Chapter 7:
Naruto dan Erza tiba di desa Konoha pada malam hari, rencana mereka selanjutnya adalah menginap di penginapan milik Teuchi untuk beristirahat sebentar, lalu keesokan harinya Naruto akan melihat rumah yang Tazuna bangun.
Hubungan Naruto dengan Erza sendiri mulai intim setelah mereka berdua berhubungan badan saat perjalanan ke desa Konoha. Seperti sekarang, entah kenapa Naruto merasa candu saat dia bersama Erza, seolah dia tak ingin kehilangan gadis itu.
Naruto sekarang sedang menciumi leher Erza sembari kedua tangannya meremas buah dada Erza dengan pelan, pakaian mereka masih menempel.
"Na-naruto...Kun..."
"Erza, panggil aku Naruto saja."
"Na-naruto, sto-stop!"
Naruto menghentikan dirinya, dia menatap Erza yang sedang mengambil napas sebanyak mungkin. Gadis itu tak bergeming saat Naruto menatap dirinya. "Ada apa?"
"Ti-tidak, rasanya seluruh tubuhku... Geli."
Naruto tersenyum mendengarnya, dia kembali membuka mulutnya dan mencium leher Erza, memberikan beberapa tanda di sana. Erza menutup mulutnya menggunakan punggung tangannya agar desahannya tak keluar.
"Sto-stop!" Erza mendorong tubuh Naruto, dia menatap Naruto sembari mengambil napasnya. "Kenapa Naruto mesum?"
"Umm... Mungkin tubuhmu candu bagiku?"
Setelah mengatakannya, Naruto di hadiahi sebuah cubitan di hidungnya, Erza benar-benar kesal dengan pemuda di depannya itu.
Erza kemudian merapihkan kembali pakaiannya yang tadi hampir saja di buka oleh Naruto.
"Kita makan malam terlebih dahulu, lalu istirahat, dan besok kita akan melihat rumahmu serta berkunjung ke rumah kaasan!"
Naruto hanya bisa tersenyum pasrah mendengar perkataan Erza barusan, dia kemudian mengambil kemeja yang telah dia lepas.
"Baik-baik."
Waktu terus berjalan, keduanya telah menyelesaikan makan malam mereka dilanjutkan dengan mengistirahatkan tubuh mereka. Erza melarang keras Naruto untuk menyentuh tubuhnya setelah makan malam dan sebelum tidur, membuat Naruto pasrah dengan perintah tersebut.
Naruto heran, libidonya langsung naik saat dia melihat Erza. Gadis berusia delapan belas tahun dengan tubuh yang molek dan indah, dia bisa melihat lekukan tubuh yang indah itu saat Erza telanjang bulat di tenda.
Naruto tak bisa tidur, dia saat ini tengah menatap langit-langit kamar, kemudian dia beranjak dari tempat tidurnya yang bertipe single bed tersebut. Naruto benar-benar tak bisa tidur saat ini, dia pun pergi keluar kamar untuk mencari udara.
Dia juga tak lupa memesan secangkir kopi hitam dari kantin penginapan tersebut.
Dan sekarang, Naruto ada di luar penginapan, dia duduk di sebuah bangku taman yang jaraknya tak jauh dari penginapan tersebut, ditemani secangkir kopi hitam.
"Aku berharap tak ada gangguan setelah ini."
"Ara, Naruto-san."
Naruto menoleh, dia melihat sosok wanita yang berjalan ke arahnya. Kedua alisnya terangkat saat melihat wanita tersebut, dia kenal dengan wanita itu, bahkan dulu dia pernah menyelamatkan wanita itu.
"Irene Belserion."
"Selamat malam Naruto-san, lama tak bertemu."
Naruto tersenyum, kemudian mengangguk kecil. "Lama tak bertemu Irene-san. Bagaimana kabarmu?"
"Tentu saja baik, lalu Naruto-san sendiri bagaimana?"
"Aku baik." Jawaban singkat Naruto membuat Irene menggembungkan pipinya. "Dan aku bertemu Erza."
"Eh, Er-chan? Bagaimana keadaannya?" Wajah Irene berubah menjadi senang saat mendengar nama anaknya. "Pastinya dia bahagia di sana."
"Umm, dia ada di penginapan sekarang, aku mengajaknya pulang." Naruto tak bisa mengajarkan jika dia sudah menyetubuhi Erza pada Irene, walaupun dia sudah diberikan izin oleh wanita itu.
"Ehh, dia ada di penginapan? A-apa yang dia lakukan?"
"Tidur, dia sedang beristirahat untuk mengisi kembali energinya, agar besok bisa bertemu dengan ibunya."
Irene menyentuh salah satu pipinya, dia tersenyum mendengar hal tersebut. "Ara, putriku rindu padaku sepertinya."
"Duduklah Irene-san." Wanita itu mengangguk kecil, kemudian duduk di sebelah Naruto. "Apa kau masih tinggal di rumah kecil itu?"
"Um, ya begitulah."
Perlu diketahui, Irene diberikan sebuah rumah kecil baginya untuk tinggal, dan untuk uang, biasanya Hiruzen akan memberikan sekantung koin perak untuk semua kebutuhannya, serta sesekali Erza akan mengirimkan uang untuknya. Tak ada maksud khusus dari sosok Hiruzen itu padanya, terlebih Irene yang masih mencintai mendiang suaminya.
"Bagaimana jika kau tinggal di rumahku bersama Erza? Mungkin dia akan setuju."
"Akan aku pikirkan," jawab Irene, dia kemudian menoleh menatap Naruto. "Bagaimana jika Naruto-san ke rumah? Mungkin saja aku bisa menyuguhkan sesuatu."
"Dan meninggalkan Erza sendirian? Tidak dulu Irene-san."
Wanita itu tertawa kecil mendengar balasan yang diberikan oleh Naruto. "Jadi Naruto-san bagaimana sekarang?"
"Um, aku hanya ingin mencari angin saja."
Irene mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. "Hee, kau pemuda yang aneh." Komentar Irene, dia menatap wajah Naruto yang tengah menatap langit malam yang penuh akan bintang. "Tapi kau juga tampan Naruto-san."
Naruto mengangkat kedua alisnya, dia menoleh saat mendengar pujian dari Ibu satu anak itu. "Eh, terima kasih atas pujiannya." Dia menggaruk pipinya yang merona karena tersipu akan pujian Irene.
Keduanya tersenyum bersamaan, serta saling tatap satu sama lain. Entah kenapa Irene malah terhipnotis oleh kedua mata Naruto, senyuman keduanya perlahan menghilang digantikan dengan mereka yang saling mendekatkan diri, hembusan napas terasa oleh keduanya, mereka semakin memberanikan diri hingga pada akhirnya keduanya berciuman.
Berawal dari Naruto yang terpesona dengan kecantikan Irene, kemudian dilanjutkan dengan Irene yang terhipnotis oleh kedua mata biru Naruto. Ciuman itu semakin panas, Naruto menarik Irene ke sebuah gang yang berada di sela-sela bangunan Penginapan dengan bangunan lainnya. Mereka berdua kembali berciuman dengan mesra, kaki kanan Irene di angkat oleh Naruto, sehingga penis yang dibungkus oleh celana itu menabrak bagian intim dari wanita itu.
Irene sendiri mengalungkan kedua tangannya, memeluk Naruto dengan sangat mesra, seolah pria itu adalah suaminya.
Irene memasukkan lidahnya ke dalam mulut Naruto, mencari keberadaan lidah Naruto, hingga dia menemukan lidah pria itu dan mulai bersilat lidah dengan pria pirang itu. Irene tak tahu jika Naruto sudah menyetubuhi putri semata wayangnya.
Dan dia tak sadar jika Naruto yang dihadiahi Irene saat wanita itu diselamatkan dulu.
Tangan kanan Naruto mulai menggerayangi buah dada Irene, dia meremasnya dengan lembut, serta mencubit puting susu yang masih terbalut baju Irene.
Tubuh wanita itu menegang merasakan cubitan Naruto, dia juga merasakan bahwa bagian bawahnya sudah mulai basah akan cairannya sendiri. Irene menarik diri, dia mengambil napas sebanyak mungkin, serta menutup mulutnya supaya desahannya tak keluar.
Naruto mendorong pelan tubuh Irene hingga punggung wanita itu menabrak tembok di belakangnya, Naruto menyingkap dress yang dikenakan Irene hingga terlepas semua.
Dia saat ini melihat sosok wanita berstatus janda dengan anak satu yang tengah telanjang, wajahnya yang sudah merah merona itu membuat Naruto meneguk ludahnya secara kasar.
'Aku benar-benar mendapatkan ibunya.'
Kedua tangan pria itu terangkat dan mulai menyentuh kedua puting susu Irene yang ereksi, dia memainkan puting susu itu dengan lembut, sesekali menariknya serta mencubit kedua benda itu sehingga tubuh Irene menggelinjang merasakan sentuhan Naruto.
Cubitan itu kemudian berganti dengan sebuah remasan pada payudara Irene, dia meremasnya dengan lembut serta memainkannya.
Tubuh Irene terasa sangat panas saat dia merasakan kedua payudaranya dimainkan oleh Naruto, dia sudah lama tak merasakan hal ini setelah kematian suaminya dulu, rasanya seperti sedang melayang di angkasa.
Kedua kaki Irene bergetar hebat, tubuhnya menggelinjang dengan kepalanya yang menghadap ke atas, cairan pun keluar dari vagina Irene dengan deras. Dia klimaks untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun dia tak disentuh.
Naruto mengangkat tubuh Irene yang akan merosot ke bawah, dia mendengar deru napas Irene yang terdengar seperti orang yang berlari beberapa kilometer.
"Naruto-san..."
"Ada apa?"
"Aku mengkhianati putriku..." Gumam Irene.
Naruto yang mendengarnya pun terdiam, jika di pikir lagi, dia memang mengincar ibunya, tapi anaknya juga sudah jatuh pada pelukannya. "Mungkin, jika kau mau, kau bisa berbagi dengan anakmu."
"Tapi dia pasti menentangnya."
"Aku yang akan berbicara dengannya," bisik Naruto, dia kemudian kembali mendorong tubuh Irene dan mulai melepas celananya. Dia mengeluarkan penisnya yang sudah ereksi berat sedari tadi. "Sekarang kita selesaikan urusan kita."
Irene mengangguk kecil, dia kemudian membalikkan badannya seolah memberikan akses pada Naruto untuk memasukkan penis itu ke dalam tubuhnya. Naruto menggenggam pantat seksi Irene, dia mengarahkan penisnya ke liang senggama wanita itu, Naruto mendorongnya pelan untuk melihat bagaimana reaksi dari Irene.
"Masukkan!"
Naruto mengangguk kecil, dia kemudian mendorong pinggulnya hingga semua penisnya tertanam di dalam vagina Irene.
"Kuh!"
Irene menggigit bibir bawahnya merasakan benda asing masuk ke dalam vaginanya, sementara Naruto menarik pinggulnya dan kembali mendorongnya pelan. Naruto melakukan itu berulang kali dengan kecepatan yang sama,
Naruto merasakan sempit di dalam sana, dia berpikir jika vagina Irene serta milik Erza sama rasanya.
Irene mengangkat tubuh atasnya, dia menyandarkan dirinya pada dada bidang Naruto, tangan Irene mengarahkan tangan Naruto untuk kembali meremas payudaranya, dia menoleh ke kanan dan melihat Naruto yang terus menggerakkan pinggulnya.
"Cium aku Naruto-san..."
Naruto menyentuh pipi Irene, kemudian dia mencium bibir seksi itu dengan lembut.
-o0o-
Irene menatap Naruto yang saat ini tengah berdiri di hadapannya, kedua matanya turun ke bawah untuk melihat benda yang baru saja masuk ke dalam tubuhnya tadi.
Wajah cantiknya merona saat melihat benda dengan ukuran besar itu, dia pun menatap Naruto kembali yang saat ini tengah tersenyum padanya.
Pria pirang itu kemudian mengangkat kedua kaki Irene, dia juga mendorong tubuh wanita itu kembali hingga punggungnya menabrak ke tembok di belakangnya, Naruto meneguk ludahnya dengan susah payah, dia mengarahkan penisnya untuk kembali masuk ke dalam liang senggama Irene.
Naruto menghentakkan pinggulnya, sementara Irene langsung lemas saat tubuhnya kembali dimasuki penis Naruto.
"Ahhh..." Desahan nikmat lolos dari bibirnya, kedua tangannya memeluk leher Naruto, napasnya begitu memburu saat penis itu bergerak di dalam tubuhnya. Wanita itu kemudian mencium Naruto dengan mesra, dia benar-benar merasakan kenikmatan yang tiada tara setelah bertahun-tahun lamanya ditinggal sang suami.
"Mmhhh Naruto-san..."
-o0o-
Empat jam berlalu, keduanya duduk bersama kembali di bangku yang tak jauh dari penginapan, rambut Irene masih sedikit berantakan dengan cairan putih yang menempel di beberapa bagian, lalu pakaiannya yang agak lusuh.
Sementara Naruto terlihat masih berkeringat karena pergulatan yang baru saja mereka lakukan. "Irene-san, bagaimana jika Erza tahu akan hal ini?"
"Bagaimana ya?" Irene tersenyum misterius, dia kemudian menggenggam tangan Naruto dengan erat. "Bagaimana jika kau menikahi ku dan Erza?"
"O-oyakodon?!"
"Oya--apa?"
Naruto menggelengkan kepalanya kuat, sementara Irene hanya tersenyum misterius. Dia memegang perut datarnya.
"Naruto-san, sperma hangatmu masih terasa di dalam vaginaku loh."
"Wha?!"
Naruto terkejut saat Irene mengatakan sebuah hal yang sangat vulgar di depannya, dia memijit pangkal hidungnya.
"Irene-san, sebaiknya kau bicarakan hal ini dengan Erza," ujar Naruto.
"Penjelasan tentang hubungan kita?" Naruto mengangguk menjawab pertanyaan Irene. "Nanti suruh saja Erza untuk pulang, lalu aku akan berbicara dengannya."
Naruto kembali mengangguk. Irene kemudian beranjak dari tempatnya duduk, dia membungkukkan badannya sedikit, lalu berpamitan pada Naruto untuk pulang ke rumahnya.
Naruto sendiri kembali ke penginapannya, dia berdiri di dekat pintu kamar penginapan tersebut, dia melihat Erza yang tengah tertidur pulas dengan posisi yang awut-awutan.
Naruto hanya bisa menghela napasnya sebelum akhirnya dia duduk di sebuah kursi yang tak jauh dari tempat tidur, dia duduk di sana sendiri dengan kedua matanya yang terbuka.
Dia menikmati malam itu dengan tentram, sebuah suasana yang dia idam-idamkan selama beberapa tahun ini.
Naruto beradang hingga keesokan harinya, Naruto tak tidur sama sekali karena dia ingin menikmati malam itu.
"Selamat... Pagi? Apa kau tak tidur?"
Naruto menatap Erza yang baru aja bangun dari tidurnya. "Apa kelihatan jelas di wajahku?" Erza mengangguk kecil, dan Naruto memberikan senyumannya pada gadis itu. "Aku hanya ingin menikmati malam saja."
Erza menautkan kedua alisnya mendengar penjelasan ambigu yang dikeluarkan oleh Naruto, tapi dia tak berpikir dua kali, karena itu hak Naruto.
"Jadi Erza, apa kau akan pulang ke rumahmu?"
Erza yang akan beranjak dari tempatnya tidur pun menatap Naruto. "Ya, aku ingin meminta izin pada Kaasan untuk tinggal bersamamu dan menikah."
"Baguslah, lebih baik kau cepat, mungkin Ibumu ingin berbicara sesuatu denganmu."
"Bicara? Apa yang ingin dibicarakan?"
Naruto hanya mengangkat kedua bahunya seolah tak peduli. Erza sendiri hanya diam setelah tak mendapatkan jawaban dari Naruto, dia pun beranjak dari tempat tidur, kemudian membasuh wajahnya di tempat yang sudah disediakan.
"Kita akan Check out dari penginapan, mungkin aku akan langsung tinggal rumah itu."
Erza yang baru aja selesai membasuh wajahnya pun menatap Naruto, dia hanya mengangguk kecil. "Oh, semua barangku ada padamu."
"Ya, setelah berbicara dengan ibumu, kau langsung ke rumahku."
Erza tersenyum, kemudian mengganti pakaiannya dengan pakaian santainya untuk pergi ke rumah ibunya, ia berpamitan pada Naruto dan pergi meninggalkan pemuda itu.
Naruto sendiri duduk di kursi sembari menatap punggung Erza yang sudah menghilang dari pandangannya.
"Jadi... Aku dapat anak sekaligus ibunya?"
Naruto pun beranjak dari tempatnya, kemudian membereskan semua barang-barangnya, ia pun memberikan kunci kamar pada pemilik penginapan.
Dia berjalan ke sebuah rumah yang baru saja jadi, dia tersenyum melihat sosok pria tua yang sedang duduk di teras rumahnya. "Paman Tazuna."
"Oh, bocah, lama tak bertemu, bagaimana kabarmu?"
"Aku baik paman, apa rumahnya sudah selesai semua?" Tazuna menyeringai menatap Naruto. "Berarti sudah selesai."
"Tiga kamar, satu dapur bersih yang bergabung dengan ruang makan, lalu tempat dimana kau bisa berjualan, serta sebuah ruangan untuk memasak roti-rotimu, serta sebuah gudang untuk menyimpan bahan baku. Semua sudah lengkap!"
"Wooh, terima kasih paman!"
"Sama-sama bocah."
Naruto kemudian mengambil sekantung koin emas dari dalam sihir penyimpanannya, dia memberikan kantung itu ke Tazuna.
Pria tua itu mengerutkan dahinya. "Bocah, kau bercanda?" Naruto menggelengkan kepalanya. "Ta-tapi ini banyak sekali."
"Tak apa paman, simpan aja semuanya."
"Sial, kau bocah kaya raya ternyata." Keduanya pun tertawa mendengar Tazuna mengatakan hal itu. "Baiklah aku pulang, pekerjaanku sudah selesai."
"Terima kasih paman!"
Tazuna hanya mengangkat tangannya, dan pergi meninggalkan Naruto.
"Hidup tenang, aku datang!"
...
..
.
TBC
...
..
Malam hari tiba, Naruto duduk di kursi tempat makan dengan kepala menunduk, dia di tatap tajam oleh Erza.
"Aku tak percaya ini."
"Er-chan, tenang."
"Okaasan juga!"
Irene diam membisu.
"Aku tahu, Okaasan sudah lama ditinggal ayahanda, namun kenapa Okaasan malah berhubungan seks dengan calon suamiku?!"
"I-itu..."
Naruto mengangkat kepalanya. "Erza, aku melakukan ini supaya Ibumu tak kesepian, dia juga ingin membalas Budi pertolonganku waktu itu."
"Membalas jasamu atau mencari kenikmatan Naruto?"
"Uuhhh..."
"Terserahlah! Yang penting pernikahanku dengan Naruto berjalan, aku tak peduli jika Okaasan ikut menikah atau tidak."
Lampu hijau di terima oleh Naruto an Irene.
"Yesh, Oyakodon!"
"Oya apa?"
"Bu-bukan apa-apa Erza."
"Mencurigakan."
