Otonari no Tenshi-sama
Disclaimer: Masashi Kishimoto, Ichiei Ishibumi
Rated: T
Genre: Slice of Life, Romance.
Peringatan keras! Serius deh! Multi-Chap, OOC, EYD Hancur, Typo(s)
Enjoy.
[…]
[…]
[…]
[…]
Chapter 5 – Tenshi yang terluka.
Saat ini Naruto tengah berdiri di taman tempat pertama kali ia menolong Gabriel. Taman itu cukup kecil dan berada cukup jauh dari pusat kota, jadi sedikit anak-anak yang datang untuk bermain. Ia tengah menatap gadis itu, duduk sendirian di ayunan taman dengan keadaan berantakan.
Ketika gadis itu sadar bahwa pemuda tersebut berjalan mendekat ke arahnya, wajahnya terlihat muram. Naruto yang sadar akan apa yang terjadi terhadap gadis itu hanya menghela nafas sejenak.
"Aku tak akan bertanya lebih jauh, jika kau menunjukkan wajah seperti itu. Tapi setidaknya lukamu harus diobati terlebih dahulu."
Gadis itu duduk di ayunan taman dengan keadaan yang tak bisa dibilang baik. Pakaian gadis itu terlihat berantakan dengan robekan di beberapa bagian. Lengan serta kaki putihnya juga tak luput dari luka sayatan.
Ada kesepakatan tak langsung diantara mereka, bahwa mereka tak akan mengatakan jati diri mereka sesungguhnya. Tapi Naruto tak tega jika harus melihat gadis kesakitan seperti itu, jadi mau tak mau ia harus melanggar kesepakatan itu.
Gadis itu mungkin berharap agar Naruto tak ikut campur ke dalam masalahnya, karena gadis itu tak ingin pemuda itu ikut terluka karenanya.
"Tetaplah di sana."
Naruto kemudian beranjak dari tempat itu untuk pergi membeli perban serta alkohol untuk mengobati gadis itu. Gabriel pasti akan tetap duduk di sana, atau mungkin lebih tepatnya gadis itu tak akan beranjak dari tempat itu karena tak bisa bergerak lagi.
Tak butuh waktu lama, ia kemudian kembali lagi ke tempat tersebut dan seperti yang ia duga, gadis itu masih berada di sana.
"Bisakah kau melepas kaos kakimu?"
"Maaf?"
Gadis itu membalas ucapannya dengan tatapan dingin, seperti melihat seorang penjahat kelamin.
"Jangan lihat aku seperti itu. Bagaimana aku akan mengobatinya jika kau masih menggunakan kaos kakimu?"
"Bagaimana kau tau?"
"Sejak tiba tadi, aku melihat ada yang salah dengan tingkahmu dan melihat salah satu kakimu adalah penyebabnya."
"Kau sudah seperti penguntit sungguhan."
"Ya, ya. Teruslah bicara dan aku akan melepaskan dengan paksa."
Meski niat baik pemuda ini begitu jelas, tapi entah kenapa Gabriel merasa begitu malu, dan memilih untuk mengalihkan pandangannya ke arah samping. Naruto yang sadar akan hal tersebut kemudian melepaskan mantel miliknya dan memberikannya kepada Gabriel untuk menutupi lutut putih miliknya. Naruto kemudian membalikkan badannya guna memberikan gadis tersebut privasi.
Setelah melepas kaos kaki miliknya, Naruto kemudian mulai memeriksa keadaannya.
'Seperti yang kuduga, kakinya memang patah. Tapi sudah disembuhkan dengan cepat. Mesti tidak sepenuhnya.'
'Gadis itu pasti tak punya tenaga lagi. Nasib baik ia masih mampu berjalan hingga sampai ke tempat ini.' Kurama mengomentari.
'Aku pikir juga begitu.'
'Hah... aku sungguh bingung, kenapa gadis ini begitu naif.'
Naruto menerawang kembali ke kejadian beberapa saat yang lalu saat ia sedang berjalan pulang menuju ke apartemen miliknya.
FLASHBACK
Seorang pemuda berambut pirang jabrik tengah berjalan dengan santai sembari membawa sebuah dokumen di tangan kirinya. Hatinya sangat senang sekarang, karena setelah berjuang beberapa bulan, akhirnya novel ringan pertamanya akan segera dipublikasikan.
'Aku tak percaya bahwa mereka akan mempublikasikan novel laknat itu.'
'Ero-sannin pasti akan senang mendengarnya.'
'Dan aku lebih tak percaya bahwa kau banting setir menjadi seorang penulis.'
'Jangan salahkan aku jika kau tak bisa menonton acara favoritmu lagi.' Naruto tersenyum misterius
'Melihat interaksimu dengan gadis malaikat itu, merupakan hiburan terbaik sepanjang sejarah.' Jeda Kurama sejenak. 'Menurutku, interaksi kalian berdua lebih cocok untuk dijadikan film. Pasti akan laku keras.'
'Hei! Jangan bawa-bawa kehidupan pribadiku ke dalam masalah ini.'
Kurama hanya tertawa sebagai balasan.
Seperti yang Kurama katakan. Ia sekarang memilih untuk menjadi seorang penulis. Bukan karena apa, ia sudah menjadi tahanan wajib gadis malaikat itu. Jika dia kembali ke pekerjaan lamanya, ia pasti tak akan bisa merasakan masakan milik gadis tersebut lagi.
Tapi sekali lagi, ia dipaksa untuk bersiaga ketika tengah asik melamun.
'Kau merasakannya?'
'Ya, walaupun sedikit samar. Siapapun yang membuat kekkai ini, bukanlah orang sembarangan.'
'Aku punya firasat buruk tentang ini.'
Sebagai seorang ninja dengan tipe sensor, bisa merasakan aura setipis ini merupakan pertanda buruk. Sepanjang karirnya menjadi seorang ninja dengan tipe sensor, orang yang mampu menyembunyikan aura mereka ke titik terendah baik menggunakan kekkai maupun tidak merupakan orang yang sangat berbahaya.
Tanpa banyak bicara, Naruto segera menggunakan senjutsu miliknya dan langsung menghilang dari tempatnya berada sekarang, dan segera pergi menuju ke aura asing yang ia rasakan ini.
[…]
Tak butuh waktu lama, Naruto berhasil melacak keberadaan aura asing yang ia rasakan berkat bantuan senjutsu miliknya. Ia masuk ke dalam kekkai itu tanpa merusaknya, guna mengurangi kemungkinan adanya ikut campur dari pihak ketiga.
Saat melihat sosok di depannya, ia sungguh terkejut. Awalnya ia hanya berniat untuk melihat dari jauh, mengumpulkan beberapa informasi, dan menjualnya informasi tersebut kepada Azazel. Tapi niat itu harus ia kubur dalam-dalam.
Raut wajahnya mengeras melihat siapa yang tengah bertarung sekarang. Terlihat seorang malaikat yang begitu ia kenal tengah terpojok dengan keadaan yang tak bisa dibilang baik-baik saja.
"Kau tau? Aku sangat sedih harus melukai gadis cantik sepertimu. Jika saja kau tidak keras kepala."
"Sebenarnya apa yang kau inginkan?"
"Tak ada, aku hanya ingin bersenang-senang saja."
Naruto yang mendengarkan percakapan mereka dari jauh hanya bisa menggertakkan gigi miliknya.
Naruto sekarang tengah memikirkan kemungkinan terburuk sebelum ia menyerang musuhnya kali ini. Musuhnya kali ini bukanlah orang sembarangan. Kata orang mungkin kurang cocok untuk menggambarkan sosoknya.
Musuhnya kali ini adalah seorang Dewa dari mitologi Nordik, Loki. Seorang Dewa yang memiliki banyak tipu muslihat serta sangat senang membuat masalah. Naruto tak tau apa yang akan terjadi apabila ia membunuh Dewa itu. Kemungkinan terburuk yang akan terjadi adalah perpecahan yang dapat menyebabkan peperangan hebat.
Tapi semua pikirannya itu mendadak menghilang ketika ia melihat Dewa itu mengeluarkan lingkaran sihir yang cukup besar dan kemudian menembakkan es dari sana serta menyebabkan badai salju.
Gabriel yang melihat itu hanya mengeluarkan pertahanan terkuat miliknya untuk menahan serangan Dewa itu. Tapi sayang, serangan itu hanyalah pengalih guna membuat gadis itu sibuk. Tanpa ia sadari, Dewa itu sudah berada di samping dirinya, Loki kemudian menggunakan sapuan untuk membuat gadis itu kehilangan keseimbangan dan menendang dirinya dengan sangat kuat hingga menyebabkan gadis itu terpental menabrak tembok bangunan tua di sana.
Sudah cukup ia melihat gadis itu disakiti. Naruto segera masuk ke dalam mode Rikudo Sennin miliknya. Ia melemparkan kunai Hiraishin ke arah Loki dan ditangkis dengan mudah oleh Dewa itu.
Belum sempat Loki mengeluarkan balasan, Naruto sudah lebih dulu menyerang dirinya. Serangan itu begitu mendadak karena pemuda itu tiba-tiba berada di depannya dan memukulnya, namun bisa ditahan dengan mudah oleh Dewa itu.
Naruto kemudian menghilang dari tempat itu dengan senyum di wajahnya, karena berhasil menanamkan jutsu-shiki pada musuhnya. Setidaknya dengan ini, pekerjaannya akan lebih mudah dan cepat.
"Hei, hei. Kau tidak akan bersembunyi terus, 'kan?"
'Kita selesaikan ini dengan cepat, Kurama.'
'Apa kau berniat membunuhnya?'
'Kita lihat saja.'
Ia kemudian menggenggam dua buah Gudōdama di kedua tangannya dan segera menghilang dari tempat itu.
Sepersekian detik kemudian, ia kembali muncul di hadapan Loki, tanpa memberikan Dewa itu waktu untuk bereaksi, ia segera mengayunkan tongkat Gudōdama miliknya ke arah Loki, dan membuat Dewa itu terpental. Tak cukup sampai di sana, ia kemudian kembali menghilang dan muncul dari arah belakang Loki.
Tak berniat memberikan sedikitpun kesempatan untuk Dewa tersebut bereaksi, ia kembali mengayunkan Gudōdama miliknya, tetapi kali ini bentuknya sudah berubah menjadi sebuah pedang. Loki yang sadar akan serangan tersebut segera membuat pertahanan terkuat miliknya, namun apa daya tak ada yang mampu menahan serangan sebuah Gudōdama sehingga membuat tangan miliknya menjadi korban dari pertarungan ini.
Tak berhenti sampai di sana, ia kemudian memberikan sapuan serta menendang Dewa itu dengan kuat. Persis seperti apa yang dilakukan Loki pada Gabriel tadi.
Sebagai penutup, ia muncul kembali di belakang Dewa tersebut dan menusuknya dengan Gudōdama miliknya, memanfaatkan momentum dari Dewa tersebut karena terpental akibat tendangan miliknya.
Setelah melakukan semua serangan mematikan tersebut, ia kemudian membisikkan sesuatu ke arah Loki. "Sebaiknya kau segera tinggalkan tempat ini, sebelum aku berubah pikiran dan benar-benar membunuhmu." Dan kemudian kembali menghilang dari tempat itu, sesaat setelah mendengar bisikan tersebut, ia segera berbalik, dan hanya menemukan ruang kosong di sana.
"Sialan! Tunggu pembalasan dariku brengsek."
Loki malu mengakui ini, tapi tubuhnya sudah tak kuat menahan rasa sakit yang disebabkan pemuda itu. Ia bahkan bisa memberikan luka yang fatal bagi dirinya. Setelah mengatakan itu, ia kemudian kabur menggunakan lingkaran sihir miliknya.
Naruto yang mendengar hal itu dari jauh hanya tersenyum masam. Sepertinya hidup tenangnya akan sedikit terganggu setelah ini.
Gabriel hampir kehilangan kesadarannya setelah terkena serangan barusan. Ia berusaha bangun dari reruntuhan tempat ia berada sekarang. Sejujurnya, ia berniat untuk berterima kasih kepada penyelamat yang telah menyelamatkan hidupnya barusan tapi jangankan berterima kasih. Ia bahkan tak bisa melihat siapa sosok itu sebenarnya, yang ia lihat hanyalah kilatan kuning yang begitu cepat, melebihi kecepatan yang mampu ia ikuti dengan kedua matanya.
Siapapun orang itu, ia bukanlah orang sembarangan, karena mampu mengimbangi- tidak, mengalahkan Dewa sekelas Loki dengan sangat mudah. Ia harus melaporkan hal tersebut kepada Michael Onii-sama setelah ini. Tapi sebelum itu, ia harus pergi dari tempat ini dan mengobati dirinya terlebih dahulu.
'Kau tak berniat menolongnya?'
'Aku akan menunggu saat yang tepat.'
Pemuda itu kemudian pergi dari tempat tersebut menggunakan teknik miliknya, meninggalkan gadis malaikat itu sendirian.
END OF FLASHBACK
"Aakh..."
Saat gadis itu memekik, secara spontan kesadaran miliknya kembali. Ia tak sadar jika ia terlalu kasar memperlakukan gadis itu.
"Maaf. Aku akan berhati-hati."
"Kau tak perlu minta maaf. Setidaknya kau sudah bersedia membantuku."
Naruto sama sekali tak sadar akan perbuatannya karena terbawa suasana akan pertarungan gadis itu, beberapa saat yang lalu. Ia kemudian memijat kaki gadis itu dan mengompresnya dengan perban yang ia beli.
Sebenarnya akan lebih mudah jika ia menyembuhkan gadis ini sekarang dengan kekuatannya, tapi ia tak mau melakukan hal itu. Setidaknya untuk saat ini, ia belum berniat menunjukkan identitas aslinya. Lagi pula, ia yakin gadis itu pasti mampu menyembuhkan dirinya sendiri. Tetapi untuk sekarang, biarkan dirinya yang egois ini untuk membantu gadis itu.
Begitu ia selesai mengikat perban itu di kaki Gabriel, ia menatapnya dengan senyum indah di wajahnya dan tertawa kecil.
"Ternyata kau sangat pandai merawat orang terluka, Uzumaki-san."
"Setidaknya melakukan hal seperti ini bukanlah hal yang sulit."
Naruto membalas ucapan Gabriel barusan dengan nada bercanda dan dibalas dengan tawa kecil dari gadis malaikat tersebut.
Gadis ini selalu terlihat memasang topeng ramah yang sering ia gunakan kepada orang lain, atau mungkin lebih tepatnya ia selalu bersikap sangat ramah dan sopan di hadapan orang lain sehingga terlihat begitu kaku di mata Naruto. Tapi ketika ia mendengar tawa gadis itu dan melihat senyum di wajahnya, ia merasa lebih baik.
Emosi yang dikeluarkan gadis ini benar-benar berbeda ketika berhadapan dengannya. Ia bertingkah seperti gadis remaja pada umumnya, begitu manis namun juga bisa menggigit disaat bersamaan.
'Ah... indahnya masa muda.'
'Diamlah!'
Gadis itu kemudian berusaha bangun dari tempat duduknya dan menyerahkan mantel tersebut kembali kepada Naruto. Bukannya menerima mantel itu, Naruto justru mengenakannya kembali kepada Gabriel.
"Eh?"
"Jangan menunjukkan wajah seperti itu. Gunakan mantel ini, setidaknya agar tidak menarik perhatian orang lain dengan keadaanmu yang seperti sekarang."
Mantel itu membungkus hampir keseluruhan tubuh gadis itu. Bagaimanapun juga, tinggi mereka berbeda sangat jauh, jadi mantel yang digunakan Gabriel sekarang terlihat menyembunyikan hampir seluruh tubuhnya, dan hanya memperlihatkan sedikit saja bagian kakinya.
Naruto kemudian merendahkan tubuhnya, dan memperlihatkan punggung lebarnya. Bersiap untuk menggendong gadis itu pulang ke apartemennya, lagi pula arah tujuan mereka sama, jadi menggendongnya akan lebih efisien menurutnya. Lagi pula, mana mungkin ia meninggalkan gadis itu sendirian di tempat ini.
"Kenapa harus menggendongku?"
"Hei, kau sedang terluka parah. Jika kau sungkan untuk merepotkan orang lain, itu tak masalah. Tapi setidaknya biarkan aku untuk direpotkan olehmu, sekali ini saja."
"Memangnya kamu bisa membawaku pulang?"
"Setidaknya, kau tidaklah begitu berat, 'kan?"
Gadis itu kemudian menundukkan wajahnya yang memerah padam, dan berjalan mendekat ke arah Naruto. Ia naik ke punggung pemuda itu, dan menempelkan dirinya ke punggung lebar pemuda itu. Setelah yakin tangan gadis itu sudah mengalung erat di lehernya, ia kemudian berdiri dengan perlahan dan membawa gadis itu bersamanya.
Seperti yang ia perkirakan, gadis ini tak terlalu berat.
"Aw! Apa-apaan itu tadi."
"Balasan karena mengatakan aku berat." Gabriel mencubit pinggang milik pemuda itu sembari berucap dengan nada marah. Ia kemudian memalingkan wajahnya yang memerah ke arah samping dan mengeratkan pelukannya.
Samar-samar ia bisa menghirup aroma wangi milik gadis itu, walau ia sempat bertarung barusan, tapi aroma gadis ini tak hilang sepenuhnya, dan Naruto masih bisa menciumnnya. Batinnya bergetar ketika memikirkan hal itu dan membuatnya gelisah.
Event seperti ini memang tidak baik untuk kesehatan jantungnya, bisa-bisa ia mati muda karena serangan jantung.
Menggendong gadis ini cukup menarik beberapa perhatian orang yang lewat di sekitar mereka. Tapi karena wajah serta tubuh gadis itu tersembunyi di dalam mantel miliknya, mereka hanya menarik sedikit perhatian orang. Dari jauh mereka terlihat seperti kolega yang baru pulang dari bar, si pemuda terlihat menggendong si gadis yang tengah mabuk berat.
[…]
"Kita sudah sampai... apa kau akan terus di sana?"
Meraka sudah sampai di depan pintu apartemen milik Gabriel, ia tak bermaksud lebih jauh daripada ini karena masih menghargai privasi milik gadis itu.
Gabriel yang mendengar itu buru-buru turun. Ia tak sadar jika sejak tadi mereka sudah sampai di apartemennya. Ia begitu terbuai dengan kenyamanan yang diberikan pemuda ini kepadanya, walaupun hanya melalui punggung lebar miliknya.
Gabriel mampu menyeimbangkan dirinya dengan menggunakan bantuan dinding apartemen miliknya. Lukanya mungkin tak terlalu buruk, tapi bagaimanapun ia harus segera menyembuhkan dirinya dan segera melaporkan kejadian barusan kepada kakaknya.
Untungnya besok adalah akhir pekan dan itu artinya ia libur. Ia bisa beristirahat besok untuk memulihkan dirinya.
"Kau tak perlu mengkhawatirkan makan malamku, setidaknya beristirahatlah dengan baik hingga kau pulih sepenuhnya."
"Baik."
"Bagus. Kalau begitu, sampai jumpa."
Setelah berpamitan dengan malaikat itu, ia kemudian berniat masuk ke dalam apartemen miliknya, sebelum suara dari arah sampingnya menghentikan kegiatannya.
Saat pemuda itu menoleh, ia bisa melihat sosok imut Gabriel dengan balutan mantel miliknya sedang mengintip dari celah pintu. Ia terlihat seperti akan mengucapkkan sesuatu dari mulutnya.
"Terima kasih banyak untuk bantuanmu hari ini. Aku pasti akan mebalasnya nanti."
"Sama-sama. Kau tak perlu membalasnya, aku terlalu banyak merepotkanmu selama ini. Jadi hal seperti ini bukanlah apa-apa."
Jika ia jujur, Naruto sebenarnya merasa kesulitan jika diminta untuk tidak terlalu peduli terhadap gadis itu. Ia lebih memilih mengesampingkan masalah tersebut untuk saat ini. Ia kemudian melihat gadis itu menundukkan kepalanya dan masuk ke dalam apartemennya.
Saat ia teringat akan gadis itu yang masih mengenakan mantel miliknya, ia hanya bisa memikirkan satu hal sekarang.
"Sial, dia benar-benar imut."
[…]
[…]
[…]
[…]
[…]
To Be Continued
