Otonari no Tenshi-sama

Disclaimer: Masashi Kishimoto, Ichiei Ishibumi

Rated: T

Genre: Slice of Life, Romance.

Peringatan keras! Serius deh! Multi-Chap, OOC, EYD Hancur, Typo(s)

Enjoy.

[…]

[…]

[…]

[…]

Chapter 6 – Makan malam bersama. Lagi?!


Malam ini Gabriel tengah berada di apartemen milik Naruto. Gadis itu tiba-tiba saja datang disaat ia baru akan mulai membuat ramen untuk makan malam hari ini. Tapi semua itu ia urungkan ketika melihat gadis itu membawa kantong belanja di kedua tangannya.

Ketika Naruto bertanya padanya untuk apa gadis itu kemari, ia berkata ingin membuatkan pemuda itu makan malam yang hangat guna membalas budi pertolongannya tempo hari. Melihat sebuah kesempatan, ia bertanya pada gadis itu, apakah ia mau untuk memasak makan malam untuknya setiap hari, tentu saja pemuda itu akan membayar seluruh bahan yang digunakan gadis itu, serta memberikan gadis itu upah yang layak.

Tapi sayangnya rencana Naruto tak berjalan seperti yang ia harapkan. Gadis itu menolak dibayar untuk memasak. Ia murni melakukan semuanya demi kesenangan semata, ia tak habis pikir, seberapa baik sebenarnya gadis ini.

"Setidaknya, kita bisa membagi setengah biaya bahan yang digunakan."

"Tapi... bukankah itu tak menguntungkanmu sama sekali?"

"Itu syarat dariku, jika kau keberatan, kita bisa membatalkannya."

"Baiklah, kau menang." Ucapnya dengan nada pasrah, ia tak mau melanjutkan perdebatan ini, karena bagaimanapun caranya melawan. Ia tak akan pernah menang melawan gadis ini dalam berdebat.

Naruto kemudian menyerahkan beberapa lembar uang kepada gadis itu. Gabriel yang melihat hal tersebut hanya memandangnya dengan raut wajah bertanya.

"Kita lakukan ini mulai besok. Untuk sekarang aku yang traktir. Anggap saja balas budiku untuk pertolonganmu kemarin."

"Sudah kubilang kau tak perlu membalasnya."

"Aku memaksa."

"Baik, maaf."

Gadis itu tersenyum senang lalu berlari kecil ke arah dapur.

'Hebat, kau sudah selangkah lebih dekat untuk menjadikan gadis itu sebagai istrimu.' Kurama menyeringai.

'Besok aku akan menikahinya.' Balas Naruto dengan nada lelah.

'Hei, jangan secepat itu. Ceritamu jadi tak menarik lagi untuk disimak.' UcapKurama tak terima.

'Daripada kau terus menggangguku.'

'Hahaha.'

Tawa sang rubah pecah di alam bawah sadar miliknya, membuat pemuda itu semakin geram dibuatnya. Ia kemudian berjalan ke arah dapur, mengikuti gadis tersebut.

"Ada apa?"

"Kau tak pernah memakai mereka sama sekali?"

Gadis itu bertanya, sembari menunjuk ke arah peralatan masak yang ada di dapur miliknya.

"Mereka berkarat karena tak pernah digunakan, kau tau?"

"Kurasa stainless tak bisa berkarat."

"Itu hanya kiasan."

"Kalau begitu, kenapa tidak gunakan kemampuan memasakmu, agar mereka tak berkarat."

Gadis itu hanya mengabaikannya dan lebih tertarik untuk melanjutkan kegiatan observasi yang ia lakukan sekarang.

"Jadi kau punya beberapa bumbu dasar juga."

"Begini-begini aku juga bisa memasak."

"Tentu saja, kau memang sangat ahli dalam memasak ramen instan."

Gabriel membalas ucapannya disertai penekanan di bagian akhir kalimatnya. Ia kalah telak, gadis itu benar, ia memang sangat ahli jika memasak ramen instan, tapi tidak dengan makanan lain.

"Apa kau tak keberatan jika aku yang menentukan menu makan malam nantinya?"

"Tentu, kuserahkan sepenuhnya padamu."

"Kalau begitu aku akan mulai memasak. Kau bisa menunggu di ruang tamu."

"Tentu, lagi pula aku hanya akan mengganggumu di sini."

"Sungguh kesadaran diri yang patut diapresiasi."

"Haha..."

Naruto hanya tertawa canggung sebagai balasan. Sikap jujur gadis ini kadang memang terlalu blak-blakan. Ia yakin Kurama pasti juga ikut tertawa sekarang.

Seperti yang diucapkan gadis itu, ia hanya akan mengganggu jika terus berada di sana. Jadi pemuda tersebut memilih untuk beranjak dari sana dan pergi ke ruang tamu. Tapi sebelum ia pergi, ia melihat Gabriel mengeluarkan celemek dari dari tas yang ia bawa, dan kemudian mengenakannya. Tak lupa rambutnya juga dikuncir ekor kuda membuatnya sangat mirip seperti seorang istri yang tengah memasak untuk sang suami.

Naruto yang melihat hal tersebut hanya merasa gelisah tapi juga merasa sangat senang disaat bersamaan. Gelisah karena terbuai akan keimutan milik Gabriel, tapi juga merasa senang karena bagaimanapun juga ia sekarang tengah menikmati pemandangan yang banyak dimimpikan oleh para lelaki di luar sana.

Ia masih tak percaya bahwa gadis itu sekarang tengah memasak di apartemen miliknya, lebih tepatnya di dapur apartemennya. Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri apakah ini mimpi, iya tak mau bertanya pada Kurama, karena bisa saja rubah itu menghancurkan mimpi indah miliknya ini.

Tapi semua itu sirna, ketika ia melihat rambut pirang panjang milik gadis itu berayun. Ia sadar kalau ini bukanlah mimpi, melainkan kenyataan.

'Entah kenapa, aku merasa seperti punya istri sekarang.'

Naruto memang tak memiliki perasaan seperti itu kepada Gabriel, dan ia cukup yakin bahwa gadis itu juga tak memiliki perasaan seperti itu kepadanya. Tapi jika ada orang luar yang melihat keadaan mereka sekarang, orang itu pasti berpikir bahwa Gabriel adalah istrinya.

Ia tak pernah berpikir untuk menjalin hubungan dengan gadis malaikat itu, tapi melihat seorang gadis cantik dan imut tengah memasak makan malam di apartemen miliknya pasti membuat imajinasinya menjadi liar.

Terlepas dari Naruto yang punya perasaan pada gadis itu ataupun tidak, melihat gadis itu memasak untuknya tetap saja membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

"Jangan memikirkan sesuatu yang kotor!"

"Hei!"

Bahkan tanpa menoleh, gadis itu tau bahwa Naruto tengah memikirkan sesuatu, namun dibantah oleh pemuda itu.

'Dia benar-benar peka.'

Naruto meminta maaf dalam hati, karena memikirkan hal yang tidak-tidak tentang gadis itu. Sebaiknya ia tak melakukannya lagi, atau ia tak akan pernah merasakan makan malam milik gadis itu lagi.

[…]

Tak lama kemudian, makanan yang dimasak oleh Gabriel akhirnya selesai. Ia terlihat membawa makanan tersebut dari arah dapur dan menaruhnya di meja makan. Naruto yang melihat hal itu berniat membantu, tapi dihentikan oleh Gabriel.

Gabriel yang bertugas menentukan menu hari ini dan seterusnya. Jadi ia yakin masakannya kali pasti sangat memperhatikan kandungan gizi di dalamnya. Ia sangat mengharapkan Gabriel memasak ramen sebenarnya, tapi dimarahi oleh gadis itu adalah hal terakhir yang ia harapkan terjadi.

Menu malam ini adalah katsudon yang ditemani dengan kuah miso serta salad sebagai pelengkapnya. Naruto yang melihat hidangan tersebut di atas meja makan hanya bisa menahan diri hingga gadis itu selesai menyiapkan semuanya.

Naruto tak berharap gadis itu memasak makanan yang berat, karena ia tau bahwa peralatan serta bumbu yang ada di apartemennya tidaklah selengkap milik Gabriel. Tapi sekalipun makan malam hari ini terlihat sederhana, tapi ia yakin, rasanya pasti jauh lebih enak dari sebelumnya.

"Bisakah kita mulai?"

"Fufu~ bukankah kau terlalu bersemangat?"

Gabriel kemudian berjalan mendekat ke arah meja makan dan duduk berseberangan dengan pemuda itu.

""Itadakimasu""

Tanpa pikir panjang, Naruto segera menyambar katsudon miliknya dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Hanya satu hal yang bisa Naruto pikirkan sekarang, enak. Rasa daging goreng yang renyah dengan balutan tepung roti di antara lembutnya telur dadar serta nasi hangat membuat perpaduan yang sempurna antara manis, asin serta gurih.

Merasa tenggorokan miliknya kering, ia kemudian melirik ke arah kuah miso dan kemudian mencobanya. Setelah miso melewati tenggorokan miliknya, ia membeku untuk sesaat. Rasanya benar-benar sangat lembut, sangat berbeda dengan miso yang biasa ia beli di minimarket. Rasa asin serta gurih dari rumput laut serta ikan kering membuat rasa kuahnya begitu enak. Benar-benar perpaduan sempurna yang tak akan pernah dilupakan oleh lidahnya. Ia tak bisa berkata-kata lagi sekarang, perutnya sudah sepenuhnya dikuasai oleh gadis ini.

"Jangan lupa untuk memakan sayuran juga."

Ia berhenti sejenak sebelum melihat ke arah salad yang tersedia di sana. Hei itu hanya selada biasa, rasanya tak beda jauh dengan segelas air mineral. Naruto kemudian mengambil salad tersebut dan memakannya, dressing yang digunakan tidaklah terlalu banyak, hanya minyak zaitun, lemon, garam, serta lada hitam.

Lalu rasanya? Tak jauh berbeda seperti minum air mineral.

"Maaf karena hanya menggunakan selada, aku yakin rasanya seperti air. Hanya itu sayuran segar yang bisa kutemukan di pasar tadi."

"Kau tak perlu meminta maaf, tapi yah... rasanya memang seperti air."

"Tapi kau tetap harus memakannya!"

Bagaimanapun juga gadis ini tetap memaksanya untuk memakan sayuran, mau seburuk apapun rasanya. Dia benar-benar sudah berubah dari sosok istri idaman menjadi sosok seorang ibu rumah tangga menurutnya.

Walaupun ada beberapa kekurangan pada menu makan malam kali ini, Naruto tetap makan dengan suka cita. Dari semua makan malam yang gadis ini buat, makan malam kali ini adalah makan malam terenak menurutnya. Karena ia bisa merasakan kehangatan sebuah keluarga yang tak pernah ia miliki sebelumnya.

Tanpa sadar, ia meneteskan air mata miliknya. Gabriel yang sadar bahwa pemuda itu menangis menjadi panik, ia khawatir karena memaksa pemuda tersebut untuk memakan sayuran tersebut.

"A-a-ah... kau tak perlu memakannya, jika kau tak menyukainya."

Naruto yang sadar akan perbuatannya, segera mengusap air matanya dan membalas ucapan gadis itu.

"Tidak, aku hanya merasa senang. Seumur hidupku, aku tak pernah makan malam bersama seperti ini. Aku hanya merasa senang karena bisa merasakan makan malam dengan suasana hangat seperti ini."

Naruto menjelaskan kenapa ia meneteskan air mata miliknya. Ia merasa sangat terharu, bagaimanapun juga ia adalah seorang yatim piatu, jadi hal seperti ini adalah hal yang sangat-sangat ia impikan.

"Terima kasih banyak, Gabriel-san."

Naruto mengucapkan itu dengan tulus, dan membuat Gabriel merasa sangat lega. Sejujurnya Gabriel merasa sangat gugup, ia takut jika pemuda tersebut tak menyukai makan malam kali ini. Tapi sepertinya, semua kerja kerasnya hari ini terbayarkan, ia dapat melihat pemuda itu makan dengan sangat lahap.

Naruto yang merasa ditatap oleh gadis itu kemudian menghentikan kegiatannya.

"Adhwa aphwa?"

"Fufu~ tidak. Sepertinya kau sangat menikmatinya."

Gabriel membalas ucapan pemuda itu dengan tawa kecil yang tak sengaja keluar dari mulutnya. Pemuda ini begitu lucu ketika ia mencoba berbicara dengan keadaan mulut penuh dengan makanan seperti itu.

Glek*

"Tentu saja, bisa makan malam seperti ini adalah sebuah berkah. Sekali lagi, aku harus berterima kasih banyak kepadamu."

"Tentu, kau harus berterima kasih yang banyak kepadaku."

"Terima kasih banyak."

Naruto mengucapkan itu sembari menundukkan kepala miliknya. Menunjukkan betapa besarnya rasa hormat yang ia berikan kepada gadis ini.

"Aku turut senang jika kau menyukainya."

Gabriel membalasnya dengan senyum lembut di wajahnya, mengungkapkan kelegaan di hatinya. Ia terlihat sangat menggemaskan sekarang dan Naruto terpesona olehnya, tapi sayangnya Naruto tak bisa mengatakan hal itu dan memilih melupakan hal itu dengan melanjutkan kegiatan makannya.

Tak perlu waktu lama untuk Naruto menghabiskan semua makanan yang tersedia di atas meja. Gabriel yang melihat itu hanya tersenyum singkat, dalam hatinya ia merasa sangat senang bahwa pemuda ini menghabiskan seluruh makanannya tanpa meninggalkan sisa sedikitpun.

"Ahh... aku bersyukur masih hidup sampai sekarang."

"Kau terlalu mendramatisir."

"Tapi sungguh, bisa makan malam seperti ini setiap hari adalah sebuah anugrah dari Tuhan."

"Hanya ketika kita berdua tidak sibuk."

"Serius? Maksudku apakah kita bisa terus makan malam bersama setiap hari?"

"Tentu."

Sejujurnya ia masih tak percaya bahwa gadis ini mau untuk memasak untuknya, bahkan ikut makan malam bersama dengannya. Tapi meskipun begitu, ia masih penasaran, apakah hal seperti ini akan baik-baik saja.

"Tidakkah ini terdengar aneh? Tapi saat ini kau sedang untuk memasak untuk orang asing. Apakah itu akan baik-baik saja?"

"Tidak. Lagi pula aku suka memasak. Lagian, jika dibiarkan terus begini, gaya hidup tak sehatmu itu akan menggangguku."

"T-tapi..."

"Jika kau terlalu mengkhawatirkan hal itu, kita bisa menghentikannya."

"Tidak, sungguh. Tolong, tetaplah memasak untukku."

Naruto merasa bodoh karena mempertanyakan kesungguhan gadis ini. Ia tak rela jika harus makan sendirian lagi. Itu tak menyenangkan sama sekali. Baginya, bisa merasakan masakan gadis ini adalah sebuah kedamaian. Ia siap untuk menghadapi segala rintangan agar bisa merasakannya.

Begitu mendengar jawaban dari pemuda ini, Gabriel tersenyum mengejek.

"Bagus."

"Uh..."

Ia benar-benar dipermainkan oleh gadis ini.

[…]

[…]

[…]

[…]

[…]

To Be Continued