Disclaimer: Saya bukan pemilik Naruto atau One Piece. Saya cuman minjem karakter nya.
BAB II.
Sebelum nya~
"Aku yakin Nami memiliki alasan yang khusus bergabung dengan Bajak laut Arlong." Kata Usopp yakin. Sanji mengangguk padanya setuju, "Ya, itu pasti."
"Jadi bagaimana? Langsung menyerbu Arlong Park?" Zoro bertanya kepada yang lain. Usopp mengangkat tangannya gugup mendengar usulan Zoro.
"T...Tunggu dulu! Kita tidak bisa langsung menyerbu mereka. Pertama yang harus kita lakukan adalah mengetahui masa lalu Nami." Kata Usopp kepada mereka.
"Itu percuma saja!" seru seseorang membuat mereka mengalihkan perhatian mereka. Disana terlihat dua orang berbeda gender berjalan bersama. Mereka adalah Naruto dan Nojiko.
"Kekuasaan Arlong tidak akan berakhir dengan satu atau lain cara!" lanjut nya dengan tajam. Naruto yang berada disampingnya terlihat bingung dan menatap antara Nojiko dan ketiga orang disana.
Matanya menyipit saat melihat satu orang yang menarik perhatian nya. 'Topi jerami? Dimana aku pernah melihat nya, ya?' Batinnya sambil memutar otak nya. Dia seperti tidak asing dengan topi itu.
Di sisi lain, Luffy juga menyipitkan matanya melihat pria disana. Senyum nya tumbuh saat mengingat orang itu.
"OY PIRANG! kita bertemu lagi, kan!" Teriak nya senang. Pikiran Naruto tiba-tiba berbunyi saat dia akhirnya mengingat orang itu. "O..oh jangan bilang..."
Luffy dengan senyum besar nya melambai dengan semangat kepadanya, "DENGAN BEGINI KAU BERGABUNG DENGAN KRU BAJAK LAUT KU, KAN?!"
Sekarang~
"O...Oi! Luffy apa kau mengenal orang itu?" Usopp bertanya kepada kapten nya. Mata nya memancarkan kegugupan melihat pria berjubah itu.
Zoro menatap pria itu dengan tajam. Dia dengan samar merasakan aura kekuatan yang memancar dari pria itu. Tangan nya mencengkeram pedang yang berada di pinggangnya erat, "Siapa dia Luffy?" Zoro mengulangi pertanyaan Usopp.
Luffy yang dipanggil menyengir lebar menampakkan gigi nya, "Dia adalah pria yang kulihat di desa ku sebelum aku pergi berlayar!..."
(Flashback.)
(Luffy POV! )
Itu adalah hari yang cerah untuk nya. Hari yang bagus untuk memulai petualangan bajak laut nya. Laki-laki yang baru saja menginjak usia 17 tahun itu nampak tersenyum lebar menatap langit.
Dia adalah Monkey D. Luffy.
Saat ini dia sedang berjalan ke tempat dia pernah dibesarkan. Setelah berjalan beberapa saat, akhirnya dia sampai ditujuan nya. Sebuah rumah besar yang dibangun di pegunungan. Dia menengok kedalam rumah tersebut dan melihat banyak orang berkumpul disana, tapi hanya satu yang menarik perhatian nya.
Dia adalah wanita yang duduk ditengah membelakangi nya. Dia adalah wanita dengan kelebihan berat badan dan memiliki rambut keriting berwarna orange. Memakai baju kemeja putih kerah, kalung manik-manik pink, celana kotak-kotak dengan sabuk besar dan memakai sepatu tumit.
Dia adalah Curly Dadan, bos bandit gunung dari keluarga Dadan.
Luffy melambai kepada orang-orang disana. "Oi! Tidak adakah dari kalian yang ingin mengantar ku? Ayolah!" dia berseru. Dadan yang duduk disana tidak mengalihkan pandangannya kebelakang, "Mengganggu sekali!"
"Kepala desa dan Makino pasti tidak ingin kita untuk menakuti para penduduk desa itu kan!"
Luffy memasang raut wajah kecewa, "Tapi..."
"Kenapa tidak cepat pergi saja dari sini!" Dadan memasang raut kesal nya. Luffy terdiam sebelum akhirnya tersenyum.
"Baiklah, kalian semua! Terima kasih atas segala nya ya!" Luffy mengangkat tangan nya dengan semangat. Mereka para bandit gunung itu hanya melambai dan tertawa malu.
"Haha... Tidak perlu mengatakan nya!" kata bandit 1.
"Baiklah baiklah! Pergilah dan berhati- hatilah" kata bandit 2.
Luffy melambai pergi sambil tersenyum, tapi dia berbalik kembali, "Oh ya, DADAN!" seru Luffy kembali.
Dadan terlihat sedikit terkejut mendengar teriakannya, tapi ucapan selanjut nya dari Luffy lah yang membuat nya terharu.
"Aku membenci bandit gunung! Tapi aku menyukai kalian semua!" seru nya dengan lantang. Wanita mengambil tisu di dada nya dan menangis cukup keras. Luffy yang melihat nya memiringkan kepala nya bingung.
"Berhentilah berbicara omong kosong dan pergilah bocah kurang ajar!" dia sesenggukan sambil mengelap air mata nya.
"Are...? Apa kau menangis?" Luffy memiringkan kepala nya bingung. "AKU TIDAK MENANGIS!" Dia berteriak walaupun air mata nya masih mengalir.
Setelah dia mengucapkan salam perpisahan nya dengan Dadan, akhirnya dia turun kembali ke desa. Desa itu sendiri terlihat damai dengan beberapa kincir angin yang terlihat. Dia juga melihat perkebunan dan beberapa hewan ternak disana.
Tak berapa lama akhirnya dia sampai di tengah desa, dia melihat kerumunan orang di dermaga, Luffy berpikir mereka mungkin ingin mengantar kepergian nya. Tapi mata nya menyipit sedikit melihat kehadiran orang-orang asing yang seperti nya sedang mengintimidasi warga desa. Dia mengetahui bahwa itu bandit gunung lain selain keluarga Dadan.
Luffy berjalan kearah kerumunan itu, bersiap melayangkan tinju nya kearah para bandit-bandit itu. Tapi dia menghentikan diri nya sendiri saat melihat seorang pria berjubah hitam maju menghalangi para bandit itu.
Luffy berjalan diam sampai akhirnya dia berdiri bersebelahan dengan wanita berambut hijau yang dikuncir kuda. Dia wanita sedang yang ramping dan memiliki wajah bulat. Kulit nya seputih dan sehalus sutra. Menggunakan baju lengan panjang bermotif kotak-kotak hitam dengan garis kuning dan memiliki model kerah rendah yang sedikit memperlihatkan belahan dadanya. Dibagian bawah nya dia menggunakan rok abu-abu standard dan memakai sendal sederhana.
Dia adalah Makino, penjaga bar.
"Nee, Makino-Nee, apa yang terjadi disini?" Luffy bertanya menatap wanita yang sudah dia anggap sebagai kakak perempuan. Makino melihat nya dengan tatapan khawatir di wajah nya.
"Mereka para bandit gunung baru saja berkumpul disini dan memaksa warga desa untuk mengumpulkan barang berharga mereka dan memberikan nya kepada mereka." Kata Makino lembut, terselip nada kekhawatiran dalam suaranya, tapi dia tidak tau kepada siapa itu ditujukan.
"Mereka mengancam akan membunuh kita jika kita tidak mengikuti kemauan nya." Sambung Makino. Luffy mengerutkan kening nya. Dia lalu menunjuk ke arah pria didepan yang saat ini masih diam saja membuat para bandit itu sedikit kesal.
"Lalu siapa dia? Mengapa dia diam saja disana?" Luffy bertanya lagi. Dia sedikit bingung dengan orang didepan itu, jika dia tidak ingin melawan maka biar dia saja yang menghadapi para bandit itu.
"Dia adalah Uzumaki Naruto, dia sering berkunjung ke desa ini untuk membeli beberapa kebutuhan nya. Dia juga sering berkunjung ke bar untuk sekedar minum dan mengobrol dengan ku." Jelas nya kepada Luffy.
Luffy semakin mengerutkan kening nya, dia sudah lama tinggal di desa ini dan baru kali ini dia bertemu pria ini. Jika kakak perempuan nya mengatakan bahwa dia sering kesini, lalu mengapa dia tidak pernah bertemu dengannya.
"Hm, aneh sekali! Aku tidak pernah melihat dia sebelum nya." Makino hanya melihat dia sebentar sebelum kembali menatap punggung pria itu. Dia khawatir untuk nya.
"Oh, akhirnya dia bergerak juga. Sepertinya ini akan menarik! Shishishishi!"
(Luffy POV end! )
"Oi kau! Menyingkir dari hadapan ku! Apa kau tak lihat aku ingin merampok warga penakut ini." Ucap pria yang seperti nya adalah pemimpin para bandit itu. Dia tinggi kurus dengan pakaian yang lusuh, wajah nya juga terlihat menyeramkan dengan beberapa jahitan di pelipis kanan nya. Dia juga terlihat membawa pedang di pinggang nya.
Pria berjubah atau yang sekarang bernama Naruto hanya diam memandang para bandit itu, dia memperkirakan mereka berjumlah 50. Jumlah yang menurut nya mengesankan.
Naruto melihat mereka semua dengan tatapan santai sebelum akhirnya menghela napas nya. Dia tidak tau mengapa ini bisa terjadi, dia awal nya datang kesini hanya untuk membeli beberapa bahan makanan untuk dia berlayar. Dia memutuskan sekarang saat nya untuk berlayar setelah sebelum nya selalu menundanya.
Setelah dia akhirnya mengisi persediaan nya, dia melihat para perompak ini datang dan mengancam kepala desa. Naruto yang melihat itu tentu saja datang dan akhirnya disini lah dia berada.
Setelah lama berdiam diri, Naruto mengalihkan pandangannya ke belakang dan tersenyum meyakinkan, "Kalian semua tenanglah! Aku akan menghadapi nya." Naruto berkata meyakinkan membuat mereka menghela nafas lega. Para bandit itu hanya menggeram kesal karena diabaikan.
"Oi oi! Tidak perlu sok kuat dan meyakinkan dihadapan ku. Kau hanya sendiri sedangkan aku memiliki 50 orang bawahan dibelakang ku." Pemimpin bandit itu sesumbar dengan sombong.
"Menyingkirlah dari hadapanku sebelum kau sendiri mati! Tidak perlu membuang nyawa untuk warga dari desa kecil ini." Sambung nya sebelum tertawa bersama bawahannya.
Naruto hanya diam sebelum dia menyeringai kecil, "Ah, kau sangat yakin bukan bisa membunuh ku!" Naruto menggoda nya main-main. Pemimpin bandit itu menggeram mendengar nada main-main itu, dia menyalak. "Hah! Tentu saja! Apa kau tau aku memiliki harga buronan yang tinggi." Dia mengangkat kertas buronan nya memperlihatkan kepada warga desa itu.
Disitu tertulis Inuguma, yang dia tebak nama dari pemimpin itu dan diatas nya terlihat angka yang tertera, 15.000.000 Berry. Tidak mengesankan pikir Naruto. Dia tidak tau kejahatan apa yang dia lakukan hingga pemerintah memberi dia harga segitu untuk pria kurus itu.
Para warga desa itu terlihat terkejut saat melihat harga buronan tersebut dan kembali menatap khawatir pria itu. Walaupun mereka tidak tau kemampuan Naruto tetapi mereka semua mengenal nya sebagai pribadi yang ceria dan hangat. Mereka tidak ingin pria itu melindungi mereka dan mati sia-sia.
Pemim bandit itu atau sekarang yang bernama Inuguma itu terlihat menyeringai menyeramkan saat melihat para warga desa ketakutan. Dia senang melihat mereka takut pada nya, dengan begini dia akan lebih mudah mengambil harta mereka. Tapi hanya satu halangan lagi sebelum semua nya terwujud.
Itu adalah pria itu, dia tidak terlihat takut atau khawatir kepadanya. Yang dia lihat hanyalah wajah kebosanan yang membuat darah nya mendidih. Dia sudah memikirkan cara setelah dia mengalahkan pria itu. Dia tidak akan membunuhnya langsung, dia akan mengalahkan nya dan membunuhnya secara perlahan dihadapan warga desa. Dengan begitu mereka semua akan takut dan tunduk padanya. Dalam hati dia hanya tertawa kejam memikirkan rencana tersebut.
Disisi lain para warga, terlihat Makino mengangkat kedua tangannya dan menyatukan nya. Dia benar-benar khawatir sekarang setelah melihat poster buronan bandit itu. Dia ingin berteriak padanya untuk berhenti, bahkan dia sudah mendengar para warga meneriakkan Naruto untuk segera berhenti.
Dia sudah mengenal nya selama beberapa tahun ini, dan dia bisa dengan jujur berkata bahwa dia nyaman dengan dia sekitar nya, dia pria yang ceria dan hangat. Selalu membantu warga desa dan selalu menebarkan senyuman indah keseluruh desa. Dia bahkan sering datang ke bar untuk sekedar minum atau membantu nya dengan pekerjaan nya.
Dia senang berada disekitar nya, begitu juga para warga desa itu lah mengapa mereka semua khawatir kepada laki-laki itu.
Luffy yang sedari tadi berdiri disamping Makino hanya diam menonton. Wajah nya sebenarnya terlihat sedikit bosan karena melihat belum ada pertempuran yang terjadi.
Naruto tetap diam di tempat nya sebelum akhir nya dia menunjuk pedang yang tersampir di pinggang nya. Naruto tersenyum, "Kalau begitu maju dan hadapi aku! Aku akan melawan kalian semua sekaligus bahkan aku tidak perlu mengangkat pedang ku ini." Kata nya menantang mereka semua.
Luffy terlihat tersenyum mendengar nya, sekarang benar-benar menarik. Para warga masih khawatir dengan nya untuk melawan mereka semua sekaligus. Naruto melihat kebelakang dan mengangkat jempol kanan nya meyakinkan mereka. "Tidak perlu khawatir Minna! Kalian lihat saja, aku akan menghabisi mereka semua untuk melindungi kalian." Ucapnya dengan hangat. Tatapan nya terlihat tertuju kepada wanita berambut hijau itu memberi nya senyum meyakinkan.
"Oi pirang! Cepatlah dan habisi mereka semua. Jika kau masih tidak akan maju maka aku akan melompat dan menghabisi mereka sebelum kamu!" Seru Luffy bersemangat. Naruto melihat nya sebelum perhatian nya tertuju pada topi anak laki-laki itu.
"Topi yang bagus nak." Luffy memegang topi nya sebelum melihat laki-laki yang lebih tua dari nya dengan cengiran. "Tentu saja! Topi ini adalah harta berharga ku!" Seru nya sedikit keras.
Naruto mengangguk pada nya dan kembali melihat para bandit itu. Dia menyeringai kepada nya dan berlari ke arah kumpulan bandit itu. Inuguma yang melihat itu meneriakkan teriakan perang dan para anak buah nya akhirnya berlari juga.
Naruto tersenyum melihat nya, jarak antara Naruto dan para bandit menipis dan Naruto melompat menggunakan lutut salah satu bandit sebelum menendang rahang nya menggunakan lutut nya. Naruto yang masih diatas udara melakukan tendangan dua arah menggunakan dua kaki nya mengenai dua orang menjatuhkan mereka dan beberapa orang di belakang nya. Mereka terkejut melihat nya.
Memanfaatkan efek kejut, Naruto memukul salah satu bandit di depan nya sebelum menghindari beberapa tebasan yang dilesatkan kepada nya. Naruto hanya menatap bosan pada serangan itu sebelum menahan tangan nya dan mematahkan tangan nya. Naruto menarik nya dan melemparkan mereka ke arah bandit lain.
Naruto menghela nafas nya pelan, dia tidak merasakan adrenalin pertempuran. Ini seperti mainan anak-anak baginya. Naruto terlihat menghindari beberapa terjangan yang mengarah pada nya. Dia dengan santai mengelak ke kanan dan kiri.
Tidak ingin membuat ini menjadi lama, Naruto kembali melesat kedepan untuk memberi pelajaran kepada orang-orang ini.
Disisi lain penonton, mereka menatap tidak percaya pada pertempuran yang ada di depan mereka. Naruto yang selama ini mereka kenal sangat hangat dan ceria ternyata sangat kuat.
Mereka memang tau bahwa dia ingin berlayar dan bertemu orang-orang kuat, mereka hanya tidak tau bahwa Naruto yang selama ini mereka kenal sangat kuat. Mereka belum pernah melihat dia bertarung sebelum nya dan ini adalah pertama kali mereka melihat.
Luffy bersemangat saat melihat pertarungan -uhuk- pembantaian yang dilakukan oleh Naruto, mata nya membentuk kilatan bintang dengan mulut terbuka lebar. Dia berpikir untuk merekrut pria itu untuk bergabung menjadi Nakama's nya.
Makino sendiri hanya berdiri menatap dengan tatapan kagum. Walau mungkin bukan pertama kali nya dia melihat pertarungan, tetapi ini sedikit berbeda. Melihat nya bertarung seorang diri melawan pasukan bandit itu adalah hal baru baginya.
Berbanding terbalik dengan penduduk desa, Inuguma yang melihat pasukannya di habisi hanya dengan satu orang itu membuat nya gemetar kesal. Ada perasaan sedikit takut saat melihat tatapan yang sesekali ditujukan untuk nya oleh Pria pirang itu, tapi dia membuang keraguannya sebelum memegang pedang nya erat.
Naruto yang baru saja selesai mengetuk kening bandit terakhir yang dia lawan menghela nafas nya pelan, Naruto melihat sekeliling nya menatap sedikit kerusuhan yang dia buat sebelum akhirnya menatap bos mereka. Naruto menatap nya tanpa ekspresi, aura di sekitar tubuh nya menguar tidak mengenakan membuat bos bandit itu berjengit takut.
"K... Kau M..monster! Siapa kau sebenarnya? Bagaimana mungkin pasukan ku yang berjumlah lima puluh bisa kalah hanya dengan satu orang!" emosi nya membeludak. Tangannya terlihat berkeringat dan gemetar.
Naruto berjalan pelan ke arah nya, tatapan nya masih tertuju pada pria kurus itu. Inuguma berjalan mundur saat melihat nya maju, pedang nya dia tarik dan mengacungkan nya ke arah Naruto yang masih terus berjalan.
"Ada apa? Bukannya kau berkata ingin membunuh ku tadi? Apakah itu hanya lelucon saja?" Naruto yang masih berjalan berbicara. Nada nya terdengar tidak bersahabat, itu terasa dingin dan mencekam. Inuguma mulai bergetar hebat mendengar nya.
"Sekarang kau takut padaku?!"
Bos bandit itu jatuh terduduk, matanya masih menatap pria yang saat ini sudah berada didepannya berdiri dengan rambut yang membayangi matanya. "Ingat ini baik-baik di kepala mu. Namaku Uzumaki Naruto dan aku adalah pelindung desa ini. Jika aku mendengar kau membuat keributan lagi di desa ini. Aku akan datang untuk mu dan membunuh mu!"
Para warga desa yang sedari tadi menonton sebenarnya juga merinding saat mendengar orang yang mereka kenal berbicara sangat dingin. Pertama kali nya mereka melihat pemuda itu bersikap sangat dingin.
Setelah beberapa menit terjadi keheningan, helaan nafas keluar dari bibir Naruto. Berjongkok didepan bos bandit itu, Naruto menampar bolak balik pipi itu hingga tercipta banyak benjolan.
Naruto membiarkan nya terjatuh ke samping dan berdiri kembali. Memasang senyum senang, Naruto berbalik dan berjalan kembali ke arah penduduk desa yang saat ini bersorak untuk nya karena berhasil mengalahkan bandit-bandit itu. Naruto melambai malu sambil menggaruk kepala nya tidak gatal.
"Nah, Minna! Aku sudah selesai disini, kalian bisa mengurus para bandit itu bukan? Mereka tidak akan menjadi ancaman lagi sekarang." Mereka semua mengangguk dan segera mereka meringkus para bandit itu dan membawa nya ke pihak yang lebih berwenang, oh atau mungkin membunuh mereka semua.
Naruto menghilangkan pikiran terakhir nya barusan, tidak mungkin mereka akan membunuh mereka. Warga disini masih memiliki hati walau mereka baru saja akan dirampok.
Luffy berlari ke arah nya dengan bintang di matanya, air liur terlihat keluar dari mulut nya saat berlari ke arah nya. Naruto berjengit terkejut dan mundur beberapa langkah.
"Nama mu Naruto kan?! Jadilah Nakama pertama ku!" Naruto menatap anak laki-laki didepan nya bingung, dia melihat harapan dimata besar nya itu. Naruto tersenyum sedikit melihat nya.
"Apa maksudmu menjadi Nakama mu?" dia akan bermain dengan ini. Luffy dengan senyum yang lebar mengangkat tangannya. Dia terlihat bersemangat, "Aku sedang membentuk kru bajak laut ku sendiri dan kau adalah orang pertama yang ingin ku ajak berpetualang di laut luas diluar sana!" Luffy terlihat seperti akan meledak dilihat dari betapa semangat nya dia menjelaskan.
"GRANDLINE!" Seru nya keras. Naruto sedikit terkejut sebelum dia menyeringai, "Hoo! Grandline kah? Kau tau bukan Grandline merupakan lautan yang berbahaya, bahkan ada yang mengatakan kalau itu merupakan kuburan para bajak laut. Apa kau yakin ingin berlayar kesana?" Naruto bertanya kepada nya.
Luffy meninju tangan kanannya ke telapak tangan kirinya, ekspresi nya menjadi serius, "Tentu saja aku yakin! Namaku Monkey D. Luffy! Aku akan menjadi Raja Bajak Laut dan menemukan harta terbesar di Grandline!" teriak nya penuh tekad.
"ONE PIECE!"
Teriakan bocah itu membuat warga desa yang mendengar nya tersenyum. Mereka yang telah mengenal bocah itu sedari kecil tau itu adalah mimpi nya.
Naruto sendiri melebarkan mata nya, sekarang dia benar-benar terkejut dengan teriakan nya barusan. Bukan karena teriakan nya tapi kata-kata nya. Luffy berbicara lagi sambil mengambil topi yang ada dikepala nya.
"Lalu setelah aku menjadi Raja Bajak Laut, aku akan mengembalikan topi jerami ini kembali kepada Shanks." Naruto kembali terkejut sebelum akhirnya terkekeh mendengar nya. Naruto tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perut nya. Makino yang berdiri disamping Luffy terlihat khawatir pada nya. "Naruto-kun.."
Naruto menatap wanita itu walau sambil tertawa, dia meyakinkan nya untuk tidak khawatir dengan matanya.
Luffy mengerutkan keningnya, menatap si pirang yang tertawa. Dia tidak suka jika mimpi nya di olok-olok. Luffy mengeratkan tinju nya menatap tajam laki-laki yang lebih tua dari nya itu.
"Kau! APA YANG KAU TERTAWA..."
Luffy terdiam saat merasakan tangan laki-laki itu mengacak-acak rambut nya. Dia melihat nya tersenyum lebar membuat Luffy menatap nya kaget. "Namamu Luffy kan? Menjadi Raja Bajak Laut katamu?" Naruto terkekeh sedikit sebelum akhirnya menghentikan tangannya masih diatas kepala nya.
"Mimpi yang bagus! Aku yakin kau bisa mewujudkan mimpi mu!" Luffy melihat nya dengan pancaran kekaguman. Dia teringat kembali saat kecil Shanks juga melakukan ini pada nya.
Naruto menurunkan tangannya lalu menatap wanita yang ada disamping Luffy. Dia tersenyum pada wanita itu yang dibalas oleh nya. Luffy mengenakan kembali topi nya.
"Lalu bagaimana? Apa kau mau bergabung dengan kru ku?" tanya nya kembali. Naruto menatap nya kembali, "Tidak."
"Ha! Kenapa?" Naruto menaruh tangannya di dagunya berpikir, mencoba mencari alasan. "Karena itu merepotkan." Luffy melihat si pirang seolah-olah dia idiot.
"Alasan macam apa itu? Apa kau idiot?"
Naruto berteriak dengan muka hiu, "Siapa yang kau panggil idiot, kau idiot!" Naruto membuang muka nya kesal. Makino hanya tertawa kepada kedua laki-laki itu.
Naruto berjalan kembali ke kapal nya mengecek jika ada sesuatu yang tertinggal. Luffy yang masih gigih mengikuti nya dibelakang nya dan diekori oleh Makino. Setelah berdebat sedikit dengan Luffy, Naruto membuat tantangan kepada Luffy.
"Begini saja, jika kita bertemu kembali sebelum mencapai Grandline maka aku setuju untuk bergabung dengan mu. Bagaimana?" Luffy menimbang tantangan itu sebelum mengangguk kan kepala nya setuju. "Kau berjanji?" Naruto dengan enggan mengangguk kan kepala nya membuat Luffy tersenyum dan akhirnya dia berbalik dan berlari ke kapal nya di dermaga.
Naruto melihat nya saat dia berteriak sendiri dan memberi salam perpisahan kepada warga desa. Dia masih melihat nya saat dia sedikit jauh sebelum terkejut sedikit saat melihat monster laut muncul dari laut dekat kapal Luffy.
Monster itu jatuh saat Luffy berhasil menghajar nya dengan satu pukulan membuat Naruto menyeringai.
Makino datang dibelakang nya yang Naruto sadari, "Dia sangat energik bukan?" Naruto berbasa basi. Makino tersenyum mengangguk dan berkata dia akan merindukan bocah itu.
"Jadi, Naruto-kun apakah ada yang kau butuhkan lagi sebelum pergi?" Makino bertanya dengan senyum manis. Naruto sedikit memerah melihat nya sebelum menggaruk kepala nya yang tidak gatal.
"Sepertinya aku akan menunda nya sehari lagi Makino-chan." Makino menatap nya bingung membuat Naruto menjelaskan nya, "Jika aku pergi sekarang, maka kemungkinan aku untuk bertemu dengan nya di pulau lain sangat tinggi. Itu tidak akan menjadi tantangan yang menarik jika harus bertemu kembali dengan cepat."
"Lagipula aku masih ingin menghindari nya sebisa mungkin. Akan merepotkan memiliki kapten idiot seperti itu, bukan." Makino tertawa lembut mendengar nya.
"Kau bisa menginap malam ini Naruto-kun. Kau tau rumah mu sangat jauh dari sini, kan?" Naruto mengangguk pada nya setuju. Makino tersenyum sebelum menarik tangan nya untuk mengikuti nya.
"Kalau begitu kau bisa membantu ku di bar hari ini. Ayo, Naruto-kun!" Naruto tersenyum pada nya menurut. Mereka berjalan kembali ke bar sambil mengobrol. Para warga menatap kedua orang itu yang terlihat tersenyum dan tertawa.
Mereka tidak tau bagaimana hubungan mereka berdua setelah beberapa tahun. Mereka selalu bersama setiap saat, mengobrol, bercanda dan tertawa. Mereka semua hanya berharap yang terbaik untuk mereka berdua.
(Flashback end.)
"M.. Maksudmu dia menghabisi 50 orang bandit itu seorang diri? Bahkan dia tidak serius?!" Usopp tergagap setelah mendengar cerita Luffy. Luffy menganggukan kepala nya semangat. Dia masih menatap Naruto dengan senang.
Naruto dan Nojiko yang saat ini sudah mendekat menghela nafas kasar. Dia tidak berharap untuk bertemu dengan Luffy disini. Padahal tinggal sedikit lagi sebelum akhirnya mencapai Grandline.
"Oi Naruto kau akan menepati Janji mu kan?! Itu artinya sekarang kau adalah Nakama ku kan?" Luffy bertanya. Gigi nya terlihat dan mengeluarkan suara tawa aneh. Naruto berkeringat melihat nya.
"O..Oi! L..Luffy mungkin sebaiknya dia tidak bergabung dengan kita." Luffy menatap Usopp bingung, "Kenapa?"
"BUKANKAH KAU MENGATAKAN DIA MENGHABISI 50 BANDIT ITU SEORANG DIRI? ITU ARTINYA DIA BERBAHAYA, BAKA!" Luffy menaruh tangannya didagu berpikir. Semua nya menatap dia dengan aneh.
"Hm aku tidak peduli, Aku masih ingin dia bergabung dengan ku! Shishishi." Ketiga kru menatap nya dengan terkejut. Zoro merengut mendengar keputusan kapten nya, walaupun dia merasa dia juga bisa menghadapi 50 bandit seorang diri, dia masih tidak yakin melawan nya tanpa menggunakan pedang nya.
Keringat sebesar biji jagung muncul di belakang kepala nya, dia menatap Luffy kesal, "Oi! Apakah kamu benar-benar berpikir aku ingin bergabung dengan kru mu?!" Luffy menatap nya dengan kerutan.
"T..Tapi bukankah itu perjanjian nya? Apa kau tidak akan menepati janji mu?" Luffy berseru, dia tidak terima jika dibohongi. "Apakah kau laki-laki pengecut yang tidak bisa menepati janji nya?!" Naruto berjengit sebelum menghela nafas pasrah.
Naruto mengangguk pasrah pada Luffy, "Baiklah! Baiklah! Tapi aku masih ingin memutuskan sendiri setelah kita menyelesaikan masalah desa ini." Sekarang dia benar-benar ingin mengutuk sifat nya. Luffy mengangguk kembali pada nya kembali bersemangat.
"Yosh! Aku pasti akan membuat mu bergabung dengan kami, Naruto!"
"Tunggu Naruto, menyelesaikan masalah desa ini?" Nojiko menatap nya tajam. Naruto mengangguk pada nya dan menatap nya serius. "Ya, setelah melihat dan mendengar dari dirimu sendiri aku menyimpulkan bahwa desa ini sedang dalam masalah." Kata Naruto.
"Bukan kah kamu tadi mengatakan tentang kekuasaan Arlong? Aku tau siapa dia dan aku sudah mendengar tentang kejahatan nya dari desa lain."
Nojiko berkata tajam pada Naruto, "Apa kau sudah merencanakan ini sebelum nya? Datang kesini dan mencoba menghancurkan Arlong?" Naruto menggelengkan kepalanya. Sebenarnya jujur saja dia tidak berniat datang ke desa ini sebelum nya. Dia kesini karena untuk mengisi persediaan nya yang sudah tenggelam bersama kapal nya. Dan lihat seperti nya keberuntungan nya membawa nya kepada Arlong sehingga dia bisa melampiaskan kekesalan nya pada seseorang.
"Tidak, aku tidak berniat kesini sebenarnya. Aku kesini hanya untuk membeli beberapa persediaan ku untuk di laut. Persediaan ku sebelum nya telah tenggelam bersama kapal nya. Itulah alasan aku tidak makan selama 3-4 hari." Jelas Naruto sambil memegang perut nya.
"Oh benarkah? Kapal mu tenggelam Naruto. Lalu bagaimana kau bisa sampai sini?" Naruto sedikit menggeram sambil mengepalkan tangannya erat.
"Ada beberapa bajingan yang menghancurkan kapal ku saat aku sedang mengurus sesuatu." Menghela nafas nya untuk menahan amarah nya, Naruto melambai pada nya acuh.
"Lupakan saja, Luffy. Yang terpenting aku sudah disini dan aku merasa berkewajiban untuk membantu desa ini." Naruto mengalihkan pandangan nya kepada Nojiko yang saat ini bersidekap di dada nya menatap ke arah bajak laut disana dengan kesal.
"Apa?! Aku tidak akan membiarkan mu menghancurkan usaha Nami selama 8 tahun menjadi sia-sia!" Seru nya keras. Sanji menatap nya bingung sebelum bertanya pada Usopp, "Siapa wanita ini?"
"Dia adalah kakak perempuan Nami, Nojiko!" kata Usopp. Sanji yang mendengar nya menatap nya dengan cinta di mata nya. "BENARKAH!? Kenapa tidak mengatakan nya dari tadi bahwa wanita cantik ini kakak Nami-swann!" Nojiko mengabaikan nya.
Usopp maju selangkah dan berbicara kepada Nojiko, "Nojiko bisa kah kau membantu kami. Ceritakan kepada kami masa lalu Nami. Mengapa dia melakukan semua ini hingga sekarang? Kami semua ingin membantu nya." Mohonnya kepada Nojiko.
Nojiko merengut kesal sebelum menginjak tanah di bawah nya keras, "Aku akan menceritakan nya, tapi setelah cerita ini selesai aku ingin kalian pergi dari sini. Aku tidak ingin usaha yang sudah dilakukan Nami menjadi sia-sia." Mereka termasuk Naruto mengangguk. Dia akan mengabaikan perut lapar nya ini terlebih dahulu untuk mendengar cerita orang Nami ini.
Luffy bangun dari duduk nya berjalan menjauh dari kelompok itu. Sanji menatap nya bingung, "Kau mau kemana, Luffy? Nojiko disini ingin bercerita tentang masa lalu Nami." Katanya.
"Jalan-jalan." Katanya acuh. Zoro mengangkat alis nya, "Kau tidak ingin mendengarkan nya, kan?" Luffy mengangguk dan berjalan pergi. Nojiko terlihat bingung kepada nya sebelum melihat yang lain.
"Maa, biarkan saja dia pergi, dia tidak akan pergi jauh." Kata Zoro berjalan ke pohon yang rindang, Sanji, Usopp dan Naruto mengikuti dibelakang nya.
Mendudukkan diri nya, Naruto menatap yang lain sebelum tatapan nya terhenti pada Nojiko, "Jadi, bisa kita mulai, Nojiko." Naruto tersenyum manis kepada nya.
XxX
Sudah beberapa jam setelah pertemuan Nojiko dengan Kru Topi Jerami, mereka semua sudah mengerti apa yang terjadi kepada Nami, tentang masa lalu nya, dan usaha nya selama 8 tahun ini. Nojiko yang sudah menceritakan semuanya berdiri dan dengan kejam menyuruh mereka untuk meninggalkan pulau ini.
Dia melihat Naruto dan mengantar nya ke suatu restoran pulau itu dan meninggalkan nya disana. Naruto sudah menawarkan nya untuk menemani nya makan tapi dia menolak nya secara halus dan berkata ada urusan di rumah.
Setelah Naruto selesai makan dan menyegel yang dia lupa tentang jurus itu, dia sudah menyimpan semua makanan nya ke gulungan segel. Naruto kembali berjalan ke tengah desa sambil melihat-lihat desa ini.
Dari jauh Naruto memperhatikan saat para warga berkumpul sambil membawa masing-masing senjata tajam. Naruto berjalan ke arah kerumunan itu untuk mendengar apa yang mereka diskusikan.
"Delapan tahun yang lalu, kita bersumpah untuk tidak akan menumpahkan darah kita melawan mereka." Pria paruh baya dengan kincir angin diatas nya memulai pidato nya.
"Walau betapa sakit dan hinanya karena mereka menindas kita, kita tetap bersumpah dan bersabar agar Nami tetap gembira." Dia mengangkat tangan nya dan mengepalkan tinju nya, "Tapi, inilah jawaban mereka!"
"Harapan satu-satunya bagi desa ini untuk dibebaskan telah sirna! Mereka mempermainkan seorang gadis dan mengambil sesuatu yang berharga dari nya."
"Sekarang saat nya kita mengangkat senjata kita, apakah ada yang keberatan?" mereka semua mengangkat senjata mereka, emosi mereka menggelora.
"Aku tidak ingin ditindas lagi oleh mereka!"
"Ya, mari kita rebut kembali pulau kita!"
"YAA!" Mereka berteriak serempak.
"Minna, tunggu sebentar!" Nami datang dengan nafas tersengal-sengal. Dia tersenyum lebar kepada mereka.
"Sebentar lagi! Tunggu lah sebentar lagi! Aku akan mengumpulkan uang lagi! Aku akan mengumpulkan nya dari awal!" Seru nya meyakinkan mereka. Tubuh nya bergetar sedikit mengingat kenangan lama nya. "Jadi berhentilah! Tidak perlu ada yang menderita lagi!"
Genzo maju perlahan kepada nya dan memeluknya, "Sudah cukup! Penduduk desa sudah tau bahwa semua ini sia-sia..."
"Kamu sudah bertarung dengan baik! Demi nyawa kami, kamu bergabung dengan mereka." Nami meneteskan air mata nya, "Pasti menyakitkan bergabung bersama mereka." Para warga desa terlihat sedih untuk Nami.
Genzo menarik pelukannya, menatap Nami. "Tinggalkan pulau ini!" Nami melebar matanya terkejut. Dia mendengar mereka berbicara pada nya untuk pergi, meninggalkan rumah nya.
"Nami, kau pintar dan memiliki mimpi mu sendiri! Kau harus pergi!" Kata Nojiko. Nami menarik pisau dari pinggang nya mengarahkan nya pada penduduk desa, mencoba menghalangi mereka.
Genzo menggenggam pisau itu dengan tangannya membuat Nami terkejut, dia semakin terkejut saat pria itu meneriaki nya.
Tatapan nya menjadi kosong saat para warga berlari menyerbu Arlong Park. Tubuh Nami bergetar hebat sebelum menusuk terus menerus tato yang ada di tangan kiri nya, lambang dari kru bajak laut Arlong.
Naruto yang sedari tadi memperhatikan diam dengan mata yang dibayangi rambut nya. Dia bergerak pelan ke arah Nami dan menahan pisau yang ada di tangan Nami.
Wanita itu terkejut dan menatap. Dia belum pernah melihat dia tapi dia sudah mendengar tentang dia dari beberapa warga dan Nojiko.
"Si...Siapa kau! Apa mau mu!" Naruto berjongkok dihadapannya dan meletakan tangannya di bahu wanita itu. Aura berwarna hijau muncul dari tangannya menyembuhkan bahu yang terluka.
Nami menatap itu dengan terkejut, dia dengan reflek menatap pemuda pirang itu. Dia berpikir bahwa dia sangat tampan dengan rambut yang bergoyang mengikuti arah angin. Nami menggelengkan kepala nya mengusir pikiran itu.
Dia berbicara kepada Naruto, "Akuma no Mi?!" seru Nami. Naruto menggelengkan kepala nya.
"Bukan, aku tidak pernah memakan buah-buahan itu. Kau bisa menganggap ku istimewa!" kata Naruto. Nami menatap nya dengan campuran kebingungan dan kekaguman. Mengetahui bahwa itu bukanlah kekuatan buah iblis menarik perhatian nya.
Naruto mengangkat tangannya saat melihat sudah tidak ada luka di bahu nya. Nami menatap mata pemuda yang baru saja menyembuhkan nya.
"S..Siapa kau? Aku tidak pernah melihat mu sebelum nya?" Tanya nya bingung. Naruto menurunkan ekspresi keras nya dan tersenyum lembut pada nya. "Namaku Uzumaki Naruto, aku baru sampai disini beberapa jam yang lalu." Jelas Naruto santai. Nami mendengar nya dan mengangguk. Suasana menjadi hening setelah itu.
Naruto bergumam pelan, "Kau Nami, bukan?" dia mengangguk pelan menatap kebawah. "Aku sudah mendengar semua nya. Penderitaan mu, usaha delapan tahun mu, dan ucapan para warga tadi." Naruto mengeraskan wajah nya.
"Katakan Nami! Katakan permintaan mu kepada ku dan aku akan membantumu saat ini!" jelas nya pelan. Nami meneteskan air matanya kembali, dia tidak butuh belas kasihan orang lain. Tidak pada orang yang tidak dikenal.
"K.. Kenapa!? Kenapa kau ingin membantu ku? Kau hanya orang asing yang baru tiba di pulau kami! Aku bisa menyelesaikan semua nya tanpa bantuan mu!" seru nya keras. Matanya menatap dia dengan linangan air matanya.
"Aku tau aku hanya orang asing, tidak mengenal mu, tidak mengenal desa ini. Tapi.." Naruto menaruh tangan nya di kedua pipi wanita itu. Wajah nya melunak dan tersenyum pada nya. Tangannya menghapus linangan air mata itu dengan jari nya.
"Tapi..?!" ulang nya.
"Tapi aku masih ingin membantu mu! Aku memiliki kemampuan untuk mengembalikan desa ini. Meh, bahkan Arlong tidak akan memiliki kesempatan untuk melawan ku." Ucap nya mencoba meyakinkan nya.
"Bahkan jika kau terus menolak nya, aku masih ingin membantumu! Dengar, Nami aku memiliki kemampuan bukan untuk menjadi pajangan. Tapi karena aku tau bahwa aku bisa menolong mereka yang membutuhkan bantuan ku."
Melihat dia yang masih terdiam Naruto menghela nafas nya. Ini tidak akan mudah, "Nami, kau hanya perlu mengatakan nya. Tidak perlu menanggung beban seorang diri. Percayalah!" Naruto meletakkan tangan nya dirambut Nami sama seperti dia melakukan nya pada Luffy. Dia mengacak nya pelan. "Katakan Nami!"
Nami mengangkat kepala nya dengan air mata mengalir, menatap nya memohon, "Na...Naruto, tolong aku!"
Naruto mengangguk kan kepala nya dan tersenyum lembut pada nya. Dia membantu nya berdiri, "Kalau begitu mari kita pergi, Minna!" Naruto berkata tidak hanya kepada Nami, tetapi Luffy dan yang lainnya yang saat ini duduk di bawah payung.
Luffy berdiri dari duduknya dan berteriak, "TENTU SAJA, AYO HANCURKAN ARLONG PARK!"
Mereka semua berjalan beriringan dengan semangat berapi-api. Arlong Park akan hancur hari ini! Mereka akan memastikan itu.
XxX
To be continued~
XxX
A/N: Terima kasih telah membaca cerita ini, dan beri tahu saya jika ada kesalahan.
Chapter terbaru baru saja di update, saya harap ini masih memenuhi ekspektasi kalian dan membuat kalian tertarik. Seperti biasanya tidak ada yang ingin saya katakan dalam fic ini, aku ingin kalian menebak sendiri bagaimana jalan cerita ini.
Saya berterima kasih atas komentar yang kalian berikan kepada saya, saya menghargai nya. Lalu seperti yang saya bilang sebelumnya, saya mengupdate cerita ini setiap minggu, jika saya sudah mencapai target menulis melebihi 5-6 chapter mungkin saya akan mempertimbangkan untuk mengupdate dua kali seminggu.
Berikan tanggapan kalian untuk chapter terbaru ini. Komen, Fav dan Follow fic ini agar kalian tidak ketinggalan saat saya mengupdate chapter terbaru. Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
Thank you and enjoy.
Bye.
