.

.

Haizaki menopang dagu dengan tatapan datar ke arah meja dimana teman-teman iblisnya yang lain tengah berkumpul bermain dart. Raga Haizaki disitu tapi pikirannya bukan disana. Kembali teringat pada sosok bersayap putih berbibir maju yang kemarin menyeretnya ke dunia manusia. Haizaki sedikit menyesali kenapa ia lupa menanyakan nama malaikat brutal itu. Namun sedetik kemudian ia merasa bodoh, memangnya apa untungnya tahu nama malaikat itu? Sama sekali tidak berguna. Toh, ia tidak akan bertemu lagi dengannya.

Tapi satu hal yang lebih penting lagi terpikir olehnya. Sikap malaikat itu yang tiba-tiba menjadi diam setelah Haizaki menanyakan satu pertanyaan. Haizaki merasa tidak ada yang aneh dengan pertanyaannya. Si malaikat menjelaskan tentang pertemuan, yang tentu saja ada perpisahan sebagai akhirnya, 'kan? Memang apa yang salah dengan pertanyaannya itu?

"Oi, Haizaki! Lebih baik main disini dengan kami! Tampangmu seperti mau mati bosan saja!" seru salah satu iblis di ujung meja sambil memainkan panah dart di tangan sebelum kemudian direbut oleh iblis lainnya."Hei! Kembalikan! Giliranmu masih lama!" serunya kemudian menerjang si pencuri dart.

Haizaki menatap malas. "Aku sedang tidak tertarik bermain," ujarnya lalu turun dari kursinya dan berbalik badan berjalan keluar dari café tempat ia menghabiskan waktu kalau sedang tidak ada kerjaan. Beberapa iblis wanita dengan pakaian minim menggodanya saat berjalan keluar. Biasanya Haizaki akan pulang dengan membawa satu atau dua dari mereka ke rumahnya untuk bersenang-senang, tapi entah kenapa Haizaki sedang tidak berminat saat ini. Ia ingin sekali kembali ke rumah dan bermain dengan video game-nya.

"Haizaki."

Sapaan seseorang menghentikan langkah Haizaki. Ia menoleh. Mendapati sosok dengan setengah wajah ditutupi tudung dan tubuh dibalut jubah hitam panjang hingga ke kaki tengah datang menghampirinya.

"Liu Wei," Haizaki menggumamkan sebuah nama yang dibalas dengan anggukan singkat dari sosok di hadapannya. Wajah Haizaki berubah serius. Saat suruhan petinggi neraka seperti Liu Wei datang menemui Haizaki berarti ada hal penting yang harus segera dikerjakan Haizaki. "Ada pekerjaan untukku?" tanyanya kemudian.

Liu Wei mengangguk lagi. Haizaki tahu kalau iblis yang satu ini memang jarang bicara kalau tidak diperlukan. Liu Wei mengeluarkan sebuah amplop coklat besar dari balik jubahnya kemudian menyerahkannya pada Haizaki yang diterima Haizaki dengan alis berkerut. Amplop itu sedikit berat. Saat ia mengeluarkan isinya, ada sebuah botol dengan cairan bening berkilauan di dalamnya dan sebuah topeng pesta berwarna hitam berhiaskan bulu angsa dengan warna yang sama, serta sebuah kertas berisi beberapa baris tulisan.

"Laksanakan dengan baik, jangan sampai gagal. Kau tahu neraka tidak pernah menolerir kata gagal."

"Ya, ya. Aku mengerti. Tidak perlu mengulang kalimat yang sama setiap kali kau mengantarkan tugas padaku," jawab Haizaki masih sibuk membaca perintah yang tertulis di kertas.

"Pesta?" keningnya berkerut. "Apa gunanya—" Haizaki mengalihkan pandangan dari kertas menuju Liu Wei, tapi pria itu sudah hilang dari hadapannya.

"Ck, kebiasaan buruk. Datang tiba-tiba dan hilang begitu saja. Setidaknya berikan aku sedikit penjelasan," pandangannya kembali pada kertas di tangan. "—Apalagi untuk tugas seperti ini. Sama saja dengan misi bunuh diri," rutuknya.

.

.

Haizaki menginjakkan kakinya tak jauh dari pintu gerbang surga. Pemuda abu itu menatap datar pada gerbang tinggi yang ada di hadapan. Berpendar keemasan ditimpa cahaya matahari sore dengan kristal serupa berlian di ujung-ujungnya. Haizaki melirik sekitar. Malaikat dengan kostum beraneka macam terbang dengan mengepakkan sayap putih mereka—masuk melewati gerbang sambil tertawa ceria.

Haizaki melirik sayapnya sendiri. Hitam kelam seperti jelaga. Ia tersenyum mengejek. Benar-benar perbedaan yang sangat mencolok.

Setelah mengenakan topeng bulu angsanya, ia lalu mengambil sebuah botol kecil dari kantong celana. Botol yang berisi cairan bening berkilauan yang beberapa waktu lalu diberikan kepadanya. Penyumbat botol dibuka, Haizaki langsung meminum isinya dalam satu tegukan. Ia mengernyit. Seperti yang sudah diduga dari bentuknya yang cantik dan terlihat sangat khas malaikat, cairan itu rasanya manis tapi sedikit pahit dan panas saat tiba di tenggorokan. Mengingatkannya pada malaikat kasar beberapa waktu lalu.

Haizaki mengutuk pembuat ramuan ini.

"Hei," seseorang tiba-tiba menepuk punggungnya dari belakang. Haizaki terperanjat dan refleks menjatuhkan botol yang dipegang. Saat ia berbalik dilihatnya seorang malaikat dengan senyum ceria berdiri dihadapannya.

Tidak ada waktu untuk mengambil botol laknat itu kembali, Haizaki menendang ke belakang, berharap benda tersebut tersembunyi dengan baik di dalam gumpalan awan.

"Kostum yang bagus," puji malaikat tersebut. Ia menunjuk sayap hitam di belakang Haizaki saat melihat raut bingung di wajah Haizaki. "Aku sudah mencari sekeliling surga tapi tidak ada yang punya kostum iblis semirip punyamu itu," malaikat itu menatap malas sayapnya sendiri. Berwarna hitam juga tapi menurut Haizaki itu lebih mirip sayap pinguin, atau lebih tepatnya sirip.

"Yeah, dan kostummu menyedihkan. Lebih mirip penguin daripada iblis," Haizaki tanpa basa-basi menyuarakan pikirannya. Malaikat itu hanya tersenyum miris menatap sayapnya sendiri karena ia pun setuju dengan pendapat Haizaki. "Ayo masuk, nanti kita bisa ketinggalan acara utama. Kau tahu sendiri Malaikat Agung tidak suka melihat malaikat yang tidak tepat waktu."

Malaikat itu terbang melewati gerbang utama dan langsung menghilang dari pandangan.

Haizaki menyusul. Sedikit was-was saat mendekat ke gerbang. Khawatir kalau-kalau gerbang itu punya sistem detektor. Ia pasti akan langsung dieksekusi di tempat.

Tapi ternyata tidak. Ia dengan mulus masuk melewati gerbang utama yang biasanya hanya ia lihat dari kejauhan karena sinar berkilauan dari gerbang itu tidak bersahabat bagi matanya. Sepertinya ini efek dari ramuan yang tadi ia minum. Membuatnya bisa menyamar sebagai malaikat. Keren sekaligus mengerikan. Yang membuat ramuan ini pastilah iblis dari golongan atas.

Oke, Haizaki tidak jadi mengutuk orang itu.

Dan yang ia lihat setelah melewati gerbang tersebut adalah lebih banyak kilauan. Taman-taman terhampar dengan bunga terbuat dari kristal dan daun dari emas. Pohon-pohon dengan buahnya yang ranum dan mudah digapai. Malaikat-malaikat kecil berlarian dengan riang. Haizaki mengangkat tangan, melindungi matanya yang masih belum terbiasa dengan semua kilauan ini. Apa hanya dia saja yang berpikir bahwa ini berlebihan?

Namun jika dipikir kembali, surga memang tempat yang seharusnya indah dan berkilauan. Tempat tujuan terakhir orang-orang yang berbuat baik di masa hidupnya. Mereka tentu harus dihadiahi yang setimpal.

Begitu juga dengan neraka tempat ia tinggal. Sudah selayaknya adalah tempat yang mengerikan karena itu adalah tempat hukuman bagi para pendosa. Haizaki sendiri pernah memikirkan dosa apa yang dulu ia buat sehingga ia berakhir di neraka, namun ia memilih untuk tidak ambil pusing karena hanya membuat sakit kepala. Lagipula tinggal di neraka juga tidak terlalu buruk. Ia bebas mau melakukan apapun.

Setelah terbang cukup lama, Haizaki sampai di halaman sebuah bangunan megah dengan pilar-pilar besar yang menopang. Dinding-dindingnya penuh ukiran dan dihiasi berbagai batu permata.

Pada balkon lantai dua, di balik tilam keemasan, Haizaki melihat sesosok malaikat yang menjadi bahan pembicaraan malaikat-malaikat lain saat Haizaki dalam perjalanan kesini. Sepertinya ini yang mereka panggil sebagai Malaikat Agung. Meski tidak terlalu jelas, Haizaki bisa melihat malaikat itu memiliki surai kemerahan dari balik tilam emas tipis yang menutupi sosoknya. Dengan jarak yang cukup jauh ini, Haizaki dapat merasakan aura Malaikat Agung tersebut sangat berbeda dengan malaikat lain yang pernah Haizaki lihat. Mungkin kalau di neraka, Malaikat Agung ini setara dengan Raja Iblis. Entah kenapa rasanya mereka berdua sama-sama menyebalkan.

"Mari kita mulai perayaannya…"

Hanya dengan satu kalimat dari Malaikat Agung, kerumunan malaikat di sekeliling Haizaki langsung heboh, diikuti dengan suara musik dan beberapa malaikat mulai menari. Haizaki melipir, takut terinjak gerombolan malaikat yang menari dengan semangat.

Saat melangkah mundur, punggungnya menabrak sesuatu.

"Hm? Sedang apa kau disini?"

Ah, bukan sesuatu, tapi seseorang.

-TBC-