikut terkena semburan lahar panas itu.

Chanyeol ambruk, tapi ia masih berusaha menahan tubuhnya agar tidak menindih Baekhyun. Matanya ia pejamkan erat dan nafasnya naik turun tidak beraturan. Tubuhnya sudah sangat berkeringat seperti ia tengah mandi keringat. Keringat nya bahkan sampai menetes mengenai wajah Baekhyun.

Chanyeol membuka matanya pelan, ia tatap mata istrinya yang juga tengah menatap polos kearahnya. Ia tundukan lagi kepalanya dan ia cium bibir istrinya dalam waktu yang cukup lama.

"Chanyeol, apa sekarang aku sudah menjadi istri yang baik?"

Chanyeol tertawa lepas mendengar perntanyaan bernada polos dari istrinya itu.

"Kenapa tertawa? Masih belum ya?" tanya Baekhyun lagi yang mulai merasa khawatir.

"Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik. Terimakasih." ucap Chanyeol sambil tersenyum tulus.

Baekhyun balas tersenyum cantik, ia lega jika sudah bisa melakukan tugasnya dengan baik.

.

.

.

Baekhyun berbaring sambil menyandarkan tubuhnya di dada bidang sang suami, diam-diam ia melirik Chanyeol yang sedang menutup matanya rapat dengan suara nafas yang terdengar begitu teratur. Ia tidak tau kenapa posisi mereka bisa se intim ini. Yang ia tau, ia merasa nyaman menyandarkan tubuhnya di dada bidang Chanyeol dan Chanyeol pun merasa tidak keberatan akan hal itu.

Terkadang ia terkikik geli sendiri melihat tubuh telanjang Chanyeol yang terpampang nyata di hadapan matanya sekarang. Chanyeol yang sedang dalam keadaan telanjang adalah definisi sexy yang sangat nyata bagi seorang Park Baekhyun. Baekhyun tidak berbohong, bahkan Sehun saja masih kalah jauh jika dibandingkan Chanyeol. Chanyeol punya aura dominan yang sangat kuat bahkan lebih dari kekasihnya Sehun dan jujur saja Baekhyun suka itu, ia suka di dominasi oleh seorang pria gagah seperti Chanyeol. Ia benar-benar tidak menyangka akan melakukannya sampai sejauh ini dengan pria yang awalnya ia benci itu. Ia sampai terkikik geli karenanya. Sekarang jika Tuhan mengijinkan, Baekhyun hanya perlu menunggu sampai benih yang ditanamkan Chanyeol tadi tumbuh di dalam perutnya dan menjadi keturunan yang baik bagi mereka kelak. Sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya jika ia akan menerima benih dari seorang pria miskin seperti Chanyeol, tapi Baekhyun pikir itu tidak masalah selama itu Chanyeol, Chanyeol pria yang baik dan Baekhyun yakin keturunan yang dihasilkan dari benihnya pun nanti akan menjadi keturunan yang baik pula.

"Kau belum tidur?"

Baekhyun menoleh dan menatap Chanyeol yang juga tengah menatapnya. Terlihat sekali jika Chanyeol sudah sangat mengantuk. Baekhyun tersenyum tanpa alasan.

"Daritadi kau terus menatapku diam-diam, apa kau sudah mulai jatuh cinta padaku?"

"A-apa?"

Chanyeol tersenyum tipis melihat reaksi cute yang ditunjukan Baekhyun.

"B-bukan begitu, a-apa kau tidak kedinginan tidur telanjang seperti ini?"

"Memangnya kenapa? Bukankah kau suka melihatku telanjang seperti ini?"

BLUSSH

Baekhyun merona parah, ia merasa seperti seorang pria mesum yang ketahuan mengintip wanita desa yang sedang mandi di sungai.

"Sekarang sebaiknya kau tidur, aku tau kau sangat kelelahan."

Baekhyun mengangguk pelan, astaga ia sungguh malu. Buru-buru ia berbalik dan berusaha memejamkan matanya erat.

"Baek.."

Merasa di panggil, Baekhyun pun membuka kembali matanya dan berbalik.

"Ada ap-"

CUP

Tubuh Baekhyun mendadak membeku layaknya patung. Chanyeol langsung mengecup bibirnya lembut dan pria itu melumat bibirnya juga dengan tak kalah lembut.

"Terimakasih karena sudah berusaha untuk menjadi istri yang baik untukku, padahal aku sendiri belum menjadi suami yang baik untukmu. Sekali lagi terimakasih, aku sangat menghargai itu."

Chanyeol tersenyum sangat tampan setelahnya, dunia Baekhyun seolah berhenti detik itu juga. Senyuman itu seolah menguncinya di dalam dunia lain. Wajahnya sontak memerah sempurna dan ia jadi tergagap tak tau harus berbicara apa.

"Tidurlah, aku mau membersihkan diri dulu." Ucapnya lagi sambil berjalan pelan menuju kamar mandi.

Baekhyun menyentuh bibirnya sendiri yang barusaja di cium oleh Chanyeol, Chanyeol sudah berkali-kali mencium dan bahkan melumat bibirnya tadi. Tapi yang terakhir, entah kenapa terasa begitu berbeda bagi Baekhyun. Ciuman yang terakhir terasa lebih tulus dan penuh kasih sayang.

Astaga, apa yang terjadi dengan dirimu Baekhyun ah?

"Aku pasti sudah gila." ucapnya pelan sambil menatap siluet tubuh telanjang sang suami yang sedang membersihkan diri di dalam kamar mandi.

.

.

.

.

Chapter 7 is up ~

Author tuh paling males kalo soal edit mengedit, jadi harap di maklum kalo masih ada typo dan sejenisnya. Haha

Silahkan di review jika kalian berkenan, author ga janji bisa update cepet bikos author masih punya satu ff yang harus segera di selesaikan. Tapi tergantung dari review juga sih. Kalo yang review banyak, banyak yang minat dan banyak yang suka, insya allah author pertimbangin buat fast update kaya sekarang.

Segitu dulu aja cuap-cuapnya, sampai ketemu di chap berikutnya. Jaga kesehatan dan jangan lupa bahagia oke?

Bye Bye :)