"Jalur Merah – Chapter 2 : Permulaan"

Fanfiction by Dramaquenns

Warning(s) : Alternate Universe, sedikit hints TaufanxYaya dan HalilintarxYing, horornya dikit, dramanya banyak, bahasa dialog non-baku.

Disclaimer : BoBoiBoy © Monsta. Tidak ada keuntungan material apapun yang diambil dari fanfiksi ini.

.

.

.

"Yakin lewat sini?" Halilintar menaikkan alis, sedikit menyangsikan pilihan Fang. Ia sempat memandang papan petunjuk usang yang tak lagi bisa dibaca di persimpangan tadi sebelum mereka berbelok.

"Iya, lewat sini," kata Fang. "Bentar lagi kita sampai, kok. Tenang aja."

Yang lain hanya mengangguk. Mereka sudah terlalu lelah untuk bicara dan ingin cepat-cepat tiba di puncak. Jadi tak ada yang bertanya lagi sementara mereka kembali menyusuri hutan.

Fang menoleh pada teman-temannya yang serius berjalan. Menghela napas, ia meneruskan langkah dengan tetap memimpin di depan. Sejauh ini tidak ada yang curiga. Tidak ada yang bertanya mengapa jalan setapak yang mereka lalui ini semakin sepi saja. Bahkan suara burung tidak lagi terdengar.

"Kalau capek bilang, ya, supaya bisa istirahat," pesan Fang.

"Belum, kok," Yaya menyahut, napasnya terengah-engah. "Emangnya kita masih jauh dari puncak, ya?"

"Nggak sih, tapi siapa tau kalian mau istirahat. Makin ke atas, makin susah jalurnya."

"Nggak usah istirahat. Mau cepat-cepat sampai," kata Taufan di sela napasnya yang terengah. "Ini jalannya bener nggak, sih? Kok belum sampai juga? Kalau nyasar gimana?"

"Nggak bakal nyasar, lah. Fang kan tau jalan," kata Ying. Ia sudah melepas kuncir rambutnya dan berganti dengan gelung berantakan di puncak kepalanya untuk mengatasi gerah dan keringat. Kacamata disimpan di saku. Ying hanya memakainya sebagai aksesoris, dan matanya masih bisa melihat cukup jelas.

"Tapi Fang cuma pernah ke sini sekali, 'kan? Kamu yakin masih ingat jalannya, Fang?" tanya Halilintar dengan mata menyipit. Sejak tadi hanya Halilintar yang terus meragukan jalur mereka.

Fang menghela napas lelah. "Ya, iyalah, aku masih inget. Aku yakin kok kita emang lewat jalan ini."

Pemuda itu kembali berjalan, diikuti yang lain. Sementara Halilintar diam-diam mengawasi punggung Fang yang berjalan di depan. Ia sedari tadi tidak berkomentar, tapi Halilintar yakin ia sempat melihat petunjuk arah baru di persimpangan yang menunjuk ke jalan setapak satunya —bukan yang mereka lalui ini. Ia menarik tas Ying yang berjalan tepat di depannya, membuat gadis itu terkejut.

"Kamu yakin kita lewat sini?" bisik Halilintar pelan agar tidak kedengaran yang lain.

"Yakin, lah. Kan Fang yang bilang kita emang lewat sini," sahut Ying.

"Terus kamu percaya?" tanya Halilintar.

"Kenapa harus nggak percaya?" Ying mengangkat sebelah alisnya. "Fang 'kan emang pernah ke sin. Lagian dia juga ngapain bohong sama kita? Kalau lupa ya dia pasti ngomong, lah."

"Tapi ... kayaknya emang bukan lewat sini, deh." Gempa yang berjalan di belakang Halilintar, ikut menyahut. "Kalian nggak ngerasa ini terlalu sepi buat jalur mendaki? Nggak ada orang yang lewat atau nyusul kita dari tadi, padahal di bawah tadi masih rame, lho."

"Lagi pada istirahat kali," komentar Taufan, yang tak sengaja mendengar percakapan mereka. Ia meraba-raba ranselnya untuk mencari minum, lalu ingat botolnya sudah kosong. "Eh, ada yang masih punya minum? Bagi, dong."

"Di depan sana ada danau," Fang menjawab dari barisan depan. "Kita bisa mampir bentar buat minum."

"Serius? Ayo buruan ke sana, deh. Aku udah hampir mati dehidrasi dari tadi," kata Gopal. Ia dan Taufan bergegas menyusul Fang di depan, sementara yang lain ragu-ragu.

"Kita lanjut jalan?" tanya Gempa.

"Menurutku kita harus balik," balas Halilintar sangsi.

"Tapi yang lain udah pada jalan duluan," gumam Ying, menunjuk Taufan, Fang, dan Gopal yang sudah cukup jauh di depan.

"Ying, nggak jalan?" Yaya menoleh dan baru menyadari teman-temannya yang di belakang tidak ikut melangkah. "Nanti ketinggalan, lho. Ayo, biar kita cepat sampai puncaknya."

Ying menatap Halilintar dan Gempa bergantian, lalu Yaya. Ia mulai merasa ragu setelah mendengar penuturan Halilintar dan Gempa. Bagaimana jika mereka memang salah memilih jalur?

"Oke, kayaknya sekarang mendingan kita lanjut jalan aja deh," usul Ying akhirnya. "Baru nanti setelah kita sampai danau kita omongin sama yang lain, ya?"

Halilintar dan Gempa saling melempar pandang.

"Ya udah," kata Halilintar, mengangguk kecil. "Ayo, kita jalan."

Yaya dan Ying berjalan lebih dulu sementara Halilintar dan Gempa menyusul di belakang mereka.

Gempa mendongak untuk memandang langit kelabu di balik kanopi dedaunan. Sepertinya memang sebentar lagi hujan akan turun. Ia sudah harus sedia jas hujan dan jaket dengan lapis banyak setelah ini.

"Lho, Ying, kok berhenti?" tegur Gempa ketika jalannya dihalangi Ying. Ia menoleh ke depan dan melihat Halilintar dan Yaya sudah menyusul yang lain.

"Iya, kamu duluan aja," kata Ying, berjongkok. "Aku mau iket tali sepatuku dulu. Nanti aku nyusul."

"Oke," kata Gempa. "Jangan lama-lama, ya?"

"Sip." Ying tersenyum.

Gempa berjalan lebih dulu, melirik Ying yang cepat-cepat mengikat tali sepatunya. Ia sengaja memperlambat langkah agar tetap bisa menunggu Ying, tapi juga menjaga matanya tetap di depan supaya tidak kehilangan jejak yang lain.

Sesampainya di danau, Gempa mendapati teman-temannya telah selesai mengisi botol minum. Gopal, Fang, dan Taufan terlihat tengah mengobrol di bawah pohon sambil minum. Sementara Halilintar dan Yaya tengah bergantian mengisi botol mereka di tepi danau.

Gempa berjalan mendekat seraya mengeluarkan botol minum miliknya, lalu mengisinya sampai penuh.

"Udah pada ngisi semuanya, 'kan?" Fang berseru. Tangannya menunjuk ke langit mendung di atas. "Kalau udah, kita langsung jalan, ya. Sebentar lagi kayaknya bakal hujan."

"Ying mana, Gem?" Halilintar bertanya saat menyadari Gempa hanya muncul seorang diri.

"Oh, tadi dia lagi ngikat tali sepatunya," kata Gempa. Ia menoleh dan mengernyit mendapati Ying tidak ada di belakangnya. "Harusnya sih dia udah nyusul."

"Kamu ninggalin Ying sendirian di belakang?" Halilintar berdecak. Ia menyimpan botol di ransel, lalu bergegas kembali ke jalan yang dilalui mereka tadi.

"Lho, Hali, mau ke mana?" Taufan berteriak memanggil, tapi Halilintar sudah menghilang di balik jalur menurun.

"Hali nyusulin Ying balik," Gempa segera menjelaskan. Ia merasa bersalah karena meninggalkan gadis itu seorang diri di belakang. "Tadi dia ngikat tali sepatu. Kupikir nggak lama, jadi aku langsung jalan duluan."

"Ayo, kita juga harus nyusul," Fang menukas cepat. Ekspresinya cemas, dan segera saja menular pada yang lain.

Mereka segera berkumpul dan bergegas menyusul Halilintar dan Ying kembali ke bawah.

.

.

.

Halilintar melangkah tergesa-gesa sembari memeriksa jalan di mana terakhir kali ia berpisah dengan Ying. Suara langkah-langkah di belakang memberinya tanda bahwa yang lain juga tengah menyusul kembali.

"Ying?"

Halilintar memanggil, tapi tidak ada jawaban. Tidak ada juga tanda-tanda Ying ada di sekitar tempatnya berdiri.

"Gimana, Hali?" Tufan yang lebih dulu menyusul dan berdiri di samping Halilintar.

"Ying nggak ada," kata Halilintar, menoleh-noleh dengan cemas. Ia menoleh pada Gempa yang datang kemudian. "Kamu ninggalin dia di mana, Gem?"

"Eh, harusnya sih di sini... " gumam Gempa. Ia menoleh ke sekeliling dengan gelisah dan semakin merasa bersalah karena tidak menunggui gadis itu. "Dia bilang cuma sebentar dan nyuruh aku jalan duluan."

"Terus kamu langsung pergi gitu aja? Kalau dia sampai nyasar gimana?" bentak Halilintar.

"Udah, nggak usah berantem, ah," kata Taufan menengahi. "Gempa kan nggak maksud gitu, Hali— eh, itu Ying!"

Mereka serentak menoleh ke arah yang ditunjuk Taufan. Ying berada beberapa meter jauhnya di bawah mereka, tengah berdiri di sisi jalan setapak dan memandangi pohon tua di depannya dengan ekspresi kosong.

"Ying, kamu ngapain bengong di sini, sih?" Halilintar bergegas menghampirinya sambil menghela napas lega. "Kamu bikin kita cemas aja."

Ying menoleh. Matanya menatap Halilintar dengan sorot aneh. Sesuatu seperti kabut membayangi kedua irisnya, membuat warna birunya tampak gelap.

"Pergi," kata Ying dengan suara parau berat yang jelas sekali terdengar berbeda dengan suara melengkingnya yang biasa.

"Apa?" Halilintar memandangnya bingung.

"Pergi dari sini!" Ying menjerit dan Halilintar otomatis melangkah mundur.

Taufan dan yang lain yang sudah menyusul tersentak kaget. Gopal yang paling penakut dengan cepat menyembunyikan tubuh gempalnya di balik punggung Fang dan Taufan.

"Ying?" Yaya perlahan memberanikan diri untuk melangkah mendekat. "Ying, ini—ini kamu, 'kan?"

"Kalian harus pergi dari sini atau mati," tawa Ying menguar di udara. Suara parau yang membuat teman-temannya bergidik sekaligus mengambil jarak. Halilintar dan Yaya yang berdiri paling dekat dengannya saling berpandangan cemas.

Tidak ada yang berbicara, tapi mereka juga tidak melangkah pergi. Mata Ying menyorot tajam, penuh dengki, sembari menatap mereka satu-persatu. Kemudian ia mendadak saja berbalik dan berlari cepat meninggalkan teman-temannya.

"Ying, tunggu!" seru Yaya panik.

"Sialan," Halilintar mengumpat pelan. "Ying!" Ia baru hendak berlari menyusul, saat Fang menahan tangannya.

"Jangan disusul!" kata Fang memperingatkan.

Halilintar melotot dan menyentak lepas tangan pemuda itu sebelum berlari menyusul Ying tanpa menghiraukan peringatannya.

"Halilintar, tunggu!" Taufan juga segera menyusul, diikuti Yaya dan Gempa. Fang tercabik antara ingin mengejar mereka atau justru berbalik arah.

"Kita nggak ikut ngejar Ying?" Gopal berceletuk takut-takut. Fang hampir lupa teman gempalnya juga masih ada di sana.

"Ayo, kita susul." Fang langsung bergegas berlari, dan Gopal mengikutinya dengan setengah hati. Mereka mempercepat langkah agar bisa menyamakan langkah dengan Halilintar.

"Hali! Halilintar! Tunggu!"

Halilintar terus berlari, mengabaikan teriakan Taufan yang menyuruhnya kembali. Sampai lengan jaket Halilintar direnggut, akhirnya terpaksa membuat langkahnya terhenti.

"Apaan, sih?" ketusnya kesal. "Kalian nggak liat Ying pergi gitu aja setelah ngomong aneh kayak tadi? Bisa-bisanya tenang padahal temennya nyaris hilang."

Fang menggeleng, berdiri di belakang Taufan yang menahan Halilintar. "Dia bukan Ying. Jangan dikejar."

"Apa?"

"Yang tadi itu, bukan Ying," ulang Fang lagi. Ia bisa merasakan bulu kuduknya meremang sementara kelima temannya menatap heran. "Dia sengaja mancing kita buat ngejar dia. Percaya sama aku, dia bukan Ying."

"Maksudnya gimana?" tanya Taufan, menyuarakan kebingungan yang lain.

"Itu bukan Ying. Itu... cuma makhluk lain yang sengaja bikin kita bingung biar berpencar," kata Fang.

"Maksud kamu makhluk lain ... "

"Bukan manusia, ya." Fang mengangguk. "Aku udah pernah ngalamin. Jangan Sampai kita semua kena jebakannya lagi."

Semuanya tampak kaget dan tak bisa berkata-kata. Gopal sudah sibuk menarik-narik jaket Taufan ketakutan. Namun Halilintar tidak begitu percaya dengan yang diucapkan Fang.

"Kamu pernah ngalamin? Kapan?" tanya Halilintar setelah berhasil mengatasi rasa terkejutnya.

"Setahun yang lalu, waktu hiking sama abangku," jawab Fang dengan berat hati. "Kejadiannya persis kayak gini, jadi kalian harus hati-hati. Kalau ada apa-apa, kalian tanya dulu ke aku buat mastiin."

Mereka terdiam dan saling melempar pandang. Mendadak suasana pendakian mereka yang tadinya ceria dan menyenangkan berubah jadi mencekam.

Tidak ada yang berbicara. Halilintar masih mengawasi Fang, mencoba menerka apa pemuda itu berkata jujur atau hanya sedang mempermainkan mereka.

"Kalian ngapain sih di sini?"

Suara cempreng yang familir itu membuat mereka semua tersentak dan langsung menoleh. Gopal menjerit tertahan saat Ying tahu-tahu saja muncul di sebelahnya. Ia melompat menjauh dan bergegas bersembunyi di balik punggung Taufan.

"Aku tadi mau ke danau, kalian malah lari-larian ke sini. Kenapa, sih?" tanya Ying. Netranya memandang heran Gopal yang gemetar ketakutan dan berusaha menghindar darinya.

"Ying?" Yaya menatap gadis di depannya sangsi. "Ini beneran kamu?"

"Ya iyalah. Siapa lagi?" Ying kembali menatap teman-temannya heran. "Kalian kenapa? Kok kayak habis ngeliat setan gitu?"

"Serius ini kamu?" Taufan juga tidak tampak yakin dengan sosok Ying yang kini berdiri di depan mereka.

"Bukan, aku setan," sungut Ying. " Ya iyalah ini aku, Taufan. Siapa lagi coba?"

"Oke, kalau gitu aku tes. Kamu sukanya siapa?" tanya Taufan.

"Hah? Ngapain sih dites segala? Ih, lagian pertanyaannya nggak penting, deh," gerutu Ying, kedua pipinya merona.

Taufan berjalan mendekat dan mencubit sebelah pipi Ying hingga gadis itu memekik kesakitan.

"Iya. Nggak salah lagi, cuma Ying yang bisa teriak kayak gini," Taufan mengangguk-angguk puas.

Yang lainnya menghela napas. Ketegangan yang sempat melanda mereka perlahan kembali mencair. Ying masih terlihat bingung dengan reaksi teman-temannya, tapi ia memutuskan untuk bertanya nanti saja.

"Itu, Yingnya udah ketemu," kata Fang. Wajahny amenengadah, memeriksa langit yang semakin gelap saja. "Ya udah, yuk, teman-teman, kita lanjut naiknya. Ingat, jangan sampai ada yang hilang atau jalan sendiri lagi, ya? Kalau mau berhenti, kasih tau yang lain biar bisa ditungguin."

"Oke!"

Perjalanan dilanjutkan setelah memastikan anggota mereka sudah benar-benar lengkap. Ransel dieratkan di pundak, botol minum sekali lagi diperiksa untuk meyakinkan isinya benar-benar penuh semua.

Halilintar berjalan paling belakang dan menghampiri Ying seraya mengamati gadis itu lekat-lekat.

"Kamu habis dari mana?"

Kening Ying berkerut heran. "Kan aku bilang tadi aku iket tali sepatu—eh Hali, apa sih? Kok pakai gandeng tangan aku segala?"

"Biar kamu nggak hilang." Halilintar menjawab tanpa melihat Ying, tapi tangannya menggenggam erat gadis itu. "Kamu bikin kita semua cemas, tau nggak?"

"Siapa yang hilang? Aku cuma berhenti sebentar, terus langsung nyusul. Kaliannya aja yang langsung pergi nggak bilang-bilang," sungut Ying.

"Pokoknya kamu jangan jalan sendirian lagi. Kalau ada apa-apa bilang, biar yang lain bisa berhenti dan nungguin kamu. Ngerti?" kata Halilintar, menatap Ying tajam.

"Iya, iya, ngerti. Aku 'kan bukan anak kecil."

"Iya tapi badanmu kecil, gampang ilang. Jangan keluyuran makanya."

Ying memberengut mendengar ucapan Halilintar. Namun ia tidak menolak saat pemuda itu kemudian menarik tangannya dan bergegas menyusul teman-teman mereka.

.

.

.

to be continued

A/N : Gimana? Serem nggak? Tapi penasaran kan? Ok, sesuai sama yang aku bilang, fic ini bakal tayang setiap hari Kamis, Malam Jumat. Dan buat yang mampir, tolong tinggalkan jejak yooo~

Regards,

Dramaqueens