Chapter 2: Plan, and searching for ingredient.

Naruto bertemu dengan seorang Hiruzen Sarutobi, pemimpin sekaligus bangsawan Sarutobi yang ada di desa Konoha. Pemuda itu memberikan sebuah isyarat pada Jiraiya untuk menyembunyikan identitasnya sebagai seorang petualang Rank SS di kerajaan Fiore.

Terlebih, itu akan sangat merepotkan jika orang-orang tahu kalau dirinya adalah petualang kelas atas. Mereka berdua duduk bersama berhadapan dengan Hiruzen Sarutobi, Naruto sudah menebak akan kelakuan Jiraiya yang mesum itu, ternyata sang guru juga mesum seperti itu.

Mereka membaca majalah porno di saat ada tamu datang, astaga. Naruto memijit pangkal hidungnya saat tahu akan hal tersebut.

"Namaku Hiruzen Sarutobi, pemimpin desa Konoha, suatu kehormatan bagiku untuk bertemu dengan seorang petualang kelas SS." Naruto langsung menatap Jiraiya tajam seolah bertanya jika dia membocorkan identitasnya. "Tidak, Jiraiya-kun tak membocorkan apapun, tapi aku tahu jika kau adalah orang kuat di kerajaan Fiore bersama Madara, Gildarts dan Petualang Rank S, Hashirama."

Naruto mencubit dagunya, dia akan menebak jika dirinya berada di rumah bangsawan lainnya, maka bangsawan tersebut akan langsung mengetahui identitas aslinya, sama seperti Hiruzen.

"Tidak semua bangsawan tahu identitas dari para petualang Rank SS karena mereka semua hanya akan datang jika kerajaan atau suatu daerah dalam keadaan sangat bahaya. Serta, hanya kau saja yang menjadi petualang dengan identitas rahasia tanpa diketahui oleh siapapun." Hiruzen meminum teh yang sudah disediakan oleh butlernya. "Tapi aku tak menyangka jika kau akan datang kesini, Fox."

Naruto memutar kedua matanya bosan. "Jadi apa yang harus aku lakukan jika ingin menjadi warga disini? Terlebih disini aku masih belum tahu sistem yang diterapkan."

"Begitu, kau ingin menjadi warga sini, aku akan mengurusnya, tak perlu khawatir dengan itu. Untuk masalah rumah, kau bisa pergi ke Tazuna untuk membuatkan sebuah rumah. Kau pasti kenal dengannya?"

Naruto menaikkan kedua alisnya mendengar nama Tazuna yang disebutkan oleh Hiruzen. "Tentu, aku datang bersamanya."

"Bagus, untuk keuangan disini, kau bisa membayar pajak dengan memberikan sepuluh koin perak ke Guild, nanti Jiraiya-kun akan menjelaskan beberapa hal untukmu." Naruto mengangguk mengerti. "Dan disini kau bebas untuk membuka usaha apa saja, tergantung keahlianmu."

"Baik, aku mengerti." Naruto kemudian menghabiskan teh yang telah disediakan, dia berencana untuk berpamitan pada Hiruzen. Namun, sebelum itu dia bertanya pada sang pemimpin desa. "Ah, untuk tempat tinggalnya, aku akan tinggal dimana?"

"Ada sebuah tanah kosong di sebelah restoran desa, mungkin kau bisa membangun tempat tinggal di sana."

"Baiklah kalau begitu, aku pamit terlebih dahulu. Jiraiya-san, bisakah kau antar aku ke paman Tazuna?" Jiraiya mengangguk, dia kemudian berpamitan pada Hiruzen dan pergi dari kediaman Hiruzen Sarutobi.

Hari berjalan semakin sore, Naruto telah selesai berkonsultasi dengan Tazuna dalam hal membangun kediaman serta toko roti miliknya. Dia berencana membangun sebuah rumah dua lantai dengan lantai bawah adalah tempatnya berjualan serta membuat roti, sementara di lantai dua akan dia buat menjadi beberapa ruang, satu kamar tidur utama, lalu kamar tamu, ruang tamu, dapur bersih, serta sebuah meja makan untuknya sarapan.

Sementara di lantai bawah akan ada dapur kotor untuk membuat roti, lalu kamar mandi, serta akan dibuatkan sebuah sumur untuk mengambil air.

Naruto menyetujui harga serta bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membangun tempatnya tinggal. Dia sebenarnya meminta bahan bangunannya adalah kayu, namun Tazuna malah memberikan saran untuk membuat tembok kuat seperti restoran di sebelah, Naruto tak masalah akan hal tersebut, namun bayaran yang akan diberikan Naruto pada Tazuna yang menjadi masalah untuknya.

"Tidak, kau sudah menolongku di perjalanan dari serangan monster dan bandit. Jadi aku memberikan diskon banyak untukmu."

Naruto hanya bisa tertawa kaku mendengar perkataan Tazuna barusan. Naruto tak perlu meminta lebih lagi pada Tazuna, karena dia telah memberikan sebuah diskon untuk dirinya.

Beruntung, simpanan uang dari Quest yang hampir tiap hari dia kerjakan masih ada, jadi dia tak perlu repot lagi untuk mencari uang. Terlebih, dia ingin membayar lebih pekerjaan yang dikerjakan Tazuna.

"Untuk detail yang lain, kau bisa memberitahuku saat pekerjaan berlangsung," ujar Tazuna, dia pun meminum air putih yang sudah disediakan oleh anak perempuannya. "Lalu kau akan tinggal dimana? Penginapan ada memang tapi kemungkinan agak mahal, lalu untuk pembangunannya akan memakan waktu satu bulan."

"Tak masalah, aku akan menjalankan Quest disini sementara waktu, dan mencari uang sekalian. Kalau begitu, aku akan pergi dan mencari penginapan terlebih dahulu, terima kasih sebelumnya paman."

"Sama-sama, senang bisa membantumu nak."

Naruto mengangguk, kemudian beranjak pergi setelah berpamitan dengan Tazuna. Dia beruntung bisa mengenal pria tua itu setelah dia mengantarnya ke desa Konoha.

Selanjutnya, Naruto akan pergi ke penginapan untuk menyewa satu kamar. Dia juga harus menghemat pengeluaran yang bisa membuatnya bengkak, dia akan menyewa satu kamar dengan harga murah untuk dirinya sendiri. Setelah itu, dia akan memikirkan hal apa yang akan dilakukannya besok.

Apakah akan berburu sesuatu, atau membeli bahan pokok dan menjualnya di sekitar desa?

Entahlah, dia akan memikirkannya.

-o0o-

Matahari sudah mulai muncul, Naruto terbangun dari tidurnya. Dia bersiap untuk melakukan aktifitas hari ini, pensiunan Pensiunan petualang itu pun turun dari lantai atas penginapannya, dia pergi ke kantin penginapan untuk sarapan pagi.

"Um, nona bisakah kau membuat ramen?" Naruto mengatakan hal yang membuat orang kantin penginapan itu bingung. "Err, kau tak tahu Ramen?"

"Sayangnya tak tahu tuan."

"Emm, bisakah aku ke dapur?" Gadis itu terlihat bingung sendiri. "Aku akan membuatkan menu baru untuk kalian."

"Sebentar! Ayah!" Dia berlari ke dalam dapur penginapan, Naruto sendiri menunggu gadis itu keluar dari dapur. Dia sengaja menawarkan sebuah resep untuk menjadi menu baru di penginapan ini. "Naruto-san, kau boleh masuk."

Naruto mengangguk, dia kemudian ikut masuk bersama gadis itu. Di dalam dapur, pemuda pirang itu sudah ditunggu oleh seorang pria, dia menatap Naruto dengan pandangan datarnya.

"Umm."

"Kau bisa memanggilku Teuchi, dan dia Ayame. Kami menjalankan bisnis keluarga, dan di meja resepsionis penginapan ini adalah Amaru." Pria tua itu meletakkan panci yang dibawanya. "Keduanya anak-anak tersayangku."

Ah, bisnis keluarga. Naruto mengangguk paham, dia pun berjalan mendekati Teuchi. "Jadi paman, aku kesini untuk memberikan sebuah menu baru, siapa tahu bisa meramaikan penginapan serta kantin disini."

"Memangnya resep apa yang akan kau berikan? Anakku tadi bilang jika kau ingin Ramen kan? Aku tak tahu apa itu ramen, tapi sepertinya kau bisa membuat masakan itu."

"Tentu, aku bisa memberikan catatan bahan masakan serta resep yang akan digunakan untuk membuat Ramen, tapi dengan satu syarat."

Teuchi menyipitkan kedua matanya pada Naruto. "Apa syaratnya? Jika kau menginginkan anak-anakku, maka aku melarangnya." Nada bicara Teuchi agak dingin saat menyangkut tentang anak-anaknya.

"Tidak, aku masih terlalu muda untuk berkeluarga." Naruto tertawa menanggapi pernyataan Teuchi. "Aku hanya ingin meminjam dapur ini untuk membuat roti sebagai makanan yang akan kujual di jalanan desa."

Teuchi mengerutkan dahinya. "Kau ingin membuat roti? Apa aku tak salah dengar nak?"

"Tidak paman, aku ke desa ini hanya untuk hidup damai serta menjual sesuatu yang bisa kujual."

Teuchi menghela napas pasrah. "Kau boleh menggunakan dapur ini setelah menu yang kau buat enak saat aku coba." Naruto mengangguk kecil. "Bahan sudah ada di lemari dapur, kau tinggal membuatnya saja, jika kau butuh peralatan memasak, maka kau akan menemukannya di lemari dapur bagian bawah."

"Oke, aku akan membuatnya." Naruto menyingsingkan baju bagian lengannya, dia pun mulai beraksi untuk membuat Ramen yang dia inginkan. Pemuda itu membuat empat porsi ramen untuk semua penghuni penginapan ini.

Dia menyiapkan tepung, air, garam dan beberapa bahan lainnya. Naruto mencubit dagunya saat dia melihat tak ada bahan lainnya untuk membuat toping dari ramen, tapi dia melihat ada bahan khas untuk membuat ramen miso. Pemuda itu tersenyum kecil, kemudian membuat ramen dengan bahan yang sudah dia kumpulkan.

Beberapa saat kemudian, dia selesai membuat Ramen, dan meletakkan ketiga mangkok yang berisi ramen di depan keluarga Teuchi.

"Makanlah, tapi sayang banget tak ada sumpit disini."

"Aku tak tahu apa itu sumpit, tapi kau bisa pakai garpu atau sendok disini."

Naruto hanya tertawa mendengar perkataan Teuchi barusan. "Baiklah, selamat makan." Naruto pun mengambil ramen yang ada di mangkuknya menggunakan garpu yang sudah tersedia, dia memenjamkan matanya menikmati tiap seruputan dari Ramen yang dibuatnya sendiri.

"I-ini?!" Teuchi terkejut saat dia mencoba mencicipi ramen tersebut. Dia tak percaya akan masakan yang dibuat oleh Naruto, membuat pemuda pirang itu tersenyum. "Mungkin ini akan menjadi menu andalan dari penginapan ini."

"Jadi bagaimana paman?" Naruto meletakkan mangkuk kosongnya di atas meja, dia sudah menghabiskan semua ramen miliknya. "Itu salah satu menu dari ramen, sebenarnya ada banyak varian dari Ramen."

"Astaga, berapa banyak resep yang kau hapal nak?"

"Ada banyak, tapi tenang, akan aku berikan beberapa resep dengan imbalan aku meminjam dapurmu."

Teuchi terlihat berpikir sejenak. "Bagaimana jika aku memberikan kau sebagian penjualan dari Ramen untuk membeli bahan?" tanya Teuchi, dia sangat tertolong dengan resep masakan dari Naruto barusan.

"Sebenarnya, aku menolak hal itu. Tapi jika kau tak keberatan, maka akan aku terima seadanya saja. Aku hanya butuh dapur saja."

"Baiklah kalau itu maumu."

"Okay paman, akan aku tulis resepnya, dan aplikasikan seperti yang aku buat tadi." Teuchi mengangguk paham.

-o0o-

Pagi berganti siang, Naruto datang ke Guild Konoha untuk mencari sesuatu.

"Selamat datang di Guild Naruto-san, ada yang bisa kubantu?"

Namun disaat Naruto akan berbicara, dia dikejutkan dengan orang yang masuk ke Guild itu dengan keadaan panik.

"Bahaya! Ada sekumpulan monster yang datang kemari!" Teriak orang yang panik itu.

Naruto yang mendengar itu mulai tertarik, sementara itu Iruka langsung berjalan ke arah orang tersebut. "Jumlahnya berapa, dan rank berapa mereka?"

"Se-sekitar dua puluh lima ekor, da-dan mereka berada di rank B sampai A."

Wajah Iruka langsung pucat saat itu juga, karena di Guild saat ini sedang dalam keadaan sepi, beberapa petualang rank tinggi sedang menjalankan misi jangka panjang.

"Tunjukkan aku dimana mereka berada!" Naruto berjalan mendekati pria itu serta Iruka, dia sudah siap dengan pedang kayu yang biasa dibawa. "Aku akan mencoba untuk melawan mereka."

"Di ba-bagian timur desa."

Iruka langsung menatap Naruto tak percaya. "Na-naruto-san?! Kau bercanda?! Mereka kuat."

"Ya, aku tahu Iruka-san, tapi aku ingin melemaskan ototku." Naruto memegang pundaknya dan memutar lengan kanannya, beberapa hari ini dia tak bertarung melawan monster karena tugasnya yang menjadi support bagi mantan party yang dia ikuti. "Katakan pada Jiraiya-dono, aku akan maju sendirian."

"Ba-baiklah, la-lalu bagaimana dengan yang ada disini?"

"Berjaga di pintu gerbang. Jikalau ada yang kabur satu, maka tugas kalian membunuhnya." Naruto tersenyum kecil, dia melirik Iruka dengan ekor matanya. "Tunjukan aku jalannya!"

"Ya!"

Keduanya pun pergi dari hadapan Iruka, pria itu kemudian berlari masuk ke dalam ruangan Jiraiya.

"Ya, aku tahu itu. Turuti perintah Naruto, sekarang!"

"Ya!"

Di bagian timur desa, Naruto sudah berdiri sendirian, sementara orang yang mengantarnya berada jauh di belakang Naruto. Kedua mata biru itu menatap tajam hutan-hutan yang ada di bagian timur desa, di sana dia merasakan keberadaan dari monster yang katanya berada di rank B sampai A.

Naruto menoleh ke belakang, dia melihat sudah ada beberapa petualang tingkat bawah yang berkumpul karena perintah dari Iruka barusan.

Naruto pun mengambil pedang kayu miliknya, dia membuat ancang-ancang seperti seorang samurai yang akan melakukan peperangan. Pemuda itu menghirup napasnya, lalu mengeluarkannya melalui mulut. Dia melangkahkan kakinya maju dengan pelan, dia ingin melihat wujud dari monster tersebut.

Naruto mendengar suara derapan kaki dari dalam hutan timur, suara itu semakin dekat membuat Naruto semakin menajamkan kewaspadaannya. Pemuda itu melihat monster yang berbentuk beruang namun dengan armor batu yang menutupi tubuhnya, dia menghitung jumlah dari beruang ganas tersebut.

"Naruto-san! Awas di depanmu! A!?"

Beruang yang ada di depan Naruto tiba-tiba terbelah hanya dengan pedang kayu dari pemuda itu, semua orang yang ada dibelakang Naruto terkejut saat mengetahui hal tersebut.

"Ka-kau bercanda kan?"

"A-apa dia benar-benar orang?!"

"..."

Banyak sekali yang tak percaya akan kemampuan Naruto yang membelah Beruang Armor itu dengan pedang kayu, mereka bertanya-tanya bagaimana cara pemuda itu membelahnya.

Sementara itu, Naruto melihat beberapa beruang yang paling depan berlari menuju dirinya. Dia kembali membuat sebuah kuda-kuda untuk membelah sesuatu dari samping, pemuda itu tak memakai sihir enchant ataupun sihir yang memperkuat senjatanya.

Itu hanya untuk membelah Beruang yang ada di depannya.

Tapi berbeda dari yang tadi, saat ini dia akan membelah beberapa ekor beruang yang berlari mendekatinya dengan sekali serang. Kedua matanya menatap tajam beruang tersebut, tiga ekor beruang langsung menyergap Naruto dari depan.

Namun, pemuda itu kembali mengayunkan pedang kayunya, membuat ketiga beruang terbelah menjadi dua di bagian perutnya.

Naruto segera berlari kesamping kiri dan melihat ada empat ekor beruang lainnya, dia kembali menghunuskan pedangnya dan membelah perut beruang itu hingga mati.

[Boost Accel!]

Dia mengucapkan sebuah kalimat untuk mempercepat gerakannya, Naruto berlari kebagian lain dari penyerangan beruang armor tersebut. Ada lima beruang lainnya yang bersiap untuk menyerang dirinya, dengan sigap Naruto mengayunkan pedang kayu miliknya, membuat kelima beruang itu terbelah.

Naruto mengayunkan pedangnya lagi untuk membersihkan darah yang tertinggal di pedangnya, kedua mata birunya menatap beruang armor yang tersisa. Dia melihat dua belas ekor beruang armor yang tersisa, 'Apakah aku harus menggunakan sihir?' pikirnya, tatapannya masih tertuju pada dua belas beruang yang berdiri diam melihat rekan mereka dibunuh.

Pemuda itu menoleh kebelakang, dia melihat orang-orang yang melihatnya kagum. Sebenarnya dia tak ingin membuat mereka kagum atau apa, namun kebanyakan dari mereka akan langsung mati tertebas oleh cakar Beruang Armor, terlebih banyak dari mereka yang masih berada di rank C kebawah, jadi dia tak akan mengambil resiko untuk diam saja di desa.

'Apa boleh buat.'

[Double Boost! Accel!]

Naruto melesat kencang, kali ini dia menambahkan kecepatan lagi di dalam pergerakan tubuhnya. Dia menghunus pedang yang dipegang olehnya, kemudian menebas semua beruang yang tersisa.

Dua belas beruang di bunuh dengan sekali tebas.

-o0o-

"Iruka-san, sudah aku bunuh semua, lalu tak ada beruang lain yang datang." Naruto menyarungkan pedangnya, dia berjalan mendekati Iruka serta beberapa petualang tingkat rendah lainnya.

"Wahh! Kau hebat sekali!"

"Aku tak menyangka jika ada orang yang sangat hebat sepertimu!"

"Kumohon jadikan aku muridmu!"

'Sialan, aku lupa memakai topeng!' Dia menyesal karena tak memakai topeng rubah miliknya. "I-iruka-san, dan yang lain, aku mohon untuk jaga rahasia ini!" Naruto menundukkan kepalanya memohon pada orang-orang di depannya itu. "Rahasiakan dari yang lain, aku tak mau jika ada orang yang tahu akan hal ini."

"Heee, kenapa?"

"Padahal hebat loh."

Naruto hanya bisa tersenyum kaku saat dia mendengar perkataan dari para petualang lain. "Aku tak ingin dikenal kok." Namun, dia teringat satu sihir yang bisa digunakan olehnya. Naruto memberikan sebuah isyarat pada Iruka untuk pergi dari hadapannya, kemudian dia merapatkan sebuah mantra sihir. Tangannya terangkat dan menyala warna biru, kedua matanya melihat para petualang itu seolah lingung dan tak ingat apapun yang terjadi barusan.

"Sihir penghilang ingatan ya?"

"Ya Iruka-san, aku tak mau ada yang tahu akan hal ini."

"Baik aku mengerti, tapi bisakah kau ikut mengambil batu sihir itu? Aku juga akan menyuruh yang lain."

"Tentu, senang bisa membantumu Iruka-san."

...

..

.

TBC:

Balasan untuk Reader WendyMarvel12: Mending diam aja ya? Untung aja yang ngekomis ini Fict masih sabar.