Pukul enam sore, Nozomi mulai merapihkan meja miliknya dan bersiap untuk pulang. Wanita itu ingin segera mandi dan tidur di kasur, jika ditanya bosan soal pekerjaannya, maka dia akan bilang iya. Sudah dua tahun dia bekerja di kantor ini, dan dia sudah mulai bosan dengan pekerjaan itu.

Terutama beberapa omelan Bos yang sering sekali memekakkan telinganya, tapi dia berhasil menahan gejolak emosi yang ada serta bersikap profesional di hadapan yang lain, untuk saat ini. Nozomi sendiri berencana untuk resign dari pekerjaannya dan ingin menjadi ibu rumah tangga.

"Semuanya, terima kasih atas kerja kerasnya. Aku pamit terlebih dahulu!" Nozomi memberikan salam pada rekannya di kantor, dia berpamitan untuk pulang terlebih dahulu. Beberapa dari mereka ada yang membalasnya, dan beberapa tak membalas akibat sibuk dengan pekerjaannya. Nozomi menghela napas lalu keluar dari ruangannya, dia segera berjalan ke pintu keluar gedung tempatnya bekerja.

"Sudah selesai?"

"Eh, Naruto?"

"Yo, kau bekerja dengan keras neesan." Nozomi mau tak mau harus tersenyum saat suaminya datang untuk menjemput dirinya. "Mau ke restoran atau pulang? Tenang, jika ke restoran aku yang membayarnya."

"Bodoh, kita kan suami istri."

Naruto tertawa kecil, dia pun menggandeng tangan Nozomi dan mereka berjalan keluar gedung untuk pergi ke sebuah restoran. "Restoran atau cafe? Di sana ada restoran cepat saji dan sebelahnya ada cafe."

"Tunggu dulu, apa kau libur?"

"Aku diberikan kebebasan untuk libur kapan saja, bukan bermaksud untuk seenaknya, tapi aku tiap hari berada di kedai ramen."

Nozomi mengerjapkan kedua matanya, suaminya ini pekerja keras. "Jadi kau mengambil hari libur, begitu?"

"Tentu, itu jika aku ada urusan yang sangat penting."

Nozomi mengerutkan dahinya. "Lalu ini? Urusan penting?"

"Sangat penting bagiku, karena aku ingi berkencan denganmu neesan," ujar Naruto, keduanya masuk ke dalam sebuah restoran cepat saji dan memesan beberapa makanan di sana. Keduanya membawa makanan mereka lalu mencari tempat duduk yang enak untuk makan.

Setelah mendapatkan tempat mereka, pasangan suami istri itu makan dengan khidmat, tak ada yang memulai pembicaraan, terutama Nozomi yang wajahnya sudah merona. Dirinya di anggap sangat penting bagi Naruto? Apa dia hanya melontarkan sebuah lelucon belaka untuk menjahilinya?

"Waktu adalah uang, tapi waktu untuk keluarga adalah hal yang paling berharga." Nozomi menoleh ke arah Naruto setelah pemuda itu berujar sesuatu, dia mengerjapkan kedua matanya beberapa kali.

"Kau benar, keluarga adalah hal yang paling berharga." Nozomi tersenyum, dia menundukkan kepalanya. "Seandainya Ibu dan Ayahku mengerti bagaimana perasaanku saat ini."

Naruto menggenggam tangan Nozomi, membuat wanita itu merasa nyaman dengan genggaman tangan yang diberikan oleh Naruto. "Mereka pasti akan mengerti, tapi bukan sekarang. Walaupun hubunganmu dengan kedua orang tuamu buruk, neesan masih tetap melanjutkan hidup."

"Iya, neesan senang saat Naruto datang lalu melamar neesan. Kejadian itu tak akan neesan lupakan."

Keduanya pun tertawa bersama lalu melanjutkan obrolan hingga kedua makanan yang dipesan mereka habis. Nozomi yang seharusnya sudah bosan pun mulai bersemangat kembali, dia senang ada yang menemani saat pulang dari kantor, wacana untuk keluar dari kantor itu pun hilang setelah berbincang seru bersama suaminya.

Nozomi terlalu senang hingga melupakan rencana resign-nya.

Dia bersyukur bisa langsung akrab dengan suaminya, walaupun mereka tak terlalu mengenal.

Ini adalah bulan pertama mereka hidup bersama, kebosanan Nozomi di kantor menghilang digantikan rasa senang saat bersama suaminya.

"Naruto..."

"Ya neesan?"

Naruto menoleh kesamping, keduanya masih di jalanan malam kota. Nozomi pun mencium pipi Naruto, lalu melangkah mendahului pemuda itu. Naruto berdiri mematung di sana setelah merasakan sebuah ciuman di pipinya.

"Ayo pulang!"

Naruto tersadar dari lamunannya, dia langsung menyunggingkan sebuah senyuman tipis. "Ayo!"

...

..

.

Naruto by Masashi Kishimoto

Love Live by Kimino Sakurako/Sunrise.