Mereka berempat duduk saling berhadapan di sofa ruang tamu. Soojung terus tersenyum sambil memandang Chanyeol gemas tanpa memperdulikan ekspresi kesal yang ditunjukan oleh Baekhyun.
Sehun menatap Baekhyun dalam diam, hal itu tak luput dari pandangan mata Chanyeol. Ia berusaha sebisa mungkin menghilangkan perasaan cemburunya pada pria berkulit seputih salju ini. Chanyeol selalu merasa rendah diri jika ia berhadapan dengan Sehun. Pria ini benar-benar sangat sempurna, sangat jauh jika harus dibandingkan dengan dirinya.
"Aku punya sesuatu untukmu oppa." ucap Soojung sambil menyerahkan kotak kado berwarna biru yang di ikat menggunakan pita dengan warna yang sama.
"Apa ini?"
"Buka saja."
Baekhyun langsung menahan pergerakan tangan Chanyeol ketika pria itu hendak membuka kotak kado yang diberikan Soojung.
"Kenapa kau tidak mengerti juga Soojung ah? Chanyeol itu suamiku, kenapa kau masih tetap berusaha mendekati pria yang sudah beristri?" tanyanya penuh dengan perasaan marah.
Soojung berdecak malas. "Baek, bisakah kau tidak ikut campur urusanku dengan suamimu? Setidaknya biarkan ia membuka kadonya dulu."
Dengan wajah yang ditekuk, Baekhyun akhirnya terpaksa membiarkan Chanyeol membuka kado yang diberikan Soojung.
Chanyeol terdiam ketika membuka kado tersebut, Soojung memberikan sebuah syal berbahan lembut berwarna biru muda.
"Aku yang merajut syal itu sendiri oppa. Kau suka?"
Chanyeol kemudian melirik Baekhyun yang tengah mengerucutkan bibirnya dengan kesal.
"Maaf, tapi sepertinya aku tidak bisa menerima ini." ucapnya sambil kembali memberikan syal itu kepada Soojung.
"Kenapa?"
"Baekhyun sepertinya tidak menyukainya, aku tidak bisa sembarangan menerima barang pemberian dari wanita lain. Aku harus tetap menjaga perasaan istriku." ucapnya dengan bijak.
Jawaban itu sontak saja membuat Sehun memandang pria bertelinga peri itu dengan ekspresi terkejut. Baekhyun yang duduk disamping suaminya pun ikut menoleh sambil tersenyum haru.
"Sekali lagi aku peringatkan padamu Soojung ah, jangan dekati suamiku lagi. Kami sudah bahagia sekarang, jangan melukai harga dirimu sebagai seorang wanita dengan menggoda suami orang."
Soojung mengernyitkan alisnya kemudian. "Apa maksudmu? Kau pikir aku ini hendak merebut Chanyeol darimu begitu?"
Baekhyun mengalihkan atensinya pada Chanyeol, ia seolah tidak mengerti atas pertanyaan yang diberikan Soojung.
"Bukankah kau memang ingin merebut Chanyeol dariku? Kau menyukai Chanyeol kan? maka dari itu kau terus berusaha mendekati Chanyeol.. "
Soojung berdecak kesal mendengarnya. "Kau pikir aku ini perempuan macam apa? Aku masih punya harga diri untuk tidak merebut pria yang sudah punya pasangan."
Baekhyun semakin dibuat kebingungan setelahnya, Sehun sendiri hanya bisa menahan senyumnya melihat reaksi Baekhyun yang begitu diluar prediksinya.
"Kau lihat ini.. " Soojung menunjukan sebuah cincin berlian mahal yang tersemat di jari manisnya.
"Aku sudah bertunangan dengan putra dari pemilik perusahaan minyak paling besar di Korea, Choi Seunghyun. Dan kami akan menikah tahun depan."
Baekhyun menutup mulutnya shock, ia sama sekali tidak tau jika Soojung sudah bertunangan.
"Kau sudah bertunangan? Kenapa kau tidak mengundangku..?"
"Kenapa juga aku harus mengundangmu? Orang cerewet sepertimu hanya akan menghancurkan pestaku saja.. "
Baekhyun berdecak kesal mendengarnya. "Lalu kenapa kau masih mendekati Chanyeol jika kau sudah bertunangan?"
"Aku mendekati Chanyeol oppa karena aku ingin dia menjadi pengawal pribadiku, kemanapun aku pergi aku selalu diikuti oleh belasan pengawal yang diperintahkan ayahku dan itu sangat membuatku tidak nyaman. Aku hanya bisa bebas jika aku pergi dengan Sehun oppa saja. Tapi Sehun oppa juga tidak bisa terus bersama denganku, maka dari itu aku membutuhkan pengawal pribadi agar ayahku tidak terlalu mengekangku lagi."
"Tapi kenapa harus Chanyeol?"
"Karena suamimu sangat cocok, dulu ia pernah mengalahkan dua orang preman bertubuh besar yang hendak merampok ku hanya dengan tangan kosong. Lagipula Chanyeol oppa juga mengingatkanku pada kakak tiriku Kim Jongin."
"Kim Jongin?"
Soojung mengangguk. "Dulu aku pernah punya seorang kakak tiri laki-laki, ia sangat baik dan begitu perhatian terhadapku. Aku sangat menyayanginya dan sudah menganggap ia seperti saudara kandungku sendiri. Tapi sayangnya ia meninggal karena sebuah kecelakaan. Saat pertama kali aku bertemu dengan suamimu aku langsung termenung karena aku seperti melihat sosok Jongin oppa di dalam tubuh Chanyeol oppa. Sifatnya, karakternya, perilakunya, suaranya, tubuhnya bahkan warna kulitnya pun sama. Maka dari itu aku sangat ingin dekat dengan Chanyeol oppa karena ia begitu mengingatkanku pada kakak laki-laki ku.."
Baekhyun langsung terdiam, jadi itu alasannya. Astaga, ia jadi merasa sangat bersalah karena telah berprasangka buruk pada gadis berambut pendek ini.
"Maka dari itu ijinkan Chanyeol oppa untuk menjadi pengawal pribadiku, setidaknya sampai aku menikah nanti. Setelah aku menikah, aku akan ikut suamiku pindah ke Dubai."
Baekhyun pun lantas menatap suaminya itu kemudian. "Bagaimana Chanyeol ah? Kau mau bekerja pada Soojung? Aku sama sekali tidak keberatan jika kau harus bekerja padanya."
Chanyeol terdiam untuk beberapa saat. "Maafkan aku Soojung ssi, tapi sepertinya aku tidak bisa. Sekarang aku sudah punya pekerjaan baru dan hanya ingin fokus pada pekerjaan ku sekarang. Mungkin kau bisa mencari pengawal lain."
"Tapi oppa, tidak ada orang lain yang cocok untuk menjadi pengawalku selain dirimu."
"Sudahlah Soojungie, biar oppa yang nanti mencarikan bodyguard untukmu. Oppa akan mencarikan bodyguard terbaik yang ada di Korea. Kau tidak perlu memaksa Chanyeol jika memang ia tidak mau." ucap Sehun yang akhirnya ikut berbicara.
Soojung akhirnya hanya bisa menghela nafas pasrah. "Baiklah kalau begitu, lakukan apa saja agar aku tidak perlu pergi kemana-mana lagi dengan belasan pengawal."
"Sehunie.. "
Sehun sontak mengalihkan atensinya pada Baekhyun ketika pria mungil itu memanggil nama panggilan kesayangannya ketika mereka masih berpacaran dulu.
Chanyeol sedikit terkejut mendengarnya. Sehunie? Itu terdengar sangat manis.
"Kenapa Baek?"
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Apa itu?"
Baekhyun terlihat menghela nafasnya sejenak. "Aku ingin memperjelas soal status hubungan kita, aku ingin kita putus. Aku sudah punya suami sekarang, dan rasanya sangat tidak pantas jika aku masih mempunyai hubungan dengan pria lain disaat aku sudah terikat di dalam sebuah pernikahan. Tapi sebelum itu, aku ingin tau kemana saja kau pergi selama 2 tahun ini.. "
Sehun tersenyum kecil kemudian. "Aku pergi ke China, seperti yang aku bilang padamu waktu itu. Aku pergi kesana untuk mengurus keluargaku yang sedang sakit sekaligus mengurus bisnis keluargaku. Dan untuk hubungan kita, aku ingin minta maaf padamu Baek. Sebenarnya selama ini aku tidak pernah benar-benar mencintaimu. Aku mendekatimu hanya agar aku bisa mendekati Luhan.. "
Baekhyun terbelalak kaget. Apa katanya tadi? Luhan? Jadi selama ini Sehun tidak pernah benar-benar mencintainya dan hanya menjadikannya alat untuk mendapatkan Luhan?
Luhan adalah senior Baekhyun dikampusnya dulu, mereka terbilang sangat dekat karena mereka sempat bertetangga dulu. Hanya saja setelah lulus 2 tahun lalu, Luhan mendapat tawaran pekerjaan di China sebagai seorang asisten manager. Sejak saat itu Luhan langsung menetap di China dan Baekhyun sama sekali tidak pernah berkomunikasi lagi dengan Luhan.
"Ayahmu sepertinya sudah mengetahui soal ini, maka dari itu ia begitu bersikeras memisahkan kita berdua. Aku dan Luhan sudah menjalin hubungan secara diam-diam dibelakangmu selama kurang lebih 1 setengah tahun belakangan ini. Aku bisa mendekatinya berkat informasi yang kau berikan padaku. Sekarang Luhan sedang hamil, dan kami berencana untuk menikah bulan depan. Tapi sebelum kami menikah, aku ingin sekali bertemu dan meminta maaf padamu. Aku tidak akan bisa tenang jika aku belum mendapatkan maaf darimu. Luhan juga menitipkan permintaan maafnya padamu. Ia merasa begitu bersalah karena telah mengkhianati seseorang yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri."
Baekhyun mengepalkan tangannya erat, jujur ia merasa begitu kecewa karena selama ini ternyata cintanya hanya bertepuk sebelah tangan. Tapi rasa kecewa itu seolah meluap ketika Chanyeol tiba-tiba saja menggenggam tangannya sambil tersenyum lembut.
Baekhyun lantas ikut tersenyum melihatnya..
"Aku maafkan, aku juga berdo'a semoga kau dan Luhan Hyung bahagia selamanya. Sebaiknya kita lupakan semua yang sudah terjadi diantara kita. Aku juga tidak ingin berlarut-larut memikirkan masa lalu. Aku sudah punya Chanyeol sekarang, dan itu sudah lebih dari cukup untukku." ucapnya sambil mengelus pipi suaminya itu lembut.
Sehun tersenyum. "Terimakasih karena sudah memaafkanku. Tadinya aku sangat khawatir saat pertama kali tau kau tinggal dirumah kecil seperti ini. Tapi melihat kau benar-benar bahagia seperti ini rasanya aku tidak perlu mengkhawatirkan apapun lagi. Chanyeol ssi sepertinya benar-benar bisa membahagiakanmu."
Baekhyun hanya tersenyum kecil sebagai balasan, ia menyandarkan tubuh mungilnya pada dada bidang sang suami.
"Aku titip Baekhyun padamu Chanyeol ssi, aku tidak bisa membahagiakannya. Aku berharap lebih padamu."
Chanyeol tersenyum. "Tentu, kau tidak perlu khawatir. Tanpa dimintapun aku pasti akan berusaha menjaga dan membahagiakan Baekhyun."
"Kalau begitu kami permisi, aku ada jadwal penerbangan ke China hari ini. Setelah urusanku di Korea selesai, aku akan segera menetap disana."
"Kau akan menetap disana? Kalau begitu sampaikan salamku pada Luhan Hyung."
Sehun tersenyum. "Tentu."
"Aku juga harus pergi ke kampus hari ini." ucap Soojung yang juga bersiap untuk pergi.
Chanyeol dan Baekhyun pun mengantar mereka berdua sampai kedepan rumah.
Dari dalam mobil, Soojung dan Sehun melambaikan tangan mereka yang juga dibalas lambaian tangan oleh pasangan Chanbaek.
Setelah mobil mewah itu benar-benar meninggalkan pekarangan rumah mereka, Baekhyun pun langsung memeluk tubuh jangkung suaminya sambil tersenyum bahagia.
Akhirnya permasalahan diantara dirinya dan Sehun telah selesai, kesalahpahaman yang terjadi antara ia dan Soojung juga sudah selesai. Baekhyun benar-benar bahagia karena Chanyeol tetap menolak tawaran Soojung untuk menjadi pengawalnya. Chanyeol lebih memilih untuk menjaga perasaannya daripada bekerja dengan bayaran tinggi.
"Aku mencintaimu Chanyeol ah.. "
Chanyeol menoleh ketika Baekhyun mengucapkan kalimat itu dengan intonasi yang sangat manja.
"Aku sangat mencintaimu suamiku.. " ucapnya lagi dengan ekspresi yang sangat menggemaskan.
Chanyeol sontak saja tertawa pelan. "Aku juga mencintaimu istriku." balasnya kemudian sambil mengusak rambut Baekhyun gemas.
.
.
.
7 bulan kemudian..
Chanyeol duduk di ruang tengah sambil menatap rekening tabungannya. Waktu berjalan dengan begitu cepat dan tak terasa sekarang usia kandungan Baekhyun sudah menginjak 8 bulan.
Ia tersenyum melihat jumlah saldo direkeningnya yang setiap hari terus bertambah. Bisnis reparasi online yang ia jalani beberapa bulan lalu nyatanya menunjukan kemajuan yang cukup signifikan. Ia banyak menerima tawaran reparasi hampir setiap harinya, sekarang ia bahkan sudah mempekerjakan beberapa karyawan untuk membantunya bekerja termasuk 2 sahabatnya sendiri yaitu Minhyuk dan Jungshin.
Ia juga berhasil naik jabatan menjadi seorang Chief Security ditempat kerjanya yang tentu saja penghasilannya lebih besar daripada menjadi satpam biasa. Chanyeol benar-benar sangat bersyukur akan hal itu.
Chanyeol juga sudah membayar seluruh hutang keluarga mereka pada Kangin dan Suho, ia juga sudah mengembalikan uang yang sempat dipinjamkan Irene dulu. Sekarang Chanyeol sudah bebas, ia hanya perlu memikirkan tentang masa depan keluarganya terutama Baekhyun dan calon anak mereka kelak.
Bicara tentang Baekhyun, istrinya itu sekarang sudah tidak terlalu sering merasakan mual atau morning sickness lagi. Perutnya juga sudah semakin besar dan Chanyeol semakin protektif dalam memperhatikan setiap aktifitas yang dilakukan istri cantiknya itu. Ia tidak pernah membiarkan Baekhyun untuk melakukan pekerjaan rumah, biasanya Chanyeol akan berbagi tugas dengan ibunya untuk melakukan pekerjaan rumah. Ia bahkan sering bangun pagi-pagi sekali hanya untuk menyiapkan sarapan untuk Baekhyun. Chanyeol benar-benar menjadi suami siaga selama kehamilan pertama Baekhyun ini. Ia hanya tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terhadap istri dan calon anaknya kelak. Sekarang Baekhyun lebih sering menghabiskan waktunya untuk beristirahat, terkadang jika Chanyeol sedang tidak ada pekerjaan ia akan mengajak Baekhyun untuk jalan-jalan pagi agar tubuh istrinya itu tidak terlalu kaku.
Di usia kandungannya yang sudah menginjak 8 bulan ini Baekhyun masih suka merasakan ngidam terutama keinginannya untuk bermain pistol air. Hampir setiap hari ia ingin bermain pistol air dan karena hal itu lah Chanyeol selalu berakhir dengan menyetubuhi Baekhyun sampai lemas. Untungnya Baekhyun sama sekali tidak pernah menolak untuk melakukan hubungan badan meskipun perutnya sudah semakin besar.
"Chanyeol ah.. "
Heechul duduk disamping putranya itu sambil memberikan sebuah brosur.
"Apa ini eomma?"
"Ini adalah brosur iklan senam hamil. Eomma mendapatkannya dari ibu-ibu lain saat sedang belanja sayuran tadi di pasar."
"Senam hamil?"
Heechul mengangguk. "Ada baiknya kau membawa Baekhyun kesana. Senam hamil itu bagus untuk ibu yang sedang mengandung."
Chanyeol menatap brosur itu dengan seksama. Setidaknya ia harus mengeluarkan 50.000 Won setiap minggunya jika ingin Baekhyun ikut senam hamil ini. Cukup mahal memang, tapi jika ini bagus untuk kehamilan Baekhyun kenapa tidak ia coba saja?
"Baiklah, aku akan coba pergi kesana.."
.
.
.
"Aku tidak yakin bisa melakukan ini Chanyeol ah."
"Tidak apa-apa sayang, senam hamil bagus untuk mempersiapkan proses persalinanmu."
Baekhyun mengangguk pelan. "Baik, akan aku coba."
Dengan menggunakan pakaian training berwarna abu-abu, Baekhyun dan perut buncitnya duduk diatas sebuah matras lembut dan Chanyeol duduk dibelakangnya. Baekhyun duduk bersama dengan sekitar 12 ibu hamil lainnya dan hanya Baekhyun satu-satunya laki-laki hamil diruangan ini.
"Selamat pagi semuanya, perkenalkan saya Kim Nana dan saya yang akan menjadi instruktur kalian selama beberapa minggu kedepan. Sebelum kita mulai latihan hari ini, ijinkan saya untuk menjelaskan sedikit manfaat dari senam hamil itu sendiri. Senam hamil sangat bermanfaat untuk proses persalinan nanti, senam ini berguna untuk melatih otot dan melatih pernafasan ketika hendak melahirkan. Senam hamil biasanya dilakukan pada trimester ketiga kehamilan atau saat kandungan sudah berusia 7 sampai 9 bulan. Peran suami juga cukup penting dalam proses senam hamil ini. Dengan mengikuti senam ini, suami jadi tau bagaimana harus bersikap ketika mendampingi istri melahirkan nanti."
Baekhyun tersenyum mendengarnya, disini juga banyak suami-suami yang ikut mendampingi istri-istri mereka melakukan senam hamil.
"Baik, tanpa perlu banyak bicara lagi. Mari kita mulai sesi latihan pertama."
Baekhyun pun mulai siap dengan posisinya.
"Pertama, duduk bersila. lalu kedua tangan diletakkan di atas lutut. Lakukan gerakan ini dengan rileks."
"Rileks Baek.. " ucap Chanyeol sambil membantu Baekhyun melakukan gerakan yang di instruksikan oleh Nana.
"Kedua, latih kekuatan otot kaki dengan duduk di atas matras dengan posisi kedua lutut ditekuk ke depan dada dan kedua tangan diletakkan ke belakang di lantai untuk menahan tubuh. Lebarkan kedua telapak kaki kalian dengan jarak kurang lebih 30 cm. Perlahan, cekungkan telapak kaki, dengan posisi bagian tengah telapak naik, namun ujung jari dan tumit tetap menyentuh lantai. Suami dapat membantu menyelipkan sebatang pensil atau pulpen ke sela-sela jari kaki istri yang sudah disediakan disamping tempat duduk kalian. Jika pulpen atau pensil ini dapat diselipkan dengan mudah, berarti otot kaki istri kalian cukup kuat, sehingga tidak akan mudah lelah ketika berjalan atau lama berdiri."
Chanyeol agak kesulitan untuk menyelipkan pensil di sela jari-jari kaki Baekhyun yang berarti otot kaki Baekhyun masih belum terlalu kuat. Sepertinya Chanyeol harus lebih sering melatih otot kaki Baekhyun agar lebih kuat lagi.
"Ketiga, latih pernapasan dengan tidur telentang dan kedua tangan berada di atas dada. Tarik napas dari hidung, lalu keluarkan dari mulut. Lakukan gerakan ini sebanyak enam sampai delapan kali. Kalian juga bisa melakukannya setiap bangun tidur pagi dan sebelum tidur malam."
Baekhyun langsung menposisikan dirinya untuk tidur terlentang. Chanyeol banyak membantunya dengan mencontohkan cara mengatur nafas dengan baik.
"Keempat, latih otot panggul dengan tidur telentang, kedua lutut ditekuk, dan paha dibuka ke samping semampunya. Suami bisa membantu untuk perlahan mengangkat panggul Istri. Diam dalam posisi ini sebanyak tiga hitungan, lalu turun ke posisi awal. Ulangi gerakan sebanyak tiga kali."
Chanyeol lantas membantu mengangkat panggul istrinya dan menahannya selama tiga hitungan lalu kemudian turun lagi ke posisi awal. Mereka terus melakukan gerakan itu secara berulang-ulang.
"Bagaimana? Kau menyukainya?"
Baekhyun mengangguk sambil tersenyum. "Aku merasa sangat nyaman dan tidak terlalu takut lagi untuk menghadapi persalinan nanti."
Chanyeol balas tersenyum. Mereka terus mengikuti gerakan selanjutnya sampai benar-benar selesai.
.
.
.
"Ayo buka mulutmu."
Baekhyun membuka mulutnya ketika Chanyeol menyuapkan sesendok bubur kearahnya.
Baekhyun mengunyah bubur itu pelan, ia merasa tidak enak karena seharian ini Chanyeol menggantikan tugasnya dalam mengerjakan pekerjaan rumah. Bukan hanya hari ini sebenarnya, tapi semenjak ia menginjak usia kandungan ke 6, Chanyeol mulai menggantikannya melakukan pekerjaan rumah. Pria itu akan sangat marah bahkan hanya jika Baekhyun memegang gagang sapu saja. Ia benar-benar merasa sangat bersalah karena Chanyeol harus mencari uang sekaligus mengerjakan pekerjaan rumah juga. Baekhyun tidak bisa membayangkan seberapa lelahnya suaminya itu sekarang.
"Chanyeol maafkan aku, seharusnya aku yang melakukan pekerjaan rumah. Bukannya kau. Aku benar-benar merasa sangat merepotkanmu."
"Jangan bicara seperti itu sayang, aku senang bisa melakukannya. Lelahku tidak seberapa jika dibandingkan denganmu yang harus membawa perut besar ini kemana-mana. Kau pasti sangat kerepotan."
Baekhyun tersenyum. Itu memang benar jika ia cukup merasa kerepotan dengan kondisi perutnya yang seperti ini. Belum lagi ditambah mual yang terkadang masih ia rasakan. Tapi Baekhyun berusaha melewati semua proses itu dengan nyaman. Ia bahagia, ia sangat senang karena bisa merasakan bagaimana sulitnya proses menjadi seorang ibu.
Chanyeol lantas mendaratkan sebuah ciuman manis dibibir ranum istrinya itu. "Terimakasih karena sudah mau mengandung darah dagingku. Aku senang sekali Baek.. "
Baekhyun tertawa pelan. "Kenapa harus berterimakasih? Ini memang sudah kewajibanku untuk mengandung anak dari benih suamiku sendiri. Aku akan sangat berdosa jika menolak benih suamiku sendiri."
Chanyeol tersenyum, ia mengecup sekali lagi bibir istrinya dengan gemas. Kemudian ia beralih mengelus perut besar sang istri. Dengan perut sebesar ini pasti sulit sekali rasanya jika harus beraktifitas, untuk berjalan saja pasti rasanya sangat melelahkan.
"Aku sudah sangat tidak sabar menanti lahirnya anak kita. Aku ingin segera dipanggil dengan sebutan appa."
"Aku juga sudah tidak sabar Chanyeol ah. Oh iya, kau tidak ingin kita melakukan USG?"
Chanyeol terdiam, ia sama sekali tidak berpikir untuk melakukan USG. "Sepertinya tidak perlu, Dokter Ahn juga sudah berkata jika calon anak kita sangat sehat. Dan untuk jenis kelamin, biarlah itu menjadi kejutan setelah bayi itu lahir nanti."
Baekhyun tersenyum. "Baiklah jika itu memang sudah menjadi keputusanmu. Tapi ngomong-ngomong kau ingin punya anak laki-laki atau perempuan?"
"Sebenarnya aku ingin punya anak laki-laki, karena anak laki-laki bisa menjaga adiknya kelak jika kau hamil lagi. Tapi jika aku diberi anak perempuan pun aku tidak masalah, yang terpenting anak kita sehat, itu sudah cukup untukku."
Baekhyun tersenyum lagi, ia langsung memeluk tubuh kekar suaminya itu dengan erat. "Aku jadi semakin tidak sabar menanti kelahiran anak kita."
"Aku pun sayang. Aku sangat tidak sabar." balas Chanyeol sambil mengecup kening istrinya itu lembut.
.
.
.
Baekhyun duduk diruang tamu sendirian, sekitar 30 menit yang lalu Chanyeol menghubunginya dan memintanya untuk berdandan secantik mungkin. Baekhyun tidak mengerti kenapa Chanyeol tiba-tiba memintanya untuk berdandan walaupun pada akhirnya ia tetap menurut.
Jam sudah menunjukan pukul 5 sore, kira-kira ada apa ya?
TOK TOK TOK TOK
Baekhyun langsung berdiri dan berjalan dengan sangat hati-hati untuk membukakan pintu.
CKLEK
"Chanyeol ah..?"
Chanyeol tersenyum dengan sangat tampan ketika Baekhyun membukakan pintu untuknya. Dengan menggunakan setelan kemeja berwarna hitam dan bawahan celana berwarna serupa, Chanyeol terlihat semakin tampan dan gagah. Rambutnya juga ditata sedemikian rupa hingga terlihat lebih rapi dan menarik.
"Untukmu.. " ucapnya sambil memberikan sebuket bunga mawar yang ia sembunyikan dibelakang tubuhnya.
Baekhyun terlihat cukup terkejut, ia menerima bunga itu sambil tersenyum manis.
"Terimakasih."
"Kau cantik sekali hari ini.. "
"Jadi maksudmu selama ini aku tidak cantik?"
Chanyeol tertawa. "Tidak seperti itu Baek, kau tetap cantik. Hanya saja hari ini kau jauh lebih cantik."
Baekhyun ikut tertawa. "Terimakasih, kau juga terlihat sangat tampan Chanyeol ah.. "
Chanyeol tersenyum. "Siap untuk pergi hari ini?"
"Kemana?"
"Kencan, kita belum pernah melakukannya kan sebelumnya?"
Baekhyun terdiam, jika di ingat-ingat mereka memang belum pernah pergi berkencan selama ini.
"Kau mau?"
Baekhyun mengangguk. "Ne, aku mau."
Pria cantik itu langsung melingkarkan tangannya pada lengan Chanyeol dan berjalan memasuki sebuah mobil berwarna hitam.
"Kau dapat mobil ini darimana Chanyeol ah?"
"Aku menyewanya dari showroom."
"Kau sengaja menyewa mobil hanya untuk kencan pertama kita?"
Chanyeol menggeleng. "Tidak, aku sengaja menyewa mobil ini untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu kau melahirkan."
Baekhyun mengangguk mengerti, rupanya Chanyeol sudah mengantisipasi semuanya dari sekarang.
"Kita berangkat.. "
Chanyeol melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Keluarga Park.
.
.
.
Baekhyun duduk di kursi tunggu sambil menatap orang-orang yang berlalu lalang dihadapannya. Bioskop Gangnam cukup ramai hari ini, Baekhyun tidak menyangka jika Chanyeol akan mengajaknya pergi ke bioskop.
"Baek.. " Chanyeol datang sembari menbawa satu bungkus popcorn berukuran besar dan 2 cup minuman dingin. Tangan kirinya juga sudah memegang 2 buah tiket film komedi romantis.
"Ayo sayang, filmnya sudah mau dimulai."
Baekhyun mengangguk, ia langsung berdiri dan mengambil bungkus popcorn ditangan Chanyeol.
"Biar aku saja yang membawanya Baek, aku takut terjadi sesuatu pada kandunganmu."
"Chanyeol tidak usah berlebihan, ini hanya sebuah popcorn. Aku tidak akan keguguran hanya karena sebuah popcorn."
"Tapi-"
"Ssst.. Sudah, sebaiknya sekarang kita masuk karena filmnya sudah dimulai."
Baekhyun langsung menarik tangan suaminya itu ketika Chanyeol hendak protes, ia tersenyum geli melihat tingkah protektif Chanyeol terhadapnya. Terkadang Baekhyun menganggap sikap Chanyeol terlalu berlebihan tapi memang seperti itulah cara Chanyeol menunjukan rasa cintanya terhadap Baekhyun.
.
.
.
"Hiks.. "
"Sudahlah Baek, itu kan hanya sebuah film."
Chanyeol dan Baekhyun sudah keluar dari theater bioskop setelah 2 jam menghabiskan waktu menonton film yang menurut Chanyeol sangat membosankan itu. Chanyeol tidak terlalu suka film dengan genre romantis seperti itu, ia lebih suka menonton film action atau pertandingan tinju. Tapi ia rela mengalah karena Baekhyun tidak mungkin menonton film dengan latar suara keras seperti film action. Ia berharap setelah menonton film tadi Baekhyun bisa merasa terhibur. Tapi yang terjadi justru malah kebalikannya, Baekhyun malah tidak berhenti menangis sedari tadi.
"Hiks.. Bagaimana bisa pemeran pria itu justru menolak gadis secantik dan sebaik pemeran utama wanita? Hatiku serasa sakit sekali melihatnya."
Chanyeol menghela nafas. "Kau menangis hanya karena itu?"
"Hanya karena itu kau bilang? Chanyeol, aku bisa merasakan perasaan wanita itu, dia pasti sangat terluka ditolak mentah-mentah seperti itu."
"Itu hanya akting Baek. Hanya rekayasa, bukan sungguhan."
"Jadi kau lebih membela laki-laki itu? Kau benar-benar tidak punya perasaan. Ah sudahlah, semua laki-laki sama saja. Sama-sama tidak peka." ucapnya kesal seolah ia lupa jika ia sendiri adalah seorang laki-laki.
"Bukan begitu Baek, kau hanya terlalu berlebihan jika menangis hanya karena sebuah film. Sudahlah, tidak usah dibahas. Sebaiknya sekarang kita cari makan, kau pasti lapar kan?"
Baekhyun mengangguk sambil menghapus airmatanya pelan.
.
.
.
Chanyeol dan Baekhyun berjalan menyusuri jalanan setapak di Sungai Han. Baekhyun memeluk lengan kiri suaminya dengan erat sambil menyandarkan kepalanya dibahu sang suami.
Langit malam dipenuhi oleh bintang malam ini, cuacanya juga tidak terlalu dingin dan sangat cocok untuk melakukan jalan-jalan malam.
"Chanyeol ah, jika nanti anak kita sudah lahir, kau ingin anak kita menjadi apa jika sudah besar?"
"Aku berharap anakku kelak tidak mengalami kesulitan yang dialami ayahnya, aku berharap anakku hidup bahagia tanpa kekurangan apapun. Aku tidak ingin keturunanku menjadi seperti ayahnya yang hanya seorang pekerja kasar."
"Chanyeol jangan bicara seperti itu, kau terlalu merendahkan dirimu sendiri.. "
"Aku tidak merendahkan diri, aku hanya tidak ingin anakku memiliki nasib yang sama sepertiku."
Baekhyun tersenyum, ia semakin merapatkan pelukannya pada Chanyeol. "Aku harap anakku nanti bisa melakukan sesuatu yang sesuai dengan impian mereka. Aku ingin mereka sukses dengan cara mereka sendiri. Kau tau Chanyeol ah? Dulu aku sangat ingin menjadi seorang penyanyi, tapi ayahku tidak menyukai itu. Ia lebih setuju jika aku menjadi seorang dokter atau bekerja diperusahaan miliknya. Karena aku tidak bisa menolak keinginan ayahku, akhirnya aku memutuskan untuk mengubur dalam-dalam impianku dan menuruti keinginan ayahku untuk kuliah di fakultas kedokteran. Aku tidak ingin anakku mengalami hal yang sama seperti ku, aku ingin mereka bisa menggapai impian mereka dan melakukan sesuatu sesuai dengan pasion mereka. Aku ingin menjadi ibu yang mendukung apapun cita-cita mereka nanti."
Chanyeol ikut tersenyum. "Aku yakin kau akan menjadi ibu yang baik Baek, aku sangat bersyukur karena anak-anakku memiliki ibu sepertimu."
"Mulutmu itu manis sekali Chanyeol ah.. "
Chanyeol tertawa pelan. "Aku serius Baek, kau pasti akan menjadi ibu yang baik nantinya. Aku jadi semakin tidak sabar menanti kelahiran anak kita."
Baekhyun ikut tertawa, ia juga sudah sangat tidak sabar menanti saat-saat itu terjadi. Saat dimana ia dan Chanyeol resmi menjadi sepasang ayah dan ibu.
.
.
.
Mereka berdua sudah sampai di sebuah restoran steak yang cukup terkenal di wilayah Gangnam. Sambil menyantap hidangannya Baekhyun tampak begitu asyik menikmati iringan lagu yang dibawakan oleh band di restoran tersebut.
Seluruh pengunjung restoran yang rata-rata adalah sepasang kekasih itu langsung bertepuk tangan ketika musik selesai dimainkan.
Chanyeol tersenyum ketika melihat Baekhyun yang begitu menikmati kencan mereka malam ini.
"Malam ini adalah malam spesial karena restoran kami sedang berulang tahun yang ke 5. Untuk itu, bagi siapapun yang ingin menyumbangkan lagu malam ini, kami sangat mempersilahkan untuk naik keatas panggung."
"Aku." Chanyeol langsung mengangkat tangan kanannya.
Baekhyun dibuat begitu terkejut melihatnya. "Chanyeol, apa yang kau lakukan?"
Chanyeol hanya tersenyum simpul dan langsung berjalan keatas panggung kemudian.
Chanyeol sedikit berbisik pada vokalis band tersebut sebelum akhirnya vokalis laki-laki itu tersenyum dan turun dari atas panggung.
Chanyeol kemudian mengambil sebuah gitar akustik dan duduk dengan nyaman diatas kursi yang sudah disediakan.
"Lagu ini aku persembahkan untuk seseorang yang telah membuat hidupku menjadi lebih indah." ucap Chanyeol dengan menggunakan mikrofon sebelum mulai bernyanyi, ia menatap Baekhyun dengan senyuman terbaiknya.
Seluruh penonton tampak dibuat riuh mendengarnya, Baekhyun sendiri hanya bisa tersenyum malu dengan kedua pipi yang sudah merona merah. Entahlah, Chanyeol benar-benar membuatnya bahagia malam ini.
Lampu direstoran dipadamkan dan hanya panggung saja yang disoroti oleh cahaya. Suasana terasa semakin romantis karena hanya ada sebuah lilin yang menyala di setiap meja tamu.
Chanyeol mulai memetik gitarnya dengan pelan.
"It's a beautiful life
(Ini adalah kehidupan yang indah.)
Nan neoui gyeote isseulge.
(Aku kan berada di sisimu.)
It's a beautiful life.
(Ini adalah kehidupan yang indah.)
Neoui dwie seo isseulge.
(Aku kan berdiri di belakangmu.)
Beautiful love.
(Cinta yang indah.)
Haneurarae neowa issdamyeon.
(Jika aku bersamamu di bawah langit ini.)
Sumswineungeosmaneurodo joha.
(Hanya bernapas saja aku sudah bahagia.)
It's a beautiful life.
(Ini adalah kehidupan yang indah.)
Beautiful day.
(Hari yang indah.)
Neoui gieogeseo naega saltende.
(Aku hidup dalam kenanganmu.)
Beautiful life.
(Kehidupan yang indah.)
Beautiful day.
(Hari yang indah.)
Nae gyeoteseo meomulleojwo.
(Tetaplah di sisiku.)
Beautiful my love.
(Indah cintaku.)
Beautiful your heart.
(Indah hatimu.)
It's a beautiful life
(Ini adalah kehidupan yang indah.)
Eonjena neol jikyeojulge.
(Aku akan selalu melindungimu.)
It's a beautiful life.
(Ini adalah kehidupan yang indah.)
Naege gidaelsuga issge.
(Bersandarlah padaku.)
Beautiful love.
(Cinta yang indah.)
Neoui nunmul neoui misodo.
(Air matamu, senyumanmu.)
Gyeoteseo hamkke hal su issdorok.
(Kita bisa hidup bersama.)
It's a beautiful life.
(Ini adalah kehidupan yang indah.)
Baekhyun menangis, ia tak sanggup untuk menahan airmatanya agar tidak keluar. It's beautiful life, Chanyeol seolah hendak menyampaikan perasaannya bahwa hidupnya menjadi lebih indah ketika Baekhyun masuk kedalam kehidupannya. Lagu ini terdengar menjadi begitu maskulin karena suara berat Chanyeol ditambah dengan petikan gitar akustik yang terdengar begitu lembut. Terdengar pekikan histeris dari beberapa pengunjung wanita begitu Chanyeol menyanyikan sepenggal dari soundtrack drama populer Goblin itu.
Chanyeol tersenyum, tatapan matanya hanya tertuju pada Baekhyun seorang.
"Saranghamnida Park Baekhyun.. "
Para pengunjung lain langsung berteriak heboh ketika Chanyeol mengungkapkan perasaannya dengan begitu lantang melalui mikrofon dihadapannya. Beberapa wanita tampak memekik iri pada Baekhyun karena memiliki pasangan seperti Chanyeol.
Baekhyun hanya bisa tersenyum malu-malu. Ia membentuk tangannya menjadi tanda hati dan menunjukannya pada Chanyeol.
"Nado saranghamnida nae sarang.. I love you so much my darling."
.
.
.
Baekhyun berjalan masuk kedalam sebuah kamar motel sederhana yang Chanyeol pesan untuk mereka menginap malam ini. Kamar ini tidak terlalu besar tapi sangat bersih dan juga nyaman.
Banyak bertaburan kelopak bunga mawar diatas kasur yang membentuk tanda hati. Suasana kamar juga cukup temaram karena hanya diterangi oleh cahaya lilin saja.
Chanyeol memeluk tubuh istrinya dari belakang setelah selesai mengunci pintu.
"Kau suka?"
"Kenapa kita menginap dimotel Chanyeol ah?"
"Aku ingin menghabiskan waktu berdua dengan istriku." ucap Chanyeol sambil mengecup leher jenjang sang istri.
"Kita bertiga sayang, jangan lupakan anak kita."
Chanyeol tersenyum. Ia mengelus perut Baekhyun dengan lembut. "Tentu aku tidak akan lupa."
Baekhyun lantas berbalik dan memeluk leher suaminya. "Terimakasih untuk hari ini sayang, kau benar-benar membuatku bahagia."
Chanyeol tersenyum. Ia menggesekan hidung mereka sambil menutup mata. "Aku juga sangat bahagia hari ini."
Chanyeol mulai mengecup bibir ranum istrinya dengan lembut. Baekhyun menutup matanya rapat menikmati sensasi ketika bibir tebal itu mengulum bibirnya.
Ciuman Chanyeol turun keleher, bergerak memutari leher itu dari kanan ke kiri dan begitu sebaliknya.
"Aaahhh Chanyeollhh.. "
Chanyeol baru melepas kecupannya ketika ia selesai memberikan banyak tanda kemerahan dileher jenjang itu.
Chanyeol bergerak melepas kemeja sewarna merah muda yang Baekhyun kenakan hingga si empunya kini bertelanjang dada. Langsung ia hisap dada putih Baekhyun yang semakin membengkak karena sudah mulai memproduksi cairan asi.
"Channhh.. Aaahh.. "
Chanyeol menghisap dada berisi itu dengan penuh nafsu, ia gigit dan hisap dengan sangat kuat puting sebelah kanan dan beralih ke puting sebelah kiri.
Setelah merasa puas, Chanyeol melepas celana yang Baekhyun kenakan sampai celana dalamnya juga hingga kini Baekhyun sudah benar-benar telanjang bulat.
Dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia membaringkan tubuh Baekhyun diatas kasur yang penuh dengan taburan kelopak bunga mawar.
Ia mengecupi perut besar sang istri dengan penuh perasaan kasih dan sayang. Ia berharap sang jabang bayi tau jika ayahnya ini begitu mencintainya.
Chanyeol langsung menggenggam kemaluan kecil istrinya dan langsung mengocoknya dengan tempo yang tearatur.
"Aaahhh Channnhh.. " Baekhyun hanya mampu mendesah tak karuan atas tindakan yang Chanyeol lakukan terhadap tubuhnya.
Setelah merasa cukup. Chanyeol langsung memasukan penis kecil itu kedalam mulutnya.
"Aaahhhh.. " Kepala Chanyeol bergerak maju mundur dengan sangat cepat.
Baekhyun mencengkeram seprei kasur dengan erat tak kuat menahan kenikmatan.
CROTT CROTT
Tak lama kemudian Baekhyun mengeluarkan cairannya hingga tubuhnya hanya bisa terkulai lemas.
Chanyeol langsung berdiri, ia melepas seluruh pakaian yang ia kenakan hingga kini ia juga sama-sama telanjang bulat.
Ia mengocok kejantanannya sendiri sampai benar-benar tegang dan bersiap memasukannya kedalam lubang hangat milik istrinya.
"Aku sudah tidak tahan lagi sayang.. "
"Pelan-pelan Chanyeol ah.. "
Chanyeol menggesek-gesekan kejantanan miliknya di depan lubang rektum sang istri sebelum akhirnya ia masukan perlahan-lahan.
JLEB
"Aaaakkkhh.. "
Baekhyun meringis pelan, penetrasi sebelum pemanasan selalu membuat lubangnya perih.
"Tahan sebentar sayang.. "
Chanyeol langsung membenamkan seluruh batang kelelakiannya pada lubang rektum Baekhyun.
"Ahhhh.. " keduanya sama-sama mendesah lega.
Chanyeol langsung memposisikan diri diatas Baekhyun dengan kedua tangan kekarnya yang menjadi tumpuan. Ia kembali mencium bibir ranum Baekhyun tanpa menindih perut buncitnya.
"Ckkpmhh.. Mmpphh.. "
Chanyeol terus mengulum bibir sang istri sambil mulai menggerakan pinggulnya dengan tempo yang teratur.
PLOK PLOK PLOK PLOK
"Ahhhh Chanyeolhhh ahh.. "
Chanyeol kembali meraup dada berisi istrinya dan menyusu layaknya seorang bayi. Baekhyun hanya bisa menjambak rambut suaminya untuk menyalurkan rasa nikmatnya.
"Chanhh pelan-pelan, aku takut terjadi sesuatu pada anak kita.. "
"Aku berusaha sayang ahh.. " Chanyeol sebenarnya ingin menyetubuhi Baekhyun dengan gerakan yang lebih cepat, tapi ia juga tidak ingin membahayakan calon anak mereka. Maka dari itu ia berusaha sebisa mungkin untuk bergerak dengan tempo yang sedang.
PLOK PLOK PLOK PLOK
"Channhh aku tidak kuat lagiihh..."
Setelah menyatukan tubuh selama beberapa lama, Baekhyun merasakan penisnya mulai berkedut-kedut.
Tau Baekhyun akan segera keluar, Chanyeol pun menggerekan pinggulnya dengan sedikit lebih cepat.
PLOK PLOK PLOK PLOK
CROTT.. CROTT..
"AHHHHHHHH." Baekhyun mendesah panjang, cairannya menyembur membasahi perut kotak-kotak milik sang suami.
PLOK PLOK PLOK PLOK
Chanyeol pun mulai memejamkan matanya erat ketika dirasa penisnya berkedut dan hendak menyemburkan laharnya.
"Baek.. Akuuhh-ARRGGGHH."
CROTT.. CROTT
Tubuh Chanyeol menggelinjang hebat ketika lagi dan lagi ia menyemburkan benihnya kedalam tubuh Baekhyun.
CUP
Ia lantas mencium bibir istrinya lembut dan mengusap rambut istrinya yang basah karena keringat.
"Saranhaeyo Park Baekhyun.. Jeongmal saranghaeyo.. "
"Nado saranghaeyo Park Chanyeol, jeongmal saranghaeyo.. "
Mereka kembali berciuman hangat setelah itu, mereka saling menutup mata rapat menikmati sensasi dari bibir masing-masing dengan perasaan bahagia yang begitu membuncah..
.
.
.
Chanyeol berjalan masuk kedalam rumahnya, ia baru saja mengambil uang dari atm sekitar 850.000 Won untuk keperluan membeli perlengkapan bayi bersama Baekhyun hari ini.
Lihatlah, betapa banyaknya biaya yang harus ia keluarkan hanya untuk membeli perlengkapan bayi saja. Ini belum termasuk biaya lahiran dan lain sebagainya. Tanggung jawab menjadi seorang kepala rumah tangga memang sangat berat, tapi Chanyeol tetap bersyukur karena ia masih diberi kesempatan untuk membahagiakan keluarga kecilnya. Setelah ini Chanyeol harus bekerja lebih keras lagi untuk masa depan istri dan anak-anaknya kelak.
"Chanyeol kau sudah pulang?" Baekhyun menyambut kedatangan suaminya itu sambil tersenyum antusias.
"Kau sudah siap?"
Baekhyun mengangguk. "Aku sangaaaat siap. Lihat, aku bahkan sudah membuat list barang-barang yang akan kita beli."
Baekhyun menunjukan sebuah buku tulis yang sudah ia isi dengan daftar barang-barang apa saja yang harus mereka beli nanti.
Chanyeol terbelalak kaget ketika melihat setengah dari buku itu sudah penuh oleh daftar belanjaan yang ditulis oleh Baekhyun.
"Sebanyak ini? Kau mau belanja keperluan bayi atau merampok toko Baek?"
"Ish kau ini, ini kan anak pertama kita. Apa salahnya jika membeli perlengkapan bayi yang lengkap?"
Chanyeol menghela nafas pelan, ia hanya bisa berharap semoga uangnya cukup.
"Yasudah, ayo kita pergi."
"Yeayyy.. " Baekhyun tersenyum senang, ia langsung memeluk tangan suaminya itu erat.
.
.
.
Sudah 3 jam lebih mereka mengelilingi salah satu pusat perbelanjaan paling ramai di Kota Seoul. Baekhyun benar-benar membeli seluruh barang yang ada di dalam daftar belanjaannya dan itu benar-benar menguras isi dompet Chanyeol. Bayangkan saja, Baekhyun membeli berlusin-lusin pakaian bayi, alat mandi, mainan dan juga alat kesehatan bayi dengan harga yang sangat mahal. Chanyeol bahkan harus menggesek atm nya lagi karena uangnya sama sekali tidak cukup untuk memenuhi hasrat belanja istrinya itu.
Yang paling mahal adalah stroller dan baby box, Baekhyun membeli kedua benda itu dengan harga 750.000 Won. Chanyeol bahkan sampai harus memohon pada pemilik toko untuk menurunkan harganya tapi si pemilik toko tetap tidak mau menurunkan harganya. Alhasil Chanyeol harus dengan sangat terpaksa membeli stroller dan baby box itu dengan harga 750.000 Won.
Tadinya Chanyeol ingin mengajak Baekhyun membeli perlengkapan bayi di pasar saja agar harganya jauh lebih murah. Tapi Baekhyun dengan tegas menolak, ia bersikeras ingin membeli perlengkapan bayi di pusat perbelanjaan ternama saja agar kualitasnya lebih baik. Chanyeol tidak bisa membantah jika istrinya sudah bersikeras ingin seperti itu. Ia hanya bisa menurut meskipun ia tau dompet dan atm nya akan jebol setelah ini.
"Chanyeol ayo kita kesana sebentar.. "
"Kemana lagi Baek? Kau tidak lihat tanganku sudah sangat penuh oleh barang belanjaan kita?"
"Aku ingin membeli beberapa baju, ayolah Chanyeol. Kau belum pernah membelikanku pakaian bagus."
Chanyeol menatap sebuah toko pakaian mewah yang ditunjuk oleh Baekhyun.
"Chanyeol ayolah.. " ucap Baekhyun dengan mata yang berkaca-kaca.
Chanyeol menghela nafas kemudian, ia memang belum pernah membelikan Baekhyun pakaian yang bagus. Mungkin satu atau dua setelan pakaian tidak akan menjadi masalah.
"Yasudah, ayo kita kesana.. "
"Yeayy, kau memang suami terbaik.. " ucap Baekhyun yang terdengar sangat girang.
.
.
.
"Semuanya jadi 665.000 Won tuan."
"APA?"
Chanyeol membelalakan matanya terkejut, Baekhyun hanya membeli 3 pasang kemeja berwarna baby blue tapi harganya bisa sampai semahal itu? Chanyeol tidak salah dengar kan?
"Kau bisa membayarnya kan Yeol?" tanya Baekhyun yang mulai merasa khawatir.
Chanyeol membuka dompet usang miliknya dan hanya bisa tersenyum miris karena hanya ada KTP saja di dalam sana.
"Maaf, apakah pembayarannya bisa dilakukan dengan kartu debit?"
Kasir wanita itu tersenyum sopan. "Tentu bisa tuan.. "
Chanyeol tersenyum lega kemudian. Ia langsung memberikan kartu debit miliknya pada kasir wanita itu.
Si kasir wanita dengan cepat menggesek kartu debit milik Chanyeol dan hanya dalam hitungan detik, baju-baju yang dibeli oleh Baekhyun sudah lunas terbayar.
"Terimakasih tuan.. "
Chanyeol menerima kembali kartu miliknya sambil tersenyum miris. Uang yang susah payah ia kumpulkan selama ini langsung habis terkuras begitu saja.
"Terimakasih sayang, aku sangat mencintaimu.." Baekhyun memeluk lengan suaminya itu sambil tersenyum bahagia.
.
.
.
Chanyeol duduk diruang tamu sambil memijat pelipisnya pelan. Ia baru saja menerima sms pemberitahuan dari bank jika sisa saldo atm nya hanya tinggal 4000 Won saja. Sungguh miris rasanya, ia bekerja pontang panting banting tulang kesana kemari demi mengumpulkan uang dan setelah uangnya terkumpul, sekarang uang itu langsung lenyap hanya dalam waktu kurang dari satu hari saja. Beruntung Chanyeol sempat memisahkan uang untuk biaya persalinan Baekhyun nanti, karena jika tidak, Chanyeol pasti akan kebingungan mencari uang untuk biaya persalinan Baekhyun yang tinggal satu bulan lagi. Biaya persalinan di Korea juga pasti sangat mahal. Jujur saja Chanyeol sedikit merasa kesal, tapi mau bagaimana lagi? Ini sudah menjadi resiko bagi seorang suami sekaligus kepala rumah tangga sepertinya. Tak apalah uangnya habis, toh nanti ia bisa mencarinya lagi. Yang penting istrinya bisa tersenyum bahagia saja itu sudah cukup.
"Chanyeol ah.. " Baekhyun datang sembari membawa secangkir kopi hangat dan beberapa camilan kue.
Ia langsung duduk disamping Chanyeol dan memeluk suaminya itu yang terlihat sangat kelelahan. "Chanyeol terimakasih banyak karena kau sudah mau menuruti semua keinginanku hari ini. Terimakasih juga karena sudah membelikan perlengkapan bayi dengan kualitas yang bagus untuk anak kita. Kau benar-benar suami dan calon ayah terbaik."
CUP
Baekhyun langsung mengecup bibir tebal sang suami yang hanya dibalas senyuman kecil dari si pria tinggi.
"Aku tau pasti semua uangmu habis untuk membeli semua peralatan tadi kan? Tapi kau tetap membelikan semuanya untukku. Aku benar-benar salut padamu Chanyeol ah."
"Aku juga ingin yang terbaik untuk calon anak kita."
Baekhyun tersenyum semakin lebar. "Yasudah, sini biar aku pijat. Sepertinya kau sangat lelah."
Chanyeol tersenyum mendengarnya. Ia langsung berbaring dengan posisi tertelungkup diatas sofa sambil bertelanjang dada.
Baekhyun langsung dengan sigap memijat bahu dan punggung tegap sang suami dengan lembut lalu beralih ke kepala dan pelipis Chanyeol.
Pijatan yang Baekhyun berikan nyatanya benar-benar membuat Chanyeol rileks, perlahan rasa kantuk pun mulai menyerang dan akhirnya Chanyeol tertidur sambil mendengkur diatas sofa.
Baekhyun yang melihat suaminya tertidur sambil mendengkur itu hanya bisa tersenyum dengan manis. Ia lantas mengambil sebuah selimut dari dalam kamar dan menyelimuti tubuh tegap lelakinya itu.
"Selamat istirahat suamiku, terimakasih untuk semuanya. Aku sangaaaaat mencintaimu."
Baekhyun mengecup kening itu pelan. Ia kemudian mengelus perut buncitnya pelan. "Kau sangat beruntung karena memiliki ayah seperti ayahmu.."
.
.
.
"Bagaimana? Sudah merasa lebih baik?"
Baekhyun menggeleng sambil terus menangis menahan rasa sakit. "Sakit sekali Chanyeol hiks aku tidak kuat.. "
Chanyeol menatap istrinya itu dengan pandangan prihatin. Usia kandungan Baekhyun sudah menginjak angka 9 bulan dan menurut perkiraan Dokter Ahn, Baekhyun akan melahirkan sekitar 4-5 hari lagi. Untuk itu Dokter Ahn meminta Chanyeol untuk tetap siaga jika sewaktu-waktu Baekhyun akan melahirkan. Beberapa hari belakangan ini Baekhyun terus menangis dan mengeluh sakit dibagian dadanya. Ukuran dada Baekhyun memang terus membengkak semenjak satu bulan lalu karena kantung susu Baekhyun terus memproduksi asi. Menurut Dokter Ahn hal ini cukup wajar dialami setiap ibu (khususnya pria) yang hendak melahirkan anaknya.
Chanyeol pun lantas menurunkan daster yang Baekhyun pakai untuk melihat kondisi dada istrinya. Baekhyun terpaksa memakai daster ibunya karena perutnya sudah semakin besar. Dokter Ahn tidak memperbolehkannya untuk memakai celana sampai ia melahirkan.
Chanyeol terdiam melihat ukuran dada Baekhyun yang memang sangat bengkak dengan puting yang mengeluarkan cairan putih sewarna susu.
"Akkkhhh.. " Baekhyun meringis kesakitan bahkan ketika Chanyeol baru menyentuh permukaannya saja.
"Tahan sebentar sayang, ini harus dikeluarkan agar tidak sakit."
"Tapi aku tidak kuat lagi Chanyeol, rasanya sangat sakit.. " ucap Baekhyun dengan pipi yang sudah basah oleh airmata.
Chanyeol lantas menundukan kepalanya dan langsung menghisap puting sebelah kanan Baekhyun.
"Aaaaakkkkhhh.. " Baekhyun sontak saja menjerit kesakitan, ia bahkan secara refleks mencakar bahu suaminya itu.
Chanyeol tidak merespon, ia tetap fokus menyedot asi yang keluar dari puting Baekhyun. Rasanya sangat hambar, tapi Chanyeol tidak peduli. Ia berharap dengan ini ia bisa sedikit mengurangi rasa sakit Baekhyun.
"Sudah merasa lebih baik?"
Baekhyun terengah-engah, ia kemudian mengangguk pelan. Rasanya sudah tidak sesakit tadi begitu asi nya dikeluarkan.
Chanyeol pun lantas beralih pada puting sebelah kiri dan menghisapnya kuat.
"Aaaaakkkkhhhh.. " Baekhyun kembali meringis kesakitan.
Chanyeol terus menghisap asi yang keluar baik dari puting sebelah kanan maupun puting sebelah kiri. Ia terus melakukan itu sampai Baekhyun benar-benar tidak merasakan sakit lagi.
"Bagaimana?"
"Sudah jauh lebih baik Chanyeol ah, terimakasih."
Chanyeol menghembuskan nafasnya lega, ia langsung berdiri dan hendak berjalan keluar untuk mengambil air minum. Rasa air susu tadi benar-benar aneh, rasanya benar-benar tidak cocok dengan lidahnya.
"Chanyeol ah.. "
Chanyeol menoleh ketika Baekhyun memanggil namanya. "Wae?"
"Itu.. " Baekhyun menunjuk kearah selangkangan Chanyeol.
Chanyeol menunduk dan ia langsung terdiam ketika melihat celananya mengembung. Ia terangsang. Tentu saja ia terangsang, ia baru saja menyusu seperti bayi pada istrinya sendiri.
"Aku tidak keberatan jika kau ingin berhubungan denganku Chanyeol ah.. "
Chanyeol sontak menggeleng. "Tidak Baek, aku takut terjadi sesuatu pada anak kita."
"Tidak apa-apa Chanyeol, Dokter Ahn sudah berkata jika kita boleh melakukan hubungan intim meskipun aku sedang hamil. Aku akan sangat berdosa jika membiarkan suamiku menahan nafsu birahinya sendiri."
Chanyeol terdiam, jujur memang semenjak usia kandungan Baekhyun menginjak angka 9 bulan, ia sudah tidak menyentuh Baekhyun lagi karena ia takut terjadi sesuatu pada calon anak mereka.
Baekhyun menggengam tangan Chanyeol dengan lembut. "Sayang ayolah, tidak apa-apa. Aku milikmu, kau berhak melepaskan hasratmu padaku.. "
Chanyeol akhirnya menyerah, jujur ia sendiri juga sangat ingin menggauli istri cantiknya itu.
Chanyeol lantas menyingkap daster yang Baekhyun pakai hingga sebatas perut dan melepas celana dalam Baekhyun.
Chanyeol pun ikut melepas celananya dan mengocok kejantanannya pelan. Baekhyun dengan sigap mengangkangkan pahanya lebar-lebar hingga lubang kecil yang berkedut dibawah sana terlihat oleh mata tajam Chanyeol.
Chanyeol menggesekan benda pusakanya pada lubang rektum itu dan memandang Baekhyun sejenak.
"Kau yakin akan melakukan ini?"
"Lakukan sepuasmu, aku milikmu sayang.. "
Chanyeol mengecup kening istrinya itu kilat, ia kemudian memasukan batang kelelakian miliknya pada lubang hangat Baekhyun dengan sangat pelan hingga tertanam sempurna di dalamnya.
JLEB
"Aaaaahhh.. " keduanya sama-sama mendesah pelan.
Chanyeol mulai menggerakan pinggulnya dengan tempo sedang.
PLOK PLOK PLOK PLOK
"Jika terasa sakit, langsung katakan padaku ya..?"
Baekhyun mengangguk, ia memeluk leher suaminya itu erat.
Chanyeol terus menggenjot lubang kenikmatan istrinya itu untuk mengejar orgasmenya.
PLOK PLOK PLOK PLOK
"Chanyeolllhh ahhh.. "
PLOK PLOK PLOK PLOK
"Aaaaahh.. "
15 menit kemudian Chanyeol mulai merasakan penisnya berkedut-kedut..
"Sebentarhh lagihh Baekhhh ahh.. "
PLOK PLOK PLOK PLOK
CROTT.. CROTT..
"ARRGHHH.. " Chanyeol memejamkan matanya erat setelah ia melepaskan hasratnya.
Ia menatap Baekhyun yang tergolek lemah dibawah tubuhnya. "Kau baik-baik saja?"
"Perutku arrrghhh sakitthhh Chanyeollhhhh.. "
Chanyeol sontak dibuat terkejut, Baekhyun tiba-tiba saja meringis kesakitan dengan wajah pucat dan penuh oleh keringat.
"Perutku Channnhhh hiks sakit sekali arrrrgggghhhh.. " Baekhyun terus meringis kesakitan sambil memeluk perutnya erat.
Cairan berwarna bening tiba-tiba saja keluar dari lubang anus Baekhyun dan membasahi batang kelelakiannya juga.
Chanyeol langsung mencabut miliknya dari dalam lubang sang istri dan memakai pakaiannya asal.
"E-EOMMA BAEKHYUN AKAN MELAHIRKAN!"
.
.
.
Chanyeol dan Heechul duduk diruang tunggu rumah sakit setelah Baekhyun dibawa keruang persalinan. Chanyeol tidak diperbolehkan masuk menemani sang istri melahirkan karena Baekhyun harus segera di operasi. Mereka berdua sontak saja langsung menjadi perhatian para penghuni rumah sakit yang berlalu lalang.
Chanyeol hanya menggunakan celana boxer diatas lutut dengan kemeja berwarna putih yang dikancing dengan asal-asalan. Rambutnya juga terlihat berantakan dan wajahnya menunjukan ekspresi ketakutan yang sangat kentara.
Kondisi Heechul juga tidak jauh berbeda dengan Chanyeol dimana ia hanya menggunakan sebuah daster panjang tanpa alas kaki dan beberapa rol rambut yang masih terpasang dirambutnya.
Mereka benar-benar panik dan sama sekali tidak sempat untuk sekedar memperhatikan penampilan disaat Baekhyun mengalami pecah ketuban.
Mereka berdua langsung membawa Baekhyun dengan menggunakan mobil menuju rumah sakit terdekat.
"CHANYEOL AH, HEECHUL AH.. "
Donghae yang di dampingi oleh Tuan Lee datang dan berlari dengan sangat cepat kearah Chanyeol dan ibunya.
"Bagaimana hah putraku hah hah.. "
Donghae tampak terengah-engah, keadaan Donghae tidak jauh berbeda dengan Chanyeol dan Heechul. Ia masih menggunakan piyama biru dongker dengan sendal tidur bermotif kelinci.
"Baekhyun masih ditangani dokter, sudah setengah jam aku menunggu disini.." ucap Chanyeol dengan suara pelan.
TETT
Lampu diruang persalinan berubah menjadi hijau. Chanyeol sontak saja berdiri dan berjalan cepat menghampiri pintu.
CKLEK
"Bagaimana istriku dok? Semuanya baik-baik saja kan? Anakku lahir dengan selamat kan?" tanya Chanyeol dengan perasaan campur aduk.
"Anda suaminya Tuan Baekhyun?"
Chanyeol mengangguk cepat. "Ya, aku suaminya."
"Kalau begitu silahkan masuk.. "
Chanyeol langsung berjalan masuk kedalam ruangan dan melihat salah seorang dokter tengah menggendong seorang bayi yang dibungkus perlak putih.
Bayi itu terdengar menangis dengan sangat kencang, Chanyeol langsung mematung ditempatnya berdiri.
Dokter itu berbalik dan tersenyum dengan sangat hangat. "Selamat tuan, bayi anda laki-laki. Ia sangat tampan dan juga sehat."
Kedua mata Chanyeol langsung berkaca-kaca detik itu juga, airmatanya jatuh begitu saja tanpa bisa ia tahan.
"Anda ingin menggendongnya?"
Chanyeol mengangguk pelan. Ia menggendong bayi yang masih berwarna merah itu dengan sangat hati-hati.
Chanyeol semakin tidak kuat untuk menahan tangisannya. Ia menangis, ia menangis sampai tersedu-sedu. Ini pertama kali dalam hidupnya ia menangis sampai seperti ini.
Para dokter dan perawat itu hanya bisa diam sambil menatap haru momen manis antara ayah dan anak itu.
Chanyeol menangis dan bayi itu pun semakin menangis keras. Chanyeol berusaha untuk berbicara meskipun itu terasa sangat sulit.
Chanyeol bahagia, ia benar-benar bahagia. airmatanya sampai jatuh mengenai kening putranya.
"I-ini appa sayang hiks.. Ini appa.. Selamat datang di dunia putraku.. Selamat datang hiks.. "
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
THE POOR MAN WHO MADE ME FALL IN LOVE IS BACK hahaha.
Thank you so much buat seribu reviewnya, wow author bener-bener ga nyangka bisa tembus sampe seribu review lebih. Sekali lagi makasih makasih makasih makasih banyak pokoknya :*
Semoga chapter ini ga ngebosenin ya, seperti yang author bilang diawal, ff ini ga akan ada konflik yang bikin otak mumet. Just pure fokus sama kehidupan rumah tangganya Chanbaek aja. Jadi buat yang ngarepin ada konflik berat segala macem, mohon maaf sekali author ga bisa mengabulkan itu.
Soojung, Irene, Suho, dan Sehun itu mereka bukan orang ketiga. Jadi sebaiknya kalian minta maaf karena udah ngata2in mereka kemarin haha.
Well kayanya sih beberapa chapter lagi tamat, soalnya author juga udah ngerancang buat endingnya nanti gimana.
Dan buat yang nanyain akun instagram author, sebenernya author ada sih instagram tapi jarang dipake soalnya boros kuota wkwk. Jadi kalo mau ngefollow juga percuma orang jarang dibuka haha.
Segitu dulu aja kali ya cuap-cuapnya, silahkan kasih review aja jika kalian berkenan atau kalian juga boleh pergi kalo ngerasa ff ini kurang pantas untuk dibaca.
See you in the next chap ~
Bye Bye :)
