Otonari no Tenshi-sama

Disclaimer: Masashi Kishimoto, Ichiei Ishibumi

Rated: T

Genre: Slice of Life, Romance.

Peringatan keras! Serius deh! Multi-Chap, OOC, EYD Hancur, Typo(s)

Enjoy.

[…]

[…]

[…]

[…]

Chapter 7 – Ucapan terima kasih.


Saat ini Naruto tengah berdiri di salah satu toko kue, sembari membawa sebuah brosur di tangan kanannya. Oke ini jauh dari perkiraannya. Kenapa pula tempat ini begitu ramai. Ia sempat mengurungkan niatnya untuk pergi ke sana, tapi niatnya itu seketika menghilang ketika melihat salah satu kue yang menarik perhatiannya.

Tanpa pikir panjang ia segera berjalan masuk ke dalam medan pertempuran yang didominasi oleh perempuan. Ia ikut mengantre di dalam lautan manusia ini. Ia tak habis pikir, kenapa pula toko ini begitu ramai, seingatnya di brosur tadi tak ada kata promo di dalamnya.

Setelah lelah mengantre selama kurang lebih satu setengah jam. Ia akhirnya bisa pulang dari tempat itu. Lain kali ia lebih baik memesan, daripada harus berdesakan dan saling senggol dengan orang lain, hal itu sama sekali tak menyenangkan.

'Jadi kau akan melamarnya dengan sebuah kue?'

'Tidak, bodoh!'

Sungguh, ia tak habis pikir jika Kurama menanggapi candaannya tempo hari dengan serius. Ia memilih untuk mengabaikan hal tersebut, dan memilih untuk berjalan pulang, sembari memikirkan apa yang akan gadis itu masak untuk malam ini.

[…]

Saat ia tiba di depan apartemen miliknya, ia merasa tak enak sekarang. Karena ketika ia mencoba untuk membuka kunci apartemen miliknya, pintu tersebut sudah tak terkunci lagi.

"Kurasa tak masalah jika kau menyimpannya."

Ketika ia membayangkan Gabriel harus berdiri menunggu dirinya pulang di luar apartemen miliknya, rasanya agak terlalu kasar. Apalagi Gabriel adalah seorang gadis, dan membuat seorang gadis menunggu di depan pintu apartemen miliknya? Mau ditaruh di mana harga dirinya sebagai seorang laki-laki.

"Ehh?"

"Kau bisa mengembalikannya ketika kita tak akan berhubungan lagi."

Ketika pemuda tersebut memberikan penjelasan atas perbuatannya itu, Gabriel malah menatapnya dengan perasaan cemas, karena pemuda di depannya ini tak mau menerima kembali kunci apartemen miliknya.

"Ta-tapi..."

"Sebenarnya, terlalu merepotkan jika aku harus terus-terusan berjalan ke depan untuk membukakanmu pintu. Dan lagi, membiarkan seorang gadis menunggu adalah perbuatan tidak terpuji."

"Ahh... jadi itu maksudmu yang sebenarnya. Fufu~"

Gadis itu tertawa singkat sembari menyimpan kunci itu ke dalam saku miliknya.

"Tapi bukankah kau terlalu ceroboh? Memberikan kunci apartemen milikmu kepada orang asing sepertiku?"

"Aku memberikannya karena aku percaya padamu."

Mata gadis itu melebar, terkejut karena ucapan pemuda tersebut. Ia tak bisa menebak isi pikiran dari pemuda ini.

"Kalau begitu aku akan menyimpannya dengan baik. Jangan salahkan aku jika terjadi sesuatu dengan apartemenmu."

"Contohnya?"

"A-ahh... umm... ettoo... Ah! Aku mengisi persediaan makananmu."

"Aku akan senang, karena aku bisa sarapan serta makan malam dengan nikmat."

"Bagaimana kalau misalnya aku merapikan barang-barangmu?"

"Aku akan berterima kasih untuk itu."

Dalam hatinya, Naruto hanya bisa tertawa. Lelucon gadis ini benar-benar lucu, tapi tak menghilangkan kesan polos miliknya. Lagi pula, mana ada orang jahat yang masuk ke apartemen miliknya untuk mengisi persediaan makanan serta beres-beres.

Bagi Gabriel yang mengucapkan hal itu, ia merasakan itu sebagai sebuah ancaman. Tapi bagi Naruto itu adalah sebuah lelucon yang sangat lucu.

"Hmmph~ aku merasa dipermainkan di sini."

"Itu hanya perasaanmu saja."

Naruto hanya bisa menahan tawa miliknya, jika ia terus-terusan menggoda Gabriel, gadis ini akan marah. Tapi bisa melihat wajah cemberut miliknya merupakan suatu berkah yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.

Tanpa sadar kakinya sudah membawanya masuk ke dalam apartemen miliknya, lamunan miliknya seketika buyar ketika ia melihat Gabriel sudah berada di dalam, dan tengah duduk di ruang tamu miliknya.

"Ah... okaerinasai."

Sial, senyumnya sangat indah. Tapi disaat bersamaan dia merasa takut ketika melihat senyum gadis itu.

"A-ah... tadaima."

"Kau sedang apa?"

Naruto berbasa-basi, mencoba untuk mencairkan suasana yang terasa sangat dingin ini.

"Memeriksa jawaban... bukankah seharusnya kau mengabarkanku jika kau akan pulang terlambat?"

"Aku sungguh-sungguh minta maaf." Ucapnya dengan nada menyesal, sembari menundukkan kepala.

"Aku memaafkanmu, tapi tolong jangan diulangi lagi lain kali. Ngomong-ngomong apa yang kau bawa?" Balas gadis itu dengan nada penasaran.

"Kau akan tau nanti, untuk sekarang aku akan makan dulu."

Pemuda itu kemudian berjalan ke arah dapur, dan menaruh kue itu di lemari pendingin miliknya, lalu kemudian berjalan ke arah meja makan dan duduk di sana. Saat ia bersiap akan mengambil supit untuk makan, Gabriel menghentikan kegiatannya.

"Setidaknya cuci dulu tanganmu terlebih dahulu, sebelum mulai makan."

"Ahahaha... maaf. Terima kasih sudah mengingatkan."

"Tentu. Sekarang cepat cuci tanganmu!"

"B-baik."

Setelah mencuci tangan miliknya, ia kembali ke meja makan untuk menyantap makan malam yang dibuat Gabriel kali ini. Ia tak mau berkomentar banyak untuk makan malam kali ini, lagi pula apa yang perlu dikomentari, jika semua aspek dari gadis ini benar-benar sempurna.

Tapi ada sesuatu yang unik dari makan malamnya kali ini. Ia melihat Gabriel sedang duduk di seberang meja makan, memeriksa jawaban murid-muridnya sembari menemaninya makan malam. Gadis itu mungkin sudah makan malam terlebih dahulu karena ia pulang terlambat, tapi setidaknya ia bisa duduk kembali di ruang tamu, daripada memilih untuk mengawasinya seperti ini.

Setelah menghabiskan makan malam miliknya, ia kemudian beranjak ke arah dapur untuk mencuci peralatan makan miliknya, serta membuat teh. Ia berniat memakan kue yang tadi ia beli bersama dengan secangkir teh. Sembari menyeduh daun teh itu, ia melirik ke arah belakang untuk memastikan gadis itu masih di sana. Ia melihat Gabriel masih sibuk memeriksa kertas jawaban tersebut.

Bahkan malaikat seukuran Gabriel bisa kerepotan juga karena harus bertarung dengan yang namanya kertas.

"Silahkan."

Ia menaruh sepotong kue yang tadi ia beli, ditemani secangkir teh hangat. Gabriel yang melihat itu menatapnya dengan wajah bertanya.

"Kue? Kau suka kue?"

"Tak terlalu, kue itu untukmu?"

"Tapi kenapa?"

"Kau selalu bekerja keras dalam melakukan pekerjaanmu, jadi tak ada salahnya jika kita merayakannya sedikit dengan sepotong kue, 'kan?"

Gadis itu mengedipkan matanya sesaat begitu ia mendengar bahwa kue itu untuknya, mungkin hal seperti ini benar-benar tak terduga untuknya.

"A-ah... aku memang selalu bekerja keras. Jadi kita tak perlu merayakannya."

"Apakah kau tak menyukainya?"

"Eh? Bukannya aku tak menyukainya..."

"Kalau begitu tunggu apa lagi, silahkan."

Naruto kemudian mendorong kue tersebut semakin mendekat ke arah Gabriel.

"Kalau begitu aku akan memakannya, itadakimasu."

Gabriel kemudian memotong kue itu menjadi bagian kecil dan mulai memakannya. Ia kemudian melirik ke arah Naruto, yang kemudian hanya dibalas tatapan yang menyiratkan 'makanlah, lagi pula aku membelinya untukmu'.

"Rasanya benar-benar enak, terima kasih banyak."

Para gadis biasanya pilih-pilih jika berhubungan dengan hal-hal seperti camilan dan yang lainnya. Jadi melihat gadis tersebut menyukai kue yang ia beli membuat Naruto menjadi senang. Setidaknya ia bisa memberikan hadiah kepada gadis ini, walaupun tak terlalu mewah menurutnya.

"Benarkah? Senang mendengar kau menyukainya."

Gabriel makan dengan perlahan, raut wajahnya yang tadi tegang, terlihat melembut setelah memakan kue tersebut. Naruto agaknya menyadari sesuatu. Belakangan ini ekspresi gadis ini terlihat lebih lembut dari biasanya, tak seperti saat pertama kali mereka bertemu.

Hanya dengan melihat gadis ini makan, dapat membuat hatinya menjadi tenang. Sial, jika saja ia dapat mengabadikan momen ini, ia pasti akan sangat senang.

"Ada apa?" Gabriel yang sadar akan tatapan pemuda itu bertanya dan memiringkan kepalanya karena bingung.

"Bukan apa-apa."

Ekspresi yang ditunjukkan gadis ini memang tak pernah membuatnya bosan, Gabriel yang kembali ditatap oleh Naruto hanya dapat menundukkan kepala miliknya, dan menyembunyikan wajahnya di balik poni rambutnya.

Dalam hatinya, ia merasa sangat malu. Tapi ia tak mau merasakan rasa malu ini sendirian, teringat akan sesuatu, Gabriel kemudian memotong kembali kue miliknya, menyendok bagian kecil tersebut dan mengulurkannya ke arah Naruto.

"A-ah... aku tak terlalu ingin memakannya."

"Kau tak mau?"

'Jangan tatap aku dengan pandangan memelas seperti itu, sialan!'

Gabriel berusaha menyuapinya dengan pandangan sedih, karena pemuda tersebut terlihat tak suka dengan perbuatannya, padahal tempo hari pemuda tersebut tak menolak sama sekali ketika ia melakukannya.

"Ya-yah... jika kau memaksa, aku akan menerimanya."

Karena merasa tak enak, Naruto akhirnya menerima niat baik gadis ini dan kemudian memakannya. Apa yang selanjutnya ia rasakan benar-benar di luar dugaannya.

Rasa keju yang gurih menyebar di dalam mulutnya, dipadukan dengan rasa asam segar dari selai stroberi di atasnya dan lembutnya sponge cake di bagian membuat sebuah perpaduan sempurna di dalam mulutnya. Ia jadi mengerti kenapa toko itu begitu ramai oleh para pengunjung.

'Jangan lupakan juga bahwa gadis ini yang menyuapimu.'

Oke, poin terakhir ini dapat membuat siapa saja yang melihatnya menjadi iri, dan Naruto hanya dapat tersenyum masam dibuatnya. Partnernya ini memang selalu membicarakan fakta sesungguhnya.

"Manis sekali."

"Lagi pula ini kue."

Sejujurnya, ucapan Naruto tadi bukan ditunjukkan untuk kue yang barusan ia makan, melainkan untuk gadis yang berada di depannya. Ia terlihat begitu gembira ketika Naruto menerima suapan miliknya.

Tapi ia merasa tak terima, gadis ini sudah menyuapinya dua kali, sedangkan ia tak pernah melakukannya sekalipun pada Gabriel. Jadi ia berinisiatif melakukan hal yang sama. "Biar kupinjam sebetar." Ia kemudian mengambil garpu tersebut dari tangan Gabriel dan melakukan perbuatan yang sama yang dilakukan gadis itu tadi kepadanya.

"Mmm..."

"Makanlah."

Gabriel merasa tak nyaman, ia tampak gelisah, karena itu bicaranya terdengar agak kaku. Ia tak pernah berpikir akan sememalukan ini ternyata rasanya disuapi oleh orang lain. Tapi karena ia telah melakukannya kepada Naruto, bahkan dua kali. Jadi ia tak punya niatan untuk menolak niat pemuda ini, dan lebih memilih memakannya dengan patuh.

Awalnya gadis itu tampak biasa saja, tapi raut wajahnya semakin berubah saat ia mengunyah kue itu. Tepat ketika ia menelan kue itu, wajahnya sudah semerah buah stroberi.

Wajah putihnya miliknya benar-benar merah sekarang, matanya terlihat lembab, mungkin karena terlalu malu, ia hampir menangis dibuatnya.

"Jadi bagaimana?"

"S-sa-sangat enak. Rasanya sangat enak."

"Aku tak bertanya tentang rasanya, aku bertanya tentang bagaimana rasanya disuapi?"

Naruto bertanya, mengetahui bagaimana rasanya ternyata disuapi, Gabriel hanya memilih untuk menundukkan wajahnya dan membalas dengan bisikan kecil.

"Itu sangat memalukan."

"Benar, 'kan? Jika kau sudah mengerti, jangan melakukan hal ini pada orang lain dengan santai, apalagi di muka umum."

"Tapi aku hanya melakukannya padamu saja."

Oii, jangan melakukan serangan balik. Naruto yang diserang balik oleh gadis itu hanya dapat terdiam. Ia tak pernah berpikir bahwa gadis ini akan berkata seperti itu, dan ucapan Gabriel tadi sukses membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

Sekalipun gadis itu melakukannya dengan tidak sadar, tapi ia yakin gadis ini tak akan melakukan hal tersebut kepada orang lain. Mungkin Gabriel tak menganggapnya sebagai sebuah ancaman, jadi melakukan berbagai hal dengan pemuda ini dapat dikategorikan aman.

Ia tentu saja senang bisa dipercaya oleh Gabriel, tapi ia merasa khawatir, jika gadis ini terus-terusan melakukan perbuatan manis seperti ini kepadanya, bisa-bisa ia jatuh cinta kepada malaikat ini.

'Aku akan berada dalam masalah jika sampai itu terjadi.'

Setidaknya, jika hal itu terjadi. Ia akan meminta Kurama untuk menghapus ingatannya.

'Kau tau, 'kan. Jika aku mendukungmu bersama gadis itu?'

Ia lupa akan hal itu.

[…]

Saat ini Naruto dan Gabriel terlihat sedang beristirahat di ruang tamu. Gabriel terlihat sedang duduk di atas sofa ruang tamu sembari membaca sebuah novel, sedangkan Naruto terlihat sedang bermain gim sembari duduk di lantai dengan menyandarkan punggungnya di sofa miliknya.

Gabriel yang tengah membaca itu menghentikan kegiatannya sejenak, karena memikirkan sesuatu.

"Tidak ada yang memanggil nama depanmu, 'kan?"

"Yah, kau benar."

Percakapan dalam novel yang ia baca membuatnya berpikir tentang Naruto.

'Jika aku memanggil nama depannya, apakah dia akan senang?'

"Naruto...-kun."

"Hmm... ada apa?"

Naruto seketika menoleh dan menghentikan sejenak kegiatan yang sedang ia lakukan.

"A-ah... tidak, aku hanya mencoba memanggil nama depanmu saja. Apakah boleh?"

"Tentu saja! Bahkan sejak awal aku sudah menyuruhmu untuk memanggil nama depanku, tapi kau tak pernah melakukannya."

"Tidak. Maksudku, saat itu kita masihlah orang asing, jadi... memanggil nama depan agaknya..."

"Agaknya...?"

"...Pokoknya hal itu terlalu lancang untuk dilakukan!"

Naruto memang tak terlalu peduli bagaimana orang lain memanggilnya, bahkan sahabatnya sendiri memanggilnya dengan sebutan dobe. Tapi ketika gadis ini memanggilnya dengan nama depannya, ia merasa ada sesuatu yang sedang menggelitiknya.

Setidaknya ia merasa senang sekarang, bahwa gadis ini sudah tak menganggapnya orang asing lagi di matanya.

"Ngomong-ngomong... aku selalu memanggil nama depanmu, karena kau tak pernah memperkenalkan nama keluargamu kepadaku. Apakah tak masalah?"

"Ah..."

Ternyata malaikat bisa mengalami pikun juga ternyata.

[…]

[…]

[…]

[…]

[…]

To Be Continued