Otonari no Tenshi-sama

Disclaimer: Masashi Kishimoto, Ichiei Ishibumi

Rated: T

Genre: Slice of Life, Romance.

Peringatan keras! Serius deh! Multi-Chap, OOC, EYD Hancur, Typo(s)

Enjoy.

[…]

[…]

[…]

[…]

Chapter 1 – Jinchūriki yang terkena deman.


Malam hari, langit terlihat cerah, bintang terlihat mengiasi langit malam hari ini yang begitu indah. Sayang langit malam tersebut tak dapat membuat keadaan seorang pemuda berambut pirang jabrik tersebut membaik. Ia tampak berbaring, berusaha untuk tidur.

Setelah cukup lama berusaha untuk tertidur pemuda tersebut terlihat membuka kelopak matanya dengan berat dan hal pertama yang ia lihat adalah seorang malaikat dengan rambut pirangnya yang indah tersebut.

Dia menemukan Gabriel duduk di samping tempat tidurnya, dan menatapnya. Kelihatannya ini bukanlah mimpi.

"Ughh... Sudah berapa lama aku tertidur?"

"Kurang lebih tiga jam."

Gadis tersebut menjawab dengan singkat. Gadis tersebut pun kemudian membantu pemuda itu untuk duduk di pinggir kasurnya dan menyerahkan secangkir teh hangat kepadanya. Naruto kemudian tanpa pikir panjang meminum teh tersebut karena ia merasa sangat haus.

Ia mendapati dirinya merasa sedikit lebih baik, mungkin?

Kemudian ia tersadar ketika ia merasa dahinya terasa dingin, ia kemudian menggunakan tangannya untuk mengecek dan benar saja, ia menemukan sebuah kompres penurun panas ditempelkan di dahinya.

Ia tak memiliki benda ini di dalam kotak P3K yang ada di apartemennya, kemungkinan gadis tersebut yang membelinya.

"Terima kasih." Ucapnya singkat ke arah gadis tersebut.

"Sama-sama." Balas gadis tersebut dengan lembut.

Jawaban tersebut membuatnya tersenyum lembut tanpa sadar.

Ia masih tak percaya bahwa gadis malaikat ini mau merawatnya hanya karena merasa bersalah. Bukankah seharusnya ia lebih berhati-hati ketika berhadapan dengan lawan jenisnya. Apa mungkin karena gadis tersebut merasakan bahwa ia hanya manusia biasa sehingga bisa sesantai ini? Ia tak mau memikirkan hal tersebut lebih lama, karena hanya akan membuat kepalanya tambah sakit.

Tanpa sadar ia melihat gadis tersebut telah kembali dari suatu tempat. Ia terlihat berjalan ke arahnya membawa sebuah nampan. Gadis tersebut kemudian duduk kembali di samping tempat tidurnya.

"Aku membuatkanmu bubur. Makanlah, setidaknya sedikit." Ujar gadis tersebut, sembari berusaha menyuapinya.

Bukannya menerima bantuan gadis tersebut, Naruto malah diam membeku di tempat. Bukan-nya ia tak mau menerima bantuan gadis tersebut. Ia hanya tak habis pikir bahwa gadis tersebut mau membantunya hingga sejauh ini.

"Jika yang kau minta adalah ramen maka maaf saja. Aku sudah membuang semua makanan tak sehat itu." Tukasnya dengan nada marah. "Lagipula, orang macam apa yang mengisi semua persediaan makannya dengan mie instan, seharusnya kau lebih memikirkan kesehatanmu." Lanjut-nya panjang lebar.

'Sepertinya aku tak perlu repot mengawasimu lagi. Istrimu sudah melakukannya dengan baik.' Ucap Kurama dengan seringai rubahnya.

'Dia bukan istriku, dan lagi dia seorang malaikat.' Koreksi Naruto.

'Apakah ada yang melarangmu menikahi seorang malaikat?'

'Akan-ku tutup mulutmu itu dengan rasenshuriken nanti.'

'Hoho... Kita lihat saja nanti.'

"Uzumaki-san?" Tanya Gabriel berusaha memastikan sesuatu. "Aku akan memakannya jika kau tak mau."

"Tidak, tidak, maaf. Aku akan memakannya."

Naruto kemudian menerima bubur yang telah dibuatkan oleh malaikat tersebut, bahkan sampai menyuapinya. Naruto merasa malu pada dirinya sendiri.

Saat ia membuka mulutnya, ia bisa merasakan bubur buatan Gabriel. Sial, memang tak ada yang tak bisa dilakukan seorang malaikat, pikirnya. Buktinya ia bisa membuat bubur seenak ini, jika itu Naruto, ia mungkin tak akan bisa membuat bubur seenak ini. Jangan kan membuat bubur, memasak saja ia terlalu malas untuk melakukannya. Ia lebih baik pergi supermarket untuk membeli ramen instan atau pergi ke kedai ramen untuk makan malam.

Naruto memakan bubur secara perlahan, tak ada pembicaraan di antara keduanya. Tanpa sadar ia sudah menghabiskan semangkuk penuh bubur tersebut. Gabriel kemudian menaruh nampan yang ia bawa ke atas meja yang berada tak jauh dari sana. Ia kemudian menyerahkan handuk basah kepada Naruto. Naruto yang mengerti maksud dari gadis tersebut menerima handuk tersebut dan melepaskan kaos yang ia kenakan tanpa sadar. Gabriel yang masih berada di sana langsung terdiam membeku, wajah putihnya diwarnai dengan rona merah.

"Setidaknya perhatikan dulu sekitar mu baka!" Ucap Gabriel dengan nada pelan sembari memalingkan mukanya ke arah samping.

Naruto merasa aneh, karena ia berpikir tidak melakukan kesalah apapun. Ia kemudian melihat ke arah gadis tersebut dan melihat wajah gadis tersebut memerah padam. Ia membeku di tempat, memandangi wajah imut yang dimiliki oleh malaikat tersebut.

'Apakah kau akan terus memandanginya?'

Naruto buru-buru langsung mengelap tubuhnya dengan handuk yang diberikan Gabriel barusan. Jika tidak karena Kurama yang memperingatinya barusan, ia bisa saja memandangi gadis tersebut berjam-jam lamanya.

'Sial. Bukan hanya wajahnya, tapi sikapnya pun tak kalah imut.'

Hubungan mereka, menurut Naruto tak cukup dekat untuk menyatakan betapa lucunya dia, dan mungkin Gabriel akan menganggapnya aneh jika tiba-tiba berbicara seperti itu. Jadi ia memilih mengubur dalam-dalam pemikirannya itu.

Setelah selesai mengelap dirinya sendiri ia kemudian menyerahkan handuk bekas tersebut kepada Gabriel. Setelah menerima handuk tersebut, Gabriel terlihat berjalan keluar kamar dengan terhuyung-huyung sembari membawa nampan dan baskom air.

Naruto yang menyaksikan hal tersebut hanya bisa tersenyum kecut, disatu sisi ia merasa senang karena sudah dirawat ketika sedang sakit seperti ini, di sisi lain ia merasa bersalah karena membuat pekerjaan malaikat tersebut bertambah hanya untuk merawat dirinya.

Tak lama kemudian, gadis tersebut kembali dari dapur dan membawa lebih banyak lagi barang dari sebelumnya. Ia kemudian kembali duduk di samping pemuda tersebut dan menyerahkan termometer ke arah Naruto untuk mengukur suhu tubuhnya.

"Ini, gunakan ini. Agar aku tau, setidaknya kau tak perlu ku seret ke rumah sakit." Ucap Gabriel sembari menyerahkan termometer tersebut kepada Naruto.

"Kau tak perlu repot-repot menyeretku ke rumah sakit. Setelah minum obat dan tidur aku pasti akan sembuh." Balasnya dengan nada percaya diri, sembari menempelkan termometer itu pada dirinya. 'Jika saja rubah bodoh ini mau menyembuhkanku, mungkin hal seperti ini tak akan terjadi.' Lanjutnya dalam hati.

'Akan kupastikan kau menarik ucapanmu itu nanti.' Balas Kurama dengan seringai lebar.

'Mari bertaruh kalau begitu.'

'Setuju.'

*beep*

Ia kemudian mengambil termometer tersebut dan melihat ke arah layar kecil yang ada di sana. 37.7 °C tak cukup buruk sampai gadis di depannya harus menyeretnya ke rumah sakit.

"Berapa?"

"37.7 °C, tidak cukup tinggi untuk kau menyeretku ke rumah sakit, bukankah begitu?"

"Ya."

Kemudian Gabriel meletakkan sebotol air mineral dan baskom air yang ia bawa dari dapur serta menyerahkan kompres kepada Naruto.

"Setidaknya beristirahatlah sekarang, aku sudah membersihkan handuk serta air yang kau gunakan tadi. Kau harus banyak minum air serta mengubah gaya hidup tak sehatmu. Seharunya itu cukup untuk membuatmu pulih tanpa perlu minum obat." Ucap Gabriel panjang lebar.

Setelah ia selesai makan malam, gadis tersebut membawakannya sebotol air mineral, baskom serta handuk yang baru dan juga kompres. Seharusnya gadis tersebut tak berada di sini hingga larut malam begini. Namun begitu, gadis tersebut masih berada di sini untuk merawatnya.

Naruto akui gadis ini benar-benar bertanggung-jawab dengan kewajiban yang ia lakukan, walaupun hanya karena hutang budi yang ia miliki, tapi ia melakukannya dengan sungguh-sungguh.

Sepertinya ia tak akan terlibat lagi dengan gadis ini setelahnya. Lagipula gadis ini terlalu sempurna untuk bisa bersanding dengannya. Ia lebih memilih untuk membangun kembali "tembok" nya sebagai orang asing. Tapi sebelum itu, ia ingin bertanya satu hal sebelum kantuk yang luar biasa tiba-tiba menyerang dirinya.

"Maaf jika aku lancang, tapi aku ingin bertanya. Kenapa kau duduk sendirian di tengah hujan yang deras begitu. Apakah kau sedang menunggu seseorang?"

Selama Naruto tertidur, ia masih kepikiran tentang apa yang gadis tersebut lakukan di sana. Ia berusaha bertanya dengan hati-hati agar tak menyakiti perasaan gadis tersebut. Raut wajah yang gadis itu pasang tiba-tiba berubah menjadi senyum palsu.

"Apa terlihat seperti itu?"

"Tidak, maafkan aku."

"Kau tak perlu minta maaf, Uzumaki-san. Lagipula kau tak salah apa-apa."

Dia adalah gadis yang manis, baik, dan juga rendah hati menurut Naruto. Ia sering melihat gadis tersebut membantu orang ataupun tetangga mereka yang lain. Namun ia tak menduga jika dari dalam dia hanyalah seorang gadis yang rapuh. Jati dirinya sebagai malaikat bagaikan tak ada apa-apanya.

Sayangnya gadis ini terlalu hebat untuk menyembunyikan perasaannya, walaupun tak ada kebohongan dalam ucapannya barusan, tapi Naruto tau, gadis ini berusah untuk tegar menghadapi keadaan, walaupun ia siap untuk hancur berkeping-keping.

Bohong jika ia bilang tak ingin membantu gadis di depannya ini. Tapi tembok orang asing yang ia bangun akan sia-sia jika ia masih saja mencampuri urusan gadis malaikat di depannya ini.

"Aku hanya merindukan seseorang." Ucap gadis tersebut setengah berbisik. "Jadi aku duduk di sana untuk menghilangkan rasa rinduku, tanpa sadar bahwa sedang hujan deras. Maaf karena membuatmu khawatir."

"Tak apa, lagipula aku yang terlalu ikut campur ke dalam masalah orang lain. Aku hanya tak ingin kau merasa bersalah hanya karena aku jatuh sakit."

Senyum yang ditunjukan gadis tersebut berubah, ia bisa merasakan pancaran kehangatan dari senyum gadis tersebut. Sial, malaikat satu ini benar-benar tau bagaimana memanfaatkan wajahnya. Pikirnya dalam diam.

"Aku akan senang jika kau bisa mempertahankan senyum mu itu Gabriel-san."

Raut wajahnya berubah seketika menjadi kesal, ini adalah bukti bagi Naruto bahwa malaikat di depannya memiliki emosi, setidaknya ia bisa melihat senyum menenangkan itu sebelum pergi ke alam mimpi.

"Tolong jangan menjahiliku Uzumaki-san."

Naruto hanya tertawa pelan sebelum merebahkan dirinya di atas tempat tidurnya dan menarik selimut miliknya. Ia kemudian menutup matanya dan berusaha untuk pergi ke alam mimpi. Sebelum ia benar-benar jatuh ke alam mimpi, ia sekilas mengingat Gabriel membungkuk padanya dan mengucapkan beberapa kata sebelum ia pergi dari kamarnya.

Mengingat peristiwa hari ini, jika ia mengatakannya pada gubernur tersebut, ia pasti tak akan percaya, dan tak ada gunanya juga untuk membicarakan hal tersebut. Lagipula ia tak berniat untuk berurusan dengannya lagi.

Apa yang terjadi hari ini akan menjadi rahasia baginya dan Gabriel seorang.

Rahasia ini akan ia simpan baik-baik dalam memorinya dan akan menjadi kenangan indah baginya. Besok pagi mereka akan menjadi orang asing kembali, Naruto meyakinkan hal tersebut, sebelum ia mulai tenggelam dalam mimpi indahnya.

'Aku tak yakin akan hal tersebut.'

'Bisakah kau diam, aku sedang berusaha untuk tidur.'

'Meh.'

[…]

[…]

[…]

[…]

[…]

To Be Continued