Chapter 3: Penjual Roti jalanan.

Beberapa hari setelah kejadian penyerangan Beruang Armor, Naruto diberikan rewar berupa uang karena kerja kerasnya dalam membelah Beruang armor itu. Tentu saja uang itu diterima oleh Naruto untuk membeli bahan untuk membuat roti, serta sebuah gerobak yang bisa dibuat untuk menjual sesuatu.

Saat ini Naruto tengah menyiapkan bahan serta alat-alat yang dia gunakan untuk membuat roti. Jumlah roti yang akan dibuatnya tak banyak karena dia akan mencoba satu hari dimulai dari pukul enam pagi nanti, dia akan mencari lokasi yang tepat untuk menjualnya.

Saat ini masih pukul empat pagi waktu setempat, Naruto sudah bangun lebih pagi daripada biasanya untuk menyiapkan semuanya, berbekal izin dari Teuchi, dia akan membuat beberapa jenis roti serta cookies untuk dijual.

Naruto memulainya dengan menakar bahan-bahan yang akan dicampur, ini tak mudah sama sekali baginya, jujur saja bahan disini berbeda daripada bahan di dunianya dulu. Bahan disini sepertinya istimewa daripada bahan di dunianya dulu, Naruto bersyukur bisa mendapatkan bahan istimewa seperti ini.

"Dengan pengetahuan di duniaku dulu, serta bahan disini, aku berharap ini bisa sukses."

Dia pun mulai mencampur semua bahan yang ada serta meletakkan adonan roti itu pada loyang yang sudah tersedia, Naruto juga tak lupa untuk membuat cookies gratis sebagai sample untuk produknya.

"Mungkin satu jam saja sudah selesai, sisanya tinggal menyiapkan gerobaknya."

Naruto kembali memulai mencampur bahan-bahan untuk membuat roti, dia tak sadar jika ada seseorang yang sedang melihatnya dari kejauhan. Pria itu adalah Teuchi, dia menatap Naruto yang dengan rajinnya membuat roti-roti untuk dijual.

"Anak muda yang bersemangat," komentar pria tersebut, dia pun pergi ke kantin untuk membersihkan meja serta menata semua kursi yang ada. Teuchi melakukan hal tersebut setiap pagi saat ada orang yang menginap di tempatnya.

"Oh, paman sudah bangun ternyata." Naruto keluar dari dapur dengan beberapa roti yang telah jadi. Dia sendiri sudah menyiapkan tiga buah roti yang biasa dimakan dengan sup krim. Naruto meletakkan nampan berisi makanan serta empat buah mangkuk itu di atas meja yang berada di dekat meja resepsionis kantin.

"Apa itu?"

"Roti dan sup Krim kok, untuk sarapan. Mungkin anak-anak laman sudah bangun, dan akan kesini sebentar lagi." Teuchi mengerutkan dahinya saat dia melihat Naruto menyiapkan sebuah sarapan untuk keluarganya.

"Kau tak perlu repot-repot nak."

"Anggap saja sebagai balas budiku setelah dipinjamkan dapur." Naruto mengambil beberapa potong roti, dan sup krim yang sudah dia masak. "Mari sarapan paman." Pemuda itu langsung melahap potongan roti tersebut dengan khidmat.

"Nak, sepertinya aku yang merepotkanmu. Setelah kau berikan resep membuat ramen, sekarang kau membuatkan sarapan untuk kami."

Naruto hanya tersenyum saat Teuchi berkata seperti itu. "Tak apa kok, aku tak direpotkan sama sekali, terlebih semua roti sudah selesai kubuat semua."

"Pagi Ayah." Ayame muncul dari ruang belakang penginapan itu, dia terkejut saat melihat Naruto yang sarapan dengan beberapa makanan di depannya. "Na-naruto-san, itu apa?"

"Sarapan untuk kalian." Teuchi menjawabnya sembari berjalan mendekati Naruto dan duduk di sisi lain meja makan itu, dia mengambil beberapa roti itu dan sup krim yang telah dibuat Naruto. Pria itu ikut sarapan dengan Naruto. "Enak."

"Terima kasih, tapi itu masih belum sempurna."

"Tapi ini enak loh, walaupun belum sempurna." Naruto hanya tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal setelah dia dipuji oleh Teuchi. "Ayo kemarilah Ayame, kita sarapan bersama." Ayame mengikuti perkataan Ayahnya, dia berjalan ke meja makan dan mulai mengambil makanan yang telah dimasak oleh Naruto.

Naruto hanya tersenyum saat Ayame terkejut dengan rasa yang ada di dalam makanan tersebut. "Aku sudah selesai dengan sarapan, jadi akan aku tinggal dulu."

"Terima kasih sarapannya nak." Naruto hanya mengangguk kecil, dia kemudian kembali ke dalam dapur untuk mempersiapkan hal lainnya.

Roti-roti yang sudah tertata rapih pun dipindahkan ke dalam sebuah gerobak dorong yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa untuk dijadikan sebuah tempat dagang.

"Anu, Naruto-san, apakah kau perlu bantuan?"

Naruto menoleh dan melihat sosok Amaru yang sedang berdiri di pintu masuk, gadis dengan sifat tomboy itu sepertinya tak enak hati setelah dia dibuatkan sarapan olehnya.

"Terima kasih tawaranmu, tapi maaf mungkin tak perlu, untuk saat ini aku akan mengerjakan ini sendiri," tolak Naruto halus, dia tak mau merepotkan keluarga Teuchi lebih dari ini. "Lebih baik bantulah ayahmu dengan cara memasak resep yang sudah kutulis."

Amaru terlihat berpikir sejenak, kemudian dia tersenyum dan mengangguk kecil. "Baik!" Amaru pun pergi meninggalkan Naruto sendirian.

Tinggal sedikit lagi dia akan bisa menjual roti miliknya. Menata Roti pada gerobaknya tak membutuhkan waktu lama, dia menggunakan sihir peningkat kecepatan untuk bisa mempercepat gerakannya, sehingga Naruto tak akan memakan waktu lama saat dia menata Roti itu.

Setelah selesai, Naruto langsung berpamitan pada Teuchi untuk pergi menjual rotinya, Naruto tahu ada sebuah pasar kecil yang biasa digunakan untuk pedagang menjual produknya, dan dia sudah meminta izin pada pemimpin desa untuk berjualan di sana.

Karena setahu Naruto tak ada yang menjual roti selain dirinya di tempa tersebut.

-o0o-

Naruto melihat gerobaknya yang sudah berada di tempatnya, dia melihat kesekitarnya, ada beberapa orang yang terlihat ramah, pemuda itu menundukkan kepalanya sedikit untuk memberi salam pada mereka.

Naruto memasang beberapa elemen yang ada di gerobaknya untuk menghindari sinar matahari yang mungkin bisa masuk ke dalam gerobaknya serta mempengaruhi kualitas rotinya. Dia juga memasang sebuah lampu penerang yang membuat roti tetap hangat.

Naruto langsung duduk beristirahat sebentar, dia mengambil sekantung air yang dibawanya dari penginapan, dan meminumnya.

Ini adalah hari pertama dia berjualan, dan dia berharap akan ada pembeli walaupun sedikit.

Satu jam berlalu, orang-orang berlalu-lalang melewati gerobak Naruto, dia masih sabar menunggu ada pembeli datang.

"Um, cookies ini apakah gratis?"

Naruto menaikkan sebelah alisnya, dia melihat seorang ibu-ibu yang berdiri di depan gerobaknya, lebih tepatnya di depan nampan berisi cookies yang dia siapkan untuk sample. "Kau bisa mengambilnya kok, tenang saja itu gratis."

"Ohh, terima kasih." Wanita itu mengambilnya, dia memberikan satu untuk anaknya. Wanita itu menaikkan kedua alisnya saat mengunyah cookies tersebut. "Kenapa ini enak? Apa roti-roti ini dijual?"

"Mama, enak!"

Naruto tersenyum mendengar seruan dari putra wanita itu. "Tentu, untuk baguette itu harganya tiga belas perunggu, lalu yang Ciabatta itu sepuluh perunggu."

"He? Apa tak terlalu murah untuk roti seenak ini? Aku bisa membayarmu lebih untuk roti-roti tersebut." Naruto hanya menggelengkan kepalanya tanda dia tak memperdulikan harga dari roti tersebut.

"Saya menyesuaikan harga roti dengan daerahnya, terlebih ini kali pertama aku menjual roti-roti itu."

"Baiklah, aku akan mengambil lima, tiga roti baguette, dan dua untuk roti Ciabatta itu." Kedua mata wanita itu melihat sebuah roti yang asing baginya. "Itu apa?" Dia menunjuk ke sebuah roti berbentuk bulat dengan lubang yang ada di tengahnya.

"Bagel, kau bisa memakannya dengan olesan krim serta daun parsley."

Wanita itu mengedipkan matanya beberapa kali. "Sepertinya ada krim di rumah, lalu ada sayuran lainnya serta bacon."

"Ah, kau bisa membuat sandwich dengan roti Bagel ini." Naruto mengambil Bagel itu, dan menunjukkannya pada sang wanita. "Selain Baguette dan Ciabatta, Bagel juga bisa menjadi sandwich dengan berbagai macam isian."

"Sepertinya enak, aku ambil tiga aja."

"Bagel harganya sembilan keping tembaga."

Wanita itu kembali mengerutkan dahinya mendengar harga yang terdengar sangat murah itu.

"Jangan bertanya harganya."

Wanita itu langsung tersenyum, kemudian memberikan beberapa keping koin yang sudah di ambilnya. "Baiklah, aku ambil semua. Terima kasih!"

"Sama-sama."

Wanita itu kemudian pergi bersama anaknya untuk pulang ke rumah mereka, sementara Naruto tersenyum karena telah berhasil menjual beberapa rotinya setelah dia buka. Ini adalah uang pertamanya setelah pensiun menjadi petualang, dan dia bertekad untuk membuka toko roti besar di desa Konoha.

Waktu terus berjalan, matahari sudah mulai tenggelam. Naruto puas akan hasil penjualannya, walaupun tak habis semuanya, besok dia akan mencobanya lagi, mungkin akan mengurangi jumlah roti yang akan dijualnya.

-o0o-

Dua Minggu berlalu, Naruto mulai merasakan dampak saat dirinya menjual Roti. Banyak warga Konoha yang membeli rotinya, serta ada beberapa pengelola rumah makan yang memesan Roti padanya dalam jumlah besar.

Naruto tahu jika mereka pemilik Restoran akan datang dan memesan Roti Ciabatta. Yah, mungkin hanya roti itu yang paling banyak dipesan oleh pemilik restoran di sekitar.

Naruto saat ini berada di depan bangunan yang cikal bakalnya akan menjadi tempat tinggal serta tempat usahanya. Pembangunannya hampir rampung, hampir setiap hari dia menyiapkan makanan serta minuman untuk pekerja yang ikut dalam pembangunan itu.

"Kau suka hasilnya?"

"Tentu paman, aku suka dengan hasilnya." Naruto tersenyum setelah mengatakannya.

"Kenapa kau tak buka?"

"Ah, aku perlu libur untuk sehari. Membuat roti terus menerus membuatku cepat lelah."

Namun saat keduanya sedang asyik mengobrol, tiba-tiba Iruka datang dengan tergesa-gesa, dia berlari ke arah Naruto untuk menghadap ke pemuda itu.

"Iruka-san?"

"Naruto-san, ternyata disini." Iruka mengambil napas beberapa kali dan mengeluarkannya. "Kau... Di undang oleh kerajaan." Iruka memberikan sebuah surat dengan tanda dari kerajaan Fiore.

Naruto mengerutkan dahinya, dia di undang oleh raja? Ada hal penting yang akan terjadi setelah dia datang ke kerajaan lagi. Naruto menerima surat itu, dia membuka serta membacanya.

Kedua matanya menyipit saat membaca surat tersebut.

"Raja Iblis telah kembali? Lalu Hero juga sudah muncul, dan mereka ada banyak?" Naruto langsung menatap Iruka, dia menggelengkan kepalanya untuk menjawab tatapan Naruto. "Merepotkan." Naruto menggaruk tengkuknya yang tak gatal itu.

Dia memang dari dunia lain, tapi dia bukan Hero. Saat itu, di umurnya yang masih menginjak delapan belas tahun, dia terlempar ke dunia ini, tempatnya tak jauh dari kerajaan Fiore. Dunia ini tak jauh berbeda dengan novel ringan tipe Isekai yang dia biasa baca, jadi dia langsung berpikir untuk pergi ke kerajaan dan menjadi seorang petualang, sekaligus berlatih.

Bakatnya dalam bidan sihir dan berperang pun terasah di dunia ini, terlebih dia sudah menjadi petualang rank SS bersama dua orang lainnya di kerajaan.

Lalu sekarang. "Aku khawatir jika Hero itu akan menjadi arogan atau serakah dengan apa yang ada disini."

"Arogan? Serakah?"

"Iruka-san, sifat manusia itu berbeda, jika aku menyembunyikan rank yang saat ini aku pegang, maka ada petualang yang dengan arogansinya mengeluarkan seseorang dari party karena dia lemah." Naruto menjelaskan beberapa hal tentang dirinya serta orang-orang di kerajaan Fiore. "Petualang peringkat S sampai SS selalu sendiri jika ingin mengerjakan Quest. Tapi khusus untuk Madara dan Hashirama, mereka berdua adalah duo yang sangat di takuti, keduanya bisa berpasangan dengan siapa saja saat mengerjakan Quest, kalau aku tipe solo dalam mengerjakan Quest, tapi jika dibutuhkan partner, maka aku akan memanggil Gildarts atau mereka berdua."

"Untuk meminimalisir korban serta tak menghambat Quest ya?"

"Kau benar Iruka-san, itu salah satu hal yang kami pegang sampai sekarang." Naruto pun menghela napas untuk yang kesekian kalinya. "Mungkin aku akan menawarkan sesuatu untuk Raja nantinya. Apa pemanggilan itu sudah selesai?"

"Sudah, tiap kerajaan punya satu Hero."

"Hooo... Tiga kerajaan, tiga Hero kah?"

Iruka pun kembali menjelaskan beberapa hal tentang Hero yang dipanggil oleh kerajaan Fiore. "Namun, khusus untuk kerajaan ini, Hero yang terpanggil ada empat orang."

Naruto mengerutkan dahinya mendengar perkataan Iruka. "Empat?"

"Ya, ada empat orang yang terpanggil. Aku mendengar rumor bahwa dari ketiga Hero itu, ada yang sikapnya seperti yang kau katakan Naruto-san."

Naruto memijit pangkal hidungnya. "Uhh, benar-benar terjadi," gumam Naruto. "Paman Tazuna, aku lebih baik pulang dan bersiap untuk besok." Tazuna menganggukkan kepalanya, dia mengerti bagaimana keadaan Naruto saat ini. "Iruka-san, titipkan salam pada Jiraiya-dono."

"Tentu."

"Sampai jumpa!"

Naruto pun pergi meninggalkan keduanya menuju ke penginapan.

-o0o-

Naruto sudah siap dengan pedang kayu miliknya, serta sebuah tas pinggang berukuran sedang, dia hanya membawa beberapa peralatan di tas tersebut, dan sisanya ada di dalam sihir dimensinya.

"Paman, seperti instruksi yang aku berikan tadi ya? Aku harap kau masih ingat."

"Serahkan semuanya padaku, mungkin jika kau kembali, maka ini bangunan akan selesai."

Naruto mengangguk paham. "Aku sekalian membeli beberapa barang yang dibutuhkan nantinya. Sampai jumpa!"

"Hati-hati di jalan!"

Naruto pun mulai berjalan ke gerbang desa, di sana ada Jiraiya dan Iruka yang menunggu. Naruto melihat Jiraiya yang tengah menatap dirinya dengan tatapan datar. "Ada apa sehingga wajahmu itu kusut?"

"Aku sebenarnya tak suka dengan pemanggilan Hero."

"Kau tak sendirian Jiraiya-dono." Naruto menghela napas pasrah. "Tapi apa mau dikata?" Jiraiya hanya memberikan gestur tak peduli. "Baik aku akan pergi terlebih dahulu, sampai jumpa."

"Hati-hati Naruto-san."

Pemuda pirang itu pun pergi dari desa Konoha, pergi seorang diri tanpa ada yang menemani, namun dia malah mengeluarkan topeng berbentuk rubah miliknya. Dia memasang topeng tersebut dan lari kencang setelah dia meninggalkan gerbang desa.

Naruto terus lari dengan kecepatan yang diluar akal manusia, dia ingin segera sampai di kota dan beristirahat di bar guild.

Dia sekarang sudah sampai di gerbang besar kerajaan Fiore. Tak ada yang berubah sama sekali dengan gerbang tersebut, para penjaga gerbang mengenali dirinya dengan nama Fox, seorang petualang tingkat atas yang berada di bawah naungan Fairy tail. Naruto mengangguk kecil pada kedua penjaga itu, dan mereka mempersilahkan Naruto untuk masuk ke dalam kerajaan.

Naruto berjalan ke sebuah bangunan besar dengan tanda peri di bagian atas pintunya. Namun sebelum masuk, dia membuka topengnya untuk berbaur dengan yang lain.

Naruto pun masuk ke dalam guild, dia melihat orang-orang yang masih sama saja seperti saat terakhir dia ada di sana.

"Ah, Naruto kah? Selamat datang kembali."

"Mira." Pemuda pirang itu menyapa sosok Mira yang masih setia berdiri di balik meja resepsionis. "Ada yang menungguku kan?"

"Tentu, kau bisa langsung pergi ke ruangan Master."

Naruto mengangguk, dia kemudian pergi ke ruangan Makarov, karena dia tahu jika dirinya tengah di tunggu oleh seseorang.

Di lain sisi, kelompok Sasuke memandangi Naruto yang seolah tak melihat keberadaan dirinya. Pemuda dengan marga Uchiha itu menatap datar Naruto yang masuk ke dalam lorong menuju ke ruangan Makarov.

"Sasuke-kun? Kau kenapa memandangi orang itu?"

"Si lemah itu kembali."

"Sudah biarkan saja Sasuke," ujar seorang pria berbadan besar yang ada di sebelah kanan Sasuke, dia meminum Birnya kembali.

"Kau benar Elfman."

"Terlebih, dia hanya akan mencari muka di hadapan neechan."

Mereka pun tertawa keras, kecuali Sasuke yang terus menatapnya datar. Dipikirkannya saat ini, ada sesuatu yang aneh pada Naruto, seperti ada hal yang janggal dari pemuda itu.

'Siapa dia sebenarnya? Menghilang tiba-tiba, dan datang dengan tiba-tiba.'

...

..

.

TBC