'Gadis itu akan membunuhmu jika ia melihatmu makan ramen lagi.'

'Sesial itukah diriku sampai bertemu dengannya di tempat seperti ini?'

'Dia bisa berada di mana saja.'

'Diamlah, dan biarkan aku menghabiskan makanan Dewa ini terlebih dahulu.'

[…]

[…]

[…]

[…]

[…]

[…]

[…]

[…]

Otonari no Tenshi-sama

Disclaimer: Masashi Kishimoto, Ichiei Ishibumi

Rated: T

Genre: Slice of Life, Romance.

Peringatan keras! Serius deh! Multi-Chap, OOC, EYD Hancur, Typo(s)

Enjoy.

[…]

[…]

[…]

[…]

Chapter 3 – Pertemuan tak terduga.


""Ah.""

Sepertinya takdir sangat senang sekali mempermainkan dirinya. Tepat setelah ia keluar dari kedai ramen itu, pandangan matanya tak sengaja bertemu dengan Gabriel yang juga berjalan membawa kantong belanja di kedua tangannya. Sepertinya gadis tersebut baru saja selesai berbelanja.

"Ini tak seperti yang kau pikirkan." Ucap Naruto.

"Lalu apa yang kau lakukan di sana, jika tidak untuk makan?" Balas Gabriel dengan nada menyelidik.

Naruto yang tak mau terlalu lama berdebat dengan gadis di depannya ini, segera berjalan mendekat ke arahnya dan mengambil belanjaan gadis tersebut dari kedua tangannya. Tindakan Naruto tersebut membuat gadis itu berkedip sebelum kemudian berbicara.

"Kau tak perlu membantuku membawanya. Setidaknya aku cukup kuat untuk membawa belanjaan tersebut sendirian." Ucapnya dengan pelan.

Meski ia tahu bahwa gadis di depannya lebih dari kata kuat untuk membawa belanjaan itu, tapi ia memilih untuk tetap melakukannya, setidaknya itu lebih baik daripada berdebat dengannya.

"Aku tak mengkhawatirkan itu, hanya saja kau akan terlihat lebih manis jika menerima bantuanku."

"Itu terdengar seperti aku ini tak manis saja."

"Setidaknya denganku, kau itu benar-benar garang. Sangat berbeda dengan Gabriel yang sering kulihat biasanya."

Gadis itu mungkin tersadar akan sikapnya selama ini kepada pemuda tersebut. Ia terdiam membeku di tempatnya berdiri sekarang. Semua orang pasti setuju jika Gabriel itu sangat baik, ramah dan juga rendah hati. Bagaimanapun juga gadis di depannya ini adalah seorang malaikat.

Tepatnya, walaupun gadis ini memperlakukannya dengan sangat baik, tapi ia selalu bertingkah blak-blakan terhadapnya. Ia tak pernah bertingkah sopan dan selalu mengatakan isi hatinya dengan terang-terangan.

Namun baginya itu jauh lebih baik daripada berbohong, bagaimanapun juga ia bisa tahu ketika seseorang sedang berbohong kepadanya. Saat gadis itu masih membeku di tempatnya berdiri, Naruto segera bergegas berjalan terlebih dahulu, meninggalkan gadis tersebut sendirian.

Tampaknya gadis tersebut sadar dan segera bergegas menyusul Naruto. Langkah kakinya terdengar tergesa-gesa. Naruto tak berniat untuk memperlambat langkah kaki miliknya, ia tak mau berjalan berdampingan dengan gadis tersebut dan membuat situasi semakin runyam jika ada yang melihat mereka.

Jadi Naruto berpura-pura berjalan lebih dulu di depan dan Gabriel yang mengekor di belakangnya.

"Terima kasih."

Ia dapat mendengar gadis tersebut berbisik dengan lembut dari arah belakangnya.

[…]

Sejak ia tiba di dunia ini, ia menjadi seorang pekerja keras. Ia bahkan lebih mirip dengan seekor anjing peliharaan daripada seorang manusia. Ia bahkan lupa bagaimana untuk mengatur pola hidupnya. Apartemen yang menjadi tempat tinggalnya hanya menjadi tempat persinggahan sementara sebelum ia pergi untuk melanjutkan kembali pekerjaannya.

Jadi ia tak pernah sekalipun melakukan pekerjaan rumah. Ia sangat pandai dalam hal memasak, jika konteks yang kita bicarakan di sini adalah memasak ramen. Ia juga sangat pandai dalam mencuci pakaian, hanya tinggal membawa pakaian kotor tersebut ke toko laundry yang ada di lantai dasar apartemennya.

Namun, jika urusan bersih-bersih ia benar-benar malas untuk melakukannya. Lagi pula untuk apa ia membersihkan tempat ini jika ia jarang berada di sini?

'Tempat ini benar-benar mirip dengan tempat sampah.'

Bahkan Kurama pun setuju dengan ucapan Gabriel tentang betapa kotornya tempat ini. Naruto tau ini adalah salahnya karena terlalu malas. Tapi ia tak pernah berpikir akan menjadi sekotor ini.

Untuk sekarang ia berpikir untuk membersihkan tempat ini terlebih dahulu, ia tak mau lagi diceramahi oleh gadis itu. Ia kemudian membuat segel tangan sederhana untuk membuat bunshin guna membantunya untuk bersih-bersih.

*POOF*

Tepat setelah bunshin miliknya muncul, ia dikejutkan dengan suara bel pintu apartemennya. Ia kemudian segera bergegas menghilangkan bunshin miliknya karena merasakan hawa malaikat dari arah depan dan berlari menuju ke arah pintu masuk.

"Maaf jika mengganggu mu, aku kemari untuk mengambil kotak makan kemarin... apa yang sedang kau lakukan?"

"Bersih-bersih."

Gabriel menatapnya dengan pandangan curiga, apakah pemuda di depannya ini sungguh bisa melakukan kegiatan bersih-bersih sendirian?

"Aku mendengar suara keras tadi, apa itu perbuatanmu?"

"Aku terpeleset tadi."

Ia tak mungkin mengatakan itu adalah suara bunshin yang baru saja menghilang.

"Sudah kuduga."

Naruto sangat tak ingin untuk berdebat kali ini, bahkan tidak berniat untuk berdebat lagi dengan gadis ini. Ia tak berniat berlama-lama berbicara dengan gadis itu jadi ia segera menyerahkan wadah yang ia pinjam kepada gadis itu.

Tepat setelah ia menyerahkan wadah terakhir tersebut, Naruto membeku di tempat dan mengikuti arah pandangan gadis itu. Pandangan mata gadis itu seperti menyiratkan kehancuran, tampaknya gadis itu melihatnya melalui pintu masuk yang terbuka cukup lebar.

"Tolong izinkan aku membersihkan tempat ini."

"Ap-"

"Aku sudah tak tahan melihat tempat ini, rasanya sangat menjijikan memiliki tetangga yang punya apartemen seperti tempat sampah seperti ini."

Belum sempat Naruto membalas, perkataannya sudah dipotong terlebih dahulu oleh gadis itu. Kata-katanya selalu pedas seperti biasa. Sangat berbeda dengan Gabriel yang dikenal oleh orang lain. Lagi pula, dia mengatakan yang sesungguhnya, dan Naruto tak berniat menyangkal hal tersebut. Mungkin sekarang Kurama tengah tertawa terbahak-bahak di alam bawah sadar miliknya.

"Aku tak habis pikir bagaimana kau bisa hidup sendiri dengan keadaan seperti ini. Setidaknya renungilah sedikit bagaimana pola hidupmu sekarang, jangan hanya berpikir kau akan terbiasa dengan keadaan seperti ini."

Naruto tak mampu membalas dan hanya diam membeku.

Ia sudah sering dimarahi oleh penduduk desa dulu, tapi itu berbeda. Dulu ia sengaja berbuat onar hanya untuk menarik perhatian orang. Ia adalah yatim piatu sejak lahir. Jadi ia tak pernah merasakan apa yang dinamakan kasih sayang dan perhatian.

Sekarang berbeda, ia dimarahi karena gaya hidupnya yang buruk dan berantakan. Rasanya sangat berbeda dari apa yang pernah ia rasakan sebelumnya. Ia memang tak berniat menarik perhatian gadis ini, salahkan saja takdir yang terus menerus mempertemukan mereka di situasi seperti ini.

"Dan lagi, hal seperti ini tak akan terjadi jika kau rajin membuang semua sampah milikmu."

Jika yang mengatakan hal tersebut adalah orang lain, maka Naruto pasti akan marah. Tapi gadis ini berbeda, ia telah merawatnya, bahkan rela memberikan makan malamnya setiap hari demi pemuda ini. Jadi Naruto tak berani untuk melawannya. Gadis ini benar-benar mampu menebak tingkah lakunya dulu.

"Bolehkah aku memintamu melalukan itu."

Naruto berucap dengan nada takut, sekalipun gadis itu menawarkan bantuan. Ia tetap merasa sungkan untuk meminta bantuannya.

"Tentu saja, karena akulah yang menawarkanmu untuk membersihkan tempat ini, dan lalu sebaiknya kau menyimpan barang-barang pribadimu di tempat yang aman, yang sekiranya tidak ingin dilihat oleh orang lain."

"Kau tenang saja, tak ada barang berharga di dalam sini."

Kadang Naruto berpikir, bagaimana malaikat ini bisa sangat galak tapi disaat bersamaan juga begitu perhatian kepadanya.

"Tidakkah kau merasa khawatir." Gadis itu bertanya dengan nada penasaran.

"Untuk apa?"

"Bukan, maksudku itu... apa kau tak merasa khawatir aku melihat majalah..."

"Majalah? Maksudmu majalah dewasa?"

"Yah kau tau sendiri."

"Aku terlalu sibuk untuk bisa sekedar bersantai, jadi kau tak perlu khawatir akan hal seperti itu."

"Jika kau bilang seperti itu maka aku akan bersiap-siap terlebih dahulu."

Gabriel kemudian tersenyum lega dan kembali ke apartemen miliknya. Tak lama kemudian ia kembali dengan pakaian berbeda, ia datang dengan kaos berlengan pendek dan celana panjang berwarna hitam.

Rambut pirangnya diikat pony tail, memperlihatkan leher putih miliknya. Naruto yang melihat itu hanya bisa meneguk ludah akibatnya. Pesona malaikat di depannya ini memang tiada tanding.

Biasanya gadis ini akan menggunakan one piece ataupun rok, yang menunjukkan sisi feminimnya. Tapi sekarang ia terlihat sangat berbeda dengan Gabriel yang biasa ia lihat. Apapun yang dipakai gadis ini benar-benar cocok dengannya.

"Kita akan membersihkan apartemen ini hingga ke sudut terkecil, jadi persiapkan dirimu, oke?"

"Oke."

"Bagus, sebaiknya kita segera bergegas. Aku tak akan menahan diri lagi, dan aku tak akan membiarkanmu mengeluh."

Naruto hanya bisa mengangguk patuh dan segera memulai kegiatan bersih-bersih tersebut.

"Pertama kita akan memindahkan semua barang yang mengganggu seperti pakaian dan sampah yang berserakan di lantai, jika tidak kita tak akan bisa membersihkan lantainya. Kau bisa mulai dengan memilah pakaian milikmu sementara aku akan mengurus sampah yang masih berserakan."

"Siap."

"Lalu untuk majalah dan buku-buku yang sudah tak kau gunakan bisa kau ikat dan taruh di sudut ruangan. Kita akan urus itu bersama dengan sampah-sampah ini."

Gabriel dengan telaten mulai memilah berbagai macam sampah yang ia temui, sementara Naruto mengumpulkan pakaian yang ia buang sembarangan di keranjang cucian yang ia bawa.

"Jika kau sudah selesai, tolong ke sini sebentar dan bantu aku memilah barang-barang ini. Mana yang masih kau butuhkan dan tidak. Agar kita bisa membuang yang tidak kau butuhkan lagi."

"Baik."

"Jika kau ingin mengeluh, katakan saja."

"Tidak, bukan itu maksudku. Hanya saja kau benar-benar cekatan dalam melakukan pekerjaan seperti ini."

"Aku tak punya waktu untuk mendengar pujianmu itu, sebaiknya kau segera kemari."

Naruto segera bergegas ke arah Gabriel dan membantu gadis itu untuk memilah barang-barang yang masih sekiranya ia butuhkan.

Meskipun sekarang adalah akhir pekan, tapi waktu yang dimiliki gadis ini pastilah sangat terbatas. Mau membantunya membersihkan apartemen ini benar-benar membuatnya bersyukur. Naruto harus meminta maaf karena sudah merepotkan gadis ini tapi ia juga harus berterima kasih kepadanya karena membuatnya bisa berjalan dengan mudah sekarang.

Secara harfiah ini adalah apartemennya dan yang bertanggung jawab akan kebersihannya adalah dirinya sendiri. Tapi gadis ini membersihkannya secara menyeluruh tanpa meninggalkan sisa sedikitpun. Dia benar-benar seperti ibu rumah tangga sungguhan. Sangat baik dan juga ramah terhadap orang lain, tapi juga sangat tegas disaat bersamaan.

'Sudah kubilang, dia sangat cocok menjadi istrimu.'

'Cocok dari mananya coba?'

'Orang tak berguna sepertimu dirawat oleh seorang malaikat. Aku yakin Kushina akan senang mendengarnya.'

'Jangan bawa-bawa ibuku juga bola bulu sialan!'

Sebelum Kurama sempat membalas, ia sudah lebih dulu memutus komunikasi mereka.

Pandangan Naruto kemudian beralih kembali ke arah Gabriel yang terlihat agak tergesa-gesa, Naruto berniat untuk memperingatinya untuk berhati-hati namun apa daya nasi sudah menjadi bubur. Ia melihat gadis itu tak sengaja menginjak kaos miliknya.

Tanpa sadar gadis itu meluncur ke bawah karena efek gravitasi karena kehilangan keseimbangan. Naruto yang melihat hal itu segera saja melompat ke arah Gabriel dan berusaha menangkap gadis itu.

Detik berikutnya yang ia rasakan adalah sensasi lembut dan aroma wangi bunga bersamaan dengan debu yang berterbangan di sekitarnya. Punggungnya terasa sakit karena berbenturan dengan kerasnya lantai apartemen, namun ia bersyukur bisa menyelamatkan gadis itu karena merasakan Gabriel tengah menindih dirinya.

'Kamera, mana kamera!'

Naruto merasa kesal karena dipermainkan oleh patnernya ini.

"Kau baik-baik saja?"

Gabriel tampak terkejut tapi juga tak marah akan perbuatannya. Tapi dari sorot matanya ia punya banyak pertanyaan yang ingin ia sampaikan.

"Maaf karena membuatmu terpeleset." Ucap Naruto singkat.

Naruto tau Gabriel jatuh karena perbuatannya juga, jika ia tak sembarangan menaruh kaos itu. Maka gadis ini tak akan terpeleset jatuh.

"Seharusnya aku yang minta maaf, kau baik-baik saja? Apa kau terluka?"

"Tidak, aku baik-baik saja."

Sementara Kurama berusaha mengabadikan momen tadi, Naruto malah sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia tak dapat memaafkan dirinya sendiri karena membuat gadis ini hampir terluka karena membantunya.

Ia sudah cukup baik karena mau membuatkannya makan malam dan sekarang malah membantunya bersih-bersih. Ia merasa benar-benar bersalah sekarang.

"Ka-kau tak perlu menyesal begitu, aku terpeleset karena kesalahanku, dan lagi aku tak akan marah karena hal kecil seperti itu."

Gabriel terlihat panik ketika Naruto menatapnya dengan pandangan menyesal. Ia semakin panik ketika Gabriel dapat melihat ke dalam mata berwarna biru samudra itu dari dekat. Matanya terlihat melirik kiri dan kanan, ia merasa sangat sulit untuk menenangkan detak jantungnya sekarang.

Jika Jiraiya melihatnya keadaannya sekarang, maka ia tak akan heran. Bagaimanapun juga muridnya ini benar-benar memiliki hoki tingkat tinggi jika berhubungan dengan wanita. Tapi dari sekian banyak wanita yang pernah berhubungan dengannya, tak ada satupun yang mampu membuat jantungnya berdetak lebih cepat kecuali gadis di depannya ini.

Gabriel masih belum sadar akan posisi mereka saat ini, jadi Naruto memutuskan untuk meraih bahunya dengan lembut, memperlebar jarak di antara keduanya, dan segera berdiri dari sana.

"Kita lanjutkan?"

"Tentu."

Tampaknya Naruto tak menyadari bahwa Gabriel tengah malu ketika gadis itu memegang tangannya ketika berusaha berdiri. Naruto berpikir bahwa gadis seperti Gabriel ini tak akan mudah malu hanya karena melakukan kontak fisik dengan laki-laki karena ia sering melihat gadis itu berinteraksi dengan murid-muridnya atau lebih tepatnya penggemarnya yang dominan laki-laki.

Walaupun terasa merepotkan, ia merasa beruntung hari ini. Karena kegiatan bersih-bersih yang merepotkan ini menjadi sedikit menyenangkan berkat adanya Gabriel yang membantunya.

Lama-kelamaan ia sudah seperti si Rusa pemalas yang selalu mengakhiri setiap ucapannya dengan kata merepotkan.

[…]

[…]

[…]

[…]

[…]

To Be Continued