"Sebaiknya kau tidak memaksakan diri Chanyeol, tubuhmu demam dan aku takut terjadi sesuatu denganmu."
Dengan setelan kemeja putih lengan panjang yang dibalut dengan jaket kulit hangat dan celana bahan hitam panjang, Chanyeol bersiap kembali untuk mencari pekerjaan pagi ini. Ia sama sekali tidak menghiraukan tubuhnya yang menggigil dari semalam.
"Aku sudah minum obat, nanti juga sembuh."
Baekhyun hanya bisa menghela nafas mendengarnya, satu hal yang ia tahu selama menikah dengan Chanyeol adalah fakta bahwa pria yang kini berstatus sebagai suaminya itu sangat lah keras kepala.
"Yasudah jika kau memang tetap bersikeras seperti ini. Kau tunggu sebentar disini."
Baekhyun berbalik dan berjalan masuk kedalam rumah, tak sampai satu menit berlalu ia sudah kembali lagi sambil membawa syal berwarna cokelat pemberian ayahnya.
"Pakai ini. Setidaknya ini bisa sedikit membuat tubuhmu hangat." ucapnya sembari melingkarkan syal miliknya di leher sang suami.
"Aku pergi." ucap Chanyeol kemudian.
Baekhyun mengangguk pelan, ia cium tangan suaminya pelan juga mengecup bibirnya lembut.
CUP
"Hati-hati Yeol, segera hubungi aku jika terjadi sesuatu."
Chanyeol mengangguk, ia memakai helmya pelan dan langsung melaju dengan motor jadul kesayangannya.
BRUUMM
Baekhyun memandang kepergian suaminya itu dengan perasaan khawatir, Chanyeol demam sejak semalam. Dan Baekhyun takut terjadi sesuatu pada suaminya itu.
"Baek.."
Heechul berjalan pelan menghampiri menantunya.
"Eomma mau kemana?" Baekhyun terlihat bingung melihat ibu mertuanya yang sudah berpakaian rapi pagi-pagi begini.
"Eomma mau pergi kerumah pamannya Chanyeol untuk meminjam uang, eomma sengaja tidak memberitahu Chanyeol karena dia pasti akan marah."
"Kalau begitu Baekkie ikut ya?"
"Tidak usah Baek, kau jaga rumah saja."
Baekhyun terdiam sebentar, lalu kemudian ia mengangguk. "Baiklah, kalau begitu."
"Eomma pergi ya, kau hati-hati dirumah."
Baekhyun mencium tangan ibu mertuanya dan menatap kepergian wanita setengah baya itu dalam diam.
"Hati-hati eomma."
.
.
.
Setelah selesai membereskan rumah, Baekhyun duduk sendirian diruang tamu sambil bermain game di ponselnya.
'GAME OVER'
Ia mendengus kesal ketika tulisan besar itu muncul lagi di layar ponselnya. Ia sama sekali tidak bisa fokus, suami dan ibu mertuanya sedang berjuang mencari uang untuk melunasi hutang mereka sedangkan ia hanya berdiam diri saja dirumah. Baekhyun jadi merasa tidak enak, ia harus melakukan sesuatu untuk setidaknya membantu meringankan beban mereka berdua.
TOK TOK TOK TOK
Baekhyun menoleh ketika mendengar suara ketukan dari luar pintu rumah.
"Sebentar." ucapnya sambil berjalan pelan untuk membuka pintu.
CKLEK
"Irene ssi?" ucap Baekhyun yang terlihat begitu terkejut.
"Baekhyun ssi?" Irene juga sama terkejutnya dengan Baekhyun.
.
.
.
Mereka berdua duduk berhadapan diruang tamu, Baekhyun sudah menyiapkan secangkir teh manis hangat untuk Irene dan beberapa camilan ringan.
"Ibuku baru saja berkunjung kerumah, ia membawa kue buah dari kampung. Aku sengaja datang kemari membawakan beberapa bungkus untuk kalian."
Baekhyun tersenyum kecil. Ia menerima bungkusan kue itu dari tangan Irene. "Terimakasih banyak Irene ssi, kau tidak perlu repot-repot seperti ini."
"Tidak apa-apa Baekhyun ssi, Heechul ahjumma dan Chanyeol sudah banyak membantuku selama ini. Kue-kue ini tidak sebanding dengan kebaikan yang sudah mereka berikan untuk ku."
Baekhyun tersenyum lagi.
"Bisakah kita tidak berbicara secara formal? Aku pikir kita bisa menjadi teman dekat."
Baekhyun sedikit terkejut mendengarnya. "T-tentu saja Irene ssi, ah maksudku Irene ah."
Irene tersenyum lembut. "Ngomong-ngomong, kemana Chanyeol dan Heechul ahjumma? Rumah serasa sepi sekali."
"Chanyeol sedang mencari pekerjaan, dan Heechul eomma pergi kerumah saudaranya."
Irene mengangguk mengerti. "Ah, luka di dahi Chanyeol sudah sembuh kan? Semalam Chanyeol sempat mengalami kecelakaan."
"Darimana kau tau jika suamiku kecelakaan?" tanyanya heran.
"Semalam aku tidak sengaja melihat Chanyeol terjatuh dari motor, aku membawanya kerumah dan mengobati lukanya setelah ity."
Jadi luka di dahi Chanyeol itu karena kecelakaan? Kenapa Chanyeol tidak bercerita padanya? Ia juga tidak memberitahu jika ia bertemu dengan Irene.
"Irene ah, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?"
"Apa itu?"
"Bagaimana perasaanmu pada Chanyeol sekarang, kalian.. Pernah berpacaran kan?" tanya Baekhyun yang terdengar begitu hati-hati.
Irene terdiam untuk beberapa saat, ia lantas langsung tersenyum setelahnya. "Aku seperti mendapat pertanyaan dari seorang istri yang tengah dilanda perasaan cemburu."
Baekhyun sontak saja langsung tergagap. "T-tidak, b-bukan begitu. Aku tidak cemburu sama sekali."
"Jika kau cemburu pun tidak apa-apa Baekhyun ah, kau kan istrinya." ucap Irene sambil tersenyum.
Baekhyun langsung terdiam, entah kenapa ia jadi malu sendiri sekarang.
"Kau tidak perlu khawatir Baek, aku dan Chanyeol sudah tidak memiliki hubungan apapun. Aku juga sudah tidak memiliki perasaan apapun padanya."
"B-benarkah?"
Irene mengangguk. "Perasaan itu sudah lama hilang semenjak hubungan kami berakhir."
Baekhyun tersenyum kecil, ada perasaan yang meletup-letup kecil di dalam dadanya begitu mendengar penuturan Irene.
"Tapi aku lihat kau masih sering bersikap baik dan perhatian pada Chanyeol, aku kira kau masih menyukai suamiku."
Irene tertawa mendengarnya. "Tentu tidak Baek, aku bersikap baik karena aku punya banyak hutang budi pada suamimu. Kita tidak berjodoh bukan berarti hubungan kami juga harus merenggang kan? Lagipula putraku Kookie sangat menyanyangi Chanyeol. Mana mungkin aku bersikap acuh pada Chanyeol."
Baekhyun menghembuskan nafasnya lega, entah kenapa ia seolah mendapatkan angin segar.
"Kau harus percaya pada Chanyeol Baekhyun ah, dia itu tipikal pria yang sangat setia. Aku berani jamin dia tidak akan mengkhianatimu sekalipun ada banyak wanita yang bertelanjang dada dihadapan matanya."
"Kau terlalu berlebihan Irene ah."
"Aku serius, aku sudah mengenal Chanyeol cukup lama dan aku tau dia itu adalah seorang pria dewasa yang punya komitmen yang kuat. Ketika ia memutuskan untuk menikah denganmu, itu artinya dia akan benar-benar menjaga mata dan hatinya hanya untukmu seorang. Ketika ia memilihmu untuk menjadi istrinya, itu artinya dia akan berusaha menjadikanmu sebagai pasangan terakhir sampai akhir hidupnya. Kau bisa pegang kata-kataku ini Baekhyun ah. Aku jamin itu."
Baekhyun terdiam, entah kenapa ia begitu bahagia mendengar penuturan Irene. Baekhyun tidak tau apakah itu benar atau tidak, tapi melihat bagaimana Chanyeol yang begitu berusaha menjaga ikatan suci pernikahan mereka, sepertinya apa yang diucapkan Irene itu benar adanya. Membayangkan menjadi pasangan Chanyeol sampai tua, menghabiskan waktu bersama hingga akhir hayat rasanya benar-benar menyenangkan. Wajahnya bahkan tanpa sadar sudah merona merah seperti tomat rebus.
Irene tertawa kecil melihatnya, sungguh Baekhyun benar-benar sangat lucu. Ia terlihat begitu menggemaskan tanpa terkesan dibuat-buat. Ia lantas menggenggam kedua tangan Baekhyun dengan erat.
"Aku berharap kau bisa membahagiakan Chanyeol Baekhyun ah, dia pria yang sangat baik. Jangan sia-siakan semua pengorbanan yang sudah ia lakukan untukmu. Aku tidak berhasil membahagiakannya dan aku sangat menyesali itu, tapi sekarang sudah ada kau. Aku yakin kau bisa membahagiakan Chanyeol, dan aku yakin kau tidak akan mengecewakannya. Kau harus tau Baek, aku selalu berdo'a untuk kebahagiaan kalian berdua."
Baekhyun meneteskan airmatanya pelan, sungguh ia merasa begitu bersalah pada wanita dihadapannya ini. Tadinya ia pikir Irene masih memiliki perasaan lebih pada suaminya dan berniat untuk merebutnya kembali. Tapi ternyata ia salah, ia salah besar. Wanita ini bahkan begitu mendukung hubungan mereka, meskipun Chanyeol dan Baekhyun belum resmi memiliki perasaan cinta diantara mereka. Tapi setidaknya Baekhyun merasa senang karena ternyata banyak yang mendukung hubungan mereka, Baekhyun merasa ia tidak salah sekarang. Ia merasa keputusannya untuk menjadi istri seorang Park Chanyeol adalah benar. Meskipun awalnya ia tidak menyetujui pernikahan ini. Pria kecil itu lantas memeluk tubuh Irene dengan erat. Ia ucapkan rasa terimakasihnya dengan tulus pada wanita yang dulu pernah mengisi hari-hari suaminya itu.
.
.
.
"Kau masih bekerja di cafe itu Irene ah?"
Irene mengangguk. "Iya masih, tapi setelah aku punya uang yang cukup, aku akan segera berhenti dan memulai bisnis baru. Aku sudah lelah bekerja sebagai wanita malam di cafe itu. Aku tidak ingin terus-terusan membiayai hidup Kookie dengan uang yang haram."
Baekhyun mengangguk membenarkan. "Apakah aku bisa melamar pekerjaan di cafe tempatmu bekerja?"
Irene sontak saja terkejut mendengarnya. "Kau ingin bekerja di cafe? Tapi kenapa Baek?"
"Aku ingin membantu eomma dan Chanyeol membayar hutang pada seorang rentenir."
Irene terdiam sejenak. "Aku sangat tidak menganjurkanmu untuk bekerja disana. Disana banyak pria-pria hidung belang, itu sangat berbahaya untukmu Baekhyun ah."
"Kau tenang saja Irene ah, aku pasti akan menjaga diri. Aku tidak akan menjual diriku, aku hanya ingin bernyanyi disana, jadi pelayan pun aku tidak masalah. Aku hanya ingin membantu ibu dan suamiku. Aku tidak bisa hanya berdiam diri saja sementara mereka berjuang agar bisa membayar hutang mereka."
"Baiklah, tapi apa kau sudah meminta izin pada Chanyeol?"
Baekhyun menggeleng. "Chanyeol pasti tidak akan mengizinkanku jika ia tau aku ingin bekerja."
"Tapi biar bagaimana pun kau harus meminta izin dulu pada Chanyeol, dia suamimu Baek."
"Aku akan bicara padanya nanti setelah aku diterima bekerja. Aku mohon Irene ah, bantu aku untuk bekerja disana. Aku tidak punya keahlian apapun lagi selain bernyanyi."
Irene menghela nafas. "Baiklah, aku akan membantumu. Tapi aku tidak akan ikut campur jika Chanyeol sampai marah."
Baekhyun mengangguk cepat. "Ne, terimakasih Irene ah."
.
.
.
"Jadi saya diterima?"
"Ne, anda diterima. Mulai besok anda bisa langsung bekerja."
Chanyeol menutup matanya pelan sambil mengucapkan syukur berkali-kali di dalam hatinya. Setelah melewati beberapa tahap seleksi ia akhirnya diterima sebagai petugas keamanan di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang otomotif. Dengan postur tubuh tinggi dan berat badan proporsional ditambah dengan kemampuan beladirinya yang sudah sangat ahli. Chanyeol bisa dengan mudah diterima bekerja disini.
"Terimakasih tuan, besok saya akan datang lagi pagi-pagi sekali." ucapnya sambil membungkuk hormat pada staff perusahaan yang sudah menerimanya.
"Ne, sama-sama. Kami akan menunggu."
Chanyeol tersenyum sopan, ia lantas langsung berbalik pergi meninggalkan ruangan.
Chanyeol melirik jam yang melingkar ditangannya. Masih jam 9 pagi dan rasanya ini masih terlalu pagi untuk kembali kerumah. Sebaiknya ia pergi ke pasar dulu, siapa tau saja ada orang yang menbutuhkan jasa kuli angkut beras.
Chanyeol sudah bersiap dengan motornya, ia memakai helmnya pelan dan hendak menstarter motornya.
"Chanyeol ssi.. "
Chanyeol menoleh kesamping dan terkejut melihat Soojung berjalan cepat kearahnya.
"Astaga, benar kau Chanyeol oppa. Aku tidak menyangka kita akan bertemu disini."
Chanyeol berdehem pelan. "Annyeong Soojung ssi, kenapa kau bisa ada disini?"
"Ini kan perusahaan milik pamanku, aku datang kesini untuk berkunjung."
Chanyeol langsung terdiam, ia tak menyangka jika pemilik perusahaan ini adalah paman dari wanita ini.
"Apa yang sedang kau lakukan disini oppa?"
"Bisakah kau tidak memanggilku dengan sebutan oppa? Kita tidak terlalu dekat Soojung ssi."
"Tapi aku ingin kita dekat oppa, aku ingin memanggilmu dengan sebutan oppa."
Chanyeol menghela nafasnya pelan. "Baiklah terserah kau saja, aku disini untuk melamar pekerjaan. Besok aku sudah mulai bekerja sebagai petugas keamanan."
"Benarkah? Kalau begitu aku harus sering-sering datang kemari mulai sekarang." ucap wanita itu sambil tersenyum senang.
"Terserah, aku harus pergi sekarang."
"Eh, kenapa buru-buru sekali oppa?"
"Aku ada urusan, sampai jumpa lagi Soojung ssi."
Chanyeol langsung berbalik dan melajukan motornya dengan cepat.
BRUUUMM
Soojung tersenyum senang sambil menatap tubuh pria tinggi itu yang semakin menjauh pergi.
.
.
.
Pukul 8 malam tepat, Chanyeol pulang kerumah. Baekhyun langsung menyambutnya di depan rumah. Ia cium tangan suaminya itu pelan dan melepas sepatunya juga. Chanyeol hanya diam sambil memperhatikan istrinya itu. Setelahnya Baekhyun langsung menarik lembut tangan suaminya untuk duduk diruang tamu, dengan perlahan Baekhyun memasukan kaki suaminya kedalam baskom berisikan air hangat yang sudah ia siapkan dan membasuhnya dengan pelan. Setelah selesai, Baekhyun langsung mengeringkan kaki suaminya itu dengan handuk kecil.
"Terimakasih."
Baekhyun mengangguk pelan, ia mengambil secangkir teh hangat yang sebelumnya sudah ia simpan diatas meja. Ia memberikan minuman itu yang langsung diterima oleh Chanyeol.
Baekhyun menyentuh kening suaminya dengan pelan. "Demammu sudah turun Chanyeol. Syukurlah. Kau mau langsung mandi?"
Chanyeol mengangguk.
"Yasudah, biar aku siapkan air panasnya ya?"
Chanyeol menggeggam tangan istrinya itu ketika Baekhyun hendak berbalik. Ia merogoh sesuatu dari dalam saku celananya.
"Apa ini Chanyeol? Kau sudah bekerja?" tanya Baekhyun sambil menerima amplop cokelat berisi uang dari tangan suaminya.
"Tadi aku bekerja sebagai kuli angkut beras di pasar, aku juga tadi bekerja part time di bengkel temanku. Banyak sekali kendaraan yang aku perbaiki dan aku diberi bonus yang cukup banyak. Pakai uang ini untuk keperluan sehari-hari ya?"
Baekhyun mengangguk sambil tersenyum lembut. "Terimakasih Chanyeol ah. Bukankah tadi kau pergi untuk melamar kerja?"
"Iya tadi aku pergi untuk mencari pekerjaan. Sekarang aku sudah diterima sebagai seorang satpam di sebuah perusahaan otomotif besar, aku dibayar 10.000 ribu Won per jam dan itu belum termasuk gaji bulanan."
"Benarkah? Syukurlah Chanyeol, aku ikut senang."
Chanyeol mengangguk. "Kalau begitu aku mau mandi dulu, tubuhku lengket sekali, perutku juga sudah sangat lapar."
"Aku akan siapkan air hangat untukmu, nanti setelah kau mandi, aku juga akan siapkan makanannya."
.
.
.
Baekhyun mengintip dibalik celah pintu kamarnya. Setelah selesai makan malam, Chanyeol dan Heechul duduk berdua diruang tengah sedangkan ia lebih memilih untuk masuk kedalam kamar.
"Jadi tadi eomma pergi kerumah paman?"
Heechul mengangguk pelan. "Iya, tapi sayangnya mereka tidak meminjamkan eomma uang. Eomma malah dimaki-maki disana."
Chanyeol tampak menggeram kesal. "Kenapa eomma pergi kesana? Kita tidak perlu bantuan mereka, kita bukan pengemis."
"Eomma tidak tau harus meminta tolong pada siapa lagi Chanyeol ah, eomma tidak mau jika sampai rumah ini disita. Rumah ini adalah satu-satunya peninggalan mendiang ayahmu."
Chanyeol menghela nafasnya pelan, ia sandarkan tubuh lelahnya pada sandaran kursi. "Besok aku akan coba pinjam uang ke bank, siapa tau saja aku bisa dapat pinjaman."
"Kita tidak punya apapun untuk dijadikan jaminan Chanyeol ah."
"Motorku bisa aku jadikan sebagai jaminan."
"Eomma tidak yakin motor jadul seperti itu akan diterima oleh pihak bank."
"Kita tidak akan tau jika belum dicoba."
Baekhyun termenung di dalam kamarnya, ia benar-benar tidak tega melihat mereka berdua.
.
.
.
'Aku sudah menunggumu di depan gang Baek.'
Baekhyun membaca pesan singkat dari Irene di ponselnya dalam diam, jam sudah menunjukan pukul 9 malam dan ia harus segera pergi. Tapi bagaimana caranya ia meminta izin pada Chanyeol?
"Baekhyun."
"Astaga.. " Baekhyun terlonjak kaget ketika Chanyeol tiba-tiba saja memanggil namanya.
"Chanyeol, sejak kapan kau disini?"
"Baru saja, kau tidak mendengar suara pintu yang terbuka?"
Baekhyun menggeleng, ia terlalu fokus pada ponselnya hingga tidak menyadari Chanyeol yang masuk kedalam kamarnya.
"Kenapa, kau sedang memikirkan sesuatu?"
Baekhyun menggeleng cepat. "T-tidak, aku tidak sedang memikirkan apapun."
Chanyeol sedikit mengernyitkan alisnya bingung melihat tingkah gagap Baekhyun.
"Sebaiknya sekarang kita tidur, besok aku harus berangkat kerja pagi-pagi sekali."
Chanyeol menarik tangan istrinya itu pelan untuk berbaring di atas ranjang.
"C-Chanyeol.."
"Wae?"
"A-aunty Jessi sedang sakit, a-aku ingin menjenguknya sekarang."
"Malam-malam begini?"
"I-iya, aku khawatir sekali."
"Yasudah, ayo biar aku antar."
"T-tidak perlu Chanyeol, S-sungmin hyung sudah menunggu di depan gang."
"Kalau begitu aku ikut, aku juga harus menjenguk Aunty Jessi."
"Kau sebaiknya istirahat saja Chanyeol. Besok kau harus kerja pagi kan?"
Chanyeol terdiam, benar juga. Besok ia harus berangkat kerja pagi-pagi sekali.
"Yasudah, hati-hati di jalan Baekhyun ah. Jika ada apa-apa segera hubungi aku."
Baekhyun mengangguk antusias. "Ne, kalau begitu aku ganti baju dulu."
.
.
.
"Irene ah."
Baekhyun berlari kecil menghampiri Irene yang sudah menunggunya dari tadi.
"Akhirnya kau datang juga, aku pikir kau tidak akan datang."
"Aku minta maaf, tadi aku harus mencari alasan dulu agar Chanyeol mau mengizinkanku pergi."
"Yasudah, kalau begitu ayo cepat kita pergi. Aku sudah menyiapkan kostum untuk mu nanti." ucap Irene sambil menunjukan sebuah jas hitam dan kemeja baby blue yang sudah dilipat rapi di dalam tasnya.
"Terimakasih Irene ah, ayo kita pergi."
.
.
.
"Dia ingin ikut bernyanyi di cafe ini, aku harap kau mau memberinya izin."
Baekhyun terdiam mematung ditempatnya berdiri sekarang, ia tidak menyangka jika cafe tempat Irene bekerja ini adalah milik Suho.
Suho yang tengah duduk dikursi kebesarannya pun memandang Baekhyun dengan tatapan penuh selidik.
"Kau yakin ingin bekerja disini?"
Baekhyun mengangguk ragu. "I-iya, aku ingin bekerja."
Suho tersenyum. "Baiklah, kau kuterima. Kau bisa langsung bekerja hari ini juga."
Baekhyun sangat terkejut, Suho bahkan belum mendengarnya bernyanyi tapi ia sudah diterima?
"Ia hanya bernyanyi disini, dia tidak menjual tubuhnya."
Suho menatap Irene sekilas. "Aku tahu itu, aku tidak akan memaksanya menjual diri jika memang ia tidak mau."
Baekhyun sedikit menghembuskan nafasnya lega.
"Sekarang sebaiknya kau segera naik keatas panggung, pengunjung cafe ku sangat membutuhkan hiburan."
Irene menatap Baekhyun sambil tersenyum lembut. "Semangat Baekhyun ah."
Baekhyun balas tersenyum kecil. "Ne, terimakasih Irene ah."
Baekhyun langsung berjalan pelan keluar ruangan dan naik keatas panggung, ia berbisik sebentar kepada para pengiring musik dan kembali tersenyum menghadap kearah penonton. Cafe terlihat cukup ramai malam ini, dan jujur saja Baekhyun agak sedikit gugup. Ia menghela nafasnya pelan dan kemudian mengambil sebuah mikrofon.
"Selamat malam semua, nama saya Baekhyun dan saya penyanyi baru di cafe ini. Saya harap penampilan saya malam ini dapat menjadi penghibur bagi kalian semua."
Seluruh penonton tampak berteriak riuh setelahnya, khususnya para pengunjung laki-laki. Mereka begitu merasa terhibur dengan kecantikan paras Baekhyun dan juga pembawaannya yang imut.
"Baiklah, kalau begitu kita mulai untuk lagu pertama malam ini."
.
.
.
Chanyeol duduk diatas ranjang kasurnya dalam diam, ia merasa sedikit aneh dengan sikap mencurigakan Baekhyun tadi. Ia seperti tengah menyembunyikan sesuatu darinya.
Karena merasa penasaran, Chanyeol pun lantas mengambil ponselnya dan mendial nomor seseorang.
Terdengar suara nada sambung selama beberapa saat.
'Yoboseyo.. '
"Ne, yoboseyo Aunty Jess, ini aku Chanyeol."
'Ah iya Chanyeol, ada apa menghubungiku malam-malam begini?'
"Aku hanya ingin bertanya, apakah Baekhyun sudah sampai dirumah?"
'Baekhyun? Memangnya dia akan datang kesini?'
"Tadi Baekhyun minta izin padaku untuk menjenguk aunty, Baekhyun bilang aunty mengalami kecelakaan."
'Apa? kau bercanda? Aku baik-baik saja Chanyeol, aku tidak mengalami kecelakaan sedikit pun.'
"Benarkah? Tapi tadi Baekhyun bilang Sungmin hyung datang kemari untuk menjemput Baekhyun."
'Sungmin sedang tidak ada di Korea, ia sedang liburan bersama keluarganya di Italia.'
Chanyeol sontak terdiam, kenapa Baekhyun berbohong padanya?
"Baiklah kalau begitu, terimakasih atas waktunya. Maaf karena sudah mengganggu."
TIIT
Chanyeol memutuskan panggilan secara sepihak, ia menghembuskan nafasnya kasar. Ia marah, dan ia tidak suka di bohongi. Ia langsung memakai bajunya cepat dan berjalan keluar kamar sambil membawa kunci motor dan jaket lusuhnya.
"Chanyeol kau mau kemana?" tanya Heechul yang tak sengaja melihat Chanyeol berjalan keluar.
"Aku mau mencari Baekhyun."
"Memangnya Baekhyun kemana?"
"Aku juga tidak tau, tadi dia minta izin padaku untuk pergi menjenguk bibinya, tapi ternyata ia berbohong padaku."
"Apa?" Heechul tampak begitu terkejut, tidak biasanya Baekhyun bersikap seperti ini.
.
.
.
Baekhyun berjalan pelan menuju ruangan Suho, ia bersyukur karena para pengunjung sepertinya sangat menikmati penampilannya tadi.
"Aaahhh.. Haahhh.. "
DEG
Baekhyun langsung mematung detik itu juga. Suara apa itu?
"Aaahhh.. Ouhh.. Ahhh.. "
Pria kecil itu menutup mulutnya shock ketika ia sampai di depan pintu ruangan Suho, pintu ruangan bosnya sedikit terbuka dan ia bisa melihat sekilas jika bosnya itu tengah bersetubuh dengan Irene.
"Apa Irene juga disewa untuk memuaskan hasrat lelaki itu?" gumamnya seorang diri.
"Baekhyun ssi."
Baekhyun menoleh ketika suara seseorang memanggil namanya.
"Sekarang waktunya untuk perform kedua, ayo cepat ganti pakaianmu sekarang juga."
Baekhyun menerima kostum yang diberikan oleh manager cafe kepadanya.
"Aku harus menggunakan ini? Tapi pakaian ini terlalu terbuka."
"Kau harus memakainya, ini sudah peraturan cafe."
Baekhyun memandang kostum itu dengan pandangan takut, ia kemudian meneguk ludahnya gugup.
.
.
.
Chanyeol berhenti sejenak disebuah warung pinggir jalan untuk membeli sebotol air mineral. Ia sungguh tidak tau harus mencari Baekhyun kemana, ia tidak mungkin pergi kerumah aboejinya. Ia takut membuat pria setengah baya itu khawatir.
"Chanyeol ah.. "
Chanyeol menoleh dan melihat salah satu temannya Bang Yongguk datang menghampirinya bersama kekasihnya.
"Ah Yongguk ah."
"Apa yang sedang kau lakukan disini Chanyeol ah?"
"Aku sedang mencari Baekhyun, ia pergi dari rumah."
"Baekhyun? Tadi aku sempat melihatnya di cafe Suho, ia menjadi penyanyi disana. Suaranya benar-benar menakjubkan Chanyeol ah."
"Cafe? Kau tidak salah lihat kan?"
"Tidak, aku tidak salah lihat. Yang tadi itu Baekhyun kan sayang?" tanya Yongguk pada kekasihnya Eunha.
"Iya, yang tadi itu Baekhyun. Aku tidak mungkin salah lihat."
Chanyeol terdiam, untuk apa Baekhyun bernyanyi di cafe pria bajingan itu?
"Terimakasih atas informasinya Yongguk ah, Eunha ssi."
.
.
.
Chanyeol berjalan pelan memasuki cafe yang terlihat sangat ramai. Banyak penonton yang berdiri di depan panggung. Chanyeol lantas langsung menorobos sampai barisan yang paling depan.
Matanya membulat sempurna dan rahangnya secara otomatis langsung mengeras detik itu juga. Chanyeol mengepalkan tangannya dengan erat melihat pemandangan erotis yang tersuguhkan diatas panggung.
"Neoneun jyeotgo, naneun pyeosseo.
And it's over.
Dashi doraonda haedo.
Jigeum dangjangeun na eopshi.
Maeil jal sal su isseul geot gatji.
Amman saenggakhaebwado.
Michin geo anya neon.
Wae yeppeun nal dugo gashina.
Nal dugo tteona gashina.
Geuri shwipge tteona gashina.
Gati gajago yaksokhaenogo.
Gashina gashina."
Suara tepukan dan teriakan gemuruh terdengar begitu nyaring di dalam cafe ini. Seluruh pengunjung tampak begitu terhibur dengan penampilan Baekhyun terkecuali Chanyeol. Pria itu justru semakin mengepalkan tangannya erat menahan emosi yang hampir meledak di dalam hatinya.
Dengan hanya menggunakan kemeja tipis kebesaran berwarna putih tanpa bawahan sama sekali, Baekhyun menari dan bernyanyi lagu Gashina dengan begitu energik. Tubuhnya yang berkeringat membuat kemeja yang ia gunakan basah dan membuat tubuhnya terlihat samar. Paha mulusnya bahkan terekspose dengan jelas dan itu tentu saja membuat darah Chanyeol seolah mendidih. Tubuhnya seolah hampir terbakar ketika melihat banyak pria hidung belang yang melempar uang kertas pada istrinya itu.
"PARK BAEKHYUN."
Seluruh atensi pengunjung cafe langsung teralih pada Chanyeol ketika mendengar pria tinggi itu berteriak dengan sangat lantang.
Baekhyun yang berdiri diatas panggung pun langsung mematung begitu melihat suaminya berdiri di barisan paling depan dengan ekspresi wajah yang amat sangat mengerikan.
.
.
.
"DIMANA HARGA DIRIMU PARK BAEKHYUN!"
PRAANG
Chanyeol menendang meja diruang tengah rumahnya hingga hancur berkeping-keping saking marahnya ia terhadap kelakuan sang istri.
Baekhyun hanya mampu menangis pilu, ia menyembunyikan wajahnya di dalam pelukan sang ibu mertua.
"Chanyeol sudah jangan marah lagi, Baekhyun sudah sangat ketakutan."
"Jangan coba-coba membelanya eomma, dia jelas-jelas salah!"
"A-aku minta maaf Chanyeol hiks, aku minta maaf. Aku hanya ingin membantu kalian membayar hutang."
"TAPI TIDAK DENGAN CARA KAU MENJUAL TUBUHMU SEPERTI TADI BAEKHYUN AH."
"Aku tidak menjual tubuhku Chanyeol, aku hanya bernyanyi disana."
"KAU MEMPERLIHATKAN TUBUHMU PADA LAKI-LAKI LAIN ITU SAMA ARTINYA DENGAN KAU MENJUAL TUBUHMU SENDIRI!"
Baekhyun dan Heechul sampai tersentak kaget mendengar teriakan Chanyeol yang sangat menggelegar. Tubuh Baekhyun bahkan sampai bergetar hebat karenanya, ia paling tidak bisa di bentak. Ia benar-benar takut sekarang.
"Aku kecewa padamu, kau sudah menodai kepercayaan yang aku berikan untukmu."
Chanyeol menatap istrinya itu untuk waktu yang cukup lama. Setelah itu ia langsung pergi dan mengunci diri di dalam kamar.
BRAAAKK
Baekhyun menangis, ia menangis dengan sangat kencang. Ia benar-benar shock setelah dimarahi oleh suaminya. Ini pertama kalinya ia melihat Chanyeol semarah itu dan Baekhyun benar-benar takut. Ia sangat amat takut.
Heechul memeluk menantunya itu dengan erat, ia juga ikut meneteskan airmatanya merasa tak tega melihat Baekhyun yang dimarahi oleh suaminya. Ini pertama kalinya bagi Heechul melihat putranya semengerikan tadi. Chanyeol sepertinya benar-benar marah ketika melihat Baekhyun bernyanyi di cafenya Suho.
"Hiks Baekkie takut eomma."
Heechul hanya bisa memeluk menantunya itu dengan erat. Berharap pelukannya itu bisa membuat Baekhyun tenang.
.
.
.
Pagi ini Baekhyun menangis sendirian di dalam kamar sambil memeluk bantal milik Chanyeol. Ia sengaja bangun pagi-pagi sekali bermaksud membuatkan sarapan pagi untuk suaminya itu. Tapi sayangnya Baekhyun harus menelan pil pahit pagi ini, Chanyeol ternyata sudah berangkat kerja dari subuh. Alhasil, ia hanya bisa menangis sendirian sambil memeluk bantal suaminya itu.
CKLEK
"Baekhyun ah." Heechul berjalan pelan sambil membawa sarapan dan segelas susu putih.
Ia duduk disamping ranjang sang menantu. "Kau harus makan Baek, kau belum sarapan daritadi."
"Hiks maafkan Baekkie eomma, Baekkie memang salah."
Heechul menatap menantunya itu dengan tatapan prihatin. Ia lantas menggenggam tangan lentik itu dengan pelan.
"Dengar sayang, eomma sangat berterimakasih karena kau mau membantu kami melunasi hutang pada tuan Kangin. Tapi tetap saja caramu itu salah, Chanyeol marah itu wajar, laki-laki mana yang tidak akan marah jika melihat istrinya berpakaian terbuka di depan laki-laki lain? Apalagi kau sudah berbohong pada Chanyeol. Eomma sangat mengerti kenapa Chanyeol bisa sampai semarah itu, kau harus bisa memakluminya."
Baekhyun menundukan kepalanya dalam. "Maafkan Baekkie eomma."
"Jangan minta maaf pada eomma sayang, tapi minta maaf lah pada suamimu. Jadikan kejadian ini sebagai pelajaran agar tidak kau ulangi lagi untuk kedepannya. Ada satu hal yang harus selalu kau ingat Baek, jangan melakukan sesuatu hal apapun tanpa sepengetahuan suamimu. Jika kau hendak pergi keluar rumah, usahakan untuk selalu minta izin pada Chanyeol. Turuti apa kata suamimu dan jangan pernah membantah ucapannya. jangan sampai kau menyalahi kodratmu sebagai seorang istri. Dan juga tubuhmu, jangan sampai tubuh indahmu ini menjadi tontonan bagi pria lain. Hanya Chanyeol yang boleh melihatnya dan kau hanya boleh menyerahkan tubuhmu pada suamimu. Kau mengerti?"
Baekhyun mengangguk, ia memeluk ibu mertuanya itu pelan dan kembali menangis.
"Dan untuk masalah hutang kau tidak perlu khawatir Baek, kau tidak perlu ikut bekerja untuk melunasi semuanya. Chanyeol akan menyelesaikan semuanya. Tugas utama seorang istri itu di dapur dan di atas ranjang. Biarkan suamimu yang bekerja karena itu memang sudah menjadi tugas dan kewajibannya. Kau mengerti sayang?"
Baekhyun mengangguk lagi. "Baekkie mengerti eomma."
"Yasudah, sekarang kau makan ya. eomma suapi. Nanti biar eomma bicara pada Chanyeol untuk segera memaafkanmu."
.
.
.
Nyatanya tidak semudah apa yang Baekhyun kira, ini bahkan sudah 2 minggu berlalu tapi Chanyeol masih terus mendiamkannya. Ia selalu berangkat subuh dan pulang ketika Baekhyun sudah tertidur, pria itu juga selalu tidur di sofa dan tidak pernah berbicara sepatah katapun dengannya. Chanyeol seolah tidak pernah menganggap Baekhyun ada selama 2 minggu belakangan ini. Pria itu benar-benar sangat marah. Baekhyun hanya bisa menangis dan menangis saja setiap harinya. Ia benar-benar tidak tahan jika suaminya bersikap acuh kepadanya. Sudah beberapa hari ini juga Baekhyun merasa tidak enak badan, ia sering merasa lemas dan mual secara tiba-tiba. Keadaan ini jelas saja membuat kondisinya semakin memburuk. Tapi Baekhyun tidak ingin terlalu memikirkan soal itu, yang ada dipikirannya sekarang hanyalah bagaimana caranya ia bisa mendapatkan maaf dari Chanyeol.
Hari ini hari minggu dan Baekhyun bertekad untuk menyelesaikan masalahnya dengan Chanyeol hari ini juga. Ia melihat Chanyeol berjalan kedalam kamar, sepertinya hendak ganti baju. Baekhyun pun lantas langsung berjalan cepat dan masuk kedalam kamar.
BRAKK
Chanyeol terlonjak kaget mendengar suara pintu yang dibanting dengan keras. Ia baru saja melepas bajunya dan hendak mengambil pakaian dari dalam lemari.
"Apa yang kau lakukan Baek, buka pintunya."
Baekhyun menggeleng cepat, ia malah mengunci pintunya dari dalam.
"Kita harus bicara."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan, minggir." ucap Chanyeol sambil berjalan pelan hendak keluar dari kamar.
Melihat suaminya yang hendak pergi, Baekhyun pun refleks memeluk tubuh tinggi suaminya agar pria itu tidak bisa kemana-kemana.
"Apa yang kau lakukan?"
"Aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau mau mendengar penjelasanku."
"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi, lepaskan aku sekarang juga."
"Tidak." Baekhyun semakin mempererat pelukannya dan menangis di dada bidang sang suami.
Chanyeol akhirnya terdiam, is biarkan istrinya itu menangis sampai beberapa menit dan membuat dadanya benar-benar basah.
"Hiks aku minta maaf Yeol, aku tau aku salah. Aku tau aku tak seharusnya membohongimu. Aku melakukan itu karena aku ingin menolongmu, aku tidak punya maksud lain apalagi sampai menjual tubuhku pada orang lain hiks. Aku janji aku tidak akan mengulanginya lagi Chanyeol, aku janji. Jangan kau diamkan aku terus seperti ini terus Chanyeol ah. Aku mohon hiks."
Chanyeol menghela nafasnya panjang. Baekhyun sepertinya benar-benar menyesal. Ia lantas menyentuh pundak istrinya itu dengan erat.
"Aku sengaja mendiamkanmu selama 2 minggu ini supaya kau jera dan tidak mengulangi perbuatanmu lagi. Aku bersyukur jika kau sadar akan kesalahanmu, aku maafkan."
Baekhyun sontak mendongak dan menatap suaminya itu dengan mata berkaca-kaca. "S-serius?"
Chanyeol mengangguk. "Ne, aku memaafkanmu."
Baekhyun menangis lagi, tapi kali ini adalah tangisan kebahagiaan. Ia kembali memeluk tubuh tinggi itu dengan erat.
"Terimakasih Chanyeol hiks terimakasih."
Chanyeol membalas pelukan istrinya itu dengan lembut. "Sama-sama, aku harap kau tidak akan mengulanginya lagi. Untuk urusan hutang kau tidak perlu khawatir, aku akan menyelesaikan semuanya. Tugasmu hanya cukup menjadi istri yang baik untukku saja. Kau mengerti Park Baekhyun?"
Baekhyun mengangguk sambil tersenyum manis.
Ia tanggahkan kepalanya keatas dan menatap suaminya itu yang juga tengah menatapnya.
"Aku merindukanmu Chanyeol ah."
Chanyeol sedikit terkejut mendengarnya, tapi kemudian ia terkekeh pelan. "Aku juga merindukanmu istriku."
BLUSSH
Baekhyun merona parah mendengarnya, ia tidak menyangka jika Chanyeol akan mengucapkan kata 'istriku.' dengan begitu manisnya.
Baekhyun berdehem pelan, ia menundukan kepalanya sambil menggigit ujung bibirnya. Jujur saja selama 2 minggu ini Baekhyun sangat merindukan Chanyeol, ia merindukan segala sesuatu yang ada pada pria itu. Termasuk.. Merindukan benda besar yang ada ditengah selangkangan suaminya. Benda besar yang selalu memberikan kenikmatan dan kehangatan secara bersamaan untuknya.
"C-Chanyeol a-aku.. "
"Kau ingin bicara apa? Kenapa tergagap begitu?"
"A-aku i-ingin.. "
"Ingin apa?" tanya Chanyeol pura-pura bingung.
"A-aku mau kita melakukan.. I-itu.. "
"Melakukan apa istriku, aku tidak mengerti." ucap Chanyeol sengaja menggoda istrinya itu.
"I-itu, a-aku mau itu aaaah Baekkie malu." ucap Baekhyun sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya, ia benar-benar tidak sanggup untuk mengungkapkan keinginannya.
Chanyeol tertawa lepas, ia bukannya tidak tau apa yang diinginkan istrinya itu. Jelas ia tahu, tapi ia sengaja berpura-pura tidak tau untuk menggoda istri cantiknya ini.
Ia lantas kembali merengkuh tubuh mungil itu kedalam pelukannya dan melepas tangan yang menutupi wajahnya.
"Aku juga ingin melakukannya sayang."
DEG
Baekhyun terpaku. "S-sayang?"
Chanyeol mengangguk sambil tersenyum lembut. "Iya, sayang.. Karena aku.. Karena aku.. Mencintaimu. Saranghaeyo Park Baekhyun." ucapnya dengan tatapan serius.
CUP
Dunia Baekhyun seolah berhenti berputar detik itu juga, Chanyeol menciumnya. Kali ini sambil menatap matanya dengan intens. Tidak ada kuluman atau hisapan, hanya sekedar kecupan yang saaaaangat lama. Chanyeol seolah hendak menyalurkan seluruh perasaannya pada Baekhyun melalui kecupan ini.
Chanyeol melepas kecupan itu, ia menatap istri cantiknya itu dalam diam. Ia tersenyum, Baekhyun masih terdiam layaknya patung. Ia lantas mengangkat tubuh kecil itu dan membaringkannya diatas kasur mereka. Ia lepas seluruh pakaian mereka dan ia satukan tubuh mereka berdua hingga hanya terdengar suara desahan dan geraman kenikmatan di dalam ruangan kamar yang menjadi saksi bisu kegiatan panas mereka berdua.
.
.
.
Tubuh kedua anak adam itu sudah penuh oleh keringat, tanda bekas kecupan sewarna kemerahan terpampang dengan nyata disekujur tubuh mereka. Persetubuhan yang memakan waktu hampir seharian itu telah usai namun sang dominan seolah masih enggan untuk melepas kejantanannya dari lubang surgawi sang istri. Ia biarkan pusaka kebanggaannya itu tenggelam di dalam lubang kenikmatan sedangkan ia tatapi wajah cantik itu dibawah tubuhnya.
Baekhyun balik menatap suaminya itu dengan tatapan sayu.
"Jadi..?"
Baekhyun tergagap. "A-aku.. Ahhhh.. "
Baekhyun kembali mendesah ketika Chanyeol dengan sengaja menghantamkan kembali penisnya di dalam tubuh Baekhyun.
"Chanyeol aku.. Ahhhh.. "
PLOK PLOK PLOK PLOK
Chanyeol kembali menggerakan pinggulnya dengan cepat hingga Baekhyun kesulitan untuk berbicara.
"Chanyeolhhh.. Akuhhhhh.. Ahhhh.. "
CROTT
Baekhyun kembali ejakulasi untuk yang kesekian kalinya, cairan miliknya menyembur membasahi perut kotak-kotak sang suami.
"Chanyeol aku keluarrr lagiiii.. Tubuhku sudah sangat lemasss.. " rengek Baekhyun sambil memukul pelan dada bidang suaminya.
"Kau mau menjawab pernyataanku atau kita akan terus seperti ini sampai besok? Aku akan terus menyetubuhimu sebelum kau menjawab pernyataan cinta dariku."
BLUSSH
Wajah Baekhyun memerah lagi karenanya, astaga pria ini benar-benar.
"Baik-baik, akan aku jawab."
Baekhyun meneguk ludahnya kasar. Ia tarik nafasnya dalam dan menghembuskannya dengan pelan.
"A-aku.. Aku.. "
Chanyeol menatap istrinya itu dengan serius. "Aku menunggumu sayang.. "
"A-aku.. Aku juga mencintaimu Chanyeol ah. Saranghae, jeongmal saranghaeyo."
Chanyeol tersenyum dengan sangat lebar, ia cium bibir istrinya itu dengan penuh perasaan gembira.
"Cppkhhhmm.. Mmpphh.. Mmphh.. Ahhh.. Channhh.. Mmpphh.. "
Baekhyun memukul dada suaminya itu pelan ketika ia sudah mulai kehilangan nafas.
"Aku mencintaimu Park Baekhyun.. "
Baekhyun tersenyum malu-malu mendengarnya. "Aku juga mencintaimu Chanyeol ah."
Chanyeol tersenyum lagi, ia tidak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya.
Ia kembali menundukan kepalanya hendak melumat bibir yang sudah menjadi candu untuknya. Tapi sayangnya Baekhyun menahan dada bidang sang suami dengan kedua tangannya.
"Wae?" tanya Chanyeol bingung.
Baekhyun menggeleng. "Chanyeol aku.. Huekkkk.."
Baekhyun menutup mulutnya dengan kedua tangan. Chanyeol tentu saja dibuat terkejut melihatnya.
"Kau kenapa Baek?"
"Huekkkkk.. Uhukk.. Uhukk.. Chanyeol lepaskan penismu dari lubangku, aku sudah tidak kuat lagi huekkk."
Chanyeol lantas melepaskan penyatuan tubuh mereka cepat dan Baekhyun pun langsung berdiri dan memakai pakaiannya asal. Ia langsung berlari dengan cepat menuju kamar mandi.
"Huekk.. Huekk.. Huekk.. " Baekhyun memuntahkan cairan berwarna bening dari dalam perutnya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan tubuhnya? Pria cantik itu lantas menolehkan tatapannya pada cermin yang tertempel di dinding kamar mandi.
Baekhyun membulatkan matanya terkejut, wajahnya terlihat pucat sekali. Sebenarnya ia kenapa?
"Huekk.. Huekk.. Huekk.. " Baekhyun refleks berjongkok lagi ketika perutnya kembali bergejolak. Rasa pusing luar biasa pun mulai menyerang kepalanya, ia berusaha menahan keseimbangan tubuhnya agar tidak terjatuh. Tapi rasa pusing dan mual itu justru semakin menjadi hingga akhirnya ia limbung dan tak mampu menahan keseimbangan tubuhnya lagi.
BRUKK
Baekhyun terjatuh diatas lantai kamar mandi dengan kondisi tak sadarkan diri.
Chanyeol keluar dari dalam kamar dengan hanya sebuah handuk yang melingkar dibawah tubuhnya. Ia langsung berlari ketika melihat istrinya tergeletak di kamar mandi.
"Baekhyun.. Bangun Baekhyun ah, apa yang terjadi?" ia berjongkok pelan, ia tepuk pipinya itu dengan perasaan panik. Merasa tidak ada respon, Chanyeol pun langsung mengangkat tubuh istrinya itu ala bridal dan membawanya keluar dari kamar mandi.
Chanyeol langsung membaringkan tubuh istrinya itu diatas kasur kamar mereka. Dengan cepat Chanyeol mengambil ponselnya dan mendial nomor seseorang.
"Yeboseyo dokter Ahn, bisa kau datang kerumahku? Istriku pingsan dan aku sangat butuh pertolonganmu sekarang."
"..."
"Ne, kamsahamnida. Aku tunggu."
PIIP
Chanyeol menatap istrinya itu dengan pandangan khawatir, ia genggam tangan kanan Baekhyun dengan lembut dan penuh perasaan.
"Tolong tunggu sebentar lagi Baekhyun ah, aku mohon jangan membuatku khawatir. Kita bahkan baru saling mengungkapkan perasaan masing-masing."
Sorot mata Chanyeol terlihat begitu khawatir. Ketika ia baru menyadari perasaannya untuk Baekhyun, sebuah kejadian yang tak terduga justru terjadi. Ia harap ini bukanlah suatu pertanda buruk.
.
.
.
.
.
.
TBC
Selamat tahun baru semuanya, mari kita sama-sama saling mendoakan untuk kehidupan yang lebih baik di tahun yang baru ini. Amin.
Gimana sama chapter ini? Semoga kalian suka ya haha.
Silahkan di review jika kalian berkenan.
See you in the next chap ~
Bye Bye :)
