Chapter 5: Flashback Erza Scarlet.
Flashback.
Namanya Erza Scarlet, gadis berusia delapan belas tahun dengan kemampuan berpedang yang sangat mumpuni, serta kansou mahou. Sebuah sihir dimana penggunanya bisa menukar senjatanya dengan sekejap, lalu ada telekinesis yang membuat Erza bisa mengendalikan senjatanya di udara.
Gadis itu sebenarnya berasal dari keluarga bangsawan yang ada di kerajaan lain. Keluarga Bangsawan Belserion. Sebuah keluarga yang tinggal di wilayah utara kerajaan Alvarez. Namun ada sebuah perang saudara yang melibatkan para bangsawan yang ada di kerajaan tersebut. Beberapa bangsawan pun ada yang dibunuh secara biadab, serta di tangkap.
Para prajurit yang melindungi para bangsawan tak sanggup untuk melindungi mereka. Suasana yang awalnya bahagia berubah menjadi pertumpahan darah akibat pewaris tahta dari kerajaan Alvarez mengangkat senjata mereka untuk memperebutkan tahta yang telah di tinggalkan oleh ayah mereka.
Erza kecil itu terus berlari menyusuri hutan keluarganya, dia mencari jalan keluar untuk menghindari pada prajurit kerajaan yang membela raja pertama. Dia sendiri berpencar dan meninggalkan kedua orang tuanya karena dia dipaksa oleh sang ibu untuk pergi, jikalau kedua orang tuanya selamat, maka dia akan menemuinya di luar kerajaan Alvarez yang lokasinya dekat dengan sebuah desa di kerajaan Fiore.
Perang saudara itu berlangsung hingga tiga bulan lamanya, banyak sekali korban jiwa yang membuat kerajaan Alvarez merugi. Bangunan-bangunan di sana hancur berkeping-keping karena sihir yang dipakai oleh prajurit kedua belah pihak.
Kedua kerajaan yang ada di sekitarnya pun tak ingin ikut campur dalam permasalahan kerajaan Alvarez, kerajaan Fiore juga melarang warga serta petualangnya untuk pergi ke kerajaan Fiore dan menyuruh setiap guild untuk menghapus semua Quest dari daerah Alvarez untuk meminimalisir korban yang akan jatuh dari pihaknya.
Raja Fiore juga menerima warga yang menjadi pengungsi dari kerajaan Alvarez, semuanya ada di perkemahan luar kerajaan Fiore.
Dan saat ini Erza berada di sebuah hutan yang tak jauh dari desa kecil di sekitaran kerajaan Fiore.
"Erza, kau harus ke desa Konoha untuk menyelematkan diri. Ayah dan Ibu akan kesana jika selamat, kau harus kuat!"
Sebuah pesan dari sang ibu membuat tekadnya kuat untuk terus berlari hingga meninggalkan kerajaan Alvarez. Dia seolah tak memiliki rasa lelah sama sekali setelah berlari berkilo-kilo meter dari kerajaan Alvarez.
Dengan langkahnya yang semakin pelan, Erza terus berjalan hingga dia terduduk di depan gerbang desa Konoha. Di sana ada sosok penjaga yang kebetulan sedang menjaga gerbang tersebut.
Dia langsung berteriak pada temannya sesaat setelah Erza pingsan di depan gerbang itu. Para penjaga itu segera membawa tubuh Erza yang sedang pingsan ke dalam klinik yang ada di dalam desa. Dokter dan suster yang ada di sana merawat Erza yang masih pingsan.
"Dia hanya kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh, sepertinya dia adalah korban perang saudara di kerajaan Alvarez," ujar Suster yang merawat Erza.
"Dia korban, tapi mampu berlari hingga ke desa Konoha. Sungguh diluar dugaan." Sang dokter melihat luka-luka yang ada di tubuh Erza. "Shizune, jaga dia, aku akan membuatkan obat untuknya."
"Baik Tsunade-sama."
Wanita yang bernama Tsunade itu pergi meninggalkan Shizune yang merawat Erza di ranjang pasien. Wanita yang bekerja sebagai suster itu menatap Erza sembari mengusap wajah kotor gadis kecil itu, dia dengan teliti membersihkan luka-luka yang di derita oleh gadis itu.
"Pasti berat sekali."
Perang saudara antara pangeran di kerajaan Alvarez membuat semua orang di dua kerajaan besar lainnya waspada, kerugian yang akan di alami oleh kerajaan Alvarez akan sangat besar jika dilihat dari pandangan luar ataupun dalam.
Shizune mengambil sebuah perban dan kapas untuk membersihkan luka Erza yang lain.
"Bagaimana keadaannya?"
Tsunade datang dengan obat yang telah dia siapkan. "Masih belum sadar." Shizuna berujar sembari membersihkan luka Erza yang lain. "Sepertinya gadis ini sangat menderita."
"Perang saudara membuatnya kabur ke sini, luka-luka yang di deritanya tak terlalu para, tapi mentalnya turun drastis karena perang tersebut. Kedua orang tuanya mungkin sudah tewas akibat perang itu." Tsunade meletakkan obat-obatan itu di meja sebelah ranjang Erza.
-o0o-
Di lain tempat, sosok wanita tengah berjalan di hutan sembari menatap ke sekitar. Dia berhasil kabur dari prajurit kerajaan yang membela pangeran kedua, dia berjanji untuk bertemu dengan putrinya di desa Konoha yang ada di kerajaan Fiore.
Dia khawatir akan keadaan Erza yang terluka akibat dirinya yang menyelamatkan diri dari prajurit, namun dia harus kehilangan suami yang sangat dia cintai karena di bunuh oleh prajurit kerajaan.
Wanita itu terus berjalan sampai akhirnya dia sampai pada gerbang desa Konoha, di sana ada dua sosok yang penjaga yang tadi membawa Erza masuk ke dalam desa.
"Tolong..."
"Nona!" Sosok pria dengan topeng rubah yang ada dibelakang wanita itu langsung menolongnya, dia membawa wanita itu ke desa Konoha. "Oi, bawa aku ke klinik terdekat!"
Penjaga gerbang itu mengangguk cepat, dia kemudian menunjukkan jalan ke klinik yang tak jauh dari gerbang. Naruto yang kebetulan sedang menjalankan sebuah Quest di dekat desa Konoha, dia sebenarnya hanya ingin singgah di desa itu untuk sehari semalam.
"Dokter!"
Tsunade baru saja mendapatkan pasien satu jam yang lalu, dan dia mendapatkan pasien lainnya. "Apalagi?!" Tsunade menatap sosok pemuda dengan topeng rubah serta rambut blonde jabrik yang sedang menggendong seorang wanita berambut merah panjang. "Kau petualang rank SS?! Kenapa kau bisa membawa wanita ini kemari?!"
"Dia terluka parah, penjelasannya nanti setelah dia di rawat!" Tsunade mengangguk paham, kemudian memberikan instruksi pada Naruto untuk merebahkan wanita itu di atas ranjang pasien yang lainnya.
Tsunade dengan sigap merawat pasiennya yang lain, dia memberikan pertolongan pertama pada wanita itu. Naruto yang ada dibelakangnya menduga jika kedua korban luka ini adalah korban dari perang saudara yang melanda kerajaan tetangga. Karena dia melihat pakaian bangsawan yang dibeberapa bagian terlihat lusuh dan sobek.
"Fox, aku dengar kau punya sihir penyembuhan?"
Naruto mengangguk kecil, dia kemudian berjalan mendekati Tsunade, dan mengangkat kedua tangannya. Pendar hijau keluar dari kedua tangannya. "Heal!"
Seketika luka-luka yang di derita oleh wanita itu sembuh, Naruto lalu melihat sosok gadis kecil yang saat ini tengah pingsan. Dia menggunakan 'Heal' miliknya untuk menyembuhkan gadis itu.
"Kenapa kau yang seorang dokter tak bisa menggunakan sihir itu?" Tsunade hanya melirik Naruto melalui ekor matanya, kemudian fokus pada penyembuhan dari wanita itu. "Aku tak punya alasan untuk menggunakan sihir itu, sedangkan kau bisa menyembuhkan orang dengan sekejap."
Naruto mengerutkan dahinya. "Kenapa?"
"Apakah aku harus mengulangi perkataan ku lagi?"
"Bilang saja kalau kau lupa, dasar nenek tua!"
Sebuah perempatan muncul di dahi Tsunade. "Siapa yang kau panggil nenek tua?!"
"Kau! Siapa lagi memangnya?!"
Shizune hanya tertawa kikuk saat melihat perdebatan dua orang kuat di depannya. "Su-sudah, biarkan mereka istirahat."
Tsunade memijit pangkal hidungnya, kemudian pergi beranjak dari tempatnya. "Mau kemana kau nenek tua?!"
"Mau ikut aku?"
"Kemana?"
"Melempar botol bir ke kepalamu!"
"Kemari kau dasar nenek tua!"
Shizune hanya bisa menghela napas pasrah saat melihat perdebatan antara petualang rank SS itu dengan Dokter yang terkenal di desa Konoha.
Beberapa jam kemudian, wanita itu sadar dari pingsannya, dia mencium bau obat-obatan yang ada di sekitar ruangan yang dia tempati saat ini. Kepalanya masih terasa pusing akibat rasa pingsan beberapa jam tadi, dia tak ingat sama sekali dengan apa yang terjadi setelah pandangannya memburam.
"Uhh, aku..."
"Anda sudah sadar, syukurlah!" Shizune langsung memberikan air putih pada wanita itu untuk diminum. "Anda dibawa kemari oleh seseorang, dia melihatmu pingsan tak jauh dari gerbang desa Konoha."
"Konoha?"
Shizune mengangguk kecil. "Ya, ini adalah desa Konoha."
Kedua mata wanita itu langsung membulat sempurna, dia baru ingat akan sesuatu. "Erza, dimana putriku?!"
"Putri? Maksudnya, gadis kecil itu?" Shizune menunjuk ke arah Erza yang masih terbaring pingsan. "Dia juga diselamatkan setelah berlari dari kerajaan sebelah."
Wanita itu tiba-tiba meneteskan air matanya, dia melihat wajah tidur Erza yang terlihat tenang tanpa ada beban hidup sama sekali.
"Sebaiknya anda tidur untuk memulihkan tenaga anda."
"Baiklah."
Wanita merah itu mengikut perkataan Shizune. "Um, jika berkenan, nama anda siapa?"
"Irene, Irene Belserion."
Shizune mengerutkan dahinya mendengar nama dari sosok wanita itu. "Irene? Belserion?" Kedua matanya membulat sempurna. "A-anda adalah keluarga bangsawan Belserion?!"
"Ya, namun sekarang tidak lagi, karena keluarga bangsawan itu telah dibantai menyisakan kami berdua saja."
"A-ah, maafkan aku."
Suasana pun hening seketika, Irene kembali merebahkan dirinya di tempat tidur. Namun, tidur Irene terganggu oleh kedatangan Naruto serta Tsunade, mereka masih bertengkar kecil akibat Tsunade yang lupa tak menggunakan sihirnya.
"Bisakah kalian diam? Irene-san sedang tidur."
Keduanya langsung terdiam setelah Shizune menegur mereka. Tsunade yang mendengar nama dari wanita itu pun menaikkan sebelah alisnya, dia seolah pernah bertemu dengan sosok wanita yang sedang tertidur itu. "Irene Belserion?"
Wanita berambut merah itu membuka matanya, dia melihat sosok Tsunade yang sedang menatap dirinya. "Tsunade-san." Dia kemudian bangun dari tidurnya, dan mencoba untuk berdiri.
Namun, Tsunade dengan cepat menahan Irene untuk tak beranjak dari tempat tidur itu. "Istirahatlah!" Wanita pirang itu menyuruh Irene kembali tidur untuk beristirahat. "Sepertinya suamimu tewas dalam penyergapan prajurit kerajaan."
"Ya... Sepertinya begitu..."
Irene hanya pasrah saat menjawab hal tersebut, perasaan sedih bercampur senang menyatu menjadi satu di dalam hatinya, dia sedih karena suami tercinta tewas dalam perang saudara itu, namun dia senang karena dirinya dan Erza selamat dalam perang saudara.
"Aku akan meminta izin pada kepala desa ini untuk menjadikan dirimu sebagai warga desa."
"A-apa tidak masalah?"
"Tentu tidak masalah, asalkan kau mau bekerja denganku."
Naruto yang mendengarnya pun membuat suara aneh untuk mengejek Tsunade.
"Diam kau rubah busuk!"
Naruto hanya mengangkat kedua bahunya tak perduli. "Aku pergi."
Irene yang mendengar itu pun memanggil Naruto. "Um, terima kasih karena sudah menyelamatkanku saat itu."
"Tak perlu, aku hanya ingin menolongmu saja kok." Naruto mengibaskan tangannya tanda dia tak perlu berterima kasih. "Lagipula kau pantas untuk hidup."
"U-um, sebagai balas Budi, kau boleh menikahi putriku."
Naruto mengerutkan dahinya, sementara Tsunade menatap Irene tak percaya, Shizuna menutup mulutnya dengan wajah merah merona.
"Kau bercanda?! Memberikan Erza pada dia sama aja memberikan anak kecil pada Predator anak kecil ini!?"
"Siapa yang kau panggil predator anak kecil, nenek tua Bangka?!"
"Kau! Memangnya siapa lagi?!"
Aura tak mengenakan keluar dari keduanya, Irene hanya tertawa kecil melihat pertengkaran keduanya. "Tapi aku serius, jika anakku sudah dewasa, aku akan memberikannya padamu."
Naruto hanya bisa mendesah pasrah mendengarnya. "Baiklah, akan aku tunggu jika dia siap." Pemuda itu kemudian pergi meninggalkan mereka yang ada di kamar klinik tanpa menyadari Erza yang sudah menutup wajah merahnya dengan selimut.
-o0o-
Flashback end:
Naruto menatap kedua sosok yang kembali ke depan, dia melihat wajah Sang raja yang seolah menandakan dia tak suka dengan kejadian tersebut, empat Hero di panggil ke dunia ini dan dua di antaranya terlihat arogan.
"Raja, dia siapa? Terlihat lemah sepertinya," tanya Menma pada sang Raja.
Raja itu tersenyum ramah pada pemuda merah itu. "Dia adalah Fox, petualang Rank SS yang aku undang kemari, reputasinya di kerajaan Fiore sudah tak diragukan lagi karena dia berhasil menahan gempuran monster yang berjumlah ratusan di bagian timur kerajaan, sendirian."
"Apakah monster itu lemah?"
"Rank dari Monster itu ada A hingga S, Fox menggunakan sihir skala besarnya untuk menghancurkan ratusan Monster yang tak bisa dikalahkan oleh Petualang Rank A."
Menma yang mendengar hal tersebut mulai bergidik, dia tak bisa membayangkan betapa kuatnya sosok Fox ini, mungkin jika dia bermain game, maka dia bisa menggunakan cheat pada game tersebut untuk membuatnya kuat seperti Fox.
"Kau pahlawan, tapi aku ingin kau enyah dari hadapanku!"
Kedua mata yang ada dibalik topeng itu menyala membuat Menma kembali ketakutan, aura intimidasi itu kembali keluar dan menakuti sebagian tamu di acara tersebut, sang Raja tersenyum di dalam hatinya yang paling dalam.
'Aku agak menyesal memanggil pahlawan seperti mereka.'
"Baik, mari kita lanjutkan acara penyambutan para Hero kita!"
Acara berlanjut dengan meriah sampai selesai, kelompok Naruto masih terdiam dengan tanda tanya besar yang muncul di kepala mereka. Naruto serius untuk menjadikan Erza sebagai istrinya?
Mereka sendiri melihat Erza yang diam sembari menatap Naruto yang sedang memakan sesuatu, wajahnya merah merona mengingat kembali dirinya yang dijadikan hadiah oleh sang Ibu sebagai rasa terima kasih.
Erza sebenarnya mau-mau saja jika dia dijodohkan langsung oleh sang ibu, namun dia tak menyangka jika dirinya akan langsung di deklarasikan sebagai istri oleh Naruto.
Oh ayolah, siapa yang tak mau menerima pinangan dari seseorang yang sangat kuat seperti Naruto atau Fox ini?
Kelompok Naruto itu kemudian pergi dari dalam istana untuk beristirahat di kediaman masing-masing, dan Naruto malah mengajak Erza ke penginapannya.
"Jangan kau apa-apakan anak itu."
"Aku tak tahu jika Naruto sudah menjadi predator anak."
"Naruto, seharusnya kau mencari wanita yang sepadan dengan umurmu."
"Apa maksud kalian?! Kalian mau kupukul?!"
Pertengkaran itu membuat Erza tersenyum kecil, dia sudah lama tak mendengar pertengkaran konyol seperti itu semenjak dia ada di kerajaan Fiore. Mereka pun berpisah karena ingin beristirahat di rumah masing-masing.
Sementara Naruto membawa Erza ke penginapan, Naruto duduk di atas kasurnya dan Erza di sebuah kursi yang disediakan pihak penginapan.
"Jadi, apa kau sudah tahu janji yang di katakan ibumu padaku?"
Erza mengangguk kecil saat mendengar pertanyaan tersebut. "Ya, aku mendengarnya dari kaasama."
Naruto memijit pangkal hidungnya saat mendengar jawaban Erza barusan. "Aku sebenarnya tak mau ini terjadi, tapi aku sudah pensiun menjadi petualang." Erza mengangguk kecil karena dia sudah diberitahu di awal. "Apa kau tak masalah jika kita kembali ke desa Konoha dan menjalankan sebuah toko roti?"
"Tentu, aku tak masalah dengan hal itu, Naruto-san."
"Uhh, panggil aku dengan nama biasa saja."
"Ba-baiklah, Na-naruto..."
"Oke, besok adalah hari dimana aku akan berangkat kembali ke desa Konoha, aku sudah memberitahu Makarov untuk kembali ke sana secepat mungkin. Namun aku belum memberitahukan bahwa dirimu akan ikut besok."
Erza terdiam sejenak, dia telah menyiapkan mentalnya untuk hidup bersama Naruto atau Fox dengan menjadi petualang.
"Kita akan memberitahukan kepindahanmu ke desa Konoha sebelum berangkat besok."
"Baik!"
...
..
.
TBC
Catatan;
Hero:
- Minato Namikaze
- Menma Namikaze
-
-
Ada 4 Hero, dan mereka hanya menjadi karakter sampingan, karena kita berfokus pada kehidupan Naruto serta Erza.
