Chapter 8:
Naruto duduk dibalik kasir toko roti miliknya, dia menatap beberapa pelanggannya yang mulai melihat-lihat produknya. Banyak dari mereka yang kagum dengan keahlian dari Naruto dalam membuat roti, terutama ibu-ibu yang sering membuatkan makan siang untuk suami atau anak mereka.
Naruto sendiri hanya bisa tersenyum menerima beberapa pujian dari para pelanggannya. Untuk Erza, dia sedang menjalankan sebuah Quest yang ada di Guild Konoha, sementara Irene sendiri menjadi ibu rumah tangga di dalam rumah tersebut.
Kejadian beberapa hari lalu membuat Naruto jadi agak tak enak pada keduanya. "Ah, Naruto- san, aku membeli ini."
Naruto sendiri tersenyum, kemudian memberikan harga pada beberapa buah roti yang telah di ambil oleh ibu-ibu di depannya itu.
"Ara, murah ternyata. Ini uangnya, terima kasih ya Naruto- san."
"Um, sama-sama nyonya." Kegiatan Naruto seharian adalah menerima pelanggan dan duduk di belakang kasirnya. "Mungkin jika desa ini berubah menjadi kota, maka akan sangat ramai yang tinggal disini,"
"Sepertinya bagus jika Desa ini menjadi sebuah kota kecil." Naruto hanya tersenyum menanggapi perkataan dari orang itu. "Kalau begitu, saya pamit dulu Naruto-san. Terima kasih."
"Um, sampai jumpa."
Suasana pun hening seketika, dia menatap pintu toko rotinya. Pandangan Naruto beralih ke atas, tatapannya begitu kosong seolah sedang ada yang dia pikirkan.
"Ara, Naruto-san."
'Kau tahu, seorang Milf itu bisa sangat menggoda jika dia sudah berbicara, serta memanggilmu.' batin Naruto ngaco. Tubuhnya merinding mendengar suara merdu dari seorang Irene, bayangkan aja, kau punya pacar cantik jelita seperti Erza, namun kau juga mendapatkan ibunya. Entah keberuntungan apa yang menaungi Naruto.
"Selamat pagi Irene-san."
"Ini siang Naruto-san." Tawa kecil Irene membuat Naruto ikut tertawa, wanita itu pun menatap Naruto yang terus berdiri di balik meja kasirnya. Irene tersenyum misterius sebelum akhirnya ia berjalan mendekati pemuda pirang itu. "Jadi Naruto-san, mau aku berikan sesuatu?"
"Sesuatu?" Otak Naruto langsung terkoneksi akan suatu hal yang akan diberikan oleh wanita satu anak itu. "Kurasa aku harus menolak itu." Irene menggembungkan kedua pipinya. "Maafkan aku Irene-san, bukannya aku tak mau, namun perasaanku mengatakan jika akan ada seuatu yang terjadi."
Irene memiringkan kepalanya bingung, dia terlihat tak tahu apa yang dimaksud oleh Naruto saat ini. Sejurus kemudian, Irene tahu apa yang dimaksud oleh pemuda pirang tersebut, dia tersenyum kemudian memeluk Naruto dari belakang.
"Ara, menantuku ini pikirannya mesum." Wajah Naruto langsung merona hebat setelah ia kepergok sedang memikirkan hal yang senonoh pada Irene. "Nanti malam aja bersama Erza."
Naruto terdiam dengan wajah merahnya, dia tak ahu apa yang harus dikatakan setelah ini. "A-aku akan keluar untuk mengambil Quest, to-tolong jaga tokonya."
"Tentu." Irene tersenyum kecil, dia menatap Naruto yang berlari meninggalkan dirinya. "Laki-laki yang tampan," ujar Irene sembari tertawa kecil.
Dengan Naruto, dia berlari langsung ke Guild tempat Jiraiya berada. Naruto masuk ke dalam tempat tesebut, dia melihat-lihat ke sekitar, seolah sedang mencari seseorang.
Namun, pandangannya tertuju pada dua sosok yang sedang berdiri di depan meja resepsionis. Naruto terus berjalan ke sebuah pintu yang menghubungkan Guild dengan ruangan dimana Jiraiya berada.
"Tunggu!, sepertinya aku mngenalmu."
Salah satu dari kedua orang itu berseru membuat langkah kaki Naruto terhenti seketika, Naruto menghela napas saat itu juga, dia mengutuk dirinya sendiri karena tak membawa topeng yang biasa dia gunakan. "Ada yang bisa kubantu?, dan mengapa anda mengatakan jika anda mengenal saya?"
"Kau Naruto kan?"
Naruto terdiam sejenak, wajahnya datar saat pemuda itu menebak namanya. Dia benar-benar ingin segera pergi dari tempat ini, karena tak mau dikenal oleh siapapun dari dunianya. "Ini aku,Sting, Sting Eucliffe." Naruto mengerjapkan kedua matanya beberapa kali, dia pernah mendengar nama Sting sebelum kepindahannya ke dunia ini.
"Sting?"
"Um, Sting."
"Aku tak tahu nama itu," pemuda pirang itu mengerutkan dahinya, dia berusaha mengingat beberapa hal yang ada di dunia sebelumnya. Terlebih, seseorang bernama Sting.
"Aku memakluminya karena sepertinya kau sudah lama disini, karena fisikmu sudah berubah drastis." Naruto kembali dibuat terdiam, dengan mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Memang benar, dia sudah berada di dunia ini selama sepuluh tahun, dan tak ingin kembali ke dunia sebelumnya. "Tapi kawan, aku senang bisa melihatmu kembali."
Naruto pun mengingat siapa itu Sting. Dia adalah sahabatnya sejak kecil, dan selalu bersama dirinya sejak kecil, Sting adalah orang yang tahu akan dirinya sebelum berpindah ke dunai fantasi ini. "Sting kah? Lama tak bertemu."
"Akhirnya kau mengingatku." Pemuda itu langsung memeluk Naruto. "Ayahmu dan Menma sialan itu ikut terpanggil, aku tak suka dengan mereka berdua," bisik Sting.
"AKu sudah bertemu dengan mereka, dan aku tak ingin ikut campur dengan urusan pahlawan."
Sting menarik dirinya. "Aku tahu, aku juga tak ingin melibatkanmu dengan urusan ini." Sting menatap Naruto dengan wajah sedihnya, dia mengingat bagaimana perjuanagan temannya itu di dunia sebelumnya. "Kau berhak mendapatkan kehidupan yang layak, kawan."
"Hm, terima kasih, lalu sekarang kau kenapa ada disini?"
"Aku tak tahu, tapi intuisiku bilang aku harus kesini, ya kan Rogue?" Pemuda berambut hitam dibelakang Sting mengangguk kecil, dia sedari tadi diam dan melihat interaksi antara Sting dengan Naruto. "Kenalkan, dia temanku dari luar negeri, Rogue Cheney." Naruto sedikit membungkukkan badannya pada Rogue, dia memberikan salam pada pemuda berambut hitam itu, membuat Rogue ikut memberikan salam pada Naruto, "dan Rogue, ini Naruto, teman masa kecilku yang aku ceritakan."
"Naruto Uzumaki. Salam kenal, maaf jika si pirang bodoh ini merepotkanmu."
"Salam kenal juga, Sting memang sangat merepotkan."
"Hey!"
Mereka bertiga pun tertawa lepas seolah tak ada beban sama sekali, Naruto yang tadinya ingin langsung bertemu Jiraiya pun lupa akan hal tersebut, karena sahabatnya malah ikut tersedot ke dunia fantasi ini.
"Ah, Iruka- san. Sebenarnya aku tadi mau mengambil Quest untuk melemaskan otot." Iruka mengerjapkan kedua matanya, dia ingat jika Naruto ini sudah pensiun dari dunia petualangnya. Kenapa dia ingin mengambil sebuah Quest.
Lamunan Iruka buyar karena pintu Guild terbuka dengan menampilkan Erza yang membawa beberapa mayat beruang yang diperkirakan rank B sampai A, penghuni Guild tak percaya jika ada seorang wanita yang berhasil mengalahkan lima beruang dan mengangkatnya seperti itu.
Dia berjalan ke tempat resepsionis berada. "Iruka- san, tolong hitung semuanya!" Erza meletakkan beruang itu di lantai, namun dia masih tak menyadari jika ada Naruto di dekatnya.
Beberapa petualang lain menatap Erza dan Naruto secara bergantian, ada rumor yang mengatakan jika Erza dan Naruto tinggal satu atap. "Dia gadis yang di inginkan oleh Menma sialan itu." Naruto langsung menatap Sting yang terlihat marah akan kelakuan Menma. "Tapi aku merasa jika para petualang disini menatap kalian berdua."
Naruto melirik Sting sebentar, kemudian tangannya terangkat dan menyentuh pantat Erza. "Kyaa!"
Para petualang langsung terkejut saat mendengar pekikan dari seorang Erza Scarlet. "Apa yang kau lakukan sialan!?" Erza membalikkan badannya menatap orang yang menyentuh pantatnya, dia melihat sosok Naruto yang tengah berdiri dengan wajah tanpa dosa miliknya. "Naruto! Sialan! Jangan seenaknya menyentuh pantatku seolah aku memperbolehkan itu! Dan jangan besar kepala setelah apa yang kita lakukan saat itu!"
"Erza, ada banyak orang."
"..."
Sting dan Rogue yang ada dibelakang Naruto pun hanya terdiam dengan wajah merah mereka. Erza sendiri diam dengan wajahnya yang mulai merona akibat ucapannya tadi, dia kemudian berjalan mendekati Naruto dan bersembunyi dibelakang tubuh pemuda itu. "Sting, Rogue- san perkenalkan ini namanya Erza Scarlet, calon istriku."
Sting memijit pangkat hidungnya, sementara Rogue hanya menghela napas dengan wajah pasrah. "Rogue, kau harus sabar saat Naruto bertingkah seperti ini."
"Memangnya dia seperti itu?"
"Err, terkadang."
Helaan napas kembali keluar dari mulut Rogue. Dia pun berjalan ke sebuah kursi , lalu duduk di sana dengan kedua jarinya memijit pangkal hidungnya. "Sting, kenapa kau bisa berteman dengan orang seperti dia?"
"Entahlah, aku hanya bertemu dengan dia lalu akrab, begitu saja."
Rogue benar-benar tak habis pikir dengan temannya ini, dia saat ini hanya bisa pasrah akan hal tersebut. "Aku akan kembali ke penginapan lebih awal."
"Kenapa?"
"Pusing."
"Makanya jangan berputar seperti itu, pusing kan?" ujar Sting, Rogue menepuk jidatnya kemudian pergi dari hadapan temannya tersebut.
"Dia kenapa?"
"Pusing katanya."
"Aneh, kalau pusing kan jalannya sempoyongan, dia malah tidak begitu."
"Kau benar."
-o0o-
Naruto melihat kertas Quest tersebut, dia berada di hutan dekat Desa Konoha, suasana di sekitar Naruto sedikit mencekam karena banyak sekali monster buas yang tinggal di dalam hutan itu.
Warga serta petualang desa itu tak berani masuk ke dalam hutan, walaupun akan diberikan imbalan yang besar, kecuali Erza yang baru aja menyelesaikan Questnya di hutan ini, dan dia orang kedua yang menerima Quest tersebut. Sting? Dia tak ikut karena dia harus berdiskusi dengan Rogue tentang perjalanan mereka untuk mengalahkan raja Iblis dengan pahlawan yang lain.
"Well..." Naruto kembali melihat kertas Quest yang dia bawa. "Membasmi Wyvern dan mengambil gigi taringnya untuk bukti, dua puluh ekor Wyvern tingkat A yang harus dikalahkan." Naruto menciptakan sebuah lingkaran sihir, dia mengambil pedang kayu yang biasa dia pakai setiap menjalankan Quest Solo.
Pemuda itu sudah mempersiapkan segalanya untuk menyelesaikan Quest ini.
"Salah satu ciri mereka adalah, Wyvern selalu berkelompok, ini akan mempermudah Quest yang aku jalani." Dia berjalan masuk ke dalam hutan untuk sampai di sebuah tebing yang menjadi sarang dari para Wyvern, Naruto melihat tebing yang menjulang tinggi itu, dia kemudian melompat ke bebatuan yang besar untuknya berpijak.
Dia pun sampai di puncak tebing itu, Naruto melihat banyak sekali Wyvern yang ada di puncak tebing itu, dia memperkirakan jumlah mereka melebihi apa yang ada di dalam Quest tersebut. Naruto segera mengalirkan mana miliknya ke kedua kakinya, dia berlari cepat menggunakan sihir [Accel] untuk meletakkan beberapa alat sihir yang dia miliki.
[Kekkai Mahou!: Shisekiyoujin!]
Naruto menepuk tangannya, empat buah alat sihir itu bersinar membentuk sebuah kubus seolah kubus itu sedang melindungi dirinya serta para Wyvern. "Menciptakan sihir memang tak mudah sama sekali." Naruto menghela napas setelah dia membuat Kekkai empat arah itu.
Para Wyvern yang ada di depan Naruto mulai mengamuk dan terbang kesana kemari, pemuda itu tersenyum tipis sebelum berlari cepat menggunakan sihir [Accel]. Kecepatan larinya seolah bisa membuat dia menapak udara yang ada di sekitarnya.
Naruto menebas beberapa Wyvern yang ada di dekatnya, kedua matanya menatap ke sekitarnya, dia melihat beberapa Wyvern mulai mendekat lagi, ada sekitar tiga ekor Wyvern yang mendekatinya setelah empat Wyvern dikalahkan oleh Naruto.
Naruto menciptakan lingkaran sihir berwarna biru muda. [Ice Block!: Partisan!] Naruto menciptakan tiga buah tombak es, dan melemparkan tombak itu ke arah tiga Wyvern yang mendekatinya. Ketiga tombak itu langsung menancap di tubuh Wyvern, Naruto kemudian mengalihkan pandangannya. Dia menciptakan sebuah lingkaran sihir berwarna putih untuk melindungi dirinya dari terjangan Wyvern lain.
Pemuda itu kemudian menebas Wyvern yang menabrakkan tubuhnya. "Uhh, mereka seolah tak mau di ganggu, padahal sering menyerang warga sekitar dan Petualang lain," ujar Naruto, dia mengayunkan pedang kayunya untuk membersihkan darah yang menempel di pedang kayunya itu. "Sudah delapan, sisa dua belas."
Naruto turun ke bawah, dia menatap ke atas langit untuk melihat para Wyvern. Hembusan napas keluar dari mulutnya, Naruto kembali berlari cepat dengan pedang yang ada di tangan kanannya, dia melompat tinggi dengan sebuah kuda-kuda, Naruto bersiap untuk memotong tiga ekor Wyvern di depannya.
Naruto mengayunkan pedang kayunya dengan kuat disertai dengan mana yang di alirkan pemuda itu ke dalam pedangnya. Ketiga Wyvern itu langsung tertebas menjadi dua, Naruto menginjak salah satu mayat Wyvern untuk melompat ke atas.
Naruto mengalihkan pandangannya ke arah lain, dia menatap ada empat ekor Wyvern yang datang pada dirinya. Dengan sigap menciptakan lingkaran sihir berwarna merah. [Honoo no tategami!] semburan api yang besar keluar dari lingkaran sihir itu, membuat keempat Wyvern itu terbakar hingga hangus.
Dia pun melompat turun, dan menginjakkan kakinya di atas tanah. Naruto merenggangkan tubuhnya untuk melemaskan semua ototnya.
"Pas sekali, sisa lima ekor."
Naruto mengembalikan pedang kayu miliknya ke tempat penyimpanan, dia pun mengalirkan mana miliknya ke kedua tangannya. Dia menyiapkan kuda-kudanya.
Salah satu Wyvern melesat cepat ke arah Naruto, pemuda itu reflek memukul kepala Wyvern ke bawah hingga tercipta sebuah lubang yang tak begitu besar di sekitarnya.
Naruto kemudian melihat ke Wyvern yang lain, dia berlari cepat ke salah satu Wyvern itu dan mencekiknya. Naruto menendang Wyvern yang melesat dari sisi lain dirinya, dia kemudian membanting Wyvern yang dia cekik barusan hingga monster itu tewas.
Pemuda itu pun melesat kembali, kali ini dia menatap tajam Wyvern yang melesat ke arah dirinya, dua Wyvern itu melesat dengan ganas pada dirinya.
Naruto menyiapkan tangannya, seolah ingin menusuk monster itu, dia langsung melesat cepat melewati dua ekor Wyvern itu. Dia kemudian menatap Wyvern yang tersisa, Naruto mengayunkan tangannya seolah dia tengah mengagunkan pedangnya.
Sebuah tebasan tercipta dari tangannya, membunuh Wyvern terakhir yang tadi ia tendang tadi.
Naruto pun menghela napas lega, dia melihat mayat Wyvern yang dia buru barusan. Kemudian mulai mengambil gigi mereka.
-o0o-
Naruto pulang sembari merenggangkan tubuhnya, dia telah menyelesaikan Questnya dan melaporkannya pada Iruka selaku resepsionis, dia juga mendapatkan surat dari raja. Sebuah surat yang sangat rahasia, bahkan para pahlawan tak tahu isi surat tersebut, karena benda itu hanya di tujukan pada dirinya atau beberapa orang yang penting lainnya.
"Huh?"
Naruto menatap tokonya yang terlihat ramai, dia segera berlari kecil ke tempat tinggalnya itu, kemudian masuk ke dalam.
"Ada apa ini?" Naruto mengerutkan dahinya, dia melihat Erza dan Irene yang menatap tajam dua orang yang sangat ia kenal. "Dan kenapa kalian ada disini?"
Jika Naruto pikir lagi, Sting dan Rogue memang ada di desa ini, jadi tak menutup kemungkinan jika kedua orang itu ada di desa Konoha.
"Aku akan mengulangi pertanyaanku barusan, kenapa kalian ada disini?!" Tatapan Naruto mengintimidasi mereka yang ada di depan Erza. "Aku tak ingin ada yang membuat keributan di tokoku." Naruto menatap satu persatu orang-orang itu. "Menma, Minato, Sasuke, dan Elfman, aku tak tahu siapa perempuan di belakang kalian, tapi aku harap kalian tak membuat gaduh disini."
"Untuk apa orang lemah sepertimu ada disini?" tanya Elfman.
Naruto menyeringai, dia mengambil pedang kayu yang tersimpan dimensi penyimpanan. "Erza, Irene-san, aku mohon untuk mundur beberapa langkah." Naruto melangkahkan kakinya, dia berdiri di depan kedua wanita itu. "Menma, aku kemarin sudah memberitahukannya, Erza adalah istriku, dan kau masih berani berdiri di depan wanitaku, lalu..."
"..."
Kedua mata biru itu menggelap menatap Minato. "Orang yang aku sebut Ayah, namun tak seperti seorang ayah. Kau masih terus memanjakan anak ini?" Naruto mengangkat tangannya, Naruto membuat sebuah bola transparan yang membuat Menma serta yang lainnya terjebak di dalamnya, bola tersebut kemudian menghilang meninggalkan bekas di lantai kayu.
"Mereka dibawa kemana Naruto?"
Naruto membalikkan badannya. "Ke lapangan kosong yang tak jauh dari desa ini." Setelah mengucapkannya, pandangan Naruto beralih ke Irene. "Tadi ada apa Irene-san?"
"Anu... orang yang bernama Minato itu ingin membawaku ke Gereja untuk dinikahi." Naruto menepuk dahinya mendengar penuturan dari Irene. "Lalu Erza datang dan menyelamatkanku saat dia akan menyeretku keluar dari rumah ini."
"Ayah dan anak sama saja, benar-benar brengsek."
"Kau mau kemana Naruto?"
"Ah, ini ada surat dari Raja. Perintah langsung." Naruto memberikan surat yang sudah ia buka tadi pada Erza. Gadis itu membacanya dari awal hingga akhir. "Baiklah, jika kalian ingin melihat pertarungan itu, kalian bisa pergi ke lapangan bagian timur Desa." Naruto langsung menghilang tanpa jejak.
"Ra-raja bercanda?! Ini tak mungkin?!"
Irene menatap Erza yang tengah terkejut. "Ada apa memangnya?"
"Naruto diperintahkan untuk membunuh kedua Pahlawan itu."
...
..
.
TBC
