4 bulan kemudian..
Pria tinggi itu duduk dikursi ruang tamu sendirian, jam sudah menunjukan pukul 8 malam. Ia masih fokus pada buku catatan pemasukan yang ia pegang sejak setengah jam yang lalu. Ia memijat pelipisnya kemudian. Belakangan ini bisnisnya tidak berjalan begitu lancar, pemasukannya terus menurun dari minggu ke minggu karena banyaknya pesaing yang muncul. Kesuksesan bisnis reparasi online yang ia buat ternyata memicu munculnya para pesaing yang juga membuat bisnis online dengan tema serupa, alhasil pemasukan Chanyeol jadi berkurang karena banyak pelanggannya yang berpindah ke tempat lain. Chanyeol harus memutar otak agar pemasukannya tetap stabil, Taehyung sudah semakin besar dan otomatis kebutuhan yang harus dipenuhi pun semakin banyak. Belum lagi ia juga harus menabung untuk biaya persalinan anak keduanya. Kebutuhan rumah, biaya hidup ibunya dan juga upah karyawannya juga harus Chanyeol pikirkan. Kepalanya seperti mau pecah rasanya memikirkan itu semua.
"Chanyeol.. " Baekhyun datang sembari membawa secangkir teh manis hangat.
"Minum dulu chan, agar kau bisa lebih rileks."
Chanyeol mengambil cangkir itu, meniupnya perlahan dan meminumnya kemudian. "Terimakasih.. "
Chanyeol kembali menyandarkan tubuh lelahnya ke sandaran kursi sambil menutup matanya pelan. Baekhyun yang melihat itu pun lantas langsung berinisiatif untuk memijat lengan berotot sang suami.
"Aku minta maaf karena sudah membuatmu susah, aku benar-benar merasa menyesal.. "
"Jangan bicara seperti itu. Kau, Taehyung, bayi yang berada dalam perutmu dan juga ibuku adalah tanggung jawabku. Menafkahi kalian semua sudah menjadi tanggung jawabku sebagai kepala rumah tangga. Jangan bicara seperti itu, aku tidak suka."
Baekhyun mengangguk mengerti. "Bagaimana jika aku ikut bekerja juga? Aku bisa membantumu untuk mencari uang Chanyeol ah.. "
Chanyeol sontak membuka matanya begitu mendengar penuturan Baekhyun. "Kau ingin bekerja di cafe Suho lagi?"
Baekhyun menggeleng dengan cepat. "Tentu tidak Chanyeol, aku berencana untuk melamar pekerjaan di salonnya Irene. Aku bisa banyak membantu disana Chanyeol ah."
Chanyeol menghela nafas. "Lalu siapa yang akan mengurus Taehyung? Kau juga sedang hamil Baek.. "
"Taehyung bisa aku titipkan pada eomma, aku yakin eomma tidak akan keberatan."
Chanyeol mendelik mendengarnya, ekspresi diwajahnya langsung berubah. "Apa yang kau bicarakan? Kau ingin menyerahkan tanggung jawabmu pada ibuku begitu? Kau itu ibunya Taehyung Baek, kau yang harus merawat dan mengurus Taehyung, bukan eomma."
"Aku tau Chanyeol, aku juga tidak akan melepaskan tanggung jawabku begitu saja. Aku hanya menitipkan Taehyung sebentar lalu setelah itu aku akan kembali menjadi ibunya Taehyung, aku akan tetap menjalankan tugasku sebagai seorang ibu.. "
"Taehyung masih terlalu kecil Baek, dia masih butuh perhatian penuh dari ibunya. Taehyung juga masih menyusu, ia masih butuh asi eksklusif."
"Aku akan memompa asi ku terlebih dahulu sebelum aku bekerja Chanyeol ah, lagipula salonnya Irene kan tidak terlalu jauh dari sini. aku bisa pulang pergi atau eomma juga bisa pergi menyusulku ke salon."
Chanyeol semakin mendelik tidak suka mendengarnya, ia menatap Baekhyun dengan ekspresi kesal yang sangat kentara.
"Apa kau pikir aku tidak bisa menghidupi kalian semua begitu? Kau mencoba meremehkanku?"
Baekhyun sontak menggeleng. "T-tidak Chanyeol tidak begitu, kau salah paham. Aku hanya ingin membantumu saja Chanyeol ah, tidak ada maksud lain."
"Itu sama saja, dengar Baekhyun ah. Aku ini suamimu, aku ayahnya Taehyung dan aku adalah kepala keluarga dirumah ini. Selama aku masih hidup aku tidak akan pernah membiarkan keluargaku kekurangan sesuatu apapun, bahkan jika aku harus kehilangan kedua kakiku karena terlalu lelah bekerja, itu tidak akan menjadi masalah selama kebutuhan keluargaku terpenuhi. Mungkin memang benar jika sekarang aku sedang mengalami kesulitan keuangan, tapi bukan berarti aku tidak mampu untuk memenuhi segala kebutuhan kalian. Aku mampu, aku hanya perlu bekerja lebih keras lagi. Jadi berhentilah memintaku untuk mengijinkanmu bekerja juga karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengijinkannya. Kau membuatku tersinggung Baek, kau seperti meragukan jika aku bisa memenuhi kebutuhan keluarga kita."
Baekhyun menggeleng dengan cepat, ia tidak menyangka reaksi Chanyeol akan seperti ini. "Tidak seperti itu Chanyeol, aku mohon jangan salah paham. Aku hanya ingin membantumu, aku tidak-"
"Jika kau memang ingin membantuku kau hanya perlu menuruti ucapanku. Urus anak-anakku dan jadilah ibu rumah tangga yang baik."
"Tapi Chanyeol aku-"
"Kenapa kau terus membantahku? Kau ingin menjadi seorang istri yang pembangkang?"
Baekhyun sontak terdiam, ia menundukan kepalanya dalam dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Ini pertama dan terakhir kalinya kita membahas soal ini. Aku tidak mau mendengar kau membicarakan ini lagi. Fokus saja mengurus anak kita, kau juga sedang hamil. Jadi jangan pernah berpikir untuk bekerja juga karena sampai kapanpun aku tidak akan pernah mengijinkannya. Melihatmu bekerja di cafe Suho saja sudah membuatku muak, aku tidak suka jika istriku bekerja diluar dan melalaikan tugasnya sebagai seorang ibu rumah tangga. Kau mengerti apa yang aku ucapkan Park Baekhyun?"
Baekhyun langsung tersentak mendengarnya dan secara refleks ia langsung mengangguk kaku.
Chanyeol langsung berdiri dan berjalan masuk kedalam kamar. Baekhyun yang melihat itu hanya bisa menghembuskan nafasnya pasrah. Chanyeol punya harga diri yang sangat tinggi dan ia juga sangat keras kepala. Ia masih punya pemikiran kolot dan berpikir bahwa seorang istri tidak seharusnya bekerja untuk mencari nafkah. Itu memang benar, tapi seorang istri juga tidak dilarang untuk membantu suaminya. Baekhyun sama sekali tidak berniat merendahkan suaminya, ia hanya ingin meringankan beban dipundak suaminya. Hanya itu, apa ia salah? Siapa lagi yang akan membantu suami yang sedang kesusahan jika bukan istrinya sendiri? Baekhyun benar-benar tidak tega jika setiap hari harus melihat suaminya pergi pagi pulang pagi hanya untuk memenuhi kebutuhan mereka sekeluarga. Apa Chanyeol pikir hatinya tidak merasa sakit? Jika Baekhyun harus jujur, hatinya seperti diiris silet setiap kali ia melihat suaminya itu terlihat begitu kelelahan sehabis pulang kerja. Sayangnya Chanyeol tidak pernah mengerti soal itu, ia lebih mementingkan egonya untuk tidak menerima bantuan dari istrinya sendiri. Sekuat-kuatnya seorang laki-laki pasti butuh bantuan dari orang lain juga. Chanyeol memang sangat keras kepala, Baekhyun benar-benar tidak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya itu.
.
.
.
Pukul 3 pagi Chanyeol terbangun dari tidurnya, ia baru saja pergi ke supermarket 24 jam untuk membeli beberapa bungkus cokelat. Sekarang ia tengah duduk sendirian di meja makan sambil memakan cokelat yang baru saja ia beli dengan lahap.
Semenjak Baekhyun hamil anak kedua mereka, Chanyeol sering sekali menginginkan sesuatu yang tak terduga sebelumnya. Seperti saat ini contohnya, tiba-tiba saja ia sangat ingin makan cokelat. Jika tidak dipenuhi, Chanyeol biasanya tidak akan bisa tidur lagi. Ini benar-benar aneh, Baekhyun yang hamil tapi malah ia yang merasakan ngidam. Baekhyun sendiri justru lebih kalem dan tidak rewel seperti saat kehamilan pertama. Ia tidak banyak mengidam dan tidak mengalami morning sick.
"Chanyeol ah.. "
Chanyeol menoleh ketika Baekhyun juga ikut terbangun dan berjalan pelan kearahnya.
"Kau belum tidur?"
Baekhyun menggeleng, ia kemudian duduk dihadapan Chanyeol. "Aku terbangun karena tidak mendapatimu tidur disampingku, aku memutuskan untuk keluar dan mencarimu keruang makan. Dan ternyata benar kau ada disini. Kau mengidam lagi?"
Chanyeol mengangguk. "Tiba-tiba saja aku ingin makan cokelat."
Baekhyun terdiam untuk beberapa saat. "Chanyeol aku ingin bicara sesuatu, aku ingin minta maaf soal kejadian tadi. Aku sama sekali tidak bermaksud untuk merendahkanmu. Aku janji tidak akan membahas soal itu lagi, aku hanya akan fokus mengurus Taehyung dan menjadi ibu rumah tangga yang baik seperti apa yang kau harapkan."
Chanyeol tersenyum. "Tidak apa-apa, aku juga minta maaf karena tadi sempat terbawa emosi. Aku memang tidak suka jika kau bekerja juga Baekhyun ah, aku tidak mau Taehyung jadi terabaikan setelah kau bekerja."
Baekhyun mengangguk. "Ne, aku mengerti Chanyeol ah."
"Kau mau?" Chanyeol menyodorkan sebungkus cokelat ditangannya pada Baekhyun.
Seketika senyuman Baekhyun langsung menghilang detik itu juga, ia memandang suaminya itu dengan ekspresi yang sulit di artikan. "Kau ingin menghinaku?"
"Apa?"
"Aku tau tubuhku gemuk tapi bukan berarti kau bisa mengejekku."
Chanyeol mengernyitkan alisnya bingung, apa yang Baekhyun bicarakan?
"Apa maksudmu Baek, aku-"
"Cokelat bisa membuat tubuh seseorang menjadi gemuk, kau sengaja memberikanku cokelat agar tubuhku semakin gemuk kan?"
"Apa? Tidak begitu Baek, aku hanya ingin menawarkan saja."
"Bohong, kau pasti ingin tubuhku semakin gemuk."
"Tidak, aku tidak bermaksud seperti itu."
"Bohong."
"Tidak."
"Bohong."
"Tidak."
"Bohong hiks.. Kau bohong Chanyeol, kau ingin tubuhku semakin gemuk. Kau ingin aku terlihat semakin jelek agar kau bisa menikah lagi, kau jahat Chanyeol hiks kau jahat."
Chanyeol menghela nafas kemudian, Baekhyun memang jarang mengidam dan mengalami morning sick lagi. Tapi istrinya itu sekarang jadi ratusan kali lebih sensitif dari sebelumnya. Chanyeol salah bicara sedikit saja, Baekhyun bisa langsung menangis sampai seharian. Terkadang Baekhyun juga salah mengartikan apa maksud dari ucapannya, jika sudah seperti itu Baekhyun pasti akan langsung mendiamkannya dan tidak mau berbicara dengannya lagi.
"Kau jangan bicara sembarangan Baek. Yasudah kalau kau tidak mau, biar aku habiskan saja sendiri.." ucapnya yang terdengar sangat acuh. Namun rupanya ucapan Chanyeol itu disalah artikan oleh Baekhyun. Ia malah mengira Chanyeol sudah tidak peduli lagi padanya.
"Jadi kau sudah tidak peduli lagi padaku? Kau enak-enakan makan cokelat sedangkan aku duduk disini dengan perut kelaparan? Kau benar-benar egois Chanyeol, kau sangat egois hiks."
Chanyeol tidak jadi memakan cokelat yang bungkusnya sudah ia buka, ia menatap istrinya itu dengan pandangan frustasi. Apapun yang ia lakukan selalu saja salah dimata Baekhyun.
"Lalu aku harus bagaimana? Kau kan tidak mau makan cokelat ini."
"Lakukan apa saja agar aku juga tidak merasa kelaparan, bisa-bisanya kau makan enak sedangkan anak dan istrimu merasa kelaparan disini. Dasar suami tidak peka." ucap Baekhyun sambil mengusap perutnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Chanyeol mengusap wajahnya kasar, ia hanya bisa berdo'a pada Tuhan untuk selalu diberikan kesabaran dalam menghadapi Baekhyun yang sedang hamil seperti ini.
"Baik, tunggu disini sebentar. Biar aku buatkan makanan lain untukmu."
.
.
.
Pagi ini Baekhyun mendapat tugas untuk belanja bulanan, Heechul sedang tidak enak badan dan alhasil ia yang harus belanja untuk kebutuhan satu bulan kedepan. Dengan ditemani oleh Irene, Baekhyun memasuki sebuah pusat perbelanjaan besar yang baru dibuka sekitar satu minggu yang lalu sambil membawa Taehyung dalam gendongannya. Mereka berjalan menuju sebuah supermarket yang terdapat di dalam Mall tersebut.
Baekhyun dan Irene berkeliling sambil mendorong stroller. "Supermarket ini ramai sekali."
Irene mengangguk mengiyakan. "Mungkin karena baru di buka dan supermarket ini juga memberikan diskon yang cukup besar bagi pelanggan pertama yang berbelanja disini. Selain itu barang-barang disini juga sangat lengkap."
Baekhyun mengangguk setuju, ia kemudian berjalan menuju rak daging dan melihat-lihat sekumpulan daging sapi segar. "Lihat Taehyung ah, ini daging sapi. Ayahmu sangat suka jika makan daging sapi bakar. Apa eomma harus membelikan ini untuk ayahmu?" ucapnya pada Taehyung sambil menaruh anak berpipi gempal itu dikursi stroller.
Taehyung hanya diam dan tak merespon sama sekali karena anak itu sedang sibuk dengan biskuit cokelat yang Irene berikan untuknya.
"Kau beli saja daging itu untuk Chanyeol Baekhyun ah, sesekali buatlah suamimu itu senang."
Baekhyun melirik label harga yang tertera diatas rak tersebut. 9000 Won per 1 kg. Lumayan mahal memang. Tapi tak apalah, toh nanti ia bisa dapat diskon karena ini adalah pertama kalinya ia belanja disini.
"Baiklah, aku akan beli 2 kilo saja kalau begitu."
Setelah selesai membeli kebutuhan untuk dapur, mereka berdua memutuskan untuk berkeliling terlebih dahulu sambil mencari sesuatu yang mungkin bisa membuat mereka tertarik. Mata Baekhyun langsung terfokus pada sebuah toko pakaian mewah yang dulu sering sekali Baekhyun kunjungi sebelum ia menikah dengan Chanyeol. Baekhyun tidak menyangka jika toko pakaian itu juga membuka cabangnya di pusat perbelanjaan ini.
"Irene ah, ayo kita pergi kesana."
"Kemana?"
"Ke toko yang disana."
Irene membulatkan matanya terkejut ketika Baekhyun menunjuk sebuah toko pakaian yang terkenal sangat mahal dan berkelas.
"Kau yakin mau kesana Baek?"
Baekhyun mengangguk. "Ayo.. " ia langsung menarik tangan Irene dan berjalan masuk kedalam toko.
Seketika itu juga mereka langsung menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung dan pegawai toko yang merasa aneh melihat penampilan Baekhyun dan Irene yang terlihat seperti orang kampung.
"Ah yaampun ini bagus sekali, seandainya saja Chanyeol mau membelikannya untukku." Baekhyun menyentuh sebuah sweater turtle neck berwarna cokelat dengan pandangan mata yang berbinar-binar. Ia ingin sekali bisa membeli sweater ini.
Irene melihat label harga yang tertempel di kerah sweater tersebut dan langsung melotot setelahnya.
"400.000 Won? Baek ini mahal sekali.. "
Baekhyun terdiam, 400.000 Won adalah harga yang sangat murah untuknya sebelum menikah dengan Chanyeol. Tapi sekarang kondisinya sudah berbeda, ia sudah resmi menjadi istri seorang Park Chanyeol yang itu artinya uang segitu adalah jumlah uang yang amat sangat besar.
Atensinya kemudian teralih pada sebuah syal berwarna senada disampingnya, ia melihat label harganya dan kembali terdiam setelah melihatnya. 225.000 Won. Pria cantik itu menghela nafas..
Baekhyun kemudian beralih untuk melihat deretan sepatu-sepatu mewah yang terletak tidak jauh dari tempatnya berdiri. Ada sebuah sepatu kets berwarna biru muda yang berhasil menarik perhatian Baekhyun, ia mengambil sepatu itu namun langsung mematung begitu melihat harganya.
1.075.500 Won..
"Huweee mmaaa.. "
Taehyung menangis, sepertinya anak itu mulai merasa tidak nyaman berada di dalam toko ini. Irene yang melihat itu lantas langsung berbisik pelan ditelinga Baekhyun.
"Sebaiknya sekarang kita pergi dari sini Baek, apa kau tidak sadar sedari tadi kita menjadi pusat perhatian seluruh pengunjung toko?"
Baekhyun sontak menoleh dan ternyata memang benar apa yang dikatakan oleh Irene, hampir semua pelanggan dan pegawai toko tengah memperhatikan dirinya, Taehyung dan juga Irene dengan tatapan aneh.
"Ayo kita pergi Baek, tempat seperti ini sama sekali tidak cocok untuk orang-orang seperti kita."
Baekhyun lantas kembali menyimpan sepatu yang sangat ingin ia beli itu ketempatnya semula. Ia kemudian berjalan keluar toko dengan kepala tertunduk sambil memeluk putranya Taehyung.
.
.
.
Baekhyun termenung sendirian diruang depan sambil menunggu suaminya pulang, ia benar-benar tidak bisa tenang karena ia sangat menginginkan sweater, syal dan sepatu di toko tadi. Jika penyakit 'shopping fever' nya sudah kambuh seperti ini Baekhyun pasti akan terus uring-uringan sampai hasrat belanjanya benar-benar terpenuhi.
Bagaimana caranya agar ia bisa membeli semua barang-barang itu? Ia tidak mungkin meminta pada ayahnya, ia juga tidak berani meminta uang pada Chanyeol. Lalu ia harus bagaimana? Baekhyun benar-benar sangat menginginkan barang-barang itu.
CKLEK
Chanyeol membuka pintu rumah dengan raut wajah yang terlihat sangat kelelahan. Baekhyun yang tersadar dari lamunannya langsung berdiri dan mencium lembut tangan suaminya.
"Kau kenapa sayang? Kau terlihat sangat kelelahan."
Chanyeol menghembuskan nafasnya lelah. "Hari ini aku tidak mendapatkan satu pesanan pun. Gajiku sebagai seorang kepala security juga belum turun. Aku benar-benar pusing memikirkan semua ini padahal Minhyuk, Jungshin dan beberapa anak buahku yang lain juga harus digaji. Kepalaku seperti mau pecah saja rasanya."
Baekhyun menatap suaminya itu dengan pandangan prihatin. Chanyeol sepertinya benar-benar sedang mengalami masa-masa sulit.
"Biar aku buatkan susu jahe untukmu ya?"
Chanyeol mengangguk. "Terimakasih sayang."
.
.
.
Baekhyun melirik suaminya yang sudah tertidur dengan pulas, pria tinggi itu tidur dengan posisi tertelungkup.
"Chan.. " bisiknya dengan suara pelan.
Setelah merasa yakin Chanyeol benar-benar sudah tertidur, Baekhyun kemudian mengambil dompet Chanyeol yang tergeletak disamping tempat tidur dan dengan gerakan yang sangat hati-hati, Baekhyun membuka dompet lusuh itu.
Di dalam dompet itu terdapat beberapa lembar Won, ktp, kartu kesehatan dan juga kartu debit. Baekhyun lantas langsung mengambil kartu atm milik Chanyeol dan dengan segera mengembalikannya ketempat semula.
Pria cantik itu kemudian membuka laci meja dan mengobrak-abrik isinya. Ia tersenyum ketika menemukan kertas yang berisikan pin atm suaminya.
Baekhyun lantas melirik Chanyeol yang tertidur dengan sangat pulas. Ia meneguk ludahnya kemudian.
'Maafkan aku Chanyeol, aku terpaksa melakukan ini.'
.
.
.
"Sudah.. Kau terlihat sangat tampan seperti biasanya."
Baekhyun tersenyum dengan sangat cantik setelah ia selesai merapihkan seragam kerja yang Chanyeol pakai. Chanyeol selalu terlihat tampan dan gagah seperti biasanya.
"Baek apa kau melihat dimana kartu atm ku?"
DEG
Senyuman dibibir Baekhyun langsung menghilang detik itu juga. Dengan perasaan gugup, Baekhyun berusaha untuk tetap terlihat tenang.
"A-aku tidak tau Chanyeol, mungkin kau lupa menaruhnya dimana.. "
"Aku selalu menyimpannya di dalam dompet Baek."
"Mungkin kau menjatuhkannya disuatu tempat."
Chanyeol terdiam, apa mungkin memang jatuh ya? Tapi seingatnya kartu atm nya masih ada di dalam dompetnya semalam.
"Aku rasa tidak mungkin Baek, semalam aku ingat betul jika kartu atm ku masih ada di dalam dompet."
"A-aku tidak tau Chanyeol, aku sama sekali tidak melihatnya." ucap Baekhyun sambil tersenyum canggung.
Chanyeol menghembuskan nafasnya pelan. "Yasudahlah, mungkin setelah ini aku akan menghubungi pihak bank saja untuk memblokir kartu atm ku."
Baekhyun membulatkan matanya terkejut. "Kenapa?"
"Uangku ada sekitar 6 juta Won disana, aku mengumpulkan uang itu selama beberapa bulan belakangan ini untuk kebutuhan Taehyung dan untuk persalinanmu nanti. Aku bekerja banting tulang siang malam untuk itu dan sekarang tiba-tiba saja kartu atm ku hilang. Aku tidak mau jika kartu atm ku di salah gunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab."
Baekhyun termenung, astaga. Ia jadi merasa tidak enak pada suaminya itu.
"Kalau begitu aku pergi dulu."
"Eh tunggu dulu Chanyeol ah, kartu atm mu jangan diblokir dulu. Nanti biar aku yang mencarinya, siapa tau saja kartu atm mu jatuh dirumah."
Chanyeol mengangguk. "Yasudah, nanti jika sudah ketemu segera hubungi aku ya?
Baekhyun ikut mengangguk. "Tentu Chanyeol ah."
Chanyeol mengecup kening sang istri dengan lembut. "Doa'kan aku untuk hari ini sayang, aku dengar do'a seorang istri bisa membuat rejeki suaminya mengalir seperti air."
Baekhyun tersenyum kecil mendengarnya. "Tanpa kau minta pun aku akan selalu mendo'akan mu Chanyeol ah."
Chanyeol tersenyum, ia lantas mencuri sebuah kecupan manis dibibir mungil istrinya itu.
CUP
"Jaga rumah baik-baik ya sayang, aku titip Taehyung dan si bungsu yang masih ada di dalam perutmu ini." ucapnya sambil mengusap perut sang istri yang sudah mulai membuncit.
Baekhyun mengangguk. "Tentu."
"Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu Chanyeol ah."
Baekhyun mencium tangan suaminya itu pelan.
"Aku pergi." Chanyeol berbalik pergi meninggalkan rumah untuk kembali mencari nafkah untuk keluarganya.
Baekhyun meremat tangannya gugup, haruskah ia melakukan ini?
"Maafkan aku Chanyeol.. Aku mohon maafkan aku." ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
.
.
.
"Memangnya kau mau kemana Baek?"
"Salah satu sepupu jauhku ada yang meninggal eomma, aku harus segera pergi untuk melayat.."
Heechul terlihat terkejut. "Benarkah? Yasudah kalau begitu, kau boleh pergi. Taehyung biar eomma yang mengurus."
Baekhyun tersenyum lega. "Terimakasih eomma. Kalau begitu aku pergi."
"Ne, hati-hati Baekhyunie.. "
Setelah mencium tangan ibunya kilat, Baekhyun langsung berjalan cepat keluar rumah. Sore hari ini Baekhyun akan pergi ke toko pakaian itu lagi dan membeli barang yang ia inginkan. Taehyung sedang tidur sekarang, jadi ia punya kesempatan untuk keluar rumah. Ia sudah menyiapkan satu bungkus susu formula jika sewaktu-waktu anak itu bangun. Chanyeol juga belum pulang kerja, ia bisa memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin. Baekhyun janji ia akan pulang sebelum Chanyeol pulang.
"Terimakasih ahjussi.."
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 20 menit dengan menggunakan taxi, Baekhyun akhirnya sampai di pusat perbelanjaan yang tadi pagi ia datangi. Setelah memberikan beberapa lembar Won pada sang supir, Baekhyun langsung bergegas masuk menuju toko pakaian yang tadi pagi ia kunjungi.
Baekhyun tersenyum ketika melihat sweater, sepatu dan syal yang ia incar masih ada.
"Permisi nona, aku mau membeli sweater, sepatu dan syal ini." ucapnya pada salah seorang pegawai wanita.
"Anda yakin ingin membeli ini tuan?" tanya pegawai itu yang menatap Baekhyun dari atas kebawah dengan pandangan meremehkan.
Baekhyun mendelik kesal melihat perlakuan si pegawai wanita ini. "Kau pikir aku tidak punya uang? Kau sedang mencoba menghinaku?"
"Bukan begitu tuan, saya hanya-"
Baekhyun langsung mengeluarkan segepok uang dari dalam tas kecil yang ia bawa dan melemparkannya tepat di wajah si pegawai wanita.
"Kau masih ingin meremehkanku?" tanya Baekhyun dengan intonasi yang sangat sinis.
"Saya minta maaf tuan." ucap si pegawai wanita itu sambil membungkuk dalam.
"Jangan banyak bicara dan segera ambilkan barang-barang itu untukku."
"Baik tuan." pegawai wanita itu mengumpulkan uang Baekhyun yang berserakan dilantai dan langsung berdiri untuk mengambil pesanan Baekhyun.
Baekhyun tersenyum senang setelah pegawai wanita itu pergi, ia senang sekali karena akhirnya ia bisa mengobati penyakit 'shopping fever' nya. Sambil menunggu pesanannya selesai dibungkus, pria cantik itu lantas berbalik dan berputar mengelilingi toko. Pandangan matanya langsung teralih ketika ia melihat beberapa kaos dan kemeja supreme. Keinginan untuk bisa memiliki kaos dan kemeja itu tiba-tiba saja muncul, ia ingin sekali membeli kaos dan kemeja itu. Baekhyun pun melihat label harga dari kedua pakaian tersebut dan terdiam setelahnya.
"Mungkin tidak masalah jika aku membeli kaos dan kemeja ini juga, aku harap Chanyeol tidak akan marah."
.
.
.
Nyatanya, Baekhyun tidak hanya membeli kemeja dan kaos saja. Ia juga membeli beberapa potong celana jeans dan jaket kulit yang jika di total semua belanjaan Baekhyun ditoko ini mencapai 3,5 juta Won.
"Apa kau tidak salah menghitung? Aku kan hanya menambah jaket kulit, celana jeans dan pakaian saja. Kenapa bisa semahal ini?"
"Saya tidak salah menghitung tuan, harga belanjaan anda memang segitu."
Baekhyun menghembuskan nafasnya kasar, kenapa belanjaannya jadi semahal ini? Ini benar-benar diluar perkiraan Baekhyun.
"Anda mau bayar atau tidak?"
"Iya-iya aku akan bayar." Baekhyun kembali mengeluarkan uang dari dalam tasnya dan memberikannya pada pegawai toko.
Baekhyun mengambil barang belanjaannya dengan tangan gemetar, Chanyeol pasti akan sangat marah besar setelah ini.
.
.
.
"Huweee mmaaa hiks."
Chanyeol baru saja tiba dirumah, ia langsung disambut oleh suara tangisan anaknya yang sangat nyaring. Dengan cepat ia berjalan menuju kamar dan melihat ibunya yang cukup kewalahan menangani Taehyung yang terus menangis kencang.
"Ada apa ini eomma?"
Heechul menoleh. "Chanyeol kau sudah pulang? Taehyung terus menangis sedaritadi, ia mencarinya ibunya."
"Memangnya Baekhyun kemana?"
"Baekhyun pergi melayat sepupu jauhnya yang baru saja meninggal."
"Sepupu? Siapa? Setauku Baekhyun tidak punya sepupu jauh."
"Eomma juga tidak tau."
"Huweee mmaa hiks.. "
Chanyeol terdiam ketika Taehyung menangis semakin keras, wajahnya bahkan sampai memerah dan nafasnya sampai tersenggal-senggal. Sudah berapa lama Taehyung menangis?
"Sini biar aku yang gendong."
Chanyeol langsung mengambil Taehyung dari gendongan Heechul.
"Huweeee.. "
"Sssst jangan menangis terus sayang, appa disini.. " pria tinggi itu menepuk-nepuk pantat sang anak dengan lembut berharap itu bisa membuat Taehyung tenang.
"Dia tidak mau menyusu daritadi Chanyeol ah, sepertinya ia hanya ingin asi ibunya."
Chanyeol melirik botol susu formula yang masih penuh ditangan ibunya, ia melirik jam yang sudah menunjukan pukul 8 malam. Kenapa Baekhyun belum pulang juga? Apakah ia lupa jika sekarang ia sudah punya anak? Ia juga sedang hamil muda sekarang.
"Huweeeee mmaaa.. "
"Sssttt tenang sayang, ada appa disini."
.
.
.
Baekhyun berjalan cepat hendak keluar dari mall, ia harus segera pulang karena ini sudah terlalu malam. Chanyeol pasti sudah pulang dan Taehyung juga pasti mencarinya.
"Aku harus segera pulang, ini sudah lewat dari batas waktu yang seharusnya."
Baekhyun sedikit kesulitan untuk berjalan keluar karena ada segerombolan orang yang berkumpul menghalangi jalan keluar. Karena merasa penasaran, Baekhyun akhirnya ikut melihat apa yang menjadi penyebab orang-orang itu berkumpul.
"Ini adalah produk terbaru kami, gantungan ini dibuat oleh pengrajin asli dari Korea yang sudah sangat terkenal Kim Hyun Woo."
Semua orang yang berkumpul disana langsung berseru heboh termasuk Baekhyun. Kim Hyun Woo adalah seorang pengrajin yang sangat terkenal di Korea. Baekhyun pasti akan sangat senang jika bisa memiliki salah satu karya buatannya.
Baekhyun melirik sebuah gantungan ponsel bermotif hello kity yang dikatakan sebagai buatan tangan asli dari Kim Hyun Woo. Jika benda itu benar buatan Kim Hyun Woo, maka apapun yang terjadi Baekhyun harus bisa mendapatkannya.
"Baik, penjualan untuk slot pertama dibuka. Siapa yang berminat membeli gantungan ponsel cantik ini?"
"Aku.. " ucap mereka secara serentak. Baekhyun dan puluhan orang lainnya langsung mengangkat tangan tinggi-tinggi dan berusaha mendapatkan gantungan ponsel tersebut.
.
.
.
Chanyeol berjalan keluar kamar sambil melihat ponselnya, ia sangat terkejut ketika mendapat sms pemberitahuan dari pihak bank yang mengatakan bahwa saldo di rekeningnya sudah habis tak tersisa. Buru-buru ia menelepon pihak bank untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Yoboseyo, ne aku Park Chanyeol. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa saldo di atm ku bisa sampai habis? Aku tidak melakukan transaksi atau penarikan apapun hari ini."
"..."
"Apa? Bagaimana bisa? Kartu atm ku hilang. Siapa yang telah membobol atm ku?"
"..."
Chanyeol memejamkan matanya pelan. "Baiklah, tolong segera blokir atm ku saja kalau begitu. Terimakasih."
PIIP
Chanyeol menghembuskan nafasnya frustasi, uang senilai 6 juta Won yang susah payah ia kumpulkan kini raib begitu saja. Ia memijat pelipisnya pelan. Tega sekali orang yang sudah membobol atm nya.
"CHANYEOL."
Chanyeol langsung menoleh ketika mendengar ibunya berteriak memanggil namanya, buru-buru ia berjalan dengan cepat kembali kedalam kamar.
"Ada apa eomma? Kenapa eomma berteriak?"
"T-Taehyung, Taehyung kejang." ucap sang ibu dengan suara bergetar.
Chanyeol terkejut bukan main ketika melihat putranya kejang-kejang dengan wajah yang membiru. "A-apa yang terjadi? Kenapa Taehyung bisa seperti ini?"
"Tubuhnya kejang karena terlalu lama menangis, kita harus segera membawanya ke rumah sakit Chanyeol hiks." Heechul menangis sambil terus menggendong cucunya yang tidak berhenti kejang.
"B-baiklah, ayo kita kerumah sakit sekarang." ucap Chanyeol yang juga ikut merasa panik.
Chanyeol langsung berlari sambil membawa kunci motornya diikuti oleh Heechul, pria tinggi itu membawa kendaraannya dengan kecepatan yang sangat tinggi. Ia dan ibunya membelah ibukota Seoul dengan perasaan panik luar biasa. Mereka berharap bisa sesegara mungkin sampai di rumah sakit dan mendapatkan perawatan untuk Taehyung.
.
.
.
Baekhyun tersenyum kecil melihat gantungan ponsel hello kity yang berhasil ia dapat. Namun Baekhyun agak dibuat terkejut karena harganya ternyata sangat mahal. 830.000 Won.
Pria cantik itu menghela nafas, ia harus siap dimarahi habis-habisan oleh suaminya setelah ini. Seharusnya ia tidak menghabiskan uang suaminya sampai sebanyak ini. Awalnya ia hanya ingin membeli sweater, syal dan sepatu saja. Tapi ia justru tertarik untuk membeli barang-barang lain dengan harga yang sangat mahal. Beginilah jadinya jika Baekhyun sudah belanja, ia sering lupa waktu dan membeli barang-barang yang sebenarnya tidak terlalu ia butuhkan.
"Aku harus segera pulang, kau sudah sangat keterlaluan Park Baekhyun."
"Permisi tuan.. "
Langkah Baekhyun langsung terhenti ketika seorang perempuan tiba-tiba saja muncul dan menahan langkahnya.
"Siapa kau?"
Perempuan itu tersenyum manis. "Saya pegawai di salon Love&Beauty di sebelah sana, saya kemari ingin menawarkan treatment khusus dari salon kami. Mungkin saja anda berminat?"
Baekhyun menggeleng pelan. "Maaf tapi aku tidak tertarik, aku harus segera pulang."
"Eh tunggu sebentar tuan, anda yakin tidak mau? Kami menawarkan perawatan kuku terbaik dari Amerika, creambath dan juga pijat spesial sebagai treatment tambahan. Bagaimana?"
Baekhyun terdiam. Perawatan kuku gratis? Baekhyun sangat menyukai perawatan kuku apalagi sekarang kukunya sudah rusak dan tidak terawat lagi. Ia melirik jam tangannya sekilas. Pukul 9 malam. Mungkin tidak apa-apa jika ia menghabiskan waktunya sebentar untuk memanjakan diri di salon. Toh ia juga sudah menyiapkan susu formula untuk Taehyung jika anak itu menangis. Baiklah, satu jam lagi saja sepertinya tidak akan menjadi masalah.
"Baiklah, kalau begitu aku mau."
.
.
.
"Masih belum bisa dihubungi juga?"
Chanyeol menggeleng pelan. "Baekhyun benar-benar keterlaluan, bagaimana bisa ia bersikap seperti ini? Ponselnya sama sekali tidak bisa dihubungi. Tadi aku menghubungi aboeji dan aboeji bilang Baekhyun tidak punya sepupu yang tinggal di Korea, semua sepupunya tinggal di luar negeri. Aboeji juga tidak bertemu dengan Baekhyun seharian ini karena ia sibuk bekerja di kantor."
Heechul menghela nafas kecewa, ia tidak menyangka Baekhyun tega berbohong padanya. "Yasudah, sebaiknya sekarang kita pulang. Taehyung sudah diijinkan pulang."
Chanyeol mengangguk pelan kemudian.
.
.
.
Tepat pukul 10 malam Baekhyun akhirnya sampai di depan rumah dengan membawa banyak sekali barang belanjaan. Ia tersenyum kecil ketika melihat riasan kukunya yang sangat cantik. Perawatan di salon tadi benar-benar menguras kantong Baekhyun. Uang senilai 6 juta Won yang ia ambil secara diam-diam dari atm Chanyeol benar-benar habis tak tersisa. Jujur Baekhyun sangat takut untuk pulang, tapi mau bagaimana lagi? Ia harus tetap pulang kerumah karena Taehyung membutuhkannya. Semoga saja Chanyeol bisa mengerti dan mau memaafkannya.
CKLEK
Ia membuka pintu rumah dengan pelan, ia berjalan dengan hati-hati menuju ruang tengah dan langsung mematung ketika melihat Chanyeol duduk disana dengan pandangan mata yang sangat tidak bersahabat.
"Darimana saja kau Park Baekhyun, kenapa baru pulang malam-malam begini?" tanyanya dengan intonasi yang sangat tidak bersahabat.
Baekhyun sontak tergagap, ia benar-benar takut jika Chanyeol sudah menatapnya seperti itu. "A-aku tadi pergi u-untuk melayat sepupuku yang baru saja meninggal."
"Oh ya? Tapi tadi aboeji mu bilang tidak ada saudara ataupun sepupumu yang meninggal, mereka semua tidak tinggal di Korea."
Baekhyun meneguk ludahnya kasar. "A-aboeji?" Astaga, bagaimana ini? Apa yang harus ia katakan pada Chanyeol?
"Darimana kau mendapatkan uang untuk belanja sebanyak itu?"
"A-aku.. Aku.. A-aboeji yang memberikan semua ini untukku. Dia yang membayar semua belanjaanku."
"Ayahmu bekerja di kantor seharian ini, ia bahkan baru pulang sekitar setengah jam yang lalu. Bagaimana ia bisa membayar semua belanjaanmu sedangkan ia sendiri disibukan dengan banyaknya kegiatan kantor?"
Keringat dingin mengalir dengan deras di pelipis pria cantik itu, jantungnya berdetak dengan sangat cepat saking takut dan gugupnya ia sekarang.
"B-begini.. Aboeji memang membelikan semua barang belanjaan ini melalui Aunty Jessi. Karena aboeji sibuk, aboeji hanya menitipkan uang untuk aku belanja pada Aunty Jessi. Tadi aku bertemu dengan Aunty Jessi dan kami belanja bersama."
Chanyeol menghela nafasnya panjang. "Sampai kapan kau akan terus berbohong padaku Baek? Kau lupa jika Aunty Jessi sudah pindah ke Amerika?"
DEG
Baekhyun langsung mematung. Astaga, ia benar-benar tidak ingat jika aunty kesayangannya itu sudah pindah dan menetap bersama suaminya di Amerika.
"C-Chanyeol aku-"
"Kau ingin terus berbohong atau berkata jujur?"
Baekhyun meneguk ludahnya kasar, ia menutup mata selama beberapa saat dan menghembuskan nafas kemudian. "A-aku mendapat uang dari kartu debit mu Chanyeol, maafkan aku.. " ucapnya sambil menunduk ketakutan.
Chanyeol membulatkan matanya terkejut. "Apa? Jadi kau yang sudah mengambil kartu atm ku?" ucapnya yang langsung berdiri. Ia tidak menyangka Baekhyun berani mencuri kartu atm nya dan mengambil semua uangnya. Ia pikir kartu atm nya di bobol oleh orang lain.
Baekhyun mengangguk. "M-maafkan aku Chanyeol, aku mohon maafkan aku. Aku sedang mengidam dan sangat ingin berbelanja." ucapnya mencoba mencari alasan.
"Apa kau pikir aku akan percaya dengan alasan bodohmu itu?"
"Aku tidak berbohong Chanyeol, aku memang-"
"TUTUP MULUTMU PARK BAEKHYUN!"
Baekhyun langsung tersentak kaget, janin diperutnya juga sepertinya ikut tersentak karena Baekhyun merasakan sakit di area bawah perutnya.
Mendengar Chanyeol yang berteriak kasar, Heechul langsung berjalan keluar dari kamar dan menegur putranya itu.
"Pelankan suara mu Chanyeol ah. Taehyung baru saja tidur, kasihan dia. Jika kalian ada masalah sebaiknya kalian selesaikan saja diluar."
Chanyeol yang memang sudah dikuasai emosi itu langsung menarik tangan Baekhyun kasar dan menyereretnya ke teras belakang rumah.
"Chanyeol sakit hiks." Baekhyun langsung menangis karena Chanyeol mencengkeram tangannya terlalu kuat. Pergelangan tangannya bahkan sampai memerah.
"Sekarang ceritakan padaku bagaimana bisa kau tau pin atm ku?"
Baekhyun mengusap pergelangan tangannya sebentar lalu kemudian ia menatap mata sang suami dengan ekspresi ketakutan.
"A-aku melihat kertas yang berisi nomor pin atm mu di dalam laci jadi aku mengambilnya. Aku menarik semua uangmu tadi siang di mesin atm tidak jauh dari sini. Aku minta maaf Chanyeol, tadinya aku hanya ingin membeli beberapa pakaian saja. Tapi aku malah menghabiskan semua uangmu."
"Sebenarnya apa yang ada di dalam otakmu itu Park Baekhyun? Apa kau tidak berpikir dulu sebelum bertindak?"
"Aku kan sudah minta maaf Chanyeol, aku minta maaf hiks."
Chanyeol mengusap wajahnya kasar. "Kau tau aku mengumpulkan uang itu untuk keperluan Taehyung dan biaya persalinanmu nanti. Aku bekerja banting tulang dari pagi hingga malam untuk itu semua dan kau malah dengan sengaja menghabiskan semuanya untuk hal-hal yang tidak penting. Kau benar-benar tidak menghargai usaha dan kerja kerasku Baek."
"Aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya ingin belanja saja Chanyeol. Sebagai seorang suami kau hanya memberikan uang untuk keperluan rumah saja, kau sangat jarang memberikan uang untuk keperluan pribadi ku sendiri. Aku ini istrimu Yeol, aku juga ingin bisa berbelanja seperti istri-istri yang lain. Aku juga punya kebutuhan yang harus di penuhi hiks."
"Apa yang kau bicarakan? Aku bekerja pontang panting kesana kemari agar bisa membeli kosmetik mahal untukmu apa itu masih belum cukup?"
"Kau memang membelikan banyak alat kecantikan untukku, tapi kau sangat jarang membelikanku pakaian, kau juga tidak pernah memberikan uang untuk perawatan ke salon."
Chanyeol memijat pelipisnya pelan kemudian. "Baek apa kau lupa jika suamimu ini hanya seorang pekerja kasar? Aku hanya seorang petugas keamanan dan tukang jasa reparasi online. Apa yang bisa kau harapkan dari itu semua? Penghasilanku hanya cukup untuk kehidupan sehari-hari kita. Aku bukannya tidak mau memenuhi keperluan pribadimu juga, tapi kau harus mengerti posisiku Baek. Aku bukan pria kaya yang selalu bisa menenuhi semua kebutuhanmu. Apa usahaku selama ini untuk membahagiakanmu masih kurang? Aku bahkan rela mencari pekerjaan tambahan hanya untuk membeli kosmetik mu yang sangat mahal itu. Uang di rekeningku juga habis hanya untuk membelikanmu pakaian dan kebutuhan Taehyung waktu itu. Apa itu semua masih belum cukup juga? Kau cekik saja aku sekalian Baek.. "
Baekhyun tersentak mendengarnya, ia langsung menangis kencang kemudian.
"Perbuatanmu kali ini benar-benar sangat keterlaluan, selain menghabiskan uang untuk keperluan anakmu sendiri kau juga tega menelantarkan Taehyung demi memenuhi hasrat belanjamu itu."
"Tidak seperti itu Chanyeol, aku masih belum terbiasa dengan kehidupan yang seperti ini. Dulu aku memang sangat suka belanja dan semenjak menikah denganmu aku sudah tidak pernah lagi belanja ke mall. Aku bosan terus-terusan berada dirumah, sesekali aku juga ingin keluar dan bersenang-senang."
"Bersenang-senang kau bilang? Apa kau tau jika anakmu tadi masuk rumah sakit?"
Baekhyun terkejut. "Apa? Taehyung masuk rumah sakit?"
"Ia kejang-kejang karena terlalu lama menangis, ia menangis karena mencari ibunya."
"Bagaimana bisa? Aku kan sudah menitipkan Taehyung pada eomma, aku juga sudah menyiapkan susu formula untuk Taehyung."
"Ibunya Taehyung itu kau atau ibuku? Kenapa kau seenaknya saja memberikan tanggung jawabmu pada ibu mertuamu sendiri? Taehyung jelas menangis karena yang dia butuhkan adalah ibunya, bukan orang lain. Ia masih kecil, usianya baru 8 bulan dan ia masih membutuhkan asi. Jika kau punya otak kau pasti tidak akan pergi meninggalkan anakmu begitu saja."
Baekhyun merasa tertohok, hatinya sangat terluka mendengar pernyataan kasar suaminya itu.
"Aku benar-benar kecewa padamu, kau bukan hanya telah mencuri uang anak-anakmu sendiri tapi kau juga telah mengkhianati kepercayaan yang telah aku berikan padamu. Kau tidak bisa menjaga Taehyung selama aku tidak ada dirumah. Kau juga pergi keluar rumah tanpa meminta ijin dariku, bagaimana jika terjadi sesuatu pada janin yang ada di dalam perutmu? Apa kau tidak berpikir sampai kesitu? Dimana otakmu itu Park Baekhyun?"
Baekhyun semakin menundukan kepalanya dalam, ia terus menangis sampai tersedu-sedu. Chanyeol benar-benar sangat marah dan ini benar-benar diluar perkiraannya.
"Satu hal yang harus kau ingat Park Baekhyun, jika kau merasa keberatan untuk hidup susah bersama denganku disini, kau bisa pergi dan mencari laki-laki lain diluar sana yang bisa memenuhi semua kebutuhanmu. Aku bukan laki-laki sempurna, aku hanya pria miskin yang tidak sanggup memenuhi semua kebutuhan mewahmu itu. Aku bisa mencari wanita atau pria lain yang mau aku ajak berjuang bersama dari bawah. Bukan seseorang yang tidak bisa menghargai usaha dan jerih payah suaminya sendiri seperti dirimu."
Setelah mengucapkan kalimat terakhirnya, Chanyeol langsung berjalan masuk kedalam rumah sambil membanting pintunya kencang.
BRAAKKK
Baekhyun tersentak, ia menunduk lagi dan menangis pilu setelahnya. Harusnya ia tau jika Chanyeol akan semarah ini. Ia tau apa yang ia perbuat kali ini memang sangat keterlaluan, tapi Baekhyun nekat melakukan ini karena ia sudah tidak tahan untuk tidak berbelanja. Baekhyun sangat suka belanja dan harusnya Chanyeol tau soal itu. Ia sudah menahan hasrat belanjannya selama satu tahun lebih pernikahan mereka. Ia juga tidak akan nekat melakukan ini jika Chanyeol mengerti dan peka tentang keinginan istrinya, sayangnya pria tinggi itu hanya tau memberi uang untuk keperluan rumah dan anak saja tanpa tau jika istrinya juga punya kebutuhan lain yang harus dipenuhi. Apa Chanyeol tidak berpikir jika dirinya merasa jenuh terus-terusan berada dirumah untuk mengurus anak, rumah dan juga suami? Sesekali ia juga butuh hiburan untuk melepas rasa jenuh dengan berbelanja. Apakah Chanyeol pernah berinisiatif untuk mengajak dirinya dan Taehyung pergi jalan-jalan? Tentu saja tidak, Chanyeol tidak pernah melakukan itu. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya bahkan ketika hari libur sekalipun. Ia seolah lupa jika anak dan istrinya juga butuh perhatian lebih darinya, bukan hanya sekedar uang dan memenuhi kebutuhan primer mereka saja. Baekhyun tau ia memang salah tapi bukan berarti Chanyeol bisa berkata sekasar itu padanya. Apalagi Chanyeol dengan mudahnya memintanya untuk pergi jika ia tidak bisa hidup susah bersamanya. Terkadang Baekhyun memang merasa jika dirinya butuh beradaptasi lagi dengan kehidupannya sekarang tapi bukan berarti ia tidak bisa hidup susah bersama suaminya. Jika Baekhyun tidak bisa hidup susah bersama dengan Chanyeol sudah bisa dipastikan dari dulu ia akan langsung pergi dan lebih memilih kabur ke China bersama dengan Sehun. Tapi nyatanya Baekhyun tidak melakukan itu, ia lebih memilih untuk setia berada disamping Chanyeol karena itu memang sudah menjadi pilihan hidupnya. Apa pengorbanan Baekhyun selama ini sama sekali tidak ada artinya di mata Chanyeol? Ia sudah berusaha menjadi istri yang baik untuknya tapi kenapa Chanyeol bisa dengan mudahnya bicara seperti itu? Baekhyun benar-benar tidak habis pikir dengan perkataan Chanyeol barusan. Ucapan kasar pria itu benar-benar membuatnya tersinggung.
.
.
.
Heechul duduk menghampiri Baekhyun yang tengah melipat pakaian Chanyeol diruang tengah, ia terdiam sambil memperhatikan menantu cantiknya itu. Sudah 2 minggu berlalu semenjak Baekhyun dan Chanyeol bertengkar hebat waktu itu dan sudah selama itu pula mereka berdua terus berperang dingin. Chanyeol seolah enggan untuk berbicara dengan Baekhyun, ia selalu berangkat subuh dan pulang sangat larut. Ia juga sudah tidak pernah tidur dikamar lagi dan lebih memilih untuk tidur di sofa ruang tamu. Begitu juga dengan Baekhyun, ia seolah tidak peduli sekalipun Chanyeol mendiamkannya. Menantu cantiknya itu justru lebih memilih untuk menyibukan diri dengan fokus mengurus sang buah hati Park Taehyung. Hal ini tentu saja membuat Heechul kesal, bagaimana bisa sepasang suami-istri yang tinggal satu rumah tidak saling bertegur sapa sama sekali? Ini jelas sangat menjengkelkan untuknya.
"Baekhyun ah."
"Iya eomma.. "
"Kau tidak berniat untuk memperbaiki hubungan dengan suamimu?"
"Aku sama sekali tidak merasa punya masalah apapun dengan Chanyeol."
"Lantas kenapa kalian terus-terusan perang dingin seperti ini Baek?"
"Aku tidak tau, Chanyeol yang terus mendiamkanku. Sepertinya ia masih kesal dengan kejadian waktu itu."
Heechul menghela nafas. "Chanyeol marah itu wajar Baekhyun ah, apa yang kau lakukan kemarin memang sangat keterlaluan."
"Aku tau eomma, Baekkie tau Baekkie salah. Tapi Baekkie kan sudah minta maaf, lalu Baekkie harus bagaimana lagi? Setiap kali Baekkie mencoba untuk memulai pembicaraan dengan Chanyeol, dia pasti akan langsung menghindar. Baekkie bisa saja bekerja untuk mengganti semua uang Chanyeol tapi Chanyeol pasti tidak akan mengijinkan Baekkie untuk bekerja. Ia juga sudah tidak mau tidur dikamar lagi, jadi sekarang terserah Chanyeol saja, Baekkie tidak mau ambil pusing."
"Iya tapi sampai kapan kalian akan terus seperti ini? Tidak baik jika pasangan suami istri terus berperang seperti ini."
"Baekkie tidak tau, tanyakan saja pada Chanyeol."
Heechul terdiam untuk beberapa saat. "Apa kau merasa kesal pada suamimu?"
Baekhyun menghela nafasnya pelan. "Baekkie memang merasa kesal pada Chanyeol, ucapan kasarnya kemarin membuat Baekkie tersinggung."
"Ucapan apa memangnya?"
"Chanyeol menyuruh Baekkie pergi dan mencari laki-laki lain jika Baekkie merasa keberatan jika harus hidup susah bersamanya, dia bilang dia bisa mencari wanita atau pria lain yang mau diajak berjuang bersama. Tidak seperti Baekkie yang tidak mau hidup susah. Dia juga bilang jika Baekkie tidak punya otak."
"Jadi kau tersinggung dengan itu?"
"Tentu saja Baekkie tersinggung. Bisa-bisanya Chanyeol berkata seperti itu padahal Baekkie sudah berusaha menjadi istri yang baik untuknya. Apa pengorbanan Baekkie selama ini tidak ada artinya dimata Chanyeol sampai dia dengan begitu mudahnya bicara seperti itu pada Baekkie? Chanyeol benar-benar tidak punya perasaan." ucap Baekhyun sambil melipat kemeja milik suaminya dengan kesal.
Heechul menggelengkan kepalanya pelan. "Kalian yang menikah tapi eomma yang merasa pusing. Sekarang dengarkan eomma Baek. Permasalahan di dalam rumah tangga adalah hal yang lumrah. Bukan sesuatu yang aneh jika sepasang suami istri bertengkar, tapi akan menjadi aneh jika kalian membiarkan masalah itu sampai berlarut-larut. Kalian sudah sama-sama dewasa dan kalian harus bisa menyelesaikan setiap masalah yang menerpa rumah tangga kalian dengan kepala dingin, bukannya malah terus membiarkannya seperti ini. Jika kalian masih merasa sulit untuk saling memaafkan setidaknya coba pikirkan anak-anak kalian, pikirkan Taehyung dan juga calon anak kalian yang masih berada di dalam perutmu. Mereka butuh kasih sayang penuh dari kedua orangtuanya, sekarang bagaimana bisa mereka mendapatkan kasih sayang jika kedua orangtuanya saja tidak saling bertegur sapa? cobalah untuk meruntuhkan ego kalian masing-masing demi anak-anak kalian. Jika salah satu diantara kalian tidak ada yang mau mengalah, sampai kapanpun masalah kalian tidak akan pernah selesai. Memangnya kau mau terus-terusan perang dingin seperti ini dengan suamimu sendiri?"
Baekhyun sontak menggeleng. "Aku tidak mau eomma."
"Jika kau memang tidak mau seperti ini terus, kau harus bisa untuk menghancurkan dinding ego mu sendiri. Kau bisa memulai untuk memperbaiki hubungan kalian terlebih dahulu jika Chanyeol memang masih enggan untuk berbicara denganmu. Tidak ada salahnya kan jika seorang istri memulai terlebih dahulu?"
Baekhyun termenung, memulai terlebih dahulu? Haruskah ia melakukan itu?
.
.
.
"Chanyeol kau sudah pulang?"
Pukul 00.00 tengah malam, Chanyeol pulang kerumah dengan keadaan lelah luar biasa. Karena bisnis reparasi online yang ia jalani sedang tidak begitu lancar, alhasil mau tidak mau Chanyeol harus berkeliling Kota Seoul lagi untuk mencari pekerjaan tambahan.
Baekhyun berjalan menghampiri suaminya itu dan hendak mencium tangannya seperti biasa, namun sayangnya Chanyeol dengan cepat menampik tangan Baekhyun dengan kasar. Hal itu tentu saja membuat Baekhyun terkejut.
"Kau terlihat sangat kelelahan Chanyeol ah."
"Memangnya apa pedulimu? Bukankah memang ini yang kau inginkan?"
"Chanyeol.. "
"Jika kau tidak menghabiskan semua uang yang aku kumpulkan dengan susah payah, aku juga tidak perlu berkeliling kota untuk mencari pekerjaan tambahan lagi seperti sekarang."
Baekhyun terdiam. Selalu saja seperti ini, setiap kali ia berusaha untuk memulai pembicaraan dengan Chanyeol pria ini selalu mengungkit kejadian waktu itu.
"Kau sudah makan? Biar aku siapkan makanan untukmu ya."
"Tidak perlu, aku tidak lapar."
"Kalau begitu biar aku siapkan-"
"Aku bisa menyiapkan air panasku sendiri." ucap Chanyeol yang langsung memotong perkataan Baekhyun sambil berjalan masuk kedalam kamar.
Baekhyun mendengus kesal dibuatnya, ini pertama kalinya ia merasa sangat tidak menyukai sifat suaminya itu. Pria itu benar-benar sangat keras kepala dan begitu menyebalkan jika sudah marah.
.
.
.
Sekitar pukul 02.00 pagi Baekhyun terbangun dari tidurnya karena merasa haus, ia langsung bangkit dari atas kasur dan berjalan pelan menuju keluar kamar. Tanpa sengaja kedua mata cantiknya menatap Chanyeol yang tengah terduduk di sofa ruang tamu sambil memijat bahu dan belakang lehernya pelan. Baekhyun terdiam, rasanya pasti sangat tidak nyaman jika harus tidur di sofa seperti itu setiap malam apalagi Chanyeol juga pasti sudah sangat lelah karena bekerja seharian. Pria cantik itu pun lantas langsung menghampiri Chanyeol dan duduk disampingnya.
"Chanyeol.. "
Chanyeol menoleh dan tampaknya ia sedikit terkejut dengan kehadiran Baekhyun yang sangat tiba-tiba.
"Sini biar aku pijat.. " Baekhyun langsung menyentuh bahu lebar suaminya itu tapi sayangnya langsung ditepis oleh Chanyeol.
"Aku bisa sendiri."
Baekhyun menghela nafasnya panjang, ia benar-benar tidak menyukai sifat keras kepala suaminya ini.
"Sampai kapan kau akan terus seperti ini Chanyeol? Sampai kapan kau akan terus mendiamkanku?"
"Sampai kau mengerti betul tentang kesalahan yang sudah kau perbuat."
"Aku kan sudah minta maaf Chanyeol, apalagi yang harus aku lakukan? Aku bisa saja mengganti semua uang-uang itu tapi kau tidak pernah mengijinkanku untuk bekerja. Kenapa kau terus bersikap seperti ini padaku?"
Chanyeol memijat pelipisnya pelan, kepalanya sedang sakit sekarang dan Baekhyun malah membuat kepalanya serasa akan meledak. "Aku sedang tidak ingin membahas soal itu, sebaiknya sekarang kau pergi dan jangan ganggu aku lagi. Aku sedang banyak masalah sekarang dan kau justru menbuat kepalaku semakin berdenyut."
Baekhyun mengepalkan tangannya erat, ia langsung berdiri sambil menghentakan kakinya kencang. "Terserah! Kau benar-benar egois! Aku membencimu Park Chanyeol hiks.."
Baekhyun langsung berjalan cepat dan masuk kedalam kamar sambil membanting pintunya kencang. Ia mengunci pintu kamar mereka dari dalam dan langsung menangis tersedu-sedu sambil menyembunyikan tubuhnya dibalik selimut.
"Kau jahat Chanyeol ah hiks kau jahat.. Aku membencimu hiks.. "
Chanyeol yang masih duduk ditempatnya semula hanya bisa menghela nafas melihat istrinya yang menangis sambil memakinya seperti tadi. Ia sendiri juga tidak tau sampai kapan hubungannya dan sang istri akan merenggang seperti ini.
.
.
.
Keesokan paginya, setelah Chanyeol pergi bekerja dan Heechul yang pergi ke pasar, Baekhyun duduk di samping ranjang kamar sambil menggendong Taehyung. Ia berusaha menyeka airmatanya yang terus-terusan keluar sedaritadi. Pria cantik itu mengambil ponsel yang tergeletak diatas laci dan mendial nomor seseorang.
"Hiks yoboseyo Paman Lee.. "
"..."
"Tolong jemput aku dirumah Chanyeol sekarang juga, aku sudah tidak kuat tinggal disini hiks.. "
"..."
"Aku akan menceritakan semuanya pada aboeji nanti, sekarang yang penting paman jemput aku dan Taehyung dulu disini."
"..."
"Baik, aku tunggu paman."
PIIP
Baekhyun menghela nafasnya kemudian, keputusannya sudah bulat. Ia butuh waktu untuk menenangkan diri.
.
.
.
Chanyeol kembali kerumah sekitar pukul setengah satu siang, ia pulang kerumah karena ibunya menelepon dan berkata jika Baekhyun dan Taehyung tidak ada dirumah.
"Eomma sudah mencari mereka kemana-mana tapi eomma tidak berhasil menemukan mereka."
Chanyeol menghela nafasnya pelan, kemana istri dan anaknya itu pergi? Ia sudah mencoba menghubungi ponsel istrinya sedari tadi tapi nomornya mendadak tidak aktif. Pakaian mereka semua juga sudah tidak ada di dalam lemari. Apa Baekhyun mencoba melarikan diri darinya?
Drrt.. Drrtt.. Drrt.. Drrt
Ponsel Chanyeol bergetar pertanda ada panggilan masuk. Nama 'Donghae Aboeji' tertera di layar ponselnya dan Chanyeol dengan cepat menggeser tombol berwarna hijau.
"Yoboseyo.. "
'Yoboseyo Chanyeol ah.. '
"Ada apa aboeji?"
Donghae terdiam selama beberapa detik sebelum ia menghela nafasnya panjang. 'Baekhyun ada dirumah aboeji sekarang, ia terus menangis dan menangis sedari tadi. Aboeji tidak tau kenapa Baekhyun seperti ini tapi ia tidak mau pulang kerumahmu. Ia bilang ia dan Taehyung ingin tinggal disini untuk sementara waktu. Apa kalian sedang ada masalah?'
Chanyeol terdiam, sudah ia duga Baekhyun pasti akan kabur kerumah ayahnya.
"Kami memang sedang bertengkar karena suatu masalah aboeji, aku minta maaf. Aku akan segera menjemput Baekhyun kalau begitu."
'Sebaiknya jangan, Baekhyun sepertinya masih sangat emosi. Ia butuh waktu untuk menenangkan diri terlebih dahulu. Melihat Baekhyun yang sampai kabur kemari sepertinya masalah yang sedang kalian hadapi cukup rumit. Apa kalian bertengkar hebat?'
Chanyeol terdiam, ia tidak tau harus menjawab apa.
Donghae tersenyum kecil diseberang sana. 'Tidak apa-apa, aboeji tidak akan terlalu ikut campur urusan rumah tangga kalian, tapi ada baiknya jika kalian menenangkan diri terlebih dahulu. Biarkan Baekhyun dan Taehyung tinggal disini dulu untuk sementara.'
Chanyeol mengangguk. "Baik aboeji, aku mengerti."
PIIP
Sambungan telepon pun terputus dan Chanyeol termenung setelahnya.
"Baekhyun ada dirumah ayahnya?" tanya Heechul penasaran.
Chanyeol mengangguk. "Aboeji bilang Baekhyun dan Taehyung akan tinggal disana untuk sementara waktu."
Heechul mengangguk, Chanyeol dan Baekhyun memang butuh waktu sendiri dulu untuk menenangkan diri.
Chanyeol terdiam, mungkin memang benar apa kata ayah mertuanya. Mereka butuh waktu untuk saling menenangkan diri terlebih dahulu, setidaknya sampai mereka mampu meruntuhkan ego masing-masing untuk saling memaafkan satu sama lain.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Sebelum ada yang protes author mau ngejelasin sedikit kalo ibu hamil itu masih bisa memproduksi asi tapi gak sebanyak sebelum ia hamil. Intinya sih Baekhyun masih bisa menyusui tapi karena produksi asinya ga sebanyak sebelum hamil dan Taehyung nya juga udah berusia diatas 6 bulan jadi udah pake susu pendamping+makanan bayi.
Silahkan berikan review jika kalian berkenan dan silahkan tinggalkan ff ini jika kalian merasa ff ini kurang pantas untuk dibaca.
See you in the next chap ~
Bye Bye :)
