Disclaimer: check chap 1
"Di masa ini ada gulungan sakral yang ditulis Nidaime tentang kedatangan kita ke masa lalu. Hanya reinkarnasi Indra dan Asura yang bisa membukanya. Kita bisa membuat duplikasinya untuk kembali ke masa kita."
"Bagus!" Naruto terlihat sangat lega. "Haruskah kita menemukan diriku yang lain untuk mendapatkan gulungan itu? Aku tidak bisa merasakan para bijuu yang lain. Sementara, di masa kita, aku bisa merasakan mereka. Tapi, aku bisa merasakan cakra Men—"
"Nanti lagi, Menma," mereka mendengar seseorang suara seseorang di dalam lokasi bermain anak. Seorang pria dengan pakaian Jonin Konoha dan memiliki rambut ikal pendek melambaikan tangan ke lelaki lain dengan pakaian sama namun punggungnya menghadap Sasuke dan Naruto.
"Ya, Hisui," balas pemuda itu. Ada bocah kecil berambut pirang digendongannya serta seorang perempuan berambut pirang disebelahnya. Ketika mereka membalikkan badan untuk membiarkan si bocah berlarian di lokasi bermain anak, wajah pemuda itu nampak tak asing. Versi remaja dari Menma kecil mereka di rumah. Dengan perbedaan mencolok, sebuah Rinnegan di mata kanan.
"Menma!" Naruto terkaget memanggil remaja tersebut. Mendengar namanya dipanggil, Menma pun menoleh ke sumber suara dan mata mereka bertemu.
Menma sudah besar. Masih pendek untuk Naruto karena ia juga bertambah tinggi sejak terakhir kali mereka bertemu. Naruto setinggi Naruto Dewasa. 180 cm. Lebih pendek 2 cm dari dari Sasuke disebelahnya. Sementara Menma setinggi Sasuke kala remaja dulu.
"Ayah...?" Menma terlihat tak yakin. Anak kecil pirang yang tengah berlarian tadi mendengar si remaja menyuarakan keraguannya, ia melihat Naruto dan tersenyum lebar. Dengan sangat bersemangat, ia berlari ke arah Naruto dan memeluk pinggangnya.
"Ayah!"
Safir kembar berkedip dan melihat ke bawah. Anak yang kini memeluknya sumringah menengadah. Naruto secara refleks memeluk balik. Wajah anak ini mirip Sasuke tapi punya rambut pirang lurus dan mata hitam serta pipi bergaris bak kumis kucing. Naruto kenal wajah ini. Versi bayi dari anak ini. Wajah yang baru saja ditinggalkannya tadi di masa asli mereka. Ia terbata, "Yu-Yuma?"
"Ya, Ayah?" Yuma memiringkan kepalanya masih dengan senyum lebar di bibir. Nama pun sama. Sama seperti putra pertamanya. Naruto tak ada keraguan kalau anak ini adalah putra bungsu dari Sasuke dan dirinya yang lain. Seperti bayi Yuma di tempat asalnya.
"Oh, kau sudah besar," Naruto tersenyum kagum. Yuma tertawa, "Ayah, aku 4 tahun, sudah besar dong!"
Sasuke melihat dengan rasa terkejut yang ditutupi. Matanya berpindah dari Naruto ke Yuma lalu mengerling ke Menma Remaja yang nampaknya mulai memahami situasi. Sasuke mendapati konklusi tentang masa ini. Karena Yuma sudah lahir, bisa dikatakan kalau dirinya yang lain di masa depan ini ada di Konoha setelah Menma kembali ke masa ini.
Atau...
"Apa kau ingat kami, Menma?" Sasuke bertanya ke remaja itu. Dia ingin memastikan kalau Menma ini memang yang mereka temui di masa lalu dan mereka bukan di masa depan lain yang tercipta karena kedatangan Menma di masa lalu mungkin menciptakan masa depan lain.
Menma menatap Sasuke yang memakai pakaian ANBU lalu pandangannya berpindah ke Naruto dan Yuma. Tak sulit melihat kalau mereka bukan orangtuanya karena orangtuanya lebih tua dan tak perlu menanyakan apa Menma mengingat mereka atau tidak. Sasuke menggerakkan wajahnya sedikit dan memperlihatkan Rinnegan ke Menma. Rinnegan di mata kiri. Ia ingat satu Sasuke pernah mengatakan kalau dila pernah punya Rinnegan.
"Rinnegan..." Tuturnya dengan serius. "Kita bertemu di masa Konoha dibentuk oleh Hashirama dan Madara Uchiha, bukan?"
"Oh! Kau beneran Menma yang itu!" Tambah Naruto bersemangat. Ia memeluk Menma dengan satu tangan sebab tangan lainnya memeluk Yuma.
"Be-benar, Ayah." Remaja itu memeluk balik dan tersenyum kecil. Ia turut senang mereka bisa bertemu lagi, namun bingung. "Kupikir kita tidak bisa bertemu lagi. Bagaimana kalian ke sini?"
Pikiran pertama Menma mengenai kedatangan mereka adalah menggunakan jurus melintasi waktu yang diciptakan Nidaime. Tapi, jurus itu hanya bisa digunakan satu kali untuk satu orang. Sasuke dan Naruto tentu menggunakan itu untuk kembali ke masa mereka seperti tertera di gulungan sakral. Jadi, bagaimana mereka ke sini? Seseorang dari masa ini akan tiba di era Nidaime jika digunakan. Seperti yang terjadi pada Menma 5 tahun lalu.
"Kami—"
"Kak Menma," gadis pirang di sebelah Menma tadi mendekati mereka. Rambutnya lurus dan panjang, diikat rendah serta menjuntai di bahu kanan. Ia mengenakan baju hitam berlengan panjang dan rok kuning selutut. Wajahnya cantik dan anggun. "Kurasa tidak tepat pembicaraan ini dilakukan di luar. Mungkin lebih baik kalau kita harus ke kantor ayahku untuk membicarakan ini."
"Ayahmu? Memang kamu siapa ya?" Naruto berkedip. "Pacar Menma?"
"Bukan, Ayah," Menma menerangkan. "Dia sepupuku. Putri Paman Itachi. Koumi Uchiha."
Naruto kaget bukan main, "PUTRI ITACHI?!"
Sasuke pun kehilangan kata-kata. Kalau ditilik lagi, gadis ini mirip mendiang ibunya, Mikoto. Rambut pirangnya mendistraksi karena Sasuke tak pernah melihat rambut pirang di Konoha selain putra bungsunya, Yuma. Gadis ini memiliki mata biru kusam tak seperti safir kembar Naruto. Ia ingat Menma pernah menyebutkan, "Kau bilang kalau kakakku punya putra."
"Kak Ryuichi itu kakaknya Koumi. Anak pertama Paman Itachi."
Cara senyum Koumi mirip Itachi. Tak hanya itu, tapi cara bicaranya dan auranya... semua itu mengingatkan Sasuke akan kakaknya yang sudah meninggal.
"Mari kuantar, Paman Naruto, Paman Sasuke," ajak Koumi dengan senyum.
—000—
"Masuk," kata Itachi dan Menma membukakan pintu. Ia masuk duluan, diikuti Sasuke, Naruto yang sambil menggendong Yuma dan terakhir Koumi.
"Sasuke? Naruto?" Ia tersenyum tipis.
Itachi mengamati pengunjungnya dalam diam dan pandangan penuh arti. Ia tak mengira kalau keluarga Sasuke akan datang semua dengan putrinya. Itachi sadar bahwa adiknya serta adik iparnya terlihat lebih muda dibanding terakhir kali ia melihat mereka. Yang datang ini terlihat berumur di awal 20an. Jika kondisi mereka demikian sebab penggunaan jurus perubahan dengan membuat diri mereka lebih muda, apa tujuannya? Kalaupun begitu, mengapa mereka ke sini dengan Menma dan putrinya, Koumi? Tak ada penjelasan mengenai itu. Pasti ada sesuatu kenapa mereka datang kemari. Ia menatap ke arah adiknya, Itachi melihat Rinnegan yang tertutupi rambut Sasuke.
Napas Sasuke tertahan begitu matanya bertemu mata Itachi. Di masa asal mereka, Itachi sudah meninggal di umur 21. Akan tetapi, Godaime Hokage yang sedang duduk di belakang meja kerjanya tampak seperti di akhir 30an atau awal 40an. Ia menyadari mata Itachi melebar sesaat ketika melihat Rinnegan miliknya.
"Kelihatannya kita kedatangan tamu dari masa depan lain," ucapnya tenang, "apa aku benar?"
"Wow! Kau tahu hanya dengan melihat kami?" Naruto terkesima. "Standar Itachi Uchiha memang beda!"
Itachi tersenyum lembut, "Terima kasih, Naruto. Kalian memang sama tinggi dengan Sasuke dan Naruto di sini. Tapi, aku tak melihat alasa kenapa adikku dan adik iparku menggunakan jurus perubahan untuk tampil lebih muda. Karena kalian berdua dan Menma datang kemari dengan putriku, aku yakin ini bukan kunjungan biasa. Koumi jarang kemari untuk alasan itu. Lagipula, Sasuke dan Naruto di masa ini lebih memilih menemuiku di rumah jika memang mereka ingin bantuan." Matanya melirik Sasuke, "Ditambah, adikku tidak punya Rinnegan. Tapi, gulungan sakral menyatakan Sasuke yang lain memilikinya."
"Mantul!" Naruto menyeringai. Dia terkesan. Memang sudah rahasia umum kalau Itachi Uchiha merupakan ni ja bertalenta. Naruto sendiri berkesempatan bertemu Itachi 3 kali, ketika Itachi masih hidup 2 kali dan setelah dibangkitkan dengan Edo-Tensei satu kali. Meski cuma tiga kali, itu sudah cukup membuat Naruto sangat terkesan dengan Itachi. Apalagi yang satu ini Hokage pula. Tambah kagum Naruto.
"Ayah," Koumi bertanya pada Itachi, "Apa aku bawa Yuma main di luar? Pembicaraan ini akan membosankan untuknya."
"Benar, Koumi," Itachi setuju, "Terima kasih."
Ia mengangguk dan dengan senyum lembut menggendong Yuma dari Naruto. Anak itu merenggut, "Kak Koumi? Ayah? Aku mau main sama Ayah."
"Nanti kita main," Naruto tersenyum, mengusap sayang kepala Yuma, "Ayah nanti main sama Yuma. Tapi, Ayah bicara dulu sama Paman Itachi ya? Tunggu sebentar dengan Kak Koumi, Yuma bisa?"
"Bisa," Ia masih memajukan bibir tapi tersenyum lebar setelah Naruto mencium keningnya. Yuma keluar ruangan bersama Koumi.
"Aku berasumsi kalau kalian berdua adalah yang Menma temui sewaktu dia ke masa lalu sebab dia mengantar kalian ke sini," Itachi menatap Sasuke dan Naruto, "Aku ingin tahu kenapa kalian di sini? Bagaimana caranya kalian melintasi waktu ke masa depan lain? Apa kalian punya gulungan lain yang berisi jurus melintasi waktu?"
Sasuke dan Naruto bertukar pandang sebelum Sasuke maju selangkah ke meja Itachi, "Kami tidak memiliki gulungan yang berisi jurus melintasi waktu ciptaan Nidaime di masa kami. Aku tidak tahu bagaimana ini terjadi tapi sebelum kami tiba di masa depan ini..." Sasuke menoleh ke Naruto, "...Rinnegan-ku memperlihatkan sebuah penglihatan."
Naruto bertanya serius, "Apa karena itu Rinnegan-mu berdarah?"
Sasuke mengangguk, dia menyentuh mata kirinya, "Aku sedang di kantor Hokage waktu mata ini terasa seperti terbakar. Saat kututup mataku, aku melihat..." dia terdiam beberapa saat dan menutup matanya sambil mengernyitkan alis. Ia merasakan bagaimana frustasinya perasaannya karena penglihatan itu. Sesuatu yang tak pernah mau ia lihat.
"Sasuke?" Naruto cemas Sasuke terlihat gundah.
"Aku melihat... Naruto diambang maut."
Naruto dan Menma terkejut.
"Apa Rinnegan punya kemampuan melihat masa depan?"
"Kemampuan Rinnegan tergantung dari pemiliknya. Milikku dan Madara di masaku punya kemampuan berbeda. Tapi, punyaku tak pernah memperlihatkan apapun yang tidak berhubungan dengan pertarungan yang kulakukan," Sasuke berhenti dengan pandangan penuh arti ke Naruto. "Tidak hanya penglihatan, aku bisa merasakan kesedihan mendalam saat melihatnya. Yang lebih mengerikan adalah aku merasakan itu dua kali lipat dari seharusnya..."
Menma penasaran, "Dua kali lipat?"
"Ya. Susah dijelaskan tapi terasa itu terjadi dua kali di waktu bersamaan," lanjut Sasuke.
Itachi terdiam seraya memikirkan semua informasi barusan, "Diluar masalah penglihatan, kita masih tidak tahu bagaimana kalian bisa sampai di sini. Apa rencanamu, Sasuke?"
"Aku mau melihat gulungan sakral supaya bisa menulis ulang jurus melintasi waktu jadi kami bisa kembali ke masa kami," jelas Sasuke.
Naruto mengerutkan alis, "Kami meninggalkan anak-anak. Aku harap Menma bisa menjaga adik-adiknya."
"Aku yang lain?" Tanya Menma. "Berapa umurnya? Adik-adik? Bukan hanya Yuma adiknya?" Dia sudah mengira kalau Yuma juga sudah lahir di masa depan lain karena Naruto tadi langsung mengenali Yuma dengan sekali lihat dan komentarnya soal Yuma sudah besar.
Naruto tersenyum lebar, "5 tahun umurnya. Selama itu juga kami sudah kembali dari masa lalu." Dia menambahkan dengan hati-hati, "Yuma lahir tahun lalu jadi dia masih bayi. Dan Menma kami... punya adik kembar cewek."
"Kembar..." Menma paham dan ia menjadi pucat. "Ayah sedang hamil anak kembar waktu kita di masa Kakek Buyut Tobirama." Ia merasa bersalah, "Dan aku membuatmu menunda kepulangan karena tiba di sana."
"Hei, hei," Naruto merangkul pundak Menma, "Semuanya baik-baik saja. Dirimu yang lain dan kembarannya lahir sehat. Sama sepertimu, Menma kecil kami juga jenius. Semuanya baik-baik saja dan dia kakak yang baik. Sepertimu juga."
Menma terpana sebelum mengangguk dan tersenyum, "Aku lega mendengarnya."
"Dimana aku yang lain dan Naruto di masa ini? Apa mereka sedang ada misi? Kami butuh mengharmonisasikan cakra Indra dan Asura untuk jurus melintasi waktu," Sasuke kembali ke topik.
"Mereka sedang liburan," jawab Itachi.
Naruto tidak memperhitungkan hal itu sebagai jawaban. Dia memiringkan kepala, "Liburan?"
"Mereka butuh waktu bersama satu sama lain setelah terpisah begitu lama sebagai terapi. Terkadang, mereka mengambil hari libur untuk berdua saja tiap tiga bulan sekali. Tanpa siapapun. Termasuk aku dan Yuma. Tujuannya untuk menyembuhkan depresi ayahku yang ditinggalkan lama," terang Menma.
"Oh," Naruto mengangguk dengan simpati. Ia mengerti itu. Sasuke memang meninggalkannya 3-5 tahun tapi Naruto di masa ini sudah sendirian lebih dari satu dekade.
"Mereka seharusnya kembali dalam 2 atau 3 hari. Aku bisa mencoba menghubungi mereka supaya kembali cepat," tawar Itachi.
Sasuke setuju, "Tidak jelas bagaimana aku dan Naruto bisa sampai di masa ini. Mereka mungkin tahu sesuatu."
Itachi mengangguk. Ia menulis surat dan memanggil gagaknya untuk mengirimkan surat ke adiknya dan tersenyum kembali ke adik yang dari masa depan lain, "Selagi menunggu balasan, bagaimana kalau kalian berdua makan malam di rumahku?"
"Ide bagus!" Naruto berkata dengan riang. Namun, Sasuke merasakan Naruto menegang ketika Itachi berkata ke keponakannya, "Menma, bisakah kau mengundang Tuan Minato untuk makan malam bersama dirumahku?"
"Ayahku...?" Safir kembar Naruto berbinar penuh harap.
Maaf ya telat update, ini emang bakal slow update ya soalnya aku masih ngerjain yg versi Englishnya barengan. Yang Englishnya belum tamat dan aku ada multichaps lain yg dikerjadin di fandom lain jadi bakal slow update buat kedua versi yaaaa
Makasih uda bacanya!
Makasih uda review buat Anna.keaala, chacchan, guest, Dalet no Hebi!
