11 tahun kemudian..
Baekhyun tengah sibuk menyiapkan sarapan untuk keluarganya pagi ini, 6 porsi nasi goreng ayam bawang lengkap dengan secangkir kopi hitam dan 4 gelas susu putih. Kehidupan Baekhyun berubah 180° semenjak kepindahannya ke Jeju. Sekarang ia tinggal disebuah rumah mewah yang Chanyeol bangun seharga 2 Juta Dollar dengan fasilitas yang sangat lengkap. Rumah yang dominan berwarna putih ini bahkan lebih luas dan megah jika dibandingkan dengan rumah ayahnya di Seoul. Sekarang Chanyeol telah bertransformasi menjadi seorang pebisnis yang sangat sukses, cabang bisnisnya sudah tersebar hampir diseluruh penjuru Korea dan Jepang, Chanyeol bahkan tengah mencoba untuk memperluas invasi bisnisnya sampai ke Asia Tenggara. Ia punya Bengkel, toko bangunan, restoran, fitness center, penginapan, toko retail, show room, villa, perumahan dan apartemen yang dikhususkan untuk kalangan menengah yang jumlahnya sudah tak terhitung lagi, belum lagi bisnis reparasi online yang masih ia jalani sampai sekarang dengan jumlah karyawan yang sangat banyak. Chanyeol bisa sesukses ini setelah 18 tahun mengadu nasib di Jeju, apa yang ia dapatkan saat ini tidaklah mudah dan instan, banyak kesulitan yang telah ia alami, Chanyeol sudah bertarung dengan kerasnya hidup selama separuh dari usianya. Sekarang ia hanya tinggal menikmati buah dari hasil kerja kerasnya selama ini.
Baekhyun menyimpan semua makanan yang ia buat diatas meja makan dan menatanya dengan rapi. Setelah itu ia berjalan kearah kamar utama yang merupakan kamar tidurnya bersama dengan Chanyeol.
CKLEK
Baekhyun berjalan pelan menghampiri suaminya yang masih mendengkur halus, ia sibak selimutnya pelan dan terpampamglah tubuh sang suami yang hanya dibalut sebuah underwear tipis berwarna abu-abu.
"Chan ayo bangun, ini sudah jam tujuh." Baekhyun menepuk-nepuk pipi sang suami dengan pelan.
"5 menit lagiii Baekk.. " ucap Chanyeol yang terdengar masih sangat mengantuk.
"Bukankah pagi ini kau ada rapat?"
Chanyeol langsung membuka matanya cepat, ia baru ingat jika pagi ini ia ada rapat dengan rekan kerja untuk membicarakan proyek pembangunan villa baru di wilayah Jeju Selatan. Chanyeol menghela nafasnya pelan. Ia baru tidur selama dua jam dan sekarang ia harus bangun lagi.
Dengan berat hati pria bertubuh proporsional itu langsung bangkit dari kasurnya dengan kepala yang luar biasa pusing.
CUP
Baekhyun mengecup bibir tebal sang suami dengan lembut. "Semangat sayang, demi anak-anak kita."
Chanyeol tersenyum, ia langsung mengambil handuk yang menggantung dibalik pintu dan berjalan dengan sempoyongan kedalam kamar mandi kamar.
Baekhyun tersenyum melihatnya, Chanyeol baru saja pulang jam 5 pagi tadi dan baru tidur selama beberapa jam saja, sekarang ia harus pergi bekerja lagi karena biar bagaimanapun Chanyeol harus tetap menjaga profesionalitas di hadapan para klien dan rekan kerjanya.
.
.
.
Baekhyun tersenyum sambil memasangkan dasi di kerah kemeja sang suami, dulu biasanya Chanyeol menggunakan seragam security kumal untuk bekerja setiap harinya, sewaktu menjadi kuli bangunan pun Chanyeol hanya menggunakan kaos dan celana jeans lusuh. Berbeda sekali dengan sekarang yang selalu menggunakan setelan kerja kantoran lengkap setiap berangkat kerja. Istilah tentang roda kehidupan yang pasti berputar itu ternyata memang benar adanya, siapa yang menyangka Chanyeol yang dulunya hanya seorang pekerja kasar yang kemudian menjadi seorang security sekarang justru menjadi seorang pengusaha sukses? Hal yang paling membuat Baekhyun bangga adalah karena Chanyeol memperoleh apa yang ia punya saat ini dari hasil jerih payahnya sendiri. 18 tahun ia berjuang hingga bisa sampai di posisi seperti ini.
"Kau terlihat agak kurang sehat.. " ucap Baekhyun sambil mengelus wajah sang suami dengan lembut.
"Aku baik-baik saja, aku hanya merasa sedikit pusing. Aku mengantuk dan aku ingin tidur." balas Chanyeol sambil memijat matanya yang terus berkunang-kunang.
"Aku kan sudah bilang untuk jangan terlalu sering bekerja sampai pagi, tubuhmu juga butuh istirahat Chanyeol. Kau tidak pernah mau mendengarkan ucapan istrimu sendiri."
"Aku begini karena keadaan, banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan."
"Tapi bukan berarti kau bisa mengabaikan kesehatanmu sendiri, jika kau sakit maka pekerjaanmu juga akan terbengkalai. Lagipula aku heran denganmu, kau sudah punya banyak uang tapi masih saja bekerja keras."
"Kerja keras memang harus dilakukan setiap orang tak peduli dia kaya atau tidak, jika aku malas-malasan terus bagaimana bisnis-bisnisku bisa maju? Bagaimana aku bisa membayar tagihan kartu kreditmu yang jumlahnya sampai puluhan juta Won itu?"
Baekhyun memutar bola matanya malas. "Yasudah terserah kau saja." ucap Baekhyun sambil membantu suaminya menggunakan jas.
"Anak-anak sudah bangun?"
Baekhyun mengangguk. "Sudah, oh iya, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu, kemarin aku sempat memesan sebuah Mobil Ferrari baru untuk Taehyung, rencananya mobil itu akan di antar hari ini."
Chanyeol membulatkan matanya terkejut. "Kau beli mobil lagi? Taehyung kan sudah punya 2 mobil sport."
"Iya memang, tapi Taehyung belum punya Mobil Ferrari keluaran terbaru sedangkan teman-temannya yang lain sudah punya. Kasihan Taehyung sayang, dia terus merengek padaku untuk dibelikan mobil baru."
Chanyeol menghela nafasnya panjang. "Itulah kelemahanmu Baek, kau tidak pernah bisa berkata tidak pada anak-anakmu sendiri. Menyayangi anak tidak harus dengan cara memberikan apapun yang mereka inginkan, berikanlah apa yang mereka butuhkan bukan apa yang mereka inginkan. Sekarang coba kau lihat akibatnya, Taehyung tumbuh menjadi anak yang manja dan terlalu bergantung pada orangtuanya. Nilai kuliahnya pun terus menurun karena kau tidak pernah bisa bersikap tegas pada anakmu sendiri."
Lain Chanyeol lain pula dengan Baekhyun, mereka punya cara yang berbeda dalam mendidik anak-anak mereka. Chanyeol cenderung sangat tegas dalam mendidik anak-anaknya sedangkan Baekhyun cenderung lebih lembut dan selalu menuruti apapun keinginan anak-anaknya.
"Tapi Taehyung berjanji ia akan rajin belajar setelah di belikan mobil baru."
"Aku sudah mendengar itu hingga ribuan kali, tapi Taehyung tidak pernah menepati janjinya."
"Kali ini aku yakin Taehyung tidak akan berbohong Chan.. "
"Aku tidak akan mempercayai ucapan anak nakal itu lagi. Sudahlah, aku akan segera memblokir kartu kreditmu dan juga Taehyung." ucap Chanyeol mutlak tak terbantahkan, ia langsung berbalik dan berjalan keluar kamar.
Baekhyun langsung melotot mendengarnya. "Chanyeol kau pasti bercanda kan? C-Chanyeol.. "
.
.
.
Terlihat 4 orang anak yang duduk saling berhadapan di meja makan utama sambil menunggu kedua orangtuanya datang. 1 anak berseragam SMA, 1 anak berpakaian casual khas anak kuliahan dan 2 anak lagi berseragam SD.
Mereka adalah anak-anak dari pasangan Park Chanyeol dan Park Baekhyun.
Empat anak?
Ya, Baekhyun dan Chanyeol sudah dikaruniai 4 orang anak. Tepat satu bulan setelah kepulangannya dari Bali waktu itu, Baekhyun langsung dinyatakan hamil oleh dokter. 9 bulan setelahnya Baekhyun melahirkan seorang bayi perempuan yang sangat cantik dan lucu yang diberi nama Lami, Park Lami. Sekarang usia anak itu sudah menginjak 11 tahun dan duduk dibangku kelas 5 SD.
Tadinya Baekhyun tidak ingin menambah momongan lagi setelah kelahiran Lami toh ia dan suaminya sudah punya dua orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan. Namun harapannya itu tidak terwujud ketika Baekhyun kembali dinyatakan hamil setelah Lami berusia 2 tahun. Saat itu Baekhyun lupa untuk mengkonsumsi pil KB hingga akhirnya ia kebobolan lagi. 9 bulan kemudian ia melahirkan seorang bayi laki-laki yang sangat menggemaskan yang diberi nama Jiwon, Park Jiwon. Sekarang Jiwon sudah berusia 9 tahun dan duduk dibangku kelas 3 sekolah dasar.
Anak kedua mereka yakni Park Jinyoung sekarang sudah berusia 18 tahun, karena ia lebih muda 1 tahun dari kakaknya, Jinyoung baru akan lulus SMA tahun ini. Sedari tadi ia tampak begitu sibuk dengan kumpulan soal Matematika yang tengah ia kerjakan sambil menunggu kedua orangtuanya datang untuk sarapan bersama. Sebentar lagi ia akan menghadapi ujian akhir sekolah, belum lagi ditambah dengan ujian untuk masuk universitas favorit. Jinyoung benar-benar bekerja keras agar bisa mendapat nilai sempurna. Ia tumbuh menjadi seorang pria yang sangat tampan dengan tinggi badan menjulang seperti ayahnya, bahunya lebar dengan berat badan yang proporsional. Jinyoung adalah tipikal anak yang pendiam namun sangat cerdas, ia selalu menjadi jawara kelas dan sering menjuarai olympiade sains dan matematika baik di dalam maupun luar negeri. Jinyoung pandai dalam segala hal dan ia adalah putra kebanggaan Chanyeol, ia tidak pernah mengecewakan kedua orangtuanya dan selalu berbakti terhadap mereka.
Berbeda sekali dengan si sulung Taehyung yang tumbuh menjadi anak urakan yang cukup nakal, Taehyung adalah tipikal anak pemalas dan sangat berantakan. Nilai sekolahnya tidak pernah lebih dari 6 dan hal itu selalu sukses membuat Chanyeol marah-marah, Taehyung sering sekali berselisih paham dengan ayahnya dalam segala hal. Taehyung sangat tidak menyukai ayahnya karena ia selalu membanding-bandingkan dirinya dengan Jinyoung. Ia selalu merasa jika ayahnya lebih menyayangi Jinyoung daripada dirinya. Tapi meskipun begitu Taehyung tetap menghormati ayahnya melebihi siapapun, ia juga sangat menyayangi Baekhyun. Menurutnya, Baekhyun adalah satu-satunya orang dirumah ini yang paling mengerti akan dirinya.
Drrtt.. Drrt.. Drrt..
Ponselnya berdering pertanda ada pesan masuk, buru-buru ia membuka pesan tersebut dan tersenyum setelahnya. Itu adalah pesan dari kekasihnya Park Jungkook yang merupakan anak tiri dari ayahnya, Taehyung berpacaran dengan kakak tirinya sendiri semenjak satu tahun silam. Waktu itu Jungkook, Irene dan Heechul neneknya datang berkunjung ke Jeju untuk liburan, disaat itulah Taehyung bertemu kembali dengan Jungkook. Taehyung sudah mengenal Jungkook dari semenjak ia masih kecil namun mereka berpisah setelah Baekhyun pindah ke Jeju. Taehyung benar-benar dibuat terpesona dengan sosok kakak tirinya itu setelah dewasa, dadanya seolah berdesir halus ketika melihat senyuman manis di wajah cantik kakak tirinya itu. Sejak saat itulah ia bertekad untuk mendapatkan hati kakak tirinya tak peduli apapun resiko yang akan ia hadapi. Taehyung sampai nekat pulang pergi Seoul-Jeju hanya supaya ia bisa bertemu dengan Jungkook yang memang tinggal dan bekerja di Seoul. Ia berbohong pada kedua orangtuanya bahwa kepergiaannya ke Seoul adalah untuk menginap dirumah Donghae atau Heechul padahal kenyataanya Taehyung pergi ke Seoul untuk menemui Jungkook. Taehyung terus berusaha mendekati Jungkook dan secara terang-terangan meminta Jungkook untuk menjadi kekasihnya, awalnya Jungkook menolak karena perbedaan usia mereka yang cukup jauh. Saat itu Taehyung masih berusia 18 tahun dan Jungkook yang sudah menginjak 24 tahun. Perbedaan usia hingga 6 tahun itu lah yang membuat Jungkook ragu untuk menerima Taehyung sebagai kekasihnya, ditambah lagi fakta jika mereka memiliki ayah yang sama meskipun tak sedarah membuat Jungkook semakin ragu untuk menerima Taehyung. Tapi Taehyung tetap tidak menyerah, ia berkata jika ayah dan ibunya saja tetap bisa saling mencintai meskipun terpaut jarak usia hingga 9 tahun, lantas kenapa ia dan Jungkook tidak bisa saling mencintai? Jungkook pun akhirnya menerima Taehyung sebagai kekasihnya meskipun mereka harus menyembunyikan hubungan ini dari semua orang hingga sekarang. Lambat laun pun Taehyung mulai merasa nyaman dengan kehadiran Taehyung di dalam hidupnya. Sampai saat ini Chanyeol dan Baekhyun masih belum mengetahui hubungan yang dijalin oleh anak-anak mereka, baik Jungkook dan Taehyung sama-sama belum berani memberitahu kedua orangtuanya karena terlalu takut. Chanyeol pasti akan sangat syok jika tau anak kandung dan anak tirinya menjalin sebuah hubungan.
Park Lami, gadis cantik berambut sebahu itu adalah seorang ulzzang disekolahnya, ia sangat populer meskipun usianya masih 11 tahun. Paras cantiknya merupakan turunan langsung dari sang ibu. Sejak kecil ia sudah bercita-cita menjadi seorang idol terkenal. Salah satu agency ternama di Korea Selatan bahkan sudah menawarkan sebuah kontrak eksklusif pada Lami untuk menjadi trainee mereka namun langsung ditolak oleh Chanyeol. Ayahnya itu lebih suka jika Lami fokus pada pendidikannnya saja daripada menjadi seorang artis. Lami tentu saja menangis waktu itu, ia bahkan sampai memohon-mohon pada ayahnya untuk diijinkan menjalani trainee di agency tersebut. Tapi Chanyeol tetap bersikeras menolak keinginan putrinya itu. Baekhyun sendiri sebenarnya sangat mendukung keinginan putrinya untuk menjadi seorang artis, tapi ia juga tidak berani melawan perintah Chanyeol. Alhasil ia hanya bisa memeluk dan menenangkan putrinya yang menangis histeris kala itu.
"Noona, pakaikan Jiwonie dasi." ucap Jiwon yang duduk tepat disampingnya, sedaritadi ia sibuk dengan simpul dasinya yang tak kunjung terpasang.
Lami yang melihat itu pun tersenyum, ia lantas langsung memasangkan dasi pada adiknya itu dengan baik.
"Terimakasih noona." ucap Jiwon sambil tersenyum.
"Sama-sama." balas Lami sambil mengusap rambut adiknya gemas.
Jiwon adalah anak yang sangat lucu dan menggemaskan, wajahnya merupakan gabungan dari wajah kedua orangtuanya. Sifat dan sikapnya yang sangat polos membuat ketiga kakaknya sangat protektif terhadap adik bungsu mereka. Jiwon adalah saudara kesayangan. Ia adalah mood booster ketika kakak ataupun orangtuanya kelelahan karena padatnya aktivitas.
"Chanyeol kau pasti bercanda kan, bagaimana aku bisa belanja ke mall jika kau memblokir kartu kredit ku?"
Chanyeol langsung duduk di kursi meja makan tanpa menghiraukan ocehan Baekhyun dibelakangnya.
"Mulai sekarang appa akan memblokir kartu kreditmu Taehyung ah, appa juga akan memblokir kartu kredit ibumu."
Taehyung yang mendengar itu langsung membulatkan matanya terkejut. "Apa? Appa tidak bisa melakukan itu!"
"Kenapa tidak bisa? Kau sudah terlalu sering menghamburkan semua uang yang appa berikan untuk hal-hal yang tidak berguna. Kau bisa mendapatkan kembali kartu kreditmu setelah kau mendapat nilai sempurna untuk ujian semestermu kali ini."
"A-apa? Kenapa appa kejam sekali?"
"Kau sudah terlalu lama bermain-main, sekarang sudah saatnya kau bersikap dewasa. Kau harus serius untuk membangun masa depanmu dari sekarang. Berusahalah untuk mendapatkan nilai yang bagus untuk ujian kali ini jika kau ingin mendapatkan kartu kreditmu kembali."
Taehyung terdiam. Astaga, bagaimana ini? Ia ada janji kencan dengan Jungkook minggu depan, bagaimana ia bisa berkencan jika kartu kreditnya diblokir?
Taehyung menoleh dan menatap sang adik Park Jinyoung yang duduk disampingnya. Perlahan ia tersenyum, ia bisa meminjam kartu kredit adiknya dulu untuk sementara.
"Jangan pernah berpikir untuk meminjam kartu kredit adikmu Taehyung ah." ucap Chanyeol memperingatkan.
"Jangan kau pinjamkan kartu kreditmu pada kakakmu Jinyoung ah, jika kau tetap nekat memberikannya maka appa tidak akan segan-segan untuk memblokir kartu kreditmu juga."
Jinyoung mengangguk patuh. "Iya appa, Jinyoung mengerti."
Taehyung mendengus, ia kesal sekali mendengarnya. Jika ayahnya sudah berkehendak, maka tidak ada satupun yang bisa menentangnya termasuk ibunya sekalipun.
"Mulai sekarang jam belajar kalian akan appa tambahkan, setelah pulang sekolah dan kuliah kalian harus ikut kelas tambahan. Appa akan menyewa dosen dan guru private khusus untuk membimbing kalian dirumah. Kalian harus mendapat nilai yang sempurna untuk ujian kali ini. Kalian mengerti?"
Semua orang yang ada di meja makan tersebut tampak begitu terkejut mendengarnya tak terkecuali Baekhyun, pelajaran di sekolah saja sudah membuat mereka stres dan kelelahan, apalagi jika ditambah dengan kelas private.
"Taehyung, Jinyoung, Lami, Jiwon. Sekali lagi appa tanya, kalian mengerti?" ucap Chanyeol dengan suara yang sangat lantang.
"Kami mengerti." ucap keempat anak itu secara bersamaan.
"Bagus, kalau begitu sekarang kita mulai sarapannya."
Baekhyun menghela nafas kemudian, ia menatap ekspresi di wajah anaknya satu persatu. Mereka semua tampak begitu lesu mendengar perintah Chanyeol. Baekhyun sangat tau jika anak-anaknya cukup tertekan dengan kegiatan sekolah mereka yang sangat menyita waktu, tapi mau bagaimana lagi? Tidak ada satupun yang bisa membantah jika Chanyeol sudah berkehendak.
.
.
.
"Untuk pembangunan diwilayah Hwangjido Utara aku serahkan padamu Hoseok ah, aku tidak bisa langsung memantau kesana karena harus memantau pembangunan di Jeju Selatan."
"..."
"Baik, aku percayakan padamu."
PIIP
Chanyeol mengakhiri panggilan teleponnya, saat ini ia sedang berada di dalam ruangannya di kantor cabang miliknya di Jeju Selatan. Ia datang kemari untuk memantau langsung pembangunan mega proyek villa miliknya setelah melakukan rapat dengan klien kerja. Jam sudah menunjukan pukul 13.00 tepat dan ia belum makan siang sama sekali. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya hingga tidak sempat makan.
TOK TOK TOK TOK
"Masuk." ucap Chanyeol tanpa menoleh sama sekali karena ia masih terlalu fokus dengan berkas laporan di meja kerjanya.
CKLEK
"Chanyeol ah.. "
Chanyeol menoleh ketika ia mendengar suara lembut dan halus yang sudah sering ia dengar selama kurang lebih 12 tahun. Dadanya berdesir halus ketika sosok cantik itu berjalan dengan begitu anggunnya sambil tersenyum manis kearahnya. Istrinya tidak banyak berubah meskipun mereka sudah 19 tahun mengarungi bahtera rumah tangga bersama. Ia masih tetap cantik seperti anak remaja meskipun usianya kini sudah menginjak kepala empat. Baekhyun sangat pintar merawat diri, ia selalu tampak cantik dan menggoda jika dihadapan Chanyeol. Chanyeol yang tadinya benar-benar kelelahan karena bekerja seharian seolah mendapat suntikan energi baru ketika melihat paras cantik istrinya.
Baekhyun mencium tangan suaminya itu dengan lembut, ia langsung mendudukan tubuh mungilnya dihadapan Chanyeol.
"Aku datang kemari untuk mengantarkan makanan, sekretarismu memberitahuku jika kau langsung datang kemari untuk memantau langsung pembangunan proyek."
Chanyeol mengangguk, ia melirik kotak bekal yang dibawa istrinya. "Terimakasih sayang.. "
Baekhyun tersenyum. "Aku membuatkan bulgogi spesial untukmu, kau pasti suka." ucapnya sambil membuka kotak bekal yang dibawanya.
"Ayo buka mulutmu, biar aku suapi."
Chanyeol tersenyum, ia langsung membuka mulut dan mengunyah potongan bulgogi yang disuapkan untuknya.
"Mashita, kau sekarang sudah benar-benar pintar memasak Baek."
"Terimakasih. Ayo dihabiskan." Baekhyun tampak begitu semangat menyuapi suaminya.
.
.
.
Chanyeol mengusap noda sisa makanan disudut bibirnya dengan menggunakan tisu. "Terimakasih makanannya Baek, aku benar-benar kenyang."
"Sama-sama." Baekhyun berdiri dari duduknya dan berjalan pelan memutari meja kerja Chanyeol dan kemudian ia langsung duduk dipangkuan sang suami.
Chanyeol tentu saja terkejut, ia menatap Baekhyun dengan pandangan bingung.
Baekhyun tersenyum sambil menatap suaminya itu dengan pandangan menggoda, ia sentuh dada bidang sang suami dengan gerakan seduktif.
"Aku melihat ada sebuah koleksi perhiasan terbaru hari ini, sepertinya perhiasan itu sangat cocok untuk melengkapi koleksiku." ucap Baekhyun sambil meniup telinga kiri sang suami.
Chanyeol memejamkan matanya erat, ia tau kemana arah pembicaraan ini. "Berapa yang kau butuhkan?"
"Serahkan saja Black Card mu padaku, aku akan mengembalikannya secepat mungkin."
"Kau tidak sedang berusaha mengelabuiku bukan?"
Baekhyun tertawa. "Tentu tidak, aku hanya akan membeli sekotak perhiasan baru dan setelah itu segera mengembalikannya kepadamu."
"Baiklah kalau begitu." Chanyeol merogoh dompetnya di dalam celana dan mengeluarkan Black Card miliknya.
Baekhyun tersenyum, ia hendak mengambil kartu itu namun langsung ditahan oleh Baekhyun. "Apa yang akan aku dapatkan jika aku memberikan ini padamu?"
"Apa yang kau inginkan dariku?"
Chanyeol menyeringai. "Aku ingin sebuah kehangatan."
Baekhyun mendekatkan wajahnya pada telinga Chanyeol. "Aku akan memberikan kehangatan itu padamu nanti malam, aku akan menunggu dikamar sayang.." ucapnya sambil mengulum telinga kiri sang suami.
Chanyeol merinding hebat karenanya, ia jadi tidak sabar untuk segera pulang kerumah.
Baekhyun mengambil Black Card ditangan suaminya dengan cepat dan tersenyum girang kemudian.
"Gunakan seperlunya saja Baek, jangan terlalu boros."
Baekhyun mengangguk. "Tentu sayang, aku akan segera mengembalikannya padamu."
Baekhyun turun dari pangkuan Chanyeol dan bersiap untuk segera pergi. Ia mencium tangan dan bibir suaminya kilat.
CUP
"Aku pergi dulu sayang. Ingat, jangan terlalu lelah. Aku mencintaimu." ucapnya sambil mengedipkan sebelah matanya genit.
Chanyeol tersenyum melihat istrinya berbalik pergi dan berjalan girang layaknya bocah SD yang dapat hadiah permen dari orangtuanya. Baekhyun selalu seperti itu ketika ia sedang menginginkan sesuatu, terutama ketika ia sedang tidak memiliki uang. Ia akan bertingkah layaknya kucing binal yang berharap disentuh tuannya. Chanyeol tidak bisa berkata tidak jika sudah dirayu seperti itu, imannya akan langsung runtuh dalam sekejap mata. Ia sama sekali tidak keberatan kartu kreditnya dipakai selama ada balasan setimpal yang akan ia dapatkan.
"Aku benar-benar tidak sabar untuk pulang kerumah malam ini.. "
.
.
.
Baekhyun berjalan masuk kedalam rumahnya setelah membeli sekotak perhiasan baru dari salah satu brand ternama. Tadinya Baekhyun ingin membeli baju, tas dan juga sepatu. Tapi hal itu urung ia lakukan karena ia takut Chanyeol akan marah. Ia bilang pada suaminya hanya akan membeli perhiasan saja, Baekhyun takut ia tidak diperbolehkan memakai kartu kreditnya lagi jika ia berbohong. Kartu kreditnya sedang diblokir saat ini, jadi mau tidak mau ia harus lebih bijak dalam menggunakan kartu kredit milik suaminya.
Ia berjalan keruang tengah dan melihat keempat anaknya duduk dengan lesu dengan banyaknya buku pelajaran dihadapan mereka.
"Anak-anak.. "
Mereka berempat menoleh secara serentak dan tersenyum girang ketika melihat ibunya datang.
"Eomma.. " Jiwon langsung berlari dan memeluk tubuh ibunya itu.
Baekhyun menuntun tangan putra bungsunya dan duduk ditengah anak-anaknya. "Sedang apa kalian disini? Kalian belum mandi?" ucap Baekhyun ketika melihat anak-anaknya masih menggunakan pakaian mereka tadi pagi.
"Kami baru selesai mengikuti kelas tambahan dari guru yang disewa appa." ucap Lami membalas.
Baekhyun melirik jam di dinding yang sudah menunjukan pukul 6 sore, anak-anaknya baru pulang sekolah sekitar pukul 3 sore dan Taehyung baru selesai kuliah pukul 4 sore, lalu mereka langsung lanjut belajar lagi hingga sekarang?
"Kenapa appa terus memaksa kita untuk belajar? Aku menghabiskan 9 jam untuk belajar di kampus apakah itu masih belum cukup juga?" tanya sang putra sulung yang tampak begitu kesal.
Hal senada juga disuarakan oleh Lami yang merasa kepalanya hampir meledak karena terus-terusan dicekoki rumus matematika. "Rambutku serasa hampir rontok semua karena terus-terusan belajar. Aku bukan Jinyoung oppa yang bisa mengerjakan semuanya dengan baik."
Jinyoung hanya bisa terdiam maklum mendengar keluh kesah saudara-saudaranya itu.
"Jiwonie sangat mengantuk eomma, tapi guru-guru suruhan appa itu terus memaksa Jiwonie untuk belajar." ucap si bungsu yang terus mengusap matanya karena terlalu mengantuk.
Baekhyun terdiam, jujur ia juga tidak tega jika harus melihat anak-anaknya belajar terlalu keras seperti ini. Setelah makan malam pun biasanya Chanyeol akan menyuruh mereka untuk belajar lagi sampai larut malam, Baekhyun merasa aturan yang Chanyeol buat ini terlalu berlebihan. Biar bagaimanapun mereka masihlah tetap anak-anak yang juga butuh kebebasan, hidup mereka tidak harus selalu berkutat dengan buku dan berlembar-lembar soal yang memusingkan.
"Apa eomma tidak bisa membujuk appa agar tidak memberikan pelajaran tambahan untuk kita? Sebenarnya aku tidak merasa keberatan jika harus belajar lagi, tapi aku kasihan pada Taehyung hyung, Lami dan juga Jiwon. Mereka terlihat sangat kelelahan." Jinyoung berkata sambil menatap ibunya.
"Ayah kalian melakukan ini demi kebaikan kalian juga. Ia hanya ingin yang terbaik untuk anak-anaknya."
"Tapi tidak harus dengan cara memaksa kami untuk terus belajar seperti ini. Kami hanya manusia biasa yang juga punya rasa lelah, appa sangat terobsesi dengan nilai bagus dan sangat ingin anak-anaknya menjadi yang terbaik dikelas. Jika kami mendapat nilai jelek appa pasti akan langsung marah dan memaksa kami untuk terus belajar hingga larut malam. Aku tidak suka terus dikekang seperti ini eomma, aku juga berhak untuk menentukan kehidupanku sendiri." Taehyung mengeluarkan semua unek-unek yang ia pendam selama ini, ia merasa selama ini hidupnya terlalu di setir oleh Chanyeol hingga ia tidak bisa menikmati kehidupannya sendiri.
"Appa juga memaksaku untuk masuk ke fakultas kedokteran nanti karena menurut appa hidupku akan terjamin jika menjadi seorang dokter. Tapi aku tidak mau eomma, aku ingin menjadi seorang idol. Menyanyi dan menari adalah hidupku tapi appa selalu marah jika aku berkata ingin menjadi seorang artis." ucap Lami ikut menambahkan.
"Appa pernah memarahiku karena waktu itu aku mendapat nilai 9 dikelas. Appa bilang Jiwonie harus mendapat nilai 100 jika ingin sukses.. " ucap si bungsu Jiwon, Baekhyun pun langsung mengusap kepala putra bungsunya itu dengan pelan.
"Sebenarnya aku tidak mau kuliah bisnis eomma, aku ingin mewujudkan mimpiku menjadi seorang pembalap. Aku ingin membuktikan pada appa bahwa aku juga bisa sukses dengan caraku sendiri."
Lami mengangguk setuju. "Aku juga eomma, aku ingin mewujudkan mimpiku menjadi seorang idol. Aku ingin membuktikan pada appa bahwa mimpiku ini tidak salah."
Jinyoung lantas menggenggam tangan sang ibu dengan lembut. "Tolong bicara pada appa eomma, kami semua tau hanya eomma yang bisa meluluhkan hati appa."
Baekhyun menghembuskan nafasnya kemudian. "Baik, akan eomma coba."
Taehyung dan Lami tersenyum senang mendengarnya. Mereka langsung memeluk Baekhyun dengan erat. Jiwon pun seolah tak mau kalah dan langsung memeluk tubuh sang ibu. Jinyoung hanya tersenyum lembut melihat ibu dan saudara-saudaranya saling berpelukan hangat seperti itu.
.
.
.
Chanyeol duduk ditepi ranjang kasurnya sambil menghisap sebatang rokok ditangannya, ia baru saja selesai menyetubuhi Baekhyun hingga tiga kali malam ini. Tubuhnya basah oleh keringat dan ia hanya menggunakan sebuah underwear tipis untuk menutupi kelelakiannya. Baekhyun berbaring disampingnya sambil menutup seluruh tubuhnya dengan menggunakan selimut hingga sebatas dada. Tubuh moleknya penuh oleh tanda kissmark bahkan sampai kedua bongkahan pantatnya pun penuh dengan tanda kissmark. Ia berusaha untuk mendudukan tubuhnya meskipun pantatnya masih terasa perih.
"Chan.. " ucapnya sambil menyentuh otot bisep sang suami.
"Hmm.." Chanyeol membalas dengan sebuah gumaman.
"Aku ingin bicara.. "
"Bicara apa?" ucap Chanyeol menoleh sambil menghembuskan asap rokok dari hidung dan mulutnya.
"Ini tentang anak-anak."
"Kenapa dengan mereka?"
Baekhyun menarik nafasnya dalam-dalam. "Bisakah kau tidak terlalu memaksa mereka untuk belajar dengan keras? Tadi sore aku melihat mereka begitu kelelahan karena terus belajar. Mereka juga terlihat sangat tertekan. Setidaknya kau jangan memaksa mereka untuk ikut kelas tambahan."
Chanyeol menggeleng. "Aku tidak akan melakukan itu. Mereka harus belajar agar bisa mendapatkan nilai yang sempurna."
"Mereka sudah berusaha Chan, jika terlalu dipaksakan juga tidak baik. Setiap anak punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Kemampuan mereka berbeda-beda Chanyeol ah. Mungkin Jinyoung bisa dengan cepat beradaptasi, tapi yang lain? Mereka terlihat sangat tertekan."
"Jika Jinyoung saja bisa lalu kenapa mereka tidak bisa? Aku melakukan ini demi kebaikan mereka, mau jadi apa mereka jika belajar saja tidak becus."
"Mereka bisa sukses dengan cara mereka masing-masing Chanyeol ah, aku ini ibu mereka, aku tau betul sampai batas mana kemampuan anak-anak ku."
Chanyeol mematikan rokoknya di dalam asbak dan menghembuskan asap terakhirnya. "Aku ayah mereka dan aku tau apa yang terbaik untuk mereka. Kau lihat apa yang terjadi padaku karena aku bodoh dan tak punya pendidikan yang tinggi? Aku menjadi seorang pekerja kasar selama bertahun-tahun. Apa kau ingin melihat anak-anak kita menjadi orang gagal seperti ku dulu? Aku tidak ingin mereka mengalami apa yang aku alami dulu, pendidikan itu penting Baek, tanpa pendidikan kau bukanlah apa-apa."
"Aku tau pendidikan memang sangat penting, tapi anak-anak kita punya minat dan bakatnya masing-masing. Kau tidak bisa memaksa mereka untuk menjadi seperti apa yang kau mau."
"Aku tidak memaksa, ini adalah cara yang aku ambil agar anak-anak ku bisa menjadi orang sukses."
"Tapi-"
"Cukup! Aku tidak ingin mendengarnya lagi, sebaiknya sekarang kita tidur, tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi."
Chanyeol langsung membaringkan tubuhnya membelakangi Baekhyun. Baekhyun sendiri hanya bisa menghela nafasnya panjang. Merubah pola pemikiran seseorang memang tidak mudah, apa yang Chanyeol lakukan juga tidak sepenuhnya salah. Ia hanya tidak ingin anak-anaknya susah karena tidak berpendidikan seperti dirinya. Tapi itu tidak bisa dijadikan alasan, meskipun Chanyeol tidak berpendidikan tapi nyatanya ia bisa menjadi orang yang sukses sekarang. Itu yang ingin Baekhyun tekankan terhadap Chanyeol, pendidikan bukan berarti jaminan utama untuk bisa sukses. Setiap anak memiliki caranya masing-masing untuk bisa sukses, tugas kita sebagai orangtua hanya perlu mendukung dan membantu mereka meraih kesuksesan dengan cara mereka sendiri.
.
.
.
"Pukul dengan keras, kerahkan seluruh kekuatanmu!"
BUGH
"Kurang keras!"
BUGH
"Lebih keras!"
BUGH
"LEBIH KERAS LAGI!"
"ARRRRRGGHHH."
BUGH.. BUGH.. BUGH
Taehyung berteriak sambil memukul samsak tinju yang di pegang oleh ayahnya dengan sangat keras. Peluh dan keringat terus mengucur dari tubuhnya dan nafasnya pun sangat memburu.
"Bagus, pertahankan. Sekarang giliranmu Jinyoung ah."
Jinyoung mengangguk, dengan segera ia langsung meninju samsak itu dengan sepenuh tenaga.
BUGH
BUGH
BUGH
Baekhyun, Lami dan Jiwon duduk di teras belakang rumah sambil melihat ketiga lelaki itu berlatih bela diri. Chanyeol memang mewajibkan anak-anak lelakinya untuk bisa bela diri. Setiap hari libur seperti ini Chanyeol selalu turun tangan langsung untuk melatih Taehyung dan Jinyoung ilmu bela diri, pengecualian untuk Jiwon. Chanyeol baru akan mengajari anak itu bela diri jika Jiwon sudah duduk di bangku sekolah menengah pertama.
"Pasti berat sekali jika harus berlatih seperti itu setiap minggunya, tapi seorang laki-laki tidak akan terlihat keren jika tidak bisa berkelahi."
"Lalu bagaimana denganmu? Sudah berapa banyak menu makanan yang bisa kau buat sekarang Lami ya?"
Lami langsung tersenyum canggung mendengar pertanyaan sang ibu. "Aku baru bisa membuat ramen dan telur mata sapi saja eomma hehehe."
Baekhyun terkekeh geli mendengarnya, selain mewajibkan anak lelakinya untuk bisa bela diri, Chanyeol juga mewajibkan Lami anak perempuan satu-satunya untuk bisa memasak dan mengurus pekerjaan rumah. Ia tidak ingin Lami seperti Baekhyun dulu yang baru belajar memasak dan mengurus rumah setelah menikah. Biar bagaimanapun Lami adalah seorang perempuan, suatu saat ia akan menikah dan punya tanggung jawab untuk mengurus rumah dan keluaga kecilnya kelak. Untuk itu ia mempercayakan Lami pada Baekhyun agar putri satu-satunya itu bisa segera mahir mengerjakan pekerjaan rumah diusianya yang masih muda.
"Yasudah, kalau begitu sebaiknya sekarang kita masuk. Eomma akan mengajarimu memasak dan menyetrika pakaian hari ini."
"Baik eomma."
"Jiwonie juga ikut eomma."
Baekhyun tertawa mendengarnya. "Baik, ayo kita masuk.. "
.
.
.
"Jinyoung ah.. " Baekhyun masuk kedalam kamar putra keduanya sambil membawa segelas susu putih. Jinyoung tengah duduk diatas ranjang kasurnya sambil menyelonjorkan kedua kakinya. Baekhyun menaruh susu putih itu diatas meja disamping tempat tidur sang anak, ia pun langsung duduk disamping putra keduanya itu.
"Eomma baru membawakan susu ke kamar kakakmu, bagaimana latihanmu hari ini? Apa kau lelah?"
Jinyoung tersenyum. "Lumayan.. "
Baekhyun menyentuh kaki Jinyoung dengan pelan dan langsung menghasilkan ringisan kencang dari si empunya.
"Kenapa?"
"Kakiku terasa sedikit sakit."
Baekhyun terdiam, ia menatap kaki dan tangan anak keduanya itu yang memang terlihat sedikit bengkak. Baekhyun menghela nafas, Jinyoung memang pandai dalam banyak hal, tapi sepertinya ia lemah dalam urusan olahraga, ia tidak pandai berkelahi seperti Taehyung yang memang sangat menyukai adu jotos.
"Kenapa kau tidak bilang pada ayahmu jika kau tidak kuat dengan latihan fisik berat seperti tadi?"
"Aku tidak mau mengecewakan appa."
Baekhyun terdiam, Jinyoung memang seperti ini. Ia selalu takut jika membuat orang lain apalagi orangtuanya merasa kecewa.
"Kenapa begitu? Tidak baik jika terlalu memaksakan diri."
"Tidak apa-apa, appa bilang anak laki-laki harus pintar berkelahi. Aku malu jika aku tidak bisa bela diri."
Baekhyun tersenyum. "Apakah selama ini kau merasa tertekan dengan sikap ayahmu?"
Jinyoung ikut tersenyum. "Tidak apa-apa, aku senang jika bisa membuat appa senang."
"Begitukah? Bukankah selama ini kau ingin menjadi seorang pianis terkenal?"
"Itu dulu, semuanya berubah semenjak appa memintaku untuk belajar bisnis agar aku bisa melanjutkan bisnis appa nanti. Aku akan berusaha semaksimal mungkin agar bisa menjadi apa yang appa inginkan karena aku tau appa hanya ingin yang terbaik untukku."
Baekhyun tersenyum, terkadang Baekhyun merasa heran, Jinyoung yang merupakan anak kedua selalu punya sikap dan pemikiran yang lebih dewasa jika dibandingkan Taehyung yang merupakan anak sulung. Meskipun Taehyung anak pertama tapi ia masih sering bersikap layaknya anak kecil.
Baekhyun sangat tau sedari kecil Jinyoung sangat tertarik dengan alat musik yang bernama piano, ia selalu bermain alat musik itu secara diam-diam sehabis pulang sekolah tanpa sepengetahuan Chanyeol. Ia sangat ingin menjadi seorang pianis terkenal namun keinginannya itu urung ia utarakan kepada sang ayah karena Chanyeol sudah terlebih dahulu memintanya untuk belajar bisnis. Jinyoung adalah tipikal anak yang tidak pernah berkata tidak pada apapun yang diperintahkan oleh kedua orangtuanya. Jinyoung selalu tersenyum meskipun terkadang apa yang diinginkan orangtuanya berbanding terbalik dengan apa yang ia harapkan.
"Yasudah, biar eomma ambilkan es batu untuk mengompres kakimu ya? Eomma akan merawat kaki dan tanganmu sampai benar-benar sembuh."
Jinyoung tersenyum. "Terimakasih eomma."
.
.
.
"Apa ini?" Chanyeol menatap sebuah selebaran ajang kejuaran balap motor yang diberikan oleh Baekhyun.
"Taehyung ikut kejuaran balap motor yang di adakan di pusat kota Jeju dan besok lusa adalah malam finalnya. Kau harus datang untuk memberikan dukungan."
"Sejak kapan Taehyung ikut kegiatan seperti ini?"
"Sudah lumayan lama, ia sering ikut ajang kejuaran balapan seperti ini tanpa sepengetahuan kita."
"Kenapa anak itu tidak pernah mau mendengarkanku? Sudah aku katakan berulang kali untuk melupakan balapan yang tidak berguna itu dan fokus saja pada kuliahnya. Aku tidak akan datang, aku tidak akan mendukung untuk hal-hal seperti ini."
"Chanyeol aku mohon, sekali ini saja kau percaya pada Taehyung. Kita berikan ia kebebasan dalam menentukan pilihan hidup. Kedatanganmu nanti pasti akan sangat berarti untuk Taehyung. Jika Taehyung kalah kau boleh melarangnya untuk balapan lagi."
Chanyeol terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya menghela nafas. "Baik, aku akan datang. Tapi jika sampai Taehyung kalah, ia harus berhenti pada dunia balapnya dan fokus pada pendidikannya."
Baekhyun mengangguk cepat. "Tentu, kau bisa memegang kata-kataku."
.
.
.
Taehyung mengikuti ajang balapan resmi yang diadakan oleh Walikota Jeju sekitar beberapa minggu yang lalu. Pemenang dari ajang ini nantinya akan diikutsertakan pada ajang balapan berskala nasional untuk mewakili Jeju. Taehyung berhasil lolos kebabak final bersama dengan 5 orang peserta lainnya.
Pria berusia 19 tahun itu memandang jalanan dihadapannya dengan perasaan gugup luar biasa, ia memakai helm dan menstarter motor balapnya dengan pelan. Ia tidak pernah merasa segugup ini saat hendak balapan. Taehyung gugup karena ayahnya juga datang untuk menonton. Ini pertama kalinya Chanyeol datang untuk melihatnya balapan dan hal itu jelas sangat membuat Taehyung ketakutan. Jika ia sampai kalah kali ini, maka ia harus melupakan impiannya untuk menjadi seorang pembalap selamanya. Taehyung menarik nafas dan membuangnya dengan pelan. Ia sudah berjuang sampai sejauh ini dan ia yakin ia pasti bisa. Ia mengalihkan atensinya ke arah tribun penonton dimana ayah, ibu serta saudara-saudaranya duduk disana. Lami dan Jiwon tak henti-hentinya berteriak menyemangati dirinya sedaritadi sedangkan Baekhyun dan Jinyoung hanya tersenyum dengan lembut ketika atensi mereka tidak sengaja bersiborok. Lain halnya dengan Chanyeol yang hanya diam sambil melipat kedua tangannya di depan dada dengan ekspresi yang sama sekali tak terbaca. Taehyung menelan ludahnya gugup, sungguh ia takut sekali pada ayahnya itu. Ia terus menarik nafasnya berulang kali berusaha mengembalikan rasa percaya dirinya.
"Semua siap." sang pemandu acara pun mulai memberikan aba-aba, lalu muncullah seorang wanita berpakaian sexy yang berjalan ketengah lapangan.
"Bersedia, siap.. MULAI!"
BRUUM.. BRUUM.. BRUUM
Tepat setelah wanita itu melepaskan bendera kecil yang ia bawa, Taehyung dan peserta lainnya langsung melesat secepat mungkin.
Sorak sorai penonton terdengar begitu riuh malam ini. Banyak sekali perempuan yang datang untuk menyemangati Taehyung. Sepertinya Taehyung memang sangat populer dikalangan perempuan Jeju.
"SEMANGAT TAEHYUNG OPPA.. KAU PASTI BISA."
"AYO HYUNG SEMANGAT."
Lami dan Jiwon terlihat sangat antusias melihat kakaknya bertanding malam ini. Sedaritadi mereka terus berteriak mendukung kakak tertua mereka.
Baekhyun mengalihkan atensinya pada Chanyeol yang sedaritadi hanya duduk diam disampingnya, semoga dengan melihat Taehyung bertanding langsung seperti ini, Chanyeol bisa merubah keputusannya untuk tidak mengekang Taehyung lagi. Baekhyun berharap Chanyeol mau membebaskan Taehyung untuk memilih kehidupannya sendiri.
BRUUM.. BRUUM..
Taehyung berusaha untuk tetap fokus, saat ini ia berhasil memimpin pertandingan. Hanya tinggal selangkah lagi maka ia akan berhasil.
BRUUM.. BRUUM..
Namun saat melewati tikungan curam, Taehyung mulai kehilangan kendali karena terlalu gugup, motornya sampai menyenggol motor lain disebelahnya dan alhasil ia tak mampu mengontrol keseimbangan motornya sendiri.
CKIIT
BRUUK
BRAAK
Baekhyun terkejut bukan main ketika Taehyung terlempar dari atas motor dan tubuhnya menghantam aspal dengan cukup keras, sontak saja Baekhyun langsung berteriak histeris.
"TAEHYUNG."
Chanyeol pun tampak sama terkejutnya, ia langsung berdiri dan menatap putra sulungnya itu dengan tatapan khawatir.
.
.
.
Taehyung mengerjapkan matanya pelan, saat ini ia sudah berada disebuah kamar rawat dirumah sakit Jeju. Ia tidak mengalami luka yang cukup parah karena panitia menyediakan pakaian dan helm khusus. Hal pertama kali yang menyapa indera penglihatannya adalah sosok sang ibu yang menatap dirinya dengan lembut. Taehyung sontak saja menangis, ia menangis karena merasa gagal. Baekhyun mengusap kepala putra sulungnya itu dengan lembut.
"Kenapa menangis sayang?"
"Aku gagal eomma hiks aku sudah gagal.. "
"Jangan bicara seperti itu, eomma tetap bangga padamu."
"Hiks appa pasti tidak akan mengijinkanku untuk balapan lagi. Aku sudah mengecewakan banyak orang hiks.. "
Baekhyun langsung memeluk tubuh putranya dengan erat. "Semuanya akan baik-baik saja Tae.. Semuanya akan baik-baik saja."
.
.
.
Keesokan harinya Chanyeol langsung memerintahkan keempat anaknya untuk berkumpul diruang keluarga. Taehyung, Jinyoung, Lami dan Jiwon duduk saling berhadapan sambil menunggu ayah dan ibunya datang. Taehyung terus menundukan kepalanya dalam. Mulai sekarang Ia harus mengubur mimpinya dalam-dalam, Chanyeol tidak akan pernah mengijinkannya lagi untuk balapan. Taehyung benar-benar merasa sedih, impiannya adalah menjadi seorang pembalap profesional. Ia tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang pebisnis handal seperti apa yang ayahnya harapkan. Tapi ia tidak punya pilihan lain, ia telah kalah dalam pertandingan kemarin dan itu artinya ia harus melupakan mimpinya. Ia sama sekali tidak punya keberanian untuk menentang perintah sang ayah.
Chanyeol berjalan pelan menghampiri ruang keluarga ditemani Baekhyun yang berjalan dibelakangnya. Chanyeol langsung duduk dikursi utama dan Baekhyun duduk disampingnya.
Chanyeol menatap keempat buah hatinya yang sama-sama menundukan kepala mereka dalam. Ia kemudian berdehem pelan untuk memecah keheningan.
"Ada sesuatu yang ingin appa bicarakan dengan kalian, mulai sekarang appa tidak akan memaksa kalian untuk belajar dengan keras lagi. Appa juga akan membebaskan kalian dalam menentukan pilihan hidup."
Keempat anaknya sontak saja langsung mendongak kaget, mereka merasa benar-benar terkejut dengan perkataan Chanyeol.
"Setelah melihat pertandingan Taehyung kemarin appa mulai menyadari sesuatu, meskipun Taehyung gagal tapi appa bisa melihat ada sebuah keseriusan di dalam sorot matanya. Appa tau Taehyung pasti bisa menang tapi karena merasa terlalu gugup ia akhirnya terjatuh. Appa tidak akan pernah bisa memaksa kalian untuk menjadi apa yang appa harapkan. Kalian punya bakat dan minat di bidang masing-masing dan seharusnya appa tidak memaksakan kehendak appa terhadap kalian. Maaf jika selama ini appa terlalu egois, appa hanya ingin yang terbaik untuk kalian. Appa tidak ingin kalian menjadi orang yang gagal seperti appa dulu karena tidak berpendidikan. Jangan pernah berpikir jika appa tidak pernah menyayangi kalian, appa sangat menyayangi kalian. Kalian segalanya untuk appa. Mulai sekarang raihlah impian kalian masing-masing. Appa akan mendukung dan membantu kalian agar bisa sukses dengan cara kalian masing-masing."
Taehyung menatap ayahnya itu dengan mata yang berkaca-kaca. Apa ini artinya ia bisa meraih impiannya kembali?
Senada dengan sang kakak, Lami pun seolah tak mampu menahan tangisannya. Ia menutup mulutnya merasa begitu terharu dengan apa yang diucapkan ayahnya. Akhirnya ia bisa mengejar impiannya untuk menjadi seorang artis terkenal.
Baekhyun menatap suaminya itu dengan pandangan bangga, ia benar-benar bangga memiliki suami seperti Chanyeol, ia adalah suami sekaligus ayah yang luar biasa untuknya dan untuk anak-anak. Ia tidak pernah memikirkan apapun selain kepentingan dan kebahagiaan anak serta istrinya.
"Tapi kalian harus tetap menomorsatukan pendidikan, biar bagaimanapun pendidikan tetaplah penting untuk bekal kalian dimasa depan. Dan jangan pernah melupakan Tuhan, selalu sertakan Tuhan dalam segala hal yang kalian lakukan. Jangan lupa untuk selalu berdoa."
Taehyung mengusap airmatanya pelan, ia langsung berdiri dan memeluk tubuh tegap sang ayah dengan erat. Chanyeol tentu saja terkejut. Taehyung sangat jarang memeluknya seperti ini.
"Terimakasih appa, terimakasih banyak. Aku janji tidak akan pernah mengecewakan appa. Taehyungie janji Taehyungie akan membanggakan appa suatu saat kelak."
Chanyeol tersenyum, ia balas memeluk tubuh tinggi anak sulungnya dengan tak kalah erat.
"Aku mencintaimu appa, aku sangat mencintaimu."
Chanyeol tertawa mendengarnya, Taehyung tidak pernah berkata semanis ini untuknya. Selama ini mereka lebih sering bertengkar daripada bertingkah manis seperti ini.
"Appa juga mencintaimu, appa mencintai semua anak-anak appa." Chanyeol merentangkan kedua tangannya bermaksud untuk merengkuh ketiga anaknya yang lain.
Jinyoung, Lami dan Jiwon pun langsung bergegas dan memeluk ayah mereka dengan erat. Baekhyun menangis melihatnya, ia pun ikut memeluk keluarga kecilnya itu dengan lembut.
.
.
.
"Jadi selama ini kalian sudah berpacaran?"
Taehyung dan Jungkook hanya bisa tertunduk diam dihadapan Baekhyun dan Chanyeol. Mereka akhirnya memberanikan diri untuk berbicara tentang hubungan mereka pada Baekhyun dan Chanyeol setelah 2 tahun berlalu.
Baekhyun menatap kedua anaknya itu dengan tatapan shock luar biasa, ia benar-benar tidak menyangka Taehyung dan Jungkook menjalin hubungan secara diam-diam dibelakang mereka.
Hal yang sama juga ditunjukan oleh Chanyeol, ekspresinya terlihat begitu kesal karena selama ini ia tidak tau apapun mengenai hubungan mereka.
2 tahun berselang dan sudah banyak hal yang terjadi, Taehyung memutuskan untuk pindah dan berkuliah di Seoul sekaligus bergabung dengan sebuah agency balap. Taehyung sedang menata karirnya untuk bisa menjadi seorang pembalap profesional namun tiba-tiba saja hari ini Taehyung pulang ke Jeju dengan membawa Jungkook sambil memberitahukan berita yang sangat mengejutkan.
"Kalian sudah berpacaran berapa lama?"
"Sudah 3 tahun eomma." jawab Taehyung sambil menatap ibunya itu.
Chanyeol memijat pelipisnya pelan, apa-apaan ini? Anaknya sendiri malah berpacaran dengan anaknya yang lain, parahnya lagi ia sama sekali tidak diberitahu.
"Lelucon macam apa ini Taehyung ah?"
"Aku tidak sedang bercanda appa, aku serius. Aku sudah berpacaran dengan Kookie Hyung selama 3 tahun."
"3 tahun dan kau sama sekali tidak memberitahu ayahmu sendiri?"
"Aku menunggu waktu yang tepat appa."
Chanyeol mengusap wajahnya kasar, ia benar-benar tidak bisa percaya ini.
"Aku dan Kookie Hyung datang kemari untuk meminta restu pada kalian. Kami ingin menikah."
Chanyeol dan Baekhyun membulatkan mata mereka terkejut mendengarnya. "Menikah?"
"Kookie hyung sudah berusia 27 tahun sekarang dan ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi untuk menikah. Aku ingin segera meresmikan hubungan kami berdua." ucap Taehyung sembari menggenggam tangan Jungkook yang sedaritadi hanya bisa tertunduk dalam.
"Memangnya kau pikir menikah itu untuk main-main? Usiamu masih 21 tahun dan kau sama sekali belum berpenghasilan, bagaimana kau bisa menghidupi anak dan istrimu nanti Taehyung ah?"
"Sebentar lagi aku akan menjadi seorang pembalap profesional appa, jadi appa tidak perlu khawatir. 3 hari lagi aku sudah tanda tangan kontrak dan akan langsung ikut turnamen. Jadi appa tidak perlu khawatir."
"Lalu bagaimana dengan agency mu? Apa mereka mengijinkanmu untuk menikah muda?"
"Tentu mereka mengijinkan, asal aku tetap fokus untuk menjadi seorang pembalap."
"Tapi kalian berdua kan anak-anak appa, bagaimana bisa kalian menikah?"
"Kami tidak sedarah appa, Kookie Hyung bukan anak kandung appa."
"Tidak ada yang namanya anak angkat ataupun anak kandung. Kalian semua sama dimata appa."
"Tapi aku tetap ingin menikah dengan Kookie Hyung, tolong berikan kami restu."
Chanyeol beralih menatap Jungkook yang sedaritadi hanya menundukan kepalanya dalam. "Kookie ya."
Jungkook tersentak, ia langsung mendongak dan menatap wajah ayahnya dengan canggung.
"Kau yakin ingin menikah dengan Taehyung?"
Jungkook menatap sejenak kekasihnya yang hanya tersenyum menatap dirinya. Pria manis itu pun kembali memfokuskan atensinya pada Chanyeol. "Kookie yakin appa, Kookie sangat yakin. Maaf jika aku telah membuat appa terkejut, tapi Kookie yakin dengan pilihan Kookie. Kookie mencintai Taehyung dan Kookie ingin menikah dengannya, tolong berikan kami restu."
Chanyeol benar-benar tidak habis pikir bagaimana bisa anak-anaknya sendiri bisa saling jatuh cinta dan meminta restu padanya untuk segera menikah? Meskipun Jungkook bukan anak kandungnya tapi tetap saja ini terlalu mengejutkan untuknya, ditambah lagi usia Taehyung yang masih terlalu muda. Chanyeol takut rumah tangga mereka tidak akan bertahan lama karena usia Taehyung yang masih belum matang.
Baekhyun lantas menggenggam tangan sang suami dengan lembut, Chanyeol pun sontak menoleh dan menatap istrinya yang hanya tersenyum kecil. "Restui mereka Chanyeol ah, biarkan mereka bahagia."
Chanyeol menghembuskan nafasnya panjang kemudian. "Apakah Irene sudah tau soal ini?"
"Eomma sudah tau, ia sudah merestui kami dan meminta kami untuk meminta restu pada kalian."
Chanyeol menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi. "Baiklah, jika kalian memang sudah merasa yakin satu sama lain appa tidak bisa melarang. Appa hanya bisa mendo'akan yang terbaik untuk kalian berdua."
Taehyung dan Jungkook tampak sedikit terkejut. "A-appa merestui kami?"
Chanyeol mengangguk. "Appa restui kalian."
Kedua pasangan yang tengah dimabuk asmara itu sama sekali tidak bisa menyembunyikan raut kebahagiaan dari wajah mereka.
"Terimakasih appa, terimakasih banyak."
Chanyeol tersenyum. "Sama-sama."
Taehyung lantas mengalihkan atensinya pada Baekhyun. "Bagaimana denganmu eomma? Eomma juga merestui kami kan?"
Baekhyun tersenyum kecil. "Tentu, eomma restui kalian berdua."
Taehyung dan Jungkook tersenyum bahagia, mereka langsung memeluk kedua orangtuanya secara bergantian.
"Terimakasih eomma, appa. Taehyungie sayang kalian.."
.
.
.
Baekhyun memeluk tubuh telanjang suaminya dengan erat setelah mereka selesai berhubungan badan. Baekhyun menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.
"Aku masih tidak menyangka anak pertama kita sekarang akan menikah, rasanya baru kemarin aku memakaikan Taehyung popok dan sekarang ia sudah tumbuh menjadi pria dewasa."
"Waktu berjalan sangat cepat, sudah 21 tahun kita menikah dan punya 4 orang anak. Aku ingat dulu aku, eomma dan juga aboeji pergi kerumah sakit dengan hanya menggunakan pakaian tidur karena saking paniknya ketika kau hendak melahirkan Taehyung. Aku ingat saat dimana aku menangis haru ketika pertama kali menggendong Taehyung. Banyak hal yang sudah kita lalui bersama, dan tak terasa sekarang kita akan melepas satu anak kita menuju kehidupan yang sebenarnya. Aku pasti akan merindukan saat dimana aku bermain petak umpet bersama anak itu."
Baekhyun tersenyum. "Apakah kau masih terkejut karena Taehyung akan menikah dengan Kookie?"
"Aku masih tidak menyangka jika selama ini mereka berpacaran, tapi aku yakin Kookie adalah jodoh yang terbaik untuk Taehyung. Sifat dewasa Kookie bisa sangat mengimbangi sifat kekanakan dan ceroboh Taehyung. Tapi meskipun begitu aku yakin Taehyung bisa menjadi kepala rumah tangga yang baik nantinya."
"Amin." Baekhyun semakin merapatkan tubuhnya pada Chanyeol.
21 tahun berlalu dan banyak hal yang sudah terjadi, ia menikah dengan Chanyeol atas dasar keterpaksaan. Awalnya mereka saling menolak satu sama lain, namun seiring berjalannya waktu mereka pun mulai saling membutuhkan satu sama lain. Baekhyun setia berada disamping suaminya dari semenjak ia masih menjadi seorang kuli bangunan hingga menjadi seorang pengusaha sukses seperti sekarang. Banyak suka duka yang mereka lewati sampai sekarang bersama dengan keempat anak-anak mereka. Sekarang Baekhyun telah sampai pada puncak tanggung jawabnya sebagai orangtua, ia akan mengantar putra pertamanya untuk melepas masa lajang. Setelah itu tanggung jawabnya pada sang anak pun telah usai, Taehyung akan membentuk keluarga barunya sendiri dan memikul tanggung jawabnya sebagai kepala rumah tangga. Baekhyun tidak pernah menyangka ia akan sampai berada pada titik ini bersama dengan suaminya. Banyak hikmah yang bisa ia petik dari kehidupannya yang sangat tak terduga ini. Baekhyun benar-benar merasa bahagia, ia sangat bahagia dengan kehidupannya yang begitu menakjubkan.
.
.
.
7 tahun kemudian..
Chanyeol tersenyum ketika melihat istrinya mencuci kedua kakinya di dalam sebuah baskom kecil berisi air hangat. Ia baru saja pulang bekerja dan istrinya itu langsung menyambutnya seperti biasa. 28 tahun mengarungi bahtera rumah tangga nyatanya tidak membuat Baekhyun lupa akan kebiasaannya setiap hari meskipun kini usia mereka sudah tidak muda lagi. Baekhyun tetap melakukan tugasnya sebagai seorang istri dan tetap setia mendampingi Chanyeol. Hari ini Chanyeol berulang tahun yang ke 58, ia masih tampak gagah meskipun rambutnya sudah mulai ditumbuhi uban. Baekhyun sendiri sudah menginjak usia 49 tahun tapi ia masih tetap terlihat cantik dan awet muda seperti seorang wanita berusia 20an. Pria cantik itu tersenyum, ia menyimpan baskom berisi air cucian kaki suaminya ke dapur dan kembali sembari membawa secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap.
Chanyeol tersenyum. "Terimakasih sayang." ucapnya sambil meniup kopinya dan menyeruputnya pelan.
Baekhyun duduk disamping suaminya sambil memeluk lengannya erat. "Selamat ulangtahun sayang, maaf karena aku tidak membuat kue ulangtahun dihari yang spesial ini."
"Tidak apa-apa, aku cukup merasa senang karena bisa melewati momen pertambahan usiaku bersama denganmu." ucap Chanyeol sambil mengecup kening sang istri.
Chanyeol menatap keselilingnya dengan pandangan hampa, rumah mewah ini ia bangun sebagai tempat bernaung untuk anak-anak dan istrinya. Sekarang keempat anaknya sudah pergi meninggalkannya dan membuat rumah yang sangat besar ini jadi terasa sangat sepi. Ia hanya tinggal berdua bersama sang istri dirumah sebesar ini dengan ditemani beberapa pelayan yang hanya akan bekerja dari pagi hingga sore hari. Chanyeol benar-benar merasa kesepian semenjak anak-anaknya tumbuh dewasa dan mulai sibuk dengan kehidupan mereka masing-masing. Meskipun Baekhyun selalu setia menemaninya namun Chanyeol tetap merasa ada yang kosong, ia sangat merindukan suara tawa anak-anaknya dan ia sangat merindukan saat ia bisa bermain dengan mereka dan menghabiskan waktu bersama. Putra pertamanya Park Taehyung sekarang sudah berusia 28 tahun dan telah sukses menjadi seorang pembalap nasional yang sering mengharumkan nama bangsa hingga keranah international. Ia sudah hidup bahagia bersama Jungkook di Seoul bersama dengan 3 anak kembar mereka yang sangat lucu bernama Daehan, Mingguk dan Mansae. Anak keduanya Park Jinyoung pun telah sukses diusianya sekarang yang telah menginjak 27 tahun. Ia telah mewujudkan cita-citanya untuk menjadi seorang pianis terkenal di Italia dan menikah dengan seorang wanita cantik asal Italia bernama Shannon William, pernikahan mereka juga sudah dikaruniai seorang anak perempuan yang cantik bernama Somi. Putri ketiganya Park Lami sekarang telah sukses menjadi seorang idol girlgroup terkenal diusianya yang baru menginjak angka 20 tahun. Ia sering berpergian keluar negeri untuk mengadakan konser bersama dengan anggota girlgroupnya yang lain, ia lebih sering menghabiskan waktunya di Seoul dan sangat jarang pulang ke Jeju karena jadwal yang sangat padat. Putra bungsunya Park Jiwon juga sudah tidak tinggal bersamanya lagi. Setelah lulus SMA Jiwon langsung pindah ke Amerika dan saat ini ia sedang menempuh pendidikan disalah satu universitas terkenal di New York jurusan teknik mesin. Rencananya setelah lulus ia akan langsung melanjutkan pendidikan disekolah penerbangan agar bisa mewujudkan impiannya untuk menjadi seorang pilot pesawat terbang.
Hidup Chanyeol semakin terasa hampa setelah ibunya meninggal 3 tahun silam karena penyakit jantung, ayah Baekhyun juga sudah meninggal 2 tahun setelah ibunya meninggal. Hanya Baekhyun yang setia menemani dirinya sampai sekarang, hanya pria cantik itu yang menjadi tempatnya untuk berkeluh kesah diusianya yang sudah tidak muda lagi.
"Aku rindu anak-anak kita, ulangtahunku pasti akan terasa lebih spesial jika mereka bisa hadir dan berkumpul bersama kita disini." ucap Chanyeol dengan sendu.
"Mereka sangat sibuk Chanyeol, mereka tidak bisa datang setiap saat untuk mengunjungi kita."
"Iya aku tau, aku hanya terlalu merindukan mereka. Aku rindu saat dimana aku bisa menghabiskan banyak waktu bersama mereka."
"Sekarang semuanya sudah berubah Chanyeol ah, mereka bukan anak kecil lagi. Mereka sudah dewasa dan mereka sudah punya kehidupan mereka masing-masing."
Chanyeol mengangguk. "Mereka tumbuh terlalu cepat."
Baekhyun tersenyum, ia menangkup wajah suaminya dengan kedua tangannya. "Janga bersedih lagi sayang, sebaiknya kau tersenyum karena aku punya kejutan spesial untukmu."
"Kejutan apa?"
"Kau tutup matamu dulu, kejutannya sudah aku siapkan di taman belakang."
Chanyeol tersenyum mendengarnya, kejutan apa yang Baekhyun persiapkan untuknya?
Baekhyun menutup mata Chanyeol dengan menggunakan kain, ia kemudian berdiri dan menuntun sang suami kearah taman belakang rumah.
"Sekarang kau boleh membuka matamu Chanyeol ah." ucap Baekhyun setelah mereka sampai ditaman belakang.
Chanyeol melepaskan kain yang menutup matanya dengan perlahan dan membuka matanya kemudian.
DEG
Chanyeol langsung terpaku begitu melihat kejutan yang Baekhyun siapkan.
"Saengil chukae hamnida, saengil chukae hamnida, saengil chukae uri appa.. Saengil chukae hamnida."
Airmata Chanyeol langsung menetes begitu saja ketika melihat anak dan cucu-cucunya berkumpul bersama untuk merayakan ulang tahunnya. Taehyung, Jungkook, Jinyoung, Shannon, Lami, Jiwon serta keempat cucunya.
"Selamat ulang tahun Haraboeji.. " ucap si kembar triplets sambil menyerahkan 3 tangkai bunga pada Chanyeol. Chanyeol langsung berjongkok dan memeluk anak kembar berusia 5 tahun itu sambil menangis.
"Terimakasih sayang, terimakasih." ucap Chanyeol sambil menciumi mereka satu persatu.
Taehyung dan Jungkook tampak tersenyum haru melihat momen antara anak mereka dengan sang kakek.
Jinyoung yang berdiri dibelakang Taehyung pun berjongkok dihadapan putrinya. "Ayo berikan hadiahmu untuk kakek."
Somi mengangguk, gadis kecil berusia 3 tahun itu langsung berlari dan menghampiri kakeknya. "Selamat ulangtahun halaboeji." ucapnya yang terdengar masih cadel. Ia mengalungkan sebuah syal berwarna cokelat sebagai hadiah dileher sang kakek.
Chanyeol tersenyum, ia juga memeluk dan mencium cucu perempuannya itu dengan gemas. "Terimakasih sayang."
"Maafkan kami karena jarang pulang untuk mengunjungi kalian, kami sangat sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Tapi satu hal yang harus appa tau, kami semua tetaplah anak-anak appa, kami semua akan selalu menghormatimu sebagai orangtua kami. Selamanya kami akan selalu mencintaimu appa. Kami tidak akan pernah bisa sampai seperti ini jika bukan karenamu." ucap si sulung Taehyung.
Chanyeol semakin tak bisa membendung airmatanya, ini merupakan sebuah pemandangan yang sangat langka dimana Chanyeol yang selama ini dikenal tegas dan jarang menangis justru menangis tersedu-sedu ketika melihat anak-anak yang selama ini ia rindukan akhirnya pulang kerumah.
"Aku sengaja menunda jadwal pemotretanku hari ini karena aku tau appa sedang berulang tahun, aku langsung mengambil penerbangan sore ini dan ikut menyiakan kejutan untuk appa. Selamat ulangtahun appa, kau adalah lelaki terbaik di dalam hidupku. Aku sangat menyayangimu." ucap Lami sambil tersenyum lembut.
"Appa, sekarang aku sudah diterima disalah satu universitas terkenal New York. Terimakasih karena sudah mendukungku untuk meraih impianku. Aku janji aku tidak akan mengecewakan appa, aku akan mengajak appa berkeliling dunia jika aku sudah menjadi seorang pilot nanti. Selamat ulangtahun appa, kau adalah ayah terbaik yang pernah ada." ucap sibungsu Jiwon ikut menambahkan.
Jinyoung tersenyum, ia menyalakan dua buah lilin berangka 58 diatas kue tart yang mereka pesan untuk ulangtahun ayahnya.
"Tiada kata ataupun kalimat yang mampu menggambarkan betapa kami sangat mencintaimu appa, kau telah mengajarkan banyak hal untuk kami hingga kami bisa sampai seperti saat ini. Meskipun sekarang kita telah terpisah, tapi appa harus selalu tau jika kami selalu mengingatmu. Namamu selalu kami ingat di dalam hati kami. Appa dan eomma adalah orangtua terbaik yang kami miliki, apapun yang kami miliki saat ini tidak akan pernah bisa menggantikan semua jasa yang telah kalian lakukan untuk kami. Hari ini, kami semua berkumpul disini untuk merayakan hari yang spesial bagi laki-laki terhebat dalam hidup kami. Selamat ulangtahun ayah terhebat, semoga Tuhan selalu melimpahkan kebahagiaan untukmu. Aku mencintaimu, kami semua mencintaimu."
Chanyeol menangis, ia benar-benar sudah tidak peduli jika image garangnya dihadapan anak-anaknya selama ini hancur. Ia hanya terlalu tersentuh dengan apa yang dilakukan oleh anak-anaknya. Ia sama sekali tidak menyangka mereka semua akan datang dan merayakan hari spesialnya bersama. Chanyeol bahagia, ia benar-benar bahagia. Tidak ada yang lebih Chanyeol inginkan selain berkumpul kembali bersama dengan anak-anak tercintanya.
"Sekarang tiup lilinnya appa." Jinyoung mendekatkan kue tart yang ia pegang kehadapan Chanyeol.
Chanyeol memejamkan matanya erat, ia menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
'Semoga Tuhan selalu melimpahkan kebahagiaan untuk kalian semua anak-anak ku, appa sangat mencintai kalian.'
HUUUUH
PROK.. PROK.. PROK.. PROK
Anak, menantu serta cucu-cucunya bertepuk tangan dan bersorak ketika Chanyeol meniup lilinnya. "Terimakasih, terimakasih banyak. Appa benar-benar bahagia kalian semua datang dan berkumpul disini. Hari ini appa sangat bahagia karena kedatangan kalian."
"Appa harus berterimakasih pada eomma, eomma yang merencanakan untuk membuat kejutan ulangtahun spesial seperti ini untuk appa."
Chanyeol langsung menoleh menatap sang istri yang sedaritadi hanya terdiam sambil menangis haru disampingnya. Ia langsung memeluk istrinya itu erat dan mengecup keningnya lembut. "I love you.."
Baekhyun menyeka airmatanya pelan. "Love you too sayang."
.
.
.
Chanyeol membaringkan tubuh sang istri diatas tempat tidur. Chanyeol mencium bibir yang telah menjadi candu untuknya itu dengan lembut.
"Jadi kau yang merencanakan semua ini?"
Baekhyun mengangguk. "Aku tau kau sangat merindukan anak-anak kita, maka dari itu aku langsung menghubungi mereka dan meminta mereka untuk membuat kejutan ulangtahun untukmu."
Chanyeol tersenyum, ia sangat bahagia hari ini. Semalaman mereka sekeluarga menghabiskan waktu bersama dengan pesta barbeque, bemain catur, mengobrol dan menghabiskan waktu dengan saling bercanda satu sama lain. Aktifitas seperti itulah yang sangat ingin Chanyeol lakukan selama bertahun-tahun bersama dengan anak-anaknya setelah lama berpisah.
CUP
Chanyeol mengecup bibir ranum itu dengan lembut. "Terimakasih sayang, kau selalu tau bagaimana cara membuatku bahagia. Aku senang sekali hari ini."
"Apapun akan aku lakukan untuk membuatmu bahagia sayang.." Baekhyun mengusap wajah tampan sang suami dengan mesra.
Chanyeol tersenyum, ia kembali melumat bibir sang istri dengan lembut.
"Eungghh.. " Baekhyun mulai melenguh, Chanyeol tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dengan langsung melesakan lidahnya masuk kedalam mulut Baekhyun. Ia mengabsen seluruh isi mulut Baekhyun dan sesekali menghisap lidah Baekhyun dengan kencang.
"Hmmmpphh.. " Baekhyun melenguh lagi karenanya.
Chanyeol melepaskan pagutan mereka kemudian, ia langsung menarik kaos piyama tipis yang Baekhyun kenakan hingga diatas dada. Tanpa membuang waktu lagi ia langsung menghisap nipple sebelah kanan dan meremas dada yang sebelah kiri.
"Ahhhh Chanyeol.. " Baekhyun melenguh nikmat, ia tekan kepala Chanyeol agar semakin menempel dengan dadanya. Chanyeol menghisap dan menggigit nipple itu dengan kencang.
"Annhh.. ahhhh.. "
Tangannya bergerak melepas celana piyama yang dikenakan Baekhyun dan kemudian ia kocok kemaluan mungil sang istri dengan kencang.
"Aaahh Chanyeolhh eummhh.. " Baekhyun benar-benar sudah memasrahkan dirinya pada Chanyeol, ia begitu menikmati ketika tangan besar itu memanjakan setiap inchi tubuhnya.
Chanyeol bangkit, ia langsung melepas kaos yang ia pakai hingga memperlihatkan tubuh berototnya. Meskipun usia Chanyeol hampir menginjak angka kepala enam, namun tubuhnya masih terlihat sangat kekar dan bagus. Chanyeol selalu rajin menjaga bentuk tubuhnya dengan selalu melakukan olahraga di tempat fitness. Baekhyun tersenyum melihatnya, Chanyeol selalu berhasil membuatnya bergairah hanya dengan melihat tubuh berototnya.
Chanyeol kemudian menurunkan celananya sendiri hingga sebatas paha. Ia kocok kejantanannya sampai menegang sempurna. Ia lebarkan paha mulus sang istri dan dengan perlahan berusaha menerobos lubang kecil diantara pantat Baekhyun.
JLEB
"AHHHH.. " Baekhyun mendesah hebat ketika kejantanan besar suaminya kembali bersarang di dalam lubangnya, Chanyeol tetap terasa sangat jantan meskipun ia sudah tidak muda lagi. PLOK PLOK PLOK PLOK
Chanyeol mulai menggerakan pinggulnya maju mundur dengan gerakan yang cepat. Baekhyun mendesah tak karuan ketika prostatnya ditumbuk dengan kencang oleh kejantanan sang suami.
"Aaahh.. Aaahhh.. Eungghh.. "
Chanyeol menunduk dan berbisik seduktif ditelinga Baekhyun. "Kauuhh nikmatt sayannghh.. " ia mencium kening sang istri dengan mesra.
PLOK PLOK PLOK PLOK
Chanyeol mengulum telinga kiri Baekhyun seduktif sambil terus memejamkan matanya rapat menikmati cengkraman hangat rektum Baekhyun pada kejantanannya. Ia terus menghujamkan kejantanannya dengan kencang pada lubang hangat itu.
PLOK PLOK PLOK PLOK
Penis Chanyeol mulai terasa berkedut dan membesar setelah beberapa lama di dalam lubang Baekhyun, Baekhyun pun merasakan jika penis mungilnya hendak mengeluarkan cairannya juga.
PLOK PLOK PLOK PLOK
"Channhh akuhh.. "
"Bersamahh sayaangghh.."
PLOK PLOK PLOK PLOK
Chanyeol semakin mempercepat gerakannya hingga tubuh Baekhyun terhentak-hentak hebat.
PLOK PLOK PLOK PLOK
CROOTT
"AAAHHHHH." Baekhyun melenguh kencang ketika ejakulasinya datang, begitu juga Chanyeol yang menggeram dengan kencang.
Cairan putih sang istri menyembur membasahi kasur dan perut berotot sang suami. Dan Chanyeol pun selalu menyemburkan seluruh spermanya kedalam lubang kenikmatan sang istri.
Chanyeol kembali melumat bibir sang istri dengan mesra, ia sangat menikmati momen dimana mereka tengah menghabiskan waktu intim berdua seperti saat ini."Aku mencintaimu Baekhyun ah, terimakasih untuk semuanya, terimakasih karena telah memberikan begitu banyak kebahagiaan di dalam hidupku."
Baekhyun tersenyum. "Aku juga mencintaimu Chanyeol ah, terimakasih juga karena telah menjadi pendamping terbaik dalam hidupku. Aku sangat bersyukur karena bisa menghabiskan sisa umurku bersama dengan lelaki hebat sepertimu."
Chanyeol ikut tersenyum, ia kembali melumat bibir istrinya sambil menutup matanya erat. Begitu juga dengan Baekhyun yang ikut menutup mata dan memeluk tubuh suaminya dengan erat.
.
.
.
Jeju Epicentrum Mall tampak begitu ramai hari ini. Banyak sekali media dan wartawan yang berkumpul untuk meliput secara langsung acara fansign yang dilakukan oleh seorang novelis yang karnyanya begitu digemari akhir-akhir ini.
Para penggemar yang berkumpul disana langsung berseru heboh ketika seorang pria kecil yang duduk dikursi roda naik keatas panggung dengan ditemani anak lelakinya.
Pria yang duduk diatas kursi roda itu tersenyum hangat kepada semua orang yang hadir hari ini untuk menghadiri fansign dari novel yang telah ia buat.
Pria tinggi yang berdiri disampingnya menunduk dan membisikan sesuatu pada pria yang duduk dikursi roda yang tak lain dan tak bukan adalah ibu kandungnya sendiri.
"Taehyungie turun sekarang eomma."
Pria itu tersenyum dan mengangguk pelan.
Ya, pria yang duduk diatas kursi roda itu adalah Park Baekhyun dan pria yang mengantarnya sampai keatas panggung fansign adalah Taehyung putra pertamanya.
Baekhyun menatap semua orang yang hadir di fansign pertamanya kali ini sambil tersenyum lembut. Anak dan cucunya pun tampak hadir dan duduk dibarisan paling depan. 20 tahun berlalu dan mereka semua telah memiliki keluarga masing-masing. Lami sudah menikah dengan seorang aktor papan atas Korea dan dikaruniai seorang anak perempuan yang sangat cantik berusia 6 tahun. Jiwon pun sudah berkeluarga dan memiliki dua anak laki-laki dan perempuan yang sangat menggemaskan.
Baekhyun sudah berusia 69 tahun sekarang, ia sudah tidak bisa berdiri atau berjalan terlalu lama hingga harus sering menggunakan kursi roda. Kulitnya sudah keriput dan rambutnya pun sudah memutih seluruhnya namun Baekhyun masih terlihat cantik diusia tuanya. Ia hanya tinggal sendiri sekarang, Chanyeol telah meninggal sekitar 4 tahun yang lalu diusianya yang menginjak 74 tahun. Chanyeol meninggal karena penyakit gula yang ia derita. Ia meninggal di dalam pelukan Baekhyun dengan dikelilingi oleh anak serta cucu-cucunya. Sekarang setelah 4 tahun kepergian sang belahan jiwa untuk menghadap yang maha kuasa, Baekhyun memutuskan untuk menulis sebuah novel yang ia buat berdasarkan perjalanan hidupnya selama mengarungi bahtera rumah tangga bersama dengan Chanyeol. Usia tua tidak menjadi penghalang baginya untuk membuat sebuah karya yang bisa membuat ia dan suaminya dikenang oleh banyak orang. Novel tersebut ia beri judul 'The Poor Man Who Made Me Fall In Love.'
Dengan dibantu oleh anak-anaknya, Baekhyun akhirnya bisa meluncurkan novel buatannya sendiri yang ia dedikasikan sebagai hadiah untuk mendiang sang suami. Novel itu sangat laris terjual di minggu pertama perlisan dan terus mengalami jumlah peningkatan penjualan yang sangat tinggi. Novelnya berhasil meraih predikat 'Best Seller.' dan menjadi salah satu novel dengan penjualan tertinggi di Pulau Jeju. Jalan cerita yang realistis dan penuh pembelajaran akan kehidupan berumah tangga membuat novel ini begitu diminati oleh masyarakat terutama kalangan ibu rumah tangga ataupun pasangan yang baru menikah. Kisah yang Baekhyun tulis di dalam novel tersebut dinilai sangat inspiratif bagi sebagian besar pasangan di Korea. Karena antusiasme yang tinggi, Baekhyun pun memutuskan untuk menggelar fansign pertamanya di Jeju agar ia bisa lebih dekat dengan para penikmat novel yang ia buat.
Baekhyun tersenyum, ia mengangkat microfon ditangannya dan mulai berbicara. "Sebelum kita mulai acara fansign kali ini, aku ingin bercerita sesuatu terlebih dahulu kepada kalian. Aku membuat novel ini setelah 4 tahun suamiku meninggal, novel ini aku buat sebagai hadiah untuknya yang telah tenang disurga sana. Dia adalah insprisi utama dalam pembuatan novel ini. Park Chanyeol suamiku adalah pria terhebat yang pernah aku temui dalam hidupku. Seperti judul dari novel ini, Chanyeol adalah pria miskin yang telah membuatku jatuh cinta. Ya, dia bukanlah pria yang berasal dari keluarga kaya, ia hanya seorang pekerja kasar dengan penghasilan yang tak seberapa. Kami menikah atas dasar keterpaksaan, kami sering bertengkar pada awalnya namun seiring berjalannya waktu, kami mulai merasa nyaman satu sama lain dan akhirnya saling mencintai. aku mulai merasa nyaman akan sikap gigihnya untuk berusaha membahagiakan ku sebagai istrinya meskipun pada saat itu kami belum saling mencintai. Atas dasar rasa tanggung jawabnya yang besar sebagai seorang suami, ia rela bekerja banting tulang dari pagi hingga pagi lagi hanya untuk membelikan beberapa alat kecantikan untukku. Ia berjuang menghidupiku dengan kerja kerasnya sendiri tanpa bantuan dari orang lain. Aku termenung dan menangis waktu itu, suamiku bekerja keras untuk menjadi suami yang baik untukku tapi aku tidak bisa menjadi istri yang baik untuknya. Sejak saat itu lah aku mulai berubah dan berusaha untuk menjadi seorang pendamping yang baik. Banyak hal positif yang aku dapat setelah menikah dengan Chanyeol dan salah satunya adalah aku bisa menjadi seseorang yang lebih bertanggung jawab. Chanyeol memang bukan pria yang kaya harta pada awalnya, tapi dia adalah pria yang kaya akan kejujuran dan rasa tanggung jawab yang tinggi, menurutku itu jauh lebih baik dari sekedar harta karena seorang pria bukanlah apa-apa jika tanpa kejujuran dan rasa tanggung jawab. Inti dari cerita ini adalah aku ingin memberikan pesan kepada semua orang khususnya setiap pasangan suami istri bahwa tanggung jawab terhadap pasangan hidup masing-masing sangatlah penting. Jika sepasang suami-istri mampu untuk menjalankan tugasnya masing-masing dengan penuh rasa tanggung jawab, aku yakin kehidupan rumah tangga kalian bersama dengan pasangan akan terasa jauh lebih baik. Aku harap dengan hadirnya novel ini bisa sedikit banyak menginspirasi setiap pasangan untuk membangun sebuah rumah tangga yang harmonis."
PROKK.. PROKK.. PROKK.. PROKK
Semua orang yang hadir di acara fansign tersebut bertepuk tangan dengan meriah setelah Baekhyun selesai berbicara. Anak dan cucu-cucunya pun ikut berdiri dan bertepuk tangan sambil tersenyum bangga menatap ibu yang begitu luar biasa untuk mereka.
Baekhyun tersenyum ketika ia mendapat sambutan yang begitu meriah dari banyak orang, ia kemudian mendongak keatas, ia seolah bisa melihat Chanyeol yang sedang tersenyum bangga sambil menatapnya dari surga.
'Aku persembahkan semua ini untukmu Chanyeol ah, aku selalu berdo'a untuk kebahagiaan mu diatas sana. Semoga kita bisa bertemu lagi dikehidupan selanjutnya. Aku sangat mencintaimu, selamanya kau akan selalu hidup di dalam hatiku.'
.
.
.
.
.
.
.
END
Tamaaaaat yeayyy ~~
Thank's buat yang udah ngasih dukungan buat ff ini :)
Author bingung mau ngomong apa, silahkan kasih review aja kalo kalian berkenan :)
Love you all :*
Bye Bye ~
