Otonari no Tenshi-sama

Disclaimer: Masashi Kishimoto, Ichiei Ishibumi

Rated: T

Genre: Slice of Life, Romance.

Peringatan keras! Serius deh! Multi-Chap, OOC, EYD Hancur, Typo(s)

Enjoy.

[…]

[…]

[…]

[…]

Chapter 2 – Makan Malam dari Sang Tenshi.


Pagi yang cerah menyapa kota Kuoh. Mentari terlihat mulai naik dari ufuk timur. Disebuah apartemen terlihat seorang pemuda tengah tertidur dengan sangat nyenyak. Tapi kegiatannya tersebut tak berlangsung lama karena sinar mentari pagi yang berusaha masuk melalui celah kecil jendelanya.

Pemuda tersebut kemudian mulai tak nyaman akan sinar mentari yang berusaha membangunkannya, dan pada akhirnya ia pun kalah dan memilih untuk membuka kelopak matanya dan memperlihatkan safir indah tersebut kepada dunia.

"..."

Pemuda tersebut melihat keadaan sekitar, berusaha memastikan sesuatu. Ia melihat baskom dan kompres masih menempel di dahinya. Jadi kejadian semalam bukanlah mimpi, pikirnya. Ia berusaha untuk tak memikirkan hal tersebut terlebih dahulu dan memilih menuju ke arah kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

Setelah selesai melakukan kegiatan paginya pemuda tersebut terlihat menuju ke arah dapur untuk membuat sarapan, namun betapa terkejutnya ia ketika memeriksa persediaan makanannya.

"SIAL! KENAPA RAMENKU MENGHILANG SEMUA?!"

'Tidakkah kau ingat gadis malaikat tersebut sudah membuang semua persediaan ramen milikmu?'

Ia seketika terdiam, merenungi perbuatan malaikat tersebut. Ia tak terlalu fokus kemarin jadi ia hanya mengganggap hal tersebut angin lalu. Nyatanya gadis tersebut sungguh-sungguh membuang semua persediaan makanannya.

Naruto sebenarnya berniat untuk beranjak dari tempatnya sekarang dan pergi ke apartemen gadis tersebut dan memarahinya karena membuang seluruh persediaan makanannya. Tapi niatnya sirna seketika begitu mengingat perkataan gadis itu kemarin. Ia kemudian melihat ke sekitar apartemennya dan menemukan sangat banyak sampah berserakan di sana.

Ia kemudian memutuskan untuk membeli sarapan di minimarket saja. Lagipula ia bisa apa dengan persediaan di apartemen miliknya, tak ada apapun di sini. Ia kemudian beranjak dari dapur menuju ke ruang tengah untuk mengambil mantelnya yang tergeletak di atas sofa dan segera beranjak pergi dari sana.

[…]

Di dalam perjalanan Naruto hanya sibuk dengan pikirannya sendiri hingga ia tak sadar bahwa ia telah sampai di depan minimarket. Ia masuk ke dalam dan disambut dengan suara ramah kasir yang mengatakan selamat datang.

Tanpa pikir panjang ia segera menuju ke arah tempat makanan instan berada dan mengambil beberapa mie instan dari sana dan memasukkan ke keranjang belanjanya. Ia kemudian berniat untuk mengambil beberapa roti untuk sarapannya pagi ini.

Setelah dirasa cukup ia kemudian menuju ke arah meja kasih untuk membayar semua barang belanjaanya. Sang kasir terlihat memindai barang-barang belanjaan yang ia beli kemudian memasukkannya kedalam kantong plastik.

"Totalnya jadi 430 Yen Tuan." Ucap sang kasir tersebut dengan ramah.

Naruto kemudian membayar belanjaannya dan segera beranjak dari sana.

[…]

Dalam perjalan pulang ia sengaja mengambil jalan memutar karena berniat untuk memakan sarapannya sembari sekedar berjalan-jalan menghirup udara segar. Tanpa sadar kakinya membawanya ke salah satu sekolah menengah atas yang ada di kawasan Kuoh.

Awalnya ia tak sadar, tapi keramaian yang ada di depan matanya membuatnya sadar, tanpa sadar ia merasa ikut tertarik dan bergerak mendekat ke arah kerumunan tersebut. Biasanya duo Great Onee-sama ini yang akan membuat keramaian ketika mereka berangkat ke sekolah karena banyaknya kaum adam yang mengidolakan mereka.

Namun sejak berjalannya gencatan senjata antara tiga fraksi, banyak fraksi lain yang ikut mengirim perwakilan mereka ke Kuoh Gakuen. Sejak saat itu, tetangganya, Gabriel menjadi salah satu pusat perhatian di sana. Banyak murid yang mengidolakan guru cantik satu itu. Ia bahkan memiliki fansclubnya sendiri.

Naruto yang melihat hal tersebut berpikir sejenak, apa yang membuat gadis malaikat itu terlambat berangkat mengajar. Ia kemudian melirik arloji yang ia gunakan, pukul 10.45. Itu termasuk siang untuk seorang malaikat sepertinya.

'Mungkin dia tak bisa tidur karena memikirkan keadaanmu?' Ucap Kurama secara tiba-tiba.

'Oh sungguh?' Balasnya dengan nada menantang.

Dari matanya, ia menemukan Gabriel memamerkan kecantikannya yang luar biasa itu. Ia dikelilingi oleh murid yang dominan adalah laki-laki. Ia tersenyum tenang saat menanggapi mereka semua. Namun dari pandangannya ia terlihat berbeda dari Gabriel yang kemarin.

'Dia sangat populer, bukankah begitu.'

'Untuk kali ini aku setuju dengan pendapatmu.'

Ia dan Gabriel bagaikan dua insan yang berbeda dunia. Naruto tak bisa membayangkan ia dapat bersanding dengan malaikat tersebut, sekalipun ia ini kuat, tapi kesempurnaan malaikat di depannya tak dapat dikalahkan hanya dengan kekuatan semata.

Bagi Naruto, orang hebat seperti Gabriel hanya cocok bersanding dengan orang yang sepadan dengannya, dan Naruto bukanlah orangnya. Ia sadar akan berapa tak bergunanya dirinya itu, mana mungkin ia bisa berhubungan dengan seorang malaikat yang dilahirkan dengan sempurna seperti Gabriel.

Ya, Naruto sendiri tak pernah mengira ia akan terlibat lagi dengannya.

[…]

"Apa yang sedang kau makan, Uzumaki-san?"

Dan pikirannya pagi tadi hancur seketika ketika ia sedang menikmati makan malamnya di beranda apartemennya sembari melihat pemandangan malam kota Kuoh. Kenapa bisa kebetulan seperti ini sih?

Tadinya ia berniat untuk makan di luar, tapi tiba-tiba saja ia merasa malas dan malah menyeduh ramen yang ia beli tadi pagi. Tapi betapa terkejutnya ia ketika baru akan mulai memakan ramennya itu karena Naruto malah menemukan Gabriel muncul di berandanya.

Begitu gadis tersebut melihat pemuda itu baru saja akan memakan ramen miliknya ia mengernyitan dahinya. Naruto tak pernah menyangka bahwa gadis tersebut akan mendekat ke arahnya, jadi ia hanya bisa membeku di tempatnya berada sekarang.

"Ramen." Jawab pemuda itu singkat, sembari menunjukan cup ramen yang ada di tangannya.

"Tidakkah kau mendengarkan ucapanku kemarin malam?" Balas gadis tersebut dengan raut wajah yang sulit untuk ditebak.

"Bukannya kau terlalu ikut campur."

Bukannya menyerah setelah mendengar ucapan Naruto barusan, gadis tersebut malah mendelik ke arahnya dengan wajah yang garang.

"Tak ada gunanya juga menyuruhmu memasak sendiri, membersihkan apartemenmu sendiri saja kau tak bisa. Aku bahkan tak bisa membayangkan bagaimana kau bisa hidup sendirian selama ini." Ucap gadis tersebut dengan panjang lebar memberi ceramah kepada Naruto.

"Kurasa itu semua tak ada hubungannya denganmu, 'kan?"

'Hahahah...' Tawa Kurama pecah dalam pikirannya.

Kenyataan yang begitu pahit menghantam dirinya dengan sangat keras. Ia hampir saja tersedak jika saja ia tak berhati-hati saat memakan ramen miliknya.

Sebenarnya ia bisa saja bersih-bersih dengan mudah. Hanya dengan menggunakan segel tangan yang sederhana, ia bisa dengan mudah menciptakan bunshin guna membantu dirinya bersih-bersih. Tapi karena ia jarang di rumah. Jadi ia tak pernah kepikiran untuk sekedar membuang sampah. Jangankan membuang sampah, untuk memasak saja ia terlalu malas.

Naruto merasa penasaran, kenapa malaikat di depannya ini malah menjadi cerewet begini di depannya, yang ia tahu Gabriel adalah orang yang kalem serta sangat ramah, kenapa jika berhadapan dengannya malah menjadi gadis yang galak begini.

"Tunggu sebentar."

Setelah mengatakan kalimat singkat itu, gadis tersebut terlihat melenggang pergi dari beranda miliknya dan kembali masuk ke dalam apartemen miliknya. Setelah mendengar suara langkah kaki itu menghilang Naruto kembali melanjutkan kegiatan makannya yang tertunda.

Tapi ia masih penasaran, kenapa ia disuruh untuk menunggu, sebenarnya apa yang akan dilakukan gadis itu sekarang. Meskipun begitu ia tetap menunggu gadis itu dengan patuh, ia berjalan masuk ke dalam apartemen miliknya dan memilih untuk menunggu di dalam.

Baru saja ia berniat untuk duduk di sofa, ia dikejutkan oleh suara bel apartemen miliknya, ia kemudian segera berbalik dan menuju ke arah pintu masuk. Hanya ada satu pengunjung yang akan datang dan ia sudah tau siapa orang tersebut.

Naruto berjalan dengan menyeret kakinya ke arah pintu masuk karena banyaknya sampah yang menghalangi jalannya. Ia kemudian membuka pintu tersebut dan seperti yang diharapkan, di hadapannya ada sosok malaikat dengan rambut pirang pucat tengah berdiri di sana.

"Jadi... apa yang sedang kau lakukan?"

"Aku sudah tak tahan melihat gaya hidupmu. Aku membawakanmu makan malam, walaupun cuma sisa tapi setidaknya tolong diterima." Ucap gadis tersebut, dan mengulurkan tangannya ke arah Naruto.

Tangan tersebut terlihat membawa sebuah kotak kecil berisi sisa makanan miliknya. Tutup transparan tersebut terlihat beruap dan ada beberapa tetesan air yang menempel. Jadi Naruto berasumsi makanan tersebut masihlah hangat. Ia masih tak mengerti kenapa gadis ini sampai repot-repot melakukan hal ini. Gabriel yang paham tatap tersebut hanya menghela nafas lelah.

"Kau tak akan pernah makan dengan benar jika tak kuberitahu. Terlalu banyak makanan berminyak itu tak baik untuk kesehatanmu."

Hei, dia baru saja bilang makanan Dewa itu berminyak dan tak sehat 'kan, katakan kalau ini hanya mimpi. Pikirnya seperti orang gila. Sementara itu Naruto hanya bisa berpikir satu hal.

"Memang kau ini ibuku?"

"Aku tak berpikir begitu, hanya saja hal yang aku ucapkan itu normal," Ucap gadis tersebut dengan sedikit jeda, "... dan lagipula, bukankah seharusnya kau membersihkan apartemenmu? Kau bahkan kelihatan sulit untuk berdiri."

"Kau lihat, masih ada ruang yang cukup di sini." Balasnya sembari menunjuk tempatnya berdiri sekarang.

"Tidak juga, pakaian normalnya tak digunakan sebagai alas kaki."

"Itu karena aku tak sengaja menjatuhkannya."

"Itu takkan terjadi jika kau mencuci dan menaruhnya dengan benar. Setidaknya tolong buang kantong sampah yang sudah penuh itu keluar, akan merepotkan jika kau jatuh terpleset karenanya."

Nada suara gadis tersebut terdengar sangat marah tapi juga menunjukkan kekhawatirannya secara tidak langsung. Ia tahu betul Gabriel khawatir akan kehidupan pemuda itu tapi ia penasaran karena alasan apa gadis tersebut khawatir.

Naruto tak bisa berkata apa-apa lagi, ia hanya menunjukkan senyum masam sembari menerima wadah tersebut dari Gabriel. Rasa hangat perlahan menyebar dari wadah tersebut ke telapak tangannya ketika ia menerimanya.

"Jadi, aku boleh memakannya?"

"Aku akan membuangnya jika kau tak menginginkannya."

"Oke, oke, maaf aku hanya bercanda, aku akan memakannya. Serius, jarang sekali bisa mendapatkan makan malam dari seorang tenshi."

'Sial, keceplosan.'

Gabriel seketika membeku di tempat, ia tak pernah berpikir bahwa pemuda di depannya ini akan mengetahui identitas aslinya, namun ia ingin memastikan sekali lagi apakah pemuda di depannya ini benar-benar tahu bahwa ia seorang malaikat.

"Tolong jangan panggil aku dengan sebutan seperti itu."

"Tidak, habisnya kau itu sangat sempura Gabriel-san. Kau cantik, baik, ramah, pintar dengan pekerjaan rumah, bahkan murid-murid Kuoh Gakuen sangat mengidolakanmu. Bukankah kau sudah seperti malaikat?"

'Hoho... aku tak tau jika kau pandai merayu Naruto.'

'Diamlah, sialan!'

Tampaknya pikiran Gabriel salah, pemuda tersebut tak mengetahui identitas dirinya yang sebenarnya. Namun pikirannya terhenti ketika pemuda tersebut mengatakan murid Kuoh Gakuen.

"Apakah kau seorang penguntit Uzumaki-san?" Ucap Gabriel dengan wajah horor.

"Aku tak sengaja berpapasan denganmu tadi pagi dan melihatmu dikelilingi oleh murid-muridmu. Tak perlu untuk menjadi orang pintar untuk mengetahui bahwa kau itu populer. Bukankah begitu?" Balas Naruto dengan panjang lebar.

Tampaknya Gabriel benar-benar tak sadar akan popularitasnya selama ini, dan ia benar-benar merasa malu akan hal itu. Pipinya kemudian memerah dan matanya seperti siap akan menumpahkan air kapanpun ia mau. Begitu sadar akan perbuatannya, Naruto hanya bisa menghela nafas panjang.

"Maaf, aku tak akan memanggilmu begitu lagi jika kau keberatan."

Tampaknya Gabriel hanya mempermaikan pemuda itu, sesungguhnya ia hanya tak mau jati dirinya diketahui oleh pemuda tersebut, ia kemudian berdehem singkat untuk mencairkan suasana. Namun pipinya masih tetap memerah karena merasa malu.

Sebelum berniat berbalik untuk kembali ke apartemennya, ia mengatakan salam perpisahan untuk pemuda tersebut, dan ia berharap semoga pemuda tersebut mendengarkannya dengan baik kali ini.

"Ubahlah pola hidupmu, setidaknya makanlah dengan benar, oke?"

"Akan ku usahakan."

Sementara Gabriel masih menceramahinya dengan muka garang, Naruto hanya membalasnya dengan tatapan lelah. Ia kemudian membawa hadiah kecil yang diberikan tetangganya itu ke arah dapur, mengambil sumpit sekali pakai dari ramen miliknya tadi dan duduk di salah satu kursi.

Bohong jika ia bilang, ia tak penasaran dengan rasa masakan Gabriel. Sekalipun ia tahu bahwa masakannya pasti akan enak, tapi ia sungguh penasaran dengan masakannya kali ini. Dengan cemas ia membuka wadah tersebut dan aroma dari masakan tersebut mengguar di dalam apartemen miliknya.

Isinya berupa tumis kol dengan tambahan daging sapi, terlihat sederhana tapi Naruto benar-benar penasaran akan rasanya. Ia kemudian dengan cepat menyambar masakan milik gadis tersebut.

"Sial! Aku butuh nasi."

Pemuda berteriak dan berdiri dari tempat duduknya dan menuju ke arah penanak nasi yang kosong, meskipun ia tahu isinya kosong, ia tetap membukanya dan melihat ke dalam. Tak mendapat apa yang ia cari, ia kemudian beranjak kembali ke arah tempat duduknya tadi dan memilih makan dengan tenang.

Ibunya pernah berpesan untuk makan sayur dan baru kali ini ia melakukannya dengan suka cita. Tak pernah sekalipun ia menikmati memakan makanan berwarna hijau dengan rasa yang menurutnya pahit itu.

Ia kemudian mengarahkan sumpitnya ke arah daging sapi yang ada di sana, dan rasa yang ia dapat langsung memanjakan lidahnya. Seperti yang diharapkan dari Gabriel. Bumbu yang yang ia gunakan tidaklah terlalu berat, tapi kaya akan umami. Ini bukanlah rasa dari penyedap rasa yang kerap ia temui di supermarket, ini adalah rasa dari masakan rumahan yang penuh akan kehangatan. Naruto perlahan-lahan mengunyahnya, menikmati rasa dari setiap suapan yang masuk dan menyebar di dalam mulutnya.

"Malaikat itu memang sangat hebat."

Naruto merasa merinding sendiri memikirkan kemampuan gadis tersebut. Ia bisa melalukan segala hal namun tak menyadarinya sama sekali, sembari terus menikmati cita rasa nikmat dari makanan yang diberikan Gabriel padanya

[…]

Terlihat seorang pemuda berdiri di depan seorang gadis sembari membawa sebuah wadah di kedua tangannya. Keduanya dipisahkan oleh pintu apartemen milik gadis tersbut. Tanpa banyak bicara pemuda tersebut kemudian mengembalikan wadah tersebut kepada pemilik aslinya.

"Terima kasih atas makan malamnya kemarin, rasanya benar-benar enak."

Gadis itu meliriknya dengan senyum meremehkan yang menyiratkan, 'Ternyata kau bisa mencuci juga ternyata.'

Naruto yang mengerti maksud dari gadis tersebut hanya bisa tersenyum kecut. Ia memang buruk dalam hal beres-beres atau lebih tepatnya ia terlalu malas untuk melakukan hal tersebut. Tapi ia juga memiliki tata krama, bagaimanapun ia tak mungkin mengembalikan wadah tersebut dalam keadaan kotor, itu bisa menyakiti harga diri miliknya.

"Sama-sama, dan ini untukmu."

Gadis tersebut kemudian menerima wadah tersebut dan kemudian menyerahkan kembali wadah lain kepada pemuda tersebut. Naruto yang bingung hanya menerima wadah tersebut dengan pikiran kosong, tapi sebelum ia sempat bertanya kembali gadis tersebut sudah terlebih dahulu berbicara.

"Ini makan malam untuk hari ini."

"Aku tau, tapi untuk apa?"

"Apakah kau tak menyukainya? Aku akan membuangnya jika kau tak menyukainya."

"Tidak juga, tapi jika aku terus menerima makanan darimu itu bisa memberi kesan pada orang lain bahwa kau menyukai mereka, tau?"

"Apakah kau berpikir seperti itu?"

"Tidak juga."

Sorot mata Gabriel seolah berkata bahwa ia itu bodoh secara tidak langsung dan itu membuat hatinya serasa seperti dicubit.

"Itu sisa makan malam hari ini, aku membuatnya terlalu banyak. Jadi aku akan merasa senang jika kau mau menerimanya."

Naruto merasa berterima kasih terhadap gadis ini, mengingat pola makannya yang tak teratur. Ia sebenarnya agak takut jika seseorang melihatnya sekarang, ia tak mau menodai popularitas milik gadis ini. Tapi mengingat lokasi apartemen ini ia bisa merasa sedikit lega. Untuk sekarang ia akan menerima makan malam dari Gabriel dan menikmatinya.

"Terima kasih banyak kalau begitu."

Tepat setelah mengatakan rasa terima kasihnya, gadis tersebut hanya membalas ucapan Naruto dengan anggukan dan masuk kembali ke dalam apartemen miliknya. Sekarang di telapak tangannya ada makan malam yang enak menanti untuk dinikmati, sembari berjalan masuk ke dalam apartemen miliknya dan menuju ke arah dapur ia merasa melupakan sesuatu tapi tak dapat mengingatnya, hingga akhirnya ia memilih duduk dan menikmati makan malam tersebut, sampai pada akhirnya...

"Sial! kenapa aku lupa lagi untuk memasak nasi."

Saat mengatakan itu, ia melihat ke arah makan malamnya yang sudah hampir habis, ia kemudian hanya bisa mendesah lelah. Makan malamnya kali ini adalah salad yang ditemani dengan karaage. Ia tak perlu mendeskripsikan bagaimana rasanya, semua aspek dari masakan gadis itu benar-benar sempurna.

[…]

Setiap sore ia akan menuju ke apartemen gadis itu dan mengembalikan wadah yang dipinjamkan gadis itu padanya dan menukarnya dengan makan malam yang bernutrisi. Awalnya ia menolak pemberian gadis tersebut. Tapi gadis tersebut memaksa dengan wajah garang yang menakutkan menurutnya jadi ia hanya menurut saja.

Masakan Gabriel terlalu istimewa, jadi sejak saat itu ia selalu menyiapkan setidaknya nasi setiap makan malam untuk dimakan bersama lauk yang diberikan Gabriel padanya. Kegiatan makan malam yang awalnya hanya rutinitas wajib yang ia lakukan berubah menjadi kegiatan yang paling ia nantikan.

Kurama pasti akan tertawa jika ia mengatakan hal itu secara langsung, maksudku, hei. Kau itu seorang veteran perang, dan kau dikalahkan hanya dengan sekotak kecil lauk sisa yang diberikan seorang gadis padamu setiap malam. Naruto malu mengakuinya tapi ia sudah menjadi tahanan wajib seorang malaikat bernama Gabriel sekarang.

'Bukankah kau terlihat begitu bersemangat akhir-akhir ini?'

Tentu saja, mana mungkin ia tak bersemangat. Bisa makan malam dengan enak seperti ini setiap malam membuatnya benar-benar bersemangat. Hal itu juga sangat berpengaruh untuk tubuhnya, ia merasa lebih sehat dari sebelumnya. Mungkin karena pola makan serta gizi miliknya terpenuhi membuatnya merasa sangat segar dibanding sebelumnnya.

Ia berterima kasih terhadap Gabriel karena sudah memperbaiki gaya hidupnya tapi disaat bersamaan ia juga berpikir, bukankah gadis ini terlalu ikut campur dalam kehidupannya?

[…]

[…]

[…]

[…]

[…]

To Be Continued