"Ahh... akhirnya selesai juga."

"Maaf karena menyita banyak waktumu."

Mereka pada akhirnya menghabiskan waktu seharian untuk membersihkan apartemen miliknya.

"Karena tempat ini terlalu berantakan."

"Semua ini berkatmu, terima kasih banyak."

Naruto tak menyangkalnya sedikitpun, sekalipun ia melakukannya sendiri, hasilnya pasti tak akan sebersih sekarang.

Gabriel hanya menghela nafas karena menghabiskan hari liburnya yang berharga untuk hal seperti ini, tapi ia juga tak menyesal melakukannya. Pada dasarnya ia memang suka membantu orang lain. Mungkin karena sifat dasar malaikat memang seperti itu, tapi entah kenapa ia merasa berbeda jika berada di dekat pemuda ini. Ia merasa lebih dapat mengekspresikan dirinya, dibandingkan ketika berinteraksi dengan orang lain.

Naruto sebenarnya merasa sangat lapar sekarang, tapi ia bukan orang yang tak tahu malu seperti itu, yang akan meminta makan malam pada Gabriel sekarang. Kesampingkan masalah itu, ia berniat untuk mentraktir gadis itu makan malam. Lagi pula gadis itu sudah membantunya dengan sukarela, bayaran sekecil ini tak akan ada apa-apanya dibanding bantuan yang gadis itu berikan padanya.

[…]

[…]

[…]

[…]

[…]

[…]

[…]

[…]

Otonari no Tenshi-sama

Disclaimer: Masashi Kishimoto, Ichiei Ishibumi

Rated: T

Genre: Slice of Life, Romance.

Peringatan keras! Serius deh! Multi-Chap, OOC, EYD Hancur, Typo(s)

Enjoy.

[…]

[…]

[…]

[…]

Chapter 4 – Makan malam bersama.


"Apakah kau punya waktu setelah ini? Jika tidak, maka ayo kita makan di luar. Biar aku yang mentraktirmu hari ini, sebagai bayaran atas kerja kerasmu."

"Eh..."

"Jika kau sibuk, kau dapat memesan apapun yang kau inginkan."

Ia tak akan memaksa gadis itu untuk makan malam bersama dengannya, lagi pula mungkin gadis itu merasa risih ketika makan malam bersama dengannya. Ia sebenarnya tak berniat untuk makan malam bersama, hanya berniat membalas kebaikan gadis itu, tapi ia merasa terlalu membosankan untuk makan malam sendirian, sekali-kali tak ada salahnya kan?

"Tidak, bukan itu. Aku hanya bingung kau akan mengajakku ke mana?"

"Itu tak penting, jadi kau punya waktu atau tidak?"

"Tentu, dengan senang hati."

"Bagus kalau begitu."

Dalam pikiran Naruto sekarang ia tengah tersenyum senang, akhirnya ia punya kesempatan untuk mengajak gadis tersebut. Ia hanya berharap setelah makan malam dari sana, pikiran gadis ini dapat sedikit berubah tentangnya.

[…]

'Sungguh? Dari sekian banyak tempat kencan yang ada, kau memilih tempat ini?'

'Hei, ini kesempatan yang bagus untuk menghukumnya karena menghina makanan Dewa, kau tau?"

'Jangan salahkan aku, jika gadis itu jadi membencimu.'

"Ramen?" Ucap gadis itu dengan nada bertanya.

Ya, Naruto membawa gadis itu ke kedai ramen langganan miliknya. Tentu saja alasannya hanya satu, untuk melakukan balas dendam.

"Jika kau tidak suka, kita bisa pergi ke tempat lain."

"Tidak. Sebenarnya aku sedikit penasaran dengan rasanya. Kenapa begitu banyak orang yang menyukai makanan berlemak itu."

"Baguslah, kalau begitu ayo kita masuk."

Mereka berduapun kemudian berjalan masuk ke arah kedai itu. Kedai itu merupakan langganan Naruto, ia sering berkunjung ke sini untuk makan. Yah tipikal seorang Naruto yang sangat menyukai ramen.

"Woah, bukankah itu Naruto? Hei, hei. Kemarin kau datang sendiri dan sekarang kau sudah berani membawa pacarmu kemari. Pak tua ini merasa sangat bangga, kau tau?"

"Kau bisa saja Jii-san, nona ini bukan pacarku."

Gabriel hanya bisa mengalihkan pandangannya, entah kenapa ia merasa malu dan lebih memilih untuk mengalihkan pandangannya ke arah samping dan mengikuti pemuda itu untuk duduk.

Pemuda tersebut terlihat berbincang-bincang dengan si pemilik kedai, sedangkan Gabriel sibuk membaca menu yang tersedia di atas meja.

"Jadi kau mau pesan apa?" Tanya Naruto.

"Miso ramen." Balasnya singkat

"Jii-san! Satu ramen spesial dan satu miso ramen."

"Segera datang!" Teriak si pemilik sekaligus koki itu.

Tak lama berselang pesanan mereka berduapun akhirnya tiba. Gabriel sedikit terkejut dengan porsi ramen milik Naruto yang terlihat begitu banyak dan begitu berlemak. Ini bukan masalah sebenarnya bagi Gabriel jika pemuda itu menyukai makanan seperti ini. Tapi jika ia mengkonsumsi makanan seperti ini setiap hari, maka itu juga akan berdampak buruk bagi tubuhnya.

Sekilas ia berpikir untuk memasak ramen untuk makan malam. Tentu saja versi yang lebih sehat dari yang dimakan pemuda ini sekarang.

"Apa ada masalah?"

"Tidak, bukan apa-apa."

"Kalau begitu, ayo kita makan sebelum mie-nya mengembang."

"Ya."

""Ittadakimasu.""

Naruto makan dengan lahap, seperti bukan masalah besar baginya. Sedangkan Gabriel, ia makan dengan sangat elegan. Naruto yang melihat itu hanya bisa menggeleng singkat. Bahkan makanan sederhana seperti ini bisa terlihat mewah hanya dengan melihat bagaimana cara gadis itu memakannya.

"Ahh~ benar-benar nikmat."

Gabriel tanpa sadar menoleh ke arah pemuda tersebut dan berakhir membeku. Ia hanya mengalihkan pandangannya sebentar dan pemuda itu sudah menghabiskan ramen miliknya. Monster macam apa dia itu sebenarnya?

Baru saja ia akan berniat untuk memesan porsi tambahan, gadis itu menghentikannya. Hei, gadis itu baru saja melarangnya untuk makan ramen, 'kan? Katakan kalau ini hanya mimpi. Gadis itu kemudian mengambil ramen miliknya dengan sumpit yang ada di tangannya dan mengarahkannya pada pemudia itu.

"Jika kau sebegitu laparnya, kau bisa membantuku untuk menghabiskannya. Buka mulutmu~"

Tak disangka, akan ada event seperti ini, Naruto hanya bisa terpaku di tempatnya berada sekarang. Ia sebenarnya berniat untuk balas dendam, tapi nyatanya gadis ini yang melakukan counter kepadanya. Sial, seharusnya dia memperhitungkan hal ini juga.

"Cepatlah, aku tak bisa menahan ini lebih lama lagi." Keluh gadis itu dengan nada memaksa.

Naruto hanya bisa menuruti permintaan gadis itu, dan memakannya dengan perlahan. Hei, rasanya tidak buruk juga ternyata.

Sang koki yang melihat hal tersebut dari arah dapur, hanya tersenyum misterius ke arahnya. Naruto yang merasakan itu hanya bisa tersenyum masam. Hal seperti ini benar-benar tidak bagus untuk kesehatan jantungnya.

Untung saja kedai dalam keadaan sepi, jadi tak ada seorang pun yang melihat mereka melakukan adegan pasangan kekasih itu, selain sang koki itu sendiri.

'Hoho, gadis ini semakin berani rupanya.'

'Kau butuh kamera, Kurama?'

'Tidak, terima kasih.'

"Terima kasih, rasanya benar-benar enak."

"Begitu rupanya, fufu~"

Meskipun pipi gadis itu terlihat memerah, tapi senyum indah itu tak pernah luntur dari wajah cantiknya. Sebaliknya, justru Naruto yang merasa gelisah sekarang. Naruto mencoba untuk minum, guna menenangkan dirinya sendiri.

"Terima kasih atas makanannya."

Naruto yang melihat itu tersenyum senang tanpa sadar. Ia tak menyangka bahwa gadis ini mau menerima ajakan makan malamnya. Sejak saat itu dan mungkin seterusnya ia akan merasakan bahwa makan sendiri itu membosankan.

Ia tak pernah memiliki teman untuk sekedar mengobrol ketika makan. Ia terus sibuk dengan pekerjaannya selama ini. Tak jarang ia makan saat melakukan pekerjaan, hal itu membuatnya sedikit bernostalgia karenanya.

Gadis ini sungguh mengubah kehidupannya, memberi warna dalam kehidupan membosankan yang ia lakukan selama ini. Walaupun Naruto tak pernah mengharapkannya, tapi ia merasa bersyukur untuk pertama kalinya, karena takdir mempertemukan mereka dan untuk pertama kalinya juga, ia berusaha untuk menerima takdir yang diberikan Tuhan kepadanya dan tak mencoba mengubahnya sedikitpun.

[…]

Sejak kejadian tempo hari, dinding antara keduanya mulai terkikis secara perlahan tanpa sadar. Tapi ia tetap bertingkah seperti orang asing, ketika bertemu dengan Gabriel di luar.

Setelah kejadian bersih-bersih tempo hari, ia diceramahi habis-habisan oleh gadis itu untuk menjaga kebersihan apartemen miliknya. Gadis itu memang garang, tapi ia tahu betul bagaimana caranya merawat orang lain, dan berkat itu pula, apartemennya selalu bersih sejak saat itu. Oh, tentu saja dengan menggunakan bantuan bunshin miliknya.

Setidaknya ia mulai mengubah kebiasaanya, yang tadinya melempar sampah sembarangan, menaruh pakaian bekas disembarang tempat. Sekarang menjadi lebih teratur. Sebenarnya ini juga berkat Kurama yang selalu mengingatkannya, tapi tak pernah digubris sekalipun olehnya. Namun semua itu berubah ketika gadis itu datang ke dalam kehidupannya.

Saat ia tengah asik dengan pikirannya sendiri, bel pintu apartemen miliknya berbunyi, menariknya dengan paksa dari hayalannya.

"Hm...?"

Ia kemudian beranjak dari sofa tempat ia tadi duduk dan menuju ke arah pintu depan. Naruto membuka pintu tanpa memeriksa terlebih dahulu. Tanpa perlu menggunakan kemampuannya pun ia sudah mengetahui siapa yang datang berkunjung.

Seperti yang sudah ia duga, gadis itu datang berkunjung. Gabriel saat ini sedang berdiri di depan pintu sembari membawa sesuatu di tangannya. Seperti biasa, gadis itu membawakannya makan malam, ia kemudian menyerahkan makanan yang ia bawa tersebut kepada pemuda itu.

Sepertinya gadis itu sudah mempersiapkan ini sejak tadi, ia bisa merasakannya, walaupun tidak hangat lagi, tapi bisa makan malam buatan Gabriel saja ia sudah sangat bersyukur. Ia tak tau apa yang ada di dalamnya, tapi kemungkinan adalah makanan berkuah. Ia bisa merasakan cairan di dalam wadah tersebut dari telapak tangannya.

"Terima kasih banyak atas perhatianmu, maaf karena aku tak bisa mengucapkannya dengan benar."

"Aku tak melakukannya karena rasa terima kasih mu. Tapi syukurlah kau mau mendengarkanku kali ini, berkat itu tempat ini menjadi lebih baik."

Naruto hanya bisa tersenyum masam karena ucapan gadis itu. Dari tatapan matanya yang tajam Naruto bisa merasakan bahwa gadis itu benar-benar merasa tak nyaman karena ucapannya.

"Maaf."

Hanya balasan singkat itu yang mampu ia keluarkan. Bagaimanapun juga, Naruto benar-benar tak bisa meremehkan gadis ini. Ia bersedia merawatnya tanpa balasan apapun, jika saja ia tahu bahwa gadis ini hanya bersandiwara selama ini, maka ia tak akan segan-segan untuk membunuhnya. Maaf, seharusnya ia tak berpikiran sekeji itu kepada penyelamatnya. Ah, Ibunya pasti akan menghajarnya jika ia tau anak semata wayangnya meragukan kebaikan orang lain.

"Keberatan jika aku bertanya sesuatu?"

"Dan apa itu?"

"Apa kau merencanakan sesuatu dengan memasak untukku setiap hari?"

Akhirnya ia mengatakannya juga. Ia sangat penasaran selama ini tentang apa yang dipikirkan gadis itu. Gadis itu tak pernah berbohong ketika ia mengatakan bahwa ia melakukan hal itu dengan suka rela tanpa mengharapkan rasa terima kasih miliknya. Tapi rasa penasaran miliknya kali ini mengalahkan semuanya.

Maksudku hei, tenaga yang dikeluarkan gadis ini terlalu mahal, bahkan ia yakin tak akan mampu untuk membayarnya, dan bisa menikmati makanan gratis dari gadis ini adalah sebuah berkah baginya. Tapi jika ia tak menanyakannya, rasa ingin tahunya akan semakin tumbuh dan menjadi-jadi.

Gadis itu hanya menoleh sebelum membalas dengan singkat. "Entahlah, tapi aku merasa puas ketika melakukannya."

"Kau pasti merasa bingung, tapi disatu sisi itu memudahkanku untuk memasak untuk dua porsi dibandingkan dengan cuma satu."

"Jadi pada intinya kau hanya suka memasak?"

"Mungkin, tapi sejujurnya aku merasa lega ketika kau mengungkapkan apa yang kau pikirkan barusan sehingga tak akan menimbulkan kesalahpahaman nantinya. Sebenarnya aku merasa khawatir melihatmu makan tak teratur seperti sebelumnnya, jadi ketika bisa melihatmu makan dengan benar aku merasa tenang." Jelasnya dengan panjang lebar.

'jadi gadis ini hanya melakukannya demi kepuasan diri?'

"Sungguh?"

"Tentu, kau tak perlu mencemaskannya. Anggap saja Dewi Fortuna sedang berpihak padamu."

"Baiklah."

Tampaknya gadis itu tak punya niat untuk berbicara lebih lama lagi, jadi ia segera membungkuk, "Permisi." Berucap singkat, dan kembali ke apartemen miliknya.

'Kau merasakannya, 'kan. Kurama?'

'Ya, gadis itu tak berbohong sama sekali.'

"Hahh..."

Naruto merasa tak puas akan jawaban yang diberikan malaikat itu kepadanya. Sebelum kemudian memilih kembali ke apartemennya untuk menyantap makan malam hari ini. Ia kemudian berjalan ke arah dapur untuk mengambil nasi untuk dimakan bersama dengan lauk yang diberikan gadis itu kepadanya.

"Tunggu..."

Ia diam membeku ketika melihat isi dari menu malam ini, ia tak percaya akan apa yang dilihat oleh kedua matanya sekarang.

"Ramen!"

Naruto akan mengabadikan momen ini menjadi momen berharga dalam hidupnya.

"Tapi tunggu, nasi tak dibutuhkan di sini." Pikirnya singkat, tapi ia sudah terlanjur membuatnya. "Maa... nasi dan ramen bukan pasangan yang terdengar buruk."

"Oh sial, aku tak percaya gadis itu bisa membuat ramen seenak ini."

Ia makan dengan suka cita malam ini, Naruto merasa sangat beruntung sekarang. Rasa kaldu dari kuah yang gadis ini buat benar-benar enak. Ringan tapi tetap menonjolkan karakteristik makanan buatan rumah.

"Aku tak akan melupakan rasa ini seumur hidupku."

'Bukankah itu terlalu berlebihan?'

'Tidak ada yang berlebihan jika itu menyangkut ramen.'

Sedangkan Gabriel yang tak sengaja mendengar teriakan pemuda itu dari apartemennya hanya bisa tersenyum.

"Jadi dia menyukainya ya." Ucapnya singkat, masih mempertahankan senyum indahnya.

Sejak makan malam tempo hari, ia merasa sedikit tertantang dengan masakan yang disebut dengan ramen itu. Kenapa pemuda itu sangat menyukainya. Sejak saat itu ia menantang dirinya sendiri untuk membuatnya.

Sesungguhnya ia ingin melihat langsung bagaimana pemuda itu memakannya, tapi mendengar teriakan senang dari pemuda sudah cukup memuaskan hatinya. Setidaknya untuk saat ini.

[…]

[…]

[…]

[…]

[…]

To Be Continued


AN: Halo semua, di a/n kali ini saya berniat membahas beberapa hal, diantaranya:

Di chapter satu kemarin ada yang bertanya tentang hubungan Naruto dengan Azazel, dan kenapa Naruto terkesan seperti babu dan terlihat sangat lemah. Untuk ini akan kujelaskan di chapter spesial, jika sempat haha, intinya hubungan mereka berdua hanya untuk keperluan plot semata, terkesan seperti plothole. karena pada kenyataanya memang plothole. salahku sendiri tak memikirkan hal ini sih xd. tapi terima kasih banyak atas masukkannya.

Lalu ada juga yang bertanya, apakah gaada actionya. sejujurnya aku tak berniat untuk membuat action di cerita ini, karena memang fokus cerita ini pada hubungan Gabriel dan Naruto serta keseharian mereka. tapi jika plot mengijinkan, pasti akan ada action, walaupun tak banyak. jadi jangan terlalu berharap oke.

Terakhir untuk review lanjut, next dan lain-lain. Ini udah lanjut ya haha.

Sekian bacotan saya untuk kali ini, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya bagi kalian semua yang sudah memberikan dukungannya baik lewat kolom review ataupun yang fav dan foll.

Sampai ketemu lagi di chapter depan, jaga kesehatan kalian. Sampai jumpa.