.
Jujutsu Kaisen © Gege Akutami
The Lonely Scientist and The Lonely Robot
A Goyuu Fanfiction Based on Vocaloid Songs: Kokoro & Kokoro Kiseki
Dedicated for Gojo Satoru's Birthday (A Very Late One, Yes)
by MeganeD
Rating: T
.
Happy Reading!
Keajaiban yang pertama adalah kelahiran dirimu di dunia ini
.
.
Gojo Satoru.
Nama dari seorang ilmuwan yang telah terkenal hingga ke seluruh penjuru dunia.
Bagaimana tidak? Ia merupakan seorang pria yang tampan, cerdas, muda, berbakat, memiliki kekayaan yang berlimpah, lalu ditambah dengan segudang prestasi serta kontribusi-kontribusi besarnya di dalam dunia ilmu pengetahuan. Di umurnya yang ke-25 tahun, ia memiliki segala hal yang diimpi-impikan oleh banyak orang. Penemuannya selalu mencapai kesuksesan dan telah banyak membantu dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Bahkan dengan kepribadiannya yang kurang menyenangkan bagi kebanyakan orang, mereka semua tetap menaruh perasaan kagum dan hormat padanya.
Meski begitu, ia memiliki sebuah julukan yang tidak begitu membanggakan.
The Lonely Scientist―begitulah orang-orang memanggilnya.
Dengan segala hal yang ia miliki, Gojo Satoru hidup dalam kesendirian.
Keluarga? Ia telah lama memisahkan diri dari keluarganya dan tinggal di tempat yang jauh dari jangkauan mereka. Teman? Tentu, ia memiliki teman-teman yang dapat diandalkan. Namun, mereka tak dapat 'masuk' ke dalam pusat kehidupannya. Seolah-olah terdapat sebuah tembok tinggi yang transparan, berdiri tegak sebagai pembatas antara dirinya dan semua orang.
Suatu hari, sang ilmuwan yang kesepian tersebut menciptakan sebuah 'keajaiban'.
Untuk pertama kalinya di dalam sejarah, ia berhasil menciptakan sebuah robot dengan fisik dan intelegensi yang sempurna.
Di laboratorium pribadinya, Satoru berdiri memandang 'keajaiban' di tersebut. Terlihat sosok dari seorang pemuda dengan sepasang manik semanis madu, paras bak malaikat serta helai rambut seindah bunga sakura―begitu menggambarkan musim semi yang tengah berlangsung. Bagi Satoru, 'kelahiran' dari sosok yang berada di hadapannya tersebut merupakan keajaiban yang pertama di dalam hidupnya.
"Halo! Perkenalkan, aku adalah Satoru―orang yang telah membawamu ke dunia ini. Mulai hari ini, namamu adalah Yuuji." Ia berucap dengan penuh kehangatan dan rasa bangga.
Sosok di hadapannya mulai mengerjapkan kelopak matanya beberapa kali. Kemudian, alunan suara yang indah pun mengalir dari bibirnya.
"Sa-to-ru."
Sejak saat itu, Satoru selalu membawa sang robot ke mana pun ia pergi. Semua orang sekali lagi dibuat kagum oleh penemuan yang disebut-sebut sebagai 'keajaiban' tersebut. Anehnya, kali ini Satoru tak bersedia untuk memberikan penemuan tersebut kepada dunia. Mau berapa kali pun orang-orang membujuk, menawarkan harga tertinggi, bahkan hingga memberikan ancaman padanya, Satoru tetap teguh akan pendiriannya dan menolak untuk memberikan hasil penelitiannya kepada siapa pun.
"Mungkin bagi kalian robot ini tampak sempurna. Ia memiliki fisik yang begitu serupa dengan manusia, bahkan lebih rupawan dari kebanyakan orang. Kecerdasan yang dimilikinya benar-benar berada di level yang sangat tinggi, hingga tak ada artificial intelligence yang mampu menandinginya. Kekuatan serta ketahanan tubuh yang ia miliki pun juga berada di atas rata-rata, menjadikannya sebagai penyerang dan pelindung yang tak terkalahkan." Sang ilmuwan tersebut berucap, dengan punggung yang dihadapkan kepada para pengemis tersebut. Sebelah tangannya terletak di puncak kepala Yuuji, mengelus dan menyisir helaiannya dengan lembut.
Tanpa mengalihkan pandangannya dari Yuuji, Satoru pun melanjutkan, "Namun, masih terdapat kekurangan yang ia miliki. Sebuah kekurangan kecil yang begitu penting dan berharga, tetapi masih mustahil untuk diciptakan."
Hal tersebut adalah kokoro―hati.
Sebuah program yang dibutuhkan Satoru untuk menyempurnakan 'keajaiban' yang telah ia ciptakan.
"Dan aku tidak akan menyerahkan data penelitianku kepada siapa pun, hingga aku berhasil memberikan kesempurnaan kepada Yuuji."
Dengan begitu, Satoru pun secara perlahan mulai menghilang dari publik dan media. Ia tak lagi menghadiri acara penghargaan mana pun. Ia tak lagi menerima undangan wawancara dari siapa pun. Bahkan ia sudah mulai jarang menginjakkan kakinya ke dunia luar―memilih fokus dan mencurahkan seluruh hidupnya bersama Yuuji di kediaman mereka satu-satunya, serta demi menyempurnakan program yang sangat mustahil untuk diciptakan tersebut.
"Satoru, apa kau yakin akan hal ini?" Suguru, salah satu teman dekat yang dimiliki oleh sang ilmuwan tersebut bertanya. Sejak mengetahui tabiat baru dari temannya itu, ia dan Shoko―sebagai teman terdekat yang dimiliki Satoru―memutuskan untuk melakukan kunjungan rutin ke kediamannya. Selain untuk menjaga komunikasi di antara mereka, keduanya juga ingin memastikan bahwa Satoru tidak menjadi gila oleh penelitiannya sendiri.
Tak jauh dari kedua pria tersebut, terlihat Shoko tengah bersama dengan Yuuji, entah membicarakan apa sembari berkeliling memetik tanaman serta bunga-bunga yang bermekaran di taman yang mereka miliki. Sebagian untuk dibawa wanita tersebut pulang―demi keperluan medis―sebagian lagi tentunya untuk digunakan di kediaman Satoru. Entah itu untuk obat, maupun diolah menjadi selai dan teh. Yuuji sangat ahli dalam mengolahnya, membuat Satoru menjadi ketagihan.
Pandangan dari sang ilmuwan itu sendiri sejak awal tak pernah lepas dari Yuuji.
Yuuji yang tak pernah tersenyum. Yuuji yang tak pernah menangis. Yuuji yang tak pernah marah. Yuuji yang tak pernah menunjukkan emosi apapun, selain raut wajah penuh kepatuhan atas segala hal yang ia ucapkan.
"Ya, aku sangat yakin."
Satoru diingatkan kembali dengan pertemuan pertama mereka―ketika ia pertama kali bertemu dengan sepasang manik sewarna madu tersebut.
"Kau tahu, Suguru? Bagiku, kehadiran Yuuji adalah sebuah keajaiban. Untuk pertama kalinya, aku dapat menemukan tempat bagiku untuk 'pulang'. Dan kini, Yuuji adalah sosok yang sangat berharga bagiku. Aku ingin mengajarkan banyak hal padanya … mengajarkan segala hal yang ia sendiri masih belum mampu untuk memahaminya saat ini."
Suguru hanya menghela napas. Ia semakin merasa tidak yakin, apakah hal ini adalah keputusan terbaik atau justru langkah yang dapat membawa temannya ke dalam jurang keputusasaan.
"Satoru, kau mengerti bahwa program yang kau inginkan itu adalah hal yang mustahil untuk diciptakan? Tidak peduli betapa jeniusnya dirimu, tak ada kepastian bahwa kau dapat menciptakan sebuah hati untuk Yuuji," jelasnya. Sebagai teman yang baik, Suguru hanya ingin agar Satoru tak mengorbankan seluruh hidupnya untuk mengejar hal yang fana. Baik Suguru maupun Shoko, tidak ingin menyaksikan teman mereka jatuh ke dalam jurang yang sama untuk kedua kalinya.
Mau seburuk apapun kepribadiannya, Satoru tetap berhak untuk mendapatkan kebahagiaan.
Di sampingnya, Satoru justru hanya tersenyum. Dengan kilatan determinasi di matanya, ia pun berkata, "Aku sudah bilang 'kan? Bagiku, Yuuji adalah sebuah keajaiban. Dan aku yakin, bahwa aku dapat menciptakan keajaiban tersebut sekali lagi … tak peduli berapa lama waktu yang harus dilalui."
'Ah … benar juga, ya.'
"Aku percaya pada diriku, dan juga pada Yuuji."
'Bagi Satoru, Yuuji adalah kebahagiaan terbesarnya ….'
.
Keajaiban yang kedua adalah hari-hari yang kita lalui bersama
.
Menjalani kehidupan bersama Yuuji sangatlah menyenangkan. Satoru yang sebelumnya selalu tinggal seorang diri, merasakan bahwa hari-harinya jauh menjadi lebih berwarna. Tidak seperti semua orang, Yuuji tidak pernah memberikannya tatapan yang aneh dan menghakimi. Dia tidak pernah mengucilkan maupun menghindari Satoru karena kepribadiannya yang buruk. Dia tidak pernah meninggalkan Satoru seorang diri. Dia tidak pernah komplain atas segala hal-hal absurd yang dilakukan Satoru. Justru sebaliknya, Yuuji selalu mengekorinya ke mana pun dan selalu meminta kepada Satoru agar dirinya juga diikutsertakan dalam segala aktivitas yang dilakukan sang ilmuwan.
Selain itu, meskipun Yuuji pada dasarnya memiliki intelegensi yang tinggi, tetap terdapat banyak hal yang tidak ia pahami. Jadi, setiap harinya Satoru selalu mendapatkan pertanyaan-pertanyaan yang baru dari sang robot.
Seperti saat ia menyaksikan Satoru yang selalu bersemangat ketika mengonsumsi asupan manis hariannya, Yuuji akan bertanya dengan ekspresinya yang datar.
"Kenapa Satoru tersenyum setiap makan makanan manis?"
Yang tentunya dijawab dengan senang hati oleh Satoru.
"Karena rasanya enak! Yuuji juga mau coba?"
Yang tentunya, tidak mendapatkan hasil yang Satoru harapkan. Saat itu ia merasa seolah tengah diceramahi oleh Shoko―yang memang seorang dokter―mengenai kandungan gula dan gizi yang terkandung dalam makanan manis tersebut yang dilanjutkan dengan penjelasan mengenai berbagai macam penyakit yang dapat ditimbulkan karenanya. Terkadang Satoru bertanya-tanya, apakah ini merupakan kesalahannya karena telah memprogram Yuuji seperti itu, atau apakah ini karena Yuuji yang terlalu sering berhubungan dengan Shoko?
Ataupun ketika Satoru merasa uring-uringan karena mendapatkan bombardir berupa telepon dan pesan-pesan yang memintanya untuk datang ke suatu acara ataupun wawancara.
"Kenapa Satoru tidak mengangkat telepon?"
Satoru hanya berdecak kesal, "Karena mereka pasti akan memintaku untuk mendatangi acara-acara tidak penting itu lagi! Padahal aku sudah bilang kalau aku tidak akan berhubungan lagi dengan orang-orang seperti mereka."
Yuuji hanya mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Kenapa Satoru tidak mau berhubungan dengan mereka?"
"Karena mereka selalu memintaku untuk menciptakan 'Yuuji' yang lain juga!" jawabnya bersungut kesal.
Yuuji masih setia memberinya tatapan datar―seperti biasa. Namun, terdapat kilatan kuriositas pada kedua manik madu miliknya. Ia pun kembali bertanya dengan nada murni keingintahuan, "Apakah Satoru tidak bisa menciptakan 'Yuuji' yang lain?"
Mendengar hal tersebut, pria bersurai putih tersebut sontak langsung protes.
"Tentu saja aku bisa! Tapi 'kan aku tidak mungkin―"
Satoru berhenti di tengah kalimat dan terdiam. Pandangannya tertuju kepada Yuuji, kepada ekspresi datar yang dimilikinya. Ia kembali teringat akan percakapannya dengan Suguru beberapa waktu yang lalu, teringat akan memori lama tentang sepasang manik madu yang memancarkan kehangatan.
Satoru ingin mengembalikan pancaran kehangatan itu. Ia ingin melihat Yuuji yang tersenyum dengan tulus padanya―bukan senyuman kaku tanpa emosi yang didapatkan dari hasil meniru ekspresi orang lain. Ia ingin melihat Yuuji yang marah karena kesal―bukan hanya berupa nada suara yang ditinggikan namun terasa datar. Ia ingin melihat semua bentuk emosi yang tulus pada diri Yuuji. Satoru ingin mengajarkan padanya, mengenai kebahagiaan dan kesedihan. Mengenai kasih sayang dan amarah. Mengenai rasa aman dan ketakutan.
Serta mengenai perasaan cinta, seperti yang Satoru rasakan padanya.
"Kenapa itu tidak mungkin Satoru lakukan?" ucap Yuuji tiba-tiba, membawanya kembali kepada kenyataan.
Sang ilmuwan tersebut dapat merasakan rasa perih di dadanya. Namun, ia tetap memperlihatkan senyumannya kepada sang robot.
"Karena Yuuji adalah satu-satunya untukku. Aku tidak ingin membagi Yuuji kepada siapa pun, tidak kepada dunia yang kejam ini." Ucapnya dengan nada yang lembut.
Pada saat itu, untuk pertama kali dalam hidupnya Satoru membuat sebuah harapan kepada entitas Tuhan yang selama ini tidak pernah ia akui.
'Tolong … aku berharap, agar suatu hari nanti aku bisa memberikannya pada Yuuji.'
'Sebuah perasaan.'
.
Keajaiban yang ketiga, aku masih belum mampu untuk mewujudkannya
.
Entah sudah berapa lama waktu yang berlalu, Satoru tidak ingat.
1 tahun?
5 tahun?
Atau mungkin 10 tahun?
Sudah berapa lama waktu yang ia habiskan, untuk menciptakan 'program' yang mustahil ini?
Sang ilmuwan tersebut tidak begitu peduli untuk memastikannya. Baginya, menghitung waktu hanya akan memunculkan kegelisahan yang tak berujung. Karena pada dasarnya waktu akan selalu berjalan, meninggalkan segala sesuatu yang berusaha untuk mengejar dan menghentikannya. Ketidakpastian akan segala hal hanya akan memberikan dampak yang buruk bagi determinasinya, dan ia tak menginginkan hal itu.
Namun, terdapat satu hal yang pasti.
Meskipun Yuuji memiliki waktu yang tak terbatas, sebaliknya―Satoru sudah tidak lagi memiliki banyak waktu yang tersisa.
Suguru dan Shoko seperti biasa selalu berkunjung atau menghubunginya, untuk memastikan bahwa teman mereka masih hidup dan bernapas. Namun, semakin lama Satoru semakin tidak peduli dengan dunia luar. Ia terus bergelut dengan penelitiannya, hanya terfokus kepada Yuuji dan segala hal yang berkaitan dengan sosok tersebut. Bahkan Yuuji sendiri seringkali bertanya mengenai hal yang ia lakukan, tidak paham mengenai betapa terobsesinya sang ilmuwan terhadap program yang ia sebut sebagai KOKORO itu.
"Sepenting apakah program itu bagi Satoru?"
Pria yang ditanyai hanya bergumam, fokus pandangannya tetap tertuju pada layar komputer dan segala hal yang tertulis di sana.
"Karena Yuuji yang sekarang masihlah belum sempurna. Terdapat banyak hal yang belum dapat kau lakukan. Jika aku berhasil menciptakan program ini, maka aku dapat mengajarkan lebih banyak hal kepada Yuuji dengan mudah!" jawabnya.
Yuuji memiringkan kepalanya ke samping―hal yang terkadang ia lakukan untuk menunjukkan perasaan bingung. Manis sekali. Satoru sangat bersyukur ia memprogram berbagai macam hal kepada Yuuji sehingga bisa melihat sisi menggemaskan dari sang robot. Meski terkadang Suguru dan Shoko memberikan tatapan aneh padanya―seakan-akan ia telah melakukan suatu tindak kriminal―Satoru sama sekali tidak peduli.
"Hal apa yang ingin Satoru ajarkan padaku?"
Satoru menghentikan kegiatannya, lalu mengalihkan pandangan untuk menatap kedua manik madu favoritnya. Begitu indah dan manis, tetapi ia hanya menemukan kehampaan di dalamnya. Refleksi dari dirinya sendiri terpantul di sana, dan Satoru hanya dapat berpikir dalam diam.
'Bagimu, baimana arti dari eksistensi diri ini, Yuuji?'
Sebelah tangan Satoru pun mendarat di puncak helaian merah jambu milik Yuuji, mengusapnya dengan lembut dan perlahan.
"Aku ingin mengajarkan hal-hal seperti kebahagiaan dan kesedihan kepada Yuuji." Satoru dapat merasakan nada suaranya yang mulai bergetar.
"Aku masih belum mengerti. Apa itu kebahagiaan?"
Kebahagiaan adalah ketika kau terlahir ke dunia ini, hadir di dalam kehidupanku.
"Bagiku, kebahagiaan adalah ketika Yuuji berada di sini, bersamaku." Kali ini, Satoru merasakan sensasi panas di kedua matanya.
"Kalau begitu, apa itu kesedihan?"
Kesedihan adalah ketika aku tak mampu memberikan keajaiban dari perasaan padamu, menjadikanmu sebagai sosok yang masih belum sempurna.
"Bagiku, kesedihan adalah … ketika aku harus meninggalkanmu seorang diri di dunia ini, suatu saat nanti." Setetes air mata pun jatuh, menuruni pipi sang ilmuwan. Yuuji yang melihatnya refleks mengangkat tangan, menaruhnya di wajah pria tersebut―berusaha untuk menghapus air mata yang mengalir. Untuk pertama kalinya, sang robot menyaksikan pria bersurai seputih salju itu meneteskan air matanya.
"Kenapa Satoru menangis?"
Setelah pertanyaan tersebut terlontar, Satoru sontak langsung menarik Yuuji ke dalam pelukannya. Tubuh Yuuji terasa begitu hangat, begitu hidup. Namun, kehangatan tersebut tak mampu mengisi kehampaan yang berada di dalamnya. Dan hal tersebut begitu menampar Satoru, seolah-olah realita tengah menertawakan ketidakmampuannya sebagai seorang manusia biasa.
"Karena aku merasakan hal yang dinamakan kesedihan, Yuuji …."
Sang ilmuwan hanya memiliki waktu yang terbatas.
Namun, sang robot masih belum dapat memahaminya.
Tidak peduli seberapa kerasnya Satoru mencoba. Tidak peduli seberapa besarnya usaha Yuuji berusaha untuk memahami. Tidak peduli berapa kali Satoru menjelaskan dan berbicara mengenai kebahagiaan, kesedihan, kekesalan, keputusasaan, hasilnya tetap tak berubah. Segalanya berada di luar pemahaman dari sang robot, bagaikan misteri yang tak berujung.
Semakin lama waktu berlalu, semakin besar tekanan yang dirasakan oleh Satoru. Beban pikiran akan waktu yang semakin mengejarnya terus menghantui di setiap malam, dan perasaan frustasi seringkali muncul menyerang sang ilmuwan. Kehadiran Yuuji adalah satu-satunya pegangan sekaligus obat yang menghilangkan kegilaan di dalam pikiran Satoru, sehingga ia tak pernah mau berpisah dari sang robot barang sedetik pun.
Hari ini adalah hari ulang tahun Satoru. Setiap tahunnya, Satoru dan Yuuji selalu merayakan hari ulang tahun mereka dengan cara yang berbeda masing-masingnya. Seperti pada hari ulang tahun Yuuji yang terakhir―20 Maret, tepat dimulainya awal musim semi, mereka memutuskan untuk menanam sebuah pohon sakura di halaman depan rumah. Satoru paham betul bahwa Yuuji akan hidup cukup lama untuk dapat menyaksikan pohon tersebut tumbuh besar. Atau pada ulang tahun Satoru yang sebelumnya, dimana mereka menghabiskan waktu seharian untuk membuat patung es―dimenangkan oleh Yuuji tentunya, dengan kuantitas dan kualitas patung es yang lebih tinggi daripada Satoru.
Tahun ini, mereka merayakan ulang tahun Satoru dengan lebih biasa. Hanya membuat kue bersama, menonton film favorit mereka di bioskop mini yang dibangun Satoru sembari berbagi kehangatan di balik selimut ditemani dengan berbagai jenis kue dan makanan manis serta coklat hangat buatan Yuuji. Pada suatu titik, Satoru hampir tertidur di tengah-tengah film yang entah keberapa, dengan dagu yang bersandar nyaman di bahu dari sosok di dalam pelukannya. Sebelum kemudian Yuuji berdiri dari sofa yang mereka tempati, otomatis membuat Satoru tersentak dan kembali kepada kesadarannya.
"Hnggh … Yuuji, kenapa tiba-tiba berdiri?" gumam Satoru masih dengan perasaan kantuk yang tersisa di wajahnya. Yuuji hanya terdiam. Pandangannya begitu lurus, seolah menembus layar yang tengah menampilkan film tersebut. Sepasang matanya yang berwarna coklat madu terlihat bersinar, hal yang biasa terjadi ketika Satoru melakukan instalasi sistem yang baru atau ketika sang robot tengah melakukan proses memuat suatu data.
"Menerima sebuah pesan."
Layar yang tengah menayangkan film tersebut langsung berubah seperti video statik.
"Pengirimnya adalah 'Masa Depan'―"
Sebuah simbol loading pun kemudian muncul.
"―'Itadori Yuuji'."
Satoru tersentak kaget. Nama tersebut adalah nama yang sudah lama sekali tidak ia dengar. Seketika, jantungnya langsung berdetak kencang dan pandangannya hanya terpaku pada layar televisi yang hampir memenuhi dinding. Tampilan layar pun langsung berganti, memuat sebuah pesan.
Di layar, muncul sebuah pemandangan yang terasa tidak begitu asing. Halaman luas berwarna kehijauan―dihiasi oleh kelopak bunga sakura yang beterbangan. Tidak hanya itu, terlihat sosok dari seorang pemuda dengan surai sewarna dengan sakura di sekitarnya. Sosok tersebut terlihat tengah berlarian ke sana kemari, dengan kedua lengan yang dibentangkan seolah-seolah tengah berusaha untuk menangkap seluruh kelopak sakura yang berjatuhan. Sesekali, ia akan melompat dan terjatuh di atas hamparan rumput hijau.
Dengan kedua bola mata yang membelalak, Satoru hanya dapat terdiam menyaksikan. Mau berapa kali pun dilihat, sosok pemuda tersebut sudah jelas merupakan Yuuji. Namun, di saat bersamaan sosok tersebut juga tak mungkin merupakan Yuuji.
Karena Yuuji yang berada di sampingnya saat ini, tidak mampu memperlihatkan senyuman serta tawa yang begitu menyilaukan seperti yang diperlihatkan oleh sosok pemuda di video tersebut. Yuuji yang berada di sampingnya saat ini, tidak memiliki kilatan kehidupan di kedua manik matanya. Yuuji yang berada di sampingnya saat ini, tidak dapat mengeluarkan suara yang begitu penuh dengan emosi―perasaan.
Apakah ini semua hanyalah ilusi?
Sebuah program lainnya yang mencerminkan keinginan terdalam dari sang profesor?
Namun, sosok tersebut begitu nyata. Senyumannya yang indah, suara tawa yang begitu nyaring dan terdengar begitu hidup, serta caranya melantunkan nama dari pria tersebut―semuanya terasa begitu nyata.
[Halo! Apakah Satoru dapat melihatku? Aku harap pesan ini dapat tersampaikan dengan tepat waktu ….]
'Iya, Yuuji … aku dapat melihatmu dengan sangat jelas. Pesanmu juga telah terkirimkan dengan sempurna.'
[Tahu, tidak? Hari ini adalah hari ulang tahunku!]
'Hari ulang tahunmu, ya …. Tahu, tidak? Hari ini adalah hari ulang tahunku juga! Jadi saat ini kita saling merayakan ulang tahun satu sama lain bersama-sama, ya.'
[Aku senang sekali, ternyata waktunya bertepatan dengan mekarnya bunga sakura.]
'Ah … Yuuji ulang tahun di musim semi, kan? Syukurlah kalau begitu, rasanya seperti seluruh bunga sakura sedang ikut merayakan hari kelahiranmu!'
[Pohon sakura yang waktu itu kita tanam bersama, lihat! Sekarang sudah sebesar ini! Aku menjaganya dengan sangat baik, loh!]
'Sudah kuduga, pantas saja rasanya familiar. Berarti itu adalah halaman depan rumah kita, ya? Pohonnya sudah besar sekali, ya … kira-kira, Yuuji sedang berada di tahun berapa? Apakah ini berasal dari puluhan tahun yang akan datang? Atau bahkan mungkin ratusan tahun?'
[Satoru, sebenarnya ada banyak sekali hal yang ingin kusampaikan ….]
'Sepertinya, aku sudah tidak ada di sana, ya ….'
[Tapi, aku ingin menyampaikan hal terpenting―hal yang selama ini belum sempat kusampaikan padamu.]
'Ah, akhirnya aku dapat melihat ekspresi lembut dari Yuuji yang sangat aku sukai.'
[Satoru―]
Beberapa kalimat terbentuk dari bibir itu. Namun, segalanya terasa hening bagi Satoru. Kalimat yang ia dengar selanjutnya benar-benar membuatnya terpaku. Manik kebiruan miliknya terasa panas, tetapi ia tak dapat mengalihkan pandangannya dari kebahagiaan yang terpancar dengan jelas dari sepasang mata sewarna madu di hadapannya itu. Warna madu favoritnya yang penuh dengan cinta dan kehangatan.
Sosok tersebut terlihat bagaikan seorang malaikat yang datang dari masa depan.
Satoru tertawa kecil. Air mata yang mengandung seluruh perasaannya pun tumpah, membanjiri wajah rupawan tersebut. Ia langsung berbalik menghadap Yuuji-nya di masa ini, menariknya ke dalam pelukan yang erat. Senyuman yang lebar terukir di wajah yang ia benamkan di leher sang robot. Kali ini, tubuhnya tidak lagi bergetar. Semua perasaan takut dan frustasi yang selama ini ia rasakan seolah terbang entah ke mana.
Satoru menarik wajahnya, kemudian ia menempelkan dahi Yuuji dan miliknya. Di sekitarnya, masih bergema suara tawa dan teriakan ceria dari sosok yang berada di layar. Sembari memberikan pandangan yang memancarkan perasaan bahagia, Satoru hanya berkata dengan lembut.
" Tidak, Yuuji … terima kasih. Terima kasih, ya …."
Satoru tidak peduli jika pandangan yang diberikan Yuuji saat ini kepadanya terasa begitu hampa. Satoru tidak peduli jika senyuman yang tulus tidak dapat terukir di bibir sang robot saat ini. Satoru tidak peduli jika Yuuji masih belum dapat memahami apapun.
Satoru percaya, suatu saat nanti di masa depan, Yuuji pasti akan mendapatkannya.
Sebuah perasaan―hati.
.
Keajaiban yang pertama adalah kelahiran dirimu di dunia ini.
Keajaiban yang kedua adalah hari-hari yang kita lalui bersama.
Keajaiban yang ketiga adalah ketulusan dari hatimu, malaikat yang datang dari masa depan.
Keajaiban yang keempat ….
Aku sudah tak lagi membutuhkannya.
.
.
Namun … jika memang terdapat satu keajaiban lagi yang kuinginkan,
Maka hal itu adalah agar suatu saat nanti kita dapat bertemu lagi dan kembali bersatu,
Untuk selamanya.
.
.
[PROGRAM MODIFICATION]
[FILE: N]
[STARTING INSTALLATION….]
.
.
A/N:
Untuk part 1, diambil dari sudut pandang gojo dan lebih cocok digambarkan dengan lagu kokoro kiseki (kagamine len).
Untuk part 2, dari sudut pandang yuuji;) lebih cocok digambarkan dengan lagu kokoro (kagamine rin).
Silahkan sambil didengar lagu aslinya, but be careful of the spoilers~ Except for the one who already know the song, then you know what to expect in the next chapter:D
And once again, happy (late) birthday Gojo-sensei~
Thank you for reading!
Sign,
MeganeD
