Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadatoshi

Rated : M

Genre : Fantasy, Friendship, Romance, little bit Humor.

Pair : Kise x OC

Warning : AU, OOC, Garing, amburadul ( ? ), Typos, bahasa non-baku.

A/N : Demi kenyamanan membaca, imbuhan 'cchi' akan dihilangkan kecuali dalam dialog.

.

.

Happy Reading!

.

.


Di pagi yang cerah, burung-burung berkicau dengan merdu. Semilir angin menggoyangkan dedaunan dan menciptakan suara gemersik yang khas.

"Ne, kenapa kalian tak membangunkan ku kemarin? Aku hampir saja terkunci di uks 'ssu yo!" ucap Kise pada teman-temannya dengan kesal.

Saat ini, mereka sedang berjalan menuju akademi. Jarak antara asrama dan akademi tidak begitu jauh, hanya sekitar sepuluh menit dengan berjalan kaki.

"Maaf Ki-chan, kami kira kamu akan pulang sendiri, hehe." Momoi menggaruk pipinya yang tidak gatal, dia merasa bersalah pada pemuda bersurai kuning itu.

"Ngomong-ngomong, untuk ukuran seorang junior, Matsuyama hebat juga ya." ucap Midorima sambil membenarkan letak kacamatanya, ditangannya terdapat sebuah gantungan kunci dengan bentuk kucing yang lucu.

"Midorima-kun benar, Kise-kun langsung sembuh setelah Matsuyama-san menyembuhkannya." Kuroko menimpali dari samping Kise, membuat pemuda narsis itu berjengit kaget.

"Mou, Kuroko-cchi membuatku kaget 'ssu." ucap Kise, tangannya mengelus dadanya yang berdebar kencang karena terkejut.

Bukan sekali dua kali Kuroko membuat orang lain kaget, itu karena dia memiliki hawa keberadaan yang sangat tipis, hampir tidak terasa sama sekali. Di masa depan yang telah Kise lalui, Kuroko memiliki sihir elemen kegelapan. Tetapi Kuroko tidak pandai menggunakan senjata tajam, jadi dia bertarung mengandalkan elemen kegelapannya.

Saat itu, Kise juga tidak menggunakan senjata tajam. Bukan karena dia tidak bisa, tapi karena dia memiliki keahlian yang lain.

Skill menyalin. Itu adalah skill yang paling dikuasai oleh Kise, dia bisa menyalin dan menggunakan berbagai macam gerakan dan elemen yang telah dilihatnya. Dia hanya bisa menggunakan skill itu selama lima detik, dengan jeda pemakaian tiga puluh menit.

Disaat masa kekacauan, Kise mampu menghabisi ribuan monster dengan skill tersebut.

"Sampai jumpa istirahat nanti!" suara Momoi yang melengking membangunkan Kise dari lamunannya. Ternyata mereka telah sampai di akademi.

Kise berjalan menuju kelasnya bersama Aomine dan Murasakibara, mereka berada dikelas yang sama, yaitu kelas 2-C.

"Ne, Aomine-cchi. Ayo tanding one-by-one denganku setelah pelajaran selesai!" Ucap Kise setelah mereka memasuki kelas, Aomine yang berada disampingnya menguap lebar.

"Malas, ah." balas Aomine sambil menyilangkan lengan diatas meja, kemudian menelungkupkan wajah pada lengannya. Bersiap pergi ke alam mimpi saat bel tanda masuk berdering dengan kencang.

"Dasar, setiap kali diajak selalu malas." Kise mencibir dengan wajah merengut, padahal ia ingin mencoba meregangkan ototnya dengan bermain basket.


Saat ini waktu istirahat telah tiba, dalam hitungan detik, seketika kantin langsung penuh. Bukan karena mereka berebut makanan, tetapi mereka berebut untuk berdiri paling depan saat Kise dan teman-temannya memasuki kantin. Suasana yang ramai membuat Kise merasa sedikit terganggu, jika dia tidak kembali ke masa lalu, mungkin ia akan senang dengan keramaian ini.

"Kenapa mereka sangat berisik 'ssu." gerutunya, dan dibalas decihan Aomine yang sama-sama merasa terganggu.

"Minggir." ucap suara dingin dengan tegas, Kise menatap ke depan dan mendapati Akashi tengah menatap para kumpulan siswa dan siswi dengan datar. Seketika hening melanda, dan mereka semua segera bergerak menyingkir untuk memberikan sebuah jalan.

Kise menatap sekeliling dan mendapati Yuki yang kesulitan dengan tubuh kecilnya yang terhimpit kerumunan.

"Oh, Yu-cchi!" Kise melambaikan tangannya untuk menarik perhatian Yuki, dan saat gadis itu menoleh, Kise tersenyum lebar sambil melangkah kearahnya.

"Ayo makan bersama 'ssu!" ajak Kise sambil menarik tangan mungil itu dengan lembut, mencoba mengeluarkannya dari kerumunan yang mengganggu.

"Kise-kun.." Yuki yang kebingungan hanya mengikuti kemana perginya Kise. Jika dia tidak mengikuti pemuda didepannya, maka dia akan terjebak sampai Kise dan teman-temannya keluar dari kantin. Tetapi jika dia ikut, maka dia akan 'ditandai' oleh para fans Kise dan teman-temannya. Pilihan yang mana pun tidak ada yang baik untuknya.

.

"Hai Yu-chan!" sapa Momoi dengan ceria yang dibalas senyuman canggung oleh Yuki, bagaimana dia tidak merasa canggung? Dia diajak untuk makan bersama oleh Kise, sementara teman-temannya Kise yang lain memasang wajah datar dan malas.

"Um, halo, Momoi-san. Bolehkah aku duduk disini?" tanya Yuki sambil menunjuk bangku kosong di samping Momoi, gadis berambut pink itu mengangguk untuk mempersilahkan.

"Tentu saja boleh! Aku senang karena Yu-chan mau duduk di sampingku, hehe." Momoi memiringkan tubuhnya saat Yuki duduk, dia mengintip nampan makanan yang dibawa oleh Yuki.

"Yu-chan, apa yang kamu bawa?" tanya Momoi penasaran, Yuki menggeser nampannya kearah Momoi.

"Ini sup kacang merah, Momoi-san mau?" Yuki menawarkan makan siangnya pada Momoi, sementara Midorima yang mendengar kata 'sup kacang merah' memandang Yuki dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Ternyata Yu-chan suka sup kacang merah ya? Sama seperti Midorin." ucap Momoi sambil menunjuk Midorima yang dibalas deheman oleh si pemuda berambut hijau.

"Ehm, begitu, hehe.." Yuki tersenyum canggung ketika suasana mendadak hening, dia menyantap makanannya dengan perasaan tidak nyaman.

"Yu-cchi, terima kasih telah menyembuhkan ku. Aku lupa mengucapkannya kemarin." Kise yang telah selesai makan menumpukan wajah pada kedua tangannya sambil menatap Yuki dengan lembut, padahal dia tengah mati-matian menahan diri untuk tidak memeluk gadis itu sekarang juga.

"Ah, tidak apa-apa. Itu sudah kewajiban ku, Kise-kun."

Seandainya Yuki tahu, bahwa semalam Kise menangis karena merindukannya. Ia menyadari kesalahannya saat Yuki telah meninggal, Kise merasa kesepian meski ia berada ditempat yang ramai sekalipun.

Setelah dua tahun yang menyiksa, mungkin tuhan membuatnya kembali ke masa lalu untuk memperbaiki hubungannya dengan Yuki.

.

Bel kembali berbunyi, Kise dan Momoi mengucapkan salam perpisahan sebelum mereka kembali ke kelas masing-masing. Sementara Yuki yang mendapat giliran untuk berjaga pergi ke ruang uks, dia berjalan dengan canggung saat puluhan pasang mata tengah menatapnya dengan berbagai macam tatapan.

Yuki sangat mengerti kenapa mereka menatapnya seperti itu, tatapan merendahkan, penuh amarah, iri, dan benci terus menerus menghujam nya.

Saat dia tengah melewati koridor kelas 2-A, tiba-tiba sebuah tangan yang kokoh mendorongnya cukup keras sehingga dia ambruk ketanah.

Prraaakk!!

"Agghh!" suara kesakitan itu membuat Yuki mendongak, dia mendapati Midorima Shintarou dengan kacamata pecah dan darah segar mengalir dari dahinya, sementara sebuah pot berukuran sedang hancur berserakan disekitar pemuda itu.

"Astaga, Midorima-kun!" Yuki dengan segera membantu Midorima yang kesakitan.

"Kamu terluka, aku akan mengobatimu ketika kita sampai di uks." ucap Yuki sambil memapah Midorima dengan susah payah.

Ketika mereka berjalan, Midorima menatap tajam kearah dimana jatuhnya pot tersebut, di sana ada beberapa siswi yang langsung mengalihkan pandangan ketika Midorima menatap mereka.

Yuki menggigit bibirnya kuat, mulai hari ini, kehidupan disekolah nya tak akan tenang.

.

"Terima kasih sudah menolong ku." ucap Yuki dalam perjalanan mereka, dia merasa bersalah karena Midorima terluka untuk menyelamatkannya.

"Bukan apa-apa, aku hanya tidak ingin orang lain terluka karena pot itu, nanodayo." Midorima berjalan perlahan sambil memegang kepalanya yang terasa pusing, pandangannya pun mulai sedikit kabur. Dia meremas rambutnya yang basah oleh darah, berdoa agar ia bisa bertahan setidaknya sampai mereka tiba di uks.

"Tapi kamu jadi terluka karena menolongku."

Suara gadis disampingnya terdengar sedih, Midorima meliriknya dan dia melihat air mata menggenang dibalik kacamata yang menghalangi mata indah itu.

"Ini tidak terlalu parah, nodayo." setelah terdiam beberapa saat, Midorima mencoba menghapus kecemasan dari hati Yuki. Terlihat gadis itu hendak membalas ucapannya, namun dia mengurungkan niatnya saat mereka telah tiba didepan uks.

Midorima menduduki kursi dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, dia melepas kacamatanya yang telah rusak. Kemudian Yuki mendekat dengan wajah bersalah, gadis itu berdiri dibelakangnya dan mulai mengangkat kedua tangan sambil membaca sebuah mantra.

Sebuah cahaya biru yang samar nan hangat berpendar diantara kedua telapak tangan, perlahan-lahan rasa pening di kepalanya mulai menghilang. Midorima tidak pernah merasa senyaman ini sebelumnya, tanpa sadar pemuda itu memejamkan matanya selama proses penyembuhan berlangsung.

"Apakah sekarang kamu merasa lebih baik?" Yuki bertanya setelah selesai menyembuhkannya, dia beranjak mengambil air hangat untuk membersihkan darah disekitar kepala Midorima.

Namun karena hatinya sedang cemas, Yuki tidak memperhatikan sekitar dan tersandung kaki meja. Dia terjatuh kearah Midorima yang dengan sigap menahannya.

Wajah panik dan wajah terkejut beradu pandang, mereka saling bertatapan dengan canggung untuk sekian detik sebelum sang gadis sadar dengan posisi mereka.

"Ah, m-maafkan aku–"

"Yucchi, aku merasa sakit disekitar si–" Kise tiba-tiba datang dan melihat posisi mereka yang aneh, seketika awan gelap menggantung di atas pemuda pirang itu.

"Kise-kun!" dengan segera, Yuki bangun dan meminta maaf pada Midorima atas kecerobohannya. Midorima hanya membalas dengan deheman karena merasa tidak nyaman dengan aura yang dikeluarkan oleh Kise, sementara gadis itu pamit pergi untuk mengambil air hangat.

"Apa yang terjadi padamu, Midorimacchi?" saat melihat kepala temannya berlumuran darah, Kise bertanya dengan nada sedikit kesal dan kekhawatiran yang dikeluarkan oleh pemuda itu terlihat dipaksakan. Ini pertama kalinya Midorima melihat Kise memasang ekspresi seperti itu, kenapa pemuda yang selalu ceria itu terlihat marah?

"Bukan apa-apa, nodayo." Midorima hanya menjawab seadanya karena merasa tertekan dengan aura Kise, dia ingin bertanya apa yang membuat Kise seperti itu tapi dia merasa ragu.

"Maaf membuat kalian menunggu." Gadis berkacamata itu kembali dengan mangkuk berisi air hangat dan selembar kain, sementara Kise merubah ekspresi wajahnya menjadi sedih.

"Kenapa Yucchi lama sekali? Aku sangat kesakitan disini." ucap Kise dengan ekspresi yang dibuat-buat sambil menunjuk dadanya, Midorima yang melihatnya hanya mendengus.

"B-benarkah? Maafkan aku, Kise-kun. Aku akan mengobati mu setelah menyelesaikan ini." Yuki meletakkan mangkuk berisi air hangat diatas meja, mengambil kain dan memasukkannya kedalam mangkuk sebelum memerasnya hingga setengah kering.

Ketika gadis tersebut hendak membersihkan darah disekitar kepala, Midorima melihat awan gelap kembali menggantung diatas kepala teman kuningnya.

"Aku bisa melakukannya sendiri, nodayo." dia mengambil kain tersebut dari tangan yang kecil dan terlihat rapuh itu.

setelah memastikan Midorima membersihkan darahnya dengan benar, Yuki beralih kearah Kise yang menunggunya.

"Bagian mana yang sakit, Kise-kun?" Yuki bertanya setelah menyuruh Kise untuk membaringkan tubuhnya diatas kasur pasien, sementara Kise yang mendengar pertanyaan itu segera menepuk dada kirinya dengan wajah memelas.

"Disini rasanya sakit sekali, Yucchi." Kise menatap gadis itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Sebenarnya, Kise merasa sesak di dadanya karena merindukan Yuki, dia hanya mencari alasan dengan berpura-pura sakit agar dia bisa menemuinya.

Saat gadis itu menjulurkan tangan, Kise dengan segera menangkap tangannya dan menempelkan tangan mungil itu pada dadanya.

"Apakah Yucchi merasakannya? didalam sini berdetak sangat kencang." Kise menahan senyum saat pipi gadis itu sedikit memerah, dia sepenuhnya mengabaikan Midorima yang sedang membersihkan darah dengan wajah datar.

"K-kalau begitu, aku akan segera menyembuhkanmu." dengan segera, sebuah cahaya biru samar muncul. Kise memejamkan mata ketika rasa hangat yang nyaman menyelimuti tubuhnya, rasa rindunya kini sedikit terobati.

"Apakah sekarang Kise-kun merasa lebih baik?" mendengar pertanyaan dari gadis yang dicintainya membuat Kise membuka mata, dia melihat kecemasan dibalik kacamata yang menghalangi mata biru nan indah itu.

"Iya, sekarang sudah tidak sakit lagi. Terimakasih, Yucchi." Kise mendudukkan tubuhnya dan melayangkan senyuman lembut pada gadis didepannya.

"Sama-sama, Kise-kun."

Suara deheman dari arah belakang membuat Kise dan Yuki menoleh, mereka mendapati Midorima dengan wajah jengkel karena diabaikan oleh dua orang didepannya.

"Aku sudah selesai, ayo antarkan aku ke kelas, Kise." Midorima menarik tangan Kise untuk mengikutinya, yang dibalas dengan gerutuan tanda tidak setuju. Namun Midorima tak mengindahkan apa yang diucapkan teman pirangnya itu dan terus berjalan, saat mereka mencapai pintu keluar, dia sedikit menoleh kearah Yuki.

"Terimakasih telah menyembuhkan ku, nodayo." dan mereka pun kembali berjalan sambil diiringi teriakan Kise.

"Yucchi, aku akan menemuimu lagi nanti!"

Setelah kedua pemuda itu pergi, Yuki menyembunyikan wajahnya yang memerah.

"Kise-kun.." dia bergumam pelan sambil tersipu.


.

.

TBC