"Aunty Jessi."
"Oh Baekhyunie.. "
Wanita berusia sekitar 40 thn an itu tersenyum cerah melihat keponakan tercintanya datang ke salah satu cabang butik miliknya. Byun Sooyeon atau yang lebih di kenal dengan nama Jessica itu adalah seorang designer sekaligus pengamat fashion ternama di Asia. Ia juga merupakan adik kandung dari Byun Donghae yang berarti ia adalah bibi dari si imut Baekhyun.
"Hay sayang, lama tidak bertemu. Aunty sangat merindukanmu." ucapnya sambil memeluk keponakan yang paling ia sayangi.
"Baekkie juga sangat merindukan aunty." jawab yang lebih mungil sambil balas memeluk yang lebih tua.
"Ada apa kau kemari? Kau membutuhkan sesuatu?"
Baekhyun mengangguk imut. "Aku datang kemari bersama Chan-ehhh, Chanyeol kenapa kau berdiri disitu?"
Sedari tadi Chanyeol hanya berdiri canggung di depan pintu masuk butik mewah milik Jessica, karena jujur saja ia merasa malu. Orang-orang yang biasa berkunjung ke butik Jessica adalah orang-orang dari kalangan atas, sedangkan ia? Sungguh ia benar-benar merasa tidak pantas bahkan hanya untuk sekedar lewat di depan butik nya saja.
Baekhyun yang tampak kesal pun langsung menyeret suaminya itu untuk berhadapan langsung dengan Jessica.
"A-anyeonghaseo Jessica ssi."
Jessica tertawa kecil melihat tingkah kaku suami dari keponakan cantiknya itu.
"Tidak perlu kaku begitu Chanyeol ah, panggil saja aku aunty. Aku kan bibinya Baekhyun dan kau suaminya Baekhyun, itu artinya aku ini bibimu juga."
Chanyeol tersenyum canggung. "N-ne, aunty Jess."
Keluarga Baekhyun semuanya adalah orang-orang kaya, tapi mereka semua sangat jauh dari kata sombong dan angkuh. Chanyeol bersyukur karena ia tidak dipandang sebelah mata oleh keluarga Baekhyun.
"Ayo masuk, kita makan siang dulu ya? Kebetulan hari ini salah satu chef kepercayaan aunty membuatkan banyak makanan Prancis."
"Ah tidak usah aunty, Baekkie datang kemari untuk minta tolong."
"Minta tolong apa?"
"Baekkie mau minta tolong untuk merombak penampilan Chanyeol menjadi lebih menarik. Aunty bisa kan?"
Jessica menatap Chanyeol dari atas kebawah selama beberapa saat dan tersenyum kemudian.
"Sebenarnya aunty tidak terlalu sering memperhatikan fashion pria, tapi kau tenang saja Baekkie ya. Biar asisten aunty yang mengurus semuanya."
"Sungmin ah." Jessica memanggil salah satu asisten kepercayaannya.
"Yes madam." seorang pria berperawakan kecil keluar dari salah satu ruangan di butik mewah ini.
"Kau tolong ubah penampilan pria tinggi ini ya. Ingat, harus benar-benar sempurna."
Sungmin menatap Chanyeol sekilas dan tersenyum ringan pada Jessica.
"Serahkan padaku madam, ayo tuan ikut aku."
Chanyeol menatap istrinya pelan yang langsung ditanggapi anggukan singkat dari si mungil. Dengan langkah ragu, pria bertelinga caplang itu mengikuti Sungmin untuk masuk ke sebuah ruangan khusus.
"Nah Baek, sambil menunggu Chanyeol selesai bagaimana jika kita minum teh dulu? Kau juga sudah lama tidak perawatan kan?"
Baekhyun mengangguk antusias. "Tentu aunty, Baekkie mau."
.
.
.
Baekhyun melewatkan waktu dua jam ini dengan perawatan-perawatan mahal. Pijat, perawatan kulit, kuku dan Creambath. Butik ini juga menyediakan perawatan salon kelas atas yang tentu sangat disukai oleh Baekhyun. Dulu sebelum menikah, Baekhyun sering sekali datang kemari untuk melakukan perawatan layaknya perempuan.
"Aunty, kenapa Chanyeol lama sekali? Ini sudah 2 jam berlalu."
"Kau tenang saja Baek, kau tau Sungmin kan? Ia selalu melakukan pekerjaan nya dengan baik."
Baekhyun mengangguk mengerti, ia kembali memfokuskan atensinya pada majalah faahion luar negeri ditangannya.
CKLEK
Pintu ruangan tempat Chanyeol masuk tadi terbuka, Baekhyun dan Jessica kompak langsung menoleh. Sungmin keluar dengan senyuman percaya diri.
"Chanyeol ssi, ayo keluar."
Dengan langkah ragu Chanyeol berjalan keluar sambil tersenyum kaku. Baekhyun yang melihat itu sontak menjatuhkan majalahnya begitu saja.
Dengan menggunakan kemeja lengan panjang yang digulung sampai sebatas siku berwarna hitam dan celana bahan panjang sewarna abu-abu, Chanyeol terlihat amat sangat berbeda.
Rambutnya di potong sedemikian rupa dan di tata dengan model hair up, kulit gelapnya kini sudah tidak terlihat kusam lagi melainkan terlihat begitu eksotis. Wajahnya juga terlihat sangat bersih dan bebas dari komedo.
"Chanyeol kau.. " Baekhyun sampai tak bisa berkata-kata saking panglingnya melihat perubahan Chanyeol. Chanyeol sekarang terlihat begitu dewasa, dewasa dan sexy.
Jessica tersenyum geli melihat Baekhyun yang sangat terpesona dengan perubahan Chanyeol.
"Jangan sampai air liurmu menetes di lantai butik ku ini Baekhyun ah, itu sangat menjijikan."
Baekhyun refleks memegang mulutnya dan mendelik kesal begitu tau bibinya hanya menggodanya saja.
"Aunty isshh.."
Jessica tertawa lagi. "Baekhyun kau tau? Chanyeol itu dasarnya memang sudah tampan, maka dari itu tidak begitu sulit rasanya untuk merombak penampilannya. Benar begitu kan Sungmin ah?"
Sungmin mengangguk setuju. "Tuan Chanyeol hanya perlu lebih peduli pada penampilan dan lebih menjaga kebersihan saja."
Baekhyun mengangguk senang, tidak salah memang jika ia membawa suaminya kesini.
"Aunty ada sesuatu untukmu Chanyeol ah." Jessica berbalik dan mengambil beberapa bungkus pakaian, sepatu dan juga parfum untuk Chanyeol.
"Ini untukmu, pakailah ini agar istrimu tidak melirik pria lain."
Chanyeol menerima semua bungkusan itu dengan ragu, kedua bola matanya seolah hendak keluar begitu ia melihat harga dari semua hadiah ini sangatlah mahal.
"Aunty, ini terlalu mahal. Aku tidak bisa menerimanya."
"Kenapa begitu? Aku memberikan semua itu karena aku memang ingin."
"Tapi aku-"
"Aunty akan sangat marah jika kau menolaknya Chanyeol ah."
Ekspresi di wajah Jessica langsung berubah menjadi sangat dingin dan terlihat sekali jika ia tidak ingin di tolak.
"N-ne, akan aku terima." ucap Chanyeol yang akhirnya menerima hadiah itu.
"Memang harus." Jessica kembali merubah ekspresi wajahnya menjadi ceria seperti sebelumnya.
Chanyeol agak merinding melihatnya, Jessica seperti mempunyai kepribadian ganda. Ia bisa dengan cepat mengubah ekspresinya menjadi sangat menyeramkan.
"Yasudah, aunty aku pulang ya? Setelah ini aku masih punya banyak pekerjaan dirumah."
"Kenapa buru-buru sekali? Aunty kan masih ingin mengobrol."
Baekhyun terkekeh. "Kapan-kapan Baekkie akan main lagi kesini." ucapnya sambil memeluk Jessica.
"Yasudah kalau begitu, jaga dirimu baik-baik ya? Jika perlu apa-apa segera hubungi aunty."
Baekhyun mengangguk. "Ne, Baekkie pulang. Terimakasih banyak untuk hari ini aunty, Sungmin hyung."
Sungmin mengangguk sambil tersenyum lucu.
"Aku pamit, aunty, Sungmin ssi. Terimakasih untuk semuanya." Ucap Chanyeol yang juga di angguki oleh Jessica dan Sungmin.
.
.
.
Karena ini hari Minggu dan Chanyeol tidak bekerja, maka sepasang suami istri itu memutuskan untuk berjalan-jalan terlebih dahulu dengan berkendara menyusuri jalanan kota Seoul yang cukup padat dengan menggunakan sepeda motor Yamaha RX king jadul milik Chanyeol. Tanpa ada rasa malu sama sekali Baekhyun dengan berani memeluk tubuh suaminya itu dari belakang. Ia dengan begitu manjanya menyenderkan kepalanya pada bahu lebar nan kokoh milik sang suami. Semua barang-barang hadiah dari Jessica untuk Chanyeol tidak jadi mereka bawa sendiri karena terlalu banyak. Alhasil Baekhyun meminta Jessica untuk mengirimkan kurir saja ke rumah mereka.
"Chan, Baekkie lapar." ucap Baekhyun sambil menggesekan kepalanya di punggung Chanyeol seperti seekor anak kucing.
"Kau mau makan apa? Aku tidak punya uang untuk membawamu ke restoran mahal." balas Chanyeol sedikit berteriak karena bisingnya suara kendaraaan lain.
"Tidak apa-apa Yeol, Baekkie sekarang justru lebih suka makanan yang di jual di kaki lima. Rasanya tidak jauh berbeda dengan makanan di restoran mewah." ucap Baekhyun lagi yang juga ikut berteriak.
"Baiklah, kau mau makan apa?"
"Baekkie mau ayam."
"Ayam? Aku tau tempat ayam yang enak."
BRUUUUMM
Chanyeol memacu kendaraannya kencang menuju tempat makan yang menjual berbagai olahan ayam enak.
Sesampainya di sebuah pasar kaki lima, Chanyeol sontak menjadi pusat perhatian seluruh penghuni pasar yang kebanyakan adalah kaum wanita. Baekhyun yang tau suaminya menjadi pusat perhatian pun merasa begitu risih dan dengan cepat memeluk lengan kanan Chanyeol posesif.
Wanita-wanita itu tampak mengernyitkan alis mereka bingung dengan apa yang di lakukan Baekhyun. Tapi Baekhyun seolah tidak peduli, ia malah menatap balik para wanita itu dengan tatapan sengit seolah berkata 'pria ini milikku, jaga pandangan kalian atau aku akan mencongkel kedua bola mata kalian.'
"Ini kedai ayam yang aku maksud, ayam yang dijual disini enak-enak." Ucap Chanyeol ketika mereka sampai.
Baekhyun langsung menarik tangan suaminya itu ke dalam kedai karena sudah terlalu risih dengan keadaan di luar yang menurutnya sudah tidak kondusif.
Setelah masuk, Baekhyun justru semakin menggerutu kesal karena ternyata pelanggan kedai ini di dominasi oleh wanita, hanya ada 2-3 orang pria dewasa saja yang duduk di pojok ruangan.
Kedatangan Chanyeol dan Baekhyun pun sontak menjadi perhatian seluruh pengunjung kedai terutama pengunjung wanita yang begitu terpesona dengan ketampanan Chanyeol. Mereka tampak berbisik-bisik sambil menatap genit pada pria berusia 31 thn itu.
"Selamat datang tuan-tuan, ayo silahkan duduk." ucap sang ibu pemilik kedai.
Chanyeol dan Baekhyun lantas langsung duduk di meja paling depan.
"Baekkie mau-"
"Anda mau pesan apa tuan?" tanya si pemilik kedai yang langsung bertanya pada Chanyeol.
Chanyeol tersenyum kecil. "Aku mau ayam goreng kecap."
Baekhyun mengerucutkan bibirnya kesal, ia merasa begitu di acuhkan.
"Anda mau yang mana tuan? Dada atau paha?"
"Aku mau dada ayam saja."
"Baik, akan saya ambilkan." ucapnya sambil mengambil 2 potongan dada ayam.
"Ini, silahkan dinikmati."
"2? Tapi aku hanya pesan satu."
"Ah tidak apa-apa, anggap saja itu bonus karena sudah makan ayam disini." ucapnya lagi sambil tersenyum malu-malu.
Baekhyun semakin menekukan wajahnya melihat itu. Chanyeol sudah mulai menjadi magnet bagi para wanita dan jujur saja Baekhyun tidak suka itu.
"Baek, kau mau ayam yang mana?" Tanya Chanyeol sambil menoleh pada istrinya.
"Aku mau ayam goreng chrispy yang di tambah saus tomat."
"Maaf tuan, anda bisa mengambil ayamnya sendiri kan? Saya sedang sibuk." balas si pemilik kedai sambil berpura-pura membersihkan meja.
Baekhyun berdecih mendengarnya, wanita itu hanya pura-pura membersihkan meja padahal matanya secara diam-diam terus melirik Chanyeol. Baekhyun rasanya ingin sekali melemparkan sendok di tangannya hingga mengenai kepala si wanita itu hingga benjol sebesar bakpao.
"Baik, aku akan ambil sendiri." ucapnya sarkatis.
Ia langsung mengambil ayamnya sendiri karena memang ayam-ayam itu sudah disediakan di depan meja agar pelanggan lebih mudah untuk memilih ayam yang mereka suka.
Baekhyun yang memang sangat kesal langsung memotong ayam-ayam itu dengan keras dan tanpa perasaan.
Chanyeol yang melihatnya tampak begitu keheranan. Tadi Baekhyun sangat menggebu-gebu untuk makan disini tapi sekarang ia terlihat begitu kesal dan juga bad mood. Ada apa lagi dengan pria cantik itu?
Apakah ia sudah membuat kesalahan?
.
.
.
Sudah 17 menit berlalu setelah mereka selesai makan di kedai ayam tadi. Chanyeol sudah berkeliling pasar daritadi dan membelikan banyak camilan serta aksesoris khas kaki lima untuk Baekhyun dengan harapan mood pria cantik itu bisa kembali. Tapi sayangnya Baekhyun tetap cemberut dan terus menekuk wajahnya sedari tadi. Chanyeol jadi serba salah dibuatnya, ia tidak tau apa penyebab istrinya itu begitu bad mood hari ini. Saat ia tanya pun istrinya itu hanya diam dan tidak menjawab.
Saat berjalan di pertigaan menuju tempat parkir, atensi Baekhyun dan Chanyeol langsung teralih ketika melihat segerombolan orang yang mengerubungi sesuatu. Karena penasaran, mereka akhirnya memutuskan untuk berjalan kearah sana dan melihat apa yang terjadi.
"Irene?" Chanyeol membulatkan matanya terkejut ketika melihat Irene lah yang menjadi penyebab orang-orang itu berkumpul.
"Chanyeol?"
Wanita itu terduduk di aspal jalan dengan belanjaan yang berserakan dimana-mana. Kaki dan siku tangannya juga berdarah entah karena apa.
"Apa yang terjadi?" tanya Chanyeol pada salah satu orang disana.
"Wanita ini menjadi korban tabrak lari, sepeda motor yang menabraknya langsung pergi begitu saja. Kami sudah menghubungi pihak medis dan sebentar lagi mereka akan segera datang."
Chanyeol berdecak mendengarnya, ia langsung berjongkok dan memeriksa luka di kaki dan tangan Irene.
"Aku baik-baik saja Chanyeol, kau tidak perlu khawatir." ucap wanita itu sambil tersenyum lembut.
"Ini tidak bisa dibiarkan lebih lama lagi, lukamu bisa infeksi jika dibiarkan terlalu lama. Ayo sebaiknya biar aku antar kerumah sakit."
Irene sontak terkejut dibuatnya. "T-tidak usah Chanyeol, aku-akkkkhhh."
Chanyeol seolah tidak peduli, ia langsung mengangkat tubuh Irene ala bridal dan berjalan menuju sepeda motornya.
"C-Chanyeol, aku baik-baik saja. Sungguh." ucap Irene ketika ia di dudukan di jok belakang motor Chanyeol.
Chanyeol tidak menjawab, ia memakai helm nya cepat dan langsung melajukan sepeda motor miliknya dengan cepat pula.
BRUUMM
Ia pergi membelah jalanan ibukota Seoul melupakan seseorang yang kini menatapnya dengan sendu dari kejauhan.
.
.
.
"Bagaimana dok?"
"Aku sudah membersihkan luka dan membalutnya juga, untuk sementara sebaiknya nyonya Irene tidak terlalu banyak bergerak dulu sampai lukanya benar-benar kering."
"Baik dok, aku mengerti." Ucap Irene sambil tersenyum.
"Kalau begitu saya permisi tuan, nyonya."
"Ne, terimakasih banyak dokter." Ucap Chanyeol kemudian sambil membungkuk sopan.
"Sudah merasa lebih baik?"
"Sudah, terimakasih Chanyeol ah." Irene berucap tulus, karena mungkin saja jika tidak ada Chanyeol, luka di kaki dan tangannya akan infeksi dan sulit disembuhkan.
"Aku akan mengurus administrasinya dulu."
Chanyeol berjalan keluar hendak membuka pintu sebelum Irene kembali memanggil namanya.
"Chanyeol ah.. "
Chanyeol menoleh.
"Sekali lagi terimakasih."
Chanyeol tersenyum dan mengangguk pelan, setelahnya ia langsung pergi untuk mengurus biaya administrasi.
.
.
.
Sudah sekitar 16 menit ia menunggu sendirian di pasar kaki lima ini seperti anak kecil yang kehilangan ibunya. Ia berdiri diam sambil memperhatikan sekeliling yang tampak begitu sibuk dengan urusan dan kesibukan masing-masing.
"Chanyeol pasti kembali, aku yakin Chanyeol pasti kembali." ucapnya mencoba meyakinkan diri.
TES
Ia menatap keatas ketika dirasa langit mulai meneteskan airmatanya. Hujan. Dan Baekhyun menghela nafas. Semua orang berlarian kesana kemari berusaha menghindari rintikan bulir air yang cukup deras itu termasuk juga Baekhyun. Ia berteduh di teras sebuah toko yang sepertinya sudah bangkrut karena tidak berpenghuni. Ia genggam tas belanjaan miliknya dengan erat sambil meneteskan airmatanya sedih.
.
.
.
"Ayo makan."
"Tidak usah Chanyeol, aku bisa sendiri."
"Tanganmu di perban Irene, bagaimana bisa kau makan sendiri.. "
Irene berusaha menolak ketika Chanyeol ingin menyuapinya. Chanyeol membeli seporsi mie kacang hitam tadi untuk makan siang Irene.
Dengan perasaan canggung Irene akhirnya menerima suapan dari Chanyeol.
"Terimakasih Chanyeol, kau sangat perhatian padaku."
"Tidak masalah, kau juga sangat perhatian padaku. Saat aku sakit dulu kau selalu jadi orang pertama yang merawatku. Sekarang anggap saja aku sedang berbalas budi."
Irene tersenyum kecil, tapi sesaat kemudian matanya membulat seolah baru mengingat sesuatu.
"Chanyeol dimana Baekhyun? Bukankah tadi kau sedang bersama Baekhyun?"
Chanyeol sontak terdiam, sumpit ditangannya jatuh begitu saja dan ia langsung mengusap wajahnya kasar.
Astaga, kenapa ia bisa lupa?
.
.
.
"Hey manis, sendirian saja?"
Baekhyun menoleh ketika mendengar suara seseorang yang seperti berbicara kepadanya, hujan sudah mulai reda dan tiba-tiba saja ada dua orang pria yang datang mendekatinya.
"Boleh kami temani?" ucap pria yang satunya lagi.
Baekhyun mencoba untuk tidak menggubris dan kembali memfokuskan atensinya ke depan berharap hujan benar-benar reda.
"Hey, sombong sekali. Kami sedang bicara padamu."
"Jangan coba-coba mendekat." Baekhyun mulai waspada.
"Haha jika kami ingin mendekat bagaimana?" mereka justru semakin mendekat dan menghimpit tubuh kecil Baekhyun sampai ke dinding toko.
"Jangan coba-coba atau aku akan-"
"Akan apa?"
"Akan ini.."
BUGH!
BUGH!
ARRRRGH
Baekhyun dengan berani menendang selangkangan dua pria itu hingga mereka terjongkok dan meringis kesakitan.
Melihat ada kesempatan, Baekhyun langsung berlari secepat yang ia bisa.
"YA! BERHENTI KAU."
Baekhyun terus berlari ketika dua pria itu bangkit dan berlari mengejarnya.
"YA!"
Baekhyun panik dan ia ketakutan sekarang. Saking paniknya ia sampai tersandung batu dan tersungkur ketanah.
BRUKK
AHHH
Baekhyun meringis, sikutnya berdarah karena terbentur aspal tanah. Ia melirik sekeliling dan baru sadar ia berada disebuah gang sempit yang cukup sepi dan gelap. Kenapa ia malah berlari kesini?
"Kau mau lari kemana lagi manis? Sudah tidak ada jalan keluar untukmu."
Baekhyun semakin panik dibuatnya, ia memundurkan tubuhnya ke belakang dan terus menangis takut.
Kedua pria itu tertawa keras, mereka seolah mendapatkan mangsa yang menyenangkan kali ini. Mereka dengan cepat membuka sabuk celana masing-masing.
"YA!"
Mereka berdua langsung menoleh ketika suara seseorang berteriak dibelakang mereka.
Tubuh mereka langsung lemas dan gemetar ketika melihat siapa orang yang berteriak itu.
"S-Suho hyung.. "
Baekhyun terdiam, Suho? Siapa lagi itu?
"Apa yang kalian lakukan disini?"
"K-kami tidak-"
"Pergi dari sini dan bebaskan gadis malang itu."
Tanpa banyak membantah, mereka berdua pun mengangguk patuh dan buru-buru berlari menjauhi tempat itu.
Baekhyun menghela nafasnya lega, setidaknya ia selamat kali ini. Entah apa jadinya jika pria bernama Suho itu tidak muncul dan mengusir kedua pria tadi.
"Kau baik-baik saja?" tanya pria itu sambil menjulurkan tangannya mencoba untuk membantu.
"Aku baik, terimakasih." jawab Baekhyun sambil meyambut uluran tangan pria itu.
"Siapa namamu agasshi?"
"Agasshi? Maaf tuan, tapi saya ini laki-laki."
Pria itu langsung membulatkan matanya terkejut, benarkah?
"Oh maaf, aku tidak tau."
Baekhyun tersenyum kecil. "Tidak apa-apa."
"Kenapa kau bisa ada disini? Kau sedang menunggu seseorang?"
Mendengar itu Baekhyun sontak terdiam, ia berusaha tersenyum meskipun terkesan sangat dipaksakan.
"Aku tadi sedang belanja beberapa aksesoris saja, sendirian, dan tidak sedang menunggu siapapun."
Suho mengangguk mengerti. "Kalau begitu aku antar pulang saja bagaimana?"
"Apa tidak merepotkan?"
"Tentu saja tidak."
Baekhyun sedikit berpikir untuk sejenak, di antarkan oleh pria ini? Lalu bagaimana jika Chanyeol datang?
Ia langsung menggelengkan kepalanya cepat, Chanyeol tidak mungkin datang lagi kemari. Dia kan sedang bersama Irene.
"Yasudah, aku mau kalau begitu."
"Tapi ada baiknya jika kita pergi ke klinik terlebih dahulu. Luka ditanganmu seperti nya butuh penanganan lebih."
Baekhyun melirik luka ditangannya sekilas.
"Namaku Suho, kau?"
"Baekhyun, Park Baekhyun."
.
.
.
"Jadi kau tinggal disini?"
Baekhyun mengangguk, ia turun dari motor sport berwarna hitam milik Suho. Pria itu terlihat memperhatikan rumah Chanyeol dengan seksama.
"Iya, aku tinggal disini. Kau mau masuk dulu? Biar aku kenalkan pada ibu mertuaku."
"Mertua? Siapa?"
"Heechul, Park Heechul. Kau mengenalnya?"
"Ani, aku tidak kenal." ucap Suho sambil menggeleng pelan.
"Kalau begitu aku pulang ya?"
Baekhyun mengangguk. "Ne, terimakasih untuk semuanya. Hati-hati di jalan."
"Ne.. " balas Suho yang juga ikut tersenyum.
"Baekhyun?"
Baekhyun menoleh ketika ibu mertuanya keluar dari rumah dan memanggil namanya.
"Kau diantar siapa Baekhyun ah? Dimana Chanyeol?"
"Chanyeol pergi menemui temannya, ia bilang ada urusan penting. Yang tadi itu temannya Chanyeol." ucap Baekhyun berbohong.
Heechul sedikit mengernyitkan alisnya bingung. Seingatnya Chanyeol tidak punya teman yang memiliki motor sport seperti itu.
"Ayo kita masuk eomma, Baekkie banyak membelikan aksesoris cantik untuk eomma."
.
.
.
Pukul 8 malam, Baekhyun dan Heechul duduk berdua di ruang tengah sambil menonton acara televisi. Diluar sedang hujan dan Chanyeol masih belum pulang
BRUUMM
"Itu sepertinya suara motor Chanyeol." ucap Heechul ketika mendengar suara motor yang terparkir di depan rumah.
Baekhyun hanya terdiam, ia tidak menunjukan reaksi apapun dan lebih memilih fokus untuk menonton acara televisi.
CKLEK
Chanyeol berlari masuk kedalam rumah.
"Eomma, Baekhyun hila-"
Ucapan Chanyeol langsung terhenti begitu saja ketika ia melihat Baekhyun tengah duduk santai sambil menonton televisi.
Heechul nampak terkejut melihat penampilan Chanyeol yang basah kuyup, nafasnya juga tersenggal-senggal dan terlihat begitu panik.
"Chanyeol kau kehujanan? Kenapa tidak menunggu hujan reda dulu nak?" ucap sang ibu sambil membawakan handuk untuk sang putra.
Chanyeol tidak menggubris. Ia justru lebih memilih untuk fokus menatap istrinya yang tengah sibuk menonton televisi.
"Baekhyun bilang kau bertemu dengan teman mu dulu makanya kau tidak langsung pulang."
"Apa?" Chanyeol menatap ibunya bingung dan kemudian ia menatap Baekhyun sekilas.
"Baekhyun tolong kau siapkan air panas untuk suamimu mandi."
Baekhyun mengangguk mengerti, ia langsung berjalan ke dapur tanpa menoleh pada Chanyeol sama sekali.
.
.
.
Chanyeol masuk ke dalam kamar setelah ia selesai mandi, ia menatap istrinya itu pelan yang tengah duduk membelakanginya diatas ranjang.
Dengan perlahan Chanyeol ikut duduk diatas ranjang dan memanggil istrinya itu pelan.
"Baek, aku ingin bicara sesuatu."
"Bicara saja." balas yang lebih kecil tanpa menoleh sama sekali.
"Kenapa kau tidak menungguku di pasar? Aku berkeliling kesana kemari mencari keberadaanmu, aku pikir kau menghilang dan tidak bisa pulang kerumah."
"Lalu aku harus menunggumu di tengah hujan lebat seperti tadi?"
Chanyeol menghela nafasnya pelan. "Aku minta maaf, aku benar-benar panik melihat Irene terluka. Maafkan aku Baek, aku tau aku salah."
Baekhyun sedikit menghapus airmatanya pelan. "Tidak apa-apa, aku tidak berhak untuk marah. Dari awal kau memang masih mencintai Irene, wajar jika kau merasa panik melihat orang yang kau cintai terluka. Toh kita juga sudah sepakat untuk tidak mencampuri urusan masing-masing kan?"
"Baek, bukan begitu-"
"Tidak apa-apa Yeol, aku baik-baik saja. Lupakan kejadian hari ini. Sebaiknya sekarang kita tidur. Besok kau harus kerja pagi kan?"
"Tapi Baek, aku-"
"Selamat malam Chanyeol."
Baekhyun membaringkan tubuhnya membelakangi Chanyeol, pria itu menghela nafas. Dengan cepat ia tarik tubuh mungil itu dan ia tindih dengan tubuh besarnya.
Baekhyun agak sedikit terkejut dibuatnya, tapi dengan cepat ia menolehkan kepalanya kesamping kiri enggan menatap mata Chanyeol langsung.
"Maafkan aku Chanyeol ah, aku tidak bermaksud menjadi istri yang pembangkang. Hanya saja saat ini aku sedang tidak ingin melakukan itu. Aku harap kau mengerti." ucap Baekhyun yang mengira jika suaminya itu sedang menginginkan seks.
"Maafkan aku." balas Chanyeol singkat.
Baekhyun langsung terdiam.
"Maafkan aku, aku tau aku salah. Aku tau kau pasti marah dan kecewa padaku sekarang, maka dari itu aku minta maaf. Aku janji tidak akan melakukan itu lagi. Tampar dan pukul aku saja jika itu bisa membuatmu merasa lebih baik."
Baekhyun masih terdiam, ia masih enggan untuk menatap mata pria dewasa yang sedang menindih tubuhnya itu.
PLAK
Chanyeol menampar pipinya sendiri dengan keras hingga memerah, dan itu sontak saja membuat Baekhyun terkejut.
"Ayo tampar aku Baek."
PLAK
PLAK
PLAK
PLAK
"Hentikan Chanyeol hiks jangan menyiksa dirimu sendiri.. "
Cukup. Baekhyun tidak tahan melihat Chanyeol menampar wajahnya sendiri seperti itu. Ia menangis dan langsung memeluk suaminya itu erat.
"Kau sudah merasa lebih baik?" bisik Chanyeol lirih ditelinga Baekhyun.
"Hiks.. Jangan lakukan itu lagi Chanyeol, aku sudah memaafkanmu."
Chanyeol tersenyum, ia angkat kepalanya dan ia pandangi wajah Baekhyun dengan seksama. Baekhyun refleks menyentuh wajah Chanyeol yang memerah.
"Gomawo." ucap Chanyeol tersenyum lembut sambil menggengam tangan Baekhyun yang berada di pipinya.
Perlahan tapi pasti, Chanyeol mulai mengeliminasi jarak diantara mereka dan Baekhyun pun mulai menutup matanya pelan.
CUP
Bibir mereka bertemu, saling mengecup, menghisap dan mengulum satu sama lain. Tidak ada nafsu untuk kali ini. Hanya sebatas ciuman biasa sebagai penyalur rasa kasih sayang tanpa adanya rasa cinta diantara mereka semua.
.
.
.
"Wangi apa ini?"
Heechul mengendus tubuh tegap sang putra dan matanya langsung terbelalak kaget.
"Chanyeol kau pakai parfum?"
Chanyeol mengangguk sekilas sambil memasukan sepotong roti tawar ke dalam mulutnya.
"Kau juga potong rambut ya? Yaampun, anak eomma sekarang tampan sekali." Heechul menyentuh dan mengusap rambut Chanyeol dengan semangat. Ia kemudian mencium telapak tangannya sendiri dan semakin tersenyum lebar.
"Kau pakai shampoo apa sayang? Harum sekali, kau juga pakai gel rambut ya?" tanya ibunya antusias.
"Iya eomma, aku sudah keramas dan pakai gel rambut."
Heechul bertepuk tangan heboh, ia lalu mengangkat tangan sebelah kanan Chanyeol hingga membuat anaknya itu risih, wanita yang sudah berkepala lima itu langsung mencium ketiak Chanyeol dan semakin melebarkan senyumannya.
"Kyaaaaa anak eomma sudah tidak bau ketiak lagi, Yatuhan ini adalah sebuah anugerah."
Chanyeol mengernyit kesal mendengarnya, ibunya ini terlalu berlebihan. Baekhyun yang sedari tadi hanya diam memperhatikan mereka berdua hanya tersenyum simpul sambil memakan sarapannya dengan tenang.
"Ya! Ya! Ya! Eomma. Apa yang eomma lakukan?" Chanyeol berteriak panik ketika Heechul berjongkok dan mencium selangkangannya.
"Sudah tidak bau lagi. Astaga, Chanyeol kau tidak lupa mengganti celana dalam mu lagi? Kyaaaaaa Ya Tuhan, eomma akan menbagikan makanan kepada para tetangga setelah ini."
"Eomma, berhentilah membuatku malu." ucap Chanyeol yang wajahnya sudah mulai memerah.
"Baekhyun ah? Apa kau yang sudah merubah Chanyeol?" Tanya Heechul pada sang menantu yang tidak memperdulikan Chanyeol lagi.
"Iya, aku menyuruh Chanyeol untuk rajin mengganti celana dalam dan mulai memakai deodorant mulai dari sekarang. Kemarin aku juga mengajak Chanyeol ke butiknya aunty Jessi untuk merombak penampilan Chanyeol menjadi lebih menarik."
"Aigoo terimakasih banyak sayang, dari dulu eomma selalu meminta Chanyeol untuk lebih peduli pada penampilan tapi ia tidak pernah mau mendengarkan eomma. Eomma bersyukur sekarang Chanyeol mau menuruti ucapan istrinya. Sekarang eomma sudah tidak perlu khawatir lagi, anak eomma sudah punya pawang sendiri."
"Memangnya aku ini ular apa.. "
"Ish itu kan hanya perumpamaan saja Chanyeol."
Baekhyun tertawa pelan melihat interaksi lucu antara ibu dan anak itu, meskipun hanya berdua dan tinggal dirumah sederhana seperti ini, tapi rasa kekeluargaannya begitu terasa sekali. Perlahan Baekhyun mulai bisa menerima dan menyesuaikan diri untuk tinggal di rumah yang penuh dengan kehangatan ini.
Chanyeol melirik jam yang terpasang di dinding, pukul 7 tepat dan saatnya ia berangkat kerja. Ia makan beberapa potongan roti terakhir dan menghabiskan secangkir kopi hitam yang sudah dibuatkan Baekhyun.
"Terimakasih untuk sarapannya, aku pergi."
"Kau mau berangkat kerja sekarang? Tapi kenapa kau tidak memakai seragam?" tanya Baekhyun yang juga di angguki oleh Heechul.
Chanyeol sontak terdiam, ia lupa jika ia memang belum bercerita jika ia sudah di pecat dari pekerjaan jalan tol. Sambil berdehem pelan Chanyeol pun mencoba menjelaskan.
"Seragam sudah ada di tempat kerja, sekarang seragam sudah tidak boleh di bawa pulang. Supaya lebih praktis" ucapnya memilih untuk berbohong.
Untungnya Baekhyun dan Heechul tampak tidak menaruh curiga sama sekali dan menganggukan kepala mereka mengerti.
"Yasudah, aku berangkat dulu ya." Chanyeol mencium tangan ibunya pelan dan langsung mengecup kening istrinya lembut.
Baekhyun mengantar Chanyeol sampai ke depan rumah dan mencium tangannya lembut.
"Hati-hati di jalan Chanyeol ah."
"Ne, aku pergi dulu. Jaga rumah baik-baik dan jangan pernah keluar rumah dengan pakaian ketat."
Baekhyun tersenyum kecil mendengarnya, setiap kali berangkat kerja Chanyeol pasti selalu berkata padanya untuk tidak memakai pakaian ketat. Yaampun, Baekhyun sampai merona sendiri jadinya. Chanyeol seperti tidak rela jika tubuhnya menjadi pemandangan gratis bagi kaum adam diluaran sana.
Chanyeol menyalakan motor jadul miliknya dan langsung memakai helmnya juga. Pandangannya sedikit teralih pada sikut tangan kiri Baekhyun yang di perban.
"Tangan mu kenapa Baek?"
Baekhyun menolehkan tatapan matanya pada siku tangannya dan refleks langsung tersenyum.
"Kemarin, aku jatuh terpeleset saat menunggumu di pasar."
Chanyeol terdiam sejenak. "Maafkan aku Baek, seandainya saja kemarin aku-"
"Sudahlah Chanyeol jangan di bahas lagi, aku baik-baik saja."
"Kau yakin tidak mau ke dokter?"
"Aku sudah pergi ke dokter kemarin Chanyeol ah."
Chanyeol mengangguk mengerti. "Yasudah, kalau begitu aku pergi."
"Ne, hati-hati Chanyeol ah."
BRUUMM
Motor Chanyeol melaju pelan meninggalkan pekarangan rumah untuk melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya untuk mencari nafkah bagi keluarga. Baekhyun melambaikan tangannya sambil tersenyum hangat.
"Tuhan, lancarkanlah urusan suamiku hari ini dan buka kan lah pintu rejeki mu untuknya hari ini. Amin." Baekhyun berdo'a sambil memandang punggung suaminya yang semakin menjauh pergi.
.
.
.
"Baik semuanya, waktu makan siang sudah tiba. Tunda dulu semua pekerjaan kalian dan langsung pergi ke kantin untuk mengambil makanan kalian masing-masing." ucap sang kepala pengawas pada seluruh pekerja bangunan.
"NE." ucap mereka secara serempak.
Chanyeol mengusap keringatnya pelan, rasanya percuma saja ia melakukan perawatan kemarin. Tubuhnya kembali kotor karena pekerjaan nya yang memang mengharuskannya untuk selalu kotor setiap saat.
"Hyungsik ah, kau bisa carikan tukang service AC untukku? AC diruanganku mati, dan aku tidak bisa bekerja jika tanpa AC."
Sehun keluar dari dalam kantornya dan langsung berbicara pada supir pribadinya Park Hyungsik. Chanyeol lantas langsung menatap bosnya itu dengan seksama.
"Tukang service AC?" Hyungsik tampak mengernyit bingung, siapa yang bisa ia mintai tolong?
"Biar saya saja tuan." Hyungsik dan Sehun langsung menoleh ketika Chanyeol datang menghampiri mereka.
"Kau bisa memperbaiki AC?"
Chanyeol mengangguk mengiyakan pertanyaan Sehun.
"Wah Chanyeol apa yang tidak bisa kau lakukan.. " ucap Hyungsik yang terlihat begitu kagum.
Chanyeol hanya terkekeh pelan sebagai jawaban.
"Yasudah, kau ikut keruanganku sekarang." Ucap Sehun yang langsung berbalik pergi.
Chanyeol mengikuti Sehun dari belakang, ia langsung masuk ketika atasannya itu mengijinkannya untuk masuk.
"AC nya tiba-tiba mati, aku tidak tau kenapa."
Chanyeol menatap keatas dinding. "Maaf tuan, apa tuan punya peralatan untuk membongkar AC ini?"
"Peralatan? Oh sebentar." Sehun berjalan ke sebuah lemari berukuran kecil di pojok ruangan dan mengeluarkan sebuah kotak besi berukuran besar.
"Ini, kau bisa menggunakan ini."
Chanyeol mengangguk mengerti, ia langsung mengambil alat-alat itu dan berjalan sebentar keluar untuk mengambil tangga.
Setelahnya, pria bertelinga lebar itu langsung membongkar dan memperbaiki AC itu dengan sangat telaten. Sehun diam-diam begitu terkagum dengan kemampuan Chanyeol yang bisa memperbaiki alat pendingin ruangan seperti ini.
"Apa lagi yang bisa kau perbaiki?"
"Semua alat elektronik saya bisa tuan, televisi, kulkas, mesin cucu dan yang lainnya saya bisa perbaiki."
Sehun mengangguk mengerti. "Aku suka dengan kinerjamu, kau gesit, telaten dan juga rapi."
Chanyeol tersenyum sambil masih fokus memperbaiki AC. "Terimakasih atas pujiannya."
TOK TOK TOK TOK
"Masuk."
"Tuan Sehun?"
"Ah Sungjae ya, kemarilah. Aku sudah menunggumu dari tadi." Sehun langsung berbalik memutar dan duduk di kursi kerjanya.
Pria bernama Sungjae itu membungkuk hormat pada pria dihadapannya.
"Selamat siang tuan."
"Langsung saja, sudah ada perkembangan?"
Sungjae merogoh sesuatu dari dalam jasnya dan memberikannya pada Sehun.
"Kemarin tuan muda Baekhyun terlihat di pasar kaki lima di daerah Gwangbujong. Ia di kejar oleh beberapa preman pasar tapi ada seorang pria yang berhasil menolongnya."
DEG
Chanyeol sontak mematung mendengarnya. Jantungnya langsung berdetak begitu kencang mendengar pria itu menyebut nama istrinya.
Sehun melihat beberapa foto yang disodorkan Sungjae, disana terlihat Baekhyun yang terjatuh ke tanah dan ada seorang pria berperawakan tidak terlalu tinggi namun kekar dan tegap serta berkulit putih yang menolong pria kecil itu.
"Siapa pria ini?"
"Saya tidak tau tuan, tapi pria ini yang menolong Baekhyun dari preman-preman itu dan membawanya pergi."
"Lalu sekarang kau tau dimana Baekhyun berada?"
Sungjae menggeleng. "Maaf tuan, saya kehilangan jejak."
Sehun menghembuskan nafasnya kesal. "Berapa lama lagi aku harus menunggu Sungjae ya? Apa aku harus turun tangan sendiri untuk mencari kekasihku, begitu maksudmu?"
Chanyeol mencengkeram erat obeng ditangannya ketika Sehun menyebut Baekhyun dengan kata 'kekasihnya.'
"Maafkan saya tuan, tapi tim kami sudah berusaha keras. Tuan Donghae selalu mempersulit pekerjaan kami, ia selalu berhasil mengagalkan setiap rencana kami."
Sehun menghembuskan nafasnya kesal. "Lalu sekarang aku harus bagaimana? Donghae ahjussi selalu menolak untuk bertemu dengan ku. Jisoo dan Lisa juga selalu menghindar jika aku bertanya soal Baekhyun. Aku harus segera bertemu Baekhyun, waktuku di Korea sudah tidak lama lagi."
"Sekali lagi saya minta maaf tuan, saya janji akan segera menemukan tuan muda Baekhyun secepatnya."
"Yasudah, jika sudah ada perkembangan tolong segera hubungi aku Sungjae ya."
Sungjae mengangguk patuh. "Kalau begitu saya permisi tuan."
Ia membungkuk pelan sebelum akhirnya pergi.
Chanyeol menghela nafasnya pelan, ia kembali memfokuskan dirinya untuk memperbaiki alat pendingin ruangan milik sang atasan.
.
.
.
"Bagaimana eomma, apakah sudah enak?"
"Ini sudah jauh lebih baik, rasanya juga tidak terlalu asin."
Baekhyun menghembuskan nafasnya lega, akhirnya sup ikan buatannya selesai dan layak untuk dimakan. Ia sudah menghabiskan beberapa jam di dapur untuk membuat sup tapi selalu gagal dan gagal. Baru setelah ia mencoba yang ke 12 kali, sup buatannya baru bisa disebut layak untuk dimakan.
"Sudah, sebaiknya sekarang kau antarkan makanan ini ke tempat kerja Chanyeol."
Baekhyun mengangguk. "Baik eomma, akan segera Baekkie antarkan."
.
.
Sesampainya di tempat kerja Chanyeol, Baekhyun sedikit mengernyitkan dahinya bingung karena tidak menemukan Chanyeol dimanapun. Yang ia lihat dari tadi hanyalah para ahjussi tua yang sibuk dengan pekerjaan nya masing-masing.
"Permisi tuan." Baekhyun berjalan menghampiri seorang pria dewasa yang tengah sibuk mengecor jalanan.
"Maaf tuan, apa anda melihat Park Chanyeol?"
Pria itu tampak terdiam sejenak. "Chanyeol? Dia sudah berhenti."
"Apa?"
"Chanyeol sudah berhenti, lebih tepatnya ia dipecat karena menolak ajakan bercinta dengan atasan kami."
"A-apa?"
Pria itu tampak mengangguk pelan. "Sungguh sangat disayangkan, padahal kinerja Chanyeol itu sangat bagus. Tapi karena dia tidak ingin mengkhianati istrinya, akhirnya ia lebih memilih untuk keluar."
Baekhyun terdiam seribu bahasa, Chanyeol berhenti kerja? Kenapa ia tidak bercerita apapun kepadanya? Lalu sekarang suaminya itu ada dimana?
.
.
.
Pukul 4 sore Chanyeol baru saja selesai bekerja, ia mendapat uang bonus hari ini karena membantu Sehun memperbaiki alat pendingin ruangan miliknya.
Langkah kakinya membawanya pada sebuah toko kosmetik mewah yang letaknya tidak cukup jauh dari tempatnya bekerja.
Ia berjalan masuk dan langsung disambut dengan ramah oleh seorang pelayan wanita.
"Selamat datang tuan, ada yang bisa kami bantu?"
Chanyeol menggaruk tengkuknya kaku, ia baru pertama kali mengunjungi toko kosmetik seperti ini dan sama sekali tidak mengetahui apapun soal alat kecantikan wanita.
"Aku ingin membeli beberapa alat kecantikan wanita. Untuk istriku."
"Oh begitukah? Anda benar-benar suami yang perhatian, mari saya bantu tuan."
Chanyeol berjalan mengikuti pelayan wanita itu dan melihat-lihat seluruh isi toko. Matanya menangkap beberapa alat kecantikan yang biasa dipakai istrinya seperti bedak, lip balm, toner, vitamin rambut, eyeliner, cream wajah dan juga body lotion.
"Aku boleh melihat yang itu?"
"Tentu boleh tuan."
Chanyeol berjalan pelan kearah rak khusus vitamin rambut dan melihat label harganya.
"50.000 Won?"
Si pelayan wanita itu tersenyum cantik pada Chanyeol. "Vitamin rambut itu kami import langsung dari Belgia. Harganya memang cukup mahal, tapi sebanding dengan kualitas yang akan di dapatkan."
Chanyeol menelan ludahnya kasar, 50.000 Won itu mahal sekali. Pantas saja rambut Baekhyun sangat halus, lembut dan wangi. Ia menggunakan vitamin rambut yang memiliki kualitas tinggi.
Tangannya kemudian beralih pada rak khusus body lotion. Lagi-lagi matanya seolah hendak melompat keluar dari tempatnya begitu ia melihat label harganya.
"Body lotion kualitas nomor 1 yang di import langsung dari Jepang. Bahan-bahan yang digunakan benar-benar 100% bahan alami yang tidak akan membahayakan kulit. Body lotion ini bisa membuat kulit menjadi lebih cerah dan halus juga melindungi kulit dari pancaran radiasi sinar ultraviolet."
Ya, Chanyeol mengerti benda ini lah yang membuat kulit istrinya itu begitu cantik, putih dan mulus. Tapi Chanyeol sampai harus mengumpat berkali-kali di dalam hatinya setelah ia melihat label harganya. Body lotion macam apa yang dijual dengan harga 85.000 Won? Chanyeol rasanya ingin menenggelamkan tubuhnya ke dasar Sungai Han saja sekarang.
Ia kemudian berjalan ke rak lain untuk melihat toner, lip balm, bedak dll.
"Jadi, anda mau beli yang mana tuan?"
Chanyeol menghembuskan nafasnya lelah dan menutup kedua matanya rapat.
.
.
.
Chanyeol menelusuri jalanan ibu kota Seoul dengan menggunakan sepeda motor tua miliknya. Ia tidak jadi membeli alat kecantikan untuk Baekhyun karena harganya yang terlalu mahal. Uangnya sama sekali tidak cukup bahkan hanya untuk sekedar membeli satu buah lip balm saja. Jika ia memaksakan diri untuk membeli alat kecantikan untuk Baekhyun sekarang, sudah bisa di pastikan selama satu minggu ke depan ia tidak akan bisa membeli beras untuk makan mereka sekeluarga. Ia harus memutar otaknya berkali-kali agar bisa membeli alat kecantikan untuk Baekhyun tanpa harus mengurangi biaya dapur.
"Ya! Kau ini bagaimana? Beras-beras ini harus segera dikirim malam ini juga. Tapi kenapa sampai sekarang kau masih ada disini?
"Maaf tuan, tapi beberapa pekerja kami mengalami insiden kecelakaan yang tidak terduga. Maka dari itu beras-beras ini belum bisa kami kirim sekarang. Kami sedang kekurangan orang."
Chanyeol secara tidak sengaja melihat 2 orang pria yang seperti tengah berdebat. Jika Chanyeol tidak salah mendengar tadi, mereka sedang kekurangan orang untuk mengantar beras-beras itu. Karena merasa penasaran, ia langsung memacu kendaraannya menuju dua orang pria tersebut.
"Lalu sekarang bagaimana? Beras-beras ini harus tetap sampai tujuan tepat waktu."
"Biar saya saja tuan." ucap Chanyeol ikut menimpali.
Kedua pria itu kompak menoleh. "Siapa kau?"
"Maaf, tadi saya mendengar kalian sedang butuh orang untuk mengantar beras-beras ini?"
"Iya, kami butuh orang yang bisa mengantar beras-beras ini secepatnya. Kami sedang kekurangan orang. Kau bisa menyetir?"
Chanyeol mengangguk. "Tentu bisa tuan."
"Kau punya SIM?"
"Iya, saya punya." Chanyeol dulu pernah menjadi supir truk selama beberapa tahun sebelum menikah dengan Baekhyun.
"Baiklah kalau begitu, kau ku terima. Kau tau daerah Pyeongchangdo kan? Antarkan beras-beras ini ke sebuah pabrik beras terbesar disana. Nanti aku akan berikan alamat jelasnya."
Chanyeol mengangguk mengerti. Pyeongchangdo terletak cukup jauh dari ibukota Seoul.
"Kau tenang saja, jika barangnya sampai tepat waktu. Aku akan memberikan upah yang besar untukmu."
"Ne, saya akan bekerja keras tuan." Chanyeol mengangguk sambil tersenyum kecil, ia harus mengumpulkan banyak uang agar bisa membeli alat-alat kecantikan untuk Baekhyun.
.
.
.
Pukul 8 malam, Chanyeol berjalan pelan setelah mengembalikan mobil box berisi beras pada pria tadi. Ia sudah selesai mengantarkan beras-beras itu dengan selamat dan tepat waktu. Dan ditangannya kini, ia memegang amplop berisi uang hasil kerja kerasnya tadi. Uangnya cukup banyak dan Chanyeol pun tersenyum karenanya. Sekarang kemana lagi ya kira-kira? Ia masih harus mencari pekerjaan tambahan agar bisa mengumpulkan banyak uang secepatnya.
Ia memutuskan untuk duduk di kursi halte bus sambil membuka ponsel miliknya. Ia iseng membuka internet dengan harapan bisa menemukan lowongan pekerjaan yang mungkin saja cocok dengan dirinya.
"Dibutuhkan segera tenaga buruh lepas untuk memasang 10 baliho di wilayah selatan Gangnam."
Chanyeol membaca sebuah berita lowongan pekerjaan yang terpasang di internet itu dengan seksama, 10 baliho? Tanpa berpikir dua kali Chanyeol langsung tancap gas menuju tempat yang di maksud.
"Kau yakin bisa mengerjakannya? Hanya ada 2 orang pekerja lain disini. Baliho ini juga sangat besar dan tinggi. Kau yakin sanggup?"
Chanyeol terdiam sejenak, memasang 10 baliho super besar dan tinggi dalam waktu semalam dan hanya mengandalkan 3 orang pekerja lepas saja? Bukankah itu sedikit keterlaluan?
"Kau tidak perlu khawatir, aku akan membayar mahal jika selesai malam ini juga."
Chanyeol langsung tergiur, tanpa harus merasa ragu lagi pria bertubuh tinggi itu sontal menganggukan kepalanya semangat.
"Aku akan berusaha keras, Baliho itu akan selesai malam ini juga."
.
.
.
Pukul 2 pagi, Chanyeol dan 2 orang pekerja lain duduk di trotoar jalan sambil terengah-engah. Tubuh mereka sudah banjir oleh keringat. Baliho-baliho itu sudah terpasang dengan rapi, butuh waktu dan kerja keras ekstra memasang baliho-baliho itu karena kurangnya tenaga pekerja. Salah sedikit saja, tiang-tiang baliho itu bisa roboh dan menimpa tubuh mereka. Tapi untungnya pekerjaan mereka sudah selesai sekarang.
"Yatuhan, aku lelah sekali." ucap Chanyeol sambil mengusap keringat yang mengucur diwajahnya. Seharian ia sudah pontang-panting bekerja menjadi kuli bangunan, mengantar beras dan membantu mengangkut beras-beras itu ke dalam pabrik dan terakhir ia harus bekerja keras memasang baliho-baliho yang sangat besar ini. Rasanya tubuhnya sekarang sudah benar-benar remuk sampai ke tulang. Ia lelah dan ia sangat mengantuk.
"Permisi tuan-tuan."
Mereka bertiga langsung menoleh ketika mendengar pemilik baliho ini memanggil mereka.
"Ini uang yang sudah aku janjikan, aku sangat berterimakasih pada kalian semua."
Chanyeol mengambil amplop cokelat miliknya dan tersenyum kecil begitu melihat isinya. Ini jauh lebih banyak dari apa yang ia perkirakan.
"Terimakasih tuan." ucapnya pada si pemilik baliho.
"Aku yang seharusnya berterimakasih, berkar kalian baliho ini sudah siap selesai di pasang sebelum esok hari. Sekali lagi aku ucapkan terimakasih."
Chanyeol tersenyum lagi, uang ini cukup banyak untuk membeli sebagian alat-alat kecantikan Baekhyun. Ia bisa bekerja lagi untuk membeli sisanya.
.
.
.
Chanyeol terus tersenyum senang, rasa lelahnya dibayar sepadan dengan gaji yang besar. Ia berjalan sambil bersiul-siul kecil menuju tempat parkir.
Ngomong-ngomong sudah jam berapa ini? Baekhyun dan ibunya pasti khawatir sekali karena ia belum pulang juga kerumah. Ia sampai lupa untuk memberi kabar pada mereka.
"Hiks.. "
Chanyeol terdiam. Suara siapa itu? Kedengarannya seperti orang yang sedang menangis.
"Hiks.. "
Chanyeol semakin menajamkan indera pendengarannya ketika suara itu semakin jelas terdengar.
"Hiks.. "
Ia langkahkan kaki panjangnya menelusuri setiap sudut parkiran untuk menemukan suara itu.
"Hiks.. "
Langkahnya terhenti di samping sebuah mobil hitam kecil yang terparkir tidak begitu jauh dari motornya. Ia sedikit mengernyitkan dahinya bingung begitu mendapati sesosok perempuan berambut pendek dan memakai topi tengah berjongkok sendirian.
"Hiks.. "
Ia tampak menangis dan terus menunduk.
"Permisi, agasshi? Apa terjadi sesuatu?"
Wanita itu menoleh dan menatap Chanyeol dengan tatapan mata berair.
"Kakiku terluka, aku tidak bisa berjalan. Ini sangat menyakitkan."
Chanyeol menatap pergelangan kaki wanita itu yang memang berdarah dan terlihat bengkak. Pria tinggi itu pun lantas berjongkok dan membalikan badan tegapnya.
"Naiklah ke punggungku. Kita ke supermaket. Nanti disana akan aku belikan beberapa plester dan obat luka."
"T-tapi.. "
"Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan berbuat macam-macam."
Wanita itu tampak ragu untuk sesaat, akan tetap ia tetap menyandarkan tubuhnya pada punggung tegap Chanyeol.
Chanyeol dengan sigap menggendong tubuh wanita itu dibelakang punggungnya dan berjalan dengan perlahan menuju sebuah supermarket.
Setelah selesai membeli beberapa plester dan obat luka, Chanyeol mendudukan wanita berambut pendek itu di depan kursi supermarket. Lalu kemudian ia berjongkok dan membersihkan luka di kaki wanita itu dengan menggunakan kapas.
"Sssstt.. " wanita itu tampak meringis pelan.
"Tahan sebentar." Chanyeol menuangkan beberapa tetes obat merah lalu membalut luka itu dengan menggunakan perban dan plester cokelat.
"Sudah, untuk sementara waktu jangan banyak bergerak dulu sampai luka di kakimu sembuh."
Wanita itu tampak diam mempehatikan Chanyeol, Chanyeol yang merasa di perhatikan pun sontak menoleh dan balik menatap wanita itu.
"Wae?"
"Kau tidak tau siapa aku?"
Chanyeol menggeleng pelan. "Aniyo, aku baru bertemu denganmu hari ini."
"Kau sama sekali tidak mengenal ku? Maksudku, apa kau tidak pernah melihatku di suatu tempat?"
Chanyeol menggeleng lagi. Wanita itu tampak terdiam. 'Pria ini benar-benar unik' pikirnya dalam hati.
"Dimana rumahmu? Ayo biar aku antar pulang."
"Kau antar saja aku kembali ke mobil, aku sudah menghubungi supir pribadiku untuk menjemputku disini."
Chanyeol mengangguk mengerti. Ia langsung berjongkok dan membalikan tubuhnya, wanita itu kemudian kembali menyandarkan tubuhnya pada punggung tegap Chanyeol.
"Boleh aku tau siapa namamu?"
"Chanyeol, Park Chanyeol."
"Terimakah Chanyeol ah." ucap wanita itu sambil tersenyum lembut.
"Sama-sama, aku senang bisa membantu."
.
.
.
"Chanyeol akhirnya kau pulang juga nak. Eomma khawatir sekali."
Chanyeol melirik jam dinding yang sudah menunjukan pukul 3 pagi.
"Dimana Baekhyun eomma?"
"Dikamarnya, ia terus menangis daritadi. Ia sangat khawatir."
Chanyeol mengangguk mengerti. Ia langsung berjalan pelan menuju kamarnya dan Baekhyun.
CKLEK
"Baek?"
Baekhyun sontak menoleh dan tampak begitu terkejut melihat Chanyeol suaminya akhirnya pulang kerumah. Ia langsung berdiri dan memeluk suaminya itu erat.
"Hiks.. Chanyeol kau kemana saja? Kenapa baru pulang? Aku khawatir sekali."
Chanyeol melepas pelukan itu lembut dan mengusap airmata sang istri pelan.
"Maafkan aku karena membuatmu khawatir, aku kerja lembur hari ini."
Baekhyun sontak terdiam, ia menatap suaminya itu dengan intens. "Kau sudah berhenti dari tempat kerjamu sebelumnya kan? Tadi aku kesana dan mereka bilang kau sudah tidak bekerja lagi disana."
Chanyeol terdiam mendengarnya, sepertinya ia sudah tidak bisa menutupi semuanya lagi.
"Aku memang sudah berhenti bekerja disana Baek, maafkan aku. Tapi kau tidak perlu khawatir, aku sudah mendapatkan pekerjaan lain. Mungkin gajinya memang tidak sebesar gajiku sebelumnya, tapi aku akan berusaha untuk memenuhi segala kebutuhanmu."
Baekhyun tersenyum lembut, ia kecup bibir suaminya itu dengan tak kalah lembut. "Aku tau semuanya Chanyeol, aku tau semuanya. Kau berhenti bekerja karena menolak permintaan atasanmu untuk tidur dengannya kan? Terimakasih Chanyeol, terimakasih banyak. Terimakasih karena kau sudah menjaga kesetiaanmu padaku. a-aku hiks.. "
Baekhyun tidak mampu menahan airmatanya lagi, ia begitu terharu karena Chanyeol lebih memilih untuk mundur dari pekerjaan nya daripada ia harus mengkhianati pernikahan mereka. Baekhyun benar-benar kagum pada suaminya itu, ia tau Chanyeol masih belum memiliki perasaan lebih untuknya. Tapi meskipun begitu, Chanyeol tidak lantas memilih untuk mengkhianati pernikahan mereka. Ia benar-benar berusaha menjaga keutuhan rumah tangga mereka meskipun tanpa dilandasi perasaan cinta di dalam hatinya.
Chanyeol kembali mengusap airmata sang istri pelan. "Tidak perlu berterimakasih begitu Baek, itu memang sudah tugas dan kewajibanku."
Baekhyun mengangguk mengerti. "Kau sudah makan? Biar aku hangatkan lagi makanannya ya?"
Chanyeol menggeleng. "Aku tidak lapar, aku lelah. Lelah sekali, aku ingin membersihkan diri dan langsung pergi tidur."
"Yasudah, aku siapkan air panasnya dulu kalau begitu."
.
.
.
Setelah selesai membersihkan diri, Chanyeol langsung membaringkan tubuh lelahnya di atas kasur dengan bertelanjang dada seperti biasanya. Ia berbaring tengkurap dan Baekhyun pun dengan telaten memijat pundak sang suami.
"Sekarang kau bekerja dimana Chanyeol ah?" tanya Baekhyun yang merasa sedikit penasaran.
"Chanyeol ah?"
Baekhyun melirik suaminya itu pelan ketika lelakinya itu tidak merespon pertanyaannya sama sekali. Ia terdiam sejenak setelahnya karena Chanyeol ternyata sudah tertidur dengan lelap, terdengar suara dengkuran halus dari mulut dan hidung pria itu pertanda ia sedang sangat kelelahan.
Airmata Baekhyun keluar lagi tanpa bisa ia tahan, ia begitu terharu dengan perjuangan Chanyeol dalam mencari nafkah untuk keluarga mereka. Berangkat pagi dan pulang selarut ini. Chanyeol pasti melewati hari yang sangat berat. Baekhyun lantas menyelimuti tubuh sang suami dan mencium keningnya lembut.
"Selamat istirahat pemimpinku, semoga lelahmu hari ini menjadi berkah untuk kita semua. Terimakasih untuk segalanya. Semoga Tuhan selalu memberkatimu." ucapnya sambil mencium pipi sang suami dengan penuh perasaan.
.
.
.
.
.
.
TBC
Adakah yang nungguin ff ini? Wkwk
Gatau mau ngomong apa, silahkan kasih review aja kalo kalian berkenan. Selamat liburan dan jaga kesehatan kalian guys.
See you in the next chap ~
Bye Bye :)
