Disclaimer:

Naruto: Masashi Kishimoto

Seishun Buta Yarou: Hajime Kamoshida

.

.

.

Pairing: Naruto x Mai

Genre: romance, fantasy, supranatural, humor

Rating: T

Setting: Alternate Universe (AU)

.

.

.

Reset Cafe

By Hikayasa Hikari

.

.

.

Chapter 2. Bingung

.

.

.

Naruto benar-benar ada di hadapan Mai. Dia berlari cepat melewati orang-orang di jalanan raya itu. Blazer abu-abu melapisi baju kaos orange-nya. Celana hitam dan sepatu berwarna senada dengan celananya, menghiasi penampilannya yang gagah.

Rambut pirang Naruto disisir dari kiri, memberikan kesan maskulin yang bisa mempesona kaum hawa. Senyumnya yang menawan terus terpatri di wajahnya yang tampan hingga dirinya tiba di depan Mai. Terdengar napasnya yang tersengal-sengal, bertepatan badannya membungkuk sambil menopang tangan di atas dua lutut.

"Na ... Naruto?" tanya Mai tetap membelalakkan mata, "ka ... kau benar-benar Naruto?"

Naruto menegakkan badan, mengangkat salah satu alisnya. "Ya, aku ini Naruto. Memangnya mengapa kau bertanya begitu, Mai-chan?"

Tiba-tiba, Mai memeluk pinggang Naruto. Tindakannya ini mengejutkan Naruto. Giliran mata biru Naruto yang membesar.

Beberapa orang di sekitar Naruto dan Mai, tersenyum melihat mereka. Naruto yang menyadari itu, celangak-celinguk. Panik sekali. Ingin melepaskan Mai, tetapi tidak jadi karena mendengar isakan halus dari Mai.

"Mai-chan, mengapa kau menangis?" tanya Naruto mengerutkan kening.

"Na ... Naruto, syukurlah aku bisa bertemu denganmu lagi," jawab Mai di sela menangis.

"Hah? Apa maksudmu? Kita memang sudah bertemu sejak pagi tadi. Kau menungguku, karena aku membelikanmu cappucino dingin. Ini."

Naruto menunjukkan plastik putih transparan panjang seperti gedung yang bisa memuat dua gelas cappucino dingin. Mai melepaskan Naruto, tercengang. Buru-buru menghapus air matanya.

Seingatku, sebelum kecelakaan itu terjadi, aku dan Naruto berjalan usai latihan piano pada pukul dua siang ini. Kecelakaan itu terjadi saat Naruto mengantarkan aku pulang nanti dengan mobil miliknya.

Mai bermonolog. Mukanya masih suram. Termenung. Naruto yang bingung, langsung mencubit pipi kanan Mai. Membuat Mai tersentak dan kelepasan memukul pipi kiri Naruto dengan kuat.

"Aduh, Mai-chan! Sakit itu!" celetuk Naruto mengelus pipinya yang memerah akibat ditampar oleh Mai.

"Habisnya kau malah mencubit pipiku," sembur Mai mendelik Naruto.

"Dasar, kau juga malah bengong! Memangnya apa yang kau pikirkan?"

"Nanti saat kita pulang, jangan pakai mobilmu."

"Hah? Mengapa?"

"Pokoknya kita pulang pakai kereta api saja."

"Kalau kita pulang pakai kereta api, lalu mobilku itu bagaimana?"

"Telepon Shikamaru untuk menjemput mobilmu."

"Ya, sudah. Aku telepon dulu Shikamaru."

Naruto mengembus napas. Pasrah dengan keadaan. Mengambil ponsel yang ada di saku blazer-nya. Menelepon Nara Shikamaru lewat aplikasi Whatsapp.

Mai memperhatikan Naruto. Senyuman muncul lagi di wajahnya yang berseri-seri. Matanya melembut. Berpikir ingin menyatakan perasaannya itu sekarang. Tapi, saat mulutnya ingin mengucapkan isi hatinya itu, mendadak Naruto menyodorkan plastik yang berisikan dua gelas cappucino dingin itu padanya.

"Mai-chan, pegang ini dulu. Aku lupa beli cemilan untuk kita. Aku pergi dulu. Kau tunggu lagi di sini!" pinta Naruto bermuka serius.

Mai mengangguk, mengambil plastik itu. Melihat Naruto berlari kencang meninggalkannya. Menyisakan keributan di sekitar Mai karena suara sahut-sahutan dari orang-orang.

.

.

.

Kini Naruto dan Mai duduk berdampingan di kereta listrik tercepat di kota Konoha. Bukan hanya mereka saja, tetapi banyak orang yang menemani selama perjalanan ke tempat tujuan.

Naruto yang dikenal sebagai Manager dan sekaligus guru piano Mai, terkadang menunjukkan tipikal serius dan kalem saat melatih Mai belajar piano. Tapi, jika bersama Mai sebagai sahabat, Naruto menunjukkan tabiat ceroboh, ceria, dan pelupa.

Naruto lebih muda dua tahun dari Mai -- berumur dua puluh tahun. Sementara Mai berumur dua puluh dua tahun. Mereka tidak menempuhkan pendidikan kuliah, justru fokus dengan karir masing-masing.

"Mai-chan, aku masih penasaran dengan yang tadi," kata Naruto sambil memakan ramen yang sempat dibelinya tadi di minimarket di alun-alun kota.

"Penasaran tentang apa?" tanya Mai sehabis mengunyah ramen, menoleh ke arah Naruto.

"Mengapa kau tiba-tiba memelukku dan menangis begitu? Seolah kau berpisah denganku sangat lama. Padahal kita bertemu setiap hari, 'kan?"

Mata Naruto menyipit. Mencari jawaban yang jujur dari Mai. Menghentikan sejenak kegiatan makan.

Mai melebarkan mata. Perlahan menundukkan kepala. Mengeratkan genggaman dua tangannya pada gelas ramen. Berpikir ingin memberitahu semua yang terjadi pada Naruto.

Ketika Mai ingin jujur tentang masa depan, tiba-tiba kepalanya sangat sakit. Sehingga ramen cup yang dipegangnya, terlepas darinya. Isi ramen cup tumpah dan membasahi gaun selututnya.

"Ukh!" Mai mencengkeram kepalanya dengan kedua tangannya. Seakan isi otaknya berputar-putar.

"Kau kenapa, Mei-chan?" tanya Naruto nyaris menjatuhkan cup ramennya, tetapi untung cup ramen itu diletakkan di sisi kanannya.

Beberapa orang juga tergerak untuk menghampiri Mai. Salah satu dari mereka, memegang bahu kiri Mai. Dia seorang gadis berambut krem dengan tudung jaket yang menutupi kepalanya, berbisik ke telinga Mai.

"Kau tidak akan bisa mengatakan sesuatu yang berkaitan dengan masa depan. Jika kau masih berani mengatakannya pada sahabatmu itu, maka kau berada di kereta ini untuk selamanya karena kau terjebak dalam waktu yang sama. Jadi, jangan kacaukan aliran waktu ini," ungkap gadis berambut krem itu menukikkan alis, "jalani hidupmu sampai kau menyatakan cintamu pada sahabatmu."

Mai melebarkan mata, bertepatan sakit kepalanya juga hilang. Melihat gadis berambut krem tadi pergi meninggalkannya dan masuk ke gerbong lain.

Suara gadis tadi ... sama dengan suara gadis yang memberikan aku cappucino di kafe itu. Tapi, mengapa dia juga bisa ada di sini?

Mai membatin. Menyadari orang-orang mengerumuninya dan Naruto. Semua orang mengkhawatirkan keadaan Mai.

"Apa dia baik-baik saja?"

"Ada dokter di sini. Dia bisa memeriksa keadaan Mai-sama."

"Mai-sama, apa yang terjadi padamu?"

Semua orang berkomentar dan dijawab satu persatu oleh Naruto. Kemudian Naruto terperanjat saat melihat Mai malah berlari ke arah gadis berambut krem tadi pergi. Membuatnya sangat panik.

"Mai-chan! Tunggu!" teriak Naruto berlari terbirit-birit, mengejar Mai.

Mai membuka pintu belakang kaca transparan gerbong satu lagi. Menemukan beberapa orang yang duduk dengan tenang. Mai berhenti di ambang pintu, memperhatikan orang-orang satu persatu.

"Mai-chan, mengapa kau malah lari ke sini?" tanya Naruto berhenti di sisi kanan Mai.

Mai tidak menjawab. Terus mengamati orang-orang, tetapi tidak menemukan orang yang dicarinya.

Gadis tadi siapa? Apa dia memiliki kemampuan untuk menjelajah waktu atau menggunakan mesin waktu? Lalu mengapa hanya meminum cappucino, aku bisa tiba di masa lalu ini?

Mai masih kelimpungan dengan apa yang terjadi padanya. Tetap mengabaikan Naruto yang mencemaskannya. Kemudian Naruto tiba-tiba merangkul bahunya dari samping, mengejutkannya.

"Mai-chan, kau aneh sekali hari ini. Kalau kau ada masalah, ceritakanlah padaku," tutur Naruto dengan nada yang lembut. Berharap Mai menjawabnya dengan suara, tetapi malah mendapat tanggapan berupa injakan keras di kaki kirinya.

Naruto meringis kesakitan. Tersenyum kaku. Mai melototinya.

"Jangan peluk aku! Dasar, laki-laki yang suka mengambil kesempatan dalam kesempitan!" sanggah Mai. Suaranya keras sekali.

.

.

.

Bersambung

.

.

.

A/N:

Mai di cerita ini ooc nggak? Saya nggak sempat nonton anime Seshun Buta Yarou, cuma membaca profil Mai di google. Dari profil itu, saya sesuaikan sifat Mai ke cerita ini yaitu tsundere.

Kalau kalian mau lihat bagaimana penampilan Mai dan Naruto di cerita ini, kalian bisa lihat di covernya. Saya sendiri yang membuat gambar mereka.

Oke, sampai di sini. Jika ada waktu, saya akan lanjut lagi ceritanya. Terima kasih.

Dari Hikayasa Hikari.

Sabtu, 10 September 2022