.
.
"Jadi, apa yang kita lakukan disini?" Haizaki mengetuk-ngetukkan kaki tidak sabaran dengan wajah merengut dan bibir agak maju walau tidak semaju bibir malaikat tampan di sebelahnya. Tangan disilang di depan dada. Punggung bersandar ke pagar pembatas. Ekor berujung runcing bergerak kiri kanan seperti cacing kepanasan.
Sudah hampir satu jam lebih mereka berdiri di atas atap sebuah gedung tanpa melakukan apa-apa.
Nijimura sendiri dari tadi hanya memandang jalanan di bawah yang penuh oleh manusia yang lalu lalang, kendaraan yang hilir mudik kesana kemari, anak sekolah yang bersenda gurau dengan sesamanya, pasangan dimabuk cinta menebar aura-aura merah muda, karyawan kantoran yang jalan sempoyongan sehabis keluar dari kedai-kedai kecil.
"Hei, Haizaki."
"Apa?"
Pemuda berambut hitam berbalik memunggungi pagar beton. Sepenuhnya menghadap iblis yang sepertinya sebentar lagi menumbuhkan sepasang tanduk lagi karena sudah lama mereka berdiri disini tanpa melakukan apa-apa.
"Entah kenapa aku merasa aku pernah mengalami itu semua."
"Apa maksudmu?" Haizaki mengernyit kemudian memutar tubuh melongok ke bawah. Mencari-cari penyebab Nijimura berkata demikian.
Yang ditanya balik badan lagi kemudian menopang dagu. Menumpukan tangan di pagar beton. Manik hitam menatap kembali ke bawah. "Kehidupan manusia," jawabnya. "Aku merasa aku pernah mengalami yang mereka lakukan itu."
Haizaki mengerjap tidak paham. Lantas memiringkan kepala. Apa malaikat di sebelahnya ini sedang mabuk? Atau ada kabel otaknya yang tidak tersambung pada tempatnya? Kenapa ia tiba-tiba bicara begitu?
"Termasuk yang itu?"
"Hn?" Nijimura menoleh ke arah yang ditunjuk si iblis abu. Sepasang manusia berbeda jenis tengah berciuman panas di bawah sebuah pohon tanpa mempedulikan sekitar. "Ya. Mungkin," Nijimura menjentikkan jari dan sebuah kilatan cahaya muncul dari pasangan itu kemudian melayang ke tangan Nijimura. Cahaya itu berpendar kemerahan dan mengambang di telapak tangan Nijimura.
Haizaki mendekat penasaran. "Apa itu?"
"Nafsu," Nijimura menjawab. "Ini yang keluar saat manusia melakukan hal-hal semacam tadi. Semakin pekat cahayanya, nafsunya semakin besar." Pemuda itu mengambil botol kecil transparan dari saku kemudian membuka tutupnya. Kilatan cahaya itu dengan segera masuk ke dalam botol.
Haizaki menatap cahaya yang kini mengambang berputar-putar di dalam botol. "Lalu mau kau jadikan apa?" Perlahan tangannya mendekat ingin menyentuh botol yang menarik perhatiannya itu.
"Diamankan tentu saja."
Sebelum Haizaki menyentuhnya, Nijimura sudah terlebih dahulu memasukkan kembali botol tersebut ke dalam sakunya. "Dan kau tidak boleh menyentuhnya."
"Kenapa?"
"Kau itu iblis. Bahaya kalau sampai ini jatuh ke tanganmu. Bisa-bisa kau menggunakannya untuk menyesatkan manusia."
"Memang itu tugasku," Haizaki angkat bahu kemudian menyilangkan tangan di belakang kepala. "Lagipula kalau hanya sebotol kecil begitu tidak berguna bagiku. Kalau kau punya sekarung penuh baru aku tertarik."
Nijimura menjitak Haizaki. "Kalaupun aku punya, tidak akan kuberikan padamu."
Haizaki mendecih memegangi kepala. Apa benar dia ini malaikat? Mana ada malaikat sekasar ini? Haizaki sepenuhnya yakin pemuda surai hitam itu salah jurusan.
Belum sempat Haizaki mengeluarkan makian andalannya, Nijimura sudah lebih dahulu menariknya terbang ke tempat lain. Pemuda itu berkata ia akan menunjukkan sesuatu yang menarik pada Haizaki jika pemuda abu itu patuh dan tidak memberontak.
Karena penasaran, Haizaki dengan patuhnya terbang mengikuti Nijimura.
Keduanya tiba di suatu tempat. Di tepian kolam yang cukup luas di tengah taman di pusat kota. Sinar matahari senja terpantul kemerahan di permukaan kolam. Angin berhembus pelan meniup daun-daun hingga menimbulkan bunyi gemerisik yang menenangkan. Sepertinya Haizaki bisa kabur ke tempat ini untuk tidur siang.
"Kau mau menunjukkan apa?"
"Keahlianku. Begini-begini aku ini hebat."
"Ha?"
"Lihat ini," Nijimura membuka telapak tangan kanannya dan sebuah anak panah muncul disana. Ujung berbentuk hati ia arahkan pada sepasang manusia yang tengah duduk di sebuah bangku. Mereka hanya diam namun terlihat menahan sesuatu. Seperti ada yang ingin disampaikan tapi tidak berani mengungkapkan.
Nijimura membuat gestur menarik anak panah, tangan kirinya mengepal seakan menggenggam udara. Seketika seberkas cahaya berkumpul membentuk busur panah yang berkilau dengan ujung-ujung yang melengkung indah.
Dengan sekali tembakan, anak panah meluncur mulus menuju dua orang manusia yang menjadi target. Di tengah jalan anak panah itu membelah jadi dua. Masing-masing masuk ke dalam tubuh targetnya.
Haizaki menunggu kelanjutannya di balik semak-semak.
Tak lama kemudian, sang pria menggeser duduknya mendekati sang wanita. Dari ekspresi bahagia yang dipancarkan si wanita bisa dilihat bahwa si pria baru saja menyatakan perasaaannya. Saat sang wanita mengangguk dan mengucapkan sebuah kalimat, sang pria langsung memeluk sang wanita. Seketika sebuah kepingan CD berkilat melayang menuju Nijimura dan langsung ditangkap oleh pemilik surai hitam itu.
"Bagaimana?" tanyanya sambil tersenyum ganteng. "Kemampuanku hebat, 'kan?"
Haizaki mendekat. "Itu apa?" tanyanya penasaran. Sepenuhnya mengabaikan pertanyaan Nijimura. Ia memang pernah diberitahu kalau malaikat punya bermacam-macam tugas. Tapi jujur baru kali ini dia melihat salah satunya secara langsung.
"Ini data cinta pasangan itu. Dari awal mereka berjumpa sampai tumbuh benih-benih cinta sampai akhirnya mereka jadian."
"Termasuk sampai akhirnya bagaimana mereka berpisah?"
Nijimura terdiam lalu menatap CD di tangan. Ia memang belum pernah melihat isi dari CD yang selama ini ia dan malaikat cinta lain kumpulkan. Setelah mereka mendapatkan CD, kepingan-kepingan kaset itu langsung dikumpulkan ke bagian manajemen untuk disimpan. Nijimura hanya tahu sampai sebatas itu karena memang hanya itu yang ditugaskan padanya.
"Entahlah, aku tidak tahu."
"Dan kau bilang kau ini hebat," Haizaki menyilangkan tangan di depan dada sambil tersenyum. Tersenyum mengejek tentunya. "Hah, itu saja tidak tahu. Hebat darimananya?"
Malaikat bersurai hitam menyikut keras ulu hati hingga si iblis terjatuh ke tanah sambil memegangi perut. "Malaikat sialan!" umpat si iblis.
Nijimura mengacuhkan umpatan Haizaki. Ia masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Benar juga. Kalau ada data tentang perjumpaan para pasangan, sudah pasti ada data tentang bagaimana mereka berpisah karena tidak selamanya manusia itu hidup bersama dengan orang yang dicintainya, 'kan? Bagaimana Nijimura bisa lupa hal seperti ini?
Karena tidak selamanya manusia hidup bersama dengan orang yang dicintai—
Sekelebat ingatan tiba-tiba muncul dalam kepalanya. Tidak begitu jelas tapi Nijimura tahu ia ada disana. Semuanya samar seperti kau sedang menonton film dari kaset rusak. Tersendat-sendat. Hitam putih. Tapi walaupun kabur ia bisa tahu disana ada ruangan penuh orang. Terdengar suara decitan sepatu serta bunyi sesuatu yang memantul berkali-kali dan suara sorak sorai. Tapi dimana? Ia tidak pernah merasa berada di ruangan seperti itu. Semakin Nijimura berusaha mengingat, bayangan itu semakin pudar hingga kemudian hilang begitu saja.
"Oi, kenapa diam saja?"
Suara Haizaki membuyarkan lamunan Nijimura. Pemuda itu kemudian menyimpan CD yang dipegangnya. "Hanya terpikir sesuatu. Ayo kembali, aku lapar."
Nijimura mengepakkan sayap putihnya yang berkilauan disusul Haizaki yang entah kenapa tiba-tiba patuh juga ikut mengepakkan sayap hitamnya. Keduanya terbang ke langit meninggalkan gedung tempat mereka berdiri tadi.
Sepanjang perjalanan Nijimura hanya diam. Tidak lagi mengganggu iblis yang sibuk menggerutu menyalahkan Nijimura karena ia melewatkan makan malamnya akibat diseret secara paksa ke dunia manusia. Ia hanya menjawab umpatan-umpatan Haizaki dengan gumaman.
Keduanya berpisah di tapal batas dengan Haizaki memandang aneh pada punggung Nijimura yang menjauh. Tadi ribut mengajak rusuh, sekarang malah diam seperti batu. Haizaki benar-benar tidak mengerti dengan malaikat itu. Tapi iblis abu itu tidak terlalu ambil pusing. Ia memilih kembali ke rumah secepatnya karena perutnya sudah berteriak minta diisi.
Nijimura sendiri hingga sampai di apartemen masih sibuk dengan pikiran yang berkecamuk di dalam otaknya. Bayangan apa itu tadi? Seperti kepingan ingatan yang acak dan tidak tersusun. Tidak jelas dimana dan siapa orang lain yang ada disana selain dirinya. Semuanya serba tidak jelas.
Lelah dengan pikirannya sendiri, pemuda itu memilih menjatuhkan diri ke kasur karena kepalanya mulai sakit. Ia butuh istirahat untuk hari ini.
.
.
TBC
Maaf untuk update yang lambat seperti keong sawah. Selagi berpikir tentang ide cerita lain tiba-tiba saja timbul keinginan untuk melanjutkan ff ini.
Semoga reader sekali suka dan sampai jumpa di chapter berikutnya.
Mind to review? /kedip/
