Baekhyun mengerjapkan matanya pelan, ia menatap sekeliling ruangan yang dominan berwarna putih. Dimana ini? Kenapa ia hanya sendirian disini? Pria berwajah cantik itu refleks menyentuh perutnya pelan ketika ia ingat semalam ia mengalami kontraksi.

"Bayiku.. " ucapnya dengan suara bergetar.

Baekhyun berusaha untuk bangun, namun tubuhnya seolah sulit untuk diajak berkompromi.

"Chanyeol hiks.. " ia berusaha memanggil nama suaminya.

"Chanyeol hiks dimana bayi kita? Aku takut sendirian disini Chanyeol ah.. "

Baekhyun menendang udara kosong, ia berusaha menggerakan tubuhnya namun yang terjadi justru tubuhnya yang jatuh keatas tanah.

BRAKKK

Suasana tiba-tiba berubah menjadi gelap gulita, ia mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru ruangan dan ia semakin menangis histeris kemudian. Ia takut, ia tidak suka kondisi seperti ini.

"Hiks Chanyeol dimana anak kita? Tolong selamatkan aku, aku takut berada sendirian disini hiks.. " ia terus memanggil nama suaminya itu dengan pilu namun sama sekali tidak ada yang menyahut, hanya sebuah terpaan angin yang terasa begitu menusuk kulit yang menjadi saksi bisu bagaimana takutnya Baekhyun saat ini.

Baekhyun menekuk lututnya, ia tenggelamkan wajahnya diantara lutut dan menangis histeris kemudian.

"HIKS CHANYEOL DIMANA KAU? TOLONG SELAMATKAN AKU." Baekhyun terus menangis dalam ketakutan yang teramat sangat. Tidak ada ayah, ibu, suami ataupun anaknya. Ia sendiri, ia hanya sendirian ditempat mengerikan ini.

"CHANYEOL!"

.

.

.

"CHANYEOL."

Baekhyun terbangun dari tidurnya sambil berteriak memanggil nama suaminya, keringat dingin mengucur deras dari dahi dan pelipisnya. Nafasnya pun tersenggal-senggal seperti habis berlari puluhan kilo meter.

Chanyeol yang sedari tadi duduk disampingnya sontak saja merasa begitu terkejut. Refleks ia menggenggam tangan mungil sang istri hingga si empunya terlonjak kaget.

"Chanyeol hiks.. " Baekhyun langsung memeluk tubuh hangat suaminya dengan erat sambil menangis kencang.

"Kau kenapa Baek? Kenapa kau tiba-tiba berteriak seperti itu?"

"Tadi aku berada ditempat yang sangat gelap, aku berusaha menanggil namamu tapi sama sekali tidak ada balasan. Aku takut sekali Chanyeol ah hiks aku benar-benar takut."

"Itu cuma mimpi buruk Baek, daritadi aku duduk disini bersamamu."

"B-bayi kita, dimana bayi kita Chanyeol ah?"

Chanyeol tersenyum lembut. "Bayi kita sedang tidur sayang, disana.. "

Pria bertubuh kecil itu refleks menoleh kesamping kiri dan melihat sebuah ranjang bayi berukuran kecil yang di dalamnya terdapat sesosok bayi mungil yang tengah tertidur pulas.

Baekhyun sontak saja menutup mulutnya dengan menggunakan tangan saking tak kuatnya ia menahan airmata yang berlomba untuk keluar.

"C-Chanyeol itu.. "

Chanyeol mengangguk. "Itu anak kita sayang. Darah daging kita, buah cinta kita yang sudah kau kandung selama 9 bulan.. "

"C-Chanyeol tolong bawa aku kesana.."

Chanyeol dengan sigap membantu Baekhyun berdiri dan berjalan dengan hati-hati menuju ke ranjang bayi tersebut.

"Dia sangat mirip denganmu. Dia seperti Baekhyun versi maskulin." ucap Chanyeol sambil tersenyum kecil.

Baekhyun ikut tersenyum, ia sentuh pipi anaknya itu dengan lembut penuh perasaan sayang. Jika diperhatikan dengan seksama, anak ini memang sangat mirip dengan Baekhyun. Bisa dibilang 90% Baekhyun dan 10% Chanyeol. Hanya hidungnya saja mungkin yang terlihat mirip Chanyeol namun selebihnya bayi mungil ini seperti duplikat dari sosok Baekhyun. Benar apa kata suaminya, bayi ini seperti Baekhyun dengan versi yang lebih tampan. Jika Baekhyun terlihat lebih cantik dan feminim, bayi ini justru kebalikannya. Ia tampan dan terlihat sangat menggemaskan.

"Dia sangat tampan Chanyeol ah.. "

"Dia memang tampan, sama seperti ayahnya."

Baekhyun tersenyum kecil, ia menyandarkan tubuhnya pada dada bidang sang suami sambil terus mengusap airmatanya. Ia bersyukur dalam hati, ia bersyukur atas kebahagiaan bertubi-tubi yang Tuhan berikan untuknya.

Baekhyun kini benar-benar mengerti arti dari kehidupan yang sesungguhnya dimana sebuah kebahagiaan tidak harus di dapatkan dari harta yang berlimpah. Cukup dengan hidup bersama orang-orang yang paling berharga dalam hidup kita pun rasanya jauh lebih baik dibandingkan hidup dengan bergelimangan harta.

.

.

.

"Akkkkhhhh.. "

Baekhyun meringis kesakitan ketika putranya menyedot puting susunya dengan kuat. Rasanya benar-benar luar biasa, ini adalah pengalaman pertama untuk Baekhyun dan ia sama sekali tidak tau jika rasanya akan sesakit ini.

"Masih terasa sakit?" tanya Chanyeol yang duduk disampingnya.

Baekhyun mengangguk. "Sakit sekali Chanyeol ah.. "

Baekhyun telah diperbolehkan untuk pulang kerumah, kini ia dan suaminya duduk diatas ranjang kasur dengan Baekhyun yang mulai menyusui putra pertama mereka.

"Hal seperti ini memang biasa terjadi pada ibu yang baru pertama kali menyusui anaknya. Kau harus terbiasa mulai sekarang Baekhyun ah, lihat, anak kita terlihat begitu menikmati.. "

Baekhyun melirik putranya yang begitu menikmati saat dimana ia menyusu pada dada berisinya. Sontak saja Baekhyun tersenyum. Rasa sakit itu seolah tidak ada artinya lagi begitu melihat mata jernih itu menatapnya dengan begitu lucu.

"Kau sudah tau ingin memberikan nama apa pada anak kita?"

Chanyeol terdiam sejenak. "Kau tidak ingin memberi nama pada anak kita?"

Baekhyun tertawa. "Kau ayahnya Chanyeol. Kau yang lebih berhak.. "

Chanyeol tampak berpikir sejenak. "Park Taehyung."

"Park Taehyung? Kenapa kau memberi nama itu?"

"Taehyung mempunyai arti harapan yang terkabul, dan Park adalah marga keluargaku. Aku berharap apapun yang diinginkan oleh anakku dapat terkabul sesuai dengan arti namanya. Aku sudah memikirkan soal nama ini sejak jauh-jauh hari."

Baekhyun tersenyum. "Nama yang bagus Chanyeol ah, aku setuju dengan nama itu. Park Taehyung. Baby Tae.. " ucapnya sambil memainkan jari-jari mungil putra kesayangannya.

Chanyeol ikut tersenyum. Ia memeluk istri dan anaknya itu kemudian. "Terimakasih karena telah membuat hidupku menjadi lebih sempurna Baekhyun ah."

"Terimakasih juga karena sudah hadir di dalam hidupku Chanyeol ah, aku mencintaimu suamiku." balas Baekkie sambil tersenyum lembut.

"Aku juga mencintaimu istriku."

.

.

.

"Lihat siapa yang sedang tersenyum ini, cucu haraboeji benar-benar sangat tampan."

Donghae terlihat begitu senang dengan kehadiran cucu pertamanya ini, dia menggendong bayi kecil itu dengan sangat hati-hati tanpa berhenti melebarkan senyumannya.

"Donghae ya, aku juga ingin menggendong cucuku."

"Nanti saja, aku kan baru menggendongnya selama 5 menit."

"Tapi aku juga ingin melihat cucuku."

Heechul tampak mendengus kesal karena Donghae seperti hendak memanipulasi Taehyung untuk dirinya sendiri.

Baekhyun dan Chanyeol hanya bisa tersenyum geli melihat ayah dan ibu mereka terus berebut untuk menggendong Taehyung. Baru satu hari Taehyung lahir kedunia dan bayi kecil itu sudah memberikan aura kebahagiaan di dalam rumah ini.

"Terimakasih karena sudah memberikan kami cucu Chanyeol ah, Baekhyun ah. Aboeji sangat bahagia." Donghae berucap tulus.

"Eomma juga sangat bahagia, Taehyung benar-benar menjadi sumber kebahagiaan baru di rumah ini."

"Tidak perlu berterimakasih eomma, aboeji. Kami juga sangat bahagia dengan hadirnya Taehyung di tengah-tengah keluarga kecil kami."

"Mulai sekarang kalian sudah punya tanggung jawab baru, kalian telah menjadi orangtua. Masa depan Taehyung ada ditangan kalian berdua sekarang. Terutama kau Baekhyun ah, sekarang kau adalah seorang ibu sekaligus seorang istri. Prioritas utamamu sekarang adalah anak dan suamimu. Kau mengerti?"

Baekhyun mengangguk. "Baekkie mengerti aboeji."

"Kau tidak perlu khawatir Donghae ya, aku akan membimbing Baekhyun agar bisa menjadi ibu yang baik untuk Taehyung." ucap Heechul sambil menggendong Taehyung dari tangan Donghae.

"Kau juga harus membimbing istrimu Chanyeol ah. Kalian harus bekerja sama dalam merawat dan membesarkan Taehyung. Biar bagaimanapun kalian baru pertama kali menjadi orangtua."

Chanyeol mengangguk. "Tentu aboeji, aku akan berusaha menjadi ayah dan suami yang baik untuk Baekhyun dan juga Taehyung."

Donghae balas tersenyum kemudian. "Baguslah kalau begitu, Chullie ya berikan Taehyung padaku lagi. Aku ingin menggendongnya lagi."

"Sssstt dia sudah tertidur Hae ya, kau jangan mengganggunya."

"Benarkah?"

Donghae kemudian melihat cucu pertamanya itu yang memang sudah menutup matanya kembali. Donghae dan Heechul sama-sama tersenyum kemudian. Tidak ada kata ataupun kalimat yang bisa menggambarkan betapa bahagianya mereka saat ini.

.

.

.

"Wah anakmu lucu sekali Baekhyun ah, dia juga sangat tampan." Irene tampak begitu gemas ketika ia menggendong putra pertama Chanyeol dah Baekhyun.

Baekhyun tersenyum mendengar pujian dari Irene, mantan kekasih dari suaminya itu menyempatkan diri datang untuk menjenguk putra pertama mereka setelah satu minggu Baekhyun melahirkan.

"Terimakasih, sudah lama aku tidak melihatmu Irene ah. Kookie juga sudah sangat jarang datang kemari."

Irene tersenyum. "Iya begitulah, setelah aku berhenti bekerja di cafe nya Suho, aku mulai fokus membuka sebuah salon tidak jauh dari rumahku. Kookie juga sekarang sibuk dengan kegiatan sekolahnya. Aku juga sengaja mendaftarkan Kookie untuk ikut kelas kursus agar ia punya bekal keterampilan untuk bekal masa depannya kelak."

"Wah benarkah? Aku jadi ingin berkunjung. Semoga salonmu sukses dan selalu ramai pengunjung Irene ah."

"Amin. Oh iya, kenapa rumah sepi sekali? Kemana Chanyeol dan juga Heechul ahjumma?"

"Eomma pergi ke pasar sebentar, sedangkan Chanyeol pergi bekerja. Biar bagaimanapun ia adalah kepala keluarga. Ia wajib mencari uang untuk keluarganya bukan?"

Irene mengangguk mengerti. "Kau sudah bisa mengurus bayi? Kau baru satu minggu kan menjadi seorang ibu?"

Baekhyun menggeleng. "Sebenarnya belum. Aku hanya berani menggendong atau menyusui anakku saja. Untuk memandikan dan lain sebagainya biasanya dilakukan oleh eomma. Aku terlalu takut untuk melakukan nya sendiri."

"Jadi bayimu ini belum kau mandikan?"

"Belum. Aku masih menunggu eomma pulang dari pasar."

"Kenapa harus menunggu Heechul ahjumma pulang? Sini biar aku saja yang memandikannya."

"Eh? Benarkah? Apa tidak merepotkan?"

"Tentu tidak Baek, justru aku merasa sangat senang bisa membantu. Sekarang sebaiknya kau siapkan peralatan mandi dan air hangatnya juga."

Baekhyun mengangguk. "Baik, tunggu sebentar."

.

.

.

Wanita cantik itu kemudian memasukan tubuh mungil Taehyung kedalam bak mandi anak dengan sangat hati-hati.

"Usahakan airnya tidak terlalu panas tapi tidak terlalu dingin juga. Air yang dingin bisa membuat kulit bayi menjadi kering. Kau juga harus memperhatikan cara memandikan bayi dengan benar, kau pegang belakang kepala dan bahunya seperti ini, lalu kau usapkan air hangat ke seluruh tubuh anakmu. Usapkan sabun bayi dengan lembut kesuluruh tubuh dan usapkan juga shampoo bayi dengan lembut dirambutnya. Kau juga bisa memijat kepalanya seperti ini."

Taehyung terlihat sangat tenang dan begitu menikmati sentuhan lembut tangan Irene dikepalanya. Baekhyun memperhatikan itu dengan sangat teliti.

"Setelah selesai, kau bisa langsung membalut tubuh anakmu dengan menggunakan handuk. Jangan terlalu kasar saat mengeringkan tubuh anakmu, kau harus melakukan nya dengan lembut."

"Kau terlihat sangat telaten dalam mengurus bayi Irene ah."

"Aku kan memang sudah punya pengalaman waktu mengurus Kookie dulu. Aku merawat Kookie seorang diri waktu itu, maka dari itu kau juga harus bisa merawat dan mengurus anakmu seorang diri Baekhyun ah. Kau kan ibunya, kau tidak bisa selalu mengandalkan Heechul ahjumma."

"Aku akan berusaha Irene ah."

"Sekarang ayo kita pakaikan baju untuk pangeran kecil ini. Kau juga harus belajar bagaimana cara memakaikan baju yang baik untuk bayi yang baru lahir."

Baekhyun mengangguk. "Ne.. "

.

.

.

"Usapkan minyak telon ditubuh putramu agar tubuhnya tetap hangat. Lalu setelah itu, kau usapkan bedak secara merata keseluruh tubuhnya. Dan untuk memakaikannya baju, kau bisa melakukannya seperti ini..."

Baekhyun memperhatikan setiap apa yang dilakukan Irene dengan seksama, ia rekam semua itu dengan baik agar ia bisa melakukannya juga nanti tanpa harus selalu merepotkan ibunya.

"Terakhir, kau pasangkan sarung tangan dan juga kaos kaki. Bayi yang baru lahir sangat sensitif terhadap udara dingin."

Baekhyun tersenyum melihatnya. "Terimakasih banyak Irene ah, aku seperti mendapat sebuah pelajaran baru."

Irene mengangguk. "Sama-sama. Sekarang sebaiknya kau bawa anakmu untuk berjemur. Sinar matahari pagi sangat baik untuk kesehatan anakmu."

"Baiklah, ayo kita keluar." Baekhyun menggendong Taehyung dengan lembut dan sangat hati-hati.

Baekhyun membawa Taehyung ke belakang teras rumah, udara pagi hari yang sejuk ditambah sinar matahari yang terasa begitu hangat memang sangat cocok untuk bayi yang baru lahir seperti Taehyung. Bukan hanya bayi, orang dewasa pun sangat dianjurkan untuk berjemur dibawah hangatnya sinar matahari pagi.

"Kau pasti bahagia sekali setelah menikah dengan Chanyeol dan memiliki anak yang begitu menggemaskan seperti Taehyung."

Baekhyun tersenyum. "Tentu. Aku sangat bahagia, dulu aku berpikir bahwa uang adalah sumber kebahagiaan. Tapi setelah aku menikah dengan Chanyeol aku mulai sadar bahwa uang bukanlah segalanya. Chanyeol bukanlah pria kaya, dia hanya seorang pria sederhana yang hanya punya semangat juang dan rasa tanggung jawab yang besar. Tidak ada rumah mewah, kamar mewah, barang-barang mewah ataupun makanan-makanan mewah. Tapi nyatanya aku bahagia, aku jauh lebih bahagia dengan hanya berada disamping pria miskin seperti Chanyeol daripada hidup bergelimang harta seperti dulu. Dan sekarang aku semakin merasa bahagia dengan hadirnya pangeran kecil yang begitu menggemaskan ini diantara kami."

Irene tersenyum miris mendengarnya. "Aku iri padamu Baek, aku iri sekali. Aku juga ingin bisa merasakan bagaimana bahagianya jika punya sebuah keluarga. Tapi sayangnya aku tidak bisa merasakan itu semua. Bahkan Kookie harus lahir tanpa adanya sosok seorang ayah. Dari awal sampai sekarang aku harus berjuang seorang diri untuk memenuhi kebutuhan hidupku, Kookie dan juga orangtuaku. Terkadang aku hanya bisa menangis di malam hari jika mengingat bagaimana mirisnya kehidupanku saat ini. Aku juga ingin sepertimu, aku ingin seperti wanita lain yang juga punya seseorang yang bisa untuk diajak berbagi."

Baekhyun terdiam, ia merasa ikut prihatin dengan apa yang dialami Irene. "Kau harus sabar Irene ah, aku yakin cepat atau lambat kau akan menemukan pasangan yang paling tepat untukmu."

"Aku rasa itu tidak mungkin, pria manapun pasti tidak akan sudi menjalin hubungan dengan mantan seorang pelacur yang punya satu orang anak sepertiku."

"Jangan merendah seperti itu Irene ah, ini hanya masalah waktu. Kau harus lebih bersabar."

Irene mencoba untuk tersenyum. "Aku harap juga begitu."

Baekhyun terdiam lagi, ia jadi teringat saat dimana ia secara tak sengaja mendapati Irene tengah bersetubuh dengan Suho. Ia ingin menanyakan itu sejak lama, tapi ia ragu..

"Irene ah, apakah aku boleh bertanya sesuatu padamu?"

"Tanya apa?"

"Sebenarnya.. Siapa ayah kandung Kookie? Kau jangan salah paham dulu Irene ah. Aku sudah menganggap Kookie seperti anakku sendiri dan aku merasa begitu prihatin karena ia sama sekali tidak tau apa-apa soal ayahnya."

Irene terdiam untuk beberapa saat. "Suho.. Ayah Kookie adalah Suho, dia yang sudah menghamili ku dan menolak untuk bertanggung jawab."

Baekhyun terdiam mendengarnya, ia sama sekali tidak merasa terkejut karena semenjak ia memergoki Irene sedang bersetubuh dengan Suho waktu itu, Baekhyun sudah mulai menaruh rasa curiga pada pria bertubuh pendek itu.

"Meskipun aku tidur dengan banyak pria, tapi aku sangat yakin jika Kookie adalah anak Suho. Dia pria pertama yang menjamah tubuhku, dan dari hasil tes DNA yang aku lakukan juga menyatakan jika Kookie 99% memang darah daging Suho."

"Lalu kenapa Suho menolak untuk bertanggung jawab?"

"Aku tidak tau, ia benar-benar marah saat aku menunjukan hasil tes DNA Kookie padanya dan menuduhku telah melakukan kebohongan. Ia sama sekali tidak mempercayai hasil tes itu karena aku sudah tidur dengan banyak laki-laki. Aku hiks.. " Irene menutup mulutnya tak sanggup untuk tidak menangis, Baekhyun yang duduk disebelahnya mencoba menenangkan wanita itu dengan sebelah tangannya.

"Kau harus kuat Irene ah, demi Kookie.. "

Irene masih terus menangis. "Hiks, aku akan berusaha untuk melupakan semua itu. Sekarang aku ingin memulai kehidupan baru sebagai seorang Bae Joohyun. Aku hanya akan terus berjuang demi kebahagiaan dan masa depan Kookie."

Baekhyun tersenyum. "Tidak apa-apa jika Suho menolak untuk mengakui Kookie sebagai anaknya, Kookie masih punya Chanyeol. Chanyeol juga ayahnya Kookie, ia tidak akan meninggalkan Kookie sendirian. Begitu juga denganku, Kookie adalah putraku juga dan aku sangat menyanyanginya sama seperti aku menyanyangi Taehyung. Kau tidak sendirian Irene ah. Kau dan Kookie punya kami.. "

Irene akhirnya tersenyum, ia mengusap airmatanya dengan pelan. "Terimakasih Baekhyun ah, terimakasih banyak."

"Sama-sama." ucap Baekhyun yang jugs ikut tersenyum manis.

.

.

.

"Sayang kau sudah pulang.. " Baekhyun menyambut kedatangan suaminya sambil tersenyum manis, ia mencium tangan suaminya itu dengan lembut.

"Chanyeol maafkan aku, belakangan ini aku jarang melayanimu karena aku sibuk mengurus Taehyung.. "

Chanyeol tersenyum. "Tidak apa-apa, dimana Taehyung?"

"Dia sudah tidur."

"Benarkah? Kalau begitu aku mau melihatnya."

"Eh, kau mau kemana? Kau kan belum mandi, nafasmu juga bau rokok. Jangan mendekati Taehyung dulu. Kasihan dia."

Chanyeol terdiam, benar juga apa kata Baekhyun. Taehyung bisa terkena penyakit jika ia mendekatinya sekarang.

"Aku benar-benar lupa soal itu Baek, terimakasih sudah mengingatkanku."

Baekhyun tersenyum, ia kemudian melirik sesuatu yang dibawa oleh Chanyeol. Is baru sadar ternyata Chanyeol sedari tadi menjinjing sebuah radio ditangan kirinya dan sebuah laptop ditangan kanannya.

"Ini barang-barang yang akan kau service lagi?"

Chanyeol mengangguk. "Aku sengaja membawanya kerumah."

Baekhyun mengangguk mengerti, memang setelah ia melahirkan, Chanyeol lebih sering membawa barang-barang milik pelanggan kerumah agar bisa memperbaikinya dirumah.

"Yasudah, ayo masuk. Biar aku siapkan air panas untukmu mandi ya.. "

"Owe.. Owe.. Owe.. "

Baekhyun langsung tersentak ketika mendengar suara tangisan anaknya, buru-buru ia berjalan cepat kedalam kamar dan menggendong putra pertamanya itu dari dalam box bayi.

"Sssstttt.. Cup.. Cup.. Cup.. Cup.. Jangan menangis sayang, eomma disini." Baekhyun dengan segera melepas 3 kancing kemejanya agar si bayi mungil itu bisa menyusu.

"Akkhh.. " lagi-lagi Baekhyun meringis, rasanya masih cukup perih ketika Taehyung menghisap putingnya dengan keras.

Tak lama kemudian, Chanyeol pun masuk kedalam kamar. Ia melihat Taehyung putranya yang tengah menyusu pada Baekhyun.

"Masih terasa sakit Baek?" tanyanya sambil melepas satu persatu kancing seragamnya.

"Sedikit.. Tapi aku sudah mulai terbiasa."

Chanyeol menggantung seragamnya dibelakang pintu kamar dan berjalan pelan menghampiri istrinya itu kemudian, Baekhyun menoleh karena merasa begitu heran dengan sikap Chanyeol yang hanya diam sembari menatap dadanya cukup lama.

"Kenapa Chanyeol ah?"

Chanyeol menggeleng. "Ani, aku hanya merasa iri saja pada Taehyung. Setiap hari ia bisa dengan bebas menghisap putingmu seperti itu. Aku kan juga mau."

"Mwo?" Baekhyun terperangah kaget. Ia tidak salah dengar kan? Chanyeol iri pada bayi berumur satu minggu? Heol, yang benar saja..

Baekhyun tersenyum geli untuk sejenak, satu tangannya ia gunakan untuk menyentuh pipi tegas sang suami. "Chanyeol maafkan aku ya, belakangan ini aku jarang memperhatikanmu. Kau tau aku harus fokus untuk merawat anak kita, dokter juga melarang kita untuk berhubungan badan selama 40 hari sampai kondisi tubuhku benar-benar siap pasca operasi. Nanti setelah kondisi tubuhku benar-benar pulih, aku janji akan melayanimu lagi seperti Baekhyun yang dulu."

Chanyeol ikut tersenyum, ia menyentuh tangan Baekhyun di pipinya dengan lembut. "Aku tidak sabar menunggu 40 hari itu usai."

Baekhyun hanya terkekeh pelan mendengarnya. Chanyeol kemudian merogoh saku celananya dan mengambil dompet miliknya. Ia mengeluarkan semua uang hasil kerja kerasnya hari ini dan menyerahkannya pada Baekhyun.

"Ini, gunakan uang ini untuk keperluan rumah dan juga kebutuhan Taehyung. Sisanya bisa kau simpan untuk keperluanmu sendiri."

"Lalu kau sendiri? Kenapa kau memberikan semua uangmu padaku?"

"Tidak apa-apa, aku bekerja kan memang untuk memenuhi kebutuhan kalian. Istri dan anakku jauh lebih membutuhkan uang itu daripada aku."

Baekhyun merasa tersentuh, ini bukan pertama kalinya Chanyeol bersikap begitu manis terhadapnya, tapi tetap saja ia selalu merasa begitu tersentuh dengan segala perilaku dan perjuangan Chanyeol untuk dirinya dan si buah hati.

"Terimakasih Chanyeol, terimakasih banyak."

Chanyeol tersenyum. "Kalau begitu aku mau mandi dulu."

"Chanyeol maafkan aku, sepertinya kau harus menyiapkan air panasmu sendiri. Dan untuk makan malam, aku sudah menyiapkannya. Kau bisa menghangatkannya lagi jika kau mau. Taehyung sepertinya belum mau berhenti menyusu. Sekali lagi maafkan aku Chanyeol ah, bukannya aku tidak mau melayani suamiku sendiri-"

"Ssstt, sudah-sudah. Aku mengerti, biar bagaimanapun Taehyung jauh lebih penting untuk sekarang." ucap Chanyeol memotong perkataan Baekhyun sambil berlalu keluar menuju kamar mandi.

Baekhyun tersenyum kecil melihatnya, ia kembali menatap sang putra kesayangan yang masih tampak sibuk menghisap putingnya dengan kencang.

.

.

.

Baekhyun melirik jam di dinding kamarnya yang sudah menunjukan pukul 00.00 tengah malam. Ia melihat ranjang sebelah kanannya yang ternyata masih kosong. Kemana Chanyeol? Apa ia masih belum tidur?

Ia pun memutuskan untuk berjalan keluar kamar sambil mengancingkan kembali kancing kemejanya.

Baekhyun terdiam ketika ia berdiri di dekat ruang tamu. Chanyeol disana, ia duduk sendirian disana sembari fokus memperbaiki beberapa alat elektronik milik pelanggannya.

"Chanyeol."

Chanyeol mendongak. "Oh Baek, kau terbangun?"

Baekhyun berjalan pelan dan duduk disamping suaminya itu. "Kenapa belum tidur? Besok kau harus kerja pagi kan?"

"Aku masih harus memperbaiki beberapa barang-barang ini dulu sayang, sebaiknya kau tidur saja duluan. Tidak usah menungguku."

"Chanyeol tapi ini sudah malam, kau harus segera istirahat. Apa kau tidak lelah bekerja terus sepanjang hari? Tubuhmu juga butuh istirahat. Kau bisa meminta Minhyuk atau Jungshin untuk memperbaiki ini besok."

"Tidak bisa, mereka berdua juga punya kesibukan masing-masing. Lagipula mereka juga sudah sering membantu memperbaiki alat-alat elektronik."

Baekhyun berdecak sebal. "Chanyeol kenapa kau tidak pernah mau mendengarkan ucapanku? Aku hanya mengkhawatirkan keadaanmu, aku tidak mau kau sakit. Jika kau sakit kau juga tidak akan bisa bekerja lagi. Sekarang dengarkan aku, simpan semua barang-barang itu dan cepat pergi ketempat tidur."

"Sebentar lagi Baek, 10 menit lagi, aku janji."

"Tidak ada tawar menawar Chanyeol ah, lepaskan obeng-obeng itu dari tanganmu sekarang juga."

"Tapi Baek, aku-"

"Chanyeol."

Chanyeol hanya bisa menghela nafasnya pasrah, Baekhyun tidak suka dibantah jika sudah begini. Alhasil, ia hanya bisa menurut dan menyimpan obeng ditangannya ketempat semula.

"Bagus, biar aku bantu membereskan semuanya."

Baekhyun membantu Chanyeol untuk membereskan semua alat-alat elektronik milik pelanggan Chanyeol dan menyimpannya di ruangan kecil disamping kamar Baekhyun.

"Sekarang ayo kita tidur." Baekhyun kemudian menarik tangan sang suami untuk masuk kedalam kamar.

Chanyeol melepas kaos yang ia pakai dan menggantungnya dibelakang pintu. Setelah itu, ia langsung berbaring disamping Baekhyun.

"Sini biar aku pijat Chanyeol ah."

Baekhyun memijat pergelangan tangan dan kaki suaminya dengan lembut.

"Terimakasih sayang."

Baekhyun tersenyum. "Sama-sama."

Baekhyun pernah membaca sebuah artikel di internet bahwa salah satu cara supaya hubungan suami istri bisa lebih harmonis adalah dengan sebuah obrolan manis sebelum tidur. Maka dari itu, Baekhyun berinisiatif untuk mengajak suaminya itu mengobrol sebelum tidur malam ini.

"Chan.. Bagaimana dengan pekerjaan mu hari ini? Semuanya lancar?"

"Seperti biasa, hanya saja memang menjadi seorang chief security itu tanggung jawabnya lebih besar. Pekerjaan sampinganku juga berjalan lancar. Semua ini berkat do'a darimu juga."

Baekhyun tersenyum. "Aku sangat senang mendengarnya."

Baekhyun beralih memijat kedua kaki suaminya. "Tadi Irene datang kemari untuk menjenguk Taehyung."

"Benarkah? Ah aku jadi teringat Kookie, aku belum sempat menjenguknya belakangan ini."

"Irene bilang Kookie sekarang sedang sibuk sekolah, Kookie juga sekarang ikut kelas kursus."

Chanyeol tersenyum. "Aku jadi semakin merindukan anak itu."

"Kau tau Chanyeol ah? Tadi Irene sempat bercerita padaku tentang ayah kandung Kookie."

Chanyeol sontak menoleh. "Benarkah? Kau tau siapa ayah kandung Kookie?"

Baekhyun mengangguk. "Suho, ayah kandung Kookie adalah Suho."

Chanyeol langsung terduduk. "Suho?"

"Iya, Suho. Irene sudah melakukan tes DNA dan hasilnya 99% DNA Kookie cocok dengan Suho."

Chanyeol berdecak kesal. "Brengsek, lalu kenapa bajingan itu tidak bertanggung jawab sama sekali atas kehamilan Irene?"

"Suho sama sekali tidak percaya jika Kookie adalah anak kandungnya karena Irene adalah seorang wanita malam."

Chanyeol mengepalkan tangannya erat, dari dulu ia memang tidak pernah menyukai Suho dan rasa bencinya itu semakin besar saja ketika ia tau pria bajingan itu adalah ayah biologis dari anak angkatnya.

"Jujur aku benar-benar merasa khawatir dengan Kookie, ada baiknya jika Kookie dititipkan disini saja karena Irene sekarang sibuk dengan bisnis salonnya. Aku ingin Kookie juga bisa merasakan bagaimana punya keluarga yang utuh. Aku ingin Kookie tidak merasa kesepian lagi."

Chanyeol tersenyum, ia menggenggam tangan Baekhyun dengan erat. "Terimakasih karena sudah peduli pada Kookie, Kookie sudah aku anggap seperti anakku sendiri. Aku senang jika kau juga peduli pada Kookie."

Baekhyun ikut tersenyum. "Anakmu juga anakku juga. Meskipun Kookie tidak lahir dari rahimku sendiri, tapi karena kau juga sudah menganggap Kookie seperti anakmu sendiri, maka secara otomatis Kookie juga sudah aku anggap seperti anakku juga. Irene juga sudah aku anggap seperti saudaraku sendiri, jadi tidak ada alasan bagiku untuk tidak menyayangi Kookie."

"Aku beruntung sekali punya istri sepertimu." Chanyeol memeluk istrinya itu dengan lembut. Baekhyun juga balas memeluk suaminya itu sambil menyandarkan kepalanya dengan nyaman di dada bidang sang suami.

"Eakk.. Eakk.. Eakk.. "

Sepasang suami istri itu langsung menoleh ketika mendengar suara Taehyung yang menangis.

"Taehyungie.. " Baekhyun buru-buru turun dari atas ranjang dan berjalan menghampiri box bayi anaknya.

"Sayang.. " pria bertubuh montok itu menggendong tubuh kecil sang anak dan dengan cepat kembali membuka 3 kancing teratas kemeja yang ia pakai.

Ia kemudian duduk kembali di ranjang sambil menyusui sang anak. Chanyeol tampak terdiam sambil memperhatikan Baekhyun yang dengan telaten menyusui anak mereka.

Sadar Chanyeol tengah memperhatikannya, Baekhyun pun langsung menoleh dan menatap suaminya itu dengan tatapan bingung.

"Ada apa Chanyeol ah? Kenapa kau menatapku seperti itu?"

Chanyeol terdiam untuk beberapa saat, ia mendekatkan tubuhnya dengan hati-hati kearah Baekhyun. Dengan perlahan, tangannya langsung terjulur untuk meremas dada sebelah kanan Baekhyun.

"Ahhhh Chanyeol apa yang kau lakukan?"

"Ijinkan aku untuk menghisap ini juga Baek, sekali saja.. " ucap Chanyeol yang terdengar seperti memohon.

"Tapi aku sedang menyusui Taehyung.. "

"Aku kan bisa menyusu dari dada sebelah kanan.. "

Baekhyun dibuat semakin mengernyitkan alisnya bingung. Rasanya aneh sekali jika seorang pria dewasa berusia 31 tahun seperti Chanyeol menyusu padanya seperti seorang bayi.

"Kau ini aneh sekali Chanyeol ah, kenapa tiba-tiba kau ingin menyusu padaku seperti anak kecil?"

"Ayolah sayang, aku sudah punya seks selama 1 minggu dan masih tersisa 33 hari lagi. Setidaknya biarkan aku mengulum puting susumu."

Baekhyun terdiam, ia melirik Taehyung yang masih asyik menyusu padanya. Pria cantik itu akhirnya membuka seluruh kancing kemejanya agar Chanyeol juga bisa menyusu padanya.

Melihat itu, Chanyeol pun lantas langsung meraup puting dada sebelah kanan Baekhyun dengan rakus.

"Akkhhh Channhh pelan-pelan. Itu masih terasa sakit."

Chanyeol mengangguk sambil terus menghisap puting sang istri, ia menutup matanya erat saking menikmati kegiatannya menghisap puting susu Baekhyun.

Baekhyun menekan kepala Chanyeol agar semakin dalam menghisap putingnya. Ia seperti punya dua orang bayi sekarang. Puting sebelah kirinya dihisap oleh bayi kecilnya dan puting sebelah kanannya dihisap oleh bayi besar berbadan kekar. Sensasinya benar-benar terasa berbeda, putingnya terasa sakit ketika Taehyung menghisapnya tapi ketika Chanyeol yang menghisap putingnya, rasa sakit itu bercampur dengan rasa nikmat. Entahlah, Baekhyun sepertinya juga merindukan sentuhan suaminya itu.

"Chann pelan-pelan, jangan kau hisap habis asi untuk Taehyung.. "

Chanyeol lagi-lagi mengangguk tanpa melepas kulumannya pada dada berisi Baekhyun.

Malam itu, Baekhyun menghabiskan waktunya dengan menyusui sepasang ayah dan anak yang haus akan puting susunya..

.

.

.

"Inilah alasan kenapa aku tidak mau kau menghisap putingku seperti Taehyung, sekarang jika sudah seperti ini kau mau bagaimana Chanyeol ah?"

"Aku bisa menyelesaikannya nanti di kamar mandi.. "

"Kau punya istri kenapa harus menyelesaikannya sendiri?"

"Lalu aku harus bagaimana? Aku tidak bisa menyentuhmu untuk sementara waktu."

Baekhyun menghela nafas, inilah alasan kenapa ia kurang suka jika Chanyeol menghisap puting susunya ketika ia masih belum bisa melayani Chanyeol dengan sepenuhnya. Pria cantik itu hanya bisa menatap datar pada gundukan besar ditengah selangkangan Chanyeol yang tiba-tiba mengembung akibat kegiatannya tadi.

"Yasudah, sini biar aku selesaikan saja."

Baekhyun dengan cepat menurunkan celana kolor Chanyeol hingga sebatas paha, tangannya langsung terjulur untuk menyentuh benda panjang yang sudah menegak sempurna itu.

"Oouhhhh.. " Chanyeol melenguh ketika telapak tangan halus sang istri menyentuh urat-urat disekeliling batang kelelakiannya.

Baekhyun dengan cepat mengocok pusaka kebanggaan suaminya itu hingga mengeluarkan lendir.

"Baek.. Ahhhh.. "

Pria cantik itu kemudian menunduk dan memasukan penis suaminya kedalam mulut kecilnya. Dengan tempo yang teratur ia menghisap benda panjang itu dengan kuat sembari menggerakan kepalanya naik turun.

"Hnmmhh.. Ahhhh.. " Chanyeol hanya bisa menutup matanya menahan rasa nikmat yang diberikan oleh istrinya.

Baekhyun masih terus mengulum kejantanan suaminya dan terkadang tangannya juga ikut bergerak meremat dua bola kembar dibawah batang kejantanan suaminya.

Lidahnya tidak tinggal diam, ia membuat gerakan memutar seolah melilit benda besar itu. Sesekali lidahnya juga dengan jahil menjilati lubang kencing sang suami hingga tubuh Chanyeol bergetar hebat.

"Ahhhh Baekk oouhh.. "

Tak berapa lama, Baekhyun pun mulai merasakan kejantanan suaminya berkedut di dalam mulutnya. Ia semakin mempercepat tempo gerakannya.

CLOK CLOK CLOK CLOK

"Baekkhh.. Akuhhh.. Arrghhh.. "

CROT.. CROT..

Chanyeol menyemburkan lahar hangatnya hingga masuk seluruhnya kedalam tenggorokan Baekhyun, Baekhyun terbatuk-batuk dibuatnya. Tapi dengan cepat ia langsung mengusap lelehan sperma yang menempel dibibirnya.

"Terimakasih Baek, kau yang terbaik."

Baekhyun tesenyum, ia kembali menaikan celana Chanyeol. Pria berwajah cantik itu lantas langsung membaringkan kepalanya di dada telanjang sang suami.

"Sekarang lebih baik kita tidur, aku lelah sekali hari ini."

"Aku pun, besok aku harus kerja pagi."

"Jaljayo suamiku.. "

"Jaljayo istriku yang manis." ia mengecup kepala sang istri lembut dan mematikan lampu tidur kemudian.

Baekhyun tersenyum dalam tidurnya, beginilah kehidupan seorang istri sekaligus seorang ibu. Ia harus mengurus anak, rumah sekaligus suami secara bersamaan. Cukup melelahkan memang, tapi Baekhyun sangat menikmati itu. Semuanya harus berjalan dengan seimbang, meskipun Taehyung membutuhkan perhatian lebih, tapi jangan sampai hal itu membuat Chanyeol merasa diabaikan. Baekhyun harus tetap memenuhi segala kebutuhan suaminya terutama kebutuhan soal sex, pada dasarnya setiap suami memang tidak akan kuat menahan hasrat seksual terhadap istri mereka. Maka dari itu Baekhyun harus bisa mengerti, sekalipun dokter melarangnya untuk berhubungan badan selama 40 hari. Hal itu tetap tidak bisa dijadikan alasan baginya untuk mengesampingkan hasrat biologis sang suami. Baekhyun tetap bisa melakukan hand job atau blow job agar hasrat seksual suaminya tetap bisa tersalurkan. Baekhyun pasti akan sangat merasa bersalah jika Chanyeol harus bermasturbasi ria dikamar mandi karena tidak bisa menahan hasrat seksualnya. Baekhyun tidak ingin jika itu sampai terjadi karena ia tidak mau menjadi istri yang durhaka.

.

.

.

Chanyeol terbangun sekitar pukul 3 pagi, ia menatap istrinya yang sedang duduk dengan kepala yang terantuk-antuk karena kelelahan. Taehyung berada dalam gendongannya, putranya itu sepertinya terbangun dan merasa haus.

"Baek.. "

"Ah, Chanyeol.. Kau terbangun?" Baekhyun berusaha mengerjapkan matanya agar tetap terjaga.

"Taehyung menangis lagi?"

Baekhyun mengangguk. "Ia selalu terbangun ditengah malam dan meminta susu."

"Kau terlihat sangat kelelahan.. "

"Aku memang sangat lelah Chanyeol ah, aku benar-benar mengantuk."

Chanyeol menatap miris istrinya itu, tapi ia juga senang karena Baekhyun mau begadang untuk anak mereka.

"Sini biar aku yang gendong."

"Tidak usah Chan, sebaiknya kau tidur saja. Sebentar lagi kau harus pergi bekerja."

"Tidak apa-apa, kita ini orangtuanya Taehyung. Kita harus bekerja sama dalam merawat dan menjaga Taehyung. Aku tidak mau menjadi suami yang egois dengan membiarkan istrinya begadang semalaman."

Baekhyun tersenyum. Ia kemudian menyerahkan Taehyung untuk digendong Chanyeol.

"Hati-hati Chanyeol ah.. " Chanyeol masih sedikit kaku jika menggendong bayi.

Chanyeol menatap putranya itu dengan pandangan lembut. Taehyung sama sekali tidak menangis, hanya saja anak itu terus membuka mata kecilnya. Ia sepertinya tidak merasa mengantuk.

Chanyeol menjulurkan satu jari kelingkingnya yang langsung dipegang oleh tangan kecil anaknya. Pria bertubuh kekar itu tersenyum dengan lembut. Taehyung benar-benar sangat lucu.

"Chanyeol jangan menciumnya, kau baru bangun tidur." Baekhyun langsung menahan suaminya itu ketika ia hendak mengecup pipi sang anak.

Chanyeol memutar bola matanya malas. "Aku tau, aku tidak akan menciumnya."

BROOOTT

Chanyeol dan Baekhyun langsung tersentak kaget ketika mendengar suara kentut yang cukup keras.

"Bau apa ini?"

Baekhyun langsung mengecek popok sang anak dan mengernyit ketika mendapati putranya itu tengah buang air.

"Dia buang air Chanyeol."

"Ne? Wah appa baru saja menggendongmu dan kau sudah memberikan hadiah yang luar biasa. Kau benar-benar anak yang berbakti Taehyung ah."

Taehyung hanya tersenyum lucu seolah ia mengerti apa yang diucapkan ayahnya. Begitu juga dengan Baekhyun, ia tersenyum geli ketika melihat Chanyeol yang justru menjadi tempat pembuangan tinja anaknya sendiri.

"Yasudah, baringkan Taehyung diatas kasur. Biar aku ganti popoknya."

Chanyeol langsung membaringkan tubuh kecil anaknya diatas kasur.

"Aku mau cuci tangan dulu."

"Tolong sekalian bawa air hangat Chanyeol ah.. "

Chanyeol mengangguk.

5 menit kemudian Chanyeol kembali sambil membawa baskom berisi air hangat. Dengan telaten Baekhyun melepas popok Taehyung dan tanpa rasa jijik membersihkan kotorannya. Baekhyun membasuh pantat sang anak dengan menggunakan air hangat dan mengoleskan bedak tabur agar kulit anaknya tidak iritasi. Setelah itu Baekhyun kembali memakaikan popok kain yang dijepit dengan menggunakan peniti. Ia masih belum berani menggunakan popok sekali pakai karena usia bayi nya yang masih terlalu muda.

Chanyeol tersenyum melihatnya, ia bangga pada istrinya itu karena sekarang ia benar-benar sudah berubah. Ia mau belajar menjadi seorang istri sekaligus ibu yang baik untuk anak dan juga dirinya.

"Darimana kau belajar mengganti popok bayi seperti ini?" ucapnya sambil mengelus rambut sang istri.

"Aku belajar banyak dari Irene dan eomma. Mereka banyak membantuku."

"Aku benar-benar beruntung memiliki istri seperti mu."

Baekhyun tersenyum. "Terimakasih atas pujiannya.."

.

.

.

Tidak terasa waktu berlalu dengan begitu cepat, Taehyung kini sudah berusia 3 bulan dan semakin menggemaskan. Anak itu tumbuh dengan sangat sehat, Baekhyun benar-benar bersyukur akan hal itu. Terkadang Baekhyun harus menginap dirumah ayahnya, karena pria yang sudah berstatus sebagai kakek satu orang cucu itu terkadang ingin bisa dekat dan bermain dengan cucunya. Chanyeol bahkan harus bolak-balik dari rumah kerumah ayahnya. Ia tidak bisa menginap karena tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.

Berbicara mengenai Chanyeol, suaminya itu sekarang semakin sibuk dengan pekerjaannya. Bisnisnya semakin laris dan pekerjaannya pun berjalan dengan lancar. Karena itu Chanyeol jadi jarang berada dirumah. Ia lebih sering menghabiskan waktunya diluar bersama para costumernya. Pergi pagi pulang pagi, seperti itulah siklus hidup Chanyeol selama beberapa waktu belakangan ini. Memang ada dampak positif yang Baekhyun rasakan, sekarang uang belanjanya jadi semakin bertambah dan Baekhyun mensyukuri akan hal itu. Tapi jujur saja Baekhyun sedikit agak merasa kesepian. Intensitasnya untuk bertemu dan berbincang dengan Chanyeol semakin menipis. Terkadang ia begitu merindukan pelukan hangat dari lelaki bertubuh atletis itu, tapi apalah daya Chanyeol terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Ini juga sudah lewat dari masa 40 hari larangan yang diberikan dokter untuk bercinta. Tubuh Baekhyun sudah kembali siap untuk menerima pusaka kebanggaan suaminya. Tapi sayangnya Chanyeol masih belum menyentuhnya lagi hingga saat ini. Pernah suatu waktu Baekhyun sengaja menggunakan lingerie yang sangat tipis yang memperlihatkan seluruh lekuk tubuhnya tapi Chanyeol sama sekali tidak bereaksi apapun, ia malah langsung tidur dan meninggalkan Baekhyun yang merasa sedikit terabaikan. Baekhyun tahu Chanyeol pasti merasa lelah, ia juga bekerja keras dari pagi ke pagi untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari mereka sekeluarga. Tapi tidak bisakah Chanyeol memperhatikan istrinya juga? Baekhyun juga ingin diperhatikan. Ia ingin disentuh dan dimanja oleh suaminya sendiri.

"Park Taehyung.. "

Baekhyun tersadar dari lamunannya ketika salah seorang suster memanggil nama anaknya. Saat ini Baekhyun sedang berada disebuah klinik kecil di dekat rumahnya untuk melakukan check up rutin.

Baekhyun langsung berdiri sambil menggendong Taehyung untuk masuk keruangan dokter. Ia melirik sekitar dan hanya bisa menghela nafas ketika melihat ibu-ibu yang lain datang untuk memeriksakan anak mereka bersama suami masing-masing. Hanya Baekhyun saja yang datang tanpa di dampingi oleh suami.

"Silahkan duduk tuan." Baekhyun disambut oleh seorang dokter wanita yang sangat cantik dan ramah.

Baekhyun duduk di depan meja sang dokter sambil memangku Taehyung yang tengah asyik mengemut empeng(?) bermotif gajah miliknya.

"Wah lucu sekali, berapa usianya tuan?"

"3 bulan."

Dokter itu tersenyum, ia kemudian meminta Baekhyun untuk membaringkan Taehyung diatas ranjang. Dengan telaten si dokter cantik itu memeriksa Taehyung. Bayi kecil berusia 3 bulan itu sama sekali tidak menangis saat diperiksa dan justru hanya mematap sang dokter dengan tatapan polosnya yang menggemaskan. Baekhyun tidak bisa menahan dirinya untuk tersenyum. Taehyung memang benar-benar sangat lucu.

"Semuanya baik, kondisi kesehatannya juga sangat bagus. Bayi anda benar-benar tumbuh menjadi anak yang sehat dan menggemaskan."

Baekhyun tersenyum. "Terimakasih dokter."

Pria cantik itu kemudian secara tak sengaja melihat sebuah timbangan berat badan di pojok ruangan, ia pun meminta pada sang dokter untuk mengijinkannya menggunakan timbangan itu.

"Tentu boleh tuan, silahkan."

Baekhyun berjalan pelan kearah timbangan itu dan menginjaknya pelan. Ia menutup mata sejenak dan berdo'a dalam hati semoga berat badannya turun.

"AAAAAAHHH."

Baekhyun berteriak kaget saat ia membuka mata, hal itu sontak saja membuat Taehyung terkejut dan menangis.

"Huweee.. "

Baekhyun dengan cepat menggendong anaknya itu dan berusaha menenangkannya. Ia menatap sang dokter dengan ekspresi panik yang sangat kentara.

"T-timbangan itu pasti rusak kan dok? Tidak mungkin berat badanku sekarang 74 kilogram."

"Timbangan itu tidak rusak tuan, saya baru membelinya 1 bulan yang lalu."

"T-tidak mungkin.." Baekhyun benar-benar tidak percaya ini, berat badannya naik dengan begitu drastis. Sebelumnya berat badan Baekhyun hanya sekitar 56 kilo. Baekhyun tidak pernah mengalami kenaikan yang sangat drastis seperti ini.

.

.

.

Baekhyun menatap pantulan dirinya dari cermin, ia menatap dirinya begitu lama. Terkadang ia mencubit pipinya sendiri yang memang terlihat lebih chubby, tubuhnya juga terlihat jauh lebih berisi dari sebelumnya dan Baekhyun benar-benar risih akan hal itu. Belum lagi wajahnya yang agak sedikit berminyak dan ditambah beberapa jerawat yang muncul dikulit wajahnya. Semenjak ia punya Taehyung, ia memang tidak punya waktu untuk sekedar merawat diri.

"Apa mungkin Chanyeol mengacuhkanku karena berat badanku yang bertambah?"

Baekhyun dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak mungkin, Chanyeol bukan tipikal pria yang seperti itu. Aku harus berpikir positif, Chanyeol sibuk bekerja dan karena itu dia tidak punya waktu untuk memperhatikanku. Ya seperti itu."

Tapi sekeras apapun ia berusaha untuk berpikiran positif, rasanya pemikiran-pemikiran negatif itu jauh lebih mendominasi. Mungkin memang karena berat tubuhnya yang bertambah Chanyeol jadi terkesan cuek padanya.

Jam sudah menunjukan pukul 7 malam, sebentar lagi suaminya pulang dan ia harus bersiap untuk menyambutnya. Buru-buru ia berjalan keruangan depan dan menunggu suaminya pulang.

CKLEK

"Chan-"

"Ya, tentu. Aku akan datang kesana segera. Aku akan sampai dalam waktu 15 menit."

Baekhyun langsung terdiam ketika Chanyeol masuk kerumah sambil sibuk bertelepon dengan seseorang. Selalu seperti ini, Chanyeol selalu sibuk dengan dunianya sendiri.

PIIP

"Oh Baekhyun ah.. " Chanyeol baru sadar jika Baekhyun daritadi berdiri dihadapannya.

"Kau sudah pulang?"

Chanyeol mengangguk. "Tentu."

Baekhyun menghela nafas. "Yasudah, kalau begitu biar aku siapkan air hangat untuk kau mandi. Aku juga sudah menyiapkan makanan untukmu."

"Tidak usah Baek, aku pulang hanya untuk berganti pakaian saja. Aku harus segera pergi lagi. Ada pekerjaan yang harus aku kerjakan." ucapnya sambil berlalu begitu saja meninggalkan Baekhyun yang hanya bisa mencebikan bibirnya kesal.

Sekitar 10 menit kemudian Chanyeol kembali dengan pakaian yang lebih santai, ia memakai kaos berwarna hitam yang dibalut jaket kulit berwarna senada dan celana jeans bolong-bolong. Baekhyun juga bisa mencium aroma minyak wangi yang begitu maskulin dari tubuh suaminya itu.

Dengan sebatang rokok yang terselip dibibir tebalnya, Chanyeol memakai sepatunya dengan cepat.

"Aku pergi, jaga rumah baik-baik."

"Chanyeol ah.. " Baekhyun sontak memanggil nama suaminya itu ketika pria tinggi itu hendak membuka pintu rumah.

"Kau tidak melupakan sesuatu..?"

Chanyeol mengernyitkan alisnya bingung, ia melepas rokok yang terselip dari bibirnya. "Melupakan apa?"

"Kau melupakan sesuatu Chanyeol ah.. " ucap Baekhyun yang terlihat semakin kesal.

Chanyeol terdiam untuk beberapa saat. "Ah tentu aku tidak lupa, sebentar ya."

Baekhyun lantas tersenyum mendengarnya dan dengan cepat ia menutup kedua matanya rapat menunggu Chanyeol untuk menciumnya. Chanyeol mengeluarkan dompet dari dalam saku celananya dan mengeluarkan beberapa lembar Won dan langsung memberikannya pada Baekhyun.

"30.000 Won, nanti setelah pekerjaan ku selesai akan aku tambahkan lagi."

Baekhyun menatap nanar lembar demi lembar uang yang baru saja Chanyeol berikan untuknya. Sungguh, apakah Chanyeol benar-benar sudah melupakannya?

"Aku sudah telat, nanti kita bicara lagi." Chanyeol langsung pergi begitu saja meninggalkan Baekhyun yang hanya bisa menatap sebal.

Chanyeol tidak menciumnya seperti biasa ketika ia hendak pergi keluar rumah, ia bahkan tidak menanyakan kabar Taehyung anaknya dan lebih mementingkan pekerjaannya itu.

"Dasar menyebalkan." ucapnya sambil menghentakan kakinya kencang.

.

.

.

Pukul 00.00 tengah malam Baekhyun masih terduduk diatas ranjangnya, Taehyung sudah tertidur daritadi dan ia hanya menghabiskan waktunya dengan menangis dan menangis.

"Aku memang jelek, mukaku jerawatan dan tubuhku gemuk seperti panda. Tidak heran jika suamiku sendiri mengacuhkanku sekarang hiks."

TOK TOK TOK TOK

Baekhyun mendengar suara pintu rumah yang diketuk dari luar, itu pasti Chanyeol. Buru-buru ia berbaring dan mengusap airmatanya cepat. Ia menutup matanya dan berpura-pura tidur.

Terdengar suara langkah kaki yang semakin mendekat kearah kamar.

CKLEK

Chanyeol membuka pintu kamar mereka dengan kondisi baju yang lepek karena kehujanan. Ia melihat purtra dan istrinya sudah tertidur dengan pulas. Ia kemudian berjalan kesamping ranjang istrinya dan mengeluarkan dompet dari dalam celananya. Ia mengambil seluruh uang yang ia dapat hari ini dan menyimpannya disamping tempat tidur Baekhyun.

Chanyeol ingin sekali menghampiri anaknya tapi ia tidak berani melakukannya karena ia belum mandi dan nafasnya juga bau rokok. Chanyeol tidak ingin mengambil resiko.

Ia kemudian mengambil handuk yang tergantung dibelakang pintu dan berjalan keluar kamar.

Baekhyun membuka matanya kemudian, ia memegang uang pemberian Chanyeol dan meremasnya pelan.

.

.

.

Hari ini hari Minggu dan Chanyeol tidak bekerja, ia menghabiskan waktunya dengan memperbaiki beberapa televisi dan laptop milik pelanggannya.

Baekhyun yang sedang memasak di dapur pun terus berdecak sebal. Ia memotong-motong sayuran dengan sangat kencang.

"Terus saja sibuk dengan alat-alat itu. Ini hari minggu dan dia masih saja sibuk dengan pekerjaannya. Sebenarnya istrinya itu aku atau televisi rusak itu sih? Semakin kesini Chanyeol semakin menyebalkan saya."

TING

Baekhyun mengalihkan atensinya pada oven yang berbunyi. Ia kemudian mengeluarkan kue cokelat panas yang baru saja matang. Baekhyun yang rajin belajar masak dari Tuan Lee pun sekarang sudah mahir memasak sendiri terutama membuat kue. Ia memotong-motong kue cokelat itu menjadi bagian yang lebih kecil. Tak lupa Baekhyun juga membuat secangkir kopi hitam panas dan menyimpannya diatas sebuah nampan. Dengan perlahan Baekhyun berjalan menghampiri suaminya yang tengah sibuk dengan pekerjaannya.

"Silahkan dinikmati Chanyeol ah."

Chanyeol menoleh sejenak dan tersenyum kemudian. "Terimakasih."

Baekhyun duduk disamping suaminya sambil menyalakan televisi, ia mengutak-atik channel televisi mencari acara yang bagus. Pria cantik itu akhirnya memutuskan untuk menonton acara Music Bank di stasiun televisi KBS.

Chanyeol langsung mengalihkan atensinya pada televisi ketika girlband AOA tampil membawakan lagu hits mereka Good Luck. Dengan pakaian yang super sexy sekumpulan gadis-gadis cantik itu menari dan meliuk-liukan tubuh molek mereka.

Chanyeol sampai menganga dibuatnya. "Wah tubuh mereka benar-benar bagus, mereka cantik dan mereka adalah idaman semua pria."

Baekhyun yang mendengar itu pun sontak merasa tersindir. Ia hanya bisa meremat kaos yang ia pakai sambil mengerutu sebal. Chanyeol benar-benar tidak peka, ia seperti membandingkan tubuh gemuknya dengan tubuh langsing para member girlband itu.

KRIING.. KRIING

Ponsel Chanyeol berbunyi, dan Chanyeol tampak tersenyum begitu ia melihat ID name dari layar ponselnya.

"Yoboseyo.. Ne.. Ini aku Chanyeol." pria tinggi itu langsung berdiri dan pergi ke teras belakang rumah.

Baekhyun dibuat curiga karenanya, Chanyeol tidak pernah secara sembunyi-sembunyi menerima telepon dari orang lain. Ia juga terlihat begitu bahagia saat menerima telepon tadi. Baekhyun jadi semakin penasaran, siapa yang telah menelepon suaminya hingga pria itu terlihat begitu senang?

Pria cantik itu pun memutuskan untuk mengikuti suaminya ke teras belakang dan bersembunyi dibalik tembok.

"Ne, tentu. Aku juga merindukan kalian semua. Aku pasti datang, tunggu aku disana Seohyun ah."

Seohyun? Siapa itu?

"Ne, sampai bertemu nanti."

PIIP

Baekhyun buru-buru berlari keruang tengah dan duduk sambil terengah-engah.

"Baek, kenapa kau terlihat sangat kelelahan seperti itu?" tanya Chanyeol ketika ia kembali masuk kedalam rumah.

Baekhyun menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, aku tidak apa-apa."

Chanyeol sedikit mengernyitkan alisnya pelan, namun ia kembali mengedikan bahunya acuh.

"Hari ini aku akan pergi, aku ada urusan diluar."

"Pergi kemana?"

"Kesuatu tempat, bertemu teman."

"Teman siapa?"

"Teman sewaktu aku SMP dulu. Sudah ya, aku harus segera pergi sekarang. Mungkin aku akan pulang terlambat. Kau tidak perlu menungguku."

Chanyeol langsung pergi ke kamar untuk berganti pakaian. Baekhyun hanya bisa terdiam ditempatnya. Ia berusaha untuk menghilangkan pemikiran-pemikiran negatif tentang suaminya.

.

.

.

Pukul 11 malam Baekhyun berjalan mondar mandir di depan ruang tamu. Ia tidak bisa tidur dan masih menunggu suaminya pulang. Sedari tadi Baekhyun benar-benar dibuat tidak tenang. Ia takut suaminya itu punya selingkuhan dan berpaling darinya. Sikap Chanyeol yang terkesan cuek akhir-akhir ini juga membuat Baekhyun semakin merasa resah. Apa iya, hanya karena berat badannya bertambah Chanyeol tidak tertarik lagi padanya? Jika itu benar, berarti Chanyeol tidak benar-benar mencintainya, ia hanya mencintai tubuhnya saja.

Baekhyun menggelengkan kepalanya pelan. Ia berusaha untuk menepis segala pemikiran negatifnya itu.

CKLEK

"Kau belum tidur?"

Baekhyun tersadar dari lamunannya ketika Chanyeol membuka pintu rumah dan bertanya padanya.

Baekhyun menggeleng. "Belum."

"Kenapa kau tidak tidur duluan saja? Aku kan sudah bilang aku akan pulang terlambat." ucap Chanyeol sembari melepas sepatunya.

Baekhyun berusaha untuk tersenyum. "Kau sudah makan? Biar aku siapkan makanan untukmu ya?"

"Aku sudah makan tadi."

"Kalau begitu biar aku siapkan air panas untukmu mandi ya?"

Chanyeol mengangguk pelan.

Chanyeol langsung masuk kedalam kamar mandi setelah Baekhyun selesai menyiapkan air panas untuknya mandi. Selagi menunggu suaminya itu selesai mandi, Baekhyun memasukan semua pakaian kotor suaminya kedalam keranjang. Alisnya sedikit mengernyit ketika indera penciumannya mencium aroma parfum wanita dari kemeja yang Chanyeol pakai tadi. Baekhyun langsung mengambil kemeja berwarna abu-abu itu dan menciumnya kemudian. Tidak salah lagi, ini memang aroma parfum wanita. Matanya semakin terbelalak ketika ia tak sengaja melihat noda lipstrick dikerah kemeja sang suami.

Air mata Baekhyun secara otomatis langsung mengalir detik itu juga, ia semakin yakin jika Chanyeol memang punya wanita idaman lain diluar sana.

"Hiks, tega sekali kau melakukan ini padaku Chanyeol ah."

.

.

.

CKLEK

Chanyeol membuka pintu kamarnya, ia hanya menggunakan handuk yang melilit dibawah tubuhnya. Ia sedikit mengernyit ketika mendapati Baekhyun tengah menangis sambil terisak-isak diatas kasur.

"Kenapa kau menangis seperti itu Baek, terjadi sesuatu?"

"Hiks tega sekali kau melakukan ini padaku Chanyeol ah, kau benar-benar tega."

Chanyeol mengernyitkan alisnya bingung. Memangnya apa yang sudah ia lakukan?

"Apa maksudmu? Memangnya apa yang sudah aku lakukan?"

"Kau berselingkuh dariku Chanyeol ah, kau telah mengkhianatiku hiks."

"Mwo?"

"Kemeja mu bau parfum wanita, ada bekas lipstick juga yang menempel dikerah kemeja mu hiks." ucap Baekhyun sambil menangis tersedu-sedu.

Chanyeol duduk disamping istrinya itu dan berusaha menenangkan Baekhyun.

"Lepas hiks lepaskan aku, pulangkan saja Baekkie pada aboeji." Baekhyun terus berontak ketika Chanyeol hendak memeluknya.

Chanyeol hanya bisa menghela nafas melihat istrinya yang tengah merajuk seperti ini.

"Baekkie tau sekarang Baekkie tidak secantik dulu, Baekkie sekarang gendut dan jerawatan. Tapi bukan berarti kau bisa berselingkuh dibelakang Baekkie hiks. Baekkie benar-benar sakit hati. Baekkie kecewa pada Chanyeol."

Chanyeol terdiam sambil menopang dagunya, ia terus menatap istrinya yang menangis sampai beberapa menit kemudian.

"Kenapa kau diam saja? Apa kau merasa bersalah karena sudah berselingkuh dibelakang Baekkie? Hiks."

"Kau ingin aku bicara?"

"Ne, bicarakan semuanya. Beritahu padaku siapa perempuan itu agar aku bisa menampar wajahnya."

Chanyeol menghela nafas. "Aku tidak selingkuh Baek."

"Bohong, kau bohong. Lalu bagaimana kau menjelaskan soal aroma parfum dan noda bekas lipstick di kemejamu tadi?"

"Tadi aku pergi ke acara reuni teman-teman smp ku, disana aku bertemu dengan semua teman-temanku dan ada salah satu teman wanitaku namanya Seohyun, ia mabuk dan salah mengira aku suaminya. Ia langsung mencium kerah kemejaku dan parfum yang ia pakai menempel di kemejaku. Itu hanya sebuah kesalahpahaman Baek, Seohyun dan suaminya juga sudah meminta maaf padaku."

Baekhyun terdiam sejenak. "Kau tidak sedang berbohong padaku kan Chanyeol ah?"

"Untuk apa aku berbohong? Aku memang tidak berselingkuh."

Baekhyun mengusap airmatanya pelan. "Lalu kenapa belakangan ini kau selalu mengacuhkanku? Kau sudah tidak pernah memperhatikanku lagi, apa karena aku gendut kau jadi bersikap acuh padaku?"

Chanyeol tertawa pelan mendengarnya. "Kau ini ada-ada saja, maafkan aku jika selama ini kau merasa di acuhkan. Aku sama sekali tidak berniat melakukan itu. Aku hanya terlalu sibuk dengan pekerjaan ku, aku terlalu lelah bekerja sehingga tidak ada yang aku pikirkan lagi selain beristirahat setelah pulang kerumah. Aku sibuk bekerja juga bukan karena aku sengaja menghindarimu, aku bekerja banting tulang siang malam karena aku sedang menabung untuk masa depan Taehyung. Aku berjuang seperti ini demi kebahagian keluarga kecil kita, tidak ada maksud lain. Jadi jangan pernah berpikir yang tidak-tidak tentangku, aku bukan pria brengsek yang bisa dengan mudah menodai ikatan suci sebuah pernikahan. Apalagi jika hanya kau gendut atau jerawatan, aku tidak peduli soal itu. Aku mencintaimu karena kau adalah Baekhyun, bukan karena fisikmu."

Baekhyun sontak terdiam, ia merasa begitu tertohok dengan ucapan Chanyeol barusan. Sepertinya ia memang salah karena telah berpikiran buruk tentang suaminya. Seharusnya ia memang tidak perlu meragukan cinta dan ketulusan Chanyeol untuknya.

"A-aku minta maaf Chanyeol ah. Aku tau aku memang salah, tidak seharusnya aku meragukan kesetiaanmu padaku." ucap Baekhyun yang terdengar begitu menyesal.

Chanyeol tersenyum melihatnya. "Tidak semudah itu mendapatkan maaf dariku, ada syarat yang harus kau penuhi."

"A-apa? Kenapa harus pakai syarat segala?"

"Kau ingin mendapatkan maaf dariku atau tidak?"

Baekhyun dengan cepat mengangguk. "Iya aku mau, apa syaratnya?"

Chanyeol menyeringai tipis, ia kemudian mendekatkan tubuhnya dan berbisik pelan ditelinga Baekhyun. "Cukup dengan membuka pahamu lebar-lebar dan mendesah pasrah dibawah tubuhku."

BLUSSH

Wajah Baekhyun merona parah mendengarnya, jujur ia juga sudah sangat merindukan sentuhan suaminya. Tapi tetap saja rasanya begitu memalukan jika Chanyeol bicara sefrontral itu padanya.

"B-baiklah, akan aku lakukan."

"5 ronde.. "

"Mwo?"

"Aku sudah puasa selama 40 hari dan ini adalah saatnya bagiku untuk membalas dendam." ucapnya sambil melempar handuk yang dipakainya asal.

"Tapi bagaimana jika Taehyung bangun Chanyeol ah?"

"Kau cukup mendesah liar di dekat telingaku saja, dengan begitu Taehyung tidak akan terganggu." Chanyeol langsung mendorong dan menindih tubuh berisi istrinya itu.

"Tapi Chan, aku-hmmmphhh." Chanyeol sama sekali tidak membiarkan Baekhyun untuk berbicara lagi, ia langsung meraup bibir mungil sang istri dengan rakus. Tangannya bergerak liar melepas celana sang istri. tanpa aba-aba ia langsung melesakan kejantanannya masuk kedalam lubang hangat sang istri hingga Baekhyun menjerit di dalam ciumannya.

.

.

.

1 bulan kemudian..

Chanyeol duduk diruang tengah sambil mengawasi anaknya yang berguling kesana kemari sambil bermain squishy. Diusianya yang baru menginjak 4 bulan ini, Taehyung sudah bisa berceloteh dan mengucapkan beberapa kata sperti 'ma-ma-ma.' dan 'pa-pa-pa.' Chanyeol senang sekali ketika Taehyung sudah bisa memanggilnya dengan sebutan papa. Ia juga sudah bisa berbalik tengkurap dan terlentang sendiri, selain itu Taehyung juga tumbuh menjadi anak yang sangat sehat. Tubuhnya sedikit gemuk tapi itu justru membuat Taehyung jadi ratusan kali lebih menggemaskan.

"Chanyeol.. " Baekhyun datang sambil membawa kopi dan singkong goreng untuk sang suami.

"Terimakasih sayang." Chanyeol memakan singkong goreng buatan istrinya dengan lahap.

"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu Chanyeol ah."

"Apa itu?" tanya Chanyeol sambil menyesap kopi hitam kesukaannya.

"Aku hamil."

"Uhukk.. Uhukk." Chanyeol langsung tersedak mendengarnya.

"Kau bercanda?"

"Aku serius Chanyeol, sudah 3 minggu. Aku pergi ke klinik kemarin."

Chanyeol mengusap wajahnya kasar, ia benar-benar shock. Ia tidak menyangka Baekhyun akan hamil lagi secepat ini.

"Kau tidak suka jika aku hamil lagi?"

Chanyeol sontak menggeleng. "Bukan begitu, aku hanya terkejut saja. Taehyung masih kecil, aku tidak bisa membayangkan jika dia harus punya adik lagi diusianya yang masih sekecil ini."

"Ini semua kan salahmu, seandainya saja kau memakai kondom waktu itu, aku pasti tidak akan hamil lagi sekarang."

Chanyeol terdiam, ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh Baekhyun. Istrinya itu tidak akan hamil jika ia tidak mengeluarkan spermanya di dalam tubuh Baekhyun.

"Yasudahlah, tidak ada yang bisa kita lakukan lagi sekarang. Kita hanya perlu bersyukur atas anugerah yang Tuhan berikan. Tidak banyak pasangan bisa hamil lagi setelah punya anak pertama."

Baekhyun mengangguk, ia menyandarkan tubuhnya pada dada bidang sang suami sambil menatap Taehyung yang asyik bermain Squishy.

Chanyeol terdiam ditempatnya, Baekhyun hamil lagi itu artinya biaya untuk kehidupan keluarganya semakin bertambah. Uang untuk biaya masa depan Taehyung saja belum terkumpul semua, sekarang ia justru harus menyambut kelahiran anak berikutnya. Pria tinggi itu menghela nafasnya panjang. Tidak apalah, ia harus tetap bersyukur atas apapun keadaannya sekarang. Selama ia masih hidup, Chanyeol yakin ia bisa menghidupi istri dan anak-anaknya dengan baik.

'Aku harus bekerja lebih keras lagi mulai sekarang. Tetap semangat Park Chanyeol.'

.

.

.

.

.

.

.

TBC