Disclaimer : Boboiboy Galaxy (c) Monsta Studio

remake from my renjun's fanfiction on wp

"OUR LITTLE YAYA"

genre : family, friendship, science fiction and little bit romance

warn: OOC! Elemental!Siblings, Little!Yaya and etc


"Aku pulang!"

Tak ada yang menyahut.

Solar mengernyitkan keningnya heran karena keadaan dorm yang sepi. Ia berjalan masuk dan melihat ke ruang tamu. Siapa tau mereka sedang fokus bermain di sana.

Akan tetapi, tak ada satu pun orang di sana. Sampai ponsel miliknya berdering.

Solar merogoh saku celananya dan melihat siapa yang menelpon. Di sana tertera dengan jelas nama 'THORN' dengan huruf kapital. Solar menggeser lock screen ponselnya. Lalu, menempelkannya ke telinga.

"Ya, halo."

"Kak!"

"Ada apa?"

"Aku sedang di luar bersama Kakak Ice dan Blaze, pulang mungkin agak malaman. Masak yang banyak ya!!" ucap kembaran ke enam di seberang sana. Dari nadanya terdengar serius.

Solar mengangguk saja, lalu bertanya. "Jangan bohong, Boboiboy Thorn. Aku tau kau kau hanya ingin makan masakan Kak Gempa" sahutnya datar.

"Kakak tau saja."

"Terserah kau saja. Oh ya, apa yang lainnya ada di tempatmu? Soalnya rumah sangat sepi."

"Hm? Entah, hanya ada Kak Ice dan Kak Blaze di sini," lapor Thorn.

"Kak Gempa? Kak Halilintar dan Kak Taufan?" Alis Solar bertaut heran karena Thorn tidak ikut menyebutkan nama ketiga kakak tertua mereka.

Terdengar suara Thorn yang bertanya pada Blaze dimana ketiga orang itu. Dari suara adanya keributan dan klakson mobil, dapat dipastikan mereka sedang dalam perjalanan pulang.

Thorn kembali bersuara. "Katanya kak Halilintar sama Kak Gempa masih ada kegiatan klub di sekolah. Apalagi Kak Gempa yang notabene president of student council. Coba cari Kak Taufan di kamarnya.

"Ah, baiklah."

"Ya sudah, aku matikan ya, Kak."

"Hm."

Setelah itu sambungan terputus.

Solar memasukan kembali ponselnya ke dalam saku. Hatinya lega karena semua member tidak apa-apa.

Solar berjalan ke menuju lantai dua di mana kamarnya berada. Masuk ke dalam, dia mulai menaruh semua barangnya di atas meja. Namun tidak sadar bahwa ada sesuatu telah hilang.

Setelah itu, Solar segera pergi ke kamar Taufan untuk mengecek apakah anak itu ada di sana atau tidak.

Pintu dibuka perlahan, lalu melongokkan kepalanya. Pandangannya mengedar ke segala penjuru. Hingga akhirnya tertuju pada seonggok selimut yang menggembung di atas ranjang.

Solar berjalan mendekat.

"Kak Taufan?"

"Eung... " Taufan menggeliat karena bahunya diguncang pelan. Matanya perlahan terbuka. Dia menemukan keberadaan lelaki serba putih abu dan jingga. "Solar?" ucapnya dengan suara serak.

"Hm, ini Solar."

"Apa sudah waktunya makan malam?"

Solar menggeleng. "Belum. Kau lelah ya? Tidur lagi saja, saat makan malam aku bangunkan. Oh iya, Thorn sedang pergi keluar dengan Kak Ice dan Blaze."

Taufan menganggukan kepalanya lucu. Kemudian, ia kembali menyelimuti dirinya dan tidir lagi.

••••

Malam harinya, tujuh elemental bersaudara itu sudah berkumpul di rumah. Katanya Gempa, sang kakek, Tok Aba sednag sibuk di kedai mereka. Hari ini pengunjung sedang membeludak.

Mendengar itu, Trio trouble maker bersorak penuh semangat sebelum berakhir mendapatkan benjolan penuh cinta dari Halilintar tepat di kepala. Kakak tertua mereka itu kesal karena kebisingan yang berlebihan. Berbeda dengan Gempa, Solar dan Thorn yang sibuk memasak di dapur.

Thorn ikut membantu. Meskipun secara harfiah dia memang sungguhan membantu dalam kekacauan.

Blaze membawa Taufan untuk ikut menonton saja dengannya diikuti oleh Ice.

"Hei! Thorn, jangan dicemilin terus sosisnya!" seru Solar karena sosisnya terus dimakan oleh Thorn.

"Hm."

"Apa sosisnya enak?"

"Hm."

"Oke." Solar kembali fokus pada masakannya setelah berkata begitu.

Sedangkan Gempamenggelengkan kepalanya pelan karena tingkah keduanya. Tangannya masih sibuk mengaduk sup rumput laut yang tengah dibuat. Hingga ia merasa kegerahan. Ia menegak air minum dalam sedetik. Berbanding dengan Solar yang tiba-tiba saja termenung sambil menatap botol di tangan Gempa.

Sebelah alis Gempa naik. "Solar?"

"Kak Gempa ... sepertinya aku sudah melakukan kecerobahan," gumamnya dengan mata melotot.

Gempa menatapnya tidak paham. "Maksudmu?"

Bukannya menjawab, Solar segera meninggalkan dapur menuju lantai dua dengan tergesa-gesa. Tidak memperdulikan tatapan empat saudaranya yang lain di ruang tamu. Kemudian menatap pada Gempa yang keluar dari dapur.

"Dia kenapa?" tanya Halilintar heran.

"Katanya habis melakukan kecerobahan," balas Gempa.

Halilintar mengangguk paham. "Sebentar lagi akan ada laporan kekacauan hasil kecerobahan Solar. Kau tidak perlu kelihatan cemas begitu, Gempa."

Gempa tahu kalau Halilintar itu terlampau serius kalau sedang bicara. Bahkan kalimat yang keluar dari mulutnya seolah tidak dipikirkan sama sekali. Dibiarkan mengalir begitu saja hingga membuat Gempa kehilangan kata.

"Tadi sore saat membangunkanku, Solar masih mengenakan jas laboratiumnya. Apakah mungkin maksud dari kecerobohan itu adalah saat membuat cairan kimia lagi?" tebak Taufan.

"Itu bisa jadi," timpal Blaze.

"Kalau begitu bakalan cukup besar permasalahan kali ini."

Perkataan Taufan dibalas anggukan oleh Thorn dan Blaze. Ice merotasikan matanya dengan malas saat tahu kalau saudara-saudaranya begitu santai.

Hingga suasana di ruangan itu berubah ketika teriakan Solar terdengar menggelergar dari lantai dua.

"HASIL PERCOBAANKU HILANG!!!!"

BRAK!!

Keenam elemental bersaudara yang tersisa serentak menoleh pada pintu yang dibuka dengan kencang. Mereka mendapati sosok Tok Aba berdiri di ambang pintu dengan sesuatu dalam gendongannya. Menatap mereka dengan sangat tajam.

"Di mana Solar?" tanya Tok Aba.

"Di kamarnya." Gempa menunjuk sesuatu dalam gendongan sang kakek dengan penasaran. "Itu ... Apaan di gendongan Atok?"

"Salah satu korban kecerobohan Solar."

"Hah?!"

Sesuatu itu menggeliat dan mulai menampakan kepalanya yang terbungkus kerudung merah muda. Itu tampak familiar di ingatan para elemental.

Halilintar menyipitkan matanya sebentar, kemudian melotot kaget. Dia menatap sang kakek dengan sorot tidak percaya.

"Tok ... jangan bilang kalau dia ..."

Tok Aba mengangguk. "Hm, benar. Ini Yaya."

"APAAAAA?!"

"Hehehe... Halo?" sapa seorang anak kecil berusia sekitar empat tahun dalam gendongan Tok Aba.

••••

to be continued

selain perubahan, ada penguarangan bab untuk menyesuaikan dengan cerita di sini, mengingat bukan tentang idol.

see you in next part!

with luv, Aprilia Hidayatul