"Sekarang ceritakan bagaimana kalian melakukan itu? Apakah Chanyeol melakukan nya dengan kasar? Atau mungkin terlalu lembut? Ayo ceritakan Baek, eomma penasaran."

Heechul bersorak gembira pagi hari ini begitu mendapati putranya Chanyeol pulang ke rumah sambil menggendong tubuh kecil Baekhyun di punggungnya. Mereka tidak menjawab ketika Heechul bertanya, tapi Heechul memiliki firasat jika keduanya sudah melakukan itu. Tak lama, Chanyeol langsung berangkat kerja. Dan disaat itu lah Heechul masuk ke kamar mereka dan bertanya sebenarnya apa yang terjadi pada Baekhyun. Dengan malu-malu Baekhyun pun menjawab jika lubangnya sakit setelah melakukan hubungan seks semalam bersama suaminya. Mendengar itu, Heechul rasanya ingin berteriak dan meloncat girang detik itu juga. Akhirnya, apa yang ia dan Donghae harapkan selama ini terjadi juga. Sekarang tinggal menunggu Baekhyun hamil dan ia akan segera punya cucu.

"Tapi Baekkie kesal pada eomma dan aboeji, kenapa kalian berbohong kepada kami? Aku pikir aboeji benar-benar sakit kemarin, Baekkie bahkan sampai menangis semalaman karena itu."

Heechul sontak terdiam, ia lantas berdehem pelan dan tersenyum dengan canggung. "Iya sayang, eomma minta maaf. Eomma terpaksa melakukan itu. Habisnya jika tidak seperti itu hubungan kalian tidak akan berkembang dan terus jalan di tempat. Lihat kan? Setelah eomma dan ayahmu turun tangan, Chanyeol akhirnya berhasil menanamkan benihnya di dalam perutmu."

BLUSSH

Wajah Baekhyun memerah malu mendengar kata-kata yang terakhir. "Ya, tapi tetap saja Baekkie tidak suka, apalagi kemarin. Eomma dan aboeji berbohong soal penculikan itu, Kami benar-benar panik kemarin eomma. Chanyeol bahkan harus berlari seperti orang gila dari tempat kerjanya sampai ke motel."

"Iya, eomma tau eomma salah. Nanti eomma akan langsung minta maaf pada Chanyeol, eomma janji." Ucap Heechul kemudian.

"Sekarang biar eomma buatkan bubur abalon spesial untuk menantu kesayangan eomma ya, Baekkie mau?"

Baekhyun mengangguk pelan. "Ne, Baekkie mau eomma."

.

.

.

Tidak terasa 2 minggu berlalu dengan begitu cepat, tidak ada perkembangan berarti soal hubungan ChanBaek selama itu. Mereka tetap menjalankan tugas masing-masing sebagai sepasang suami istri dan saling menunjukan kepedulian untuk satu sama lain. Tapi hanya sebatas itu saja, tidak ada pernyataan cinta atau semacamnya yang biasa di utarakan sepasang suami-istri yang saling mencintai. Hanya sebatas perhatian-perhatian kecil tanpa adanya rasa cinta. Mereka juga tidak melakukan hubungan intim lagi sampai sekarang. Entahlah, sampai sekarang Chanyeol belum menyentuh istrinya lagi. Baekhyun sendiri sebenarnya tidak akan menolak jika Chanyeol menginginkan itu, alasannya cukup klise, ia takut dihukum Tuhan jika berani menolak suaminya. Tapi ternyata sampai hari ini Chanyeol belum memintanya lagi untuk berhubungan badan. Baekhyun agak sedikit bingung sebenarnya. Karena dari yang ia tahu, seorang suami biasanya akan terus-terusan minta jatah jika sudah mencoba sekali. Tapi yasudahlah. Mungkin Chanyeol memang sedang tidak ingin, toh dengan begitu lubangnya kan tidak harus merasakan sakit lagi.

Pukul 10 pagi, setelah selesai membantu ibunya berjualan sayur di pasar, Baekhyun kini tengah sibuk membereskan rumah. Baekhyun sekarang sudah bisa membersihkan rumah dengan baik, suatu kemajuan yang amat sangat pesat yang ia raih di dalam hidupnya. Hanya tinggal memasak saja yang Baekhyun belum bisa. Setiap kali ia mencoba memasak pun hasilnya pasti selalu gagal. Ia hanya bisa memasak sesuatu yang mudah seperti memasak air, ramyeon, telur gulung dan nasi goreng saja.

Setelah selesai membersihkan rumah, Baekhyun pun berjalan pelan menuju dapur untuk mengambil minum. Netranya agak sedikit mengernyit melihat ibu mertuanya yang tampak sibuk dengan sesuatu.

"Eomma?"

Heechul menoleh. "Eoh, Baekhyun ah?"

"Eomma sedang apa?"

"Eomma sedang mencoba membuat adonan untuk kue ulang tahun, tapi hasilnya sepertinya kurang bagus. Eomma memang tidak berbakat membuat kue ulang tahun seperti ini, eomma lebih suka membuat kue kering atau semacamnya."

"Memangnya siapa yang ulang tahun eomma?"

"Chanyeol."

"Ne?" Baekhyun membulatkan matanya terkejut.

"Hari ini Chanyeol berulang tahun yang ke 31 thn, rencananya eomma ingin memberikan surprise untuknya malam ini."

Jadi hari ini Chanyeol ulang tahun? Astaga, istri macam apa ia sampai tidak tau?

"Permisi, Ahjumma?"

Baekhyun menoleh dan cukup terkejut ketika Irene tiba-tiba saja muncul dan berjalan kearah dapur.

"Irene kau sudah datang? Ayo kemari, aku sudah menunggumu dari tadi."

"Ne, maaf aku langsung masuk. Diluar pintunya terbuka."

"Iya tidak apa-apa, ayo kemari. Kau kan pintar membuat kue, kita buat kue ulang tahun yang enak untuk putraku ya?"

Heechul langsung menarik tangan Irene lembut, Baekhyun yang melihat itu merasa dirinya di acuhkan. Mereka terlihat begitu akrab dan saling tertawa bersama. Baekhyun hanya bisa menghela nafasnya, merasa tidak dibutuhkan, Baekhyun memutuskan untuk membersihkan halaman luar saja.

.

.

.

"Jadi aboeji juga tau hari ini Chanyeol ulang tahun?"

"Tentu saja, Chanyeol kan menantu aboeji."

Baekhyun semakin mengerucutkan bibirnya kesal setelah tau ayahnya juga mengetahui jika hari ini Chanyeol berulang tahun. Donghae datang sore ini sambil membawa bungkusan kado untuk menantunya.

"Kenapa tidak ada yang memberitahuku?"

"Aboeji pikir kau sudah tau Baek, kau kan istrinya."

Baekhyun menggerutu kesal, jika ia tau hari ini suaminya ulang tahun sudah pasti ia akan menyiapkan sesuatu untuk suaminya itu.

"Chanyeol sudah datang, ayo bersiap di posisi." Seru Heechul ketika melihat siluet tubuh anaknya sedang berjalan menuju rumah mereka.

Mereka mematikan saklar lampu dan bersiap di posisi masing-masing.

CKLEK

Chanyeol sedikit mengernyitkan dahinya pelan melihat suasana rumah yang begitu sepi dan gelap. Kemana perginya semua orang?

"Kenapa gelap sekali?" gumamnya pelan sambil meraba-raba dinding untuk mencari saklar lampu.

TIIT

"SURPRISE."

Begitu lampu dinyalakan, Heechul, Donghae, Irene, Kookie, Minhyuk, Kang ahjumma dan Baekhyun kompak memberikan kejutan sambil berteriak dan meniupkan terompet.

"Saengil chukae hamnida, saengil chukae hamnida, saengil chukae uri Chanyeol.. Saengil chukae hamnida." ucap mereka kompak.

Heechul berjalan pelan sambil membawa kue ulang tahun buatan Irene yang sudah ditempelkan lilin berangka 31.

"Ayo tiup lilinnya Chanyeol, jangan lupa untuk membuat permohonan dulu."

Chanyeol tersenyum kecil, ia lantas memejamkan matanya sejenak untuk berdoa. Lalu setelahnya ia langsung meniup lilin-lilin itu.

"YEAAYYY." semuanya bersorak senang setelahnya.

"Sekarang, saatnya kita berpesta." Ucap Minhyuk yang langsung disambut sorakan meriah dari yang lain. Terutama si kecil Kookie yang begitu bersemangat.

"Yeay kita berpesta." Ucapnya senang yang langsung disambut tawa oleh yang lain.

.

.

.

Tidak ada pesta besar sebenarnya, hanya sebuah perayaan Barbeque biasa di teras belakang rumah. Semuanya tampak menikmati acara kecil-kecilan ini kecuali satu orang, yaitu Baekhyun.

Daritadi ia hanya duduk sendirian di teras belakang rumah. Hal itu pun tidak luput dari pandangan Chanyeol, ia merasa heran melihat Baekhyun yang biasanya hyperaktif sekarang justru lebih banyak terdiam. Ia lalu menutuskan untuk berjalan kearah istri mungilnya itu.

"Chanyeol." belum 5 langkah ia berjalan, Irene tiba-tiba saja datang menghampirinya.

Wanita itu tersenyum lembut, ia memberikan sebuah kotak persegi yang sudah dibungkus rapi oleh kertas kado yang sangat cantik.

"Apa ini?"

"Untukmu, bukalah."

Chanyeol membuka bungkusan itu pelan dan mendapati sepasang sepatu bola yang sudah lama ia inginkan.

"Aku tau kau sangat suka sepak bola, dan untuk bermain bola kau pasti butuh sepatu sepak bola kan?"

Chanyeol tersenyum, dari dulu sampai sekarang Irene memang selalu perhatian padanya. Ia selalu menjadi orang yang paling mengerti dirinya.

"Terimakasih, aku sangat menyukai hadiahnya." ucapnya sambil tersenyum tulus.

Irene balas tersenyum cantik. "Sama-sama."

Baekhyun melihat itu, ia melihat interaksi manis antara Chanyeol dan Irene. Jika dilihat-lihat mereka memang sangat serasi, Irene cantik dan Chanyeol tampan. Ia meremas bajunya pelan. Matanya mulai berkaca-kaca dan perasaannya sungguh sesak. Ia memutuskan berbalik dan masuk ke dalam kamar.

.

.

.

Baekhyun duduk sendirian di dalam kamarnya, ia sama sekali tidak bisa menahan airmatanya. Kenapa ia menangis? Ia sendiri tidak tau jawabannya. Baekhyun hanya merasa dadanya sesak dan ia ingin menangis. Itu saja.

CKLEK

"Baek.."

Chanyeol sedikit terkejut melihat mata Baekhyun yang terlihat sembab. "Kau menangis?"

"Tidak, mataku hanya kemasukan debu." ucap sang istri mencoba berkilah.

"Kau bersikap aneh, daritadi kau hanya diam saja. Apa terjadi sesuatu?"

"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja."

"Kau serius?"

"Iya aku serius."

Chanyeol menghela nafas. "Yasudah, kalau begitu sebaiknya sekarang kita tidur."

"Chanyeol.. " Baekhyun berucap ketika suaminya itu hendak membaringkan tubuhnya.

"Apa?"

"Maaf karena aku tidak tau hari ulang tahunmu." ucapnya sambil menunduk.

"Jika aku tau hari ini kau ulang tahun, sebelumnya aku pasti akan menyiapkan hadiah spesial untukmu."

"Tidak perlu dipikirkan, aku juga sebenarnya tidak terlalu suka merayakan ulang tahun. Bagiku momen bertambahnya usia seperti ini lebih baik digunakan untuk lebih merenungkan diri."

"Tapi tetap saja Chanyeol, aku harusnya bisa memberikan sesuatu yang spesial di hari ulang tahunmu." ucap Baekhyun sambil cemberut.

Chanyeol terkekeh kecil. "Kau tau apa yang paling aku inginkan saat ini?"

"Apa?"

"Kau."

DEG

"A-apa?" tanya Baekhyun yang sangat terkejut.

"Aku ingin dirimu Park Baekhyun, apa masih kurang jelas?"

Wajah Baekhyun langsung memerah mendengarnya, apa maksudnya itu?

"A-aku tidak mengerti Chanyeol ah."

Chanyeol terkekeh lagi, ia dekatkan wajahnya pada telinga Baekhyun sambil berbisik dengan suara beratnya. "Aku sedang ingin melakukannya Baekhyun ah, kau pasti mengerti kan maksudku?"

BLUSSHH

Wajah Baekhyun merona parah mendengarnya, astaga suara Chanyeol seksi sekali. Tentu saja ia tahu apa yang dimaksud suaminya itu.

"S-sekarang?"

Chanyeol mengangguk. "Berbaringlah."

Sebagai istri yang baik, Baekhyun langsung menuruti perintah suaminya itu. Chanyeol lantas melepas kaosnya begitu saja dan langsung menindih tubuh mungil istri cantiknya.

Baekhyun refleks menyentuh tubuh kekar sang suami. Sungguh Baekhyun sangat menyukai tubuh Chanyeol, sangat kuat dan berotot. Baekhyun rasanya ingin memeluk dan menciumi tubuh itu seharian. Chanyeol terkekeh melihat Baekhyun yang begitu terpesona pada bentuk tubuhnya. Ia kemudian menunduk dan meraup bibir mungil sang istri.

CUP

Mereka sama-sama menutup mata mereka erat menikmati sensasi nikmat dari pagutan bibir masing-masing. Ciuman itu sangat intens, Chanyeol sampai menangkup wajah sang istri dengan kedua tangannya dan Baekhyun yang menekan kepala sang suami untuk memperdalam ciuman mereka. Chanyeol memiringkan kepalanya ke sebelah kiri sambil terus mengulum bibir yang lebih kecil.

"Eungghh.. " Baekhyun melenguh, Chanyeol tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dengan langsung melesakan lidahnya masuk kedalam mulut Baekhyun. Ia mengabsen seluruh isi mulut Baekhyun dan sesekali menghisap lidah Baekhyun dengan kencang.

"Hmmmpphh.. " Baekhyun melenguh kencang karenanya.

Chanyeol melepaskan pagutan mereka kemudian, ia langsung menarik kaos tipis yang Baekhyun kenakan hingga diatas dada. Tanpa membuang waktu lagi ia langsung menghisap nipple sebelah kanan dan meremas dada yang sebelah kiri.

"Ahhhh Chanyeol.. " Baekhyun melenguh nikmat, ia tekan kepala Chanyeol agar semakin menempel dengan dadanya. Chanyeol memejamkan matanya erat, ia sangat menyukai dada berisi Baekhyun. Begitu kenyal dan sangat nikmat untuk dihisap, berbeda sekali dengan dada miliknya yang lebih bidang dan keras. Ia beralih pada dada sebelah kanan dan menyusu lagi layaknya seorang bayi yang begitu kehausan.

"Channhh ahhhh.. "

Tangannya bergerak melepas celana pendek yang dikenakan Baekhyun dan kemudian ia kocok kemaluan mungil sang istri sampai menegang sempurna.

"Aaahh Chanyeolhh eummhh.. " Baekhyun benar-benar sudah memasrahkan dirinya pada Chanyeol, ia begitu menikmati ketika tangan besar itu memanjakan setiap inchi tubuhnya.

Chanyeol melepas celana boxer yang ia pakai sampai sebatas paha. Lalu ia kocok kejantanannya sendiri sampai menegang sempurna. Ia lebarkan paha mulus sang istri dan ia rekahkan sedikit lubang kecil diantara pantat Baekhyun.

JLEB

"AHHHH.. " Baekhyun mendesah hebat ketika kejantanan besar suaminya kembali bersarang di dalam lubangnya, Chanyeol juga ikut menggeram nikmat ketika lagi-lagi penisnya dimanjakan oleh dinding hangat nan ketat milik sang istri.

PLOK PLOK PLOK PLOK

Chanyeol mulai menggerakan pinggulnya maju mundur dengan gerakan yang cukup cepat, Baekhyun mendesah tak karuan ketika lagi-lagi prostatnya ditumbuk dengan kencang oleh kejantanan sang suami.

"Aaahh.. Aaahhh.. Eungghh.. "

Chanyeol menunduk dan berbisik seduktif ditelinga Baekhyun. "J-jangann t-terlalu b-berisik B-Baekhyun ahhh, eommahh bisahh mendengar kitahh.. " Ucapnya tersendat-sendat. "Mendesahlah di dekat telingakuhh sajahh.. "

Baekhyun memeluk tubuh suaminya itu, ia terus mendesah tapi dengan volume yang lebih kecil yang hanya di dengar oleh telinga suaminya saja.

PLOK PLOK PLOK PLOK

Chanyeol mengulum telinga kiri Baekhyun seduktif sambil terus memejamkan matanya rapat menikmati cengkraman hangat rektum Baekhyun pada kejantanannya.

"Lubanghh muhh nikmatthh sekalihh Baekkhh.. Aku-ahhhhhh..." Chanyeol tidak berbohong, lubang Baekhyun benar-benar sangat nikmat. Ia seperti dibuat melayang tinggi saking ketat dan hangatnya lubang itu. Sepertinya mulai sekarang ia akan memasukan seks dengan Baekhyun sebagai salah satu hobi barunya.

Baekhyun tersenyum tipis di sela-sela desahannya. Ia sangat senang jika suaminya merasa puas dengan pelayanan ranjang yang ia berikan. Ia dengan berani mencium dan melumat bibir tebal Chanyeol hingga si empunya melenguh pelan.

PLOK PLOK PLOK PLOK

Penis Chanyeol mulai terasa berkedut dan membesar setelah beberapa lama di dalam lubang Baekhyun, Baekhyun pun merasakan jika penis mungilnya hendak mengeluarkan laharnya juga.

PLOK PLOK PLOK PLOK

"Channhh akuhh sudahh t-tidakk tahannhh lagihh.. "

"Bersamahh Baekkhh.. Akuhh jugahh mauuuhh.. K-keluarhh.. "

PLOK PLOK PLOK PLOK

Chanyeol semakin mempercepat gerakannya hingga tubuh Baekhyun terhentak-hentak kencang..

PLOK PLOK PLOK PLOK

CROOTT

"AAAHHHHH." Baekhyun melenguh kencang ketika ejakulasinya datang, begitu juga Chanyeol yang menggeram jantan layaknya seekor serigala yang tengah kawin.

Cairan sang istri menyembur membasahi perut berotot Chanyeol dan Chanyeol menyemburkan seluruh spermanya kedalam lubang kenikmatan Baekhyun.

Chanyeol melepas kejantanannya dari lubang Baekhyun dan bersamaan dengan itu sperma miliknya ikut merembes keluar membasahi seprei.

Chanyeol memakai kembali celananya dengan benar dan ia turunkan lagi kaos tipis yang Baekhyun kenakan. Ekspresi kepuasan terlihat sekali dari wajah keduanya, Chanyeol langsung membaringkan tubuhnya di samping sang istri.

"Chanyeol apa tidak sebaiknya kita mandi dulu?"

"Besok saja, eomma pasti akan meledek kita habis-habisan jika kita mandi tengah malam begini. Sebaiknya sekarang kita tidur."

Chanyeol mengecup kening sang istri pelan sebelum ia mematikan lampu tidur.

Baekhyun tersenyum kecil, Chanyeol lebih banyak bersikap lembut padanya setelah mereka berhubungan intim untuk pertama kalinya semenjak dua minggu yang lalu. Dan jujur saja Baekhyun menyukai itu meskipun tidak ada ungkapan cinta yang terucap dari mulut pria gagah itu. Memang begitulah hubungan mereka, mereka saling perhatian dan saling membutuhkan satu sama lain tanpa pernah megungkapkan perasaan suka atau cinta kepada satu sama lain. Hubungan mereka masih terlalu awal untuk bisa saling mencintai. Tapi yang pasti, untuk saat ini keduanya sudah mulai merasa nyaman dengan satu sama lain.

.

.

.

"Aaahhh Chanyeollhh.. "

Baekhyun mencengkeram erat rambut suaminya diatas ranjang, ia melirik jam dinding yang sudah menunjukan pukul 7 pagi. Sudah sekitar 15 menit berlalu dan Chanyeol masih asik menyusu padanya seperti anak kecil. Kedua dadanya sudah sangat bengkak dan memerah karena Chanyeol terus melumatnya dari tadi. Chanyeol sudah memakai seragam kerjanya lengkap karena memang ia harus kerja pagi, tapi ia malah menyuruh Baekhyun untuk membuka bajunya karena ia ingin menyusu terlebih dahulu sebelum berangkat kerja. Astaga, Baekhyun seperti punya bayi raksasa saja sekarang. Dadanya bahkan tidak mengeluarkan air susu tapi Chanyeol begitu betah berlama-lama dengan dada berisinya itu.

TOK TOK TOK TOK

"Chanyeol kau tidak bekerja? Ini sudah jam tujuh nak, kenapa kau belum keluar kamar juga?" Tanya Heechul di luar kamar yang merasa heran karena Chanyeol belum keluar kamar juga padahal ia ada jadwal kerja pagi.

Chanyeol melirik jam sebentar kemudian menghela nafas, ini pertama kali baginya merasa begitu malas untuk pergi bekerja.

"Sebentar lagi eomma, aku sedang pakai baju." ucapnya sedikit berteriak.

Chanyeol langsung beranjak dari tempat tidurnya dan berdiri di depan cermin untuk sedikit merapihkan penampilannya.

"Aku pergi dulu Baekhyun ah, jaga rumah baik-baik. Mungkin aku akan pulang terlambat, kau tidak perlu menungguku. Kau dan eomma makan malam saja duluan."

Baekhyun mengangguk pelan. "Ne, aku mengerti-eh tunggu sebentar Chanyeol."

"Apa?" Tanya Chanyeol yang merasa bingung.

Baekhyun bangkit dari ranjang dan langsung berjongkok di depan selangkangan Chanyeol.

"Kau harus menidurkan ini dulu, kau pasti akan jadi bahan ledekan jika sampai teman-teman kerjamu melihat ini." ucapnya sambil mengelus gundukan besar di tengah selangkangan sang suami.

Chanyeol terdiam kaku, ia lantas membiarkan Baekhyun melepas sabuk celananya dan menurunkan resleting celananya. Baekhyun menurunkan celana Chanyeol sampai sebatas paha dan Wussss! Kejantanan besar Chanyeol langsung menyembul keluar dan berkedut-kedut kencang di hadapan wajah Baekhyun.

Baekhyun langsung mengelus benda pusaka suaminya itu dengan pelan. Chanyeol memejamkan matanya rapat menikmati sensasi ketika telapak tangan selembut kain sutra itu mengelus kelelakiannya.

Setelah dirasa cukup, Baekhyun langsung memasukan benda panjang itu kedalam mulut kecilnya.

CLOK CLOK CLOK CLOK

Baekhyun memajumundurkan kepalanya cepat sambil sesekali menatap ekspresi suaminya yang sudah terbuai oleh kenikmatan yang diberikan Baekhyun.

Chanyeol berusaha menahan desahannya karena takut terdengar oleh ibunya, alhasil ia hanya mampu menutup matanya rapat sambil mencengkeram meja nakas dibelakangnya dengan kencang.

CLOK CLOK CLOK CLOK

"Sssshhh ahhh Baekkhh akuhh mauhh.. "

Penis Chanyeol mulai berkedut dan membesar di dalam mulut Baekhyun setelah beberapa menit berlalu, hingga akhirnya..

CROOTT

"MMMRRGHHH.. " Chanyeol menggeram rendah, ia semburkan seluruh benihnya kedalam mulut Baekhyun.

Baekhyun berusaha menelan seluruh sperma Chanyeol tapi karena terlalu banyak, sebagian lagi keluar dan mengalir sampai keleher.

Melihat itu, Chanyeol lantas langsung mengambil beberapa lembar tisu dan membersihkan sisa cairannya di mulut dan leher istrinya.

Chanyeol kembali memakai celananya dengan benar, ia menatap istrinya sebentar dan menyentuh pundaknya pelan.

"Aku pergi dulu, kau jaga rumah baik-baik. Ingat, jangan pergi keluar rumah dengan pakaian ketat. Dan terimakasih untuk pagi ini."

CUP

Ia mengecup bibir mungil istrinya kilat. Baekhyun dibuat merona karenanya. "Ne, aku mengerti Chanyeol ah."

Layaknya istri yang baik, Baekhyun pun mengecup tangan kanan suaminya sebelum ia pergi. Mereka berjalan keluar kamar secara beriringan.

CKLEK

"OMO."

Chanyeol dan Baekhyun tersentak kaget karena Heechul berdiri tepat di depan pintu kamar mereka.

"Kenapa kalian lama sekali di dalam kamar?" tanyanya penuh selidik.

Chanyeol dan Baekhyun saling menatap dalam diam, Chanyeol kemudian memilih untuk tidak menjawab dan langsung pergi begitu saja.

"Chanyeol hey eomma sedang bicara padamu."

"Dia hanya telat bangun saja eomma, Chanyeol sedang kelelahan." Jawab Baekhyun kemudian.

"Benarkah?"

Baekhyun mengangguk imut, ia langsung berjalan pelan untuk mengantar suaminya sampai ke depan rumah.

Heechul menatap mereka berdua dengan penuh selidik. "Dasar pasangan aneh."

.

.

.

"Chanyeol ah, kau di panggil bos."

Chanyeol yang tengah sibuk mengecor jalanan tampak mengernyitkan dahinya bingung ketika salah satu rekannya memberitahu jika ia di panggil oleh atasan mereka. Sambil mengelap keringatnya pelan, pria tinggi itu berjalan pelan menuju ruang ganti.

Setelah mencuci tangannya, Chanyeol masuk keruangan atasannya dan duduk di kursi ruangan menunggu atasannya itu kembali.

Jam sudah menunjukan pukul 1 siang, apakah Chanyeol membuat kesalahan? Kenapa ia sampai di panggil begini?

CKLEK

"Oh, Chanyeol kau sudah disini rupanya."

Chanyeol berdiri dan membungkuk hormat untuk sekedar formalitas.

"Duduklah disini." Ucap sang atasan menyuruh Chanyeol duduk di bangku sofa yang melingkar.

Sekedar informasi, atasan Chanyeol ini adalah seorang perempuan. Namanya Seulgi dan ia dipercaya untuk mengawasi project pembangunan jalan tol ini.

Setelah Chanyeol duduk, Seulgi pun ikut duduk tepat disamping Chanyeol. Kakinya ia silangkan hingga paha mulusnya tersingkap di balik rok pendek yang ia kenakan.

"Ada apa nona memanggil saya?"

Seulgi tersenyum samar. "tidak perlu formal begitu Chanyeol ah, kau bisa memanggilku Seulgi saja disaat kita sedang berdua." Ucapnya sambil semakin merapatkan tubuhnya pada Chanyeol.

Chanyeol yang merasa kurang nyaman pun lantas langsung bergeser sambil tersenyum canggung. Seulgi yang tau Chanyeol menolaknya hanya tersenyum samar menanggapinya.

"Baiklah, kita langsung saja. Aku lihat pekerjaan mu bagus dan aku sangat menyukai kinerja mu. Aku berpikir untuk berbicara pada atasanku supaya kau naik jabatan, kau bisa ikut mengawasi para pekerja saja seperti ku jika kau naik jabatan."

Chanyeol terdiam, naik jabatan? Tentu saja Chanyeol mau. Jika ia bisa naik jabatan otomatis gajinya juga akan bertambah.

"Tapi ada syaratnya." Ucap seulgi menambahkan.

"Apa itu?" Tanya Chanyeol penasaran.

Seulgi kembali merapatkan tubuhnya pada Chanyeol dan jemari lentiknya dengan berani mengelus dan menggengam tangan Chanyeol.

"Asal kau mau menjalin hubungan denganku."

Chanyeol refleks melepas genggaman tangan mereka, ia langsung berdiri dan menjauh dari Seulgi.

"Maaf, tapi aku sudah menikah." ucapnya sambil menunjukan cincin kawin di jari manisnya.

Seulgi ikut berdiri. "Kita bisa menjalin hubungan di belakang istrimu Chanyeol ah."

"Maaf, tapi aku tidak bisa."

"Tapi kenapa?"

"Karena istriku jauh lebih menarik darimu. Permisi." ucapnya sambil menyeringai tipis.

"Aku akan memecatmu jika kau berani melangkahkan kakimu keluar dari ruangan ini." Seulgi berucap ketika Chanyeol berbalik dan hendak keluar.

Lagi-lagi Chanyeol menyeringai. Ia melepas seragam kerjanya begitu saja hingga jatuh di lantai. "Hari ini aku sudah bukan bawahanmu lagi."

Seulgi membulatkan matanya terkejut, tapi Chanyeol tidak peduli, ia langsung berbalik lagi dan pergi sambil membanting pintu.

BRAAAKKK

"YA! PARK CHANYEOL."

.

.

.

Setelah pergi dari tempat Seulgi, Chanyeol berjalan luntang lantung tidak punya tujuan. Ia tidak bisa pulang kerumah sekarang karena pasti nanti Baekhyun dan ibunya akan curiga. Sebenarnya ia agak cukup berat untuk berhenti dari pekerjaannya itu. Gajinya cukup besar dan uang-uang itu bisa ia tabung untuk membangun rumah yang lebih besar untuk keluarga kecilnya. Tapi mau bagaimana lagi? Daripada ia harus mengkhianati Baekhyun lebih baik ia pergi saja dari sana.

"Tolong satu gelas kopi hitam."

"Ne, tunggu sebentar."

Sekarang ia sedang berada di sebuah kedai kopi sederhana, ia memutuskan untuk beristirahat sebentar disini. Setelah ini dia akan pergi ke pasar kaki lima di utara Gangnam. Mungkin saja disana ada orang yang membutuhkan jasa kuli angkut beras.

"Chanyeol, kau kah itu?"

Chanyeol menoleh kebelakang ketika ada seseorang yang memanggil namanya, matanya langsung membulat dan ia tersenyum tampan.

"Hyungsik ah? Apa kabar?" ia berdiri dan langsung memeluk sahabat lamanya itu.

"Wah, Chanyeol lama tidak bertemu. Kau terlihat semakin gagah saja bro."

Chanyeol terkekeh. "Kau tidak banyak berubah, kau masih tetap kurus seperti dulu."

Hyungsik tertawa. "Hahaha."

Mereka berdua duduk berdekatan dan saling bercanda satu sama lain mengingat masa lalu. Hyungsik adalah teman SMP Chanyeol dulu. Mereka terbilang cukup dekat, tapi mereka berpisah dan jarang bertemu lagi setelah mereka lulus SMP.

"Sekarang kau sudah menikah?" Tanya Chanyeol.

Hyungsik mengangguk. "Sudah, aku juga sudah punya dua orang anak. Kau masih ingat Park Bo Young yang dulu gemuk dan jelek? Sekarang ia sudah menjadi istriku."

"Benarkah?"

Chanyeol ingat adik kelasnya dulu Bo Young yang sering menjadi bahan bullyan teman-temannya karena berwajah jelek dan sangat gemuk. Dulu ia selalu mengejar Hyungsik, tapi Hyungsik selalu menolaknya. Chanyeol tidak meyangka jika kini ternyata mereka menikah dan punya 2 orang anak.

"Kau sendiri sudah menikah?"

"Sudah, tapi baru satu bulan lebih. Kami masih pengantin Baru."

"Wah selamat ya, masa pengantin baru adalah masa yang paling menyenangkan haha."

Chanyeol terkekeh, ya sedikitnya Chanyeol menyutujui hal itu.

"Ngomong-ngomong apa yang kau lakukan disini? Kau tidak bekerja?"

Chanyeol menggeleng. "Aku baru saja di pecat. Sekarang aku sedang mencari pekerjaan baru."

"Pekerjaan baru? Kebetulan sekali, bos ku sekarang sedang membangun cabang restoran China miliknya di wilayah Gangnam. Kau bisa bekerja sebagai kuli bangunan disana jika kau mau."

"Benarkah? Tentu saja aku mau." Ucap Chanyeol dengan antusias.

"Kau bekerja disana juga?"

Hyungsik menggeleng. "Tidak, aku bekerja sebagai supir pribadinya. Aku tau ia sedang membuka cabang restorannya di korea."

"Kau bisa mengantarku kesana?"

"Tentu, setelah ini aku akan langsung mengantarmu kesana."

.

.

.

Chanyeol dan Hyungsik berjalan pelan menuju lokasi pembangunan sebuah cabang restoran mewah di kawasan Gangnam. Chanyeol berniat melamar kerja hari ini juga.

"Uh? Itu atasanku, aku tidak tau jika ia juga ikut mengawasi langsung pembangunan restoran miliknya disini." ucap Hyungsik yang terlihat kaget.

Chanyeol menatap sosok pria tinggi berbadan tegap yang tengah memunggunginya, pria itu adalah atasan Hyungsik yang berarti pemilik restoran ini.

"Ayo Chanyeol ah, berhubung atasanku ada disini kau bisa langsung melamar pekerjaan padanya."

Chanyeol mengangguk pelan.

"Tuan."

Pria tinggi itu langsung berbalik ketika Hyungsik memanggilnya. "Oh, Hyungsik ah."

DEG

Chanyeol mematung sejenak, pria ini kan?

"Tuan, aku membawa temanku kemari. Ia sedang butuh pekerjaan. Dan ia ingin bekerja sebagai kuli bangunan disini."

Pria tinggi itu menatap Chanyeol dari atas kebawah dengan penuh selidik.

"Siapa namanya?"

"Namanya Chanyeol. Chanyeol ah, kenalkan ini Tuan Oh Sehun. Dia atasan ku sekaligus pemilik dari proyek pembangunan restoran ini."

Chanyeol benar-benar membeku layaknya patung sekarang. Oh Sehun? Mantan kekasih Baekhyun?

"Kau pernah bekerja sebagai kuli sebelumnya? Apa kau sudah terbiasa dengan pekerjaan berat?"

Hyungsik menyikut perut Chanyeol pelan karena pria itu terus terdiam layaknya patung. "Ssst, Chanyeol ah. Tuan Sehun bertanya padamu."

"N-ne? Ah n-ne, saya s-sudah terbiasa dengan pekerjaan berat." ucapnya gagap setelah tersadar dari lamunannya.

Sehun mengangguk mengerti. "Dilihat dari bentuk tubuhmu aku percaya kau pria yang kuat. Kau ku terima. Kau bisa langsung bekerja hari ini."

Chanyeol mengangguk pelan. "T-terimakasih t-tuan."

Sehun mengangguk. "Hyungsik ah, antar aku ke Distrik Jangbungdong. Ada sesuatu yang harus aku urus."

"Siap tuan."

"Chanyeol ah, fighting!"

Chanyeol tersenyum dan mengangguk pelan, diam-diam ia melirik pria tinggi bernama Sehun itu yang sedang berjalan menuju mobil sport mewah miliknya.

.

.

.

Pukul 19.52 Chanyeol masih sibuk bekerja mengaduk-aduk semen dan pasir. Atensinya langsung teralih ketika mobil sport mewah tadi kembali terparkir tak jauh dari tempatnya sekarang. Chanyeol refleks berdiri dan memperhatikan dengan seksama pria tinggi berkulit putih pucat yang turun dari sana.

"Perhatian semuanya, aku rasa cukup untuk hari ini. Terimakasih untuk kerja keras kalian. Sekarang kalian boleh pulang dan istirahat yang cukup, besok aku berharap kalian bisa tetap bekerja keras seperti hari ini."

"NE." ucap para pekerja bangunan secara serentak.

"Sekarang kalian berbarislah, aku akan bagikan jatah uang harian kalian."

Para pekerja itu berbaris rapi terkecuali Chanyeol yang masih diam mematung. Ia terus memperhatikan pria bernama Oh Sehun itu dengan seksama. Tinggi, berbadan tegap, berkulit putih, tampan dan kaya raya. Pantas jika Baekhyun belum bisa move on. Lihat pakaiannya. Sehun memakai kemeja putih yang di balut jas hitam mahal dengan bawahan celana bahan hitam yang juga terlihat mahal. Belum lagi sepatu kulit asli dari salah satu brand luar negeri yang Chanyeol tau harganya sangat mahal. Rambut hitamnya juga di tata sedemikian rupa dan terlihat sangat rapi. Penampilannya terlihat benar-benar seperti seorang eksekutif muda yang sangat sukses.

Chanyeol melirik penampilannya sendiri, tidak ada kemeja ataupun jas mahal. Hanya sebuah kaos putih lecek yang sudah penuh oleh noda semen dan pasir kotor. Jangankan celana bahan ataupun sepatu kulit mahal. Yang ia punya hanya sebuah celana jeans lusuh dan sepatu butut yang sudah berlubang. Kulit pria itu sangat putih seputih butiran salju dan wajahnya juga sangat mulus semulus porselen. Sedangkan dirinya? Kulitnya gelap karena terlalu sering terpapar sinar matahari dan wajahnya juga kusam dan penuh komedo. Mobil mewahnya adalah mobil sport keluaran terbaru. Sedangkan Chanyeol? Jangankan mobil, motor saja ia masih nyicil. Sungguh Chanyeol merasa ia hanya seekor bekicot buruk rupa jika dibandingkan dengan pria bernama Oh Sehun itu.

"Chanyeol ssi, kau tidak mau mengambil uang harianmu?"

Chanyeol langsung tersadar ketika pria itu memanggil namanya, ia menatap sekitar dan ternyata tinggal ia saja yang belum mengambil uang hariannya.

"Terimakasih untuk kerja kerasmu hari ini, ini upahmu untuk hari ini."

Chanyeol menerima amplop di tangan Sehun sambil tersenyum kaku. "N-ne, t-terimakasih."

Sehun mengangguk. "Yasudah, kalian semua boleh langsung pulang. Besok datang lagi pukul 8 pagi."

"NE."

"Hyungsik ah, ayo antar aku pulang."

"Siap tuan."

Sehun langsung masuk ke dalam mobil, Hyungsik melirik Chanyeol sebentar. "Selamat Chanyeol ah, kau sudah menerima upah pertamamu."

Chanyeol tersenyum. "Ne, terimakasih Hyungsik ah, jika bukan karenamu aku tidak akan mungkin bisa bekerja disini."

"Tentu, aku senang bisa membantu. Kalau begitu aku pergi dulu. Sampaikan salamku untuk ibumu."

Chanyeol mengangguk, setelah itu Hyungsik langsung masuk kedalam mobil dan pergi membawa mobil mewah sang majikan.

Chanyeol menghela nafas, ia menatap amplop upah pertamanya untuk hari ini.

.

.

.

"Chanyeol syukurlah kau sudah pulang, eomma khawatir sekali."

Chanyeol tersenyum. "Aku ada lembur hari ini, maaf karena sudah membuat khawatir. Dimana Baekhyun?"

"Dia sedang menyiapkan makanan di dapur."

Chanyeol mengangguk, ia langsung melangkahkan kakinya menuju dapur.

"Baekhyun."

Baekhyun yang tengah sibuk menyiapkan makan malam, langsung menoleh dan tersenyum hangat. "Kau sudah pulang?"

Chanyeol mengangguk. "Ne, aku ada pekerjaan tambahan hari ini."

Baekhyun mengagguk mengerti. "Ada apa kau memanggilku?"

Chanyeol berdehem pelan, ia tampak menggaruk tengkuknya kaku. "Ini upah ku hari ini, kau simpan ya?"

Baekhyun mengambil amplop putih itu dan mengangguk pelan. "Terimakasih, kau mau mandi? Biar aku siapkan air panasnya."

Chanyeol mengangguk lagi. "Ne, terimakasih."

.

.

.

Setelah selesai makan malam yang cukup telat karena Chanyeol pulang terlambat, Baekhyun langsung duduk di depan meja nakas kamarnya dan mulai merias wajah cantiknya. Ia memakai eyeliner favoritnya untuk membuat matanya terlihat lebih tajam. Ia juga memakai sedikit perekah bibir agar bibirnya terlihat lebih segar. Tidak ada alasan khusus sebenarnya kenapa Baekhyun berdandan malam-malam begini, ia hanya ingin terlihat cantik di depan suaminya saja hehe. Ketika ia membuka kotak bedak miliknya, Baekhyun langsung terdiam karena ternyata bedaknya sudah habis. Bukan hanya itu, parfum, krim wajah dan juga vitamin rambutnya juga habis. Astaga, kapan terakhir kali Baekhyun membeli itu semua?

Ck!

Lalu sekarang ia harus bagaimana? Ia tidak punya uang untuk membeli semua itu. Minta pada aboeji? Ah tidak, itu memalukan. Dia kan sudah menikah, ayahnya sudah tidak punya kewajiban apapun untuk memenuhi semua kebutuhannya. Apa ia meminta pada Chanyeol saja ya? Tapi, apa Chanyeol punya uang untuk membeli semua alat kecantikannya? Semua alat kecantikan Baekhyun di import langsung dari luar negeri dan harganya sangatlah mahal. Baekhyun tidak bermaksud untuk merendahkan suaminya, tapi... Ah sudahlah, Baekhyun coba saja. Siapa tau saja suaminya itu mau membelikannya.

.

.

.

Chanyeol duduk bersila di teras belakang rumah di temani sebatang rokok yang terselip di jari tangan kanannya dan secangkir kopi hitam di samping kanannya.

Ia hembuskan asap rokok ke udara sambil menatap langit gelap yang tanpa bintang. Ia masih kepikiran soal pria bernama Oh Sehun itu. Ini pertama kali dalam hidupnya ia merasa begitu tersaingi. Ah tidak, tidak bisa disebut bersaing karena Chanyeol jelas kalah telak dari pria berkulit albino itu. Ia kalah dari segala aspek dan sampai kapanpun ia tidak akan bisa unggul dari pria itu. Jika dipikir-pikir Sehun dan Baekhyun memang sangat cocok. Yang satu cantik dan yang satunya lagi tampan. Keduanya juga sama-sama kaya. Baekhyun adalah seorang putra dari pengusaha kaya dan Sehun adalah pemilik restoran mewah yang bahkan sudah punya cabang. Sedangkan Chanyeol? Ia hanya seonggok kotoran cicak yang tidak berharga.

"Chanyeol, kau disini? Aku sudah mencarimu kemana-mana."

Chanyeol menghisap rokok terakhirnya dan membuang puntung rokoknya ke dalam asbak, ia langsung menoleh ketika Baekhyun muncul dan duduk disampingnya.

"Ada apa?"

Baekhyun terlihat gugup, ia sangat sulit untuk berkata-kata.

"Ada sesuatu yang ingin kau bicarakan?" ucap Chanyeol yang langsung menatap mata istrinya.

"B-begini, a-apa aku boleh minta uang?"

"Minta uang untuk apa? Aku kan sudah memberikan semua uang gajiku padamu."

"I-iya, b-bedak dan krim wajahku habis. a-aku.. "

Chanyeol langsung terdiam, ia mengerti kenapa Baekhyun tiba-tiba minta uang padanya.

Melihat reaksi Chanyeol yang langsung terdiam seperti itu membuat Baekhyun langsung merubah perkataannya.

"T-tidak apa-apa Chanyeol, k-kau tidak perlu membelikannya untukku. N-nanti biar aku minta pada aboeji saja."

"Maafkan aku Baek, aku tidak bisa menjadi suami yang baik untukmu. Maaf karena aku miskin." ucap Chanyeol sangat menyesal.

"Kenapa kau bicara begitu? Tidak perlu dipikirkan. Bagiku kau sudah menjadi suami dan kepala keluarga yang baik." ucap Baekhyun mencoba menghibur.

Chanyeol mencoba untuk tersenyum.

"Yasudah, kalau begitu aku masuk dulu. Kau belum mau tidur?"

"Nanti aku menyusul."

"Ne, aku tunggu dikamar ya?" Ucap Baekhyun sambil mengecup bibir suaminya kilat.

Chanyeol tersenyum sendu, kewajiban seorang kepala rumah tangga bukan hanya sekedar memenuhi kebutuhan dapur. Tapi terkadang seorang suami juga perlu memenuhi kebutuhan sekunder istri-istri mereka. Chanyeol mengacak rambutnya frustasi, sepertinya besok ia harus mencari pekerjaan tambahan agar bisa membeli alat-alat kecantikan istrinya. Biarlah ia kerja pontang-panting membanting tulang siang malam demi terpenuhinya kebutuhan rumah dan juga kebutuhan istrinya.

.

.

.

Chanyeol sudah bertelanjang dada dan hanya menggunakan celana boxer pendek seperti kebiasaannya jika hendak tidur. Baekhyun duduk di belakangnya sambil memijat bahu lebar sang suami.

"Sudah cukup Baek, terimakasih. Kemarilah, duduk dipangkuanku."

"A-apa?" Baekhyun terlihat terkejut.

"Duduk disini." ucap Chanyeol sambil menepuk selangkangannya sendiri.

BLUSSH

Baekhyun langsung memerah karenanya, tapi ia tetap menuruti permintaan suaminya dan duduk di pangkuan suaminya.

Chanyeol langsung memeluk tubuh Baekhyun dan merapatkan tubuh mereka berdua. Dengan jarak sedekat ini Baekhyun bisa merasakan nafas hangat suaminya dengan menerpa wajah cantiknya.

"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu."

"A-apa?"

"Apakah aku ini tampan?"

Baekhyun terkikik geli, kenapa Chanyeol bertanya begitu?

"Kenapa kau bertanya begitu?"

"Aku hanya penasaran saja."

Baekhyun tersenyum. "Hmm.. Kau tampan Chanyeol, menurutku kau tampan."

"Kau yakin?"

Baekhyun mengangguk. "Kau sangat tampan Chanyeol, hanya saja kau terlalu acuh dan sangat jorok."

"Apa?"

"Kau jorok dan terlalu acuh. Kau ingat kapan terakhir kali kau mengganti kaos kakimu?"

Chanyeol terdiam sejenak. "Hmm, 3 hari yang lalu?"

"3 hari darimana? Sudah 2 minggu kau tidak pernah mengganti kaos kakimu." ucap Baekhyun mencoba mengkoreksi.

"Benarkah? Aku tidak ingat."

"Itu karena kau terlalu acuh Chanyeol ah. Kau tidak pernah memperdulikan hal-hal kecil."

"Begitukah?"

"Ne, dan apakah kau ingat kapan terakhir kali kau mengganti celana dalammu?"

"Sekitar 4 hari yang lalu?" Ucap Chanyeol lagi mencoba mengingat-ingat.

"Pffft.. " Baekhyun menutup mulutnya mencoba menahan tawa.

"Kau sudah satu minggu tidak mengganti celana dalam mu."

Chanyeol sedikit terbelalak. "Satu minggu? Kau bercanda?"

"Kenapa aku harus bercanda? Aku ini istrimu Chanyeol dan aku tau semua kebiasaanmu. Sekarang coba kau cium celanamu sendiri."

Chanyeol melirik celananya sekilas dan kemudian menggaruk belakang kepalanya canggung.

"Kau terlalu acuh pada dirimu sendiri Chanyeol, padahal kau ini sangat tampan. Kau tidak pernah pakai gel rambut, kau jarang keramas. Kau juga tidak pernah pakai minyak wangi ataupun deodorant. Apa kau pernah mencium bau ketiak mu sendiri Chanyeol ah? Mungkin hanya aku dan ibumu saja yang tahan dengan bau badanmu. Jika orang lain yang menjadi istrimu aku yakin mereka akan langsung mengajukan gugatan cerai kepadamu."

Chanyeol mencium bau ketiaknya sendiri dan ia langsung mengernyit kemudian, entah kenapa ia jadi ingin tertawa sekarang.

"Cobalah untuk mulai memperhatikan penampilan dari sekarang Chanyeol ah. Kau itu tampan. Usahakan untuk pakai gel rambut agar rambutmu lebih rapih, dan jika kau sedang bekerja usahakan untuk selalu memakai sunblock supaya kulitmu tidak semakin gelap. Jangan lupa pakai deodorant dan hilangkan lah sifat jorokmu itu. Dan satu lagi, jika kau pergi ke suatu acara atau apapun itu, usahakan untuk pakai kemeja dan celana panjang yang rapih. Aku yakin jika kau lebih sedikit memperhatikan penampilan mu, kau akan menjadi pria paling tampan yang ada di Korea."

Chanyeol terkekeh geli. "Kau ini ada-ada saja. Baiklah, mulai sekarang aku akan lebih memperhatikan penampilan ku lagi."

Baekhyun mengangguk semangat, ia refleks memeluk tubuh Chanyeol yang langsung disambut hangat sang suami. Pipi Baekhyun memerah karenanya. Ia merasa begitu nyaman berada di dalam pelukan Chanyeol.

Chanyeol tersenyum simpul, ia janji akan sedikit lebih memperhatikan penampilan mulai sekarang. Agar ia tidak terlalu merasa rendah diri jika harus berhadapan dengan mantan kekasih Baekhyun yang terlihat seperti Vampire itu.

.

.

.

.

.

TBC

Holla, i'm back wkwk ~

Mood buat ngetik lagi bagus banget, dan ide buat cerita ini lagi ngalir terus makanya langsung update lagi haha. Makasih ya yang udah pada ngasih respon positif buat ff gaje ini. Review dari kalian meskipun cuma satu atau dua kata doang tapi berarti banget buat author, apalagi yang review nya panjang-panjang haduh author likey banget deh ah haha. Sorry ga bisa bales satu-satu tapi author selalu baca review dari kalian semua ko.

Silahkan di review lagi jika kalian berkenan, insya allah update cepet lagi bikos ide cerita lagi ngalir banget haha (author labil padahal tadinya mau update lama) :v

See you in the next chap~

Jaga kesehatan selalu dan jangan lupa bahagia ya :)

Bye Bye :*