Ini adalah hari libur, Chanyeol tidak bekerja dan ia lebih memilih untuk menerima tawaran reparasi alat-alat elektronik dirumahnya. Waktu masih menunjukan pukul setengah 10 pagi tapi pria perkasa itu sudah menerima sekitar 5 pesanan yang harus ia selesaikan sore ini juga. Ia duduk diruang tengah sambil terus fokus pada televisi yang tengah ia perbaiki.
Baekhyun datang menghampiri suaminya itu sambil membawa sepiring nasi goreng dan secangkir kopi hitam.
"Kau lupa sarapanmu Chanyeol ah."
"Nanti saja sayang, aku sedang sibuk sekarang. Sore ini harus sudah selesai."
"Iya aku tau, tapi kau tetap tidak boleh melupakan sarapanmu. Aku tidak mau kau sakit."
"Aku tidak sempat Baek, nanti saja."
Baekhyun berdecak kesal. Ia lantas mengambil sesendok nasi goreng dan bersiap menyuapi suami tampannya itu.
"Ayo buka mulutmu."
Chanyeol mengalihkan atensinya sebentar pada Baekhyun dan menghela nafas kemudian.
Baekhyun tersenyum manis ketika Chanyeol akhirnya mau membuka mulutnya dan ia pun dengan segera menyuapi lelakinya itu.
"Enak?"
Chanyeol mengangguk, ia kembali memfokuskan atensinya pada televisi yang tengah ia perbaiki.
Baekhyun tersenyum. Chanyeol benar-benar sosok suami idaman. Pria itu tidak pernah mengenal kata lelah dalam mencari nafkah untuk keluarga, ia merasa begitu beruntung karena memiliki suami yang punya rasa tanggung jawab yang begitu besar seperti Chanyeol. Calon anak mereka kelak juga sangat beruntung memiliki ayah seperti Chanyeol. Baekhyun sangat yakin, dibawah didikan Chanyeol anaknya akan tumbuh menjadi anak yang baik nantinya.
CUP
Refleks Baekhyun mengecup bibir tebal suaminya itu hingga si empunya menoleh sambil mengernyitkan alisnya bingung.
"Wae?"
Baekhyun menggeleng. "Aku hanya ingin bilang jika aku sangat mencintaimu Chanyeol ah."
Chanyeol lantas tersenyum geli. "Aku juga mencintaimu Baekhyun ah."
TOK TOK TOK TOK
Atensi keduanya langsung teralih ketika mendengar suara pintu yang diketuk dari luar.
"Biar aku yang buka."
"Tidak, biar aku saja. Kau lebih baik habiskan sarapanmu dulu." ucap Baekhyun ketika Chanyeol hendak berdiri untuk membukakan pintu.
Baekhyun langsung berdiri dan berjalan pelan untuk membuka pintu rumah.
CKLEK
"Baekkie ya.. "
Baekhyun membulatkan matanya terkejut, ia langsung berteriak histeris. "ABOEEEJIIIIII..." Ia memeluk pria setengah baya yang telah merawat dan membesarkannya itu dengan erat.
Donghae tertawa, ia balik memeluk tubuh mungil putra yang ia sayangi melebihi dirinya sendiri itu dengan tak kalah erat.
"Hiks.. Aboeji kenapa baru muncul sekarang? Baekkie sangat merindukan aboeji."
"Maafkan aboeji sayang, kemarin itu aboeji sangat sibuk mengurus cabang perusahaan keluarga kita di Kanada. Terjadi kekacauan besar disana, maka dari itu aboeji tidak bisa cepat pulang ke Korea karena aboeji harus turun tangan sendiri. Tapi sekarang semuanya sudah terkendali, aboeji senang sekali bisa bertemu dengan putra kesayangan aboeji lagi."
Baekhyun lantas tersenyum, ia kembali memeluk tubuh kekar sang ayah untuk melepas rasa rindu.
"Oh iya Baek, aboeji dengar dari Jessica katanya kau sedang hamil? Apa itu benar?"
Baekhyun semakin melebarkan senyumannya mendengar pertanyaan sang ayah. Sambil tersenyum malu-malu ia mengangguk dengan pelan.
"Ne, sudah satu bulan."
Donghae sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa terkejut sekaligus bahagianya, ia langsung mengangkat tubuh sang putra dan memutarnya dengan pelan.
Baekhyun hanya bisa tertawa melihat ekspresi kebahagiaan diwajah ayahnya, ia jadi teringat Heechul yang juga sangat bahagia ketika pertama kali tau jika ia tengah mengandung buah cintanya bersama Chanyeol.
Chanyeol yang mendengar suara ribut-ribut dari arah depan pun langsung berdiri dari duduknya dan berjalan keruang depan. Ia cukup terkejut ketika melihat ayah mertuanya yang datang.
"Ah Chanyeol ah.. " Donghae langsung menurunkan tubuh sang anak dan langsung berjalan untuk memeluk menantu kesayangannya itu.
Chanyeol terdiam ketika Donghae tiba-tiba saja memeluknya dengan erat. Ia menatap Baekhyun seolah bertanya apa yang terjadi namun hanya dibalas senyuman kecil diwajah cantik istrinya itu.
Donghae melepaskan pelukannya. Ia menyentuh pundak tegap sang menantu dan menatap Chanyeol dengan pandangan bangga.
"Kau benar-benar seorang laki-laki sejati Chanyeol ah, aboeji bangga padamu."
Chanyeol sedikit mengernyitkan alisnya bingung, namun melihat Donghae yang terlihat begitu bahagia membuat Chanyeol juga ikut tersenyum kemudian.
.
.
.
"Sebaiknya untuk sementara kalian tinggal dulu saja dirumah aboeji, Heechul kan sedang tidak ada dirumah. Jika kalian tinggal dirumah aboeji, Baekhyun juga ada yang menjaga jika Chanyeol pergi bekerja. Setidaknya sampai Heechul kembali. Bagaimana?"
Chanyeol dan Baekhyun berpandangan untuk sejenak. Jika dipikir-pikir itu memang jauh lebih baik daripada Chanyeol harus meninggalkan Baekhyun sendirian dirumah.
"Aku ikut Chanyeol saja aboeji, jika dia setuju, aku juga setuju."
Donghae lantas mengalihkan atensinya pada pria bertelinga lebar itu. Chanyeol pun lantas mengangguk, ia sama sekali tidak merasa keberatan jika Baekhyun tinggal bersama ayahnya.
"Baguslah kalau begitu, sekarang sebaiknya kalian berkemas dan segera pergi kerumah aboeji. Aboeji sudah tidak sabar ingin menghabiskan waktu bersama anak dan menantu kesayangan aboeji."
"Tapi hari ini aku ada pekerjaan yang harus aku selesaikan aboeji. Aku harus memperbaiki beberapa alat elektronik."
"Yasudah, kalau begitu kau bawa saja barang-barangnya kerumah aboeji. Kau bisa memperbaikinya disana."
Baekhyun memeluk lengan kekar suaminya itu dan menatap Chanyeol dengan tatapan manja.
"Chanyeol ayolah, kita kerumah aboeji sekarang ya? Aku mohon.."
Chanyeol langsung luluh dengan tatapan maut itu, ia sama sekali tak punya kuasa untuk menolak permintaan istrinya jika sudah ditatap seperti itu.
"Baiklah, kita pergi kerumah aboeji sekarang."
"Yeayyy.. " Baekhyun langsung melonjak girang dan tersenyum bahagia.
.
.
.
"Ahhhhh akhirnya Baekkie bisa tidur dikamar ini lagi.. " Baekhyun langsung berjalan cepat dan berguling-guling diatas kasur Queen-size miliknya.
"Pelan-pelan Baek, jaga kandunganmu. Ingat kau sedang hamil." ucap Chanyeol yang merasa begitu khawatir terjadi sesuatu pada kandungan istrinya.
Chanyeol berdiri di depan pintu kamar istrinya itu yang bahkan jauh lebih luas daripada rumahnya. Nuansa kamar Baekhyun di dominasi oleh warna pink persis seperti kamar anak perempuan.
"Bagaimana Chanyeol ah? Sepertinya kau kurang nyaman ya jika harus tidur dikamar yang terkesan sangat feminim seperti ini?"
Chanyeol tersenyum. "Tidak apa-apa aboeji, aku sama sekali tidak merasa keberatan."
Donghae ikut tersenyum. "Yasudah kalau begitu. Kau bisa lanjutkan pekerjaan mu yang sempat tertunda tadi. Aboeji permisi dulu.. " ucap Donghae sambil berlalu pergi keruang kerjanya.
"Ne, terimakasih aboeji."
"Chanyeol suamiku, ayo kemari sayang.. " Baekhyun memanggil suaminya itu dengan suara manja.
Chanyeol berjalan pelan dan duduk disamping istrinya itu. "Kau senang?"
"Tentu saja aku senang, aku sangat merindukan kamarku."
Chanyeol melirik setiap sudut kamar Baekhyun dengan seksama. Ada kamar mandi, AC, televisi dan juga audio speaker. Atensinya kemudian beralih menatap laci berukuran sedang yang terletak disamping tempat tidur Baekhyun. Ia langsung terdiam ketika mata bulatnya tak sengaja melihat sebuah pigura foto pria albino yang terpajang diatasnya.
Ternyata Baekhyun masih menyimpan foto dari mantan kekasihnya itu.
"Baek, foto siapa itu?"
Baekhyun seketika menoleh dan terkejut ketika Chanyeol menunjuk foto Sehun. Buru-buru ia ambil foto itu dan menyembunyikannya dibelakang tubuhnya.
"S-sepertinya maid dirumah aboeji lupa untuk membersihkan kamarku, aku sama sekali tidak tau jika foto ini masih terpajang disini." ucap Baekhyun sambil tertawa kaku.
Chanyeol hanya bisa menghela nafas melihatnya. "Tidak apa-apa, aku mengerti. Sebaiknya kau istirahat dulu. Aku mau menyelesaikan pekerjaan ku."
Baekhyun mengangguk. Chanyeol langsung bangkit dan berjalan keluar kamar.
Baekhyun menghembuskan nafasnya kesal kemudian. "Aku benar-benar bodoh.. Kenapa tidak ada yang menyembunyikan foto Sehun dikamarku?"
.
.
.
Pria tinggi itu berjalan menyusuri rumah mewah nan megah yang mirip seperti rumah-rumah para chaebol dalam drama yang sering ibunya tonton. Rumah Donghae aboeji memang sangat luas dan besar. Banyak sekali barang-barang antik seperti lukisan, patung, guci dan lampu-lampu bernilai seni tinggi yang terpajang hampir disetiap penjuru tempat.
"Yang tadi itu suaminya Tuan Baekhyun.."
Langkah Chanyeol terhenti ketika ia berjalan melewati dapur. Ia melihat ada sekitar 3-4 orang pembantu yang sedang membicarakan sesuatu.
"Sebenarnya aku masih tidak mengerti kenapa Tuan Donghae menikahkan Tuan Muda Baekhyun dengan pria seperti itu." ucap salah seorang maid berambut pendek.
"Aku juga agak terkejut melihatnya, aku pikir tuan muda akan dijodohkan dengan pria kaya, tapi ternyata aku salah."
"Tapi jika dilihat-lihat pria yang menjadi suami tuan muda sangat tampan dan gagah. Hanya saja sepertinya ia bukan berasal dari keluarga kaya.. "
"Memang bukan, kau tau? Tadi bahkan pria itu datang kemari sambil membawa beberapa televisi rusak untuk ia perbaiki. Ia terlihat seperti seorang tukang service."
"Benarkah? Wah aku jadi merasa kasihan pada tuan muda."
"Benar, aku juga berpikir seperti itu. Menurutku Tuan Sehun sangat cocok untuk menjadi suami tuan muda. Ia sangat tampan, tinggi dan juga kaya. Dia benar-benar sosok suami idaman. Aku tidak mengerti kenapa Tuan Donghae tidak menyukai Tuan Sehun."
"Tuan Sehun dan Tuan Muda Baekhyun terlihat seperti Song Joong Ki dan Song Hye Kyo. Sedangkan dengan pria miskin itu, justru terlihat seperti Beauty and the Beast haha.. "
Para pembantu itu terus tertawa kencang tanpa mengetahui jika Chanyeol mendengar semua percakapan mereka. Chanyeol mengepalkan tangannya erat. Ia marah tentu saja, tapi ia juga tidak bisa membantah ucapan mereka. Apa yang mereka katakan memang benar adanya. Baekhyun tidak pantas untuknya dan ia memang tidak pantas untuk Baekhyun.
"Tuan Chanyeol?"
Chanyeol menoleh ketika melihat seorang pria setengah baya berjalan pelan kearahnya. "Perkenalkan, saya Tuan Lee. Saya adalah kepala pelayan dirumah ini. Kenapa anda berada disini tuan? Ada sesuatu yang anda butuhkan?"
"Aku ingin meminjam beberapa alat untuk memperbaiki televisi.. " ucap Chanyeol asal.
Tuan Lee tersenyum. "Alat-alat itu ada di gudang tuan, mari saya antar.. "
.
.
.
TOK TOK TOK TOK TOK
"Permisi.. "
TOK TOK TOK TOK TOK
Soojung dan Sehun sudah berdiri di depan pintu rumah keluarga Park, mereka sudah mengetuk pintu rumah itu selama 5 menit namun sama sekali tidak ada yang membukakan pintu.
"Sepertinya tidak ada orang dirumah.. "
Soojung berdecak kesal, padahal ia sudah menyiapkan hadiah spesial untuk Chanyeol.
"Permisi, kalian mencari siapa?"
Minhyuk yang sedari tadi memperhatikan dua orang yang perpakaian seperti anak konglomerat ternama itu dari jendela rumahnya akhirnya menghampiri mereka karena merasa penasaran.
"Kami mencari Park Chanyeol dan Park Baekhyun, ini benar rumah Keluarga Park kan?"
Minhyuk mengangguk mengiyakan pertanyaan Sehun. "Iya benar ini rumah Keluarga Park, tapi mereka sedang tidak ada dirumah. Mereka sedang pergi.. "
"Pergi kemana?" tanya Soojung penasaran.
"Aku juga tidak tau."
Soojung dan Sehun saling berpandangan dalam diam. "Baik, kalau begitu terimakasih." ucap Sehun sambil tersenyum sopan.
Minhyuk balas tersenyum. "Sama-sama."
Setelah Minhyuk kembali kerumahnya, Sehun pun langsung memandang Soojung dengan tatapan bertanya..
"Apa?"
"Kau bilang Chanyeol ada dirumah.. "
"Seharusnya dia ada dirumah, hari ini kan Chanyeol oppa sedang libur."
Sehun menghela nafas. "Kau yakin ini rumah Chanyeol? Maksudku, bagaimana bisa Baekhyun tinggal dirumah yang bahkan jauh lebih kecil dari kamar mandi rumahku? Ini benar-benar sangat konyol. Baekhyun itu seorang keturunan darah biru, bagaimana bisa ayahnya sendiri membiarkan putranya tinggal ditempat seperti ini. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran Donghae ahjussi." ucapnya sambil menggeleng miris melihat kondisi rumah Chanyeol yang menurutnya tidak lebih baik dari kamar mandi rumahnya.
"Mana aku tau, aku tidak peduli soal Baekhyun. Aku hanya peduli tentang Chanyeol oppa saja, Sebaiknya sekarang kita pulang, kita bisa kembali lagi nanti."
Soojung langsung berjalan pergi mendahului Sehun yang hanya diam sambil menatap prihatin kondisi rumah Chanyeol dan Baekhyun.
.
.
.
"Terimakasih banyak sudah membantuku Tuan Lee.. "
"Sama-sama tuan.. "
Chanyeol baru saja selesai memperbaiki televisi dan komputer milik pelanggannya di gudang belakang rumah. Dengan dibantu Tuan Lee, ia jadi lebih bisa mempersingkat waktu. Sekarang hanya tinggal mengantarkannya saja dengan selamat sampai kerumah masing-masing pelanggan.
"Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan tuan.. "
"Apa itu?"
Chanyeol terdiam untuk beberapa saat. "Anda tau sesuatu tentang Sehun?"
"Sehun? Tuan Oh Sehun maksudmu?"
Chanyeol mengangguk. "Ne, Oh Sehun."
"Kenapa memangnya?"
"Aku hanya ingin tau saja, seberapa dekat Sehun dan Baekhyun dulu?"
"Sangat dekat, dulu tan muda sangat bergantung pada Tuan Sehun. Tuan Sehun juga orangnya sangat baik, dia sangat perhatian terhadap tuan muda."
Chanyeol terdiam. "Begitukah?"
Tuan Lee mengangguk. "Tuan Sehun suka sekali memberikan hadiah untuk Tuan Baekhyun, hampir setiap kali mereka berkencan, Tuan Sehun pasti selalu memberikan hadiah atau kado-kado yang tak terduga."
"Seperti apa misalnya?"
Tuan Lee tampak berpikir sejenak. "Biasanya Tuan Sehun memberikan barang-barang bermerk. Tas, sepatu, jam tangan, parfum, dan masih banyak lagi. Terakhir saat tuan muda berulang tahun yang ke 19 Tuan Sehun sempat memberikan sebuah mobil untuk tuan muda."
"M-mobil?"
Tuan Lee mengangguk. "Tapi sayangnya mobil itu langsung dikembalikan lagi oleh Tuan Donghae, ia menganggap hadiah mobil itu terlalu berlebihan."
"Berapa lama mereka berpacaran?"
"Saya tidak tau pasti, tapi mungkin sekitar 5-6 bulan.. "
"Lalu kenapa Donghae aboeji tidak menyetujui hubungan mereka?"
"Saya juga kurang tau tuan, Tuan Donghae tidak pernah bercerita."
Chanyeol termenung, ia sendiri juga bingung kenapa ayah mertuanya menolak Sehun yang bahkan menurutnya pun adalah sosok laki-laki sempurna.
"Anda tidak perlu khawatir tuan, Tuan Donghae sangat tau siapa pria yang paling cocok untuk putranya. Jika ia telah berani memilih anda sebagai pendamping untuk putranya, itu berarti ia tau jika anda memang yang terbaik untuk Tuan Muda Baekhyun."
"Ne? Apa maksud anda Tuan Lee, aku tidak mengerti.. "
Tuan Lee tersenyum. "Anda pasti sedang kepikiran ucapan para pelayan tadi kan?"
Chanyeol sontak terdiam, darimana Tuan Lee tau?
"Anda tidak perlu memikirkan ucapan mereka, yang paling tau siapa yang paling cocok untuk menjadi pasangan kita adalah diri kita sendiri. Lagipula jika saya lihat Tuan Muda Baekhyun sepertinya sangat menyayangi anda."
Chanyeol tersenyum kecil. "Aku harap juga begitu."
Ya, Chanyeol berharap Baekhyun memang benar-benar telah menyayanginya. Ia berharap perasaan istri cantiknya itu kini sudah sepenuhnya berlabuh pada hatinya.
.
.
.
CKLEK
Chanyeol berjalan masuk kedalam kamar Baekhyun, ia kemudian duduk di tepi ranjang sambil memandangi wajah cantik istrinya yang tengah tertidur lelap.
"Apakah aku memang tidak pantas untuk menjadi suamimu? Apakah aku tidak pantas untuk mendapatkan cintamu?" monolognya seorang diri.
"Maafkan aku karena tidak terlahir sebagai orang kaya. Maaf jika aku bukan suami yang baik untukmu. Maaf karena aku tidak bisa seperti Sehun yang bisa memberimu segalanya. Tapi aku janji, aku janji akan terus berusaha menjadi yang terbaik untukmu. Aku akan berusaha membahagiakanmu dengan caraku sendiri. Aku mencintaimu Park Baekhyun. Aku sangat mencintaimu."
Chanyeol mengelus kepala Baekhyun sambil tersenyum miris..
.
.
.
Baekhyun terus berjalan mondar mandir di ruang makan, ia begitu khawatir karena Chanyeol masih belum pulang juga. Chanyeol pamit untuk mengantarkan televisi milik pelanggannya tadi sore dan sampai sekarang suaminya itu masih belum pulang. Ini sudah malam dan diluar sedang hujan lebat.
"Kenapa kau terus mondar mandir begitu? Sebaiknya kau makan dulu, kasihan janin yang ada di dalam perutmu Baek." ucap Donghae yang mulai jengah melihat anaknya yang sedari tadi terus berjalan mondar mandir tidak jelas.
"Kenapa Chanyeol belum pulang juga aboeji? Baekkie khawatir sekali.. "
"Kau tidak perlu berlebihan begitu Baek. Ini baru jam 7. Lagipula Chanyeol juga pergi bersama dengan Tuan Lee, jadi kau tidak perlu khawatir."
"Tapi tetap saja Baekkie tidak tenang aboeji, diluar sedang hujan lebat.. "
"Kau tidak perlu khawatir, ketika suamimu tengah mencari nafkah diluar sana, sebagai seorang istri kau harus mendo'akan yang terbaik untuk suamimu. Jangan sampai ada perasaan khawatir yang berlebihan karena yang seperti itu justru akan mempersulit urusan suamimu."
Baekhyun langsung terdiam. Benarkah seperti itu?
"Sudahlah, sebaiknya sekarang kau duduk dan makan makananmu."
Baekhyun menghela nafas, ia kemudian menarik kursi dan bersiap untuk duduk dimeja makan.
TING NONG TING NONG
Baekhyun sontak menoleh. "Itu pasti Chanyeol aboeji.. " ucapnya penuh dengan kegembiraan.
"Aku mau membukakan pintu."
"Eh kau mau kemana? Biar pelayan saja yang membukakan pintu. Nayeon ssi, tolong bukakan pintu depan."
"Baik tuan." seorang pelayan berambut panjang langsung berjalan keruang depan setelah diperintah oleh tuan besarnya.
Baekhyun hanya bisa menunggu suaminya sambil berusaha menahan senyumannya.
"Chanyeol.. " tak lama kemudian Chanyeol masuk bersama dengan Tuan Lee, Baekhyun pun lantas langsung memeluk tubuh jangkung itu dengan gemas.
"Kenapa baru pulang? Aku sudah menunggumu daritadi."
Donghae tersenyum lebar melihat tingkah anak semata wayangnya itu, biasanya dia hanya akan bersikap manja seperti itu hanya kepadanya dan juga Sehun. Tapi sekarang ia justru bersikap seperti itu juga pada suaminya. Donghae senang sekali melihatnya, sekarang sudah ada sosok yang menggantikan tugasnya untuk menjaga Baekhyun.
"Aku minta maaf, jalanannya macet sekali tadi."
"Chanyeol aku-"
"Baek, biarkan suamimu makan dulu sayang. Dia pasti sudah sangat kelaparan." ucap Donghae yang kemudian menyela.
"Biasanya Chanyeol akan membersihkan diri dulu sebelum makan."
"Begitukah?"
Baekhyun mengangguk. "Baekkie ini istrinya Chanyeol, jelas Baekkie tau semua kebiasaan suami Baekkie. Baekkie sekarang sudah jadi istri yang baik."
Donghae semakin melebarkan senyumannya. "Benarkah? Coba tunjukan pada aboeji jika Baekkie sudah menjadi istri yang baik.. "
"Baik, akan Baekkie perlihatkan pada aboeji. Nayeon ssi, tolong siapkan sebaskom air hangat. Jeongyeon ssi tolong kau siapkan handuk kecil ya."
"Ne? a-ah ne.. " kedua pelayan perempuan Donghae itu langsung mengangguk patuh dan bergerak cepat mengambil apa yang diminta oleh tuan muda mereka.
Chanyeol yang tau apa yang hendak dilakukan oleh Baekhyun langsung merasa gugup.
"Baek, kau yakin mau melakukan itu disini?" ucapnya setengah berbisik ditelinga Baekhyun.
"Tenang saja Chanyeol ah, Baekkie ingin membuktikan pada aboeji jika Baekkie sekarang sudah berubah."
Chanyeol hanya bisa terdiam pasrah setelahnya.
"Ini air hangat yang anda minta tuan muda."
"Ini juga handuk kecil yang anda minta."
Baekhyun tersenyum menatap dua pelayan cantiknya itu. "Terimakasih Nayeon ssi, Jeongyeon ssi."
"Apa yang akan kau lakukan dengan itu Baek?" tanya Donghae yang merasa penasaran.
"Aboeji lihat saja apa yang akan Baekkie lakukan. Ayo duduk Chanyeol ah."
"T-tidak perlu Baek, aku-"
Baekhyun memaksa Chanyeol untuk duduk dikursi meja makan hingga si pria tinggi itu hanya bisa menurut pasrah.
Baekhyun lantas langsung berjongkok dan memasukan kaki kanan Chanyeol kedalam baskom berisi air hangat.
Seluruh pelayan yang melihat kejadian itu secara langsung sontak saja langsung membulatkan mulut mereka terkejut. Donghae sendiri hanya bisa ternganga melihat putranya yang sangat amat manja itu sekarang tengah membersihkan kaki suaminya.
Chanyeol hanya bisa menunduk malu, ia sama sekali tidak berani menatap belasan pasang mata para pelayan dirumah Donghae yang kini tengah menatapnya secara serempak. Apalagi sang tuan rumah, ia benar-benar tidak berani bahkan hanya untuk sekedar melirik ayah mertuanya itu.
Baekhyun dengan sangat telaten membersihkan kaki suaminya itu, setelah membersihkan kaki kanan, ia beralih pada kaki kiri dan membersihkannya juga. Karena ini sudah menjadi rutinitas Baekhyun sehari-hari, ia jadi begitu menikmati saat dimana ia membersihkan kaki Chanyeol. Rasanya seperti ada yang kurang jika ia tidak melakukan ini.
"Sudah.. " ucapnya setelah selesai mengeringkan kaki suaminya.
"T-terimakasih Baek." ucap Chanyeol tergagap.
"Sama-sama sayang."
CUP
Seluruh pasang mata yang ada diruangan itu semakin membelalak kaget ketika Baekhyun langsung mencium bibir tebal Chanyeol dihadapan mereka.
"Heol daebak.. " Donghae sampai kesulitan berkata-kata melihat perilaku anaknya.
Chanyeol sendiri hanya bisa terdiam kaku, wajahnya sudah memerah karena ia sendiri sangat terkejut atas ciuman tiba-tiba tadi.
"Sekarang Baekkie mau menyiapkan air hangat untuk Chanyeol mandi dan menyiapkan pakaiannya juga."
"Biar saya saja tuan." ucap Nayeon mencoba membantu.
Baekhyun langsung menggeleng. "Tidak-tidak, sebagai istri yang baik aku harus melayani suamiku dengan baik. Biar aku saja yang menyiapkan semuanya. Terimakasih atas tawarannya Nayeon ssi."
Baekhyun langsung berlalu pergi menuju kamar mandi dikamar tidurnya meninggalkan Chanyeol yang masih terdiam kaku.
Donghae hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah putra dan menantunya itu. Mereka benar-benar lucu.
'Putra kesayanganku sepertinya sudah mulai berubah.. ' ucapnya pelan dalam hati.
.
.
.
Chanyeol memandang langit malam dari jendela kamar Baekhyun, tidak ada bulan dan bintang yang menggantung di langit malam ini. Semuanya gelap, tapi Chanyeol tetap ingin memandanginya.
"Chanyeol ah.. "
Sepasang tangan kecil tiba-tiba saja memeluknya dari belakang. Tanpa menoleh pun Chanyeol tau itu adalah tangan Baekhyun.
"Kau belum tidur?" tanyanya dengan suara lembut.
"Aku tidak bisa tidur, perutku mual. Sepertinya calon anak kita mulai merajuk lagi."
Chanyeol tersenyum, ia berbalik dan menatap istrinya lembut. "Tidurlah, aku akan mengelus perutmu sampai rasa mual diperutmu hilang."
Baekhyun ikut tersenyum. "Terjadi sesuatu? Kau tidak banyak bicara hari ini."
"Tidak apa-apa, aku hanya sedang memikirkan tentang hubungan kita yang terasa sangat unik."
"Unik?"
Chanyeol mengangguk. "Menikah karena dijodohkan, selalu bertengkar pada awalnya lalu kemudian saling jatuh cinta dengan cara yang tak terduga. Bukankah hubungan kita ini memang sangat unik?"
Baekhyun tertawa, jika dipikir-pikir hubungan mereka memang cukup unik dan Baekhyun menyukai keunikan tersebut.
"Chanyeol ah, kau harus berjanji padaku.. "
"Apa?"
"Kau harus berjanji padaku untuk tidak meninggalkanku. Kau harus berjanji untuk setia hidup bersamaku sampai maut memisahkan kita."
Baekhyun memperlihatkan jari kelilingnya kearah Chanyeol bermaksud untuk mengikat janji.
Chanyeol terdiam untuk beberapa saat, lalu kemudian ia menautkan jari kelilingkingnya dengan jari kelingking Baekhyun.
"Aku janji.. "
Baekhyun tersenyum dengan sangat cantik dan Chanyeol sangat menyukai senyuman itu. Sambil ikut tersenyum ia berkata dalam hati...
'Aku akan selalu setia berada disampingmu. Aku justru takut kau yang akan pergi meninggalkanku dan kembali pada pria kaya itu.'
.
.
.
"Chanyeol bangun.. Chanyeol.. "
Baekhyun menggoyangkan tubuh suaminya yang sedang tertidur pulas agar terbangun. Perlahan Chanyeol mulai mengerjapkan matanya dan menatap istrinya itu dengan ekspresi mengantuk yang sangat kentara.
"Ada apa Baek? Kau butuh sesuatu?"
"Aku ingin makan sosis bakar.. "
"Sosis bakar?" Chanyeol melirik jam dinding dan waktu masih menunjukan pukul 1 pagi.
"Sekarang?"
Baekhyun mengangguk. "Aku sangat menginginkannya Chanyeol.. "
"Baiklah, tunggu sebentar. Aku cuci muka dulu."
"Aku ikut.. "
"Apa? Ini sudah malam sayang, kau tidak boleh ikut."
"Tapi aku ingin ikut Chanyeol, calon anak kita juga ingin jalan-jalan malam." ucapnya sambil mengelus perut ratanya.
"Baiklah, tapi kau harus pakai pakaian hangat.." Chanyeol akhirnya mengalah.
Baekhyun mengangguk semangat. "Ne."
.
.
.
Mereka tiba disebuah kedai sosis yang sudah tutup. Chanyeol dan Baekhyun pergi dengan menggunakan mobil milik Donghae. Sambil terus menggenggam tangan Baekhyun agar tetap hangat, Chanyeol mengetuk pintu kedai berharap pemiliknya mau membukakan pintu.
TOK TOK TOK TOK
CKLEK
"Siapa?"
"Permisi tuan, kami ingin membeli sosis."
"Tapi kami sudah tutup. Ini jam satu pagi. Kalian sudah mengganggu tidurku."
"Kami minta maaf, istriku sedang hamil dan ia tiba-tiba saja ingin makan sosis bakar. Aku tidak tau harus mencari kemana lagi kedai sosis yang masih buka. Aku mohon tuan, ijinkan istriku makan sosis disini. Aku akan bayar 10x kali lipat, bagaimana?"
Pria setengah baya yang merupakan pemilik kedai pun tampak terdiam. "Ngidam? Ah aku jadi teringat istriku, dulu istriku juga pernah mengalami hal yang sama seperti istrimu. Yasudah, ayo silahkan masuk."
Chanyeol dan Baekhyun pun akhirnya tersenyum. Chanyeol menarik lembut tangan istrinya agar duduk dengan tenang di meja kedai.
"Biar aku buatkan sosisnya sebentar."
Chanyeol tersenyum. "Terimakasih tuan."
.
.
.
"Pelan-pelan makannya Baek."
Chanyeol mengusap noda mayonaise disudut bibir istrinya dan menyuruh Baekhyun untuk makan dengan perlahan.
"Ini enak sekali Chanyeol ah." ucap Baekhyun sambil tersenyum senang.
"Kau suka?"
Baekhyun mengangguk. "Suka."
Chanyeol tersenyum lagi, ia lantas mengelus perut rata sang istri dengan lembut. "Anak appa juga suka kan makanannya?"
"Cuka appa.. " ucap Baekhyun mencoba menirukan suara anak kecil.
Chanyeol hanya bisa tertawa geli mendengarnya. Baekhyun kemudian menyodorkan sebuah sosis bakar lengkap dengan mayonaise dan saus tomat pada suaminya itu.
"Kau juga harus mencobanya Chanyeol, ini sangat enak."
Chanyeol menggeleng. "Tidak usah Baek, aku sudah kenyang."
"Kau tetap harus mencobanya, sedikit saja."
Chanyeol akhirnya menyerah dan menerima suapan dari Baekhyun.
"Enak kan?"
Chanyeol mengangguk. "Enak."
Baekhyun tersenyum sambil menggenggam tangan suaminya itu lembut. "Terimakasih Chanyeol karena kau selalu menuruti keinginanku. Ini bahkan sudah tengah malam tapi kau masih mau mengantarku untuk makan sosis padahal besok kau harus kerja pagi. Aku benar-benar merasa beruntung mempunyai suami sepertimu."
Chanyeol balas tersenyum. "Sama-sama. Aku senang bisa melakukannya."
.
.
.
Donghae keluar kamar setelah siap dengan pakaian kerjanya. Ia berjalan santai menuju meja makan dan terkejut melihat Baekhyun sedang membantu para maid menyiapkan sarapan. Donghae melirik jam ditangan kirinya dan ia sama sekali tidak salah lihat, ini masih jam 6 pagi dan Baekhyun sudah bangun? Wow, ini benar-benar luar biasa.
"Baek, kau sudah bangun?"
Baekhyun seketika menoleh dan tersenyum lebar. "Selamat pagi aboeji."
"Pagi sayang.." sambil tersenyum heran, ia mendudukan dirinya tepat dihadapan Baekhyun. Ia melirik 3 porsi nasi goreng kimchi yang terhidang diatas meja makan.
"Kau yang membuat ini?"
Baekhyun mengangguk. "Ne, ini Baekkie yang buat."
"Benarkah?" tanya Donghae pada Nayeon yang berdiri disebelahnya.
Nayeon mengangguk. "Benar tuan, Tuan Muda Baekhyun sudah bangun pagi-pagi sekali dan langsung menbuat sarapan. Kami para maid tidak dipersilahkan untuk membantu."
Donghae cukup terkejut mendengarnya. Baekhyun sepertinya memang sudah banyak berubah.
"Dimana Chanyeol?"
"Chanyeol sedang mandi. Aku tadi sudah menyiapkan seragam kerjanya juga."
"Bagus, aboeji suka sekali jika kau sangat bertanggung jawab dengan posisimu sebagai seorang istri sekarang. Kau sudah banyak berubah. Aboeji senang melihatnya."
"Baek.. "
Chanyeol akhirnya muncul dengan seragam security yang sudah disiapkan oleh Baekhyun untuknya. Ia tampak begitu gagah dan perkasa dengan seragam itu.
"Pffft.. " salah seorang pelayan berambut pendek bernama Jeongyeon tampak tak bisa menahan tawanya ketika melihat Chanyeol datang dengan menggunakan seragam security.
Baekhyun sontak saja menatap pelayannya itu hingga Jeongyeon bungkam seribu bahasa.
"Ada yang lucu?" tanyanya dengan intonasi yang sangat dingin.
"T-tidak tuan." balas Jeongyeon yang langsung tergagap. Ia terus menundukan kepalanya takut.
Baekhyun mencoba menghiraukan pembantunya itu dan kemudian menarik tangan suaminya untuk duduk tepat disampingnya.
"Ayo kita makan."
.
.
.
Chanyeol duduk sendirian di pos security. Ia masih kepikiran soal perbincangan para pelayan dirumah ayah mertuanya kemarin. Rasanya ia ingin pulang saja kerumah. Ia merasa tidak pantas tinggal dirumah mewah itu.
Sebuah mobil mewah berwarna hitam terparkir tepat di depan tempat kerja Chanyeol. Chanyeol tau itu adalah salah satu mobil milik ayah mertuanya. Ia bisa menebak orang yang ada di dalam mobil itu pasti Baekhyun.
Dan benar saja, Baekhyun melangkahkan kaki cantiknya setelah keluar dari mobil dan memberikan senyuman terbaiknya untuk sang suami.
"Chanyeol ah.. " Baekhyun mencium tangan suaminya itu dengan pelan.
"Kau datang?"
"Hari ini aku ingin membawakan bekal makan siang untukmu. Soojung hari ini tidak kesini kan?"
Chanyeol menggeleng.
"Baguslah, semoga ia kapok dan tidak pernah datang kemari lagi."
Baekhyun duduk disamping Chanyeol dan membuka kotak bekal yang ia bawa.
"Aku membuatkan telur gulung kesukaanmu. Ayo sini, aku suapi."
Chanyeol tersenyum kecil dan menerima suapan dari Baekhyun.
"Kau sudah makan?"
Baekhyun menggeleng. "Belum."
"Kenapa?"
"Baekkie tidak sempat makan karena tadi Baekkie sibuk membuatkan bekal untukmu."
"Yasudah, sekarang kau juga makan. Biar aku suapi. Lain kali kau jangan sampai lupa makan ya, kau harus ingat kandunganmu."
Baekhyun mengangguk. "Aku mengerti Chanyeol ah."
Mereka saling menyuapi setelah itu, makan satu piring berdua hingga makanan yang Baekhyun bawa habis tak tersisa.
.
.
.
"Kau sedang menunggu Chanyeol?"
Baekhyun menoleh dan mendapati ayahnya sedang berjalan kearahnya, pria setengah abad itu pun langsung duduk disamping putranya.
Baekhyun mengangguk. "Iya, aku sedang menunggu Chanyeol."
Donghae melirik jam di dinding. Pukul 22.30 dan Chanyeol belum juga pulang. Sedari tadi Baekhyun duduk diruang tengah sambil minum segelas susu strawberry dan menonton acara televisi.
"Sebenarnya Chanyeol itu kerja apa? Bukankah dia seorang satpam? Kenapa belum pulang jam segini?"
"Chanyeol juga punya pekerjaan sampingan aboeji, dia menawarkan jasa reparasi online untuk mendapat pemasukan tambahan."
"Sebenarnya aboeji sangat menyayangkan Chanyeol karena menolak bekerja diperusahaan aboeji. Ia justru lebih memilih bekerja banting tulang hingga larut malam begini. Tapi aboeji sangat menghargai sikapnya yang seperti ini. Dia benar-benar berusaha untuk membahagiakanmu dengan caranya sendiri tanpa memanfaatkan harta kekayaan aboeji. Aboeji benar-benar bangga pada suamimu itu Baek."
Baekhyun tersenyum. "Baekkie juga sangat bersyukur memiliki suami seperti Chanyeol. Oh iya aboeji, Baekkie ingin mengucapkan terimakasih karena aboeji sudah mempertemukan Baekkie dengan Chanyeol. Awalnya mungkin Baekkie merasa kesal, tapi sekarang Baekkie mengerti kenapa aboeji menjodohkan Baekkie dengan pria seperti Chanyeol."
"Bagus jika kau mengerti, sejak pertama kali aboeji melihat Chanyeol aboeji sudah sangat yakin jika dia memang sosok terbaik untuk menjadi pendampingmu. Ia baik, dewasa, punya pemikiran yang matang dan penuh dengan rasa tanggung jawab. Itu yang membuat aboeji sangat mengagumi Chanyeol. Aboeji yakin ia bisa membimbingmu menjadi manusia yang lebih baik lagi, dan sekarang semua itu terbukti. Kau berubah sangat banyak, sekarang kau sudah mengerti arti dari sebuah tanggung jawab. Kau bahkan sudah bisa memasak nasi goreng sendiri padahal dulu masuk ke dapur saja kau tidak pernah. Sekarang kau sudah bisa mengerjakan pekerjaan rumah dengan baik, kau juga sudah bisa mengatur uang pemberian Chanyeol untuk kebutuhan sehari-hari kalian dengan baik. Dulu hidupmu sangat tidak teratur, kau sering menghabiskan ratusan juta dalam satu hari hanya untuk membeli barang-barang yang tidak berguna. Tapi sekarang aboeji senang kau sudah berubah, aboeji senang Chanyeol sudah menepati janjinya pada aboeji untuk merubah sifat jelekmu. Aboeji yakin Chanyeol pasti bisa menuntunmu menjadi manusia yang lebih baik lagi untuk seterusnya."
Baekhyun memeluk ayahnya itu, ia sangat menyesal karena dulu pernah bertengkar dengan ayahnya soal perjodohannya dengan Chanyeol. Sekarang ia tau ayahnya hanya ingin yang terbaik untuk dirinya, ayahnya tau apa yang dia butuhkan dan yang ia butuhkan hanyalah Chanyeol. Baekhyun hanya butuh Chanyeol..
.
.
.
Mereka berciuman dengan sangat lembut. Chanyeol berbaring terlentang dengan hanya celana boxer hitam diatas lutut sedangkan Baekhyun mencium Chanyeol dengan posisi terduduk dengan hanya sebuah kemeja putih kebesaran milik Chanyeol yang menempel ditubuhnya.
Baekhyun menjadi orang pertama yang melepaskan ciuman itu dan menatap suaminya yang terbaring sambil tersenyum. Lagi-lagi ia melumat bibir tebal yang sudah menjadi candu untuknya itu dengan lembut.
"Tidurlah, kau harus segera istirahat. Aku akan menjagamu sampai kau terlelap." ucap Chanyeol setelah ciuman itu terlepas.
"Sebenarnya aku sedang ingin sesuatu Chanyeol ah."
"Apa itu? Kau sedang ngidam lagi? Katakan padaku apa yang kau inginkan."
"S-sebenarnya aku ingin bermain pistol."
Chanyeol mengernyit. "Pistol apa?"
"Pistol air." ucap Baekhyun sambil menunduk malu.
Chanyeol langsung mengubah posisinya menjadi terduduk. Pistol air? Apa mungkin calon anaknya itu laki-laki sampai-sampai Baekhyun ingin bermain pistol air malam-malam begini?
"Yasudah, kalau begitu aku pakai baju dulu, lalu setelah itu aku akan langsung pergi untuk membeli pistol air."
Baekhyun langsung menahan tangan suaminya itu ketika Chanyeol hendak beranjak dari atas kasur.
"Kenapa Baek?"
"Jangan tinggalkan aku sendirian Chanyeol."
"Kau mau ikut?"
Baekhyun menggeleng.
"Kalau begitu biar aku minta tolong Tuan Lee untuk membelikannya ya?"
Baekhyun menggeleng lagi dan tentu saja Chanyeol dibuat bingung karenanya.
"Terus harus bagaimana? Kau ingin aku membeli pistol air tapi kau sendiri tidak mau aku tinggal."
Baekhyun menunduk dalam. "A-aku mau pistol yang itu." ucapnya malu-malu sambil menunjuk selangkangan Chanyeol.
Chanyeol sontak saja langsung terdiam, jadi daritadi pistol yang Baekhyun maksud itu pistol miliknya?
"Kau yakin sedang ngidam?"
Baekhyun mengangguk lugu.
"Keinginan anak kita atau memang keinginanmu?"
Baekhyun sontak saja mendongak dan langsung menatap suaminya itu.
"Tentu saja keinginan calon anak kita."
Chanyeol terkekeh, permintaan Baekhyun terasa sangat aneh. Baru kali ini ia melihat ada seorang ibu hamil yang mengidam ingin bermain 'pistol air.'
"Yasudah.." Chanyeol pun lantas melepas celananya dan melemparnya asal..
"Jja.. Silahkan bermain sepuasmu."
Baekhyun menatap tubuh suaminya yang sudah sepenuhnya telanjang itu dengan pandangan tak berkedip. Terutama saat memandang kejantanan sang suami yang masih tertidur lelap. Besar, panjang dan berurat. Kejantanan suaminya juga ditumbuhi bulu kemaluan yang sangat lebat, tapi itu justru terlihat semakin menggoda dimata Baekhyun. Tanpa sadar Baekhyun menelan ludahnya pelan. Dengan perlahan ia menyentuh benda tak bertulang itu dengan tangan kanannya.
"Ssst... " Desisan samar terdengar dari mulut Chanyeol sesaat setelah ia menyentuh benda pusaka itu.
Baekhyun mengocok kejantanan suaminya hingga sedikit demi sedikit benda itu semakin besar dan besar. Chanyeol menutup matanya erat ketika merasakan sensasi geli ketika telapak tangan halus istrinya menyentuh urat-urat disekitar alat kelaminnya.
Baekhyun tersenyum. Ada kepuasaan tersendiri setelah ia melakukan ini. Entah kenapa tiba-tiba saja ia sangat ingin bermain dengan kejantanan Chanyeol.
Kejantanan Chanyeol sudah menegang pada posisi maksimal. Baekhyun semakin dibuat kagum saja dengan bentuk dan ukurannya setelah ereksi. Berdiri tegak seolah tak terkalahkan.
Chanyeol merasa birahinya langsung naik karena rangsangan-rangsangan tadi. Ia jadi ingin menyetubuhi Baekhyun. Ia ingin membobol lubang hangat istrinya itu sampai lemas.
Baekhyun semakin asyik memainkan batang kejantanan Chanyeol, terkadang ia mengocok dengan cara memutar dan terkadang ia juga mengocok dari atas kebawah, ke kiri ataupun ke kanan.
Setelah itu Baekhyun mulai menunduk menjulurkan lidahnya seperti seekor ular untuk menjilati precum yang keluar. Baekhyun bisa merasakan tubuh Chanyeol bergetar karena perbuatannya tapi ia tidak peduli. Ia masih terlalu asik bermain dengan pistol favoritnya.
Baekhyun langsung menghisap benda panjang itu seolah ia tengah menghisap lolipop. Ia sangat menikmati kegiatannya tersebut.
"Baekkhh.. Oouuhh.. " Chanyeol mendesah tak karuan.
Baekhyun terus mengulum kejantanan suaminya dengan tempo yang cukup cepat hingga tubuh Chanyeol menggelinjang hebat. Ia menjilati seluruh batang penis Chanyeol dari bawah ke ujung lubang kencing Chanyeol. Baekhyun turun lagi menuju buah zakar Chanyeol dan menghisap dua peluru bulat itu secara bergantian.
PLOP
"Ouhh.." Chanyeol serasa dibuat melayang, Baekhyun benar-benar luar biasa.
PLOP
"Sudah.. "
"Ne?"
Chanyeol begitu terkejut ketika Baekhyun melepas kulumannya begitu saja dan berkata 'sudah.'
"Baekkie sudah bosan Chanyeol ah.. "
"Sudah? Tapi aku belum keluar Baek."
"Tapi Baekkie sudah tidak mau main pistol air lagi Chanyeolie.. "
Chanyeol menatap miris kejantanan nya yang masih mengacung tegak dan berkedut minta dipuaskan. Nafsunya sudah diubun-ubun tapi Baekhyun malah berhenti begitu saja.
"Tapi jika kau mau, kau boleh memasukan benda itu kedalam lubang Baekkie."
Chanyeol sontak menoleh. "Kau serius?"
Baekhyun mengangguk. "Iya serius.. "
Chanyeol langsung bangkit dengan semangat, ia meminta istrinya itu untuk segera berbaring.
"Berbaringlah sayang."
Baekhyun langsung menuruti permintaan suaminya itu, dengan cepat Chanyeol melepas celana dalam Baekhyun dan merekahkan lubang yang sangat kecil itu. Chanyeol sedikit meludahinya agar lebih mudah ketika melakukan penetrasi. Dengan wajah yang sudah memerah karena menahan nafsu, Chanyeol langsung mengarahkan kejantanannya pada lubang rektum istrinya itu.
JLEB
"Aaaaakkhh sakit Chanyeollhh.. "
"Sstt tahan sebentar sayang.. " Chanyeol menahan bobot tubuhnya sendiri dengan menggunakan sikut agar tidak menindih Baekhyun. Ia lalu menggerekan pinggulnya dengan tempo teratur.
PLOK PLOK PLOK PLOK
Chanyeol memejamkan matanya erat. Urat-urat dilehernya sampai menonjol keluar, ia seperti tengah menyetubuhi anak perawan saja saking sempit dan ketatnya lubang Baekhyun.
"Nikmatthh sayanngghh ahh.. "
Baekhyun hanya bisa menggelengkan kepalanya kekiri dan ke kanan karena ia sendiri begitu menikmati sensasi ketika dinding analnya bergesekan dengan batang kelelakian Chanyeol.
PLOK PLOK PLOK PLOK
17 Menit mereka seperti itu hingga akhirnya Chanyeol tidak mampu untuk menahan orgasmenya lagi.
CROTT CROTT
"ARRRGHHH.." Chanyeol memejamkan matanya erat sambil menggeram layaknya serigala jantan. Sekali lagi ia menyemburkan benihnya kedalam tubuh Baekhyun.
Baekhyun mengusap peluh diwajah suaminya. "Kau puas?"
Chanyeol mengangguk. "Aku puas, terimakasih sayang." ucapnya sambil mengecup tangan Baekhyun.
"Jangan ngidam seperti itu lagi Baek."
"Memangnya kenapa?"
"Aku takut tidak bisa menahan diri."
Baekhyun tertawa pelan. "Aku tidak janji." ucapnya sambil mencuri sebuah ciuman kecil di bibir Chanyeol.
Chanyeol tersenyum pelan. "Yasudah, sebaiknya sekarang kita bersihkan diri dulu. Tidak mungkin kan kita tidur dalam kondisi seperti ini?"
Baekhyun mengangguk. "Iya, tubuhku serasa sangat lengket."
Chanyeol langsung berdiri sambil mengendong tubuh Baekhyun di depannya tanpa melepaskan penyatuan tubuh mereka dan berjalan kedalam kamar mandi.
.
.
.
Hari ini Chanyeol pulang lebih awal karena show room tempat ia bekerja tutup untuk sementara waktu. Pukul 14.30 Chanyeol duduk diruang tengah bersama dengan Donghae yang secara kebetulan juga sedang berada dirumah. Pria setengah abad itu mengajak sang menantu untuk bermain catur bersama. Dengan sebatang rokok yang terselip dijari masing-masing dan dua cangkir kopi hitam, mereka tampak begitu asyik sejak 1 jam yang lalu.
"Skak."
Donghae tertawa lebar, ini sudah ketiga kalinya ia dikalahkan oleh Chanyeol. Menantunya ini ternyata sangat jago bermain catur.
"Kau cukup hebat dalam bermain catur Chanyeol ah.."
"Ah tidak juga.. "
"Oh iya bagaimana dengan pekerjaan mu? Lancar?"
Chanyeol mengangguk. "Lancar, pekerjaan sampinganku juga lancar. Nanti malam aku sudah ada janji dengan beberapa costumer."
"Kau yakin tidak ingin bekerja diperusahaan aboeji saja?"
Chanyeol menggeleng. "Aku akan buktikan pada aboeji bahwa aku bisa menghidupi calon anak dan istriku dengan jerih payahku sendiri. Aku akan buktikan bahwa aku bisa sukses dengan jalanku sendiri. Aku hanya minta pada aboeji untuk selalu mendo'akanku dan juga Baekhyun."
Donghae tersenyum. "Aboeji bangga padamu. Ini yang aboeji suka darimu Chanyeol ah, kau benar-benar seorang laki-laki sejati. Kau tidak perlu meminta, tanpa dipinta pun aboeji selalu berdo'a untuk kebahagiaan kalian."
"Terimakasih aboeji." ucap Chanyeol sambil ikut tersenyum.
.
.
.
"Hari ini aku ingin Paman Lee mengajariku memasak. Aku ingin bisa memasak semua jenis masakan agar suamiku Chanyeol bangga padaku."
Paman/Tuan Lee tersenyum melihatnya. "Tentu tuan, akan saya ajarkan."
"Yeayy terimakasih paman." Baekhyun melonjak girang.
Ia dan Paman Lee berjalan beriringan menuju dapur.
"Kau tau Jeongyeonie? Suami Tuan Muda itu sangat tampan. Jika ia belum menikah aku bersedia menjadi istrinya."
Baekhyun dan Paman Lee berhenti di dekat pintu dapur ketika melihat Nayeon dan Jeongyeon sedang membicarakan Chanyeol.
"Aku sama sekali tidak tertarik pada pria miskin seperti itu. Kau lihat saja kulitnya sangat gelap karena terlalu sering terpapar sinar matahari, aku pasti akan hidup menderita jika harus menikah dengannya. Aku lebih memilih untuk menikah dengan Tuan Sehun daripada Chanyeol." ucap Jeongyeon sambil memotong sayuran.
Tuan Lee yang hendak menegur mereka pun langsung ditahan oleh Baekhyun.
"Tapi Tuan Chanyeol lebih tampan dari Tuan Sehun, tubuhnya sangat kekar, tinggi, dan suaranya juga sangat berat. Meskipun kulitnya agak gelap tapi itu terlihat sangat sexy Jeongyeonie."
"Sexy apanya? Dimataku justru ia terlihat menjijikan. Aku berani bertaruh jika ia menikahi tuan muda hanya untuk mengincar hartanya saja."
"Kenapa kau berpikir seperti itu?"
"Kau tidak lihat wajahnya? Wajahnya itu terlihat seperti seorang kriminal. Lagipula orang miskin mana yang langsung mau dinikahkan dengan anak orang kaya jika bukan karena hartanya? Dia juga terlihat seperti seorang penjahat kelamin, aku merasa kasihan pada tuan muda karena harus melayani nafsu bejat pria seperti itu. Semoga Tuan Donghae bisa segera sadar dan memisahkan tuan muda dari pria itu. Menurutku Tuan Sehun jauh lebih pantas untuk tuan muda daripada pria miskin itu."
"Jeongyeon ssi."
Jeongyeon dan Nayeon sontak menoleh.
BYURRR
Jeongyeon tersentak kaget ketika tiba-tiba saja Baekhyun menyiramnya dengan segelas air dingin.
PRANG
Baekhyun langsung melempar gelas ditangannya hingga hancur berkeping-keping.
Mendengar ada keributan, Chanyeol dan Donghae pun langsung berlari kearah dapur.
"Ada apa ini Baekhyun ah?" tanya Donghae kemudian.
Chanyeol berjalan menghampiri istrinya itu dan menyentuh pundaknya pelan. "Baek, ada ap-"
Baekhyun menampik tangan Chanyeol dipundaknya dengan kasar.
"Berani sekali kau berbicara seperti itu tentang suamiku." ucapnya sambil menatap Jeongyeon penuh kebencian.
Jeongyeon hanya bisa menunduk takut sambil berusaha menahan tangisnya.
"Tau apa kau tentang suamiku hingga kau berani bicara seperti itu tentang Chanyeol?"
"M-maaf tuan-"
"TUTUP MULUTMU ATAU AKU ROBEK MULUT SIALANMU ITU!"
Semua orang yang ada diruangan itu langsung terdiam begitu mendengar teriakan Baekhyun yang begitu menggelegar. Chanyeol sampai dibuat mematung melihat istrinya sampai semurka ini. Sebenarnya apa yang sudah terjadi?
"Asal kau tau. Pria ini, pria yang kau sebut menjijikan ini tidak pernah meminta uang sepeserpun padaku ataupun ayahku. Dia bahkan selalu menolak semua bantuan dari ayahku. Dia yang telah berjuang mati-matian untuk menghidupiku setelah aku menikah dengan hasil jerih payahnya sendiri, bukan dari belas kasihan orang lain apalagi ayahku!"
Chanyeol melirik Jeongyeon yang terus menunduk sambil menahan isak tangis. Ia ingat pelayan ini juga lah yang mengatainya tempo lalu.
"Kau tidak perlu merasa kasihan padaku karena aku justru merasa sangat bahagia menikah dengan pria ini. Pria ini yang telah mengajariku banyak hal termasuk arti dari sebuah kehidupan yang sesungguhnya. Semua itu jelas jauh lebih berharga dibanding harta sebanyak apapun. Jadi aku ingatkan sekali lagi padamu, jangan bicara sembarangan karena kau tidak tau apa-apa tentang suamiku!"
Nafas Baekhyun terlihat naik turun tak terkendali saking emosinya ia mendengar ucapan Jeongyeon tadi.
NYUTT
"Ahhhh.. "
Mendadak Baekhyun merasakan sakit diperutnya, refleks ia memeluk perutnya yang terasa sakit.
Chanyeol dengan sigap merengkuh tubuh kecil itu ketika limbung dan tak mampu menguasai kesadarannya lagi.
"Baek bangun Baek.. " Chanyeol menepuk-nepuk pipi istrinya itu dengan perasaan panik luar biasa.
"Paman Lee cepat kau telepon dokter." ucap Donghae yang juga tak kalah panik.
Tuan Lee mengangguk. "Baik tuan."
.
.
.
Baekhyun mengerjapkan matanya setelah 15 menit berlalu, hal pertama yang ia lihat adalah cat dinding berwarna merah muda yang merupakan dinding kamarnya. Ia pun menolehkan atensinya ketika ia merasakan sebuah genggaman hangat ditangan kirinya.
"Kau sudah bangun?" Chanyeol menatapnya dengan senyuman lembut.
Baekhyun mengangguk. Ia kemudian berusaha untuk duduk.
"Apa yang terjadi?"
"Tadi kau pingsan, dokter bilang kandunganmu sedikit terguncang."
"Benarkah?"
Baekhyun refleks menyentuh perutnya sendiri, ia benar-benar menyesal karena telah dikuasai emosi tadi hingga membahayakan janinnya sendiri.
"Sebenarnya apa yang terjadi, kenapa kau bisa sampai semarah itu?"
Baekhyun menatap suaminya itu dalam diam. "Jeongyeon berbicara sesuatu yang tidak pantas tentangmu. Aku tidak terima."
Chanyeol tersenyum. "Sejak pertama kali aku datang kemari para pelayan disini memang sudah banyak membicarakanku. Aku memang tersinggung dengan ucapan mereka, tapi aku juga tidak bisa menyangkal ucapan mereka."
"Siapa yang menggunjingmu? Bicara padaku, biar aku pecat mereka semua."
"Tidak perlu seperti itu Baek. Kau harus bisa menjaga calon anak kita. Tolong kontrol emosimu. Kau tidak perlu memperdulikan apa yang mereka katakan tentangku. Aku hanya perlu membuktikan pada mereka bahwa aku pantas menjadi suamimu."
Baekhyun menggengam tangan suaminya itu erat. "Kau pantas Chanyeol, kau sangat pantas. Jangan pernah merasa rendah diri atau apapun itu. Aku tau kau adalah jodoh terbaik yang sudah Tuhan persiapkan untukku, tidak ada laki-laki lain yang lebih pantas untuk menjadi pendampingku selain dirimu. Aku mencintaimu Chanyeol ah, aku sangat mencintaimu."
Chanyeol tersenyum kecil mendengarnya. "Aku juga mencintaimu istriku."
Baekhyun langsung memeluk suaminya itu erat. Sampai kapanpun ia tidak akan pernah rela jika ada orang yang berusaha melecehkan harga diri suaminya. Baekhyun tidak akan pernah rela..
.
.
.
Setelah menginap selama satu minggu dirumah Donghae, kini Chanyeol dan Baekhyun sudah kembali lagi kerumah dan Heechul juga sudah pulang dari mengurus adiknya yang sedang sakit.
Chanyeol dan Baekhyun menghabiskan akhir pekan mereka dengan menonton acara televisi sambil memakan camilan yang Heechul bawa dari kampung.
Chanyeol duduk menyandar pada sofa sedangkan Baekhyun menyandarkan kepalanya pada dada bidang Chanyeol.
"Chanyeol ah, Baekhyun ah. Diluar ada seseorang yang mencari kalian.."
Chanyeol dan Baekhyun menoleh dan saling menatap bingung kemudian.
"Siapa eomma?"
"Sebaiknya kalian lihat saja sendiri."
Mereka berdua pun akhirnya berjalan keluar rumah untuk melihat siapa yang mencari mereka.
CKLEK
DEG
Chanyeol dan Baekhyun langsung mematung detik itu juga.
"Chanyeol oppa.. "
"Lama tidak bertemu Baekhyun ah.. "
Soojung dan Sehun berdiri di depan pintu rumah sambil tersenyum manis kearah mereka, berbanding terbalik dengan Chanyeol dan Baekhyun yang justru langsung mematung ditempat mereka berdiri sekarang.
.
.
.
.
.
.
TBC
Update telat sehari sorry ya, author lagi sakit. Kemarin kena muntaber jadi mau ngetik juga susah, tapi alhamdulilah sekarang udah mendingan hehe.
Author benar-benar say thank you banget deh buat kalian yang udah nyempet-nyempetin waktu buat review ff ini. Author ga nyangka banget ff gaje kaya gini banyak yang suka, banyak yang ngasih respon positif. Sekali lagi author bener-bener pengen bilang makasih karena udah ngasih cinta yang begitu besar buat The Poor Man Who Made Me Fall In Love.
Author selalu baca review yang masuk, tapi author ga bisa balesin satu-satu. Cuma kemarin ada yang sempet nanya, katanya ff ini setting tempatnya di Indonesia atau bukan? Settng tempatnya sih di Korea, cuma kalo culture sama karakter di ff ini author nyesuain sama kebiasaan di negara kita. Kaya contoh Chanyeol kan disini karakternya suka minum kopi hitam pahit, nah itu kan kebiasaan cowok indonesia banget tuh, kalo di Korea kan biasanya lebih suka minum soju daripada kopi. Jadi ya gitu. Untuk setting tempat tetep di Korea tapi kalo untuk culture mungkin author ngikutin kebiasaan di Indonesia aja.
Silahkan review jika kalian berkenan atau kalian juga boleh pergi jika kalian merasa ff ini kurang pantas untuk dibaca.
See you in the next chap ~
Bye Bye :)
