Disclaimer: Saya bukan pemilik Naruto atau One Piece. Saya cuman minjem karakter nya.
BAB VIII.
Sebelum nya~
"TUTUP MULUT MU BRENGSEK!" Vivi berteriak marah, Sanji dan Usopp mengarahkan pistol dan ketapel mereka kearah nya. Luffy mengepalkan tangannya, Nami mengambil tongkat nya dan Zoro memegang senjata nya.
Lemparan kunai terlihat meluncur ke arah wanita itu menggores pipi nya sedikit. Dari sana keluar darah segar yang membuat Wanita itu terkejut.
"Kau mengatakan sesuatu tadi, Ojo-chan?" Dibelakang wanita itu terlihat Naruto yang memegang kunai yang dia lemparkan tadi dan menjilat darah di bilah kunai nya. Wanita itu berkeringat melihat itu sebelum menggunakan jurus nya mengeluarkan banyak tangan menjatuhkan mereka.
Naruto yang dibelakang terlihat menghilang menjadi kepulan asap meninggalkan wanita itu sendiri lagi.
"Jadi, kau adalah Uzumaki Naruto yang terkenal itu, dan disebelah mu Mugiwara no Luffy. Kalian sudah menjadi incaran Baroque Works karena gadis kecil itu." Kata Miss All Sunday mengambil topi Luffy.
Luffy terlihat memaki dia dan meminta nya untuk mengembalikan topi nya, dia akhirnya menjelaskan alasan dia datang dan bagaimana dia menawarkan sebuah Eternal Pose yang mengarahkan mereka ketempat aman tanpa harus dikejar oleh anggota Baroque Works yang lain.
Dan seperti biasanya, kapten kita yang bodoh menolak tawaran nya dan menghancurkan Eternal Pose tersebut. Wanita itu terlihat tertarik melihat nya sebelum akhirnya menyudahi sapaan nya.
"Begitu, sayang sekali kalian menolak bantuan ku. Jika kalian masih bertahan, aku harap kita bisa bertemu lagi." Dia melompat ke kapal nya yang ternyata adalah kura-kura raksasa. Dia menoleh kembali pada Naruto, "Jangan mati, Uzumaki Naruto." Katanya sebelum akhirnya dia pergi.
Nami mengerutkan kening nya menatap wanita itu dan Naruto, tidak menyukai nada suaranya.
Matahari mulai menjulang diatas mereka, saat ini mereka sedang berkumpul digeladak kapal. "Apakah tidak apa-apa aku berada dikapal ini? Aku takut menjadi beban kalian." Vivi berkata dengan tidak enak. Dia memegang kemeja baju nya pelan.
"Tentu saja kau menjadi beban, kau tidak menceritakan semua nya dari awal kepada kami." Vivi meminta maaf lagi kepada nya dengan pelan, "Jadi, bagaimana Luffy?" Nami bertanya kepada kaptennya.
"Yosh, mari kita semua makan, aku lapar!" Nami dan Vivi berkeringat mendengar nya. Sanji mengambil rokok nya, dia menghidupkan nya dengan korek ditangannya, "Jadi, pulau selanjut nya..."
"... Ya, Little Garden bukan kata wanita itu." Zoro menyambung nya, Usopp terlihat panik sedikit. "Aku merasakan sesuatu yang tidak enak berada disana, bisakah kita melewati nya saja?" Usopp bertanya yang diabaikan mereka.
"Tenang saja, Nami-chan, Vivi-chan, aku akan melindungi kalian berdua dari apapun." Sanji melotot kepada nya tidak terima, "Tidak, akulah yang akan melindungi mereka, bukan kau." Naruto melambai pada nya tidak peduli.
"Terserah, lagipula aku sudah berjanji kepada mereka." Sanji mulai mengoceh dan mengumpat untuk nya, Luffy mengabaikan nya dan memberi perintah nya, "Yosh, kalau begitu kita akan ke Little Garden! Semua nya berlayar dengan kecepatan penuh!" seru nya semangat.
"YO!"
Sekarang~
Beberapa hari telah berlalu, matahari pagi kembali menyelimuti kapal Going Merry memberikan kehangatan bagi orang-orang disana. Naruto yang berbaring di atas tiang kapal menghela napas nya.
"Pagi yang cerah, bukan Zoro?" Naruto berbasa basi. Saat ini dia sedang berbaring bersama Zoro disebelah nya. "Berisik! Kau sudah mengganggu ku dari kemarin Naruto, pergilah cari orang untuk diganggu." Jawab Zoro kesal, Naruto yang berada di sebelah nya merengut.
"Hm, tidak. Minggu ini adalah jadwal ku untuk bersama mu, tidak akan adil kau tidak diikut sertakan, kan?" Naruto menyeringai jahil kepada Zoro membuat nya mendecih. Mereka kemudian mendengar suara Nami dari bawah.
"Nami-chan, ada apa?" Naruto bertanya sambil melihat nya, Zoro membuka mata nya juga tertarik.
"Turunlah Naruto-kun, Zoro, kita hampir sampai." Naruto mengangguk sebelum melompat turun. Hanya hitungan menit dan mereka semua sudah berkumpul berdiskusi tentang pulau itu.
"Baiklah, kita hanya perlu mengisi log ini sampai penuh, kan?" Luffy bertanya kepada Nami, gadis itu mengangguk kepada nya dengan serius, "Ya, lebih baik agar kita hanya berhenti dan menunggu diatas kapal hingga log terisi penuh. Kita tidak mengetahui pulau apa ini, jadi lebih baik tidak usah turun." Nami menjelaskan kepada mereka.
Luffy Sepertinya mengabaikan nya dan meminta Sanji menyiapkan bekal makan siang nya yang dituruti nya. "Aku akan jalan-jalan di pulau ini, tidak menyenangkan jika hanya duduk diam disini. Tenang saja, aku tak akan lama! Shishishi!" Kata Luffy dengan cengiran nya.
Beberapa menit kemudian, Luffy telah bersiap membawa tas nya yang berisi bekal nya, dia segera berlari menjauh dari kapal memasuki hutan belantara didepan nya. Naruto berjalan pelan kedepan yang disadari Nami.
"Kau mau kemana, Naruto-kun?" tanya Nami kepada Naruto. Pria itu menatap Nami dengan senyum nya, "Aku juga ingin berjalan-jalan dan mencari tau pulau ini, aku merasakan sesuatu yang aneh dengan pulau ini, jadi aku ingin memeriksa nya." Jelas Naruto. Nami mencoba mencegah nya tapi melihat sorot mata nya membuat dia menyerah.
"Baiklah, cobalah untuk tidak membuat masalah. Kita tidak tau apa-apa tentang pulau ini." Naruto mengangguk pada nya dan mengacungkan jempol nya, belum sempat untuk melompat Vivi datang dan menahan jubah nya.
Naruto menatap nya dengan alis terangkat, "Ada apa, Vivi-chan?" Naruto bertanya lembut, Vivi menatap nya dengan gugup, "Eh...Hm, apa kau tidak keberatan jika aku ikut dengan mu? Akan membosankan jika hanya duduk diam disini." Vivi bertanya dengan gugup.
Naruto tersenyum kepada nya dan mengangguk, "Tentu, kau bebas pergi bersama ku Vivi-chan, aku tidak keberatan sama sekali." Balas Naruto membuat Vivi tersenyum senang. Vivi kemudian meminta persediaan air kepada Sanji untuk Karoo.
"Kalian sudah siap?" Naruto bertanya kepada Vivi dan Karoo, mereka mengangguk kepada nya, Naruto memeluk mereka dan segera melompat dari kapal mendapatkan jeritan kaget dari kedua nya.
"Hahaha! Tenang saja, aku tidak akan mencoba menjatuhkan kalian." Naruto menenangkan kedua nya, setelah itu mereka kembali melanjutkan perjalanan memasuki hutan meninggalkan Going Merry dan kru.
Selama perjalanan tidak ada yang mencoba memulai percakapan, itu membuat suasana menjadi canggung bagi kedua nya. Naruto yang muak dengan situasi pun mencoba mencairkan suasana.
"Eh.. Hm, Vivi-chan bisakah kau ceritakan tentang Negeri Arabasta kepada ku?" Naruto bertanya kepada nya dengan gugup, dia menggaruk pipi nya yang tidak gatal. Vivi tersenyum melihat nya malu, dalam hati bersyukur Naruto lah yang memulai percakapan dengan nya, karena sejujurnya dia sendiri tidak tau ingin berbicara apa.
"Kenapa kau ingin tau, Naruto-kun?" tanya nya kembali, Naruto berpikir dengan gugup, "Entahlah, aku hanya ingin tau apa artinya negeri itu bagi seorang putri seperti dirimu yang memiliki keberanian memasuki organisasi kriminal ini." Jelas Naruto pelan, itu membuat Vivi kebingungan.
Naruto yang melihat nya tersenyum, "Aku tau kau memiliki kewajiban untuk melindungi nya, tapi itu karena kau seorang putri negeri itu. Pertanyaan ku, apa artinya negeri itu bagimu? Bukan sebagai putri tapi dirimu sendiri?" Naruto mengulang pertanyaan nya.
Gadis itu merenung memikirkan nya, pikirannya mengulang kembali kenangan masa lalu nya sedari kecil hingga sekarang. Naruto yang berjalan disampingnya hanya diam menanti nya, "I..Itu bukan hanya sebatas negeri, bagiku..." Naruto meletakkan tangannya di tangan gadis itu menenangkan nya, Naruto tersenyum lembut kepada nya. Vivi yang melihat itu memerah dan mencicit sedikit sebelum menjadi tenang.
"...Bagiku Arabasta lebih dari itu, Arabasta adalah rakyat itu sendiri, aku tidak peduli jika Baroque Works menghancurkan kerajaan, aku hanya ingin semua rakyat itu selamat." Katanya kepada Naruto dengan tajam, Naruto menyeringai mendengar nya.
"Kematian tidak bisa dihindari Vivi-chan, walau aku mengagumi tekad mu yang menginginkan semua rakyat selamat, tapi itu mustahil. Ini perang, Vivi-chan!" balas Naruto dengan lembut, dia masih memegang tangan Vivi.
Vivi melepaskan tangannya dengan paksa, matanya menatap tajam ke arah Naruto, "Memang nya apa salah nya dengan keinginan itu? Mereka semua hanyalah orang-orang yang tidak bersalah, mereka semua hanyalah korban dari kekejaman Baroque Works! Karena merekalah negeri ini dilanda perang saudara...!" dia berseru dengan keras. Tangan nya terkepal erat dengan tubuh bergetar.
Naruto memperhatikan dalam diam, membiarkan dia melepaskan seluruh perasaan nya, "Dulu negeri ini adalah negeri yang makmur dan damai bahkan jika negeri ini didominasi oleh padang pasir. Semua nya karena Crocodile!"
Naruto memeluk nya membuat gadis itu terkejut, matanya melebar dan badan nya kaku. Dia membiarkan perasaan yang begitu hangat menyelimuti nya dan menyuruh nya untuk membagi beban nya, tubuh nya rileks dan terhanyut dalam pelukan nya, air mata nya tumpah membasahi jubah nya.
"Tidak apa-apa Vivi-chan, menangislah. Aku tau itu sangat berat bagimu, memikul beban berat hanya demi keselamatan rakyat negeri mu seorang diri, itu membuat ku sangat takjub padamu. Sekarang kau hanya perlu melepaskan beban itu, jangan menanggungnya seorang diri." Naruto menepuk punggung nya dengan lembut.
"Hiks.. Hikss... Ta..Tapi, aku tidak bisa. Mereka semua membutuhkan ku, aku harus menyelamatkan mereka, bahkan jika itu harus mengambil nyawa ku." Jawab Vivi dengan isak tangis nya, Naruto menarik pelukannya dan menatap nya.
"Kau tidak sendiri Vivi-chan, kami semua akan membantu mu untuk membebaskan kembali negeri mu. Kamu teman kami dan sebagai teman, kami rela mempertaruhkan nyawa kami untuk membantu mu." Naruto berkata dengan lembut, Vivi menutup mulut nya dengan tangannya terkejut, mata nya kembali mengeluarkan cairan bening.
"Na...Naruto-kun!" cicitnya.
"Aku janji Vivi-chan, aku akan membebaskan negerimu ini dari perang saudara ataupun Baroque Works dan aku tidak akan menarik kembali perkataan ku, kau bisa mempercayai ku!" Naruto tersenyum dengan jempol mengarah pada gadis itu. Dia kemudian menarik tangan gadis itu dan melanjutkan perjalanan mereka.
"Na..Naruto-kun, a..aku tidak tau tapi kenapa? Kenapa membantu ku, orang asing yang bahkan hampir membunuh mu?" tanya Vivi pelan.
Naruto menyeringai mendengar nya, "Tentu saja karena kau teman kami dan teman selalu membantu satu sama lain. Lalu, aku tidak peduli jika kau hampir membunuh ku, kita hanya orang asing saat itu tapi setelah mengenal mu dan berbicara dengan mu, aku tau kalau kamu orang yang baik." Jelas Naruto santai, matanya kemudian menatap Vivi dengan jahil.
"Lagipula ini bukan pertama kali nya aku menyelamatkan seorang tuan putri dan aku merindukan perasaan saat menyelamatkan putri yang cantik dan mempesona seperti dirimu." Vivi yang mendengar nya merona merah dan sedikit penasaran dengan perkataan nya.
Vivi mengelap sisa air mata di wajah nya dan menatap nya bingung, "Kamu pernah menyelamatkan seorang putri dari negeri lain?" Vivi bertanya bingung, Naruto yang mendengar nya menggaruk pipi nya malu.
"Ya, tapi itu untuk cerita lain waktu. Itu tidak akan menyenangkan jika menceritakan nya sekarang, kan?" Naruto menggoyang alis nya pelan. Vivi hanya cemberut membuat Naruto tertawa.
"Vivi-chan, aku yakin kau akan menjadi pemimpin yang sangat hebat suatu hari nanti untuk Arabasta. Negeri Arabasta sangat beruntung memiliki seorang putri Seperti dirimu." Naruto memuji Vivi membuat gadis itu kembali memerah. Dia sedikit mengutuk dirinya sendiri yang sangat lemah dengan pujian sederhana seperti itu.
Pembicaraan mereka pun berlanjut selama beberapa jam dan mereka memilih beristirahat disebuah pohon besar. Vivi sebenarnya merasa aneh karena tidak ada satupun hewan- hewan yang terlihat tapi dia mengabaikan nya.
Mereka terkejut saat mendengar bunyi letusan gunung tak jauh dari mereka dan kemudian merasakan getaran pada tanah. Naruto dan Vivi terkejut saat melihat dari jarak mereka ada dua raksasa sedang bertarung.
"Ra...Raksasa! Di pulau ini ada raksasa!" Vivi berteriak kaget, Narutp yang disebelah nya juga sedikit kaget sebelum memejamkam matanya, "Vivi-chan, pergilah ke tempat Luffy dan tanyakan pada nya apa yang terjadi, aku memiliki firasat dia tau hal ini." Naruto memberi perintah dan menunjuk arah pada Vivi tempat keberadaan Luffy.
"B.. Bagaimana dengan mu? Apa yang kau lakukan?" Vivi bertanya balik, "Ada sesuatu yang harus kuurus, aku akan segera menyusul mu." Kata Naruto dengan senyuman. Vivi menatap nya lama sebelum akhirnya mengangguk.
"Baiklah, Aku akan pergi ke tempat Luffy, tolong berhati-hati lah dan segera menyusul, ya?" Naruto mengangguk pada nya dan membuat gestur mengusir. Setelah dirasa sudah cukup jauh, Naruto melepas energi dari tubuh nya membuatnya menghilang.
"Baiklah kalian, aku sengaja menaikkan aura ku agar kalian tidak mengganggu Vivi. Sekarang, Vivi-chan tidak ada, majulah kalian semua." Dari belakang nya banyak pasang mata yang besar dengan gigi yang runcing, dari mulut nya mereka meneteskan air liur nya.
"Jadi, kalian ini apa? Dinosaurus?" Naruto bertanya sambil menyeringai pada dinosaurus dibelakang nya.
XxX
"Hm, suara apa itu? Apakah itu adalah suara hewan aneh lainnya?" kata seseorang dengan rambut hijau, dia adalah Zoro.
Dia saat ini berada disisi lain pulau mencoba mencari hewan buruan yang besar. Mengapa dia melakukan ini? Yah, ini dimulai setelah Naruto dan Vivi pergi. Karena merasa bosan Zoro akhirnya memilih untuk berjalan-jalan juga dan Sanji menyuruh nya membawa buruan hewan untuk persediaan makanan.
Awal nya itu hanya sebuah permintaan sebelum akhirnya berubah menjadi sebuah tantangan antara Zoro dan Sanji, mereka bertaruh siapa yang membawa hewan paling besar dan paling berat maka itu pemenang nya.
Dan disinilah dia, mencari hewan buruan paling besar untuk melawan Sanji. Sebenarnya ini percobaan kedua setelah taruhan yang pertama tidak ada yang mencapai kesepakatan.
Tak lama Zoro berhasil membawa buruannya dan mencoba kembali ke kapal mereka. Zoro yang tersesat menem Nami yang berdiri tak jauh dari nya, Zoro menghampiri nya dan bingung saat melihat gadis itu hanya diam.
Zoro yang tak sempat memeriksa nya hanya bisa lemas tak berdaya saat seseorang memukul nya membuat nya pingsan.
XxX
"LUFFY! KAU DIMANA?!" Vivi berteriak sambil berlari, dia terkejut saat melihat Luffy yang tertindih oleh batu/tulang yang besar menjepit nya ke tanah. "VIVI! KAU DATANG?! CEPAT BANTU AKU!" Luffy juga balas berteriak, dia terlihat memukul tanah dibawah nya.
"Apa yang terjadi dengan mu? Kenapa bisa seperti ini?" Vivi yang mendekat bertanya, Luffy mulai menjelaskan bahwa Raksasa yang mereka lihat adalah Dorry dan Broggy, mereka adalah ksatria dari Elbaf yang bertarung di pulau ini selama 100 tahun demi kehormatan.
Luffy yang masih panik juga menjelaskan bahwa sebelum pertarungan dimulai Dorry baru saja meminum sake milik kru mereka dan ternyata sake tersebut meledak didalam tubuh Dorry.
Dorry yang marah menuduh Luffy dan teman-teman nya yang melakukan hal ini dan bertarung dengan Luffy. Tapi, sayang Dorry berhasil menjatuhkan batu/tulang ini di tubuh nya membuat nya terjepit.
Vivi yang mendengar nya terlihat terkejut, mereka kemudian mengalihkan pandangan mereka saat melihat Usopp berlari ke arah mereka dengan panik.
"Luffy! Luffy! Na...Nami, dia baru saja dimakan oleh dinosaurus!" seru Usopp membuat Luffy melotot, Vivi yang disampingnya juga terlihat terkejut. "A..Apa?! Bagaimana bisa? Apa yang terjadi?" seru Luffy bertanya.
"Ka..Kami baru saja pergi kesini untuk bertemu dengan mu, tapi ditengah perjalanan kami dikejar oleh dinosaurus! Aku hanya tidak menyadari nya bahwa dia tertinggal dibelakang ku dan aku mendengar suara teriakannya!" jelas Usopp dengan tubuh bergetar, dari mata nya air mata turun dengan deras.
"Semua nya tenanglah! Aku yakin Nami-san tidak akan mati begitu saja. Aku yakin ini adalah ulah dari Baroque Works, Luffy dan Nami-san merupakan incaran dari Baroque Works sekarang." Usopp menatap Vivi dengan bingung.
"Oh, begitu kah? Tunggu apa maksud mu mereka mengincar Nami dan aku tidak?" Usopp bertanya dengan kesal, dia merasa tersinggung karena sebagai bagian dari kru, dia merasa tidak penting.
"Itu karena Baroque Works sudah menandai mereka dan kalian belum." Usopp mengangguk mengerti, dia kemudian menatap mereka berdua, "Apa yang harus kita lakukan? Kita harus menyelamatkan Nami dan kedua raksasa itu." Usopp bertanya lagi, wajah nya masih panik.
"Itu tidak perlu karena kalian tidak akan kemana-mana." Suara seseorang mengalihkan perhatian mereka, dibelakang mereka muncul kedua orang yang sudah Luffy dan Vivi kenal.
"Mr. 5 dan Miss. Wednesday?! Kalian ada disini?!" Seru Vivi panik, Luffy menatap mereka berdua dengan marah. "Kau yang melakukan itu kepada Raksasa itu, kan?!"
Mereka berdua mengabaikan nya, "Diam! Kami disini untuk memenuhi misi kami untuk menangkap dan membunuh putri Vivi. Kali ini, kami akan serius. Si pirang itu hanya beruntung karena kami meremehkan nya, sekarang tidak akan lagi." Jelas Mr. 5 dengan santai.
Miss. Wednesday yang disampingnya tertawa, "Hahahaha! Kami tidak akan mengulangi kesalahan yang sama kali ini, bersiaplah kalian." Kata Miss. Wednesday ceria.
Usopp menembakkan senjata nya yang diarahkan ke Mr. 5 dan Miss. Wednesday. Asap mengepul saat itu mengenai mereka, dari asap keluar Miss. Wednesday yang terbang keatas. Usopp yang melihat itu kaget.
Dari balik asap muncul tangan seseorang menyentil sesuatu ditangannya, itu mengenai Usopp dan ledakan terjadi membuat Usopp terlempar, dari atas Miss. Wednesday meluncur ke bawah menindih Usopp dengan kemampuan Kilo-Kilo no Mi nya.
Vivi yang melihat itu melotot kepada mereka dan mencoba menyerang mereka. Dia berlari kedepan mencoba menyerang nya, Mr. 5 yang melihat itu memiringkan tubuh nya membuat tubuh Vivi sedikit oleng.
Tak menyia-nyiakan momentum, Mr. 5 menjegal kaki nya dengan milik nya membuat Vivi terjatuh.
"Ya ampun, itu sangat merepotkan, bukan?" Desah Mr. 5, dari kejauhan Luffy terlihat menggertakkan gigi nya marah.
XxX
Kembali dengan Naruto, saat ini dia baru saja membereskan semua dinosaurus ataupun hewan besar lainnya, Naruto mendecih sedikit karena harus membuang-buang waktu dengan para binatang ini.
Naruto kembali melanjutkan perjalanan nya saat dirasa nya semua sudah terkendali, mata nya mengerjap terkejut saat melihat sebuah bebek baru saja melintas didepan nya, Naruto menengok tempat bebek tadi berlari dengan bingung.
"Bukankah itu Luffy dan Usopp... Dan Karoo? Dimana Vivi-chan?" Naruto bergumam sendiri dengan nada suram diakhir. Dia berlari mengikuti jejak Luffy dan terkejut saat melihat Zoro, Nami, Vivi dan kedua raksasa disana terjebak dengan sesuatu seperti lilin?
Dia juga melihat 4 orang asing yang sedang menahan mereka, dua orang asing disana sebenarnya dia masih mengingat nya. Matanya menyipit kepada dua orang itu.
Naruto yang muak berdiam diri melompat ke arah Luffy dan berdiri berdampingan dengan nya. Zoro, Nami dan Vivi terlihat senang saat melihat Naruto datang karena dengan begini mereka bisa bebas dari menjadi patung lilin.
Lain dengan Zoro dan kawan-kawan, Mr. 5 dan rekannya terlihat berkeringat melihat nya, walau mereka berhasil menenangkan diri, mereka masih mengingat rasa sakit saat melawan pemuda pirang disana.
Dua yang lainnya hanya menatap pemuda itu tertarik, "Siapa kau? Apa kau juga merupakan bagian dari kru Bajak Laut Mugiwara?" tanya pria dengan angka 3 diatas nya basa basi.
Dia adalah pria dengan ukuran rata-rata dan terlihat agak rapuh, memiliki rambut hitam klimis yang disisir licin ke belakang. Dia juga memiliki gaya rambut khas berbentuk angka 3 diatas nya yang menggambarkan inisial nya. Dia juga memiliki kacamata yang membingkai.
Dia memakai pakaian kasual garis-garis tanpa lengan dengan celana jeans panjang serta sepasang sepatu. Dia juga memiliki log pose di pergelangan tangan kiri nya.
Dia adalah Mr. 3, salah satu agen Baroque Works dengan peringkat tinggi.
Disamping nya, berdiri rekannya yang cukup pendek seperti anak kecil dengan kedua pipi merah, dia memiliki rambut hitam yang dikuncir kepang. Pakaian nya terdiri dari topi pink, baju t-shirt biru dengan tulisan 'GOLDEN' yang ditutupi kemeja biru langit berpola awan putih, bawahan nya terdiri dari rok merah marun dan stoking bergaris biru. Dia juga membawa sebuah tas dan terlihat membawa peralatan melukis lengkap.
Dia adalah Miss. Goldenweek, rekan Mr. 3.
Naruto hanya mengabaikan pria aneh itu dan menatap Zoro, "Apa yang terjadi dengan kalian?" Naruto bertanya.
"Yo, Naruto untung nya kau ada disini, bisakah kau membantu kami dengan menghancurkan pilar ini? Kami akan diubah menjadi patung oleh pria aneh disana dan aku tidak bisa melakukan apapun dengan kaki ku yang terjebak." Jelas Zoro dengan santai.
Nami dan Vivi juga melihat Naruto dengan harapan, "Naruto-kun..! Cepatlah, kami tidak memiliki banyak waktu lagi!" Nami berseru keras, Naruto tersenyum kepada mereka dan mengacungkan jempol nya.
"Tenang saja, Nami-chan, Vivi-chan, Zoro aku akan membebaskan kalian! Tunggu sebentar lagi, oke!" Naruto berseru keras. Naruto menatap Luffy dan Usopp disampingnya.
"kalian alihkan perhatian mereka, aku akan mencoba melepaskan mereka dari sana." Luffy dan Usopp mengangguk.
Naruto menatap datar Usopp saat melihat dia berlari mundur di hutan belakang bersama bebek milik Vivi, "BAKA! APA YANG KALIAN LAKUKAN?!" Naruto berteriak lucu menunjuk mereka berdua.
"Hajar mereka Naruto, Luffy! Kami akan mendukung kalian dibelakang sini!" seru Usopp membuat Naruto menghela napas pasrah, dia mengalihkan pandangannya saat melihat Luffy sudah berlari ke arah pria dengan angka 3 diatas kepala nya.
Naruto yang melihat nya memegang pedang nya sebelum menyipit melihat dua orang yang dia hajar di Whiskey Peak menghalangi nya.
"Minggirlah kalian berdua, aku tidak punya waktu bermain-main dengan kalian." Naruto berkata mengancam, matanya memicing dengan tajam. Mereka berdua yang melihat nya terlihat gugup.
"K...Kami ti..tidak akan membiarkan kau membebaskan teman-teman mu itu! Saat itu kami meremehkan mu sehingga kami bisa kalah, kali ini tidak akan terjadi lagi! Kami akan membunuhmu dan teman-teman mu!" seru Mr. 5 dengan tangan disaku jubah nya.
Naruto mendesah pelan mendengar nya, sepertinya dia tidak memukul cukup keras kepada orang-orang ini untuk membuat mereka menyerah. "Tolong jangan katakan aku tidak menyuruh kalian menyingkir, kalian sendiri yang menginginkan nya." Kata Naruto.
Naruto menghembuskan napas nya sebelum berlari kedepan, mereka yang melihat Naruto berlari waspada. Naruto melompat ke langit saat mendapat jarak yang diinginkan, dia sedikit meliukkan badan nya menghindari beberapa peluru upil yang dilemparkan kepada nya.
Mr. 5 yang melihat Naruto bisa menghindari nya menatap Miss. Valentine dan mengangguk satu sama lain, mereka berdua melompat ke arah Naruto.
Mereka berdua melotot saat melihat pemuda pirang itu menebaskan pedang nya mengeluarkan aura ungu yang dengan cepat mengarah ke jalur mereka, tak ingin terpotong dengan tebasan itu, mereka menghindari nya ke arah berlawanan menyerempet sisi bahu mereka.
Naruto menyeringai melihat mereka menghindar, Mr. 5 yang melihat dia menyeringai terkejut dan menatap ke belakang nya, "Dia tidak mencoba menebas kita, dia ingin kita menghindar sehingga dia bisa menghancurkan pilar itu!" Seru nya terkejut.
"Tepat..! Aku heran kapan kau akan menyadari nya, seperti nya kau bisa menggunakan sedikit otak mu." Naruto terkekeh pelan membuat pria itu menggertakkan gigi nya.
Dari tebasan tadi, itu berhasil memotong pilar itu menjadi dua dan terus memotong hutan dibelakang nya. Zoro yang melihat tebasan itu terkejut, dia belum pernah melihat Naruto menggunakan pedang nya sebelumnya dan hari ini dia melihat Naruto menggunakan pedang nya.
Dia tidak perlu menengok ke belakang untuk mengetahui bahwa serangan itu bahkan masih memotong apapun yang dilewati nya karena dia bisa mendengar suara keras dibelakang nya.
Zoro bahkan tidak menyadari bahwa kepala seperti labu yang membawa api diatas nya terjatuh tepat di tempat pilar tadi.
"Aku sudah memotong pilar nya, sekarang keluar lah dari sana, Nami-chan, Vivi-chan, Zoro!" teriak Naruto dari jauh, Zoro yang tersadar mencoba menggerakan kaki nya. Dia dan dua gadis itu mengerutkan kening.
"Itu tidak berhasil! Kami masih terjebak disini, Naruto-kun!" Vivi balas berteriak membuat Naruto cemberut, "Tapi kalian tadi meminta aku untuk memotong pilar nya, kenapa masih tidak bisa bergerak?!" tanya Naruto dengan keras.
"Dasar bodoh, mana kami tau! Hancurkan saja benda sialan ini dari kami!" Nami berteriak kesal, Naruto yang melihat itu mengangkat bahu nya dan meletakkan kembali pedang nya di pinggang nya.
"Terserah, aku ingin kalian menunggu sebentar lagi, aku perlu menghajar mereka karena menghalangi ku." Naruto menunjuk kedua nya.
"Jangan lama, kami tidak memiliki banyak waktu!" Naruto memberi nya jempol sebelum meretakkan jari nya.
"Itu percuma saja, kami tidak akan membiarkan kau untuk menyelamatkan mereka, sebentar lagi mereka akan sepenuhnya berubah menjadi patung lilin! Kau tidak akan berhasil..!" teriak Mr. 5 keras.
Menyeringai keras, Naruto dengan cepat membuat segel tangan, "Benarkah? Kalau begitu aku tidak memiliki banyak waktu, bukan?"
Mr. 5 dan partner nya menatap tajam ke arah Naruto, mereka sedikit bingung dengan gerakan tangan aneh dari pria didepan mereka, "Apa yang kau lakukan?" Tanya Mr. 5 tajam. Tubuh nya merinding saat melihat seringai menakutkan di wajah pria itu, ada sesuatu dibenak nya yang menyuruh nya untuk lari dari pria itu.
"Oh? Kau ingin tau..? Baiklah akan kuberi tau..!" Naruto menyelesaikan segel tangannya, "AKU AKAN MELELEHKAN LILIN NYA! BERSIAPLAH, NAMI-CHAN, VIVI-CHAN, ZORO!" Teriak Naruto dengan keras.
"Katon: Gōka Mekkyaku!"
Semburan aliran api besar meluncur lurus ke arah Altar Lilin itu, Mr. 5 dan Ms. Valentine yang melihat itu melotot tak percaya. Mereka berdua tersadar sesaat sebelum akhirnya melompat menghindari api besar itu dengan susah payah, terbukti dengan beberapa kobaran api yang tertinggal di pakaian mereka.
Sementara itu dengan Mr. 3 dan partner nya Ms. Goldenweek juga menatap terkejut api besar itu, keringat dingin mengalir di dahi mereka karena panas nya api tersebut. Berbeda dengan musuh nya, Luffy dan Usopp bersama Karoo terlihat melotot tak percaya dengan air liur keluar di mulut mereka, mereka tidak percaya bahwa Naruto lah yang baru saja menciptakan api sebesar itu.
Tersadar dari kekaguman nya, Luffy yang melihat ada kesempatan berlari ke musuh nya yang lengah, dalam hati berharap dia bisa membujuk Naruto untuk menunjukkan lebih banyak jurus ninja nya.
Kembali bersama Naruto, dia baru saja mematikan aliran api besar itu setelah merasa lilin tersebut sudah meleleh. Naruto menoleh ke arah pasangan Baroque Works dengan seringai diwajah nya.
"Kalian berhasil menghindar? Menarik sekali, tidak banyak orang yang berhasil menghindar dari Jutsu tadi karena jangkauan nya yang sangat luas." Jelas Naruto santai. Mereka berdua mendecih mendengar nya sambil meringis, mereka berdua menerima luka bakar di beberapa tempat.
"Apa-apaan itu? Kau merupakan pengguna Akuma no Mi juga?!" tanya Mr. 5 kepada Naruto. Pria itu mengangkat bahu nya, "Hm, tidak sayang nya. Aku tidak pernah memakan buah-buahan dengan rasa menjijikkan itu, lagi pula aku masih ingin berenang di lautan, tau! Tidak mungkin aku akan menukar kemampuan berenang ku hanya untuk beberapa kemampuan acak yang tidak kuketahui!" seru nya keras, Naruto melihat mata mereka yang seperti baru saja melihat sebuah hantu.
"Tidak mungkin?! Bagaimana hal seperti itu bisa terjadi? Siapa kau sebenarnya..?!" teriak wanita disamping Mr. 5, dia terlihat ketakutan saat ini.
"Kau bisa menganggap ku seseorang yang istimewa!" jawaban sederhana keluar dari mulut Naruto.
Tiba-tiba dari sisa kobaran api muncul Nami dan Vivi yang menjatuh kan Ms. Valentine dengan diikuti oleh Zoro yang menjatuhkan Mr. 5.
"Oh..! Itu anti-klimaks! Aku baru saja ingin memberi mereka pukulan terakhir sebelum mereka jatuh dan kalian merusak semua kesenangan nya!" Alis Naruto berkerut kesal dengan bibir mengerucut. Nami berjalan kearah nya sebelum memukul kepala nya dengan keras.
"Dasar bodoh! Apa kau ingin membunuh kita semua dengan api besar itu?!" Nami dengan marah terus memukul Naruto, bosan dengan itu Naruto menangkap tangannya sebelum mendekap nya erat. Itu membuat Nami mencicit sebelum rona merah menjalar diwajah nya.
"A..Apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku!" Naruto tersenyum sebelum memeriksa tubuh nya, itu tidak menimbulkan luka bakar atau luka lain selain itu hanya meninggalkan nya dengan bra dan celana pendek yang menutupi tubuh indah nya.
Naruto menggelengkan kepala nya menghilangkan pikiran kotor itu sebelum memeriksa yang lainnya. "Yah, selain hanya kekurangan pakaian dan dehidrasi, sepertinya kalian semua baik-baik saja." Naruto berkata kepada mereka, dari belakang mereka muncul Usopp, Karoo dan Luffy yang baru saja kembali dari mengejar Mr. 3 dan pasangan nya yang kabur.
Luffy dan Usopp meluncur ke arah Naruto dengan bintang di mata mereka, "WOAH NARUTO SUGEEE! KAU BISA MENGHEMBUSKAN NAPAS API?!"
"ITU SANGAT KEREN NARUTO! TUNJUKKAN KEPADA KAMI LAGI!"
"BISAKAH KAU MENUNJUKKAN JUTSU YANG LAIN? TOLONG...!"
Naruto berkeringat saat melihat kedua orang itu terjatuh dengan kepala ditanah setelah terkena tinju "Cinta" dari Nami. "Kita tidak memiliki waktu untuk melihat atraksi Naruto-kun, kita harus memikirkan cara untuk keluar dari pulau ini dengan cepat."
Zoro yang terlihat bingung mendapat penjelasan dari Nami dan segera mengerti masalah mereka. Dari dalam hutan muncul Sanji yang berlari ke arah mereka khusus nya kearah Nami dan Vivi dengan cinta dimatanya.
Itu tak berlangsung lama setelah Nami menggeplak kepala nya membuat nya sadar kembali, Sanji kemudian menjelaskan bahwa dia baru saja menemukan sebuah rumah yang aneh didalam hutan dan bertemu sepasang hewan aneh yang dia hajar, tidak lupa dia menunjukkan sebuah log pose dengan tulisan Arabasta dibawah nya.
Mereka semua bersorak gembira melihat hal itu, sekarang mereka bisa pergi kapan saja menuju Arabasta. Kedua raksasa yang berada disana juga turut senang untuk mereka dan bersedia membantu mereka untuk keluar dari pulau ini.
Naruto menghela napas senang melihat kru, setidak nya mereka semua bisa berlayar dengan tenang sekarang tanpa perlu singgah ke pulau-pulau lain.
Dia sedikit merindukan masa-masa tenang nya di kapal, yah berterima kasih kepada Sanji yang berhasil mendapatkan Eternal Pose tersebut.
XxX
Takut dan panik, itu bukanlah pikiran pertama nya saat mereka berhasil keluar dari pulau Little Garden. Setelah sedikit bantuan dari dua raksasa untuk mengeluarkan mereka dari pulau dan satu ikan koi raksasa yang menghalangi mereka.
Dia tidak mengharapkan mereka semua mendapat masalah lagi. Tidak, itu datang lebih cepat dan dalam bentuk yang tidak diharapkan seluruh kru. Nami ternyata terkena gigitan salah satu serangga di pulau Little Garden dan itu membuat Nami terkena demam yang sangat tinggi.
Luffy, Usopp, Vivi dan Sanji sudah berlari tak menentu selama 10 menit terakhir dan itu membuat Naruto sangat kesal sekarang. "Kalian berhentilah berlarian dan tenang lah, aku tidak bisa konsentrasi untuk mencoba menyembuhkan nya jika kalian terlalu ribut!" teriak Naruto tertekan, mereka semua segera berhenti berlari dan mendekat padanya.
"Naruto! Bisakah kau menyembuhkan nya?! Kau harus menyembuhkan Nami-swan atau aku tidak akan bisa hidup dikapal ini lagi!" Sanji mengguncang bahu Naruto dengan keras, air mata nya mengalir seperti air terjun sekarang.
"APA?! KAU AKAN MATI, SANJI?! TOLONG JANGAN MATI SANJI, AKU AKAN SANGAT KELAPARAN JIKA KAU MATI!" Luffy yang sekarang mengguncang tubuh Sanji dengan kencang, mata nya terlihat berputar.
Naruto menggeram kesal sebelum berteriak kepada mereka, "BAKA! SUDAH KUBILANG BERHENTI MEMBUAT KERIBUTAN DISINI!" Naruto memukul kepala mereka berdua membuat mereka terlempar ke dinding sebelah.
Naruto menghela napas kasar sebelum menatap Vivi disamping nya, "Vivi-chan, bisakah kau ambilkan air hangat dan sebuah kain lembut?" Vivi mengangguk mengerti dan segera pergi, sekarang tinggal Usopp disana yang saat ini menatap Nami.
"Apakah kau bisa menyembuhkan nya, Naruto? Apa kau mengetahui dia terkena penyakit apa?" tanya Usopp khawatir, Vivi datang kemudian membawa semua yang dibutuhkan. Naruto meletakkan kain tersebut didahi Nami untuk meredakan demam nya sebelum dia kembali menyalurkan chakra hijau.
"Aku tidak tau Usopp, sepertinya gigitan salah satu serangga itu beracun dan kita perlu untuk menemukan penawar nya. Sayang nya aku tidak mengetahui obat penawar nya, kita memerlukan dokter dan meminta nya membuat kan obat penawar." Jelas Naruto pelan.
"Kita masih harus terus mengawasi nya dan selalu memberi nya makanan. Hingga saat itu, kita hanya perlu menemukan sebuah pulau dan mencari dokter disana." Sambung nya. Vivi terlihat mengepalkan tangannya sebelum Naruto mengambil tangannya.
"Tenang saja, kita akan tetap membantu mu menyelamatkan negara mu, kita hanya perlu sedikit waktu untuk menyembuhkan Nami-chan." Vivi mengangguk mengerti dalam diam. Nami membuka matanya saat itu dan melihat Vivi.
"A..Aku ti..tidak apa-apa, kita bisa melanjutkan perjalanan ke Arabasta dan menyelamatkan negara Vivi. Kita tidak memiliki banyak waktu yang tersisa." Nami berbicara, dia mencoba untuk duduk yang ditahan oleh Vivi.
Gadis itu tersenyum sambil menggelengkan kepala nya, "Tidak, kami akan menemukan seorang dokter untuk mu terlebih dahulu sebelum ke Arabasta. Aku memang mengkhawatirkan perang saudara disana, tapi saat ini kesehatan mu jauh lebih penting." Katanya pelan. Vivi menggenggam tangan Nami pelan.
"Kamu merupakan salah satu teman ku yang berharga dan aku tidak ingin sesuatu terjadi untuk mu, tidak saat kamu datang dari jauh mencoba membantu negara ku." Nami terdiam mendengar nya sebelum tersenyum dan mengangguk dengan lemah.
"Ba...baiklah, aku minta maaf Vivi-chan!" Vivi menyeringai mendengar nya sambil mengangguk. Di belakang mereka Sanji dan Luffy yang baru sadar melesat ke arah Nami dengan air mata mengalir.
"Na... Nami! Apa yang sakit? Apa kau ingin dibuatkan sesuatu untuk menghilangkan penyakit mu? Sanji akan memasakkan semua yang kau mau, benar Sanji?" Luffy menatap Sanji yang mengangguk marah.
"Tentu saja..! Aku akan memasakkan apapun yang kau mau Nami-swan! Semua makanan sehat yang akan menyembuhkan penyakit mu, aku hanya perlu perintah nya." Dia berdiri tegak seperti seorang prajurit.
Naruto bertepuk tangan menarik perhatian mereka, "Kalau begitu Sanji yang akan bertanggung jawab untuk semua makanan Nami-chan, aku berharap banyak untuk mu ya, Sanji." Naruto tersenyum kepada Sanji.
Pria koki itu mengangguk dengan jempol diarahkan kepada nya, "Tentu saja, serahkan semua nya padaku!"
"Kalau begitu ayo kita segera mencari pulau terdekat dan menyembuhkan Nami, kita tidak memiliki banyak waktu lagi jadi aku berharap kalian semua waspada terhadap sekitar kalian, segera laporkan jika kalian menemukan sebuah pulau terdekat." Mereka semua mengangguk mengerti.
Luffy merengut melihat nya, "Hei, aku disini kapten nya, tau!" seru nya kesal, tangannya terlihat melipat didada nya. Naruto menghela napas nya lagi lelah, "Tentu, kau kaptennya jadi semua nya akan dilaporkan kepada mu, bagaimana Luffy?" Luffy memikirkan nya sebelum mengangguk puas.
"Tentu, Yosh! Ayo semua nya kita mencari dokter untuk Nami!" seru nya semangat.
Mereka berkeringat melihat perubahan suasana hati kapten mereka yang sangat cepat, "Aye-aye Kapten!"
XxX
"SUGEE! BANYAK SEKALI SALJU NYA..!" Teriak Luffy. Dia sudah bersemangat sejak mereka menemukan pulau ini. Saat ini mereka baru saja memasuki sebuah kanal untuk berlabuh di pulau yang bersalju ini.
"Oi, Luffy apa kau tidak kedinginan menggunakan pakaian seperti itu?" Usopp bertanya dari belakang nya, tangannya memeluk tubuh nya sendiri mencoba mencari kehangatan.
"Ah, seharus nya suhu nya mencapai -10°C disini, suhu yang sangat cocok untuk para beruang berhibernasi." Vivi berkata kepada mereka, Luffy menatap kosong ke arah kru nya. "A... DINGINN..!" Sembur nya menggigil.
"Kau terlambat! Baka..!"
Naruto berjalan ke arah Luffy melemparkan sebuah mantel hangat yang segera dikenakan nya, "Ingat Luffy, kita disini hanya akan mencari seorang dokter untuk menyembuhkan Nami-chan, setelah Nami-chan sembuh kita akan segera pergi dari sini, kau mengerti?" Naruto menatap Luffy yang mengabaikan nya.
Menghela napas lelah, Naruto mundur ke arah Vivi dan Usopp, "Oi, Naruto kau yakin pulau ini benar-benar aman? Bagaimana jika ada monster salju disini? Aku tidak ingin mati di pulau yang dingin ini?!" Usopp bertanya ketakutan.
Naruto tersenyum pada nya, "Ada apa? Apakah Kapten Usopp sang kaisar pemberani sangat ketakutan dengan monster?" Naruto menyeringai melihat wajah Usopp yang berkedut kesal, dia akan sangat menikmati mengolok-olok nya.
"Ha! Mana mungkin..! Aku Kapten Usopp yang memiliki 80 juta bawahan tidak mungkin takut pada hal-hal kecil seperti itu!" teriak nya kesal, Naruto mengangguk pada nya seolah setuju, "Tentu saja kau tidak akan takut! Itulah mengapa jika kita menemukan seeokr Monster disini kau lah yang akan melawan nya untuk kami, ya kan?"
Usopp menatap nya dengan horror membuat Naruto tertawa terbahak-bahak, "Hahaha..! Lihat wajah yang kau buat! Aku akan sangat menikmati ini."
Obrolan yang menyenangkan itu berakhir setelah nya, mereka semua bersiap menurunkan jangkar dan pergi kedalam pulau. Mereka dikejutkan saat banyak orang yang mengelilingi mereka dengan senapan di tangan mereka masing-masing.
"OI KALIAN BAJAK LAUT! PERGI DARI PULAU KAMI!"
"YA..! KAU TIDAK DITERIMA DISINI! JADI ANGKAT JANGKAR KALIAN DAN SEGERA PERGI DARI SINI!"
"KAMI TIDAK AKAN MEMBIARKAN KALIAN MEMASUKI PULAU KAMI SAAT KAMI DISINI! DASAR BAJAK LAUT BRENGSEK!"
Kru Mugiwara yang melihat ini sedikit meringis, "Sepertinya mereka sangat membenci bajak laut! Padahal kita belum pernah bertemu sebelumnya." Kata Sanji pelan, salah satu pria bertubuh besar menarik perhatian mereka.
"Kalian para bajak laut segera pergi dari sini! Kami tidak menerima kalian disini..!" pria besar itu memerintah, Vivi yang melihat itu maju kedepan.
"Tolong, kami disini hanya ingin mencari seorang dokter! Teman kami sedang sakit parah saat ini! Tolong biarkan kami menyembuhkan nya..!" Vivi berseru kepada penduduk pulau, Naruto dan yang lainnya hanya diam memperhatikan.
"HA! SEOLAH-OLAH KAMI AKAN PERCAYA KEPADA BAJAK LAUT SEPERTI KALIAN!"
"YA! KALIAN BAJAK LAUT SEGERA PERGI DARI PULAU KAMI! DASAR SAMPAH..!"
"Oi, bukankah itu sangat kasar!" kata Sanji, salah satu dari mereka tiba-tiba menembakkan senjata mereka ke arah Sanji yang berhasil dihindari. Para kru terlihat terkejut.
"Kau kurang-"
"Tunggu sebentar, Sanji-san!" Vivi mencoba menghalangi Sanji yang mencoba melawan para penduduk sebelum hal yang tidak diinginkan terjadi.
Suara tembakan menggema di sekitar. Mata para kru melebar terkejut melihat hal hal tersebut didepan mata mereka.
Vivi sendiri terlihat bergetar saat melihat tubuh besar Naruto yang berdiri didepan nya melindungi nya dari serbuan peluru. Darah terlihat menetes dari bahu nya membasahi baju dan jubah mantel nya.
"Na... Naruto-kun..!"
Naruto mendecih merasakan perasaan menyengat di bahu nya sebelum melirik tajam kearah penduduk, "Dasar bajingan..! Kami mencoba bersikap baik kepada kalian dan disini bahkan kalian tidak merasa bersalah mencoba menembak seorang perempuan! Oh, aku benar-benar akan sangat menikmati memukuli mu saat ini, tapi teman ku sedang sakit saat ini dan hanya kalian yang bisa membantu kami..."
"...Jadi aku akan menanyakan ini sekali lagi, bisakah kalian membantu kami membawakan seorang dokter kesini." Setiap perkataan nya terlihat tidak bersahabat membuat para penduduk disana merinding. Mereka merasakan perasaan mengancam yang berputar liar disekitar mereka membuat mereka gemetar.
Mereka semua menodongkan senjata mereka bergetar, tidak begitu yakin sekarang mencoba mengalahkan kru bajak laut didepan mereka. Luffy yang melihat itu berjalan ke arah penduduk desa ingin menghajar mereka karena melukai anggota kru nya.
"Kau sialan, bera-"
Ucapan Luffy terhenti saat Vivi bertindak cepat dengan maju kedepan, tidak ingin sesuatu yang lebih buruk terjadi. Para kru sendiri terlihat diam dengan waiah suram, Luffy yang paling terlihat dengan tubuh gemetar mencoba menghajar mereka semua.
"Tolong berhenti semuanya..! Kami tidak datang kesini untuk mencoba melawan kalian, kami bersungguh-sungguh datang kesini mencari dokter untuk teman kami! Jika kami tidak bisa masuk kedalam pulau, setidak nya tolong bawakan seorang dokter untuk teman kami. Tolong biarkan teman kami hidup!" Vivi bersujud ke arah penduduk membuat mereka semua terkejut.
Vivi yang bersujud menoleh ke arah Luffy, "Kau kapten yang gagal, Luffy. Tidak semua nya bisa kau selesaikan dengan perkelahian. Kau harus memikirkan semua nya sebelum bertindak, apa yang akan terjadi pada Nami-san jika kau menghajar mereka semua? Ini juga berlaku untuk mu, Naruto-kun!" kata Vivi kepada mereka berdua.
Naruto yang mendengar nya hanya mendecih kesal, "Aku bahkan belum menghajar mereka. Mereka lah yang datang dengan niat bermusuhan kepada kita dan menembakkan peluru itu kepada mu, apa kau ingin aku untuk membiarkan hal itu terjadi begitu saja?" Vivi terdiam sebentar mendengar perkataan nya sebelum membalas kembali.
"Ya, dan kau juga mencoba mengancam mereka tadi, itu membuat mereka semakin takut kepada kita tau! Kita tidak bisa begitu saja mengancam mereka untuk menuruti keinginan kita." Naruto cemberut mendengar nya, mengabaikan luka di bahu nya begitu saja.
"Aku orang yang serius dan jujur jika menyangkut hal negosiasi ini, tapi aku juga bisa bersikap kasar kepada mereka yang bahkan tidak menganggap itu hal yang serius..."
Naruto menunjuk kepada orang-orang disana, "...Dalam hal ini, mereka sama sekali tidak menganggap serius kita dan meremehkan kita, bahkan mereka tidak ragu-ragu untuk menembak seorang perempuan. Itu sudah lebih dari cukup bagi ku untuk tidak bersikap ramah kepada mereka." Jelas Naruto kesal.
"Itu masih tetap tidak pantas bagi kita untuk berbicara seperti itu kepada mereka, kita lah yang meminta bantuan disini kepada mereka. Apakah menurut mu mereka akan senang membantu kita jika mereka tau ada seseorang yang mengancam mereka?" Vivi membalas kembali. Naruto menghela napas nya kasar saat melihat Vivi masih ingin mencoba berdebat dengan nya.
Naruto menatap Vivi dengan tenang sekarang, mencoba menghilangkan perasaan marah nya, "Huufft~, kau tidak mau mengalah, kan?" Vivi tersenyum menantang pada nya membuat Naruto mendesah.
Menatap kearah Luffy dan penduduk pulau, Naruto ikut bersujud disamping Vivi, "Baiklah, aku minta maaf karena berbicara seperti itu pada kalian tadi." Naruto menyenggol Luffy yang disebelah nya.
Luffy yang melihat itu menatap Naruto bingung sebelum ikut bersujud disamping nya "Aku juga minta maaf, tapi bisakah kalian membawakan seorang dokter kesini untuk menyembuhkan teman kami?"
Butuh beberapa menit sebelum pria yang seperti nya pemimpin dari pulau itu akhirnya mengizinkan mereka untuk memasuki pulau yang membuat mereka semua senang.
"Lihat, itu berhasil, kan?" kata Vivi menoleh kearah Luffy dan Naruto. Luffy hanya mengangguk bodoh melihat itu bekerja.
"Ya, ternyata kau sangat hebat ya, Vivi." Vivi tersenyum mendengar perkataan Luffy, membuat Naruto mendengus geli.
XxX
Setelah beberapa saat perjalanan kedalam desa di pulau itu, meninggalkan Zoro dan Karoo yang tetap tinggal untuk menjaga kapal kini mereka semua berkumpul di dalam rumah milik pemimpin tadi yang ternyata bernama Dalton.
"Jadi, maksud mu dokter itu tinggal di puncak gunung disana dan tidak ada yang tau kapan dia akan turun? Bagus sekali." Naruto kesal mendengar penjelasan orang bernama Dalton ini.
Dalton yang mendengar nada bicara pemuda itu hanya mengerutkan kening nya, "Ya, Seperti itu, apa kau memiliki masalah?" Tanya nya muram, Naruto hanya mengacuhkan nya sambil memandangi puncak disana.
Vivi tersenyum meminta maaf kepada Dalton, "Maaf, dia tidak bermaksud Seperti itu, dia hanya khawatir kepada Nami-san dan mendengar penjelasan mu barusan membuat dia tidak merasa senang." Kata nya meminta maaf.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang? Tidak mungkin kita harus menunggu dokter itu dengan waktu yang sempit ini. Tidak ada yang tau kapan dia akan merasa bosan dan akhirnya turun kesini." Sanji pada giliran nya bertanya kepada yang lain. Luffy bangun dari posisi nya dengan tekad dimatanya.
"Kalau begitu kita akan memanjat nya saja dan meminta dokter itu menyembuhkan Nami." Semua orang menatap nya dengan terkejut kecuali Naruto. Usopp dengan panik berjalan ke arah Luffy.
"APA?! Tidak mungkin kau bisa memanjat puncak yang tinggi disana dengan menggendong Nami sekaligus..! Lagipula itu pasti akan sangat licin untuk dipanjat." Seru Luffy menolak ide tersebut.
Luffy cemberut mendengar itu, "Aku tidak peduli tentang itu." Usopp meninju nya dikepala.
"Tentu saja kau harus peduli..! Kau tidak bisa membahayakan Nami lebih dalam lagi, bagaimana jika kau terjatuh nanti dalam perjalanan, ditambah suhu diluar sangat lah dingin, Nami tidak akan bisa menghadapi suhu dingin diluar sana terlalu lama." Penjelasan Usopp terlihat masuk akal yang membuat mereka mau tidak mau setuju.
Naruto yang melihat itu membuka mantel jubah nya menarik perhatian mereka, "Apa yang kau lakukan, Naruto-kun?" Naruto menoleh kearah mereka sebelum mengaktifkan Fuin pada jubah nya.
"Biarkan aku yang membawa Nami-chan ke atas sana, itu tidak akan memakan waktu yang lama dengan aku berlari kesana membawa nya. Ditambah, dia tidak akan kedinginan jika memakai jubah ini, aku sudah memasangkan segel penghangat didalam nya sehingga dia akan aman." Jelas Naruto sederhana.
Mereka semua menatap nya dengan terkejut, Vivi berjalan ke arah Naruto dan mengambil jubah nya, mata nya memandang Naruto dengan skeptis, "Ini? Kau yakin ini akan menghangatkan nya? Tidak ada sesuatu yang aneh dari jubah ini." Vivi melihat nya dengan aneh sebelum Naruto mengambil nya dan memasangkan nya kepada Vivi, dia tercicit melihat hal itu dengan wajah memerah.
Suhu hangat segera menyadarkan nya membuat nya menatap Naruto dengan terkejut, Usopp yang melihat wajah terkejut Vivi menaikkan alis nya bingung, "Apa? Kenapa kau begitu terkejut? Apa itu benar-benar bekerja?" Tanya Usopp bingung.
"Y..Ya, ini sangat hangat, tapi bagaimana ini bisa terjadi? Apa kau yakin tidak memakan satu pun dari buah-buahan itu?" tanya Vivi kepada Naruto. Pemuda pirang itu hanya menggelengkan kepala nya.
"Tidak, Seperti yang sudah kukatakan sebelumnya, aku adalah Ninja dan ini salah satu manfaat Chakra. Dengan Fuinjutsu aku bisa melakukan banyak hal yang kumau." Kata Naruto tersenyum.
Dalton yang pertama kali mendengar nya terkejut, mengetahui bahwa ada seseorang yang bisa melakukan sesuatu tanpa Akuma no Mi merupakan kejadian langka menurutnya.
"Apakah itu benar? Apakah kau seorang ninja?" Dalton akhirnya buka suara kembali, Naruto menoleh kepada nya sebelum mengangguk. Wajah Dalton sekarang seperti dia baru saja mendapat pencerahan baru, "Wow, aku tidak menyangka hal-hal seperti itu memang ada. Apakah kau bisa menggunakan sesuatu yang benar-benar seperti ninja?" Tanya nya dengan sedikit nada antusias didalam nya.
Naruto berkeringat mendengar nya, apakah dia harus selalu bertemu seseorang dengan antusiasme seperti ini saat bertemu orang pertama kali melihat ninja. Dia tidak akan pernah tau.
"Eh, tentu saja aku bisa, tapi tidak ada waktu untuk menunjukkan hal-hal seperti itu. Sudah saat nya membawa Nami-chan ke dokter, tidak ada yang tau apa yang akan terjadi kepada Nami-chan jika kita terus menunda ini."
Mereka semua akhirnya setuju dengan itu, Vivi mengangkat Nami dan meletakkan Jubah Naruto di tubuh Nami menghangatkan nya. Nami tersenyum kepada Naruto yang dibalas nya sebelum akhirnya mengangkat nya ke punggung nya membiarkan nya nyaman untuk bersandar disana.
Luffy dan Sanji datang kepada Naruto dengan mata yang serius, "Naruto, biarkan kami ikut dengan mu mengantarkan Nami ke atas sana." Luffy dengan serius memohon, walau dia menangkap nada antusias didalam nya. Sanji yang berada disebelah nya mengangguk.
"Ya, aku ingin berada disisi Nami-san disaat masa-masa sulit nya, kami berjanji tidak akan membuat masalah saat kau mengajak kami." Sanji berkata dengan sungguh-sungguh.
Usopp yang datang kesana juga ikut bertanya, "Apa kalian yakin? Kita tidak tau akan ada apa disana."
"Tidak masalah, aku ingin tetap ikut bersama Nami-san." Sanji teguh dengan perkataan nya. Itu mengagumkan.
Naruto mendesah mengetahui mereka tidak akan menerima jawaban tidak dan akhirnya mengangguk kepada mereka yang membuat mereka senang.
"Ini, aku tau kalau kedua orang ini akan ikut dengan mu, jadi ini mungkin bisa membantu mu." Dalton memberikan nya sebuah tali tambang yang diambil oleh Naruto sebelum akhirnya dia menyerahkan nya kepada Sanji.
"Terima kasih, aku sangat menghargai itu." Dalton mengangguk pada nya, Vivi datang kedepan Naruto dengan wajah khawatir.
"Bagaimana dengan bahu mu? Apakah itu sudah tidak apa-apa?" Vivi bertanya. Naruto mengangguk padanya, "Tidak apa-apa, itu hanya luka kecil saja, tidak perlu khawatir." Balas Naruto tenang.
"A..Aku... Terima kasih sebelum nya karena telah melindungi ku, maaf belum sempat mengatakan nya tadi." Kata Vivi pelan, Naruto yang mendengar itu hanya menyeringai.
"Oh, benarkah? Kau meminta maaf? Aku kira itu aku yang melakukan kesalahan?" Naruto menggoda nya membuat Vivi merona, dia memukul lengan nya pelan dengan cemberut diwajahnya. "Dasar menyebalkan.."
"Pokok nya berjanjilah untuk tidak membuat masalah, kalian harus ingat prioritas kalian saat ini, apakah kalian paham?!" Mereka semua mengangguk mengerti sebelum Vivi berjalan ke arah Nami, tersenyum.
"Aku mendoakan keselamatan mu, Nami-san, maaf aku tidak bisa mengantar mu ke atas sana." Nami dengan mata sayu nya hanya tersenyum, "Tidak apa-apa, aku mengerti. Aku minta maaf karena kita harus menunda sedikit perjalanan ke Arabasta."
"Tidak masalah sama sekali, itu bisa menunggu. Yang terpenting adalah Nami-san bisa sembuh dahulu." Kata Vivi dengan seringai licik diwajah nya membuat Nami terkekeh, "Hm, terima kasih Vivi-chan."
Naruto tersenyum melihat interaksi kedua nya sebelum berdehem sedikit, "Maafkan aku mengganggu interaksi kalian yang lucu, tapi kita harus bergegas sekarang." Kata Naruto tersenyum kepada mereka.
Vivi mengangguk kepada Naruto, "Berhati-hatilah, Naruto-kun, Luffy, Sanji!"
Mereka semua segera berjalan menjauh dengan lambaian tangan, Luffy terlihat bersemangat mengetahui dia akan memanjat puncak es disana.
"Yosh, ayo kita daki puncak es diatas sana dan menemukan dokter untuk Nami!" seru nya berlari semangat.
Naruto terkekeh bersama Nami dibelakang nya, Sanji juga tersenyum disampingnya.
XxX
Perjalanan itu awal nya tenang dan damai, hanya suara Luffy yang bersemangat dan deru angin dingin yang menemani mereka. Perjalanan yang damai itu sayang nya harus terganggu setelah mereka tidak sengaja membuat monster kelinci salju yang ada disana marah.
Awal nya mereka berhasil mengatasi itu, Luffy bahkan sangat bangga setelah mengalahkan monster itu, sayang sekali sekarang situasi nya telah berubah.
"BUKANKAH SUDAH KUBILANG UNTUK TIDAK MENGANGGU MEREKA, LIHAT YANG TERJADI SEKARANG!" Naruto yang marah tidak membuat Luffy takut, bocah topi jerami itu hanya cengengesan dan mengalihkan pandangannya dari Naruto.
"Mereka lah yang memulai duluan, kami tidak ada pilihan lain untuk menghajar mereka." Sanji sekarang yang beralasan, Naruto yang mendengar nya sedikit menggeram kesal.
"Sial, aku membenci kalian berdua..!" Naruto berteriak saat mereka terus berlari menghindari longsor salju yang disebabkan oleh kelinci besar itu.
"Uwahh..! Lihat didepan kalian! Ada kayu yang mencuat..!" Luffy menunjuk kedepan dengan mata melotot, Naruto yang melihat sedikit terkejut. Mata nya dengan cepat bergerak mencari tempat yang aman.
Dia menyeringai saat menemukan pijakan yang tidak terkena longsor. Membuat heandseal tunggal, Naruto membuat dua bunshin dan melemparkan Luffy dan Sanji tepat waktu ke sana.
Luffy dan Sanji bangun dan melenguh pelan merasakan tubuh mereka yang sedikit sakit setelah dilempar cukup keras. Mata mereka melebar terkejut saat mengingat siapa yang melempar mereka.
"Tunggu..! Dimana Naruto dan Nami-swan?!" Sanji dengan panik mencari ke seluruh pelosok tempat longsor terjadi. Luffy juga terlihat khawatir Seperti Sanji.
"NARUTO...! NAMII...! DIMANA KALIAN..!" Luffy berteriak dengan kencang.
"Kami disini." Mereka berdua menoleh dengan cepat ke belakang dan menemukan Naruto dan Nami di gendongan nya. Naruto menghela napas lega saat melihat mereka aman dan sehat.
"Syukurlah kalian berdua selamat, aku minta maaf harus melempar kalian seperti tadi karena sudah tidak ada waktu untuk memperingati kalian." Naruto sedikit menunduk meminta maaf.
Sanji hanya tersenyum kepada nya, mengerti tentang keadaan, "Tidak apa, aku mengerti. Yang terpenting Nami-san aman dan tidak terluka." Kata Sanji, dia meringis tiba-tiba merasakan sakit di dada nya.
Naruto yang melihat itu terkejut sebelum meletakkan Nami di tanah dan mencoba memeriksa Sanji, "Astaga, sepertinya aku melempar mu cukup keras. Aku minta maaf." Chakra hijau muncul dari tangan Naruto mencoba menyembuhkan nya.
Naruto sedikit terkejut saat melihat Sanji menahan tangannya, "Berhenti, kita tidak memiliki banyak waktu lagi, aku tidak apa-apa. Ayo segera pergi dan temukan dokter nya." Sanji dengan tatapan tajam menatap Naruto.
Mereka seperti itu selama beberapa saat sebelum Naruto menghela napas nya lelah, dia masih sedikit menyesal tentang luka Sanji yang disebabkan oleh nya.
"Apa kau yakin?" Sanji mengangguk sebelum kedua mata nya tertutup dengan lelah. Naruto menghela napas pelan sebelum memandang Luffy.
"Luffy, bisakah kau menggendong Sanji sampai kita tiba diatas sana?" tanya Naruto kepada Luffy. "Tidak masalah, ayo kita bergegas." Balas nya kepada Naruto.
"Ya, ayo pergi. Semoga saja dokter itu ada disana saat ini, jangan sampai dia turun sebelum kita sampai." Naruto berkata sambil mengangkat Nami kembali. Luffy yang dibelakang nya juga sudah mulai mengangkat Sanji yang pingsan.
"Ayo bergerak..!" Luffy berseru.
XxX
Sesaat sebelum longsor terjadi, saat itu Usopp, Vivi, dan Dalton baru saja tiba di desa Cocoaweed setelah mendengar laporan bahwa dokter itu sudah turun dan singgah disana. Mereka semua sedikit terkejut mendengar nya sebelum bergegas pergi kesana.
"Apa? Dia baru saja pergi dari sini!" Usopp berseru kesal, dia saat ini sedang berbicara dengan bocah kecil yang baru saja dirawat oleh dokter itu. "Ya, dia baru saja pergi setelah menyembuhkan ku, dia sangat baik padaku." Usopp mendesah lelah sebelum menatap Vivi dan menggelengkan kepala nya.
Tiba-tiba dari pintu muncul seorang pria yang terluka, Dalton yang melihat itu melaju kearah nya, "Ada apa? Siapa yang melakukan ini kepada mu? Dan dimana yang lain?" pria yang ketakutan itu mulai menjelaskan dengan gemetar.
Dalton yang melihat itu berlari keluar dan menaiki salah satu kuda, dia tidak percaya bahwa pria yang pernah menjabat menjadi raja di pulau ini akhirnya kembali lagi. Dia dengan jijik memikirkan kembali saat dia masih menjadi salah satu dari mereka.
XxX
Di hutan saat ini terlihat Vivi dan Usopp yang sedang menaiki kereta luncur, mereka saat ini mencoba mencari arah yang dilalui dokter tadi, jika apa yang diucapkan oleh anak kecil itu benar, seharus nya mereka sudah melalui jalur yang benar.
"Oi, Vivi apakah ini sudah benar? Apakah kita tidak tersesat?" Usopp bertanya untuk yang kesekian kali nya, Vivi hanya menghela napas lelah disampingnya mendengar pertanyaan yang sama berulang kali.
"Aku yakin Usopp-san, berhentilah menanyakan pertanyaan yang sama berulang kali." Usopp cemberut mendengar nya.
"Aku hanya berharap semoga secara tidak sengaja mereka bisa bertemu. Akan sangat merepotkan jika mereka berhasil sampai diatas sana dan tidak menemukan siapapun." Kata Vivi masih melihat peta ditangannya.
Suara keras dari yang memekakkan telinga menarik perhatian mereka. Dari atas sana mereka melihat salju yang meluncur turun.
Mereka berdua melotot melihat pemandangan longsor itu, mereka mengutuk kesialan mereka saat ini.
Vivi berdoa dalam hati untuk Naruto dan yang lainnya berharap mereka berhasil selamat.
XxX
Kembali pada Dalton, keadaan nya saat ini tidak baik-baik saja. Awal nya dia sangat yakin bahwa dia bisa mengalahkan Raja itu, tapi keadaan berbalik saat para penduduk datang dan pengawal Raja yang setia dengan licik membidik penduduk tersebut.
Dalton yang melihat itu melotot kepada orang yang menembakkan panah itu sebelum akhirnya mengorbankan dirinya terkena panah orang itu. Dia hanya bisa mengutuk raja itu dengan keadaannya saat itu, bahkan dia tidak bisa menggerakkan tubuh nya saat itu dan hanya bisa mendengarkan pidato nya yang memuakkan.
"Sudah cukup, Wapol..! Pergilah dari pulau ini, kau tidak pantas untuk menjadi raja disini lagi setelah kau kabur berbulan-bulan yang lalu meninggalkan rakyat mu disini dan menderita!" suara nya datang saat itu membungkam raja yang bernama Wapol itu.
"Ooh, kau masih bisa bergerak, mantan pengawal ku. Aku setengah berharap kau sudah mati disana tadi, sayang sekali." Wapol berkata, seringai lebar nya ditujukan kepada Dalton.
"Chess, Kuromarimo bunuh dia dan ayo segera pergi ke istana. Aku sudah terlalu lama meninggalkan kastil itu dan si nenek keriput itu mencoba mengambil alih istana ku, tidak akan kubiarkan hal itu terjadi." Kedua nya mengangguk mengerti dan bergerak berusaha membunuh Dalton.
Mereka berdua dihalangi oleh para warga disana yang membuat mereka kesal. Suara keras yang menakutkan terdengar segera membuat mereka menatap ke arah asal suara tersebut.
Betapa terkejut nya mereka melihat longsor salju yang melaju cepat ke arah desa mereka. Segera setelah itu kepanikan membanjiri daerah tersebut mencoba menyelamatkan diri sendiri.
Wapol sendiri terkejut dengan kejadian itu dan memutuskan kabur disana bersama hewan peliharaan nya, dibelakang nya kedua pengawal nya ikut kabur bersama nya meninggalkan pasukan nya. Mereka berteriak histeris mengetahui bahwa longsor itu akan mengenai mereka.
Tempat itu menjadi hening segera setelah longsor berhenti, dari bawah salju tiba-tiba terbentuk lubang yang memunculkan Wapol. Wajah nya mengerut saat merasakan sesuatu didalam mulut nya.
Tidak nyaman dengan itu, dia memuntahkan nya menampilkan kedua pengawal nya. "Ternyata kalian, pantas itu terasa asam." Mereka berdua hanya terbatuk mendengar itu, mencoba mengambil napas sebanyak-banyaknya.
"Chess, Kuromarimo..! Ayo kita segera pergi ke kastil, aku yakin Mugiwara dan teman-teman nya lah yang melakukan hal ini, ayo tunjukkan kepada mereka bagaimana cara bertarung didalam salju..!"
"Tentu saja, Yang Mulia!"
XxX
Kembali bersama Naruto dan Luffy, mereka saat ini masih dalam perjalanan ke tempat dokter itu berada. Karena longsor barusan kini mereka harus berjalan dari awal kembali dan itu memakan waktu yang sedikit lebih lama.
Tidak ada yang memulai pembicaraan sejak mereka menyelamatkan seekor Anak Lapahn yang saat itu induk nya terkubur oleh salju. Karena iba, Luffy membantu nya mengangkat induk tersebut dan kembali melanjutkan perjalanan mereka.
Setelah beberapa menit berjalan, kini mereka sudah hampir mendekati gunung salju tersebut.
"Luffy tidak peduli apapun yang terjadi, teruslah bergerak." Luffy memandang Naruto dengan bingung, tidak mengerti apa maksudnya.
"Hah? Ada apa, Naruto?" Luffy bertanya bingung.
Naruto diam tidak menjawab, hanya terus berjalan melewati salju. Dari kejauhan tiba-tiba terdengar suara teriakan seseorang. Naruto dan Luffy yang mendengar itu hanya melirikkan mata mereka.
3 Manusia yang ternyata merupakan Wapol dan kedua pengawal nya terlihat berhasil mengejar Naruto dan Luffy dengan hewan peliharaan nya.
"Kalian berdua! Kuperintahkan kalian berdua untuk berhenti..!" seru Wapol otoriter, Naruto dan Luffy mengabaikan nya dan terus berjalan.
Melihat itu tentu membuat Wapol marah, "Kalian berani mengabaikan seorang Raja..! Chess, Kuromarimo mulai saat ini undang-undang tentang pengabaian terhadap Raja akan dihukum eksekusi. Sekarang bunuh mereka semua..!" tunjuk nya dengan marah.
Chess dan Kuromarimo mengangguk patuh dan segera berlari mengejar untuk membunuh mereka.
Naruto menghela napas nya kasar dan mengangguk kepada Luffy memberi isyarat untuk menghindari pertarungan yang tidak diperlukan. Kejar-kejaran pun terjadi saat itu yang membuat dua pengawal itu marah.
Tiba-tiba dari belakang Naruto dan Luffy muncul dua monster kelinci yang menyerang dua pengawal itu. Kedua pengawal yang diserang tidak siap dan terjatuh menerima serangan monster itu.
"Apa-apaan? Mengapa monster itu membantu kedua orang sialan itu?!" Wapol berteriak marah. Naruto dan Luffy yang melihat itu terdiam sebelum tersenyum kepada monster itu.
"Terima kasih atas pertolongan nya, sampai jumpa lagi..!" Luffy berteriak melambai kepada monster itu sebelum kembali melanjutkan perjalanan mereka.
Monster itu hanya membalas melambai dan kembali berhadapan dengan Wapol dan pengawal nya.
Beberapa saat kemudian~
"Woahh..! Naruto ini sangat keren! Kita benar-benar berjalan di gunung..! Sugeee!" Luffy berteriak dengan bintang dimata nya. Naruto tersenyum mendengar nya, dia melihat Luffy yang sedang digantung menggunakan tali tambang di perut nya. Di belakang nya Sanji terlihat bersandar di punggung nya dengan tali yang mengikat nya juga.
"Lihat pemandangan disana! Itu sangat bagus dan keren..! Begitu banyak salju! Shishishi." Kata Luffy dengan semangat. Naruto menghela napas nya pelan, "Kita tidak kesini untuk bersenang-senang, tau! Kami kesini untuk mencari dokter untuk menyembuhkan Nami-chan dan Sanji." Balas Naruto.
Naruto menatap ujung puncak nya dan sedikit tersenyum, akhirnya mereka akan segera sampai ke puncak, dia sedikit jengkel dengan Luffy karena terus bergerak, dia sudah memperingatkan nya tapi dia hanya mengabaikan nya dan bergerak kesana kemari membuat Naruto gelisah.
"Oi oi, berhentilah bergerak liar atau kita bisa terjatuh." Kata Naruto dengan kesal.
"Tapi Naruto, ini sangat keren!" Luffy merengek pelan membuat Naruto pusing.
Fokus nya teralihkan pada Luffy disaat-saat pijakan terakhir nya membuat Naruto sedikit tergelincir. Mata nya melebar terkejut mencoba memfokuskan chakra nya kembali. Luffy yamg berada dibawah juga terlihat menjerit ketakutan.
"Oh sial, tidak sempat..!" Naruto mengumpat pelan disela-sela kejatuhan nya, dia tidak sempat memikirkan apapun saat tangan berbulu cokelat menangkap tangannya menahan nya dari kejatuhan.
Tangan berbulu itu mengangkat nya naik dengan keras membuat Naruto dan Luffy yang sedang menggendong Nami dan Sanji terbang. Tidak ingin melukai teman mereka yang sakit, Naruto dan Luffy memutar badan nya membiarkan punggung mereka membentur tanah sebagai ganti nya.
"Hah..! A..Aku kira aku akan mati..! Shishishi." Luffy tertawa sebelum mata nya menangkap objek tertentu.
Naruto yang disebelah Luffy hanya meringis sambil mata nya menelusuri Nami jika ada yang terluka selama pendaratan. "Siapa sih yang menarik ku tadi? Aku hanya melihat tangan berbulu menangkap ku sebelum melempar kita." Tanya nya sedikit mengeluh, Naruto sedikit bingung saat merasakan keheningan yang tidak wajar dari Luffy.
"Luffy, ada apa? Kenapa tiba-tiba diam?" Naruto bertanya menyenggol nya, masih tidak menyadari sesuatu didepan nya.
Luffy menunjuk kedepan dengan bingung, "Naruto, apakah hanya aku atau kau juga merasa itu adalah seekor rusa yang berotot?!" Luffy bertanya dengan nada yang membuat Naruto merinding.
"Rusa berotot? Jangan mengada-ada, Luff-" Naruto terdiam saat mata nya akhirnya menangkap objek tersebut. Luffy menatap nya dengan pandangan bertanya.
"A..Apa sih itu? Kenapa dia ada diatas sini..?!" Naruto bertanya bingung. Suasana hening disana setelah Naruto mengatakan itu.
"Naruto... Aku ingin dia didalam kru.."
"..."
"Shishishi!"
"Kau akan tetap membawa nya bahkan jika aku mengatakan tidak?" Naruto bertanya dengan datar, sedikit melupakan urusan nya datang kesini.
Luffy mengangguk marah, matanya memancarkan tekad. Naruto yang melihat itu hanya menghela napas keras, tidak mengharapkan ini terjadi, "Aku sudah tidak peduli lagi, kau kapten nya jadi kau lah yang menentukan. Aku hanya berharap yang lain setuju dengan mu." Kata Naruto.
Luffy menyeringai keras, "Oi, Rusa..! Bergabung lah dengan kru ku! Ayo ikut aku menjadi Bajak Laut..!" Seru Luffy dengan suara paling keras, mengejutkan monster itu.
"Shishishishi..!"
XxX
To be continued~
XxX
A/N: Terima kasih telah membaca cerita ini, dan beri tahu saya jika ada kesalahan.
Yo gaes balik lagi bersama saya di chapter terbaru ini, semoga Chapter terbaru ini bisa memuaskan dan kalian bisa menikmati nya di hari minggu ini. Silahkan tinggalkan review kalian di kolom review, semua saran dan kritik kalian akan sangat membantu saya kedepannya.
Ah, jangan lupa untuk klik tombol Follow dan Favorit agar kalian tidak ketinggalan update terbaru dari fic ini. Thank you!
Pertama saya ingin mengucapkan terima kasih banyak pada para pembaca sekalian atas review positif yang kalian berikan untuk Fic ini, saya merasa sangat bahagia sekaligus lega karena dapat memuaskan selera kalian, ada beban tersendiri membuat fic dengan crossover Seperti ini, karena tidak banyak Fic Indo yang menggunakan Crossover NarutoxOnePiece di tengah semarak nya Fic dengan Crossover NarutoXDxD. Karena itulah saya sangat senang dengan respon kalian, bahkan ikut membantu memberi saran untuk fic ini, saya sangat berterimakasih.
Semua ini tidak luput dari para inspirasi saya dari Fic-Fic English, dari sana lah akhirnya saya memutuskan untuk mencoba membuat ini kedalam salah satu barisan Fic Indo, dan saya bersyukur mendapat respon positif kalian.
Sekali lagi saya ucapkan terima kasih banyak kepada kalian semua.
Sekarang beralih ke hal lain, Seperti yang terlihat di chapter kali ini, saya memasukkan dua arc kedalam satu chapter ini, saya memutuskan melakukan ini agar tidak memakan banyak chapter, ditambah tidak banyak hal terjadi disana dan arc drum sendiri terlalu banyak flashback, jadi saya akhirnya memutuskan Seperti ini, saya harap kalian masih menyukai nya, kalian bisa memberikan tanggapan kalian di kolom review tentang ini.
Lalu aku juga merubah beberapa hal didalam fic ini yang sudah terlihat berbeda, seperti contoh pada panel terakhir chapter ini, tentu saja saya masih berharap semoga kalian menyukai nya.
Dan polling untuk Naruto menggunakan Haki atau tidak masih terbuka sampai Time Skip! Aku tidak akan memperkenalkan Haki di fic ini sebelum mencapai Time Skip, jadi Yes or Not! Katakan di kolom review gaes.
Ah satu lagi, untuk minggu depan akan ku usahakan tetap update karena mulai senin besok saya akan mulai masuk bekerja, saya masih akan menulis ini dan saya benar-benar berharap saya tetap mengupdate nya di setiap hari minggu. Doakan saya ya, thank you.
Mungkin hanya itu saja yang ingin saya katakan, saya sudah berbicara terlalu banyak, shishishishi!
Sampai bertemu lagi Minggu depan (semoga) dengan chapter lainnya ya! Selamat menunaikan ibadah puasa bagi yang menjalankan dan selamat ber weekend ria gaes.
See you and enjoy.
Bye.
