Chapter 9:

Lapangan kosong, tempat itu tak jauh dari Guild Konoha. Jiraiya yang berada di kantornya pun terkejut dengan sebuah lonjakan mana yang ada di lapangan kosong itu. Dia langsung bergegas untuk pergi ke lapangan tersebut guna mencari tahu apa yang terjadi.

Di sana Jiraiya melihat sekelompok petualang, serta dua di antara mereka adalah Pahlawan yang dipanggil oleh kerajaan Fiore.

"Apa yang terjadi disini?" Jiraiya bertanya untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi, namun dia dikejutkan dengan Naruto yang sudah menapakkan kakinya di sebelah Jiraiya. "Naruto?"

"Ya, aku yang melempar mereka kesini."

Jiraiya melihat Naruto yang tengah menatap tajam mereka, tatapan itu benar-benar berbeda dengan tatapan Naruto biasanya. Tatapan tersebut penuh akan dendam serta kemarahan di dalamnya, sifat Naruto yang biasanya ceria atau acuh tak acuh pun berubah drastis.

Pemuda pirang itu kemudian membuat lingkaran sihir di beberapa titik, namun dia tak bergerak sama sekali dari tempatnya berdiri. Lingkaran berwarna abu-abu itu mengeluarkan sebuah batang besi dari dalamnya.

Naruto menggerakkan tangannya ke bawah untuk melemparkan batangan besi itu ke empat titik. Dia pun menepuk tangannya guna membuat sebuah sihir, helaan napas dia keluarkan.

[Kekkai Mahou!: Shisekiyoujin!]

Sebuah pelindung berbentuk kubus tercipta dari empat batang besi itu, kelompok Menma itu terkejut dengan apa yang dilakukan Naruto.

Pemuda itu merenggangkan tubuhnya, kemudian berjalan mendekati pelindung itu.

"Jiraiya, jika ada beberapa orang yang mati, maka aku yang akan bertanggung jawab."

Jiraiya terkejut mendengar perkataan Naruto. "Kau serius?! Oi, Naruto!"

Naruto tak menjawabnya, dia menciptakan sebuah lingkaran sihir yang mengeluarkan sebuah katana dengan aura yang sangat menakutkan. Jiraiya kembali dibuat terkejut dengan katana tersebut, auranya benar-benar berbeda dengan senjata yang lainnya.

Pria yang menjabat sebagai Master Guild itu telah merasakan berbagai macam senjata mistis, namun senjata yang akan dipakai Naruto ini lebih mengerikan daripada senjata mistis lainnya.

"Semua potensi, julukan, serta kekuatanku sebagian besar ada disini, aku memang terbantu oleh pedang ini, dia memilihku karena aku bisa mengendalikan hawa mengerikan yang ada di dalam pedang ini,.."

Sasuke yang melihat Naruto membawa sebuah katana itu terkejut, dia berkeringat dingin melihat Naruto yang mulai menarik gagang pedang tersebut.

"Tak mungkin! Ini benar-benar tak mungkin!"

Elfman yang ada di sebelahnya pun mengerutkan dahinya. "Apa yang tak mungkin Sasuke?!"

"Pedang yang dibawa oleh dia, aku pernah mendengar beberapa senjata yang mempunyai kekuatan mistis yang mengerikan, salah satu senjata itu dimiliki oleh Madara Uchiha. Orang itu menggunakan senjata bernama Gunbai, sebuah senjata dari klan Uchiha yang disimpan oleh para tetua, senjata itu akan memilih siapapun sebagai pemilik selanjutnya." Sasuke mengatur napasnya, dia benar-benar tak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Dari motif sarung pedang itu, lalu aura mengerikan yang bisa menembus kekkai ini, tak salah lagi, itu salah satu dari tujuh pedang mistis, pedang yang bisa membelah ruang dimensi, Yamato."

Naruto tertawa keras mendengarnya. "Aku tak menyangka, kau tahu akan pedang ini," ujar Naruto, dia melempar sarung katana itu ke atas, kemudian mengambil sebuah topeng bermotif rubah. "Aku tak tahu kenapa kau bisa menjadi arogan seperti itu, Madara yang dari Uchiha saja tak arogan sepertimu, atau kakakmu yang sangat bisa di andalkan kerajaan. Berbeda denganmu yang sungguh kekanakan dan arogan."

Sasuke dan kelompoknya kembali dikejutkan dengan sosok di depannya, dia adalah Fox, yang sebenarnya, sosok petualang dengan rank tinggi. Naruto mengacungkan katana miliknya, kedua matanya menghitam menyisakan retina birunya.

"Satu hal yang akan aku katakan, orang yang mengetahui katana ini, harus mati."

Mereka semua bersiap untuk melawan Naruto, termasuk Menma dan Minato. Tawa jahat Naruto pun terdengar menggema di lapangan kosong tersebut.

"Sepertinya kalian siap untuk mati."

Mereka semua bersiap, Naruto menangkap sarung pedangnya, lalu melemparkannya ke arah mereka semua.

Menma yang melihat itu pun mencoba untuk memblok lemparan sarung pedang Naruto menggunakan tamengnya. "Trik murahan!"

Namun, Menma terkejut saat Naruto sudah melompat tepat di depannya. Sasuke secara reflek memblok serangan Naruto pada Menma, sementara Elfman menyerang Naruto dari atas.

Pemuda pirang tersebut masih bisa membaca serangan mereka, dia mengambil sarung perangnya dan menahan serangan Elfman, dia juga menendang tameng Menma hingga pemuda itu terdorong beberapa centi. Naruto melompat tinggi dan berdiri di atas tanah.

"Hebat, kalian bisa menahan serangan ku." Naruto menyarangkan pedangnya, dia memukul ujung pedangnya di atas tanah, beberapa lingkaran sihir tercipta di sekitar kelompok Menma.

Lingkaran sihir tersebut mengeluarkan sulur tanaman yang siap menangkap siapapun. Sakura yang melihat itu pun menciptakan sebuah sihir pelindung bagi kelompoknya.

Naruto menyeringai melihatnya, dia dengan cekatan melesat ke arah mereka untuk yang kedua kalinya, pemuda itu menggerakkan pedang yang disarungkannya, beberapa lingkaran sihir tercipta, [Ice Spear!] Beberapa tombak es pun tercipta di sekitar Naruto, dia menggerakkan tangannya membuat es tersebut melesat kencang.

Salah satu es itu menancap tepat di pelindung yang dibuat Sakura, gadis itu terkejut melihatnya. Dia pun membuat sihir support pada anggota party-nya yang lain.

"Semuanya menghindar!"

Sasuke berseru kencang, membuat anggota party-nya itu melakukan hal yang di perintahkan Sasuke, Sakura melepas sihir pelindung, lalu mereka melompat ke arah lain.

Naruto tersenyum mengerikan melihat mereka menghindari serangan yang dia lancarkan. Bukan sebuah tombak es, melainkan ayunan Pedang yang dia pegang. Tanah yang ada di sana pun terbelah setelah Naruto melancarkan serangan tersebut.

"Hebat! Hebat! Bravo! Kalian memang hebat setelah menghindari serangan ini."

Sementara itu, di luar pelindung yang diciptakan Naruto, Erza menatap pemuda yang akan menikahinya sebentar lagi itu dengan tatapan yang sulit di artikan. "Erza..."

"Naruto benar-benar tak mau kita jatuh ketangan mereka."

"Naruto-san itu baik."

"Kau benar kaasan." Erza menatap Naruto yang sedang menangani kelompok Menma. 'Naruto...'

Kembali ke pertarungan, salah satu tangan Menma putus akibat sabetan pedang Naruto. "Pahlawan... Kau pikir, kau itu pahlawan? Kau hanya seongok sampah yang dipanggil oleh pihak kerajaan."

Menma mendecih tak suka mendengar hal tersebut, sementara Sasuke mulai membuka mulutnya. "Kau akan mendapatkan hukuman yang berat karena berani menyerang kami!" Menma melirik Sasuke, dia tersenyum di dalam hati seolah sudah menang setelah Sasuke mengatakan hal tersebut.

Naruto memijit pangkal hidungnya. "Kalian benar-benar keras kepala." Naruto menghilang dari tempatnya, membuat kelompok Menma terkejut melihatnya.

Mereka semua melihat ke sekitar untuk mencari keberadaan Naruto.

"Mencari siapa?"

Naruto berdiri dengan tangannya yang sudah memegang kepala Minato, dia tersenyum mengejek pada mereka semua, Menma yang melihat kepala Minato pun menoleh ke belakang, dia melihat tubuh ayahnya yang sudah roboh.

"A-ayah!"

Naruto melempar kepala Minato ke hadapan Menma, tatapan pemuda pirang tersebut sangat dingin terhadap adik laki-lakinya itu. "Menangisi orang yang memanjakanmu itu tak ada gunanya Menma."

"Keparat! Bedebah kau Naruto!!" Menma tanpa pikir panjang langsung melesat ke arah Naruto, dia tak perduli dengan tangannya yang sudah terpotong akibat serangan dari Naruto.

Naruto sendiri meladeni serangan tak berguna dari Menma, dia tak bergerak dari tempatnya saat Menma menyerang dirinya.

Di sisi lain, Sasuke dan kedua rekan kelompoknya pun tak bisa berbuat banyak dengan kejadian yang ada di dalamnya.

"Sialan, dia berbeda saat ada di dalam party kita."

"Aku agak menyesal mengejeknya."

"..."

Kembali pada keduanya, Naruto terus memblok serangan Menma, dia menatap datar sosok Menma yang marah dibalik topengnya.

"Kau benar-benar lemah, dan sangat manja," kata Naruto sinis pada Menma, Naruto menghentakkan kakinya membuat keseimbangan Menma goyah. Dia kemudian menendang mantan adiknya itu, pemuda berambut merah itu mencoba untuk berdiri kembali, dia langsung muntah darah setelah tendangan yang diberikan oleh Naruto barusan.

Penglihatan Menma mulai kabur, dia menyipitkan kedua matanya untuk melihat Naruto, dia melihat jika Naruto membuka topengnya, wajah datar nan dingin itu tengah menatap Menma.

"Hidup dimanja oleh laki-laki yang membuat Kaasan meninggal, lalu mencoba untuk merebut apa yang sudah aku miliki, dan terus memaksa untuk merebut Erza dari genggamanku."

Naruto berjalan mendekati Menma, pedangnya terlihat sudah siap.

"Penderitaan seperti ini tak cukup untukmu dan Minato, namun Minato malah sudah pergi terlebih dulu." Tawa keras menggema di sekitar, Naruto menertawakan sosok Menma yang sudah tak berdaya. "Sebagai seorang adik, kau memang tak tahu di untung."

Naruto mengayunkan pedangnya, dia memotong tangan Menma yang lain, pemuda berambut merah itu langsung berteriak kencang setelah tangannya yang lain dipotong oleh Naruto.

"Menyiksamu belum membuatku puas, mati adalah hal yang bagus untukmu."

Naruto jongkok tepat di depan Menma, dia tersenyum penuh arti melihat Menma yang menatapnya takut.

"Bagus, begitulah seharusnya, takutlah padaku."

Naruto kembali tertawa melihat wajah ketakutan Menma, dia pun berdiri kembali dan membuka pelindung yang dia buat. Pemuda pirang itu pun membalikkan tubuhnya untuk pergi dari hadapan Menma.

Namun disaat Naruto berjalan menjauh dari Menma, pemuda pirang itu dikejutkan dengan sebuah cahaya hitam yang menyambar Menma, tubuh lemah Menma terangkat dengan kedua tangannya yang muali tumbuh kembali.

Dua buah tanduk mulai terbentuk di kepala merah pemuda itu, lalu dua buah sayap kelelawar tercipta.

Naruto berbalik untuk melihat Menma yang kembali bangun dengan wujudnya yang lain. "Raja Iblis?!"

Jiraiya yang menontonnya dari kejauhan pun terkejut melihat sosok pahlawan yang dipanggil Raja berubah menjadi Raja Iblis. "Tidak salah lagi, itu Raja Iblis."

"Raja Iblis?"

Jiraiya menyipitkan kedua matanya melihat tubuh Menma yang tengah melayang. "Tidak salah lagi, itu benar-benar Raja Iblis, namun hanya jiwanya saja yang terbebas."

"Lalu tubuhnya?" tanya Erza.

"Di hancurkan oleh Naruto."

Erza dan Irene terkejut mendengar fakta bahwa Naruto menghancurkan tubuh dari Raja Iblis, di umurnya yang masih muda itu Naruto sudah menghancurkan tubuh dari Raja Iblis.

Aura kegelapan keluar dari tubuh Menma, kedua mata itu terbuka dan melihat sosok Naruto yang sedang berdiri tegak dengan wajah datarnya. Kedua mata merah itu menatap nyalang sosok Naruto, rambut menma yang semula putih pun berubah menjadi hitam legam, kumis kucing yang ada di kedua pipinya semakin menebal.

"Kau! Manusia sialan!"

Dia melesat kencang ke arah Naruto, tangan kanan yang sudah dilengkapi dengan cakar tajam pun bersiap untuk menyerang Naruto.

Pemuda pirang itu tak tinggal diam, dia menarik katana miliknya, lalu memblok serangan Menma. Naruto menendangnya hingga Menma terpental cukup jauh, Naruto sendiri melepas aura miliknya.

"Raja Iblis, Moryou!"

-o0o-

Flashback:

Naruto mendapatkan sebuah Quest khusus untuk dirinya sendiri, dia diberikan sebuah Quest untuk mengawasi sebuah daerah terpencil.

Daerah itu netral, tak terikat dengan Kerajaan apapun, warga yang tinggal di sana pun hanyalah prajurit. Mereka semua menjaga sosok tuan putri yang mempunyai kekuatan untuk menyegel apapun, termasuk Raja Iblis.

Di desa itu, tempat dimana tubuh asli Raja Iblis tersegel, dan Naruto mendapat misi untuk mencari tahu serta mengawasi desa tersebut.

Ini Quest yang menurutnya agak berbahaya jika di kerjakan oleh petualang dengan rank A ke bawah, karena dia bukan hanya mengawasi, Naruto merasa akan terjadi sesuatu yang memungkinan dirinya untuk menghancurkan desa itu atau tubuh asli dari Raja Iblis.

Di luar sana masih banyak pengikut Raja Iblis yang menunggu kebangkitannya, mereka semua menunggu waktu yang tepat untuk membangkitkan Raja Iblis yang telah di pisah antara Jiwa serta tubuh Aslinya.

Naruto menyiapkan pedangnya, dia memakai topengnya untuk menutupi identitas aslinya. Setelah sampai di desa itu, Naruto merasa heran dengan aktifitas yang ada di dalam desa. Dia juga melihat nama dari Desa itu.

"Desa Iblis," gumam Naruto, dia mengerutkan dahinya dibalik topeng. Dia merasakan hal yang tak beres dari dalam sana.

Segera Naruto berlari ke dalam desa tersebut, lebih tepatnya ke sebuah bangunan besar yang menjadi tempat tinggal dari tuan putri tersebut.

Dia berjalan ke arah penjaga yang sedang berdiri di depan pintu. "Selamat siang, aku orang yang menerima Quest, namaku Fox."

"Anda petualang Rank SS itu, silahkan masuk ke dalam, tuan putri sudah menunggu." Naruto mengangguk kecil, dia mengikuti penjaga tersebut masuk ke dalam bangunan.

Interior khas Jepang pun sangat terasa saat Naruto berjalan di dalam koridor, benar-benar terasa seperti di kekaisaran Jepang.

Keduanya masuk ke dalam hingga sampai pada sebuah ruangan tempat dimana Tuan putri itu berada.

"Silahkan masuk!" Naruto kembali mengangguk, dia kemudian masuk ke dalam ruangan tersebut. "Nona, orang yang Anda tunggu sudah datang."

"Kau boleh pergi!"

Penjaga itu mengangguk, kemudian pergi dari hadapan mereka. Sekarang, hanya ada Naruto serta tuan putri, Naruto menatap sebuah tirai yang menjadi penghalang antara mereka berdua.

"Namaku Shion, tuan putri dari Desa Iblis, orang-orang disini biasa menyebutku dengan Miko, atau pendeta yang menyegel Raja Iblis Moryou."

'Ah, persis seperti di Jepang,' batin Naruto. Dia pun membungkukkan badannya. "Nama saya Fox, saya petualang Rank SS yang menerima permintaan anda, salam kenal tuan putri."

Dari balik dalam tirai tersebut, Shion tersenyum mendengar perkenalan diri dari Naruto, dia merasakan jika aura yang dikeluarkan Naruto sangat kuat. "Ya, aku bisa melihatnya dari sini, kau sangatlah kuat."

"Terima kasih atas pujian anda, saya sangat tersanjung." Naruto kembali membungkukkan badannya. "Lalu, tugas saya disini?"

"Ah ya, aku lupa. Aku meminta seseorang dari Guild petualang Fairy Tail untuk datang kesini, kertas itu tertulis mengawasi desa ini, namun aku juga punya permintaan pribadi pada tiap orang yang menerima permintaan dariku."

"Jika berkenan, saya akan mendengar permintaan itu."

"Menghancurkan tubuh Raja Iblis."

Dan saat itulah Naruto merasakan jika dirinya salah mengambil Quest.

'Ah, shit, here we go again.'

...

..

.

Flashback tentang Naruto yang menjalankan misi khusus.

Satu chapter atau dua chapter lagi akan tamat, kemungkinan akan dilanjutkan oleh yang Komis hehe