"Sini biar aku rapihkan Chanyeol."

Baekhyun mengambil sebuah gel rambut dan meratakannya pada rambut Chanyeol, setelah itu Baekhyun mengambil sebotol minyak wangi beraroma maskulin yang kemudian ia semprotkan ke seragam Chanyeol.

"Terimakasih sayang."

Baekhyun tersenyum. "Sama-sama."

Pria cantik itu kemudian merapihkan seragam suaminya dan semakin melebarkan senyumannya kemudian.

"Kau benar-benar security paling tampan yang pernah aku lihat."

Chanyeol tertawa kecil. "Dasar gombal."

"Aku serius Chanyeol, tidak ada security setampan dirimu di dunia ini."

Chanyeol terkekeh. "Terimakasih atas pujiannya."

"Kumis diwajahmu sudah mulai tumbuh Chanyeol ah, kau harus segera mencukurnya." Baekhyun menyentuh kumis tipis yang tumbuh diatas bibir suaminya dengan gemas.

"Kau pasti akan jauh terlihat lebih sexy jika memiliki kumis dan juga jambang."

"Kau ingin aku punya kumis?"

Baekhyun menggeleng. "Tidak, aku justru berniat untuk mencukur habis kumis mu. Nanti setelah pulang kerja aku akan melakukannya."

"Aku bisa pergi ke salon untuk memotong kumis ku sendiri Baek."

Baekhyun menggeleng cepat. "Pokoknya jangan pernah memotong kumismu jika bukan aku yang memotongnya."

Chanyeol terkekeh geli, ia akhirnya lebih memilih untuk mengalah. "Baiklah, aku tidak akan memotong kumisku jika bukan istriku sendiri yang memotongnya."

Baekhyun tersenyum senang. "Yasudah, ayo aku antar ke depan."

Baekhyun langsung memeluk tangan suaminya itu dengan manja dan berjalan keluar kamar.

"Sepertinya aku harus ke kamar mandi sebentar Baek." ucap Chanyeol yang tiba-tiba saja merasa ingin buang air.

Chanyeol berbalik arah dan berjalan pelan menuju kamar mandi, ketika ia membuka pintu kamar mandi, matanya langsung membelalak terkejut melihat dua buah ember yang terisi penuh oleh pakaian yang terendam deterjan.

"Baekhyun ah.. " Chanyeol langsung memanggil istrinya itu.

"Ada apa?" tanya Baekhyun yang sedikit bingung karena Chanyeol yang tiba-tiba memanggil namanya.

"Kenapa pakaian-pakaian ini bisa ada disini?"

Baekhyun melirik ember berisi pakaian itu sekilas. "Aku sengaja merendamnya dengan deterjan karena aku berniat mencucinya setelah ini."

"Sebanyak ini?"

Baekhyun mengangguk. "Cucian kotor dirumah kita sudah sangat menumpuk Chanyeol ah, eomma tidak bisa mencucinya karena pinggangnya sakit. Jadi jika bukan aku, siapa lagi yang akan mencuci pakaian?"

Chanyeol menghela nafasnya pelan sambil berkaca pinggang. "Yasudah, pakaian ini biar aku yang mencucinya nanti setelah pulang kerja. Sebaiknya kau istirahat saja dirumah."

"Apa, tapi kenapa?"

"Kau sedang hamil Baek, bagaimana bisa kau mencuci pakaian sebanyak ini? Aku takut terjadi sesuatu pada kandunganmu."

"Aku yakin tidak akan terjadi apa-apa Chanyeol. Kau tidak perlu khawatir."

Chanyeol tetap menggeleng dengan tegas. "Mungkin tidak masalah jika kau melakukan pekerjaan ringan seperti menyapu atau mengepel lantai. Tapi untuk mencuci pakaian sebanyak ini aku tetap tidak akan mengijinkanmu."

"Tapi kau pasti lelah jika harus bekerja sekaligus mengerjakan pekerjaan rumah."

"Aku lebih baik kelelahan daripada membiarkan istriku yang sedang hamil melakukan pekerjaan berat."

Baekhyun langsung terdiam, ia sangat bersyukur memiliki suami yang sangat luar biasa pengertian seperti Chanyeol.

"Aku tidak jadi buang air, aku harus segera berangkat ke tempat kerja. Kau harus janji padaku untuk tidak menyentuh cucian ini sampai aku pulang kerja nanti."

Baekhyun mengangguk sambil mengusap airmatanya pelan. "Iya aku janji Chanyeol ah."

Chanyeol tersenyum. "Yasudah, aku pergi kalau begitu. Kau hati-hati dirumah, jangan melakukan pekerjaan berat dan segera hubungi aku jika terjadi sesuatu."

Baekhyun mengangguk lagi. "Ne."

"Kau tidak ingin mengantarku sampai kedepan?"

"Tentu aku mau." ucap Baekhyun sambil tertawa pelan.

Chanyeol langsung menggenggam tangan lentik istrinya lembut dan berjalan beriringan sampai kedepan pintu rumah.

.

.

.

Chanyeol duduk dengan tenang di pos security sambil meminum secangkir kopi hitam yang ia buat di pantry tadi. Jam sudah menunjukan pukul 12.30 siang, itu artinya sudah masuk waktu istirahat makan siang.

Chanyeol agak sedikit kepikiran soal Baekhyun, ia tidak tega jika harus membiarkan istrinya itu melakukan pekerjaan berat yang bisa mempengaruhi kondisi kandungannya. Ia jadi berpikir untuk membelikan Baekhyun sebuah mesin cuci agar ia tidak perlu repot-repot mencuci pakaian dengan menggunakan tangan.

Tapi mesin cuci itu kan mahal, dari dulu Chanyeol dan ibunya sengaja tidak membeli mesin cuci karena selain mahal, hasil cucian dari mesin cuci juga tidak terlalu bersih. Tapi untuk sekarang sepertinya mau tidak mau ia harus membeli sebuah mesin cuci agar istri cantiknya itu tidak merasa kelelahan. Ia juga tidak ingin terjadi sesuatu pada calon anak mereka nanti.

"Chanyeol oppa.. "

Chanyeol tersadar dari lamunannya dan ia begitu terkejut ketika melihat Soojung berjalan pelan kearahnya.

"Soojung ssi? Kenapa kau ada disini?"

"Aku datang kemari sengaja untuk membawakan bekal makan siang untukmu. Kau pasti belum makan kan?"

Chanyeol menatap makanan yang dibawakan Soojung untuknya. "Maaf Soojung ssi, tapi sepertinya aku tidak bisa menerima ini. Aku bisa cari makanan diluar saja."

"Kenapa harus cari makanan diluar? Aku sudah susah payah datang kemari dan kau malah ingin makan diluar."

"Bukan begitu maksudku, tapi aku benar-benar tidak bisa menerimanya. Maafkan aku."

"Ck, setidaknya makan makanan ini walaupun hanya sedikit. Sekarang ayo cepat buka mulutmu, biar aku suapi." Soojung berusaha menyuapkan nasi dan lauk yang ia bawa pada Chanyeol.

"CHANYEOL AH."

Mereka berdua tampak begitu terkejut ketika Baekhyun tiba-tiba muncul sambil membawa sekotak bekal makan siang ditangannya. Dengan cepat ia berjalan menghampiri mereka berdua dan membuang makanan yang dibawa oleh Soojung.

PRAANGG

"YA! Apa yang kau lakukan Baekhyun ah?"

"Justru aku yang seharusnya bertanya padamu, apa yang lakukan bersama dengan suamiku disini?"

"Suamimu? Chanyeol suamimu?" Soojung tampak begitu terkejut.

"Iya, kenapa memangnya? Kau terkejut?"

Soojung sama sekali tidak bisa menutupi rasa keterkejutannya. Ia pikir Baekhyun menikah dengan seorang pria kaya. Ia sama sekali tidak menyangka jika Baekhyun justru menikah dengan seorang satpam seperti Chanyeol.

"Sebaiknya kau perhatikan sikapmu Soojung ah, aku tidak akan segan-segan untuk menamparmu jika kau masih berani menunjukan wajahmu dihadapan suamiku."

"Memangnya kenapa jika aku ingin bertemu dengan suamimu?"

"Kenapa masih bertanya? Jelas saja itu salah, apa kau tidak punya rasa malu berusaha mendekati suami orang?"

"Kenapa aku harus merasa malu? Aku sama sekali tidak merasa telah berbuat kesalahan."

Baekhyun yang mulai tersulut emosi pun langsung menjambak rambut perempuan itu hingga Soojung berteriak kesakitan.

"Aaaahh, lepaskan Baek. Sakit." Soojung berusaha melepaskan tangan Baekhyun yang menarik rambutnya kasar.

"Kau benar-benar perempuan tidak tau malu. Aku benar-benar membencimu Jung Soojung."

Chanyeol terlihat sangat terkejut dengan reaksi yang ditunjukan oleh Baekhyun. Dengan cepat ia berusaha memisahkan mereka berdua dan mencoba menghalangi Baekhyun yang terus berusaha menjambak rambut Soojung.

"Kemari kau, dasar perempuan tak tau malu." teriak Baekhyun penuh amarah.

"Soojung ah, aku minta maaf atas perlakuan Baekhyun. Sebaiknya sekarang kau pergi dari sini. Terimakasih untuk makanannya." ucap Chanyeol sambil terus mencoba menghalangi Baekhyun yang terus berontak.

Soojung terlihat sibuk merapihkan rambutnya yang kusut akibat di jambak oleh Baekhyun. Ia menatap pria kecil itu dengan tatapan kesal sebelum akhirnya pergi meninggalkan tempat itu.

"Ya! Kau mau pergi kemana? Urusan kita belum selesai!"

"Baekhyun hentikan, jangan berteriak seperti itu."

Baekhyun menghempaskan tangan suaminya itu dengan kasar. "Bagaimana aku tidak berteriak jika melihat suamiku sendiri di dekati oleh perempuan lain? Dan kenapa kau diam saja di dekati oleh perempuan itu?"

"Aku sudah menolak Soojung Baek, tapi ia terus memaksa agar aku mau memakan makanan yang ia bawa."

"Kenapa kau terus membelanya?"

"Aku tidak membelanya, tapi kau tidak boleh bersikap kasar seperti itu pada seorang wanita."

"Jadi maksudmu aku yang salah? Aku yang salah karena tidak suka jika suamiku di dekati oleh perempuan lain?" ucap Baekhyun dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

"Bukan seperti itu Baek, kau salah paham."

"Kau jahat Chanyeol ah hiks, kau jahat.."

Baekhyun menyerahkan kotak bekal makan siang yang ia buat untuk Chanyeol dan langsung berlari pergi meninggalkan Chanyeol kemudian.

Chanyeol tentu saja sangat panik melihat Baekhyun berlari seperti itu. Ia langsung mengejar Baekhyun dengan langkah seribu. Kaki-kakinya yang panjang serta postur tubuhnya yang lebih kuat dari Baekhyun membuat Chanyeol dengan begitu mudahnya menangkap Baekhyun dan langsung merengkuh tubuh itu kedalam pelukan hangatnya.

"Lepas.. Hiks.. "

Chanyeol lantas melepas pelukan mereka namun ia tetap memegang pundak sang istri dengan lembut.

"Jangan berlari seperti itu Baek, bagaimana jika terjadi sesuatu dengan kandunganmu? Kau ingin membuatku mati berdiri?"

"Baekkie tidak peduli hiks kau tidak perlu memperdulikan Baekkie lagi. Kau lebih peduli pada wanita itu daripada Baekkie."

"Kau ini bicara apa Baekhyun ah? Tentu saja aku peduli padamu, kau itu istriku."

"Bohong, Chanyeol bohong. Huweeeee aboeji.. " Baekhyun semakin menangis dengan keras sambil memanggil aboejinya.

Chanyeol mengusak rambutnya kasar. Setelah hamil Baekhyun jadi ratusan kali lebih sensitif dari sebelumnya.

"Baiklah-baiklah. Aku minta maaf, aku tau aku salah. Aku mohon maafkan aku ya?"

Chanyeol kembali membawa Baekhyun kedalam pelukannya. Kali ini Baekhyun tidak berontak, tapi ia masih terisak dengan lirih.

"Sekarang sebaiknya kita kembali ke pos security ya? Kita makan siang bersama disana, kau mau?"

Baekhyun menggeleng. "Baekkie mau pulang."

"Yasudah, biar aku antar kau pulang. Aku ambil motor dulu sebentar. Kau tunggu disini, jangan pergi kemana-mana."

.

.

.

Chanyeol pulang kerumah tepat pukul 10 malam, ia baru bisa pulang sekarang karena ia mendapat banyak orderan reparasi online tadi. Meskipun harus Chanyeol akui ia sangat lelah, tapi ia tetap bersyukur karena hari ini ia pulang kerumah dengan isi dompet yang penuh.

Chanyeol berjalan masuk kedalam rumah dan tidak mendapati Baekhyun yang menyambutnya seperti biasa.

Ia lantas masuk kedalam kamar dan mendapati istrinya itu tengah terbaring dengan posisi membelakanginya.

"Baek, kau sudah tidur?"

"Aku belum tidur." balas Baekhyun singkat tanpa berbalik sama sekali.

"Kau sudah makan?"

"Sudah. Aku sudah menghangatkan makanan untukmu jika kau ingin makan, aku juga sudah menyiapkan air panas untukmu mandi."

"Baiklah.. " Chanyeol sedikit mengernyitkan alisnya bingung melihat Baekhyun yang terkesan begitu dingin dan cuek padanya malam ini. Sepertinya Baekhyun masih marah karena kejadian tadi siang.

.

.

.

Baekhyun mengintip suaminya itu yang tengah sibuk mencuci pakaian di kamar mandi. Setelah selesai membersihkan diri, Chanyeol kemudian makan sendirian dimeja makan. Ia terlalu malas untuk menemani suaminya itu makan karena ia masih sangat kesal dengan kejadian tadi siang. Semoga Tuhan tidak melaknatnya atas perbuatannya malam ini.

Ini sudah larut, tapi Chanyeol masih tetap menepati janjinya untuk mencuci pakaian setelah ia pulang bekerja. Baekhyun tahu Chanyeol pasti sangat lelah, tapi ia juga tidak bisa membantu apa-apa karena Chanyeol pasti akan langsung melarangnya jika ia ikut mencuci baju. Alhasil ia hanya bisa mengintip dari balik tembok dapur sampai Chanyeol selesai mencuci.

Setelah menunggu selama hampir 2 jam lebih, Chanyeol akhirnya selesai mencuci 2 ember besar pakaian kotor mereka sekeluarga. Pria itu berjalan pelan keluar dari kamar mandi untuk segera merebahkan tubuh lelahnya di atas ranjang.

Baekhyun buru-buru masuk kedalam kamar dan berpura-pura tidur. Tak lama kemudian Chanyeol pun ikut masuk kedalam kamar dan langsung melepas kaos yang ia pakai hingga kini ia bertelanjang dada.

Chanyeol melihat istrinya itu yang ia kira sudah tertidur dengan pulas. Chanyeol lantas membenarkan letak selimut sang istri dan ia pun ikut membaringkan tubuh lelahnya disamping Baekhyun dengan posisi terlentang. Karena sudah terlalu lelah, Chanyeol pun langsung tertidur dengan begitu pulasnya.

Baekhyun membuka matanya pelan, ia membalikan tubuhnya dan menatap suaminya itu dengan pandangan lembut. Ia lantas membagi selimutnya dan menyelimuti tubuh kekar suaminya itu hingga sebatas dada. Ia pun ikut memejamkan matanya lagi setelah itu.

.

.

.

Chanyeol terbangun sekitar pukul 3 pagi. Ia mengusap ranjang sebelah kirinya dan sama sekali tidak mendapati Baekhyun yang terbaring disana. Ia langsung bangkit dari kasurnya dan berjalan keluar kamar untuk mencari keberadaan Baekhyun.

Baekhyun ternyata berada di dapur, pria cantik itu sedang membuka almari dapur dan mengobrak-abrik isinya.

"Baekhyun ah.. "

Baekhyun langsung terlonjak kaget, ia berbalik dan menatap suaminya yang ternyata ikut terbangun.

"Apa yang sedang kau lakukan malam-malam begini?"

Baekhyun nampak sedikit tergagap. "A-aku lapar Chanyeol, aku ingin makan bulgogi." ucapnya sambil tertunduk malu.

Chanyeol sontak terdiam. Ia pernah mendengar hal yang seperti ini dari teman-temannya yang sudah menikah lebih dulu. Ketika istri mereka hamil, mereka akan bangun di malam hari dan menginginkan sesuatu secara tiba-tiba atau yang sering disebut dengan istilah ngidam. Sepertinya Baekhyun juga sudah mulai mengalami hal yang sama malam ini.

Chanyeol melirik jam yang menggantung di dinding dapur. Pukul 3 pagi, kemana ia harus mencari bulgogi di jam segini?

"Yasudah, kau tunggu sebentar disini. Aku akan keluar dan mencari bulgogi untukmu."

"Aku ikut Chanyeol, aku juga ingin ikut mencari bulgogi bersamamu."

Chanyeol langsung menggeleng. "Udara diluar sangat dingin, itu tidak bagus untuk kandunganmu. Kau tunggu saja disini. Biar aku yang pergi keluar."

Baekhyun akhirnya mengangguk patuh tak berani melawan perintah suaminya.

Chanyeol langsung berbalik untuk mengambil jaket dan mengambil kunci motornya. Setelah itu ia langsung pergi mencari kedai bulgogi yang masih buka.

Baekhyun menatap kepergiaan suaminya itu dalam diam. Ia juga tidak tau kenapa ia begitu menginginkan bulgogi tengah malam begini.

.

.

.

CKLEK

Chanyeol membuka pintu kamar mereka setelah 2 jam berkeliling Ibukota Seoul mencari kedai bulgogi yang masih buka. Untungnya ia bisa menemukan kedai yang buka 24 jam meskipun jaraknya sangat jauh dari rumah mereka.

Pria tinggi itu menghela nafasnya pelan ketika melihat istrinya tertidur dengan begitu pulasnya diatas kasur mereka. Sepertinya ia ketiduran karena terlalu lama menunggunya.

Sekarang apa yang harus ia lakukan dengan seporsi bulgogi hangat yang ia bawa ditangannya ini?

Jam sudah menunjukan pukul 5 pagi dan demi Tuhan Chanyeol amat sangat mengantuk sekarang. Tapi ia tidak bisa tidur lagi karena ia harus segera bersiap untuk kembali bekerja.

.

.

.

Baekhyun duduk diruang tamu dengan tubuh yang sangat lemas. Sedari tadi ia terus muntah karena merasa sangat mual. Chanyeol sepertinya lupa mengucapkan salam perpisahan pada calon anaknya sebelum ia berangkat kerja tadi hingga kini sang jabang bayi melampiaskan rasa kesalnya pada Baekhyun.

Rumah benar-benar terasa sepi, ibu mertuanya pergi mengurus adiknya yang sedang sakit dikampung dan entah kapan ia akan pulang. Ayahnya juga masih belum bisa dihubungi karena ia masih berada di Kanada. Sampai sekarang pun ayahnya masih belum tau jika ia tengah mengandung.

Dan soal Chanyeol, pria itu langsung berangkat kerja tadi pagi tanpa sarapan sama sekali karena ia terlambat bangun. Baekhyun jadi merasa begitu bersalah, Chanyeol bahkan tidak tidur dengan cukup karena harus berkelliling Seoul mencari kedai bulgogi yang masih buka tadi malam. Dan ketika bulgogi nya sudah dapat, Baekhyun tidak bisa memakannya karena makanan itu langsung ia muntahkan kembali efek dari morning sick yang begitu hebat ia rasakan.

TOK TOK TOK TOK

Baekhyun sedikit mengernyit ketika mendengar pintu rumahnya diketuk dari luar.

TOK TOK TOK TOK

Dengan sekuat tenaga Baekhyun berusaha bangkit dari sofa dan berjalan pelan untuk membukakan pintu.

CKLEK

"Permisi, apa benar ini kediaman Keluarga Park?"

"Iya benar, maaf anda siapa ya?"

"Saya adalah kurir yang diminta oleh Tuan Park Chanyeol untuk mengantarkan mesin cuci ini untuk istrinya."

"Saya istrinya Chanyeol.. " Baekhyun menatap sebuah mesin cuci berukuran sedang lengkap dengan pengeringnya juga.

"Tolong tanda tangan disini tuan." kurir itu menyodorkan secarik kertas kwitansi penerimaan barang yang harus ditanda tangani oleh Baekhyun.

Baekhyun pun lantas menandatangi kwitansi itu dengan pelan.

"Dimana saya harus menyimpan mesin cuci ini tuan?"

"Di dapur saja, kau bisa menyimpannya di dapur."

Kurir itu mengangguk pelan.

"Bolehkah aku bertanya sesuatu?"

"Apa itu tuan?"

"Apakah Chanyeol membeli mesin cuci ini secara cash atau.. "

"Tuan Chanyeol membeli mesin cuci ini secara kredit, beliau akan menyicilnya sampai 9 bulan kedepan."

"Ne? 9 bulan?" Baekhyun tampak begitu terkejut.

Kurir itu mengangguk pelan. Baekhyun menatap mesin cuci berwarna putih itu dengan mata yang berkaca-kaca. Chanyeol benar-benar sangat memperhatikannya.

.

.

.

"Chanyeol ah, terimakasih banyak. Sekarang mobilku sudah-"

Lee Dong Wook seorang duda beranak satu berusia 45 tahun itu adalah salah satu tetangga yang cukup dekat dengan Chanyeol. Malam ini ia sengaja memanggil Chanyeol untuk memperbaiki mobilnya yang sering mogok. Ia berniat berterimakasih pada pria bertelinga caplang itu karena sudah memperbaiki mobilnya namun ia langsung terdiam ketika melihat pria itu tertidur dengan posisi tertuduk sambil masih memegang obeng ditangannya.

Dong Wook tersenyum. Ia menggoyangkan tubuh tegap itu pelan hingga si empunya mengerjapkan kedua bola matanya pelan.

"Ah hyung.. Mobilmu sudah beres?"

Dong Wook tertawa pelan. "Sudah.. Kau terlihat sangat kelelahan."

"Iya, aku sangat mengantuk. Aku benar-benar kelelahan."

"Kalau begitu sebaiknya kau segera pulang dan beristirahat. Terimakasih sudah membantuku. Ini uang yang sudah aku janjikan." Dong Wook memberikan sekitar 16 ribu Won kepada Chanyeol.

Chanyeol tersenyum sambil menerima uang itu. "Terimakasih hyung."

"Sama-sama. Ayo cepat pulang. Istrimu pasti sudah menunggu dirumah."

.

.

.

Pukul 22 tepat Chanyeol menginjakan kakinya di rumah kecilnya yang langsung disambut oleh Baekhyun. Chanyeol agak terkejut dibuatnya. Ia pikir Baekhyun masih marah padanya.

Baekhyun sendiri tidak banyak bicara. Ia melakukan tugas dan kewajibannya seperti biasa seperti melepaskan sepatu Chanyeol dan mencuci kaki suaminya itu dengan air hangat.

Baekhyun juga menyiapkan air panas untuk Chanyeol mandi dan menemani pria itu makan sampai selesai.

Sekarang Chanyeol tengah berdiri dihadapan cermin kamar mandi sambil memperhatikan kumis nya yang mulai tumbuh diatas bibir. Baekhyun yang melihat itu pun langsung berjalan masuk kedalam kamar mandi sambil membawa pisau cukur. Ia berdiri dihadapan suaminya hingga membuat pria tinggi itu terkejut.

"Aku sudah berjanji untuk mencukur kumis suamiku."

Chanyeol terdiam, kemudian ia tersenyum dengan sangat tampan. Baekhyun pun langsung mengoleskan sabun diwajah suaminya itu dan mulai memotong kumis Chanyeol dengan sangat hati-hati.

Jarak mereka benar-benar sangat dekat. Tubuh mereka bahkan sudah menempel dan hanya tinggal se inchi lagi bibir Chanyeol dan mata Baekhyun menempel. Deru nafas hangat Chanyeol terasa menerpa wajah Baekhyun dan ia pun akhirnya sadar jika sang suami tengah menatapnya intens.

Baekhyun mencoba untuk tetap fokus namun Chanyeol justru menahan kedua tangannya dan meraup bibir Baekhyun dengan begitu lembut. Baekhyun cukup terkejut dibuatnya, ia mencengkeram kaos yang Chanyeol kenakan namun Chanyeol justru semakin memperdalam ciuman mereka hingga akhirnya Baekhyun melenguh dan jatuh kedalam pelukan Chanyeol. Chanyeol terus melumat bibir istrinya itu seolah ia hendak memakannya sampai habis. Baekhyun hanya bisa menutup matanya pasrah atas apa yang Chanyeol perbuat terhadapnya.

Chanyeol menjadi orang pertama yang melepaskan ciuman mereka. Ia menatap sang istri yang menyandar lemas pada dada bidangnya. Dengan gerakan lembut ia menyentuh pundak istrinya itu hingga kembali berdiri tegak dan menatap kedua bola mata indahnya.

"Kau masih marah padaku?"

Baekhyun menggeleng. "Tidak Chanyeol."

"Syukurlah kalau begitu, aku pikir kau masih marah padaku."

Chanyeol mengelus wajah mulus istrinya itu dengan gerakan seduktif. "Kau sangat cantik sayang.. "

Baekhyun tersipu malu mendengarnya.

"Aku menginginkanmu.. " ucap Chanyeol dengan suara beratnya ditelinga Baekhyun.

Baekhyun terkejut mendengarnya. "Disini?"

Chanyeol mengangguk. "Kita lakukan saja disini."

Baekhyun meneguk ludahnya kasar. Tapi ia tetap mengangguk dan menyetujui permintaan suaminya itu.

Chanyeol lantas langsung mengangkat tubuh istrinya untuk duduk diatas bak mandi dan melepas celananya pelan.

Chanyeol pun ikut membuka celananya sampai sebatas paha dan mulai mengocok benda yang sangat besar itu hingga menegang sempurna.

"Buka pahamu lebar-lebar sayang."

Baekhyun mengangguk, ia membuka pahanya lebar dan Chanyeol pun langsung menancapkan batang kelelakian miliknya pada lubang kecil nan hangat milik istrinya itu.

JLEB

"Aaaaaahhh.. "

Baekhyun meringis pelan. Ia mencengkeram pundak suaminya itu dengan kencang karena rasa perih yang terasa dilubangnya karena penetrasi yang dilakukan tanpa pemanasan.

"Ssssstt.. Rileks sayang." Ucap Chanyeol berusaha menenangkan.

Baekhyun pun mengangguk patuh, ia berusaha untuk rileks meskipun keringat dingin mulai mengucur ditubuhnya.

Chanyeol mulai menggerakan pinggulnya dengan pelan berusaha untuk tidak melukai janin di dalam perut Baekhyun.

PLOK PLOK PLOK PLOK

"Ahhhh.. "

Baekhyun mulai melenguh ketika penis besar Chanyeol berhasil menyentuh titik kenikmatannya.

PLOK PLOK PLOK PLOK

Chanyeol terus menggerakan pinggulnya dengan tempo sedang. Ia sangat menikmati saat dimana penis besarnya diremas dengan begitu kuat oleh dinding rektum Baekhyun. Rasanya benar-benar sangat nikmat.

"Ahhhh Chanyeolllhhh.. "

Mereka terus seperti itu selama lima belas menit lamanya hingga keduanya sudah tidak tahan untuk menjemput ejakulasinya masing-masing.

PLOK PLOK PLOK PLOK

"Chann.. Akuuhh.. Tidakkhh.. Kuatthh.. "

"Bersamahh sayanggg.. "

PLOK PLOK PLOK PLOK

CROTT

"Ahhhhh.. "

Baekhyun mendesah nikmat ketika ejakulasi itu datang menyembur membasahi baju Chanyeol. Chanyeol sendiri hanya mampu menggeram rendah ketika batang kelelakiannya menyemburkan lahar panasnya di dalam tubuh Baekhyun.

Keduanya terengah-engah dengan keringat yang mengucur ditubuh masing-masing. Chanyeol membawa Baekhyun kembali kedalam ciuman memabukan yang penuh rasa kasih.

Keduanya sama-sama tersenyum lembut kemudian.

"Aku mencintaimu Baekhyun ah."

"Aku juga mencintaimu Chanyeol ah."

.

.

.

Di dalam kamar, mereka kembali melanjutkan ronde kedua dengan penuh gairah dan sangat erotis. Keduanya sudah telanjang bulat dengan posisi Chanyeol yang menindih tubuh kecil Baekhyun dibawahnya. Penis Chanyeol masih menyatu dengan lubang rektum Baekhyun sekalipun ia telah ejakulasi sebanyak dua kali.

Baekhyun mengusap keringat yang mengucur diwajah tampan suaminya. "Tadi ada seorang kurir yang mengantarkan mesin cuci untukku. Apakah kau yang membelikannya?"

Chanyeol mengangguk. "Ya, aku membelikannya untuk mu agar kau tidak perlu repot mencuci baju secara manual lagi. Aku akan menyicil pembayarannya sampai 9 bulan kedepan."

Baekhyun tersenyum lembut. "Terimakasih Chanyeol, kau benar-benar sangat memperhatikanku."

"Aku melakukan ini semata-mata untuk calon anak kita. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada calon anak kita."

Baekhyun tersenyum lagi. "Ne, aku juga tidak ingin terjadi sesuatu pada anak kita."

CUP

Chanyeol mengecup bibir istrinya itu lembut. "Kau lelah? Istirahatlah, Aku akan menjagamu sampai kau terlelap."

Baekhyun mengangguk pelan. "Sebelum aku tidur, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu."

"Apa itu?"

"Kenapa kau sering sekali pulang malam Chanyeol ah?"

Chanyeol terdiam sejenak. "Sekarang aku juga membuka jasa reparasi online Baek. Aku mendapatkan banyak penghasilan tambahan dari situ."

"Reparasi online? Memangnya penghasilan dari menjadi satpam masih belum cukup?"

"Bukan begitu Baek, aku bekerja mencari tambahan uang untuk bekal masa depan anak kita nanti. Biar bagaimana pun aku ini ayahnya, aku berkewajiban untuk memenuhi segala kebutuhannya kelak termasuk soal pendidikannya juga. Aku ingin menabung dari sekarang agar ia bisa bersekolah sampai jenjang yang paling tinggi dan menjadi orang yang sukses. Tidak seperti ayahnya yang hanya lulusan SMA dan seorang pekerja kasar sepertiku. Aku ingin membuktikan kepada semua orang bahwa aku bisa membahagiakan anak dan istriku dengan hasil jerih payahku sendiri."

Baekhyun tersenyum, namun ia tak sanggup untuk menahan airmatanya agar tidak lolos. Ia benar-benar terharu atas perjuangan Chanyeol demi membahagiakan dirinya dan juga calon anaknya kelak. Ia benar-benar berusaha keras dengan jerih payahnya sendiri tanpa mengandalkan belas kasihan dari orang lain.

Baekhyun harus berterimakasih pada ayahnya karena sudah memilihkan jodoh terbaik untuknya.

Ia pun lantas langsung memeluk tubuh kekar itu dengan erat.

"Aku sangat mencintaimu Chanyeol, aku sangat mencintaimu.. "

Chanyeol tersenyum kecil. "Aku juga sangat mencintaimu istriku."

.

.

.

"Sehun oppa.. "

Sehun yang tengah bersantai sambil menonton acara televisi tampak sedikit terkejut ketika Soojung tiba-tiba saja masuk kedalam apartemennya.

"Kenapa kau bisa masuk kedalam apartemenku?"

"Kau tidak pernah mengubah sandi apartemenmu oppa.. " ucap Soojung santai sambil duduk disamping pria albino itu.

"Ada apa kau datang malam-malam begini ke apartemenku?"

"Aku sudah menemukan keberadaan Baekhyun.. "

Sehun sontak terkejut. "Benarkah?"

Soojung mengangguk. "Dan kau tau apa yang begitu membuatku terkejut? Ternyata dia menikah dengan pria yang aku ceritakan padamu tempo lalu. Park Chanyeol, pria yang ingin aku jadikan sebagai bodyguardku."

"Park Chanyeol? Maksudmu Chanyeol yang juga pernah bekerja untukku?"

Soojung mengangguk lagi. "Ne, Chanyeol yang juga pernah bekerja padamu sebagai seorang kuli bangunan."

"Apa kau bercanda? Mana mungkin Baekhyun menikah dengan pria seperti Chanyeol."

"Aku juga awalnya sempat merasa ragu. Tapi itulah kenyataannya. Baekhyun sendiri yang berkata padaku jika Chanyeol adalah suaminya."

"Kau sudah bertemu dengannya?"

"Iya sudah, sekarang Chanyeol bekerja sebagai seorang security di perusahaan yang dipimpin oleh pamanku. Aku sempat kesana kemarin sambil membawakan bekal makan siang untuk Chanyeol. Tapi tiba-tiba saja Baekhyun datang dengan membawa bekal makanan yang sama. Ia sangat marah ketika melihatku ada disana. Ia bahkan langsung menjambak rambutku secara membabi buta."

Sehun terkekeh pelan mendengarnya. "Baekhyun masih tetaplah ganas seperti dulu."

"Dia masih tetap menyebalkan seperti dulu." ucap Soojung menambahkan.

"Tapi apapun itu aku masih tidak percaya jika Donghae Ahjussi membiarkan putra kesayangannya menikah dengan seseorang seperti Chanyeol. Ia menolak mentah-mentah pria kaya sepertiku dan malah menerima pria miskin seperti Chanyeol. Bukankah ini terdengar sangat konyol?"

"Kau jangan merendahkan Chanyeol oppa seperti itu, dilihat dari sudut manapun jelas Chanyeol oppa jauh lebih baik darimu."

Sehun merotasikan bola matanya malas. "Terserah apa katamu saja adik nakal.. "

Soojung kemudian mengeluarkan sebuah kertas berisi biodata pribadi Chanyeol.

"Aku mendapat ini dari staff HRD yang menerima Chanyeol bekerja di perusahaan pamanku. Disini tertulis dengan jelas alamat rumah Chanyeol oppa yang berarti Baekhyun juga tinggal disana. Kira-kira apa yang akan kau lakukan setelah melihat ini?"

Sehun membaca kertas biodata itu dengan seksama. "Tentu aku akan segera menemui Baekhyun dan berbicara empat mata dengannya."

Soojung tersenyum senang. "Aku juga akan menemui Chanyeol oppa dirumahnya nanti. Aku punya hadiah spesial untuknya."

.

.

.

.

.

.

TBC

See you in the next chap wkwk :)