Chapter 6: Kembali ke Desa Konoha.
Pagi ini Naruto berencana untuk berpamitan pada Makarov untuk kembali ke Konoha, bersama Erza tentunya. Naruto bergegas untuk merapihkan semua keperluan yang dia bawa dari Konoha, dan segera beranjak dari tempat penginapannya.
Namun, sebuah perasaan tak enak menyelimuti hatinya. Entah kenapa jika dia pergi ke Guild, maka sesuatu akan terjadi.
"Ah, Naruto-san. Selamat pagi."
"Pagi Erza." Naruto menatap Erza dengan pandangan anehnya saat keduanya berada di luar penginapan. "Erza?"
"Ya? Ada apa?"
"Apa barang bawaanmu sebanyak itu?" Naruto menunjuk ke puluhan koper yang ada dibelakang Erza.
"Oh, ini memang barang bawaanku sih, memangnya kenapa?"
"Masukkan ke dimensi penyimpanan."
Erza mengerutkan dahinya. "Aku tak bisa menggunakan sihir itu." Erza hanya mengangkat bahunya tanda dia tak perduli. Namun Naruto malah membuat sebuah lingkaran yang mirip dengan riak air. "Kau bisa?"
"Memangnya siapa aku ini, Erza?"
Erza hanya diam dengan wajah merah merona. Ia benar-benar lupa jika Naruto adalah Fox yang terkenal itu, gadis itu kemudian mengambil koper-koper miliknya dan memasukkan benda-benda itu ke dalam dimensi penyimpanan milik Naruto.
Beberapa saat kemudian, keduanya telah selesai melakukan pekerjaan awal sebelum berangkat ke Desa Konoha. Naruto menatap Erza yang seolah tak punya salah apapun padanya, padahal gadis itu membawa banyak sekali barang bawaan.
Mereka berdua pergi ke Guild Fairy Tail untuk meminta izin pada Makarov, keduanya diam tak mengatakan apapun saat di dalam perjalanan, tak ada satupun dari mereka yang mengatakan apapun.
Suasana yang akward untuk keduanya, terlebih Erza yang mendengar bahwa dirinya dijadikan hadiah untuk Naruto karena telah menyelamatkan dia dan ibunya. Beruntungnya lagi, dia bertemu langsung dengan Naruto atau Fox saat dirinya sudah siap untuk menikah.
"Hey, Erza-san, apa kau tak malu berjalan bersama orang lemah itu?"
Keduanya sampai di guild, dan sekarang malah Erza mendapatkan sebuah ejekan dari petualang lain. Erza hanya melirik sebentar, lalu kembali berjalan mengikuti Naruto yang sudah masuk ke dalam lorong dimana Makarov berada.
"Cih, dasar sombong."
"Sudahlah Elfman, Erza memang begitu orangnya, benarkan Sasuke-kun?"
"Hn."
Kita biarkan mereka, dan beralih kembali ke Naruto yang sampai di ruangan Guild. Naruto dan Erza berdiri tepat di depan pintu ruangan Makarov, rencana mereka hanya akan meminta izin untuk kembali ke desa Konoha.
Namun, Naruto malah mengambil topeng miliknya dan membuka pintu ruangan tersebut untuk masuk ke dalam, Erza yang melihat itu hanya terdiam dengan wajah heran. Erza tak berpikiran apapun setelah Naruto masuk ke dalam ruangan tersebut.
Tapi Erza menyadari jika ada para Hero yang datang ke ruangan Makarov. Menma dan Minato Namikaze, Erza mendengar jika keduanya ayah dan anak yang kebetulan dipanggil secara bersamaan oleh pihak Kerajaan Fiore.
"Ohhh, Erza-chan! Ada apa kau kemari? Apa kau akan me--"
"Untuk bocah sepertimu, kau ternyata tak menghiraukan peringatanku waktu itu." Naruto berkata dengan nada yang sangat dingin, pemuda itu menepis tangan Menma yang akan menyentuh Erza. Menma sendiri tak menyadari jika ada sosok Naruto di dekat Erza.
"Maafkan saya, tapi anda sepertinya tak akan berhenti untuk mengganggu hidup saya?" Nada bicara Erza sendiri terdengar sangat dingin dan tak bersahabat sama sekali. "Anda tidak dengar apa yang suami saya katakan beberapa waktu yang lalu?"
Suasana pun mulai mencekam dengan Naruto yang mulai mengeluarkan aura intimidasi yang tak mengenakkan sama sekali. Erza sendiri juga terlihat jijik saat sosok pemuda bernama Menma itu bertingkah manja pada dirinya, seolah dia adalah pasangannya, Erza juga mengakui jika Naruto adalah 'suami'nya.
"Kalau begitu, bagaimana jika suamimu bertarung melawanku? Siapa yang menang akan mendapatkan Erza-chan."
Makarov menepuk dahinya, Naruto diam dengan pandangan malas, dia menatap Makarov untuk meminta persetujuan dari orang tua itu. Makarov yang di tatap Naruto pun mengangguk kecil.
"Kau bocah sialan!" Naruto membuka topeng yang dipakainya, dan memperlihatkan wajahnya yang sangat marah terhadap Menma. "Menma, kau dan tousan seharusnya aku membunuhmu di istana kemarin." Nada dingin itu membuat bulu kuduk Menma berdiri, dia melihat sosok yang sangat dia takuti berada di depannya. Sosok yang menjadi kakaknya saat berada di Jepang.
"Na-naruto-niisan?!"
Minato juga terkejut saat melihat sosok putranya yang dia kira mati dalam sebuah kecelakaan, bahkan dia terlihat lebih tua daripada Menma yang merupakan kembarannya.
"Makarov, kau tahu kan apa yang akan aku lakukan disini?" Kakek tua itu mengangguk, kemudian mengibaskan tangannya untuk pergi dari ruangan tersebut. "Sampai bertemu lagi Makarov, dan aku tak ingin melihat wajah kedua orang sialan ini."
"Hati-hati di jalan Naruto, dan jaga Erza."
"Itu pasti."
Naruto pun meninggalkan ruangan Master Guild bersama Erza. "Kau mengenal mereka?" Naruto melirik Erza sebentar, kemudian kembali fokus ke depan. "Apa mereka keluargamu?"
"Kau tahu jika aku dari dunia lain?" Erza menggelengkan kepalanya pelan, tanda dia tak tahu tentang Naruto. Pemuda itu hanya tersenyum melihatnya. "Aku dari dunia lain sebenarnya, dan mereka adalah mantan keluargaku. Ibuku meninggal dan tak ada satupun dari mereka yang datang hanya untuk mengkremasi jasad Ibuku," jelas Naruto yang juga mengingat bagaimana dia meminta beberapa kerabatnya untuk membantu mengkremasi jasad ibunya. Naruto menghela napas panjang. "Lebih baik kita bergegas, aku tak mau berurusan dengan mereka."
"Baik!"
Keduanya pun mempercepat langkah kaki, dan pergi dari Guild. Namun, sebelum itu dia berpamitan dengan Mirajane yang setia berada di meja resepsionis Guild. Naruto hanya melambaikan tangannya untuk berpamitan pada Mira, begitu juga dengan Erza.
Mereka berdua tak perduli dengan beberapa pasang mata yang menatap mereka, terutama Naruto. Dia mendengar rumor jika dirinya memanfaatkan Erza untuk kepentingannya sendiri, namun dirinya tidak memperdulikan hal tersebut.
Keduanya langsung pergi dari Guild, Naruto tak berpamitan pada ketiga rekannya yang lain karena mereka pasti sedang menjalankan sebuah Quest jangka waktu yang lama, dan itu sudah menjadi makanan setiap hari bagi mereka.
Jika di ingat kembali, Naruto juga pernah menjalankan Quest semacam itu sebelum akhirnya dia bergabung dengan party yang di ketuai oleh Sasuke Uchiha.
"Jadi Naruto-san, kita akan kemana?"
"Langsung ke Konoha, kau sudah merindukan Ibumu kan?" Wajah Erza sedikit merona, dia sudah lama tak menemui Ibunya, Irene di Desa Konoha. "Wajar bagimu, karena kau kesini untuk mencari pengalaman dan uang."
"Y-ya, begitulah." Naruto hanya tersenyum sembari berjalan berdampingan dengan Erza. "Naruto-san, apa kau serius dengan ucapanmu?"
"Ucapanku?"
Erza mengangguk kecil. "Tentang aku yang akan menjadi istrimu." Naruto menghentikan langkah kakinya. "Kenapa?"
"Kau sudah diberitahu oleh ibumu kan?"
Irene pernah berpesan pada Erza untuk mencari Fox di kerajaan Fiore, dia tak tahu apa yang dimaksud oleh ibunya, karena dia hanya diberitahu bahwa dirinya harus mencari Fox, entah itu dimana jika sudah sampai di Kerajaan Fiore.
Erza sedikit semi sedikit melupakan perkataan itu, dan berfokus pada pelatihan serta pekerjaannya sebagai petualang. Dia gadis yang tegas terhadap yang lain, namun dibalik itu semua dia hanyalah gadis biasa.
"Ya, aku ingat sekarang. Aku harus mencari Fox, dan aku menemukannya."
"Baguslah kalau begitu, kita tinggal bertemu dengan ibumu nantinya," ujar Naruto yang kemudian melanjutkan langkah kakinya.
Erza mengangguk mengerti, kemudian berjalan mengikuti Naruto.
-o0o-
Warning: Lemon.
Perjalanan mereka memakan waktu satu hari satu malam dengan hanya berjalan menyusuri jalanan. Keduanya sesekali mendapatkan hambatan karena beberapa monster ada yang mengincar mereka, Naruto dan Erza membunuh mereka dengan mudahnya, karena memang mereka sudah terbiasa akan hal ini.
Saat ini mereka bermalam di sebuah tempat, serta mendirikan sebuah tenda. Erza memberikan instruksi kepada Naruto jika dia akan membangun satu tenda saja untuk mereka.
Sementara Naruto hanya mengiyakan saja sembari membuat sebuah pelindung menggunakan rune magic yang dia pelajari.
"Yak, sudah selesai." Naruto pun berbalik dan berjalan ke tenda yang di depannya ada sebuah api unggun. Dia masuk ke dalam tenda tersebut tanpa menyadari sosok Erza yang sedang mengganti pakaiannya.
Naruto terdiam melihat Erza yang setengah telanjang di depannya, tanpa menggunakan kaos sama sekali. Keduanya terdiam sejenak, menatap satu sama lain dengan rona merah yang mulai menjalar di wajah masing-masing. Reaksi Erza sendiri begitu lambat, dia terus menatap Naruto yang saat ini tengah menatap dirinya.
"A-ah, maafkan aku." Naruto langsung keluar dari tenda dengan wajahnya yang sudah merah merona.
"U-um, tak apa."
Pemuda pirang itu pun duduk di depan tenda, dia membelakangi pintu tenda itu. "Aku tak sengaja, maafkan aku Erza."
Namun Erza sendiri malah tak memakai kaosnya, dia merangkak ke depan tenda dan memeluk leher Naruto. Erza menghimpit punggung Naruto dengan dada telanjangnya.
Naruto langsung berjengit terkejut saat punggungnya di tempeli oleh dada Erza, dia bisa merasakan empuknya dada Erza yang ukurannya menyamai ukuran dada ibunya.
Naruto tak bergerak sedikitpun dari tempatnya, dan Erza malah menarik tubuh Naruto untuk masuk ke dalam tenda. Naruto duduk dengan mengalihkan wajahnya ke arah lain, namun Erza menangkap kedua pipi pemuda itu untuk menatap dirinya.
"Kenapa Erza?"
"Aku... Aku hanya ingin berterima kasih karena sudah menyelamatkan ibuku waktu itu."
"Kau berterima kasih padaku dengan cara seperti ini?"
Erza mencoba untuk menutupi area payudaranya. "Ya, mungkin hanya ini yang bisa kulakukan. Aku tak tahu apa yang kau suka, dan aku hanya bisa memberikan ini padamu." Dia duduk di atas paha Naruto, kedua tangannya memeluk leher Naruto, dan wajah cantiknya mendekat ke wajah Naruto.
Erza mencium bibir Naruto dengan lembut, tanpa ada nafsu sama sekali saat dia menciumnya, dan ciuman itu dibalas oleh Naruto. Kedua tangan pemuda itu bergerak memeluk pinggul Erza, dia merapatkan tubuh Erza pada tubuhnya, sehingga kedua payudara Erza seolah terhimpit.
Ciuman itu berlangsung agak lama, dilanjutkan dengan Naruto yang menciumi pipi dan turun sampai ke leher putih Erza.
"Ahhh..."
Lenguhan nikmat dikeluarkan Erza saat Naruto mencium lehernya, gadis itu merasakan kehangatan yang diberikan Naruto, kedua tangan pemuda itu meremas pantat yang masih dibalut celana dalam milik Erza.
Erza mendorong tubuh Naruto, kedua tangannya turun kebawah menyusuri tubuh Naruto, dia menarik ujung kaos yang dikenakan oleh pemuda itu, dan menariknya ke atas. Naruto sekarang bertelanjang dada di depan Erza.
Keduanya saling tatap satu sama lain, sebelum pada akhirnya kembali berciuman, kali ini Naruto yang mendominasi ciuman tersebut, dia memasukkan lidahnya ke dalam mulut Erza, kedua tangannya menjamah dada Erza, meremasnya dengan lembut serta memainkan puting susunya.
Tubuh Erza menegang saat Naruto memainkan puting susunya, dia secara reflek menarik dirinya dari ciuman itu, dan menenggelamkannya wajahnya pada leher Naruto untuk menyembunyikan wajah merah meronanya. Namun hal tersebut tak berlangsung lama, Naruto merebahkan tubuh Erza di atas matras yang mereka bawa, dia melihat Erza yang berusaha menutupi wajahnya yang sudah merah.
Naruto meneguk ludahnya kasar, ini pertama kalinya dia melihat tubuh telanjang seorang gadis. Kedua matanya melihat tubuh Erza dari atas hingga bawah, kedua tangannya pun menarik rok serta celana dalam yang dikenakan Erza, sehingga membuat gadis itu telanjang bulat di bawahnya.
Naruto menggertakkan giginya, dia merasakan jika 'adik' kecilnya sudah ingin sekali dikeluarkan dari sangkarnya. Namun Naruto masih bisa menahan dirinya, salah satu tangannya mencoba untuk turun ke bawah hingga sampai pada vagina Erza. Dia menyentuhnya dan mencoba untuk merasakannya, ada cairan yang keluar dari vagina itu, membuat jarinya menjadi licin saat mengelusnya.
Naruto juga merasakan bulu-bulu halus yang tumbuh di bagian bawah perut Erza. Kedua paha Erza langsung mengapit rapat pergelangan tangan Naruto, gadis itu menatap nyalang sosok Naruto yang ada di atasnya.
"Ada apa?"
"Geli, baka!"
Naruto hanya tersenyum tipis, dia kemudian melanjutkan acaranya yang tertunda tadi, serta menjilati permukaan kulit Erza, termasuk puting susu Erza yang sudah berdiri akibat Naruto yang sengaja menyentuh area kewanitaannya.
Erza menutup mulutnya untuk meredam desahan yang akan keluar. Naruto menghisap puting susu Erza yang ereksi, tubuh gadis itu bergetar hebat yang kemudian dilanjutkan dengan tubuhnya yang melengkung ke atas.
Dari vaginanya keluar cairan yang tak pernah Erza rasakan dalam hidupnya, dia baru saja mengalami sebuah puncak kenikmatan. Tubuh Erza langsung lemas setelah dia mengeluarkan cairannya, napasnya terengah-engah seolah dia telah berlari ratusan kilometer.
Naruto menarik tangannya, dia melihat tangan kanannya yang sudah dilumuri oleh cairan milik Erza, lalu kedua matanya melihat Erza yang sedang terengah-engah.
Naruto segera melepas seluruh pakaiannya, dia memenjamkan kedua matanya saat penis ereksinya terbebas dari sangkar yang menjeratnya.
Naruto memposisikan dirinya berada di depan kedua kaki Erza, ia membuka kaki jenjang itu untuk melihat vagina dari gadis itu. Pemuda pirang tersebut meneguk ludahnya saat dia di hadapkan oleh sebuah pemandangan yang membuat penisnya semakin keras.
"Uh, sial." Naruto mengarahkan penisnya ke vagina basah Erza, dia baru sadar jika ini adalah kali pertama bagi keduanya berhubungan badan. "Erza..."
"Um... Masukkan Naruto!" Ujar Erza lirih.
Naruto pun mengangguk dan mendorong pinggulnya untuk memasukkan penisnya ke dalam vagina Erza, dia mendorongnya dengan pelan penisnya dan merasakan bagaimana hangatnya bagian dalam tubuh Erza. Naruto mendesis nikmat saat penisnya terus merangsek masuk ke dalam tubuh gadis itu. Sementara Erza menahan dirinya dengan cara meremas tangannya sendiri, dia sedikit merasakan sakit saat penis itu masuk ke dalam tubuhnya.
Naruto terus mendorong pinggulnya dengan pelan, dia merasakan penisnya seolah ada di ujung dari vagina itu. Namun dia tahu jika itu adalah selaput dara Erza.
Dengan dorongan kecil, Naruto berhasil menembus selaput dara Erza, gadis itu menahan dirinya saat selaput daranya milik di tembus oleh Naruto. "Maafkan aku!"
"U-um, tak apa."
Darah mengalir keluar dari vagina Erza. Naruto menghentikan gerakan pinggulnya, dia menatap Erza yang tengah mengambil napas, Naruto mengangkat kedua kaki Erza sembari dia mendorong kembali pinggulnya.
Erza terkejut, dia sedikit merasakan nyeri dibagian vaginanya, namun berubah menjadi sebuah kenikmatan saat Naruto menggerakkan pinggulnya lagi. Erza mencoba untuk membiasakan diri akan hal ini, dia menggigit bibir bawahnya merasakan benda besar itu di dalam tubuhnya.
Sementara Naruto terus menggerakkan pinggulnya, penisnya keluar masuk di dalam vagina Erza. Lenguhan kecil dikeluarkan oleh Erza saat dinding vaginanya bergesekan dengan penis Naruto, dia sendiri merasakan sesak saat penis Naruto terus bergerak di dalam tubuhnya.
Kedua tangan Naruto bergerak dan menyentuh payudara Erza yang terlihat pas di tangannya, dia menggenggam kedua benda empuk itu serta meremasnya pelan.
Lenguhan Erza semakin menjadi, tubuhnya benar-benar dibuat tak berkutik di hadapan Naruto saat ini, Erza hanya bisa melenguh nikmat saat Naruto menjamah tubuhnya.
Pemuda itu kemudian mencium bibir Erza dengan mesra, pinggulnya terus bergerak dengan kecepatan normal, kedua tangannya masih meremas payudara Erza, sesekali dia juga memainkan puting susu ereksi itu.
"Naruto-san... Aku...ada yang..."
"Keluarkan! Aku juga akan keluar!"
Naruto mempercepat gerakan pinggulnya hingga dia menenggelamkan penisnya dalam-dalam, dia mengeluarkan sperma hangatnya serta Erza yang mencapai klimaksnya yang kedua.
Naruto menghela napas panjang, dia menatap Erza yang sedang mengambil napasnya, sebuah senyuman dia berikan pada gadis berambut merah itu. Kemudian dia merangkak dan merebahkan tubuhnya di sebelah Erza, Naruto meraih tubuh Erza dan memeluknya erat, sebelum akhirnya mereka berdua tertidur.
-o0o-
Keesokan harinya, Naruto membasuh wajahnya. Dia teringat kejadian semalam yang berlanjut tadi pagi, wajahnya langsung memanas setelah mengingat hal tersebut.
"Pagi Naruto...Kun..."
Naruto menaikkan kedua alisnya mendengar suffiks yang diberikan Erza padanya. "Ya, pagi Erza." Naruto segera bangkit dan mengambil handuk yang tadi dia bawa. Keduanya bergantian untuk membasuh wajah mereka.
"Naruto-kun, nanti kita akan langsung berangkat?" tanya Erza.
Naruto mengangguk kecil. "Ya, karena desa sudah dekat, jadi kita akan langsung berangkat."
"Aku akan merapihkan barang-barang!"
Naruto menatap Erza yang berlari kecil ke tempat mereka bermalam, dia tersenyum menatap gadis yang mungkin akan dinikahinya nanti setelah sampai di desa.
"Padahal aku mengincar ibunya, tapi anaknya yang dapat."
...
..
.
TBC!
