Disclaimer:

Naruto: Masashi Kishimoto

Seishun Buta Yarou: Hajime Kamoshida

.

.

.

Pairing: Naruto x Mai

Genre: romance, fantasy, supranatural

Rating: T

Setting: Alternate Universe (AU)

.

.

.

Reset Cafe

By Hikayasa Hikari

.

.

.

Chapter 1. Kafe yang aneh

.

.

.

Setangkai bunga mawar merah yang terbungkuskan plastik putih transparan bersandar di papan nisan putih. Barusan gadis berambut hitam panjang sepinggang yang meletakkan bunga itu. Dia berjongkok di samping makam laki-laki yang dicintainya.

"Selamat pagi, sahabatku," sapa Sakurajima Mai yang berpakaian serba perak, tersenyum. Tapi, mata birunya meredup. "Pasti kau juga membalas ucapanku, 'kan? Kau menjawab, 'selamat pagi, Mai-chan."

Mai mengusap papan nisan yang bertuliskan 'Uzumaki Naruto'. Perlahan matanya terpejam. Merasakan jantungnya berdetak kencang. Badannya juga bergetar pelan seiring air bening melimpah ruah dari pelupuk matanya. Betapa tidak, dirinya sudah kehilangan sahabat terbaiknya sejak setahun lalu. Sahabat yang dicintainya, tidak akan pernah mengetahui perasaannya itu.

Seminggu sekali, Mai berziarah ke makam Naruto. Hal itu sudah menjadi kebiasaannya sejak Naruto dinyatakan meninggal. Membuat kehidupannya seolah berhenti saat itu juga. Karena sang penyemangat ketika dia bermain piano, tidak ada lagi di sisinya.

"Naruto, aku harus pergi sekarang," ucap Mai setelah mencurahkan kesedihannya selama beberapa saat, "minggu depan, aku akan mengunjungimu lagi."

Mai tersenyum sambil menghapus air matanya dengan kedua tangan. Langsung berdiri dan berjalan gontai meninggalkan makam Naruto. Menyusuri gang lebar yang diapit kuburan-kuburan yang berjejeran.

Mai pergi dengan menggunakan mobil sedan hitam kecil yang hanya bisa dimuat empat orang. Tidak tahu harus kemana karena waktunya hanya dihabiskan untuk berkeliling kota. Padahal dia adalah pianis yang sangat terkenal, tetapi dia sudah memutuskan berhenti dari pekerjaannya itu.

Mai mengendarai mobil dengan tenang. Fokus melihat ke depan. Tidak banyak kendaraan yang lewat. Suasana cukup tenang karena hari masih menunjukkan pukul tujuh pagi.

Tiba-tiba, mobil Mai berhenti sendiri di depan sebuah kafe. Mai kaget, melebarkan mata. Tercengang.

"Hah? Mengapa mati mendadak begini?" tanya Mai segera membuka sabuk pengaman, lalu keluar untuk mengecek keadaan mobilnya.

Mai memeriksa bagian mesin di depan mobil dan seluruh roda. Tidak ada kendala apapun. Tapi, mengapa mobilnya tidak bisa dihidupkan, meskipun Mai sudah beberapa kali mencobanya? Mai yang sudah masuk ke mobil, menggembungkan pipinya.

"Dasar! Buat aku kesal saja!" seru Mai keluar dan membanting pintu mobil sehingga menimbulkan bunyi yang sangat keras.

Jantung Mai seolah menderu kencang karena marah. Kedua tangannya mengepal. Ingin rasanya menendang batu untuk melampiaskan perasaan amarah. Tapi, tidak ada batu yang terlihat.

Mai berkacak pinggang. Melihat mobilnya dengan tajam. Kemudian memutar pandangan hingga tertancap pada bangunan kayu berlantai dua bercat hijau-putih. Bangunan yang bertuliskan Reset Cafe.

"Hah? Nama kafenya aneh? Reset?" tanya Mai membelalakkan mata, "tapi, aku baru lihat ada kafe ini di sini. Jadi, penasaran."

Hati Mai yang menuntunnya berjalan memasuki kafe itu. Langkahnya yang anggun, terhenti saat tiba di sebuah ruangan persegi panjang cukup luas. Beberapa orang duduk di dekat meja bulat, terlihat terpaku karena memandang secangkir minuman di hadapan masing-masing. Mai tidak terlalu memperhatikan mereka, langsung menemukan meja kosong di dekat jendela.

Muncul seorang gadis berambut krem panjang yang berpakaian kasual dan bercelemek hijau, datang dari arah pintu belakang. Berjalan menghampiri Mai yang baru saja duduk di dekat meja.

"Selamat pagi," sapa gadis itu tersenyum ramah, "ini buku menunya. Silakan pilih menu yang anda suka."

"Ya, selamat pagi. Tunggu sebentar, aku mau lihat dulu," balas Mai turut tersenyum, mengambil buku menu itu.

Mai membuka halaman demi halaman buku menu. Ternyata banyak minuman dan makanan khas kafe di sini. Tentu Mai memilih minuman kesukaannya dan menunjukkan gambarnya di halaman buku menu.

"Ini. Aku pesan satu cappucino," kata Mai tersenyum lagi.

"Baiklah, tapi, sebelum saya mengambil pesanan anda, ada sesuatu yang ingin saya tanyakan pada anda," balas gadis pelayan mengangguk, mengambil lagi buku menu.

"Apa yang ingin kau tanyakan?"

"Jika ada satu kesempatan sekali lagi untuk kembali ke masa lalu, apa yang anda inginkan?"

"Apa maksudmu?"

"Jawab dulu pertanyaan saya itu dulu."

"Jika ada satu kesempatan sekali lagi kembali ke masa lalu ... itu berarti aku menggunakan mesin waktu dan kembali ke masa lalu."

Mai diam. Teringat Naruto yang selalu terbayang-bayang di otaknya. Memberikan kesedihan sangat dalam di jiwanya.

"Jika aku mendapatkan kesempatan sekali lagi untuk kembali ke masa lalu, aku ingin menyatakan perasaanku pada Uzumaki Naruto, sahabatku. Sahabatku itu sudah meninggal karena tertabrak mobil," ungkap Mai meredupkan mata.

"Saya mengerti. Tunggu sebentar, saya ambilkan pesanan anda," sahut gadis bercelemek tadi, pergi menuju pintu belakang.

Mai tidak menjawab perkataan gadis bercelemek tadi. Berlarut dalam nelangsa yang belum hilang dari hatinya. Berharap kejadian itu tidak terjadi, tentu Naruto bisa hidup sampai sekarang.

Naruto, mengapa kau cepat sekali pergi? Padahal aku berharap kau mengetahui perasaanku ini, batin Mai.

"Ini pesanan anda." Mendadak gadis bercelemek tadi, menghidangkan secangkir cappucino di atas meja. Menghentikan kesedihan Mai sejenak.

"Ya, terima kasih." Mai cepat menyeka air mata yang ingin keluar lagi dari netranya.

"Jika anda sudah meminum cappucino itu sekali saja, maka anda harus menolong sahabat anda dari kecelakaan itu. Jika anda tidak berhasil, maka anda akan terjebak dalam satu adegan yang sama secara berulang kali tanpa berhenti."

Mai mengerutkan kening. Tidak mengerti dengan apa yang dikatakan gadis bercelemek. Ingin bertanya, tetapi gadis bercelemek langsung berjalan cepat menjauhinya. Tapi, perasaan haus sudah menyergap tenggorokannya, membuat dirinya meminum seteguk cappucino.

Rasa cappucino yang hangat dan manis, masuk ke tenggorokan Mai. Saat itu juga, Mai merasa pusing sangat berat tak tertahankan. Memaksanya untuk memejamkan mata.

Apa ini? Rasanya seperti berputar-putar. Mai merasakan hal itu sangat lama. Hingga dirinya memegang kepala dari dua sisi.

Sayup-sayup terdengar suara banyak orang di sekitar Mai. Padahal suasana di kafe tadi, sangat hening. Mai merasakan keanehan karena merasakan badannya disengat sinar mentari. Memaksanya membuka mata dengan cepat.

Apa yang sebenarnya terjadi? Mai berada di tengah keramaian orang di jalanan raya. Banyak gedung tinggi di sekitarnya.

"Me ... mengapa aku bisa tiba di sini?" tanya Mai celangak-celinguk. Bingung.

Mai memperhatikan dirinya. Masih berpenampilan yang sama. Kemudian memeriksa handphone-nya yang tergantung di bahu kanannya. Matanya melebar saat melihat hari, tanggal, waktu, dan tahun di bagian pojok atas gawainya.

"I ... ini waktu Naruto akan tertabrak mobil?" tanya Mai ternganga. Belum percaya dengan apa yang menimpanya sekarang. "Apa itu berarti aku benar-benar kembali ke masa lalu?"

Mai terpaku. Otaknya belum bisa berkoneksi dengan apa yang terjadi. Tiba-tiba, muncul suara yang menyapanya. "Mai!"

Mai menoleh ke asal suara. Seorang pria dewasa berambut pirang, melambaikan tangan dari balik keramaian. Pria itu melemparkan senyum lebar.

Mai membulatkan mata sempurna. "Na ... Naruto?"

.

.

.

Bersambung

.

.

.

A/N:

Cerita baru di fandom Naruto x Seshun Buta Yarou, terinspirasi dari lagu Jepang dan film movie jepang. Cerita cinta berbalut fantasi dan supranatural.

Dulu juga ada reader yang request cerita tentang Naruto x Mai ini. Entah di tahun berapa. Saya udah lupa soalnya udah lama banget. Maaf ya, kalau cerita ini direalisasikan di tahun ini.

Oh ya, soal fic Hidden dan fic lainnya, saya akan tetap lanjutkan juga. Tunggu aja.

Sekian dan terima kasih dari saya. Dari Hikayasa Hikari.

Jumat, 9 September 2022