"Jadi bagaimana dok? Aku baik-baik saja kan?"

Baekhyun membuka matanya tepat setelah Dokter Ahn muncul. Ia duduk menyandar pada kepala ranjang sambil menggengam tangan Chanyeol yang duduk disampingnya dengan erat. Ia benar-benar takut dan khawatir jika dirinya terkena penyakit berbahaya.

Setelah selesai memeriksa kondisi Baekhyun, Dokter Ahn hanya tersenyum kecil untuk memberikan sedikit ketenangan pada sang pasien. Ia lantas mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan dengan Baekhyun.

Baekhyun sedikit mengernyitkan alisnya bingung. Ia menatap suaminya yang juga tengah menatapnya dengan ekspresi bingung yang sangat kentara.

Dengan raut wajah bingung, pria cantik itu lantas membalas uluran tangan Dokter Ahn.

"Selamat Baekhyun ssi, sebentar lagi kau akan menjadi seorang ibu."

Baekhyun membulatkan matanya terkejut. "M-maksudnya?"

"Kau positif hamil, kandunganmu sudah menginjak usia satu bulan. Sekali lagi selamat Baekhyun ssi."

Baekhyun benar-benar terkejut mendengarnya. Hamil? Ia tidak salah dengar kan?

"H-hamil? Tapi bagaimana bisa? Selama ini aku tidak pernah merasakan tanda-tanda apapun."

"Kehamilan memang seperti itu Baekhyun ssi, ada yang langsung mendapatkan tanda-tanda ada juga yang tidak. Dan kau termasuk orang yang tidak langsung mendapatkan sinyal."

Baekhyun menutup mulutnya mencoba menahan tangis, ia menatap perutnya sejenak dan mengelusnya pelan. Matanya berkaca-kaca karena ia begitu bahagia. Di dalam tubuhnya kini telah tumbuh kehidupan baru, buah cintanya bersama dengan Chanyeol.

Ia lantas menatap suaminya itu yang masih terdiam shock, terlihat sekali jika Chanyeol sangat terkejut. Baekhyun menyentuh pipi suaminya itu dengan lembut dan memeluknya pelan. Ia menangis sampai membasahi kaos yang dipakai Chanyeol.

Chanyeol yang tersadar dari lamunannya lantas langsung balik memeluk istrinya itu pelan sambil menciumi kepalanya penuh perasaan cinta.

"Hiks.. Aku akan menjadi seorang ibu Chanyeol ah.. Aku akan menjadi seorang ibu."

.

.

.

"Terimakasih karena sudah datang Dokter Ahn."

Dokter Ahn tersenyum. "Sama-sama, sekali lagi selamat Chanyeol ah."

Chanyeol balas tersenyum kecil. "Ne, terimakasih."

"Kau kenapa Chanyeol ah? Kau terlihat tidak begitu bahagia."

"Tentu saja aku bahagia, aku hanya masih tidak menyangka jika sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah."

"Itu wajar, saat pertama kali memang terasa sangat mengejutkan. Tapi lama kelamaan kau akan mulai terbiasa. Istrimu sekarang sedang hamil muda, jadi kau harus siap jika sewaktu-waktu mood istrimu berubah. Itu biasa dialami setiap ibu hamil. Dan kalau bisa, ada baiknya jika kau menuruti setiap permintaan istrimu. Terkadang seseorang yang tengah hamil sering memiliki keinginan yang tak terduga."

Chanyeol tersenyum lagi. "Ne, tentu aku akan melakukannya."

"Yasudah, kalau begitu aku pergi dulu Chanyeol ah." ucap sang dokter sambil membuka pintu rumah.

"Ah tunggu dulu Dokter Ahn."

Dokter Ahn berbalik dan kembali menatap Chanyeol dengan bingung. "Ada apa?"

Chanyeol tampak mengelus belakang kepalanya dengan canggung. "Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu, apakah tidak apa-apa jika aku dan Baekhyun berhubungan intim? Maksudku, aku takut jika sewaktu-waktu kami sedang ingin melakukan itu."

Dokter Ahn tampak cukup terkejut mendengarnya, namun beberapa detik kemudian ia tertawa lebar. "Tidak masalah Chanyeol, hanya saja kau harus bergerak lebih lembut. Hindari hubungan seks kasar yang bisa membahayakan janin istrimu."

Chanyeol menghembuskan nafasnya lega. "Baik, aku mengerti. Terimakasih Dokter Ahn."

.

.

.

"E-eomma s-sesak."

Baekhyun sedikit kesulitan bernafas ketika ibu mertuanya memeluk tubuhnya dengan erat. Heechul pun lantas langsung melepas pelukannya dan menatap sang menantu dengan pandangan khawatir.

"Kau baik-baik saja sayang? Maafkan eomma, eomma terlalu bahagia mengetahui kau sedang mengandung."

Heechul senang sekali, ia benar-benar bahagia. Ia langsung pulang dari pasar ketika Chanyeol menghubunginya dan memberitahu jika Baekhyun tengah mengandung.

"Eomma hiks.. " Heechul tak mampu membendung airmatanya lagi. Perasaannya benar-benar campur aduk sekarang.

Baekhyun yang melihat itu langsung memeluk tubuh ibunya dan menenangkannya dengan lembut.

"Terimakasih Baek hiks, eomma benar-benar bahagia. Terimakasih."

Baekhyun ikut meneteskan airmatanya bahagia. Ia juga sangat gembira mengetahui jika ia tengah mengandung sekarang. Baekhyun tidak pernah merasa sebahagia ini sebelumnya. Ia janji akan menjaga janin titipan Tuhan ini dengan baik sampai ia lahir dan tumbuh besar bersamanya kelak.

"Hiks, Baekkie juga bahagia eomma.. Baekkie saaaaangaat bahagia."

.

.

.

Heechul menatap putranya yang tengah duduk sendirian di teras belakang rumah. Anaknya itu tampak begitu tenang dengan sebatang rokok yang mengepul dibibirnya dan juga segelas kopi hitam yang masih mengepulkan asap. Jam sudah menunjukan pukul 8 malam dan Baekhyun sudah beristirahat karena tubuhnya benar-benar lemas.

Heechul lantas berjalan menghampiri putranya itu dan duduk di samping kirinya.

"Chanyeol ah."

"Hmm." gumam sang anak acuh.

"Kenapa kau malah duduk disini? Harusnya kau menemani Baekhyun di dalam kamar. Ia terus-terusan muntah dari tadi. Makanan yang ia makan juga terus ia muntahkan kembali."

Chanyeol menghembuskan asap rokok dari hidung dan mulutnya kemudian. "Aku ingin merokok sebentar, tidak mungkin kan jika aku merokok di depan seseorang yang tengah hamil?"

"Kau tidak suka jika Baekhyun hamil?"

Chanyeol langsung menggeleng. "Aku senang, tentu saja aku bahagia. Hanya saja aku tidak menyangka Baekhyun akan hamil secepat ini."

"Memangnya kenapa jika Baekhyun hamil sekarang?"

"Tanggung jawabku semakin besar sekarang. Aku takut tidak bisa memenuhi kebutuhan mereka nanti. Ditambah lagi hutang kita pada Tuan Kangin dan anaknya. Aku tidak yakin apakah aku bisa menjadi ayah yang baik untuk anakku kelak."

Heechul menghela nafas. "Sejak kapan kau menjadi pesimis seperti ini? Chanyeol yang eomma kenal adalah pria yang tidak pernah mengenal yang namanya putus asa. Anakmu pasti malu jika ayahnya punya mental yang lemah sepertimu."

Chanyeol terkekeh, ia kembali menghisap rokoknya dengan pelan.

"Eomma yakin kau bisa menjadi ayah dan kepala rumah tangga yang baik untuk keluarga kecilmu. Jangan berkecil hati hanya karena kau miskin. Kau memang miskin, tapi kau bukan seseorang yang mudah menyerah pada keadaan. Kau mau berjuang saja itu sudah lebih dari cukup."

Chanyeol mengangguk sambil tersenyum kecil. "Aku mengerti eomma, sepertinya besok aku akan mencari penghasilan tambahan lagi. Aku harus menabung dari sekarang untuk biaya pesalinan dan biaya sekolah anakku nanti."

Heechul tersenyum. Ia bangga pada anaknya itu. Hal yang bagus jika ia sudah memikirkan soal itu dari sekarang. Chanyeol benar-benar seorang pria dewasa.

"Yasudah, sebaiknya sekarang kau kembali ke kamar. Baekhyun sepertinya sangat membutuhkanmu."

Chanyeol mengangguk, ia langsung bangkit dan berjalan masuk kedalam rumah.

.

.

.

CKLEK

Chanyeol berjalan masuk kedalam kamar sambil membawa semangkuk bubur putih yang ia buat sendiri.

Baekhyun berbaring meringkuk sambil menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.

Chanyeol duduk disamping ranjang dan menaruh mangkuk bubur buatannya diatas meja nakas. Ia menarik selimut itu pelan dan mendapati Baekhyun yang sedang menangis.

Baekhyun nampaknya sedikit terkejut, ia lantas langsung menangis lagi.

"Chanyeol perutku mual sekali hiks."

Chanyeol tersenyum lembut, ia tarik tubuh mungil istrinya itu hingga terduduk. Ia usap wajah berkeringat istrinya itu dengan pelan.

"Aku tau, tapi ini memang sudah menjadi resiko bagi seorang ibu yang tengah mengandung. Sebaiknya sekarang kau makan dulu ya? Jangan biarkan perutmu kosong, kasihan janin yang ada di dalam perutmu."

Baekhyun menggeleng pelan. "Tidak Chanyeol, aku tidak mau. Makanan apapun yang aku makan selalu aku muntahkan lagi hiks."

Chanyeol terdiam sejenak, ia menatap perut istrinya itu untuk beberapa saat. Ia lantas membuka kaos piyama yang Baekhyun pakai sampai diatas perut. Ia usap beberapa kali perut itu dengan sangat lembut. Baekhyun hanya bisa terdiam sambil terisak kecil melihat perlakuan Chanyeol.

Chanyeol lantas membungkuk dan mencium perut itu dengan lembut. "Ini appa mu sayang. Tolong jangan menyusahkan ibumu. Kasihan dia, ijinkan dia untuk makan. Tumbuhlah dengan baik, appa sangat mencintaimu."

CUP

Ia kecup lagi perut itu pelan dengan durasi yang lebih lama. Chanyeol sampai menutup matanya mencoba merasakan kehadiran sang jabang bayi di dalam perut sang istri. Tanpa sadar pria tinggi itu pun mulai menangis, ia masih tidak menyangka jika di dalam sini telah tumbuh buah cintanya bersama dengan Baekhyun. Entahlah, perasaanya begitu campur aduk sekarang.

Ia menghapus airmatanya pelan dan ia bangkit untuk kembali menatap sang istri. Baekhyun masih menangis, ia langsung memeluk tubuh tegap sang suami dengan erat.

Chanyeol mengusap kepala Baekhyun dengan lembut. "Terimakasih karena telah menyempurnakan hidupku Baek, aku mencintaimu istriku."

"Aku juga mencintaimu Chanyeol ah, hiks sangat mencintaimu.. "

.

.

.

Setelah itu Baekhyun akhirnya bisa makan tanpa merasakan mual sedikitpun. Baekhyun pun tidak tau kenapa, tapi setelah perutnya disentuh oleh Chanyeol, rasa mual itu perlahan-lahan mulai menghilang. Sepertinya sang jabang bayi sudah punya ikatan yang kuat dengan ayahnya.

Sekarang Baekhyun sudah berbaring kembali sambil dipeluk oleh suaminya. Baekhyun berkali-kali mencium dan mengusap tubuh berotot Chanyeol dengan begitu gemas. Chanyeol benar-benar menggambarkan sosok lelaki jantan yang sesungguhnya. Terkadang Baekhyun suka lepas kendali jika Chanyeol tidur dengan hanya celana boxer pendek yang menempel ditubuh sexy nya. Pria tinggi itu seperti sengaja memanjakan matanya dengan bertelanjang dada seperti ini setiap malamnya.

"Chanyeol ah.. "

"Hmm.. "

"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu."

"Apa itu?"

"Sejak kapan kau mulai mencintaiku?"

Chanyeol sontak menatap istrinya itu dengan intens. "Semenjak aku melihatmu bernyanyi di cafenya Suho."

Baekhyun terdiam. Ia selalu merasa sedih jika mengingat saat dimana ia membiarkan puluhan laki-laki lain melihat sebagian tubuhnya yang seharusnya hanya dilihat dan dinikmati oleh Chanyeol seorang.

"Ada perasaan marah yang teramat sangat ketika itu. Aku benci ketika kau bernyanyi untuk pria lain, aku marah ketika tubuh indahmu dilihat oleh pria lain hingga rasanya aku ingin melenyapkan mereka semua. Dari situ aku sadar aku telah dibakar oleh perasaan cemburu. Selama 2 minggu setelahnya aku banyak merenung dan memikirkan perasaanku sendiri. Hampir gila rasanya ketika aku terus mendiamkanmu kala itu. Aku terus berusaha sekuat tenaga untuk mendiamkanmu agar kau mengerti dan jera akan perbuatanmu. Dari situlah aku sadar aku sudah mulai merasa ketergantungan terhadapmu. Aku tidak bisa jauh darimu dan aku tau aku telah jatuh dalam pesonamu. Perasaan itu semakin lama semakin besar hingga rasanya menggerogoti seluruh hatiku. Hati dan perasaanku tidak pernah bisa berbohong. Ketika mereka berkata bahwa aku mencintaimu, itu artinya aku memang telah jatuh cinta kepadamu. Aku jatuh cinta kepada istriku sendiri."

Baekhyun tersenyum malu-malu, ia begitu bahagia mendengar pengakuan Chanyeol untuknya.

"Terimakasih karena sudah mencintaiku Chanyeol, aku sangat bahagia mendengarnya."

"Lalu bagaimana denganmu, sejak kapan kau mulai mencintaiku?"

"Kurang lebih sama sepertimu. Hanya saja aku lebih dulu merasakan perasaan itu lebih lama. Awalnya aku merasa sangat tidak suka ketika wanita lain melirik kearahmu, ada perasaan sesak yang sangat luar biasa ketika itu. Aku terus menampik perasaan ku sendiri hingga akhirnya aku sadar setelah kau memarahiku waktu itu. Aku merasa begitu bersalah karena telah membohongi suamiku dan aku begitu merasa frustasi ketika kau mendiamkanku. Aku sadar aku mulai menyukaimu dari semenjak hubungan seks pertama kita waktu itu. Tapi aku terus menampiknya. Tapi sekarang aku tidak akan menampiknya lagi. Aku akan biarkan perasaan itu terus berkembang hingga menggerogoti seluruh hatiku. Aku bahagia sekarang, aku bahagia karena aku telah jatuh cinta pada suamiku sendiri."

Chanyeol tersenyum dengan sangat tampan, ia kecup bibir istrinya itu dengan gemas.

Mereka berpandangan untuk waktu yang cukup lama, kemudian mereka saling tertawa lepas. Mereka memeluk tubuh satu sama lain dan terus mengungkapkan perasaan cinta untuk satu sama lain hingga kantuk datang menjemput.

.

.

.

"Huekkk.. Hueekk.. Hueekk.. "

Pagi ini Baekhyun kembali memuntahkan isi perutnya. Baekhyun mulai mengalami apa yang disebut dengan Morning Sick. Baekhyun sedikit menghela nafasnya, tapi beberapa detik kemudian ia tersenyum dengan sangat manis. Ia mengelus perut datarnya pelan. Baekhyun begitu menikmata proses dimana ia bisa mengandung darah dagingnya sendiri meskipun harus ia akui ia sendiri merasa sedikit kerepotan.

"Baik-baik di dalam sana sayang, eomma mencintaimu." ucapnya dengan bahagia sambil mengelus perutnya pelan.

Baekhyun berjalan keluar dari dalam kamar mandi, jam masih menunjukan pukul 5 pagi. Matahari bahkan masih enggan untuk menunjukan sinarnya, ini masih terlalu pagi. Apa yang harus Baekhyun lakukan sekarang? Ia tidak bisa tidur lagi karena perutnya masih terasa mual.

Ah, ia jadi teringat jika baju seragam Chanyeol belum sempat disetrika. Ia lantas langsung berjalan kedalam kamar dan mengambil seragam suaminya yang menggantung di dalam lemari. Baekhyun melirik suaminya yang masih tertidur lelap dengan posisi tertelungkup. Suara dengkuran halus terdengar dari mulut pria itu dan seperti biasa, ia selalu tidur dengan hanya menggunakan boxer super pendek diatas paha. Baekhyun lantas berjalan pelan untuk menutupi tubuh suaminya itu dengan selimut. Kadang Baekhyun merasa heran, apa ia tidak merasa kedinginan tidur dengan kondisi hampir telanjang seperti itu? Baekhyun menggeleng pelan, ia lantas mencuri ciuman kecil dari pria yang telah membuatnya hamil itu.

CUP

Baekhyun mengalihkan tatapannya pada seragam sang suami yang sedari tadi sudah ia pegang. Ia peluk seragam itu erat seolah ia tengah memeluk si empunya. Ada perasaan bangga dan bahagia ketika ia memeluk baju seragam ini. Ini bukanlah sebuah jas atau kemeja mahal para eksekutif muda, tapi hanya sebuah seragam seorang satpam. Baekhyun dulu sering sekali meremehkan profesi para penjaga keamanan, tapi kini justru ia malah menggantungkan hidupnya pada seorang penjaga keamanan. Baekhyun ingin tertawa saja rasanya, ia kembali memeluk seragam itu dan menciumnya sampai berkali-kali.

"Aku harus menyetrika baju ini dengan baik dan rapi, biar bagaimanapun ini adalah seragam kebanggaan suamiku." ucapnya dengan penuh kegembiraan.

Baekhyun langsung menyetrika seragam itu dengan sangat telaten. Ia benar-benar telah mahir menyetrika pakaian. Setelah selesai ia langsung melipatnya dan menyimpannya kembali di dalam lemari.

Ia kemudian melirik jam yang menempel di dinding.

"Pukul 05.15, masih ada banyak waktu sebelum suamiku berangkat kerja."

Ia menatap suaminya itu sebentar dan tersenyum kemudian.

.

.

.

Pukul setengah tujuh pagi Chanyeol mengerjapkan matanya pelan. Ia menguap dan merenggangkan tubuhnya kemudian. Ia menyentuh sisi disamping tempat tidurnya dan mengernyit heran karena tidak mendapati istrinya berbaring disana.

"Baekhyun.. " ia mencoba memanggil istrinya itu namun tidak ada jawaban.

Chanyeol akhirnya memutuskan untuk bangkit dari atas kasur dan berjalan keluar kamar. Ia melangkahkan kakinya kearah dapur dan mendapati istrinya tengah asik memasak. Tanpa banyak bicara lagi, Chanyeol langsung memeluk tubuh ramping itu dari belakang.

"OMO, Chanyeol kau mengagetkanku saja." ucap Baekhyun yang tubuhnya sampai terlonjak saking kagetnya.

"Kau sedang masak apa?"

"Masak apa lagi, aku kan cuma bisa masak nasi goreng."

Chanyeol tertawa, ia lantas langsung mencumbui leher jenjang sang istri.

Baekhyun sedikitnya agak terganggu karena ia sedang memasak, kompor bahkan masih menyala dan tangannya pun masih memegang spatula.

"Chanyeol ahhh akuhh sedang memasak.. "

Chanyeol seakan tidak peduli, ia terus mencumbui leher Baekhyun dengan semakin agresif, kedua tangan besarnya bahkan mulai menggerayangi bagian dada dan perut sang istri dengan liar.

"Ahhhhh Chanyeollhh.. "

Chanyeol terlihat begitu menikmati kegiatannya ini hingga alisnya sedikit mengernyit pelan beberapa detik kemudian.

"Bau apa ini?" Ia melepaskan cumbuannya dan atensinya teralih pada kompor dihadapan mereka. bola matanya langsung membulat seketika itu juga ketika melihat masakan Baekhyun yang akhirnya gosong.

"Chanyeol issssh aku kan sudah bilang aku sedang masak, sekarang masakannya jadi gosong.. " ucap Baekhyun yang terdengar begitu kesal karena nasi goreng yang sudah susah payah ia buat malah gosong.

Chanyeol menggaruk tengkuknya sambil tersenyum kecil. Ia juga tidak menyangka jika masakan Baekhyun akan gosong karena ulahnya. Ia langsung mematikan kompor dan menatap istrinya itu dengan pandangan menyesal.

"Aku minta maaf, aku tidak tau jika akhirnya akan seperti ini."

Baekhyun mengerucutkan bibirnya kesal, ia palingkan wajahnya kesamping enggan menatap sang suami.

Chanyeol yang melihat istrinya tengah merajuk seperti itu hanya bisa tertawa pelan. Ia lantas kembali memeluk tubuh istrinya itu dari belakang dan berkali-kali membisikan kata maaf.

"Maafkan aku sayang."

"Tidak, lepaskan aku."

"Maafkan aku istriku."

"Ani, lepaskan Baekkie."

"Ayolah sayang, maafkan suamimu yang tampan ini."

"Tidak ish Baekkie bilang lepaskan."

Chanyeol semakin tertawa pelan melihat istrinya yang justru semakin merajuk. Ia lantas mendaratkan kecupan bertubi-tubi di pipi sang pujaan hati.

CUP

Baekhyun merasa geli sendiri karena Chanyeol terus menghujaninya dengan ciuman-ciuman kecil, rasa kesal yang sempat Baekhyun rasakan perlahan mulai menghilang dan tergantikan oleh senyuman kecil yang muncul dibibir mungilnya. Baekhyun menyerah, akhirnya ia tertawa dan balik menciumi suaminya itu.

CUP

"Ekheem.. "

DEG

Keduanya langsung tersentak kaget ketika Heechul tiba-tiba saja muncul dan mengejutkan mereka berdua.

Heechul menggelengkan kepalanya pelan. "Dasar pasangan yang sedang dimabuk cinta, berhenti mengganggu istrimu Chanyeol ah. Dan Baekhyun, sebaiknya kau segera siapkan air panas untuk suamimu."

Baekhyun mengangguk dengan canggung. "Ne, eomma."

Chanyeol tersenyum sambil menatap istrinya yang berjalan pergi untuk menyiapkan air panas untuknya.

"Kenapa terus tersenyum? Ayo cepat buat sarapan, kau sudah membuat masakan Baekhyun gosong."

Chanyeol terkekeh kemudian. "Ne, eomma."

.

.

.

"Aku pergi dulu."

Chanyeol sudah siap untuk mencari nafkah lagi hari ini dan seperti biasa Baekhyun akan selalu mengantarnya sampai ke depan rumah.

"Hati-hati Chanyeol ah." Baekhyun mencium tangan suaminya itu dengan lembut.

Chanyeol mengangguk. Ia lantas mengelus perut rata istrinya dengan penuh kasih sayang.

"Halo sayang, ini appa. Bagaimana kabarmu di dalam sana? Kau baik kan? Tolong jaga ibumu, jangan membuat ia kerepotan. Appa tidak bisa menjaga ibumu karena appa harus pergi bekerja. Do'a kan appa juga agar appa bisa mendapatkan banyak uang untuk kita semua. Appa menyayangimu. Tumbuhlah dengan baik dan segeralah lahir untuk melihat dunia."

Baekhyun tersenyum manis mendengar ucapan Chanyeol untuk calon anak mereka. "Ini bahkan masih berbentuk janin Chanyeol ah, memangnya ia bisa mendengar apa yang kau katakan?"

"Tentu saja, aku kan ayahnya."

Baekhyun tertawa mendengarnya.

"Kau hati-hati dirumah, jangan melakukan pekerjaan yang bisa membuatmu lelah. Jika ada apa-apa kau langsung saja hubungi aku."

"Iya Chanyeol, kau tidak perlu khawatir. dirumah kan juga ada eomma."

Chanyeol mengangguk lagi. "Yasudah aku pergi.. Ah satu lagi, kau juga harus mendoakan ku Baek. Do'a seorang istri itu sangat manjur untuk memperlancar urusan suami."

"Iya, tanpa disuruh pun aku selalu mendo'akanmu."

Chanyeol tersenyum. "Bagus, kalau begitu aku pergi."

Chanyeol langsung memakai helm miliknya dan bersiap meninggalkan rumah. Sebelum ia benar-benar pergi, ia tatap istrinya untuk beberapa saat dan kemudian tersenyum. Ia pun mengedipkan sebelah mata kanannya untuk menggoda sang istri.

BLUSH

Baekhyun sontak saja memerah malu digoda seperti itu oleh suaminya. Setelah mengakui perasaanya pada Baekhyun, pria itu jadi berubah genit dan suka menggodanya.

BRUUMM

Baekhyun tersenyum kecil memandang punggung sang suami yang perlahan pergi meninggalkan pekarangan rumah. Ia benar-benar tidak menyangka akan jatuh cinta pada suaminya sendiri. Tapi memang begitulah yang dinamakan cinta. Kita tidak akan pernah tau pada siapa kita akan jatuh cinta. Sekarang perasaanya sudah jauh lebih lega, ia lega karena kini mereka sudah mengakui perasaan mereka masing-masing.

.

.

.

Pukul 12.30 tepat, waktunya istirahat makan siang. Sudah 2 minggu lebih Chanyeol bekerja di perusahaan otomotif besar milik pamannya Soojung ini. Bisa dibilang pekerjaan nya tidak terlalu berat. Chanyeol hanya perlu duduk di pos satpam dan menerima semua tamu yang ingin berkunjung. Sesekali ia berkeliling gedung untuk memastikan kondisi aman terkendali. Selebihnya ia hanya duduk santai sambil minum beberapa gelas kopi di pos satpam. Sejujurnya Chanyeol agak sedikit merindukan pekerjaan nya yang dulu. Bekerja menjadi seorang kuli bangunan setidaknya bisa melatih otot-ototnya agar tetap kekar. Tidak seperti sekarang yang lebih banyak ia habiskan dengan berdiam diri.

"Chanyeol ah, kau kah itu?"

Chanyeol sedikit menoleh ketika seorang pria keluar dari dalam mobil sport miliknya dan berjalan pelan menghampirinya.

Chanyeol langsung membulatkan matanya. "Hyunseung?"

Pria itu mengangguk antusias. "Ne, ini aku Hyunseung. Astaga, lama tidak bertemu Chanyeol ah."

Pria bernama Hyunseung itu langsung memeluk Chanyeol dengan erat.

"Ne, kau benar-benar terlihat berbeda sekarang."

Hyunseung tertawa. "Begitulah, seperti yang kau lihat. Aku sudah punya banyak uang sekarang. Ah, aku harus masuk kedalam dulu. Aku mau membeli mobil baru untuk istriku. Setelah itu kita makan siang bersama ya?"

Chanyeol mengangguk. Ia lantas membuka portal penjaga agar mobil Hyunseung bisa masuk.

.

.

.

"Bagaimana kabarmu, sudah hampir 12 tahun kita tidak bertemu."

Saat ini mereka sudah duduk bersama disebuah restoran bintang 6 yang letaknya tidak begitu jauh dari tempat Chanyeol bekerja. Ada berbagai macam makanan mewah khas benua Eropa yang sudah tersaji dihadapan mereka masing-masing.

"Aku baik, hanya saja nasibku masih sama seperti dulu."

Hyunseung sedikit berdecak pelan. "Lalu kenapa kau masih tetap seperti ini? Memangnya kau tidak ingin berubah? Kau tidak ingin seperti aku?"

Chanyeol tersenyum. "Tentu aku ingin, tapi tidak semudah itu untuk bisa merubah nasib seseorang."

"Itu tergantung dari seberapa keras kau berusaha, sobat. Kau tau sendiri bagaimana aku dulu, dulu aku bahkan jauh lebih susah darimu. Tapi lihat aku sekarang, aku sukses menjadi seorang pengusaha kaya diusiaku yang masih muda."

Chanyeol mengangguk. Ia ikut senang jika sahabatnya ini kini telah berhasil meraih kesuksesannya. Dulu Chanyeol ingat sekali, saat masih jaman SMA Hyunseung sampai harus berjualan koran di pinggir jalan agar bisa mendapat uang jajan.

"Bisnis apa yang sedang kau jalani sekarang Hyunseung ah?"

"Awalnya aku hanya membuka sebuah jasa tambal ban kecil-kecilan. Penghasilan yang masuk pun tidak seberapa, aku sempat merasa frustasi karenanya. Tapi setelah beberapa lama aku mulai berpikir untuk mempromosikan bisnis kecilku ini di internet. Aku mengiklankan usaha tambal ban ku ini di Naver dan ternyata hasilnya cukup banyak orang yang tertarik dan memintaku untuk datang ke tempat mereka untuk menambal ban kendaraan mereka. Biasanya para pelangganku itu terlalu malas untuk keluar rumah ataupun terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka hingga tidak sempat pergi ke bengkel. Maka dari itu mereka lebih memilih untuk menggunakan jasa tukang tambal ban online seperti ku. Hasilnya aku mendapat penghasilan hingga puluhan kali lipat dari sebelum aku memasang iklan di internet. Aku terus bergelut dengan usahaku itu selama beberapa tahun hingga sekarang aku sudah punya banyak karyawan."

"Kau juga mempekerjakan karyawan?"

Hyunseung mengangguk. "Karena permintaan customer yang sangat banyak, aku jadi tidak bisa melayani mereka semua. Alhasil aku mempekerjakan orang lain juga. Hitung-hitung aku membuka lapangan pekerjaan baru untuk orang-orang yang membutuhkan."

Chanyeol terdiam. Ia tidak menyangka Hyunseung bisa jadi seperti sekarang hanya karena sebuah usaha tambal ban.

"Aku menabung sebagian dari penghasilanku dan setelah terkumpul, aku pakai untuk membuat ladang bisnis baru dibilang lain. Sekarang selain bisnis tambal ban online aku juga sudah punya bisnis lain di bidang properti dan kuliner."

"Wow, kau benar-benar sukses sekarang Hyunseung ah."

Hyunseung tertawa. "Terimakasih atas pujiannya. Tapi apakah kau tidak berniat untuk mengikuti jejak ku? Apa kau tidak ingin mengubah nasibmu? Aku tebak sekarang kau sudah menikah kan? Beban dan tanggung jawabmu pasti bertambah, apalagi jika nanti kau sudah punya anak. Kau harus memikirkan biaya untuk sekolah dan juga segala kebutuhan yang lain. Belum lagi ibumu, kau pasti ingin membahagiakan orang yang sudah melahirkanmu itu kan? Kau tidak akan bisa membahagiakan keluargamu jika kau hanya mengandalkan gajimu sebagai seorang satpam."

Chanyeol merasa tertohok mendengar ucapan Hyunseung. Sahabatnya itu benar, ia tidak akan menghasilkan apapun selama ia masih menggantungkan segalanya hanya dari satu profesi saja. Baekhyun, calon anak mereka dan juga ibunya. Banyak orang yang harus segera ia bahagiakan.

"Kau bisa membantuku? Aku juga ingin mempromosikan diriku di internet."

Hyunseung tersenyum. "Tentu, berikan ponselmu padaku. Biar aku bantu promosikan sahabat karibku ini di internet."

Chanyeol memberikan ponselnya pada Hyunseung.

Pria kurus itu langsung menerimanya dan dengan cepat membuka situs Naver.

"Ngomong-ngomong, kau ingin mempromosikan apa Chanyeol ah?"

"Jasa reparasi alat-alat listrik, elektronik dan juga kendaraan bermotor."

Hyunseung mengangguk. Ia langsung membuat sebuah iklan promosi di situs Naver yang memang sering dikunjungi oleh 90% masyarakat Korea setiap harinya.

"Disini aku juga mencantumkan nomor teleponmu agar para calon customer lebih mudah untuk menghubungimu."

"Sekarang kau pasang pose sekeren mungkin biar aku ambil fotomu."

"Ne? Kenapa harus pakai foto segala?"

"Tentu saja harus, aku butuh foto profil untuk akun SNS mu agar orang-orang tidak merasa curiga terhadapmu."

Chanyeol mengangguk mengerti, ia lantas merapihkan sedikit rambutnya dan memasang senyum terbaiknya di depan camera.

"Bersiap ya. Hana, dul, set."

CKREK

Hyunseung tersenyum puas melihat hasil foto yang berhasil ia ambil.

"Wah, kau benar-benar tampan Chanyeol ah. Kenapa kau tidak menjadi model saja. Aku pikir kau akan laku keras."

"Aku tidak berpikir sampai kearah sana, aku lebih suka melakukan pekerjaan berat."

Hyunseung mengangguk singkat. "Baiklah, iklanmu sudah berhasil aku pasang. Aku juga sudah memasang tarif yang sesuai. Sekarang kau hanya tinggal menunggu saja, aku yakin akan banyak orang yang menyewa jasamu."

Chanyeol tersenyum tipis. "Terimakasih Hyunseung ah, kau benar-benar sangat membantu."

.

.

.

Baekhyun duduk sendirian diruang tengah sambil menonton televisi dan memakan beberapa camilan kue buatan ibunya. Heechul pergi keluar untuk reunian bersama teman-teman semasa SMA nya dulu.

Baekhyun merasa sangat bosan, sedari tadi ia hanya mengotak atik remote televisi saking tidak adanya kegiatan yang bisa ia lakukan. Ia kemudian mengelus perutnya pelan. Seharian ini perutnya sama sekali tidak bergejolak setelah disentuh oleh Chanyeol tadi pagi. Ini benar-benar luar biasa, masih dalam bentuk janin saja ia sudah punya ikatan sekuat ini dengan ayahnya.

"Sebaiknya aku buka internet saja, rasanya aku seperti akan mati karena kebosanan."

Baekhyun mengambil ponselnya dan iseng mencari artikel tentang suami istri di internet seperti waktu itu.

'8 kewajiban istri pada suami.'

Baekhyun membaca judul artikel itu dengan rasa penasaran. Tanpa perlu pikir panjang lagi ia langsung membuka artikel itu.

1. Mentaati Perintah Suami.

"Sebaik-baiknya seorang istri adalah ia yang taat pada suami dan tidak membangkang. Apakah ia di surga atau di neraka, itu juga terlihat dari sikap istri terhadap suaminya. Namun ketaatan itu tidaklah mutlak. Bila suami memerintahkan istri untuk melakukan perbuatan tercela, maka itu tidak boleh ditaati."

Baekhyun terdiam kemudian. Berarti surga atau neraka bagi seorang istri itu tergantung dari sikap mereka terhadap suami. Baekhyun seperti mendapat pencerahan baru. Selama ini Baekhyun tidak pernah membangkang ucapan suaminya. Ia berdo'a dalam hati semoga ia tidak sampai melawan pada suaminya itu.

2. Diam di Rumah dan Tidak Keluar Rumah Kecuali Dengan Izin Suami.

"Tanpa izin suaminya, seorang istri tidak boleh keluar rumah, baik itu untuk mengunjungi orang tua, pergi ke tempat ibadah atau untuk keperluan lainnya. Disebutkan bahwa istri yang keluar rumah tanpa izin suami berarti telah berdosa kepada Tuhan dan pantas mendapatkan siksa."

Baekhyun bergidik ngeri membacanya, begitu besar ancaman bagi seorang istri yang keluar rumah tanpa seizin suaminya.

3. Bersedia Diajak ke Ranjang.

"Jika suami mengajak berhubungan intim namun istri menolaknya, maka para penghuni langit akan melaknatnya sampai waktu Subuh. Namun jika istri sedang sakit, suami harus bisa memakluminya."

BLUSH

Pipi Baekhyun langsung merona merah begitu membaca poin ke-3 ini. Untuk urusan ranjang Baekhyun sama sekali tidak pernah menolak jika suaminya itu sedang ingin melakukannya. Lagipula Baekhyun juga menyukai kegiatan ranjang mereka haha.

4. Tidak Membiarkan Orang Lain Masuk Dalam Rumah Tanpa Seizin Suami.

"Kewajiban istri pada suami yang berikutnya adalah tidak membiarkan orang lain masuk ke dalam rumah tanpa seizin suami. Jika suami telah memperbolehkan, maka tidak masalah orang tersebut masuk ke dalam rumah."

Lihat, betapa pentingnya izin seorang suami bagi para istri. Baekhyun benar-benar baru mengetahui soal ini.

5. Berbakti Pada Suami.

"Seorang istri harus menjaga amanah suami, baik itu harta maupun rahasianya. Melayani suami merupakan tugas istri, bukan sebaliknya, dimana istri yang dilayani suami. Seperti yang tertulis bahwa suami merupakan pemimpin bagi istrinya. Jika suami melayani istri dalam urusan rumah tangga, itu termasuk perbuatan keliru dimana suami tidak lagi bertindak sebagai pemimpin. Karena tugas istri adalah melayani suami, Tuhan telah mewajibkan suami untuk menafkahi istri, baik itu makanan, pakaian, maupun tempat tinggal."

Baekhyun termenung sejenak, pantas saja Chanyeol sangat marah ketika ia bekerja di cafe beberapa minggu yang lalu. Selain tidak rela jika tubuhnya menjadi pemandangan untuk pria lain, sepertinya Chanyeol juga merasa tidak suka jika Baekhyun ikut mencari nafkah karena itu bukanlah kodratnya sebagai seorang istri.

6. Sabar Kepada Suami.

"Adakalanya suami berbuat tidak baik dan istri dituntut untuk dapat bersabar karena pahalanya besar. Dituliskan bahwa barang siapa bersabar terhadap perangai suami akan diberikan imbalan yang telah dijanjikan Tuhan."

Wow, Baekhyun agak terperangah membaca poin ke6 ini. Betapa tinggi dan mulianya derajat seorang suami. Bahkan ketika ia marah dan berbuat tidak baik pun seorang istri tetap dituntut untuk sabar dan mengerti suaminya.

7. Melayani Suami Hingga Hal Terkecil.

"Demi cinta terhadap suami, istri harus melayani suami hingga hal terkecil seperti meminyakkan rambut suami, menggunting kuku, dan memotong kumis. Disebutkan bahwa istri yang meminyakkan rambut dan janggut suaminya, menggunting kuku, dan memotong kumis suaminya akan diberikan Tuhan air di surga, kuburnya menjadi taman yang indah, dan saat ajal menjemput akan diringankan."

Baekhyun tersenyum manis setelah membaca poin ke7. Ia belum pernah memakaikan Chanyeol gel/minyak rambut. Ia juga belum pernah memotong kuku atau pun memotong kumis suaminya itu. Sepertinya ia akan mencobanya nanti.

8. Berdandan hanya untuk suami dan jangan pernah melembutkan suara ketika berbicara dengan pria lain.

"Telah disebutkan bahwa seorang istri diharuskan untuk bersolek dihadapan suaminya dan berusaha terlihat cantik untuk menyenangkan hati suaminya. Telah dilarang pula bagi seorang istri untuk melembutkan suaranya ketika berbicara dengan pria lain karena itu dapat membangkitkan birahi mereka."

Baekhyun mengangguk mengerti, berarti mulai sekarang ia tidak akan berbicara lembut pada ayahnya karena itu bisa membangkitkan nafsu birahi ayahnya, apalagi ayahnya itu sudah menduda selama belasan tahun.

Eh tapi tunggu dulu, untuk apa juga aboejinya memiliki nafsu padanya? Mereka kan pasangan ayah dan anak. Mana mungkin ayahnya sendiri memiliki hasrat seksual terhadapnya.

Baekhyun langsung tertawa dengan pemikiran konyolnya itu..

"Baiklah, aku akan mengikuti saran dari artikel ini. Biar bagaimana pun Chanyeol adalah suamiku dan ia adalah kunci emasku untuk bisa masuk ke surga."

.

.

.

'Tuan, bisakah anda datang kerumah saya? Ada beberapa alat elektronik dirumah saya yang harus diperbaiki. Saya tidak bisa pergi keluar karena saya punya anak kecil.'

Chanyeol hampir melompat kegirangan ketika ia akhirnya mendapat pesanan. Buru-buru ia membalas pesan dari calon customer pertamanya ini.

'Baik, saya akan segera kesana. Tolong kirimkan alamat lengkapnya segera.'

SEND

Chanyeol tersenyum sambil mengucap syukur di dalam hatinya, semoga ini bisa menjadi langkah awal baginya untuk kehidupan yang lebih baik.

Jam sudah menunjukan pukul 6 sore dan ini waktunya untuk pergantian shift, ia sudah bisa pulang dan segera pergi menuju rumah calon pelanggan pertamanya.

"Chanyeol oppa."

Soojung berjalan cepat menghampiri Chanyeol yang tengah bersiap pulang.

"Soojung ssi, apa yang kau lakukan disini?"

"Aku datang kemari untuk menemuimu, aku sangat merindukanmu oppa. bagaimana jika kita makan malam bersama hari ini? Kau mau kan?"

"Maaf aku tidak bisa, aku ada pekerjaan lain setelah ini."

"Sebentar saja, ayolah. Aku sangat ingin makan malam bersamamu."

Chanyeol menggeleng. "Tidak bisa Soojung ssi. Maaf aku harus segera pergi."

Chanyeol langsung berjalan cepat menaiki motornya dan pergi meninggalkan pekarangan tempat ia bekerja.

BRUUMM

"Chanyeol oppa.. Ish gagal lagi." Soojung berucap sambil mendengus kesal.

.

.

.

Pukul 21.30 malam Chanyeol memarkirkan motornya dipekarangan rumah. Total hari ini ada 5 orang pelanggan yang menyewa jasanya sebagai tukang reparasi online. Chanyeol tersenyum melihat amplop uang yang ia dapatkan malam ini. Jika tiap hari seperti ini terus, cepat atau lambat ia bisa melunasi seluruh hutangnya pada tuan Kangin dan menabung untuk masa depan anaknya kelak.

CKLEK

Ia membuka pintu rumah dan langsung melepaskan sepatunya.

"Kau sudah pulang Chanyeol ah."

"Ne, aku sud-"

Ucapan Chanyeol langsung terhenti ketika ia menegakan tubuhnya dan melihat sang istri yang terlihat berbeda dari biasanya. Sepertinya ia berdandan lagi seperti waktu itu, Baekhyun terlihat sangat cantik. Tubuhnya juga sangat harum dan sangat menggoda.

Baekhyun berjalan pelan sambil tersenyum kearah suaminya, tubuhnya sengaja ia lenggak lenggokan agar menimbulkan kesan sexy.

Chanyeol mendadak merasa tenggorokannya seolah mengering melihat tubuh gemulai Baekhyun berjalan dengan begitu anggunnya menuju kearahnya.

Baekhyun langsung mencium tangan suaminya yang terdiam layaknya patung.

"Aku sudah menyiapkan air panas untukmu dan aku juga sudah menyiapkan makanan untukmu. Air minum juga sudah aku sediakan di dalam kamar."

Entah perasaannya saja atau tidak, tapi Chanyeol seolah merasa Baekhyun seperti sengaja melembutkan suaranya ketika ia berbicara.

"N-ne, a-aku mau mandi dulu kalau begitu." ucap Chanyeol yang tiba-tiba tergagap karena tidak kuat ditatap dengan senyuman yang sangat manis dari sang istri.

Chanyeol langsung berjalan menuju kedalam kamar dan meminum segelas air yang sudah Baekhyun sediakan.

Baekhyun pun ikut masuk kedalam kamar dan menyentuh pundak suaminya itu. Chanyeol menoleh dan sedikit mengernyitkan alisnya bingung.

"Wae?"

Baekhyun menggeleng sambil masih tersenyum lembut. Ia langsung membuka kancing seragam Chanyeol dengan perlahan.

"Kenapa kau membuka kancing seragamku?"

"Bukankah kau hendak mandi? Aku hanya ingin membantumu saja."

Chanyeol sontak terdiam, ia merasa istrinya ini sedikit bersikap aneh. Tapi Chanyeol tetap membiarkan Baekhyun melepas seluruh pakaiannya bahkan sampai celana dalamnya juga.

Setelah Chanyeol benar-benar telanjang bulat, Baekhyun langsung mengambil semua pakaian kotor Chanyeol dan memasukannya kedalam keranjang.

Baekhyun memberikan sebuah handuk bersih pada Chanyeol. "Sekarang kau mandi lah, aku akan menyiapkan pakaian ganti untuk mu."

Chanyeol menerima handuk itu dan mengangguk dengan ragu. "Ne, terimakasih."

Ia lantas langsung berjalan keluar dengan hanya sebuah handuk yang melingkar dipinggangnya.

Chanyeol berjalan masuk kedalam kamar mandi dan menggantungkan handuknya dibelakang pintu.

CKLEK

Tepat ketika ia hendak menyiramkan air ketubuhnya, Baekhyun tiba-tiba saja masuk dan mengunci pintunya dari dalam.

"Ada apa Baek, kenapa kau tiba-tiba masuk kedalam kamar mandi?"

"Aku ingin membantumu membersihkan diri."

"Mwo?"

"Aku ingin memandikanmu Chanyeol ah, ayo sekarang berbaliklah biar aku gosok punggungmu."

"Tidak usah Baek, aku bisa mandi sendiri."

"Tapi aku ingin membantumu Chanyeol."

"Tidak perlu sayang, aku bisa mandi sendiri. Aku bukan anak kecil yang harus dimandikan segala." ucap Chanyeol sambil memegang kedua bahu sempit sang istri.

Baekhyun menghela nafasnya pelan. "Yasudah, aku pergi kalau begitu."

BRAKK

Tepat setelah Baekhyun menutup pintu kamar mandi, Chanyeol langsung tertawa terbahak-bahak. Astaga, apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya itu? Dia benar-benar bersikap aneh hari ini.

.

.

.

"Aku membeli makanan ini dari luar, eomma masih belum pulang sampai sekarang dan aku tidak bisa memasak. Tapi aku janji Chanyeol ah, aku akan giat belajar masak agar aku bisa membuatkan makanan yang enak untuk suamiku."

Chanyeol tersenyum, ia langsung duduk di meja makan dan menyantap hidangan yang tersedia dengan tenang. Sesekali ia menatap istrinya yang hanya duduk diam sambil menatap kearahnya.

"Kau tidak makan?"

"Aku sudah makan tadi, aku kan sedang hamil. Jadi aku tidak boleh telat makan."

Chanyeol mengangguk mengerti. "Lalu kenapa tidak istirahat saja? Kau tidak perlu menemaniku makan disini."

Baekhyun menggeleng cepat. "Ani, Baekkie punya kewajiban untuk menemani Chanyeol makan sampai selesai. Seorang istri tidak boleh meninggalkan suaminya sampai piring ditangannya benar-benar kosong."

Chanyeol terkekeh sambil mengangguk pelan. "Baiklah kalau begitu, kau benar-benar istri yang berbakti Baek."

Baekhyun tersenyum. "Tentu saja."

.

.

.

"Baek, apa yang sedang kau lakukan disitu? Ayo kemari."

Baekhyun yang sedang membereskan peralatan make up nya di depan cermin langsung menoleh ketika Chanyeol memanggilnya dan memberi kode untuk tidur diatas ranjang.

Apa Chanyeol sedang ingin melakukannya?

Tidak ingin membuat suaminya itu lama menunggu Baekhyun pun langsung bergegas dan membaringkan tubuhnya pasrah disamping sang suami.

Chanyeol tersenyum tipis, ia langsung menunduk dan hendak melumat bibir ranum istrinya itu.

Baekhyun sontak menahan dada bidang sang suami hingga membuat Chanyeol mengernyitkan alisnya bingung.

"Wae?"

"Chanyeol, Baekkie kan sedang hamil. Memangnya boleh melakukan itu sekarang?"

"Tentu saja boleh, Dokter Ahn bilang padaku jika kita tetap boleh melakukannya."

Baekhyun menghembuskan nafasnya lega kemudian. "Baiklah kalau begitu, silahkan lakukan sepuasnya Chanyeol ah. Aku milikmu."

Chanyeol tersenyum lagi. Ia langsung meraup bibir istrinya itu sekaligus melepaskan pakaian mereka berdua.

Chanyeol dengan cepat menyatukan tubuh mereka berdua hingga desahan demi desahan kenikmatan terdengar dimalam yang cukup sunyi ini.

.

.

.

Chanyeol memeluk tubuh telanjang istrinya itu dari belakang sambil terus mengecupi pipi dan telinga sang istri dengan gemas hingga si empunya terkikik karena geli.

"Chanyeol bolehkah aku bertanya sesuatu?"

"Apa itu?"

"Apakah kau puas dengan pelayanan Baekkie diatas ranjang?"

"Mwo? Pertanyaan macam apa itu?"

"Jawab saja Chanyeol ah."

Chanyeol tertawa untuk beberapa saat. "Tentu aku puas. Jika aku tidak puas, mana mungkin aku menyetubuhimu sampai berkali-kali."

Baekhyun tersenyum senang mendengarnya.

"Kenapa kau bertanya seperti itu Baek?"

"Sebenarnya tadi Baekkie membaca sebuah artikel di internet tentang kewajiban seorang istri terhadap suami mereka, dan salah satunya Baekkie tidak boleh menolak suami jika sedang ingin melakukan itu. Maka dari itu Baekkie bertanya apakah pelayanan Baekkie memuaskan atau tidak. Akan menjadi pahala yang besar untuk Baekkie jika suami Baekkie puas dengan pelayanan Baekkie."

Chanyeol sontak tertawa terbahak-bahak, ia bahkan sampai memegang perutnya karena itu.

"Chanyeol issshhh kenapa tertawa.. " Baekhyun tampak begitu kesal melihat suaminya itu malah tertawa.

Chanyeol memandang istrinya itu ketika ia sudah bisa menahan tawanya. "Kau ini kenapa polos sekali sih sayang? Jadi daritadi kau bersikap aneh itu karena kau ingin menjadi istri yang baik untukku?"

Baekhyun mengangguk dengan polos.

"Aku senang jika kau berusaha menjadi istri yang baik, tapi kau juga tidak perlu sampai melakukan hal-hal yang berlebihan. Menurutku kau sudah sangat cantik meskipun tanpa make up. Kau juga tidak perlu sampai melepaskan semua pakaian ku apalagi sampai ikut memandikanku seperti tadi. Aku bukan anak kecil lagi sayang. Dan jangan menyebut aktivitas ranjang kita sebagai sebuah pelayanan. Itu terdengar seperti kau hanyalah seorang budak seks untukku. Sejatinya sepasang suami istri itu harus saling memuaskan untuk urusan ranjang." ucap Chanyeol sambil mengusap kepala sang istri dengan lembut.

Baekhyun terdiam sejenak. "Baekkie hanya tidak ingin masuk neraka saja Chanyeol ah. Baekkie harus jadi istri yang baik supaya bisa masuk surga."

"Aku tidak akan membiarkanmu masuk kedalam neraka. Karena kau adalah istri yang baik untukku."

Baekhyun tersenyum. "Benarkah?"

"Tentu. Bagaimana dengan perutmu? Sudah lebih baik?"

"Iya, seharian ini aku sama sekali tidak merasakan mual, sepertinya calon anak kita mendengarkan ucapan ayahnya dengan baik."

"Benarkah?"

Chanyeol langsung menyentuh perut Baekhyun yang masih datar. "Terimakasih karena tidak membuat ibumu kesusahan sayang, appa dan eomma mencintaimu."

Baekhyun tersenyum, ia juga ikut menyentuh perut ratanya bersama dengan tangan Chanyeol.

"Aku mencintaimu Chanyeol ah."

"Aku juga mencintaimu istriku."

Mereka saling mengecup kemudian.

CUP

Chanyeol kembali memeluk tubuh kecil itu di dalam tubuh besarnya. Keduanya sama-sama memejamkan mata masing-masing untuk menuju ke alam mimpi.

Baekhyun tersenyum di dalam tidurnya.

'Tuhan, semoga kebahagiaan ini tidak cepat berakhir.. " ucapnya pelan jauh di dalam lubuk hatinya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

8 kewajiban istri terhadap suami itu author copas dari gugel tapi author edit. Ada beberapa yang dihapus dan poin yang ke8 itu pure author yang nambahin :v

Silahkan di review jika berkenan dan silahkan pergi jika kalian menganggap ff ini kurang pantas untuk dibaca.

See you in the next chap ~

Bye Bye :)